• Tidak ada hasil yang ditemukan

Evaluasi hasil pendidikan karakter terintegrasi pada lima SMP di Jawa : studi evaluasi hasil pendidikan karakter terintegrasi pada lima SMP di Jawa tahun ajaran 2014/2015 dan implikasinya terhadap penyusunan silabus pendidikan karakte.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Evaluasi hasil pendidikan karakter terintegrasi pada lima SMP di Jawa : studi evaluasi hasil pendidikan karakter terintegrasi pada lima SMP di Jawa tahun ajaran 2014/2015 dan implikasinya terhadap penyusunan silabus pendidikan karakte."

Copied!
251
0
0

Teks penuh

(1)

(Studi Evaluasi Hasil Pendidikan Karakter Terintegrasi

pada Lima SMP di Jawa Tahun Ajaran 2014/2015 dan Implikasinya Terhadap Penyusunan Silabus Pendidikan Karakter)

Rosa Delima Kalis Jati Adi Kusuma Universitas Sanata Dharma

2015

Penelitian ini didasarkan pada permasalahan seberapa baik hasil pendidikan karakter terintegrasi pada lima SMP di Jawa tahun ajaran 2014/2015. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan hasil pendidikan karakter terintegrasi pada lima SMP di Jawa tahun ajaran 2014/2015. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mengidentifikasi profil capaian hasil pendidikan karakter terintegrasi pada masing-masing SMP dan nilai-nilai karakter yang belum optimal hasilnya.

Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif evaluatif dengan menggunakan pendekatan survei. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner Hasil Pendidikan Karakter Terintegrasi yang disusun oleh tim peneliti. Kuesioner Hasil Pendidikan Karakter Terintegrasi mengacu pada Pedoman Pendidikan Karakter yang dicanangkan oleh Direktorat Kementerian Pendidikan tahun 2010. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 653 siswa yang merupakan keseluruhan dari siswa kelas VII dan VIII pada lima SMP yang tersebar di Pulau Jawa (162 siswa SMP Stella Maris Tangerang Selatan, 115 siswa SMP Negeri 6 Surakarta, 117 siswa SMP Negeri 4 Wates, 126 siswa SMP Negeri 13 Yogyakarta, dan 133 siswa SMP Santa Maria II Malang). Koefisien reliabilitas penelitian ini dianalisa menggunakan teknik analisis Alpha Cornbach. Koefisien reliabilitas Kuesioner Hasil Pendidikan Karakter Terintegrasi sebesar 0,905 dan termasuk dalam kategori tinggi.

Berdasarkan hasil penelitian, ketercapaian hasil pendidikan karakter terintegrasi pada siswa kelas VII dan VIII pada lima SMP di Jawa tahun ajaran 2014/2015 adalah cukup (63%). Profil capaian kategori cukup pada tiap sekolah diketahui: SMP Stella Maris Tangerang Selatan sebesar 52% (84 siswa), SMP Negeri 6 Surakarta sebesar 68% (78 siswa), SMP Negeri 4 Wates sebesar 68% (80 siswa), SMP Negeri 13 Yogyakarta sebesar 74% (93 siswa), dan SMP Santa Maria II Malang sebesar 56% (74 siswa). Terindikasi 36 (kelas VII SMP) dan 39 (kelas VIII SMP butir item kuesioner hasil pendidikan karakter terintegrasi yang hasilnya belum optimal (berada pada kategori cukup, buruk, dan sangat buruk), yang dijadikan sebagai dasar dan tolok ukur penyusunan silabus pendidikan karakter.

(2)

IN THE FIVE OF JUNIOR HIGH SCHOOLS IN JAVA (Research of the Evaluation of the Integrated

Character Education Outcome in the Five of Junior High Schools in Java in 2014/2015 Academic Year and the Implication Toward

Character Education Syllabus Preparation) Rosa Delima Kalis Jati Adi Kusuma

Sanata Dharma University 2015

This research is based on the issues of how well the integrated character education outcome in the five Junior High Schools in Java in 2014/2015 academic year. The purpose of the research is to analyze and describe the integrated character education in the five of Junior High Schools in Java in 2014/2015 academic years. Other than that, this research is also aimed to identify the performance profile the integrated character education outcome in each of the Junior High School and the character values that have not been optimal.

The type of this research is evaluative descriptive research by using the survey approach. The collection of data method is used in this research is the questionnaire of the Integrated Character Education outcome which is compiled by investigator team. The questionnaire outcome of the Integrated Character Education refers to the Guidance of the Character Education which is determined by the Ministry of Education Directorate of 2010. The subjects in this research consist of 653 students which is the overall of seventh and eighth grader students in the five of Junior High Schools those are widespread in Java (162 students of the Stella Maris Tangerang Selatan Junior High, 115 students of the Public School 6 Surakarta Junior High, 117 students of the Public School 4 Wates Junior High, 126 students of the Public School 13 Yogyakarta Junior High, and 133 students of the Santa Maria II Malang Junior High). The reliability coefficient of this research was analyzed by using Alpha Cornbach analyze technique. The reliability coefficient of the Integrated Character Education is 0,905 and it means is high category.

Based on the research, the achievement of the integrated character education of seventh and eighth grader students in five of Junior High Schools in 2014/2015 academic years is sufficient (67%). The profile of the sufficiently performance in each of school is discovered: Stella Maris Tangerang Selatan Junior High is 52% (84 students), the Public School 6 Surakarta Junior High is 68% (78 students), the Public School 4 Wates Junior High is 68% (80 students), the Public School 13 Yogyakarta Junior High is 74% (93 students), and the Santa Maria II Malang Junior High is 56% (74 students). Indicated that 36 (seventh grader) and 39 (eighth grader) of the questionnaire items result of the integrated character education which not optimal (is in the sufficient, poor and very poor category), which is as basic fundamental and benchmark of the composing of the character education syllabus.

(3)

dan Implikasinya terhadap Penyusunan Silabus Pendidikan Karakter)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan dan Konseling

Disusun Oleh :

Rosa Delima Kalis Jati Adi Kusuma NIM: 111114022

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(4)

i

dan Implikasinya terhadap Penyusunan Silabus Pendidikan Karakter)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan dan Konseling

Disusun Oleh :

Rosa Delima Kalis Jati Adi Kusuma 111114022

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(5)
(6)
(7)

iv

Sebab orang yang menjalankan kebenaran

akan berhasil dalam segala usahanya”

(Tob 4:6)

“Hanya pada Allah saja kiranya aku tenang,

sebab dari pada-

Nyalah harapanku”

(Mzm 62:6)

“Ketika masalah memberimu seribu alasan ‘tuk menyerah,

kamu punya satu alasan ‘tuk terus berusaha”

(8)

v

Goresan karya ini Rosa persembahkan bagi....

Tuhan Yesus Kristus dan Bunda Maria

Sang Teladan yang senantiasa menjadi pedoman, pegangan,

sumber kekuatan, dan ketenangan

dalam setiap alur indah yang Rosa jalani selama ini.

Semua orang terkasih yang telah menuangkan

seluruh kasih sayang, perhatian, dan cintanya

guna mendampingi dan memotivasi Rosa hingga saat ini.

Orang tua tercinta,

Bapak Ignatius Sutrisno dan Ibu Agnes Sri Widaretna Mawar Diningsih

Kembaran dampit terkasih,

Pius Kalis Jati Kusuma Atmaja

Adik-adik tersayang,

Roberthus Kalis Jati Irawan, Patricia Kalis Jati Sekar Agri, dan

Yohanes Kalis Jati Wijaya Kusuma

(9)
(10)
(11)

viii

(Studi Evaluasi Hasil Pendidikan Karakter Terintegrasi pada Lima SMP di Jawa Tahun Ajaran 2014/2015 dan Implikasinya

Terhadap Penyusunan Silabus Pendidikan Karakter)

Rosa Delima Kalis Jati Adi Kusuma Universitas Sanata Dharma

2015

Penelitian ini didasarkan pada permasalahan seberapa baik hasil pendidikan karakter terintegrasi pada lima SMP di Jawa tahun ajaran 2014/2015. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan hasil pendidikan karakter terintegrasi pada lima SMP di Jawa tahun ajaran 2014/2015. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mengidentifikasi profil capaian hasil pendidikan karakter terintegrasi pada masing-masing SMP dan nilai-nilai karakter yang belum optimal hasilnya.

Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif evaluatif dengan menggunakan pendekatan survei. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner Hasil Pendidikan Karakter Terintegrasi yang disusun oleh tim peneliti. Kuesioner Hasil Pendidikan Karakter Terintegrasi mengacu pada Pedoman Pendidikan Karakter yang dicanangkan oleh Direktorat Kementerian Pendidikan tahun 2010. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 653 siswa yang merupakan keseluruhan dari siswa kelas VII dan VIII pada lima SMP yang tersebar di Pulau Jawa (162 siswa SMP Stella Maris Tangerang Selatan, 115 siswa SMP Negeri 6 Surakarta, 117 siswa SMP Negeri 4 Wates, 126 siswa SMP Negeri 13 Yogyakarta, dan 133 siswa SMP Santa Maria II Malang). Koefisien reliabilitas penelitian ini dianalisa menggunakan teknik analisis Alpha Cornbach. Koefisien reliabilitas Kuesioner Hasil Pendidikan Karakter Terintegrasi sebesar 0,905 dan termasuk dalam kategori tinggi.

Berdasarkan hasil penelitian, ketercapaian hasil pendidikan karakter terintegrasi pada siswa kelas VII dan VIII pada lima SMP di Jawa tahun ajaran 2014/2015 adalah cukup (63%). Profil capaian kategori cukup pada tiap sekolah diketahui: SMP Stella Maris Tangerang Selatan sebesar 52% (84 siswa), SMP Negeri 6 Surakarta sebesar 68% (78 siswa), SMP Negeri 4 Wates sebesar 68% (80 siswa), SMP Negeri 13 Yogyakarta sebesar 74% (93 siswa), dan SMP Santa Maria II Malang sebesar 56% (74 siswa). Terindikasi 36 (kelas VII SMP) dan 39 (kelas VIII SMP butir item kuesioner hasil pendidikan karakter terintegrasi yang hasilnya belum optimal (berada pada kategori cukup, buruk, dan sangat buruk), yang dijadikan sebagai dasar dan tolok ukur penyusunan silabus pendidikan karakter.

(12)

ix

IN THE FIVE OF JUNIOR HIGH SCHOOLS IN JAVA (Research of the Evaluation of the Integrated

Character Education Outcome in the Five of Junior High Schools in Java in 2014/2015 Academic Year and the Implication Toward

Character Education Syllabus Preparation)

Rosa Delima Kalis Jati Adi Kusuma Sanata Dharma University

2015

This research is based on the issues of how well the integrated character education outcome in the five Junior High Schools in Java in 2014/2015 academic year. The purpose of the research is to analyze and describe the integrated character education in the five of Junior High Schools in Java in 2014/2015 academic years. Other than that, this research is also aimed to identify the performance profile the integrated character education outcome in each of the Junior High School and the character values that have not been optimal.

The type of this research is evaluative descriptive research by using the survey approach. The collection of data method is used in this research is the questionnaire of the Integrated Character Education outcome which is compiled by investigator team. The questionnaire outcome of the Integrated Character Education refers to the Guidance of the Character Education which is determined by the Ministry of Education Directorate of 2010. The subjects in this research consist of 653 students which is the overall of seventh and eighth grader students in the five of Junior High Schools those are widespread in Java (162 students of the Stella Maris Tangerang Selatan Junior High, 115 students of the Public School 6 Surakarta Junior High, 117 students of the Public School 4 Wates Junior High, 126 students of the Public School 13 Yogyakarta Junior High, and 133 students of the Santa Maria II Malang Junior High). The reliability coefficient of this research was analyzed by using Alpha Cornbach analyze technique. The reliability coefficient of the Integrated Character Education is 0,905 and it means is high category.

Based on the research, the achievement of the integrated character education of seventh and eighth grader students in five of Junior High Schools in 2014/2015 academic years is sufficient (67%). The profile of the sufficiently performance in each of school is discovered: Stella Maris Tangerang Selatan Junior High is 52% (84 students), the Public School 6 Surakarta Junior High is 68% (78 students), the Public School 4 Wates Junior High is 68% (80 students), the Public School 13 Yogyakarta Junior High is 74% (93 students), and the Santa Maria II Malang Junior High is 56% (74 students). Indicated that 36 (seventh grader) and 39 (eighth grader) of the questionnaire items result of the integrated character education which not optimal (is in the sufficient, poor and very poor category), which is as basic fundamental and benchmark of the composing of the character education syllabus.

(13)

x

kasih-Nya, penulisan tugas akhir dengan judul “Evaluasi Hasil Pendidikan Karakter Terintegrasi pada Lima SMP di Jawa (Studi Evaluasi Hasil Pendidikan

Karakter Terintegrasi pada Lima SMP di Jawa Tahun Ajaran 2014/2015 dan

Implikasinya terhadap Penyusunan Silabus Pendidikan Karakter) dapat

terselesaikan dengan baik.

Selama menulis tugas akhir ini, penulis menyadari bahwa begitu banyak

pihak yang ikut terlibat guna membimbing, mendampingi, dan mendukung setiap

proses yang penulis jalani. Oleh karenanya, penulis ingin menyampaikan ucapan

terima kasih kepada:

1. Bapak Rohandi, Ph.D selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu

Pendidikan.

2. Bapak Dr. Gendon Barus, M.Si. selaku Ketua Program Studi Bimbingan dan

Konseling, sekaligus sebagai dosen pembimbing skripsi.

3. Bapak Juster Donal Sinaga, M.Pd. selaku Wakil Ketua Program Studi

Bimbingan dan Konseling.

4. Segenap Bapak/Ibu dosen Program Studi Bimbingan dan Konseling atas

bimbingan dan pendampingan selama penulis menempuh studi.

5. Om Moko atas pelayanan yang begitu ramah dan sabar selama penulis

menempuh studi di Program Studi Bimbingan dan Konseling,

6. Orang tua Kalis Jati, yakni Bapak Ignatius Sutrisno dan Ibu Agnes Sri

Widaretna Mawar Diningsih atas seluruh doa, dukungan, pendampingan,

serta penguatan yang diberikan kepada penulis selama ini.

7. Kembaran dampit, Mas Pius Kalis Jati Kusuma Atmaja atas seluruh doa dan

semangat hidup yang telah menjadi sumber kekuatan penulis selama ini.

8. Adik-adik Kalis Jati, yakni: Roberthus Kalis Jati Irawan, Patricia Kalis Jati

Sekar Agri, dan Yohanes Kalis Jati Wijaya Kusuma atas doa, semangat,

kebersamaan, dukungan, dan keceriaan yang telah diberikan kepada penulis

(14)

xi

10. Seluruh kakak, teman, dan adik dari angkatan 2010, 2011, 2012, dan 2013

atas seluruh doa, dukungan, semangat, pengalaman, dan kebersamaan yang

diberikan kepada penulis selama ini.

11. Teman dekat dan sahabat terkasih atas doa, dukungan, semangat, dan

kebersamaan yang diberikan selama ini.

12. Seluruh pihak yang telah mendukung dan membantu dalam proses

pembuatan hingga penyelesaian tugas akhir ini.

Pepatah mengungkapkan bahwa tak ada gading yang tak retak, demikian

penulis menyadari bahwa masih banyak kesalahan dan kekurangan yang penulis

perbuat selama proses pembuatan tugas akhir ini. Oleh karena itu, penulis mohon

maaf kepada semua pihak yang telah dirugikan atas kesalahan dan kekurangan

tersebut. Penulis juga sadar bahwa penelitian ini masih jauh dari sempurna. Oleh

karenanya besar harapan bagi penulis untuk mendapatkan kritik dan saran yang

membangun dari berbagai pihak guna pembenahan, penajaman, dan

perkembangan penelitian yang lebih baik. Akhir kata, atas perhatian dan

kesempatan yang diberikan, penulis ucapkan banyak terima kasih.

Yogyakarta,10 Juni 2015

Penulis

(15)

xii

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN MOTTO ... iv

HALAMAN PERSEMBAHAN ... v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMI ... vii

ABSTRAK ... viii

ABSTRACT ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR TABEL ... xv

DAFTAR GAMBAR ... xviii

DAFTAR LAMPIRAN ... xx

BAB I. PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 8

C. Batasan Masalah ... 10

D. Rumusan Masalah ... 10

E. Tujuan Penelitian ... 10

F. Manfaat Penelitian ... 11

1. Manfaat Teoritis ... 11

2. Manfaat Praktis ... 11

G. Definisi Operasional Variabel ... 13

BAB II. LANDASAN TEORI ... 15

A. Hakikat Pendidikan Karakter ... 15

1. Definisi Pendidikan Karakter ... 15

(16)

xiii

6. Pendidikan Karakter Terintegrasi di SMP ... 25

7. Penyelenggaraan Pendidikan Karakter di SMP ... 28

8. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Pendidikan Karakter ... 35

B. Hakikat Siswa atau Peserta Didik ... 36

1. Definisi Siswa atau Peserta Didik ... 36

2. Transisi Peserta Didik Menuju Sekolah Menengah Pertama ... 36

3. Karakteristik Umum Perkembangan Peserta Didik SMP ... 39

4. Tugas-tugas Perkembangan Masa Remaja ... 39

5. Ciri-ciri Utama dan Umum Periode Pubertas ... 40

6. Ciri-ciri Remaja Awal ... 42

7. Perkembangan Moral Remaja ... 46

C. Hakikat Evaluasi Hasil Program Pendidikan ... 49

1. Definisi Evaluasi Program ... 49

2. Ciri-ciri dan Persyaratan Evaluasi Program... 49

3. Tujuan Evaluasi Program ... 51

4. Manfaat Evaluasi ... 51

5. Langkah-langkah Evaluasi Program ... 53

6. Evaluasi Hasil Program ... 53

D. Penyusunan Silabus Pendidikan Karakter ... 56

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN ... 57

A. Jenis Penelitian... 57

B. Subjek Penelitian... 57

C. Metode Pengumpulan Data dan Instrumen Penelitian ... 59

D. Validitas Dan Reliabilitas ... 62

(17)

xiv

2. Teknik Analisis Data ... 68

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 74

A. Hasil Penelitian ... 74

1. Hasil Pendidikan Karakter Terintegrasi pada Lima SMP di Jawa Tahun Ajaran 2014/2015 ... 74

2. Profil Capaian Hasil Pendidikan Karakter Terintegrasi pada Masing-masing SMP ... 76

3. Identifikasi Item-item Nilai Karakter yang Belum Optimal... 89

B. Pembahasan ... 110

C. Usulan Penyusunan Silabus Pendidikan Karakter ... 117

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 119

A. Kesimpulan ... 119

B. Saran ... 120

DAFTAR PUSTAKA

(18)

xv

Tabel 2. Tingkat dan Tahap Perkembangan Moral Menurut Kohlberg ... 48

Tabel 3. Rincian Populasi Penelitian Siswa kelas VII dan VIII Di SMP Stella Maris Tangerang Selatan, SMP Negeri 6 Surakarta, SMP Negeri 4 Wates, SMP Negeri 13 Yogyakarta, dan SMP Santa Maria II Malang Tahun Ajaran 2014/2015 ... 58

Tabel 4. Rekapitulasi Aspek dan Nomer-Nomer Item Kuesioner Hasil Pendidikan Karakter Terintegrasi ... 124

Tabel 5. Rincian Penggolongan Item Valid dan Tidak Valid dalam Uji Coba Penelitian ... 142

Tabel 6. Kriteria Guilford ... 66

Tabel 7. Koefisien Reliabilitas Instrumen ... 66

Tabel 8. Koefisien Reliabilitas Instrumen Setelah Seleksi Item ... 67

Tabel 9. Kategorial PAP Tipe I Nilai Huruf ... 70

Tabel 10. Kategori Tingkat Ketercapaian Hasil Pendidikan Karakter Terintegrasi Kelas VII dan VIII Pada Lima SMP di Jawa Tahun Ajaran 2014/2015 ... 71

Tabel 11. Kategori Skor Item Kuisioner Hasil Pendidikan Karakter Terintegrasi Siswa Kelas VII Pada Lima SMP di Jawa Tahun Ajaran 2014/2015 ... 72

Tabel 12. Kategori Skor Item Kuesioner Hasil Pendidikan Karakter Terintegrasi Siswa Kelas VIII Pada Lima SMP di Jawa Tahun Ajaran 2014/2015 ... 73

(19)

xvi

Tabel 15. Tingkat Ketercapaian Hasil Pendidikan Karakter Terintegrasi

Siswa Kelas VII dan VIII SMP Negeri 6 Surakarta Tahun

Ajaran 2014/2015 ... 80

Tabel 16. Tingkat Ketercapaian Hasil Pendidikan Karakter Terintegrasi

Siswa Kelas VII dan VIII SMP Negeri 4 Wates Tahun

Ajaran 2014/2015 ... 82

Tabel 17. Tingkat Ketercapaian Hasil Pendidikan Karakter Terintegrasi

Siswa Kelas VII dan VIII SMP Negeri 13 Yogyakarta Tahun

Ajaran 2014/2015 ... 85

Tabel 18. Tingkat Ketercapaian Hasil Pendidikan Karakter Terintegrasi

Siswa Kelas SMP Santa Maria II Malang Yogyakarta Tahun

Ajaran 2014/2015 ... 87

Tabel 19. Penggolongan Item Hasil Pendidikan Karakter Terintegrasi

Siswa Kelas VII Pada Lima SMP di Jawa Tahun Ajaran

2014/2015 ... 90

Tabel 20. Nomor-nomor Item Hasil Pendidikan Karakter Terintegrasi

Siswa Kelas VII Pada Lima SMP di Jawa Tahun Ajaran

2014/2015 yang Teridentifikasi Belum Optimal (Kategori

Cukup, Buruk, dan Sangat Buruk) ... 98

Tabel 21. Urutan Capaian Skor Item Hasil Pendidikan Karakter

Terintegrasi Siswa Kelas VII pada Lima SMP di Jawa Tahun

Ajaran 2014/2015 yang Berada pada Peringkat 10 terendah ... 99

Tabel 22. Penggolongan Item Hasil Pendidikan Karakter Terintegrasi

Siswa Kelas VIII Pada Lima SMP di Jawa Tahun Ajaran

(20)

xvii

Cukup, Buruk, dan Sangat Buruk) ... 108

Tabel 24. Urutan Capaian Skor Item Hasil Pendidikan Karakter

Terintegrasi Siswa Kelas VIII pada Lima SMP di Jawa

Tahun Ajaran 2014/2015 yang Berada pada Peringkat 10

terendah ... 109

Tabel 25. Silabus Pendidikan Karakter Kelas VII SMP ... 169

(21)

xviii

Kelas VII dan VIII Pada Lima SMP di Jawa Tahun Ajaran

2014/2015 ... 75

Gambar 2. Persentase Ketercapaian Hasil Pendidikan Karakter

Terintegrasi Siswa Kelas VII dan VIII Pada Lima SMP di

Jawa Tahun Ajaran 2014/2015 ... 76

Gambar 3. Ketercapaian Hasil Pendidikan Karakter Terintegrasi Siswa

Kelas VII dan VIII SMP Stella Maris Tangerang Selatan

Tahun Ajaran 2014/2015 ... 78

Gambar 4. Persentase Ketercapaian Hasil Pendidikan Karakter

Terintegrasi Siswa Kelas VII dan VIII SMP Stella Maris

Tangerang Selatan Tahun Ajaran 2014/2015 ... 79

Gambar 5. Ketercapaian Hasil Pendidikan Karakter Terintegrasi Siswa

Kelas VII dan VIII SMP Negeri 6 Surakarta Tahun Ajaran

2014/2015 ... 81

Gambar 6. Persentase Ketercapaian Hasil Pendidikan Karakter

Terintegrasi Siswa Kelas VII dan VIII SMP Negeri 6

Surakarta Tahun Ajaran 2014/2015... 81

Gambar 7. Ketercapaian Hasil Pendidikan Karakter Terintegrasi Siswa

Kelas VII dan VIII SMP Negeri 4 Wates Tahun Ajaran

2014/2015 ... 83

Gambar 8. Persentase Ketercapaian Hasil Pendidikan Karakter

Terintegrasi Siswa Kelas VII dan VIII SMP Negeri 4 Wates

Tahun Ajaran 2014/2015 ... 84

Gambar 9. Ketercapaian Hasil Pendidikan Karakter Terintegrasi Siswa

Kelas VII dan VIII SMP Negeri 13 Yogyakarta Tahun

(22)

xix

Gambar 11.Ketercapaian Hasil Pendidikan Karakter Terintegrasi Siswa

Kelas VII dan VIII SMP Santa Maria II Malang Tahun

Ajaran 2014/2015 ... 88

Gambar 12.Persentase Ketercapaian Hasil Pendidikan Karakter

Terintegrasi Siswa Kelas VII dan VIII SMP Santa Maria II

(23)

xx

Kuesioner Hasil Pendidikan Karakter Terintegrasi ... 124

Lampiran 2. Kuesioner Hasil Pendidikan Karakter Terintegrasi ... 127

Lampiran 3. Data Hasil Uji Validitas Butir Item Kuesioner

Hasil Pendidikan Karakter Terintegrasi ... 136

Lampiran 4. Rincian Penggolongan Item Valid dan Tidak Valid

dalam Uji Coba Penelitian ... 142

Lampiran 5. Data Hasil Uji Reliabilitas Kuesioner

Hasil Pendidikan Karakter Terintegrasi ... 145

Lampiran 6. Tabulasi Data Hasil Pendidikan Karakter Siswa Kelas VII

Pada Lima SMP di Jawa Tahun Ajaran 2014/2015... 146

Lampiran 7. Tabulasi Data Hasil Pendidikan Karakter Siswa Kelas VIII

Pada Lima SMP di Jawa Tahun Ajaran 2014/2015... 158

Lampiran 8. Silabus Pendidikan Karakter Kelas VII SMP ... 170

Lampiran 9. Silabus Pendidikan Karakter Kelas VIII SMP ... 182

Lampiran 10. Contoh Modul Pendidikan Karakter SMP ... 195

(24)

1 BAB I PENDAHULUAN

Pada bab ini dipaparkan latar belakang masalah, identifikasi masalah, batasan

masalah, rumusan masalah penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan

definisi operasional variabel penelitian.

A. Latar Belakang Masalah

Saat ini, Kementerian Pendidikan Nasional tengah menerapkan

kembali pendidikan yang berkaitan dengan pembangunan karakter bangsa.

Pembangunan karakter bangsa sesungguhnya telah secara eksplisit dipaparkan

dalam kebijakan pendidikan nasional. Pada Undang-Undang Nomor 20 Tahun

2003 pasal 3 dijabarkan bahwa pendidikan nasional berfungsi

mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban

bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

Pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi siswa

agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha

Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi

warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Hal tersebut dapat

menyatakan secara jelas bahwa pendidikan sebaiknya tidak hanya

menghasilkan generasi yang cerdas secara akademik, namun juga berakhlak

mulia. Oleh karenanya, pemantapan pendidikan karakter secara komprehensif

menjadi sangat penting dan mendasar untuk segera diimplementasikan di

(25)

Kementerian Pendidikan Nasional secara khusus mengembangkan

pendidikan karakter yang diharapkan dapat diimplementasikan di seluruh

sekolah di Indonesia, termasuk di jenjang SMP. Pada jenjang pendidikan

SMP, pengembangan pendidikan karakter ditangani oleh Direktorat

Pembinaan SMP. Dengan pengimplementasian pendidikan karakter di SMP

diharapkan siswa mampu meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya,

mengkaji dan menginternalisasi, serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter

dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No 23 tahun 2006 tentang

Standar Kompetensi Lulusan secara jelas merumuskan kompetensi lulusan

yang harus dicapai dalam penyelenggaraan pendidikan, termasuk pula

pendidikan pada jenjang SMP. Butir-butir kompetensi lulusan tersebut sangat

berkaitan dengan karakter. Beberapa di antaranya: (1) mengamalkan ajaran

agama yang dianut sesuai dengan tahap perkembangan remaja; (2)

menunjukkan sikap percaya diri; (3) mematuhi aturan-aturan sosial yang

berlaku dalam lingkungan yang lebih luas; (4) menghargai keberagaman

agama, budaya, suku, ras, dan golongan sosial ekonomi dalam lingkup

nasional (Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama Ditjen

Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan

Nasional, 2010:2).

Hasil penelitian di Harvard University Amerika Serikat

(26)

oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill), sedangkan sisanya 80%

oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Kemampuan

mengelola diri dan orang lain (soft skill) berdampak pada perilaku sopan,

disiplin, keteguhan hati, kemampuan kerja sama dan lainnya. Hal tersebut

menggambarkan bahwa soft skill sangat berkaitan dengan karakter seseorang

(Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama Ditjen Manajemen

Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan Nasional, 2010:5).

Melihat dan menyadari begitu pentingnya karakter dalam diri

seseorang, dewasa ini banyak pihak menuntut peningkatan intensitas dan

kualitas pelaksanaan pendidikan karakter pada lembaga pendidikan formal.

Tuntutan tersebut didasarkan pula pada fenomena sosial yang kini semakin

berkembang, yaitu meningkatnya kenakalan remaja dalam masyarakat,

seperti: tawuran antar pelajar, bullying, dan berbagai kasus yang

memperlihatkan semakin “runtuh” dan turunnya moral dalam diri remaja. Oleh karena itu, lembaga pendidikan formal diharapkan dapat meningkatkan

peranannya dalam pembentukan kepribadian siswa melalui peningkatan

intensitas dan kualitas pendidikan karakter secara memadai.

Tujuan pendidikan di SMP yang didalamnya termasuk pengembangan

karakter, sesungguhnya dapat dicapai melalui pengembangan dan

implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang mengacu

pada Standar Nasional Pendidikan (SNP). Standar Nasional Pendidikan

(27)

disampaikan kepada peserta didik, termasuk karakter. Karakter merupakan

salah satu materi yang harus diajarkan dan dikuasai serta direalisasikan oleh

peserta didik dalam kehidupan sehari-hari. Namun, yang kini menjadi masalah

ialah selama ini pengembangan dan implementasi KTSP masih cenderung

terpusat pada pengembangan kemampuan intelektual.

Menurut Mochtar Buchori (Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah

Pertama Ditjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian

Pendidikan Nasional, 2010:6), pendidikan karakter seharusnya membawa

peserta didik ke pengenalan nilai secara kognitif, penghayatan nilai secara

afektif, dan akhirnya ke pengamalan nilai secara nyata. Kementerian

Pendidikan Nasional (2010) mengungkapkan bahwa pendidikan karakter di

sekolah, khususnya di SMP selama ini baru menyentuh tingkatan pengenalan

norma atau nilai-nilai, belum pada tingkatan internalisasi dan tindakan nyata

dalam hidup sehari-hari.

Dalam upaya meningkatkan kesesuaian dan mutu pendidikan karakter,

Kementerian Pendidikan Nasional mengembangkan grand design pendidikan

karakter untuk setiap jalur, jenjang, dan jenis satuan pendidikan. Grand

design menjadi rujukan konseptual dan operasional pengembangan,

pelaksanaan, dan penilaian pada setiap jalur dan jenjang pendidikan.

Konfigurasi karakter dalam konteks totalitas proses psikologis dan

sosial-kultural tersebut dikelompokkan dalam: olah hati (spiritual and emotional

(28)

(physical and kinestetic development), olah rasa dan karsa (affective and

creativity development ) (Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama

Ditjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan

Nasional, 2010:6).

Grand design dalam meningkatkan mutu pendidikan karakter pada

jenjang SMP telah dilaksanakan. Implementasi pendidikan karakter

terintegrasi juga telah berjalan empat tahun lamanya. Terwujudnya berbagai

tujuan pendidikan nasional dan pendidikan karakter dalam diri siswa menjadi

harapan bagi semua pihak. Namun, banyak fakta dan data yang ditemukan

jauh dari bayangan terwujudnya berbagai tujuan tersebut. Berbagai fakta dan

data menunjukkan bahwa dunia remaja saat ini merupakan masa yang penuh

dengan permasalahan yang sangat kompleks. Kenakalan maupun kriminalitas

remaja kini semakin menjadi sorotan utama di berbagai kalangan.

Kenakalan, kriminalitas, maupun kemerosotan nilai dan moral yang

terjadi di kalangan remaja cukup beragam. Data BNN (Badan Narkotika

Nasional) menyatakan bahwa 50-60% pengguna narkoba di Indonesia adalah

kalangan remaja yakni kalangan pelajar dan mahasiswa. Total seluruh

pengguna narkoba berdasarkan penelitian yang dilakukan BNN dan UI

sebanyak 3,8-4,2 juta orang. Tak hanya kasus penyalahgunaan narkoba,

tawuran pelajar pun seolah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perilaku

kenakalan pelajar. Pada data KOMNAS Perlindungan Anak, jumlah tawuran

(29)

hingga bulan Juni. Pada data tersebut tercatat 139 kasus tawuran telah terjadi

di wilayah Jakarta, 12 kasus di antaranya telah menyebabkan kematian. Data

setahun sebelumnya, yakni tahun 2011, mengungkapkan bahwa telah terjadi

339 kasus tawuran yang menyebabkan 82 anak meninggal dunia

(www.syababindonesia.com).

Kasus kenakalan dan kemerosotan moral/nilai dalam diri remaja tak

hanya berhenti pada kasus penyalahgunaan narkoba dan tawuran pelajar

semata. Zoy Amirin, seorang pakar psikologi seksual dari Universitas

Indonesia (UI), mengutip sexual behavior survey 2011. Data survei tersebut

menunjukkan bahwa 64% anak muda di kota-kota besar Indonesia “belajar” seks melalui film porno atau DVD bajakan. Diperoleh data, bahwa 39%

responden ABG yang berusia 15-19 tahun sudah pernah berhubungan seksual

dan sisanya 61% berusia 20-25 tahun. Pada tahun 2007 tercatat 500 jenis

video porno asli produksi dalam negeri. Tiga tahun berselang, yakni pada

tahun 2010 jumlah tersebut melonjak menjadi 800 jenis. Fakta paling

memprihatinkan dari fenomena di atas adalah kenyataan bahwa sekitar 90%

dari video tersebut, pemerannya berasal dari kalangan pelajar dan mahasiswa.

Base line survey yang dilakukan oleh BKKBN LDFE UI (2000) berkenaan

dengan kasus aborsi, menyatakan bahwa di Indonesia terjadi 2,4 juta kasus

aborsi/tahun dan sekitar 20% (700-800 ribu) dilakukan oleh remaja. Sebuah

penelitian juga mengungkapkan fakta, bahwa terjadi peningkatan jumlah anak

(30)

terakhir. Data penelitian tersebut menyebutkan sekitar 150.000 anak di bawah

usia 18 tahun menjadi pekerja seks (www.syababindonesia.com/2012).

Apabila dilihat dari berbagai tujuan pendidikan nasional dan

pendidikan karakter yang telah berlangsung selama hampir empat tahun ini,

terlihat adanya ketidaksesuaian antara tujuan tersebut dengan hasil dan

berbagai fakta yang terjadi. Adanya ketidaksesuaian tersebut memunculkan

berbagai pertanyaan di masyarakat. Apa yang salah? Adakah indikasi bahwa

pendidikan karakter terintegrasi yang selama ini diterapkan tidak berhasil?

Jika terdapat kesalahan, pada bagian manakah ketidaksesuaian itu terjadi?

Pertanyaan-pertanyaan yang muncul tersebut diteguhkan karena hingga kini

belum ada data evaluasi hasil pendidikan karakter terintegrasi yang selama ini

berlangsung. Hal inilah yang sangat penting untuk segera digagas guna

menakar hasil pendidikan karakter terintegrasi.

Pendidikan karakter yang selama ini ada di SMP perlu segera dikaji,

dan dicari altenatif-alternatif solusinya, serta perlu dikembangkan secara lebih

operasional sehingga semakin mudah diimplementasikan di setiap sekolah.

Pengkajian pendidikan karakter sangatlah penting untuk melihat bagaimana

kontrol atau pengawasan terhadap proses program pendidikan karakter di

SMP. Selain itu, pengkajian pendidikan karakter juga penting dilakukan untuk

melihat seberapa jauh pemahaman dan pemenuhan/ketercapaian indikator

(31)

Berdasarkan berbagai hal di atas, keberadaan evaluasi komprehensif

terhadap hasil pendidikan karakter yang telah berlangsung dengan sistem

terintegrasi di SMP sangatlah penting dilakukan. Namun hingga kini, belum

terlihat adanya penelitian yang dilakukan untuk mengevaluasi hal itu semua.

Hal ini membuat pendidikan karakter hanya terus menerus berpusat pada

ranah kognitif siswa semata, tanpa diketahui secara jelas proses secara

menyeluruh, termasuk capaian hasil dari proses tersebut.

Berdasarkan berbagai situasi di atas, maka peneliti tertarik untuk

mengangkat judul “EVALUASI HASIL PENDIDIKAN KARAKTER TERINTEGRASI PADA LIMA SMP DI JAWA (Studi Evaluasi Hasil

Pendidikan Karakter Terintegrasi pada Lima SMP di Jawa Tahun

Ajaran 2014/2015 dan Implikasinya Terhadap Penyusunan Silabus

Pendidikan Karakter)” dalam penelitian ini.

B. Identifikasi Masalah

Berangkat dari latar belakang masalah di atas, terkait dengan evaluasi

hasil pendidikan karakter pada lima SMP di Jawa diidentifikasikan berbagai

masalah sebagai berikut:

1. Tujuan pendidikan nasional yang berkaitan dengan pembentukan

karakter belum teruji.

2. Pendidikan karakter di sekolah, khususnya di SMP selama ini baru

menyentuh ranah kognitif, belum sampai pada ranah afeksi maupun

(32)

3. Panduan pendidikan karakter di SMP tidak operasional, melainkan

hanya berhenti pada tataran Rancangan Proses Pembelajaran (RPP)

tanpa adanya konkretisasi yang jelas.

4. Ada indikasi bahwa pelaksanaan program pendidikan karakter di

sekolah, khususnya di SMP hanya sebatas pada Rancangan Proses

Pembelajaran (RPP), tidak dilaksanakan dan diintegrasikan secara

nyata.

5. Pelaksanaan program pendidikan karakter di SMP belum berjalan

sebagaimana mestinya.

6. Pengawasan dan kontrol dari berbagai pihak terkait terhadap proses

dan ketercapaian hasil pendidikan karakter di SMP masih kurang.

7. Pemahaman sekolah dan guru dalam pemenuhan indikator

keberhasilan program pendidikan karakter di SMP masih kurang.

8. Ada indikasi bahwa beberapa nilai-nilai pendidikan karakter bagi para

siswa di SMP belum tercapai.

9. Pelaksanaan program pendidikan karakter di SMP belum menunjukkan

hasil yang memuaskan.

10. Belum ada penelitian yang menunjukkan seberapa berhasil pendidikan

(33)

C. Batasan Masalah

Dalam penelitian ini, fokus kajian diarahkan pada menjawab

masalah-masalah yang termuat pada butir nomor 8, 9, dan 10 yang teridentifikasi di

atas khususnya masalah mengenai seberapa baik (optimal) hasil pendidikan

karakter terintegrasi pada lima SMP di Jawa.

D. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini, yaitu:

1. Seberapa baik (optimal) hasil pendidikan karakter terintegrasi pada

lima SMP di Jawa Tahun Ajaran 2014/2015 ?

2. Bagaimana profil capaian hasil pendidikan karakter terintegrasi pada

masing-masing SMP?

3. Nilai-nilai karakter apa yang terindikasi belum optimal hasilnya, yang

berdampak pada implikasi penyusunan silabus pendidikan karakter?

E. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini, yaitu:

1. Menganalisis dan mendeskripsikan hasil pendidikan karakter

terintegrasi pada lima SMP di Jawa Tahun Ajaran 2014/2015.

2. Mengidentifikasikan profil capaian hasil pendidikan karakter

terintegrasi pada masing-masing SMP.

3. Mengidentifikasikan nilai-nilai karakter apa saja yang belum optimal

hasilnya, yang berdampak pada implikasi penyusunan silabus

(34)

F. Manfaat Penelitian

Dengan adanya penelitian ini, peneliti berharap muncul beberapa

manfaat sebagai berikut:

1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan mampu memberikan sumbangan

pengetahuan tentang evaluasi hasil pendidikan karakter terintegrasi

yang ada saat ini, sehingga dapat digunakan sebagai bahan inspiratif

untuk menemukan cara-cara yang tepat dalam peningkatan pendidikan

karakter di sekolah. Selain itu, penelitian ini diharapkan mampu

menambah wawasan dan pengembangan penelitian dalam bidang

kajian yang sama, khususnya mengenai pendidikan karakter

terintegrasi di Indonesia.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi kepala sekolah dan para guru

Hasil penelitian ini menjadi tolok ukur yang dapat digunakan

oleh sekolah untuk mengetahui dan memahami gambaran nyata

seberapa baik (optimal) hasil pendidikan karakter terintegrasi

yang selama ini diterapkan kepada para siswa. Selain itu, hasil

penelitian ini juga dapat membantu kepala sekolah dan para

guru dalam menentukan langkah-langkah tepat guna

meningkatkan implikasi pendidikan karakter terintegrasi di

(35)

meningkatkan nilai-nilai karakter yang perlu dikembangkan

dalam diri siswa.

b. Bagi siswa kelas VII dan VIII

Para siswa kelas VII dan VIII dapat menggunakan hasil

penelitian ini untuk melihat seberapa baik (optimal) hasil

pendidikan karakter terintegrasi yang selama ini diberikan

kepada diri mereka. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat

memberikan masukan kepada para siswa mengenai manfaat,

pengetahuan, dan bimbingan bagi pengolahan diri siswa

khususnya berkaitan dengan karakter. Hal tersebut akan

semakin memotivasi siswa untuk dapat berkembang lebih

optimal dan menjadi pribadi yang lebih baik.

c. Bagi peneliti

Peneliti dapat mengetahui dan memahami evaluasi hasil

pendidikan karakter terintegrasi di SMP Stella Maris

Tangerang Selatan, SMP Negeri 6 Surakarta, SMP Negeri 4

Wates, SMP Negeri 13 Yogyakarta, dan SMP Santa Maria II

Malang Tahun Ajaran 2014/2015. Selain itu, peneliti dapat

mengusulkan penyusunan silabus pendidikan karakter yang

(36)

d. Bagi peneliti lain

Hasil penelitian ini menjadi tolok ukur yang dapat digunakan

sebagai dasar atau referensi bagi peneliti lain yang ingin

mengembangkan penelitian dengan topik evaluasi hasil

pendidikan karakter secara lebih mendalam.

G. Definisi Operasional Variabel

Adapun definisi operasional variabel dalam penelitian ini, yaitu:

1. Evaluasi adalah kegiatan mengumpulkan informasi yang bermanfaat

untuk menilai dan menentukan alternatif yang tepat dalam mengambil

keputusan guna mencapai tujuan yang telah ditentukan.

2. Pendidikan karakter terintegrasi adalah upaya penanaman,

penghayatan, dan pengamalan nilai-nilai luhur siswa yang diwujudkan

dalam interaksi dengan Tuhan, diri sendiri, sesama, dan lingkungannya

untuk menjadi manusia seutuhnya yang berkarakter dalam dimensi

hati, pikir, raga, serta rasa dan karsa dengan model penyajian terpadu

dalam pembelajaran, manajemen sekolah, dan kegiatan kesiswaan.

3. Evaluasi hasil pendidikan karakter terintegrasi adalah upaya menilai,

mengukur, dan menakar seberapa jauh capaian indikator keberhasilan

nilai-nilai karakter pada siswa yang dilakukan melalui proses

pembelajaran, manajemen sekolah, dan kegiatan kesiswaan

(37)

dicanangkan oleh Direktorat Kementerian Pendidikan Nasional Tahun

(38)

15 BAB II

LANDASAN TEORI

Pada bab ini dipaparkan hakikat pendidikan karakter, hakikat siswa, hakikat

evaluasi hasil program pendidikan, dan penyusunan silabus pendidikan karakter.

A. Hakikat Pendidikan Karakter

1. Definisi Pendidikan Karakter

Lickona (Samani, M. & Hariyanto, 2013:44) mendefinisikan

pendidikan karakter sebagai upaya yang sungguh-sungguh untuk

membantu seseorang memahami, peduli, dan bertindak dengan landasan

inti nilai-nilai etis. Secara sederhana, Lickona mendefinisikan pendidikan

karakter sebagai upaya yang dirancang secara sengaja untuk memperbaiki

karakter para siswa.

Menurut Elkin dan Sweet (Pupuh, F., Suryana, & Fatriany, F., 2013:

15), pendidikan karakter dimaknai sebagai, “Character education is the

deliberate effort to help people understand, care about, and act upon core

ethical values”. Pendidikan karakter adalah usaha yang sungguh-sungguh

untuk membantu seseorang memahami, peduli, dan bertindak berdasarkan

nilai-nilai etika inti.

Pendidikan karakter dimaknai sebagai pendidikan yang

mengembangkan nilai-nilai karakter peserta didik sehingga mereka

(39)

kehidupan sebagai anggota masyarakat dan warga negara yang religius,

nasionalis, produktif, dan kreatif (Zubaedi, 2012: 17-18).

Berdasarkan beberapa pendapat yang dikemukakan di atas, dapat

disimpulkan bahwa pendidikan karakter merupakan upaya terencana

untuk menjadikan seseorang (peserta didik) mengenal, peduli, dan

menginternalisasikan nilai-nilai karakter dalam diri, sehingga dapat

berperilaku sebagai manusia seutuhnya.

2. Tujuan Pendidikan Karakter

Menurut Kementerian Pendidikan Nasional (2010), pendidikan

karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan

hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian

pembentukan karakter atau akhlak mulia peserta didik secara utuh,

terpadu, dan seimbang, sesuai standar kompetensi lulusan. Melalui

pendidikan karakter diharapkan peserta didik SMP mampu secara

mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji

dan menginternalisasi, serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan

akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari

Pendidikan karakter pada tingkatan institusi mengarah pada

pembentukkan budaya sekolah, yaitu nilai-nilai yang melandasi perilaku,

tradisi, kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh

(40)

merupakan ciri khas, karakter atau watak, dan citra sekolah tersebut di

mata masyarakat luas.

3. Prinsip-prinsip Pendidikan Karakter

Kementerian Pendidikan Nasional (2010) menyatakan bahwa

pendidikan karakter harus didasarkan pada prinsip-prinsip sebagai

berikut:

a. Mempromosikan nilai-nilai dasar etika sebagai basis karakter;

b. Mengidentifikasi karakter secara komprehensif supaya mencakup

pemikiran, perasaan, dan perilaku;

c. Menggunakan pendekatan yang tajam, proaktif, dan efektif untuk

membangun karakter;

d. Menciptakan komunitas sekolah yang memiliki kepedulian;

e. Memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menunjukkan

perilaku yang baik;

f. Memiliki cakupan terhadap kurikulum yang bermakna dan menantang

yang menghargai semua peserta didik, membangun karakter mereka,

dan membantu mereka untuk sukses;

g. Mengusahakan tumbuhnya motivasi diri pada para peserta didik;

h. Memfungsikan seluruh staf sekolah sebagai komunitas moral yang

berbagi tanggung jawab untuk pendidikan karakter dan setia pada nilai

(41)

i. Adanya pembagian kepemimpinan moral dan dukungan luas dalam

membangun inisiatif pendidikan karakter;

j. Memfungsikan keluarga dan anggota masyarakat sebagai mitra dalam

usaha membangun karakter;

k. Mengevaluasi karakter sekolah, fungsi staf sekolah sebagai guru-guru

karakter, dan manifestasi karakter positif dalam kehidupan peserta

didik.

4. Aspek-aspek Nilai Pendidikan Karakter

Berdasarkan kajian nilai-nilai agama, norma-norma sosial,

peraturan/hukum, etika akademik, dan prinsip-prinsip HAM, telah

teridentifikasi 80 butir nilai karakter yang dikelompokkan menjadi lima,

yaitu nilai-nilai perilaku manusia dalam hubungannya dengan (1) Tuhan

Yang Maha Esa, (2) diri sendiri, (3) sesama manusia, dan (4) lingkungan,

serta (5) kebangsaan. Namun demikian, penanaman ke-80 nilai tersebut

merupakan hal yang sangat sulit. Oleh karena itu, pada tingkat SMP

dipilih 20 nilai karakter utama yang disarikan dari butir-butir SKL SMP

(Permen Diknas nomor 23 tahun 2006) dan SK/KD (Permen Diknas

nomor 22 tahun 2006). Berikut adalah daftar 20 aspek-aspek nilai utama

yang dimaksud dan deskripsi ringkasnya:

a. Nilai karakter dalam hubungannya dengan Tuhan (Religius)

Pikiran, perkataan, dan tindakan seseorang yang diupayakan selalu

(42)

b. Nilai karakter dalam hubungannya dengan diri sendiri

1) Jujur

Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai

orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan,

dan pekerjaan, baik terhadap diri dan pihak lain.

2) Bertanggung jawab

Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan

kewajibannya sebagaimana yang seharusnya dia lakukan,

terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan

budaya), negara dan Tuhan YME.

3) Bergaya hidup sehat

Segala upaya untuk menerapkan kebiasaan yang baik dalam

menciptakan hidup yang sehat dan menghindarkan kebiasaan

buruk yang dapat mengganggu kesehatan.

4) Disiplin

Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada

berbagai ketentuan dan peraturan.

5) Kerja keras

Perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam

mengatasi berbagai hambatan guna menyelesaikan tugas

(43)

6) Percaya diri

Sikap yakin akan kemampuan diri sendiri terhadap pemenuhan

tercapainya setiap keinginan dan harapannya.

7) Berjiwa wirausaha

Sikap dan perilaku yang mandiri dan pandai atau berbakat

mengenali produk baru, menentukan cara produksi baru,

menyusun operasi untuk pengadaan produk baru,

memasarkannya, serta mengatur permodalan operasinya.

8) Berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif

Berpikir dan melakukan sesuatu secara kenyataan atau logika

untuk menghasilkan cara atau hasil baru dan termutakhir dari

apa yang telah dimiliki.

9) Mandiri

Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang

lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.

10) Ingin tahu

Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui

lebih mendalam dan meluas dari apa yang dipelajarinya,

(44)

11) Cinta ilmu

Cara berpikir, bersikap dan berbuat yang menunjukkan

kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap

pengetahuan.

c. Nilai karakter dalam hubungannya dengan sesama

1) Sadar akan hak dan kewajiban diri dan orang lain

Sikap tahu dan mengerti serta melaksanakan apa yang

menjadi milik/hak diri sendiri dan orang lain serta

tugas/kewajiban diri sendiri serta orang lain.

2) Patuh pada aturan-aturan sosial

Sikap menurut dan taat terhadap aturan-aturan berkenaan

dengan masyarakat dan kepentingan umum.

3) Menghargai karya dan prestasi orang lain

Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk

menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan

mengakui dan menghormati keberhasilan orang lain.

4) Santun

Sifat yang halus dan baik dari sudut pandang tata bahasa

maupun tata perilakunya ke semua orang.

5) Demokratis

Cara berfikir, bersikap dan bertindak yang menilai sama hak dan

(45)

d. Nilai karakter dalam hubungannya dengan lingkungan

Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan

pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan

upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi dan

selalu ingin memberi bantuan bagi orang lain dan masyarakat

yang membutuhkan.

e. Nilai kebangsaan

Cara berpikir, bertindak, dan wawasan yang menempatkan

kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan

kelompoknya.

1) Nasionalis

Cara berfikir, bersikap dan berbuat yang menunjukkan

kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap

bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik

bangsanya.

2) Menghargai keberagaman

Sikap menghargai dan hormat terhadap berbagai macam hal

(46)

5. Indikator Keberhasilan Pendidikan Karakter

Keberhasilan program pendidikan karakter dapat diketahui

terutama melalui pencapaian butir-butir standar kompetensi lulusan

oleh peserta didik yang meliputi sebagai berikut:

a. Mengamalkan ajaran agama yang dianut sesuai dengan tahap

perkembangan remaja;

b. Memahami kekurangan dan kelebihan diri sendiri;

c. Menunjukkan sikap percaya diri;

d. Mematuhi aturan-aturan sosial yang berlaku dalam lingkungan yang

lebih luas;

e. Menghargai keberagaman agama, budaya, suku, ras, dan golongan

sosial ekonomi dalam lingkup nasional;

f. Mencari dan menerapkan informasi dari lingkungan sekitar dan

sumber-sumber lain secara logis, kritis, dan kreatif;

g. Menunjukkan kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, dan

inovatif;

h. Menunjukkan kemampuan belajar secara mandiri sesuai dengan

potensi yang dimilikinya;

i. Menunjukkan kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah

dalam kehidupan sehari-hari;

j. Mendeskripsikan gejala alam dan sosial;

(47)

l. Menerapkan nilai-nilai kebersamaan dalam kehidupan

bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara demi terwujudnya persatuan

dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia;

m.Menghargai karya seni dan budaya nasional;

n. Menghargai tugas pekerjaan dan memiliki kemampuan untuk

berkarya;

o. Menerapkan hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan

waktu luang dengan baik;

p. Berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan santun;

q. Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam

pergaulan di masyarakat; Menghargai adanya perbedaan

pendapat;

r. Menunjukkan kegemaran membaca dan menulis naskah

pendek sederhana;

s. Menunjukkan keterampilan menyimak, berbicara, membaca,

dan menulis dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris

sederhana;

t. Menguasai pengetahuan yang diperlukan untuk mengikuti

pendidikan menengah; dan

(48)

6. Pendidikan Karakter Terintegrasi di SMP

Berdasarkan pedoman Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah

Pertama Ditjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah

Kementerian Pendidikan Nasional (2010), pendidikan karakter

terintegrasi di SMP dilaksanakan melalui proses pembelajaran,

manajemen sekolah, dan kegiatan pembinaan kesiswaan.

a. Pendidikan karakter terintegrasi dalam pembelajaran

Pendidikan karakter terintegrasi dalam pembelajaran adalah

pengenalan nilai-nilai, fasilitasi diperolehnya kesadaran akan

pentingnya nilai-nilai, dan penginternalisasian nilai-nilai ke dalam

tingkah laku peserta didik sehari-hari melalui proses pembelajaran,

baik yang berlangsung di dalam maupun di luar kelas pada semua

mata pelajaran. Pada dasarnya kegiatan pembelajaran, selain untuk

menjadikan peserta didik menguasai kompetensi (materi) yang

ditargetkan, juga dirancang untuk menjadikan peserta didik mengenal,

menyadari/peduli, dan menginternalisasi nilai-nilai, serta

menjadikannya sebagai perilaku.

Pada struktur kurikulum SMP, dasar setiap mata pelajaran memuat

materi-materi yang berkaitan dengan karakter. Secara subtantif,

setidaknya terdapat dua mata pelajaran yang terkait langsung dengan

pengembangan budi pekerti dan akhlak mulia, yaitu pendidikan

(49)

pelajaran tersebut merupakan mata pelajaran yang secara langsung

(eksplisit) mengenalkan nilai-nilai, dan sampai taraf tertentu

menjadikan peserta didik peduli dan menginternalisasi nilai-nilai.

Integrasi pendidikan karakter pada mata-mata pelajaran di SMP

mengarah pada internalisasi nilai-nilai di dalam tingkah laku

sehari-hari melalui proses pembelajaran dari tahapan perencanaan,

pelaksanaan, dan penilaian.

b. Pendidikan karakter terintegrasi melalui manajemen sekolah

Pada konteks dunia pendidikan, yang dimaksud dengan

manajemen pendidikan sekolah adalah suatu proses perencanaan,

pelaksanaan, dan evaluasi pendidikan dalam upaya untuk

menghasilkan lulusan yang sesuai dengan visi, misi, dan tujuan

pendidikan itu sendiri. Penyelenggaraan pendidikan karakter

memerlukan pengelolaan yang memadai. Pengelolaan yang

dimaksudkan adalah bagaimana pembentukan karakter dalam

pendidikan direncanakan, dilaksanakan, dan dikendalikan secara

memadai. Unsur-unsur pendidikan karakter yang akan direncanakan,

dilaksanakan, dan dikendalikan tersebut antara lain meliputi: (1)

nilai-nilai karakter kompetensi lulusan, (2) muatan kurikulum nilai-nilai-nilai-nilai

karakter, (3) nilai-nilai karakter dalam pembelajaran, (4) nilai-nilai

karakter pendidik dan tenaga kependidikan, dan (5) nilai-nilai karakter

(50)

Beberapa contoh bentuk kegiatan pendidikan karakter yang

terpadu dengan manajemen sekolah antara lain: (1) pelanggaran tata

tertib yang berimplikasi pada pengurangan nilai dan

hukuman/pembinaan, (2) penyediaan tempat-tempat pembuangan

sampah, (3) penyelenggaraan kantin kejujuran, (4) penyediaan kotak

saran, (5) penyediaan sarana ibadah dan pelaksanaan ibadah, misalnya:

shalat dhuhur berjamaah, (6) salim-taklim (jabat tangan) setiap pagi

saat siswa memasuki gerbang sekolah, (7) pengelolaan dan kebersihan

ruang kelas oleh siswa, dan bentuk-bentuk kegiatan lainnya.

c. Pendidikan karakter terintegrasi melalui kegiatan pembinaan

kesiswaan

Kegiatan pembinaan kesiswaan adalah kegiatan pendidikan di luar

mata pelajaran dan pelayanan konseling untuk membantu

pengembangan peserta didik sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat,

dan minat mereka melalui kegiatan yang secara khusus

diselenggarakan oleh pendidik dan atau tenaga kependidikan yang

berkemampuan dan berwenang di sekolah.

Visi kegiatan pembinaan kesiswaan adalah berkembangnya

potensi, bakat dan minat secara optimal, serta tumbuhnya kemandirian

dan kebahagiaan peserta didik yang berguna untuk diri sendiri,

keluarga dan masyarakat. Misi kegiatan pembinaan kesiswaan adalah

(51)

didik sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, dan minat mereka; (2)

menyelenggarakan kegiatan yang memberikan kesempatan peserta

didik mengeskpresikan diri secara bebas melalui kegiatan mandiri dan

atau kelompok.

7. Penyelenggaraan Pendidikan Karakter di SMP

Berdasarkan pedoman pendidikan karakter Kementerian Pendidikan

Nasional (2010), penyelenggaraan pendidikan karakter terintegrasi di

SMP dilakukan secara terpadu melalui 3 (tiga) jalur, yaitu: pembelajaran,

manajemen sekolah, dan kegiatan pembinaan kesiswaan. Langkah

pendidikan karakter meliputi: perancangan, implementasi, evaluasi, dan

tindak lanjut.

a. Perancangan

Beberapa hal yang perlu dilakukan dalam tahap penyusunan

rancangan antara lain:

1) Mengidentifikasi jenis-jenis kegiatan di sekolah yang dapat

merealisasikan pendidikan karakter, yaitu nilai-nilai/perilaku yang

perlu dikuasa dan direalisasikan peserta didik dalam kehidupan

sehari-hari. Dalam hal ini, program pendidikan karakter peserta

didik direalisasikan dalam tiga kelompok kegiatan, yaitu (a)

terpadu dengan pembelajaran pada mata pelajaran; (b) terpadu

dengan manajemen sekolah; dan (c) terpadu melalui kegiatan

(52)

2) Mengembangkan materi pendidikan karakter untuk setiap jenis

kegiatan di sekolah

3) Mengembangkan rancangan pelaksanaan setiap kegiatan di

sekolah (tujuan, materi, fasilitas, jadwal, pengajar/fasilitator,

pendekatan pelaksanaan, evaluasi)

4) Menyiapkan fasilitas pendukung pelaksanaan program pendidikan

karakter di sekolah

Perencanaan kegiatan program pendidikan karakter di sekolah

mengacu pada jenis-jenis kegiatan, yang setidaknya memuat

unsur-unsur: tujuan, sasaran kegiatan, substansi kegiatan, pelaksana kegiatan

dan pihak-pihak yang terkait, mekanisme pelaksanaan, keorganisasian,

waktu dan tempat, serta fasilitas pendukung.

b. Implementasi

1) Pembentukan karakter yang terpadu dengan pembelajaran pada

semua mata pelajaran

Berbagai hal yang terkait dengan karakter (nilai-nilai, norma,

iman dan ketaqwaan) diimplementasikan dalam pembelajaran

mata pelajaran-mata pelajaran yang terkait, seperti Agama, PKn,

IPS, IPA, Penjas Orkes, dan lain-lainnya. Hal ini dimulai dengan

pengenalan nilai secara kognitif, penghayatan nilai secara afektif,

akhirnya ke pengamalan nilai secara nyata oleh peserta didik

(53)

Kementerian Pendidikan Nasional (2010) telah memilih dan

mengelompokkan sejumlah nilai utama sebagai pangkal tolak bagi

penanaman nilai-nilai yang kemudian diintegrasikan pada mata

pelajaran yang paling cocok. Hal tersebut berarti tidak setiap mata

pelajaran diberi integrasi semua butir nilai, melainkan beberapa

nilai utama saja. Oleh karena itu, setiap mata pelajaran

memfokuskan pada penanaman nilai-nilai utama tertentu yang

paling dekat dengan karakteristik mata pelajaran yang

bersangkutan. Berikut contoh distribusi nilai-nilai utama ke dalam

(54)

Tabel 1.

Contoh Distribusi Nilai-Nilai Utama ke dalam Mata Pelajaran

Mata Pelajaran Nilai Utama

1. Pendidikan Agama

Religius, jujur, santun, disiplin, bertanggung jawab, cinta ilmu, ingin tahu, percaya diri, menghargai keberagaman, patuh pada aturan sosial, bergaya hidup sehat, sadar akan hak dan kewajiban, kerja keras, peduli 2. Pendidikan

Kewarga-negaraan

Nasionalis, patuh pada aturan sosial, demokratis, jujur, menghargai

keberagaman, sadar akan hak dan kewajiban diri dan orang lain

3. Bahasa Indonesia

Berfikir logis, kritis, kreatif dan inovatif, percaya diri, bertanggung jawab, ingin tahu, santun, nasionalis

4. Matematika Berpikir logis, kritis, jujur, kerja keras, ingin tahu, mandiri, percaya diri

5. IPS Nasionalis, menghargai keberagaman,

berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif, peduli sosial dan lingkungan, berjiwa wirausaha, jujur, kerja keras

6. IPA Ingin tahu, berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif, jujur, bergaya hidup sehat, percaya diri, menghargai keberagaman, disiplin, mandiri, bertanggung jawab, peduli lingkungan, cinta ilmu

7. Bahasa Inggris

Menghargai keberagaman, santun, percaya diri, mandiri, bekerjasama, patuh pada aturan sosial

8. Seni Budaya Menghargai keberagaman, nasionalis, dan menghargai karya orang lain, ingin tahu, jujur, disiplin, demokratis

9. Penjasorkes Bergaya hidup sehat, kerja keras, disiplin, jujur, percaya diri, mandiri, menghargai karya dan prestasi orang lain

10.TIK/

Keterampilan

Berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif, mandiri, bertanggung jawab, dan

menghargai karya orang lain

(55)

2) Pembentukan karakter yang terpadu dengan manajemen sekolah

Berbagai hal yang terkait dengan karakter (nilai-nilai, norma,

iman dan lain-lain) diimplementasikan dalam aktivitas manajemen

sekolah, seperti pengelolaan: siswa, regulasi/peraturan sekolah,

sumber daya manusia, sarana dan prasarana, keuangan,

perpustakaan, pembelajaran, penilaian, dan informasi, serta

pengelolaan lainnya.

3) Pembentukan karakter yang terpadu dengan kegiatan pembinaan

kesiswaan

Beberapa kegiatan pembinaan kesiswaan yang memuat

pembentukan karakter antara lain:

a) Olah raga (sepak bola, bola voli, bulu tangkis, tenis meja, dan

lain-lain),

b) Keagamaan (baca alkitab, ibadah, dan lain-lain),

c) Seni budaya (menari, menyanyi, melukis, teater),

d)KIR,

e) Kepramukaan,

f) Latihan Dasar Kepemimpinan Peserta didik (LDKS),

g)Palang Merah Remaja (PMR),

h) Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (PASKIBRAKA),

i) Pameran, lokakarya,

(56)

c. Monitoring dan Evaluasi

Monitoring merupakan serangkaian kegiatan untuk memantau

proses pelaksanaan program pembinaan pendidikan karakter. Fokus

kegiatan monitoring adalah pada kesesuaian proses pelaksanaan

program pendidikan karakter berdasarkan tahapan atau prosedur yang

telah ditetapkan. Evaluasi cenderung untuk mengetahui sejauh mana

efektivitas program pendidikan karakter berdasarkan pencapaian

tujuan yang telah ditentukan. Hasil monitoring digunakan sebagai

umpan balik untuk menyempurnakan proses pelaksanaan program

pendidikan karakter.

Monitoring dan evaluasi secara umum bertujuan untuk

mengembangkan dan meningkatkan kualitas program pembinaan

pendidikan karakter sesuai dengan perencanaan yang telah ditetapkan.

Secara rinci tujuan monitoring dan evaluasi pembentukan karakter

adalah sebagai berikut:

1) Melakukan pengamatan dan pembimbingan secara langsung

keterlaksanaan program pendidikan karakter di sekolah.

2) Memperoleh gambaran mutu pendidikan karakter di sekolah

secara umum.

3) Melihat kendala-kendala yang terjadi dalam pelaksanaan program

(57)

solusi yang komprehensif agar program pendidikan karakter dapat

tercapai.

4) Mengumpulkan dan menganalisis data yang ditemukan di

lapangan untuk menyusun rekomendasi terkait perbaikan

pelaksanaan program pendidikan karakter ke depan.

5) Memberikan masukan kepada pihak yang memerlukan untuk

bahan pembinaan dan peningkatan kualitas program pembentukan

karakter.

6) Mengetahui tingkat keberhasilan implementasi program

pembinaan pendidikan karakter di sekolah.

d. Tindak lanjut

Hasil monitoring dan evaluasi dari implementasi program

pembinaan pendidikan karakter digunakan sebagai acuan untuk

menyempurnakan program, mencakup penyempurnaan rancangan,

mekanisme pelaksanaan, dukungan fasilitas, sumber daya manusia,

dan manajemen sekolah yang terkait dengan implementasi program

(58)

8. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Pendidikan

Karakter

Menurut Zubaedi (2012) terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi

keberhasilan pendidikan karakter, yaitu:

a. Insting (naluri)

Aneka corak refleksi sikap, tindakan, dan perbuatan manusia

dimotivasi oleh potensi kehendak yang dimotori oleh naluri seseorang.

b. Adat atau kebiasaan

Adat atau kebiasaan adalah tindakan yang dilakukan secara

berulang-ulang dalam bentuk yang sama sehingga menjadi kebiasaan, seperti

berpakaian, makan, tidur, berolahraga, dan lain sebagainya.

c. Keturunan

Secara langsung atau tidak langsung keturunan sangat mempengaruhi

pembentukan karakter seseorang.

d. Lingkungan

Salah satu aspek yang turut memberikan pengaruh dalam terbentuknya

corak sikap dan tingkah laku seseorang adalah faktor lingkungan di

Gambar

Tabel 1. Contoh Distribusi Nilai-Nilai Utama ke dalam Mata Pelajaran
Tabel 2. Tingkat dan Tahap Perkembangan Moral Menurut Kohlberg
Tabel 3. Rincian Populasi Penelitian Siswa Kelas VII dan VIII
Tabel 6. Kriteria Guilford
+7

Referensi

Dokumen terkait

Sehingga Ha ditolak dan Ho diterima yang berarti hasil belajar siswa yang mendapatkan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan CTL terintegrasi pendidikan karakter tidak

Pelaksanaan pendidikan karakter di SMP saat ini belum menunjukan hasil yang memuaskan. Sebagian besar guru masih memusatkan perhatian pada tataran kognitif,

Buku teks ditujukan untuk memenuhi kebutuhan siswa SMP Taman Dewasa Ibu Pawiyatan Yogyakarta kelas VII tentang penanaman nilai karakter yang

Tujuan utama penelitian adalah meningkatkan karakter ksatria siswa kelas VIII A SMP Pangudi Luhur Bayat Tahun Ajaran 2015/2016 melalui pendidikan karakter berbasis

ABSTRAK PENGEMBANGAN PROTOTIPE SOAL TES ASESMEN HASIL PENDIDIKAN KARAKTER BERSAHABAT DAN KARAKTER CINTA DAMAI BERBASIS FILM KARAKTER DI SMP Uji Coba Terbatas pada Siswa Kelas VII A

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI PENGARUH SUASANA LINGKUNGAN SOSIAL KELAS TERHADAP CAPAIAN HASIL PENDIDIKAN KARAKTER SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 9 NGABANG TAHUN AJARAN

Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui dan mengevaluasi Implementasi program penguatan pendidikan karakter yang terintegrasi dalam mata pelajaran matematika

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan bahan ajar fisika SMP terintegrasi karakter yang layak digunakan dalam pembelajaran IPA, mengetahui perkembangan hasil belajar