• Tidak ada hasil yang ditemukan

Paralisis Periodik Hipokalemi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Paralisis Periodik Hipokalemi"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

PRESENTASI KASUS 

PRESENTASI KASUS 

   O    O   c   c    t    t  o  o    b    b  e  e   r   r    1    1 , ,    2    2    0    0    1    1    1    1 TINJAUAN KASUS TINJAUAN KASUS I.

I. IDENTITAS IDENTITAS PASIENPASIEN Nama

Nama : : Tn. Tn. HH Umur

Umur : : 30 30 thth Jenis

Jenis kelamin kelamin : : LakiLaki –  – LakiLaki Pekerjaan

Pekerjaan : : TNI TNI ADAD Agama

Agama : : KristenKristen Status

Status pernikahan pernikahan : : MenikahMenikah Suku

Suku bangsa bangsa : : ManadoManado Tanggal

Tanggal masuk masuk : : 03 03 Oktober Oktober 20112011 Dirawat

Dirawat yang yang ke ke : : 6 6 kalikali Tanggal pemeriks

Tanggal pemeriksaan aan : 06 Oktober 201: 06 Oktober 20111

II. ANAMNESA

II. ANAMNESA

Autoanamnesa

Autoanamnesa (Tanggal 06 Oktob(Tanggal 06 Oktober 2011, puker 2011, pukul 10.00 WIB)ul 10.00 WIB)

KELUHAN UTAMA

KELUHAN UTAMA : Lemah pada kedua tungkai: Lemah pada kedua tungkai

KELUHAN TAMBAHAN KELUHAN TAMBAHAN : -:

-RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG ::

Pasien datang ke RSPAD dengan keluhan utama kedua tungkai Pasien datang ke RSPAD dengan keluhan utama kedua tungkai terasa lemah sejak 1 hari SMRS. Keluhan ini muncul secara tiba

terasa lemah sejak 1 hari SMRS. Keluhan ini muncul secara tiba  –  – tibatiba setelah pasien selesai makan (makan nasi), awalnya kelemahan terjadi setelah pasien selesai makan (makan nasi), awalnya kelemahan terjadi pada tungkai kirinya kemudian pasien beristirahat dengan harapan pada tungkai kirinya kemudian pasien beristirahat dengan harapan keluhannya membaik. Setelah istirahat, keluhan pasien tidak membaik  keluhannya membaik. Setelah istirahat, keluhan pasien tidak membaik  melainkan tungkai kanannya juga menjadi lemah sehingga pasien tidak  melainkan tungkai kanannya juga menjadi lemah sehingga pasien tidak  mampu bangun dan berdiri. Pasien merasakan tungkai kanan dan kirinya mampu bangun dan berdiri. Pasien merasakan tungkai kanan dan kirinya semakin melemah dan akhirnya pasien dibawa ke RSPAD Gatot Soebroto. semakin melemah dan akhirnya pasien dibawa ke RSPAD Gatot Soebroto. Pasien memakan makanan seperti biasanya, yaitu nasi, lauk, dan sayur. Pasien memakan makanan seperti biasanya, yaitu nasi, lauk, dan sayur. Porsi makannya juga seperti biasa (1 piring). Pasien menyangkal Porsi makannya juga seperti biasa (1 piring). Pasien menyangkal

(2)

PRESENTASI KASUS 

PRESENTASI KASUS 

   O    O   c   c    t    t  o  o    b    b  e  e   r   r    1    1 , ,    2    2    0    0    1    1    1    1

mengeluhkan rasa baal, kesemutan, sakit kepala, mual, muntah, bicara mengeluhkan rasa baal, kesemutan, sakit kepala, mual, muntah, bicara cadel, gangguan menelan, wajah mencong ke satu sisi, riwayat trauma cadel, gangguan menelan, wajah mencong ke satu sisi, riwayat trauma maupun pingsan (penurunan kesadaran), demam, batuk-pilek, pasien juga maupun pingsan (penurunan kesadaran), demam, batuk-pilek, pasien juga menyangka

menyangkal melakukan aktivitas l melakukan aktivitas berat sebelum keluhannya muncul.berat sebelum keluhannya muncul.

Pasien pernah megalami keluhan yang serupa sebelumya dan Pasien pernah megalami keluhan yang serupa sebelumya dan dirawat di RS

dirawat di RS sebanyak 5sebanyak 5 –  – 6 kali sejak tahun 2008.6 kali sejak tahun 2008.

RIWAYAT PENYAKIT DAHULU : RIWAYAT PENYAKIT DAHULU : Hipertensi

Hipertensi : : disangkaldisangkal Diabetes

Diabetes melitus melitus : : disangkaldisangkal Sakit

Sakit jantung jantung : : disangkaldisangkal Trauma

Trauma kepala kepala : : disangkaldisangkal

RIWAYAT

RIWAYAT PENYAKIT PENYAKIT KELUARGA KELUARGA :: Tidak ada anggota keluarga

Tidak ada anggota keluarga yang mengalami keluhan seperti pasien.yang mengalami keluhan seperti pasien.

RIWAYAT KELAHIRAN/PERTUMBUHAN/PERKEMBANGA RIWAYAT KELAHIRAN/PERTUMBUHAN/PERKEMBANGAN N :: Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

III.

III. PEMERIKSAAN PEMERIKSAAN (03 (03 Oktober Oktober 2011)2011) STATUS INTERNUS

STATUS INTERNUS Keadaan

Keadaan umum umum : : Tampak Tampak sakit sakit sedangsedang Gizi

Gizi : : Baik Baik  Tanda

Tanda vital vital :: Tekanan

Tekanan darah kanadarah kanan n : 120/80 mmH: 120/80 mmHgg Tekanan

Tekanan darah darah kiri kiri : : 120/80 120/80 mmHgmmHg Nadi

Nadi kanan kanan : : 78 78 x/menitx/menit Nadi

Nadi kiri kiri : : 78 78 x/menitx/menit Pernafasan

Pernafasan : : 18 18 x/menitx/menit Suhu

Suhu : : 36,7 36,7 ºCºC Limfonodi

Limfonodi : : Tidak Tidak terabateraba Jantung

(3)

PRESENTASI KASUS 

   O   c    t  o    b  e   r    1 ,    2    0    1    1

Paru : Suara nafas vesikuler +/+, wheezing , rhonki -/-Hepar : Tidak teraba pembesaran

Lien : Tidak teraba pembesaran

Ekstremitas : Akral hangat, edema (-), CRT < 2”, sianosis (-)

STATUS PSIKIATRI Tingkah laku : wajar Perasaan hati : baik  Orientasi : baik  Jalan fikiran : baik  Daya ingat : baik 

STATUS NEUROLOGI

Kesadaran : Compos Mentis, GCS : 15 ( E4M6V5)

Sikap tubuh : Berbaring terlentang Cara berjalan : Tidak dilakukan Gerakan abnormal : Tidak ada

Kepala

Bentuk : Normocephal Simetris : Simetris Pulsasi a.Temporalis : Teraba Nyeri tekan : Tidak ada

Leher

Sikap : Normal

Gerakan : Bebas tak terbatas Vertebrae : Dalam batas normal Nyeri tekan : Tidak ada

(4)

PRESENTASI KASUS 

   O   c    t  o    b  e   r    1 ,    2    0    1    1

TANDA RANGSANG MENINGEAL

Kanan Kiri Kaku kuduk : ( - ) Laseque : ( - ) ( - ) Kernig : ( - ) ( - ) Brudzinsky I : ( - ) ( - ) Brudzinsky II : ( - ) ( - ) NERVI KRANIALIS Kanan Kiri N I ( Olfactorius )

Daya penghidu : Normosmia Normosmia

N II ( Optikus )

Kanan Kiri

Ketajaman penglihatan : Baik Baik  Pengenalan warna : Baik Baik  Lapang pandang : Sama dengan pemeriksa Fundus : Tidak dilakukan

N III ( Occulomotoris )/ N IV ( Trochlearis )/ N VI ( Abducens )

Kanan Kiri Ptosis : ( - ) ( - ) Strabismus : ( - ) ( - ) Nistagmus : ( - ) ( - ) Exopthalmus : ( - ) ( - ) Enopthalmus : ( - ) ( - ) Gerakan bola mata :

Lateral : ( + ) ( + )

Medial : ( + ) ( + )

Atas lateral : ( + ) ( + ) Atas medial : ( + ) ( + ) Bawah lateral : ( + ) ( + )

(5)

PRESENTASI KASUS 

   O   c    t  o    b  e   r    1 ,    2    0    1    1 Bawah medial : ( + ) ( + ) Atas : ( + ) ( + ) Bawah : ( + ) ( + ) Gaze : ( + ) ( + ) Pupil : Ukuran pupil : Ø 3 mm Ø 3 mm Bentuk pupil : Bulat Bulat Isokor/anisokor : Isokor

Posisi : ditengah ditengah

Reflek cahaya langsung : ( + ) ( + ) Reflek cahaya tidak langsung : ( + ) ( + ) Reflek akomodasi/konvergensi: ( + ) ( + )

N V ( Trigeminus )

Kanan Kiri

Menggigit : Baik  Membuka mulut : Simetris

Sensibilitas atas : ( + ) ( + ) Tengah : ( + ) ( + ) Bawah : ( + ) ( + ) Reflek masseter : ( + ) ( + ) Reflek zigomatikus : ( + ) ( + ) Reflek kornea : Tidak dilakukan

Reflek bersin : Tidak dilakukan

N VII ( Facialis ) Pasif 

Kerutan kulit dahi : Simetris Kedipan mata : Simetris

Lipatan nasolabial : Simetris Sudut mulut : Simetris

(6)

PRESENTASI KASUS 

   O   c    t  o    b  e   r    1 ,    2    0    1    1 Aktif 

Mengerutkan dahi : Simetris Mengerutkan alis : Simetris Menutup mata : Simetris

Meringis : Simetris

Mengembungkan pipi : Simetris Gerakan bersiul : Baik 

Daya pengecapan lidah 2/3 depan: Tidak dilakukan Hiperlakrimasi : Tidak ada

Lidah kering : Tidak ada

N VIII ( Vestibulocochlearis )

Kanan Kiri

Mendengarkan suara gesekan jari tangan : ( + ) ( + ) Mendengar detik jam arloji : ( + ) ( + )

Test rinne : Tidak dilakukan

Test weber : Tidak dilakukan

Test swabach : Tidak dilakukan

N IX ( Glossopharyngeus )

Arcus pharynx : Simetris, tidak hiperemis

Posisi uvula : Di tengah

Daya pengecapan lidah 1/3 belakang : Tidak dilakukan Reflek muntah : Tidak dilakukan

N X ( Vagus )

Denyut nadi : Teraba, Reguler Arcus pharynx : Simetris

Bersuara : Baik 

(7)

PRESENTASI KASUS 

   O   c    t  o    b  e   r    1 ,    2    0    1    1 N XI ( Accesorius )

Memalingkan kepala : Normal Sikap bahu : Simetris Mengangkat bahu : Simetris

N XII ( Hipoglossus )

Menjulurkan lidah : Tidak ada deviasi Kekuatan lidah : Simetris

Atrofi lidah : Tidak ada Artikulasi : Baik  Tremor lidah : Tidak ada

MOTORIK Gerakan : Kekuatan : Tonus : Bentuk : REFLEK FISIOLOGI

Reflek tendon Kanan Kiri

Reflek bicep : ( + ) ( + ) Reflek tricep : ( + ) ( + ) Reflek brachioradialis : ( + ) ( + ) Reflek patella : ( + ) ( + ) Reflek achilles : ( + ) ( + ) Reflek periosteum : Tidak dilakukan

Bebas Bebas Terbatas Terbatas 5 5 5 5 5 5 5 5 2 2 2 2 2 2 2 2 Normotonus Normotonus Normotonus Normotonus Eutrofi Eutrofi Eutrofi Eutrofi

(8)

PRESENTASI KASUS 

   O   c    t  o    b  e   r    1 ,    2    0    1    1 Reflek permukaan

Dinding perut : Tidak dilakukan Cremaster : Tidak dilakukan Spincter ani : Tidak dilakukan

REFLEK PATOLOGIS Kanan Kiri Hoffman tromer : ( - ) ( - ) Babinski : ( - ) ( - ) Chaddok : ( - ) ( - ) Oppenheim : ( - ) ( - ) Gordon : ( - ) ( - ) Schafer : ( - ) ( - ) Klonus paha : ( - ) ( - ) Klonus kaki : ( - ) ( - ) SENSIBILITAS Kanan Kiri Eksteroseptif  Nyeri : ( + ) ( + ) Suhu : Tidak dilakukan

Taktil : ( + ) ( + ) Propioseptif 

Posisi : ( + ) ( + ) Vibrasi : Tidak dilakukan

Tekanan dalam : ( + ) ( + )

KOORDINASI DAN KESEIMBANGAN Test romberg : Tidak dilakukan Test tandem : Tidak dilakukan Test fukuda : Tidak dilakukan Disdiadokokenesis : Tidak dilakukan Rebound phenomen : Tidak dilakukan

(9)

PRESENTASI KASUS 

   O   c    t  o    b  e   r    1 ,    2    0    1    1

Dismetri : Tidak dilakukan Test tunjuk hidung : Tidak dilakukan Test telunjuk-telunjuk : Tidak dilakukan Test tumit lutut : Tidak dilakukan

FUNGSI OTONOM Miksi

Inkontinentia : Tidak ada kelainan Retensi : Tidak ada kelainan Anuria : Tidak ada kelainan

Defekasi

Inkontinentia : Tidak ada kelainan Retensi : Tidak ada kelainan

FUNGSI LUHUR

Fungsi bahasa : Baik  Fungsi orientasi : Baik  Fungsi memori : Baik  Fungsi emosi : Baik  Fungsi kognisi : Baik 

(10)

PRESENTASI KASUS 

   O   c    t  o    b  e   r    1 ,    2    0    1    1 RESUME ANAMNESA

Pasien datang ke RSPAD dengan keluhan utama kedua tungkai terasa lemah sejak 1 hari SMRS. Keluhan ini muncul secara tiba  – tiba setelah pasien selesai makan (makan nasi), awalnya kelemahan terjadi pada tungkai kirinya kemudian pasien beristirahat. Setelah istirahat, keluhan pasien tidak membaik  melainkan tungkai kanannya juga menjadi lemah sehingga pasien tidak mampu bangun dan berdiri. Pasien merasakan tungkai kanan dan kirinya semakin melemah dan akhirnya pasien dibawa ke RSPAD Gatot Soebroto. Pasien memakan makanan seperti biasanya, yaitu nasi, lauk, dan sayur. Porsi makannya  juga seperti biasa (1 piring). Pasien pernah megalami keluhan yang serupa

sebelumya dan dirawat di RS sebanyak 5 – 6 kali sejak tahun 2008.

PEMERIKSAAN

Status Internis :

Keadaan Umum : Tampak sakit sedang

Gizi : Baik 

Kesadaran : Compos mentis, GCS = 15 ( E4M6V5)

Tekanan darah kanan : 120/80 mmHg Tekanan darah kiri : 120/80 mmHg Nadi kanan : 78x/menit Nadi kiri : 78x/menit Pernapasan : 18 x/menit

Suhu : 36,7 0C

(11)

PRESENTASI KASUS 

   O   c    t  o    b  e   r    1 ,    2    0    1    1 Status Neurologis : Motorik : Gerakan : Kekuatan : Tonus : Bentuk : Reflek fisiologis : Kanan Kiri Reflek bicep : ( + ) ( + ) Reflek tricep : ( + ) ( + ) Reflek brachioradialis : ( + ) ( + ) Reflek patella : ( + ) ( + ) Reflek achilles : ( + ) ( + ) Reflek patologis : Kanan Kiri Hoffman tromer : ( - ) ( - ) Babinski : ( - ) ( - ) Chaddok : ( - ) ( - ) Oppenheim : ( - ) ( - ) Gordon : ( - ) ( - ) Schafer : ( - ) ( - ) Bebas Bebas Terbatas Terbatas 5 5 5 5 5 5 5 5 2 2 2 2 2 2 2 2 Normotonus Normotonus Normotonus Normotonus Eutrofi Eutrofi Eutrofi Eutrofi

(12)

PRESENTASI KASUS 

   O   c    t  o    b  e   r    1 ,    2    0    1    1

Hasil Pemeriksaan Penunjang :

 Laboratorium Jenis Pemeriksaan HASIL Rujukan 03 Okt 2011 04 Okt 2011 Albumin 4,6 3,5 – 5,0 g/dL SGOT 67 < 40 u/L SGPT 29 < 35 u/L Ureum 20 21 20 – 50 mg/dL Kreatinin 1,0 1,1 0,5 -1,5 mg/dL Natrium 145 143 135 – 145 mEq/L  Kalium 2,0 1,8 3,5 – 5,3 mEq/L Klorida 98 94 97 – 107 mEq/L Jenis Pemeriksaan HASIL Rujukan 05 Okt 2011 06 Okt 2011 07 Okt 2011

Natrium 144 144 147 135 – 145 mEq/L Kalium 2,3 2,0 2,2 3,5 – 5,3 mEq/L

Klorida 97 92 96 97 – 107 mEq/L

 EKG

Interpretasi : sinus rhytm, 69 x/menit, Normo aksis, P wave 0,08, PR interval 0,16, QRS kompleks 0,04, ST Δ (-), T changes (-)

(13)

PRESENTASI KASUS 

   O   c    t  o    b  e   r    1 ,    2    0    1    1 DIAGNOSIS

Diagnosis klinis : Paraparese Inferior tipe LMN Diagnosis topik : Miogenik 

Diagnosis etiologi : Paralisis periodik hipokalemia

DIAGNOSA BANDING : Guillian Barre Syndrom Myastenia Gravis

TERAPI

Non medikamentosa :

 Tirah baring

 Diet tinggi kalium

Medikamentosa :

 IVFD RL 20 tts / menit

 Koreksi KCL 25 mEq/ kolf. 12

 jam

 KSR 3x1 tablet

 Neurobion 2x1 tablet 500

PEMERIKSAAN ANJURAN

 Laboratorium : Darah lengkap : Hb, Ht, leukosit, trombosit

Kimia : Ureum, kreatinin, kolesterol, trigliserida, gula darah

Elektroit : Na, K, Cl

 EKG

 Foto rontgen thoraks

PROGNOSA

Ad vitam : Ad bonam Ad fungsionam : Ad bonam Ad santionam : Ad bonam Ad cosmeticum : Ad bonam

(14)

PRESENTASI KASUS 

   O   c    t  o    b  e   r    1 ,    2    0    1    1 FOLLOW UP :  Tanggal 04 Oktober 2011

S : Lemah kedua tungkai, demam (-), rasa baal (-), BAB dan BAK normal O : Keadaan Umum = Tampak Sakit Sedang

Kesadaran = CM (GCS = E4M6V5)

TD = 110/70 mmHg RR = 18 x/menit N = 82 x/menit T = 36,5°C

Status Neurologis :

Tanda perangsangan meningeal : (-) Tanda peningkatan TIK : (-)

Nervi kranialis : dalam batas normal Motorik : Gerakan : Tonus: Kekuatan : Bentuk : Reflek fisiologis : Kanan Kiri Reflek bicep : ( + ) ( + ) Reflek tricep : ( + ) ( + ) Reflek brachioradialis : ( + ) ( + ) Reflek patella : ( + ) ( + ) Reflek achilles : ( + ) ( + ) Reflek patologis : (-)

A : Diagnosa klinis : Paraparese Inferior tipe LMN Diagnosa topis : Miogenik 

Diagnosa etiologis : Paralisis periodik hipokalemia P : - IVFD RL 20 tts / menit

- Koreksi KCL 25 mEq/ kolf. 12 jam - KSR 3x1 tablet - Neurobion 2x1 tablet 500 Bebas Bebas Terbatas Terbatas Normotonus Normotonus Normotonus Normotonus 5 5 5 5 5 5 5 5 3 3 3 3 3 3 3 3 Eutrofi Eutrofi Eutrofi Eutrofi

(15)

PRESENTASI KASUS 

   O   c    t  o    b  e   r    1 ,    2    0    1    1  Tanggal 05 Oktober 2011

S : Lemah kedua tungkai (perbaikan)

O : Keadaan Umum = Tampak Sakit Sedang Kesadaran = CM (GCS = E4M6V5)

TD = 120/80 mmHg RR = 22 x/menit N = 80 x/menit T = 36,2°C

Status Neurologis :

Tanda perangsangan meningeal : (-) Tanda peningkatan TIK : (-)

Nervi kranialis : dalam batas normal Motorik : Gerakan : Tonus: Kekuatan : Bentuk : Reflek fisiologis : Kanan Kiri Reflek bicep : ( + ) ( + ) Reflek tricep : ( + ) ( + ) Reflek brachioradialis : ( + ) ( + ) Reflek patella : ( + ) ( + ) Reflek achilles : ( + ) ( + ) Reflek patologis : (-)

A : Diagnosa klinis : Paraparese Inferior tipe LMN Diagnosa topis : Miogenik 

Diagnosa etiologis : Paralisis periodik hipokalemia

P : - IVFD RL 20 tts / menit

- Koreksi KCL 25 mEq/ kolf. 12 jam - KSR 3x1 tablet - Neurobion 2x1 tablet 500 Bebas Bebas Bebas Bebas Normotonus Normotonus Normotonus Normotonus 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 Eutrofi Eutrofi Eutrofi Eutrofi

(16)

PRESENTASI KASUS 

   O   c    t  o    b  e   r    1 ,    2    0    1    1  Tanggal 06 Oktober 2011

S : Lemah kedua tungkai (perbaikan), sakit kepala, linu pada punggung sampai dengan pinggul

O : Keadaan Umum = Tampak Sakit Sedang Kesadaran = CM (GCS = E4M6V5)

TD = 110/70 mmHg RR = 18 x/menit N = 84 x/menit T = 36,7°C

Status Neurologis :

Tanda perangsangan meningeal : (-) Tanda peningkatan TIK : (-)

Nervi kranialis : dalam batas normal Motorik : Gerakan : Tonus: Kekuatan : Bentuk : Reflek fisiologis : Kanan Kiri Reflek bicep : ( + ) ( ++ ) Reflek tricep : ( + ) ( + ) Reflek brachioradialis : ( + ) ( + ) Reflek patella : ( + ) ( + ) Reflek achilles : ( + ) ( + ) Reflek patologis : (-)

A : Diagnosa klinis : Paraparese Inferior tipe LMN Diagnosa topis : Miogenik 

Diagnosa etiologis : Paralisis periodik hipokalemia P : - IVFD RL 20 tts / menit

- Koreksi KCL 25 mEq/ kolf. 12 jam - KSR 3x1 tablet - Neurobion 2x1 tablet 500 Bebas Bebas Bebas Bebas Normotonus Normotonus Normotonus Normotonus 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 Eutrofi Eutrofi Eutrofi Eutrofi

(17)

PRESENTASI KASUS 

   O   c    t  o    b  e   r    1 ,    2    0    1    1  Tanggal 07 Oktober 2011

S : Lemah kedua tungkai, demam (-), rasa baal (-), BAB dan BAK normal O : Keadaan Umum = Tampak Sakit Sedang

Kesadaran = CM (GCS = E4M6V5)

TD = 120/80 mmHg RR = 18 x/menit N = 80 x/menit T = 36,7°C

Status Neurologis :

Tanda perangsangan meningeal : (-) Tanda peningkatan TIK : (-)

Nervi kranialis : dalam batas normal Motorik : Gerakan : Tonus: Kekuatan : Bentuk : Reflek fisiologis : Kanan Kiri Reflek bicep : ( + ) ( + ) Reflek tricep : ( + ) ( + ) Reflek brachioradialis : ( + ) ( + ) Reflek patella : ( + ) ( + ) Reflek achilles : ( + ) ( + ) Reflek patologis : (-)

A : Diagnosa klinis : Paraparese Inferior tipe LMN Diagnosa topis : Miogenik 

Diagnosa etiologis : Paralisis periodik hipokalemia

P : - IVFD RL 20 tts / menit

- Koreksi KCL 25 mEq/ kolf. 12 jam - KSR 3x1 tablet - Neurobion 2x1 tablet 500 Bebas Bebas Bebas Bebas Normotonus Normotonus Normotonus Normotonus 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 Eutrofi Eutrofi Eutrofi Eutrofi

(18)

PRESENTASI KASUS 

   O   c    t  o    b  e   r    1 ,    2    0    1    1 ANALISA KASUS

Diagnosis pada pasien ini adalah :

Diagnosa Klinis : Paraparese inferior tipe LMN Diagnosa Topis : Miogenik 

Diagnosa Etiologi : Paralisis periodik hipokalemia

Diagnosis tersebut ditegakkan berdasarkan anamnesa, pemeriksaan fisik  dan pemeriksaan penunjang. Pada anamnesa :

o Tn. H 30 thn datang ke RSPAD Gatot Soebroto dengan keluhan utama, kedua

tungkai terasa lemah sejak 1 hari SMRS, pertama kali dirasakan pada tungkai kiri, kemudian tungkai kanan. Pasien tidak mengeluhkan rasa baal, kesemutan, bicara cadel, wajah mencong ke satu sisi.

Dari keluhan utama pasien menunjukkan adanya kelemahan akut pada daerah ekstremitas, hal ini dapat merupakan manifestasi klinis dari stroke, tetapi setelah dianamnesa lebih lanjut mengenai keluhan utamanya maka diagnosis stroke dapat dilemahkan karena pasien tidak mengeluhkan adanya gangguan sensoris dan gangguan pada saraf kranial, tetapi hal ini masih memungkinkan terjadi stroke apabila lesi hanya berada di korteks motorik. Selain itu keluhan pasien yang bersifat motorik dan timbul secara berkala, dapat mengarah kepada kelemahan tipe LMN, adapun penyakit yang dapat menimbulkan kelemahan tipe LMN adalah paralisis periodik, gullian barre sindrom, miastenia gravis

o Pasien menyangkal adanya keluhan sakit kepala, mual, muntah, gangguan

menelan, riwayat penurunan kesadaran maupun trauma/terjatuh, demam, batuk-pilek 

Berdasarkan keluhan pasien tersebut menunjukan bahwa tidak adanya tanda peningkatan intrakranial, dan gangguan fungsi otonom yang semakin melemahkan diagnosa stroke dan mempertegas bahwa kelemahan yang dialami pasien bersifat murni motorik. Selain itu melemahkan pula

(19)

PRESENTASI KASUS 

   O   c    t  o    b  e   r    1 ,    2    0    1    1

diagnosa gullian barre sindrom karena pasien tidak memiliki riwayat demam maupun batuk-pilek dalam 1 bulan terakhir.

Diagnosa miastenia gravis juga dapat dilemahkan karena pada miastenia gravis, kelemahan terutama terjadi pada otot yang sering digunakan seperti otot bola mata, otot – otot untuk menelan dan berbicara.

o Pasien mengeluhkan kelemahan ini setelah makan makanan berat (nasi),

Pasien memakan makanan seperti biasanya, yaitu nasi, lauk, dan sayur. Porsi makanannya juga seperti biasa (1 piring), Keluhan seperti ini sudah beberapa kali dialami pasien (± 6 kali) dan dirawat di RS.

Berdasarkan keluhan pasien semakin memperkuat diagnosa paralisis periodik, dimana kelemahan pada paralisis periodik dapat terjadi pada pagi hari sehabis bangun tidur, setelah aktivitas fisik yang berat maupun setelah memakan makanan dengan kandungan tinggi karbohidrat. Selain itu pada paralisis periodik juga tidak disertai dengan keluhan sensorik. Pasien juga sudah beberapa kali merasakan keluhan yang sama, hal ini menguatkan diagnosa periodik paralise yaitu serangan sudah terjadi berulang.

o Pada pemeriksaan fisik ditemukan kelemahan pada kedua tungkai, hal ini

sesuai dengan kepustakaan dimakan dikatakan bahwa pada periodik paralisis ini ditandai dengan kelemahan dari otot-otot skeletal episodik tanpa gangguan dari sensoris ataupun kognitif  yang berhubungan dengan kadar kalium yang rendah di dalam darah. Pada refleks fisiologis tidak didapatkan peningkatan refleks, hal ini menyingkirkan semua diagnose banding dari lesi UMN.

o Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan hipokalemia, hal ini menunjukkan

kelemahan otot pada pasien terjadi karena hipokalemia, menurut kepustakaan periodik paralise adalah kelainan yang ditandai dengan hilangnya kekuatan otot, umumnya terkait dengan abnormalitas K+dan abnormalnya respon akibat perubahan K+ dalam serum. Periodik paralise dapat dikelompokkan menjadi (1) Periodik paralise hipokalemia yang dapat disebabkan oleh : genetik, hipertiroid, hiperaldosteronism, gagal ginjal kronik dan idiopatik, (2) Periodik  paralise hiperkalemia. (3). Periodik paralise normokalemia

(20)

PRESENTASI KASUS 

   O   c    t  o    b  e   r    1 ,    2    0    1    1

o Pada pemeriksaan EKG tidak ditemukan adanya kelainan. Pada pasien

paralisis periodik hipokalemia perlu dilakukan pemeriksaan EKG, karena keadaan hipokalemia dapat mengganggu kerja dari organ lain, terutama sekali  jantung yang banyak sekali mengandung otot dan berpengaruh terhadap perubahan kadar kalium serum. Perubahan kerja jantung ini dapat dideteksi dari pemeriksaan elektrokardiogram (EKG). Perubahan pada EKG ini dapat mulai terjadi pada kadar kalium serum dibawah 3,5 dan 3,0 mEq/L. Kelainan yang terjadi berupa inversi gelombang T, timbulnya gelombang U dan ST depresi, pemanjangan dari PR, QRS, dan QT interval.

o Penatalaksaan pada pasien ini dilakukan berdasarkan :

Pada pasien ini diberikan IVFD RL 20 tetes per menit untuk memelihara keseimbangan cairan dan elektrolit, serta untuk memasukkan obat melalui vena.

Penatalaksanan priodik paralise hipokalemi harus didasari dengan prinsip terapi untuk keadaan hipokalemia, yaitu mengembalikan jumlah kalium dalam tubuh kembali ke nilai normal. Pemberian rutin kalium chlorida (KCL) 5 hingga 10 g per hari secara oral dapat mencegah timbulnya serangan pada kebanyakan pasien. Pada suatu serangan yang akut atau berat, KCL dapat diberikan melalui intravena dengan dosis inisial 0,05 hingga 0,1 mEq/KgBB dalam bolus pelan, diikuti dengan pemberian KCL dalam 5 % manitol dengan dosis 20 hingga 40 mEq. Kepustakaan lain KCL dapat diberikan dengan dosis 50 mEq/L dalam 250 cc larutan 5 % manitol. Monitoring kadar kalium tiap 2-4 jam perlu dilakukan untuk  menghindari hiperkalemia terutama pada pemberian secara intravena.

o Prognosis pada pasien in ad bonam, karena dengan pengobatan konservatif 

sebagian besar pasien akan pulih dan kembali menjalankan aktivitasnya dengan normal.

(21)

PRESENTASI KASUS 

   O   c    t  o    b  e   r    1 ,    2    0    1    1 DAFTAR PUSTAKA

1. Mesiano taufik. Periodik paralisis. Available from http://images.omynenny.multiply.multiplycontent.com/attachment/0/SGZO5woKCrs AAHuaWtE1/Periodik%20Paralisis.doc?nmid=92636614

2. Anonim. Periodic paralisys. Available from http://www.scribd.com/doc/36553519/PERIODIK-PARALISIS

3. Anonim. Hipokalemic periodic paralisys. Available from http://emedicine.medscape.com/article/1171678-overview

4. Price S A, Wilson L M. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit . Edisi VI. Jilid II Penerbit Buku Kedokteran Jakarta; EGC, 2004

5. Sudoyo A. W, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata K. M, Setiati S.  Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid I, Edisi IV. Jakarta : Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI, 2006

Referensi

Dokumen terkait

Pola makan pasien 3x sehari dengan porsi makanan nasi, sayur dan lauk. Saat sakit pun pasien tidak ada keluhan dalam makan, seperti kemampuan mengunyah, menelan, mual atau muntah

Beberapa akan muncul sebagai hasil dari kelemahan umum, yang lain akan menjadi efek samping dari terapi, tetapi gejala dapat juga muncul secara tiba-tiba dari patologis yang

Jika kebutuhan informasi seseorang muncul dengan tiba-tiba atau tidak terduga, misalnya terjadi ketika seseorang mencari informasi tentang pelajaran sekolah dan tiba-tiba

Pasien laki-laki usia (&gt; tahun datang dengan keluhan sesak napas se'ak  hari yang lalu. Keluhan ini semakin memberat kurang lebih 2 hari yang lalu. Keluhan ter'adi secara

Keluhan ini dialami pasien tiba-tiba saat pasien sedang mengerjakan pekerjaan rumah di dapur (memasak), karena merasa sisi tubuhnya melemah pasien segera

Pasien umur 10 bln dtng dengan keluhan muncul bintik berisi cairan menyebar di seluruh tubuh, awalnya timbul di selangkangan 1 mnggu lalu, diikuti muncul di seluruh tubuh 2 hari

A, 45 tahun datang dengan keluhan kelemahan anggota gerak kanan secara tiba-tiba sejak 1 minggu SMRS.. Keluhan tidak disertai dengan mulut merot dan bicara

43 2.2.4 Prinsip Perancangan Penanganan Pasien Pasca Stroke No Perilaku Pasien Pasca Stroke Teori Perilaku Aplikasi Rancangan 1 Emosi pasien terkadang muncul secara tiba-tiba