PERAN PENDIDIKAN AGAMA DALAM MENGEMBANGKAN SIKAP PLURALIS
DI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA
S K R I P S I
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Keagamaan Katolik
Oleh:
Maria Wilfrida Meli Amatnua NIM: 161124047
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KEAGAMAAN KATOLIK JURUSAN ILMU PENDIDIKAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
2020
ii
iii
iv
PERSEMBAHAN
Skripsi ini penulis persembahkan kepada Tuhan Yesus Kristus yang senantiasa dengan penuh kasih membimbing, menuntun dan menyertai perjalanan proses pendidikan serta hidup penulis.
Kepada Suster Ursulin komunitas Yogyakarta dan seprovinsi Indonesia, yang mendukung dan mendoakan saya selama kuliah hingga selesai.
Keluarga besar Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang dengan berbagai upaya telah berdinamika bersama dalam mengerjakan tugas ini serta teman- teman seperjuangan angkatan 2016.
v MOTTO
Manusia dapat menimbang-nimbang dalam hati, tetapi jawaban lidah berasal daripada Tuhan.
Segala jalan orang adalah bersih menurut pandangannya sendiri, tetapi Tuhanlah yang menguji hati.
Serahkanlah perbuatanmu kepada Tuhan, maka terlaksanalah segala rencanamu.
(Ams 16: 1-3)
vi
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA
Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya dari orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan serta daftar pustaka sebagaimana layaknya karya ilmiah.
vii
PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS
Yang bertanda tangan di bawah ini, mahasiswa Univeristas Sanata Dharma:
Nama : Maria Wilfrida Meli Amatnua
NIM : 161124047
Demi pengembangan ilmu pengetahuan, penulis memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah penulis yang berjudul:
PERAN PENDIDIKAN AGAMA DALAM MENGEMBANGKAN SIKAP PLURALIS DI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA beserta perangkat yang diperlukan.
Dengan demikian penulis memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolahnya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu ijin maupun memberikan royalti kepada penulis, selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.
Demikian pernyataan ini penulis buat dengan sebenarnya.
viii ABSTRAK
Judul Skripsi PERAN PENDIDIKAN AGAMA DALAM
MENGEMBANGKAN SIKAP PLURALIS DI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA dipilih berdasarkan pada fakta bahwa pentingnya mengembangkan sikap pluralis dalam kehidupan Bangsa Indonesia yang majemuk. Peran Pendidikan Agama dapat membantu mahasiswa dalam mengembangkan sikap pluralis. Penulis tertarik untuk meneliti sejauh mana Peran Pendidikan Agama dalam mengembangkan sikap pluralis mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Jenis penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan metode survey yang divalidasi dengan wawancara dan desain ex post facto. Populasi dari penelitian ini adalah mahasiswa aktif di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, yang sudah menempuh Mata Kuliah Pendidikan Agama dengan teknik purposive sampling dengan didapatkan 102 orang responden dengan kriteria mahasiswa aktif. Berdasarkan hasil uji validitas menunjukkan 40 soal dinyatakan valid. Sementara hasil uji reliabilitas menunjukkan Cronbach’S Alpha sebesar, 0,963 yang tergolong dalam reliabilitas sempurna. Hasil penelitian keseluruhan menunjukkan data rata-rata/ mean sebesar 460.00 yang masuk dalam kategori Sangat Baik. Hal ini mengungkapkan bahwa pendidikan agama memiliki peran yang baik dalam mengembangkan sikap pluralis mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dalam hidup berbangsa dan bernegara. Hasil ini mengungkapkan bahwa rata-rata mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta memiliki peran pendidikan agama dalam mengembangkan sikap pluralis dengan baik.
Kata kunci: Peran, Pendidikan Agama, Sikap Pluralis
ix ABSTRACT
This undergraduate thesis entitled THE ROLE OF RELIGIOUS EDUCATION IN DEVELOPING A PLURALIST ATTITUDE IN THE UNIVERSITY OF SANATA DHARMA YOGYAKARTA, was chosen based on the fact that it is important to develop pluralist attitudes in the life of the diverse Indonesian Nation. The role of religious education can help students develop pluralist attitudes. The author is interested in examining the extent of the role of Religious Education in developing pluralist attitudes of Yogyakarta Sanata Dharma University students. This type of research is quantitative with survey methods validated by interviews and ex post facto designs. The population of this study were active students at the Sanata Dharma University in Yogyakarta, who had taken the Religious Education Course with a purposive sampling technique with 102 respondents having active student criteria. Based on the results of the validity test showed 40 questions were declared valid. While the reliability test results show Cronbach's Alpha of 0.963, which is classified as perfect reliability. The results of the overall study showed the average/mean data of 460.00 included in the category of very good. This revealed that religious education had a good role in developing pluralist attitudes of students of the University of Sanata Dharma Yogyakarta in the life of the nation and state. These results reveal that the average student of Sanata Dharma University in Yogyakarta has a role in religious education in developing pluralist attitudes well.
Keywords: Role, Religious Education, Pluralist Attitudes
x
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Allah karena kasih-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul PERAN PENDIDIKAN AGAMA DALAM MENGEMBANGKAN SIKAP PLURALIS DI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA. Skripsi ini ditulis sebagai bentuk perhatian penulis terhadap situasi dunia pendidikan di Negara Indonesia yang terus berubah, dan keingintahuan penulis terhadap peran pendidikan agama dalam mengembangkan sikap pluralis bagi mahasiswa. Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak baik secara langsung maupun tidak langsung. Pada kesempatan ini penulis dengan setulus hati mengucapkan banyak terima kasih kepada:
1. Dr. B. Agus Rukiyanto, SJ, selaku dosen pembimbing utama, pembimbing Akademik (DPA) sekaligus Kaprodi PAK-USD, yang telah memberikan perhatian, meluangkan waktu, memberi sumbangan pemikiran, dan membimbing penulis dengan penuh kesabaran, serta memberi masukan- masukan dan kritikan-kritikan sehingga penulis dapat lebih termotivasi dalam menuangkan gagasan-gagasan dari awal sampai akhir penulisan skripsi ini.
2. Bapak P. Banyu Dewa HS, Ag, M. Si, selaku dosen pembimbing, dan dosen penguji kedua, yang telah membantu dan mendukung penulis.
3. Bapak Y.H. Bintang Nusantara, SFK, M. Hum, selaku dosen penguji ketiga yang telah berkenan menguji serta mendampingi penulis menyelesaikan penelitian ini.
xi
4. Segenap Staf Dosen Prodi PENDIKKAT-JIP, Fakultas Keguruan dan ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma, yang telah mendidik dan membimbing penulis selama belajar sampai selesainya skripsi ini.
5. Para suster Ursulin komunitas Yogyakarta dan Ursulin seprovinsi Indonesia yang terus mendukung dan memfasilitasi serta mendoakan selama proses perkuliahan ini hingga akhir penulisan skripsi.
6. Segenap teman-teman USD Yogyakarta yang membantu penulis dalam memperoleh data dengan mengisi kuesioner dan wawancara penelitian.
7. Para sahabat angkatan 2016 yang selalu memberi semangat dan khususnya teman- teman skripsi sepayung yang senantiasa dengan berbagai usaha untuk berjuang bersama dalam proses hingga selesainya.
Penulis menyadari keterbatasan pengetahuan dan pengalaman sehingga penyusunan skripsi ini masih jauh dari sempurna. Penulis mengharapkan saran dan kritik dari para pembaca demi perbaikan skripsi ini. Akhir kata, semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak yang berkepentingan.
xii DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ………. i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ……… ii
HALAMAN PENGESAHAN ……… iii
HALAMAN PERSEMBAHAN ……… iv
HALAMAN MOTTO ……… v
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ……… vi
PERSETUJUAN PUBLIKASI ………... vii
ABSTRAK ………. viii
ABSTRACT ……… ix
KATA PENGANTAR ………... x
DAFTAR ISI ……….. xii
DAFTAR LAMPIRAN ……….. xv
DAFTAR TABEL ……….. xvi
DAFTAR DIAGRAM ……… xvii
DAFTAR SINGKATAN ………... xix
BAB I. PENDAHULUAN ………. 1
A. Latar Belakang Penulisan Skripsi ………... 1
B. Rumusan Permasalahan ………. 5
C. Tujuan Penulisan ………... 6
D. Manfaat Penulisan ………... 6
E. Metode Penulisan ……….. 7
F. Sistematika Penulisan ……… 7
BAB II. PERAN PENDIDIKAN AGAMA DALAM MENGEMBANGKAN SIKAP PLURALIS ……….. 9
A. PENDIDIKAN ………. 9
1. Pengertian Pendidikan pada umumnya ………... 9
2. Tujuan Pendidikan ……….. 12
B. PENDIDIKAN AGAMA ………... 15
1. Pengertian Agama ………... 15
xiii
2. Pendidikan Agama ………. 17
C. PERAN PENDIDIKAN AGAMA ………. 18
D. SIKAP PLURALIS ……… 19
1. Pengertian Pluralis ……….. 19
2. Pengertian Pluralisme Agama ……… 20
3. Toleransi ………. 21
4. Dialog Antar Agama ………... 22
5. Tantangan dan Hambatan Berdialog ………... 25
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN ………. 27
A. Jenis Penelitian ………... B. Tujuan Penelitian ……… 27 27 C. Desain Penelitian ……… 27
D. Tempat & Waktu Penelitian ………... 28
E. Populasi & Sampel Penelitian ……… 29
F. Teknik Analisis & Alat Pengumpulan Data ………... 28
1. Identitas Variabel ………... 28
2. Defenisi Konseptual ………... 29
3. Defenisi Operasional ………. 29
4. Teknik Pengumpulan Data ……… 30
a. Kuesioner ………. 30
b. Wawancara ………... 30
5. Instrumen Penelitian ……….. 30
6. Pengembangan Instrumen ……… 31
a. Kisi-kisi ………... 31
b. Uji Coba Terpakai ……….. 35
1). Uji Validitas ………... 35
2). Uji Reliabilitas ………... 39
G. Teknik Analisis Data ……… 40
BAB IV. LAPORAN HASIL PENELITIAN & PEMBAHASAN PENELITIAN ………... 41
A. Gambaran Umum Situasi Mahasiswa USD Yogyakarta …… 41
1) Sejarah Singkat Universitas Sanata Dharma Yogyakarta ... 41
2) Visi USD Yogyakarta ………. 43
xiv
3) Misi USD Yogyakarta ……… 44
B. Deskripsi Hasil Penelitian ……….. 45
1) Hasil Keseluruhan Peran Pendidikan Agama dalam mengembangkan sikap pluralis ………... 45
2) Hasil Pokok Bahasan Peran Pendidikan agama ………. 47
3) Hasil Setiap Aspek Peran Pendidikan Agama ………... 49
(1) Aspek memberi pengetahuan ……….. 49
(2) Aspek membentuk sikap ……… 52
(3) Aspek membantu penghayatan ………... 54
(4) Aspek Tujuan ……….. 56
(5) Aspek Materi ……….. 58
(6) Aspek Proses ………. 60
(7) Aspek Evaluasi ……… 62
4) Hasil Pokok Bahasan Sikap Pluralis ………. 64
5) Hasil Setiap Aspek Sikap Pluralis ……… 66
(1) Aspek menerima pandangan orang lain ……….. 66
(2) Aspek menghargai pendapat orang lain ………. 68
(3) Aspek berdialog dengan orang yang berpandangan lain … 70 6) Rangkuman Hasil Setiap Aspek ………... 72
B. Pembahasan Hasil Penelitian ……….. 74
1. Hasil Keseluruhan ………. 74
2. Hasil pokok bahasan peran pendidikan agama ………. 78
C. Hasil Wawancara ……… 80
D. Hasil Penelitian Akhir ………. 89
E. Keterbatasan Penelitian ……….. 89
F. Refleksi Kateketis ………... 90
BAB V. PENUTUP ……… 93
A. Kesimpulan ………... 93
B. Saran ……….. 94
DAFTAR PUSTAKA ……… 95
LAMPIRAN ………... 98
xv
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Surat Ijin Penelitian ………. (1)
Lampiran 2. Instrumen Penelitian ……… (2)
Lampiran 3. Kuesioner yang telah diisi ………... (6)
Lampiran 4. Panduan wawancara ……… (22)
Lampiran 5. Transkip Wawancara ……….. (23)
Lampiran 6. Data Keseluruhan Kuesioner………... (33)
Lampiran 7. Data Validasi Keseluruhan ……….. (41)
Lampiran 8. Output SPSS Uji Reliabilitas ………... (43)
xvi
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1: Variabel Penelitian ……… 31
Tabel 3.2: Kisi-kisi ………. 31
Tabel 3.3: Penentuan Tabel ……… 36
Tabel 3.4: Validitas Kuesioner ………... 37
Tabel 3.5: Ketentuan Penilaian Cronbach’s Alpha ……… 39
Tabel 3.6: Reliabilitas pada Mahasiswa USD Yogyakarta ………… 40
Tabel 4.1: Rangkuman deskripsi frekuentif data keseluruhan ……... 45
Tabel 4.2: Rangkuman deskripsi statistik data keseluruhan ……….. 47
Tabel 4.3: Rangkuman deskripsi data frekuentif data pokok bahasan peran Pendidikan Agama ………. 48
Tabel 4.4: Rangkuman deskripsi statistik Peran Pendidikan Agama ………. 49
Tabel 4.5: Rangkuman deskripsi frekuentif dari aspek memberi pengetahuan ……….. 50
Tabel 4.6: Rangkuman deskripsi statistik aspek memberi pengetahuan ……….. 51
Tabel 4.7: Rangkuman deskripsi frekuentif aspek membentuk sikap ……….. 52
Tabel 4.8: Rangkuman deskripsi statistik aspek membentuk sikap ………... 53
Tabel 4.9: Rangkuman deskripsi frekuentif aspek membantu penghayatan ……….. 54
Tabel 4.10: Rangkuman deskripsi statistik aspek membantu penghayatan ……….. 55
Tabel 4.11: Rangkuman deskripsi frekuntif aspek tujuan ………….. 56
Tabel 4.12: Rangkuman deskripsi statistik aspek tujuan ………….. 57
Tabel 4.13: Rangkuman deskripsi frekuentif aspek materi ………… 58
Tabel 4.14: Rangkuman deskripsi statistik aspek materi …………... 59
xvii
Tabel 4.15: Rangkuman deskripsi aspek proses ……… 60 Tabel 4.16: Rangkuman deskripsi statistik aspek proses …………... 61 Tabel 4.17: Rangkuman deskripsi aspek evaluasi ………. 62 Tabel 4.18: Rangkuman deskripsi statistik aspek evaluasi ………… 63 Tabel 4.19: Rangkuman deskripsi frekuentif data sikap pluralis ….. 64 Tabel 4.20: Rangkuman deskripsi statistik data sikap pluralis …….. 65 Tabel 4.21: Rangkuman deskripsi frekuentif
aspek menerima pandangan orang lai………... 66 Tabel 4.22: Rangkuman deskripsi statistik
aspek menerima pandangan orang lain ………. 67 Tabel 4.23: Rangkuman deskripsi
aspek menghargai pendapat orang lain ………... 68 Tabel 4. 24: Rangkuman deskripsi statistik
aspek menghargai pendapat orang lain ……… 69 Tabel 4.25: Rangkuman deskripsi frekuentif aspek
berdialog dengan orang yang berpandangan lain ………….. 70 Tabel 4.26: Rangkuman deskripsi statistik aspek
Berdialog dengan orang yang berpandangan lain ………….. 71 Tabel 4.27: Rangkuman hasil mean dan frekuensi terbesar
setiap aspek peran pendidikan agama dalam
mengembangkan sikap pluralis ……… 72 Tabel 4.28: Rangkuman hasil keseluruhan mean dan frekuensi
terbesar peran pendidikan agama dalam mengembangkan
sikap pluralis ………. 73 Tabel 4.29: Identitas wawancara ……… 80
xviii
DAFTAR DIAGRAM Diagram Lingkaran 4.1: Rangkuman deskripsi frekuentif
Dari data keseluruha……….. 46 Diagram Lingkarana 4.2: Rangkuman deskripsi frekuentif dari data
pokok bahasan peran pendidikan agama ... 48 Diagram Lingkaran 4.3: Rangkuman deskripsi frekuentif
aspek memberi pengetahuan ……… 50 Diagram Lingkaran 4.4: Rangkuman deskripsi frekuentif
aspek membentuk sikap ………... 52 Diagram Lingkaran 4.5: Rangkuman deskripsi frekuentif
aspek membantu penghayatan ………. 54 Diagram Lingkaran 4.6: Rangkuman deskripsi frekuentif
aspek tujuan ………. 56 Diagram Lingkaran 4.7: Rangkuaman deskripsi frekuentif
aspek materi ……… 58 Diagram Lingkaran 4.8: Rangkuman deskripsi frekuentif
aspek proses ……… 60 Diagram Lingkaran 4.9: Rangkuman deskripsi frekuentif
aspek evaluasi ……….. 62 Diagram Lingkaran 4.10: Rangkuman deskripsi frekuentif
data sikap pluralis ……… 64 Diagram Lingkaran 4.11: Rangkuman deskripsi frekuentif
aspek menerima pandangan orang lain ……….... 66 Diagram Lingkaran 4.12: Rangkuman deskripsi frekuentif
aspek menghargai pendapat orang lain ……… 68 Diagram Lingkaran 4.13: Rangkuman deskripsi frekuentif
aspek berdialog dengan yang berpandangan lain ……….... 70
xix
DAFTAR SINGKATAN
A. Singkatan Dokumen Gereja
GE : Gravissimum Educationis, Pernyataan Konsili Vatikan II Tentang Pendidikan Kristen 17 Februari 1993.
KGK : Katekismus Gereja Katolik, dikeluarkan oleh Paus Paulus II pada 11 Oktober 1992.
GS : Gaudium et Spes, Konstitusi Pastoral Konsili Vatikan II Tentang Gereja di Dunia Dewasa ini, 7 Desember 1965.
B. Singkatan dalam penelitian
Std : Standard
df : Degree Of Freedom N : Populasi
SPSS : Statistical Package for the Social Sciences
A. Singkatan Lain
Amsl : Amsal
No : Nomor
NKRI : Negara Kesatuan Republik Indonesia
UU : Undang-Undang
UNESCO : United National Educational, scientific and Cultura Organization.
GKI : Gereja Kristen Indonesia BIN : Badan Intelejen Negara Prodi : Program Studi
xx
R : Responden
SK : Surat Keputusan
USD : Universitas Sanata Dharma SJ : Ordo Societas Jesus
SD : Sekolah Dasar
SMA : Sekolah Menengah Atas
PTPG : Perguruan Tingggi Pendidikan Guru PTS : Perguruan Tinggi Swasta
PTN : Perguruan Tinggi Negara
FKIP : Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan IKIP : Ikatan Keguruan Ilmu Pendidikan PGSD : Pendidikan Guru Sekolah Dasar Mendikbud : Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan di Indonesia terus menerus mengalami perubahan dan perkembangan. Pendidikan yang diharapkan agar setiap mahasiswa mampu menjadi pribadi yang berkualitas dan bertanggung jawab akan masa depannya.
Melalui pendidikan para mahasiswa dibantu untuk berkembang, baik dari segi mental maupun rohaninya, Ryanto (2002: 3) menegaskan bahwa:
Tujuan pendidikan adalah demi pertumbuhan dan perkembangan keseluruhan setiap pribadi agar menjadi pribadi yang matang, dewasa, dan mampu menghadapi permasalahan dan konflik dalam kehidupan sehari-hari.
Pendidikan diharapkan menghasilkan pribadi-pribadi yang lebih manusiawi, berguna dan berpengaruh baik di dalam bermasyarakat, yang bertanggungjawab, proaktif dan kooperatif, sekaligus memiliki pribadi yang berwatak dan berbudi pekerti luhur.
Dengan menanggapi tujuan pendidikan diatas yakni demi pertumbuhan dan perkembangan setiap pribadi agar matang dan dewasa serta mampu menghadapi permasalahan dan konflik dalam hidup sehari-hari. Pendidikan yang diterapakan di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang dituliskan (https://www.usd.ac.id/kalender_akademik.php) menegaskan empat nilai dasar sebagai pilar pendidikan yakni pilar pertama: mencintai kebenaran merupakan nilai yang mendorong seluruh civitas akademis untuk senantiasa mengusahakan panggilan kebenaran melalui pengajaran dan penelitian ilmiah yang bermanfaat bagi kemajuan ilmu, kesejahteraan manusia dan kelestarian lingkungan. Cinta akan kebenaran juga ditunjukkan melalui keingintahuan dan imajinasi intektual
dalam rangka mencapai kepakaran ilmiah setinggi-tingginya serta diwujudkan dalam pelaksanaan tugas-tugas secara benar.
Pilar kedua adalah memperjuangkan keadilan merupakan nilai dasar bagi terciptanya masyarakat yang bermartabat dan setara di depan Sang Pencipta.
Memperjuangkan keadilan diwujudkan melalui keberpihakan kepada mereka yang mengalami ketidakadilan, terutama yang kecil, miskin, tersingkir dan difabel.
Keberpihakan tersebut didasarkan pada analisis komprehensif yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan sesuai dengan tuntutan moral dan sosial.
Pilar yang ketiga adalah: menghargai keberagaman yang merupakan nilai dasar untuk meningkatkan kualitas hubungan antar manusia demi terwujudnya masyarakat terbuka dan demokratis. Menghargai keberagaman diwujudkan melalui pengakuan atas keanekaragaman latar belakang budaya, kekayaan bakat, keunikan setiap pribadi. Selain itu menghargai keberagaman juga diwujudkan melalui kesediaan untuk mengusahakan kerjasama lintas ilmu sehingga tercipta komunitas intelektual yang kreatif, produktif dan kritis.
Pilar keempat adalah menjunjung tinggi keluhuran martabat manusia yang merupakan nilai dasar yang mencerminkan kepekaan terhadap persoalan- persoalan dasar kemanusiaan zaman sekarang. Nilai ini dikembangkan melalui berbagai kebijakan lembaga dan kegiatan tridarma yang memberikan sumbangsih pada penyelesaian persoalan dasar kemanusiaan.
Berkaitan dengan pendidikan, ada pembahasan dalam buku Pendidikan Manusia Indonesia (2005), Tonny D. Widiastono (ed) memperlihatkan sejauh kasus lain: Muksin bin Miswan, mahasiswa D-3 program studi akuntansi dari sebuah universitas di Bogor yang nekat membakar diri; Iwan, mahasiswa sebuah PTS di Yogyakarta yang batal mati tetapi terlanjur minum racun serangga;
Mashudi, siswa kelas IPS warga Desa Sendang Sikucing, Rowosari, Kendal, mencoba bunuh diri setelah tahu dirinya tidak lulus ujian akhir nasional (UAN).
Semua contoh ini merupakan persoalan yang menyangkut subyek didik, entah siswa maupun mahasiswa. Persoalan-persoalan ini dapat kita sebut sebagai persoalan dalam pendidikan (Sudiarja 2014: 16-17).
Sejak itulah Pendidikan Agama menjadi perhatian khusus dalam dunia pendidikan. Menurut Driyarkara, pendidikan adalah memanusiakan manusia muda. Maksudnya ialah pengangkatan manusia muda ke taraf insani. Intisari atau eidos pendidikan adalah pemanusiaan manusia muda (hominisasi). Manusia muda perlu dibantu sedemikian rupa sehingga ia bisa berdiri, bergerak, bersikap, bertindak dan berpikir sebagai manusia yang rasional; serta dibimbing dan diteladani supaya menjadi manusia yang manusiawi, yakni manusia yang berakhlak dan berbudaya lebih tinggi (Baryadi, 2013).
Melalui Pendidikan Agama, mahasiswa diharapkan mampu menumbuhkan sikap saling mencintai, saling menghargai, saling menghormati, saling menolong guna mengembangkan sikap pluralis dalam kehidupan, untuk menjalin relasi sosial dengan orang lain. Sikap pluralis adalah kita mampu hidup dengan umat
beragama yang berbeda dengan kita. Maka pentingnya peran pendidikan agama dalam mengembangkan sikap pluralis dalam kehidupan. Keberagaman agama dan kepercayaan ini tidak mungkin bisa disatukan atau diseragamkan. Dalam situasi kemajemukan ini, diperlukan adanya pemahaman dan penerimaan terhadap sikap pluralis atau yang dinamakan toleransi.
Menyadari pentingnya kemajuan dan perkembangan setiap insani demi hidup dan masa depannya, maka peran pendidikan agama penting dan menjadi salah satu sarana yang dapat membantu Mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dalam mengembangkan sikap pluralis. Penulis memiliki kesan bahwa sampai sekarang ini belum semua mahasiswa menyadari pentingnya pendidikan agama dalam mengembangkan sikap pluralis dalam kehidupan sehari-hari demi masa depan dan cita-citanya.
Agar tercapainya tujuan pendidikan agama yang benar dan luhur, tentunya dibutuhkan usaha terus menerus, membutuhkan sikap insani yang terbuka dan bertanggung jawab, mandiri, dewasa serta memiliki kecerdasan rohani.
Seseorangpun akan lebih tegar dalam menghadapi setiap permasalahan dan terbuka dalam memandang kehidupan dengan cara melihat permasalahan secara holistik (Zohar dan Marshall, 2000:14).
Universitas Sanata Dharma merupakan kampus yang plural dengan melihat latar belakang mahasiswanya yang berasal dari berbagai daerah, suku, budaya, bahasa bahkan agama yang beragam. Mahasiswa Universitas Sanata Dharma dididik sebagai insani yang mandiri, unggul, berwawasan luas dan calon guru dibekali pengetahuan yang cukup baik. Namun tidak hanya pengetahuan saja,
mahasiswa diharapkan memiliki wawasan luas mengenai agama sehingga tidak berpikiran sempit-fanatik, melainkan dapat memandang agama-agama lain sebagai jalan (bagi pemeluknya) dalam mencapai keselamatan juga. Dengan demikian mereka memiliki pemahaman secara utuh akan sikap pluralis. Oleh karena itu peran pendidikan agama sangat penting bagi setiap insani dalam mengembangkan kehidupan dalam kecerdasan rohani Mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
Berdasarkan uraian di atas penulis ingin menggali dan mengetahui sejauhmana peran Pendidikan Agama dalam mengembangkan sikap pluralis bagi mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Dengan demikian penulis memberi judul skripsi ini yakni: “PERAN PENDIDIKAN AGAMA DALAM MENGEMBANGKAN SIKAP PLURALIS DI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA”.
Melalui skripsi ini penulis ingin mengajak semua mahasiswa untuk semakin memperdalam dan mengembangkan pendidikan agama sebagai nilai-nilai dasar Universitas Sanata Dharma. Nilai-nilai dasar itu seperti mencintai kebenaran, memperjuangkan keadilan, menghargai keberagaman, menjunjung tinggi keluhuran martabat manusia. Dengan motto memadukan keunggulan akademik dan nilai-nilai kemanusiaan (cerdas dan humanis).
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka permasalahan pokok dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan Pendidikan Agama dan Sikap Pluralis?
2. Sejauhmana Pendidikan Agama sudah mengembangkan Sikap Pluralis mahasiswa di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta?
C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam penulisan ini adalah:
1. Untuk mendeskripsikan pengertian peran Pendidikan Agama dan sikap pluralis 2. Untuk mengetahui seberapa besar peran Pendidikan Agama dalam
mengembangkan sikap pluralis bagi mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
D. Manfaat Penulisan
Adapun manfaat penulisan ini sebagai berikut:
1. Penulis
Penulisan ini diharapkan dapat membantu penulis dalam mempersiapkan diri sebagai calon katekis dan guru agama agar memiliki wawasan mengenai peran Pendidikan Agama yang baik, sehingga memiliki Sikap Pluralis yang terbuka dan toleran terhadap agama lain yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan nyata.
2. Kampus USD
Penulisan ini diharapkan dapat membantu memberikan sumbangan untuk kampus USD dalam meningkatkan peran Pendidikan Agama dalam mengembangkan sikap pluralis sehingga dapat meningkatkan perwujudan sikap toleransi beragama dalam masyarakat.
E. Metode Penulisan
Dalam skripsi ini, penulis menggunakan metode deskriptif analitis yaitu metode yang menggambarkan dan memaparkan data-data yang diperoleh melalui penelitian dan studi pustaka untuk menarik sebuah kesimpulan. Penulis menggunakan metode deskriptif analitis untuk memperoleh gambaran mengenai peran pendidikan agama dalam mengembangkan sikap pluralis. Metode penelitian kuantitatif. Dengan menggunakan kuesioner dan wawancara.
F. Sistematika Penelitian
Skripsi ini mengambil judul PERAN PENDIDIKAN AGAMA DALAM
MENGEMBANGKAN SIKAP PLURALIS MAHASISWA DI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA. Judul tersebut dapat diuraikan menjadi lima bab. Untuk memperoleh gambaran yang jelas mengenai isi menyeluruh skripsi ini, penulis menguraikan sistematika sebagai berikut:
Bab I: Membahas pendahuluan yang berisi gambaran umum yakni: latar belakang penulisan, rumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan, metode penulisan dan sistematika penulisan. Bentuk penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif.
Bab II: Diuraikan pengertian pendidikan pada umumnya, tujuan pendidikan, bagian kedua Pendidikan Agama, pengertian agama, tujuan pendidikan agama, bagian ketiga peran pendidikan agama dan bagian keempat sikap pluralis,
pluralisme agama, toleransi agama, dialog agama, tantangan dan hambatan berdialog.
Bab III: Berisi pemaparan mengenai metodologi: jenis penelitian, tujuan penelitian, desaian penelitian, tempat dan waktu penelitian, populasi dan sampel penelitian, teknik dan instrumen pengumpulan data, teknik pengembangan instrumen dan teknis analisis data.
Bab IV: Memaparkan hasil penelitian, pembahasan uraian deskripsi objek penelitian, analisis data, interpretasi hasil olah data, hasil akhir penelitian, keterbatasan penelitian, refleksi kateketis.
Bab V: Penutup berisi tentang kesimpulan penelitian, dan saran.
BAB II
PERAN PENDIDIKAN AGAMA DALAM MENGEMBANGKAN SIKAP PLURALIS
Bab ini akan memberikan berbagai teori yang menjelaskan tentang Peran Pendidikan Agama dalam mengembangkan Sikap Pluralis.
A. Pendidikan
1. Pengertian pendidikan.
Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 menguraikan bahwa pendidikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan proses belajar agar setiap insani mampu mengembangkan potensi dirinya. Mahasiswa diharapkan mampu untuk memiliki kekuatan spiritualitas keagamaan, pengendalian diri dan akhlak mulia.
Pengertian pendidikan menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 di atas dipertegas lagi oleh Djahiri Kosasih (1980:3) yang menyatakan bahwa pendidikan sebagai upaya yang terorganisir, terencana, terpadu dan berlangsung kontinyu membina bagi setiap insani untuk dewasa dan berbudaya.
Gravissimum Educationis (GE) secara umum memaparkan gambaran Konsili Vatikan II mengenai spektrum pelayanan Gereja tentang pendidikan.
Konsili menghargai persekolahan, namun tidak melihatnya sebagai satu-satunya tempat pendidikan. Pendidikan dalam arti luas, dari keluarga, sekolah, Gereja
sampai ke masyarakat ramai, memperlihatkan pengaruhnya bagi kemajuan zaman (Dokumen Konsili Vatikan II Hal. 292).
Ki Hajar Dewantara, sebagai Tokoh Pendidikan Nasional Indonesia, peletak dasar yang kuat pendidikan nasional yang progresif untuk generasi sekarang dan generasi yang akan datang merumuskan pengertian pendidikan sebagai berikut:
Pendidikan umumnya berarti daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intelektual dan tubuh anak); dalam Taman Siswa tidak boleh dipisahkan bagian-bagian itu agar kita memajukan kesempurnaan hidup, kehidupan dan penghidupan anak-anak yang kita didik, selaras dengan dunianya (Ki Hajar Dewantara, 1977:14).
Pendidikan merupakan proses yang terus menerus, tidak berhenti. Di dalam proses pendidikan, keluhuran martabat manusia dipegang erat karena manusia (yang terlibat dalam pendidikan ini) adalah subyek dari pendidikan. Jika memperhatikan bahwa manusia itu sebagai subyek dan pendidikan meletakkan hakikat manusia pada hal yang terpenting, maka perlu diperhatikan juga masalah otonomi pribadi. Maksudnya adalah manusia sebagai subyek pendidikan harus bebas untuk “ada” sebagai dirinya yaitu manusia yang berpribadi, yang bertanggung jawab.
Menurut Poerdawarminta (1985: 702), pengertian pendidikan secara linguistik sebagai kata benda yang berarti proses perubahan sikap dan tingkah laku seseorang atau kelompok dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan yang terus menerus. Inti pendidikan adalah usaha pendewasaan manusia seutuhnya lahir dan batin, baik oleh dirinya sendiri maupun oleh orang lain untuk memiliki kemerdekaan berpikir, merasa, berbicara,
bertindak serta penuh percaya, penuh rasa tangung jawab dalam setiap tindakan dan perilaku sehari-hari (Basri, 2007: 34).
Pendidikan sebagai usaha sadar dijabarkan lebih terperinci oleh Mardiatmadja (1986: 50 -51) bahwa pendidikan membantu seseorang agar menyadari nilai-nilai luhur kemanusiaan dan peranannya dalam hidup bersama.
Pendidikan membantu seseorang agar mengerti arti kemanusiaan, sehingga dapat bersikap dan bertindak sebagai manusia yang penuh kasih. Oleh karena itu pendidikan seharusnya berusaha membentuk seseorang menjadi manusia budaya yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa (Mardiatmadja, 1986: 50 -51).
Menurut Driyarkara (1966:69), pendidikan merupakan sebagai pemanusiaan manusia muda. Pendidikan membantu seseorang secara tekun dan mau bertindak sebagai manusia dan mengusahakan agar seluruh sikap dan perbuatan sungguh- sungguh bersifat manusiawi. Pendidikan yang menekankan segi kemanusiaan ini dipahami sebagai proses humanisasi. Proses humanisasi merupakan suatu usaha yang sungguh-sungguh bersifat manusiawi yang membantu setiap insani untuk lebih menghormati, menghargai dan menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia. Pendidikan diberikan agar menyadarkan setiap insani supaya memiliki tanggung jawab terhadap segala tindakannya serta terbuka terhadap orang lain, sehingga menumbuhkan sikap persahabatan antara satu dengan yang lainnya (Driyarkara 1966: 69).
Maka dari beberapa pernyataan di atas, penulis memahami bahwa hakikat pendidikan pada umumnya merupakan suatu proses, usaha yang terus menerus dilakukan untuk membantu setiap insani menjadi pribadi yang utuh, dewasa dan
berkembang secara menyeluruh. Pendidikan hendaknya membina watak agar setiap insani mengenal dan mampu mengarahkan hidup, mewujudkan sikap dan tindakannya dalam hidup sehari-hari baik dalam lingkup keluarga, kampus, masyarakat dan negara. Pendidikan juga dapat membantu setiap insani menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia.
2. Tujuan pendidikan
Tujuan pendidikan adalah membentuk pribadi seseorang secara bertahap agar semakin tumbuh menjadi dewasa, bukan hanya dalam hal kemampuan atau keterampilan saja, tetapi juga berkembang dalam hal rohani. Tujuan pendidikan adalah membantu seseorang semakin sadar akan karunia iman yang diterimanya, sehingga dapat menghayati hidup dengan jujur, suci dan benar (Mardiatmadja, 1986:53).
Pendidikan membentuk pribadi seseorang secara bertahap, artinya pendidikan membantu seseorang untuk tumbuh dan berkembang semakin menjadi dewasa. Pendidikan secara bertahap membantu setiap insani semakin sadar akan karya Allah dan karunia iman, sehingga dengan kesadaran iman yang dimilikinya memampukan setiap insani menghayati hidupnya dengan tulus dan jujur.
Pendidikan harus mengembangkan semua segi-segi kepribadian lahir dan batin setiap insani secara menyeluruh, sehingga sikap dan tindakannya sesuai dengan kehendak Tuhan.
Tujuan pendidikan Nasional dalam Undang-Undang no 20, Tahun 2003 pasal 3 pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahklak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab.
Tujuan pendidikan dalam arti sesungguhnya ialah mencapai pembinaan pribadi manusia dalam perspektif tujuan terakhirnya dan demi kesejahteraan kelompok-kelompok masyarakat, mengingat bahwa manusia termasuk anggotanya, dan bila sudah dewasa ikut berperan menunaikan tugas kewajibannya (GE, 2002: 293).
Pendidikan sangat penting dalam hidup manusia, serta dampak pengaruhnya yang makin besar atas perkembangan masyarakat zaman sekarang. Memang benarlah pendidikan kaum muda, bahkan juga semacam pembinaan terus-menerus kaum dewasa, dalam situasi zaman sekarang menjadi lebih muda, tetapi sekaligus juga lebih mendesak. Sebab orang makin menyadari martabat maupun tugas kewajiban mereka sendiri, dan ingin berperanserta makin aktif dalam kehidupan sosial, terutama di bidang ekonomi dan politik. Kemajuan-kemajuan yang mengagungkan di bidang teknologi dan penelitian ilmiah, begitu pula upaya komunikasi sosial yang baru membuka peluang bagi khalayak ramai, yang acap kali mempunyai lebih banyak waktu bebas dari kesibukan-kesibukan dengan lebih mudah memanfaatkan harta warisan rohani dan budaya, untuk saling memperkaya
melalui jaringan hubungan antar kelompok maupun antar bangsa yang lebih erat.
(GE, 2002: 29-292).
Tujuan pendidikan adalah demi pertumbuhan dan perkembangan keseluruhan diri setiap insani agar menjadi pribadi yang matang dan dewasa, mampu menghadapi permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan diharapkan menghasilkan pribadi yang lebih manusiawi, bertanggung jawab, proaktif dan kooperatif, sekaligus memiliki pribadi yang berwatak dan berbudi pekerti luhur (Ryanto Theo,2002: 3).
Tujuan pendidikan menurut UNESCO upaya meningkatkan kualitas suatu bangsa tidak ada cara lain, kecuali melalui peningkatan mutu pendidikan.
Berangkat dari pemikiran itu Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui lembaga UNESCO mencanangkan empat pilar pendidikan yang baik untuk masa depan maupun untuk masa yang akan datang yakni learning to know, learning to do, learning to be, and learning to live together. Pendidikan Agama merupakan bagian dari pendidikan pada umumnya maka pendidikan agama juga sungguh memperhatikan pendekatan secara holistik terhadap manusia yang utuh kognitif, afektif, dan tingkah laku maka menamai kegiatan dengan pendidikan yang memberikan kita tradisi dengan literatur dan penelitian, L. Tarpin, di dalam buku visi pendidikan Ki Hadjar Dewantara tantangan dan relevansi (Samho, 2013: 14).
Dari beberapa pendapat yang telah dipaparkan mengenai tujuan pendidikan maka penulis dapat mengatakan bahwa tujuan pendidikan adalah membantu setiap insani untuk berkembang secara menyeluruh dan utuh. Tujuan pendidikan adalah membantu setiap insani untuk matang dan dewasa, baik dari segi jasmani maupun
rohani sehingga mampu mewujudkan sikap konkrit dengan mewujudkan nilai- nilai hidup seperti; memiliki kebebasan pribadi, kesadaran akan martabat, tekad yang teguh, kemampuan, konsistensi, kebersamaan lewat tindakannya dalam hidup sehari-hari. Pendidikan yang dialami oleh setiap insani tidak cukup hanya berkembang dari segi intelektual tetapi sungguh-sungguh membawa setiap insani untuk berkembang menjadi pribadi yang matang dan dewasa demi mencapai masa depannya.
B. Pendidikan Agama 1. Pengertian Agama
Agama adalah sebuah konsep yang kompleks. Definisinya biasanya mencakup beberapa atau semua elemen, seperti keyakinan akan keberadaan supernatural (atau sesuatu); doa dan komunikasi dengan sesuatu itu (being);
realistis yang diluar batas kewajaran (trancendent) yang mungkin mencakup beberapa bentuk surga atau neraka, perbedaan atau tindakan suci dan profan antara tindakan ritual dan benda-benda suci, sebuah pandangan yang menjelaskan baik dunia secara keseluruhan dan peran seseorang yang tepat (Achmad Djatmiko, 2019: 32).
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997), agama adalah sistem atau prinsip kepercayaan kepada Tuhan, atau juga disebut dengan nama Dewa atau nama lainnya, yang sesuai dengan ajaran kebhaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan. Sebagai “ajaran”, sistem yang mengatur tata
keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya: Islam, Kristen, Budha. Dari sini, kita melihat adanya dimensi iman, ibadah, moralitas di dalamnya. Kata “Agama” berasal dari bahasa Sansakerta agama yang berarti “tradisi” (Sudiarja, 2010: 205).
Agama harus dipahami sebagai anugerah rahmat Tuhan dan hadiah tak ternilai harganya yang datang dari Tuhan sendiri. Manusia menganut agama tertentu pertama-tama bukan karena jasa manusia itu sendiri, tetapi terlebih karena Tuhanlah yang memanggil, Tuhanlah yang mempunyai rencana atas manusia yang satu dengan manusia yang lain. Melalui Agama, Tuhan menyatakan cintanya kepada manusia secara utuh dan istimewa (Kierkegaard, 1953: 211).
Agama adalah bagian dari kebudayaan manusia dan agama sebagai institusi sosial. Agama sebagai suatu sistem sosial yang merangkum suatu kompleks pola kelakuan lahir dan batin yang ditaati penganut-penganutnya. Dengan cara itu pemeluk-pemeluk agama baik secara pribadi maupun bersama-sama berkontak dengan “Yang Suci” dan dengan saudara-saudara seiman. Mereka mengungkapkan pikirannya, isi hatinya dan perasaannya kepada Tuhan menurut pola-pola tertentu dan lambang-lambang tertentu. Agama terkena proses sosial dan institusionalisasi dan menggunakan mekanisme kerja yang berlaku (Hendropuspito, 1984: 111).
Dari penjelasan tentang agama di atas bisa disimpulkan bahwa agama mengajarkan satu perangkat kepercayaan atau iman dan bagaimana mewujudkan iman atau kepercayaan ini baik dengan doa, ritual atau liturgi, yang mengatur
bagaimana menyembah Tuhan yang dipercayai, maupun dengan satu pengajaran moral, yang mengatur bagaimana hidup dengan baik sesuai dengan apa yang dipercayai.
2. Pendidikan Agama
Pendidikan Agama pada akhirnya adalah pencapaian hal-hal yang bersifat transenden dan ekspresi dari pencarian manusia, maka seluruh pendidikan yang baik dapat disebut bersifat keagamaan. Ada kekhususan yang dalam pendidikan agama memiliki fungsi yang khusus dalam hubungannya dengan pendidikan umum. Pendidikan agama memusatkan perhatian khususnya pada pemberdayaan orang-orang dalam pencarian mereka pada hal-hal yang transenden dan dasar keberadaan yang paling pokok. Pendidikan Agama menuntut orang-orang yang menyadari apa yang telah ditemukan, berhubungan dengan apa yang telah ditemukan itu, dan mengekspresikan hubungan itu (Groom, 2010:32).
Pendidikan Agama dapat menggunakan sebuah tradisi tertentu untuk menginformasikan pencarian dan mempromosikan hubungan, atau pendidikan agama dapat mengambil contoh representatif dari agama-agama, misalnya:
menginvestigasi pelbagai agama dunia dari perspektif iman, atau bukan dari tradisi tertentu, misalnya menginvestigasi dimensi-dimensi agama dari literatur terbaru (Groom, 2010: 31-33).
C. Peran Pendidikan Agama
Pendidikan Agama dalam kurikulum sebagai mata kuliah wajib dan bagian dari MPK dengan tujuan perkembangan kepribadian dan tidak eksklusif. Peran Pendidikan Agama didefinisikan sebagai dasar dalam menciptakan moral ketaqwaan serta keimanan dalam menciptakan pribadi peserta didik yang berintegritas tinggi serta memiliki sikap yang mampu menciptakan peserta didik agar mampu melaksanakan peranan dalam menuntut pengetahuan tentang ajaran agama.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Peran adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh orang atau lembaga untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Peran Pendidikan Agama menekankan pengalaman manusia artinya pengalaman manusia yang dapat menjadi makna dalam membina hidup, sehingga pendidikan agama sungguh menjadi peran dalam proses menjalani kehidupan setiap insani.
Sedangkan penghayatan Ilahi bagian dari pengembangan pengalaman hidup yang dihayati dan dijalani dalam terang Ilahi. Proses pertumbuhan hidup setiap insani dapat dilakukan dengan kesadaran akan sebuah pertobatan, maksudnya seluruh hidup senantiasa kembali pada sebuah pemaknaan hidup menuju proses pembaharuan kelahiran baru. (Hope S Antone, 2010: 23).
Peran pendidikan agama menyadarkan setiap insani untuk saling terbuka dalam menjalin relasi lewat mengkomunikasikan imannya, sehingga setiap insani mampu menerima setiap perbedaan yang terjadi. Pendidikan Agama menjadi sarana bagi setiap insani untuk menjalin dan memupuk kasih persaudaraan bukan hanya membentuk aspek intelektualnya saja, tetapi juga membentuk penanaman
nilai-nilai hidup dan penerapannya dalam kesaksian hidup hariannya dengan orang lain. Penekanan pada segi afeksi setiap insani mampu menemukan nilai- nilai kasih persaudaraan, mampu bersyukur dan berefleksi serta akhirnya melakukan aksi lewat setiap sikap, tuturkata dan tindakan yang nyata.
Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2007 tentang pendidikan agama dan pendidikan keagamaan dengan ketentuan umum pasal 1, berisi bahwa Pendidikan Agama adalah pendidikan yang memberikan pengetahuan dan membentuk sikap, kepribadian, dan keterampilan peserta didik dalam mengamalkan ajaran agamanya yang dilaksanakan sekurang-kurangnya melalui mata pelajaran/kuliah pada semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan. Pendidikan Agama dalam pendidikan masa kini pun memiliki peranan yang sangat penting dalam pembinaan karakter siswa (kemenag.go.id/opini/628/peran-pendidikan- agama-dan-moral).
D. Sikap Pluralis 1. Pengertian Pluralis
Sikap pluralis adalah sikap yang mampu hidup bersama dengan umat beragama yang berbeda dengan kita. Sikap pluralis bisa terekspresi dalam macam- macam rumusan, misalnya “Agama-agama lain adalah jalan yang sama-sama sah untuk mencapai kebenaran yang sama, kebenaran-kebenaran yang sama sah,” atau
“setiap agama mengekspresikan bagian penting sebuah kebenaran. (Harda Armayanto (2014:236-237).
2. Pengertian Pluralisme Agama
Pluralisme berasal dari dua kata, yakni plural yang berarti jamak atau lebih dari satu dan isme (paham) yang berarti paham atas keberagaman. Pluralisme adalah gagasan mengenai kemajemukan, yaitu kesadaran mengenai keanekaragaman sebagai suatu keniscayaan yang hidup dan tumbuh dalam sebuah masyarakat (Naben, 1986:232).
Pluralisme adalah keadaan masyarakat yang majemuk berkaitan dengan sistem sosial dan politik. Pluralisme adalah gagasan mengenai kemajemukan, yaitu kesadaran mengenai adanya keanekaragaman sebagai suatu keniscayaan yang hidup dan tumbuh dalam sebuah masyarakat. Dari definisi yang dikemukakan jadi pluralisme yaitu pertama sebagai sebuah interaksi (sosial) antar kelompok dalam suatu masyarakat; kedua, meniscayakan adanya penghormatan dan toleransi diantara kelompok tersebut; ketiga, mengembangkan hidup berdampingan (ko-eksistensi); dan keempat, interaksi dilakukan tanpa keinginan berkonflik dan pembauran.
Pluralisme agama adalah relativitas kebenaran pada setiap agama di dunia, sebagai toleransi untuk memelihara kerukunan hidup antar umat beragama di tengah-tengah keragaman yang ada. Dengan menyatakan semua agama benar, para pengusun pluralisme agama berharap tidak ada lagi agama yang mengklaim sebagai pemilik kebenaran hakiki karena pada hakikatnya, agama itu merupakan hasil dari berbagai perasaan dan pengalaman keberagaman manusia, sehingga setiap agama yang ada di dunia ini mengandung kebenaran Ilahi. Kekacuan antaragama terjadi karena tidak adanya toleransi dan saling pengertian antar
pemeluk agama yang berbeda, sehingga pluralisme agama adalah solusi yang tepat untuk mencegah konflik tersebut dan menciptakan keharmonisan umat manusia di dunia. Sikap toleran terwujud dengan mengakui eksistensi agama masing-masing dan tidak beranggapan bahwa hanya agamanya paling benar (Harda Armayano, 2010: 37).
Menurut Zuhairi Misrawi seorang pluralis mengatakan bahwa pluralisme bukanlah paham yang mengajarkan semua agama sama. Namun, pluralisme menekankan bahwa pada hakikatnya agama-agama adalah berbeda. Perbedaan tersebut bisa dilihat dari segi penghayatan terhadap agama (syariat) dan yang lebih penting adalah dimensi simbolik dan sosiologisnya. Adanya perbedaan ini menjadikan pluralisme menemukan relevansinya untuk mendamaikan dan membangun toleransi. Lanjutnya, pluralisme sesungguhnya berbicara dalam tataran fakta dan realitas, bukan berbicara pada tataran teologis. Pada tataran teologis harus diyakini bahwa setiap agama mempunyai ritualnya tersendiri. Tapi dalam tataran sosial, dibutuhkan keterlibatan aktif di antara semua lapisan masyarakat untuk membangun sebuah kebersamaan (Harda Armayanto, 2014:
329).
3. Toleransi
Sikap pluralis memungkinkan budaya toleransi beragama. Asal usul kata toleransi dari bahasa Latin yaitu dari kata kerja tolerare, artinya membawa, memegang, menanggung, menyebarkan, menahan, membetahkan, membiarkan, memelihara dengan susah payah, mempertahankan supaya hidup, menghidupi.
Toleransi merupakan suatu sikap menanggung bersama, memikul bersama, segala sesuatu dalam penghargaan satu sama lain secara utuh. Sikap toleransi merupakan sikap dan tindakan dalam menghargai dan menghormati orang lain (Budi Purnomo, 2002: 13-14). Toleransi akan mewujudkan diri melalui tindakan penghargaan dan penghormatan terhadap sesama. Toleransi mengarah pada penghargaan pihak lain demi terciptanya kerjasama dan keselaran kehidupan bersama (Budi Purnomo, 2002: 18).
Toleransi dalam kehidupan beragama sangat dibutuhkan dalam situasi dan kondisi semacam apapun. Kita diajak untuk membangun dan mengembangkan toleransi dalam kehidupan beragama. Benar, bahwa agama itu tidak dapat ditoleransikan, sebab agama menyangkut dogma, ritus, ajaran dan hukum-hukum tertentu. Namun sebagaimana kita diajak untuk mengadakan dialog antar umat beragama, demikian juga kita dipanggil pula untuk mengembangkan toleransi dalam kehidupan beragama (Budi Purnomo, 2002: 20).
Toleransi sebaiknya dipandang sebagai usaha bersama untuk saling bekerjasama demi terwujudnya masyarakat yang harmonis dan tidak merugikan pihak lain dalam bentuk apapun. Toleransi bisa dilukiskan sebagai proses dialogal saling berbagi pandangan hidup, pendapat dan perhatian umum demi terwujudnya suatu masyarakat yang benar, adil dan makmur sejahtera (Chang, 2002:161-164).
4. Dialog antar Agama
Sikap pluralis memungkinkan adanya dialog antar agama. Dialog berasal dari kata Yunani dialogos yang berarti pembicaraan atau perbincangan.
(Hardjana, 1993:115). Dialog dapat diartikan sebagai percakapan antara dua orang atau lebih dalam mana diadakan pertukaran nilai yang dimiliki oleh masing- masing pihak. Lebih lanjut, dialog merupakan pergaulan antara pribadi-pribadi yang saling memberikan diri dan berusaha mengenal pihak lain sebagaimana adanya (Hendropuspito, 1983:172).
Dialog antar iman adalah perjumpaan dan kerjasama yang terjadi antara orang-orang yang berbeda agama dan iman. Dialog antar iman bisa terjadi antara orang yang berbeda agama dan juga bisa terjadi antara orang yang berbeda Gereja (Dewan Karya Pastoral Keuskupan Agung Semarang, 2014:16). Dialog yang diusahakan adalah dialog kehidupan dan bukan hanya dialog dengan kata-kata.
Dialog hidup ini seharusnya berasaskan kebenaran dan kejujuran (Chang, 2002:164).
Dalam dialog para penganut agama yang berbeda bertemu dan mengadakan pembahasan bersama untuk saling mencari pengertian dan pemahaman.
Tujuannya adalah bersama-sama mencari kebenaran universal yang terdapat dalam agama masing-masing landasannya adalah saling menghargai dan kesediaan untuk belajar satu sama lain. Karena kedua belah pihak sadar bahwa Tuhan yang diimani adalah Maha Besar (Hardjana,1993:115).
Dialog antar agama akan berjalan baik kalau dialami sebagai suatu hubungan antar personal, hubungan mendalam antar pribadi (Budi Purnomo, 2002:24). Dialog merupakan hubungan antar agama yang positif dan konstruktif.
Hubungan ini dilangsungkan dalam hubungan dengan pribadi-pribadi dan jemaah- jemaah dari agama-agama lain, yang diarahkan untuk saling memahami dan
saling memperkaya, dalam ketaatan kepada kebenaran dan hormat terhadap kebebasan, juga termasuk di dalamnya kesaksian dan pendalaman keyakinan keagamaan masing-masing (Armada Riyanto, 1995:102).
Dialog antar agama mencerminkan sikap, cara berpikir, bertindak dengan bijak dan arif terhadap kemajemukan. Dialog antar agama menggambarkan cara beragama dan sikap mental orang yang beragama sehingga dialog antar agama menitikberatkan pada keinginan dan kebutuhan untuk saling mengerti, memahami dan saling berbagi pengalaman keagamaan sesama umat beragama. Dalam dialog antar agama, tidak ada motif tersembunyi untuk saling menyalahkan, menghina, dan mengkafirkan keyakinan yang dianut orang lain. Namun lebih menekankan sikap menerima keberadaan orang lain apa adanya dan tanpa bertujuan untuk mengubah keyakinannya, dengan proses saling mengenal dan memahami hak masing-masing penganut agama (Amin Abdullah dalam Resta, 2015: 51-53).
Bertolak dari beberapa pendapat mengenai dialog di atas, dapat disimpulkan bahwa, dengan dialog umat beragama mempersiapkan diri untuk melakukan diskusi dengan umat yang beragama lain, dan dengan umat yang berpandangan lain tentang kenyataan hidup. Dialog tersebut dimaksudkan untuk saling mengenal dan saling menimba pengetahuan baru tentang agama mitra dialog. Dialog tersebut dengan sendirinya akan memperkaya dan memperluas wawasan, dengan tujuan dapat saling mengakui dan menerima adanya keberagaman atau perbedaan yang ada sebagai suatu kekayaan yang dijadikan landasan hidup rukun dan damai dalam suatu masyarakat.
5. Tantangan dan hambatan berdialog
Dalam keberagaman hidup beragama tentunya ada warna yang terindah untuk mengukir kisah kebersamaan. Seperti yang telah diuraikan di atas, dialog merupakan salah satu jalan yang ditempuh untuk mendamaikan setiap perbedaan yang ada. Dialog menjadi jalan untuk melihat setiap perbedaan sebagai kekayaan yang memperluas wawasan. Namun dalam upaya untuk berdialog ada pelbagai halangan yang tidak dapat dihindari. Pertama, rintangan bahasa. Bahasa menjadi unsur yang sangat penting dalam berkomunikasi atau dalam konteks ini berdialog.
Kedua, gambaran tentang orang lain yang keliru. Sebelum berdialog, tentu masing-masing peserta dialog memiliki pra pemahaman tentang mitra dialognya.
Ketiga, nafsu membela diri. Setiap peserta dialog tentu akan mempertahankan apa yang telah diimaninya dan menganggap bahwa yang lain adalah salah atau tidak benar. Hal ini berarti tidak menerima ajaran atau pandangan dari mitra dialog (Hendropuspito, 1983:174-175).
Kesulitan-kesulitan lain yang dapat menyebabkan dialog menemukan jalan buntu diantaranya, pertama, persoalan pengetahuan. Pengetahuan dan pemahaman tentang agama-agama lain yang seimbang, seringkali memunculkan sikap kurangnya penghargaan dan berpuncak pada sikap saling mencurigai. Kedua, sikap tidak toleran. Kesulitan yang besar apabila berhadapan dengan peserta dialog yang tidak memiliki sikap tidak toleran. Dialog tidak akan berjalan lancar, sebab tidak adanya sikap untuk saling menghargai dan menghormati satu sama lain.
Sikap tidak toleran ini seringkali dipengaruhi oleh faktor politik, ekonomi, ras, etnis dan berbagai kesenjangan lainnya. Ketiga, kurang yakin terhadap nilai- nilai dialog antar agama. Berhadapan dengan kesulitan ini, sebagian peserta dialog menganggap bahwa dialog merupakan salah satu tanda pengkhianatan iman.
Sejatinya, dialog tidak dimaksudkan untuk mencari kelemahan pihak lain dan menariknya untuk berpindah agama. Dialog dimaksudkan agar dapat mencapai sikap saling pengertian dan saling menghargai yang lebih baik antar umat beragama (Armada Riyanto, 1995: 117).
Berpangkal dari dua tokoh yang penulis angkat mengenai pendapat mereka tentang tantangan dan hambatan dalam dialog, dapat dikatakan bahwa setiap perjuangan untuk mewujudkan perdamaian dan meningkatkan rasa toleransi, sangat dibutuhkan sikap keterbukaan dan saling menerima dari berbagai pihak keagamaan. Adanya sikap terbuka, agar dapat memahami setiap hal yang berbeda dan adanya rasa saling menerima, agar setiap perbedaan dipandang sebagai sebuah kekayaan.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian adalah kuantitatif karena data penelitian berupa angka dan menggunakan analisis statistik (Sugiyono,2015:7). Penelitian ini memakai metode penelitian deskriptif yang tidak dimaksudkan untuk menguji hipotesis, tetapi hanya menggambarkan kanyataan tentang variabel, gejala atau keadaan (Arikunto, 2013:234). Penulis menyebarkan kuesioner tentang peran pendidikan agama dalam mengembangkan sikap pluralis. Kuesioner menggunakan model skala sampai lima.
B. Tujuan Penelitian
Dari hasil penelitian ini akhirnya peneliti dapat mengetahui, seberapa besar peran pendidikan agama dalam mengembangkan sikap pluralis bagi mahasiswa Universitas sanata Dharma Yogyakarta.
C. Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan desain penelitian expost facto perlakuan pada penelitian expost facto telah terjadi sebelum penulis melakukannya. Penulis sama sekali tidak melakukan kontrol terhadap perlakuan tersebut.
D. Tempat & Waktu
Penelitian dilakukan di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni 2020.
E. Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Responden dalam penelitian ini adalah mahasiswa-mahasiswi dari program studi Ekonomi, Farmasi, Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Pendidikan Ekonomi Bidang Keahlian Khusus Pendidikan Akuntansi, Akuntansi, Informatika, Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Pendidikan Bahasa Inggris, Teknik Elektro, Matematika, Sastra Inggris, Pendidikan Bahasa Inggris, Bimbingan dan Konseling, Pendidikan Keagamaan Katolik. Kriteria yang peneliti pakai untuk mengambil sampel adalah mahasiswa aktif yang sudah menempuh mata kuliah Pendidikan Agama di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
F. Teknik Analisis & Alat Pengumpulan Data 1. Identifikasi variabel
Penelitian yang akan dilaksanakan ini berjudul PERAN PENDIDIKAN AGAMA DALAM MENGEMBANGKAN SIKAP PLURALIS DI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA. Penelitian ini ada dua variabel yaitu Peran Pendidikan Agama dan Sikap Pluralis bagi mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Dikarenakan dua variabel, penelitian ini
mengarah pada hubungan stimulus dan respon. Maka stimulus dan respon terdiri dari:
Stimulus : Peran Pendidikan Agama
Respon : Sikap Pluralis mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
2. Definisi konseptual
Definisi konseptual merupakan batasan terhadap masalah-masalah variabel yang dijadikan pedoman dalam penelitian sehingga akan memudahkan dalam mengoperasionalkannya di lapangan. Untuk memahami dan memudahkan dalam menafsirkan banyak teori yang ada dalam penelitian ini, maka akan ditentukan beberapa definisi konseptual yang berhubungan dengan yang akan diteliti, antara lain:
a. Peran
Peran mencakup pengetahuan untuk membantu membentuk penghayatan sikap b. Pendidikan Agama
Pendidikan Agama mencakup tujuan, materi, proses dan evaluasi c. Sikap Pluralis
Sikap Pluralis mencakup menerima pandangan orang lain, Menghargai pandangan orang lain, Berdialog dengan orang yang berpandangan lain. Sikap Pluralis adalah belajar untuk menghargai agama lain yang berbeda dengan kita.
3. Definisi operasional
Definisi operasional merupakan petunjuk tentang bagaimana suatu variabel diukur. Dengan melihat definisi operasional suatu penelitian, maka seorang peneliti akan dapat mengetahui suatu variabel yang akan diteliti.
4. Teknik Pengumpulan Data a. Kuesioner
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui penyebaran kuesioner kepada mahasiswa. Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya (Sugiyono, 2015:
142). Penulis membuat kuesioner berkaitan dengan peran pendidikan agama dalam mengembangkan sikap pluralis bagi mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
b. Wawancara
Wawancara digunakan peneliti untuk mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam dan jumlah respondennya kecil. Teknik pengumpulan data ini mendasarkan diri pada laporan tentang diri sendiri atau self-report, pengetahuan, atau keyakinan pribadi (Sugiyono, 2015: 138). Wawancara ini dilakukan sebagai validasi dari hasil penelitian.
5. Instrumen Penelitian
Instrumen Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner dengan rentang skala. Penggunaan skala dalam kuesioner ini dimulai dari interval 1 sampai dengan skor 5. Skor terendah adalah 1 dan untuk skor tertinggi adalah 5. Dalam instrumen tertulis beberapa pernyataan mengenai peran pendidikan agama dan sikap pluralis sebanyak 40 soal. Alternatif jawaban yang
disediakan dari masing-masing soal yang dipilih oleh penulis adalah berbeda- beda, seperti Sangat setuju-Setuju, Kurang setuju-Tidak setuju, Sangat tidak setuju.
6. Pengembangan Instrumen
Dalam penelitian yang dilakukan, peneliti akan menggunakan pengembangan instrumen dengan memakai uji coba terpakai, yaitu data yang diperoleh dan hasil uji coba yang dilaksanakan terhadap responden melalui kuesioner yang diedarkan dan kemudian dihitung validitas dan reliabilitasnya.
Tabel 3.1 Variabel Penelitian
NO ASPEK VARIABEL ITEM SOAL JUMLAH SOAL
1 Peran Pendidikan Agama 1 – 28 28 Soal 2 Sikap Pluralis mahasiswa
USD Yogyakarta
29 – 40 12 Soal
Jumlah Soal 40 Soal
a. Kisi – kisi
Tabel 3.2
Kisi – kisi Peran Pendidikan Agama dalam Mengembangkan Sikap Pluralis di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
Variabel Indikator Soal No Soal
Peran Pendidikan Agama
Memberi Pengetahuan
1. Pendidikan Agama
mengajarkan pengetahuan yang meningkatkan iman saya.
2. Pendidikan Agama
mengajarkan pengetahuan tentang agama lain.
3. Pendidikan Agama mengajarkan saya tentang dialog antar agama
1,2,3,4
4. Pendidikan Agama mengajarkan bahwa semua agama membawa keselamatan.
Membentuk sikap
5. Pendidikan Agama menumbuhkan dan membentuk kepribadian saya.
6. Pendidikan Agama menumbuhkan sikap menghormati, menerima dan menghargai
pandangan orang lain.
7. Pendidikan Agama membantu saya untuk menerima perbedaan agama.
8. Pendidikan Agama membuat saya tidak ragu menolong orang yang beragama lain.
5,6,7,8
Membantu penghayatan
9. Pendidikan Agama membantu saya untuk menghayati iman 10. Pendidikan Agama
mengarahkan saya untuk menghargai nilai-nilai Pancasila.
11. Pendidikan Agama mengarahkan saya untuk menjunjung norma-norma hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia.
12. Pendidikan Agama membantu saya
mewujudkan solidaritas dan kebersamaan dalam membangun keadilan dan kesejahteraan bangsa.
9,10,11,12
Tujuan
13. Pendidikan Agama bertujuan untuk
mengembangkan moral dan akhlak yang mulia 14. Pendidikan Agama
bertujuan untuk membantu mahasiswa
13,14,15,16
memahami makna pluralisme agama.
15. Pendidikan Agama bertujuan untuk
menanamkan nilai-nilai toleransi terhadap agama dan kepercayaan lain.
16. Pendidikan Agama bertujuan untuk mengembangkan pemahaman mahasiswa bahwa semua agama membawa keselamatan.
Materi
17. Dalam Pendidikan Agama ada materi yang
membahas tentang agama- agama lain.
18. Dalam Pendidikan Agama ada materi tentang dialog antar agama.
19. Dalam Pendidikan Agama ada kesempatan untuk melakukan dialog antar agama.
20. Dalam Pendidikan Agama ada materi yang
membahas tentang moral dasar.
17,18,19,20
Proses
21. Saat belajar Pendidikan Agama ada diskusi untuk mengembangkan sikap pluralis (menghargai) agama lain.
22. Saat belajar Pendidikan Agama ada kesempatan bagi mahasiswa untuk berdialog dengan orang yang beragama lain.
23. Saat belajar Pendidikan Agama ada kesempatan bagi mahasiswa untuk berkunjung ke tempat- tempat ibadah agama lain.
24. Saat belajar Pendidikan Agama, ada kesempatan untuk mengundang tokoh-
21,22,23,24
tokoh agama lain.
Evaluasi
25. Pada akhir pembelajaran Pendidikan Agama ada evaluasi tentang pemahaman tentang agama lain dan dialog antar agama.
26. Pada akhir pembelajaran Pendidikan Agama ada evaluasi tentang
bagaimana menghargai agama lain.
27. Di akhir pembelajaran Pendidikan Agama merasa diteguhkan untuk
menghargai agama lain.
28. Di akhir pembelajaran Pendidikan Agama saya bersedia untuk berdialog dengan agama lain.
25,26,27,28
Sikap Pluralis Menerima pandangan orang lain
29. Saya bisa menerima dan menghormati orang yang beragama lain.
30. Saya bisa menerima pandangan yang berbeda.
31. Saya bisa menerima kritik positif dari orang yang beragama lain.
32. Saya mau memberi pujian atas karya orang yang beragama lain.
29,30,31,32
Menghargai pendapat orang lain
33. Saya bisa menghargai pandangan orang yang beragama lain.
34. Saya merasa nyaman tinggal di daerah yang penduduknya menganut berbagai macam agama.
35. Saya bersedia
bekerjasama dengan orang yang beragama lain.
36. Saya bersedia menghadiri perayaan agama lain
33,34,35,36
Berdialog
37. Saya bersedia mengucapkan selamat