• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. LANDASAN TEORI. 7 Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "2. LANDASAN TEORI. 7 Universitas Kristen Petra"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

2. LANDASAN TEORI

2.1. Subjek Pajak

Sesuai dengan Pasal 2 ayat (1) UU Nomor 36 Tahun 2008, pengertian dari subjek pajak adalah semua pihak yang dituju oleh UU perpajakan untuk dikenakan pajak. Berdasarkan pengertian tersebut, subjek pajak dapat dibedakan menjadi dua, yaitu subjek pajak berdasarkan klasifikasi dan subjek pajak berdasarkan status domisili.

Subjek pajak berdasarkan klasifikasi meliputi:

a. Orang pribadi

b. Badan, sekumpulan orang dan/atau modal yang merupakan kesatuan baik yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi perseroan terbatas, perseroan komanditer, perseroan lainnya, BUMN atau BUMD dengan nama dan dalam bentuk apa pun, firma, kongsi, koperasi, dana pensiun, persekutuan, perkumpulan, yayasan, organisasi massa, organisasi sosial politik, atau organisasi lainnya, lembaga, dan bentuk badan lainnya.

c. Bentuk usaha tetap (BUT), BUT adalah bentuk usaha yang dipergunakan oleh orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia, atau berada di Indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan dan badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia untuk menjalankan usaha atau melakukan kegiatan di Indonesia.

d. Warisan yang belum terbagi

Subjek pajak berdasarkan status domisili dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:

a. Subjek pajak dalam negeri, dengan kriteria:

1) Orang pribadi yang bertempat tinggal di Indonesia

2) Orang pribadi yang berada di Indonesia lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan atau orang pribadi yang dalam suatu tahun pajak berada di Indonesia.

(2)

3) Orang pribadi yang meempunyai niat untuk bertempat tinggal di Indonesia 4) Badan yang didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia

5) Warisan yang belum terbagi yang ditinggalkan oleh orang pribadi subjek pajak dalam negeri, dianggap sebagai subjek pajak dalam negeri dalam pengertian mengikuti status pewaris. Warisan yang belum terbagi yang ditinggalkan oleh orang pribadi sebagai subjek pajak luar negeri yang tidak menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui suatu BUT di Indonesia, tidak dianggap sebagai subjek pajak pengganti karena pengenaan pajak atas penghasilan yang diterima atau yang diperoleh orang pribadi dimaksud melekat pada objeknya.

b. Subjek pajak luar negeri, dengan kriteria:

1) Orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau orang pribadi yang berada di Indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan dan badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia yang menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui BUT di Indonesia.

2) Orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau orang pribadi yang berada di Indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan dan badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia yang dapat menerima atau memperoleh penghasilan dari Indonesia tidak dari menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui BUT di Indonesia.

2.2. Definisi Wajib Pajak

Menurut UU KUP, pada Pasal 1 ayat (2), yang dimaksud dengan WP adalah orang pribadi atau badan, meliputi pembayar pajak, pemotong pajak, dan pemungut pajak, yang mempunyai hak dan kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. Dengan demikian, berarti WP dapat dibedakan menjadi dua, yaitu WP OP dan WP Badan. Pada Pasal 2 ayat (1) UU KUP, yang disebut dengan WP adalah orang pribadi atau badan yang telah

(3)

memenuhi persyaratan subjektif dan persyaratan objektif. Persyaratan subjektif adalah persyaratan yang sesuai dengan ketentuan mengenai subjek pajak dalam UU PPh 1984 dan perubahannya. Sedangkan untuk persyaratan objektif adalah persyaratan bagi subjek pajak yang menerima atau memperoleh penghasilan atau diwajibkan untuk melakukan pemotongan atau pemungutan sesuai dengan ketentuan UU PPh 1984 dan perubahannya. Setiap WP yang telah memenuhi persyaratan subjektif dan objektif sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan perpajakan wajib mendaftarkan diri pada kantor DJP yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal atau tempat kedudukan WP dan kepadanya diberikan NPWP. Pengertian WP dalam UU KUP ini adalah pengertian menurut ketentuan formal perpajakan, yaitu suatu ketentuan yang menjamin bahwa pelaksanaan ketentuan material akan menjadi suatu kenyataan yang baik dan benar (Mardijono, 2003).

2.2.1. Hak Wajib Pajak

Hak-hak WP yang termuat dalam UU Nomor 16 Tahun 2009 adalah sebagai berikut:

1. Menerima tanda bukti penerimaan SPT tahunan (Psl 6/1).

2. Mengajukan permohonan penundaan penyampaian SPT tahunan (Psl 3/4).

3. Pembetulan sendiri SPT (Psl 8/1).

4. Mengajukan permohonan penundaan dan pengangsuran pembayaran pajak (Psl 9/4).

5. Mengajukan permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak (Psl 11/11) dan kepastian atas permohonan tersebut (Psl 11/2, 17B/1).

6. Memperoleh imbalan bunga apabila pengembalian lewat waktu (Psl 11/3).

7. Mengajukan permohonan pembetulan kesalahan tulis, kesalahan hitung, atau kekeliruan dalam penerapan peraturan perundangan perpajakan yang terdapat dalam surat ketetapan pajak (Psl 16).

8. Memperoleh Surat Keputusan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak (Psl 17C/1).

9. Mengajukan gugatan atas penagihan, keputusan pembetulan, dan peninjauan kembali ( Psl 23/5).

(4)

10. Meminta keterangan tertulis dari dirjen pajak tentang dasar pengenaan pemungutan dan pemotongan pajak (Psl 25/5).

11. Mengajukan permohonan keberatan (Psl 25/1) dan kepastian terbitnya Surat Keputusan Keberatan (Psl 26/5).

12. Memperoleh tanda penerimaan surat keberatan (Psl 25/5).

13. Menyampaikan alasan keberatan tambahan dan penjelasan gtertulis (Psl 26/2).

14. Mengajukan permohonan banding atas Surat Keputusan Keberatan (Psl 27/1).

15. Memperoleh imbalan bunga dari keputusan keberatan dan banding yang menyebabkan lebih bayar (Psl 27A/1).

16. Dikecualikan dari kewajiban menyelenggarakan pembukuan atau menyelenggarakan pencatatan (Psl 28/2, 28/10).

17. Menyelenggarakan pembukuan dalam bahasa asing (Psl 28/5).

18. Mengubah metode pembukuan (Psl 28/6).

19. Menggunakan bahasa asing tertentu dan mata uang selain rupiah dalam pembukuan (Psl 28/8).

20. Melihat Surat Perintah Pemeriksaan (Psl 29/2).

21. Menunjuk kuasa khusus (Psl 32/3).

22. Kerahasiaan atas informasi yang disampaikan ke pejabat yang menjalankan ketentuan peraturan perundang-undangan (Psl 34/1).

2.2.2. Kewajiban Wajib Pajak

Kewajiban-kewajiban WP yang termuat dalam UU Nomor 16 tahun 2009 adalah sebagai berikut:

1. Melaksanakan pendaftaran diri/melaporkan usahanya untuk memperoleh NPWP/Nomor Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak sebagai tanda/identitas dari WP (Psl 2/1, 2/2).

2. Mengambil sendiri formulir SPT dan forulir perpajakan lainnya ditempat yang telah ditentukan oleh ditjen pajak (Psl 3/2).

3. Mengisi dengan benar, lengkap, jelas, dan menandatangani sendiri serta menyampaikan SPT (Psl 4/1, 2/7, 3/1)

4. Memberikan kuasa khusus kepada kuasanya (Psl 4/3).

(5)

5. Membayar/menyetor pajak yang terutang di kas negara atau tempat lain yang telah/ditunjuk Menteri Keuangan (Psl 10/1, Psl 12).

6. Melengkapi surat keberatan (Psl 25/2) dan menyampaikan pada waktunya (Psl 27/3).

7. Membuktikan ketidakbenaran ketetapan pajak (Psl 26/3).

8. Melengkapi surat banding dan menyampaikan pada waktunya (Psl 27/3).

9. Menyelenggarakan pembukuan dan pencatatan (Psl 28/1, 28/2).

10. Menyelenggarakan pembukuan selama 10 tahun (Psl 28/6).

11. Memperlihatkan pembukuan. Memberikan kesempatan kepada petugas pemmeriksa untuk memasuki ruangan, memberikan keterangan yang diperlukan kepada petugas pemeriksa pajak (Psl 29/3, 29/4).

12. Penunjukkan wakil badan yang bertanggung jawab mengenai kewajiban perpajakan (Psl 31/1).

13. Menanggung reteng pembayaran PPN (Psl 33).

2.3. Sistem Pemungutan Pajak

Menurut Siahaan (2010) dalam Leonardo (2011) menyatakan bahwa sistem pemugutan pajak yang digunakan ada tiga, yaitu:

1. Official Assesssment System

Adalah suatu sistem pemungutan yang memberi wewenang kepada pemerintah (fiskus) untuk menentukan besarnya pajak yang terutang yang harus dibayar oleh WP. Ciri-ciri official assessment:

a. Wewenang untuk menentukan besarnya pajak terutang berada pada fiskus b. WP bersifat pasif

c. Fiskus bertindak aktif 2. Self Assessment System

Adalah suatu sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang, kepercayaan dan tanggung jawab kepada WP untuk menghitung, memperhitungkan, membayar, dan melaporkan sendiri besarnya pajak yang harus dibayar. Ciri-ciri self assessment:

a. Wewenang untuk menentukan besarnya pajak terutang berada pada WP

(6)

b. WP bersifat aktif

c. Fiskus hanya bertugas memberikan arahan, penyuluhan, pembinaan, pelayanan, dan pengawasan kepada WP.

3. Witholding System

Adalah suatu sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang kepada pihak ketiga untuk memotong atau memungut besarnya pajak yang terutang dari WP. Dalam sistem ini, pihak yang ditentukan sebagai pemungut atau pemotong pajak oleh UU pajak diberi kewenangan dan kewajiban untuk memotong atau memungut pajak yang terutang dari WP dan harus segera menyetorkannya ke kas negara sesuai dengan jangka waktu yang telah ditentukan.

2.4. Pengertian Self Assessment

Menurut Nurmantu (2003), self assessment terdiri dari dua kata bahasa inggris yaitu self dan to access. Maksud dari self adalah sendiri, sedangkan to access artinya menilai, menghitung, dan menaksir. Dengan demikian, pengertian self assessment adalah menghitung dan menilai sendiri. Jadi dapat disimpulkan bahwa WP sendirilah yang menghitung dan menilai kewajiban perpajakannya.

Pada self assessment system, WP berkewajiban menghitung, memperhitungkan membayar, dan melaporkan sendiri jumlah pajak terhutang.

Berbeda dengan official assessment system yang mengutamakan petugas pajak dalam menetapkan besar sesungguhnya pajak yang terutang oleh WP. Walaupun berbeda, kedua sistem perpajakan tersebut dalam praktiknya tetap memerlukan pengawasan dari pihak pemerintah (Syofyan, 2003). Lepas dari pengawasan pihak pemerintah, agar sistem self assessment dapat berjalan lancar, tentu diperlukan kesadaran dari WP sendiri. Faktor kesadaran WP sangat penting dalam pelaksanaan sistem self assessment (Gunadi, 2002 dan Pamungkas, 2003).

Kesadaran terhadap self assessment adalah tahu dan mengerti mengenai self assessment.

Kewajiban WP jika dihubungkan dengan kesadaran dalam self assessment dapat terlihat sesuai pernyataan Adi (2005) dalam Sutanto (2009), yang menyatakan bahwa WP dapat dikatakan mempunyai kesadaran terhadap self

(7)

assessment, apabila mereka telah mengetahui dan sepakat atau setuju bahwa seharusnya:

1. Dalam mendapatkan NPWP, WP mendaftarkan diri secara aktif dan mandiri ke KPP setempat.

2. WP mengambil sendiri formulir SPT di KPP setempat.

3. WP menghitung dan menetapkan sendiri jumlah pajak yang terutang melalui pengisian SPT tanpa bantuan petugas pajak.

4. WP menyetor dan melaporkan formulir SPT secara aktif dan mandiri (tanpa harus menunggu ditagih oleh petugas pajak).

Pada self assessment, fiksus hanya berperan sebagai pembina, peneliti dan, pengawas terhadap pemenuhan kewajiban perpajakan yang dilakukan oleh WP.

Fungsi pengawasan memegang peranan sangat penting dalam sistem self assessment, karena tanpa pengawasan dalam kondisi tingkat kepatuhan WP masih rendah, mengakibatkan sistem tersebut tidak akan berjalan dengan baik, sehingga WP pun akan melaksanakan kewajiban pajaknya dengan tidak benar. Fiskus juga berperan untuk melakukan pemeriksaan berdasarkan ketentuan dalam peraturan perpajakan. Menurut Pasal 29 ayat (1) UU KUP, DJP berwenang melakukan pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan WP dan untuk tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan peraturan perundang- undangan perpajakan. Pemeriksaan pajak merupakan kegiatan yang dilakukan oleh pemeriksa pajak kepada WP sebagai bagian dari sistem perpajakan di Indonesia yang menganut self assessment system. Di dalam sistem self assessment, pemeriksaan pajak merupakan pilar dari penegakan hukum (law enforcement). Pelayanan yang diberikan oleh petugas pajak (fiskus) juga menjadi peranan penting terhadap kepatuhan WP dalam menjalankan kewajiban perpajakannya. Administrasi pajak (fiskus) harus efisien dalam melaksanakan peraturan perundang-undangan perpajakan, yaitu tidak menyulitkan baik pemerintah dalam melakukan pemungutan pajak maupun WP dalam melakukan kewajibannya (Syofyan, 2003).

(8)

2.5. Kepatuhan Wajib Pajak

2.5.1. Pengertian Kepatuhan Wajib Pajak

Kepatuhan berasal dari kata dasar patuh, yang artinya suka menurut perintah, taat kepada perintah dan aturan, berdisiplin (Poerwadarminta, 2003).

Sedangkan pengertian kepatuhan yaitu sifat patuh, ketaatan, tunduk atau patuh pada ajaran atau aturan. Pengertian kepatuhan WP menurut D. Nowak dalam (Zain, 2004) yaitu: “Suatu iklim kepatuhan dan kesadaran pemenuhan kewajiban perpajakan, tercermin dalam situasi di mana:

1. WP paham atau berusaha untuk memahami semua ketentuan perundang- undangan perpajakan.

2. Mengisi formulir pajak dengan lengkap dan jelas 3. Menghitung jumlah pajak yang terutang dengan benar

4. Membayar dan melaporkan pajak yang terutang tepat pada waktunya.”

Kepatuhan sebagai fondasi self assessment system dapat dicapai apabila elemen-elemen kunci telah diterapkan secara efektif. Elemen-elemen kunci (Ismawan, 2001) tersebut adalah sebagai berikut:

1. Program pelayanan yang baik kepada WP 2. Prosedur yang sederhana dan memudahkan WP

3. Program pemantauan kepatuhan dan verifikasi yang efektif 4. Pemantapan law enforcement secara tegas dan adil.

Kepatuhan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kepatuhan WP OP untuk memenuhi kewajiban perpajakan dalam hal memahami semua ketentuan perundang-undangan perpajakan seperti ketentuan mendaftarkan diri ke KPP dan memperoleh NPWP, mengisi formulir pajak dengan lengkap dan jelas, menghitung jumlah pajak yang terutang dengan benar serta membayar, dan melaporkan pajak yang terutang tepat pada waktunya.

2.5.2. Jenis Kepatuhan Wajib Pajak

Sesuai dengan Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No.

74/PMK.03/2012 tentang pelaksanaan ketentuan Pasal 17C ayat (7) UU KUP, terdapat dua macam kepatuhan dalam pajak yaitu:

a. Kepatuhan formal adalah suatu keadaan di mana WP memenuhi kewajiban secara formal sesuai dengan ketentuan dalam UU perpajakan.

(9)

b. Kepatuhan material adalah suatu keadaan di mana WP secara substantif atau hakikatnya memenuhi semua ketentuan material perpajakan yaitu sesuai dengan isi dan jiwa UU perpajakan.

Kepatuhan perpajakan dapat didefinisikan sebagai suatu keadaan di mana WP memenuhi semua kewajiban perpajakan dan melaksanakan hak perpajakannya. Kepatuhan formal dalam hubungannya dengan pemenuhan kewajiban perpajakan adalah menyampaikan SPT masa atau tahunan dengan tepat waktu sesuai dengan batas waktu yang telah ditentukan. Contoh dari kepatuhan formal adalah misal ketentuan batas waktu penyampaian Surat Pemberitahuan Pajak Penghasilan (SPT PPh) tahunan tanggal 30 April, apabila WP telah melaporkan SPT PPh tahunan sebelum atau pada tanggal 30 April maka WP telah memenuhi ketentuan formal, akan tetapi isinya belum tentu memenuhi ketentuan material. Yang dimaksud dengan kepatuhan material disini dalam hubungannya dengan pemenuhan kewajiban perpajakan adalah yaitu WP mengisi SPT dengan benar, jujur, dan sesuai dengan ketentuan perpajakan.

2.6. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku

Seperti yang telah diuraikan pada bab satu, dari banyaknya faktor hasil penelitian terdahulu, hanya dipilih beberapa faktor dari masing-masing peneliti yang akan digunakan dalam penelitian. Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Theresia (2008) mengenai kesediaan WP OP untuk membayar pajak di kelurahan Sriwedari, Surakarta dilakukan terhadap responden WP OP yang mempunyai usaha sendiri (menggunakan SPT 1770) yaitu sebanyak 117 WP. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda yaitu melakukan uji F (simultan) dan Uji t (parsial). Variabel bebas yang digunakan ada tiga faktor yaitu kepatuhan WP, pengetahuan teknis perpajakan, dan pengetahuan manfaat pajak.

Hasil penelitian Theresia membuktikan bahwa pengetahuan teknis perpajakan tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kesediaan membayar pajak dan pengetahuan manfaat pajak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kesediaan membayar pajak.

Penelitian yang dilakukan oleh Novitasari (2006) mengenai kepatuhan WP dalam memenuhi kewajiban pajak di Baliwerti menunjukkan bahwa hasil

(10)

penelitian yaitu faktor kesadaran perpajakan, sikap rasional, lingkungan WP berada, hukum pajak, dan sikap fiskus yang mempengaruhi kepatuhan WP tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kewajiban pajak. Dalam penelitian ini tahap analisa data menggunakan model regresi logistik dengan menggunakan responden berjumlah 58 WP berupa semua toko yang telah diperiksa oleh fiskus.

Adapun penelitian yang menunjukkan adanya tujuh faktor yang mempengaruhi persepsi WP OP untuk membayar pajak yaitu faktor sistem administrasi perpajakan, kepercayaan pada lembaga negara, internal WP, intelektualitas WP, kompetensi petugas pajak, kenyamanan dalam membayar pajak, dan moralitas telah diteliti oleh Leonardo (2011) di Jember. Jumlah responden yang digunakan dalam penelitian adalah 130 WP efektif yang membuka usaha sendiri. Teknik analisa yang digunakan adalah analisa faktor menggunakan uji validitas dan uji reliabilitas.

Penelitian kepatuhan sehubungan dengan perilaku WP di wilayah KPP Surabaya Tegalsari terhadap pemeriksaan pajak telah diteliti oleh Hartanto (2011).

Penelitian ini dikaji karena pemeriksaan pajak merupakan instrumen yang baik untuk meningkatkan tingkat kepatuhan WP, yang tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan tingkat tax compliance seorang WP. Jumlah responden yang digunakan dalam penelitian adalah 110 WP aktif yang pernah mengalami pemeriksaan pajak dengan menggunakan teknik analisa data yaitu analisa faktor dan menggunakan uji validitas serta uji reliabilitas. Hasil penelitian menunjukkan adanya empat faktor yang mempengaruhi perilaku WP terhadap pemeriksaan pajak antara lain faktor lingkungan sosial dan budaya WP, integritas kebangsaan WP, kepercayaan terhadap instrumen (Fiskus dan UU Perpajakan) perpajakan, dan persepsi WP terhadap pengelolaan hasil pajak.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka dipilihlah tujuh faktor yang akan digunakan dalam penelitian ini.

2.6.1. Integritas Kebangsaan Wajib Pajak

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), integritas berarti mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan dan kejujuran. Jadi,

(11)

Integritas kebangsaan adalah cerminan nilai moral atau etis dari sebuah tindakan yang dilakukan oleh manusia/bangsanya. Menurut penelitian Hartanto (2011), berdasarkan hasil penelitiannya, penentuan faktor integritas kebangsaan sehubungan dengan kepatuhan menggunakan indikator yaitu menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) yang baik, tanggung jawab sebagai WP, kebanggaan menjadi WNI.

Sesuai UU Republik Indonesia (RI) Nomor 12 Tahun 2006 tentang kewarganegaraan RI, yang dimaksud dengan warga negara adalah warga suatu negara yang ditetapkan berdasarkan peraturan perundang-undangan. Yang menjadi WNI adalah orang-orang bangsa Indonesia asli dan orang-orang bangsa lain yang disahkan dengan undang-undang sebagai warga negara. Menjadi WNI yang baik dapat ditunjukkan dengan partisipasi warga negara terhadap negara Indonesia. Menurut Hadi (2004) dalam Widodo (2010), partisipasi didefinisikan sebagai proses di mana masyarakat turut serta mengambil bagian dalam pengambilan keputusan. Partisipasi warga negara dapat meningkatkan rasa kebangsaan sehingga wawasan masyarakat dapat bertambah dan menghasilkan pola pikir yang terbuka untuk memajukan bangsa Indonesia, membuat masyarakat peduli dengan kondisi keuangan negara yang membuat masyarakat dapat taat dalam membayar pajak (Leonardo, 2011). Seperti yang sudah dijelaskan pada bab satu, Indonesia menganut self assessment system yang memberi kepercayaan kepada WP untuk menghitung, memperhitungkan, membayar, dan melaporkan sendiri pajak terhutangnya. Sebagai WNI yang baik, tanggung jawab WP dalam melaporkan sendiri pajak terhutangnya dapat ditunjukkan dengan membayar dan melaporkan SPT yang diisi secara benar, lengkap, jelas, dan ditandatangani.

Kebanggaan menjadi WNI yang dimaksud adalah kebanggan nasional sebagai warga negara. Definisi kebanggaan nasional menurut KBBI adalah sikap kejiwaan yang terwujud, tampak pada sikap menghargai warisan budaya, hasil karya dan hal-hal lain yang menjadi milik bangsa sendiri. Wujud kecintaan warga negara terhadap negaranya dapat ditunjukkan dengan membayar pajak. Rasa bangga sebagai warga negara tentu juga akan mendorong dan memotivasi masyarakat untuk membayar pajak yang mana penerimaan pajak bermanfaat untuk membangun dan memperbaiki negaranya.

(12)

2.6.2. Kepercayaan Terhadap Instrumen Perpajakan

Definisi percaya menurut KBBI adalah menganggap atau yakin bahwa seseorang itu jujur, yakin benar atau memastikan akan kemampuan atau kelebihan seseorang akan sesuatu (bahwa akan memenuhi harapannya). Kepercayaan terhadap instrumen perpajakan yang dimaksud disini adalah kepercayaan terhadap fiskus, yaitu kepercayaan terhadap kinerja fiskus dan kepercayaan terhadap UU perpajakan, yaitu sikap untuk memenuhi UU yang berlaku yang mengatur ketentuan perpajakan (Hartanto, 2011)

Berbeda dengan official assessment system di mana penetapan besarnya jumlah pajak WP menjadi tanggung jawab fiskus sehingga segala resiko pajak yang akan timbul menjadi tanggung jawab fiskus, pada self assessment system, penetapan besarnya jumlah pajak yang seharusnya terutang menjadi tanggung jawab WP itu sendiri sehingga segala resiko pajak yang timbul menjadi tanggung jawab WP itu sendiri. Di sini terlihat adanya pergeseran tanggung jawab dari fiskus kepada WP, yang tanpa disadari WP bahwa hal ini akan menjadi beban berat dalam melaksanakan kewajban perpajakannya. Fiskus dalam self assessment system hanya bertugas mengawasi pelaksanaannya saja yaitu dengan melakukan pemeriksaan atas kepatuhan WP terhadap peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku. Sehingga dalam self assessment system, WP memenuhi kewajiban perpajakan sesuai UU/ ketentuan perpajakan yang berlaku dan WP hanya bisa percaya kepada fiksus dalam hal menjalankan tugas pengawasan.

Sesuai SE-391/PJ/2002 yang mengatur tentang penegakan disiplin aparat pajak (fiskus) untuk mendukung self assessent system, dalam menjalankan sistem tersebut, kerelaan, dan kerjasama WP dalam menjalankan kewajiban perpajakan merupakan suatu hal yang penting. DJP harus menciptakan kepercayaan dan kepatuhan antara fiskus dan WP dalam menjalankan administrasi perpajakan.

Untuk mencapai tujuan tersebut, ada dua cara pendekatan yang dilakukan yaitu pendekatan eksternal dan pendekatan internal. Pendekatan eksternal berhubungan dengan WP seperti pelayanan prima kepada WP, petunjuk, konsultasi, pendidikan kepada WP, dan pelaksanaan dari pemeriksaan serta penagihan pajak yang sesuai dengan peraturan. Pendekatan internal berhubungan dengan aparat pajak yang

(13)

harus bekerja disiplin, memiliki tingkah laku yang baik, bekerja secara efektif, dan memberikan pelayanan kepada WP dengan baik dan ramah.

2.6.3. Sistem Administrasi Perpajakan

Pengertian sistem adalah satu set dari dua atau lebih komponen yang saling terkait yang berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan. Seperti dikatakannya, “A system is a set of two or more components that interact to achieve a goal”. Di dalam sistem terdapat data dan informasi. Informasi adalah data yang telah dikumpulkan dan diproses untuk menyediakan sesuatu yang berguna kepada user. Informasi tersebut digunakan oleh user untuk membuat keputusan atau memperbarui proses pembuat keputusan (Romney dan Steinbart, 2008). Berdasarkan pengertian tersebut, menunjukkan bahwa suatu sistem perpajakan dapat mempunyai kaitan/hubungan dengan keputusan WP dalam memenuhi kewajiban perpajakannya. Sistem administrasi perpajakan yang tepat waktu, lengkap, jelas, tidak ambigu, sederhana, dan mudah dilaksanakan oleh yang berkepentingan membuat kebijakan pajak dapat dilaksanakaan secara efektif.

Seluruh jajaran aparat perpajakan harus ikhlas, berdedikasi, dan profesional memfasilitasi kelancaran implementasi sistem dan mencari solusi atas masalah dan hambatan dalam sistem perpajakan.

Menurut penelitian Widodo (2010) dalam Leonardo (2011), semakin baik aspek-aspek dalam sistem perpajakan yaitu aspek kemudahan memperoleh informasi, tarif pajak, kemudahan proses pelaporan, dan kenyamanan di kantor pajak, maka semakin termotivasi seseorang membayar pajak. Aspek-aspek yang diduga tersebut yang akan dijadikan indikator dalam penelitian ini.

2.6.4. Kesadaran Perpajakan

Pengertian kesadaran seperti yang diungkapkan Poerwadarminta (1987) adalah keadaan tahu, mengerti dan ingat kepada hal yang benar. Sedangkan pengertian kesadaran perpajakan adalah kesadaran, kesungguhan, dan keinginan WP untuk memenuhi kewajiban pajaknya yang ditunjukkan dalam pengertian WP terhadap fungsi pajak dan kesungguhan WP membayar. Kesadaran membayar pajak ini tidak hanya memunculkan sikap patuh, taat, dan disiplin tetapi diikuti

(14)

sikap kritis juga. Semakin maju masyarakat dan pemerintahannya, maka semakin tinggi kesadaran membayar pajaknya. Namun tidak hanya berhenti sampai di situ, justru masyarakat dan pemerintahan semakin kritis dalam menyikapi masalah perpajakan, terutama terhadap materi kebijakan di bidang perpajakannya.

Semakin tinggi tingkat kesadaran dan kepedulian terhadap pajak, semakin tinggi juga masyarakat yang akan membayar pajak. Menurut Pamungkas (2003) dalam Sutanto (2009), WP yang sadar akan kewajiban perpajakannya seharusnya memenuhi sendiri kewajban pajaknya, dimulai dengan mendaftarkan diri sebagai WP, menghitung, memotong, menyetor, dan atau melapor sendiri segala kewajiban pajaknya tanpa melibatkan pihak ketiga (petugas pajak atau fiskus).

Indikator kesadaran perpajakan ditunjukkan dengan kesadaran membayar pajak dan mengetahui fungsi pajak (Novitasari, 2006). Seperti yang telah diketahui, terdapat dua fungsi pajak, yaitu fungsi penerimaan (budgeter), yang berarti pajak berfungsi sebagai sumber dana yang diperuntukkan bagi pembiayaan pengeluaran-pengeluaran pemerintah dan fungsi mengatur (reguler), yang berarti pajak berfungsi sebagai alat untuk mengatur atau melaksanakan kebijakan di bidang sosial dan ekonomi (Waluyo, 2011). Mengetahui fungsi pajak merupakan salah satu wujud kesadaran perpajakan. Faktor kesadaran perpajakan menunjukkan faktor yang penting untuk menentukan kepatuhan WP, menurut Soetrisno yang dikutip oleh Setiyadi dan Amir (2005), bahwa moralitas (kesadaran/kesungguhan) masyarakat membayar pajak tinggi, dapat mempengaruhi kesadaran bernegara (sadar bahwa pajak menjadi tulang punggung negara), maka pemerintah perlu meningkatkan tax morality WP untuk meningkatkan kesadaran perpajakan yang akan membawa WP cenderung patuh sehingga masyarakat merasa bangga apabila dapat membayar pajak.

2.6.5. Lingkungan Wajib Pajak Berada

Lingkungan atau bisa disebut dengan peer group merupakan sebuah kelompok sosial dan kelompok utama (primary) seseorang. Peer group dapat didefinisikan sebagai sekelompok orang yang berbagi kesamaan seperti usia, latar belakang, dan status sosial. Para anggota di dalam kelompok ini cenderung mempengaruhi keyakinan dan perilaku seseorang. Sedangkan Lingkungan WP

(15)

berada adalah keluarga, teman, jaringan sosial dan perdagangan, nilai pelaksanaan pajak yang dihubungkan dan informasi tentang WP, termasuk jumlah nominal dan komposisi penghasilan dan pengeluaran WP, peraturan perpajakan yang diikuti dan syarat biaya sesuai pajak (Novitasari, 2006). Lingkungan yang mempengaruhi seseorang untuk compliance dan non compliance tidak dapat ditinjau hanya dari satu variabel. Lingkungan tersebut dapat mempengaruhi kepatuhan, sedangkan lingkungan itu sendiri dipengaruhi variabel-varabel dalam lingkungannya yang membentuk tipe-tipe lingkungan yang compliance dan non compliance. Tipe-tipe lingkungan yang compliance tersebut yang pada akhirnya membuat WP patuh dapat dijelaskan sebagai berikut (Novitasari, 2006):

1. Lazy compliance, yaitu tipe lingkungan yang berkaitan erat dengan tipe atau komponen perilaku WP sendiri, dengan mengharuskan untuk belajar kerumitan atau perubahan peraturan, formulir yang susah dimengerti.

Pencatatan yang mendetail, permintaan pelaporan penghasilan yang bermacam-macam sehingga banyak orang yang gagal untuk meluangkan waktu dan energi dalam melaporkan pajaknya.

2. Brokered compliance, yaitu tipe lingkungan yang kepatuhan WP yang timbul ketika seseorang mendapat anjuran dari profesional.

3. Social compliance, yaitu kepatuhan seseorang terhadap hukum adalah hasil secara langsung maupun tidak langsung tekanan dan pengharapan orang- orang disekitar dan komunitas.

Lingkungan WP berada dapat ditunjukkan dengan indikator masyarakat atau lingkungan, perekonomian, dan prosedur pelaporan (Novitasari, 2006).

Lingkungan seperti ketergantungan terhadap masyarakat (peer group), prosedur pelaporan yang menyulitkan, dan banyaknya biaya-biaya tambahan untuk mengurus suatu masalah di KPP merupakan contoh lingkungan yang tidak kondusif. Lingkungan yang tidak kondusif tersebut dapat membuat WP tidak patuh dalam melaksanakan kewajiban perpajakannya.

2.6.6. Sikap Fiskus

Salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku kepatuhan WP dalam memenuhi kewajiban perpajakannya adalah sikap pemeriksa pajak. Pada sistem

(16)

perpajakan, fiskus harus efisien dalam melaksanakan peraturan perundang- undangan perpajakan, yaitu tidak menyulitkan baik pemerintah dalam melakukan pemungutan pajak maupun WP dalam melakukan kewajibannya. Kemudahan tersebut dikutip oleh Nurmantu (1987) dalam Syofyan (2003) yaitu ease of administration and compliance yang dibagi menjadi empat persyaratan sebagai berikut:

1. The requirement of clarity, yaitu dalam proses pemungutan pajak terdapat kejelasan mengenai subjek, objek, tarif, dan sebagainya.

2. The requirement of continuity, yaitu menyangkut perlunya kesinambungan kebijakaan, karena peraturan perundang-undangan dapat berubah-ubah.

3. The requirement of economy, yaitu menghendaki agar fiskus dilaksanakan seefisien mungkin karena biaya dan tenaga yang dikorbankan untuk pemungutan pajak harus seimbang.

4. The requirement of convenience, yaitu menghendaki supaya dalam melaksanakan kewajiban perpajakan WP merasa nyaman dan tidak tertekan, atau merasa diburu atas kewajiban membayar pajak.

Menurut Widodo (2010), aspek yang mempengaruhi aparatur pajak yaitu keramahan petugas, kemampuan petugas dalam melayani masalah perpajakan, ketanggapan dan kecepatan petugas dalam melayani permasalahan perpajakan, dan perhatian petugas dalam melayani permasalahan perpajakan. Berdasarkan hal tersebut, Fiskus/petugas pajak berkewajiban melakukan pembinaan, penyuluhan, pengawasan, dan penindakan hukum supaya hak dan kewajiban yang dilaksanakan dengan benar oleh WP atau WP pelaksana pemeriksaan dalam rangka menguji kepatuhan perpajakan.

Sikap fiskus yang mempengaruhi kepatuhan WP ditunjukkan dengan indikator sikap dan profesionalisme (Novitasari, 2006). Sesuai dengan peraturan yang berlaku yaitu UU KUP Pasal 29 ayat (2), bahwa setiap petugas pajak dalam menjalankan tugasnya harus mempunyai sikap jujur, bertanggung jawab, penuh pengertian, objektif, sopan serta wajib menghindarkan diri dari perbuatan tercela.

Banyak WP yang merasa dirugikan dalam menjalankan kewajiban perpajakannya bersama fiskus dalam melakukan pengawasan. Hal ini disebabkan oleh sikap fiskus yang tidak jujur dan tidak bertanggung jawab, sewenang-wenang

(17)

menggunakan peraturan perpajakan untuk mengancam dan menekan WP dengan tujuan menerima imbalan. Hal ini merupakan salah satu penyebab WP tidak patuh dalam menjalankan kewajiban perpajakannya.

2.6.7. Hukum Pajak

Hukum pajak merupakan bagian dari hukum publik. Hukum pajak mengatur hubungan hukum antara negara dan orang-orang atau badan-badan hukum yang mempunyai kewajiban membayar pajak dengan kata lain WP.

Hukum pajak sebenarnya mempunyai ruang lingkup yang luas, tidak hanya menelaah keadaan-keadaaan dalam masyarakat yang dihubungkan dengan pengenaan pajak dan merumuskan serta menafsirkan peraturan hukum dengan memperhatikan ekonomi dan keadaan masyarakat (Waluyo, 2011).

Dalam menerapkan ketentuan UU perpajakan, semua masyarakat menginginkan adanya rasa keadilan dan kepastian hukum pada suatu masalah tindak pidana khususnya tindak pidana di bidang perpajakan. Hukum pajak pada dasarnya dimaksudkan agar masyarakat patuh dan mau melunasi kewajibannya untuk meunasi utang pajaknya dengan baik dan benar. Salah satu upaya yang biasanya dilakukan agar masyarakat dapat mematuhi hukum pajak adalah dengan mencantumkan sanksi pidana dan administrasi dalam UU perpajakan serta upaya sosialisasi dalam tiap kesempatan (Burton, 2002). Sanksi pidana yang diterapkan hanya sekali-sekali tentu merupakan shock therapy untuk mendidik WP dalam memenuhi kewajiban perpajakan yang harapan akhirnya WP akan mengisi dan menyampaikan SPT dengan baik dan benar.

Faktor hukum pajak dapat ditunjukkan dengan indikator adil, equality, daya pikul dan peraturan (Novitasari, 2006). Dalam ilmu hukum, berbicara tentang pelaksanaan keadilan (administration of justice) yang berarti mengatur hubungan-hubungan dan menertibkan kelakuan manusia di dalam dan melalui pengadilan-pengadilan dari masyarakat yang beorganisasi politik, sedangkan menurut peneliti-peneliti tentang filsafat hukum, keadilan itu diartikan sebagai hubungan yang ideal antar manusia. Sudah menjadi watak manusia akan merasa senang apabila diperlakukan secara adil, peraturan perpajakan yang tidak dilaksanakan secara merata terhadap semua WP dapat menyebabkan rasa

(18)

ketidakadilan. Hukum pajak yang tidak adil antara hak dan kewajiban sering digunakan sebagai senjata oleh fiskus untuk menekan WP bernegoisasi. Peraturan pajak yang tidak berorientasi pada asas-asas hukum pajak serta peraturan yang menetapkan tarif yang tidak rasional terhadap pengusaha merupakan beban berat bagi pengusaha juga menyebabkan WP tidak patuh.

2.7. Hipotesis Penelitian

Sebelum menentukan hipotesis penelitian, faktor-faktor yang dijadikan variabel dalam penelitian perlu ditentukan. Terdapat tujuh faktor yang dipilih dari masing-masing hasil penelitian terdahulu. Faktor-faktor hasil penelitian terdahulu mengenai kepatuhan dapat ditunjukkan pada tabel berikut:

Tabel 2.1. Faktor-faktor Hasil Penelitian Terdahulu Mengenai Kepatuhan

Peneliti Hasil penelitian

Theresia (2008)

Faktor pengetahuan teknis perpajakan tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kesediaan membayar pajak dan faktor pengetahuan manfaat pajak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kesediaan membayar pajak.

Novitasari (2006)

Faktor kesadaran perpajakan, sikap rasional, lingkungan WP berada, hukum pajak, dan sikap fiskus yang mempengaruhi kepatuhan WP tidak berpengaruh secara signifikan terhadap pemenuhan kewajiban pajak.

Leonardo (2011)

Terdapat tujuh faktor yang mempengaruhi persepsi WP OP untuk membayar pajak yaitu sistem administrasi perpajakan, kepercayaan pada lembaga negara, internal WP, intelektualitas WP, kompetensi petugas pajak, kenyamanan dalam membayar pajak, dan faktor moralitas

Hartanto (2011)

Terdapat empat faktor yang mempengaruhi perilaku WP terhadap pemeriksaan pajak antara lain faktor lingkungan sosial dan budaya WP, integritas kebangsaan WP, kepercayaan terhadap instrumen (Fiskus dan UU Perpajakan) perpajakan, dan persepsi WP terhadap pengelolaan hasil pajak.

(19)

Pada penelitian ini lebih banyak menggunakan faktor yang merupakan variabel penelitian Novitasari (2006). Alasannya, dari lima variabel bebas yang diteliti, tidak ada satupun yang berpengaruh secara signifikan terhadap pemenuhan kewajiban pajak. Namun, hanya dipilih empat dari lima faktor tersebut yang dijadikan variabel dalam penelitian ini antara lain faktor kesadaran perpajakan, sikap fiskus, lingkungan WP berada, dan hukum pajak. Faktor sikap rasional tidak dijadikan variabel karena dipercaya bahwa WP di KPP Wonocolo tidak terlalu mempertimbangkan untung rugi dalam memenuhi kewajiban pajaknya.

Faktor yang dipilih dari hasil penelitian Hartanto (2011) adalah faktor integritas kebangsaan WP dan faktor kepercayaan terhadap instrumen (Fiskus dan UU Perpajakan). Faktor lingkungan sosial dan budaya tidak dipilih oleh karena adanya kesamaan faktor dalam membahas lingkungan yang merupakan faktor hasil penelitian Novitasari (2006) yaitu faktor lingkungan WP berada. Faktor persepsi WP terhadap pengelolaan hasil pajak juga tidak dipilih karena dalam penelitian ini tidak melihat secara langsung mengenai penerimaan pajak.

Sedangkan faktor yang dipilih dari penelitian Leonardo (2011) hanya satu dari tujuh faktor hasil penelitiannya yaitu faktor sistem administrasi perpajakan.

Faktor sistem adminstrasi perpajakan anmerupakan variabel dengan signifikansi terkecil yang mempengaruhi persepsi WP OP untuk membayar pajak yang merupakan salah satu variabel hasil penelitian Widodo (2010) yang digunakan oleh Leonardo (2011), yaitu dengan signifikansi sebesar 15,19%. Tingkat signifikansi terkecil itulah yang merupakan pendorong untuk diteliti lagi kebenarannya dibanding faktor-faktor lain yang mempunyai tingkat signifikansi lebih tinggi.

Ketiga faktor hasil penelitian Theresia (2008) yang meliputi faktor kepatuhan WP, pengetahuan teknis perpajakan, dan pengetahuan manfaat pajak, tidak dipilih untuk dijadikan variabel dalam penelitian. Hal ini disebabkan karena skala pengukuran yang digunakan dalam instrumen penelitiannya (kuesioner) yaitu skala guttman, tidak sama dengan skala pengukuran yang akan digunakan dalam penelitian ini yaitu skala likert.

(20)

Berdasarkan hal di atas, hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Diduga bahwa ketujuh faktor pilihan yaitu faktor integritas kebangsaan WP, kepercayaan terhadap instrumen (Fiskus dan UU Perpajakan) perpajakan, sistem administrasi perpajakan, kesadaran perpajakan, lingkungan WP berada, sikap fiskus, dan hukum pajak secara simultan berpengaruh terhadap perilaku WP dalam memenuhi kewajiban perpajakannya. Berdasarkan hal tersebut, hipotesis yang dibuat adalah:

H01 = Faktor integritas kebangsaan WP, kepercayaan terhadap instrumen (Fiskus dan UU Perpajakan) perpajakan, sistem administrasi perpajakan, kesadaran perpajakan, lingkungan WP berada, sikap fiskus, dan hukum pajak secara simultan tidak berpengaruh terhadap perilaku WP dalam memenuhi kewajiban perpajakannya.

H11 = Faktor integritas kebangsaan WP, kepercayaan terhadap instrumen (Fiskus dan UU Perpajakan) perpajakan, sistem administrasi perpajakan, kesadaran perpajakan, lingkungan WP berada, sikap fiskus, dan hukum pajak secara simultan berpengaruh terhadap perilaku WP dalam memenuhi kewajiban perpajakannya.

2. Menurut hasil penelitian Hartanto (2011), penentuan faktor integritas kebangsaan sehubungan dengan kepatuhan menggunakan indikator yaitu menjadi WNI yang baik, tanggung jawab sebagai WP, kebanggaan menjadi WNI. Menjadi WNI yang baik dapat ditunjukkan dengan partisipasi warga negara terhadap negaranya yang dapat meningkatkan rasa kebangsaan sehingga wawasan masyarakat dapat bertambah dan menghasilkan pola pikir terbuka yang membuat masyarakat peduli dengan kondisi keuangan negara sehingga membuat masyarakat dapat taat dalam membayar pajak (Leonardo, 2011). Tanggung jawab WP dalam melaporkan sendiri pajak terhutangnya dapat ditunjukkan dengan membayar dan melaporkan SPT yang diisi secara benar, lengkap, jelas, dan ditandatangani. Kebanggaan menjadi WNI yang dimaksud adalah kebanggan nasional sebagai warga negara yang akan mendorong dan memotivasi masyarakat untuk membayar pajak yang mana

(21)

penerimaan pajak bermanfaat untuk membangun dan memperbaiki negaranya. Berdasarkan hal tersebut, hipotesis yang dibuat adalah:

H02 = Faktor integritas kebangsaan WP tidak berpengaruh terhadap perilaku WP dalam memenuhi kewajiban perpajakannya.

H12 = Faktor integritas kebangsaan WP berpengaruh terhadap perilaku WP dalam memenuhi kewajiban perpajakannya.

3. Kepercayaan terhadap instrumen perpajakan adalah kepercayaan terhadap fiskus, yaitu kepercayaan terhadap kinerja fiskus dan kepercayaan terhadap UU perpajakan, yaitu sikap untuk memenuhi UU yang berlaku yang mengatur ketentuan perpajakan (Hartanto, 2011). Sesuai SE-391/PJ/2002 yang mengatur tentang penegakan disiplin fiskus untuk mendukung self assessent system, dalam menjalankan sistem tersebut, kerelaan, dan kerjasama WP dalam menjalankan kewajiban perpajakan merupakan suatu hal yang penting. DJP harus menciptakan kepercayaan dan kepatuhan antara fiskus dan WP dalam menjalankan administrasi perpajakan. Berdasarkan hal tersebut, maka hipotesis yang dibuat adalah:

H03 = Faktor kepercayaan terhadap instrumen (Fiskus dan UU Perpajakan) perpajakan tidak berpengaruh terhadap perilaku WP dalam memenuhi kewajiban perpajakannya.

H13 = Faktor kepercayaan terhadap instrumen (Fiskus dan UU Perpajakan) perpajakan berpengaruh terhadap perilaku WP dalam memenuhi kewajiban perpajakannya.

4. Menurut penelitian Widodo (2010) dalam Leonardo (2011), aspek aspek dalam sistem perpajakan yaitu aspek kemudahan memperoleh informasi, tarif pajak, kemudahan proses pelaporan, dan kenyamanan di kantor pajak.

Semakin baik aspek-aspek dalam sistem perpajakan, maka semakin termotivasi seseorang membayar pajak. Berdasarkan hal tersebut, maka hipotesis yang dibuat adalah:

H04 = Faktor sistem administrasi perpajakan tidak berpengaruh terhadap perilaku WP dalam memenuhi kewajiban perpajakannya.

H14 = Faktor sistem administrasi perpajakan berpengaruh terhadap perilaku WP dalam memenuhi kewajiban perpajakannya.

(22)

5. Indikator kesadaran perpajakan ditunjukkan dengan kesadaran membayar pajak dan mengetahui fungsi pajak (Novitasari, 2006). Terdapat dua fungsi pajak yaitu fungsi Penerimaan (budgeter), yang berarti pajak berfungsi sebagai sumber dana yang diperuntukkan bagi pembiayaan pengeluaran- pengeluaran pemerintah dan fungsi mengatur (reguler), yang berarti pajak berfungsi sebagai alat untuk mengatur atau melaksanakan kebijakan di bidang sosial dan ekonomi (Waluyo, 2011). Mengetahui fungsi pajak merupakan salah satu wujud kesadaran perpajakan. Faktor kesadaran perpajakan menunjukkan faktor yang penting untuk menentukan kepatuhan WP, menurut Soetrisno yang dikutip oleh Setiyadi dan Amir (2005), bahwa moralitas (kesadaran/kesungguhan) masyarakat membayar pajak tinggi, dapat mempengaruhi kesadaran bernegara (sadar bahwa pajak menjadi tulang punggung negara), maka pemerintah perlu meningkatkan tax morality WP untuk meningkatkan kesadaran perpajakan yang akan membawa WP cenderung patuh sehingga masyarakat merasa bangga apabila dapat membayar pajak. Berdasarkan hal tersebut, hipotesis yang dibuat adalah:

H05 = Faktor kesadaran perpajakan tidak berpengaruh terhadap perilaku WP dalam memenuhi kewajiban perpajakannya.

H15 = Faktor kesadaran perpajakan berpengaruh terhadap perilaku WP dalam memenuhi kewajiban perpajakannya.

6. Lingkungan seperti lingkungan bisnis WP berada yang sulit untuk menerapkan peraturan yang berlaku, prosedur yang menyulitkan, dan banyaknya biaya-biaya tambahan untuk mengurus suatu masalah di KPP merupakan contoh lingkungan yang tidak kondusif. Lingkungan yang tidak kondusif tersebut dapat membuat WP tidak patuh dalam melaksanakan kewajiban perpajakannya. Oleh karena itu, lingkungan WP berada dapat ditunjukkan dengan indikator masyarakat atau lingkungan, perekonomian, dan prosedur pelaporan (Novitasari, 2006). Berdasarkan hal tersebut, hipotesis yang dibuat adalah:

H06 = Faktor lingkungan WP berada tidak berpengaruh terhadap perilaku WP dalam memenuhi kewajiban perpajakannya.

(23)

H16 = Faktor lingkungan WP berada berpengaruh terhadap perilaku WP dalam memenuhi kewajiban perpajakannya.

7. Sikap fiskus yang mempengaruhi kepatuhan WP ditunjukkan dengan indikator sikap dan profesionalisme (Novitasari, 2006). Banyak WP yang merasa dirugikan dalam menjalankan kewajiban perpajakannya bersama fiskus dalam melakukan pengawasan. Hal ini disebabkan oleh sikap fiskus yang mencari- cari kesalahan, sewenang-wenang menggunakan peraturan perpajakan untuk mengancam dan menekan WP dengan tujuan menerima imbalan. Masyarakat merasa UU perpajakan tidak adil antara WP dan fiskus, hal ini disebabkan adanya pemeriksaan pajak yang dilakukan walaupun kesalahan WP hanya sedikit, yang menyebabkan pemeriksaan berakhir dengan pengeluaran dana yang lebih besar dari kesalahan itu sendiri. Sebaliknya, jika ada kesalahan pada fiskus dalam memeriksa, tidak ada tindakan nyata dari atasannya. Hal ini merupakan salah satu penyebab WP tidak patuh dalam menjalankan kewajiban perpajakannya. Berdasarkan hal tersebut, hipotesis yang dibuat adalah:

H07 = Faktor sikap fiskus tidak berpengaruh terhadap perilaku WP dalam memenuhi kewajiban perpajakannya.

H17 = Faktor sikap fiskus berpengaruh terhadap perilaku WP dalam memenuhi kewajiban perpajakannya.

8. Faktor hukum pajak dapat ditunjukkan dengan indikator adil, equality, daya pikul dan peraturan (Novitasari, 2006). Sudah menjadi watak manusia akan merasa senang apabila diperlakukan secara adil, peraturan perpajakan yang tidak dilaksanakan secara merata terhadap semua WP dapat menyebabkan rasa ketidakadilan. Hukum pajak yang tidak adil antara hak dan kewajiban sering digunakan sebagai senjata oleh fiskus untuk menekan WP bernegoisasi.

Peraturan pajak yang tidak berorientasi pada asas-asas hukum pajak serta peraturan yang menetapkan tarif yang tidak rasional terhadap pengusaha merupakan beban berat bagi pengusaha juga menyebabkan WP tidak patuh.

Berdasarkan hal tersebut, hipotesis yang dibuat adalah:

H08 = Faktor hukum pajak tidak berpengaruh terhadap perilaku WP dalam memenuhi kewajiban perpajakannya.

(24)

H18 = Faktor hukum pajak berpengaruh terhadap perilaku WP dalam memenuhi kewajiban perpajakannya.

Referensi

Dokumen terkait

Kotler (2003) menyatakan kepuasan pelanggan adalah suatu kondisi yang dirasakan oleh seseorang yang merupakan hasil dari perbandingan antara hasil yang diharapkan atas layanan

Penemuan tersebut sesuai dengan hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Darwis (2012) yang juga menyatakan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara earnings management

Pengukuran kepuasan kerja ini didasarkan atas gambar wajah- wajah orang, mulai dan sangat gembira, gembira, netral, cemberut, dan sangat cemberut.. Karyawan diminta

Sehingga salah satu tujuan dari SIA dalam siklus pendapatan adalah untuk mendukung performance dari aktivitas bisnis perusahaan dengan memproses data transaksi secara efisien,

Di dalam metode harga pokok proses, biaya overhead pabrik terdiri dari biaya produksi selain biaya bahan baku, bahan penolong, dan biaya tenaga kerja (baik yang

Metode Simplified Sequential Search Algorithm-Modified atau SSSA-Mod (Angkasaputra, K. & Sebastiano, F., 2018) adalah suatu metode dari modifikasi metode Simplified

XAMPP adalah perangkat lunak gratis, yang mendukung banyak sistem operasi, merupakan kompilasi dari beberapa program untuk menjalankan fungsinya sebagai server yang

Konsep-konsep tersebut mempunyai kaitan yaitu bahwa kepuasan dan kepercayaan yang terbentuk dari kualitas jasa yang dirasakan akan berpengaruh terhadap loyalitas pelanggan