• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II. TINJAUAN PUSTAKA"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kacang Kedelai

Kacang kedelai terkenal dengan nilai gizinya yang kaya dan merupakan salah satu makanan yang mengandung 8 asam amino yang penting dan dibutuhkan oleh tubuh manusia. Tidak seperti makanan lain yang mengandungi lemak jenuh dan tidak dapat dicerna yang terdapat pada sebagian besar makanan hewan, kacang kedelai tidak mengandung kolesterol, mempunyai rasio kalori rendah dibandingkan protein dan bertindak sebagai makanan yang tidak menggemukkan bagi penderita obesitas. Kacang kedelai juga mengandung kalsium, besi, potassium dan phosphorus. Kacang kedelai juga kaya akan vitamin B kompleks. Kacang kedelai merupakan salah satu yang mengandung protein tinggi, makanan yang berkalsium tinggi, kacang kedelai juga unik karena bebas dari racun kimia. Sedangkan tisu lemak hewan diketahui mengandung 20 kali lipat baja berat, racun serangga dan racun tanaman dibandingkan yang terdapat pada tanaman kacang-kacangan (Adisarwanto, 2008).

Menurut Sudaryanto dkk (2001) bahwa kedelai memiliki potensi pasar yang luas di dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan pangan dan pakan. Namun, potensi pasar yang besar dan terus berkembang tersebut belum dapat dimanfaatkan secara optimal melalui pengembangan produksi dalam negeri. Pengembangan kedelai menghadapi persoalan teknis, sosial, dan ekonomi. Jika kondisi sosial ekonomi kondusif maka secara teknis pengembangan kedelai memiliki potensi dan peluang yang memadai.

Senada dengan Saleh, dkk, (1999) menyatakan bahwa produktivitas kedelai dipengaruhi

oleh jenis tanah, kualitas benih, varietas, pengelolaan tanaman, takaran pupuk,

(2)

pengendalian hama dan penyakit, waktu tanam dan panen, teknologi yang digunakan, dan interaksi semua faktor tersebut. Kendala nonteknis dalam usaha tani kedelai adalah ketersediaan modal. Produktivitas kedelai antara lain ditentukan oleh penggunaan sarana produksi yang tepat, sehingga untuk memacu peningkatan produksi kedelai, perlu penyediaan fasilitas kredit yang memadai. Hal ini karena dengan modal yang terbatas, petani akan mengurangi penggunaan sarana produksi untuk menekan biaya.

2.2 Faktor-Faktor Sosial Ekonomi

Slamet (2003) menyatakan bahwa perilaku petani dipengaruhi oleh pengetahuan, kecakapan, dan sikap mental petani itu sendiri. Digiatkannya penyuluhan pertanian diharapkan akan terjadi perubahan-perubahan terutama pada perilaku serta bentuk- bentuk kegiatannya seiring dengan terjadinya perubahan cara berpikir, cara kerja, cara hidup, pengetahuan dan sikap mental yang lebih terarah dan lebih menguntungkan, baik bagi dirinya beserta keluarganya maupun lingkungannya.

Senada dengan Kartasapoetra (1994) bahwa petani yang berusia lanjut sekitar 50 tahun ke atas, biasanya fanatik terhadap tradisi dan sulit untuk diberikan pengertian yang dapat mengubah cara berpikir, cara kerja dan cara hidupnya. Mereka ini bersikap apatis terhadap adanya teknologi baru.

Menurut Mosher (1997), latar belakang sosial ekonomi dan budaya maupun politik

sangat mempengaruhi cepat atau lambatnya suatu inovasi seperti: umur, tingkat

pendidikan, keberanian mengambil resiko, pola hubungan masyarakat dengan dunia luar

(tingkat kosmopolitan) dan sikap terhadap perubahan.

(3)

Seperti halnya Soekartawi (2003) bahwa cepat tidaknya mengadopsi inovasi tergantung dari faktor intern dan ekstern sendiri, yaitu faktor sosial dan ekonomi. Faktor-faktor sosial itu diantaranya umur, tingkat pendidikan, jumlah tanggungan keluarga dan pengalaman bertani. Sedangkan faktor ekonomi diantaranya, luas lahan yang dimiliki dan pendapatan.

Seperti juga menurut Ginting (2002) bahwa inovasi adalah gagasan, tindakan atau barang yang dianggap baru oleh seseorang. Adopsi teknologi baru proses yang terjadi dari petani untuk menerapkan teknologi tersebut pada usaha taninya. Hal ini biasanya dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain:

1. Umur petani

Makin muda umur petani biasanya mempunyai semangat untuk ingin tahu apa yang belum mereka ketahui, sehingga dengan demikian mereka berusaha untuk lebih cepat melakukan anjuran dari kegiatan penyuluhan.

2. Pengalaman bertani.

Petani yang sudah lebih lama bertani akan lebih muda menerapkan anjuran penyuluh daripada petani pemula, hal ini dikarenakan pengalaman yang lebih banyak sehingga sudah dapat membuat perbandingan dalam mengambil keputusan.

3. Tingkat pendidikan petani

Pendidikan merupakan sarana belajar, dimana selanjutnya akan menanamkan sikap yang menguntungkan menuju penggunaan praktek pertanian yang lebih modern.

Mereka yang berpendidikan tinggi relatif lebih cepat dalam melakukan anjuran

penyuluh. Tingkat pendidikan yang rendah umumnya kurang menyenangi inovasi

(4)

sehingga sikap mental untuk menambah ilmu pengetahuan khususnya ilmu pertanian kurang.

4. Total pendapatan

Adalah jumlah pendapatan bersih yang diterima dari usahatani atau usahatani lainnya.

5. Luas pemilikan lahan

Petani yang mempunyai lahan yang luas adalah lebih mudah menerapkan anjuran penyuluh daripada petani yang memiliki lahan yang sempit, hal ini dikarenakan keefisienan dalam penggunaan sarana produksi.

6. Jumlah tanggungan

Banyaknya jumlah tanggungan keluarga, akan mendorong petani untuk melakukan banyak kegiatan/aktifitas terutama dalam upaya mencari dan menambah pendapatan keluarga.

Marx mengemukakan dua postulat yang utama yaitu: pertama, determinisme ekonomi, yang menyatakan faktor ekonomi adalah penentu fundamental bagi struktur dan perubahan masyarakat. Bentuk-bentuk produksi yang bersifat teknologis menentukan organisasi sosial suatu produksi, yaitu relasi-relasi yang mengakibatkan pekerja memproduksikan hasil dengan lebih efektif. Kedua, menyentuh mekanisme perubahan (change), yang menurut pandangan Marx, perubahan sosial itu harus dipahami dalam arti tiga fase atau tahap yang selalu tampak ( Hart, 1995).

Fauziah, dkk (1999) menyatakan bahwa tingkat kosmopolitan dapat diartikan sebagai

keterbukaan maupun hubungan petani dengan dunia luar yang nantinya diharapkan akan

(5)

memberikan inovasi baru bagi para petani dalam menjalankan usaha taninya. Tingkat kosmopolitan dapat diukur dari perkembangan sumber inovasi baru, antara lain media elektronik (TV, radio, telepon), media cetak (surat kabar, tabloid, majalah) dan bepergiannya petani keluar daerah tempat tinggal mereka atau keluar desa dalam rangka memasarkan hasil usaha tani mereka serta mendapatkan pendidikan dan informasi mengenai inovasi pertanian untuk mengembangkan usahatani mereka.

Hal ini juga dikemukakan oleh Van den Ban dan Hawkins (1999) bahwa kebutuhan petani akan informasi dapat diperoleh melalui media massa (cetak maupun elektronik).

Hal ini karena petani akan memperoleh informasi dari berita-berita yang ditampilkan baik di media cetak maupun media elektronik. Akan tetapi ada kalanya petani tidak mau menerima pengetahuan dan pendapat yang ditransfer melalui media, tetapi menggunakan pengetahuan dan pendapatan tersebut secara kreatif serta membentuk pendapat sendiri. Dalam proses ini petani juga bisa memanfaatkan sumber-sumber informasi lain seperti organisasi penyuluhan.

Menurut Novizar (2000) bahwa pertanian merupakan bagian dari hidupnya bagi petani.

Bahkan suatu cara hidup. Sehingga tidak hanya aspek-aspek ekonomi saja tetapi aspek-

aspek sosial, kebudayaan, kepercayaan dan aspek-aspek tradisi, semuanya memegang

peranan penting dalam tindakan petani. Namun demikian dari segi ekonomi pertanian,

berhasil tidaknya produksi petani dan tingkat harga yang diterima oleh petani untuk

hasil produksinya merupakan faktor yang sangat mempengaruhi perilaku dan kehidupan

petani.

(6)

Seperti yang dikemukakan oleh Supandi (2008) bahwa peran petani adalah sebagai pelaku utama dan sekaligus sebagai penerima manfaat.

Van den Ban dan Hawkins (1999) menyatakan bahwa agen penyuluhan dapat membantu petani memahami besarnya pengaruh struktur sosial ekonomi dan teknologi untuk mencapai kehidupan yang lebih baik, dan menemukan cara mengubah struktur atau situasi yang menghalanginya untuk mencapai tujuan tersebut. Mereka dapat membantu petani meramalkan peluang keberhasilan dengan segala konsekuensinya, dengan memberikan wawasan luas yang dapat dipengaruhi oleh beberapa aspek sosial dan aspek ekonomi.

Hal ini juga dikemukakan oleh Supandi (2008) bahwa tiga aspek sosial dalam konsep pembangunan berkelanjutan yaitu sosial, ekonomi dan lingkungan harus terintegrasi dimana individu dan lembaga saling berperan agar terjadi perubahan.

Menurut Van den Ban dan Hawkins (1999), di negara berkembang, dipercayai bahwa

cara terbaik untuk meningkatkan efisiensi usahatani dan meningkatkan produksi

pertanian adalah dengan mendidik petani. Sebagian petani tidak mempunyai

pengetahuan serta wawasan yang memadai untuk dapat memahami persoalan mereka,

memikirkan pemecahannya atau memilih pemecahan masalah yang paling tepat untuk

mencapai tujuan mereka. Ada kemungkinan pengetahuan mereka berdasarkan kepada

informasi yang keliru karena kurangnya pendidikan, pengalaman serta faktor budaya

lainnya.

(7)

Menurut Kartasapoetra (1994) bahwa pendidikan dinilai sebagai sarana peningkatan pengetahuan tentang teknologi yang baru, karena pendidikan merupakan sarana belajar dimana selanjutnya diperkirakan akan menanamkan pengertian sikap yang menguntungkan menuju pertanian yang modern.

Suhardiyono (1992) menyatakan bahwa dalam menunjang pembangunan pertanian tidak terlepas dari kemampuan petani dalam menerapkan teknologi secara efektif dan penyuluh bertindak sebagai jembatan sekaligus penghantar teknologi. Teknologi yang dimaksudkan adalah teknologi pertanian yang berarti bagaimana cara penyebaran benih, pemeliharaan tanaman, memungut hasil serta termasuk pula benih pupuk, obat-obatan, pemberantasan hama, alat-alat, sumber tenaga kerja dan kombinasi jenis-jenis usaha oleh para petani dalam fungsinya selaku pengelola untuk mengambil keputusan.

Syahyuti (2006), yang mengemukakan bahwa partisipasi diperlukan untuk menjamin keberlanjutan pembangunan, karena pembangunan berkelanjutan sangat tergantung pada proses sosial. Mengacu pada tiga aspek masyarakat yaitu sosial, ekonomi, dan lingkungan harus diintegrasikan di mana individu dan lembaga saling berperan agar terjadi suatu perubahan, partisipasi diterima sebagai alat yang esensial. Oleh karena itu, kemampuan dan kemauan petani mengadopsi teknologi budidaya anjuran merupakan syarat mutlak tercapainya upaya pengembangan pertanian di suatu daerah.

Hal ini dipertegas dengan pernyataan dari Soekartawi (2003) bahwa semakin besar jumlah anggota keluarga akan semakin besar pula tuntutan kebutuhan rumah tangga.

Hal demikian berarti besarnya jumlah anggota keluarga akan sangat mempengaruhi

(8)

keputusan petani dalam berusaha tani. Kegagalan petani dalam berusaha tani akan sangat berpengaruh terhadap pemenuhan kebutuhan keluarga. Jumlah anggota keluarga yang besar seharusnya memberikan dorongan yang kuat untuk berusahatani intensif dengan menerapkan teknologi baru, sehingga akan meningkatkan usahatani.

2.3 Produktivitas Kedelai

Marchlup dan Chamberlin mengemukakan bahwa produktivitas batas dalam arti produk batas fisis; jadi artinya jumlah produksi in natura, yang ditambahkan oleh kesatuan terakhir sebuah alat produksi kepada produksi total seorang pengusaha; produktivitas batas dalam arti nilai daripada produk batas fisis; jadi artinya produk batas fisik kali harga per satuan; produktivitas batas dalam arti jumlah uang, yang ditambahkan oleh kesatuan terakhir sebuah alat produksi, kepada hasil total berupa uang pengusaha yang bersangkutan (Winardi, 1983).

Menurut Soeharsono (1989) menyatakan bahwa usahatani yang bagus sebagai usahatani

yang produktif dan efisien sering dibicarakan sehari-hari. Usahatani yang produktif

berarti usahatani itu produktivitasnya tinggi. Pengertian produktivitas ini sebenarnya

merupakan penggabungan antara konsepsi efisiensi usaha (fisik) dengan kapasitas

tanah. Efisiensi fisik mengukur banyaknya hasil produksi (output) yang dapat diperoleh

dari satu kesatuan input. Sedangkan kapasitas dari sebidang tanah tertentu

menggambarkan kemampuan tanah itu untuk menyerap tenaga dan modal sehingga

memberikan hasil produksi bruto yang sebesar-besarnya pada tingkatan teknologi

(9)

tertentu. Oleh karena itu, secara teknis produktivitas merupakan perkalian antara efisiensi (usaha) dan kapasitas (tanah).

Senada dengan Soekartawi (2003) yang mengemukakan bahwa hasil yang diperoleh petani pada saat panen disebut produksi dan biaya yang dikeluarkan disebut biaya produksi. Penggolongan biaya produksi dilakukan berdasarkan sifatnya. Biaya tetap (fixed cost) ialah biaya yang tidak ada kaitannya dengan jumlah barang yang diproduksi.

Petani harus tetap membayarnya, berapapun jumlah komoditi yang dihasilkannya.

Misalnya sewa lahan, bangunan, ternak kerja dan lain sebagainya. Biaya tidak tetap adalah biaya yang berubah apabila luas usahanya berubah. Biaya ini ada apabila ada suatu barang yang diproduksi, misalnya upah buruh tani.

Ariani (2005) menyatakan bahwa tingkat produktivitas yang stabil, produksi dan luas areal tanam akan berjalan seiring. Hal ini berarti besarnya kenaikan produksi ditentukan pula oleh peningkatan luas areal tanam. Oleh karena itu, tingkat produksi kedelai yang makin menurun disebabkan oleh makin berkurangnya areal tanam. Tanpa perluasan areal tanam, upaya peningkatan produksi kedelai sulit dilakukan karena laju peningkatan produktivitas berjalan lambat, apalagi bila harga sarana produksi tinggi dan harga produk rendah.

Mosher (1997) menyebutkan bahwa lahan pertanian sebagai aset penting yang dimiliki

petani sangat menentukan peluang berusaha bagi dirinya. Aset ini berpengaruh terhadap

besarnya pendapatan yang mereka peroleh dari pengelolaan atas lahan tersebut. Lahan

sempit tentu saja hasil yang diperoleh juga tidak memadai, pendapatan yang mereka

peroleh juga rendah.

(10)

Senada dengan Alimoeso (2008) yang menyatakan bahwa di samping perluasan areal, upaya peningkatan produksi kedelai dapat dilakukan dengan menaikkan produktivitas dan stabilitas hasil, serta menekan senjang hasil dan kehilangan hasil pada saat panen dan pascapanen. Peningkatan produksi kedelai dapat dilakukan dengan: 1) memperluas areal tanam, 2) meningkatkan produktivitas, 3) mengamankan produksi, dan 4) memperkuat kelembagaan. Perluasan areal tanam diutamakan pada wilayah yang pernah menjadi sentra produksi kedelai dan pemanfaatan lahan secara optimal melalui peningkatan indeks pertanaman. Peningkatan produktivitas antara lain dilakukan dengan menggunakan benih varietas unggul bermutu; pengamanan produksi dengan memberikan bantuan sarana pascapanen; dan perbaikan sistem kelembagaan dengan memperbaiki sistem lembaga permodalan dan menguatkan peran gabungan kelompok tani dan kemitraan.

Soeharsono (1989) menyatakan bahwa kualitas manusia (pendidikan, ketrampilan dan keahlian) yang rendah mengakibatkan rendahnya pemanfaatan teknologi dan inovasi dalam proses produksi, sehingga bukan saja kemampuan produksi akan rendah, tetapi produktivitas dalam produksi pun akan rendah. Rendahnya tingkat produksi mengakibatkan tingkat penghasilan yang rendah pula. Sementara dengan rendahnya tingkat kualitas sumber daya manusia, kemampuan dalam pengembangan teknologi akan semakin rendah pula, sehingga membutuhkan dana investasi yang cukup besar untuk melakukan penelitian dan perkembangan.

Pernyataan tersebut dipertegas oleh Supadi (1995), bahwa perbedaan letak geografis

dan letak administratif dapat mendorong perkembangan yang berbeda pada suatu

(11)

wilayah. Hal ini terlihat dengan adanya perbedaan perkembangan kondisi wilayah maupun kondisi masyarakatnya. Keberhasilan penyuluhan yang terjadi pada suatu desa akan mendorong perubahan karakteristik masyarakatnya, dimana akan mempengaruhi produktivitas kerja petani terkait dalam penerimaan materi penyuluhan sehingga petani dapat menerapkan inovasi dari materi penyuluhan yang diterima.

Prabowo (2008) menyatakan, untuk meningkatkan produksi kedelai hingga swasembada bukan hal yang mustahil. Dengan memberikan jaminan harga yang layak, petani akan tertarik untuk menanam kedelai. Pemerintah perlu melindungi petani karena di negara lain pun, pemerintah tidak hanya melindungi petani, tetapi juga produk pertaniannya.

Seperti halnya Pakpahan (2004) juga mengemukakan bahwa petani di negara-negara maju masih mendapat perlindungan dan memperoleh subsidi yang sangat besar.

Sebaliknya di negara-negara berkembang seperti Indonesia, subsidi bagi petani justru dihapus.

2.4 Regresi Linier Berganda

Menurut Nazir (2003) bahwa jika parameter suatu hubungan fungsional antara satu variabel dependen dengan lebih dari satu variabel ingin diestimasikan, maka analisis regresi yang dikerjakan berkenaan dengan regresi berganda (multiple regression).

Analisis berganda mempunyai kaedah yang sama dengan analisis regresi sederhana.

Supriana (2008) menyatakan bahwa prinsip-prinsip yang mendasari regresi linier

berganda, tidak berbeda dengan regresi linier sederhana, namun dalam regresi linier

(12)

berganda akan dijumpai beberapa permasalahan. Permasalahan ini berkaitan dengan digunakannya sejumlah variabel didalam model (hal ini tidak dijumpai dalam model regresi linier sederhana yang hanya mengkaji satu variabel bebas). Fenomena berubahnya suatu variabel tidak hanya dipengaruhi oleh satu faktor, melainkan variabel tersebut dipengaruhi oleh berbagai macam faktor.

Danang (2009) jika pengukuran antarvariabel melibatkan lebih dari satu variabel bebas (X1, X2, X3, ...,Xn) dinamakan analisis regresi linier berganda, dikatakan linier karena setiap estimasi atas nilai diharapkan mengalami peningkatan atau penurunan mengikuti garis lurus. Persamaan estimasi regresi linier berganda sebagai berikut :

Y = a + b

1

X

1

+ b

2

X

2

+ b

3

X

3

+ ... + b

n

X

n

Dimana :

a = nilai konstanta

b

1

, b

2

, b

3

, ..., b

n

= nilai koefisien regresi variabel X

1

, X

2

, X

3

, ..., X

n

untuk menentukan nilai a dan b

1

, b

2

, b

3

, ..., bn dipergunakan beberapa persamaan regresi linier berganda :

1. SY = an + SX

1

+ b

2

SX

2

+ ... + b

n

SX

n

2. SX

1

Y = aSX

1

+ b

1

SX

12

+ b

2

SX

1

X

2

+ ... + b

n

SX

1

X

n

3. SX

2

Y = aSX

2

+ b

1

SX

1

X

2

+ b

2

SX

22

+ ... + b

n

SX

2

X

n

dan seterusnya.

Supriana (2008) menyatakan bahwa model regresi yang digunakan untuk membuat hubungan antara satu variabel terikat dan beberapa variabel bebas disebut model regresi berganda. Adapun modelnya dituliskan sebagai berikut:

Y

i

= β

o

+ β

1

X

1i

2

X

2i

3

X

3i

+...+β

k

X

k

+u

i

Dimana:

(13)

Yi = Variabel terikat Xi = Variabel bebas

i = 1,2,3,....k (banyaknya observasi)

Sebagaimana dalam regresi sederhana, nilai-nilai parameter tersebut akan diduga, sehingga modelnya menjadi:

i

= b

o

+ b

1

X

1i

+b

2

X

2i

+b

3

X

3i

+...+b

k

X

k

Dimana:

i = 1,2,3,....k (banyaknya observasi) b

o

,b

1

,b

2,

b

3

...b

k

dugaan β

o

, β

1

, β

2

, β

3

...β

k

Senada dengan Umar (2005) yang menyatakan bahwa data hasil pengamatan Y dipengaruhi oleh variabel-variabel bebas X

1

,X

2

,X

3

,...X

k

, sehingga rumus umum dari regresi linier berganda itu adalah :

Y=a + b X

1

+ c X

2

+ ... + k X

k

koefisien-koefisien a,b,c,...k, dapat dicari dengan berbagai cara, misalnya dengan kuadrat terkecil ataupun dengan matrik.

Untuk mengetahui adanya masalah multikolinearitas (Multicolinearity), pada model regresi, maka dilakukan pengujian model regresi dengan menggunakan metode Backward Elimination pada uji SPSS (Statistical Program for Social Science).

Multikolinearitas adalah salah satu masalah yang terdapat pada model regresi dimana terdapatnya hubungan linier diantara variabel-variabel bebas dalam model regresi.

Biasanya korelasinya mendekati sempurna atau sempurna (korelasi tinggi atu bahkan

(14)

satu). Jika variabel bebas berkorelasi dengan sempurna, maka disebut dengan

“(Multikolineritas Sempurna) Perfect Multicolinearity”

Dampak dari Multikolinearitas adalah :

1. Pengaruh dari masing-masing variabel bebas tidak dapat dideteksi atau sulit dibedakan karena koefisien regresi masing-masing variabel bebas tidak dapat digunakan lagi untuk menduga nilai variabel terikat.

2. Standard error cenderung meningkat dengan bertambahnya variabel bebas.

3. Probabilitas untuk menerima hipotesis yang salah (kesalahan b) semakin besar.

Metode Backward Elimination ini berguna untuk mengatasi masalah multikolinearitas yang terjadi pada model regresi berganda. Metode ini dipilih dari menu method yang terdapat d SPSS, dimana metode ini merupakan metode yang akan mengeluarkan variabel bebas yang berkorelasi dengan variabel bebas lainnya sehingga tidak menyebabkan masalah multikolinearitas lagi.

Pengujian dengan SPSS, dapat dilihat pada uji Colinearity Diagnostic yaitu:

a. Pengujian pada Egeinvalue. Jika Egeinvalue mendekati nilai nol, maka akan terjadi multikolinearitas.

b. Pengujian pada Condition Index. Jika harga Condition Index melebihi angka 15,

maka akan terjadi multikolinearitas.

(15)

2.5 Kerangka Pemikiran

Faktor sosial, ekonomi merupakan faktor yang ada dalam diri petani. Faktor tersebut dapat berpengaruh terhadap usahatani kedelai. Faktor sosial ekonomi tersebut nantinya akan mempengaruhi produktivitas kedelai begitupun dengan teknologi.

Kedelai merupakan salah satu jenis tanaman palawija (kacang-kacangan) yang diusahakan dan dikelola petani. Kedelai merupakan pangan penting setelah padi dan jagung. Selain sebagai sumber protein, makanan berbahan kedelai dapat dipakai sebagai penurun kolesterol darah yang dapat mencegah penyakit jantung. Kedelai juga berfungsi sebagai anti-oksidan dan dapat mencegah penyakit kanker.

Baik faktor sosial, ekonomi maupun teknologi petani sangat membantu dan berhubungan dengan cara berfikir petani dalam usahataninya. Petani juga perlu mempertimbangkan keadaan atau kondisi baik dari segi sosial, segi ekonomi maupun segi teknologi.

Hal ini dimaksudkan agar petani dapat memperoleh hasil dari usaha pertaniannya.

Dalam pertimbangan tersebut para petani harus yakin mampu mengelola usahataninya

semaksimal mungkin dengan kemampuan mereka baik segi sosial, ekonomi maupun

teknologinya.

(16)

Adapun skema kerangka pemikiran dapat digambarkan pada Gambar 1.

Keterangan :

Menyatakan pengaruh

Gambar 1. Skema Kerangka Pemikiran

2.6 Hipotesis Penelitian

Beberapa faktor sosial ekonomi serta teknologi [umur, pengalaman bertani, jumlah tanggungan, frekuensi penyuluhan, kosmopolitan, luas lahan, pendapatan, varietas bibit unggul, pupuk, penggunaan alsintan (alat-alat mesin pertanian)] berpengaruh nyata terhadap produktivitas kacang kedelai di daerah penelitian.

Produktivitas Kacang Kedelai Faktor Sosial antara lain:

• umur

• pengalaman bertani

• jumlah tanggungan

• frekuensi penyuluhan

• kosmopolitan

Faktor Ekonomi terdiri dari:

• luas lahan

• pendapatan

Teknologi terdiri dari:

• varietas bibit unggul

• pupuk

• penggunaan alsintan

• pestisida Usahatani Kedelai

Petani Kedelai

Gambar

Gambar 1. Skema Kerangka Pemikiran

Referensi

Dokumen terkait

Menurut Soedarsono (1995 : 12) menyatakan pendapatan yang diterima petani dari suatu hasil produksi adalah total penerimaan dikurangi dengan total biaya yang

Dalam strategi pengembangan usaha yang dapat memberikan nilai tambah bagi petani atau industri, baik dilihat dari segi ekonomi dan manfaat dilakukan

Menurut Dalyono, (2007:55-60) berhasil atau tidaknya seseorang dalam belajar disebabkan beberapa faktor yang mempengaruhi pencapaian hasil belajar yaitu berasal dari dalam diri

Faktor ekonomi yang mempengaruhinya yaitu harga (harga barang itu sendiri maupun harga barang pengganti dan penggenapnya). Faktor sosial yaitu jumlah penduduk di daerah penelitian.

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kelayakan usahatani padi sawah berdasarkan pendapatan yang diterima oleh petani dan pengaruh faktor pendapatan,

Jadi dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa efektivitas penentuan harga pokok produksi adalah suatu ukuran berhasil atau tidaknya perusahaan

Naiknya harga faktor produksi pertanian akan berdampak pada hasil produksi pertanian yang dijual juga akan semakin mahal sehingga indeks harga yang diterima

Energi listrik yang dihasilkan oleh PLTS bergantung pada beberapa faktor, yaitu besarnya iradiasi matahari yang diterima oleh panel surya, suhu disekitar panel surya, dan ada tidaknya