PRESENTASI KASUS
PRESENTASI KASUS
O O c c t t o o b b e e r r 1 1 , , 2 2 0 0 1 1 1 1 TINJAUAN KASUS TINJAUAN KASUS I.I. IDENTITAS IDENTITAS PASIENPASIEN Nama
Nama : : Tn. Tn. HH Umur
Umur : : 30 30 thth Jenis
Jenis kelamin kelamin : : LakiLaki – – LakiLaki Pekerjaan
Pekerjaan : : TNI TNI ADAD Agama
Agama : : KristenKristen Status
Status pernikahan pernikahan : : MenikahMenikah Suku
Suku bangsa bangsa : : ManadoManado Tanggal
Tanggal masuk masuk : : 03 03 Oktober Oktober 20112011 Dirawat
Dirawat yang yang ke ke : : 6 6 kalikali Tanggal pemeriks
Tanggal pemeriksaan aan : 06 Oktober 201: 06 Oktober 20111
II. ANAMNESA
II. ANAMNESA
Autoanamnesa
Autoanamnesa (Tanggal 06 Oktob(Tanggal 06 Oktober 2011, puker 2011, pukul 10.00 WIB)ul 10.00 WIB)
KELUHAN UTAMA
KELUHAN UTAMA : Lemah pada kedua tungkai: Lemah pada kedua tungkai
KELUHAN TAMBAHAN KELUHAN TAMBAHAN : -:
-RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG ::
Pasien datang ke RSPAD dengan keluhan utama kedua tungkai Pasien datang ke RSPAD dengan keluhan utama kedua tungkai terasa lemah sejak 1 hari SMRS. Keluhan ini muncul secara tiba
terasa lemah sejak 1 hari SMRS. Keluhan ini muncul secara tiba – – tibatiba setelah pasien selesai makan (makan nasi), awalnya kelemahan terjadi setelah pasien selesai makan (makan nasi), awalnya kelemahan terjadi pada tungkai kirinya kemudian pasien beristirahat dengan harapan pada tungkai kirinya kemudian pasien beristirahat dengan harapan keluhannya membaik. Setelah istirahat, keluhan pasien tidak membaik keluhannya membaik. Setelah istirahat, keluhan pasien tidak membaik melainkan tungkai kanannya juga menjadi lemah sehingga pasien tidak melainkan tungkai kanannya juga menjadi lemah sehingga pasien tidak mampu bangun dan berdiri. Pasien merasakan tungkai kanan dan kirinya mampu bangun dan berdiri. Pasien merasakan tungkai kanan dan kirinya semakin melemah dan akhirnya pasien dibawa ke RSPAD Gatot Soebroto. semakin melemah dan akhirnya pasien dibawa ke RSPAD Gatot Soebroto. Pasien memakan makanan seperti biasanya, yaitu nasi, lauk, dan sayur. Pasien memakan makanan seperti biasanya, yaitu nasi, lauk, dan sayur. Porsi makannya juga seperti biasa (1 piring). Pasien menyangkal Porsi makannya juga seperti biasa (1 piring). Pasien menyangkal
PRESENTASI KASUS
PRESENTASI KASUS
O O c c t t o o b b e e r r 1 1 , , 2 2 0 0 1 1 1 1mengeluhkan rasa baal, kesemutan, sakit kepala, mual, muntah, bicara mengeluhkan rasa baal, kesemutan, sakit kepala, mual, muntah, bicara cadel, gangguan menelan, wajah mencong ke satu sisi, riwayat trauma cadel, gangguan menelan, wajah mencong ke satu sisi, riwayat trauma maupun pingsan (penurunan kesadaran), demam, batuk-pilek, pasien juga maupun pingsan (penurunan kesadaran), demam, batuk-pilek, pasien juga menyangka
menyangkal melakukan aktivitas l melakukan aktivitas berat sebelum keluhannya muncul.berat sebelum keluhannya muncul.
Pasien pernah megalami keluhan yang serupa sebelumya dan Pasien pernah megalami keluhan yang serupa sebelumya dan dirawat di RS
dirawat di RS sebanyak 5sebanyak 5 – – 6 kali sejak tahun 2008.6 kali sejak tahun 2008.
RIWAYAT PENYAKIT DAHULU : RIWAYAT PENYAKIT DAHULU : Hipertensi
Hipertensi : : disangkaldisangkal Diabetes
Diabetes melitus melitus : : disangkaldisangkal Sakit
Sakit jantung jantung : : disangkaldisangkal Trauma
Trauma kepala kepala : : disangkaldisangkal
RIWAYAT
RIWAYAT PENYAKIT PENYAKIT KELUARGA KELUARGA :: Tidak ada anggota keluarga
Tidak ada anggota keluarga yang mengalami keluhan seperti pasien.yang mengalami keluhan seperti pasien.
RIWAYAT KELAHIRAN/PERTUMBUHAN/PERKEMBANGA RIWAYAT KELAHIRAN/PERTUMBUHAN/PERKEMBANGAN N :: Tidak ada kelainan
Tidak ada kelainan
III.
III. PEMERIKSAAN PEMERIKSAAN (03 (03 Oktober Oktober 2011)2011) STATUS INTERNUS
STATUS INTERNUS Keadaan
Keadaan umum umum : : Tampak Tampak sakit sakit sedangsedang Gizi
Gizi : : Baik Baik Tanda
Tanda vital vital :: Tekanan
Tekanan darah kanadarah kanan n : 120/80 mmH: 120/80 mmHgg Tekanan
Tekanan darah darah kiri kiri : : 120/80 120/80 mmHgmmHg Nadi
Nadi kanan kanan : : 78 78 x/menitx/menit Nadi
Nadi kiri kiri : : 78 78 x/menitx/menit Pernafasan
Pernafasan : : 18 18 x/menitx/menit Suhu
Suhu : : 36,7 36,7 ºCºC Limfonodi
Limfonodi : : Tidak Tidak terabateraba Jantung
PRESENTASI KASUS
O c t o b e r 1 , 2 0 1 1Paru : Suara nafas vesikuler +/+, wheezing , rhonki -/-Hepar : Tidak teraba pembesaran
Lien : Tidak teraba pembesaran
Ekstremitas : Akral hangat, edema (-), CRT < 2”, sianosis (-)
STATUS PSIKIATRI Tingkah laku : wajar Perasaan hati : baik Orientasi : baik Jalan fikiran : baik Daya ingat : baik
STATUS NEUROLOGI
Kesadaran : Compos Mentis, GCS : 15 ( E4M6V5)
Sikap tubuh : Berbaring terlentang Cara berjalan : Tidak dilakukan Gerakan abnormal : Tidak ada
Kepala
Bentuk : Normocephal Simetris : Simetris Pulsasi a.Temporalis : Teraba Nyeri tekan : Tidak ada
Leher
Sikap : Normal
Gerakan : Bebas tak terbatas Vertebrae : Dalam batas normal Nyeri tekan : Tidak ada
PRESENTASI KASUS
O c t o b e r 1 , 2 0 1 1TANDA RANGSANG MENINGEAL
Kanan Kiri Kaku kuduk : ( - ) Laseque : ( - ) ( - ) Kernig : ( - ) ( - ) Brudzinsky I : ( - ) ( - ) Brudzinsky II : ( - ) ( - ) NERVI KRANIALIS Kanan Kiri N I ( Olfactorius )
Daya penghidu : Normosmia Normosmia
N II ( Optikus )
Kanan Kiri
Ketajaman penglihatan : Baik Baik Pengenalan warna : Baik Baik Lapang pandang : Sama dengan pemeriksa Fundus : Tidak dilakukan
N III ( Occulomotoris )/ N IV ( Trochlearis )/ N VI ( Abducens )
Kanan Kiri Ptosis : ( - ) ( - ) Strabismus : ( - ) ( - ) Nistagmus : ( - ) ( - ) Exopthalmus : ( - ) ( - ) Enopthalmus : ( - ) ( - ) Gerakan bola mata :
Lateral : ( + ) ( + )
Medial : ( + ) ( + )
Atas lateral : ( + ) ( + ) Atas medial : ( + ) ( + ) Bawah lateral : ( + ) ( + )
PRESENTASI KASUS
O c t o b e r 1 , 2 0 1 1 Bawah medial : ( + ) ( + ) Atas : ( + ) ( + ) Bawah : ( + ) ( + ) Gaze : ( + ) ( + ) Pupil : Ukuran pupil : Ø 3 mm Ø 3 mm Bentuk pupil : Bulat Bulat Isokor/anisokor : IsokorPosisi : ditengah ditengah
Reflek cahaya langsung : ( + ) ( + ) Reflek cahaya tidak langsung : ( + ) ( + ) Reflek akomodasi/konvergensi: ( + ) ( + )
N V ( Trigeminus )
Kanan Kiri
Menggigit : Baik Membuka mulut : Simetris
Sensibilitas atas : ( + ) ( + ) Tengah : ( + ) ( + ) Bawah : ( + ) ( + ) Reflek masseter : ( + ) ( + ) Reflek zigomatikus : ( + ) ( + ) Reflek kornea : Tidak dilakukan
Reflek bersin : Tidak dilakukan
N VII ( Facialis ) Pasif
Kerutan kulit dahi : Simetris Kedipan mata : Simetris
Lipatan nasolabial : Simetris Sudut mulut : Simetris
PRESENTASI KASUS
O c t o b e r 1 , 2 0 1 1 AktifMengerutkan dahi : Simetris Mengerutkan alis : Simetris Menutup mata : Simetris
Meringis : Simetris
Mengembungkan pipi : Simetris Gerakan bersiul : Baik
Daya pengecapan lidah 2/3 depan: Tidak dilakukan Hiperlakrimasi : Tidak ada
Lidah kering : Tidak ada
N VIII ( Vestibulocochlearis )
Kanan Kiri
Mendengarkan suara gesekan jari tangan : ( + ) ( + ) Mendengar detik jam arloji : ( + ) ( + )
Test rinne : Tidak dilakukan
Test weber : Tidak dilakukan
Test swabach : Tidak dilakukan
N IX ( Glossopharyngeus )
Arcus pharynx : Simetris, tidak hiperemis
Posisi uvula : Di tengah
Daya pengecapan lidah 1/3 belakang : Tidak dilakukan Reflek muntah : Tidak dilakukan
N X ( Vagus )
Denyut nadi : Teraba, Reguler Arcus pharynx : Simetris
Bersuara : Baik
PRESENTASI KASUS
O c t o b e r 1 , 2 0 1 1 N XI ( Accesorius )Memalingkan kepala : Normal Sikap bahu : Simetris Mengangkat bahu : Simetris
N XII ( Hipoglossus )
Menjulurkan lidah : Tidak ada deviasi Kekuatan lidah : Simetris
Atrofi lidah : Tidak ada Artikulasi : Baik Tremor lidah : Tidak ada
MOTORIK Gerakan : Kekuatan : Tonus : Bentuk : REFLEK FISIOLOGI
Reflek tendon Kanan Kiri
Reflek bicep : ( + ) ( + ) Reflek tricep : ( + ) ( + ) Reflek brachioradialis : ( + ) ( + ) Reflek patella : ( + ) ( + ) Reflek achilles : ( + ) ( + ) Reflek periosteum : Tidak dilakukan
Bebas Bebas Terbatas Terbatas 5 5 5 5 5 5 5 5 2 2 2 2 2 2 2 2 Normotonus Normotonus Normotonus Normotonus Eutrofi Eutrofi Eutrofi Eutrofi
PRESENTASI KASUS
O c t o b e r 1 , 2 0 1 1 Reflek permukaanDinding perut : Tidak dilakukan Cremaster : Tidak dilakukan Spincter ani : Tidak dilakukan
REFLEK PATOLOGIS Kanan Kiri Hoffman tromer : ( - ) ( - ) Babinski : ( - ) ( - ) Chaddok : ( - ) ( - ) Oppenheim : ( - ) ( - ) Gordon : ( - ) ( - ) Schafer : ( - ) ( - ) Klonus paha : ( - ) ( - ) Klonus kaki : ( - ) ( - ) SENSIBILITAS Kanan Kiri Eksteroseptif Nyeri : ( + ) ( + ) Suhu : Tidak dilakukan
Taktil : ( + ) ( + ) Propioseptif
Posisi : ( + ) ( + ) Vibrasi : Tidak dilakukan
Tekanan dalam : ( + ) ( + )
KOORDINASI DAN KESEIMBANGAN Test romberg : Tidak dilakukan Test tandem : Tidak dilakukan Test fukuda : Tidak dilakukan Disdiadokokenesis : Tidak dilakukan Rebound phenomen : Tidak dilakukan
PRESENTASI KASUS
O c t o b e r 1 , 2 0 1 1Dismetri : Tidak dilakukan Test tunjuk hidung : Tidak dilakukan Test telunjuk-telunjuk : Tidak dilakukan Test tumit lutut : Tidak dilakukan
FUNGSI OTONOM Miksi
Inkontinentia : Tidak ada kelainan Retensi : Tidak ada kelainan Anuria : Tidak ada kelainan
Defekasi
Inkontinentia : Tidak ada kelainan Retensi : Tidak ada kelainan
FUNGSI LUHUR
Fungsi bahasa : Baik Fungsi orientasi : Baik Fungsi memori : Baik Fungsi emosi : Baik Fungsi kognisi : Baik
PRESENTASI KASUS
O c t o b e r 1 , 2 0 1 1 RESUME ANAMNESAPasien datang ke RSPAD dengan keluhan utama kedua tungkai terasa lemah sejak 1 hari SMRS. Keluhan ini muncul secara tiba – tiba setelah pasien selesai makan (makan nasi), awalnya kelemahan terjadi pada tungkai kirinya kemudian pasien beristirahat. Setelah istirahat, keluhan pasien tidak membaik melainkan tungkai kanannya juga menjadi lemah sehingga pasien tidak mampu bangun dan berdiri. Pasien merasakan tungkai kanan dan kirinya semakin melemah dan akhirnya pasien dibawa ke RSPAD Gatot Soebroto. Pasien memakan makanan seperti biasanya, yaitu nasi, lauk, dan sayur. Porsi makannya juga seperti biasa (1 piring). Pasien pernah megalami keluhan yang serupa
sebelumya dan dirawat di RS sebanyak 5 – 6 kali sejak tahun 2008.
PEMERIKSAAN
Status Internis :
Keadaan Umum : Tampak sakit sedang
Gizi : Baik
Kesadaran : Compos mentis, GCS = 15 ( E4M6V5)
Tekanan darah kanan : 120/80 mmHg Tekanan darah kiri : 120/80 mmHg Nadi kanan : 78x/menit Nadi kiri : 78x/menit Pernapasan : 18 x/menit
Suhu : 36,7 0C
PRESENTASI KASUS
O c t o b e r 1 , 2 0 1 1 Status Neurologis : Motorik : Gerakan : Kekuatan : Tonus : Bentuk : Reflek fisiologis : Kanan Kiri Reflek bicep : ( + ) ( + ) Reflek tricep : ( + ) ( + ) Reflek brachioradialis : ( + ) ( + ) Reflek patella : ( + ) ( + ) Reflek achilles : ( + ) ( + ) Reflek patologis : Kanan Kiri Hoffman tromer : ( - ) ( - ) Babinski : ( - ) ( - ) Chaddok : ( - ) ( - ) Oppenheim : ( - ) ( - ) Gordon : ( - ) ( - ) Schafer : ( - ) ( - ) Bebas Bebas Terbatas Terbatas 5 5 5 5 5 5 5 5 2 2 2 2 2 2 2 2 Normotonus Normotonus Normotonus Normotonus Eutrofi Eutrofi Eutrofi EutrofiPRESENTASI KASUS
O c t o b e r 1 , 2 0 1 1Hasil Pemeriksaan Penunjang :
Laboratorium Jenis Pemeriksaan HASIL Rujukan 03 Okt 2011 04 Okt 2011 Albumin 4,6 3,5 – 5,0 g/dL SGOT 67 < 40 u/L SGPT 29 < 35 u/L Ureum 20 21 20 – 50 mg/dL Kreatinin 1,0 1,1 0,5 -1,5 mg/dL Natrium 145 143 135 – 145 mEq/L Kalium 2,0 1,8 3,5 – 5,3 mEq/L Klorida 98 94 97 – 107 mEq/L Jenis Pemeriksaan HASIL Rujukan 05 Okt 2011 06 Okt 2011 07 Okt 2011
Natrium 144 144 147 135 – 145 mEq/L Kalium 2,3 2,0 2,2 3,5 – 5,3 mEq/L
Klorida 97 92 96 97 – 107 mEq/L
EKG
Interpretasi : sinus rhytm, 69 x/menit, Normo aksis, P wave 0,08, PR interval 0,16, QRS kompleks 0,04, ST Δ (-), T changes (-)
PRESENTASI KASUS
O c t o b e r 1 , 2 0 1 1 DIAGNOSISDiagnosis klinis : Paraparese Inferior tipe LMN Diagnosis topik : Miogenik
Diagnosis etiologi : Paralisis periodik hipokalemia
DIAGNOSA BANDING : Guillian Barre Syndrom Myastenia Gravis
TERAPI
Non medikamentosa :
Tirah baring
Diet tinggi kalium
Medikamentosa :
IVFD RL 20 tts / menit
Koreksi KCL 25 mEq/ kolf. 12
jam
KSR 3x1 tablet
Neurobion 2x1 tablet 500
PEMERIKSAAN ANJURAN
Laboratorium : Darah lengkap : Hb, Ht, leukosit, trombosit
Kimia : Ureum, kreatinin, kolesterol, trigliserida, gula darah
Elektroit : Na, K, Cl
EKG
Foto rontgen thoraks
PROGNOSA
Ad vitam : Ad bonam Ad fungsionam : Ad bonam Ad santionam : Ad bonam Ad cosmeticum : Ad bonam
PRESENTASI KASUS
O c t o b e r 1 , 2 0 1 1 FOLLOW UP : Tanggal 04 Oktober 2011S : Lemah kedua tungkai, demam (-), rasa baal (-), BAB dan BAK normal O : Keadaan Umum = Tampak Sakit Sedang
Kesadaran = CM (GCS = E4M6V5)
TD = 110/70 mmHg RR = 18 x/menit N = 82 x/menit T = 36,5°C
Status Neurologis :
Tanda perangsangan meningeal : (-) Tanda peningkatan TIK : (-)
Nervi kranialis : dalam batas normal Motorik : Gerakan : Tonus: Kekuatan : Bentuk : Reflek fisiologis : Kanan Kiri Reflek bicep : ( + ) ( + ) Reflek tricep : ( + ) ( + ) Reflek brachioradialis : ( + ) ( + ) Reflek patella : ( + ) ( + ) Reflek achilles : ( + ) ( + ) Reflek patologis : (-)
A : Diagnosa klinis : Paraparese Inferior tipe LMN Diagnosa topis : Miogenik
Diagnosa etiologis : Paralisis periodik hipokalemia P : - IVFD RL 20 tts / menit
- Koreksi KCL 25 mEq/ kolf. 12 jam - KSR 3x1 tablet - Neurobion 2x1 tablet 500 Bebas Bebas Terbatas Terbatas Normotonus Normotonus Normotonus Normotonus 5 5 5 5 5 5 5 5 3 3 3 3 3 3 3 3 Eutrofi Eutrofi Eutrofi Eutrofi
PRESENTASI KASUS
O c t o b e r 1 , 2 0 1 1 Tanggal 05 Oktober 2011S : Lemah kedua tungkai (perbaikan)
O : Keadaan Umum = Tampak Sakit Sedang Kesadaran = CM (GCS = E4M6V5)
TD = 120/80 mmHg RR = 22 x/menit N = 80 x/menit T = 36,2°C
Status Neurologis :
Tanda perangsangan meningeal : (-) Tanda peningkatan TIK : (-)
Nervi kranialis : dalam batas normal Motorik : Gerakan : Tonus: Kekuatan : Bentuk : Reflek fisiologis : Kanan Kiri Reflek bicep : ( + ) ( + ) Reflek tricep : ( + ) ( + ) Reflek brachioradialis : ( + ) ( + ) Reflek patella : ( + ) ( + ) Reflek achilles : ( + ) ( + ) Reflek patologis : (-)
A : Diagnosa klinis : Paraparese Inferior tipe LMN Diagnosa topis : Miogenik
Diagnosa etiologis : Paralisis periodik hipokalemia
P : - IVFD RL 20 tts / menit
- Koreksi KCL 25 mEq/ kolf. 12 jam - KSR 3x1 tablet - Neurobion 2x1 tablet 500 Bebas Bebas Bebas Bebas Normotonus Normotonus Normotonus Normotonus 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 Eutrofi Eutrofi Eutrofi Eutrofi
PRESENTASI KASUS
O c t o b e r 1 , 2 0 1 1 Tanggal 06 Oktober 2011S : Lemah kedua tungkai (perbaikan), sakit kepala, linu pada punggung sampai dengan pinggul
O : Keadaan Umum = Tampak Sakit Sedang Kesadaran = CM (GCS = E4M6V5)
TD = 110/70 mmHg RR = 18 x/menit N = 84 x/menit T = 36,7°C
Status Neurologis :
Tanda perangsangan meningeal : (-) Tanda peningkatan TIK : (-)
Nervi kranialis : dalam batas normal Motorik : Gerakan : Tonus: Kekuatan : Bentuk : Reflek fisiologis : Kanan Kiri Reflek bicep : ( + ) ( ++ ) Reflek tricep : ( + ) ( + ) Reflek brachioradialis : ( + ) ( + ) Reflek patella : ( + ) ( + ) Reflek achilles : ( + ) ( + ) Reflek patologis : (-)
A : Diagnosa klinis : Paraparese Inferior tipe LMN Diagnosa topis : Miogenik
Diagnosa etiologis : Paralisis periodik hipokalemia P : - IVFD RL 20 tts / menit
- Koreksi KCL 25 mEq/ kolf. 12 jam - KSR 3x1 tablet - Neurobion 2x1 tablet 500 Bebas Bebas Bebas Bebas Normotonus Normotonus Normotonus Normotonus 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 Eutrofi Eutrofi Eutrofi Eutrofi
PRESENTASI KASUS
O c t o b e r 1 , 2 0 1 1 Tanggal 07 Oktober 2011S : Lemah kedua tungkai, demam (-), rasa baal (-), BAB dan BAK normal O : Keadaan Umum = Tampak Sakit Sedang
Kesadaran = CM (GCS = E4M6V5)
TD = 120/80 mmHg RR = 18 x/menit N = 80 x/menit T = 36,7°C
Status Neurologis :
Tanda perangsangan meningeal : (-) Tanda peningkatan TIK : (-)
Nervi kranialis : dalam batas normal Motorik : Gerakan : Tonus: Kekuatan : Bentuk : Reflek fisiologis : Kanan Kiri Reflek bicep : ( + ) ( + ) Reflek tricep : ( + ) ( + ) Reflek brachioradialis : ( + ) ( + ) Reflek patella : ( + ) ( + ) Reflek achilles : ( + ) ( + ) Reflek patologis : (-)
A : Diagnosa klinis : Paraparese Inferior tipe LMN Diagnosa topis : Miogenik
Diagnosa etiologis : Paralisis periodik hipokalemia
P : - IVFD RL 20 tts / menit
- Koreksi KCL 25 mEq/ kolf. 12 jam - KSR 3x1 tablet - Neurobion 2x1 tablet 500 Bebas Bebas Bebas Bebas Normotonus Normotonus Normotonus Normotonus 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 Eutrofi Eutrofi Eutrofi Eutrofi
PRESENTASI KASUS
O c t o b e r 1 , 2 0 1 1 ANALISA KASUSDiagnosis pada pasien ini adalah :
Diagnosa Klinis : Paraparese inferior tipe LMN Diagnosa Topis : Miogenik
Diagnosa Etiologi : Paralisis periodik hipokalemia
Diagnosis tersebut ditegakkan berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Pada anamnesa :
o Tn. H 30 thn datang ke RSPAD Gatot Soebroto dengan keluhan utama, kedua
tungkai terasa lemah sejak 1 hari SMRS, pertama kali dirasakan pada tungkai kiri, kemudian tungkai kanan. Pasien tidak mengeluhkan rasa baal, kesemutan, bicara cadel, wajah mencong ke satu sisi.
Dari keluhan utama pasien menunjukkan adanya kelemahan akut pada daerah ekstremitas, hal ini dapat merupakan manifestasi klinis dari stroke, tetapi setelah dianamnesa lebih lanjut mengenai keluhan utamanya maka diagnosis stroke dapat dilemahkan karena pasien tidak mengeluhkan adanya gangguan sensoris dan gangguan pada saraf kranial, tetapi hal ini masih memungkinkan terjadi stroke apabila lesi hanya berada di korteks motorik. Selain itu keluhan pasien yang bersifat motorik dan timbul secara berkala, dapat mengarah kepada kelemahan tipe LMN, adapun penyakit yang dapat menimbulkan kelemahan tipe LMN adalah paralisis periodik, gullian barre sindrom, miastenia gravis
o Pasien menyangkal adanya keluhan sakit kepala, mual, muntah, gangguan
menelan, riwayat penurunan kesadaran maupun trauma/terjatuh, demam, batuk-pilek
Berdasarkan keluhan pasien tersebut menunjukan bahwa tidak adanya tanda peningkatan intrakranial, dan gangguan fungsi otonom yang semakin melemahkan diagnosa stroke dan mempertegas bahwa kelemahan yang dialami pasien bersifat murni motorik. Selain itu melemahkan pula
PRESENTASI KASUS
O c t o b e r 1 , 2 0 1 1diagnosa gullian barre sindrom karena pasien tidak memiliki riwayat demam maupun batuk-pilek dalam 1 bulan terakhir.
Diagnosa miastenia gravis juga dapat dilemahkan karena pada miastenia gravis, kelemahan terutama terjadi pada otot yang sering digunakan seperti otot bola mata, otot – otot untuk menelan dan berbicara.
o Pasien mengeluhkan kelemahan ini setelah makan makanan berat (nasi),
Pasien memakan makanan seperti biasanya, yaitu nasi, lauk, dan sayur. Porsi makanannya juga seperti biasa (1 piring), Keluhan seperti ini sudah beberapa kali dialami pasien (± 6 kali) dan dirawat di RS.
Berdasarkan keluhan pasien semakin memperkuat diagnosa paralisis periodik, dimana kelemahan pada paralisis periodik dapat terjadi pada pagi hari sehabis bangun tidur, setelah aktivitas fisik yang berat maupun setelah memakan makanan dengan kandungan tinggi karbohidrat. Selain itu pada paralisis periodik juga tidak disertai dengan keluhan sensorik. Pasien juga sudah beberapa kali merasakan keluhan yang sama, hal ini menguatkan diagnosa periodik paralise yaitu serangan sudah terjadi berulang.
o Pada pemeriksaan fisik ditemukan kelemahan pada kedua tungkai, hal ini
sesuai dengan kepustakaan dimakan dikatakan bahwa pada periodik paralisis ini ditandai dengan kelemahan dari otot-otot skeletal episodik tanpa gangguan dari sensoris ataupun kognitif yang berhubungan dengan kadar kalium yang rendah di dalam darah. Pada refleks fisiologis tidak didapatkan peningkatan refleks, hal ini menyingkirkan semua diagnose banding dari lesi UMN.
o Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan hipokalemia, hal ini menunjukkan
kelemahan otot pada pasien terjadi karena hipokalemia, menurut kepustakaan periodik paralise adalah kelainan yang ditandai dengan hilangnya kekuatan otot, umumnya terkait dengan abnormalitas K+dan abnormalnya respon akibat perubahan K+ dalam serum. Periodik paralise dapat dikelompokkan menjadi (1) Periodik paralise hipokalemia yang dapat disebabkan oleh : genetik, hipertiroid, hiperaldosteronism, gagal ginjal kronik dan idiopatik, (2) Periodik paralise hiperkalemia. (3). Periodik paralise normokalemia
PRESENTASI KASUS
O c t o b e r 1 , 2 0 1 1o Pada pemeriksaan EKG tidak ditemukan adanya kelainan. Pada pasien
paralisis periodik hipokalemia perlu dilakukan pemeriksaan EKG, karena keadaan hipokalemia dapat mengganggu kerja dari organ lain, terutama sekali jantung yang banyak sekali mengandung otot dan berpengaruh terhadap perubahan kadar kalium serum. Perubahan kerja jantung ini dapat dideteksi dari pemeriksaan elektrokardiogram (EKG). Perubahan pada EKG ini dapat mulai terjadi pada kadar kalium serum dibawah 3,5 dan 3,0 mEq/L. Kelainan yang terjadi berupa inversi gelombang T, timbulnya gelombang U dan ST depresi, pemanjangan dari PR, QRS, dan QT interval.
o Penatalaksaan pada pasien ini dilakukan berdasarkan :
Pada pasien ini diberikan IVFD RL 20 tetes per menit untuk memelihara keseimbangan cairan dan elektrolit, serta untuk memasukkan obat melalui vena.
Penatalaksanan priodik paralise hipokalemi harus didasari dengan prinsip terapi untuk keadaan hipokalemia, yaitu mengembalikan jumlah kalium dalam tubuh kembali ke nilai normal. Pemberian rutin kalium chlorida (KCL) 5 hingga 10 g per hari secara oral dapat mencegah timbulnya serangan pada kebanyakan pasien. Pada suatu serangan yang akut atau berat, KCL dapat diberikan melalui intravena dengan dosis inisial 0,05 hingga 0,1 mEq/KgBB dalam bolus pelan, diikuti dengan pemberian KCL dalam 5 % manitol dengan dosis 20 hingga 40 mEq. Kepustakaan lain KCL dapat diberikan dengan dosis 50 mEq/L dalam 250 cc larutan 5 % manitol. Monitoring kadar kalium tiap 2-4 jam perlu dilakukan untuk menghindari hiperkalemia terutama pada pemberian secara intravena.
o Prognosis pada pasien in ad bonam, karena dengan pengobatan konservatif
sebagian besar pasien akan pulih dan kembali menjalankan aktivitasnya dengan normal.
PRESENTASI KASUS
O c t o b e r 1 , 2 0 1 1 DAFTAR PUSTAKA1. Mesiano taufik. Periodik paralisis. Available from http://images.omynenny.multiply.multiplycontent.com/attachment/0/SGZO5woKCrs AAHuaWtE1/Periodik%20Paralisis.doc?nmid=92636614
2. Anonim. Periodic paralisys. Available from http://www.scribd.com/doc/36553519/PERIODIK-PARALISIS
3. Anonim. Hipokalemic periodic paralisys. Available from http://emedicine.medscape.com/article/1171678-overview
4. Price S A, Wilson L M. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit . Edisi VI. Jilid II Penerbit Buku Kedokteran Jakarta; EGC, 2004
5. Sudoyo A. W, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata K. M, Setiati S. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid I, Edisi IV. Jakarta : Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI, 2006