Optimasi proses pencampuran Cold Cream Virgin Coconut Oil dengan perbandingan kecepatan putar mixer dan lama pencampuran menggunakan desain faktorial - USD Repository

129 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi ( S.Farm )

Program Studi Ilmu Farmasi

Oleh :

Octavianus Rico Aditya Putra NIM : 068114040

FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(2)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi ( S.Farm )

Program Studi Ilmu Farmasi

Oleh :

Octavianus Rico Aditya Putra NIM : 068114040

FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(3)
(4)
(5)

I thank Christ Jesus our Lord

Who has given my strength

That He considers my faithfulness

Appointing me to His service

God is not unjust, He wil not forget

(6)
(7)

menyelesaikan penelitian dan skripsi yang berjudul “Optimasi Proses Pencampuran Cold Cream Virgin Coconut Oil Dengan Perbandingan Kecepatan Putar Mixer dan Lama Pencampuran Menggunakan Metode Desain Faktorial”. Penyusunan skripsi ini dilakukan guna memenuhi salah satu syarat untuk mendapatkan gelas sarjana farmasi (S.Farm) dari Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma.

Peneliti mampu menyelesaikan penelitian dan penyusunan skripsi ini juga didukung oleh banyak pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis tidak lupa ingin mengucapkan terima kasih kepada:

1. Mama, Papa, Dicky, Bulik Rini, Om Agus, dan kekasihku Agata Rista Andriani yang selalu setia mendoakan, mendukung, dan memberikan semangat dan perhatiannya yang tiada henti selama proses penelitian ini terhadap penulis.

2. Alm. Eyang Kakung dan Alm. Om Nus yang selalu menginspirasi penulis selama proses penelitian ini.

3. Rita Suhadi M.Si., Apt. Selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

(8)

6. Semua dosen Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma atas bimbingannya selama ini.

7. Teman-teman FST (Dhani, Intan, Adit, Angel, Aya, Henny, Octav, Micell, Robby, Rudi, Bayu, Uut, Tony, Boim, Pius, Thomas, Nieca, Pungki, Jimmy) dan Tim Yari–Yari (Aroma, Yuni, Inge, Grace L, Dini, Ayu, Winny) yang telah memberikan bantuan, dukungan dan semangat.

8. Teman–teman di kontrakan Mas Banu, Mas Andhika, Mas Dismas, Nico atas bantuan fasilitas, saran, dan kebersamaan selama ini.

9. Teman–teman di lab. Semi Solid (Eka Hapsari, Reni, Iren, Nia, Shinta, Lulu, Irene A, Rani, Cica, Zee, Grace, Yosephine, Lia, Ardhani ) atas kerjasama dan bantuannya.

10.Mas Agung, Pak Musrifin, Mas Sigit, Mas Ottok dan Mas Iswandi, serta laboran-laboran lain atas dukungan dan bantuannya.

(9)
(10)

coconut oil serta mengetahui apakah diperoleh area proses pencampuran optimum yang menghasilkan sediaan cold cream virgin coconut oil dengan sifat fisik dan stabilitas fisik yang memenuhi persyaratan.

Penelitian ini memakai rancangan eksperimental murni dengan metode desain faktorial dua faktor: kecepatan putar mixer-lama pencampuran, dengan dua level. Subjek dalam penelitian ini adalah cold cream virgin coconut oil. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah kecepatan putar mixer dan lama pencampuran. Level rendah dan tinggi yang digunakan dalam penelitian ini untuk kecepatan putar mixer yaitu 400 rpm dan 500 rpm, dan untuk lama pencampuran 10 menit dan 20 menit. Variabel tergantung adalah sifat fisik yang meliputi ukuran droplet, viskositas, dan daya sebar serta stabilitas fisik yang meliputi perubahan ukuran droplet dan pergeseran viskositas setelah penyimpanan satu bulan. Data hasil penelitian dianalisis secara statistik dengan menggunakan ANOVA yang didahului perhitungan yate's treatment dengan tingkat kepercayaan 95%.

Berdasarkan hasil penelitian, faktor kecepatan putar mixer, lama pencampuran dan interaksi antara keduanya tidak ada yang berpengaruh signifikan pada respon ukuran droplet, daya sebar, viskositas, dan pergeseran viskositas. Selain itu dari penelitian ini, tidak diperoleh area proses pencampuran optimum cold cream virgin coconut oil pada level yang diteliti.

Kata kunci : cold cream, virgin coconut oil, kecepatan putar mixer, lama pencampuran, desain faktorial.

(11)

mixing process area which produce virgin coconut oil cold cream with good physical properties and physical stabilities.

This study was experimental research with two factors which were mixing duration-mixing rate, with two levels factorial design. The subject in this study was virgin coconut oil cold cream. The independent variables of this study were mixing rate and mixing duration. High level and low level used for mixing rate were 400 rpm and 500 rpm, and for mixing duration were 10 minutes and 20 minutes, respectively. On the mixing process, response were referred to their physical properties such as globule size, viscosity, and spreadability, and their physical stabilities such as globule size alteration over one month storage and viscosity shift over one month storage. The data were analyzed statistically using ANOVA following yate's treatment with 95% level of confidence.

The result of this research showed that, mixing duration, mixing rate and interaction of both did not significantly affect the drop size, viscosity, spreadability, and viscosity shift responses. Beside, optimum mixing area could not be obtained on the level studied in this research.

(12)

HALAMAN JUDUL ………... ii

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING………... iii

HALAMAN PENGESAHAN………....………… iv

HALAMAN PERSEMBAHAN... v

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI... vi

PRAKATA... vii

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA... ix

INTISARI... x

ABSTRAK... xi

DAFTAR ISI... xii

DAFTAR TABEL... xvi

DAFTAR GAMBAR... xvii

DAFTAR LAMPIRAN... xix

BAB I. PENGANTAR... 1

A. Latar Belakang... 1

B. Perumusan Masalah... 3

C. Manfaat Penelitian... 4

D. Keaslian Penelitian... 4

E. Tujuan Penelitian... 5

(13)

2. Cold cream... 7

C. Pencampuran... 8

D. Mixer... 9

E. Pembentukan Droplet... 11

F. Uji Sifat Fisik... 12

1. Viskositas... 12

2. Daya sebar... 13

G. Stabilitas Emulsi... 13

1. Flokulasi ... 13

2. Creaming... 14

3. Coalesence... 14

4. Inversi... 15

H. Mikromeritik... 17

I. Metode Desain Faktorial... 19

J. Landasan Teori... 21

K. Hipotesis... 23

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN... 24

A. Jenis dan Rancangan Penelitian... 24

B. Variabel Dalam Penelitian... 24

(14)

E. Tata Cara Penelitian... 27

1. Formula... 27

2. Pembuatan cold cream virgin coconut oil... 29

3. Uji sifat fisik dan stabilitas cold cream virgin coconut oil... 30

a. Uji daya sebar………. 30

b. Pengujian viskositas………...… 30

c. Uji tipe emulsi……… 30

d. Mikromeritik……….. 31

4. Penentuan contour plot sifat fisik cold cream virgin coconut oil. 31 5. Pemilihan area optimum berdasarkan desain faktorial... 32

F. Analisis Hasil... 32

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN………. 34

A. Pembuatan Cold Cream Virgin Coconut Oil ...………... 34

B. Penentuan Tipe Emulsi Cold Cream Virgin Coconut Oil .………... 39

1. Penambahan salah satu fase secara berlebih………... 41

2. Penambahan zat warna larut air………...………. 41

C. Sifat Fisik dan Stabilitas Cold Cream Virgin Coconut Oil ... 43

1. Uji sifat fisik cold cream virgin coconut oil……….... 46

a. Distribusi ukuran partikel (droplet)………... 46

(15)

b. Pergeseran ukuran partikel (droplet)……….. 58

D. Optimasi Proses Pencampuran……….. 64

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN………... 67

A. KESIMPULAN………. 67

B. SARAN………. 67

DAFTAR PUSTAKA………... 68

LAMPIRAN……….. 71

(16)

Level... 20

Tabel II. Rancangan Percobaan Desain Faktorial... 29

Tabel III. Formula Hasil Modifikasi ………... 35

Tabel IV. Tabel Respon Hasil Percobaan …... 44

Tabel V. Perhitungan Efek dari Tiap Faktor dan Interaksi …... 45

Tabel VI. Tabel ANOVA Ukuran Droplet Hasil Analisis Yate's Treatment .. 48

Tabel VII. Tabel ANOVA Viskositas Hasil Analisis Yate's Treatment... 51

Tabel VIII. Tabel ANOVA Daya Sebar Hasil Analisis Yate's Treatment... 54

Tabel IX. Tabel ANOVA Pergeseran Viskositas Hasil Analisis Yate's Treatment... 59

Tabel X. Tabel Uji Normalitas Formula 1... 61

Tabel XI. Tabel Uji Normalitas Formula a... 61

Tabel XII. Tabel Uji Normalitas Formula b... 61

Tabel XIII. Tabel Uji Normalitas Formula ab... 62

Tabel XIV. Tabel Uji Homogenitas... 62

Tabel XV. Pengujian Paired T Test Rata-Rata Mean Surface Diameter...62

Tabel XVI. Hasil Uji Analysis of Variance Daya Sebar……….…….65

(17)

Gambar 2. Sigma Blade Mixer... 11 Gambar 3. Variasi dari Rata-Rata Diameter Droplet, dengan Kajian Faktor

Lama Pencampuran Pada Variasi Lama yang Ditentukan... 12 Gambar 4. Contoh Grafik Distribusi Frekuensi Ukuran Partikel...18 Gambar 5. Susunan Molekul Tween 40 dan Span 80 Pada Lapisan Batas

Droplet……….………...………... 38 Gambar 6. Hasil Uji Pengenceran Cream dengan Penambahan Fase Air Secara

Berlebih ………..…………. 41 Gambar 7. Hasil Pengujian Tipe Cold Cream Virgin Coconut Oil dengan

Menggunakan Methylene Blue... 42 Gambar 8. Grafik Hubungan Antara Kecepatan Putar dan Lama Pencampuran

Terhadap Ukuran Droplet... 47 Gambar 9. Grafik Hubungan Antara Kecepatan Putar dan Lama Pencampuran

Terhadap Viskositas... 50 Gambar 10. Grafik Hubungan Antara Kecepatan Putar dan Lama Pencampuran

Terhadap Daya Sebar... 53 Gambar 11. Grafik Hubungan Antara Kecepatan Putar dan Lama Pencampuran

(18)
(19)

Lampiran 2. Data Daya Sebar ……….………...…………... 72

Lampiran 3. Data Stabilitas………...……...………... 74

Lampiran 4. Data Mikromeritik... 75

Lampiran 5. Frekuensi Nilai Tengah Interval Ukuran Droplet... 82

Lampiran 6. Perhitungan Efek Sifat Fisik dan Stabilitas... 84

Lampiran 7. Persamaan Regresi... 88

Lampiran 8. Perhitungan Yate’s Treatment ………...……….... 96

Lampiran 9. Data Uji Normalitas, Uji homogenitas dan Uji Paired t Test Hari 1 dan hari 30... 103

Lampiran 11. Hasil uji Analysis of Variance Daya Sebar dan Viskositas ……. 107

(20)

BAB I

PENGANTAR A. Latar Belakang

Masalah kulit kering pada kondisi tertentu dapat disebabkan karena kandungan air di dalam stratum corneum yang relatif lebih sedikit bila dibandingkan dengan kondisi kulit normal. Untuk mengatasi masalah kulit kering, sebagian besar masyarakat menggunakan produk pelembab untuk menjaga kelembaban kulit dari pengaruh lingkungan.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memberikan banyak informasi mengenai manfaat hasil alam yang belum dimanfaatkan secara optimal, salah satunya adalah manfaat dari minyak kelapa yang lebih sering disebut sebagai virgin coconut oil atau VCO. Kandungan asam lemak (terutama asam laurat dan oleat) yang tinggi berguna untuk melembutkan kulit dan berdasarkan pernyataan Schwartz (2006) diketahui bahwa virgin coconut oil berguna untuk menjaga kelembaban kulit dengan mekanisme moisturizer. Mekanisme virgin coconut oil sebagai moisturizer adalah dengan cara membentuk lapisan tipis di permukaan kulit (occlusive) yang mencegah hilangnya air dari dalam kulit.

Apabila virgin coconut oil langsung digunakan pada kulit untuk menggantikan fungsi pelembab komersial, maka akan menimbulkan rasa yang kurang nyaman. Oleh karena itu virgin cocout oil dibuat dalam bentuk cold cream. Cold cream virgin coconut oil diformulasikan sebagai emulsi minyak

(21)

nyaman ketika diaplikasikan pada kulit karena cream tidak memberikan sensasi lengket dan cream tipe ini mudah untuk dibilas dengan menggunakan air mengalir.

Berdasarkan pernyataan Voigt (1994), proses pencampuran adalah bagian penting dalam pembuatan suatu sediaan sehingga perlu dilakukan optimasi proses pencampurannya. Pada proses pembuatan cream ada banyak faktor yang mempengaruhi proses pencampuran, antara lain temperatur, kecepatan geser, tegangan geser, dan waktu pencampuran (Nielloud dan Mestres, 2000).

Pada penelitian kali ini proses pencampuran yang dioptimasi adalah kecepatan putar mixer dan lama pencampuran. Dilakukan optimasi terhadap lama pencampuran karena pencampuran yang berlangsung lama tidak menjamin tercapainya homogenitas ideal yang dikehendaki, sebab proses pencampuran maupun proses pemisahan pada saat yang sama berlangsung secara kompetitif dan tetap (Voigt, 1994). Optimasi terhadap kecepatan putar mixer dan lama pencampuran perlu dilakukan karena kedua faktor tersebut memberikan gaya geser selama proses pencampuran. Gaya geser yang dihasilkan dari kecepatan putar mixer dan lama pencampuran dapat mempengaruhi sifat fisik cold cream virgin coconut oil yang dihasilkan. Gaya geser yang diaplikasikan selama proses

(22)

memenuhi persyaratan mutu dan relatif optimal dalam sifat fisik dan kestabilannya.

Metode yang digunakan pada optimasi proses cold cream virgin coconut oil dengan perbandingan kecepatan putar mixer dan lama pencampuran adalah desain faktorial yang menyimpulkan dan mengevaluasi secara objektif efek besaran yang berpengaruh terhadap kualitas sediaan. Dengan demikian, desain faktorial dapat memprediksi area kondisi antara kecepatan putar mixer dan lama pencampuran optimum pada proses pembuatan sediaan cold cream virgin coconut oil.

B. Perumusan Masalah

1. Antara kecepatan putar mixer, lama pencampuran, dan interaksi keduanya manakah yang berpengaruh signifikan terhadap sifat fisik dan stabilitas cold cream virgin coconut oil.

(23)

C. Manfaat Penelitian

1. Manfaat teoritis

Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat memberi sumbangan untuk alternatif formulasi virgin coconut oil khususnya proses pencampuran dalam sediaan cold cream yang berasal dari bahan alam.

2. Manfaat praktis

Penelitian ini bermanfaat untuk mengetahui kondisi optimal antara kecepatan putar mixer dan lama pencampuran yang menentukan sifat fisik dan stabilitas cold cream virgin coconut oil.

3. Manfaat metodologis

Menambah informasi dalam bidang kefarmasian mengenai penggunaan desain faktorial dalam formulasi.

D. Keaslian Penulisan

(24)

Pecampuran Lotion Virgin Coconut Oil Dengan Kajian Penelitian Kecepatan putar Mixer dan Waktu Pencampuran menggunakan Metode Desain Faktorial

E. Tujuan Penelitian

1. Mengetahui faktor yang berpengaruh signifikan terhadap sifat fisik dan stabilitas cold cream virgin coconut oil.

(25)

BAB II

PENELAAHAN PUSTAKA

A. Virgin Coconut Oil

Virgin coconut oil merupakan salah satu hasil olahan dari daging buah

kelapa (Cocos nucifera L.) yang masih segar (Shilhavy, 2005). Virgin coconut oil merupakan minyak yang diperoleh dari buah kelapa tanpa mengalami pemanasan. Virgin coconut oil mempunyai kenampakan bening serta mengandung banyak

asam laurat. Selain itu, virgin coconut oil mengandung asam lemak rantai menengah (Medium Chain Fatty Acid/MCFA) (Timoti, 2005).

Kandungan asam lemak (terutama asam laurat dan oleat) dalam virgin coconut oil, sifatnya melembutkan kulit. Minyak kelapa ini akan membantu

menghilangkan sel kulit yang sudah mati yang membuat kulit menjadi lebih halus (Lucida, Hosiana, dan Muharmi, 2008). Mekanisme virgin coconut oil sebagai moisturizer adalah dengan cara membentuk lapisan tipis di permukaan kulit (occlusive) yang mencegah hilangnya air dari dalam kulit (Schwartz, 2006).

B. Cream

1. Karakteristik cream

Cream adalah bentuk sedíaan setengah padat mengandung satu atau

(26)

yang terdiri dari emulsi minyak dalam air atau dispersi mikrokristal asam-asam lemak atau alkohol berantai panjang dalam air yang dapat dicuci dengan air dan lebih ditunjukkan untuk penggunaan kosmetika dan estetika (Anonim, 1995).

Terdapat dua tipe cream, yaitu cream tipe air minyak (A/M) dan cream minyak air (M/A). Untuk membuat cream digunakan zat pengemulsi, umumnya berupa surfaktan-surfaktan anionik, kationik, dan nonionik. Cream tipe A/M digunakan sabun polivalen, span, adeps lanae, colesterol, cera, sedangkan untuk cream tipe M/A digunakan sabun monovalen seperti: natrium stearat, kalium

stearat, dan ammonium stearat. Untuk penstabil cream ditambahkan zat antioksidan dan zat pengawet seperti nipagin (0,12-0,18%) atau nipasol (0,02-0,05%) (Anief, 2000).

2. Cold cream

Cold cream merupakan emulsi untuk kosmetik yang memiliki sejarah,

(27)

C. Pencampuran

Proses pencampuran adalah salah satu proses penting dalam pembuatan sediaan obat. Fungsinya untuk memungkinkan tercapainya homogenitas campuran dua atau lebih bahan. Prinsip dasar pencampuran terletak pada penyusupan partikel bahan yang satu diantara partikel bahan lainnya (Voigt, 1994). Tingkat pencampuran tergantung pada lama pencampuran, meskipun demikian pencampuran yang berlangsung lama tidak menjamin tercapainya homogenitas ideal yang dikehendaki, sebab proses pencampuran maupun proses pemisahan pada saat yang sama berlangsung secara kompetitif dan tetap (Voigt, 1994).

(28)

Faktor-faktor yang berhubungan dengan fase dispers meliputi perbandingan volume fase, distribusi ukuran droplet, dan viskositas dari fase dalam itu sendiri. Jadi, jika konsentrasi volume dari fase terdispersi rendah, (kurang dari 0,05), sistem tersebut newton. Dengan naiknya volume, sistem tersebut menjadi lebih tahan terhadap aliran dan menunjukkan karakteristik aliran pseudoplastis. Pada konsentrasi yang cukup tinggi, terjadi aliran plastis. Jika konsentrasi mendekati 0,74, mungkin terjadi inversi dengan berubahnya viskositas secara nyata (Martin, 1993).

D. Mixer

Salah satu faktor yang berpengaruh dalam pemilihan mixer untuk pencampuran sediaan semipadat adalah viskositas sediaan tersebut (Lachman, Lieberman, dan Kanig, 1994). Sediaan semipadat umumnya memiliki viskositas cukup tinggi. Mixer yang sesuai adalah mixer yang elemen putarnya dapat menghasilkan gaya geser yang cukup tinggi (Aulton, 2002).

Permasalahan yang sering muncul pada pencampuran semisolid pada kenyataannya berbeda dengan pencampuran sediaan padat atau cair, sediaan semisolid akan lebih sukar mengalir, dimana akan ditemukan daerah ”dead spots”. Harus digunakan mixer yang sesuai dengan pencampuran pada sediaan semisolid (Aulton, 2002). Mixer yang digunakan untuk semisolid ada dua macam yaitu:

(29)

di tengah dan terpasang pada lengan yang berputar. Terjadi perputaran ganda yaitu perputaran pisau pada sumbunya dan perputaran lengan mengelilingi mangkuk yang digunakan untuk mencampur. Jadi seperti perputaran bumi pada porosnya sambil berputar mengelilingi matahari.

Disebut planetary mixer karena pencampurannya dilakukan oleh roda gigi planetary yang dipasangkan pada mixer blade dengan gesekan di sekitar ring gear mengitari mixer blade. Kelemahan terbesar dari alat ini adalah terbatasnya jumlah batch yang dapat diproduksi (Lantz dan Schwartz, 1990). Sebuah stirrer mekanik (mixer) dengan variasi impellers dapat digunakan untuk menghasilkan emulsi. Bagian propeller harus ditempatkan secara langsung dalam sistem agar dapat mengemulsikan fase yang dicampur. Caranya dengan mendorong campuran dari liquid melewati sela-sela propeller pada tekanan tinggi, hal tersebut akan menyebabkan droplet pecah (Allen, 2002).

Gambar 1. Planetary Mixer (Aulton, 2002)

(30)

Gambar 2. Sigma Blade Mixer (Aulton, 2002)

E. Pembentukan Droplet

Droplet terbentuk oleh karena droplet primer yang besar mendapat tekanan dari proses pengadukan, yang menyebabkan pemanjangan dari semua atau pada bagian tertentu dari droplet primer tersebut, yang kemudian diikuti dengan peningkatan permukaan dari bagian yang mengalami pemanjangan (menjadi tidak stabil), kemudian droplet primer pecah menjadi droplet-droplet, biasanya menjadi satelit droplet yang lebih kecil (Peters, 1997).

Sejauh ini kondisi dalam pencampuran selalu dianggap alirannya tetap, akan tetapi pada prakteknya sangat mungkin pencampuran di bawah kondisi turbuler dan laminer. Lama proses pencampuran penting dalam menentukan: (a)

(31)

Lama pencampuran (menit)

Gambar 3. Variasi dari Rata-Rata Diameter Droplet, dengan Kajian Faktor Lama Pencampuran pada Variasi Lama yang Ditentukan (Peter, 1997)

Gambar 3 memberikan gambaran variasi ukuran droplet yang dapat dihasilkan dari beberapa kondisi pencampuran. Profil ukuran droplet yang dihasilkan sangat tergantung dari kapasitas emulgator dalam sistem emulsi. Sistem yang digunakan pada gambar 3 merupakan suatu emulsi minyak dalam air dengan konsentrasi fase minyak 20% (Peter, 1997).

F. Uji Sifat Fisik 1. Viskositas

Viskositas adalah suatu pernyataan tahanan dari suatu cairan untuk mengalir, maka makin tinggi viskositas akan makin besar tahanannya (Martin dkk, 1993). Viskositas, elastisitas, dan rheologi merupakan karakteristik formulasi yang penting pada produk akhir sediaan semisolid. Peningkatan viskositas akan menaikkan lama retensi pada tempat aksi tetapi akan menurunkan daya sebar (Garg dkk, 2002).

(32)

Daya sebar berhubungan dengan sudut kontak antara sediaan dengan tempat aplikasinya yang mencerminkan kelicinan (lubricity) sediaan tersebut, yang berhubungan langsung dengan koefisien gesekan. Daya sebar merupakan karakteristik yang penting dari formulasi sediaan topikal dan bertanggung jawab untuk ketepatan transfer dosis atau melepaskan bahan obatnya, dan kemudahan penggunaannya (Garg dkk, 2002).

G. Stabilitas Emulsi

Emulsi yang stabil adalah dimana gelembung fase terdispersinya tetap memiliki sifat asalnya dan terdistribusi secara merata dalam fase kontinyu. Bermacam-macam tipe deviasi dari emulsi yang ideal dapat terjadi (Aulton, 2002).

1. Flokulasi

Flokulasi disebabkan oleh droplet yang terdispersi menjadi sekumpulan dalam emulsi. Droplet memiliki kekhasan tersendiri sebagai satu unit, tetapi sekumpulan droplet menunjukkan secara fisik sebagai satu unit, hal tersebut akan meningkatkan terjadinya creaming. Flokulasi mendahului terjadinya creaming, semua faktor yang menangani atau mencegah flokulasi akan menjaga kestabilan emulsi (Aulton, 2002).

2. Creaming

Creaming adalah pemisahan emulsi menjadi 2 bagian, dimana bagian

(33)

Peningkatan creaming sangat memungkinkan terjadinya coalesence dari droplet, karena kedua hal tersebut sangat erat hubungannya (Aulton, 2002).

Pertimbangan dari aplikasi kualitatif hukum Stokes akan menunjukkan bahwa kecepatan terbentuknya creaming dapat dikurangi dengan metode-metode berikut:

a. Produksi emulsi dengan ukuran droplet kecil: Sebuah agen pengemulsi tidak hanya menstabilkan emulsi tetapi juga memfasilitasi proses emulsifikasi yang sebenarnya untuk menghasilkan produk dengan ukuran droplet yang baik.

b. Meningkatnya viskositas dari fase kontinyu. Menyimpan produk pada suhu rendah akan meningkatkan viskositas dari fase kontinyu dan mengurangi energi kinetik dari sistem.

c. Mengurangi perbedaan densitas antara kedua fase.

d. Mengontrol konsentrasi fase dispersi. Konsentrasi fase dispers yang lebih tinggi akan menghasilkan halangan pada pergerakan droplet dan menyebabkan pengurangan dari creaming (Aulton, 2002).

3. Coalesence

Coalesence dari gelembung minyak pada emulsi O/W tertahan

(34)

peningkatan luas permukaan dan karenanya meningkatkan energi bebas permukaan total, penyimpangan bentuk gelembung ini akan tertahan dan pengeringan film fase kontinyu dari antara dua gelembung akan tertunda (Aulton, 2002).

4. Inversi

Inversi merupakan proses dimana emulsi berubah dari satu tipe ke tipe lainnya misalnya dari O/W ke W/O. Range yang paling stabil untuk konsentrasi fase dispers adalah 30-60%. Jika sejumlah fase dispers mendekati atau melebihi batas maksimum secara teori dari 74% dari total volume, maka fase inversi dapat terjadi. Penambahan substansi yang dapat merubah solubilitas dari agen pengemulsi kemungkinan dapat menyebabkan inversi. Proses yang terjadi adalah irreversibel (Winfield dan Richards, 2004).

(35)

menyebabkan kerusakan dan karena itulah penting untuk sebisa mungkin melindungi produk tersebut dari adanya mikroorganisme selama pembuatan, penyimpanan, dan pemakaian, dan karena itu produk mengandung preservatif yang sesuai.

Uji stabilitas emulsi penting untuk mengetahui apakah sebuah emulsi tetap stabil selama periode lama tertentu, uji yang biasa dilakukan adalah: a. Uji makroskopik. Stabilitas fisik dari emulsi dapat diketahui dengan uji

derajat creaming atau coalesence yang terjadi pada periode lama tertentu, pengujian ini dilakukan dengan menghitung rasio volume emulsi yang mengalami pemisahan dibandingkan volume total emulsi.

b. Analisis ukuran droplet. Jika rata-rata droplet meningkat seiring bertambahnya lama (bersamaan dengan penurunan jumlah droplet), dapat diasumsikan bahwa coalesence adalah penyebabnya.

(36)

H. Mikromeritik

Mikromeritik adalah ilmu dan teknologi tentang partikel kecil. Satuan ukuran partikel yang sering digunakan dalam mikromeritik adalah mikrometer (μm) yang sering disebut mikron. Dalam bidang farmasi ada informasi yang perlu diperoleh dari partikel yaitu (1) bentuk dan luas permukaan partikel dan (2) ukuran partikel dan distribusi ukuran partikel (Martin dkk, 1993). Data tentang ukuran partikel diperoleh dalam diameter partikel dan distribusi diameter (ukuran) partikel, sedang bentuk partikel memberikan gambaran tentang luas permukaan spesifik partikel dan texture-nya (kasar atau halus permukaan partiklel) (Martin dkk, 1993).

(37)

dari suatu sampel harus tetap dilakukan bahkan jika digunakan metode analisis ukuran partikel yang lain, karena adanya gumpalan dari masing-masing partikel lebih dari satu komponen sering kali dideteksi dengan metode mikroskopik (Martin dkk, 1993).

Distribusi ukuran partikel, jika jumlah atau berat partikel yang terletak dalam suatu kisaran ukuran tertentu diplot terhadap kisaran ukuran atau ukuran partikel rata–rata, akan diperoleh kurva distribusi frekuensi. Grafik kurva distribusi frekuensi biasa ditunjukkan seperti pada gambar :

Gambar 4. Contoh Grafik Distribusi Frekuensi Ukuran Partikel (Martin dkk, 1993)

(38)

I. Metode Desain Faktorial

Desain faktorial merupakan aplikasi persamaan regresi yaitu teknik untuk memberikan model hubungan antara variabel dengan satu atau lebih variabel bebas. Model yang diperoleh dari analisis tersebut berupa persamaan matematika. Desain faktorial dua level berarti ada dua faktor (misal A dan B) yang masing-masing faktor diuji pada dua level yang berbeda yaitu level rendah dan level tinggi. Dengan desain faktorial dapat didesain suatu percobaan untuk mengetahui faktor yang dominan berpengaruh terhadap suatu respon (Bolton, 1997).

Optimasi campuran dua bahan (ada dua faktor) dengan desain faktorial (two level factorial design) dilakukan berdasarkan rumus:

Y = bo + b1X1 + b2X2 + b12X1X2 ...(1) Dengan:

Y = Respon hasil atau sifat yang diamati X1, X2 = Level bagian A, level bagian B

(39)

untuk percobaan IV (Bolton, 1997). Respon yang diukur harus dapat dikuantitatifkan.

Rancangan percobaan desain faktorial sebagai berikut:

Tabel I. Rancangan Percobaan Desain Faktorial dengan Dua Faktor dan Dua Level

Percobaan Faktor A Faktor B Interaksi

1 - - +

a + - -

b - + -

ab + + +

Keterangan:

(-) = level rendah (+) = level tinggi

Percobaan (1) = faktor A level rendah, faktor B rendah Percobaan a = faktor A level tinggi, faktor B rendah Percobaan b = faktor A level rendah, faktor B tinggi Percobaan ab = faktor A level tinggi, faktor B tinggi

Berdasarkan persamaan tersebut dengan substitusi secara matematis, dapat dihitung besarnya efek masing–masing faktor, maupun efek interaksi. Besarnya efek dapat dicari dengan menghitung selisih antara rata–rata respon pada level tinggi dan rata–rata level rendah. Konsep perhitungan efek menurut Bolton (1997) sebagai berikut:

Efek faktorial I = [(a-(1)) + (ab-b)] / 2 Efek faktorial II = [(b-(1)) + (ab-a)] / 2 Efek faktorial III = [(ab-(b)) + (a-(1)] / 2

(40)

menentukan respon. Keuntungan utama desain faktorial adalah bahwa metode ini memungkinkan untuk mengidentifikasi efek masing–masing faktor, maupun efek interaksi antar faktor. Metode ini ekonomis, dapat mengurangi jumlah penelitian jika dibandingkan dengan meneliti dua efek faktor secara terpisah (Bolton, 1997).

J. Landasan Teori

Proses pencampuran merupakan faktor yang sangat penting dalam membuat cold cream virgin coconut oil, terutama terhadap sifat fisik sediaan dan stabilitas cream itu sendiri. Dengan kata lain untuk mendapatkan sediaan cold cream virgin coconut oil yang memiliki sifat fisik dan stabilitas sesuai dengan

syarat yang ditentukan, harus dilakukan dengan proses pencampuran yang tepat. Sifat fisik dan karakteristik dari senyawa dan campurannya, metode preparasi (kecepatan pencampuran, tipe peralatan), lama pencampuran, dan sifat rheologi formula mempengaruhi hasil yang didapat.

(41)

Hasil pencampuran dipengaruhi oleh lama pencampuran, meskipun demikian pencampuran yang berlangsung lama tidak menjamin tercapainya homogenitas ideal yang dikehendaki, sebab proses pencampuran maupun pemisahan pada saat yang sama berlangsung secara kompetitif dan tetap. Sifat fisik cold cream virgin coconut oil juga dipengaruhi oleh kecepatan putar mixer. Droplet terbentuk karena droplet primer yang besar mendapatkan tekanan dari proses pengadukan yang berasal dari kecepatan putar mixer dan lama pencampuran, yang menyebabkan pemanjangan dari semua atau pada bagian tertentu dari droplet primer tersebut, yang kemudian diikuti dengan peningkatan permukaan dari bagian yang mengalami pemanjangan, dan kemudian droplet primer pecah menjadi satelit droplet yang lebih kecil.

(42)

K. Hipotesis

a. Faktor kecepatan putar mixer, lama pencampuran, dan interaksi keduanya berpengaruh signifikan terhadap respon sifat fisik dan stabilitas cold cream virgin coconut oil.

(43)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis dan Rancangan Penelitian

Jenis penelitian yang dilakukan adalah jenis penelitian quasi eksperimental dengan desain penelitian secara desain faktorial dua faktor dan dua level, yaitu dengan menentukan proses pencampuran optimal yang optimum dalam menghasilkan cold cream virgin coconut oil dengan sifat fisik yang diharapkan.

B. Variabel dalam Penelitian

1. Variabel bebas: kecepatan putar mixer (400 rpm dan 500 rpm) dan lama pencampuran (10 menit dan 20 menit).

2. Variabel tergantung: sifat fisik yang meliputi ukuran droplet, daya sebar, dan viskositas dan stabilitas fisik yang meliputi perubahan ukuran doplet dan pergeseran viskositas setelah penyimpanan 1 bulan.

3. Variabel pengacau terkendali: alat percobaan, kualitas bahan yang digunakan, formula cold cream, suhu pencampuran (70°C), dan wadah pencampuran. 4. Variabel pengacau tak terkendali: suhu dan kelembaban selama penyimpanan.

C. Definisi Operasional

(44)

2. Sifat fisik cold cream virgin coconut oil adalah parameter yang digunakan untuk mengetahui kualitas fisik cold cream virgin coconut oil, dalam penelitian ini meliputi ukuran droplet, viskositas, dan daya sebar.

3. Stabilitas fisik cold cream virgin coconut oil adalah parameter yang digunakan untuk mengetahui perubahan kualitas cold cream virgin coconut oil, dalam penelitian ini meliputi perubahan ukuran droplet dan pergeseran viskositas setelah penyimpanan selama 1 bulan.

4. Faktor adalah proses pencampuran yang dilakukan yang berpengaruh terhadap respon, dalam penelitian ini meliputi kecepatan putar mixer dan lama pencampuran.

5. Level adalah tingkatan dari faktor dalam proses pencampuran, dalam penelitian ini meliputi level rendah dan tinggi kecepatan putar mixer adalah 400 dan 500 rpm dan level rendah dan tinggi lama pencampuran adalah 10 dan 20 menit.

6. Respon adalah besaran yang akan diamati perubahan efeknya, besarnya dapat dikuantitatifkan. Dalam penelitian ini merupakan sifat fisik (ukuran droplet, viskositas, dan daya sebar) dan stabilitas fisik cold cream virgin coconut oil (pergeseran viksositas dan perubahan ukuran droplet setelah penyimpanan 1 bulan).

(45)

8. Viskositas optimum adalah viskositas yang memudahkan cold cream virgin coconut oil diisikan ke dalam wadah, dikeluarkan dari wadah saat digunakan,

dan memiliki daya sebar yang baik saat diaplikasikan ke kulit. Viskositas yang optimum dalam penelitian ini adalah berkisar antara 140 sampai 160 d Pa.s. 9. Pergeseran viskositas adalah persen rasio selisih viskositas cold cream virgin

coconut oil setelah penyimpanan dan viskositas cold cream virgin coconut oil

setelah pembuatan. Nilai pergeseran viskositas adalah ≤ 10%.

10. Rata-rata ukuran droplet ditunjukkan dengan surface mean diameter (dsm) yang menggambarkan diameter yang ekivalen dengan diameter ukuran droplet yang berbentuk sferis dalam sistem emulsi, dihitung dengan rumus:

dsm =

n nd2

Keterangan: n = frekuensi droplet d = diameter

11. Contour plot adalah grafik yang digunakan untuk memprediksi area optimal formula berdasarkan satu parameter kualitas cold cream virgin coconut oil. 12. Area optimal adalah pertemuan arsiran dari contour plot daya sebar dan

(46)

D. Bahan dan Alat Penelitian 1. Bahan Penelitian

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Virgin Coconut Oil (VCO), beeswax (kualitas farmasetis), lanolin (kualitas farmasetis), liquid

parafin (kualitas farmasetis), borax (kualitas farmasetis), polisorbate 80

(kualitas farmasetis), sorbitan monooleate (kualitas farmasetis), BHT (kualitas farmasetis), cetaceum (kualitas farmasetis) dan aquadest.

2. Alat penelitian

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah glasswares (PYREX-GERMANY), timbangan analitik (METTLER-TOLEDO), waterbath (Memmert), termometer, mixer (Phillips) dengan modifikasi

pengatur rpm, stopwatch, Viscotester seri VT-03 (RION-JAPAN), mikroskop Boeco Germany model number BM-180.

E. Tata Cara Penelitian 1. Formula

(47)

Formula Cold cream (Wilkinson dan Moore, 1982)

R/ Beeswax 10,00

Mineral Oil 20,00

Lanolin 3,00

Borax 0,70

Hydrogenated Vegetable Oil 25,00

Antioksidan 0,50

Sorbitan stearate 5,00

Polysorbate 60 2,00

Aquadest 33,80

Perfume qs

Formula dimodifikasi menjadi :

R/ Beeswax 10,00

Liquid parafin 9,00

Virgin Coconut Oil 11,00

Lanolin 3,00

Borax 0,70

BHT 0,02

Cetaceum 9,00

Sorbitan monooleat (Span 80) 6,00 Polysorbate 80 (Tween 80) 4,00

Aquadest 47,00

Modifikasi dilakukan dengan mengganti sorbitan stearate, dan polysorbate 60 dengan Span 80 dan Tween 80. Campuran Twen 80 dan Span

(48)

orientasi terlebih dahulu.

Tabel II. Rancangan percobaan desain faktorial

Kecepatan putar mixer

(rpm)

Lama pencampuran (menit)

(1) 400 10

A 500 10

B 400 20

Ab 500 20

Dengan pemilihan rancangan desain faktorial dua faktor dan dua level, maka didapatkan 4 formula optimasi proses. Uji sifat fisik dan kestabilan cold cream virgin coconut oil tiap formula akan dilakukan replikasi sebanyak 3 kali

sehingga didapatkan 12 sampel formula uji dan tiap formula yang didapatkan kemudian diuji sifat fisik dan stabilitasnya.

2. Pembuatan cold cream virgin coconut oil

(49)

3. Uji sifat fisik dan stabilitas cold cream virgin coconut oil a. Uji daya sebar

Cream ditimbang seberat 1 gram, diletakkan di tengah kaca bulat

berskala. Di atas cream diletakkan kaca bulat lain dan pemberat sehingga berat kaca bulat dan pemberat 125 gram, didiamkan selama 1 menit, kemudian dicatat penyebarannya. Uji ini dilakukan dua kali, yaitu 48 jam setelah cream selesai dibuat dan setelah mengalami penyimpanan selama 1 bulan untuk melihat stabilitas cream (Garg dkk, 2002).

b. Pengujian viskositas

Cream dimasukkan dalam wadah dan dipasang pada portable

viscotester (Viscotester VT-03E RION-JAPAN). Viskositas cream diketahui

dengan mengamati gerakan jarum penunjuk viskositas. Uji ini dilakukan dua kali, yaitu (1) 48 jam setelah cream selesai dibuat dan (2) setelah mengalami penyimpanan selama 1 bulan untuk melihat stabilitas cream.

c. Uji tipe emulsi 1). Metode warna

(50)

2) Metode pengenceran

Sedikit air diberikan ke sebuah sampel cream (1-2 gram) dan setelah pengocokan atau pengadukan, diperoleh kembali suatu emulsi homogen, maka terdapat jenis M/A. Pada jenis A/M hasilnya akan kebalikannya (Voigt, 1994). 3) Percobaan pencucian

Hanya emulsi M/A yang mudah dicuci dengan air dari tangan atau barang. Penghilangan suatu emulsi A/M menurut pengalaman sering menunjukkan kesulitan yang sangat berarti (Voigt, 1994).

d. Mikromeritik

Setelah dilakukan kalibrasi mikroskop, dilakukan pengamatan ukuran partikel sebanyak 500 buah (Martin dkk, 1993) dimulai dari percobaan (1) kemudian percobaan (a), (b), dan (ab).

4. Penentuan contour plot sifat fisik cold cream virgin coconut oil

Penentuan contour plot sifat fisik dapat dilakukan dengan metode desain faktorial dengan menggunakan rumus :

Y = b0 + b1(X1) + b2(X2) + b12. X1. X2 Dengan :

Y = respon (hasil percobaan yang diamati)

(X1), (X2) = level kecepatan putar mixer dan lama pencampuran nilainya tertentu dari minimum sampai maksimum. b0, b1, b2, b12 = koefisien yang dihitung dari hasil percobaan

(51)

diteliti.

5. Pemilihan area optimum berdasarkan desain faktorial

Setelah dihitung dengan persamaan di atas maka dapat ditentukan formula mana yang paling baik hasilnya berdasarkan analisis secara desain faktorial. Pemilihan tersebut didasarkan atas pertimbangan hasil uji fisik cold cream virgin coconut oil dan contour plot hasil uji fisik cold cream virgin

coconut oil.

F. Analisis Hasil

Data yang terkumpul adalah data uji ukuran droplet, viskositas, daya sebar, perubahan ukuran droplet, dan pergeseran viskositas, Dengan menggunakan metode desain faktorial dua faktor dan dua level, akan dapat dihitung besarnya efek lama pencampuran, kecepatan putar mixer, dan interaksi antar keduanya sehingga diketahui efek yang signifikan dalam menentukan sifat fisik dan stabilitas sediaan cold cream virgin coconut oil. Pemilihan metode desain faktorial didasarkan atas beberapa kelebihannya dalam efisiensi yang maksimum memperkirakan efek yang dominan dalam menentukan respon, ekonomis, dan dapat mengurangi jumlah penelitian jika dibandingkan dengan meneliti dua efek faktor secara terpisah.

(52)

komposisi yang optimum terbatas pada level yang diteliti pada penelitian ini. Analisis statistik ANOVA yang didahului perhitungan yate's treatment dilakukan

untuk mengetahui signifikansi dari setiap faktor dan interaksi dalam mempengaruhi respon. Berdasarkan analisis statistik ini maka dapat ditentukan ada tidaknya hubungan antar faktor dan interaksinya terhadap respon. Hal ini dapat dilihat dari harga F hitung dan F tabel. Sebelumnya ditentukan terlebih dahulu hipotesis, hipotesis alternatif (H1) kecepatan putar mixer, lama pencampuran, dan interaksinya berpengaruh signifikan terhadap respon sifat fisik dan stabilitas cold cream virgin coconut oil, sedangkan H0 merupakan negasi dari pernyataan H1 yang menyatakan kecepatan putar mixer, lama pencampuran, dan interaksinya tidak berpengaruh signifikan terhadap respon sifat fisik dan stabilitas cold cream virgin coconut oil. H1 diterima dan H0 ditolak apabila harga F hitung lebih besar daripada harga F tabel yang berarti faktor berpengaruh secara signifikan terhadap respon. F tabel diperoleh dari Fα (numerator, denominator) dengan taraf kepercayaan

(53)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Pembuatan Cold Cream Virgin Coconut Oil

Cold cream virgin coconut oil yang dibuat dalam penelitian ini berasal

dari formula standar cold cream beeswax-borax dari buku Harry’s Cosmeticology (Wilkinson, dan Moore, 1982). Formula standar yang diperoleh kemudian dilakukan modifikasi melalui orientasi formula untuk diperoleh formula yang konsistesinya paling baik. Orientasi terhadap formula standar dilakukan karena terdapat beberapa bahan yang diganti dari formula standar, selain itu terdapat beberapa kondisi selama proses pembuatan sediaan pada formula standar yang berbeda dari kondisi selama proses pembuatan pada penelitian ini seperti spesifikasi alat yang digunakan, kelembaban, dan suhu ruangan.

Orientasi dilakukan dengan merubah mineral oil dengan liquid parafin dan hydrogenated vegetable oil dengan virgin coconut oil. Perubahan juga dilakukan terhadap sistem emulgator pada formula standar dimana sorbitan stearat diganti dengan sorbitan monooleate (Span 80) dan polysorbate60 diganti

dengan polysorbate 80 (Tween 80). Melalui orientasi didapatkan formula hasil

(54)

Tabel III. Formula Hasil Modifikasi

Pada tabel III dapat dilihat bahwa beberapa bahan pada formula standar mengalami modifikasi baik dalam jenis ataupun kuantitas bahan. Virgin coconut oil digunakan dalam formula modifikasi untuk menggantikan hydrogenated vegetable oil atas dasar kandungan asam lemak (terutama asam laurat dan oleat) dalam virgin coconut oil yang sifatnya melembutkan dan melembabkan kulit sehingga dapat menurunkan tahanan diffusinya (Agero and Verallo-Rowell, 2004). Cold cream virgin coconut oil ini bertujuan sebagai moisturizer, dimana pada formula digunakan basis virgin coconut oil yang dapat memberikan efek moist pada kulit. Virgin coconut oil akan menghambat hilangnya air dari permukaan kulit karena evaporasi, sehingga dapat menjaga kelembaban kulit. Efek moisturizer pada virgin coconut oil diperkuat dengan adanya lanolin dan liquid parafin di dalam formula. Selain itu lanolin memiliki afinitas pada kulit yang baik dan bersifat higroskopis, sedangkan liquid parafin mampu memberikan

Formula standar Gram Formula hasil

modifikasi Gram

Virgin Coconut Oil

(55)

efek lembut saat cream digunakan pada kulit. Penambahan bahan peningkat viskositas yaitu cetaceum digunakan untuk membantu fungsi beeswax mencapai nilai viskositas dan daya sebar yang dikehendaki dalam penelitian. BHT digunakan sebagai bahan pengawet fase minyak terutama untuk mencegah proses oksidasi dari liquid parafin. Perubahan juga dilakukan pada sistem emulgator pada formula standar yang semula sorbitan stearate dan polysorbate 60 diganti dengan sorbitan monooleate dan polysorbate 80.

Dalam proses pembuatan emulsi, diperlukan adanya agen pengemulsi. Agen pengemulsi digunakan untuk mengurangi tegangan permukaan fase air dan fase minyak sehingga proses emulsifikasi dapat terjadi dan dapat dihasilkan droplet-droplet kecil selama proses pencampuran. Hal ini disebabkan fase air mampu memfasilitasi fase minyak untuk terdispersi menjadi droplet-droplet dengan bantuan agen pengemulsi tersebut. Agen pengemulsi juga berfungsi sebagai salah satu penstabil droplet yang terbentuk dalam sistem emulsi selain dari viskositas sistem yang cukup tinggi dan dari ukuran droplet yang terbentuk. Agen pengemulsi menstabilkan droplet dengan cara membentuk barier mekanik di sekeliling droplet sehingga coalesence dapat dicegah.

(56)

ini memiliki kelebihan dalam mekanisme stabilisasi sistem emulsi yang terbentuk. Adanya panjang rantai hidrokarbon yang sama antara polysorbate 80 dan sorbitan monooleate menyebabkan gaya van der walls yang dihasilkan antara agen pengemulsi tersebut dapat seragam sehingga dapat menstabilkan susunan polysorbate 80 dan sorbitan monooleate pada lapisan antar batas. Rantai panjang

polioksietilen pada polysorbate 80 dapat memberikan halangan bagi droplet untuk bersatu sehingga kemungkinan terjadinya coalesence dapat diminimalkan.

Proses pembentukan droplet yang stabil terjadi saat polysorbate 80 di dalam fase air dan sorbitan monooleate di dalam fase minyak menduduki lapisan antar batas. Rantai hidrokarbon sorbitan monooleate terletak pada droplet minyak dan radikal sorbitan pada fase air. polysorbate 80 berada pada lapisan batas dimana sebagian rantai hidrokarbon berada pada fase minyak bersama dengan cincin sorbitan dan rantai polioksietilen terletak pada fase air. Rantai hidrokarbon polysorbate 80 terletak pada droplet minyak diantara rantai sorbitan monooleate

(57)

Gambar 5. Susunan Molekul Tween 40 dan Span 80 Pada Lapisan Batas Droplet (Martin dkk, 1993)

Dalam pembuatan cold cream virgin coconut oil, bahan–bahan yang digunakan, baik fase minyak maupun fase air dipanaskan di atas waterbath terlebih dahulu pada suhu 50°C sebelum masuk ke dalam tahapan pencampuran. Hal ini untuk menyamakan suhu tiap bahan, selain itu bertujuan untuk menjaga bahan dalam fase minyak yaitu lanolin, cetaceum dan beeswax untuk tetap berbentuk cair, sebab tanpa adanya pemanasan, beeswax, cetaceum dan lanolin pada suhu ruangan cenderung memadat. Dengan adanya pemanasan terlebih dahulu tiap bahan maka bahan-bahan yang memiliki titik leleh tinggi tidak kembali membentuk padatan sehingga tidak merusak sifat fisik cold cream virgin coconut oil saat pencampuran.

(58)

dapat berjalan optimal. Dipilih kecepatan putar 400 rpm dan 500 rpm karena berdasarkan hasil orientasi yang dilakukan sebelum penelitian dilaksanakan, menunjukkan bahwa pada kecepatan putar 400 rpm dan lama pencampuran 10 menit merupakan kecepatan putar mixer dan lama pencampuran terendah yang mampu menghasilkan cold cream virgin coconut oil dengan sifat fisik sesuai parameter untuk cream (yaitu viskositas dan daya sebar) hingga kecepatan putar 500 rpm dan lama pencampuran 20 menit masih menghasilkan cold cream virgin coconut oil dengan sifat fisik yang dikehendaki.

B. Penentuan Tipe Emulsi Cold Cream Virgin Coconut Oil

Formula yang diperoleh merupakan cream tipe M/A. Formula hasil orientasi kemudian diuji tipe creamnya, apakah sesuai dengan formula standar pada Harry’s Cosmeticology 7th Edition (Wilkinson dan Moore, 1982).

Tipe emulsi yang diharapkan dari formula ini adalah M/A, dimana fase minyak terdispersi dalam fase air. Diharapkan dengan tipe emulsi M/A, cold cream virgin coconut oil yang dihasilkan dapat nyaman diaplikasikan di kulit

(59)

yaitu 8,578. Nilai rHLB fase minyak digunakan sebagai acuan perhitungan kuantitas campuran kedua emulgator pada formula. Berikut adalah hasil perhitungan rHLB pada formula hasil modifikasi:

Fase minyak rHLB

beeswax 9 = 2,143

liquid parafin 10 = 2,143

lanolin 12 = 0,857

cetaceum 8,7 = 1,864

virgin coconut oil 6 = 1,578

Σ rHLB = 8,578

Perhitungan HLB campuran:

Σ rHLB = (HLB tween 80) . X + (1 – X) . (HLB span 80) 8,578 = 15 . X + (1 – X) . 4,3

8,578 =15X + 4,3 – 4,3X Keterangan :

4,278 = 10,7X X = Tween 80

X = 0,39≈0,4 Y = Span 80

Y = 1 – X = 1- 0,4 = 0,6

Kuantitas total agen pengemulsi dalam 100 gram formula = 10 gram. X = 0,4 . 10 ml = 4 gram

Y = 0,6 . 10 ml = 6 gram

(60)

Pada penelitian ini, uji yang dilakukan adalah:

1. Penambahan Kuantitas Salah Satu Fase Secara Berlebih

Secara lebih jelas, hasil pengamatan dengan penambahan fase air secara berlebih dapat dilihat pada gambar 6.

Gambar 6. Hasil Uji Pengenceran Cream dengan Penambahan Fase Air Secara

Berlebih

Satu sampai dua gram cold cream virgin coconut oil diletakkan pada tabung reaksi, kemudian tambahkan air secara berlebih. Cold cream virgin coconut oil dapat bercampur dengan air, hal ini menunjukkan bahwa medium

dispers cold cream virgin coconut oil adalah air, maka hasil ini membuktikan bahwa cold cream virgin coconut oil yang dihasilkan adalah emulsi tipe minyak dalam air.

2. Penambahan Zat Warna Larut Air

(61)

Formula 1 Formula a

Formula b Formula ab

Gambar 7. Hasil Pengujian Tipe Cream dengan Menggunakan Methylene Blue

(Perbesaran 40 x 10)

(62)

C. Sifat Fisik dan Stabilitas Cold Cream Virgin Coconut Oil

Cold cream virgin coconut oil dapat dikatakan baik apabila memenuhi

persyaratan sifat fisik dan stabil selama penyimpanan. Parameter sifat fisik cold cream virgin coconut oil yang diuji pada penelitian ini adalah ukuran droplet,

viskositas, dan daya sebar. Parameter stabilitas fisik yang diteliti adalah perubahan ukuran droplet dan pergeseran viskositas setelah penyimpanan selama satu bulan.

(63)

Berikut ini adalah respon sifat fisik dan stabilitas fisik yang diperoleh dalam penelitian ini :

Tabel IV. Tabel Respon Hasil Percobaan

Diameter droplet tiap replikasi formula diukur sebanyak 500 droplet menggunakan mikroskop yang terintegrasi dengan program motic. Diameter droplet yang didapatkan melalui pengukuran kemudian dimasukkan ke dalam interval ukuran droplet yang sesuai sehingga tiap interval memiliki frekuensi ukuran droplet masing-masing. Surface mean diameter (dsm) didapatkan dari menjumlah seluruh hasil dari perkalian frekuensi droplet dengan nilai tengah interval tiap replikasi dibagi dengan jumlah total droplet yang terukur (500 droplet). Surface mean diameter (dsm) menggambarkan diameter yang ekivalen dengan diameter ukuran droplet yang berbentuk sferis dalam sistem emulsi, dihitung dengan rumus:

dsm =

n nd 2

Keterangan: n = frekuensi droplet d = diameter terukur

Daya sebar diukur dengan cara menghitung rata-rata diameter penyebaran cold cream virgin coconut oil pada suatu plate kaca bundar berskala. Viskositas

sediaan cold cream virgin coconut oil diamati pada setelah pembuatan dan setelah mengalami penyimpanan selama 1 bulan. Berdasarkan kedua data viskositas tersebut kemudian dapat diketahui nilai pergeseran viskositas cold cream virgin

(64)

coconut oil selama penyimpanan 1 bulan. berdasarkan kedua data viskositas

tersebut, kemudian diketahui pergeseran viskositas yang terjadi yang mampu mengindikasikan ketidakstabilan sediaan.

Pada penelitian ini, cara untuk menentukan faktor yang berpengaruh signifikan antara kecepatan putar, lama pencampuran, dan interaksinya terhadap daya sebar, viskositas, pergeseran viskositas, dan surface mean diameter cold cream virgin coconut oil dihitung dengan:

1. Menggunakan metode statistik ANOVA yang didahului perhitungan yate's treatment yang berguna untuk menilai secara obyektif signifikansi

pengaruh relatif dari berbagai faktor dan interaksi terhadap respon yang diperoleh. Hasil dari perhitungan ini tidak memuat arah respon.

2. Desain faktorial, yaitu menghitung efek dari setiap faktor maupun interaksinya untuk melihat pengaruhnya terhadap respon. Perhitungan ini memuat arah respon.

Tabel V. Perhitungan Efek Dari Tiap Faktor dan Interaksi

Keterangan :

Tanda negatif (-) = faktor menurunkan respon Tanda positif (+) = faktor menaikkan respon

Berdasarkan perhitungan efek kecepatan putar, lama pencampuran dan interaksi keduanya, dapat dilihat faktor yang diprediksi dominan terhadap sifat

Respon Kecepatan

Viskositas 11,67 14,99 3,33

(65)

fisik dan stabilitas cold cream virgin coconut oil. Tanda positif berarti meningkatkan respon dan tanda negatif berarti menurunkan respon. Semakin besar nilai efek suatu faktor jika dibandingkan dengan yang lain, maka faktor tersebut diprediksi dominan terhadap sifat fisik dan kestabilan cold cream virgin coconut oil.

1. Uji Sifat Fisik Cold Cream Virgin Coconut Oil a. Ukuran Partikel (Droplet)

Nilai surface mean diameter (dsm) tiap formula yang didapatkan dari perhitungan ukuran droplet digunakan sebagai dasar perhitungan efek terhadap respon ukuran droplet. Nilai surface mean diameter (dsm) digunakan karena mampu menggambarkan diameter yang ekivalen dengan diameter ukuran droplet yang berbentuk sferis dalam sistem emulsi.

(66)

fungsi agen pengemulsi sebagai barier mekanik bekerja optimal. Hal ini mengurangi kemungkinan terjadinya coalesence sehingga pergeseran ukuran droplet ke arah yang lebih besar dapat diminimalkan.

Gambar 8a Gambar 8b

Gambar 8. Grafik Hubungan Antara Kecepatan Putar dan Lama Pencampuran Terhadap Ukuran Droplet

Berdasarkan gambar 8a, dapat dilihat bahwa seiring dengan peningkatan lama pencampuran, maka penggunaan kecepatan mixer level rendah dapat meningkatkan ukuran droplet, sebaliknya akan menurunkan ukuran droplet pada penggunaan kecepatan mixer level tinggi. Pada gambar 8b, seiring dengan peningkatan kecepatan putar mixer, maka penggunaan lama pencampuran level rendah dapat meningkatkan ukuran droplet, sebaliknya akan menurunkan ukuran droplet pada penggunaan lama pencampuran level tinggi. Jika dilihat dari gambar 8a dan 8b dapat disimpulkan terjadi interaksi antara lama pencampuran dan kecepatan putar mixer dalam menentukan perubahan ukuran droplet, hal ini dapat dilihat dari tidak sejajarnya garis-garis yang terbentuk baik antara lama pencampuran dan perubahan ukuran droplet dan juga

Pengaruh Lama Pencampuran Terhadap Ukuran Droplet

10Lama pencampuran (menit) 20

U

level rendah kecepatan putar level tinggi kecepatan putar

Pengaruh Kecepatan Putar Terhadap Ukuran Droplet

0,00

400 Kecepatan Putar (rpm) 500

Uk

(67)

harus dibuktikan dengan analisis ANOVA yang didahului perhitungan yate's treatment.

Tabel VI. Tabel ANOVA Ukuran Droplet Hasil Perhitungan Yate's Treatment

Source of variation df S of square M of square F

Replication 2 12,44 6,22

Treatment 3 73,81 24,60

a 1 1,05 1,05 0,04

b 1 7,28 7,28 0,27

ab 1 65,47 65,47 2,42

Experimental 8 216,38 27,05

Total 11

Hipotesis alternatif (H1) menyatakan kecepatan putar mixer, lama pencampuran, dan interaksinya berpengaruh signifikan terhadap ukuran droplet, sedangkan H0 merupakan negasi dari pernyataan H1 yang menyatakan kecepatan putar mixer, lama pencampuran, dan interaksinya tidak berpengaruh signifikan terhadap ukuran droplet. H1(a, b, c) diterima dan Ho(a, b, c) ditolak jika F hitung lebih besar dari F tabel (F 1;8). Dalam penelitian ini, F tabel adalah 5,32. Karena F hitung kurang dari F tabel maka Ho diterima. Berdasarkan analisis ANOVA yang didahului perhitungan yate's treatment, tampak bahwa dari masing-masing faktor yaitu kecepatan putar, lama pencampuran dan interaksi antara keduanya tidak berpengaruh signifikan secara statistik terhadap nilai respon ukuran droplet cold cream virgin coconut oil yang dihasilkan. Dalam hal ini kecepatan putar level rendah dan tinggi, lama pencampuran level rendah dan tinggi tidak berbeda dalam menghasilkan ukuran droplet cold cream virgin coconut oil. Selain itu dapat dinyatakan pula bahwa tidak terjadi interaksi yang

(68)

Kecepatan putar mixer dan lama pencampuran pada penelitian ini tidak signifikan berpengaruh terhadap ukuran droplet, dimungkinkan karena pada level kecepatan putar mixer dan lama pencampuran yang diteliti, kapasitas emulgator sudah optimal dalam menghasilkan ukuran droplet terkecil yang dapat dibentuk. Pada proses pencampuran, ukuran droplet akan turun drastis seiring penambahan lama pencampuran, namun setelah mencapai titik tertentu dimana kapasitas emulgator sudah optimal, maka ukuran droplet yang dihasilkan tidak banyak berubah (Peter, 1997). Sehingga dengan penambahan kecepatan putar mixer ataupun lama pencampuran tidak berpengaruh terhadap penurunan ukuran droplet yang dihasilkan.

b. Viskositas

Viskositas merupakan faktor yang penting dalam sediaan cold cream virgin coconut oil. Semakin tinggi viskositas maka sediaan menjadi semakin

kental sehingga semakin sulit untuk mengalir. Viskositas dari suatu sediaan tidak boleh terlalu besar ataupun terlalu kecil, namun sebaiknya disesuaikan dengan tujuan penggunaan. Viskositasnya yang terlalu tinggi akan menimbulkan ketidaknyamanan dalam pengaplikasian pada kulit, karena sediaan sulit mengalir dan sukar tersebar secara merata di kulit. Juga pada saat mengeluarkan sediaan dari kemasan menjadi lebih sulit jika dibandingkan dengan sediaan yang viskositasnya lebih rendah. Jika sediaan terlalu encer maka sediaan akan tidak mampu cukup melekat saat diaplikasi pada kulit sehingga sediaan tidak tinggal seluruhnya pada permukaan kulit.

(69)

yang berpengaruh terhadap respon viskositas setelah pembuatan adalah lama pencampuran, sehingga lama pencampuran diprediksi sebagai faktor dominan yang mempengaruhi viskositas cold cream virgin coconut oil. Hal ini dapat dilihat dari nilai efek terhadap respon viskositas pada lama pencampuran paling besar dibandingkan faktor lainnya.

Pengaruh kecepatan putar mixer, lama pencampuran dan interaksi antara keduanya terhadap respon viskositas dapat dilihat dalam grafik pada gambar 9:

Gambar 9a Gambar 9b

Gambar 9. Grafik Hubungan Antara Kecepatan Putar dan Lama Pencampuran Terhadap Viskositas

Viskositas dari sediaan dipengaruhi oleh fase kontinyu dan fase internal sediaan. Lama pencampuran menyebabkan bahan-bahan tercampur semakin homogen. Semakin optimal lama pencampuran akan mengoptimalkan dispersi fase minyak pada fase air dengan bantuan agen pengemulsi yaitu polisorbate 80 (Tween 80) dan sorbitan monooleate (Span 80), sehingga ukuran

droplet minyak yang dihasilkan dapat semakin kecil dan terdistribusi merata pada medium dispersnya. Hal ini menyebabkan fase kontinyu akan semakin

Pengaruh Kecepatan Putar Terhadap Viskositas

130

level rendah lama pencampuran level tinggi lama pencampuran

Pengaruh Lama Pencampuran Terhadap Viskositas

130

(70)

rigid dan hambatan alir meningkat, sehingga viskositas yang dihasilkan pada sediaan cream akan semakin meningkat.

Berdasarkan gambar 9a, maka dapat dilihat bahwa seiring dengan peningkatan kecepatan putar mixer, maka pada penggunaan lama pencampuran level rendah dan tinggi dapat meningkatkan viskositas. Pada gambar 9b, dapat dilihat bahwa seiring peningkatan lama pencampuran, maka pada penggunaan kecepatan putar mixer level rendah dan level tinggi dapat meningkatkan viskositas. Jika dilihat dari gambar 9a dan 9b dapat disimpulkan terjadi interaksi antara lama pencampuran dan kecepatan putar mixer dalam menentukan perubahan viskositas, hal ini dapat dilihat dari tidak sejajarnya garis-garis yang terbentuk baik antara lama pencampuran dan respon viskositas dan juga antara kecepatan putar mixer dan respon viskositas. Berikut ini adalah hasil analisis ANOVA yang didahului perhitungan yate's treatment menggunakan taraf kepercayaan 95% untuk respon viskositas:

Tabel VII. Tabel ANOVA Viskositas Hasil Perhitungan Yate's Treatment

Source of variation df S of square M of square F

Replication 2 104,17 0,025

Treatment 3 1116,67 0,06

a 1 408,33 408,33 2,85

b 1 675,00 675,00 4,71

ab 1 33,33 33,33 0,23

Experimental 8 1145,83 143,23

Total 11

(71)

terhadap viskositas. H1(a, b, c) diterima dan Ho(a, b, c) ditolak jika F hitung lebih besar dari F tabel (F 1;8). Dalam penelitian ini, F tabel adalah 5,32. Ho diterima karena nilai F hitung kurang dari F tabel. Berdasarkah hasil analisis ANOVA yang didahului perhitungan yate's treatment, maka kecepatan putar, lama pencampuran, dan interaksi antara keduanya tidak berpengaruh signifikan terhadap respon viskositas. Dalam hal ini kecepatan putar level rendah dan tinggi, dan lama pencampuran level rendah dan tinggi tidak berbeda dalam menghasilkan viskositas cold cream virgin coconut oil.

Kecepatan putar mixer dan lama pencampuran pada penelitian ini tidak signifikan berpengaruh terhadap viskositas dimungkinkan karena pada level kecepatan putar mixer dan lama pencampuran yang diteliti, kapasitas emulgator sudah maksimal dalam menghasilkan ukuran droplet terkecil yang dapat dibentuk sehingga dengan penambahan kecepatan putar mixer ataupun lama pencampuran tidak berpengaruh terhadap penurunan ukuran droplet yang dihasilkan. Karena ukuran droplet yang dihasilkan sudah optimal pada efek yang diteliti, maka medium dispers yang dapat dijebak oleh droplet terbatas pada ukuran droplet yang terbentuk yang ditunjukkan dengan respon viskositas yang dihasilkan.

c. Daya Sebar

(72)

lainnya.

Kenaikan kecepatan putar pada level penelitian ini menyebabkan besarnya tekanan mekanik yang diberikan pada droplet primer minyak sehingga memungkinkan terbentuknya droplet-droplet minyak dengan ukuran yang relatif lebih kecil. Ukuran droplet fase minyak yang dihasilkan akan menentukan seberapa banyak fase air yang dapat terjebak di antara droplet-droplet fase minyak. Dengan terbentuknya ukuran droplet fase minyak yang semakin kecil maka fase air yang dapat terjebak di antara droplet-droplet fase air akan meningkat, hal tersebut menyebabkan hambatan alir sistem meningkat. Hambatan alir sistem erat hubungannya dengan daya sebar cream. Dengan meningkatnya hambatan alir maka daya sebar cream akan menurun.

Grafik pada gambar 10 akan menggambarkan pengaruh peningkatan kecepatan putar dan lama pencampuran terhadap respon daya sebar cold cream virgin coconut oil.

Gambar 10a Gambar 10b

Gambar 10. Grafik Hubungan Antara Kecepatan Putar dan Lama Pencampuran Terhadap Daya Sebar Pengaruh Kecepatan Putar Terhadap Daya Sebar

4,10

400 Kecepatan Putar (rpm) 500

Da

level rendah lama pencampuran level tinggi lama pencampuran

Pengaruh Lama Pencampuran Terhadap Daya Sebar

4,10

10 Lama Pencampuran (menit) 20

Da

(73)

peningkatan kecepatan putar mixer, maka pada penggunaan lama pencampuran level rendah dan tinggi dapat menurunkan daya sebar. Pada gambar 10b, dapat dilihat bahwa seiring peningkatan lama pencampuran, maka pada penggunaan kecepatan putar level rendah dapat meningkatkan daya sebar, sebaliknya akan menurunkan daya sebar pada penggunaan kecepatan putar mixer level tinggi. Jika dilihat dari gambar 10a dan 10b dapat disimpulkan terjadi interaksi antara lama pencampuran dan kecepatan putar mixer dalam menentukan perubahan daya sebar, hal ini dapat dilihat dari tidak sejajarnya garis-garis yang terbentuk baik antara lama pencampuran dan respon daya sebar dan juga antara kecepatan putar mixer dan respon daya sebar. Berikut ini adalah hasil analisis ANOVA yang didahului perhitungan yate's treatment menggunakan taraf kepercayaan 95% untuk respon daya sebar :

Tabel VIII. Tabel ANOVA Daya Sebar Hasil Perhitungan Yate's Treatment

Source of variation df S of square M of square F

Replication 2 0,05 0,025

Treatment 3 0,18 0,06

a 1 0,11 0,11 1,37

b 1 0,01 0,01 0,12

ab 1 0,07 0,07 0,88

Experimental 8 0,62 0,08

Total 11

(74)

hitung kurang dari F tabel maka Ho diterima. Berdasarkan analisis ANOVA yang didahului perhitungan yate's treatment, untuk respon daya sebar, efek kecepatan putar, lama pencampuran dan interaksi antara keduanya tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai respon daya sebar. Dalam hal ini kecepatan putar level rendah dan tinggi, lama pencampuran level rendah dan tinggi tidak berbeda dalam menghasilkan respon daya sebar cold cream virgin coconut oil. Selain itu dapat dinyatakan pula bahwa tidak terjadi interaksi antara

lama pencampuran dan kecepatan putar mixer dalam mempengaruhi respon daya sebar.

(75)

2. Uji Stabilitas

a. Pergeseran viskositas

Perubahan viskositas akan mempengaruhi kemampuan basis cream untuk tetap mempertahankan bahan-bahan untuk dapat terdispersi homogen di dalamnya. Pergeseran viskositas yang diharapkan adalah ≤10%. Dalam penelitian ini cold cream virgin coconut oil dikatakan stabil apabila tidak ada perbedaan viskositas cold cream virgin coconut oil antara 48 jam pembuatan dengan penyimpanan setelah 30 hari. Dengan menggunakan desain faktorial, pada tabel perhitungan efek (tabel V) dapat dilihat bahwa lama pencampuran merupakan faktor yang diprediksi dominan yang mempengaruhi respon pergeseran viskositas.

Pada gambar 11 akan ditampilkan hubungan pengaruh peningkatan level lama dan kecepatan putar terhadap pergeseran viskositas cold cream virgin coconut oil sebagai parameter stabilitas fisik cold cream virgin coconut oil.

Gambar 11a Gambar 11b

Gambar 11. Grafik Hubungan Antara Kecepatan Putar dan Lama Pencampuran Terhadap Pergeseran Viskositas

Berdasarkan gambar 11a, maka dapat dilihat bahwa seiring dengan

Pengaruh Kecepatan Terhadap Pergerseran Viskositas

0

400 Kecepatan putar (rpm ) 500

p

kecepatan rendah lama pencampuran kecepatan tinggi lama pencampuran

Pengaruh lama pencampuran Terhadap Pergeseran Viskositas

10 lama pencampuran (menit) 20

per

(76)

peningkatan kecepatan putar mixer, maka pada penggunaan lama pencampuran level rendah dan tinggi dapat menurunkan respon pergeseran viskositas. Pada gambar 10b, dapat dilihat bahwa seiring peningkatan lama pencampuran, maka pada penggunaan kecepatan putar level rendah dan level tinggi dapat menurunkan pergeseran viskositas. Jika dilihat dari gambar 11a dan 11b dapat disimpulkan terjadi interaksi antara lama pencampuran dan kecepatan putar mixer dalam menentukan respon persen pergeseran viskositas, hal ini dapat

dilihat dari tidak sejajarnya garis-garis yang terbentuk baik antara lama pencampuran dan respon pergeseran viskositas dan juga antara kecepatan putar mixer dan pergeseran viskositas. Berikut adalah hasil analisis ANOVA yang

didahului perhitungan yate's treatment menggunakan taraf kepercayaan 95% untuk pergeseran viskositas.

Tabel IX. Tabel ANOVA Pergeseran Viskositas Hasil Analisis Yate's Treatment

Source of variation df S of square M of square F

Replication 2 227,24 113,62

Treatment 3 319,90 106,63

a 1 105,14 105,14 0,58

b 1 138,85 138,85 0,77

ab 1 75,91 75,91 0,42

Experimental 8 1434,34 179,29

Total 11

(77)

ini, F tabel adalah 5,32. Ho diterima karena F hitung kurang dari F tabel. Berdasarkan analisis ANOVA yang didahului perhitungan yate's treatment, maka tampak bahwa dari masing-masing faktor yaitu kecepatan putar dan lama pecampuran tidak secara signifikan berpengaruh terhadap pergeseran viskositas. Dalam hal ini kecepatan putar level rendah dan tinggi, lama pencampuran level rendah dan tinggi, dan interaksinya tidak berbeda dalam menghasilkan respon pergeseran viskositas cold cream virgin coconut oil. Selain itu dapat dinyatakan pula bahwa tidak terjadi interaksi antara lama dan kecepatan pencampuran dalam mempengaruhi respon pergeseran viskositas.

b. Perubahan Ukuran Droplet

(78)

Grafik Perbandingan Frekuensi Nilai Tengah Interval Ukuran Droplet

11.44 29.34 47.24 65.14 83.04 100.94 118.85 136.74 154.64 172.54 Nilai Tengah Interval ukuran droplet (µm)

F

setelah pembuatan setelah penyimpanan

Gambar 12. Grafik Perubahan Distribusi Ukuran Droplet Percobaan 1

Grafik Perbandingan Frekuensi Nilai Tengah Interval Ukuran Droplet

0

11.44 29.34 47.24 65.14 83.04 100.94 118.85 136.74 154.64 172.54 Nilai Tengah Interval ukuran droplet (µm)

Fr

setelah pembuatan setelah penyimpanan

Gambar 13. Grafik Perubahan Distribusi Ukuran Droplet Percobaan a

Gambar 14. Grafik Perubahan Distribusi Ukuran Droplet Percobaan b

Grafik Perbandingan Frekuensi Nilai Tengah Interval Ukuran Droplet

0

11.44 29.34 47.24 65.14 83.04 100.94 118.85 136.74 154.64 172.54 Nilai Tengah Interval ukuran droplet (µm)

Fr

Figur

Gambar 1. Planetary Mixer (Aulton, 2002)
Gambar 1 Planetary Mixer Aulton 2002 . View in document p.29
Gambar 2. Sigma Blade Mixer (Aulton, 2002)
Gambar 2 Sigma Blade Mixer Aulton 2002 . View in document p.30
Gambar 4. Contoh Grafik Distribusi Frekuensi Ukuran Partikel (Martin dkk, 1993)
Gambar 4 Contoh Grafik Distribusi Frekuensi Ukuran Partikel Martin dkk 1993 . View in document p.37
Tabel III. Formula Hasil Modifikasi
Tabel III Formula Hasil Modifikasi . View in document p.54
Gambar 6. Hasil Uji Pengenceran  Cream dengan Penambahan Fase Air Secara Berlebih
Gambar 6 Hasil Uji Pengenceran Cream dengan Penambahan Fase Air Secara Berlebih . View in document p.60
Gambar 7. Hasil Pengujian Tipe Cream dengan Menggunakan Methylene Blue (Perbesaran 40 x 10)
Gambar 7 Hasil Pengujian Tipe Cream dengan Menggunakan Methylene Blue Perbesaran 40 x 10 . View in document p.61
Tabel V. Perhitungan Efek Dari Tiap Faktor dan Interaksi
Tabel V Perhitungan Efek Dari Tiap Faktor dan Interaksi . View in document p.64
Gambar 8a
Gambar 8a . View in document p.66
Tabel VI. Tabel ANOVA Ukuran Droplet Hasil Perhitungan Yate's Treatment
Tabel VI Tabel ANOVA Ukuran Droplet Hasil Perhitungan Yate s Treatment . View in document p.67
gambar 9:
gambar 9: . View in document p.69
Gambar 10. Grafik Hubungan Antara Kecepatan Putar dan Lama Pencampuran Terhadap Daya Sebar
Gambar 10 Grafik Hubungan Antara Kecepatan Putar dan Lama Pencampuran Terhadap Daya Sebar . View in document p.72
Gambar 11a
Gambar 11a . View in document p.75
Tabel IX. Tabel ANOVA Pergeseran Viskositas Hasil Analisis Yate's Treatment
Tabel IX Tabel ANOVA Pergeseran Viskositas Hasil Analisis Yate s Treatment . View in document p.76
Grafik Perbandingan Frekuensi Nilai Tengah Interval Ukuran Droplet
Grafik Perbandingan Frekuensi Nilai Tengah Interval Ukuran Droplet. View in document p.78
Grafik Perbandingan Frekuensi Nilai Tengah Interval Ukuran Droplet
Grafik Perbandingan Frekuensi Nilai Tengah Interval Ukuran Droplet. View in document p.78
Grafik Perbandingan Frekuensi Nilai Tengah Interval Ukuran Droplet
Grafik Perbandingan Frekuensi Nilai Tengah Interval Ukuran Droplet. View in document p.79
Tabel XI. Tabel Uji Normalitas Formula a
Tabel XI Tabel Uji Normalitas Formula a . View in document p.80
Tabel X. Tabel Uji Normalitas Formula 1
Tabel X Tabel Uji Normalitas Formula 1 . View in document p.80
Tabel XII. Tabel Uji Normalitas Formula b
Tabel XII Tabel Uji Normalitas Formula b . View in document p.80
Tabel XV. Pengujian Paired T Test Rata-Rata Mean Surface Diameter
Tabel XV Pengujian Paired T Test Rata Rata Mean Surface Diameter . View in document p.81
Tabel XIII. Tabel Uji Normalitas Formula ab
Tabel XIII Tabel Uji Normalitas Formula ab . View in document p.81
Tabel XIV. Tabel Uji Homogenitas
Tabel XIV Tabel Uji Homogenitas . View in document p.81
Tabel XVII. Hasil Uji Analysis of Variance Viskositas
Tabel XVII Hasil Uji Analysis of Variance Viskositas . View in document p.84
Tabel XVI. Hasil Uji Analysis of Variance Daya Sebar
Tabel XVI Hasil Uji Analysis of Variance Daya Sebar . View in document p.84
Tabel Source of variation
Tabel Source of variation . View in document p.116
Tabel Source of variation
Tabel Source of variation . View in document p.117
Tabel Source of variation
Tabel Source of variation . View in document p.119
Tabel Source of variation
Tabel Source of variation . View in document p.120
Gambar mixer
Gambar mixer . View in document p.127
Gambar droplet cold cream virgin coconut oil dengan pewarna methylene blue
Gambar droplet cold cream virgin coconut oil dengan pewarna methylene blue . View in document p.128

Referensi

Memperbarui...