Teknologi 3: MCK
Pada dasarnya MCK bukan merupakan teknologi, melainkan suatu fasilitas: yaitu fasilitas umum untuk Mandi, Cuci Kakus di lingkungan dan harus disertai dengan teknologi on-site sebagaimana di bahas pada Bab 6.3: biasanya berupa cubluk kembar atau tangki septik. Baru-baru ini telah menjadi tren di Indonesia untuk menerapkan anaerobic baffle reactor (ABR) sebagaimana dipromosikan oleh proyek-proyek BORDA, lihat teknologi 3.1. Bogor telah membangun enam proyek SANIMAS dengan menggunakan teknologi ABR pada tahun 2010.
Teknologi 3.1: Sistem pengolahan komunal: anaerobic baffle reactor
Sistem pengolahan komunal ini menerima air limbah dari sekitar 60 rumah tangga, melalui pipa PVC berdiameter kecil. Sistem yang dikembangkan melalui SANIMAS, Sanitasi berbasis Masyarakat, adalah suatu sistem yang saat ini telah dipromosikan oleh Pemerintah Pusat di Jawa Barat. sistem perawatan yang paling diminati adalah Anaerobic Baffle Reactor, lihat Gambar 6.25. ABR memiliki serangkaian upflow dan baffles yang mengalir kebawah, dimana baffle digunakan untuk mengarahkan aliran air limbah dalam mode upflow melalui serangkaian ‘reaktor selimut lumpur’. Konfigurasi ini memberikan kontak yang lebih intim antara biomassa anaerobik dan air limbah, yang meningkatkan kinerja pengolahan. Hal ini dapat digunakan sebagai perawatan primer juga, terutama bila limbah toilet yang diencerkan dengan pembilasan air. Pemisahan waktu retensi dari zat padat, dari waktu retensi hidrolik adalah kunci keberhasilan operasi dari sebuah ABR. Karena fakta ini, sebuah reaktor bingung dianggap sebagai alternatif terbaik untuk pengolahan aerobik dan / atau penurunan primer. Efisiensi Pengobatan dicapai adalah 70 - 95% BOD removal, yang membuat kualitas efluen moderat (dibandingkan dengan perlakuan aerobik), tetapi biasanya lebih tinggi dari tangki septik konvensional. The sistem Sanimas yang biasanya dilengkapi dengan tangki Biogas dan ada beberapa contoh yang baik di Indonesia, meskipun masih jarang dijumpai, di mana biogas berhasil dihasilkan (misalnya desa Ubung, Denpasar, Bali). Untuk menghasilkan biomassa yang cukup, penting untuk memastikan ABR mendapatkan black water yang cukup. Sehingga sistem ini seharusnya tidak hanya digunakan u ntuk mandi dan cuci, karena biomasa yang dihasilkan akan sangat terbatas dan pengolahan air limbah tidak maksimal. Lihat Gambar 6.26 di mana ABR dibangun di 'gang' antara rumah-rumah di Surabaya.
Gambar 6-1: Anaerobic Baffle Reactor
Gambar 6-2: Pembangunan ABR di gang di Surabaya
Gambar 6-3: Pembangunan fasilitas SANIMAS di Cipakancilan (Kelurahan Pananragan)
Teknologi 5: Shallow sewerage (SS) – perpipaan air limbah dangkal
perpipaan dangkal di gang disambungkan ke fasilitas pengolahan ABR SANIMAS di Kel. Pasirmulyo.
Gambar 6-4: perpipaan air limbah dangkal di Kel Pasirmulyo
Teknologi 6: Small bore sewerage (SBS) – Sistem riol skala kecil
Sistem riol skala kecil juga dikenal dengan Septic Tank Effluent Disposal Scheme (STEDS) atau Sewered Inceptor Tank Systems (SITS), yaitu sustem hibrid yang terdiri dari tangki interseptor yang terhubung dengan saluran perpiaan berdiameter kecil untuk mengalirkan air limbah domestik. Lihat Gambar 6.29.
Gambar 6-5:Small bore sewerage
Pembuangan limbah padat ke dalam tangki interceptor berarti bahwa selokan hanya membawa limbah cairan dan maka dari itu dapat dibuat dari diameter yang lebih kecil dan diletakkan pada gradien yang lebih datar, dari pembuangan limbah konvensional. Kecil-menanggung pembuangan limbah adalah pilihan yang baik di bagian kota Bogor yang berkontur cenderung datar di, terutama di mana tabel air berada dekat permukaan di daerah dimana terdapat cakupan sistem on-site yang cukup tinggi. Hal ini dapat
menyediakan cara yang efektif untuk meng-upgrade cubluk atau tangki septik ke tingkat pelayanan yang sebanding dengan saluran air limbah konvensional. Hal ini dapat digunakan di mana limbah dari toilet dan menuangkan air abu-abu tidak bisa dibuang di tempat karena tanah dan / atau kondisi air tanah, tetapi ada air tidak cukup untuk memungkinkan operasi pembuangan limbah konvensional. Solids menetap di bagian bawah tangki dan degradasi anaerobik air limbah sebagian terjadi, sehingga mendobrak padatan kotor. Cairan supernatan dibuang ke dalam selokan dangkal, bersama-sama dengan padatan dicerna halus dibagi. Jelas kekurangan utama dari SBS adalah kenyataan bahwa tank pencegat perlu penghapusan secara berkala dan pembuangan lumpur. Untuk periode sebelum sistem saluran pembuangan kota-lebar konvensional tersedia, sistem SBS dapat bertindak sebagai independen 'modul'. Para efluen dari tangki pencegat diangkut melalui kecil menanggung pembuangan kotoran dan dapat dibuang ke saluran
pembuangan konvensional. sistem SBS dapat memiliki masalah operasional dan pemeliharaan yang sama yang berkaitan dengan pemeliharaan tangki septik dan kebutuhan pemeliharaan normal untuk selokan. Situasi ini diperparah dimana kepemilikan dan peran dan tanggung jawab untuk operasi dan pemeliharaan tidak didefinisikan dengan baik atau diterima.
Kondisi spesifik Kota Bogor per Kecamatan telah dipelajari untuk berbagai periode dan teknologi yang sesuai telah diidentifikasi. Hasil analisa disajikan pada Tabel 6.15.
Tabel 6.1: Rekomendasi sistem intermediate baru
Sistem
2010-2015 2015-2020 2020-2030
Jumlah rumah tangga
% Jumlah rumah tangga
% Jumlah rumah tangga
%
3 MCK+; 1 080 10% 1 350 9% 2 700 15%
3.1. Communal Treatment systems
(CT); CT 2 520 24% 3 150 20% 6 300 34%
5 Shallow Sewerage (SS); SS 6 000 58% 10 000 64% 8 000 43%
6 Small Bore Sewerage (SBS). SBS 800 8% 1 200 8% 1 350 7%
Total 10 400 100% 15 700 100% 18 400 100%
Sebagiam SS dan SBS direncanakan untuk dibangun pada kompleks perumahan eksisting, dimana sebagian besar sistem air limbah tidak berfungsi dan memicu terjadinya pencemaran tanah dan air
Angka-angka yang disajikan pada Tabel 6.15 sedikit berbeda dengan angka yang disajikan pada Bab 5, Tabel 5.2 dan 5.3 karena penggunaan bottom up, dimana pada Bab 5 digunakan pendekatan top-down.
Sistem intermediate sesuai definisinya, dapat ditingkatkan secara bertahap:
MCK dapat menjadi sistem pengolahan komunal, apabila lokasinya cukup rendah untuk menerima air limbah dari rumah-rumah di sekitarnya;
Sistem SS dan SBS dapat dihubungkan dengan sistem perpipaan air limbah off-site konvensional.
Pentahapan berbagai sistem terdapat pada Tabel 6.15. Biaya yang dibutuhkan diinkasikan pada Tabel 6.16. Kami telah menggunakan pengalaman sustem lingkungan di Makassar sebagai panduan biaya, dan bukan rule of thumb proyek Sanimas, sebesar Rp 350 juta untuk 60 rumah tangga.
Tabel 6.2: Biaya sistem intermediate (Rp juta)
Biaya investasi sistem intermediate 2010-2015 2015-2020 2020-2030 Total
- Fasilitas intermediate baru Rp 7 Juta/ rumah tangga Rp 66 000 Rp 105 600 Rp 118 800 Rp 290 400 - rehabilitasi fasilitas intermediate Rp 5 Juta/ rumah
tangga Rp 5 000 Rp - Rp - Rp 5 000
Total Rp
71 000 Rp 105 600 Rp 118 800 Rp 295 400
Total (US $ juta.) Rp
9 000 $ 8 $ 12 $ 13 $ 33 O&M 2% Rp 5 908
Biaya operasi dan pemeliharaan berbeda untuk setiap sistem: selain pengosongan lumpur tinja setiap 2 tahun, saluran perpipaan dan fasilitas pengolahan memerlukan pemeriksaan operasional dan
pemeliharaan secara rutin. Sehingga, kebutuhan kebutuhan biaya O&M adalah sama dengan biaya O&M sistem perpiaan konvensional, yaitu sekitas 2% /tahun dari biaya konvensional: total Rp 6.000 juta/tahun.
Terdaoat banyaj resiko terkain penerapan sistem intermediate. Resiko yang paling nyata di Bogor adalah keahlian kontraktor, lihat Gambar 6.30 dan peletakan lokasi SANIMAS di wilayah berkepadatan rendah dengan alasan sulit mendapatkan lahan untuk fasilitas pengolahan di wilayah berkepadatan tinggi, lihat Gamber 6.31. Meskipun pada kenyataannya area berkepadatan tinggi adalah yang paling membutuhkan sistem ini dan mendapatkan keuntungan dari penerapan sistem intermediate.