• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III LAPORAN KASUS KELOLAAN UTAMA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB III LAPORAN KASUS KELOLAAN UTAMA"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

42 BAB III

LAPORAN KASUS KELOLAAN UTAMA

3.1 Pengkajian

3.1.1 Identitas Pasien dan Penanggung Jawab

Ny.W berusia 66 tahun datang ke RSU Universitas Muhammadiyah Malang pada tanggal 22 Agustus 2021. Pasien sebagai ibu rumah tangga, beragama Islam, suku Jawa dan beralamat di Kalimosodo RT 06 RW 06, Kecamatan blimbing. Pasien datang ke IGD bersama anaknya Ny.D (anak) berusia 39 tahun, bekerja sebagai ibu rumah tangga.

3.1.2 Keluhan Utama

Pada saat MRS pada tanggal 22 Agustus 2021 pasien mengeluh dada terasa sesak, sulit bernapas, sulit tidur, berkeringat, dan badan terasa lemas sejak 1 hari yang lalu. Pada saat dilakukan tahap awal pengkajian pada tanggal 23 Agustus 2021, pasien masih mengeluh dada terasa sesak, kesulitan bernapas, sulit tidur, badan terasa lemas, sering buang air kecil, dan berkeringat. Pasien juga mengatakan jika saat telentang sesak napas terasa semakin memberat, pasien tidak mampu batuk efektif, pasien merasa megap-megap dan merasa jantung berdebar ketika beranjak dari tempat tidur menuju ke toilet sebelum terpasang kateter.

3.1.3 Diagnosa Medis

Pneumonia Post COVID-19 3.1.4 Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien mengatakan sering mengeluh sesak napas, dan mudah kelelahan saat melakukan aktivitas, bahkan pada saat beristirahat pun pasien sering merasa sesak napas sejak 1 bulan yang lalu, mengeluh badan panas sejak 3 hari yang lalu, dan mudah kelelahan sejak 3 bulan yang lalu. Pasien didiagnosa mengidap

(2)

penyakit COVID-19 sejak 25 hari yang lalu ketika MRS di Ruang RIC RSU Universitas Muhammadiyah Malang dengan keluhan sesak napas.

3.1.5 Riwayat Kesehatan Yang Lalu

Pasien memiliki riwayat penyakit Asma dan Gagal jantung. Anak pasien dan sekaligus penanggung jawab pasien yaitu Ny.D juga pernah mengidap penyakit COVID-19.

3.1.6 Pola Aktivitas Sehari-hari (Acitivty Daily Living) 1. Selama di Rumah

Pasien saat dirumah, makan 3x sehari dengan lauk yang bermacam-macam yaitu: ikan, daging, telur, sayur dan buah-buahan. Selama sakit pasien dirumah hanya mengkonsumsi sedikit makanan, mengonsumsi bubur, dan terdakang mengonsumsi sup. Minum ± 2500 ml/hari. Pola eliminasi saat dirumah pasien mengatakan sering BAK 4-5 x/hari, dengan warna urin jernih. BAB 2-3 x/hari dan pada saat BAB tidak ada keluhan. Pola tidur Ny.W biasanya saat dirumah hanya tidur 4-5 jam (21.00- 02.00) , mengeluh sulit tidur, dan rutin terbangun untuk melakukan BAK.

2. Selama di Rumah Sakit

Saat dirumah sakit pasien menerima diit bubur halus, dan pasien memiliki nafsu makan yang cukup baik. Pemenuhan kebutuhan cairan per oral air putih yaitu

± 1500 ml/hari & NS 500 ml/hari 10 tetes per menit. Pola eliminasi saat dirumah sakit pasien terpasang kateter, dengan warna urin seperti teh. BAB jarang hanya sekali dalam 2 hari. Pola tidur Ny.W biasanya saat dirumah sakit hanya tidur 2-3 jam (00.00- 03.00) , mengeluh sulit tidur karena sesak.

Pemenuhan ADL pasien diberikan bantuan total termasuk kebersihan diri dan kebutuhan eliminasi.

3.1.7 Riwayat Psikologi

Pasien tidak ada riwayat gangguan jiwa di keluarga, pasien terkadang merasa cemas dan gelisah saat penyakitnya kambuh.

(3)

3.1.8 Riwayat Sosial

Ny.W sejak terkena covid 19, tetangga didekat rumah nya menjauhi nya dan bahkan mengucilkannya.

3.1.9 Riwayat Spiritual

Pasien seorang yang taat dalam beragama, pasien sering melakukan sholat 5 waktu walaupun hanya bisa berbaring dari tempat tidurnya, dan pasien terlihat sering berdzikir.

3.1.10 Konsep Diri

Gambaran diri pasien merasa dirinya tidak bisa bebas leluasa melakukan sesuatu seperti kebiasaanya dahulu karena kondisi penyakitnya, dan terpasang beberapa alat yang menganggu aktivitas geraknya. Identitas diri, pasien mengatakan bahwa dirinya sebagai seorang nenek yang sangat sayang terhadap cucunya dirumah. Peran pasien saat dirumah biasanya pasien bercocok tanam, dan memasak masakan kesukaan cucu-cucunya, serta mengurus cucunya.

Karena berada dirumah sakit pasien merasa kehilangan momen menyenangkan kesehariannya tersebut. Harga diri, pasien merasa sangat disayang oleh semua anggota keluarganya, bahkan cucunya sering menelpon dia selama berada dirumah sakit.

3.1.11 Pemeriksaan Fisik 1. Keadaan Umum

Keadaan umum pasien compos mentis, pasien tampak lemah dan lemas, TD 80/60 mmHg, RR 26x/menit, nadi 76x/menit dan frekuensi nadi meningkat 102x/menit (pada saat selesai BAK dari toilet menuju ketempat tidur pasien merasa dada berdebar), suhu 36,40C, SpO2 93-95% (fluktuatif), berat badan 63 kg.

2. Pemeriksaan Wajah

Tidak ada keluhan pada bagian wajah. Wajah tampak simetris, mata simetris kanan dan kiri, konjungtiva anemis, sklera nampak tidak ada ikterik kanan dan kiri, reflek cahaya positif, reflek pupil kanan dan kiri sama.

(4)

Terkadang terdapat pernapasan cuping hidung. Gigi tampak bersih, terdapat karies gigi. Mukosa bibir tampak sedikit kering dan pucat. Telinga simetris antara kanan dan kiri, tidak terdapat serumen. Tidak ada keluhan.

3. Pemeriksaan Kepala dan Leher

Tidak ada keluhan pada bagian kepala, kepala tampak simetris, rambut tampak penyebarannya merata,dan tidak terdapat nyeri tekan, tidak terdapat pembesaran JVD.

4. Pemeriksaan Paru

Bentuk thoraks normal chest, susunan ruas tulang belakang normal, bentuk dada simetris, terdapat retraksi intercosta/retraksi dinding dada, terdapat pernapasan cuping hidung, pola napas takipnea (26 x/menit). Terdapat usaha untuk bernapas. Pada pemeriksaan palpasi ditemukan adanya sedikit nyeri tekan pada area paru yang sakit. Pemeriksaan perkusi area paru suaranya redup pada area kiri paru. Pada pemeriksaan auskultasi ditemukan suara napas ronkhi basah. Keluhan yang dirasakan pasien adalah pasien merasa sesak, merasa nyaman dengan posisi duduk dan atau semi-fowler.

Pasien diberikan terapi oksigen NRBM 10 lpm. Hasil pemeriksaan foto thorax, Pulmo: Corakan vascular meningkat Terdapat Infiltrat (+) pada bagian paracardial kiri.

5. Pemeriksaan Jantung

Pada pemeriksaan palpasi pulsasi pada sensing toraks teraba agak lemah.

Pada pemeriksaan auskultasi terdapat bunyi jantung tambahan BJ III (+), gallop rhythm (+). Dari hasil pemeriksaan thorax : ukuran kesan tidak membesar.Aorta kalsifikasi (+), elongasi (-), dilatasi (+). Pemeriksaan EKG pada tanggal 25 Agustus 2021 dengan interpretasi abnormal EKG (Uncofirmed Diagnosis).

6. Pemeriksaan Abdomen

Pada pemeriksaan inspeksi bentuk abdomen datar, tidak terdapat massa/benjolan, bentuk abdomen simetris. Frekuensi peristaltik usus 15

(5)

x/m. Pada pemeriksaan palpasi tidak ada nyeri tekan ataupun massa pada bagian abdomen.

7. Pemeriksaan Ekstremitas/Muskulokeletal

Pada pemeriksaan ekstremitas atas dan bawah didapatkan kekuatan otot dengan skor 5555. Bisa melawan tahanan secara maksimal.

8. Pemeriksaan Fungsi Pendengaran/Penghidu/Tenggorokan

Tidak ada keluhan terkait fungsi pendengaran/penghidu/tenggorokan.

9. Pemeriksaan Fungsi Penglihatan

Ketajaman penglihatan masih baik. Pada pemeriksaan lapang pandang normal. Tidak ada keluhan pada fungsi penglihatan.

10. Pemeriksaan Fungsi Neurologis

Pada pemeriksaan neurologis tingkat kesadaran pasien dengan GCS skor E4V5M6, tidak ada tanda-tanda penurunan kesadaran. Fungsi sensorikdan motorik baik. Tidak ada keluhan.

11. Pemeriksaan Kulit/Integumen

Pada pemeriksaan kulit tidak ditemukan kelainan. Tekstur kulit kering agak keriput, CRT <3 detik, pada tanggal 25 Agustus 2021 saat pengkajian untuk melihat perkembangan pasien, ditemukan pada pasien terdapat luka tekan dibagian glutea sebelah kanan dan kiri dibagian antara regio gluteus maximus dan natal cleft kurang lebih sekitar 5 cm kanan, dan 4 cm kiri, berwarna merah muda.

(6)

3.1.12 Pemeriksaan Penunjang 1. Pemeriksaan Laboratorium

Tabel 3. 1 Hasil Pemeriksaan Laboratorium Tanggal

Pemeriksaan

Pemeriksaan Hasil Nilai Normal Satuan

15-08-2021 Hematologi (jenis spesimen : Darah) Hemoglobin Eritrosit Hematokrit MCV MCH MCHC Leukosit

Hitung Eosinofil Hitung Basofil Hitung Neutrofil Hitung Limfosit Hitung Monosit

Lanju Endap Darah (LED) Trombosit

Neutrofil Limfosit Ratio (NLR)

12.5 4.630.000 40.4 87.3 27.0 30.9 19.310 0.0 0.1 94.3 1.7 3.9 9 257.000 55.47

12,0-18,0 3 juta- 6 juta 37-47 80,0-93,0 27,0-31,0 32,0-36,0 4.800-10.800 0-4

0-1 51-67 25-33 2-5 0-20

150.000- 400.000 3.13

gr/dl uL

% fL pg g/dL uL

%

%

%

%

% mm/jam uL

% 17-08-2021 Hematologi (jenis

spesimen : Darah)

D-dimer 5.15 0.0-1.35 Ug/mL

23-08-2021 Hematologi (jenis spesimen : Darah)

D-dimer 2.64 0.0-1.35 Ug/mL

27-08-2021 Hematologi (jenis spesimen : Darah) D-dimer

aPTT (jenis spesimen : Darah)

INR

1.92

0.95

0.0-1.35

0.8-1.3

Ug/mL

detik 14-08-2021 Imunoserologi (Jenis

spesimen : Darah) Troponin I

CKMB

< 0.10

< 3.00

< 0.6

< 7.0

ng/ml U/L

(7)

2. Pemeriksaan Lain

Pada pemeriksaan Thorax AP/ pemeriksaan rontgen polos yang dilakukan pada tanggal 26 Juli 2021 pukul 20.38 WIB, didapatkan hasil interpretasi, Cor : ukuran kesan tidak membesar.Aorta kalsifikasi (+), elongasi (-), dilatasi (+).

Pulmo: Corakan vascular meningkat. Tampak infiltrat pada paracardial kiri.

Hemidiafragma D/S : domeshaped. Sinus costophrenicus D/S: Lancip. Tulang dan Soft tissue: normal. Dengan kesimpulan pneumonia, aorta sclerosis dengan dilatasi aorta, congestif pulmonum. Pemeriksaan EKG pada tanggal 25 Agustus 2021 dengan interpretasi abnormal EKG (Uncofirmed Diagnosis).

3.1.13 Terapi

Tabel 3. 2 Terapi Medis

No Nama Obat Dosis Keterangan

1 NS 500 ml/24 jam 10

TPM (IV)

Terapi cairan

2 Omeprazole 2x 40 mg (Injeksi) proton pump inhibitor (PPI) (lambung)

3 Solvinex 3x1amp (2mg/ ml)

(Injeksi)

Mukolitik (pengencer dahak)

4 Farbivent 3x1 amp (2,5 ml) (Nebule)

Inhaler

5 Pulmicort 3x1 amp (2ml)

(Nebule)

Inhaler

6 Vit D 1x 5000 IU (Oral) Vitamin

7 N-Ace 3x 20 mg (Oral) Mukolitik (pengencer

dahak)

8 Becom-Zet 1x1 mg (Oral) Multivitamin

9 Retaphyl 2 x ½ tablet (Oral) Meringankan gejala sesak

3.2 Analisa Data dan Diagnosa Keperawatan

1. Diagnosa Keperawatan : Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif b.d Spasme jalan napas, Hipersekresi jalan napas, sekresi yang tertahan (D.0001)

(8)

a. Pengertian : Ketidakmampuan membersihkan secret atau obstruksi jalan napas untuk mempertahankan jalan napas tetap paten.

b. Data Subyektif : Px mengatakan sesak dan batuk tetapi tidak keluar dahak nya.

c. Data Objektif : Px tidak mampu batuk dan batuk tidak efektif, Ny. W tampak gelisah, Sulit bicara, Suara napas tambahan rales/ ronkhi basah pada pasien, terdapat sputum atau sekret berlebih pada jalan napas Frekuensi napas px 26x/menit, ortopnea atau merasa sesak jika tidur terlentang dan tampak gelisah serta berkeringat.

Hasil Pemeriksaan Thorax AP: Pneumonia, corakan vascular meningkat. Tampak infiltrat pada paracardial kiri.

2. Gangguan Pertukaran Gas b.d Perubahan membran alveolus-kapiler (D.0008)

a. Pengertian: Kelebihan atau kekurangan oksigenasi dan/atau eliminasi karbondioksida pada membran alveolus-kapiler.

b. Data Subyektif : Pasien mengatakan sesak napas dan bertambah berat jika setelah berjalan dari toilet menuju ke tempat tidur.

c. Data Objektif : .Terdapat suara napas tambahan rales/ ronkhi basah pada pasien, frekuensi nadi meningkat menjadi 102 x/menit setelah pasien selesai dari toilet menuju ketempat tempat tidur, Ny.W tampak gelisah, berkeringat, terdapat pernapasan cuping hidung, terdapat usaha untuk bernapas, pola napas takipnea (26x/menit)

Hasil Foto Thorax AP: Cor: ukuran kesan tidak membesar.Aorta kalsifikasi (+), elongasi (-), dilatasi (+). Pulmo: Corakan vascular meningkat. Tampak infiltrat pada paracardial kiri dengan kesimpulan pneumonia, aorta sclerosis dengan dilatasi aorta, congestif pulmonum.

3. Intoleransi Aktivitas b.d kelemahan, tirah baring, dan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen (D.0056)

a. Pengertian : Ketidakcukupan energi untuk melakukan aktivitas sehari- hari

(9)

b. Data Subyektif : Pasien mengatakan sering mengeluh sesak napas, dan mudah kelelahan walau hanya berpindah dari tempat tidur ke kamar mandi sehari sebelum terpasang kateter, serta badan terasa lemas.

c. Data Objektif : Pasien tampak lemah, frekuensi nadi meningkat menjadi 102 x/menit setelah pasien selesai dari toilet menuju ketempat tempat tidur sebelum terpasang kateter, merasa letih, berkeringat, merasa tidak nyaman jika berpindah dari tempat tidur, Hasil EKG Abnormal, jika setelah aktivitas sedikit pasien merasa megap-megap dan terasa sesak.

Hasil foto thorax : Cor : ukuran kesan tidak membesar.Aorta kalsifikasi (+), elongasi (-), dilatasi (+). Pulmo: Corakan vascular meningkat. Tampak infiltrat pada paracardial kiri. Hemidiafragma D/S : domeshaped. Sinus costophrenicus D/S: Lancip. Tulang dan Soft tissue: normal. Dengan kesimpulan pneumonia, aorta sclerosis dengan dilatasi aorta, congestif pulmonum.

Pemeriksaan EKG pada tanggal 25 Agustus 2021 dengan interpretasi abnormal EKG (Uncofirmed Diagnosis).

4. Gangguan Pola Tidur b.d Kurangnya kontrol tidur (kondisi penyakit) (D.0055)

a. Pengertian : Gangguan kualitas dan kuantitas waktu tidur akibat faktor eksternal

b. Data Subyektif : Ny.W mengatakan sulit tidur, karena keluhan sesaknya, sering terjaga pada dini hari, mengeluh tidak puas dengan tidurnya, dan Ny.W pada saat dirumah tidurnya dari jam 21.00-02.00 WIB dan bangun untuk sholat malam

c. Data Objektif : Ny.W saat dirumah sakit hanya tidur 2-3 jam/hari (00.00 – 03.00 WIB), pada saat penggantian cairan infus dan injeksi obat pasien masih terjaga dan belum tidur, pasien tampak lemah dan keletihan, merasa gelisah dan berkeringat.

5. Gangguan Intergritas kulit b.d Penurunan Mobilitas Karena Tirah Baring (D.0129)

(10)

a. Pengertian :Kerusakan kulit (dermis, dan/atau epidermis).

b. Data Subyektif : Ny.W mengatakan sedikit terasa nyeri dibagian glutea c. Data Objektif : Luka tekan dibagian glutea sebelah kanan dan kiri dibagian antara regio gluteus maximus dan natal cleft kurang lebih sekitar 5 cm kanan, dan 4 cm kiri, berwarna merah muda , pasien tirah baring

6. Kesiapan Peningkatan Pengetahuan b.d Perilaku upaya peningkatan kesehatan (D.0111)

a. Pengertian : Perkembangan informasi kognitif yang berhubungan dengan topik spesifik cukup untuk memenuhi kebutuhan tujuan kesehatan dan dapat ditingkatkan.

b. Data Subyektif : Ny.W dan keluarga ketika perawat atau dokter masuk ke ruangannya selalu menanyakan terkait penyakit Ny.W, dan selalu menanyakan terkait manfaat obat serta keluarga Ny.W selalu menanyakan manfaat ketika perawat melakukan bantuan posisi untuk meringankan gejala sesak dengan tujuan memberikan kenyamanan untuk pasien, keluarga Ny.W selalu memberikan feedback kepada perawat dengan menceritakan pengalamannya mengenai suatu topik penyakit.

c. Data Objektif : Ny.W dan keluarga tampak antusias bertanya ketika perawat memberikan implementasi, seperti positioning, pemberian nebul, pemberian obat injeksi, serta luka tekan yang timbul dibagian glutea pasien, serta antusias jika diberikan stimulus pembahasan mengenai kondisi penyakit Ny.W, keluarga Ny.W sering memanggil perawat untuk bertanya dan mengkonfirmasi terkait hal yang dianjurkan dokter ataupun perawat.

(11)

3.3 Rencana Keperawatan

Masalah keperawatan yang telah ditermukan, selanjutnya dilakukan perencanaan intervensi untuk mengatasi masalah pada pasien tersebut. Masalah keperawatan prioritas utama yaitu bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan spasme jalan napas, hipersekresi jalan napas, sekresi yang tertahan. Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan bersihan jalan napas pasien meningkat dengan kriteria hasil batuk efektif, meningkat, produksi sputum menurun, ortopnea menurun, sulit bicara menurun, sianosis menurun, frekuensi napas membaik. Intervensi yang akan dilakukan yaitu berfokus pada manajemen jalan napas dan pemantauan respirasi. Perencanaan keperawatan tersebut antara lain monitor pola napas, monitor bunyi bapas tambahan, posisikan semi-fowler atau fowler, berikan minum hangat, berikan oksigen sesuai kebutuhan, anjurkan asupan cairan 2000 ml/hari, jika tidak ada kontraindikasi, ajarkan teknik batuk efektif, monitor kemampuan batuk efektif, auskultasi bunyi napas, monitor saturasi oksigen, monitor adanya produksi sputum, dan atur interval pemantauan respirasi sesuai kondidi pasien, kolaborasi pemberian bronkodilator, ekspektoran, mukolitik.

Pada diagnosa kedua yaitu gangguan pertukaran gas b.d perubahan membran alveolus-kapiler. Intervensi yang dilakukan adalah pemantauan respirasi dan dukungan ventilasi. Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan pertukaran gas pasien meningkat dengan kriteria hasil dispnea menurun, bunyi napas tambahan menurun, takikardia menurun, diaforesis menurun, gelisah menurun, napas cuping hidung menurun, pola napas membaik. Rencana keperawatan yang dilakukan yaitu monitor status respirasi dan oksigenasi (seperti frekuensi dan kedalaman napas, penggunaan otot bantu napas, dan saturasi oksigen), identifikasi adanya kelelahan otot bantu napas, identifikasi efek perubahan posisi terhadap status pernapasan, pertahankan kepatenan jalan napas, berikan posisi semi fowler atau fowler, fasilitasi

(12)

mengubah posisi senyaman mungkin, berikan oksigenasi sesuai kebutuhan, atur interval pemantauan respirasi sesuai kondidi pasien.

Pada diagnosa ketiga yaitu intoleransi aktivitas b.d kelemahan, tirah baring, dan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen, intervensi yang dilakukan adalah manajemen energi. Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan toleransi aktivitas pada pasien meningkat dengan kriteria hasil keluhan lelah menurun, perasaan lemah menurun, frekuensi napas membaik, saturasi oksigen membaik. Intervensi yang dilakukan yaitu identifikasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan kelelahan, monitor kelelahan fisik dan emosional, monitor pola dan jam tidur, sediakan lingkungan nyaman dan rendah stimulus (misalnya cahaya, suara, dan kunjungan), lakukan Latihan rentang gerak pasif dan/atau aktif, anjurkan tirah baring, anjurkan melakukan aktivitas secara bertahap.

Diagnosa keempat yaitu gangguan pola tidur b.d kurangnya kontrol tidur (kondisi penyakit), intervensi yang dilakukan adalah dukungan tidur.

Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan pola pada pasien membaik dengan kriteria hasil keluhan sulit tidur menurun, keluhan sering terjaga menurun, keluhan sering terjaga menurun, keluhan tidak puas tidur menurun, keluhan pola tidur berubah menurun, keluhan istirahat tidak cukup menurun.

Intervensi yang dilakukan yaitu identifikasi pola aktivitas dan tidur, identifikasi faktor pengganggu tidur (fisik dan/atau psikologis), modifikasi lingkungan (misalnya pencahayaan, kebisingan, suhu, matras, dan tempat tidur), fasilitasi menghilangkan stress sebelum tidur, lakukan prosedur untuk meningkatkan kenyamanan (misalnya pijat, pengaturan posisi, terapi akupresur), sesuaikan jadwal pemberian obat dan/atau tindakan untuk menunjang siklus tidur-terjaga.

Diagnosa keempat yaitu gangguan intergritas kulit b.d penurunan mobilitas karena tirah baring, intervensi yang dilakukan adalah perawatan integritas kulit dan intervensi tambahan yaitu perawatan luka, Setelah dilakukan tindakan keperawatan kerusakan lapisan kulit menurun. Intervensi

(13)

yang dilakukan yaitu identifikasi penyebab gangguan integritas kulit, ubah posisi tiap 2 jam, jika tirah baring. Anjurkan minum air yang cukup, anjurkan meningkatkan asupan nutrisi, anjurkan meningkatkan asupan buah dan sayur, monitor tanda-tanda infeksi, bersihkan dengan cairan nacl atau pembersih nontoksik, sesuai kebutuhan pertahankan teknik steril saat melakukan perawatan luka, ganti balutan sesuai jumlah eksudat dan drainase, jadwalkan perubahan posisi setiap 2 jam atau sesuai kondisi pasien

Diagnosa kelima yaitu kesiapan peningkatan pengetahuan berhubungan dengan perilaku upaya peningkatan kesehatan, intervensi yang dilakukan adalah edukasi kesehatan. Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan perilaku sesuai anjuran meningkat, verbalisasi minat dalam belajar meningkat, kemampuan menjelaskan pengetahuan tentang suatu topik meningkat, perilaku sesuai dengan pengetahuan meningkat, pertanyaan tentang masalah yang dihadapi menurun, persepsi yang keliru terhadap masalah menurun. Intervensi yang dilakukan yaitu Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi, identifikasi faktor-faktor yang dapat meningkatkan dan menurunkan motivasi perilaku hidup sehat, sediakan materi dan media pendidikan kesehatan, jadwalkan pendidikan, sediakan materi dan media pendidikan kesehatan, jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan, berikan kesempatan untuk bertanya, jelaskan faktor risiko yang dapat mempengaruhi kesehatan, ajarkan perilaku hidup bersih dan sehat, ajarkan strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat.

3.4 Implementasi Keperawatan

1. Implementasi dengan diagnosa bersihan jalan napas tidak efektif

Implementasi yang dilakukan pada tanggal 23 Agustus 2021 saat pasien hari kedua di rawat di ruang seruni. Impelementasi yang dilakukan adalah memberikan manajemen jalan napas dan pemantauan respirasi dengan memonitor status respirasi pasien (TTV), memonitor pola napas (takipnea 26x/menit), mengukur saturasi oksigen pasien (94%), memonitor bunyi

(14)

napas tambahan (terdapat suara rales/ronkhi basah), memposisikan pasien semi-fowler atau fowler (pasien diposisikan semi- fowler 450, senyaman pasien), memberikan pasien oksigen (pasien terpasang NRBM 10 lpm), dan mengasisteni perawat ruangan untuk mengajarkan teknik batuk efektif.

Hari ketiga pasien diruangan seruni pada tanggal 24 Agustus 2021, implementasi kembali dilakukan dengan manajemen jalan napas dan pemantauan respirasi dengan memonitor status respirasi pasien (TTV) memonitor pola napas (23x/menit), mengukur saturasi oksigen pasien (96%), memonitor bunyi napas tambahan (terdapat suara rales/ronkhi basah), memposisikan pasien dengan posisi semi-fowler untuk memberikan kenyamanan kepada pasien, memberikan pasien oksigen (pasien terpasang NRBM 8 lpm) dan pemberian nebule

Hari keempat pasien diruangan seruni pada tanggal 25 Agustus 2021, implementasi kembali dilakukan dengan manajemen jalan napas dan pemantauan respirasi dengan memonitor status respirasi pasien (TTV) memonitor pola napas (25x/menit), mengukur saturasi oksigen pasien (93%), memonitor bunyi napas tambahan (terdapat suara rales/ronkhi basah), memonitor sputum (sputum/dahak sedikit keluar dengan batuk efektif), mengingatkan keluarga pasien untuk memberikan minum air hangat, memposisikan pasien dengan posisi semi-fowler dan side lying position untuk memberikan kenyamanan kepada pasien, memberikan pasien oksigen (pasien terpasang NRBM dari 8 lpm ditingkatkan menjadi 10 lpm).

Hari ketujuh pasien diruangan seruni pada tanggal 28 Agustus 2021, implementasi dilakukan dengan manajemen jalan napas dan pemantauan respirasi dengan memonitor status respirasi pasien (TTV) memonitor pola napas (21 x/menit), mengukur saturasi oksigen pasien (96%), memonitor bunyi napas tambahan (terdapat suara rales/ronkhi basah), mengingatkan, memposisikan pasien dengan posisi semi-fowler dan side lying position

(15)

untuk memberikan kenyamanan kepada pasien, memberikan pasien oksigen (pasien terpasang NRBM dari 8 lpm). Pada hari ke delapan pada tanggal 29 Agustus 2021 pasien sudah direncanakan KRS.

2. Implementasi dengan diagnosa gangguan pertukaran gas

Implementasi yang dilakukan pada tanggal 23 Agustus 2021 saat pasien hari kedua di rawat di ruang seruni. Impelementasi yang dilakukan adalah dukungan ventilasi dan pemantauan respirasi dengan memonitor status respirasi pasien (TTV), memonitor kedalaman dari upaya napas dengan hasil RR 26x/menit, memeriksa saturasi oksigen dengan hasil SpO2 94%, irama irregular, mengauskultasi bunyi napas (terdapat suara napas tambahan rales/ronkhi basah), adanya bantuan otot pernapasan, terdapat pernapasan cuping hidung, melakukan pengecekkan aliran oksigen sebelum diberikan kepada pasien, memberikan oksigen NRBM 10 lpm, mengidentifikasi adanya kelelahan otot bantu napas, memberikan posisi semifowler 30-450 atau posisi senyaman mungkin pada pasien.

Hari ketiga pasien diruangan seruni pada tanggal 24 Agustus 2021, implementasi kembali dilakukan dengan pemberian dukungan ventilasi dan pemantauan respirasi dengan memonitor status respirasi pasien (TTV), memonitor kedalaman dari upaya napas dengan hasil RR 23x/menit, memeriksa saturasi oksigen dengan hasil SpO2 96%, mengauskultasi bunyi napas (terdapat suara napas tambahan rales/ronkhi basah), sesekali terdapat pernapasan cuping hidung, melakukan pengecekkan aliran oksigen sebelum diberikan kepada pasien (dosis diturunkan) dengan memberikan oksigen NRBM 8 lpm, memberikan posisi semifowler 30-450 atau posisi senyaman mungkin pada pasien.

Hari keempat pasien diruangan seruni pada tanggal 25 Agustus 2021, implementasi kembali dilakukan dengan pemberian dukungan ventilasi dan pemantauan respirasi dengan memonitor status respirasi pasien (TTV), memonitor kedalaman dari upaya napas dengan hasil RR 25x/menit,

(16)

memeriksa saturasi oksigen dengan hasil SpO2 93%, mengauskultasi bunyi napas (terdapat suara napas tambahan rales/ronkhi basah), irama irregular, sesekali terdapat pernapasan cuping hidung, melakukan pengecekkan aliran oksigen sebelum diberikan kepada pasien (dosis dinaikkan) dengan memberikan oksigen NRBM 10 lpm, memberikan posisi semifowler 450 atau posisi senyaman mungkin pada pasien.

Hari ketujuh pasien diruangan seruni pada tanggal 28 Agustus 2021, implementasi dilakukan dengan pemberian dukungan ventilasi dan pemantauan respirasi dengan memonitor status respirasi pasien (TTV), memonitor kedalaman dari upaya napas dengan hasil RR 21x/menit, memeriksa saturasi oksigen dengan hasil SpO2 96%, mengauskultasi bunyi napas (terdapat suara napas tambahan rales/ronkhi basah), melakukan pengecekkan aliran oksigen sebelum diberikan kepada pasien (dosis diturunkan) dengan memberikan oksigen NRBM 8 lpm, memberikan posisi semifowler 450 atau posisi senyaman mungkin pada pasien.Pada hari ke delapan pada tanggal 29 Agustus 2021 pasien sudah direncanakan KRS.

3. Implementasi dengan diagnosa intoleransi aktivitas

Implementasi yang dilakukan pada tanggal 23 Agustus 2021 saat pasien hari kedua di rawat di ruang seruni. Impelementasi yang dilakukan adalah manajemen energi, dengan implementasi mengidentifikasi gangguan fungsi tubuh (penyakit paru pneumonia) yang mengakibatkan kelelahan pada pasien, memonitor kelelahan fisik dan emosional (pasien tampak lemas karena sesak), menganjurkan tirah baring.

Hari ketiga pasien diruangan seruni pada tanggal 24 Agustus 2021, implementasi kembali dilakukan dengan implementasi manajemen energi, mengidentifikasi gangguan fungsi tubuh yang mengakibatkan kelelahan pada pasien (kondisi penyakit paru pneumonia), memonitor kelelahan fisik dan emosional (pasien tampak sesak dan gelisah serta berkeringat), memonitor pola dan jam tidur (pasien tidur pada jam 00.00-03.00 dini hari

(17)

saat dirumah sakit), menyediakan lingkungan nyaman dan rendah stimulus (mengkondisikan kebisingan, mamatikan lampu ruangan pada saat malam hari, dan melakukan injeksi secara perlahan agar pasien tidak merasa sakit dan terbangun), berkolaborasi dengan fisioterapi untuk melakukan rentang gerak, menganjurkan tirah baring.

Hari keempat pasien diruangan seruni pada tanggal 25 Agustus 2021, implementasi kembali dilakukan dengan manajemen energi, denga memonitor kelelahan fisik dan emosional (pasien tampak sesak dan gelisah serta berkeringat), memonitor pola dan jam tidur (pasien hanya tidur pada jam 23.30.00-04.00 dini hari saat dirumah sakit), menyediakan lingkungan yang nyaman dan rendah stimulus (mengkondisikan kebisingan, mematikan lampu ruangan pada saat malam hari, dan melakukan injeksi secara perlahan agar pasien tidak merasa sakit dan terbangun, menimalisir bunyi ketika masuk keruangan pasien), berkolaborasi dengan fisioterapi melakukan latihan rentang gerak pasif dan/atau aktif yang dilakukan oleh keluarga pasien, menganjurkan pasien tirah baring, menganjurkan melakukan aktivitas secara bertahap, mengingatkan kembali keluarga pasien untuk melakukan perubahan posisi miring kanan dan miring kiri setiap 2 jam sekali.

Hari ketujuh pasien diruangan seruni pada tanggal 28 Agustus 2021, implementasi dilakukan dengan manajemen energi yaitu dengan mengingatkan keluarga untuk rutin melakukan latihan rentang gerak pasif dan/atau aktif pada pasien, menganjurkan pasien tirah baring, mengingatkan dan menanyakan kembali pada keluarga pasien untuk melakukan perubahan posisi miring kanan dan miring kiri setiap 2 jam sekali. Pada hari ke delapan pada tanggal 29 Agustus 2021 pasien sudah direncanakan KRS.

(18)

4. Implementasi pada gangguan pola tidur

Implementasi yang dilakukan pada tanggal 23 Agustus 2021 saat pasien hari kedua di rawat di ruang seruni. Impelementasi yang dilakukan adalah dukungan tidur, dengan mengidentifikasi pola aktivitas dan tidur (pasien mengatakan hanya bisa tidur pada jam 00.00-03.00 dini hari saat dirumah sakit untuk bangun sholat malam, sedangkan pada saat dirumah biasa tidur dari jam 21.00-02.00 WIB), mengidentifikasi faktor pengganggu tidur (kondisi penyakit paru pneumonia dengan keluhan sesak), melakukan prosedur untuk meningkatkan kenyamanan (pemberian posisi semi-fowler) senyaman mungkin sesuai kenginan pasien.

Hari ketiga pasien diruangan seruni pada tanggal 24 Agustus 2021, implementasi kembali dilakukan dengan implementasi dukungan tidur, dengan mengidentifikasi pola aktivitas dan tidur (pada saat perawat memasuki ruangan terlihat pasien tertidur kurang lebih 00.00 pada saat penggantian cairan infus dan jam tindakan injeksi obat), memodifikasi lingkungan (mematikan lampu pada saat jam tidur, dan memininalisir kebisingan pada saat masuk keruangan pada saat jam injeksi dan melakukan injeksi secara perlahan agar pasien tidak merasa sakit dan terbangun), memfasilitasi menghilangkan stress sebelum tidur (pemberian murrotal qur’an),melakukan prosedur untuk meningkatkan kenyamanan (pengaturan posisi) senyaman mungkin, menyesuaikan jadwal pemberian obat dan/atau tindakan untuk menunjang siklus tidur-terjaga (kecuali pemberian injeksi solvinex pada jam 00.00 WIB).

Hari keempat pasien diruangan seruni pada tanggal 25 Agustus 2021, implementasi kembali dilakukan dengan dukungan tidur, dengan implementasi mengidentifikasi pola aktivitas dan tidur (pada saat perawat memasuki ruangan terlihat pasien tertidur dari jam 23.30 pada saat penggantian cairan infus), memodifikasi lingkungan (mematikan lampu pada saat jam tidur, dan memininalisir kebisingan pada saat masuk keruangan pada saat jam injeksi dan melakukan injeksi secara perlahan agar

(19)

pasien tidak merasa sakit dan terbangun), memfasilitasi menghilangkan stress sebelum tidur (menganjurkan memutar murrotal qur’an), melakukan prosedur untuk meningkatkan kenyamanan (pengaturan posisi semi fowler) senyaman mungkin, menyesuaikan jadwal pemberian obat dan/atau tindakan untuk menunjang siklus tidur-terjaga (kecuali pemberian injeksi solvinex pada jam 00.00 WIB)

Hari ketujuh pasien diruangan seruni pada tanggal 28 Agustus 2021, implementasi yang dilakukan yaitu dengan dukungan tidur, dengan implementasi, mengidentifikasi pola aktivitas dan tidur, kelurga pasien mengatakan Ny.W tidur pada 22.30-03.00 malam tadi (27 agustus 2021).

Pada hari ke delapan pada tanggal 29 Agustus 2021 pasien sudah direncanakan KRS.

5. Implementasi pada diagnosa gangguan integritas kulit

Implementasi yang dilakukan pada tanggal 25 Agustus 2021 saat pasien hari keempat di rawat di ruang seruni. Impelementasi yang dilakukan adalah perawatan integritas kulit, dengan implementasi yaitu, mengidentifikasi penyebab gangguan integritas kulit (Luka tekan akibat bed rest/tirah baring), menganjurkan dan memberikan bantuan mengubah posisi tiap 2 jam jika tirah baring (latihan miring kanan dan miring kiri).

Hari ketujuh pasien diruangan seruni pada tanggal 28 Agustus 2021, implementasi dilakukan yaitu dengan perawatan luka, implementasi yang dilakukan yaitu memonitor tanda- tanda infeksi (luka tekan, berwarna merah muda, dibagian glutea sebelah kanan dan kiri dibagian antara regio gluteus maximus dan natal cleft kurang lebih sekitar 4 cm kanan ,4 cm kiri, mengasisteni perawat ruangan untuk mebersihkan dengan cairan NaCl, sesuai kebutuhan, mempertahankan teknik steril saat rawat luka, dan memberikan gel clinium 1% (clindamycin) sebelum menutup luka dengan kassa steril.

(20)

Hari kedelapan pasien diruangan seruni pada tanggal 29 Agustus 2021 sebelum pasien pulang karena rencana KRS, implementasi dilakukan yaitu dengan perawatan luka, implementasi yang dilakukan yaitu memonitor tanda- tanda infeksi (luka tekan, berwarna merah muda, dibagian glutea sebelah kanan dan kiri dibagian antara regio gluteus maximus dan natal cleft kurang lebih sekitar 4 cm kanan,3 cm kiri), membersihkan luka dengan cairan NaCl sesuai kebutuhan, mempertahankan tekni steril saat rawat luka, dan memberikan gel clinium 1% (clindamycin) sebelum menutup luka dengan kassa steril, serta mengedukasi pasien dan keluarga untuk selalu melakukan miring kanan dan miring kiri saat dirumah, agar mempercepat proses penyembuhan luka dan mencegah terjadinya luka baru.

6. Implementasi pada diagnosa kesiapan peningkatan pengetahuan

Hari ketujuh pasien diruangan seruni pada tanggal 28 Agustus 2021 sebelum rencana KRS pada hari besok, implementasi yang dilakukan yaitu dengan edukasi kesehatan, implementasi yang dilakukan yaitu pendidikan kesehatan mengenai penyakit pneumonia pada pasien dan keluarganya, dari definisi, perjalanan penyakit kenapa bisa terjadi pneumonia, pencegahan, dan gejala pneumonia yang harus menghubungi fasilitas kesehatan, dan mengedukasi pasien untuk patuh menjalani pengobatan ketika pulang, menjelaskan cara pemakaian dan manfaat obat pulang, serta mengingatkan pasien untuk kontrol ke poli paru RS UMM pada tanggal 7 september 2021 pada pukul 16.00 WIB dengan dr.Wara Pertiwi, Sp.P.

3.5 Evaluasi

Setelah dilakukan intervensi tersebut, evaluasi hasil dari tindakan asuhan keperawatan sesuai masalah keperawatan sebagai berikut :

1. Evaluasi diagnosa bersihan jalan napas tidak efektif

Pada hari pertama dilakukannya implementasi pada tanggal 23 Agustus 2021, didapatkan hasil data subjektif, pasien mengatakan masih merasa sesak jika Oksigen NRBM dilepas. Data objektif nya yaitu batuk efektif belum

(21)

meningkat, ortopnea belum menurun, sulit bicara sedikit menurun, frekuensi napas belum membaik. Hasil TTV menunjukkan: TD: 80/60 mmHg, N:

76x/menit, RR: 26x/menit, suhu: 36,40C, SPO2: 94%. Sehingga perlu dilanjutkannya intervensi keperawatan dengan memanajemen jalan napas dan pemantauan respirasi dan berkolaborasi dengan terapi medis sesuai dengan advice dokter.

Pada hari kedua dilakukannya implementasi pada tanggal 24 Agustus 2021, didapatkan hasil data subjektif, pasien mengatakan sesak sedikit berkurang dibandingkan hari kemarin, tetapi jika NRBM dilepas pasien masih merasa sesak, NRBM diturunkan menjadi 8 lpm. Data objektif nya yaitu batuk efektif meningkat sedang, produksi sputum belum menurun, ortopnea belum menurun, sulit bicara sedikit menurun, frekuensi napas belum membaik. Hasil TTV menunjukkan: TD: 100/84 mmHg, N: 94x/menit, RR: 23x/menit, suhu:

36,80C, SPO2: 96%. Sehingga perlu dilanjutkannya intervensi keperawatan dengan memanajemen jalan napas dan pemantauan respirasi dan berkolaborasi dengan terapi medis sesuai dengan advice dokter.

Pada hari ketiga dilakukannya implementasi pada tanggal 25 Agustus 2021, didapatkan hasil data subjektif pasien mengatakan sesak agak memberat, dan jika NRBM dilepas akan merasa sesak, NRBM dinaikkan menjadi 10 lpm.

Data objektif nya yaitu batuk efektif meningkat sedang, produksi sputum belum menurun, ortopnea belum menurun, sulit bicara cukup menurun, frekuensi napas membaik sedang. Hasil TTV menunjukkan: TD: 110/70 mmHg, N: 81 x/menit,RR:25x/menit,suhu:36,50C, SPO2:93%. Sehingga perlu dilanjutkannya intervensi keperawatan dengan memanajemen jalan napas dan pemantauan respirasi dan berkolaborasi dengan terapi medis sesuai dengan advice dokter.

Pada hari keempat dilakukannya implementasi pada tanggal 28 Agustus 2021, didapatkan hasil data subjektif pasien mengatakan sesak berkurang, dan jika NRBM dilepas masih merasa sesak, NRBM diturunkan menjadi 8 lpm.

Data objektif nya yaitu batuk efektif meningkat sedang, produksi sputum menurun sedang, ortopnea sedikit menurun, sulit bicara menurun, frekuensi

(22)

napas cukup membaik. Hasil TTV menunjukkan: TD : 120/80 mmHg, N : 93 x/menit, RR :21x/menit, suhu: 360C, SPO2:96%. Sehingga perlu dilanjutkannya intervensi keperawatan dengan memanajemen jalan napas dan pemantauan respirasi dan berkolaborasi dengan terapi medis sesuai dengan advice dokter.

Pasien rencana KRS tanggal 29 Agustus 2021.

2. Evaluasi diagnosa gangguan pertukaran gas

Pada hari pertama dilakukannya implementasi pada tanggal 23 Agustus 2021, didapatkan hasil data subjektif, pasien mengatakan masih merasa sesak jika Oksigen NRBM dilepas. Data objektif nya yaitu dispnea belum menurun, bunyi napas tambahan belum menurun, takikardia belum menurun, diaforesis belum menurun, gelisah sedikit menurun, napas cuping hidung belum menurun, pola napas belum membaik. Hasil TTV menunjukkan: TD : TD: 80/60 mmHg, N: 76x/menit dan 102x/menit (setelah beranjak dari toilet menuju tempat tidur), RR: 26x/menit, suhu: 36,40C, SPO2: 94%. Sehingga perlu dilanjutkannya intervensi keperawatan dengan dukungan ventilasi, pemantauan respirasi dan berkolaborasi dengan terapi medis sesuai dengan advice dokter.

Pada hari kedua dilakukannya implementasi pada tanggal 24 Agustus 2021, didapatkan hasil data subjektif, pasien mengatakan sesak sedikit berkurang dibandingkan hari kemarin, tetapi jika NRBM dilepas pasien masih merasa sesak, NRBM diturunkan menjadi 8 lpm. Data Objektif yaitu dispnea menurun sedang, bunyi napas tambahan belum menurun, takikardia menurun, diaforesis sedikit menurun, gelisah menurun sedang, napas cuping hidung menurun sedang, pola napas membaik sedang.TD: 100/84 mmHg, N:

94x/menit, RR: 23x/menit, suhu: 36,80C, SPO2: 96%. Sehingga perlu dilanjutkannya intervensi keperawatan dengan dukungan ventilasi, pemantauan respirasi dan berkolaborasi dengan terapi medis sesuai dengan advice dokter.

Pada hari ketiga dilakukannya implementasi pada tanggal 25 Agustus 2021, didapatkan hasil data subjektif pasien mengatakan sesak agak memberat, dan jika NRBM dilepas akan merasa sesak, NRBM dinaikkan menjadi 10 lpm.

Data objektif nya yaitu dispnea belum menurun, bunyi napas tambahan belum

(23)

menurun, takikardia menurun, diaforesis belum menurun, gelisah sedikit menurun, napas cuping hidung sedikit menurun, pola napas sedikit membaik.

Hasil TTV menunjukkan: TD: 110/70 mmHg, N: 81 x/menit, RR:25x/menit, suhu:36,50C,SPO2:93%.Sehingga perlu dilanjutkannya intervensi keperawatan dengan dukungan ventilasi dan pemantauan respirasi dan berkolaborasi dengan terapi medis sesuai dengan advice dokter.

Pada hari keempat dilakukannya implementasi pada tanggal 28 Agustus 2021, didapatkan hasil data subjektif pasien mengatakan sesak berkurang, dan jika NRBM dilepas masih merasa sesak, NRBM diturunkan menjadi 8 lpm.

Data objektif nya yaitu dispnea cukup menurun, bunyi napas tambahan menurun sedang, takikardia menurun, diaforesis cukup menurun, gelisah cukup menurun, napas cuping hidung menurun, pola napas cukup membaik. Hasil TTV menunjukkan: TD: 120/80 mmHg, N : 93 x/menit, RR :21x/menit, suhu:

360C, SPO2:96%. Sehingga perlu dilanjutkannya intervensi keperawatan dengan dukungan ventilasi dan pemantauan respirasi dan berkolaborasi dengan terapi medis sesuai dengan advice dokter. Pasien rencana KRS tanggal 29 Agustus 2021.

3. Evaluasi diagnosa intoleransi aktivitas

Pada hari pertama dilakukannya implementasi pada tanggal 23 Agustus 2021, didapatkan hasil data subjektif yaitu pasien mengatakan jika berpindah posisi merasakan sesak, dan berkeringat, serta merasa lemas, pasien dianjurkan tirah baring. Data objektif yaitu keluhan lelah belum menurun, perasaan lemah belum menurun, frekuensi napas belum membaik, saturasi oksigen belum membaik. Hasil TTV : TD : 80/60 mmHg, N : 76x/menit dan frekuensi nadi meningkat 102x/menit (pada saat selesai BAK dari toilet menuju ketempat tidur pasien merasa dada berdebar), RR : 26x/menit, suhu : 36,40C, SPO2 : 94%.

Pada hari kedua dilakukannya implementasi pada tanggal 24 Agustus 2021, didapatkan hasil data subjektif yaitu pasien mengatakan jika berada di posisi semi-fowler sesak agak berkurang dan lebih bisa berbicara, pasien masih merasa lemas, pasien tetap dianjurkan tirah baring. Data objektif yaitu keluhan

(24)

lelah belum menurun (pasien tampak lesu dan berkeringat), perasaan lemah belum menurun, frekuensi napas membaik sedang, saturasi oksigen cukup membaik. Hasil TTV: 100/84 mmHg, N : 94x/menit, RR : 23x/menit, suhu : 36,80C, SPO2 : 96%.

Pada hari ketiga dilakukannya implementasi pada tanggal 25 Agustus 2021, didapatkan hasil data subjektif yaitu pasien mengatakan jika berpindah posisi langsung terasa sesak, dan merasa nyaman dengan posisi semi-fowler dibandingkan posisi miring, pasien tetap dianjurkan tirah baring. Data objektif yaitu keluhan lelah belum menurun (pasien tampak lesu dan berkeringat), perasaan lemah belum menurun, frekuensi napas belum membaik, saturasi oksigen belum membaik. Hasil TTV: TD: 110/70 mmHg, N : 81 x/menit, RR : 25x/menit, suhu: 36,50C, SPO2:93%.

Pada hari keempat dilakukannya implementasi pada tanggal 28 Agustus 2021, didapatkan hasil data subjektif yaitu pasien mengatakan sesak berkurang ketika berpindah posisi semi-fowler, dan pasien merasa tidak terlalu lemas lagi dibandingkan hari-hari sebelumnya, pasien tetap dianjurkan tirah baring. Data objektif yaitu keluhan lelah cukup menurun (pasien tampak antusias dan fokus saat mendengarkan perawat mengedukasi dengan keluarganya), perasaan lemah cukup menurun, frekuensi napas cukup membaik, saturasi oksigen membaik. Hasil TTV: TD : 120/80 mmHg, N : 93 x/menit, RR: 21x/menit, suhu: 360C, SPO2:96%. Pasien dan keluarga dianjurkan tetap melakukan anjuran dari perawat dan melakukan terapi medis sesuai dengan advice dokter sampai direncanakan KRS besok harinya pada tanggal 29 Agustus 2021.

4. Evaluasi diagnosa gangguan pola tidur

Pada hari pertama dilakukannya implementasi pada tanggal 23 Agustus 2021, didapatkan hasil data subjektif yaitu pasien mengatakan tidak bisa tidur karena sesak dan gelisah dan sering terjaga pada malam hari, biasanya dirumah tidur pada jam 21.00-02.00 WIB, pada saat dirumah sakit baru bisa tidur sekitar pukul kurang lebih 00.00 WIB dan terbangun pada pukul 03.00 WIB dini hari.

Data objektif yaitu keluhan sulit tidur belum menurun, keluhan sering terjaga

(25)

belum menurun, keluhan sering terjaga belum menurun, keluhan tidak puas tidur belum menurun, keluhan pola tidur berubah belum menurun, keluhan istirahat tidak cukup belum menurun. Sehingga perlunya diberikan intervensi untuk dukungan tidur dengan pemberian murrotal Qur’an.

Pada hari kedua dilakukannya implementasi pada tanggal 24 Agustus 2021 dengan dianjurkan memutar murrotal Qur’an sebelum tidur, didapatkan hasil data subjektif yaitu pasien mengatakan bisa tertidur walaupun keluhan sesak masih terasa, mulai tertidur kurang lebih 00.00 tanpa terjaga, dan keluarga pasien mengatakan Ny.W terbangun sekitar kurang lebih pukul 03.30 WIB dini hari. Data objektif yaitu keluhan sulit tidur menurun sedang, keluhan sering terjaga cukup menurun , keluhan tidak puas tidur sedikit menurun, keluhan pola tidur berubah belum menurun, keluhan istirahat tidak cukup belum menurun, Sehingga perlunya diberikan intervensi untuk dukungan tidur dengan pemberian murrotal Qur’an.

Pada hari ketiga dilakukannya implementasi pada tanggal 25 Agustus 2021, didapatkan hasil data subjektif yaitu pasien mengatakan bisa tertidur walaupun keluhan sesak, namun terbangun karena ingin BAK, namun bisa tertidur lagi dan keluarga pasien mengatakan Ny.W terbangun sekitar kurang lebih pukul 03.00 WIB dini hari. Data objektif yaitu keluhan sulit tidur menurun sedang, keluhan sering terjaga menurun sedang, keluhan tidak puas tidur sedikit menurun, keluhan pola tidur berubah belum menurun, keluhan istirahat tidak cukup belum menurun, Sehingga perlunya diberikan intervensi untuk dukungan tidur dengan pemberian murrotal Qur’an.

Pada hari keempat dilakukannya implementasi pada tanggal 28 Agustus 2021, didapatkan hasil data subjektif yaitu pasien mengatakan bisa tertidur lebih awal dibandingkan hari sebelumnya dan pasien mengatakan bahwa tidurnya nyenyak, biasanya terbangun karena ada kunjungan perawat atau suara, namun pada saat malam kemarin (27 Agustus 2021) pasien tidak terjaga sama sekali, keluarga Ny.W mengatakan bahwa ibu terbangun pada pukul 03.00 untuk sholat malam, keluarga Ny.W mengatakan bahwa ibunya meminta

(26)

diputarkan murrotal Qur’an selama dia tidur dengan volume tidak terlalu besar.

Data objektif yaitu keluhan sulit tidur menurun, keluhan sering terjaga menurun, keluhan cukup menurun, keluhan pola tidur berubah sedikit menurun, keluhan istirahat tidak cukup menurun sedang, tampak pasien terlihat tidak lemas. Pada tanggal 29 Agustus 2021 pada pukul 14.00 WIB pasien KRS.

5. Evaluasi diagnosa gangguan integritas kulit

Pada hari pertama dilakukannya implementasi pada tanggal 25 Agustus 2021 dengan implementasi perawatan integritas kulit, didapatkan hasil data subjektif yaitu pasien merasa sedikit tidak nyaman dan nyeri pada luka tekan yang ada dibagian gluteus pasien. Data objektif yaitu kerusakan lapisan kulit belum menurun dibuktikan dengan adanya luka tekan dibagian glutea sebelah kanan dan kiri dibagian antara regio gluteus maximus dan natal cleft kurang lebih sekitar 5 cm kanan, dan 4 cm kiri, berwarna merah muda. Sehingga perlunya dilakukan implementasi perawatan luka dan berkolaborasi dengan terapi medis sesuai dengan advice dokter.

Pada hari kedua dilakukannya implementasi tambahan yaitu perawatan luka pada tanggal 28 Agustus 2021 dengan data subjektif yaitu pasien mengatakan merasa sedikit tidak nyaman dengan lukanya Data objektif yaitu kerusakan lapisan kulit sedikit menurun dibuktikan dengan adanya luka tekan dibagian glutea sebelah kanan dan kiri dibagian antara regio gluteus maximus dan natal cleft kurang lebih sekitar 4 cm kanan, dan 4 cm kiri (bagian berwana merah muda) dengan kondisi dipinggir luka sedikit mengering berwarna kecoklatan. Sehingga perlunya dilanjutkan implementasi tambahan perawatan luka dan berkolaborasi dengan terapi medis sesuai dengan advice dokter.

Pada hari ketiga dilakukannya implementasi tambahan yaitu perawatan luka pada tanggal 29 Agustus 2021 pada pukul 10.00 WIB, dengan data subjektif yaitu pasien mengatakan nyeri sedikit berkurang pada bagian luka.

Data Objektif yaitu kerusakan lapisan kulit cukup menurun dibuktikan dengan adanya luka tekan dibagian glutea sebelah kanan dan kiri dibagian antara regio gluteus maximus dan natal cleft kurang lebih sekitar 4 cm kanan, dan 3 cm kiri

(27)

(bagian berwana merah muda) dengan kondisi dipinggir luka sedikit mengering berwarna kecoklatan. Pada tanggal 29 Agustus 2021 pada pukul 14.00 WIB pasien KRS.

6. Evaluasi diagnosa kesiapan peningkatan pengetahuan

Pada hari pertama implementasi edukasi kesehatan pada tanggal 28 Agustus 2021, diperoleh data subjektif yaitu pasien dan keluarga mengerti dan memahami terkait penyakit pneumonia dan memahami cara pemakaian obat oral ketika pulang, dan tahu kapan harus kontrol ke poli paru. Data objektif nya yaitu verbalisasi minat dalam belajar meningkat (sejak awal dirawat pasien dan keluarga selalu antusias mendengarkan penjelasan perawat), kemampuan menjelaskan pengetahuan tentang suatu topik meningkat (pasien dan keluarga mampu memahami penyakit pneumonia walaupun tidak secara detail bisa mengulang materi yang dijelaskan), perilaku sesuai dengan pengetahuan meningkat sedang, pertanyaan tentang masalah yang dihadapi menurun, persepsi yang keliru terhadap masalah menurun. Pada tanggal 29 Agustus 2021 pada pukul 14.00 WIB pasien KRS.

Referensi

Dokumen terkait

Mengobservasi kondisi umum pasien, Merapikan tempat tidur, Mengkaji respon pasien terhadap aktivitas, Memonitor tanda-tanda vital klien, Mengkaji pola kebersihan diri,

Penentuan evaluasi mengenai kondisi pasien setelah pemberian intervensi keperawatan didasarkan kepada luaran yang diharapkan yang bersumber dari SLKI (Standar

Rencana asuhan keperawatan yang di berikan kepada Tn. X berdasarkan diagnosis yang telah di angkat dan mengacu pada SLKI dan SIKI. Tujuan di lakukan rencana keperawatan akan di

Pada masalah keperawatan yang sudah diatasi selama 2 pertemuan implementasi dan evaluasi menunjukkan hasil sebagai berikut, masalah keperawatan pertama perfusi

Masalah keperawatan yang ketiga Manajemen Kesehatan Tidak Efektif b/d ketidakefektifan pola perawatan kesehatan keluarga dilakukan intervensi Mengidentifikasi kesiapan

Menganjurkan ibu untuk melakukan massage effleurage mandiri pada perut apabila kontraksi kembali selain pada punggung DS: Ibu mengatakan lebih nyaman setiap kali diberikan massage

60 09.15 1 Menyiapkan alat bahan rosemary sesuai indikasi yaitu pemberian sehari sekali dalam waktu 15-30 menit menggunakan 2-3 tetes minyak esensial rosemary DS :Pasien dan keluarga

Diagnosis keperawatan Diagnosis keperawatan yang dapat dirumuskan berdasarkan data-data tersebut yaitu pola napas tidak efektif berhubungan dengan hambatan upaya napas dibuktikan