• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III DATA DAN ANALISA PERANCANGAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III DATA DAN ANALISA PERANCANGAN"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

DATA DAN ANALISA PERANCANGAN

A. Data Berkaitan Fungsi Produk Rancangan

Tabel 3.1. Data Perancangan.

RINCIAN DATA

Data Objek Perancangan

SIFAT DATA MANFAAT DATA DALAM PERANCANGAN

KESIAPAN DATA

Primer Sekunder Sudah Belum

Polyflex GID 

Mengetahui dan memahami fungsi dasar dari material

bahan sablon  Stiker GID  Cat Minyak GID  Material Karpet  Mengetahui dan memahami karakter serta kandungan material 

(2)

Karpet visual

Sign/Tanda 

Menguatkan dan mempertegas fungsi material glow in the

dark  Tata Letak  Memudahkan dan memperindah dalam penempatan komposisi tampilan 

(3)

B. Kelompok Data Berkaitan dengan Estetika Fungsi Produk Rancangan Beberapa simbol-simbol yang digunakan dalam evakuasi

Gambar 3.1Tanda petunjuk arah evakuasi

(http://i663.photobucket.com/albums/uu353/Cakrawijaya/Katalog%20Rambu/Picture311.jpg)

Dalam bab ini juga dibahas tentang teori-teori dasar yang melatar belakangi konsep yang akan dibuat untuk mendapatkan data yang valid sehingga dapat menghasilkan arti serta peruntukan yang diinginkan.

Teori tanda

Kata semiotika berasal dari kata Yunani semeion, yang berarti tanda. Maka semiotika berarti ilmu tanda. Semiotika adalah cabang ilmu yang berurusan dengan pengkajian tanda dan segala sesuatu yang berhubungan dengan tanda, seperti sistem tanda dan proses yang berlaku bagi penggunaan tanda. Pengamatan masalah semiotika sebenarnya sudah tumbuh sejak tahun 330-264 SM, yaitu melalui kajian Zeno, tokoh aliran Stoa yang berasal dari Kition di Pulau Cyprus. Ia mengadakan penelitian lewat tanda-tanda tangis dan tertawa. Hasil penelitian Zeno ini membuahkan perbedaan tanda dari aspek penanda dan petandanya. Berdasarkan pengamatan Zeno ini tangis seseorang yang terlihat dalam bentuk penampilannya merupakan penandanya. Hal ini disebabkan bahwa

(4)

ekspresi tangis itu secara cepat dapat diamati melalui gerak, penampilan, suara atau nada tangisnya. Dibalik gerak ekspresi lahiriah, yaitu makna atau maksud tujuan menangis, merupakan petandanya. Mengapa ia menangis?, apa sebabnya ia menangis?, adalah tujuan penelusuran makna yang terpahamkan dari tangis seseorang. Hal ini pun termasuk kajian petandanya. Bermula dari kajian Zeno tentang tangis dan tawa itu ilmu semiotika mulai dikembangkan.

Seorang uskup Roma yang hidup sekitar abad kelima Masehi, Saint Augustinus,selaku pemimpin agama terkemuka, meletakkan dasar sistem tanda di dalam mengkaji Al-kitab. Berkat kegiatan dan ketekunannya yang tidak pernah mengenal lelah, Augustinus menerjemahkan bahasa Al-kitab Ibrani ke dalam bahasa Roma. Terlahir dari konsep-konsep beliaulah sampai sekarang Al-kitab dapat diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia.

Pada akhir abad delapan belas filsuf Jerman yang dilupakan, J.H Lambert, telah menggunakan kata semiotika. Namun dapatlah dikatakan, bahwa semiotika merupakan cabang ilmu yang relatif lebih muda. Penggunaan tanda dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya baru lebih sering dan lebih sistematis dipelajari pada abad kedua puluh.

Semiotika modern mempunyai dua orang peletak dasar, yang satu kita sebut Charles Sanders Peirce, dan yang satunya lagi ialah Ferdinand de Saussure. Dan sebenarnya, diantara mereka tidaklah saling mengenal. Kenyataan bahwa mereka tidak saling mengenal menyebabkan adanya perbedaan-perbedaan yang penting dalam penerapan konsep-konsep, antara hasil karya para ahli semiotika yang berkiblat pada Peirce di satu pihak, dan hasil karya para pengikut Saussure di pihak yang lain. Ketidaksamaan itu, terutama disebabkan oleh perbedaan yang mendasar: Peirce adalah ahli filsafat dan logika, sedangkan Saussure adalah cikal bakal linguistik umum.

Peirce mengusulkan kata semiotika yang sebenarnya telah digunakan oleh ahli filsafat Jerman Lambert pada abad ke delapan belas sebagai sinonim kata logika. Menurut Peirce, logika harus mempelajari bagaimana orang

(5)

bernalar. Penalaran itu, menurut hipotesis teori Peirce yang mendasar, dilakukan melalui tanda-tanda. Tanda-tanda memungkinkan kita berpikir, berhubungan dengan orang lain, dan memberi makna pada apa yang ditampilkan oleh alam semesta. Dalam persfektik ini, orang mempunyai kemungkinan yang luas dalam keanekaragaman tanda; di antaranya tanda-tanda linguistik merupakan kategori yang penting, tetapi bukan satu-satunya kategori. Dengan mengembangkan teori semiotika, Peirce memusatkan perhatian pada berfungsinya tanda pada umumnya. Ia memberi tempat yang penting, meskipun bukan yang utama pada tanda-tanda linguistik. Hal ini yang berlaku bagi tanda pada umumnya, berlaku pula bagi tanda linguistik.

Sebaliknya, Saussure mengembangkan dasar-dasar teori linguistik umum. Kekhasan teorinya terletak pada kenyataan bahwa ia menganggap bahasa sebagai sistem tanda. Sebagai tambahan, ia menyatakan bahwa teori tentang tanda-tanda linguistik perlu menemukan tempatnya dalam teori yang lebih umum, dan untuk hal ini ia mengusulkan nama semiologi. Ketika para pengikut Saussure secara bertahap menyusun teori semiotika umum yang telah diramalkan kehadirannya oleh Saussure, mereka mengambil model linguistik. Hal ini tidak hanya karena Saussurelah yang telah mengilhami mereka, tetapi juga karena pada waktu mereka mengerjakan teori, linguistik telah berkembang sangat pesat. Baik secara implisit maupun secara eksplisit, para ahli semiotika yang berkiblat pada Saussure menganggap bahwa tanda-tanda linguistik mempunyai kelebihan dari sistem semiotika lainnya.

Peirce telah menciptakan teori umum untuk tanda-tanda. Lebih tepatnya, ia telah memberikan dasar-dasar yang kuat pada teori tersebut di dalam tulisan yang tersebar dalam berbagai teks dan dikumpulkan dua puluh lima tahun sesudah kematiannya dalam Oeuvres Completes (Karya Lengkap), teks-teks tersebut mengandung pengulangan dan pembetulan. Peirce menghendaki agar teorinya yang bersifat umum ini dapat diterapkan pada segala macam tanda. Untuk mencapai tujuan tersebut, ia memerlukan konsep-konsep baru. Untuk

(6)

melengkapi konsep itu, ia menciptakan kata-kata baru yang ditemukannya sendiri. Dari penggunaan kata-kata inilah ahli semiotika dari kubu Peirce dapat dikenali.

Ahli semiotik dari kubu Saussure menggunakan kosakata yang berbeda. Mereka menggunakan istilah-istilah pinjaman dari linguistik. Pada masa sesudah Saussure, teori linguistik yang paling banyak menandai studi semiotika adalah teori Hjelmslev, seorang strukturalis asal Denmark. Pengaruh itu tampak, terutama dalam “semiologi komunikasi” (Prieto, Buyssens, Mounin). Teori ini merupakan pendekatan kaum semiotika yang hanya memperhatikan tanda-tanda yang disertai maksud (signal), yang digunakan dengan sadar oleh mereka yang mengirimnya (si pengirim) dan mereka yang menerimanya (si penerima), dan sistem semiotika dari rambu-rambu lalu-lintas memberikan suatu contoh penggunaan tanda-tanda seperti ini.

Pengaruh Hjelmslev terlihat lagi dalam penelitian mereka yang menaruh perhatian pada tanda-tanda tanpa maksud (berupa symptom) yang sering dihasilkan oleh pengirim tanpa didasarinya. Para ahli semiotika ini tidak berpegang pada makna primer (denotasi) tanda yang disampaikan, melainkan berusaha untuk mendapatkan makna sekunder (konotasi) yang juga mempunyai tanda itu. Roland Barthes adalah pemuka yang paling terkenal dari aliran semiotika ini, yang dapat disebut dengan “semiotika konotasi”. Sebagaimana Saussure, Barthes meyakini bahwa hubungan antara sebuah penanda dan petanda bukanlah terbentuk secara alamiah, melainkan bersifat arbitrer, yaitu hubungan yang terbentuk berdasarkan konvensi, maka sebuah penanda pada dasarnya membuka berbagai peluang petanda atau makna. Roland Barthes menyatakan bahwa apapun jenis tanda yang digunakan dalam sistem pertandaan, menurut semiotik struktural, ia tetap harus menyandarkan dirinya pada hubungan struktural, ia tetap harus menyandarkan dirinya pada hubungan struktural dalam sistem langue. Dalam tahap ini Roland Barthes masih

(7)

mempertahankan kaidah-kaidah strukturalisme, namun Barthes tidak terpaku pada konsep diadiksignifier signified Saussure.

Barthes menyebut proses pemaknaan tanda dengan istilah signifikation (signifikasi). Bagi Barthes, signifikasi merupakan proses memadukan penanda dan petanda sehingga menghasilkan tanda. Siginifikasi tidak mempersatukan entitas-entitas yang unilateral, tidak pula memadukan dua terma semata-mata, sebab baik penanda maupun petanda itu sekaligus merupakan terma-terma dari relasi.

Dengan demikian, kaum semiotika Prancis banyak yang terpengaruh oleh semiologinya Saussure, sedangkan semiotika Peirce kurang dikenal di Prancis. Walalupun, beberapa teksnya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis dan sebagian peneliti tertarik pada gagasan-gagasan yang terdapat di dalamnya. Akan tetapi, secara umum dapat dikatakan bahwa gagasan-gagasan ini belum mendapat perhatian yang sepantasnya di Prancis. Di negerinya sendiri konsepsi Peirce cukup terlambat dikenal masyarakat. Tulisan-tulisan yang telah diterbitkan semasa hidupnya sangat sedikit, dan yang telah diterbitkan pun kurang mendapat perhatian. Baru setelah penerbitan anumerta Oeuvres Completes (Karya Lengkap), kemudian disebarluaskan oleh Charles Morris dengan tujuan melihat kemungkinan-kemungkinan penggunaan secara ilmiah.

Dalam penyebarluasannya itu, teori Peirce telah mengalami banyak perubahan. Misalnya, dalam keinginannya untuk membangun semiotika behavioris, Morris telah mencampurkan konsep yang dibuatnya sendiri ke dalam konsep-konsep Peirce ke dalam istilah-istilah yang cukup sukar yang justru tidak menunjang keberhasilan usahanya. Konsep Peirce telah diperkenalkan di Eropa oleh Max Bense (Republik Federasi Jerman) yang menggunakannya ke dalam penelitian estetika dan analisis tekstual. Keberhasilannya masih sangat relatif karena hasil karya Bense tetap terisolasi dari karya teman-teman sejawatnya: pekerjaan Bense dan para pengikutnya tetap terbatas dalam kerja klasifikasi yang

(8)

cukup steril pada tipologi semiotika Peirce yang sangat rinci memang dengan mudah dapat membawa pada semacam keadaan mabuk taksonomi atau semata-mata terbatas pada penggantian terminologi linguistik tradisional oleh terminologi Peirce. Terminologi Peirce ini terintegrasi secara lebih efektif dalam pemikiran Georg Klaus (Republik Demokrasi Jerman), ahli semiotika yang berorientasi marxis.

Pada Saussure terdapat lima pandangan yang selanjutnya menjadi peletak dasar dari strukturalismeLevi-Strauss, yaitu pandangan tentang signifier (penanda) dan signified(petanda), form (bentuk) dan content (isi), langue (bahasasebagai sistem) dan parole(tuturan, ujaran), sinkronik dan diakronik, serta sintagmatik dan paradigmatik.

Tanda adalah kesatuan dari suatu bentuk penanda (signifier) dengan sebuah ide atau petanda (signified). Dengan kata lain penanda adalah bunyi yang bermakna atau coretan yang bermakna. Jadi, penanda adalah aspek material dari bahasa: apa yang dikatakan atau didengar dan apa yang ditulis atau dibaca. Petanda adalah gambaran mental, pikiran, atau konsep. Jadi, petanda adalah aspek mental dari bahasa (Bertens dalam Alex Sobur, 2013).

Tanda bahasa selalu mempunyai duasegi: Penanda atau petanda, signifier atau signified, signifiant atau sugnifie. Suatu penanda tanpa Mengenai form dan content, Saussure membandingkan dengan permainan catur. Dalam permainan catur, papan biji dan biji catur itu tidak terlalu penting. Yang penting adalah fungsinya yang dibatasi aturan-aturan permainan. Jadi, bahasa berisi sistem nilai, bukan koleksi unsur yang ditentukan oleh materi, tetapi sistem itu ditentukan oleh perbedaannya.

Saussure dianggap cukup penting oleh Recoer, karena dia yang meletakkan dasar perbedaan antara langue dan parole (Recoer dalam Alex Sobur, 2013) sebagai dua pendekatan linguistik yang pada gilirannya nanti dapat menunjang pemikiran Recoer, khususnya dalam teori wacana.

(9)

Saussure membedakan tiga istilah dalam bahasa Prancis: langage, lague (sistem bahasa) dan parole (ujaran). Langage mengacu kepada bahasa pada umumnya yang terdiri atas langue dan parole. Langage adalah suatu kemampuan berbahasa yang ada pada setiap manusia yang sifatnya pembawaan, namun pembawaan ini mesti dikembangkan dengan lingkungan dan stimulus yang menunjang. Singkatnya, langage adalah bahasa pada umumnya.

Dalam pengertian umum, langue adalah abstraksi dan artikulasi bahasa pada tingkat sosial budaya, sedangkan parole merupakan ekspresi bahasa pada tingkat individu (hidayat dalam Alex Sobur, 2013). Langue adalah sesuatu yang berkadar individual dan juga sosial universal. Langue dimaksudkan sebagai cabang linguistik yang menaruh perhatian pada tanda-tanda (sign) bahasa atau ada juga yang menyebutnya sebagai kode-kode bahasa (Kleden-Probonegoro dalam Alex Sobur, 2013).

Jika langue mempunyai objek studi sistem atau tanda atau kode, maka parole adalah living specch, yaitu bahasa yang hidup atau bahasa sebagaimana terlihat dalam penggunaannya. Kalau langue bersifat kolektif dalam pemakaiannya “tidak disadari” oleh pengguna bahasa yang bersangkutan, maka parole lebih memperhatikan faktor pribadi pengguna bahasa.

(10)

C. Data Berkaitan Teknis Produk Rancangan

Table 3.2 Data Teknis Produk Rancangan

RINCIAN DATA SIFAT DATA MANFAAT DATA

DALAM PERANCANGAN

KESIAPAN DATA

Primer Sekunder Sudah Belum

Data Teknis Perancangan Perangkat Lunak (Softwore)  Sebagai Alat Penunjang Proses Desain  Teknik Cutting mesin  Mengetahui dan memahami Teknik Potong Menggunakan Mesin 

Teknik Mesin Press 

Mengetahui dan mengerti teknik

tekan dan pengaturan suhu

(11)

D. Kelompok Data Berkaitan dengan Aspek Ekonomi Produk Rancangan Harga yang diperlukan untuk membuat “sign on carpets” sangatlah relatif karena bahan baku karpet yang sengaja memang dipilih untuk produksi massal.

Tentunya dengan material glow in the dark yang menambah nilai tinggi dari karpet tersebut, Dan yang penting karpet yang menggunakan material glow in the dark ini dapat menyerap cahaya pada kondisi terang berguna dalam kondisi gelap Dan dampa kini yang sebagai inovasi positif terbaru dalam terobosan produk terkini.

Gambar

Gambar 3.1Tanda petunjuk arah evakuasi
Table 3.2 Data Teknis Produk Rancangan

Referensi

Dokumen terkait

Jasa Marga (Persero) Tbk Cabang Jakarta Cikampek, maka dengan ini peniliti akan merancang sistem informasi kearsipan tersebut dengan tampilan yang baik dan inputan

Pragmatik adalah merupakan cabang linguistik yang membahas tentang apa yang termasuk struktur bahasa, sebagai alat komunikasi antara penutur dan pendengar dan sebagai

Perancangan menu aplikasi Error Report dengan pada kantor cabang Bank BCA di dasari oleh proses yang harus digambarkan dalam use case diagram dan activity diagram.

Admin dapat melakukan login, logout, sign up member, edit account, ganti password, tambah atau hapus berita, tabah link atau hapus link, update profile, tambah atau hapus

• Bangunan tinggi sekitar tapak menjadi daya tarik untuk dilihat orang, sehingga rancangan rumah sakit ini dapat menjadi perhatian orang yang melintas di

Dalam kasus semacam ini, kejelasan mengenai klasifikasi tanda dapat diperlihatkan dengan mempertahankan bentuknya, misalnya untuk larangan dan kewajiban menggunakan bentuk

Hal ini dimaksudkan agar benda yang diamati kelihatan sangat besar dan mikroskop dapat dibuat lebih praktis (lebih pendek).. Hal ini menyebabkan bayangan yang terbentuk

Setelah memasukkan kode meja dan keterangan seperti nama pemesan, petugas atau pembeli dapat melakukan order pesanan dengan memilih menu makanan dan minuman, kemudian