IMPLEMENTASI PENILAIAN AUTENTIK PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DAN BUDI PEKERTI
KELAS VII DI SMP NEGERI 2 TUNTANG TAHUN PELAJARAN 2017/2018
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memperoleh GelarSarjana Pendidikan (S.Pd)
Oleh
MUSLIKHATUN NIM 11114341
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)SALATIGA
iii
IMPLEMENTASI PENILAIAN AUTENTIK PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DAN BUDI PEKERTI
KELAS VII DI SMP NEGERI 2 TUNTANG TAHUN PELAJARAN 2017/2018
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memperoleh GelarSarjana Pendidikan (S.Pd)
Oleh
MUSLIKHATUN NIM 11114341
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)SALATIGA
vii MOTTO
“Waktu adalah kesempatan yang tidak akan datang kedua kalinya”
Demi masa, Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, Kecuali orang-orang
yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati
viii
PERSEMBAHAN
Skripsi ni saya persembahkan untuk :
1. Keluarga tercinta Ayahanda dan Ibundayang telah membesarkan dan mendidikku dengan penuh ketulusan, kasih sayang dan pengorbanan baik secara lahir maupun batin dengan iringan do’a dan restunya.
2. Kepada adikku tercinta (Ita Safitri) aur beloved slibling
3. Seluruh keluarga besar kakekku Pawiro Gimin terimakasih atas dukungan dan motivasinya
4. Kepada ibu Dra. Siti Asdiqoh M.Si. selaku pembimbing dan sekaligus sebagai motivator serta pengarah sampai selesainya penulisan skripsi ini
5. Kepada seluruh sahabat-sahabatku tercinta (Mendhess, Ade, Kiki, Irin, Defi, Sy, Trihar) yang selalu memberikan semangat untuk segera menyelesaikan skripsi ini. Kawan-kawan seperjuangan angkatan 2014 yang telah memberikan motivasi dan semangat belajar.
6. Kepada seluruh sahabat-sahabatku KKN Mejing 6 yang selalu mensupport dalam menyelesaikan skripsi ini.
7. untuk ketum GJB (Muhlisin) yang sekarang masih jomblo dan sedang mencari. 8. untuk seluruh keluarga besar GJB yang selalu memberikan dukungan dalam
ix
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Swt, atas rahmat, hidayah dan inayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul “Implementasi Penilaian AutentikMata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Kelas VII di SMP Negeri 2 Tuntang”. Shalawat serta salam tak lupa penulis sanjungkan kepada Nabi
Agung Muhammad Saw, beserta keluarganya dan para sahabatnya.
Dalam penyusunan skripsi ini, penulis memperoleh bimbingan dan arahan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini dengan segala kerendahan hati, penulis mengucapkan terimakasih kepada:
1. Bapak Dr. Rahmat Haryadi, M.Pd., selaku Rektor IAIN Salatiga.
2. Bapak Suwardi, M.Pd., Selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) IAIN Salatiga.
3. Ibu Siti Rukhayati, M.Ag., Selaku Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI). 4. Ibu Dra. Siti Asdiqoh M.Si., Selaku dosen pembimbing yang telah memberikan arahan
dalam penyusunan skripsi ini.
5. Bapak dan Ibu dosen IAIN Salatiga yang telah memberikan ilmunya kepada penulis. 6. Bapak Agus Triyono S.Pd, M.Pd selaku kepala sekolah SMP Negeri 2 Tuntang.
7. Bapak dan Ibu guru SMP Negeri 2 Tuntang yang telah membimbing dan membantu dalam penelitian ini.
8. Kedua orang tuaku, adikku (Ita Safitri), kakek nenekku, telah memberikan dukungan baik secara lahiriyah maupun batiniyah dalam penyusunan skripsi ini.
9. Tika ade septiani, khoirin nisai, defi candra, tri hartanto, amin mendes, kiki, sy, nwf. 10.Sahabat-sahabat seperjuangan yang telah memberikan motivasi kepada penulis dalam
menyelesaikan skripsi ini.
x
Demikian ucapan terimakasih penulis sampaikan. Penulis hanya bisa memanjatkan doa kepada Allah Swt, semoga segala amal kebaikan yang tercurahkan pada penulis diridhoi Allah Swt dengan mendapatkan balasan yang berlipat ganda.
Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis khusunya dan bagi pembaca lainnya. Dengan keterbatasan dan kemampuan, skripsi ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan untuk kesempurnaan skripsi ini.
xi ABSTRAKSI
Muslikhatun. 2017.Implementasi Penilaian Autentik Pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Kelas VII di SMP Negeri 2 Tuntang. Skripsi. Jurusan Tarbiyah. Program Studi Pendidikan Agama Islam. Institut Agama Islam Negeri Salatiga. Pembimbing: Dra. Siti Asdiqoh, M.Si.
Kata Kunci: Implementasi Penilaian Autentik, Mata Pelajaran PAI.
Penelitian ini merupakan upaya untuk mengetahui bagaimana model evaluasi mata pelajaran pendidikan agama Islam dan budi pekertidi SMPN 2 tuntang kabupaten semarang. Pertanyaan utama yang ingin dijawab melalui penelitian ini adalah: (1) bagaimana model evaluasi mata pelajaran pendidikan agama Islam dan budi pekertidi kelas VII, (2) bagaimana implementasi model evaluasi mata pelajaran pendidikan agama Islam dan budi pekerti di kelas VII?.
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang menghasilkan data-data yang diperoleh dari obyek penelitian dengan metode wawancara, metode pengamatan dan metode dokumentasi, yang kemudian dilakukan analisis dengan cara mendeskripsikan data dari key informan, mereduksi data sesuai kebutuhan penelitian kemudian dianalisi oleh penulis, disimpulkan untuk menjawab tujuan penelitian.
xii DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL ... i
LEMBAR BERLOGO ... ii
HALAMAN JUDUL ... iii
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iv
HALAMAN PENGESAHAN ... v
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN ... vi
MOTTO ... vii
PERSEMBAHAN ... viii
KATA PENGANTAR ... ix
ABSTRAKSI ... xi
DAFTAR ISI ... xii
DAFTAR TABEL DAN BAGAN ... xv
DAFTAR LAMPIRAN ... xvi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Fokus Penelitian ... 5
C. Tujuan Penelitian ... 5
D. Kegunaan Penelitian ... 6
E. Penegasan Istilah ... 6
F. Metode Penelitian ... 9
xiii BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Model Evaluasi
1. Pengertian Evaluasi ... 15
2. Tujuan dan Fungsi Evaluasi ... 17
3. Ruang lingkup domain penilaian ... 20
4. Jenis-jenis Evaluasi ... 23
B. Implementasi Model Evaluasi 1. Pengertian Implementasi ... 27
2. Implementasi model evaluasi pada mata pelajaran PAI ... 28
C. Pendikan Agama Islam 1. Pengertian Pendidikan Agama Islam ... 30
2. Landasan Dasar Pelaksanaan PAI ... 31
3. Tujuan dan Manfaat PAI ... 34
BAB III PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN A. Paparan Data 1. Tinjauan Historis ... 37
2. Letak Geografis ... 37
3. Identitas Sekolah ... 38
4. Data Guru SMP Negeri 2 Tuntang ... 41
5. Struktur Organisasi SMP Negeri 2 Tuntang... 42
xiv B. Temuan Hasil Penelitian
1. Profil Informan ... 44 2. Temuan Penelitian ... 45 BAB IV ANALISIS DATA
A. Model evaluasipada mata pelajaran PAI dan Budi Pekerti ... 55 B. Implementasi model evaluasi pada mata pelajaran PAI dan Budi
Pekerti ... 62 BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan ... 65 B. Saran ... 67 C. Penutup ... 67 DAFTAR PUSTAKA
xv
DAFTAR TABEL DAN BAGAN
xvi
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 : Foto wawancara dengan key informan
Lampiran 2 : RPP Kelas VII SMPN 2 Tuntang
Lampiran 3 : Contoh input nilai pengetahuan mata pelajaran PAI dan Budi Pekerti kelas VII SMPN 2 Tuntang
Lampiran 4 : Contoh input nilai sikap mata pelajaran PAI dan Budi Pekerti kelas VIISMPN 2 Tuntang
Lampiran 5 : Contoh input nilai keterampilan mata pelajaran PAIdan Budi PekertikelasVII SMPN 2 Tuntang
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pembelajaran merupakan kegiatan mentransfer ilmu dari pendidik kepada peserta didik. Disamping itu, di dalam proses pembelajaran berkaitan dengan berbagai metode. Seorang guru menggunakan metode-metode yang beragam dalam menyampaikan sebuah materi yang bertujuan untuk mencapai pembelajaran yang maksimal. Tidak hanya itu, seorang pendidik juga harus membuat penilaian terhadap peserta didiknya. Dengan demikian, pendidik dapat mengetahui hasil dari pembelajaran yang telah berlangsung.
Keberhasilan pembelajaran yang dilakukan dapat dilihat dari perubahan tingkah laku peserta didik. Perubahan tersebut merupakan hasil dari penerapan pembelajaran yang diberikan oleh pendidik. Oleh karena itu pembelajaran yang telah diberikan oleh pendidik haruslah bermakna bagi seluruh peserta didik sehingga apa yang telah diberikan oleh pendidik dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam menilai perubahan perilaku peserta didik tidak hanya dilihat dan diukur berdasarkan kognitifnya saja, akan tetapi berdasarkan nilai-nilai hasil ulangan/tugas harian yang diberikan oleh pendidik.
2
konsekuensi logis dari terjadinya perubahan sistem politik, sosial budaya, ekonomi, dan iptek dalam bermasyarakat berbangsa dan bernegara (Hidayati, 2014: 68-69).
Standar Kompetensi Lulusan (SKL) untuk satuan pendidikan dasar dan menengah digunakan sebagai pedoman penilaian dalam menentukan kelulusan peserta didik. Satandar Kompetensi Lulusan meliputi standar kompetensi minimal satuan pendidikan dasar dan menengah, standar kompetensi lulusan minimal kelompok mata pelajaran, dan standar kompetensi lulusan minimal mata pelajaran, yang akan bermuara pada kompetensi dasar (Mulyasa, 2008: 27).Jadi penilaian pada kurikulum KTSPdilakukan selama proses pembelajaran atau pada akhir pembelajaran.Fokus penilaian pendidikan adalah keberhasilan belajar peserta didik dalam mencapai standar kompetensi lulusan yang ditentukan. Pada tingkat mata pelajaran, kompetensi yang harus dicapai berupa Standar Kompetensi (SK), mata pelajaran yang selanjutnya dijabarkan dalam Kompetensi Dasar (KD). Untuk tingkat satuan pendidikan, kompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik adalah Standar Kompetensi Kelulusan (SKL).
3
perkembangan teknologi, pengetahuan, dan metode belajar semakin lama semakin mengalami kemajuan yang sangat pesat.
Kurikulum sebagai satu komponen yang sangat menentukan dalam suatu sistem pendidikan. Oleh karena itu, kurikulum merupakan salah satu alat untuk mencapai tujuan pendidikan, sekaligus merupakan pedoman dalam pelaksanaan pembelajaran pada semua jenis dan jenjang pendidikan (Arifin, 2011: 1).
Kurikulum 2013 merupakan kurikulum pengganti kurikulum 2006 atau biasa disebut KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). Seperti yang dikemukakan oleh Kemendikbud KTSP diubah menjadi kurikulum 2013, tepatnya bulan juli 2013 yang dilakukan secara bertahab disekolah. Dalam rangka mempersiapkan generasi yang produktif, inovatif, kreatif, dan afektif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasayarakat, bangsa, dan negara.
Implementasi kurikulum 2013 dalam proses pembelajaran banyak sekali pendekatan diantaranya pendekatan scientifik/ilmiah, pendekatan pembelajaran konstekstual, pembelajaran berbasis masalah, pembelajaran berbasis projek, pembelajaran kooperatif, pendekatan komunikataif dan yang digunakan salah satunya dengan pendekatan scientifik. Pendekatan scientifik dalam pembelajaran melibatkan keterampilan proses, seperti mengamati, mengklasifikasi, mengukur, meramalkan, menjelaskan, dan menyimpulkan (Hosnan, 2014: 34).
4
sejumlah bukti-bukti yang menunjukkan pencapaian hasil belajar peserta didik yang diharapkan mampu memberikan informasi terkait dengan perkembangan peserta didik.
Evaluasi atau asesmen hasil belajar oleh pendidik dimaksudkan untuk mengukur kompetensi atau kemampuan tertentu terhadap kegiatan yang telah dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran, sedangkan penilaian untuk mengetahui sikap digunakan teknik nontes. Jenis evaluasi tes dapat berupa tes tulis, tes lisan, tes kinerja/tes praktik, sedangkan nontes berupa observasi dan penugasan baik perorangan maupun kelompok dapat berbentuk tugas rumah dan/atau proyek, produk, portofolio dan penilaian afektif. Sedangkan teknik penilaian tidak lepas dari jenis instrumen yang digunakan dan aspek yang dinilai dalam rangka mengumpulkan informasi kemajuan belajar peserta didik, baik yang berhubungan dengan proses belajar maupun hasil belajar, sesuai dengan kompetensi yang harus dikuasai. Penilaian kompetensi dilakukan melalui pengukuran indikator-indikator pada setiap kompetensi dasar (Hosnan, 2014: 387)
5
dengan penambahan waktu ini justru akan cukup berguna untuk meningkatkan hasil belajar siswa
Berdasarkan latar belakang itulah, peneliti membuat judul“IMPLEMENTASI PENILAIAN AUTENTIKPADA MATA
PELAJARANPENDIDIKAN AGAMA ISLAM DAN BUDI PEKERTI
KELAS VII DI SMPNEGERI 2 TUNTANG TAHUN PELAJARAN
2017/2018”
B. Fokus Penelitian
1. Bagaimanaevaluasi pada mata pelajaran pendidikan agama Islam dan budi pekerti kelas VII di SMP Negeri 2 Tuntang tahun pelajaran 2017/2018?
2. Bagaimana implementasi evaluasipada mata pelajaran pendidikan agama Islam dan budi pekerti kelas VII di SMP Negeri 2 Tuntang tahun pelajaran 2017/2018? C. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui bagaimanaevaluasi pada mata pelajaran pendidikan agama Islam dan budi pekerti kelas VII di SMP Negeri 2 Tuntang tahun pelajaran 2017/2018.
6 D. Kegunaan Penelitian
Adapun manfaat penelitian ini adalah: 1. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan, pemahaman dan khazanah keilmuan tentang implementasi penilaian
autentikpada mata pelajaran pendidikan agama Islamdan budi pekerti. 2. Manfaat Praktis
a. Untuk menambah wawasan dan pengetahuan bagi penulis tentang implementasi penilaian autentikpada mata pelajaran pendidikan agama Islam dan budi pekerti.
b. Dapat dijadikan disiplin ilmu khususnya tentang implementasi pada mata pelajaran pendidikanagama Islam dan budi pekerti sesuai dengan kaidah-kaidah dan langkah-langkah ilmiah.
E. Penegasan Istilah
Untuk menghindari adanya kesalahpahaman serta dapat memberikan pemahaman dalam melakukan penelitian, maka peneliti memberikan batasan-batasan istilah sebagai berikut:
1. Penilaian Autentik
7
Penilaian Autentik adalah pengukuran yang bermakna signifikan atas hasil belajar peserta didik untuk ranah xsikap, keterampilan, dan pengetahuan
( Hosnan, 2014: 388)
Dari dua definisi diatas dapat disimpulkan bahwapenilaian
autentikmerupakan pengambilan sebuahkeputusan untuk mengukur sejauh mana siswa mencapai kompetensi dalam aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.
2. Pendidikan Agama Islam
Pendidikan Agama Islam adalah upaya mendidik ajaran Islam agar menjadi way of life (jalan hidup). Dalam buku pedoman PAI untuk sekolah umum, Pendidikan Agama Islam merupakan usaha sadar dan terencana untuk menyiapkan peserta didik dalam meyakini, memahami, menghayati, dan mengamalkan agama Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, atau latihan dengan dibarengi tuntunan untuk menghormati penganut agama lain hubungannya dengan kerukunan umat bergama, sehingga terwujud kesatuan dan persatuan bangsa (Sudjana, 1990: 3).
8
Jadi yang dimaksud dengan judul penelitian ini adalah pada proses pembelajaran PAI untuk menilai peserta didik pada ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik dengan berbagai penilaian atau evaluasi dapat dilakukan seperti penilaian diri, penilaian antar peserta didik, penilaian kinerja, penilaian proyek, penilaian portofolio, dan penilaian tertulis. Melalui penilaian tersebut, dapat dilihat bahwa tujuan pembelajaran sebagaimana yang termuat dalam kurikulum sudah tercapai atau belum. Model penilaian ini dapat berubah sesuai kurikulum yang berlaku.
F. Metode Penelitian
Untuk memperolehpenelitian yang valid, maka harus digunakan metode yang tepat dalam pengolahan dan sesuai untuk objek yang dibahas. Dalam hal ini dikemukakan beberapa metode dan sumber data yang berkaitan dengan penelitian yaitu:
1. Pendekatan dan Jenis Penelitian
9 2. Kehadiran peneliti
Dalam penelitian ini, peneliti sebagai pencari informasi dan sekaligus pengumpul data. Peneliti hadir di lapangan untuk mendapatkan data dalam waktu tertentu yang mengharuskan peneliti untuk mencari data.
3. Lokasi penelitian
Lokasi yang dipilih untuk penelitian ini adalah SMPNegeri 2 Tuntang karena sekolah tersebut baru menerapkan kurikulum 2013 di awal tahun pembelajaran 2017/2018 dan masih pada tahap percobaan. Dengan pertimbangan inilah peneliti memilih SMPNegeri 2 Tuntang sebagai lokasi penelitian.
4. Sumber Data
a. Sumber data primer merupakan sumber pokok yang memuat ide-ide awal tentang suatu bahan kajian. Dalam hal ini data diperoleh dari guru mata pelajaran PAI, Waka Kurikulum, Siswa, dan Kepala Sekolah SMPNegeri 2 Tuntang untuk menggali data tentang bagaimana model evaluasi pada mata pelajaran PAI dan bagaimana implementasi model evaluasi mata pelajaran PAI.
10 5. Prosedur Pengumpulan Data
Adapun dalam pengkajian skripsi ini peneliti menggunakan teknik pengumpulan data penelitian dengan cara sebagai berikut:
a. Metode Wawancara
Wawancara adalah suatu proses tanya jawab lisan, dalam mana 2 orang atau lebih berhadapan secara fisik, yang satu dapat melihat muka yang lain dan mendengar dengan telinga sendiri dari suaranya (Sukandarrumidi, 2004: 88). Data-data yang dikaji dan dihimpun dari teknik ini yaitu segala sesuatu yang berkaitan dengan data-data atau informasi dari berbagai sumber baik dari kepala sekolah, waka kurikulum, siswa, maupun guru Pendidikan Agama Islam terhadap penilaian autentikpada mata pelajaran pendidikan agama Islam dan budi pekerti kelas VII di SMP Negeri 2 Tuntang.
b. Metode Pengamatan
11
menggunakan metode Observasi Partisipatif Pasif yakni peneliti mengamati namun tidak mengikuti kegiatan subjek penelitian.
c. Metode Dokumentasi
Foto mempunyai keuntungan tersendiri. Foto dapat menangkap, “membekukan” suatu situasi pada detik tertentu dan dengan demikian
memberikan bahan deskriptif yang berlaku bagi saat itu (Nasution, 2002: 87).
Dengan teknik dokumentasi berupa foto atau gambar data yang dapat dikaji dan dihimpun dari teknik dokumentasi ini yaitu catatan kegiatan yang menunjukkan seluruh fakta dan data yang tersimpan dalam bahan penelitian yang bisa berbentuk gambar, foto, rekaman wawancara, berkas-berkas dan dokumentasi pendukung lainnya. Seluruhnya dapat peneliti gunakan sebagai penguat seluruh informasi.
6. Analisi Data
Analisis data kualitatif yang dikemukakan oleh Bogdan & Biklen (1982) adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari, dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain (Meleong, 2010: 248).
12
Fokus analisis data ini pada ruang lingkup evaluasi mata pelajaran pendidikan agama Islam dan budi pekerti dan implementasi evaluasi mata pelajaran pendidikan agama Islam dan budi pekerti.
7. Pengecekan Keabsahan Data
Pengecekan keabsahan data yang peneliti gunakan adalah triangulasi. Triangulasi setara dengan “cek dan ricek” yaitu pemeriksaan kembali data
dengan tiga cara, yaitu triangulasi sumber, metode dan waktu. Data yang akurat lebih banyak didapat dari data sumber, informan dapat memberikan data dengan sebanyak-banyaknya tanpa harus dibatasi. Jadi data triangulasi yang peneliti gunakan adalah triangulasi sumber. Triangulasi sumber yaitu mencari sumber-sumber lain disamping sumber-sumber yang telah didapatkan. Untuk mengetahui keteladanan guru, peneliti bisa melakukan wawancara dengan banyak guru, banyak siswa, kepala sekolah, bahkan penjaga sekolah. Prinsipnya lebih banyak sumber, lebih baik (Putra & Santi Lisnawati, 2013: 34).
8. Tahap-tahap Penelitian
Dalam penelitian ada beberapa tahap-tahap yang dilakukan oleh peneliti, antara lain:
a. Melakukan observasi lapangan sehingga dapat secara langsung memperoleh data.
13
c. Mereduksi data dengan memilih, mengelompokkan data yang sesuai dengan tema dan mengurangi data-data yang tidak relevan atau data-data yang sekiranya tidak diperlukan.
d. Penyajian data dengan urutan-urutan yang memudahkan dalam penyusunan data.
e. Melakukan verifikasi/penyimpulan dari penelitian yang dilakukan. G. Sistematika Penelitian
Penulisan skripsi ini penulis membaginya menjadi lima bab. Pada tiap bab terdapat sub-sub bab yang menjelaskan pokok bahasan dari bab yang bersangkutan. Adapun sistematikanya sebagai berikut:
BAB I: Pendahuluan, yang menjelaskan pokok-pokok pikiran yang menjadi dasar penulisan skripsi ini. Adapun dari pokok-pokok tersebut ialah: latar belakang masalah penelitian, fokus penelitian, kegunaan penelitian, penegasan istilah, metode penulisan, dan sistematika penulisan.
14
BAB III: Paparan Data dan Temuan Penelitian mengenai pokok bahasan pada sub pertama mengenai tinjauan gambaran umum SMPN 2 Tuntang, tinjauan historis, letak geografis, visi misi tujuan, jumlah guru, struktur organisasi, sarana prasarana, dan data hasil penelitian yang dilakukan.
BAB IV: Pembahasan. Dalam bab ini berisi tentang hasil penelitian yang telah dilakukan di lapangan mengenai implementasi penilaian autentik pada mata pelajaran pendidikan agama Islam dan budi pekerti kelas VII di SMP Negeri 2 Tuntang.
15 BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Model Evaluasi
1. Pengertian Evaluasi
Menurut Bloom (1971) bahwa evaluasi adalah pengumpulan kenyataan secara sistematis untuk menetapkan apakah dalam kennyataanya terjadi perubahan dalam diri siswa dan menetapkan sejauh mana tingkat perubahan dalam pribadi siswa (Daryanto, 1999: 1).
Dalam istilah asing, pengukuran adalah measurement, sedang penilaian adalah evaluation. Evaluasi berarti menilai tetapi dilakukan dengan mengukur terlebih dahulu. Menurut Cronbach dan Stufflebeam bahwa proses evaluasi bukan sekedar mengukur sejauh mana tujuan tercapai, tetapi digunakan untuk membuat keputusan (Daryanto, 1999: 6).
Jadi evaluasi merupakan kegiatan pengumpulan data atau informasi yang digunakan dalam pengambilan keputusan serta mengukur sejauh mana hasil yang diperoleh siswa dalam mencakup aspek sikap, pengetahuan dan keterampilan.
Penilaian memainkan peranan penting di sekolah. Untuk itu, guru harus mampu memilih prosedural-prosedural penilaian yang tepat untuk membuat keputusan pembelajaran (Suprananto, 2012: 11).
16
siswa selama proses pembelajaran serta menentukan sejauh mana hasil dari implementasi kurikulum yang diterapkan. Penilaian merupakan salah satu aspek penting dalam proses pembelajaran disamping dapat memantau dan melihat sejauh mana perkembangan siswa baik dari segi perilaku maupun prestasi akademisnya penilaian juga dapat memberikan evaluasi bagi peserta didik dalam memahami dirinya. Penilaian yang dilakukan dapat dengan memberi skor, nilai atau angka yang biasa dilakukan dalam penilaian hasil belajar.
Pada kurikulum 2013 penilaian mencakup beberapa aspek yaitu aspek sikap, pengetahuan dan keterampilan. Dalam kurikulum 2013 kompetensi sikap dibagi menjadi 2 yaitu sikap spiritual dan sikap sosial dengan pembentukan peserta didik yang beriman dan bertakwa, dan sikap sosial yang terkait dengan pembentukan pserta didik yang berakhlak mulia, mandiri, demokratis, dan bertanggung jawab (Fathurrohman, 2015: 445).Penilaian yang dilakukan secara menyeluruh dari semua segi aspek akan memberikan informasi yang akurat terhadap perkembangan para siswa, dan salah satu aspek yang dijadikan ajang perubahan dan penataan dalam kaitannya dengan implementasi kurikulum 2013 adalah penataan standar penilaian. Pada akhirnya penataan penilaian tersebut tetap bermuara dan berfokus pada pembelajaran, karena pembelajaran merupakan inti dari implementasi kurikulum 2013.
17
Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 66 Tahun 2013 tentang Standar Penilaian Pendidikan dijelaskan bahwa penilaian pendidikan merupakan proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik yang mencakup: penilaian otentik, penilaian diri, penilaian berbasis portofolio, ulangan, ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, ujian tingkat kompetensi, ujian mutu tingkat kompetensi, ujian nasional, dan ujian sekolah/madrasah. Penilaian hasil peserta didik mencakup kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan (Fathurrohman, 2015: 473). 2. Tujuan dan Fungsi Evaluasi
Tujuan berhubungan dengan sesuatu yang akan dicapai sedangkan fungsi memiliki kedudukan yang dinamis dalam mencapai suatu tujuan. Adapun tujuan dari evaluasi yaitu:
a. Mendeskripsikan kecakapan belajar para siswa sehingga dapat diketahui kelebihan dan kekurangannya dalam berbagai bidang studi atau mata pelajaran yang ditempuhnya. Dapat pula diketahui posisi kemampuan siswa dibandingkan siswa lainnya;
18
c. Menentukan tindak lanjut penilaian, yakni melakukan perbaikan dan penyempurnaan dalam hal program pendidikan dan pembelajaran serta strategi pelaksanaannya; dan
d. Memberikan pertanggungjawaban dari pihak sekolah kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Pihak yang dimaksud meliputi pemerintah, masyarakat, dan para orang tua siswa (Fathurrohman, 2015: 440-441).
Dari tujuan di atas sejalan dengan fungsi evaluasi. Dalam dunia pendidikan evaluasi terdapat beberapa makna jika ditinjau dari beberapa segi:
a. Manfaat bagi siswa
Dengan diadakannya evaluasi, maka siswa akan dapat mengetahui sejauh mana telah berhasil mengikuti pelajaran yang diberikan oleh guru. Hasil yang diperoleh oleh siswa dari pekerjaan menilai yaitu:
1) Memuaskan, jika siswa memperoleh hasil yang memuaskan, dan hal itu menyenangkan, tentu kepuasan itu diperolehnya lagi pada kesempatan lain waktu. Akibatnya, siswa akan mempunyai motivasi yang cukup besar untuk belajar lebih giat, agar lain kali mendapatkan hasil yang memuaskan lagi; dan
19 b. Manfaat bagi guru
1) Dengan hasil penilaian yang diperoleh guru akan dapat mengetahui siswa-siswa mana yang sudah berhak melanjutkan pelajarannya karena sudah berhasil menguasai bahan, maupun mengetahui siswa-siswa yang belum berhasil menguasai bahan. Dengan petunjuk ini guru dapat lebih memusatkan yang belum berhasil.
2) Guru akan mengetahui apakah materi yang diajarkan sudah tepat bagi siswa, sehingga untuk memberikan pengajaran di waktu yang akan datang tidak perlu diadakan perubahan.
3) Guru akan mengetahui apakah metode yang digunakan sudah tepat atau belum. Jika sebagian besar dari siswa memperoleh angka jelek pada penilaian yang diadakan, mungkin hal ini disebabkan oleh pendekatan atau metode yang kurang tepat. Apabila demikian guru harus mawas diri dan mencoba mencari metode yang lain dalam mengajar.
c. Manfaatnya bagi sekolah
20
2) Informasi dari guru tentang tepat tidaknya kurikulum untuk sekolah itu dapat merupakan bahan pertimbangan bagi perencanaan sekolah untuk masa-masa yang akan datang.
3) Informasi hasil penilaian yang diperoleh dari tahun ke tahun, dapat digunakan sebagai pedoman bagi sekolah, yang dilakukan oleh sekolah sudah memenuhi standar atau belum. Pemenuhan standar akan terlihat dari bagusnya angka-angka yang diperoleh siswa (Daryanto, 1999: 9-11).
Dengan mengetahui manfaat evaluasi di atas fungsi evaluasi yaitu:
a. Evaluasi berfungsi selektif untuk mengadakan seleksi terhadap siswanya;
b. Evaluasi berfungsi diagnostik untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan siswa;
c. Evaluasi berfungsi sebagai penempatan untuk menempatkan siswa secara pasti dalam kelompok belajarnya; dan
d. Evaluasi berfungsi sebagai pengukuran keberhasilan siswa dalam suatu program yang diterapkan (Daryanto, 1999: 14-16).
3. Ruang lingkup aspek/domain penilaian
21
a. Ranah Kognitif adalah ranah yang mencakup kegiatan otak. Artinya, segala upaya yang menyangkut aktivitas otak termasuk ke dalam ranah kognitif (Purwanto, 1988: 201). Aspek kognitif dibedakan menjadi 6 jenjang yaitu:
1) Pengetahuan, dengan pengetahuan siswa diminta kembali satu atau lebih fakta-fakta yang sederhana.
2) Pemahaman, dengan pemahaman siswa diminta untuk membuktikan bahwa ia memahami hubungan yang sederhana di antara fakta-fakta atau konsep.
3) Aplikasi, untuk aplikasi siswa dituntut memiliki kemampuan untuk menyeleksi atau memilih sautu abstrasi tertentu (konsep, hukum, dalil, aturan, gagasan, cara) secara tepat untuk diterapkan dalam suatu situasi baru dan menerapkannya secara benar.
4) Analisis, siswa diminta untuk menganalisis suatu hubungan atau situasi yang kompleks atas konsep-konsep dasar.
5) Sintesis, apabila penyusunan soal tes bermaksud meminta siswa melakukan sintetis maka pertanyaan-pertanyaan disusun sedemikian rupa sehingga meminta siswa untuk menyusun kembali.
22 b. Ranah Afektif
Jenjang penilaian pada ranah afektif menurut Krathwohl, Bloom dan Masia (1973) yaitu:
1) Menerima (Receiving), diharapkan siswa memiliki kesadaran, kemauan untuk menerima, perhatian terseleksi. Pada tahap ini belajar peka terhadap keberadaan fenomena atau rangsangan.
2) Menanggapi (Responding), siswa berpartisipasi aktif sebagai bagian dari pebelajar. Menanggapi rangsangan yang datang berupa gagasan, benda, atau sistem nilai.
3) Menilai (Value), Diharapkan siswa dapat menerima nilai, memilih nilai, dan komitmen. Pada tahap ini siswa memahami bahwa benda, gejala, atau suatu perilaku mempunyai nilai.
4) Organisasi (Organization), diharapkan siswa dapat mengorganisasikan nilai menjadi prioritas untuk membandingkan, mengaitkan dan melakukan sintetis nilai-nilai.
5) Menghayati Nilai (Internalizing Values), diharapkan siswa memiliki sistem nilai yang mongontrol perilakunya (Basuki dan Hariyanto, 2014: 186-187).
c. Ranah Psikomotorik
23
digunakan mengukur keterampilan biasanya berupa matriks. Ke bawah menyatakan perperincian aspek (bagian keterampilan) yang akan diukur, ke kanan menunjukkan besarnya skor yang dapat dicapai (Arikunto, 1996: 185). Jadi penilaian pada ranah psikomotorik dapat dilakukan melalui keterampilan yang dimiliki oleh peserta didik yang pencapaiannya melalui keterampilan fisik yang dapat dilihat atau diperhatikan dengan berbagai instrumen yang digunakan.
4. Jenis-jenis Evaluasi
a. Penilaian Kompetensi Sikap
Penilaian sikap adalah refleksi (cerminan) pemahaman dan kemajuan sikap peserta didik secara individual. Guru melakukan penilaian kompetensi sikap melalui empat teknik yaitu:
1) Observasi merupakan teknik penilaian yang dilakukan secara berkesinambungan indera, baik langsung maupun tidak langsung dengan menggunakan pedoman observasi yang berisi sejumlah indikator yang perlu diamati.
2) Penilaian diri merupakan teknik penilaian dengan cara meminta peserta didik untuk mengemukakan kelebihan dan kekurangan dirinya dalam konteks pencapaian kompetensi.
24
4) Jurnal merupakan catatan pendidik di dalam dan di luar kelas yang berisi informasi hasil pengamatan tentang kekuatan dan kelemahan peserta didik yang berkaitan dengan sikap dan perilaku.
b. Penilaian Kompetensi Pengetahuan
Guru melakukan penilaian kompetensi pengetahuan menggunakan tiga teknik yaitu:
1) Tes tertulis yaitu tes yang menuntut peserta tes memberi jawaban secara tertulis berupa pilihan dan/atau isian. Instrumen tes berupa pilihan ganda, isian, jawaban singkat, benar-salah, menjodohkan, dan uraian. 2) Tes lisan adalah tes yang dilaksanakan melalui mengkomunikasi
langsung (tatap muka) antara peserta didik dengan pendidik.
3) Penugasan adalah pemberian tugas kepada peserta didik baik secara perorangan maupun kelompok. Instrumen penugasan berupa pekerjaan rumah dan/atau projek yang dikerjakan secara perorangan atau kelompok sesuai dengan karakteristik tugas.
c. Penilaian Kompetensi Keterampilan
Guru menilai kompetensi keterampilan melalui penilaian kinerja, yaitu penilaian yang menuntut peserta didik mendemonstrasikan suatu kompetensi tertentu dengan menggunakan empat teknik yaitu:
25
tuntutan kompetensi. Instrumen tes praktik berupa soal untuk melakukan simulasi, identifikasi, atau uji praktik kerja.
2) Penilaian proyek adalah tugas-tugas belajar (learning tasks) yang meliputi kegiatan perancangan, pelaksanaan, dan pelaporan secara tertulis maupun lisan dalam waktu tertentu. Proyek dapat berupa perkerjaan rumah secara individu atau kelompok.
3) Penilaian produk adalah penilaian yang meminta peserta didik menghasilkan suatu karya. Instrumen produk berupa lembar penilaian produk.
4) Penilaian portofolio adalah penilaian yang dilakukan dengan cara menilai kumpulan seluruh karya peserta didik dalam bidang tertentu yang bersifat reflektif-integratif untuk mengetahui minat, perkembangan, prestasi, dan/atau kreativitas peserta didik dalam kurun waktu tertentu. Karya tersebut dapat berbentuk tindakan nyata yang mencerminkan peserta didik terhadap lingkungannya (Pudjiani, 2014: 48-67).
26
afektif,dan psikomotorik. Banyak sekali berbagai cara dan teknik yang dapat digunakan dalam melaksanakan evaluasi peserta didik. Evaluasi dapat dilakukan pada waktu proses pembelajaran berlangsung atau diakhir pembelajaran. Dari berbagai model evaluasi tersebut dapat diketahui dan diukur sejauh mana kemampuan dari para peserta didik. Di setiap proses pembelajaran khususnya pembelajaran PAI memilki tujuan yang akan dicapai oleh para peserta didik sesuai standar kurikulum yang diterapkan. Untuk mengetahui berhasil dan tidaknya kurikulum tersebut maka dapat dilakukan suatu penilaian maupun evaluasi. Peserta didik dapat dinilai dari beberapa aspek yaitu kompetensi sikap yang dapat diambil dari penilaian observasi, penilaian diri, penilaian antar teman, dan jurnal. Kompetensi pengetahuan dapat diambil dari bentuk tes tertulis, non tes, dan penugasan. Sedangkan kompetensi keterampilan dapat diambil dari berbagai bentuk seperti penilaian praktik, proyek produk, dan portofolio.
27
demikian dapat diukur kemampuan peserta didik jika ditinjau dari segi aektif, kognitif, dan psikomotorik.
B. Implementasi Model Evaluasi
1. pengertian Implementasi
Miller (1985) mendefenisikan implementasi sebagai kegiatan memenuhi, melaksanakan, memproduksi dan menyelesaikan sebuah kebijakan yang telah diambil sebelumnya (Subandijah, 2006).
Measurement model yaitu pengukuran terhadap berbagai aspek tingkah laku. Model evaluasi ini menggunakan tes tertulis yang bentuk tesnya berupa pilihan ganda, menjodohkan, benar salah, dan sebagainya (Daryanto, 1999: 72).
Jadi implementasi model evaluasi yaitu melaksanakan atau menerapkan penilaian dengan berbagai teknik dan instrumen penilaian. Kurikulum 2013 sistem penilaian PAI menggunakan penilaian autentik. Penilaian autentik adalah pengukuran yang bermakna secara signifikan atas hasil belajar peserta didik untuk ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Penilaian autentik (authentic assessment) menilai pengetahuan dan keterampilan (performance) yang diperoleh siswa. Penilai tidak hanya guru, tetapi juga teman lain atau orang lain. Menurut (Trianto, 2009: 119) karakteristik penilaian autentik yaitu:
a. Dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran b. Bisa digunakan untuk formatif dan sumatif
28 d. Berkesinambungan
e. Terintegrasi, dan dapat digunakan sebagai feedback. (Hosnan, 2014: 387-389).
2. Implementasi model evaluasi pada mata pelajaran PAI
Penilaian hasil belajar oleh pendidik yang dilakukan secara berkesinambungan bertujuan untuk memantau proses dan kemajuan belajar peserta didik serta untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran. Penerapan penilaian hasil belajar peserta didik memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a. Proses penilaian diawali dengan mengkaji silabus sebagai acuan dalam membuat rancangan dan kreteria penilaian pada awal semester. Setelah menetapkan kreteria penilaian, pendidik memilih teknik penilaian sesuai dengan indikator dan mengembangkan instrumen serta pedoman penyekoran sesuai dengan teknik penilaian yang dipilih.
b. Pelaksanaan penilaian dalam proses pembelajaran diawali dengan penelusuran dan diakhiri dengan tes atau non tes. Penelusuran dilakukan dengan menggunakan tekhnik bertanya untuk mengeksplorasi pengalaman belajar sesuai dengan kondisi dan tingkat kemampuan peserta didik.
29
(penguatan) yang dilaporkan kepada pihak terkait dan dimanfaatkan untuk perbaikan pembelajaran.
d. Laporan hasil penilaian oleh pendidik berbentuk:
1) Nilai dan deskripsi pencapaian kompetensi, untuk hasil penilaian kompetensi pengetahuan dan keterampilan termasuk penilaian hasil pembelajaran tematik terpadu; dan
2) Deskripsi sikap, untuk hasil penilaian kompetensi sikap spiritual dan sikap sosial.
e. Laporan hasil penilaian oleh pendidik disampaikan kepada kepala sekolah/madrasah dan pihak lain yang terkait (misal: wali kelas, guru bimbingan dan konseling, dan orang tua/wali) pada periode yang ditentukan
f. Penilaian kompetensi sikap spiritual dan sosial dilakukan oleh semua pendidik selama satu semester, hasilnya diakumulasikan dan dinyatakan dalam bentuk deskripsi kompetensi oleh wali kelas/guru kelas.
30
Jadi implementasi penilaian PAI menggunakan penilaian autentik atau penilaian secara nyata dengan melibatkan guru dan siswa sebagai penilai. Penilaian yang menggunakan beberapa jenis evaluasi dan teknik evaluasi untuk mengukur kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik peserta didik dengan teknik yang beragam seperti tes tertulis, tes lisan, tugas, praktik, portofolio, proyek, dan lain sebagainya. Ketika menerapkan penilaian autentik untuk mengetahui hasil dan prestasi belajar peserta didik, guru menerapkan kreteria yang berkaitan dengan konstruksi, pengetahuan, aktivitas mengamati dan mencoba, dan nilai prestasi luar sekolah serta memperhatikan dalam pelaksanaan dan pelaporan penilaian seperti proses penilaian, pelaksanaan penilaian, hasil penilaian serta laporan hasil penilaian. Artinya penilaian dilakukan untuk menilai diri peserta didik yang dimulai dari awal proses pembelajaran sampai akhir proses pembelajaran.
Adapun cara dan teknik penilaian dapat ditempuh dengan cara kuantitatif
(penilaian dalam bentuk angka) dan cara kualitatif (berbentuk pernyataan) seperti baik, cukup, sedang, dan kurang (Purwanto, 2002: 109).
C. Pendidikan Agama Islam
1. Pengertian PAI
31
Menurut Ahmad Tafsir Pendidikan Islam sering diartikan pendidikan yang berdasarkan Islam. Pendidikan Islam yaitu proses mempersiapkan manusia supaya hidup dengan sempurna dan bahagia, mencintai tanah air, tegap jasmaninya, sempurna budi pekertinya (akhlaknya), teratur pikirannya, halus perasaannya, mahir dalam pekerjaannya, manis tutur katanya, baik dengan lisan maupun tulisan (Gunawan, 2014: 9).
Pendidikan agama Islam merupakan suatu proses edukatif yang mengarah kepada pembentukan akhlak atau kepribadian yang menyeluruh baik aspek jasmani maupun rohani. Pendidikan agama Islam menekankan pada aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dengan pendidikan agama diharapkan para siswa mampu mengembangkan perilaku individu yang berorientasi pada perubahan karakter yang sesuai dengan tujuan Islam serta dapat menghadapi berbagai kebutuhan hidup yang bersifat material dan non material. Dengan kemajuan IPTEK yang serba canggih di era modern ini para siswa diharapkan sigap dan tanggap dalam menghadapi perubahan yang terjadi serta berperan aktif di dalam masayarakat, bangsa, dan negara.
2. Landasan Dasar Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam
32
1) Dasar Ideal diambil dari falsafah negara yaitu pancasila, khususnya sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa. Hal ini mengandung pengertian bahwa seluruh bangsa Indonesia harus yakin dan percaya pada Tuhan Yang Maha Esa. Dalam ketetapan MPR No.II/MPE/1978 bahwa dengan sila Ketuhanan Yang Maha Esa berarti bangsa Indonesia telah mendeklarasikan dirinya sebagai bangsa yang harus percaya dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing.
2) Dasar Kontitusional, dasar Pendidikan Agama Islam bila dilihat dari dasar tersebut adalah yang tercantum dalam UUD 1945 terutama dalam Bab XI Pasal 29 ayat 1. Negara berdasarkan atas ketuhanan Yang Maha Esa. 2. Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agama masing-masing menurut agama dan kepercayaannya itu. Atas dasar pernyataan tersebut, maka konsekuensi logisnya bagi pemerintah dalam dunia pendidikan wajib menyelenggarakan mata pelajaran pendidikan agama baik agama Islam maupun agama lain mulai dari tingkat dasar sampai pada perguruan tinggi.
33
agama lain mulai dilaksanakan baik dari Tingkat Dasar samapi Perguruan Tinggi.
b. Dasar Relegi (Normatif)
Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam adalah berdasarkan al-Quran dan Al-Hadits. Sebab Al-Qur’an dan Al-Hadits adalah pedoman hidup
umat Islam. Menurut Zakiah Drajat (1982: 19), landasan pendidikan Agama Islam terdiri dari Al-Qur’an, Al-Hadis dan ijtihad. Al-Qur’an dijadikan sumber hukum utama karena dalam Al-Qur’an terkandung dua
prinsip besar yaitu prinsip keimanan (Vertical) dan prinsip amaliyah
(Horizontal). Dengan demikian, Pendidikan Agama Islam masuk dalam dua kategori tersebut karena dalam pendidikan Agama Islam baik secara implisit maupun eksplisit termaktub dalam materi yang berkaitan dengan masalah keimanan dan muamalah.
Al-Hadits dijadikan rujukan dalam PAI karena dalam Hadis berisi petunjuk atau nasihat-nasihat Rasulullah Saw. Yang berkaitan dengan kemaslahatan hidup manusia dalam segala aspek. Sedangkan ijtihad dijadikan landasan PAI karena tidak semua ayat atau Hadis dapat dipahami secara tekstual karena ada pula yang konstekstual.
c. Dasar Filosofis
34
logis dan rasioanal terutama kebenaran di bidang nilai-nilai sebagai pandangan hidup yang diyakini dari kebenaran (Suparta, 2016: 270-274). 3. Tujuan dan Manfaat Mapel PAI
Menurut Muhaimin (1993: 156-157) bahwa tujuan pendidikan agama Islam dapat diklasifikasikan menjadi beberapa macam yaitu:
a. Tujuan Normatif yakni tujuan yang ingin dicapai berdasarkan norma-norma yang mampu mengkristalisasikan nilai-nilai yang hendak diinternalisasi. b. Tujuan Fungsional yakni tujuan yang diorientasikan pada kemampuan anak
didik untuk memfungsikan daya kognitif, afektif, dan psikomotorik.
c. Tujuan Operasional yang mempunyai sasaran teknis manajerial. Tujuan ini terdiri dari tujuan umum, tujuan khusus, tujuan tak lengkap, tujuan insidentil, tujuan sementara dan tujuan intermedier.
Muhaimin (2005: 124) mengatakan bahwa secara konseptual teoritis pendidikan agama Islam di sekolah berfungsi:
a. Pengembangan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt serta akhlak mulia peserta didik seoptimal mungkin.
b. Penanaman nilai ajaran Islam sebagai pedoman mencapai kehidupan hidup di dunia dan di akhirat.
35
d. Perbaikan kesalahan-kesalahan, kelemahan-kelemahan peserta didik dalam keyakinan, pengamalan ajaran agama Islam dalam kehidupan sehari-hari. e. Pencegahan dari hal-hal negatif budaya asing yang dihadapi sehari-hari. f. Pengajaran tentang ilmu pengetahuan keagamaan secara umum (alam nyata
dan tak nyata), sistem, dan fungsionalnya.
g. Penyaluran untuk mendalami pendidikan agama ke lembaga pendidikan yang lebih tinggi (Suparta, 2016: 274-276).
36
37 BAB III
LAPORAN HASIL PENELITIAN
A. Gambaran Umum SMPN 2Tuntang
1. Tinjauan Historis
SMP Negeri 2 Tuntang terletak di Jl. Mertokusumo, Desa Candirejo, Tuntang. Meski letak sekolah jauh dari jalan raya besar akan tetapi lokasi SMP Negeri 2 Tuntang sangat strategis dan sangat mudah dijangkau oleh masyarakat karena terdapat anggota kota yang sampai di depan sekolah.
SMP Negeri 2 Tuntang berdiri pada tanggal 20 November 1984, dan memiliki izin operasional pada tanggal 20 November 1984.Pembelajaran SMP Negeri 2 Tuntang tahun 2017/2018 menerapkan KTSP untuk kelas VIII dan IX serta K13 untuk kelas VII. Dari sisi akademik maupun non akademik prestasi yang diraih oleh SMP Negeri 2 Tuntang dari tahun ketahun semakin menunjukkan peningkatan sehingga dapat dikatakan cukup memenuhi harapan di masyarakat.
2. Letak Geografis
38 3. Identitas Sekolah
a. Visi dan Misi SMP Negeri 2 Tuntang
1) Visi SMP Negeri 2 Tuntang
Terselenggaranya pendidikan yang bermutu yang ditandai dengan meningkatnya prestasi dan budi pekerti luhur.
2) Misi SMP Negeri 2 Tuntang
a) Mewujudkan pengembangan kurikulum yang adaptif.
b) Meningkatkan pengembangan tenaga pendidik dan kependidikan. c) Mengupayakan penyelenggaraan proses pembelajaran aktif,
inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. d) Mewujudkan peningkatan fasilitas pendidikan. e) Mewujudkan peningkatan kompetensi kelulusan.
f) Mewujudkan menejemen berbasis sekolah yang tangguh.
g) Memperdayakan peran serta masyarakat dalam peningkatan pembiayaan pendidikan yang memadai, wajar, dan adil.
h) Meningkatkan pengembangan penilaian. 3) Tujuan SMP Negeri 2 Tuntang
39
keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
TujuanSekolah (jangkapanjang):
a) Menghasilkanpengembangankurikulum yang adaptif;
b) Memenuhiakanpengembangantenagapendidikdankependidikan; c) Memenuhiakanpenyelanggaraan proses pembelajaranaktif, inovatif,
kreatif, efektif, danmenyenangkan;
d) Menghasilkanpeningkatanfasilitaspendidikan; e) Menghasilkanpeningkatankompetensikelulusan;
f) Memenuhiakanpeningkatanmutukelembagaandanmenejemen; g) Memenuhiakanpengembanganpembiayaanpendidikan yang
memadai, wajar, danadil; dan
h) Memenuhiakanpengembanganpenilaian. TujuanSekolah (jangkapendek):
a) Terealisasinyasistemkurikulum yang adaptif;
b) Terealisasinyapenyelenggaraan proses pembelajaranaktif, inovatif, kreatif, efektif, danmenyenangkan;
c) Terealisasinyapeningkatankompetensikelulusan;
d) Terealisasinyapengembangantenagapendidikdankependidikansesuai SNP;
40
f) Terealisasinyapenerapansystemmenejemenberbasissekolah yang tangguh;
g) Terealisasinyapengembanganpembiayaanpendidikanyang memadai, wajar, danadil;
h) Terealisasinyapengembangansystempenilaian yang bervariasi; dan i) Meningkatkanhubungansocialkemasyarakatan.
b. Profil SMP Negeri 2 Tuntang
1) Nama Sekolah : SMP NEGERI 2 TUNTANG 2) Nama Kepala Sekolah : Agus Triyono S.Pd, M.Pd 3) Alamat Sekolah
Jalan : Jl. Mertokusumo Rt 01/11 Kecamatan : Tuntang
Kota : Semarang
No. Telepon : 02983418143
4) NPSN : 20320272
5) SK Pendirian Sekolah : 0557/O/1984 6) Tanggal SK Pendirian : 1984-11-20 7) Tahun beroperasi : 1984-11-20 8) Kepemilikan tanah
Status tanah : Pemerintah Daerah Luas tanah : 17775
41
10) Nomor rekening sekolah : 3-033-09592-8
Rekening atas nama SMP NEGERI 2 TUNTANG
4. Data Guru SMP Negeri 2 Tuntang
Tabel 3.1
Data Guru dan Karyawan SMP Negeri 2 Tuntang NO
NAMA JABATAN
1 Agus Triyono S.Pd, M.Pd Kepala Sekolah 2 Andri Irawati, S.Pd Wakil Kepala Sekolah
Kurikulum dan Guru Mapel Matematika
3 Anna Kristiyana, S.Pd Guru Mapel Seni dan Budaya dan BK
4 Antonia Indarti, S.Pd Guru Mapel Seni dan Budaya dan BK
5 As’adiyati Guru Mapel Bahasa Jawa dan
BK
6 Drs. Badri M.M Kepala Perpustakaan dan Guru Mapel PAI
7 Catur Rusmiyanto Tenaga Administrasi Sekolah 8 Dra. Ch Triningrum Guru Mapel IPA
9 Didik Budi Jatmiko, S.Pd Guru Mapel Bahasa Inggris 10 Dinar Efisanti, S.Pd Guru Mapel Bahasa Indonesia 11 Dwi Lestari, S.Pd Guru Mapel Bahasa Inggris 12 Edij Kismartanto, S.Pd Guru Mapel Seni dan Budaya 13 Eko Sulistanto, S.Pd Guru Olahraga
14 Elly Murtiningsih, S.Pd Guru BK
15 Eny Budi Rahayu, S.Pd Guru Mapel Tata Busana dan Prakarya
16 Erny Ayda S.Si, M.Pd Guru Mapel Matematika (Umum)
17 Farida Ratna Dewi, S.Pd Tenaga Administrasi Sekolah 18 Drs. Hari Latiyana Wakil Kepala Sekolah dan Guru
Mapel IPA 19 Dra. Heny Ratna Yulina
Rahmawati
42
21 Iwan Erfani, S.Pd Guru Olah Raga 22 L Sulistyowati, S.Pd Guru Mapel IPS
23 Muhammad Tunggono Tenaga Administrasi Sekolah 24 Pian Tenaga Administrasi Sekolah 25 Pujiyati, S.Pd Guru Mapel Bahasa Indonesia 26 Dra. Retno Haryanti Wahyu
Wardhani
Guru Mapel IPS
27 Retno Murdaningsih, S.Pd Guru Mapel Pendidikan
Pancasila dan Kewarganegaraan 28 Riyanti, S.Pd Guru Mapel Pendidikan Agama
Kristen 29 Rochyadi, S.Pd
30 Sakri Budi Joewono, S.Pd Guru Mapel IPA
31 Selamat Pujiono, S.Pd Guru Mapel Matematika (Umum)
32 Setyo Budiarti Tenaga Administrasi Sekolah 33 Shafa Fitriyana, S.Pd Guru Mapel Tata Busana dan
Bahasa Inggris
34 Siti Khaeroh, S.Pd Guru Mapel Bahasa Indonesia 35 Siti Maunah S.Pd Guru Mapel Bahasa Indonesia 36 Dra. Sri Rahayu Guru Mapel PAI
37 Suhartatie, S.Pd Guru Mapel Pendidikan
Pancasila dan Kewarganegaraan 38 Sujarwo Tenaga Administrasi Sekolah 39 Sutrisni, S.Pd Wakil Kepala Sekolah
Kesiswaan dan Guru Mapel IPS 40 Suwar Tenaga Administrasi Sekolah 41 Tri Muah, S.Pd Guru Mapel Matematika
(Umum) 42 Veronika Kunthi Hartati A.Md,
S.pd
Guru Mapel IPA
43 Yubaidi, S.Kom Kepala Laboratorium dan Guru Mapel TIK
5. Struktur Organisasi SMP Negeri 2 Tuntang
Tabel 3.2
Data Struktur Organisasi 1 Agus Triyono, S.Pd, M.Pd Kepala Sekolah
2 Antoni Indarti, S.Pd Wakep Sekolah
43
6. Sarana dan Prasarana
Sarana prasarana dalam pendidikan berfungsi untuk menunjang keberhasilan dalam berbagai kegiatan sekolah, baik dalam kegiatan administrasi maupun proses kegiatan belajar mengajar. Sarana prasarana adalah salah satu aspek terpenting yang dapat mencapai keberhasilan dalam proses pembelajaran.
Tabel 3.3
44
2. Ruang kantor/ TU 1 42 V
3. Ruang kepsek 1 24 V
4. Ruang Guru 1 63 V
5. Ruang Wakasek 1 18 V
6. Ruang Kurikulum 1 18 V
7. Ruang BK/BP 1 28 V
8. Ruang Perpustakaan 1 77 V 9. Ruang Lab Komputer 1 56 V 10. Ruang Lab IPA 1 120 V 11. Ruang Lab Bahasa 1 63 V
12. Ruang Aula 1 84 V
13. Ruang Mushola 1 195 V
14. Ruang Uks 1 12 V
15. R. Lap Basket 1 1470 V
16. R. Lap Voly 1 675 V
17. Ruang Musik 1 32 V
18. Ruang Koperasi 1 21 V
19. R. WC Guru L 1 12 V
20. R. WC Guru W 1 12 V
21. R. WC Siswa L 1 18 V
22. R. WC Siswa W 1 18 V
23. R. WC Siswa W2 1 18 V B. Data Hasil Penelitian
1. Profil Informan
a. Andri Irawati, S.Pd (AI)
45 b. Dra. Sri Rahayu (SR)
SR merupakan guru mata pelajaran PAI yang mengampu kelas VII-VIII c. Agus Triyono S.Pd, M.Pd (AT)
AT merupakan kepala sekolah SMP Negeri 2 Tuntang d. Anggita Dwi Rosita
(AR) Selaku siswa kelas VII D, lahir di Semarang tanggal 08 Juli 2005 e. Putri Sela Aulia
(PA) Selaku siswa kelas VII C, lahir di Semarang tanggal 10 April 2005 f. Arya Setyadi
(AY) Selaku siswa kelas VII A, lahir di Bekasi tanggal 17 Juni 2005 2. Temuan Penelitian
a. Model evaluasi pada mata pelajaran pendidikan agama Islam dan budi pekerti kelas VII di SMP Negeri 2 Tuntang tahun 2017/2018.
Dari hasil data yang diperoleh peneliti dari berbagaiinforman, terkait dengan model evaluasi mata pelajaran Pendidikan Agama dan Budi pekerti di SMP Negeri 2 Tuntang yang didapatkan melalui wawancara dengan waka kurikulum, guru agama dan beberapa siswa.
46 AImengatakan bahwa:
“Baru 1 semester ini tahun 2017/2018 semester gasal ini baru pertama kali di kelas VII diterapkan kurikulum 2013”(06 Desember 2017). Kurikulum 2013 merupakan tindak lanjut dari kurikulum KTSP yang berbasis kompetensi. KBK dijadikan acuan sebagai ranah pendidikan (pengetahuan, keterampilan, dan sikap) diseluruh jenjang pendidikan sekolah. Penerapan kurikulum 2013 dalam mata pelajaran PAI itu sendiri adalah sebagai berikut:
Menurut SR selaku guru PAI kelas VII mengatakan bahwa:
“Penerapannya diuasahakan semaksimal mungkin, tapi masih banyak
kendalanya, siswa kalau disuruh diskusi belum bisa sepenuhnya dankerjasama antar siswa itu sendiri juga kurang. Kelemahannya ketika menggunakan kurtilas dengan mengedepankan siswa penenaman akan konsep pembelajaran tentang keimanan kurang maksimal akan tetapi materi yang lain bisa di bilang oke” (05 Desember 2017).
Sedangkan menurut AI selaku wakil kepala bidang kurikulum PAI yaitu: “Selama ini saya melihat untuk Kurikulum 2013 itu kan banyak penerapannya ya ada beberapa yang sudah jalan tetapi ada juga yang masih menggunakan model KBM KTSP. Di materi-materi tertentu sudah menerapkan Kurikulum 2013 kalau secara materi sudah jelas sesuai dengan Kurikulum 2013. tapi untuk model pembelajaran Kurikulum 2013 kan banyak siswa yang aktif to, terlibat didalamnya disini kombinasi jadi karena kita masih belajar Kurikulum 2013 ini jadi ya belum bisa full seperti yang diharapkan, kemi berusaha ke arah sana”(06 Desember 2017).
47
kemampuan para peserta didik yang dapat dilihat dari aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Penerapan kurikulum KTSP dan kurikulum 2013 jika ditinjau dari segi evaluasinya.
Menurut AI selaku wakil kepala bidang kurikulum mengatakan bahwa: “Kalau dari penilaian, evaluasikan penilaiannya ya memang Kurikulum 2013 itu betul-betul penilaian yang autentik artinya penilaian apapun yang dikerjakan anak itu dapat dijadikan penilaian. Kalau 2006 itu kan hanya sebatas pengetahuan kemudian keterampilan. Pengetahuan saja kan hanya beberapa tapi untuk Kurikulum 2013 lebih spesifik lagi. Dan pengetahuan dan keterampilan masih dibagi beberapa lagi. Nah itu yang memang perbedaannya sangat jauh terutama di dalam pengolahan dan pengmbilan juga beda dan bervariasi” (06 Desember 2017).
Sedangkan menurt SR selaku guru PAI kelas VII Mengatakan bahwa: “Cara penilaiannya beda, kalau KTSP secara global, kalau Kurikulum 2013 disendiri-sendirikan seperti pengetahuan, sikap, keterampilan sendiri-sendiri. KTSP itu dibebankan kepada semua guru mapel dan setiap semester itu dikumpulkan kepada guru PKN dan guru Agama. Kalau Kurikulum 2013 semua guru masing-masing punya rekapannya dan disetorkan ke walikelas langsung. Kalau Kurikulum 2013 dideskripsikan dengan ulasan bahasa yang jelas cukup menguasai materi yang diajarkan, dan setiap materi diberi deskripsi penilaiannya. Dan pengambilan nilau keterampilan saya ambil dari nilai optimim (nilai yang paling tinggi) kalau pengetahuan saya pakainya dari nilai rata-rata” (05 Desember 2017).
48
penilaian autentik pengukuran hasil belajar peserta didik untuk ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
Dalam kurikulum 2013 banyak sekali pendekatan-pendekatan dalam melaksanakan proses KBM. Biasanya guru lebih sering memakai pendekatan scientifik. Pendekatanscientifik dalam pembelajaran menekankan kepada para peserta didik untuk memperoleh, mengolah, dan menyimpulkan informasi yang diperolehnya secara mandiri, dengan memberikan pemahaman kepada peserta didik dalam memahami berbagai materi dengan pendekatan secara ilmiah.
Model evaluasi yang digunakan pada mata pelajaran PAI di kelas VII Menurut SR selaku guru PAI kelas VII mengatakan bahwa:
“Pendekatan scientifik kelebihannya siswa menjadi lebih aktif, kreatif, mandiri sehingga siswa dapat mengembangkan pola pikirnya, guru tidak terlalu capek, guru hanya mengawasi dan hanya berbicara dan potensi siswa bisa keluar. Kekurangannya fasilitas belum terpenuhi, kebiasaan siswa pada pola KTSP belum bisa ditinggalkan murid hanya mendengarkan tok mbk, jenis diskusi dan presentasi siswa belum terbiasa dan masih merasa kesulitan dan penanaman konsep keimanan tidak maksimal ini khusus keimanan yang lain mungkin oke. Adapun model evaluasi yang digunakan ituberbeda-beda Kalau dari aspek kognitif atau pengetahuan memakai tes tertulis, tes lisan dan tugas tapi kalau afektifnya memakai jurnal dan keterampilannya memakan nilai praktik, nilai unjuk kerja, nilai proyek, dan nilai portofolio” (05 Desember 2017).
49
Sedangkan menurut AR selaku siswa kelas VII D mengatakan bahwa: “Kadangsetelah pembelajaran diberi kesimpulan. Ya biasanya hafalan, tugas, soal-soal dari paket, soal-soal foto copyan dari guru, diberi lembaran kerja, tes tertulis ada setelah pembelajaran” (13 Desember 2017).
Jadi evaluasi yang diterapkan pada kurikulum 2013 menggunakan penilaian autentik. Penilaian outentik memperhatikan keseimbangan antara penilaian kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang disesuaikan dengan perkembangan karakteristik peserta didik sesuai dengan jenjangnya. Penilaian autentik biasanya dilaksanakan selamasesudah pembelajaran berlangsung, menggunakan teknik dalam penilaian, dan tidak hanya mengandalkan tes dan tugas-tugas semata. Autentik dari segi istrumennya terdapat tes tertulis, tes lisan, tes proyek, tes kinerja, dan sebagainya.
Seperti pendapat PA selaku siswa kelas VII C mengatakan bahwa:
“sering diberi evaluasi ya seperti menghafalkan, remidi dan mengerjakan tugas-tugas yang lain. Untuk tugasnya mencari catatan tentang khutbah, mengerjakan UTS, mengerjakan UAS, ulangan, dan remidi” (13 Desember 2017).
50
proyek, dan nilai portofolio. Dalam penerapan berbagai model evaluasi Kurikulum 2013 tidak semua digunakan,karena tidak semua mata pelajaran dan materi bisa dievaluasi menggunakan model tersebut. Jadi penggunaan evaluasi dalam menilai peserta didik disesuaikan dengan meteri yang disampaikan dan diajarkan.Sebagaimana pada penjelasan sebelumnya, penerapan model evaluasi kurikulum 2013 sesuai dengan konsep yang telah ditetapkan.
Penilaian pada aspek spiritual dan sosialdalam kurikulum 2013 terdapat pada KI-1 dan KI-2. Penilaian dilakukan dengan mengobservasi sikap siswa.
Seperti yang diungkapkan oleh SR selaku guru PAI kelas VII sebagai berikut:
“KI-1 dan KI-2 kan afektif ya mbk jadi model evaluasinya saya menggunakan jurnal, penilaian diri dan penilaian antar teman mbk” (05 Desember 2017).
Penilaian aspek kognitif pada mata pelajaran Pendidikan Agama dan Budi Pekerti terdapat pada Kompetensi Inti 3 atau KI-3dan evaluasinya pada setiap Kompetensi Dasarnya.
Seperti yang diungkapkan AI selaku wakil kepala bidang kurikulum PAI yaitu :
sejarah-51
sejarah nabi. Jelas kalau agama sudah bervariasi modelnya, yang lain juga sama, dan KD nya masing-masing mapel kan sudah mengarah ke penilaiannya Kurikulum 2013” (06 Desember 2017).
Seperti yang diungkapkan SR selaku guru PAI kelas VII sebagai berikut: “Kalau K1-3 mengunakan tes tertulis terus tes lisan terus tugas”(05 Desember 2017).
Evaluasi kurikulum 2013 tidak hanya mencakup aspek afektif dan kognitif. Aspek psikomotorik dijabarkan pada KI-4 pada kurikulum tersebut. Evaluasi pada aspek keterampilan menyesuaikan Kompetensi Dasarnya. Jika materi bisa dipraktikkan, maka siswa akan mempraktikkan sesuai dengan yang diajarkan.
Seperti yang diungkapkan oleh SR selaku guru PAI kelas VII sebagai berikut:
“KI-4 keterampilan ada praktik, unjuk kerja proyek, dan portofolio itu kan di RPP juga ada mbk” (05 Desember 2017).
Seperti pendapat AY selaku siswa kelas VII A mengatakan bahwa:
52
b. Implementasi model evaluasi pada mata pelajaran pendidikan agama Islam dan budi pekerti kelas VII di SMP Negeri 2 Tuntang tahun 2017/2018.
Dalam implementasi model evaluasi kurikulum 2013 pada mata pelajaran PAI pihak sekolah sudah menerapkan hampir 100 % karena harus dituntut oleh kemenag untuk menggunakan kurikulum 2013.
Seperti yang diungkapkan AI selaku wakil kepala bidang kurikulum PAI yaitu :
“Untuk metode scientifiknya itukan menitik beratkan misalnya anak-anak diskusi salah satunya kan implementasinya salah satu bukti bahwa menggunakan Scientifik itu kan diskusi kemudian nanti memecahkan masalah dalam diskusi itu kemudian presentasi itu kan salah satu ciri dari scientifik itu, dan masing-masing guru untuk Kurikulum 2013 yang kelas VII sudah banyak yang menggunakan itu tetapi tidak serta merta setiap KD melakukan begitu. Misalnya PAI, PAI kan kadang melakukan itu dengan melihat topiknya atau KD nya apa begitu juga dengan mapel yang lain tapi sudah menerapkan seperti itu. Kalau implementasi di sikluskan dari 10-100 kalau dari pembelajaran bisa dikatakan 80 %, kalau dari penilaian 100% karena dituntut harus sesua dengan kurikulum 2013” (06 Desember 2017).
Tidak jauh beda yang dikemukakan AI, menurut SR, implementasi model evaluasinya yakni:
“Ya implementasinya dikatakan berapa persen ya, ya hampir semuanya dipakai. Cuma kadangkan persemester boleh tidaknya setiap pertemuan jurnal harus ada, ada tapi tidak harus di setiap pertemuan. Portofolio ya sudah diimplementasikan, Cuma tidak semua materi menggunakan 4 model yang ada di kurtilas” (05 Desember 2017).
53
tidak terlepas dari suatu masalah dan kendala yang dihadapinya, terutama pada para peserta didiknya.
Menurut AI, kendala dalam pelaksanaan model evaluasi adalah:
“Kendalanya kalau dalam implementasi melaksanakan pembelajaran
scientifik kendalanya banyak anak-anak sini yang belum berani jadi masih malu-malu, masih mintanya harus dibimbing. Jadi untuk mengemukakan pendapat itu masih takut, masih malu nah kendalanya disitu. Jadi itukan termasuk menghambat proses dalam pelaksanaan diskusi nah biasanya kalau yang kelompok yang berani ya hanya yang itu-itu saja tidak semuanya dan kalau guru saya rasa tidak ada masalah untuk guru yang bersangkutan. Kecuali kalau guru yang bersangkutan
kog mengeluh jadi saya tau, tapi sampai saat ini kan tidak ada yang begitu. Jadi bisa berjalan” (06 Desember 2017).
Sedangkan menurut SRselaku guru PAI kelas VIIyakni:
“Kendalanya banyak banget, yang pertama karena yang jelas belum canggih dan istilahnya baru gagap-gagap, pelaksanaannya juga baru tahun pertama, yang ke dua karena banyaknya siswa itu ya waktunya tidak mencukupi, yang ketiga, kemampuan guru kurang, SDM nya memang lemah. Dan untuk siswa, untuk menilai antar teman itu tidak begitu terbuka, jujur dan kurang obyektif. Penilaian kan ada siswa dan guru to mbk kalau antar teman kurang obyektif itu kendalanya ” (05 Desember 2017).
54
Adapun solusi yang bisa ditempuh dengan berbagai kendala diatas menurut AI selaku wakil kepala bidang kurikulum mengatakan bahwa:
“Solusinya memang salah satu caranya anak-anak lebih sering lagi, semakin sering melakukan hal seperti itu, sering berlatih, otomatis anak-anak kan terbiasa, kalau ini sajakan baru 1 semester ini kegiatan seperti itu kan baru nah otomatis anak-anak kan masih kurang berlatihnya mungkin nanti ke depannya kalau sering kali melakukan kegiatan-kegiatan seperti itu dan anak-anak sering berlatih diskusi, sering melihat temennya berani berartikan dia juga bisa terpancing akhirnya ikut menjadi berani harapannya itu” (06 Desember 2017)
Sedangkan menurut SR mengungkapkan bahwa:
“Ya solusinya tidak satu siswa yang menilai, jadi bisa membandingkan antara yang satu dengan yang lainnya” (05 Desember 2017).