• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN"

Copied!
100
0
0

Teks penuh

(1)

PERUBAHAN BUNYI BAHASA PROTO AUSTRONESIA KE BAHASA MANDAILING

(KAJIAN LINGUISTIK HISTORIS KOMPARATIF)

SKRIPSI

OLEH

IRMA YUNITA SYARIF SIREGAR NIM 130701072

PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2017

(2)

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat hasil karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar keserjanaan pada suatu perguruan tinggi. Sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang tertulis dan diacu dalam sebuah naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka. Apabila pernyataan yang saya perbuat ini tidak benar, saya bersedia menerima sanksi berupa pembatalan gelar kesarjanaan yang saya peroleh.

Medan, Oktober 2017 Penulis,

Irma Yunita Syarif Siregar

(3)

PERUBAHAN BUNYI BAHASA PROTO AUSTRONESIA KE BAHASA MANDAILING

KAJIAN LINGUISTIK HISTORIS KOMPARATIF

OLEH

IRMA YUNITA SYARIF SIREGAR NIM 130701072

ABSTRAK

Penelitian ini membahas mengenai perubahan dan pewarisan bunyi vokal dan konsonan PAN ke dalam BM. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan Linguistik Historis Komparatif.Data yang digunakan adalah 200 kosa kata dasar swadesh dan metode yang digunakan dalam pengumpulan data tulis adalah metode simak yang dilanjutkan dengan teknik sadap.Data lisan diperoleh melalui metode cakap dengan teknik dasar berupa teknik pancing yang dilanjutkan dengan teknik catat.Dalam pengkajian data digunakan metode padan dengan teknik dasar berupa teknik pilah unsur tertentu.Berdasarkan analisis ditemukan perubahan bunyi PAN ke BM, yaitu metatesis, aferesis, sinkop, apokop, protesis, epentesis dan paragog.Pewarisan bunyi vokal dan konsonan PAN ke BM terjadi secara liniear dan inovasi. Pewarisan bunyi vokal PAN secara linear ke bahasa BM yaitu */a/ → /a/ , */i/ → /i/ , */u/ → /u/

ditemukan pada posisi terbuka dan tertutup. Sedangkan */o/ → /o/ hanya ditemukan pada posisi tertutup. Pewarisan bunyi konsonan PAN secara linear ke bahasa BM yaitu */k/ → /k/, */m/ → /m/, */n/ → /n/, */ŋ/ → /ŋ/, */r/ → /r/, */t/ → /t/ ditemukan pada posisi terbuka dan tertutup, sedangkan */b/ → /b/, */c/ → /c/, */d/ → /d/, */g/ → /g/, */l/ → /l/, */p/ →/p/, */y/ → /y/ hanya ditemukan dalam posisi terbuka dan sebaliknya pada bunyi */s/ → /s/. Pewarisan bunyi vokal PAN ke bahasa BM secara inovasi yaitu */a/ →( o ), */u/ → ( o), */e/ → ( o ), */∂/ → ( o ). Pewarisan bunyi konsonan PAN ke BM secara inovasi yaitu */d/ →( t ), */k/ → ( h, s ), */p/ → ( m ),

*/s/ → (c), */w/ → ( k, t ), */z/ → (j).

Kata kunci :Perubahan Bunyi, Bahasa Proto Austronesia, Bahasa Mandailing, Pewarisan Liniear dan Inovasi.

(4)

PRAKATA

Segala Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Perubahan Bunyi Bahasa Proto Austronesia ke Bahasa Mandailing ( Kajian Linguistik Historis Komparatif )”. Skripsi ini ditulis sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar sarjana di Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara.

Selama dalam penyusunan skripsi ini, penulis banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak, baik berupa bantuan moral maupun bantuan berupa materi. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada:

• Dr. Budi Agustono, M.S., selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

• Drs. Haris Sutan Lubis, M.S.P., selaku Ketua Program Studi Sastra Indonesia dan Amhar Kudadiri, M.Hum., selaku sekretaris Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya USU.

• Dr. Dardanila, M.Hum., selaku pembimbing I dan Dra. Rosliana Lubis, M.Si., selaku pembimbing II. Terima kasih atas kesabaran, dorongan, dan kesediaan ibu yang senantiasa meluangkan waktu untuk membimbing penulis serta memberikan sumbangan pemikiran dalam proses penyelesaian skripsi ini.

(5)

• Bapak dan Ibu staf pengajar Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara yang telah membekali penulis dengan ilmu pengetahuan selama kurang lebih empat tahun.

• Bapak Slamet yang telah banyak membantu penulis dalam mengurus penyelesaian administrasi dan persyaratan-persyaratan lainnya dalam menyelesaikan skripsi ini.

• Kedua Orang tua saya yang tersayang, ayah Syarifuddin Siregar, S.H., dan ibu Herlina Lubis yang telah memberikan saya dukungan dan moral, materi, kasih sayang yang tiada habisnya dan doa yang tidak pernah berhenti. Dengan kesungguhan hati penulis persembahkan semua ini sebagai tanda sayang dan terima kasih atas segala hal yang telah diberikan. Semoga dengan selesainya skripsi ini dapat membahagiakan orang tua.

• Kakak-kakak saya, Marlisa Syarif Siregar Amd., dan Siti Sholeha. Abang- abang saya, Arifin Syarif Siregar dan Arman Syahputra S.E., serta keponakan- keponakan saya, Arkana Adhyatsa Putra dan Rizky Ramadhani Siregar, yang selalu mendukung saya dalam menyelesaikan skripsi ini. Terimakasih buat dukungan dan kasih sayangnya.

• Keluarga Unch yaitu sepupu – sepupu tersayang, Uti, Uli, Ulfa, Adel, Jihan, Fikri, Kiky, Iyong, Margen, dan Buntil yang selalu menghibur dan memberikan semangat kepada saya.

(6)

• Teman - teman seperjuangan stambuk 2013 khususnya sahabat tersayang Lisfa Lubis S.S., Elsa M. Siburian, Ester C. Sitorus, Isma Hidayani S.S., Siti Siburian, Haryati Margaretha, Jeanne Merrie Tarigan S.S., Mintauli Pangaribuan S.S., Adenissa Panggabean S.S., dan Chenny Silaban, yang telah memberikan dukungan, semangat serta doa kepada penulis.

• Sahabat – sahabat saya, Sri Permana Dewi, S.Pd., Khadijah Hrp, Era Sartika, Reza Suryani, Ramadhana S.E., Dessy Meilisa Siregar, Winny Novita, Juni Tanjung S.Pd., Nanda Azzanina, Sri Ayu Azriati S.Pd., serta Yulia Adawiyah S.Pd., yang selalu memberikan semangat kepada penulis.

• Kepala Desa Sarak Matua serta Sekretaris Desa Sarak Matua Kabupaten Mandailing Natal yang telah memberikan izin meneliti dan memberi banyak bantuan kepada penulis selama penelitian berlangsung, dan kepada orangtua selaku informan penelitian tanpa kalian skripsi ini tidak akan mungkin tersusun.

Akhir kata, penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang turut membantu dalam penyelesaian skripsi ini yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu.Semogakitaselaludilindungi Allah Swt.

Medan, Oktober 2017 Penulis,

(7)

DAFTAR ISI

PERNYATAAN... i

ABSTRAK... ii

PRAKATA... iii

DAFTAR ISI ... ... vi

DAFTAR TABEL ……… xi

DAFTAR LAMBANG DAN SINGKATAN ………. xiv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 4

1.3 Batasan Masalah ... 5

1.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 5

1.4.1 Tujuan Penelitian ……….. 5

1.4.2 Manfaat Penelitian ... 6

1.4. 2.1 Manfaat Teoretis ... 6

1.4.2.2 Manfaat Praktis ... 6

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA ... 8

2.1 Konsep ... 8

2.1.1 Perubahan Bunyi ... 8

2.1.2 Bahasa Proto Austronesia ... 9

(8)

2.1.2.1 Rumpun Bahasa Austronesia ... 10

2.1.2.2 Fonem Vokal dan Konsonan Bahasa Proto Austronesia ... 11

2.1.3 Bahasa Mandailing ... 12

2.1.3.1 Fonem Vokal Bahasa Mandailing ... 13

2.2 Landasan Teori ... 14

2.3 Tinjauan Pustaka ... 16

BAB III METODE PENELITIAN ... 19

3.1 Lokasi Penelitian dan Waktu Penelitian ... 19

3.1.1 Lokasi Penelitian ... 19

3.1.2 Waktu Penelitian ... 20

3.2 Sumber Data ... 20

3.3 Metode Penelitian ……….... 21

3.3.1 Metode dan Teknik Pengumpulan Data ... 21

3.3.2 Metode dan Teknik Analisis Data ... 23

3.3.3 Metode dan Teknik Penyajian Hasil Analisis Data... 25

BAB IV PEMBAHASAN ... 26

4.1 Perubahan Bunyi Bahasa Proto Austronesia ke Bahasa Mandailing ... 26

4.1.1 Perubahan Bunyi Metatesis ... 26

4.1.2 Perubahan Bunyi Aferesis ... 27

(9)

4.1.4 Perubahan Bunyi Apokop ... 30

4.1.5 Perubahan Bunyi Protesis ... 33

4.1.6 Perubahan Bunyi Epentesis ... 34

4.1.7 Perubahan Bunyi Paragog ... 34

4.2 Pewarisan Liniear dan Inovasi Fonem Vokal dan Konsonan Bahasa Proto Austronesia ke Bahasa Mandailing ... 35

4.2.1.Pewarisan Liniear Fonem Vokal PAN dalam BM ... 36

4.2.1.1 PAN */a/ → /a/ ... 36

4.2.1.2 PAN */i/ →/i/ ………... 38

4.2.1.3 PAN */u/ → /u/ ……….. 40

4.2.1.4 PAN */o/ → /o/ ………...41

4.2.2 Pewarisan Linear Fonem Konsonan PAN dalam BM ……….. 42

4.2.2.1 PAN */b/ → /b/ ………... 42

4.2.2.2 PAN */c/ → /c/ ……….. 43

4.2.2.3 PAN */d/ → /d/ ……….. 44

4.2.2.4 PAN */g/ → /g/ ……….. 45

4.2.2.5 PAN */k/ → /k/ ……….. 45

4.2.2.6 PAN */l/ → /l/ ……… 47

4.2.2.7 PAN */m/ →/m/ ………... 48

4.2.2.8 PAN */n/ → /n/ ……….. 49

(10)

4.2.2.9 PAN */ŋ/ → /ŋ/ ……….. 50

4.2.2.10 PAN */p/ → /p/ ……… 51

4.2.2.11 PAN */r/ → /r/ ………. 52

4.2.2.12 PAN */s/ → /s/ ………. 53

4.2.2.13 PAN */t/ → /t/ ……….. 54

4.2.2.14 PAN */y/ → /y/ ……… 55

4.2.3 Pewarisan Inovasi Fonem Vokal PAN dalam BM ……….. 56

4.2.3.1 PAN */a/ → /o/ ………. 56

4.2.3.2 PAN */u/ → /o/ ……… 57

4.2.3.3 PAN */e/ → /o/ ………. 58

4.2.3.4 PAN */∂/ → /o/ ………. 58

4.2.4 Pewarisan Inovasi Fonem Konsonan PAN dalam BM ……… 60

4.2.4.1 PAN */d/ → /t/ ……….. 60

4.2.4.2 PAN */k/ ………... 61

4.2.4.3 PAN */p/ → /m/ ……… 62

4.2.4.4 PAN */s/ → /c/ ………... 63

4.2.4.5 PAN */w/ ……….. 64

4.2.4.6 PAN */z/ → /j/ ……….. 66

BAB V SIMPULAN DAN SARAN ………... 67

(11)

5.1.1 Perubahan Bunyi Berdasarkan Tempat ... 67

5.1.2 Pewarisan Bunyi secara Liniear dan Inovasi ………. 68

5.2 Saran ………. 69

DAFTAR PUSTAKA ... 70

LAMPIRAN I ... 73

LAMPIRAN II ... 75

LAMPIRAN III ……… 76 SURAT KETERANGAN PENELITIAN ...

(12)

Daftar Tabel

1. Fonem Vokal PAN Blust ……….. 12

2. Fonem Konsonan PAN Blust ……… 12

3. Fonem Vokal BM Dongoran, 1997 ………...14

4. Perbatasan Kabupaten Mandailing Natal ……….. 21

5. Perubahan Bunyi Protesis sebagai Data Awal ………. 25

6. Perubahan Bunyi Apokop sebagai Data Awal ………. 25

7. Perubahan Bunyi Metatesis ………. 28

8. Perubahan Bunyi Aferesis ……….... 28

9. Perubahan Bunyi Sinkop ……….. 30

10. Perubahan Bunyi Apokop ……….. 33

11. Perubahan Bunyi Protesis ……….. 35

12. Perubahan Bunyi Epentesis ………... 37

13. Perubahan Bunyi Paragog ………. 37

14. Pewarisan Liniear Fonem PAN */a/ → /a/ pada Posisi Terbuka ………….. 39

15. Pewarisan Liniear Fonem PAN */a/ → /a/ pada Posisi Tertutup ………….. 40

16. Pewarisan Liniear Fonem PAN */i/ → /i/ pada Posisi Terbuka ……… 41

17. Pewarisan Liniear Fonem PAN */i/ → /i/ pada Posisi Tertutup ………….. 42

18. Pewarisan Liniear Fonem PAN */u/ → /u/ pada Posisi Terbuka ………….. 43

→ /u/ pada Posisi Tertutup ………….. 44

(13)

20. Pewarisan Liniear Fonem PAN */o/ → /o/ pada Posisi Tertutup ……….45

21. Pewarisan Liniear Fonem PAN */b/ → /b/ pada Posisi Terbuka ………. 45

22. Pewarisan Liniear Fonem PAN */c/ → /c/ pada Posisi Terbuka ………. 47

23. Pewarisan Liniear Fonem PAN */d/ → /d/ pada Posisi Terbuka ……….47

24. Pewarisan Liniear Fonem PAN */g/ → /g/ pada Posisi Terbuka ……….48

25. Pewarisan Liniear Fonem PAN */k/ → /k/ pada Posisi Terbuka ……….49

26. Pewarisan Liniear Fonem PAN */k/ → /k/ pada Posisi Tertutup …………....50

27. Pewarisan Liniear Fonem PAN */l/ → /l/ pada Posisi Terbuka ……….. 50

28. Pewarisan Liniear Fonem PAN */m/ → /m/ pada Posisi Terbuka ………….. 52

29. Pewarisan Liniear Fonem PAN */m/ → /m/ pada Posisi Tertutup ………….. 52

30. Pewarisan Liniear Fonem PAN */n/ → /n/ pada Posisi Terbuka ………. 53

31. Pewarisan Liniear Fonem PAN */n/ → /n/ pada Posisi Tertutup ………. 53

32. Pewarisan Liniear Fonem PAN */ŋ/ → /ŋ/ pada Posisi Terbuka ………. 54

33. Pewarisan Liniear Fonem PAN */ŋ/ → /ŋ/ pada Posisi Terbuka ………. 54

34. Pewarisan Liniear Fonem PAN */p/ → /p/ pada Posisi Terbuka ………. 55

35. Pewarisan Liniear Fonem PAN */r/ → /r/ pada Posisi Terbuka ………. . 56

36.Pewarisan Liniear Fonem PAN */r/ → /r/ pada Posisi Tertutup ………. . 57

37. Pewarisan Liniear Fonem PAN */s/ → /s/ pada Posisi Tertutup ………. 57

38. Pewarisan Liniear Fonem PAN */t/ → /t/ pada Posisi Terbuka ………. . 59

39. Pewarisan Liniear Fonem PAN */t/ → /t/ pada Posisi Tertutup ………. 59

(14)

40. Pewarisan Liniear Fonem PAN */y/ → /y/ pada Posisi Terbuka ………. 60

41. Pewarisan Inovasi Fonem PAN */a/ →/o/ pada Posisi Terbuka ………. 56

42. Pewarisan Inovasi Fonem PAN */a/ → /o/ pada Posisi Tertutup ………. 56

43. Pewarisan Inovasi Fonem PAN */u/ → /o/ pada Posisi Terbuka ………. 57

44. Pewarisan Inovasi Fonem PAN */e/ → /o/ pada Posisi Terbuka ………. 58

45. Pewarisan Inovasi Fonem PAN */∂/ → o/ pada Posisi Terbuka ……….. 58

46. Pewarisan Inovasi Fonem PAN */∂/ → /o/ pada Posisi Tertutup ………..59

47. Pewarisan Inovasi Fonem PAN */d/ → /t/ pada Posisi Tertutup ……….. 60

48. Pewarisan Inovasi Fonem PAN */k/ → /h/ pada Posisi Terbuka ……….. 61

49. Pewarisan Inovasi Fonem PAN */k/ → /s/ pada Posisi Terbuka ……….. 62

50. Pewarisan Inovasi Fonem PAN */p/ → /m/ pada Posisi Terbuka ………..62

51. Pewarisan Inovasi Fonem PAN */s/ → /c/ pada Posisi Terbuka ……….. 63

52. Pewarisan Inovasi Fonem PAN */w/ → /k/ pada Posisi Terbuka ………. 64

53. Pewarisan Inovasi Fonem PAN */w/ → /t/ pada Posisi Terbuka ……….. 65

54. Pewarisan Inovasi Fonem PAN */z/ → /j/ pada Posisi Terbuka ……….. 66

(15)

DAFTAR LAMBANG DAN SINGKATAN A. LAMBANG

* Proto

→ berubah menjadi

/…../ pengapit lambang fonemis

‘….’ glos

tanda fonemis nasal palatal (ny) ŋ tanda fonemis nasal velar (ng)

∂ tanda fonemis vokal e lemah

B. SINGKATAN

PAN Proto Austronesia BM Bahasa Mandailing

(16)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sebuah bahasa dapat berubah dari waktu ke waktu, sejalan dengan perkembangan sosial budaya masyarakat pemakainya.Bahasa proto (proto language) adalah bahasa tua yang menurunkan sejumlah bahasa-bahasa kerabat.(Keraf 1996:29).Bahasa Proto Austronesia (PAN) sebagai bahasa asal (induk) mengalami perubahan dalam bahasa turunannya. Bahasa-bahasa Indonesia termasuk dalam rumpun Austronesia yang terbagi atas dua sub-rumpun yaitu sub-rumpun Austronesia Barat (bahasa Malagasi, Aceh, Gayo, Batak, Melayu, Jawa, Sunda, Nias, Minangkabau) dan sub-rumpun Austronesia Timur (bahasa Timor-Ambon,Irian Barat) (Keraf, 1996:205).

Linguisik Historis Komparatif adalah suatu cabang dari ilmu bahasa yang mempersoalkan bahasa dalam bidang waktu serta perubahan-perubahan unsur bahasa yang terjadi dalam bidang waktu tersebut.Ia mempelajari data-data dari suatu bahasa atau lebih, sekurang-kurangnya dalam dua periode.Data-data dari dua periode atau lebih itu dibandingkan secara cermat untuk memperoleh kaidah-kaidah perubahan yang terjadi dalam bahasa itu. Demikian pula hal yang sama dapat dilakukan terhadap dua bahasa atau lebih (Keraf, 1984:22).

Pada dasarnya perubahan bahasa merupakan suatu fenomena yang bersifat

(17)

dilihat dari perubahan bunyi pada tataran fonologi yang merupakan tataran kebahasaan yang sangat mendasar dan penting dalam rangka telaah di bidang linguistik historis komparatif (Fernandez, 1996).Perubahan bunyi merupakan tipe perubahan bunyi yang lebih meneropong perubahan bunyi secara individual, yaitu semata-mata mempersoalkan bunyi proto itu tanpa mengaitkannya dengan fonem- fonem lain dalam lingkungan yang dimasukinya (Keraf 1996:85). Perubahan bunyi bahasa Proto Austronesia berdasarkan macam-macam perubahan bunyi di antaranya, yaitu:

1) Perubahan bunyi metatesis merupakan suatu proses perubahan bunyi yang berupa pertukaran tempat dua fonem. Contohnya, bahasa Austronesia Purba */k∂tip/ → /petik/ dalam bahasa Melayu ‘petik’.

2) Perubahan bunyi aferesis merupakan suatu proses perubahan bunyi berupa penghilangan sebuah fonem atau lebih pada awal sebuah kata. Contohnya, bahasa Austronesia Purba */hatay/ → */ate/ dalam bahasa Polinesia Purba

‘hati’.

3) Perubahan bunyi sinkop merupakan perubahan bunyi yang berupa penghilangan sebuah fonem atau lebih di tengah kata. Contohnya, bahasa Austronesia Purba */iya/ → */ia/ dalam bahasa Polinesia Purba ‘dia’.

4) Perubahan bunyi apokop merupakan perubahan bunyi yang berupa penghilangan sebuah fonem atau lebih pada akhir kata. Contohnya, bahasa Polinesia Purba */k∂lut/ → */kolu/ dalam bahasa Austronesia Purba ‘kerut’.

(18)

5) Perubahan bunyi protesis merupakan suatu proses perubahan bunyi berupa penambahan sebuah fonem atau lebih pada awal kata. Contohnya, bahasa Austronesia Purba */nitu/ → */hanitu/ dalam bahasa Polinesia Purba

‘arwah’.

6) Perubahan bunyi epentesis merupakan proses perubahan bunyi berupa penambahan sebuah fonem atau lebih di tengah kata. Contohnya, bahasa Austronesia Purba */kapak/ → /kampak/ dalam bahasa Melayu ‘kampak’.

7) Perubahan bunyi paragog merupakan suatu proses perubahan bunyi berupa penambahan sebuah fonem atau lebih di akhir kata. Contohnya, bahasa Austronesia Purba */tulak/ → */tulaki/ dalam bahasa Polinesia Purba

‘menolak’.

Pewarisan bahasa Proto Austronesia dapat dilihat dari perubahan sebuah fonem proto ke dalam fonem-fonem bahasa kerabat yang berlangsung dalam beberapa macam tipe, antara lain:

• Pewarisan linear, yaitu pewarisan sebuah fonem proto ke dalam bahasa sekarang dengan tetap mempertahankan bunyi, bentuk, atau makna fonem protonya. Misalnya, bahasa Austronesia Purba kata */ikan/ menurunkan bunyi yang sama→ /ikan/ dalam bahasa Melayu ‘ikan’.

• Pewarisan inovasi, yaitu pewarisan dengan perubahan bunyi yang terjadi bila suatu fonem proto mengalami perubahan dalam bahasa sekarang. Misalnya,

(19)

bahasa Austronesia kata */lamuk/ → /nyamuk/ dalam bahasa Melayu

‘nyamuk’.

Berdasarkan uraian di atas, penelitian bahasa daerah sangat penting bila dihubungkan dengan usaha pelestarian dan pengembangan bahasa. Pengetahuan yang meluas serta pemahaman mengenai bahasa daerah tersebut secara benar dan tepat (objektif) akan menanamkan kesadaran masyarakat terhadap bahasa asal atau bahasa proto. Penulis memilih judul ini sebagai penelitian karena kajian ini sangat menarik.Penulis ingin mengetahui apakah semua bahasa Proto Autronesia di turunkan ke dalam bahasa Mandailing mengalami perubahan bunyi.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang penelitian di atas, adapun rumusan masalah dari penelitian ini sebagai berikut:

1) Perubahan bunyi apa saja yang terjadi pada bahasa Proto Austronesia ke bahasa Mandailing?

2) Bagaimanakah pewarisan linear dan inovasi fonem vokal dan konsonan bahasa Proto Austronesia ke bahasa Mandailing?

(20)

1.3 Batasan Masalah

Mengingat luasnya permasalahan pembahasan dalam penelitian ini, maka perlu adanya batasan agar penelitian ini dapat lebih terarah dan tercapai tujuannya dengan baik.Dalam penelitian ini, masalah yang diteliti terbatas pada macam-macam perubahan bunyi bahasa Proto Autronesia dalam bahasa Mandailing di Desa Sarak Matua, Kecamatan Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal.

1.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.4.1 Tujuan Penelitian

Berdasarkan masalah yang telah dipaparkan sebelumnya, adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

1) Mendeskripsikan perubahan bunyi yang terjadi pada bahasa Proto Austronesia ke bahasa Mandailing.

2) Mendeskripsikan pewarisan linear dan inovasi fonem vokal dan konsonan bahasa Proto Austronesia ke bahasa Mandailing.

(21)

1.4.2 Manfaat Penelitian 1.4.2.1 Manfaat Teoritis

Secara teoretis, penelitian ini diharapkan memberikan manfaat sebagai berikut:

1) Menambah pemahaman dan pengetahuan peneliti tentang penerapan konsep dan teori penelitian perubahan bunyi bahasa Proto Austronesia ke bahasa Mandailing.

2) Menjadi sumber masukan bagi peneliti lain yang ingin meneliti dan menganalisis lebih lanjut mengenai perubahan bunyi bahasa Proto Austronesia ke bahasa daerah, khususnya bahasa Mandailing.

3) Menambah wawasan dan pengetahuan peneliti maupun pembaca dalam memahami hasil penelitian perubahan bunyi bahasa Proto Austronesia ke bahasa Mandailing.

1.4.2.2 Manfaat Praktis

Secara praktis, penelitian ini diharapkan memberikan manfaat sebagai berikut:

1) Hasil penelitian ini diharapkan berguna untuk tambahan referensi bagi pengajar maupun pelajar dalam bidang linguistik, khususnya dalam bidang Linguistik Historis Komparatif.

(22)

2) Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan baru tentang perubahan bunyi berdasarkan tempat dalam sistem pewarisan bahasa Proto Austronesia ke bahasa Mandailing.

3) Melakukan pelestarian, pembinaan, dan pengembangan salah satu unsur bahasa yaitu bahasa Mandailing di Desa Sarak Matua.

(23)

BAB II

KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep

Konsep merupakan gambaran mental dari objek, proses, atau apapun yang ada di luar bahasa yang digunakan oleh akal budi untuk memahami hal-hal yang lain (Kridalaksana,2008:106). Sebelum mengacu pada uraian teori, perlunya dijelaskan beberapa konsep yang digunakan dalam penelitian ini.Konsep-konsep yang dijelaskan adalah konsep yang ada kaitannya dengan judul dari penelitan historis komparatif ini yaitu konsep perubahan bunyi, bahasa Proto Austronesia, bahasa Mandailing.

2.1.1 Perubahan Bunyi

Perubahan bunyi merupakan suatu proses dimana bunyi suatu bahasa berubah dari bunyi awal menjadi bunyi lain. Bunyi-bunyi yang berubah secara bertahap bergeser menuju bunyi lain dengan ada yang masih meninggalkan bukti berupa bunyi-bunyi yang sama atau sudah berubah sama sekali menjadi bunyi lain. Macam- macam perubahan bunyi dapat diuraikan dengan berbagai tipe perubahan bunyi yang lebih meneropong kepada perubahan bunyi secara individual, yaitu semata-mata mempersoalkan bunyi proto itu tanpa mengaitkannya dengan fonem fonem laindalam lingkungan yang dimasukinya.Sebaliknya, macam-macam perubahan bunyi

(24)

didasarkan pada hubungan bunyi tertentu dengan fonem-fonem lainnya dalam sebuah segmen, atau dalam lingkungan yang lebih luas (Keraf, 1996:85).

Perubahan-perubahan bunyi berdasarkan tempat di antaranya perubahan metatesis, aferesis (apheresis), sinkop (syncope), apokop (apocope), protesis, epentesis, paragog.Pewarisan bahasa terbagi atas pewarisan linear dan inovasi,.Perubahan bunyi (yang kemudian menggambarkan pertalian-pertalian bunyi di antara bahasa-bahasa yang berkerabat) bukanlah suatu peristiwa yang kebetulan.Pada dasarnya perubahan itu diatur dan ditentukan oleh suatu prinsip keteraturan (Bynon, 1979: 25).

2.1.2 Bahasa Proto Austronesia

Bahasa Proto merupakan suatu rakitan teoretis yang dirancang dengan merangkaikan sistem bahasa-bahasa yang memiliki hubungan kesejarahan melalui rumusan kaidah-kaidah secara sangat sederhana dan dirancang bangun dan dirakit kembali sebagai gambaran tentang masa lalu suatu bahasa (Bynon, 1979: 71).Dalam penyebaran bahasa, bahasa Proto mengalami perubahan-perubahan baik itu perubahan bahasa ataupun perubahan dalam pengucapan.

Austronesia dalam definisi umumnya mengacu pada suatu daerah yang dimana bahasa-bahasa Austronesia dituturkan. Daerah tersebut mencakup pulau Taiwan, kepulauan Nusantara (termasuk Filipina), Mikronesia, Melanesia, Polinesia,

(25)

sebagai berikut: bahasa Austronesia Barat (di antaranya: Malagasi, Formesa, Filipina, Bisaya, Minahasa, Gayo, Batak, Nias, Jawa, Sunda, Madura, Dayak, Minangkabau) dan bahasa Austronesia Timur (di antaranya, bahasa Timor-Afrika, Sula-Bacan, Halmahera Selatan-Irian Barat) (Keraf, 1996:206).

2.1.2.1 Rumpun Bahasa Austronesia

Rumpun bahasa-bahasa Austronesia dibagi dalam dua sub-rumpun besar (Salzner dalam Keraf, 1996: 205) yaitu:

1. Bahasa-bahasa Indonesia (Austronesia Barat atau disebut juga bahasa- bahasa Melayu).

2. Bahasa-bahasa Oseania (Austronesia Timur atau disebut juga bahasa- bahasa Polinesia) yang biasanya dibagi lagi atas: bahasa-bahasa Polinesia dan bahasa-bahasa Melanesia.

Dyen (1965) telah melakukan suatu penelitian yang mencakup dua ratus empat puluh lima bahasa Austronesia. Dyen mengelompokkan bahasa Asutronesia menjadi dua kelompok besar.Dyen memilah bahasa Austronesia dengan pola dua kelompok yaitu kelompok Melayu-Polinesia dan Irian Timur-Melanesia.Pada tahapan kedua, Dyen membagi masing-masing kelompok itu berdasarkan pola tripilah.Pola tripilah ini bisa dilihat pada pengelompokkan Melayu Polinesia menjadi kelompok

(26)

Hespersonesia, Maluku dan Heonesia.Kemudian kelompok Maluku dibagi lagi menjadi kelompok Sula-Bacan, Ambon Timur, dan Halmahera Selatan-Irian Barat.

Bahasa yang menjadi objek penelitian dalam skripsi ini adalah bahasa Mandailing yang merupakan bagian dari bahasa Austronesia Barat. Kelompok Austronesia Barat meliputi bahasa-bahasa di Sumatera (bahasa Batak Toba, Simalungun, Mandailing, Karo, Dairi, Angkola, dll), Jawa, Bali dan NTB.

2.1.2.2 Fonem Vokal dan Konsonan Bahasa Proto Austronesia

Berdasarkan hasil rekonstruksi yang kemudian ditemukan pula sejumlah kata dasar bahasa Austronesia Purba memiliki sistem fonem vokal sebagai berikut (Blust, 1980 bandingkan Dahl, 1977 dan Mbete 1981: 24-26). Menurut Blust (1978:32), fonem vokal bahasa proto Austronesia ada empat buah yaitu */i/ , */u/ , */ə/ , */a/.

Fonem vokal PAN dapat dilihat pada tabel di bawah ini Tabel 1 Fonem Vokal PAN Blust

Posisi Lidah Depan Tidak Bundar

Tengah Tidak Bundar

Belakang Bundar

Tinggi *i *u

Sedang *∂

Rendah *a

(27)

Fonem konsonan PAN terdiri atas 23 buah, yaitu: */p/ , */b/ , */m/ , */w/ , */t/

, */d/ , */n/ , */l/ , */T/ , */D/ , */r/ , */s/ , */z/ , */ñ/ , */y/ , */c/ , */j/ , */k/ , */g/ , */ŋ/ ,

*/R/ , */q/ , */h/ (Blust, 1978:32).

Tabel 2 Fonem Konsonan PAN Blust

Tabel Artikulasi Cara Artikulasi Bilabial Labiodental Dental/

Alveolar

Palatal Velar Glotal

Hambat Tb *p *t / *T *c *k *q

B *b *d / *D *j *g

Frikatif Tb *s *h

B *z

Nasal B *m *n

*

* ŋ

Lateral B *l

Getar/ Tril B *r *R

Semivokal B *w *y

2.1.3 Bahasa Mandailing

Bahasa Mandailing adalah bahasa daerah yang digunakan oleh penutur asli bahasa Mandailing.Bahasa Mandailing merupakan bahasa yang terdapat di Provinsi Sumatera Utara bagian Selatan, Sumatera Barat dan Riau bagian Utara, yang

(28)

merupakan varian dari bahasa Sansekerta yang banyak dipengaruhi bahasa Arab.Mayoritas penggunaannya di daerah Kabupaten Mandailing Natal, tapi tidak termasuk bahasa Natal (bahasa Minang), walaupun pengguna bahasa Natal berkerabat (seketurunan) dengan orang-orang Kabupaten Mandailing Natal pada umumnya.

Sementara itu, bahasa Mandailing Padang Lawas (Padang Bolak) dipakai di wilayah Kabupaten Padang Lawas Utara di Pasaman, Sumatera Barat dan Kampar, Riau, bahasa Mandailing mempunyai variasi tersendiri. Di wilayah Asahan, Batubara, dan Labuhan Batu, orang-orang Mandailing umumnya memakai bahasa Melayu Pesisir Timur.

2.1.3.1 Fonem Vokal Bahasa Mandailing

Adelaar mendaftarkan sebanyak lima fonem vokal. Untuk lebih jelas, dapat dilihat di bawah ini.

Tabel 3 Fonem Vokal BM Dongoran, 1997

Posisi Lidah Depan Tidak Bundar

Tengah Tidak Bundar

Belakang Bundar

Tinggi i u

Sedang e o

Rendah a

(29)

2.2 Landasan Teori

Penelitian ini dilandasi oleh teori Linguistik Historis Komparatif. Linguistik Historis Komparatif bermula ketika seorang tokoh ilmu perbandingan bahasa bernama Franz Bopp, membandingkan akhiran-akhiran kata kerja dalam bahasa Sansekerta, Yunani, Persia, dan Jerman pada tahun 1816. Linguistik Historis Komparatif adalah cabang ilmu bahasa yang mempersoalkan bahasa dalam bidang waktu tertentu, serta mengkaji perubahan-perubahan unsur bahasa yang terjadi dalam bidang waktu tertentu.Linguistik Historis Komparatif mempelajari data-data dari suatu bahasa atau lebih, sekurang-kurangnya dalam dua periode.Data-data tersebut diperbandingkan secara cermat untuk memperoleh kaidah-kaidah perubahan yang terjadi dalam bahasa itu (Keraf, 1991: 22).

Linguistik Historis Komparatif adalah cabang linguistik yang mempelajari dan mengkaji bahasa dalam dimensi waktu, khususnya masa lalu.Dengan dimensi waktu ini, bahasa yang dikaji bersifat diakronis, berbeda dengan linguistik deskriptif yang bersifat sinkronik.Linguistik Historis Komparatif bertujuan untuk menjelaskan adanya hubungan kekerabatan, kesejarahan dan perubahan bunyi bahasa-bahasa di suatu kawasan tertentu (Mbete 2009:1).

Adapun teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah macam-macam perubahan bunyi. Keraf (1996:90) membagi perubahan-perubahan bunyi menjadi beberapa macam antara lain:

(30)

1) Metatesis yaitu suatu proses perubahan bunyi yang berujud pertukaran tempat dua fonem. Metatesis sering memperlihatkan gejala yang teratur yang mempengaruhi suatu urutan tertentu dalam suatu bahasa.Misalnya dalam bahasa Austronesia Purba *k∂tip  pətik dalam bahasa Melayu.

Proses metatesis bekerja terus dalam bahasa yang sama sehingga dihasilkan bentuk ganda untuk suatu pengertian yang sama atau mirip seperti dalam kata-kata Indonesia atau Melayu berikut: rontal – lontar, peluk – pekul, beting – tebing, apus – usap.

2) Aferesis adalah suatu proses perubahan bunyi antara bahasa kerabat berupa penghilangan sebuah atau beberapa fonem pada awal sebuah kata. Contoh bahasa Austronesia Purba dan bahasa Melayu seperti pada kata *hubi → ubi, dan *hudan → udang.

3) Perubahan bunyi sinkop merupakan perubahan bunyi yang berupa penghilangan sebuah fonem atau lebih di tengah kata. Contohnya, bahasa Austronesia Purba */iya/ → */ia/ dalam bahasa Polinesia Purba ‘dia’.

4) Perubahan bunyi apokop merupakan perubahan bunyi yang berupa penghilangan sebuah fonem atau lebih pada akhir kata. Contohnya, bahasa Polinesia Purba */k∂lut/ → */kolu/ dalam bahasa Austronesia Purba ‘kerut’.

5) Perubahan bunyi protesis merupakan suatu proses perubahan bunyi berupa penambahan sebuah fonem atau lebih pada awal kata. Contohnya, bahasa

(31)

Austronesia Purba */nitu/ → */hanitu/ dalam bahasa Polinesia Purba

‘arwah’.

6) Perubahan bunyi epentesis merupakan proses perubahan bunyi berupa penambahan sebuah fonem atau lebih di tengah kata. Contohnya, bahasa Austronesia Purba */kapak/ → /kampak/ dalam bahasa Melayu ‘kampak’.

7) Perubahan bunyi paragog merupakan suatu proses perubahan bunyi berupa penambahan sebuah fonem atau lebih di akhir kata. Contohnya, bahasa Austronesia Purba */tulak/ → */tulaki/ dalam bahasa Polinesia Purba

‘menolak’.

2.3 Tinjauan Pustaka

Alwi (2005: 1198) mengatakan bahwa tinjauan adalah hasil meninjau, pandangan, sependapat (sesudah menyelidiki atau mempelajari), sedangkan pustaka adalah kitab, buku, buku primbon (Alwi, 2005: 912).Tinjauan pustaka berisi penelitian-penelitian sebelumnya yang berhubungan dengan judul penelitian yang kita kaji. Berikut beberapa penelitian sebelumnya yang berhubungan dengan judul penelitian ini:

Sudirman (2005) dalam jurnalnya membahas tentang “Refleksi Proto Austronesia Pada Bahasa Lampung”.Peneliti membahas tentang retensi dan inovasi

(32)

fonem Protobahasa Austronesia pada bahasa Lampung yang dikaji dengan menggunakan Linguistik Bandingan Historis.

Erliana (2010) dalam tesisnya berjudul “Beberapa Perubahan Bunyi Vokal Proto Austronesia Dalam Bahasa Mandailing Dan Toba (Suatu Kajian Linguistik Historis Komparatif)”.Dalam penelitiannya dia mengkaji beberapa perubahan bunyi Vokal proto Austronesia dalam bahasa Mandailing (BBM) dan bahasa Batak Toba (BBT).Penelitian ini menggunakan beberapa konsep untuk dasar analisisnya, yaitu konsep perubahan bunyi, syarat-syarat lingkungannya dan pendekatan dari atas ke bawah dengan menggunakan metode padan.Hasil analisis penelitian ini menyebutkan bahwa refleksi fonem vokal bahasa Proto Austronesia dalam bahasa Mandailing dan bahasa Batak Toba mengalami perubahan secara linear dan inovasi.Penelitian ini memberikan sumbangan bagi penulis dalam pembahasan mengenai fonem vokal bahasa Mandailing.

Panggabean (2014) dalam disertasinya "Rekonstruksi dan pengelompokkan Bahasa-bahasa Batak". Penelitian ini meliputi perangkat korespondensi bahasa- bahasa Batak, proto-fonem bahasa-bahasa Batak, proto-morfem bahasa-bahasa Batak, rumusan perubahan bunyi, pengelompokkan bahasa-bahasa Batak serta inventarisasi fonem dan realisasi fonetis bahasa-bahasa batak dengan menggunakan metode komparatif. Berdasarkan inovasi bersama (shared innovation) dan kemiripan bahasa- bahasa Batak antara satu dengan yang lain, bahasa-bahasa Batak terdiri atas tiga kelompok yaitu kelompok Batak Toba, Batak Angkola, Batak Mandailing, Batak Pakpak Dairi, Batak Karo, dan Batak Simalungun. Penelitian ini juga menunjukkan

(33)

memberikan sumbangan bagi penulis dalam pembahasan mengenai bentuk-bentuk perubahan bunyi seperti apokop, metatesis.

Susi (2014) dalam skripsinya meneliti ”Perubahan Bunyi Bahasa Proto Austronesia dalam Bahasa Karo (Kajian Linguistik Historis Komparatif)”. Penelitian ini membahas tentang perubahan bunyi fonem vokal dan konsonan, serta menganalisis perubahan bunyi bahasa Proto Austronesia dalam bahasa Karo.Penelitian ini menggunakan data lisan dan tulisan.Pengumpulan data lisan dilakukan dengan metode cakap yaitu percakapan peneliti dengan narasumber. Hasil penelitian menyatakan bahwa perubahan bunyi bahasa Proto Austronesia dalam bahasa Karo memiliki macam-macam perubahan bunyi berdasarkan tempat yaitu perubahan metatesis, aferesis (aphresis), sinkop (syncope), apokop (apocope), protesis, epentesis, paragog serta pewarisan linear dan inovasi. Penelitian ini memberikan sumbangan terhadap tulisan penulis mengenai bahasa PAN terutama mengenai rumpun bahasa Proto Austronesia serta pembahasan mengenai fonem vokal dan konsonan bahasa PAN.

(34)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 3.1.1. Lokasi Penelitian

Lokasi adalah letak (KBBI, 2011:297).Lokasi penelitian ini dilakukan di Desa Sarak Matua, Kecamatan Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal.

Peta 1 Kabupaten Mandailing Natal (Sumber: https://id.wikipedia.org)

(35)

Utara Kabupaten Tapanuli Selatan Kabupaten Padang Lawas Timur Provinsi Sumatera Barat Selatan Provinsi Sumatera Barat Barat Samudera Indonesia

Tabel 4 Perbatasan Kabupaten Mandailing Natal

(Sumber :https://mandailingnatalkab.bps.go.id)

Penulis memilih lokasi tersebut karena di Kabupaten Mandailing Natal masyarakatnya masih menggunakan bahasa Mandailing (tidak dipengaruhi oleh bahasa daerah lainnya).Penulis juga memilih lokasi tersebut dikarenakan Desa Sarak Matua merupakan kampung halaman orang tua penulis.

3.1.2. Waktu Penelitian

Waktu adalah seluruh rentetan saat yang telah lampau, sekarang, dan yang akan datang (KBBI, 2011:634). Penelitian ini dilakukan pada 13 September 2017.

3.2. Sumber Data

Menurut KBBI (2011:503), sumber adalah asal, sedangkan data adalah keterangan atau bahan-bahan (2011:118). Jadi, sumber data adalah asal keterangan

(36)

atau bahan-bahan yang berhubungan dengan judul penelitian, yang dapat digunakan sebagai dasar kajian.

Sumber data penelitian ini adalah data lisan.Data lisan adalah data yang diperoleh dari tiga informan yang digunakan sebagai sumber informasi dalam penelitian ini. Informan tersebut merupakan penutur asli bahasa Mandailing yang berada di Desa .Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah 200 kosa kata daftar Swadesh.Peneliti tertarik memilih daftar swadesh, karena 200 kosakata daftar swadesh merupakan kata-kata umum yang mudah dipahami semua orang.

3.3 Metode Penelitian

3.3.1 Metode dan Teknik Pengumpulan Data

Pendekatan yang akan digunakan dalam penelitian ini yakni Linguistik Historis Komparatif. Dalam penelitian ini metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah metode simak dan metode cakap (Sudaryanto, 1993: 133- 137).Metode simak adalah metode yang digunakan untuk menyimak yang dituturkan oleh narasumber.Dalam pengumpulan data lisan menggunakan teknik dasar sadap yang bertujuan untuk menyadap pembicaraan antara penutur dengan teliti dan cermat.Selanjutnya, menggunakan teknik lanjutan yaitu teknik simak dan teknik cakap yaitu peneliti terlibat langsung dalam dialog dengan informan (Sudaryanto, 1993: 133).

(37)

Metode cakap adalah pemerolehan data lisan dengan melakukan percakapan antara peneliti dan informan.Teknik dasar yang digunakan dalam metode ini adalah teknik pancing.Peneliti memancing informan berbicara untuk mendapatkan data yang diinginkan.Penerapan teknik pancing dilanjutkan dengan teknik cakap semuka.Dalam teknik cakap semuka, peneliti melakukan percakapan langsung dengan informan.Dalam hal ini, peneliti mengarahkan percakapan sesuai dengan kepentingan untuk memperoleh data selengkap-lengkapnya.Teknik cakap semuka didukung dengan teknik catat dan rekam.

Menurut Mahsun (1995:106), adapun syarat-syarat menjadi seorang informan dalam sebuah penelitian antara lain:

1. Berjenis kelamin pria atau wanita.

2. Berusia antara 25-65 tahun (tidak pikun).

3. Orang tua, istri atau suami informan lahir dan dibesarkan di desa tersebut serta jarang atau tidak pernah meninggalkan desanya.

4. Berstatus sosial menengah dengan harapan tidak terlalu tinggi mobilitasnya.

5. Pekerjaannya bertani atau berburu.

6. Dapat berbahasa Indonesia dan memiliki kemampuan dalam menggunakan bahasa daerahnya.

7. Sehat jasmani dan rohani.

(38)

8. Berpendidikan (minimal tamat SD dan sederajat).

Untuk data tulis digunakan metode simak (Sudaryanto 1993: 133).Metode ini dikembangkan dengan teknik sadap, yaitu dengan meninjau dan mempelajari secara langsung daftar kata-kata yang diperoleh dari 200 kosakata daftar swadesh dalam kajian Linguistik Historis Komparatif.Selanjutnya, digunakan teknik catat dengan mencatat data-data tulis yang didapat dari 200 kosakata daftar swades dalam kajian Linguistik Historis Komparatif yang digunakan.Data-data berupa data tulis merupakan kata bahasa Proto Austronesia merupakan nama sebuah rumpun bahasa yang terdapat di dataran Asia Tenggara.

3.3.2. Metode dan Teknik Analisis Data

Dalam penelitian ini metode yang digunakan dalam analisis data adalah metode padan.Metode padan (Sudaryanto, 1993:13) yaitu memadankan atau menyelaraskan BS sebagai bahasa turunan dengan PAN sebagai unsur penentunya.Metode ini dikembangkan dengan metode padan fonetis artikulatoris yaitu segala tuturan manusia yang dihasilkan oleh aktivitas organ wicara berupa bunyi-bunyi bahasa yang dapat berbeda-beda dalam mengaktifkan bagian- bagiannya.Metode ini dilanjutkan dengan teknik hubung banding menyamakan (HBS) dan hubung banding membedakan (HBB).Peneliti berusaha mencari persamaan dan perbedaan antara PAN dan BS yang dibandingkan.Dengan demikian

(39)

hasil perbandingan itu dijabarkan persamaan dan perbedaan antara unsur penentu dan unsur yang ditentukan.

Berikut deskripsi dan analisis perubahan bunyi yang terjadi pada bahasa Proto Austronesia dalam bahasa Mandailing sebagai data awal.

• Protesis adalah suatu proses perubahan bunyi berupa penambahan sebuah fonem atau lebih pada awal sebuah kata.

Tabel 5 Perubahan Bunyi Protesis sebagai Data Awal No. Bahasa Proto

Austronesia (PAN)

Bahasa Mandailing (BM)

Glos

1 *Pat Opat Empat

Kata */pat/ mengalami perubahan bunyi secara protesis → /opat/ dalam BM

‘empat’.Bunyi vokal /o/ ditambahkan pada posisi awal kata.

• Apokop adalah perubahan bunyi yang berupa penghilangan sebuah fonem atau lebih di akhir sebuah kata.

Tabel 6 Perubahan Bunyi Apokop sebagai Data Awal No. Bahasa Proto

Austronesia (PAN)

Bahasa Mandailing (BM)

Glos

1 *dilah dila Lidah

(40)

Kata */dilah/ mengalami perubahan bunyi secara apokop → /dila/ dalam BM

‘lidah’.Bunyi konsonan /h/ dihilangkan pada posisi akhir kata.

3.3.3 Metode dan Teknik Penyajian Hasil Analisis Data

Metode dan teknik penyajian hasil analisis data dilakukan dengan dua cara, yakni metode informal dan formal. Metode informal adalah perumusan dengan kata- kata biasa, sedangkan metode formal adalah perumusan dengan tanda dan lambang – lambang (Sudaryanto, 1993:145).Penyajian secara formal tampak dalam penggunaan tanda dan lambang.Tanda yang di maksud adalah tanda bintang arterisk (*), tanda panah (→), tanda kurung miring (/…/), dan sebagainya.Sementara untuk lambang yang dimaksud adalah lambang, huruf dan singkatan.

(41)

BAB IV PEMBAHASAN

4.1 Perubahan Bunyi Bahasa Proto Austronesia ke Bahasa Mandailing

Perubahan bunyi merupakan suatu proses dimana bunyi suatu bahasa berubah dari bunyi awal menjadi bunyi lain. Macam-macam perubahan bunyi dapat diuraikan dengan berbagai tipe perubahan bunyi yang lebih meneropong kepada perubahan bunyi secara individual, yaitu semata-mata mempersoalkan bunyi proto itu tanpa mengaitkannya dengan fonem fonem lain dalam lingkungan yang dimasukinya.

Untuk menyelesaikan data yang terkumpul adalah dengan cara menganalisis macam-macam perubahan bunyi yang didasarkan pada hubungan bunyi tertentu dengan fonem-fonem lainnya dalam sebuah segmen atau dalam lingkungan yang lebih luas. Prosedur dalam analisis data ini adalah 1) Mengumpulkan 200 kosakata daftar swadesh dan menerjemahkannya ke dalam bahasa Mandailing. 2) Mendeskripsikan macam-macam perubahan bunyi. 3) Menganalisis perubahan bunyi bahasa Proto Austronesia dalam bahasa Mandailing.

4.1.1 Perubahan Bunyi Metatesis merupakan suatu proses perubahan bunyi yang

(42)

Tabel 7 Perubahan Bunyi Metatesis

NO PAN BM GLOS

1. *t’ilak kilat kilat

2. *ubok obuk rambut

Kata */t’ilak/ mengalami perubahan bunyi secara metatesis → /kilat/ dalam BM ‘kilat’.Konsonan */t/ hambat, alveolar → konsonan /k/ hambat, velar, dan konsonan*/k/ hambat, velar → konsonan /t/ hambat, alveolar dalam BM.

Kata */ubok/ mengalami perubahan bunyi secara metatesis → /obuk/ dalam BM ‘rambut’.Vokal */u/ tinggi, belakang, bulat → vokal /o/ sedang, belakang, bulat, dan vokal */o/ sedang, belakang, bulat → /u/ tinggi, belakang, bulat dalam BM.

4.1.2 Perubahan Bunyi Aferesis merupakan suatu proses perubahan bunyi berupa penghilangan satu fonem atau lebih di awal kata.

Tabel 8 Perubahan Bunyi Aferesis

NO PAN BM GLOS

(43)

2. *halir alir alir

3. *hari ari hari

4. *h∂n on ini

5. *tjarum jarum jarum

6. *kita ita kita

Kata */qabu/ mengalami perubahan bunyi secara aferesis → /abu/ dalam BM

‘abu’.Konsonan */q/ hambat, glotal hilang pada posisis awal kata.

Kata */halir/ mengalami perubahan bunyi secara aferesis → /alir/ dalam BM

‘alir’.Konsonan */h/ frikatif, laringal, tak bersuara hilang pada posisi awal kata.

Kata */hari/ mengalami perubahan bunyi secara aferesis → /ari/ dalam BM

‘hari’.Konsonan */h/ frikatif, laringal, tak bersuara hilang pada posisi awal kata.

Kata */h∂n/ mengalami perubahan bunyi secara aferesis → /on/ dalam BM

‘ini’.Konsonan */h/ frikatif, laringal, tak bersuara hilang pada posisi awal kata diikuti dengan perubahan bunyi vokal */∂/ sedang, tengah, tidak bulat → vokal /o/ sedang, belakang, bulat dalam BM.

Kata */tjarum/ mengalami perubahan bunyi secara aferesis → /jarum/ dalam BM ‘jarum’.Konsonan */t/ plosif, dental/alveolar, tidak bersuara hilang pada posisi awal kata.

(44)

Kata */kita/ mengalami perubahan bunyi secara aferesis → /ita/ dalam BM

‘kita’.Konsonan */k/ plosif, velar, tidak bersuara hilang pada posisi awal kata.

4.1.3 Perubahan Bunyi Sinkop merupakan suatu proses perubahan bunyi berupa penghilangan satu fonem atau lebih di tengah kata.

Tabel 9 Perubahan Bunyi Sinkop

NO PAN BM GLOS

1. *aku au aku

2. *baƞua? bahat banyak

3. *duwa dua dua

4. *jahit jait jahit

5. *ralara rara merah

6. *gelar goar nama

7. *tikam tiam tikam

8. *tumbu tubu tumbuh

Kata */aku/ mengalami perubahan bunyi secara sinkop → /au/ dalam BM

‘aku’.Konsonan */k/ plosif, velar, tidak bersuara hilang pada posisi tengah kata.

Kata */baƞ uak/ mengalami perubahan bunyi secara sinkop → /bahat/ dalam

(45)

dengan diikuti perubahan bunyi vokal */u/ tinggi, belakang, bulat → konsonan /h/

frikatif, laringal, tidak bersuara dan konsonan */k/ plosif, velar, tidak bersuara → konsonan /t/ plosif, velar, tidak bersuara dalam BM.

Kata */duwa/ mengalami perubahan bunyi secara sinkop → /dua/ dalam BM

‘dua’.Konsonan */w/ semi vokal, bilabial, bersuara hilang pada posisi tengah kata.

Kata */jahit/ mengalami perubahan bunyi secara sinkop → /jait/ dalam BM

‘jahit’.Konsonan */h/ frikatif, laringal, tidak bersuara hilang pada posisi tengah kata.

Kata */ralara/ mengalami perubahan bunyi secara sinkop → /rara/ dalam BM

‘merah’.Konsonan */l/ lateral, dental/alveolar, bersuara dan vokal */a/ rendah, tengah, tidak bulat hilang pada posisi tengah kata.

Kata */gelar/ mengalami perubahan bunyi secara sinkop → /goar/ dalam BM

‘nama’. Vokal */e/ sedang, depan, tidak bulat hilang pada posisi tengah kata dan diikuti dengan perubahan bunyi konsonan */l/ lateral, dental/alveolar, bersuara → vokal /o/ sedang, belakang, bulat dalam BM.

Kata */tikam/ mengalami perubahan bunyi secara sinkop → /tiam/ dalam BM

‘tikam’.Konsonan */k/ plosif, velar, tidak bersuara hilang pada posisi tengah kata.

Kata */tumbu/ mengalami perubahan bunyi secara sinkop → /tubu/ dalam BM

‘tumbuh’.Konsonan */m/ nasal, bilabial, bersuara hilang pada posisi tengah kata.

(46)

4.1.4 Perubahan Bunyi Apokop merupakan suatu proses perubahan bunyi berupa penghilangan satu fonem atau lebih di akhir kata.

Tabel 10 Perubahan Bunyi Apokop

NO PAN BM GLOS

1. *baruh baru baru

2. *batuk batu batu

3. *laŋuj laŋe berenang

4. *abuk abu debu

5. *sira(q) sira garam

6. *dabuh dabu jatuh

7. *taboh tabo lemak

8. *dilah dila lidah

9. *matay mate mati

10. *babak baba mulut

11. *bi(t)ukah bituka usus

Kata */baruh/ mengalami perubahan bunyi secara apokop → /baru/ dalam BM

‘baru’.Konsonan */h/ frikatif, laringal, tidak bersuara hilang pada posisi akhir kata.

(47)

Kata */batuk/ mengalami perubahan bunyi secara apokop → /batu/ dalam BM

‘batu’.Konsonan */k/ plosif, velar, tidak bersuara hilang pada posisi akhir kata.

Kata */laŋuj/ mengalami perubahan bunyi secara apokop → /laŋe/ dalam BM

‘berenang’. Konsonan */j/ paduan, palatal, bersuara hilang pada posisi akhir kata dan terjadi perubahan bunyi vokal */u/ tinggi, belakang, bulat → vokal /e/ sedang, depan, tidak bulat dalam BM.

Kata */abuk/ mengalami perubahan bunyi secara apokop → /abu/ dalam BM

‘debu’.Konsonan */k/ plosif, velar, tidak bersuara hilang pada posisi akhir kata.

Kata */sira(q)/ mengalami perubahan bunyi secara apokop → /sira/ dalam BM

‘garam’. Konsonan */q/ hambat, glotal hilang pada posisi akhir kata.

Kata */dabuh/ mengalami perubahan bunyi secara apokop → /dabu/ dalam BM ‘jatuh’.Konsonan */h/ frikatif, laringal, tidak bersuara hilang pada posisi akhir kata.

Kata */taboh/ mengalami perubahan bunyi secara apokop → /tabo/ dalam BM

‘lemak’.Konsonan */h/ frikatif, laringal, tidak bersuara hilang pada posisi akhir kata.

Kata */dilah/ mengalami perubahan bunyi secara apokop → /dila/ dalam BM

‘lidah’.Konsonan */h/ frikatif, laringal, tidak bersuara hilang pada posisi akhir kata.

Kata */matay/ mengalami perubahan bunyi secara apokop → /mate/ dalam BM ‘mati’. Konsonan */y/ semi vokal, palatal, bersuara hilang pada posisi akhir kata

(48)

dan terjadi perubahan bunyi vokal */a/ rendah, tengah, tidak bulat → vokal /e/ sedang, depan, tidak bulat dalam BM.

Kata */babak/ mengalami perubahan bunyi secara apokop → /baba/ dalam BM

‘mulut’.Konsonan */k/ plosif, velar, tidak bersuara hilang pada posisi akhir kata.

Kata */bi(t)ukah/ mengalami perubahan bunyi secara apokop → /bituka/

dalam BM ‘usus’. Konsonan */h/ frikatif, laringal, tidak bersuara hilang pada posisi akhir kata.

4.1.5 Perubahan Bunyi Protesis merupakan suatu proses perubahan bunyi berupa penambahan satu fonem atau lebih di awal kata.

Tabel 11 Perubahan Bunyi Protesis

NO PAN BM GLOS

1. *pat opat empat

2. *tuma utu kutu

3. *inum minum minum

4. *u(n)tah muntah muntah

Kata */pat/ mengalami perubahan bunyi secara protesis → /opat/ dalam BM

‘empat’.Vokal */o/ sedang, belakang, bulat bertambah pada posisi awal kata.

(49)

Kata */tuma/ mengalami perubahan bunyi secara protesis → /utu/ dalam BM

‘kutu’.Vokal */u/ tinggi, belakang, bulat bertambah pada posisi awal kata serta terjadi perubahan bunyi berupa pelesapan konsonan */m/ nasal, bilabial, bersuara dan vokal

*/a/ rendah, tengah, tidak bulat.

Kata */inum/ mengalami perubahan bunyi secara protesis → /minum/ dalam BM ‘minum’.Konsonan */m/ nasal, bilabial, bersuara bertambah pada posisi awal kata.

Kata */u(n)tah/ mengalami perubahan bunyi secara protesis → /muntah/ dalam BM ‘muntah’. Konsonan */m/ nasal, bilabial, bersuara bertambah pada posisi awal kata.

4.1.6 Perubahan Bunyi Epentesis merupakan suatu proses perubahan bunyi berupa penambahan satu fonem atau lebih di tengah kata.

Tabel 12 Perubahan Bunyi Epentesis

NO PAN BM GLOS

1. *mala maila malu

Kata */mala/ mengalami perubahan bunyi secara epentesis → /maila/ dalam BM ‘malu’. Vokal */i/ tinggi, depan, tidak bulat bertambah pada posisi tengah kata.

(50)

4.1.7 Perubahan Bunyi Paragog merupakan suatu proses perubahan bunyi berupa penambahan satu fonem atau lebih di akhir kata.

Tabel 13 Perubahan Bunyi Paragog

NO PAN BM GLOS

1. *uda udan hujan

2. *paa paat kaki

3. *sa sada satu

Kata */uda/ mengalami perubahan bunyi secara paragog → /udan/ dalam BM

‘hujan’.Konsonan */n/ nasal, dental/alveolar, bersuara bertambah pada posisi akhir kata.

Kata */paa/ mengalami perubahan bunyi secara paragog → /paat/ dalam BM

‘kaki’.Konsonan */t/ plosif, velar, tidak bersuara bertambah pada posisi akhir kata.

Kata */sa/ mengalami perubahan bunyi secara paragog → /sada/ dalam BM

‘satu’.Konsonan */t/ plosif, velar, tidak bersuara dan vokal */a/ rendah, tengah, tidak bulat bertambah pada posisi akhir kata.

(51)

4.2 Pewarisan Linear dan Inovasi Fonem Vokal dan Konsonan Bahasa Proto Austronesia dalam Bahasa Mandailing

Pewarisan linear adalah pewarisan sebuah atau beberapa fonem proto ke dalam bahasa sekarang dengan tetap mempertahankan ciri-ciri yang ada pada fonem tersebut.Pewarisan inovasi merupakan bentuk pewarisan apabila terjadi perubahan dari bahasa proto ke dalam bahasa sekarang.

Untuk menyelesaikan masalah yang kedua dengan mengumpulkan 200 kosa kata daftar Swadesh dan menerjemahkannya ke bahasa Mandailing yang dilanjutkan dengan mendeskripsikan dan menganalisis pewarisan linier dan inovasi fonem vokal dan konsonan bahasa Proto Austronesia dalam bahasa Mandailing.

4.2.1 Pewarisan Linier Fonem Vokal PAN dalam BM

4.2.1.1 PAN */a/ → /a/

Tabel 14 Pewarisan Linear Fonem PAN *a → a pada Posisi Terbuka

NO PAN BM GLOS

1. *ana? ana? anak

2. *manu? manu? ayam

3. *abara abara bahu

4. *bataŋ bataŋ batang

(52)

5. *buka buka buka

6. *caciŋ caciŋ cacing

7. *dagiŋ dagiŋ daging

8. *ia ia dia

9. *kali kali gali

10. *rata rata hijau

11. *kabut kabut kabut

12. *laŋit laŋit langit

13. *lima lima lima

14. *mayam mayam main

15. *mata mata mata

16. *kapa? kapa? sayap

17. *au au saya

18. *tali tali tali

19. *tari? tari? tarik

Tabel 15 Pewarisan Linear Fonem PAN *a → a pada Posisi Tertutup

NO PAN BM GLOS

1. *ana? ana? anak

2. *bataŋ bataŋ batang

ŋ ŋ

(53)

4. *buah buah buah

5. *bulan bulan bulan

6. *mayam mayam main

7. *bontar bontar putih

8. *kapa? kapa? sayap

9. *taŋan taŋan tangan

Pewarisan linear dapat dilihat pada kata di atas yang membuktikan bahwa fonem vokal PAN */a/ pada posisi terbuka dan tertutup tetap → /a/ dalam BM. Ciri- ciri fonem /a/ adalah rendah, tengah, dan tidak bulat.

Pewarisan ini digambarkan sebagai berikut:

*/a/

/a/

4.2.1.2 PAN */i/ → /i/

Tabel 16 Pewarisan Liniear Fonem PAN *i → i pada Posisi Terbuka

NO PAN BM GLOS

1. *di di di,pada

2. *ia ia dia

(54)

3. *kali kali gali

4. *iguŋ iguŋ hidung

5. *lima lima lima

6. *nipi nipi mimpi

7. *tali tali tali

8. *tipis tipis tipis

Tabel 17 Pewarisan Liniear Fonem PAN *i → i pada Posisi Tertutup

NO PAN BM GLOS

1. *bintaŋ bintaŋ bintang

2. *caciŋ caciŋ cacing

3. *dagiŋ dagiŋ daging

4. *kulit kulit kulit

5. *kuniŋ kuniŋ kuning

6. *laŋit laŋit langit

7. *tari? tari? tarik

8. *tipis tipis tipis

Pewarisan linear dapat dilihat pada kata di atas yang membuktikan bahwa fonem vokal PAN */i/ pada posisi terbuka dan tertutup tetap → /i/ dalam BM. Ciri-

(55)

Pewarisan ini digambarkan sebagai berikut:

*/i/

/i/

4.2.1.3 PAN */u/ → /u/

Tabel 18 Pewarisan Linear Fonem PAN */u/ → /u/ pada Posisi Terbuka

NO PAN BM GLOS

1. *tutuŋ tutuŋ bakar

2. *buah buah buah

3. *buka buka buka

4. *bulan bulan bulan

5. *buru buru buru

6. *buluŋ buluŋ daun

7. *ulu ulu kepala

8. *kulit kulit kulit

9. *kuniŋ kuniŋ kuning

10. *au au saya

Tabel 19 Pewarisan Liniear Fonem PAN */u/ → /u/ pada Posisi Tertutup

(56)

NO PAN BM GLOS

1. *manu? manu? ayam

2. *tutuŋ tutuŋ bakar

3. *buluŋ buluŋ daun

4. *iguŋ iguŋ hidung

5. *kabut kabut kabut

Pewarisan linear dapat dilihat pada kata di atas yang membuktikan bahwa fonem vokal PAN */u/ pada posisi terbuka dan tertutup tetap → /u/ dalam BM. Ciri- ciri fonem /u/ adalah tinggi, belakang, bulat.

Pewarisan ini digambarkan sebagai berikut:

*/u/

/u/

4.2.1.4 PAN */o/ → /o/

Tabel 20 Pewarisan Linear Fonem PAN */o/ → /o/ pada Posisi Tertutup

NO PAN BM GLOS

1. *bontar bontar putih

(57)

Pewarisan linear dapat dilihat pada kata di atas yang membuktikan bahwa fonem vokal PAN */o/ pada posisi tertutup tetap → /o/ dalam BM. Ciri-ciri fonem /o/

adalah sedang, belakang, dan bulat.

Pewarisan ini digambarkan sebagai berikut:

*/o/

/o/

4.2.2 Pewarisan Liniear Fonem Konsonan PAN dalam BM

4.2.2.1 PAN */b/ → /b/

Tabel 21 Pewarisan Linear Fonem PAN */b/ → /b/ pada Posisi Terbuka

NO PAN BM GLOS

1. *abara abara bahu

2. *bataŋ bataŋ batang

3. *bintaŋ bintaŋ bintang

4. *buah buah buah

5. *buka buka buka

(58)

6. *bulan bulan bulan

7. *buru buru buru

8. *buluŋ buluŋ daun

9. *kabut kabut kabut

10. *bontar bontar putih

Pewarisan linear dapat dilihat pada kata di atas yang membuktikan bahwa fonem konsonan PAN */b/ pada posisi terbuka tetap → /b/ dalam BM. Ciri-ciri fonem /b/

adalah plosif, bilabial bersuara.

Pewarisan ini digambarkan sebagai berikut:

*/b/

/b/

4.2.2.2 PAN */c/ → /c/

Tabel 22 Pewarisan Linear Fonem PAN */c/ → /c/ pada Posisi Terbuka

NO PAN BM GLOS

1. *caciŋ caciŋ cacing

(59)

Pewarisan linear dapat dilihat pada kata di atas yang membuktikan bahwa fonem konsonan PAN */c/ pada posisi terbuka tetap → /c/ dalam BM. Ciri-ciri fonem /c/

adalah afrikatif, palatal, tidak bersuara.

Pewarisan ini digambarkan sebagai berikut:

*/c/

/c/

4.2.2.3 PAN */d/ → /d/

Tabel 23 Pewarisan Linear Fonem PAN */d/ → /d/ pada Posisi Terbuka

NO PAN BM GLOS

1. *dalan dalan jalan

2. *dagiŋ dagiŋ daging

Pewarisan linear dapat dilihat pada kata di atas yang membuktikan bahwa fonem konsonan PAN */d/ pada posisi terbuka tetap → /d/ dalam BM. Ciri-ciri fonem /d/

adalah hambat, dental, bersuara.

(60)

Pewarisan ini digambarkan sebagai berikut:

*/d/

/d/

4.2.2.4 PAN */g/ → /g/

Tabel 24 Pewarisan Linear Fonem PAN */g/ → /g/ pada Posisi Terbuka

NO PAN BM GLOS

1. *dagiŋ dagiŋ daging

2. *iguŋ iguŋ hidung

Pewarisan linear dapat dilihat pada kata di atas yang membuktikan bahwa fonem konsonan PAN */g/ pada posisi terbuka tetap → /g/ dalam BM. Ciri-ciri fonem /g/

adalah hambat, velar, bersuara.

Pewarisan ini digambarkan sebagai berikut :

*/g/

/g/

(61)

Tabel 25 Pewarisan Liniear Fonem PAN */k/ → /k/ pada Posisi Terbuka

NO PAN BM GLOS

1. *buka buka buka

2. *kali kali gali

3. *kabut kabut kabut

4. *kulit kulit kulit

5. *kuniŋ kuniŋ kuning

Tabel 26 Pewarisan Linear Fonem PAN */k/ → /k/ pada Posisi Tertutup

NO PAN BM GLOS

1. *ana? ana? anak

2. *manu? manu? ayam

3. *kapa? kapa? sayap

4. *tari? tari? tarik

Pewarisan linear dapat dilihat pada kata di atas yang membuktikan bahwa fonem konsonan PAN */k/ pada posisi terbuka dan tertutup tetap → /k/ dalam BM. Ciri-ciri fonem /k/ adalah plosif, velar, tidak bersuara.

Pewarisan ini digambarkan sebagai berikut:

*/k/

(62)

/k/

4.2.2.6 PAN */l/ → /l/

Tabel 27 Pewarisan Linear Fonem PAN */l/ → /l/ pada Posisi Terbuka

NO PAN BM GLOS

1. *bulan bulan bulan

2. *buluŋ buluŋ daun

3. *dalan dalan jalan

4. *kali kali gali

5. *ulu ulu kepala

6. *kulit kulit kulit

7. *laŋit laŋit langit

8. *lima lima lima

9. *tali tali tali

Pewarisan linear dapat dilihat pada kata di atas yang membuktikan bahwa fonem konsonan PAN */l/ pada posisi terbuka tetap → /l/ dalam BM. Ciri-ciri fonem /l/

adalah lateral, dental/alveolar, bersuara.

(63)

*/l/

/l/

4.2.2.7 PAN */m/ → /m/

Tabel 28 Pewarisan Linear Fonem PAN */m/ → /m/ pada Posisi Terbuka

NO PAN BM GLOS

1. *manu? manu? ayam

2. *lima lima lima

3. *mayam mayam main

4. *mata mata mata

Tabel 29 Pewarisan Linear Fonem PAN */m/ → /m/ pada Posisi Tertutup

NO PAN BM GLOS

1. *mayam mayam main

Pewarisan linear dapat dilihat pada kata di atas yang membuktikan bahwa fonem konsonan PAN */m/ pada posisi terbuka dan tertutup tetap → /m/ dalam BM. Ciri-ciri fonem /m/ adalah nasal, bilabial, bersuara.

Pewarisan ini digambarkan sebagai berikut:

(64)

*/m/

/m/

4.2.2.8 PAN */n/ → /n/

Tabel 30 Pewarisan Liniear Fonem PAN */n/ → /n/ pada Posisi Terbuka

NO PAN BM GLOS

1. *ana? ana? anak

2. *manu? manu? ayam

3. *kuniŋ kuniŋ kuning

4. *nipi nipi mimpi

Tabel 31 Pewarisan Liniear Fonem PAN */n/ → /n/ pada Posisi Tertutup

NO PAN BM GLOS

1. *bintaŋ bintaŋ bintang

2. *bulan bulan bulan

3. *dalan dalan jalan

4. *bontar bontar putih

5. *taŋan taŋan tangan

(65)

Pewarisan linear dapat dilihat pada kata di atas yang membuktikan bahwa fonem konsonan PAN */n/ pada posisi terbuka dan tertutup tetap → /n/ dalam BM. Ciri-ciri fonem /n/ adalah nasal, dental/alveolar, bersuara.

Pewarisan ini digambarkan sebagai berikut:

*/n/

/n/

4.2.2.9 PAN */ŋ/ → /ŋ/

Tabel 32 Pewarisan Linear Fonem PAN */ŋ/ → /ŋ/ pada Posisi Terbuka

NO PAN BM GLOS

1. *laŋit laŋit langit

2. *taŋis taŋis tangis

Tabel 33 Pewarisan Linear Fonem PAN */ŋ/ → /ŋ/ pada Posisi Tertutup

NO PAN BM GLOS

1. *tutuŋ tutuŋ bakar

2. *bataŋ bataŋ batang

(66)

3. *bintaŋ bintaŋ bintang

4. *caciŋ caciŋ cacing

5. *buluŋ buluŋ daun

6. *iguŋ iguŋ hidung

7. *kuniŋ kuniŋ kuning

Pewarisan linear dapat dilihat pada kata di atas yang membuktikan bahwa fonem konsonan PAN */ŋ/ pada posisi terbuka dan tertutup tetap → /ŋ/ dalam BM. Ciri-ciri fonem /ŋ/ adalah nasal, velar, bersuara.

Pewarisan ini digambarkan sebagai berikut:

*/ŋ/

/ŋ/

4.2.2.10 PAN */p/ → /p/

Tabel 34 Pewarisan Linear Fonem PAN */p/ → /p/ pada Posisi Terbuka

NO PAN BM GLOS

1. *nipi nipi mimpi

2. *kapa? kapa? sayap

(67)

Pewarisan linear dapat dilihat pada kata di atas yang membuktikan bahwa fonem konsonan PAN */p/ pada posisi terbuka tetap → /p/ dalam BM. Ciri-ciri fonem /p/

adalah plosif, labial, tidak bersuara.

Pewarisan ini digambarkan sebagai berikut:

*/p/

/p/

4.2.2.11 PAN */r/ → /r/

Tabel 35 Pewarisan Linear Fonem PAN */r/ → /r/ pada Posisi Terbuka

NO PAN BM GLOS

1. *abara abara bahu

2. *buru buru buru

3. *rata rata hijau

Tabel 36 Pewarisan Linear Fonem PAN */r/ → /r/ pada Posisi Tertutup

(68)

NO PAN BM GLOS

1. *bontar bontar putih

Pewarisan linear dapat dilihat pada kata di atas yang membuktikan bahwa fonem konsonan PAN */r/ pada posisi terbuka dan tertutup tetap → /r/ dalam BM. Ciri-ciri fonem /r/ adalah trill, alveolar, bersuara.

Pewarisan ini digambarkan sebagai berikut:

*/r/

/r/

4.2.2.12 PAN */s/ → /s/

Tabel 37 Pewarisan Linear Fonem PAN */s/ → /s/ pada Posisi Tertutup

NO PAN BM GLOS

1. *taŋis taŋis tangis

2. *tipis tipis tipis

(69)

Pewarisan linear dapat dilihat pada kata di atas yang membuktikan bahwa fonem konsonan PAN */s/ pada posisi tertutup tetap → /s/ dalam BM. Ciri-ciri fonem /s/

adalah frikatif, alveolar, tidak bersuara.

Pewarisan ini digambarkan sebagai berikut:

*/s/

/s/

4.2.2.13 PAN */t/ → /t/

Tabel 38 Pewarisan Linear Fonem PAN */t/ → /t/ pada Posisi Terbuka

NO PAN BM GLOS

1. *tutuŋ tutuŋ bakar

2. *bataŋ bataŋ batang

3 *bintaŋ bintaŋ bintang

4. *rata rata hijau

5. *mata mata mata

6. *bontar bontar putih

7. *tali tali tali

8. *taŋis taŋis tangis

9. *tari? tari? tarik

(70)

10. *tipis tipis tipis

Tabel 39 Pewarisan Linear Fonem PAN */t/ → /t/ pada Posisi Tertutup

NO PAN BM GLOS

1. *kabut kabut kabut

2. *kulit kulit kulit

3. *laŋit laŋit langit

Pewarisan linear dapat dilihat pada kata di atas yang membuktikan bahwa fonem konsonan PAN */t/ pada posisi terbuka dan tertutup tetap → /t/ dalam BM. Ciri-ciri fonem /t/ adalah plosif, velar, tidak bersuara.

Pewarisan ini digambarkan sebagai berikut:

*/t/

/t/

4.2.2.14 PAN */y/ → /y/

Tabel 40 Pewarisan Linear Fonem PAN */y/ → /y/ pada Posisi Terbuka

NO PAN BM GLOS

(71)

1. *mayam mayam main

Pewarisan linear dapat dilihat pada kata di atas yang membuktikan bahwa fonem konsonan PAN */y/ pada posisi terbuka tetap → /y/ dalam BM. Ciri-ciri fonem /y/

adalah semi vokal, palatal, bersuara.

Pewarisan ini digambarkan sebagai berikut:

*/y/

/y/

Pewarisan bunyi liniear fonem vokal */e/ → /e/, dan konsonan */f/ → /f/, */h/ → /h/, */j/ → /j/, */q/ → /q/, */v/ → /v/, */w/ → /w/, */x/ → /x/, */z/ → /z/ tidak ditemukan dalam BM.

4.2.3 Pewarisan Inovasi Fonem Vokal PAN dalam BM 4.2.3.1 PAN */a/ → /o/

Tabel 41 Pewarisan Inovasi Fonem PAN */a/ → /o/ pada Posisi Terbuka

NO PAN BM GLOS

Referensi

Dokumen terkait

4.2.8.3.Jumlah persentase mahasiswa Sastra Arab stambuk 2017 yang tidak mampu mengucapkan proses asimilasi total progresif yang terdapat pada konsonan nasal ى /n

Wujud nilai moral yang terdapat dalam teks cerita keramat kubah terbang memiliki tiga bagian yaitu, wujud nilai moral dalam hubungan manusia dengan Tuhan yang memiliki bentuk

Sikap toleransi tidak diterapkan dalam cerita HRP dapat dipaparkan oleh pengarang dalam pengambaran tokoh yaitu ketika Raja Siam mengutus Talak Sejang untuk

Pusat administrasi Belanda di Labuhan Batu yang terakhir berada di Rantau Prapat, dipindahkan dari Labuhan Bilik pada tahun 1932 dan menjadi pusat administrasi

Ornamen tumbuhan biasanya di temukan pada ukiran-ukiran kayu, pahatan, dan media-media lainnya. Ornamen tumbuhan mengambil bentuk dari berbagai segala

Adapun yang menyebabkan ibu-ibu penutur bahasa Karo mengalami kesulitan dalam mengucapkan bunyi konsonan / غ / γ/ frikatif-velar- bersuara /sRطرMIu;,UP `_rا

Penulisan tesis yang diberi judul: “PEMEROLEHAN BUNYI UJARAN BAHASA INDONESIA ANAK USIA DUA TAHUN: ANALISIS FONOLOGI GENERATIF”, adalah merupakan salah satu syarat yang harus

Ucapan terima kasih ini tidaklah lengkap bila belum disampaikan kepada orang tua penulis, yaitu Ayahanda, yang setia memberikan dukungan terhadap saya, baik dukungan moral,