PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS PADJADJARAN BANDUNG 2011

Teks penuh

(1)

Is there a need for a maxim of politeness?

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Pragmatik

oleh

dosen pembimbing Nani Darmayanti, M.Hum

PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA

FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS PADJADJARAN

BANDUNG

2011

Santana Adiputra 180110070013 Devina Christania 180110070015 Dewi Arumsari 180110070037 Risah Munita 180110070042 Mahfud Achyar 180110070051

(2)

ABSTRAK

Penelitian ini berjudul “Masihkah diperlukan maksim kesopanan?”. Jurnal tersebut memberikan dua argumen yang mendukung maksim kesopanan. Argument pertama menganggap maksim adalah bagian dari penjelasan terbaik dari perilaku kesopanan, termasuk masalah yang terdapat dan yang tidak terdapat dalam teori prinsip percakapan Brown dan Levinson serta Fraser dan Nolen’s. Argument yang kedua adalah maksim

kesopanan bagian dari percakapan yang rasional bagi pihak-pihak yang lebih mendominasi dalam percakapan. Hal ini mengarah pada teori Gricean yang baru tentang kesopanan: maksim kesopanan dipandang sebagai maksim percakapan tambahan dalam prinsip-prinsip kerja sama. Dalam percakapan rasional antara pihak-pihak yang lebih mendominasi. Isi dari maksim ini kemudian dibatasi pada konsep wajah yang menggabungkan beberapa gagasan Brown dan Levinson ke dalam Gricean.

Kata kunci: Grice, kesopanan, ketidaksopanan, konsep wajah; implikatur. GAGASAN

Jurnal ini membahas bahwa teori Brown dan Levinson tidak memuaskan dan menjelaskan bahwa teori Gricean membahas apa yang tidak dibahas dalam teori Brown dan Levinson walaupun tidak lengkap. Brown dan Levinson memformulasikan tiga argument. Pertama, mereka mengakui bahwa gagasan mereka tidak berjudul untuk menempatkan maksim bagi setiap keteraturan dalam penggunaan bahasa. Hal ini benar adanya, tetapi kesopanan nampaknya lebih dari sekadar keteraturan, sejak kesopanan memiliki aspek normative. Kedua, mereka mengakui bahwa control sosial memiliki peranan yang penting mengenai keharusan siapa yang sopan dan kepada siapa. Tapi hal ini tidak menjadi pengecualian, melainkan lebih kepada membuat definisi umum dari kesopanan. Ketiga, Brown dan Levinson mengakui bahwa kesopanan memiliki “maxim like status” akan menjadi “sulit untuk menjadi sopan”.

Teori Brown dan Levinson tidak memuaskan karena mereka bergagasan bahwa kesopanan dikomunikasikan sebagai sebuah implikatur. Fraser menilai bahwa pandangan Brown dan Levinson tentang kesopanan dikomunikasikan sebagai implikatur berlawanan sejak kesopanan secara normal sudah diantisipasi; lalu ada ‘norma’ komunikasi yang sopan. Titik utamanya adalah kita cukup memutuskan ucapan menjadi sopan walaupun tidak adanya

(3)

bisa menjadi sopan walaupun penutur sama sekali tidak bermaksud sopan. TUJUAN PENELITIAN

1. Mengkaji teori atau ide Brown dan Levinson (1987) mengenai maksim kesopanan. 2. Mencari kebenaran dan kepuasan dari teori atau ide Brown dan Levinson (1987). 3. Mengkaji teori kontrak percakapan Fraser dan Nolen.

4. Menyajikan teori Gricean sesuai dengan yang ada pada maksim kesopanan yang mendasari percakapan.

5. Menyajikan teori Gricean sesuai dengan maksim kesopanan yang mendasari sebuah percakapan.

6. Menjawab pertanyaan seperti apa maksim kesopanan itu. 7. Menentukan isi maksim wajah secara teoritis.

8. Melihat kasus khusus dalam komunikasi kesopanan.

9. Menjawab pertanyaan tentang penerapan maksim kesopanan dan definisi untuk ucapan-ucapan yang sebenarnya.

10. Menyimpulkan dengan meringkas uraian. TEKNIK PENELITIAN

Teknik penelitian yang digunakan Jonas Pfister adalah teknik pencatatan. Beberapa kutipan, teori, serta contoh-contoh di dalam buku dari para pencetus teori-teori kesopanan seperti Brown dan Levinson, Fraser, dan Grice.

Contoh pencatatan dalam jurnal Jonas Pfister:

“Here are three different examples, one for positive politeness, one for negative politeness and one for impoliteness. Here is the first one (Brown and Levinson, 1987:103):

1. Goodness, you cut your hair! (….) By the way, I came to borrow some flour. “Here is the next example (Brown and Levinson, 1987:133)

2. Can you please pass the salt?

(4)

3. You can pass the salt. (page 1269).

Jonas Pfister membagi tulisannya ke dalam sepuluh bagian dengan penyajian abstrak beserta kata kuncinya. Teknik penelitian yang dilakukan Jonas Pfister sendiri sudah dijelaskan secara ringkas di dalam “introduction” atau perkenalan, Kesepuluh bagian itu adalah:

1. Introduction

Merupakan bagian perkenalan mengenai pembahasan yang akan dibicarakan. Dalam bagian ini Jonas Pfister mengungkapkan langkah-langkah yang hendak dilakukannya dalam jurnal pragmatic ini.

2. Brown and Levinson theory

Merupakan bagian penjelasan tentang teori Brown dan Levinson yang juga menjadi acuan permasalahan dalam penulisan jurnal ini.

3. Why the conversational contract theory alone is not satisfactory

Memuat alasan tentang teori Brown dan Levinson yang tidak memuaskan dan merupakan penjelasan dari poin dua.

4. Why the conversational contract theory alone is no alternative

Jonas Pfister mengungkapkan teori Fraser dan Nolen yang bisa melakukan apa yang tidak bisa dijelaskan oleh teori Brown dan Levinson, namun ini pun tidak bisa dijadikan jalan alternatif.

5. The Gricean of maxim

Merupakan teori alternatif yang disajikan Jonas Pfister yang sesuai dengan maksim kesopanan rasional yang mendasari percakapan.

6. The status of maxim

Menjelaskan mengenai status maksim melalui contoh percakapan. 7. The content of maxim

Menentukan isi maksim kesopanan dan memperkenalkan tiga aturan: a. Jangan memaksa

b. Member pilihan

c. Membuat lelucon tutur merasa baik/bersikap ramah. 8. The communication of politeness

Bagaimana sebuah komunikasi kesopanan itu seharusnya berlangsung. 9. Applying the maxim and definition of politeness

(5)

TINJAUAN TEORI • Teori Grice

Teori Grice memperkenalkan prinsip kerja sama. Prinsip ini ada tidak focus pada prinsip kesopanan. Grice mengakui bahwa dalam percakapan harus memenuhi sopan santun yang didukung oleh maksim lain seperti estetika, sosial, atau moral dalam karakter. Namun

kelemahan teori yang disampaikan oleh Grice adalah, ia tidak focus terhadap gagasan tersebut. Artinya tidak menjelaskan lebih lanjut teori yang ia kemukakan.

Sementara itu, Lakoff, Leech, Kingwell, Davis, dan Kallia menyatakan bahwa prinsip sopan diperlukan meskipun sebagian dari mereka memahami gagasan Grice yang berbeda. Kaidah percakapan Grice dibagi menjadi dua yaitu maksim kuantitas dan maksim kualitas. Maksim kuantitas 1) memberikan informasi yang dibutuhkan; 2) tidak memberikan informasi yang berlebihan. Maksim kualitas 1) katakana sesuatu yang benar; 2) jawablah sesuai dengan yang ditanyakan. Cara untuk memenuhi maksim tersebut yaitu dengan menghindari ketidakjelasan, hindari ambiguitas, jangan bertele-tele, dan jadilah tertib. • Teori Brown dan Levinson

Kesopanan merupakan alat yang digunakan untuk menunjukkan kesadaran tentang wajah orang lain. Konsep wajah dibagi dua yaitu wajah positif dan wajah negatif. Wajah positif adalah kebutuhan yang diterima jika mungkin dapat disukai oleh orang lain (kebutuhan yang dihubungi). Wajah negatif adalah kebutuhan untuk merdeka dengan indicator kebebasan bertindak dan tidak tertekan oleh orang lain. Selain bicara konsep wajah, teori Brown dan Levinson juga bicara tentang kesopanan positif yang ditandai dengan mencoba memenuhi wajah positif dan kesopanan negatif yang mencoba memenuhi wajah negative.

• Teori Fraser dan Nolen

Teori kontrak percakapan kesopanan:

1. Adanya hak dan kewajiban pembicaraan dan pendengar.

2. Sopan itu berarti penutur membicarakan sesuatu dengan waktunya. Sopan itu memenuhi aturan-aturan hubungan percakapan.

3. Teori kontrak itu dapat menangkap gagasan dengan baik.

Teori kontrak ini bertujuan agar gagasan yang ingin disampaikan penutur ke lawan tutur dapat tersampaikan dengan baik.

(6)

DATA

Data yang digunakan Jonas Pfister dalam penelitian dikutip dalam Brown dan Levinson. Contoh datanya adalah:

Goodness, you cut your hair! (….) By the way, I came to borrow some flour.

Maksud penutur kepada lawan tuturnya adalah menanyakan apakah ia bisa meminjam tepung. Memberikan wajah positif merupakan strategi untuk menunjukkan kesopanan. Hal tersebut memberikan penghargaan kepada pendengar untuk mengetahui apa maksud kita sesungguhnya. Sementara itu, yang dikatakan pada awal dialog yaitu “Goodness, you cut hair!” bukanlah prinsip kesopanan. Namun implikatur dari pembicaraan yang dikatakan. Implikatur tersebut merupakan pengetahuan bersama antara penutur dan pendengar untuk menegaskan bahwa ia telah potong rambut. Dalam dialog tersebut, penutur menggunakan maksim kuantitas dan maksim hubungan.

Selain mengutip dalam buku Brown dan Levinson, Jonas Pfister juga mengambil data dalam teori Gricean.

A: So what do you think of my new haircut? B: Did you see the Blue Jays game last night?

Dialog B merupakan implikasi yang meminta untuk mengatakan sesuatu dan dijelaskan sebagai asumsi maksim kesopanan.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :