• Tidak ada hasil yang ditemukan

Regularisasi Sistem Singular Linier

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Regularisasi Sistem Singular Linier"

Copied!
39
0
0

Teks penuh

(1)

REGULARISASI SISTEM SINGULAR LINIER

SKRIPSI

RAJAMIN R U MANIK

060803035

DEPARTEMEN MATEMATIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

REGULARISASI SISTEM SINGULAR LINIER

SKRIPSI

Diajukan untuk melengkapi tugas dan memenuhi syarat mencapai gelar Sarjana Sains

RAJAMIN R U MANIK

060803035

DEPARTEMEN MATEMATIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)

PERSETUJUAN

Judul : REGULARISASI SISTEM SINGULAR LINIER

Kategori : SKRIPSI

Nama : RAJAMIN R U MANIK

Nomor Induk Mahasiswa : 060803035

Program Studi : SARJANA (S1) MATEMATIKA

Departemen : MATEMATIKA

Fakultas : MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM (FMIPA) UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Diluluskan di

Medan, Februari 2011

Komisis Pembimbing :

Pembimbing 2 Pembimbing 1

Drs. Suwarno Ariswoyo, M.Si Prof. Dr. Tulus, M.Si

NIP. 19500321 198003 1 001 NIP. 19620901 198803 1 002

Diketahui/Disetujui oleh:

Departemen Matematika FMIPA USU Ketua Departemen Matematika,

Prof. Dr. Tulus, M.Si

(4)

iii

PERNYATAAN

REGULARISASI SISTEM SINGULAR LINIER

SKRIPSI

Saya mengakui bahwa skripsi ini adalah hasil kerja saya sendiri, kecuali beberapa kutipan dan ringkasan yang masing-masing disebutkan sumbernya.

Medan, Februari 2011

(5)

PENGHARGAAN

Puji dan syukur penulis kepada Tuhan Allah untuk kasih karunia dan penyertaanNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini.

(6)

v

ABSTRAK

(7)

REGULARIZATION OF LINEAR SINGULAR SYSTEMS

ABSTRACT

(8)

vii

2.1.10 Aplikasi pada Teorema Eksistensi dan Keunikan 11 2.1.11 Persamaan Matriks dari Sistem Persamaan Linier 3.1.1 Regularisasi dengan Prediktive Umpan-Balik Statis 24 3.1.2 Regularisasi dengan Prediktive Output Umpan-Balik Statis 26

Bab 4 KESIMPULAN 28

(9)

ABSTRAK

(10)

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sistem singular muncul dalam disiplin teknik mesin termasuk jaringan listrik, sistem power, dan teknik mesin ruang angkasa. Sejak tahun , sistem singular telah menarik perhatian banyak peneliti dan stabilisasi sistem tersebut telah menjadi subjek banyak penelitian. Sistem singular merupakan ilmu dinamika yang

mana ditentukan dengan suatu gabungan persamaan differensial dan persamaan secara aljabar. Secara inheren sifat kompleks dari sistem singular menyebabkan banyak kesulitan dalam menyelesaikan sistem tersebut. Akibatnya, pertanyaan dari keunikan dan adanya solusi, solvabilitas, pertanyaan kondisi awal yang konsisten dan stabilitas mendapat perhatian besar. Beberapa buku dan survei yang berhubungan dengan sistem ini telah memusatkan setiap persoalan solvability, controllability, penyelesaian pole dan eliminasi proses impuls.

(11)

Dalam catatan ini, diberikan kondisi pertidaksamaan matriks linier yang memenuhi regularisasi sistem waktu diskrit singular. Kemudian, diperkenalkan suatu bentuk baru dari pengontrol penstabilan peregularan yang meliputi aksi

prediksi dan penurunan keadaan umpan-balik. Akhir penulisan ini adalah meregularkan sistem singular dengan penggunaan suatu pengontrol prediksi yang mengharuskan estimasi keadaan sistem pada iterasi selanjutnya. Bentuk penyelesaian muncul sebagai jumlah dari dua pengontrol independent yang dihitung terpisah melalui dua pertidaksamaan matriks linier. Kelas pengontrol yang dimaksud kelihatan menarik, dalam arti, bahwa sistem loop tertutup bertindak sebagai sistem non-singular dan kemudian, semua properti dan kejadian yang berhubungan dengan sistem singular tidak muncul sebelum aksi umpan-balik tersebut, (Salim Ibrir, 2009).

Dalam penelitian ini, adalah himpunan bilangan riel. Notasi

berarti bahwa matriks adalah definit positif (definit negatif).

untuk transpose . adalah matriks identitas dari dimensi yang tepat dan adalah matriks null dari dimensi yang tepat.

1.2 PERUMUSAN MASALAH

Permasalahan yang akan diangkat dalam penulisan ini adalah bagaimana meregularkan sistem singular linier diskrit.

1.3 TINJAUAN PUSTAKA

Karena tulisan ini merupakan studi literatur, maka tinjauan pustaka merupakan titik tolak tulisan ini. Penulis melakukan tinjauan pustaka dari:

(12)

3

Glenn W. Stagg dan Ahmed H. El-Abiad dalam bukunya juga memperkenalkan aljabar matriks.

Dianhui Wang dan C. B. Soh menjelaskan dalam jurnalnya bahwa suatu sistem dikatakan menjadi regular jika pasangan pensil adalah regular, yaitu

tidak sama dengan nol.

Liyi Dai mengatakan dalam jurnalnya , ,

bahwa

1. Sistem disebut controllable ( observable) jika rank

, terbatas ( rank terbatas ).

2. Sistem disebut controllable (observable) jika kedua controllable

( observable) dan rank , (rank ).

3. Sistem disebut controllable ( observable) jika terdapat sebuah matriks sedemikian hingga deg rank ( atau ada

sebuah sedemikian hingga deg rank ). Di

sini deg menunjukkan degree dari suatu polinomial.

Salim Ibrir dalam jurnalnya menjelaskan bahwa regularisasi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan suatu prediktive umpan-balik statis dan prediktive output umpan-balik statis.

1.4 TUJUAN PENELITIAN

Tujuan dalam penelitian ini adalah memperoleh sistem singular yang regular.

1.5 MANFAAT PENELITIAN

(13)

1.6 METODE PENELITIAN

Tulisan ini disusun atas suatu kerangka pemikiran yang langkah-langkahnya

adalah sebagai berikut:

1. Diberikan konsep-konsep matriks yang berhubungan penelitian ini dan regularisasi sistem singular.

(14)

BAB 2

LANDASAN TEORI

Pada bab ini akan dibahas beberapa definisi dan teorema dengan atau tanpa bukti yang akan digunakan untuk menentukan regularisasi sistem singular linier. Untuk itu akan diberikan terlebih dahulu pengertian-pengertian dasar berikut:

2.1Matriks

Definisi 2.1:

Anggap menyatakan baris dan menyatakan kolom maka matriks adalah susunan

segiempat angka-angka berdasarkan baris dan kolom yang dibatasi oleh kurung siku maupun kurung biasa dan

Selanjutnya akan dibahas tipe-tipe matriks dan operasi aljabarnya.

2.1.1 Matriks Bujursangkar

Definisi 2.1:

Matriks bujursangkar adalah matriks yang memiliki baris dan kolom yang sama disimbolkan sebagai . Anggap matriks bujursangkar maka .

2.1.2 Matriks Transpos

Definisi 2.2:

Anggap matriks berukuran , maka transpose matriks disimbolkan dengan

(15)

Teorema 2.1:

Anggap dan B adalah matriks-matriks dan adalah suatu skalar. Maka, penjumlahan dan perkalian matriks-matriks ini selalu didefinisikan sebagai berikut:

a)

Jika matriks sama dengan matriks transposenya atau disimbolkan dengan

maka matriks simetris. Demikian juga, dikatakan simetris jika elemen-elemen simetrisnya (elemen-elemen-elemen-elemen cermin terhadap diagonal) sama, yaitu, jika setiap

.

2.1.4 Determinan

Algoritma mereduksi penghitungan determinan berorde menjadi penghitungan determinan berorde .

Algoritma 2.1:

(Reduksi orde determinan). Inputnya adalah matriks bujursangkar- bukan-nol,

dengan .

Langkah . Memilih elemen atau, jika tidak ada, .

Langkah . Dengan menggunakan sebagai pivot, lakukan operasi baris (kolom) elementer sehingga diperoleh di semua posisi selain posisi kolom (baris) yang mengandung .

(16)

7

Contoh 2.1:

Gunakan algoritma di atas untuk menentukan determinan dari

Gunakan sebagai pivot sehingga diperoleh bilangan-bilangan di

posisi-posisi selain kolom ke- , yaitu dengan melakukan operasi baris (b) “Mengganti dengan ”, “Mengganti dengan ”, dan “Mengganti dengan

”, Menurut Teorema “Anggap diperoleh dari melalui operasi baris (kolom) elementer. Jika kelipatan suatu baris (kolom) ditambahkan ke baris (kolom) yang lain dari , maka ”, nilai determinan tidak berubah oleh oper

asi-operasi ini. Jadi

Selanjutnya sederhanakan dengan menggunakan kolom ketiga. Secara spesifik, abaikan semua suku yang mengandung dan gunakan fakta bahwa tanda dari minor

adalah . Jadi

2.1.5 Matriks yang Dapat-Dibalik (Non-Singular)

Definisi 2.4:

Matriks bujursangkar dikatakan dapat-dibalik (invertible) atau non-singular jika

(17)

di mana adalah matriks identitas yaitu matriks bujursangkar- dengan bilangan pada diagonalnya dan pada entri-entri lainnya. Matriks seperti ini bersifat unik.

Yaitu, jika dan , maka

.

Dari hubungan di atas dinamakan matriks sebagai invers dari matriks dan

invers dari matriks ditulis dan hubungan di atas bersifat simetris; yaitu, jika invers , maka invers .

2.1.6 Matriks Invers

Algoritma menentukan invers dari sebuah matriks.

Algoritma 2.2:

Langkah . Mereduksi-baris menjadi bentuk eselon. Jika proses ini menghasilkan sebuah baris nol di setengah dari , maka tidak mempunyai invers.

(Jika tidak, berbentuk segitiga).

Langkah . Mereduksi-baris lebih jauh lagi menjadi bentuk kanonis barisnya, , di mana matriks identitas menggantikan di setengah kiri

dari .

Langkah . Menetapkan , matriks yang sekarang berada di setengah kanan dari .

Contoh 2.2:

(18)

9

Membentuk matriks (blok) dan mereduksi-baris menjadi bentuk eselon:

Matriks identitas berada di setengah kiri dari matriks akhir, sehingga setengah

kanannya adalah atau dengan perkataan lain:

2.1.7 Matriks Eselon

Definisi 2.5:

Matriks disebut matriks eselon, atau dikatakan berbentuk eselon, jika dua syarat berikut berlaku (dimana elemen bukan-nol utama (leading non-zero element) dari suatu baris pada matriks adalah elemen bukan-nol pertama pada baris tersebut):

1) Suatu baris nol, jika ada, terletak di bagian bawah matriks.

2) Setiap entri bukan-nol utama pada suatu baris berada di sebelah kanan entri bukan-nol utama pada baris sebelumnya.

Yaitu, adalah matriks eselon jika terdapat entri-entri bukan-nol

dimana

dengan sifat

untuk

Entri-entri , yang merupakan elemen-elemen bukan-nol utama

pada masing-masing barisnya, disebut pivot-pivot dari matriks eselon.

Contoh 2.3:

(19)

2.1.8 Bebas Linier

Kolom matriks ; dapat ditulis sebagai vektor kolom.

Juga, baris matriks dapat di tulis sebagai vektor baris.

Vektor kolom adalah bebas linier jika persamaan

memenuhi hanya untuk semua . Sama halnya dengan

vektor baris adalah bebas linier jika hanya nilai nol untuk skalar memenuhi persamaan

Jika beberapa memenuhi , vektor kolom adalah bebas linier. Jika beberapa memenuhi , vektor baris adalah bebas linier. Hal ini mungkin

menunjukkan satu atau lebih vektor kolom (vektor baris) sebagai kombinasi linier lainnya. Jika vektor kolom (vektor baris) matriks adalah bebas linier, maka

determinan adalah nol.

2.1.9 Rank Matriks

Definisi 2.6:

Rank matriks ; adalah sama pada maksimum bilangan kolom tidak bebas linier atau maksimum bilangan baris tidak linier . Bentuknya disebut rank kolom

dan selanjutnya rank baris. Rank kolom adalah sama dengan rank baris. Rank matriks adalah sama dengan order determinan non-vanishing terbesar di , (Stagg dan

(20)

11

Contoh 2.4:

Anggap matriks

Baris adalah bebas linier karena persamaan

memenuhi untuk

Sama halnya dengan kolom adalah bebas linier karena persamaan

memenuhi untuk

Bagaimanapun, tidak dua kolom adalah bebas linier dan, oleh karena itu, rank matriks adalah .

Rank dari matriks , ditulis rank , juga dapat diselesaikan dengan metode matriks

eselon yaitu sama dengan banyaknya pivot pada bentuk eselon dari .

Contoh 2.5:

(21)

2.1.10 Aplikasi pada Teorema Eksistensi dan Keunikan

Subbagian ini membahas mengenai syarat-syarat teoretis bagi eksistensi dan keunikan

dari solusi sistem persamaan linier dengan menggunakan pengertian rank dari suatu matriks.

Teorema 2.2:

Diberikan sistem persamaan linier dengan variabel tidak diketahui dan matriks yang

diperbesar . Maka:

a) Sistem memiliki solusi jika dan hanya jika rank rank . b) Solusinya unik jika dan hanya jika rank rank .

Bukti:

a) Sistem memiliki solusi jika dan hanya jika bentuk eselon dari

tidak memiliki baris berbentuk , dengan

Jika bentuk eselon dari memiliki baris, maka adalah pivot dari tetapi

bukan pivot dari , dan oleh karena itu rank rank . Jika sebaliknya,

bentuk eselon dari dan memiliki pivot-pivot yang sama, dan oleh karena itu rank rank . Ini membuktikan kebenaran .

b) Sistem memiliki solusi unik jika dan hanya jika bentuk eselon tidak memiliki variabel bebas. Ini berarti bahwa ada satu pivot untuk setiap variabel tidak diketahui. Sehingga rank rank . Ini membuktikan kebenaran .

2.1.11 Persamaan Matriks dari Sistem Persamaan Linier Bujursangkar

Sistem persamaan linier adalah bujursangkar jika dan hanya jika matriks yang terdiri dari koefisien-koefisien adalah matriks bujursangkar.

Teorema 2.3:

Sistem persamaan linier bujursangkar memiliki suatu solusi unik, jika dan

(22)

13

Bukti:

Jika dapat-dibalik, maka adalah suatu solusi unik. Jika dapat-dibalik, maka

dan sehingga adalah sebuah solusi. Selanjutnya, anggap adalah sebarang solusi, maka . Maka

Jadi, solusi unik.

2.1.12 Matriks Definit Positif

Teorema 2.4:

Anggap adalah suatu matriks simetrik berorde ekuivalen dengan: a) adalah definit positif.

b) Submatriks utama semuanya mempunyai determinan-determinan positif.

c) dapat direduksi menjadi matriks segitiga atas dengan hanya menggunakan operasi baris dan semua elemen poros akan positif.

d) mempunyai suatu faktorisasi Cholesky (di mana adalah matriks segitiga bawah, dengan entri-entri diagonal positif).

e) dapat difaktorkan ke dalam hasil kali untuk suatu matriks tak singular .

Bukti:

Dari yang telah diketahui bahwa (a) mengakibatkan (b), (b) mengakibatkan (c), dan (c) mengakibatkan (d). Untuk melihat bahwa (d) mengakibatkan (e), asumsikan bahwa

. Jika ditetapkan , maka taksingular dan

Akhirnya, untuk menunjukkan bahwa (e) (a), asumsikan bahwa , di mana

taksingular. Misalkan adalah sembarang vektor taknol dalam dan tetapkan

. Karena taksingular, akan menyebabkan

(23)

Terbukti.

Hasil-hasil analog terhadap Teroema 6.6.1 tidak berlaku untuk keadaan semidefinit

positif.

Contoh 2.5:

Submatriks utama semuanya mempunyai determinan taknegatif.

namun bukan semidefinit positif karena mempunyai nilai eigen negative . Sebenarnya, adalah suatu vektor eigen dari dan

Sistem Waktu Diskrit

Definisi 2.7:

Sistem adalah suatu alat atau algoritma yang beroperasi pada sinyal waktu

kontinu/diskrit (input), menurut beberapa aturan yang dibuat, untuk menghasilkan sinyal waktu kontinu/diskrit dengan bentuk lain (output) sistem tersebut.

Secara umum dinyatakan: ,

Definisi 2.8:

Sistem waktu diskrit pada dasarnya (A. Abdurrochman, 2010) adalah algoritma matematik dengan deretan masukan, , yang menghasilkan deretan keluaran, .

Ciri sistem diskrit yang linier:

Jika masukan menghasilkan

Jika masukan menghasilkan

Sistem waktu diskrit dikatakan statik (memoryless) jika output pada tiap hanya

(24)

15

Sistem Singular

Sistem singular adalah sistem dinamik yang prosesnya ditentukan dengan kedua persamaan differensial dan persamaan aljabar. Sistem seperti itu muncul dalam jaringan listrik, sistem power, dan sebagainya. Akhir dua dekade ini, ada mempelajari sistem singular secara luas seperti mencakup persoalan sebagai solvability,

controllability dan observability, penyelesaian pole dan eliminasi proses impuls, kontrol geometri kuadratik linier, regulasi output, dan decoupling input-output, (Jie Huang dan Ji-Feng Zhang, 1998).

Anggap sistem singular diskrit berikut:

dimana adalah vektor keadaan, adalah input kontrol, dan

adalah output sistem. adalah matriks konstanta yang berdimensi

telah ditentukan. Seluruh pembahasan ini diasumsikan bahwa rank dan

dengan singular. Hal ini bertujuan bahwa sistem tampak secara lengkap dan adalah pasangan regular, yaitu . Diturunkan

secara teratur sehingga menjamin memiliki adanya dan keunikan solusi, (Dianhui Wang dan C. B. Soh, 1999).

Dengan asumsi regulariti bahwa terdapat dua matriks non-singular , sedemikian

hingga sistem adalah ekuivalen sistem terbatas pada

(25)

dan adalah matriks nilpotent.

Definisi 2.9:

1. Sistem disebut controllable ( observable) jika rank

, terbatas ( rank terbatas ).

2. Sistem disebut controllable (observable) jika kedua controllable

( observable) dan rank (rank ).

3. Sistem disebut controllable ( observable) jika terdapat sebuah matriks

sedemikian hingga deg rank ( atau ada

sebuah sedemikian hingga deg rank ). Di

sini deg menunjukkan degree dari suatu polinomial.

Anggap kontrol umpan-balik keadaan:

dimana input baru. Menggunakan pada sistem menghasilkan sistem loop tertutup

Menjamin bahwa sistem loop-tertutup memiliki solusi yang unik untuk

setiap , selanjutnya menggunakan hanya yang membuat regular. Berikut tiga lemma akan dibutuhkan untuk selanjutnya.

Lemma 1:

(26)

17

dimana adalah konstanta, jika dan hanya jika sistem adalah

controllable dan atau .

Bukti:

Perlu: Dengan asumsi sebelumnya bahwa sistem adalah regular, terdapat dua matriks non-singular sedemikian hingga adalah ekuivalen sistem terbatas pada . Akibat teori sistem linier juga menunjukkan bahwa terdapat non-singular

sedemikian hingga

dimana , dan

adalah controllable. Untuk setiap matriks , sistem loop tertutup memiliki polinimial karakteristik dari

dengan

.

Telah diasumsikan bahwa sistem loop tertutup adalah regular, sehingga

deg deg . Jika terdapat memenuhi , maka

harus ditarik kesimpulan bahwa deg . Oleh sebab itu dapat tidak

ada. Ini berarti bahwa adalah controllable, atau dengan perkataan lain sistem

(27)

Cukup: Bukti cukup adalah berguna. Dengan tidak menghilangkan secara umum bahwa adalah controllable (sebaliknya, dapat membiarkannya pada bentuk controllability standard an melanjutkan pembahasan subsistem controllable). Oleh karena itu, sistem adalah controllable. dapat dipilih sedemikian hingga

deg rank . Hal itu dapat ditarik kesimpulan bahwa matriks

non-singular ada, sedemikian hingga sistem loop tertutup

adalah ekuivalen sistem terbatas pada

dimana

diag , diag ,

Karena sistem adalah controllable, adalah controllable dan

memiliki rank baris penuh , dan rank rank . Oleh karena itu, dapat memilih sedemikian hingga

Anggap

(28)

19

dan adalah controllable. Diskusi berikut dibagi menjadi dua bagian.

1. Assumsikan bahwa terdapat bilangan , rank , kolom ke dari

tidak nol. Dalam kasus ini, tanpa menghilangkan secara umum, menunjukkan bahwa . Maka dapat diketahui dengan segera bahwa

matriks ada sedemikian hingga adalah controllable. Anggap

Maka sistem loop tertutup dari dan digambarkan dengan

Pemberitahuan fakta bahwa adalah controllable, terdapat matriks

non-singular sedemikian hingga

Menunjukkan

Hal itu mengikuti bahwa sistem adalah ekuivalen sistem terbatas pada

(29)

Maka secara langsung komputasi memberikan bahwa sistem loop tertutup dibentuk dengan dan memiliki polinomial karakteristik:

konstanta,

dimana . Dan sekarang

dipilih sebagai suatu cara akan memenuhi persamaan .

2. Pada bagian yang lain, membiarkan rank kolom dari , adalah nol.

Menunjukkan

dimana kolom pertama dari tidak vektor nol. Anggap ,

sistem menjadi

Jadi, hal itu ditukar pada kasus

Akibat 2.1:

Jika sistem adalah controllable dan , terdapat sedemikian

hingga ada.

Akibat 2.2:

(30)

21

Lemma 2.2:

Menunjukkan sistem menjadi controllable dan keduanya memenuhi deg rank . Maka lanjutan subsistem dari dua sistem berikut:

memiliki indeks observabiliti yang sama.

Bukti:

Pertama, terdapat matriks non-singular sedemikian hingga sistem dan adalah, berturut-turut, ekuivalen sistem terbatas pada

dimana

diag diag

Pada bagian lain, anggap , dengan matriks

transformasi sistem adalah ekuivalen sistem terbatas pada

(31)

Sistem menjadi

dimana

Karena dan adalah keduanya dekomposisi standar dari sistem ,

maka diketahui bahwa terdapat matriks non-singular sedemikian hingga

Jika adalah indeks observabiliti dari berturut-turut. Dari definisi

(32)

BAB 3

PEMBAHASAN

Pada bab ini akan dibahas penyelesaian masalah regularisasi sistem singular linier.

Regularisasi Sistem Waktu Diskrit Singular

Diberikan sistem waktu diskrit singular:

dimana adalah vektor keadaan, adalah input kontrol, dan

adalah output sistem. Matriks dimaksudkan menjadi sebuah matriks singular. Hal ini bertujuan bahwa sistem tampak secara lengkap dan

adalah pasangan regular, yaitu . Diturunkan secara teratur sehingga menjamin memiliki adanya dan keunikan solusi.

Dalam bab ini, akan diselidiki kondisi adanya peningkatan controller sedemikian hingga sistem di bawah umpan-balik

adalah ekuivalen terhadap sistem waktu-diskrit regular dari bentuk:

dimana adalah invertible atau sebuah matriks bujursangkar rank

(33)

adalah input kontrol baru yang dibentuk sebelumnya. Komputasi diselesaikan melalui solusi pertidaksamaan matriks linear. Selanjutnya, berikan kondisi pertidaksaan matriks linear yang sama bahwa terdapat adanya pengontrol peregularan dari bentuk:

dimana adalah sebuah matriks konstan dari dimensi . Untuk kedua hal ini,

diasumsikan bahwa didapatkan untuk umpan-balik dengan observer yang tepat.

3.1.1 Regularisasi dengan Prediktive Umpan-Balik Statis

Suatu prediksi umpan-balik statis didefinisikan seperti dalam persamaan .

Perhitungan keadaan penuh sistem singular pada tahap mengharuskan perintah

obersver penuh. Sebuah kondisi yang perlu untuk adanya penanbahan adalah bahwa

rank

Dalam subbab ini, diberikan kondisi pertidaksamaan matriks linear cukup

untuk meregularkan sistem dengan prediksi umpan-balik statis dari bentuk . Dapat diringkaskan hasil subbab ini dalam pernyataan berikut.

Teorema 3.1:

Jika terdapat matriks pasti positif dan sebuah matriks sedemikian hingga pertidaksamaan matriks linear diperoleh

Maka terdapat sedemikian hingga matriks memiliki

(34)

25

Bukti:

Matriks memiliki sebuah rank penuh jika dan hanya jika

. Hal ini berarti bahwa ada dan sebagai akibatnya,

ada. Jika , maka

Sebaliknya dengan , ini memberikan

Karena diberikan matriks simetri dan , diperoleh

maka jika diambil dan , diperoleh

Jika pertidaksamaan berikut diperoleh

maka dengan sebelum dan melalui perkalian pertidaksamaan sebelumnya dengan ,

diperoleh

(35)

dan kemudian dibuktikan dimana menjelaskan bahwa invertibel. Dengan lemma komplemen Schur, pertidaksamaan adalah ekuivalen

terhadap . Terbukti.

3.1.2 Regularisasi dengan Prediktive Output Umpan-Balik Statis

Peregularan sistem singular dengan prediksi output umpan-balik statis dari

bentuk adalah hal yang khusus dari regularisasi dengan prediksi ouput keadaan penuh umpan-balik statis yang didiskusikan pada subbab sebelumnya. Informasi dapat diperoleh dengan gambaran seorang pengamat untuk sistem

waktu-diskrit singular atau dengan perhitungan output diskrit . Prediksi output

dapat juga diperoleh dari estimasi turunan pertama dari . Kondisi cukup untuk adanya sebuah prediksi output umpan-balik statis bahwa meregularkan sistem singular yang diberikan dengan teorema berikut.

Teorema 3.1:

meregularkan sistem dan matriks memiliki sebuah rank penuh.

Bukti: Seperti yang telah diketahui dari subbagian sebelumnya, kondisi invertibiliti matriks adalah ekuivalen terhadap pertidaksamaan berikut

(36)

27

Pertidaksamaan sebelumnya dapat ditulis kembali sebagai

Untuk beberapa , diperoleh

Lebihlanjut, dengan menggunakan (3.8), dapat ditulis

Hal ini menyatakan bahwa jika

maka dibuktikan. Menggunakan lemma komplemen Schur, maka

(37)

BAB 4

KESIMPULAN

Masalah regularisasi sistem singular waktu diskrit dengan predictive controller telah ditunjukkan. Pertidaksamaan matriks linier yang memenuhi kondisi untuk eksistensi

peregularan umpan-balik sistem

diberikan, dimana adalah vektor keadaan, adalah input

kontrol, dan adalah output sistem. Matriks dimaksudkan menjadi sebuah matriks singular. Hal ini bertujuan bahwa sistem tampak secara lengkap dan adalah pasangan regular, yaitu atau dengan perkataan lain

(38)

29

DAFTAR PUSTAKA

1. A. Bunse-Gerstner, Ralph Byers, Volker Mehrmann, dan Nancy K. Nichols. 1999. “Feedback design for regularizing descriptor system”. Journal ofLinear algebra and its application.

2. Abdurrochman, A. 22 Juni 2010. Pengolahan Sinyal Elektronika (Transformasi ).

3. Dianhui Wang dan C. B. Soh. 1999. “On Regularizing Singular Systems by Decentralized Output Feedback”. IEEE Transactions on Automatic Control, vol. 44.

4. Glenn W. Stagg dan Ahmed H. El-Abiad. 1968. Computer Methods in Power System Analysis. International Student Edition. Tokyo: McGraw-Hill, Inc.

5. Guang-Ren Duan dan Xian Zhang. September 2003. “Regularizability of linear descriptor system via output plus partial state derivative feedback”. Asian journal of Control.

6. Jie Huang dan Ji-Feng Zhang. 1998. “Impulse-Free Output Regulation of Singular Nonlinear Systems”. International Journal Control, vol.71. 7. Liyi Dai, 1988. “Observer for Discrete Singular System”. IEEE

Transactions on Automatic Control, vol. 33.

8. Liyi Dai. 1989. “Observer for Discrete Singular System”. IEEE

Transactions on Automatic Control, vol. 34.

9. S. Ibrir. 2009. “Linear matrix inequality approach to regularization and stabilization of linear singular system: the discrete-time case”. World

Academy of Science, Engineering and Technology.

(39)

11.Leon, J. Steven. 2001. Aljabar Linear dan Aplikasinya. Terjemahan Drs. Alit Bondan, M.Kom. Jakarta: Penerbit Erlangga.

12.http://www.google.com/pdf/ppt-te4230-bab_sinyal_dan_sistem.pdf.

Referensi

Dokumen terkait

adanya solusi... Apa yang kita amati dalam contoh-contoh di atas ternyata berlaku umum. jika rank matriks koefisien lebih kecil dari banyaknya unsur yang tak diketahui maka

adanya solusi... Apa yang kita amati dalam contoh-contoh di atas ternyata berlaku umum. jika rank matriks koefisien lebih kecil dari banyaknya unsur yang tak diketahui maka

Dalam [5], Kaczoreck menyatakan bahwa jika A adalah singular, maka sistem (1.1) mempunyai solusi untuk suatu kondisi awal yang konsisten x0, jika det ( λA

Jadi, jika sistem homogen diberikan memiliki persamaan m pada n anu dengan m<n, dan jika ada r non nol baris dalam bentuk eselon baris tereduksi dari matriks yang diperbesar,

Contoh bentuk sinyal waktu kontinyu bisa dilihat seperti pada Gambar 2.2a, yang dalam hal ini memiliki bentuk sinusoida dan bisa dinyatakan dalam bentuk fungsi matematik x(t) =

3) Sebuah pabrik memiliki 3 buah mesin A, B, dan C. Jika ketiga mesin bekerja , 5700 lensa yang dapat dihasilkan dalam satu minggu. Jika hanya mesin A dan B bekerja, 3400 lensa

Sistem persamaan linier di atas, hanya mempunyai solusi jika 3a+b+6c- 15d=0, sedangkan yang diminta untuk sebarang nilai: a, b, c, dan d.. Jadi, ada matrik 2x2 yang tidak

METODE ITERASI LELARAN • Jika metode eliminasi Gauss dan variasi- variasinya serta metode dekomposisi LU dinamakan metode langsung direct -karena solusi SPL diperoleh tanpa lelaran-