GAMBARAN ULKUS DEKUBITUS PADA BAYI DAN ANAK DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT HAJI ADAM MALIK
MEDAN TAHUN 2013 - 2016
SKRIPSI
Oleh :
MUTHIA HIDAYANTI NUR 140100050
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2017
GAMBARAN ULKUS DEKUBITUS PADA BAYI DAN ANAK DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT HAJI ADAM MALIK
MEDAN TAHUN 2013 - 2016
SKRIPSI
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kedokteran
Oleh :
MUTHIA HIDAYANTI NUR 140100050
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2017
i
ABSTRAK
Latar Belakang. Ulkus Dekubitus adalah ulkus yang terjadi akibat tekanan yang lama yang menyebabkan terjadinya iskemia. Hasil dari penelitian yang dilakukan sebelumnya di Indonesia insiden terjadinya Ulkus Dekubitus cukup tinggi yaitu sekitar 33,3% menurut Association of South East Asian Nations (ASEAN) angka ini termasuk tinggi dibanding dengan negara-negara yang lainnya maka diperlukan penanganan yang serius dan khusus untuk menyelesaikan masalah ini.
Tujuan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran ulkus dekubitus pada bayi dan anak di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan.
Metode. Penelitian ini merupakan deskriptif dengan data retrospektif dengan menggunakan data sekunder berupa rekam medis yang telah memenuhi kriteria dengan sampel penelitian sebanyak 28 orang. Setelah data terkumpul kemudian data diolah dengan program SPSS
Kesimpulan. Berdasarkan dari hasil penelitian pada pasien ulkus dekubitus pada bayi dan anak mulai Januari 2013 – Desember 2016 didapati sebanyak 28 orang. Pasien ulkus dekubitus pada bayi dan anak menurut tipe/ derajat yang tertigngi yaitu derajat I sebanyak 18 orang (64,2%), menurut lokasi yang tertinggi yaitu pada oksipital sebanyak 15 orang (53,6%), menurut usia tertinggi terdapat pada usia 0-5 tahun yaitu sebanyak 13 orang (46,4%), menurut jenis kelamin terdapat jenis kelamin laki-laki paling banyak yaitu sebanyak 15 orang (53,6%), dan menurut penyakit yang paling mendasari terjadinya ulkus dekubitus pada bayi dan anak menunjukan hydrocephalus paling banyak yaitu sebanyak 6 orang (21,4%), kemudian anemia sebanyak 4 orang (14,2%) dan penyakit lainnya
Kata Kunci: Gambaran, Ulkus Dekubitus, Bayi dan Anak.
iii
ABSTRACT
Background. Decubitus ulcer is an ulcer that occurs due to the long pressure that causes ischemia. The result of previous research in Indonesia incidence of decubitus ulcer is quite high which is about 33,3% according to Association of South East Asian Nations (ASEAN) this figure is high compared to other countries so serious and special handling is needed to solve this problem.
Purpose. This study aims to determine the description of decubitus ulcers in infants and children at Haji Adam Malik General Hospital Medan.
Method. This research is descriptive with retrospective data by using secondary data in the form of medical records that meet criteria. Sample was found as 28 people. After found the sample and then processed using SPSS program
Conclusion. Based on the results of the study on decubitus ulcers in infants and children from January 2013 to December 2016 was found as many as 28 patients. According to type as many as 18 people (64,2%) in first degres. According by location the most is in occipital 15 people (53,6%), Decubitus ulcers patients in infants and children according to the highest age were 0-5 years old as many as 13 people (46,4%). According to sex there were the most male sex that was as many as 15 people (53,6%), and according to the disease that underlines the occurrence of decubitus ulcer in infants and children showed hydrocephalus at most as many as 6 people (21,4%), and anemia as many as 4 people (14,2%) and etc.
Keywords: Description, Decubitus Ulcer, Infant and child.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kepada Allah SWT yang senantiasa memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga Karya Tulis Ilmiah yang berjudul “Gambaran ulkus dekubitus pada bayi dan anak di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan Tahun 2013-2016” berhasil diselesaikan. Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad SAW satu-satunya teladan hingga akhir zaman.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada orang tua serta keluarga yang selalu mendoakan serta memberikan nasihat dan semangat kepada penulis dalam menyelesaikan pendidikan dan skripsi ini.
Selain itu, penelitian ini dapat diselesaikan atas dukungan dari berbagai pihak, kepada mereka penulis mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya, diantaranya:
1. Dr .dr. Aldy Safruddin Rambe, Sp.S(K) selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumater Utara
2. dr. Deryne Anggia Paramita, M.ked(KK), Sp.KK selaku Dosen Pembimbing yang telah memberikan waktu,tenaga,dan pikiran untuk dapat memberikan bimbingan, saran, motivasi, serta semangat sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.
3. dr Rina Amelia MARS sebagai ketua penguji dan dr. Dina Arwina Dalimunthe, M.ked(KK), Sp.KK sebagai anggota penguji yang telah memberikan masukan sehingga skripsi ini terselesaikan
4. Dr. dr. Henry Salim Siregar, Sp.OG(K) selaku dosen pembimbing akademik yang dari semester 1 hingga semester 7 memberikan dukungan, motivasi sehingga penulis dapat menyelesaikan kuliahnya
5. Seluruh pihak RSUP Haji Adam Malik yang banyak membantu dalam proses penyelesaian skripsi ini.
v
6. Kedua Orang tua saya M.Hidayat dan Tety Novrianti Nur yang selalu mendukung, memberikan semangat, kasih sayang, bantuan dan rasa kebersamaan yang tidak pernah berhenti sampai penulis menyelesaikan skripsi ini.
7. Sahabat-sahabat terbaik saya Asdar Raya, Soufi Amira, Elza Anggriani, Sunita Melati, yang selama ini selalu mendukung, memberikan semangat, dan memberi saran yang tidak pernah putus sampai skripsi ini terselesaikan
8. Rekan-rekan lab B1 stambuk 2014 yang sejak awal perkuliahan berjuang bersama melewati berbagai praktikum bersama, terkhususnya rekan skills lab B1.3.
9. Adik-adik saudara & sepupu saya Inthan Putri Hidayanti Nur dan Mutiara Ikhwan Nur yang memberi semangat dan dukungan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi.
Saya menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu saya sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk penyempurnaan skripsi ini. Akhir kata, penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi dunia kesehatan, khususnya bagi pembaca skripsi ini
Medan, Desember 2017
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
Halaman Pengesahan ... i
Abstrak ... ii
Abstract ... iii
Kata Pengantar ... iv
Daftar Isi ... vi
Daftar Gambar ... viii
Daftar Tabel ... ix
Daftar Singkatan ... x
Daftar Lampiran ... xi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 2
1.3 Tujuan Penelitian ... 2
1.3.1 Tujuan Umum ... 2
1.3.2 Tujuan Khusus... 3
1.4 Manfaat Penelitian ... 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 4
2.1 Ulkus Dekubitus ... 4
2.1.1 Definisi Ulkus Dekubitus ... 4
2.1.2 Teori Ulkus Dekubitus ... 4
2.1.3 Faktor Resiko Ulkus Dekubitus ... 5
2.1.4 Faktor yang mempengaruhi perkembangan Ulkus Dekubitus ... 6
2.1.5 Epidemiologi Ulkus Dekubitus ... 8
2.1.6 Patofiologi Ulkus Dekubitus ... 8
2.1.7 Klasifikasi Ulkus Dekubitus... 9
2.1.8 Manifestasi Klinis Ulkus Dekubitus ... 10
2.1.9 Tempat perkembangan Ulkus Dekubitus ... 10
2.2 Kulit... 11
2.2.1 Definisi Kulit ... 11
2.2.2 Anatomi & Struktur Histopatologik Kulit ... 12
vii
2.2.3 Perbedaan kulit bayi/anak dan dewasa ... 15
2.2.4 Ulkus Dekubitus pada bayi dan anak ... 16
2.3 Kerangka Teori... 18
2.4 Kerangka Konsep ... 18
BAB III METODE PENELITIAN ... 19
3.1 Jenis Penelitian ... 19
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 19
3.2.1 Lokasi Penelitian ... 19
3.2.2 Waktu Penelitian ... 19
3.3 Populasi dan Sampel Penelitian ... 19
3.3.1 Populasi Penelitian ... 19
3.3.2 Sampel Penelitian ... 19
3.4 Metode Pengumpulan Data ... 20
3.5 Teknik Pengumpulan Data ... 20
3.6 Pengolahan dan Analisa Data... 20
3.7 Definisi Operasional... 21
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN... 22
4.1 Hasil Penelitian ... 22
4.1.1 Deskripsi Lokasi Penelitian ... 22
4.1.2 Deskripsi data penelitian ... 22
4.2 Pembahasan ... 25
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 28
5.1 Kesimpulan ... 28
5.2 Saran ... 29
DAFTAR PUSTAKA ... 30 LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Tabel Judul Halaman
3.1 Definisi Operasional... 21 4.1 Karakteristik pasien ulkus dekubitus pada bayi dan anak
bedasarkan tipe ulkus dekubitus... 22 4.2 Karakteristik pasien ulkus dekubitus pada bayi dan anak
berdasarkan lokasi ulkus dekubitus ... 23 4.3 Karakteristik pasien ulkus dekubitus pada bayi dan anak
berdasarkan usia ... 23 4.4 Karakteristik pasien ulkus dekubitus pada bayi dan anak
berdasarkan jenis kelamin ... 23 4.5 Karakteristik pasien ulkus dekubitus pada bayi dan anak
berdasarkan penyakit yang mendasari ... 24
ix
DAFTAR GAMBAR
Gambar Judul Halaman
2.1 Tahapan Luka Tekan ... 10 2.2 Area berkembangnya ulkus dekubitus pada berbagai
posisi Tubuh ... 11 2.3 Anatomi kulit secara histopatologik ... 12 2.4 Area berkembangnya ulkus dekubitus pada bayi dan
anak... 16 2.5 Kerangka Teori ... 18 2.6 Kerangka Konsep ... 18
DAFTAR SINGKATAN
ASEAN : Association of Southeast Asian Nation ICU : Intensive care unit
NPUAP : National Pressure Ulcers Advisory Panel RSUP : Rumah Sakit Umum Pusat
WHO : World Organization Health T/D : Tipe/Derajat
xi
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Judul
1 Biodata Penulis 2 Lembar Orisinalitas
3 Surat Izin Survei Awal Penelitian 4 Ethical Clearance
5 Surat Izin Penelitian 6 Data Induk Penelitian 7 Data Statistik SPSS
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Tirah baring atau bedrest yaitu suatu keadaan dimana pasien berbaring ditempat tidur selama hampir 24 jam setiap harinya dengan tujuan untuk menimalkan fungsi semua organ pasien. Dampak yang sering timbul pada pasien yang mengalami tirah baring yaitu Ulkus dekubitus (Hinchliff, 1999).
Ulkus dekubitus umum terjadi pada pasien rawat inap baik yang akut maupun kronis. Diperkirakan bahwa sekitar 1 juta luka tekanan terjadi di Amerika Serikat.
insiden ulkus dekubitus dilaporkan pada pasien rawat inap berkisar dari 2,7%
menjadi 29% dan dilaporkan prevalensi pada pasien rawat inap berkisar dari 3,5%
menjadi 69%. Pasien di Intensive Care Unit (ICU) memiliki peningkatan risiko cedera tekanan, yang dibuktikan dengan kejadian 33% dan prevalensi 41%.
Dalam sebuah penelitian dari Jerman yang mengkaji prevalensi cedera tekanan di lebih dari 18.000 pasien yang berada di fasilitas perawatan jangka panjang, prevalensi ditemukan telah menurun dari 12,5% pada tahun 2002 menjadi 5%
pada tahun 2008. Penurunan ini diperkirakan disebabkan oleh strategi manajemen yang lebih efektif dan pencegahan yang lebih baik (Cuddigan, Berlowitz dan Ayello, 2001).
Menurut Yusuf (2010) hasil dari penelitian yang dilakukan sebelumnya di Indonesia insiden terjadinya Ulkus Dekubitus cukup tinggi yaitu sekitar 33,3%
menurut Association of South East Asian Nations (ASEAN) angka ini termasuk tinggi dibandingkan dengan negara-negara yang lainnya, maka diperlukan penanganan yang serius dan khusus untuk menyelesaikan masalah ini. Depkes menetapkan target sasaran mutu pasien tidak mengalami Ulkus Dekubitus selama perawatan haruslah 0% sesuai dengan indikator pelayanan rumah sakit menurut World Health Organization (WHO). Angka prevalensi ulkus dekubitus yang terjadi di Rumah Sakit di Jakarta pada tahun 2012-1013 yaitu 1,6% angka ini harus di awasi agar tidak meningkat. Dari penelitian sebelumnya terdapat 17%
2
prevalensi angka terjadinya ulkus dekubitus di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan dengan kuman jenis specimen pus dari bulan Juli sampai Desember 2014 didapatkan bahwa 4 kuman terbanyak yang menyebabkan ulkus dekubitus adalah Escheria coli, Pseudomonas aeruginosa, Klebsiella pneumonia, Staphylococcus aureus (Kusumawati, 2014).
Insiden ulkus dekubitus pada bayi dan anak dengan penyakit kritis mencapai 18% sampai 27% . Bayi premature (usia gestasi kurang dari 24 minggu), neonatus cukup bulan, dan anak-anak dengan usia kurang dari 2 tahun sebagian besar mengalami ulkus dekubitus pada bagian oksipital. Hal ini disebabkan kepala memiliki berat yang tidak proporsional, yaitu persentasenya lebih besar dari berat badan total. Pada anak usia lebih dari 2 tahun mengalami ulkus dekubitus yang menyerupai orang dewasa yang cenderung terjadi di daerah sacrum dan tumit (Groeneveld, 2004).
Data ulkus dekubitus pada bayi dan anak tidak sebanyak pasien dewasa sehingga peneliti ingin mengetahui lebih lanjut mengenai gambaran ulkus dekubitus pada bayi dan anak di Rumah Sakit Pusat Haji Adam Malik Medan dan diharapkan dengan adanya penanganan khusus pada pasien rawat inap terutama pada bayi dan anak dapat menurunkan angka terjadinya ulkus dekubitus pada bayi dan anak
1.2 RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimanakah gambaran ulkus dekubitus pada bayi dan anak di Rumah Sakit Umum Haji Adam Malik Medan?
1.3 TUJUAN PENELITIAN 1.3.1 TUJUAN UMUM
1. Untuk mengetahui gambaran ulkus dekubitus pada bayi dan anak di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan.
3
1.3.2 TUJUAN KHUSUS
1. Mengetahui karakteristik klasifikasi ulkus dekubitus.
2. Mengetahui karakteristik lokasi ulkus dekubitus.
3. Mengetahui karakteristik usia ulkus dekubitus pada bayi/anak.
4. Mengetahui karakteristik jenis kelamin yang mengalami ulkus dekubitus pada bayi/anak.
5. Mengatahui penyakit dasar yang menyebabkan ulkus dekubitus pada bayi/anak.
1.4 MANFAAT PENELITIAN
1. Data atau informasi hasil penelitian ini dapat dijadikan masukan kepada seluruh pihak Rumah Sakit Umum Haji Adam Malik Medan untuk dapat mengurangi tingginya tingkat kejadian Ulkus dekubitus terutama untuk bayi dan anak.
2. Data atau informasi hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan bagi Pihak Rumah Sakit Umum Haji Adam Malik Medan terutama untuk keluarga yang menjaga pasien selama dirawat inap dirumah sakit maupun dirumah.
4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 ULKUS DEKUITUS
2.1.1 DEFINISI ULKUS DEKUBITUS
Ulkus Dekubitus ialah ulkus yang terjadi akibat tekanan yang lama yang menyebabkan terjadinya iskemia (Djuanda, 2013)
Dekubitus termasuk penyakit yang paling sulit didefinisikan ditandai dengan tidak konsistennya penggunaan istilah.Beberapa ahli menyatakan dekubitus sebagai penyakit tanpa definisi. Ahli juga mengidentifikasikan ada 14 nomenclatur atau istilah yang sering digunakan berkaitan dengan dekubitus.
Istilah yang paling sering ialah bed sore, pressure ulcer, pressure sore, decubitus dan decubiti (Campbell,Caren et al 2010).
Istilah ulkus dekubitus (dari decumbere Latin, “berbaring”), tekanan sakit, dan tekanan ulkus sering digunakan secara bergantian dalam komunitas medis.
Namun, seperti namanya, ulkus dekubitus terjadi pada situs atasnya struktur tulang yang menonjol ketika seseorang berbaring. Oleh karena itu, bukan istilah yang akurat untuk borok yang terjadi di posisi lain, seperti duduk berkepanjangan (misalnya, ischial tuberositas ulkus). Karena denominator umum dari semua ulserasi tersebut adalah tekanan, tekanan ulkus datang untuk dipertimbangkan istilah terbaik untuk digunakan. Ulkus dekubitus umum terjadi pada pasien rawat inap baik yang akut maupun kronis (Campbell,Caren et al 2010).
2.1.2 TEORI DEKUBITUS
Ada 4 teori berkaitan dengan decubitus (Jan,Kotner et al 2009):
1. Teori Ischemia
Tekanan eksternal yang melebihi resistensi kapiler akan mengkakibatkan penyempitan kapiler baik sebagian ataupun total yang berakhir pada iskemia
5
jaringan. Kondisi ini mengakibatkan terganggunya metabolism, meningkatnya permeabilitas kapiler mengakibatkan edema local dan infiltrasi seluler. Peningkatan derajat dan durasi iskemia yang terjadi tidak hanya meningkatkan permeabilitas membrane dan terjadinya ekstravasasi tetapi juga berdampak pada nekrosis seluler dan reaksi inflamasi (Jan, Kotner et al 2009).
2. Teori reperfusi injury
Ketika aliran darah kembali normal maka terjadi peristiwa reperfusi.
Reperfusi merangsang pelepasan beberarapa radikal bebas yang menyebabkan respon inflamasi dan memperparah kerusakan sel (Jan, Kotner et al 2009).
3. Teori kegagalan fungsi limfatik
Hipoksia yang terjadi akibat oklusi pembuluh darah juga berdampak pada kerusakan pembuluh limfe, dimana motilitas pembuluh limfe dan aliran limfe mengalami disfungsi. Akibatnya sisa-sisa produk metabolism terakumulasi dan berakhir pada nekrosis jaringan. Sejumlah kecil tekanan pada awalnya akan meningkatkan aliran limfe (kompensasi) namun setelah melampaui critical point aliran limfe menjadi berkurang/dekompensasi (Jan, Kotner et al 2009).
2.1.3 FAKTOR RESIKO DEKUBITUS 1. Gangguan Input Sensorik
Pasien yang mengalami perubahan persepsi sensorik terhadap nyeri dan tekanan beresiko tinggi mengalami gangguan integritas kulit dari pada pasien yang sensasinya normal. Pasien yang mempunyai persepsi sensorik yang utuh terhadap nyeri dan tekanan dapat mengetahui jika salah satu bagian tubuhnya merasakan tekanan ataunyeri yang terlalu besar. Sehingga ketika pasien sadar dan berorientasi, mereka dapat mengubah atau meminta bantuan untuk mengubah posisi (Potter&Perry 2005).
6
2. Gangguan Fungsi Motorik
Pasien yang tidak mampu mengubah posisi secara mandiri beresiko tinggi terhadap dekubitus. Pasien tersebut dapat merasakan tekanan tetapi tidak mampu untuk mengubah posisi secara mandiri untuk menghilangkan tekanan tersebut. Hal ini meningkatkan peluang terjadinya dekubitus. Pada pasien yang mengalami cedera medulla spinalis diperkirakan sebesar 85% (Potter&Perry, 2005).
3. Perubahan Tingkat Kesadaran
Pasien bingung, disorientasi atau mengalami perubahan tingkat kesadaran tidak mampu melindungi dirinya sendiri dari luka dekubitus. Pasien bingung atau disorientasi mungkin dapat merasakan tekanan, tetapi tidak mampu memahami bagaimana menghilangkan tekanan itu. Pasien koma tidak dapat merasakan tekanan dan tidak mampu mengubah keposisi yang lebih baik.
Selain itu pada pasien yang mengalami perubahan tingkat kesadaran lebih mudah menjadi bingung. Beberapa contoh adalah pasien yang berada di ruang operasi dan untuk perawatan intensif dengan pemberian sedasi(Potter&Perry 2005).
4. Gips, Traksi, Alat Ortotik dan Peralatan lain
Gips dan traksi mengurangi mobilitas pasien dan ekstremitasnya. Pasien yang menggunakan gips beresiko tinggi untuk mengalami ulkus dekubitus karena adanya gaya friksi eksternal mekanik dari permukaan gips yang bergesek pada kulit. Gaya mekanik berupa tekanan yang dikeluarkan gips pada kulit jika gips terlalu ketat atau jika ekstremitasnya yang bengkak (Potter&Perry, 2005).
2.1.4 FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN ULKUS DEKUBITUS
1. Gaya gesek
Merupakan tekanan yang diberikan pada kulit dengan arah parallel terhadap permukaan tubuh. gaya ini terjadi saat pasien bergerak atau memperbaiki posisi tubuhnya di atas tempat tidur. pasien memperbaiki posisi tubuh dengan cara didorong atau digeser ke bawah. Jika terdapat gaya gesek maka
7
kulit dan lapisan subkutan menempel pada permukaan tempat tidur dan lapisan otot dan serta tulang beergeser sesuai dengan arah gerakan tubuh.
Tulang pasien bergeser kea rah kulit dan member gaya pada kulit. Kapiler jaringan yang berada dibawahnya tertekan dan terbeban oleh tekanan tersebut yang akan menyebabkan mikrosirkulasi lokal kemudian menyebabkan hipoksi, perdarahan dan nekrosis pada lapisan jaringan (Potter&Perry, 2005).
2. Friksi
Friksi merupakan gaya mekanika yang diberikan saat kulit di geser pada permukaan yang kasar seperti saat pergantian alas tempat tidur.tidak seperti cedera akibat gaya gesek, cedera akibat friksi mempengaruhi epidermis atau lapisan kulit bagian atas. Friksi ini seringkali menyebabkan cedera abrasi pada siku atau tumit. adapun cara yang dapat di lakukan untuk mencegah cedera ini adalah dengan memindahkan pasien secara tepat dengan menggunakan teknik mengangkat yang benar dan meletakkan benda-benda di bawah siku dan tumit seperti balutan hidrokoloid untuk melindungi kulit dan menggunakan pelembab untuk mempertahankan hidrasi epidermis (Potter&Perry, 2005).
3. Kelembaban
Adanya kelembaban pada kulit dan durasinya meningkatkan terjadinya kerusakan integritas kulit. Akibat kelembaban terjadi peningkatan resiko pembentukan dekubitus sebanyak 5 kali. Kelembaban kulit dapat berasal dari drainase luka, keringat dan inkontinensia. Beberapa cairan tubuh seperti urine, feses dan drainase luka menyebabkan erosi kulit dan meningkatkan resiko terjadi ulkus dekubitus pada pasien (Potter&Perry, 2005).
4. Nutrisi Buruk
Pasien kurang nutrisi sering mengalami atrofi otot dan jaringan subkutan yang serius. Akibat perubahan ini maka jaringan yang berfungsi sebagai bantalan diantara kulit dan tulang menjadi semakin sedikit. Oleh karena itu efek tekanan meningkat pada jaringan tersebut(Potter&Perry, 2005).
8
5. Anemia
Penurunan hemoglobin mengurangi kapasitas darah membawa nutrisi dan oksigen serta mengurangi jumlah oksigen yang tersedia untuk jaringan.
Anemia juga mengganggu metabolism sel dan mengganggu penyembuhan luka(Potter&Perry, 2005).
6. Obesitas
Obesitas ringan dapat mengurangi dekubitus. Jaringan adipose pada jumlah kecil berguna sebagai bantalan tonjolan tulang sehingga melindungi kulit dari tekanan. Pada obesitas sedang ke berat jaringan adipose memperoleh vaskularisasi yang buruk, sehingga jaringan adipose dan jaringan lain yang berada dibawahnya semakin rentan mengalami kerusakan akibat iskemik (Potter&Perry, 2005).
7. Usia
Anak usia kurang dari 24 bulan lebih beresiko untuk mengalami luka tekan di area oksipital(Potter&Perry, 2005).
2.1.5 EPIDEMIOLOGI ULKUS DEKUBITUS
Angka prevalensi ulkus dekubitus yang terjadi di Rumah Sakit di Jakarta pada tahun 2012-1013 yaitu 1,6%. Di Rumah Sakit Dr.Sardjito Yogyakarta sebesar 40% dari 40 pasien rawat inap mengalami ulkus dekubitus. Di Rumah Sakit Dr.Moewardi Surakarta didapatkan angka kejadian ulkus dekubitus yaitu 38,18%. Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa angka kejadian dekubitus pada pasien rawat inap masih cukup tinggi dan akan terus mengingkat bila tidak diberi perhatian khusus(Morrison, 2004)
2.1.6 PATOFISIOLOGI ULKUS DEKUBITUS
Dekubitus terjadi sebagai hubungan antara waktu dengan tekanan. Semakin besar tekanan, maka semakin besar pula insiden terbentuknya luka. Kulit dan jaringan subkutan dapat mentoleransi beberapa tekanan. Tetapi pada tekanan eksternal terbesar daripada tekanan dasar kapiler akan menurunkan atau
9
menghilangkan aliran darah ke dalam jaringan sekitarnya.Jaringan ini menjadi hipoksi sehingga terjadi iskemia. Jika tekanan ini lebih besar dari 32mmHg dan tidak dihilangkan dari tempat yang mengalami hipoksia maka pembuluh darah akan kolaps dan thrombosis. Jika tekanan yang besar dihilangkan maka sirkulasi pada kulit dibawahnya normal kembali (Ignatavicius & Workman, 2006)
Pembentukan dekubitus juga disebabkan oleh gaya gesek yang terjadi pada saat pasien bergerak atau memperbaiki posisi tubuhnya dengan cara mendorong kebawah. Jika terdapat gaya gesek maka kulit dari lapisan subkutan menempel pada permukaan tempat tidur dan lapisan otot dan serta tulang bergeser sesuai dengan arah gerak tubuh. Tulang pasien bergeser kearah kulit dan memberi gaya pada kulit. Jaringan kapiler yang berada dibawahnya tertekan dan terbeban oleh tekanan tersebut yang akan menyebabkan mikrosirkulasi local kemudian menyebabkan hipoksia, perdarah dan nekrosis pada lapisan jaringan (Jan, Kotner et al 2009)
2.1.7 KLASIFIKASI ULKUS DEKUBITUS
1. Derajat I : Eritema tidak pucat pada kulit utuh,lesi luka kulit yang diperbesar. Kulit tidak berwarna,hangat atau keras juga dapat menjadi indikator(Hockenberry & Wilson,2009).
2. Derajat II : Hilangnya sebagian ketebalan kulit meliputi epidermis dan dermis. Luka superficial dan secara klinis terlihat seperti abrasi,lecet atau lubang yang dangkal(Hockenberry & Wilson, 2009).
3. Derajat III : Hilangnya seluruh ketebalan kulit meliputi jaringan subkutan atau nekrotik yang mungkin akan melebar ke bawah tapi tidak melampaui fascia yang berada dibawahnya. Luka secara klinis terlihat seperti lubang yang dalam atau tampa merusak jaringan sekitarnya (Hockenberry &
Wilson, 2009).
4. Derajat IV :Hilangnya seluruh ketebalan kulit disertai destruksi ekstensif, nekrosis jaringan atau kerusakan otot, tulang, atau struktur penyangga
10
misalnya kerusakan pada jaringan epidermis,dermis,subkutanues,otot dan kapsul sendi(Hockenberry & Wilson, 2009).
Gambar 2.1 Tahapan Luka Tekan Sumber: NPUAP (2006)
2.1.8 MANIFESTASI KLINIS(Djuanda, 2013) 1. Riwayat pengobatan sebelumnya
2. Riwayat operasi 3. Riwayat rawat inap
4. Status gizi dan perubahan berat badan
2.1.9 TEMPAT TERJADINYA ULKUS DEKUBITUS
Beberapa tempat yang paling sering terjadi dekubitus adalah: (Jan, Kotner et al 2009)
1. Pada penderita posisi telentang: pada daerah belakang kepala, daerah tulang belikat, daerah bokong dan tumit.
2. Pada penderita dengan posisi miring: daerah pinggir kepala (terutama daun telinga), bahu, siku, daerah pangkal paha, kulit pergelangan kaki dan bagian atas jari-jari kaki.
3. Pada penderita dengan posisi tengkurap; dahi, lengan atas, tulang iga dan lutut.
11
Bayi premature (usia gestasi kurang dari 24 minggu), neonatus cukup bulan dan anak-anak dengan usia kurang dari 2 tahun sebagian besar mengalami luka tekan pada bagian oksipital (17%-19%) (Schindler,et al 2011). Hal ini disebabkan kepala memiliki berat yang tidak proporsional yaitu presentasenya lebih besar dari berat badan total. Pada anak-anak yang lebih besar (usia lebih dari 2 tahun) perkembangan luka tekan yang menyerupai orang dewasa yang cenderung terjadi di daerah sacrum dan tumit(Suddaby 2005,p.132-138)
Gambar 2.2 Area berkembangnya ulkus dekubitus pada berbagai posisi tubuh Sumber: Stephen & Haynes (2006)
2.2 KULIT
2.2.1 DEFINISI KULIT
Kulit adalah organ tubuh yang terletak paling luar dan membatasinya dari lingkungan hidup manusia. Luas kulit orang dewasa 1,5m2 dengan berat kira-kira 15% berat badan. Kulit merupakan organ yang esensial dan vital serta merupakan cermin kesehatan dan kehidupan. Kulit juga sangat kompleks, elastis, dan sensitif (Djuanda 2015,p.3-4).
12
Warna kulit berbeda-beda dari kulit yang berwarna terang, hitam, merah muda pada telapak kaki dan tangan bayi, serta warna hitam kecoklatan pada genitalia orang dewasa(Djuanda 2015,p.3-4).
Demikian pula kulit bervariasi mengenai lembut, tipis dan tebalnya. Kulit yang elastis dan longgar terdapat pada palpebra, bibir dan preputium. Kulit yang tebal dan tegang terdapat pada telapak kaki dan tangan orang dewasa. Kulit yang tipis terdapat pada muka, yang lembut pada leher dan badan, dan yang berambut kasar terdapat pada kepala(Djuanda 2015,p.3-4).
2.2.2 ANATOMI KULIT SECARA HISTOPATOLOGIK
Gambar 2.3 Anatomi kulit secara histopatologi Sumber: Mescher AL (2010)
Pembagian kulit secara garis besar tersusun atas tiga lapisan utama yaitu:
1. Lapisan epidermis 2. Lapisan dermis 3. Lapisan subkutis
13
Tidak ada garis tegas yang memisahkan dermis dan subkutis ditandai dengan adanya jaringat ikat longgar dan adanya sel dan jaringan lemak
1. Lapisan Epidermis
Terdiri atas: stratum korneum, stratum lusidum, stratum ganulosum, stratum spinosum dan stratum basale(Djuanda 2015,p.3-4).
a. Stratum Korneum
Adalah lapisan kulit yang paling luar dan terdiri dari atas beberapa lapis sel-sel gepeng yang mati, tidak berinti dan protoplasmanya telah menjadi keratin.
b. Stratum Lusidum
Terdapat langsung bawah lapisan korneum,merupakan lapisan sel-sel gepeng tanpa inti dengan dengan protoplasma yang berubah menjadi protein yang disebut eleidin. Lapisan tersebut tampak lebih jelas di telapak tangan dan kaki.
c. Stratum Granulosum
Merupakan 2 atau 3 lapis sel-sel gepeng dengan sitoplasma berbutir kasar dan terdapat inti di antaranya. Butir-butir kasar ini terdiri atas keratohialin. Mukosa biasanya tidak mempunyai lapisan ini. Stratum granulosum juga tampak jelas di telapak tangan dan kaki.
d. Stratum spinosum
Atau disebut pula prickle cell layer terdiri atas beberapa lapis sel yang berbentuk polygonal yang besarnya berbeda-beda karena adanya proses mitosis.protoplasmanya jernih karena banyak mengandung glikogen, dan inti terletak ditengah-tengah. Sel-sel ini makin dekat ke permukaan makin gepeng bentuknya. Di antara sel-sel stratum spinosum terdapat jembatan-jembatan antar sel yang terdiri atas protoplasma dan tonofibril atau karatin. Perlekatan antar jembatan-jembatan ini membentuk penebalan bulat kecil yang disebut nodulus bizzozero. Diantara sel-sel
14
spinosum terdapat pula sel langerhans. Sel-sel stratum spinosum mengandung banyak glikogen.
e. Stratum basale
Terdiri atas sel-sel berbentuk kubus (kolumnar) yang tersusun vertical pada pembatasan dermo-epidermal berbaris seperti pagar (palisade).
Lapisan ini merupakan lapisan epidermis yang paling bawah. sel-sel basal ini mengadakan mitosis dan berfungsi reproduktif.
Lapisan ini terdiri atas dua jenis sel yaitu:
a. Sel-sel yang berbentuk kolumnar
Dengan protoplasma basofilik inti lonjong dan besar,dihubungkan satu dengan yang lain oleh jembatan antar sel.
b. Sel pembentuk melanin (melanosit)
Melanosit atau clear cell merupakan sel-sel berwarna muda dengan sitoplasma basofilik dan inti gelap dan mengandung butir pigmen (melanosomes).
1. Lapisan dermis
Adalah lapisan dibawah epidermis yang jauh lebih tebal daripada epidermis. Lapisan ini terdiri atas lapisan elastic dan fibrosa padat dengan elemen-elemen selular dan folikel rambut.Secara garis besar dibagi menjadi dua bagian yakni(Djuanda 2015,p.3-4).
a. Pars papilare
Yaitu bagian yang menonjol ke epidermis, berisi ujung serabut saraf dan pembuluh darah.
b. Pars retikulare
Yaitu bagian dibawahnya yang menonjol ke arah subkutan. bagian ini terdiri atas serabut-serabut penunjang misalnya serabut kolagen, elastin dan retikulin. Dasar lapisan ini terdiri atas cairan kental asam hialuronat dan kondroitin suflat, dibagian ini terdapat pula fibroblast. Serabut kolagen dibentuk oleh fibroblast, membentuk ikatan yang mengandung hidroksiprolin dan hidroksisilin. Kolagen muda bersifat lentur dengan bertambah umur menjadi kurang larut sehingga makin stabil. retikulin
15
mirip kolagen muda. serabut elastin biasanya bergelombang, berbentuk arnoft dan mudah mengembang serta lebih elastis.
2. Lapisan subkutis
Adalah kelanjutan dermis, terdiri atas jaringan ikat longgar berisi sel-sel lemak didalamnya. sel-sel lemak merupakan sel bulat, besar, dengan inti terdesak ke pinggir sitoplasma lemak yang bertambah(Djuanda 2015,p.3-4).
Sel-sel ini membentuk kelompok yang dipisahkan satu dengan yang lain oleh trabekula yang fibrosa. lapisan sel-sel lemak disebut panikulus adipose, berfungsi sebagai cadangan makanan.di lapisan ini terdapat ujung-ujung saraf tepi, pembuluh darah, dan getah bening. tebal tipisnya jaringan lemak tidak sama bergantung pada lokalisasinya. di abdomen dapat mencapai ketebalan 3cm,di daerah kelopak mata dan penis sangat sedikit. lapisan lemak ini juga merupakan bantalan. Vaskularisasi di kulit diatur oleh 2 pleksus yang terletak dibagian atas dermis (pleksus superficial) dan yang terletak di subkutis (pleksus profunda). pleksus yang di dermis bagian atas mengadakan anastomosis di papil dermis, pleksus yang di subkutis dan di pars retikulare juga mengadakan anastomosis, dibagian ini pembuluh darah berukuran lebih besar. Bergandengan dengan pembuluh darah terdapat salurah getah bening(Djuanda 2015,p.3-4).
2.2.3 PERBEDAAN STRUKTUR KULIT BAYI/ANAK DAN DEWASA Pada dasarnya struktur kulit bayi atau anak hampir sama dengan kulit orang dewasa namun, fungsinya belum berkembang sempurna. Itu sebabnya kulit bayi belum berfungsi optimal(Eichenfield & Lee 2013).
Kulit bayi 30% lebih tipis dari orang dewasa, lapisan atas kulit bayi ini memiliki lapisan dinding (corneocytes) yang seharusnya melindungi dan menjaga kelembapan alami kulit. Namun corneocytes begitu kecil dan renggang sehingga secara fungsional kulit bayi memiliki kapasitas menahan air yang sangat rendah
16
disbanding kulit dewasa sehingga dapat menyebabkan kekeringan dan lebih mudah terjadinya luka(Chang 2012,p.1185-1187).
Sel-sel kulit bayi masih kecil-kecil dan belum berkembang sehingga ikatan di antara sel-sel tersebut masih longgar. Lapisan korneum pada permukaan kulitpun masih sangat tipis. Sehingga menyebabkan kulit bayi cenderung lebih tidak mampu melawan infeksi dan bereaksi terhadap alergi serta mudah robek (Arie 2002, p.1-9).
Bayi juga sedikit memproduksi melanin yaitu pigmen yang melindungi dari sinar matahari sehingga beresiko lebih tinggi terhadap terbakarnya kulit (Lowel,Stephen et al 2012,p.1121-1129).
2.2.4 ULKUS DEKUBITUS PADA BAYI DAN ANAK
Luka tekan disebabkan karena terjadinya gangguan sirkulasi peredaran darah ke jaringan sehingga mengalami kerusakan atau gangguan integritas kulit dan stress mekanik terhadap jaringan, yang mengkakibatkan iskemik lokal. Jaringan lunak yang berada pada dua permukaan yang keras dan terjadi gesekan antara kedua permukaan tersebut, yaitu antara tulang dengan permukaan tempat tidur (Djuanda 2013, p.228).
Prevalensi terjadinya ulkus dekubitus pada bayi dan anak tidak setinggi pada orang dewasa mengingat bayi dan anak masih aktif bergerak dibandingkan orang dewasa. Bayi premature (usia gestasi kurang dari 24 minggu), neonatus cukup bulan dan anak-anak dengan usia kurang dari 2 tahun sebagian besar mengalami luka tekan pada bagian oksipital (17%-19%) (Schindler, et al 2011). Hal ini disebabkan kepala memiliki berat yang tidak proporsional yaitu presentasenya lebih besar dari berat badan total. Pada anak-anak yang lebih besar (usia lebih dari 2 tahun) perkembangan luka tekan yang menyerupai orang dewasa yang cenderung terjadi di daerah sacrum dan tumit(Suddaby 2005,p.132-138).
17
Gambar 2.4 Area berkembangnya ulkus dekubitus pada anak dengan posisi telentang . Sumber: Willock & Maylor (2004)
Untuk mengurangi terjadinya ulkus dekubitus pada bayi dan anak dapat di lakukan beberapa cara yaitu:
1. Postioning
Teknik posisi sangat penting dalam penanganan ulkus dekubitus. Sangat penting untuk membatasi dan mengurangi peninggian tempat tidur dan memastikan tempat tidur pada daerah kepala dielevasi pada tingkat terendah untuk mengurangi geser didaerah sacral. Pasien setidaknya harus berganti posisi minimal 2 jam.pasien harus diangkat bukan di geser. Repositioning harus dilakukan sesering mungkin untuk mencegah terjadinya ulkus dekubitus (Wake 2010,p.56-60).
2. Permukaan yang mendukung
Permukaan yang mendukung ini dibagi menjadi yang statis dan dinamis Permukaan yang distatis direkomandasikan kepada pasien yang bias merubah posisi tanpa memberikan tekanan berat pada luka.Pada pasien yang sudah memiliki ulkus yang besar dan banyak atau pasien yang tidak responsif bias diberikan permukaan yang mendukung berupa bermukaan yang dinamis dan bertenaga listrik(Wake 2010,p.56-60).
18
2.3 KERANGKA TEORI
Gambar 2.5 Kerangka Teori.
2.4 KERANGKA KONSEP
Gambar 2.6 Kerangka Konsep
Anak dengan perawatan intensif
Faktor resiko luka tekan:
Gangguan input sensorik
Gangguan fungsi motorik
Perubahan tingkat kesadaran
Pemasangan gips,traksi,alat ortotik dan perlatan lainnya Faktor yang mempengaruhi
perkembangan luka tekan:
Gesekan
Friksi
Kelembaban
Nutrisi yang buruk
Anemia
Obesitas
usia
Jenis Kelamin Penyakit yang mendasari
Lokasi Klasifikasi Ulkus Dekubitus
Usia Ulkus Dekubitus
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 JENIS PENELITIAN
Penelitian ini merupakan deskriptif dengan menggunakan data cross sectional yaitu dengan menggunakan data sekunder berupa rekam medik.
3.2 LOKASI DAN WAKTU PENELITIAN 3.2.1 LOKASI PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan dibagian rekam medis di RSUP H.Adam Malik Medan. Rumah sakit umum pusat Haji Adam Malik adalah rumah sakit utama dan terbesar di Medan, mempunyai fasilitas yang lengkap dan memiliki sistem penyimpanan rekam medis yang sistematis serta merupakan rujukan untuk medan dan sekitarnya.
3.2.2 WAKTU PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli 2017 – November 2017
3.3 POPULASI DAN SAMPEL PENELITIAN 3.3.1 POPULASI PENELITIAN
Populasi penelitian ini adalah semua pasien yang rawat inap khususnya pada bayi/anak di RSUP H.Adam Malik periode Januari 2013 – Desember 2016.
Jumlah populasi sebanyak 28 orang
20
3.3.2 SAMPEL PENELITIAN
Sampel dalam penelitian ini adalah semua populasi dijadikan sampel penelitian / total sampling yaitu sebanyak 28 orang pasien yang dirawat inap di RSUP H. Adam Malik periode Januari 2013 – Desember 2016 yang datanya dapat dilihat dari data rekam medis.
3.4 METODE PENGUMPULAN DATA
Metode yang dipilih adalah dengan metode deskriptif menggunakan rekam medik dimana jenis data dalam penelitian adalah data sekunder yang diperoleh dari bagian instalasi rekam medik RSUP H.Adam Malik Medan yang memenuhi kriteria inklusi.
3.5 TEKNIK PENGAMBILAN SAMPEL
Untuk pengambilan sampel menggunakan rekam medis semua pasien bayi/anak berbagai macam penyakit yang telah memasuki kriteria inklusi.
3.6 PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA 1. Editing
Pada tahap ini pengumpulan dan pemeriksaan data yang ada lalu diperiksa apakah data sesuai.
2. Coding
Setelah data diedit,peneliti memberi kode tertentu pada tiap-tiap data.
3. Tabulasi
Kemudian setelah data diberikan kode,kemudian peneliti membuat tabel-tabel yang berisikan data yang telah diberi kode tersebut.
Dimana pada penelitian ini menggunakan tabel pemindahan yang artinya adalah peneliti tempat memindahkan kode-kode dari pencatatan pengamatan.
21
Penyajian data yang digunakan berupa tabel data yaitu tabel yang menyajikan data dalam bentuk kumpulan angka-angka yang disusun menurut kategori- kategori tertentu dalam suatu daftar.
3.7 DEFINISI OPERASIONAL
Pengukuran dan pengamatan variabel penelitian yang diteliti adalah :
Tabel 3.1 Definsi Operasional.
No Variabel Definisi Operasional
Alat Ukur Hasil Ukur Skala Ukur 1 Usia Usia bayi/anak
0-18 tahun.
Rekam Medis
Dinyatakan dalam jumlah bulan
Interval
2 Lama dirawat
Jumlah hari perawatan dihitung mulai dari pasien saat masuk rumah sakit.
Rekam medis
Jumlah hari (dinyatakan dalam jumlah hari)
Interval
3 Jenis Kelamin
Status gender yang dibawa dari lahir
Rekam Medis
1=Laki-laki 2=perempuan
Nominal
4 Klasifikasi Derajat yang dilihat dari gambaran klinis ulkus
Rekam Medis
Dinyatakan dalam jumlah tingkatan
Interval
5 Penyakit Pendasar
Penyakit yang mendasari terjadinya ulkus dekubitus
Rekam Medis
Penyakit yang mendasari ulkus dekubius
Nominal
22
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 HASIL PENELITIAN
4.1.1 DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik (RSUP HAM) Kota Medan yang berlokasi di Jalan Bunga Lau No.17 Kelurahan Kemenangan Tani, Kecamatan Medan Tuntungan. Rumah Sakit ini merupakan rumah sakit pemerintahan dengan kategori kelas A. Berdasarkan keputusan Menteri Kesehatan RI No.502/Menkes/IX/1991 tanggal 6 September 1991, RSUP Haji Adam Malik ditetapkan sebagai Rumah Sakit Pendidikan bagi mahasiswa/i Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
4.1.2 DESKRIPSI DATA PENELITIAN
Data penelitian yang digunakan adalah data sekunder. Data sekunder yaitu data yang didapatkan dari rekam medik pasien ulkus dekubitus pada bayi dan anak di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan dari januari 2013 sampai Desember 2016. Jumlah seluruh data sebesar 28 pasien yang telah memenuhi kriteria inklusi peneliti.
Distribusi data berdasarkan usia pasien ulkus dekubitus pada bayi dan anak pada tahun 2013-2016 dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 4.1 Karakteristik Pasien Ulkus Dekubitus pada bayi dan anak berdasarkan tipe Ulkus Dekubitus.
Tipe Ulkus Dekubitus Frekuensi (n) Persentase (%)
Derajat I 18 64,2
Derajat II 8 28,6
Derajat III 1 3,6
Derajat IV 1 3,6
Total 28 100
23
Dalam Tabel 4.1 diketahui bahwa klasifikasi luka ulkus terbanyak pada derajat I yaitu sebanyak 18 orang (64,2%).
Tabel 4.2 Karakteristik Pasien Ulkus Dekubitus pada bayi dan anak berdasarkan lokasi Ulkus Dekubitus.
Lokasi Frekuensi Persentase (%)
Sacrum 10 35,7
Oksipital 15 53,6
Tumit 3 10,7
Total 28 100
Dalam Tabel 4.2 diketahui bahwa lokasi terjadinya ulkus dekubitus terbanyak terdapat pada daerah oksipital yaitu sebanyak 15 orang (53,6%).
Tabel 4.3 Karakteristik Pasien Ulkus Dekubitus pada bayi dan anak berdasarkan usia.
Kelompok Usia Frekuensi (n) Persentase (%)
0-5 tahun 13 46,4
6-10 tahun 2 7,1
11-15 tahun 8 28,6
16-18 tahun 5 17,9
Total 28 100
Dalam Tabel 4.3 diketahui bahwa pasien ulkus dekubitus terbanyak berada pada kelompok usia 0-5 tahun yaitu sebanyak 13 orang (46,4%)
Tabel 4.4 Karakteristik Pasien Ulkus Dekubitus pada bayi dan anak berdasarkan jenis kelamin.
Jenis Kelamin Frekuensi (n) Persentase (%)
Laki-laki 15 53,6
Perempuan 13 46,4
Total 28 100
Dalam Tabel 4.4 diketahui bahwa pasien ulkus dekubitus terbanyak pada jenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak 15 orang (53,6%), jenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 13 orang (46,4%) pada tahun 2013-2016.
24
Tabel 4.5 Karakteristik Pasien Ulkus Dekubitus pada bayi dan anak berdasarkan penyakit yang mendasari.
Penyakit yang mendasari Frekuensi (n) Persentase (%)
Hidrocephalus 6 21,4
Anemia 4 14,2
Tumor 3 10,7
Meningitis 2 7,1
Meningocele 2 7,1
Encephalitis 1 3,6
Trauma vertebra 1 3,6
Post Skin Graft 1 3,6
Paraparase 1 3,6
Spondilitis 1 3,6
Neuroblastoma 1 3,6
SLE 1 3,6
Cellulitis 1 3,6
Cyanotic 1 3,6
Fracture 1 3,6
Malnutrisi 1 3,6
Total 28 100
Dalam Tabel 4.5 distribusi data pasien ulkus dekubitus pada bayi dan anak berdasarkan penyakit yang mendasari menunjukan 6 orang hydrocephalus (21,4%).
25
5.2 PEMBAHASAN
Penelitian ini dilakukan pada 28 pasien ulkus dekubitus pada bayi dan anak yang datanya diambil menggunakan data sekunder berupa rekam medis pada periode januari 2013-desember 2016. tabel 4.1 diketahui bahwa tipe/derajat luka ulkus terbanyal pada derajat I yaitu sebanyak 18 orang (64,2%). Insiden ulkus dekubitus pada bayi dan anak terbanyak pada derajat I. Derajat I pada ulkus dekubitus merupakan derajat paling ringan, mengingat bayi dan anak masih aktif bergerak dibandingkan orang dewasa (Schindler, et al 2011) dimana pada sekitar luka hanya tampak eritema yang tidak pucat atau tidak adanya perubahan warna kulit, dan terdapat lesi pada kulit. Pada tabel 4.2 diketahui bahwa lokasi luka ulkus dekubitus terbanyak terdapat pada daerah oksipital yaitu sebanyak 15 orang (53,6%), daerah sacrum yaitu sebanyak 10 orang (35,7%) dan didaerah tumit sebanyak 3 orang (10,7%). Berdasarkan tabel 4.2 dapat dilihat bahwa lokasi yang paling banyak terjadi yaitu pada daerah oksipital. Pada neonatus cukup bulan dan anak-anak kurang dari 5 tahun sebagian besar mengalami ulkus dekubitus pada bagian oksipital (Schindler, et al 2011). Hal ini disebabkan kepala memiliki berat yang tidak proporsional yaitu presentasenya lebih besar dari berat badan total, didukung juga dengan penelitian yang dilakukan pada anak-anak penyakit yang mendasari adalah hydrocephalus. Anak dengan penyakit hydrocephalus memiliki ukuran kepala yang tidak proporsional sehingga anak hydrocephalus lebih banyak melakukan tirah baring dimana tumpuan terberat berada dikepala (Suddaby, 2005).
26
Pada anak-anak yang lebih besar (usia lebih dari 5 tahun) perkembangan ulkus dekubitus menyerupai orang dewasa yaitu cenderung terjadi di daerah sacrum dan tumit (Suddaby 2005). Pada pasien dengan gangguan input sensorik
maupun gangguan motorik dimana pasien mengalami perubahan persepsi nyeri, pasien merasa adanya nyeri tetapi tidak dapat menghilangkan tekanan nyeri yang lebih bertumpu di bagian sacrum maupun tumit (Potter dan Perry, 2005).
Pada tabel 4.3 Ulkus dekubitus pada bayi dan anak terbanyak pada kelompok usia 0-5 tahun yaitu sebanyak 13 orang (46,4%), kelompok usia 11-15 tahun yaitu sebanyak 8 orang (28,6%), kelompok usia 16-18 tahun yaitu sebanyak 5 orang (17,9%), kelompok usia 6-10 tahun yaitu sebanyak 2 orang (7,1%).
Insiden ulkus dekubitus pada bayi dan anak paling besar tingkat terjadinya adalah pada usia 0-5 tahun. Tingkat terjadinya ulkus dekubitus pada bayi dan anak pada umumnya sering terjadi pada anak berusia kurang dari 24 bulan (Perry&Potter, 2005). Berdasarkan tabel 4.4 diketahui bahwa pasien ulkus dekubitus terbanyak pada jenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak 15 orang (53,6%), jenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 13 orang (46,4%). Jenis kelamin bukan termasuk faktor resiko ulkus dekubitus namun ada beberapa faktor hormonal yang mungkin berperan dalam menerangkan adanya perbedaan antara laki-laki dan perempuan (Widodo, 2007). Hasil yang didapatkan sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Utomo (2012) yang mendapatkan sebanyak 76,7% pasien ulkus dekubitus berjenis kelamin laki-laki. Pada hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan di RS. Labuang Basi di Makasar didapatkan kasus sebesar 58% pasien yang mengalami ulkus dekubitus adalah
27
laki–laki. Berdasarkan tabel 4.5 distribusi data pasien ulkus dekubitus pada bayi dan anak berdasarkan penyakit yang mendasari terdapat 6 orang hydrocephalus (21,4%), kemudia penyakit pendasar terjadinya ulkus dekubitus terbanyak adalah anemia yaitu sebanyak 4 orang (14,2%). Kasus tertinggi anak dengan hydrocephalus cenderung lebih tinggi tingkat terjadinya ulkus dekubitus disebabkan kepala anak hydrocephalus memiliki berat yang tidak proporsional yaitu presentasenya lebih besar dari berat badan total sehingga lokasi ulkus dekubitus yang sering terjadi pada bayi dan anak adalah di oksipital sewaktu melakukan perawatan tirah baring (Suddaby, 2005). Dan kasus tertinggi kedua pada kasus anak dengan anemia terjadi penurunan hemoglobin mengurangi kapasitas darah membawa nutrisi dan oksigen serta mengurangi jumlah oksigen yang tersedia untuk jaringan. Anemia juga menggangu metabolisme sel dan mengganggu penyembuhan luka (Potter dan Perry, 2005). Pada pasien yang mengalami malnurisi dimana terjadi ketidakseimbangan asupan nutrisi sehingga menyebabkan lamanya penyembuhan luka (Potter&Perry, 2005). Pada kasus orang dewasa penyebab yang paling tersering adalah pasien gangguan neurologis, penyakit kronik, penurunan status mental, penyakit onkologi dan ortopedi (Suheri, 2009)
28
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 KESIMPULAN
Berdasarkan hasil dan pembahasan penelitian pada pasien ulkus dekubitus pada bayi dan anak mulai Januari 2013 – Desember 2016 didapati sebanyak 28 pasien yang datanya dapat dilihat melalu rekam medis dan dapat diambil kesimpulan seperti berikut:
1. Pasien ulkus dekubitus pada bayi dan anak menurut tipe/derajat luka ulkus terbanyak pada derajat I yaitu sebanyak 18 orang (64,2%).
2. Pasien ulkus dekubitus pada bayi dan anak menurut lokasi terjadinya ulkus dekubitus terbanyak terdapat pada daerah oksipital yaitu sebanyak 15 orang (53,6%).
3. Pasien ulkus dekubitus pada bayi dan anak menurut usia tertinggi terdapat usia 0-5 tahun yaitu sebanyak 13 orang (46,4%).
4. Pasien ulkus dekubitus pada bayi dan anak menurut jenis kelamin terdapat jenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak 15 orang (53,6%).
5. Menurut penyakit yang mendasari terjadinya ulkus dekubitus pada bayi dan anak menunjukan 6 orang hydrocephalus (21,4%).
29
5.2 SARAN
Dari seluruh proses penelitian yang telah dijalani oleh peneliti dalam penelitian ini, maka dapat diungkapkan saran yang mungkin dapat bermanfaat bagi semua pihak yang berperan dalam penelitian ini. Adapun saran tersebut yaitu:
1. Diharapkan peneliti mengambil data penelitian dari beberapa rumah sakit untuk memperkaya karakteristik pasien menurut usia, jenis kelamin, lokasi, dan penyakit mendasari terjadinya Ulkus dekubitus
2. Diharapkan pihak rumah sakit membuat sistem rekam medis secara lengkap di komputer sehingga lebih mudah dalam pengambilan sampel dan tidak ada data rekam medis yang hilang.
3. Diharapkan dapat mengedukasikan pihak keluarga untuk memperhatikan keadaan pasien sewaktu tirah baring sehingga dapat mengurangi resiko terjadi Ulkus dekubitus.
30
DAFTAR PUSTAKA
Arie AM, 2002. Perawatan kulit bayi dan balita sehat di Milenium III, Jakarta:
Balai penerbit FK UI, p. 1-9.
Campbell, Caren, Charles, Lawrence. 2010. The decubitus ulcer: Facts and controversies. Clinics in dermatology. p.527-532.
Chang MW, 2012, Neonatal, Pediatric, and Adolescent Dermatology:
Dermatology in general medicine. NewYork, p.1185-1187.
Cuddigan J, Berlowitz D, Anyello E, 2001 Jul/Aug 2001, Pressure ulcer in America: Prevalence, incidence,and implications for the future. advances in skin&wound care.; 14,4.
Djuanda A, Hamzah M, Aisah S, 2010, Anatomi kulit Dalam: Buku Ilmu Penyakit Kulit & Kelamin. Edisi ke-6. Jakarta. Penerbitan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, p. 228.
Djuanda A, Hamzah M, Aisah S, 2010, Anatomi kulit . Dalam: Buku Ilmu Penyakit Kulit & Kelamin. Edisi ke-6. Jakarta; Penerbitan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, p. 3-4.
Eichenfield LF, Lee PW, 2013, Fetal and Neonatal skin development, structure and function. In: Pediatric Dermatology. London; Elsevier.
Groeneveld A. et al,2004, The prevalemce of pressure ulcers in a tertiary care pediatric and adult hospital. J Wound Ostomy Continence Nurse , 31(3).
p.108-120.
Hincliff S, 1999, Kamus keperawatan alih Bahasa Andry Hartono. edisi 17.
Jakarta: EGC.
Hockenberry MJ, 2009, Wilson D. Wong’s essentials of pediatric nursing 8th ed.
St.Louis: Mosby.
Ignatavicius D, Workman ML, 2006, Medical surgical nursing: Critical thinking for collaborate care. 5th ed. St.Louis.
Kottner, Jan, Balzer, Katrin, Dassen, Theo, Heinze, Sarah, 2009, Pressure ulcers:
A critical review of definitions,teory,and classifications. Ostomy wound management. 55(9). p. 22-29.
Kusumawati RL. Pola kuman Juli-Desember 2014 RSUP H.Adam Malik Medan.
31
Lowell G, Stephen K, Barbara G, 2012, Decubitus ulcers: Dermatology in general medicine. 8th ed. New York, p. 1121-1129.
Mescher AL, 2010, Junqueira’s Basic Histology Text&Atlas. NewYork; McGraw Hill Medical; p. 310.
Morison M, 2004, Manajemen luka alih bahasa Tyasmono. Jakarta; EGC.
National Pressure Ulcers Advisory Panel. Pressure ulcers definition and stages.5thed..Http://www.npuap.org/documents/PU_definitions_stages.pdf.
Perry AG, Potter PA, 2005, Fundamental of nursing, concepts, process and practice. 6th ed. St.Louis: Mosby
Schindler CA. et al. 2011. Protecting fragile skin: Nursing intervention to decrease of pressure ulcers in pediatric intensive care. American journal of critical. Jan; 20:1.
Stephen & Haynes, 2006. NICE pressure ulcer guideline: Summary and implication for practice. Journal of woundcare.
Suddaby EC. et al, Skin breakdown in acute care pediatric. Pediatric nurs 31(2).
p.132-138.
Suheri. 2009. Gambaran lama hari rawat dalam terjadinya luka dekubitus pada pasien imobilisasi di RSUP Haji Adam Malik Medan [skripsi]. Medan:
Fakultas Keperawatan.
Utomo W. et al. 2012. Efektifitas nigella sativa oil untuk mencegah terjadinya ulkus dekubitus pada pasien tirah baring lama. Jours nurs Indonesia.;2(2) Wake W. 2010. Pressure ulcers: What clinicians to know. p. 56-60.
Widodo A. 2007. Uji kepekaan instrumen pengkajian risiko dekubitus dalam deteksi dini risiko kejadian dekubitus di RISIS. Jurnal penelitian sains &
teknologi; 8(10): 39-54.
Willock J, Maylor M, 2004, Pressure ulcers in infants and children. Nursing standart. 18:24.
Yusuf S, 2010, Konsep dasar luka dekubitus. kumpulan materi kuliah.Yogyakarta UGM.
LAMPIRAN 1 . Biodata Penulis
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Nama : Muthia Hidayanti Nur
NIM : 140100050
Tempat, Tanggal Lahir : Medan, 27 November 1996
Agama : Islam
Nama Ayah : M.Hidayat
Nama Ibu : Tety Novrianti Nur
Alamat : Jl. Air Bersih Ujung Komp.SM Raja Lestari Residence No. 1A Medan
Riwayat Pendidikan :
1. TK Bustanul Athfal Medan 2003 – 2005
2. SD Muhammadiyah 01 Medan 2005– 2008
3. SMP Muhammadiyah 01 Medan 2008– 2011
4. SMA Negeri 1 Medan 2011– 2014
5. Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara 2014 – sekarang
Riwayat Organisasi :
1. Anggota FK Talent Porseni FK USU 2015 2. Anggota Adm.Kesek Try Out FK USU 2015
LAMPIRAN 2. Lembar Orisinalitas
PERNYATAAN
Dengan ini penulis menyatakan bahwa skripsi ini disusun sebagai syarat untuk memperoleh Sarjana Kedokteran pada Program Studi Pendidikan Dokter pada Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara adalah benar merupakan hasil karya penulis sendiri.
Adapun pengutipan yang penulis lakukan pada bagian tertentu dari hasil karya orang lain dalam penulisan skripsi ini, telah penulis cantumkan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah dan etika penelitian ilmiah.
Apabila dikemudian hari ternyata ditemukan seluruh atau sebagian skripsi ini bukan hasil karya penulis sendiri atau adanya plagiat dalam bagian tertentu, penulis bersedia menerima sanksi pencabutan gelar akademik yang penulis sandang dan sanksi lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku
Medan, Desember 2017 Penulis,
Muthia Hidayanti Nur NIM: 140100050
LAMPIRAN 3. Surat Izin Survei Awal Penelitian
IZIN SURVEI AWAL PENELITIAN
LAMPIRAN 4. Ethical Clearance
ETHICAL CLEARANCE
LAMPIRAN 9. Surat Izin Penelitian
LAMPIRAN 5. Surat Izin Penelitian
SURAT IZIN PENELITIAN
LAMPIRAN 6. Data Induk Penelitian
DATA INDUK
Nama : Muthia Hidayanti Nur NIM : 140100050
Institusi : S1 Fakultas Kedokteran USU
Data Induk
Gambaran Ulkus Dekubitus pada Bayi dan Anak di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan Tahun 2013 – 2016
No Rekam Medik
Jenis Kelamin
Usia Penyakit yang mendasari
T/D Lokasi 1 00.64.20.11 Perempuan 16thn Trauma Vertebra III Sacrum 2 00.66.26.05 Laki-laki 28hari Meningocele I Oksipital 3 00.62.66.06 Laki-laki 8bln Hidrocephalus I Oksipital 4 00.68.83.07 Perempuan 16thn Spondilitis IV Sacrum 5 00.63.67.07 Laki-laki 15thn Post Skin Graf I Sacrum 6 00.64.20.01 Laki-laki 1thn Hidrocephalus II oksipital 7 00.64.98.01 Laki-laki 17thn Fracture I Sacrum 8 00.49.79.01 Laki-laki 18thn Paraparase II Sacrum
9 00.59.56.71 Perempuan 12thn Anemia I Tumit
10 00.65.09.51 Laki-laki 1bln Hidrocephalus II Oksipital 11 00.64.17.48 Perempuan 5thn Ensefalitis I oksipital 12 00.63.63.43 Laki-laki 1thn Hidrocephalus I oksipital 13 00.65.45.38 Laki-laki 1thn Hidrocephalus I oksipital
14 00.68.03.24 Perempuan 1hari Meningocele II oksipital
15 00.60.33.14 Laki-laki 12thn Anemia I Tumit
16 00.66.98.18 Laki-laki 7thn Anemia I oksipital 17 00.67.06.23 Perempuan 17thn Tumor II Sacrum
18 00.67.06.37 Perempuan 11thn SLE I Sacrum
19 00.62.00.69 Perempuan 13thn Neuroblastoma II Tumit 20 00.62.83.92 Laki-laki 2thn Malnutrisi II oksipital 21 00.68.63.92 Perempuan 3thn Meningitis I oksipital 22 00.65.89.85 Perempuan 11thn Anemia I Sacrum 23 00.59.72.67 Perempuan 1thn Hidrocephalus II oksipital 24 00.61.74.57 Laki-laki 15thn Astrocytoma I Sacrum 25 00.60.61.51 Laki-laki 13thn Cellulitis I Sacrum 26 00.65.63.45 Perempuan 6thn Tumor I oksipital 27 00.61.04.47 Laki-laki 5bln Sianotic I oksipital 28 00.66.49.31 Perempuan 2thn Meningitis I oksipital
NB:
T/D : Tipe/Derajat Thn : Tahun Bln : Bulan
LAMPIRAN 7. Data Statistik SPSS
HASIL UJI STATISTIK
Tipe/Derajat
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid Derajat I 18 64.2 64.2 64.2
Derajat II Derajat III Derajat IV
8 1 1
28.6 3.6 3.6
28.6 3.6 3.6
92.8 96.4 100.0
Total 28 100.0 100.0
Lokasi
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid Sacrum 15 53.6 53.6 53.6
Oksipital Tumit
10 3
35.7 10.7
35.7 10.7
89.3 100.0
Total 28 100.0 100.0
JK
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid Laki-laki 15 53.6 53.6 53.6
Perempuan 13 46.4 46.4 100.0
Total 28 100.0 100.0
Usia
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid 0-5 Tahun 13 46.4 46.4 46.4
6-10 tahun 2 7.1 7.1 53.6
11-15 tahun
8 28.6 28.6 82.1
16-18 tahun
5 17.9 17.9 100.0
Total 28 100.0 100.0
Penyakit_Yang_Mendasari
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid Hidrocepalus 6 21.4 21.4 21.4
Anemia 4 14.3 14.3 35.7
Tumor 3 10.7 10.7 46.4
Meningitis 2 7.1 7.1 53.6
Meningocele 2 7.1 7.1 60.7
Encephalitis 1 3.6 3.6 64.3
Trauma vertebra
1 3.6 3.6 67.9
Post Skin Graft 1 3.6 3.6 71.4
Paraparase 1 3.6 3.6 75.0
Spondilitis 1 3.6 3.6 78.6
Neuroblastoma 1 3.6 3.6 82.1
SLE 1 3.6 3.6 85.7
Cellulitis 1 3.6 3.6 89.3
Cyanotic 1 3.6 3.6 92.9
Fracture 1 3.6 3.6 96.4
Malnutrisi 1 3.6 3.6 100.0
Total 28 100.0 100.0