• Tidak ada hasil yang ditemukan

STRATEGI PRESENTASI DIRI PADA MEDIA SOSIAL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "STRATEGI PRESENTASI DIRI PADA MEDIA SOSIAL"

Copied!
192
0
0

Teks penuh

(1)

(Studi Kualitatif Pada Ibu Rumah Tangga Kelurahan Sidorame Barat II dalam Menggunakan Media Sosial Facebook)

SKRIPSI

Disusun Oleh : Esther Febrina Ritonga

160904010

Public Relations

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI

MEDAN 2020

(2)

i

(Studi Kualitatif Pada Ibu Rumah Tangga Kelurahan Sidorame Barat II dalam Menggunakan Media Sosial Facebook)

SKRIPSI

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Program Strata 1 (S1) pada Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu

Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara

Esther Febrina Ritonga 160904010

Public Relations

PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2020

(3)
(4)
(5)
(6)

v

Segala puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, yang senantiasa memberikan berkat, rahmat dan penyertaan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Strategi Presentasi Diri Pada Media Sosial” (Studi Kualitatif Pada Ibu Rumah Tangga Kelurahan Sidorame Barat II dalam Menggunakan Media Sosial Facebook) dengan lancar dari awal hingga penyelesaian skripsi ini.

Saya juga ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak yang selalu mendukung saya dari awal sampai sekarang dan selalu memberikan kasih sayang yakni kedua orangtua saya, Ev. Ir. Drs. Ferdinand Ritonga,M.Si.,M.Div. dan Elizabeth Simanungkalit, S.Pd. yang sabar menghadapi tingkah laku saya yang kurang berkenan beberapa waktu terakhir. Apapun rencana Tuhan kedepannya atas hidup saya, itu karena doa papi dan mami. Sehat-sehat papi dan mami ya, agar bisa terus mendampingi saya.

Saya juga berterima kasih untuk abang saya Capt. Jonathan Ritonga yang selalu mendukung saya dari segi apapun. Walaupun berjauhan dan salah satu yang tidak memberikan saya izin untuk merantau (meskipun abang ambil sekolah penerbangan di LA yang sangat jauh), namun terima kasih selalu mendoakan dan memfasilitasi perkuliahan saya dengan sangat baik. Tidak pernah ada kekurangan selama perkuliahan karena Abang selalu lapang dada untuk urusan perkuliahan saya. Sehat-sehat Abang ya dan harus semakin semangat berkarier di dunia penerbangan.

Terima kasih untuk semua doa, dukungan, kasih sayang dan kepercayaan yang diberikan kepada saya terlebih dalam pengerjaan skripsi ini. Banyak pihak disekeliling saya yang selalu memberikan perhatian terhadap pendidikan saya.

Saya selalu dikuatkan, diingatkan dan dimotivasi agar perkuliahan saya dapat diselesaikan dengan baik.

(7)

vi

menyelesaikan skripsi ini. Oleh karena itu, saya mengucapkan terima kasih kepada :

1. Bapak Dr. Muryanto Amin, S.Sos., M.Si., selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.

2. Ibu Dra. Dewi Kurniawati, M.Si., Ph.D., Selaku Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi

3. Ibu Emilia Ramadhani, S.Sos., M.A, selaku Sekretaris Program Studi Ilmu Komunikasi

4. Ibu Dra. Dayana, M.Si., selaku dosen pembimbing akademik saya. Terima kasih Ibu sudah menyambut baik saya dari awal masuk perkuliahan, memberikan saran dan masukan semasa perkuliahan saya. Tuhan memberkati ya Ibu.

5. Ibu Dr. Nurbani, M.Si., selaku dosen pembimbing skripsi saya. Terima kasih Ibu, karena telah mengajari saya dengan sabar dan disiplin dari awal mata kuliah yang ibu ajarkan hingga skripsi ini sampai akhirnya saya menyelesaikan skripsi ini. Ibu selalu memberikan saya penerangan, penjelasan, mematangkan berpikir. Ibu memberikan banyak masukan, dukungan serta doa kepada saya untuk dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Walaupun keadaan yang sedang Ibu lalui kurang baik beberapa waktu ini, namun Ibu tetap sabar untuk membimbing saya serta beberapa teman saya lainnya. Terima kasih Ibu.

6. Prof. Lusiana A. Lubis, M.A., Ph.D. selaku ketua penguji ujian komprehensif skripsi saya. Terima kasih Prof, memberikan kritik serta saran serta penyempurnaan skripsi saya. Prof memberikan pemahaman baru, ajakan, serta semangat kepada saya untuk melanjutkan pendidikan ke Magister Komunikasi. Mohon doa dan dukungan dari Prof atas rencana saya tersebut dan kiranya Prof sehat selalu.

7. Bapak dan Ibu dosen yang berada di lingkungan FISIP USU, khususnya dosen Ilmu Komunikasi. Terima kasih atas pengajaran yang telah

(8)

vii

8. Kak Maya dan Kak Yanti yang selalu bersedia membantu dalam hal administrasi di Program Studi Ilmu Komunikasi.

9. Ketujuh informan saya, Inang Yosefin, Kak Martin, Bou Lisa, Kak Cinta, Kak William, Bou Evilidia dan Kak Tio yang sudah meluangkan waktu dan pengalamannya sebagai informan saya dalam penelitian ini dan informan tambahan saya dalam penelitian ini.

10. Kak Kuteng atau Agustina Simanungkalit, S.Pd. yang selalu menjadi teman bertengkar di rumah karena urusan kebersihan rumah. Terima kasih karena sudah mengajarkan saya banyak hal khususnya membereskan rumah, membuat barang-barang rapi seperti barang pribadi, tugas kampus, tugas akhir apapun itu. Terima kasih sudah menjadi kakak yang mengajarkan banyak hal walau saya sangat keras kepala apabila dikasitau.

11. Keluarga saya yang mendoakan saya dimanapun mereka berada, Namboru, Amangboru, Alm. Tulang Dimus, yang dulu paling semangat menanyakan perkuliahan saya, Op. Rahel yang menjadi teman sekos hampir setahun sehingga saya tidak kesepian, nantulang, maktua dan paktua. Begitu juga dengan kakak, abang semua dari pihak Ritonga maupun Simanungkalit yang selalu menemani kami.

12. Goklas yang selalu ada dari sebelum mulai perkuliahan. Terima kasih sudah menemani dari naik hingga turunnya kehidupan, walaupun sangat buruk situasi kemarin, terima kasih selalu ada dan sabar terhadap saya ya.

Terima kasih sudah menjadi abang yang menjagaku dengan baik kapanpun itu dan menjadi teman yang baik yang mengingatkan aku kalau salah dan selalu rendah hati. Goklas yang sedang kuliah Manajemen di Unpri, harus cepat menyusul ya.

13. Iren dan Putri yang awalnya tidak dekat tapi bisa dekat karena DIKLAR IMAJINASI. Terima kasih sudah menemani waktu perkuliahan saya. Saya tau kekurangan saya sangat banyak, tetapi terima kasih sudah menerima dan merangkul saya dengan sangat baik.

(9)

viii

15. Teman-teman yang bisa dekat karena kepanitiaan. Mulai dari Kunmed, Study Tour sampai Pilar tahun 2018 siapapun itu, terima kasih sudah mengisi cerita dalam hidup saya.

16. Teman-teman saya selama perkuliahan Ilmu Komunikasi USU Stambuk 2016. Yang dapat saya sebut namanya dan tidak dapat saya sebut, saya berterima kasih karena teman-teman mau menerima saya dengan baik selama kuliah. Mulai dari kuliah biasa, kerja kelompok, penyuluhan, buat acara dan apapun itu, terima kasih. Semangat bagi kita agar cepat selesai perkuliahan ini yaa.

17. Amang dan Inang Pendeta Purba yang turut mendoakan, ramah dan menyemangati saya dari saya SMA hingga saat ini. Beberapa tahun kelam saya lalui bersama keluarga, terima kasih Amang yang sayang terhadap kami, selalu memberikan doa dan dukungan bagi hidup kami.

18. Anak PP/Remaja GKPI Jemaat Khusus Sidorame, terima kasih sudah menemani selama bertahun-tahun, memberikan pengalaman hidup untuk bisa semakin dewasa. Maaf kalau saya terlalu pemarah yaa. Kalian harus lebih baik.

19. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, namun telah banyak membantu penulis dalam menyelesaikan penelitian ini.

Saya menyadari bahwa tulisan ini jauh dari kesempurnaan, untuk itu dengan segala kerendahan hati saya berharap pembaca dapat memberikan saran dan kritik yang sifatnya membangun utnuk perbaikan skripsi ini serta memperdalam pengetahuan dan pengalaman saya. Semoga skripsi ini membawa manfaat bagi pengembangan ilmu.

Medan, 01 Juli 2020

Esther Febrina Ritonga

(10)
(11)

x ABSTRAK

Penelitian ini berjudul “Strategi Presentasi Diri di Media Sosial”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik kaum ibu rumah tangga di Kelurahan Sidorame Barat II Kota Medan, alasan kaum ibu rumah tangga tersebut menggunakan media sosial Facebook dan untuk mengetahui bagaimana kaum ibu rumah tangga di Kelurahan Sidorame Barat II mempresentasikan diri mereka pada media sosial yang mereka gunakan yakni Facebook. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan paradigma konstruktivisme. Penelitian ini melibatkan tujuh orang informan yaitu perempuan yang sudah berumah tangga di Kelurahan Sidorame Barat II, memiliki anak dan aktif menggunakan media sosial Facebook setiap hari. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh informan mempresentasikan diri mereka secara positif di media sosial dan menyembunyikan sisi negatif dari kehidupan mereka di dunia nyata. Informan sebagian besar juga sangat membutuhkan Facebook dalam kehidupan mereka, sehingga mereka turut melibatkan Facebook dalam aktivitas sehari-hari mereka.

Facebook menjadi alat untuk mempromosikan pekerjaan, kelebihan diri informan dan berkomunikasi. Latar belakang pekerjaan informan yang berbeda-beda, namun kehadiran Facebook penting dalam diri informan. Hal ini diperoleh dari hasil wawancara serta pengamatan di akun media sosial Facebook yang dimiliki setiap informan.

Kata Kunci : Komunikasi, Dramaturgi, Presentasi Diri, Facebook

(12)

xi ABSTRACT

This research is entitled “Self Presentation Strategies on Social Media”. The purpose of this study was to determine the characteristics of housewives in Kelurahan Sidorame Barat II Medan, the reasons for these housewives using social media Facebook and to find out how housewives in Kelurahan Sidorame Barat II presented themselves on social media they use Facebook. The method used is qualitative research method with a constructivist paradigm. This study to involved seven informants, namely woman who were already married in Kelurahan Sidorame Barat II, had children and actively used social media Facebook every day. Data collection techniques used were in-depth interviews.

The results showed that all informants presented themselves positively on social media and hid the negative side of their lives in the real world. Most informants also really need Facebook in their lives, so they also involve Facebook in their daily activities. Facebook becomes a tool to promote work, informant’s strethgs and communicate. The background of the informant’s work is different, but Facebook presence is important in the informants’ life. This was obtained from the results pf interviews and observations on Facebook social media accounts owned by each informant.

Keyword : Communication, Dramaturgi, Self Presentation, Facebook

(13)

xii

HALAMAN JUDUL ...i

LEMBAR PERSETUJUAN ...ii

LEMBAR PENGESAHAN ...iii

LEMBAR PERNYATAAN ORISINALITAS ...iv

KATA PENGANTAR ...v

HALAMAN PERNYATAAN DAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ...ix

ABSTRAK ...x

ABSTRACT ...xi

DAFTAR ISI ...xii

DAFTAR TABEL ...xiv

DAFTAR GAMBAR ...xv

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Konteks Masalah ... 1

1.2. Fokus Masalah ... 11

1.3. Tujuan Penelitian ... 11

1.4. Manfaat Penelitian ... 12

BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1. Perspektif/Paradigma Kajian ... 13

2.2. Kajian Pustaka ... 15

2.2.1. Komunikasi ... 15

2.2.2. Media Baru (New Media) ... 18

2.2.3. Media Sosial ... 21

2.2.4. Facebook ... 23

2.2.5. Kesan ... 24

2.2.6. Dramaturgi ... 25

2.2.7. Presentasi Diri (Self-Presenting) ... 26

2.3. Model Teoretis ... 29

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Metode Penelitian ... 30

3.2. Tempat dan Waktu Penelitian ... 31

3.3. Objek Penelitian ... 31

(14)

xiii

3.6. Teknik Pengumpulan Data ... 33

3.7. Teknik Analisis Data ... 34

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Penelitian ... 39

4.1.1. Proses Penelitian ... 39

4.1.2. Hasil Wawancara ... 47

4.1.2.1. Informan 1 ... 47

4.1.2.2. Informan 2 ... 55

4.1.2.3. Informan 3 ... 63

4.1.2.4. Informan 4 ... 68

4.1.2.5. Informan 5 ... 72

4.1.2.6. Informan 6 ... 78

4.1.2.7. Informan 7 ... 85

4.1.2.8. Informan Tambahan Pertama ... 90

4.1.2.9. Informan Tambahan Kedua ... 94

4.1.3. Karakteristik Ibu Rumah Tangga Kelurahan Sidorame Barat II ... 97

4.1.4. Alasan Menggunakan Media Sosial Facebook ... 100

4.1.5. Presentasi Diri Kaum Ibu Rumah Tangga di Media Sosial Facebook .. 105

4.2. Pembahasan ... 110

BAB V KESIMPULAN 5.1. Simpulan ... 122

5.2. Saran Responden Penelitian ... 122

5.3. Saran dalam Kaitan Akademis ... 123

5.4. Saran dalam Kaitan Praktis... 123

DAFTAR REFERENSI ...124

LAMPIRAN ...128

(15)

xiv

No. Judul Halaman

2.1. Negara Pengguna Facebook Terbesar 25

4.1. Karakteristik Informan 98

4.2. Alasan Menggunakan Media Sosial 101

4.3. Aktivitas di Media Sosial 105

(16)

xv

No. Judul Halaman

1. Gambar 4.1. 112

2. Gambar 4.2. 113

3. Gambar 4.3. 114

4. Gambar 4.4. 116

5. Gambar 4.5. 118

6. Gambar 4.6. 120

7. Gambar 4.7. 121

(17)

1 1.1. Konteks Masalah

Manusia adalah makhluk individu. Konsekuensinya, bahwa ia akan berusaha memenuhi kebutuhan individunya terlebih dahulu (Nurudin, 2014:42). Bagi Abraham Maslow, setidaknya manusia memiliki lima macam kebutuhan, yaitu: kebutuhan fisik biologis, kebutuhan keamanan dan pengembangan karier, kebutuhan diri dan penghargaan, kebutuhan akan pemenuhan dan pencapaian diri dan yang terakhir adalah kebutuhan sosial dan bergabung dengan kelompok. Kebutuhan sosial dan bergabung dengan kelompok ini meliputi kebutuhan untuk diterima, berteman, dicintai, berkumpul dan bergabung dengan orang lain.

Ada hal menarik berkaitan dengan kebutuhan yang dikemukakan Maslow di atas. Satu simpul menarik itu adalah bahwa disamping manusia itu makhluk individu, ia sekaligus makhluk sosial. Bisa dikatakan, seorang manusia akan kelihatan jati diri kemanusiaannya ketika sudah terpenuhi kebutuhan sosialnya. Sebaliknya, ia akan kehilangan jati diri kemanusiannya jika mengasingkan diri dengan manusia lain. Sebab, disana akan dituntut pengorbanan, menghargai orang lain, siap kalah dan juga siap menang dalam kompetisi. Jika manusia tidak berhubungan dengan orang lain (sebagai makhluk sosial) tentu tak ubahnya sebagai binatang berakal yang berjalan.

Sebagai makhluk sosial, manusia senantiasa ingin berhubungan dengan manusia lainnya. Ia ingin mengetahui lingkungan sekitarnya, bahkan ingin mengetahui apa yang terjadi dalam dirinya. Sifat manusia untuk menyampaikan keinginannya dan untuk mengetahui hasrat orang lain, merupakan awal keterampilan manusia berkomunikasi secara otomatis melalui lambang isyarat, kemudian disusul dengan kemampuan untuk memberi arti setiap lambang itu dalam bentuk bahasa verbal.

(18)

Universitas Sumatera Utara

Pada posisi inilah komunikasi menjadi sangat berperan sebagai salah satu manifestasi untuk memenuhi kebutuhan manusia. Melalui komunikasi manusia membangun diri dan lingkungannya. Melalui komunikasi peradaban manusia bisa maju, sebaliknya melalui komunikasi pula peradaban manusia mengalami kemunduran. Hal ini yang menyadarkan kita bahwa komunikasi merupakan sebuah proses yang berlangsung terus menerus (mengalami perkembangan yang berarti) sejalan dengan tingkat perkembangan masyarakat.

Perkembangan teknologi semakin berkembang dari waktu ke waktu.

Teknologi dikembangkan dengan tujuan untuk membantu kelangsungan hidup manusia agar dapat lebih efektif. Berbagai macam bidang teknologi hadir dalam hidup manusia, mulai dari transportasi, hingga bidang komunikasi.

Manusia sebagai makhluk sosial memiliki kebutuhan yang sama yakni berinteraksi dengan satu dengan yang lainnya serta keinginan yang sangat banyak. Kehadiran teknologi ini menjadi salah satu keinginan manusia yang beranjak menjadi kebutuhan hidup manusia.

Teknologi dalam bidang komunikasi melibatkan media yang menjadi sarana bagi setiap orang melakukan proses komunikasi. Media tersebut berbeda-beda karena mewakili pesan yang berbeda-beda. Media juga menciptakan dan mempengaruhi cakupan serta bentuk hubungan-hubungan dan kegiatan-kegiatan manusia. Dalam buku Understanding Media (McLuhan, 2003:8) dikemukakan bahwa teknologi komunikasi memainkan peran penting dalam tatanan sosial dan budaya baru. Media telah memperpendek pandangan, pendengaran dan sentuhan melalui ruang dan waktu (Tamburaka, 2013:71).

Saat ini, media ikut campur tangan dalam kehidupan kita secara lebih cepat daripada yang sudah-sudah dan juga memperpendek jarak diantara bangsa-bangsa. Sebagai sebuah perbandingan perkembangan teknologi dewasa ini; dibutuhkan hampir 100 tahun untuk berevolusi dari telegraf ke teleks, tetapi hanya dibutuhkan 10 tahun sebelum faks menjadi populer. Enam

(19)

Universitas Sumatera Utara

atau tujuh tahun lalu, internet masih merupakan barang baru tetapi mereka- mereka yang tidak tahu menggunakan internet akan dianggap ketinggalan.

Flew (2002:10) mengemukakan bahwa media digital merupakan: “Digital media are forms of media content that combine and integrated data, text, sound and images of all kinds; are stored in digital formats; and are increasingly distributed through network such as based upon broad-band fibre-optic cables, sattelites and microwave transmision systems”. Media digital adalah bentuk dari konten media yang menggabung dan mengintegrasikan data, teks, suara dan berbagai gambar yang tersimpan dalam format digital dan didistribusikan melalui suatu jaringan seperti kabel serat optik, satelit dan sistem transmisi gelombang rendah.

Dalam hubungan komunikasi antara individu keberadaan media baru memberikan perspektif yang baru. McQuail (Tamburaka, 2013:71) juga menunjukkan enam perbedaan antara media lama dan media baru, yaitu (1) media lama konsepnya satu objek berbicara pada banyak orang, sementara media baru bersifat decentralized yang artinya semua memiliki kesempatan berbicara kepada siapapun, (2) media lama adalah one way communication yang memungkinkan adanya feedback dari audience, (3) media lama di bawah kontrol negara, sementara media baru di luar kontrol negara, bahkan bisa dinikmati siapapun yang ada di dunia tanpa batasan negara, (4) media lama memproduksi lapisan sosial sementara media baru adalah memproduksi konsep demokratisasi, (5) media lama memfragmentasi audience sementara media baru meletakkan audience pada posisi yang sama, (6) media lama membentuk kebingungan sosial, sementara media baru berorientasi pada individu.

Media baru menyatukan semua yang dimiliki media lama, jika surat kabar hanya dapat dibaca dalam media kertas, radio hanya dapat didengar, televisi hanya menyatukan audio dan visual. Melalui internet semua itu dapat disatukan baik tulisan, suara dan gambar hidup. Pengguna internet kini dapat membaca tulisan melalui blog, website, dapat mendengar radio melalui radio internet, dapat menonton siaran berita melalui live streaming atau mengunduh

(20)

Universitas Sumatera Utara

atau mendownload video. Dengan kata lain, semua karakteristik khas masing- masing old media dapat disatukan dalam dunia new media.

Salah satu bentuk dari keberadaan new media adalah fenomena munculnya social network (jejaring sosial). Mengapa disebut jejaring sosial oleh karena ternyata aktivitas sosial tidak hanya dapat dilakukan di dalam dunia nyata (real) tetapi juga dapat dilakukan di dunia maya (unreal). Setiap orang dapat menggunakan jejaring sosial sebagai sarana berkomunikasi, membuat status, berkomentar, berbagai foto dan video layaknya ketika kita berada dalam lingkungan sosial. Hanya saja medianya yang berbeda. Ada banyak jejaring sosial, namun yang cukup familiar antara lain: Facebook, Twitter, Instagram dan Whatsapp.

Media sosial adalah aplikasi yang memungkinkan individu untuk berinteraksi dengan individu lain dan membuat jaringan sosial yang akan meningkatkan pendapatan sosial. Media sosial mengajak siapa saja yang tertarik untuk ikut berpartisipasi dengan memberi kontribusi secara terbuka, memberi komentar, serta membagi informasi dalam waktu yang cepat dan tak terbatas, itulah sebabnya banyak orang ingin memiliki media sosial, seperti Facebook, Twitter, Instagram, Path dan media sosial lainnya (Pratiwi, 2017:69).

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh “We Are Social” (2015), dari 225.500.000 penduduk di Indonesia pengguna aktif internet, sebanyak 88.100.000 dengan 79.000.000 pengguna aktif media sosial. Dari data tersebut ditemukan ada sebanyak 47.000.000 akun yang dimiliki oleh kalangan dewasa, sehingga dapat disimpulkan bahwa 60% pengguna media sosial di Indonesia berasal dari kalangan dewasa. Dewasa diartikan sebagai kondisi psikis individu yang berubah di setiap waktu dan pengalaman yang telah dan akan dimiliki dan dialami. Itulah kenapa individu yang telah dianggap dewasa ini dituntut untuk selalu berperilaku dan berpikir secara bijak di rumah, tempat umum, maupun tempat kerja.

(21)

Universitas Sumatera Utara

Survey terbaru yang dilakukan oleh “We Are Social” pada tahun 2019 silam, didapatkan bahwa jumlah pengguna aktif media sosial di Indonesia mencapai ±150.000.000 dan sebesar 80% dari jumlah tersebut merupakan penetrasi dari media sosial Facebook maupun Instagram. Dalam platform berita daring, Kompas.com tanggal 05 Februari 2019, dikatakan berdasarkan hasil survey tersebut, sebanyak ±120.000.000 orang Indonesia merupakan penggunaan aktif media sosial. Khusus untuk media sosial, lima besar di Indonesia diduduki oleh Facebook, Instagram, Twitter, Snapchat dan Linked.

Hal ini menunjukkan bahwa Facebook menduduki peringkat pertama sebagai media sosial yang paling sering ataupun paling banyak yang digunakan di Indonesia.

Kekhawatiran pun tidak dapat dielakkan. Media sosial dikhawatirkan dapat mengganggu kesehatan mental penggunanya. Dalam buku Psychology of Daily Life (Pratiwi, 2017:65) terdapat beberapa hal yang menyebabkan media sosial merusak kesehatan mental penggunanya, seperti: Pertama, membuat individu merasa tak mampu. Maksudnya disini adalah media sosial membuat individu membuat individu selalu ingin memantau kehidupan orang lain. Melihat orang yang lebih sukses darinya akan membuat individu ini merasa tak mampu dan tak berharga yang akhirnya membuat individu ini merasa kurang percaya diri.

Kedua, ketakutan kehilangan interaksi. Pengguna aktif media sosial cenderung ingin selalu mengikuti interaksi pada media sosial yang mereka ikuti. Oleh karenanya, mereka akan selalu ingin membuka akun media sosialnya secara terus menerus agar tak selalu kehilangan atau ketinggalan interaksi dan informasi di dunia maya. Ketiga, terpisah dari dunia nyata.

Pemilik akun media sosial sering kali menggambarkan diri ideal mereka di media sosial. Pengguna juga akan merasa jauh lebih nyaman untuk berinteraksi di media sosial, tetapi jika mereka kembali ke dunia nyata, mereka akan cenderung pendiam dan merasa gelisah.

Keempat, menyebabkan kecanduan. Media sosial merupakan hal yang bersifat adiktif. Pengguna akan selalu ingin memenuhi kebutuhan mereka

(22)

Universitas Sumatera Utara

untuk masuk ke dalam dunia maya. Kelima, takut sendiri. Saat individu menghabiskan sebagian besar waktu untuk media sosial, maka secara otomatis individu ini tak pernah ingin menghabiskan waktunya sendiri. Hal ini dapat membuat seolah-olah dia takut sendirian. Pada akhirnya, teknologi yang seharusnya tercipta untuk membantu manusia, menjadi mempersulit atau me

‘robot’ kan manusia.

Media sosial seperti Instagram juga merupakan media yang populer digunakan untuk membagikan foto-foto. Sekarang ini, mulai dari dewasa hingga anak remaja sudah lebih aktif menggunakan aplikasi ini untuk menampilkan sisi pribadi maupun hobi, atau bisnis dan hal lainnya. Serta contoh media sosial lainnya seperti Whatsapp merupakan media sosial yang menggantikan SMS. Beberapa media yang disebutkan itu merupakan media yang sering digunakan saat ini.

Manusia mengekspresikan dirinya dengan berbagai cara dan ini merupakan salah satu kebutuhan hidup manusia. Bagi perempuan, media sosial juga menjadi salah satu alat untuk mendukung memenuhi kebutuhan mengekspresikan diri. Selain itu, juga dengan menggunakan media sosial, kaum perempuan khususnya ibu rumah tangga dewasa ini dapat melakukan bisnis rumah tangga, dapat mencari informasi baru seperti menu masakan, hingga berinteraksi dengan teman-teman yang sebenarnya jauh.

Beberapa situs berita memaparkan bahwa dengan perkembangan media komunikasi yang sangat pesat, belum seimbang dengan literasi media pada diri pengguna media tersebut. Hal ini mengakibatkan terdapat beberapa dampak positif dan negatif terhadap gaya hidup manusia. Seperti dalam konten Tirto.id dalam bulan April, Juni dan September tahun 2019, orangtua mudah menerima hoax karena tingkat literasi media yang rendah. Juga pemberitaan lainnya seperti di detik.com tanggal 15 September 2018 dikatakan banyak orangtua khususnya kaum perempuan sibuk bermain media sosial, hingga pada beberapa artikel dikatakan anak-anak mereka demo.

(23)

Universitas Sumatera Utara

Kaum perempuan khususnya ibu rumah tangga yang memiliki banyak tugas dan tanggung jawab, memiliki beberapa perubahan gaya hidup dikarenakan media sosial. Media daring tribunnews.com memuat berita tentang seorang ibu yang sudah sangat sibuk bermain media sosial, hingga menelantarkan anaknya serta mengutamakan setiap komentar, respon dari teman-temannya di media sosial daripada mengurus anaknya.

"Kami di sini, kami bersuara karena kalian hanya melihat ponsel kalian," kata anak-anak tersebut menyuarakan protes mereka.

(Sumber Detik.com tanggal 15 September 2018)

Pada media berita CNNindonesia.com dimuat berita Facebook ditinggalkan oleh generasi muda, karena orangtua. Dalam berita yang terbit pada tanggal 17 April 2015, dikatakan bahwa banyak generasi muda menghapus atau menonaktifkan media sosial Facebook mereka, karena merasa risih, terkekang akibat orangtua mereka. Orangtua mereka sangat aktif menggunakan Facebook, bahkan lebih menarik perhatian dalam mengekspresikan diri mereka di media sosial tersebut.

Kegiatan mengekspresikan diri, berkomunikasi, menyebarkan foto-foto, status, merupakan kegiatan rutin yang sering dilakukan oleh kaum perempuan di media sosial. Fenomena ini memiliki sisi positif yakni kaum perempuan sudah mengikuti perkembangan zaman, namun di sisi lain karena fenomena ini membuat perubahan pada sisi emosional, pengelolaan waktu, tugas dan tanggung jawab dari kaum perempuan khusunya ibu rumah tangga.

Selain itu, dalam menggunakan media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, atau Whatsapp, kaum perempuan khususnya ibu rumah tangga sering mengekspresikan segala hal yang mereka lalui. Kegiatan kecil seperti makanan, pakaian, beribadah menjadi objek yang harus diabadikan dan disebarkan oleh para ibu rumah tangga melalui akun media sosial mereka.

Bagi seorang dewasa yang sangat memimpikan untuk menjadi seperti sosok artis tertentu, maka dia akan menata dirinya baik itu pakaian, kata-kata,

(24)

Universitas Sumatera Utara

dan berbagai elemen untuk mencapai figur tersebut. Bagi seorang yang ingin menampilkan diri sebagai seorang profesional muda, maka tentulah dia akan menata dirinya sesuai dengan sosok profesional muda yang dia harapkan.

Singkatnya, hampir semua wadah bisa dipakai oleh setiap individu untuk melakukan penataan terhadap dirinya. Dengan demikian, ketika media sosial hadir, maka media sosial pun bisa digunakan sebagai wadah untuk melakukan penataan diri.

Memodifikasi foto, mengedit foto sebagai tampilan untuk dilihat oleh pengguna lainnya adalah hal yang wajib dilakukan. Aktivitas-aktivitas seperti inilah yang termasuk dalam aktivitas presentasi diri. Setidaknya, perkembangan teknologi memungkinkan pengguna media sosial hanya masih sebatas representasi dirinya, belum sampai pada level seutuhnya yang berada di dalam media sosial.

Aktivitas presentasi diri ini termasuk kedalam berbagai bentuk, yaitu dalam bentuk tampilan gambar, mengupdate kata-kata bijak, tweets bijak atau lucu, menyampaikan kritik, mengkomunikasikan kondisi pribadi, berbagi lokasi atau dengan berbagi foto dengan publik figur dan berbagai cara lainnya.

Fenomena presentasi diri ini menjadi perhatian bagi khalayak ramai, termasuk pakar komunikasi. Berawal dari pemikiran bahwa manusia sebagai aktor yang berada di atas panggung, tentunya semua itu berdasarkan settingan yang sudah ditata sedemikian rupa dengan sebaik-baiknya agar terlihat bagus dimata penonton. Para aktor (pengguna sosial media) akan berhati-hati dalam melakukan aktingnya diatas panggung. Terlihat jelas bahwa media sosial memberikan ruang khusus yang seluas-luasnya kepada pengguna untuk berkreasi sesuai keinginannya, khususnya dalam presentasi diri.

Dramaturgi dapat dikatakan sebagai panggung sandiwara dimana individu berbeda karakternya ketika berada di front stage dan back stage. Dalam tulisan ini media sosial merupakan panggung sandiwara (front stage) yang dijadikan individu sebagai media untuk menampilkan dirinya karena ada pengguna media sosial lainnya yang menonton dirinya. Karena ada yang

(25)

Universitas Sumatera Utara

melihat atau menonton dirinya, individu berusaha semaksimal mungkin menampilkan kebaikan dirinya di media sosial.

Sedangkan ketika individu sedang berada di dunia nyata (back stage), maka yang terlihat adalah realitas dirinya yang sesungguhnya.Banyak pengguna media sosial itu menyebarkan foto untuk membuat kesan positif akan diri mereka bagi teman-teman mereka di media sosial. Hal ini membuat diri mereka sering menjadi suka pamer, agresif dan lebih sensitif dengan setiap respon dari teman-teman mereka di media sosial. Secara umum tujuan mereka mengunggah hal-hal tersebut karena mengharapkan like, komentar dari orang-orang yang melihat unggahan tersebut.

Media sosial juga sering dijadikan tempat orang-orang untuk berkata- kata. Terkadang menjadi bijak, kadang juga mencaci, Melalui akun, seseorang menampakkan dirinya sebagai sosok tertentu, baik yang paling diinginkan maupun yang tidak diinginkan. Tidak jarang, seseorang yang mempunyai lebih dari satu akun, yang bisa jadi masing-masing akun memiliki karakter atau avatar yang berbeda, bahkan saling memusuhkan diri.

Pengalaman peneliti, banyak fenomena dimana orang-orang mengalami masalah atau pertengkaran di media sosial, namun ketika bertemu di dunia nyata, mereka tidak sebrutal atau memiliki emosi yang sama seperti saat bertengkar di media sosial. Fenomena realitas di media sosial ini diibaratkan seperti dramaturgi.

Kecenderungan kaum perempuan khususnya ibu rumah tangga sering mengunggah foto-foto, status di media sosial mereka agar mereka lebih dikenal oleh lingkungan sekitarnya. Padahal pada kenyataannya citra mereka di dunia maya belum tentu sama dengan dunia nyata. Rasa ingin dikenal dan eksis di lingkungan sosial, membuat media sosial ini salah satu aplikasi yang dianggap paling ampuh sebagai ajang pencitraan diri.

Di lingkungan Kelurahan Sidorame Barat II, sering terjadi permasalahan antara individu, maupun keluarga dan dikaitkan ke media sosial. Dalam 3 tahun terakhir, terdapat permasalahan pribadi yang sebenarnya kecil, namun

(26)

Universitas Sumatera Utara

karena dituliskan ke Facebook, permasalahan tersebut menjadi besar.

Beberapa permasalahan yang didapatkan informasinya oleh peneliti selalu melibatkan kaum perempuan di dalamnya. Walaupun ada permasalahan yang dimulai oleh laki-laki, anak-anak maupun ibu rumah tangga, tetapi yang merespon, menyebarkan maupun memperbesar masalah sering dikarenakan respon kaum perempuan yang menggunakan Facebook khususnya ibu rumah tangga.

Tahun 2019 silam, seorang anak sampai diusir keluar dari rumah keluarganya karena dia menghina dan mencaci makin sanak saudaranya di Facebook. Anak tersebut menuliskan beberapa kalimat kebencian dan menggunakan kata-kata yang kurang layak di media sosial, lalu memblokir keluarganya agar tidak dibaca oleh keluarga tersebut. Namun, pihak luar yang membaca status dari anak tersebut memberitahukan keluarga, sehingga akhirnya status tersebut ketahuan dan anak tersebut diusir.

Beberapa tahun sebelumnya juga terdapat pertengkaran antara dua orang ibu karena cincin emas. Mereka saling menuliskan kekesalan mereka karena tuduhan mencuri cincin emas di status Facebook, sampai saling mengancam akan dibawa ke pihak yang berwajib. Hal tersebut dikarenakan ibu yang dituduh ini membuat status menghina ibu yang menuduh, lalu banyak orang luar yang merespon hingga akhirnya semakin banyak komentar dan beritanya meluas.

Sekitar 5 tahun silam juga ada permasalahan yang timbul karena seseorang laki-laki yang kesal dengan orang-orang di tempat kerjanya mengadu di Facebook dan mengungkit masalah keluarga yang terkait tuduhan korupsi. Laki-laki tersebut menuliskan dengan jelas kekesalannya karena merasa dirinya yang jujur diperlakukan tidak baik, sedangkan ada yang jelas- jelas tidak jujur tapi diperlakukan dengan baik. Permasalahan ini sempat berlangsung lama karena keluarga yang terlibat tuduhan korupsi ini sangat tersinggung dengan tulisan tersebut, karena dilibatkan dalam situasi yang tidak ada kaitannya sedikitpun. Pada akhirnya tulisan tersebut dihapus.

(27)

Universitas Sumatera Utara

Lingkungan Sidorame Barat II sudah mengalami permasalahan antara warganya dengan warga luar dalam kurun 5 tahun terakhir. Permasalahan tersebut sering dikarenakan satu individu, atau satu keluarga yang menggunakan media sosial untuk mengadu, hingga akhirnya timbul permasalahan yang diketahui sampai eksternal warga lingkungan Sidorame Barat II. Pengguna aktif media sosial Facebook di Sidorame Barat II juga ditemukan peneliti adalah mayoritas kaum perempuan. Beberapa permasalahan yang diuraikan di atas juga turut melibatkan perempuan yang menggunakan media sosial Facebook.

Berdasarkan fenomena diatas peneliti tertarik untuk mengangkat masalah ini dalam penelitian yang berjudul “STRATEGI PRESENTASI DIRI PADA MEDIA SOSIAL (Studi Kualitatif Pada Ibu Rumah Tangga Kelurahan Sidorame Barat II dalam Menggunakan Media Sosial Facebook)”.

1.2.Fokus Masalah

Dari latar belakang masalah Strategi Presentasi Diri Pada Media Sosial, maka rumusan masalah yang diangkat adalah “Bagaimana strategi presentasi diri kaum ibu rumah tangga di Kelurahan Sidorame Barat II di media sosial?”

1.3. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui bagaimana karakteristik ibu rumah tangga di Kelurahan Sidorame Barat II.

2. Untuk mengetahui mengapa kaum ibu rumah tangga di Kelurahan Sidorame Barat II menggunakan media sosial.

3. Untuk mengetahui bagaimana presentasi diri kaum ibu rumah tangga di Kelurahan Sidorame Barat II di media sosial.

(28)

Universitas Sumatera Utara

1.4.Manfaat Penelitian 1. Secara Akademis

a. Secara akademis penelitian ini diharapkan mampu menambah keilmuan dalam bidang Ilmu Komunikasi khususnya mengenai fenomena sosial yang bersangkutan dengan media sosial dan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan program studi Ilmu Komunikasi.

b. Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan acuan dan referensi untuk penelitian selanjutnya.

2. Secara Praktis

a. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan informasi dan menambah wawasan bagi pembaca baik dari kalangan akademis maupun masyarakat umum tentang dampak media sosial bagi individu.

b. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi kepada pihak-pihak terkait yang membutuhkan.

(29)

13 BAB II

URAIAN TEORITIS

2.1.Perspektif/Paradigma Kajian

Paradigma kajian dapat memiliki defenisi yang berbeda sesuai dengan sudut pandang setiap orang. Beberapa menyatakan bahwa paradigma merupakan suatu citra yang fundamental dari pokok permasalahan suatu ilmu. Paradigma menggariskan apa yang seharusnya dikemukakan dan kaidah-kaidah apa yang seharusnya diikuti dalam menafsirkan jawaban yang diperolehnya. Dengan demikian paradigma diibarat seperti sebuah jendela tempat orang mengamati dunia luar, tempat orang bertolak menjelajahi dunia dengan wawasannya (world view).

Namun, secara umum paradigma dapat diartikan sebagai seperangkat kepercayaan atau keyakinan dasar yang menuntun seseorang dalam bertindak di kehidupan sehari-hari (Salim, 2006: 33).

Menurut Denzin dan Lincoln (1994:107) paradigma dipandang sebagai seperangkat keyakinan-keyakinan dasar (basic believes) yang berhubungan dengan yang pokok atau prinsip. Paradigma adalah representasi yang menggambarkan tentang semesta (world). Sifat alam semesta adalah tempat individu-individu berada di dalamnya dan ada jarak hubungan yang mungkin pada alam semesta dengan bagian-bagiannya.

Paradigma menurut Thoman Kuhn dipergunakan dalam dua arti yang berbeda yakni paradigma berarti keseluruhan konstelasi kepercayaan, nilai, teknik, dan sebagainya yang dimiliki bersama oleh anggota-anggota masyarakat tertentu. Di sisi lain paradigma juga berarti menunjukkan pada sejenis unsur dalam konstelasi itu, pemecahan teka-teki yang konkrit, yang jika digunakan sebagai model atau contoh dapat menggantikan kaidah- kaidah yang eksplisit sebagai dasar bagi pemecahan teka-teki sains yang normal yang masih tertinggal (Kuhn, 2002: 103). Thoman Khun juga menerangkan bahwa perubahan paradigma dapat menyebabkan perbedaan dalam memandang realitas alam semesta. Realitas dikonstruksi oleh mode

(30)

Universitas Sumatera Utara

of thought atau mode of inquiry tertentu, kemudian menghasilkan mode of knowing yang spesifik.

Paradigma konstruktivisme dalam ilmu sosial merupakan kritik terhadap paradigma positivis. Menurut paradigma konstruktivisme, realitas sosial yang diamati oleh seseorang tidak dapat digeneralisasikan pada semua orang yang biasa dilakukan oleh kaum positivis. Paradigma konstruktivisme yang ditelusuri dari pemikiran Weber, menilai perilaku manusia secara fundamental berbeda dengan perilaku alam karena manusia bertindak sebagai agen yang mengonstruksi dalam realitas sosial mereka, baik melalui pemeberian makna maupun pemahaman perilaku dikalangan mereka sendiri.

Kajian paradigma konstruktivisme ini menempatkan posisi peneliti setara dan sebisa mungkin masuk dengan subjeknya, dan berusaha memahami dan mengonstruksikan sesuatu yang menjadi pemahaman si subjek yang akan diteliti. Paradigma konstruktivisme berbasis pada pemikiran umum tentang teori-teori yang dihasilkan oleh peneliti dan teoritisi aliran konstruktivisme. Littlejohn mengatakan bahwa paradigma konstruktivisme berlandaskan pada ide bahwa realitas bukanlah bentukan yang objektif, tetapi dikonstruksi melalui proses interaksi dalam kelompok, masyarakat, dan budaya (Wibowo, 2011: 27).

Paradigma konstruktivisme dapat dijelaskan melalui empat dimensi seperti diutarakan oleh Hidayat (Wibowo, 2011:28) sebagai berikut:

1. Ontologis: relativism, relativitas merupakan konstruksi sosial.

Kebenaran suatu realitas bersifat relatif, berlaku sesuai konteks spesifik yang dinilai relevan oleh pelaku sosial.

2. Epistemologis: transactional/subjectivist, pemahaman tentang suatu realitas atau temuan suatu penelitian merupakan produk interaksi antara peneliti dengan yang diteliti.

3. Aksiologis: Nilai, etika, dan pilihan moral merupakan bagian tak terpisahkan dari suatu penelitian. Peneliti sebagai passionate participant, fasilitator yang menjembatani keragaman subjektivitas pelaku sosial. Tujuan penelitian lebih kepada rekonstruksi realitas

(31)

Universitas Sumatera Utara

sosial secara diakletis antara peneliti dengan pelaku sosial yang diteliti.

Metodologis: menekan empati dan interaksi diakletis antara peneliti dengan responden untuk merekonstruksi realitas yang diteliti, melalui metode-metode kualitatif seperti participant observasion. Kriteria kualitas penelitian authencity dan revlectivty: sejauh mana temuan merupakan refleksi otentik dari realitas yang dihayati oleh para pelaku sosial.

2.2.Kajian Pustaka

Penyajian hasil studi pustaka dilakukan secara kritis dan dialogis.

Kritis berarti dalam penyajian hasil studi pustaka penulis menilai dan memaknai atau menginterpretasikan ide atau argumen atau tesis atau konsep yang dia temukan dari seorang penulis. Dialogis berarti penulis menghubungkan satu gagasan dengan gagasan yang lain dengan menggunakan kata sambung (Afrizal, 2016:122).

Kajian pustaka merupakan acuan atau landasan berpikir peneliti dengan basis pada bahan pustaka yang membahas tentang teori atau hasil penelitian terdahulu yang berkaitan dengan penelitian yang akan dijalankan. Pencarian dan penelusuran kepustakaan atau literatur yang berhubungan dengan masalah penelitian sangat diperlukan. Penelitian tidak dilakukan di ruang kosong dan tidak pula dapat dikerjakan dengan baik, tanpa basis teoritis yang jelas. Penelitian kekinian sesungguhnya menelusuri atau meneruskan peta jalan yang telah dirintis oleh peneliti terdahulu (Iskandar, 2009:100).

Berdasarkan defenisi dan alasan tersebut, peneliti menggunakan teori-teori yang relevan dengan topik permasalahan yang akan diteliti, yakni sebagai berikut:

2.2.1. Komunikasi

Komunikasi adalah prasyarat kehidupan manusia.

Kehidupan manusia akan tampak "hampa" atau tiada kehidupan sama sekali apabila tidak ada komunikasi. Karena tanpa

(32)

Universitas Sumatera Utara

komunikasi, interaksi antarmanusia, baik secara perorangan, kelompok ataupun organisasi tidak mungkin dapat terjadi. Dua orang dikatakan melakukan interaksi apabila masing-masing melakukan aksi dan reaksi. Aksi dan reaksi yang dilakukan manusia ini (baik secara perorangan, kelompok ataupun organisasi), dalam ilmu komunikasi disebut sebagai tindakan komunikasi.

Tindakan komunikasi dapat dilakukan dengan berbagai macam cara, baik secara verbal (dalam bentuk kata-kata baik lisan dan/atau tulisan) ataupun nonverbal (tidak dalam bentuk kata-kata, misalnya gestura, sikap, tingkah laku, gambar, dan berbagai bentuk tanda lainnya yang mengandung arti). Tindakan komunikasi juga dapat dilakukan secara langsung ataupun tidak langsung. Berbicara secara tatap muka, berbicara melalui telepon, mengirim surat biasa atau e-mail (electronic mail) atau fax kepada seseorang, sekelompok orang atau organisasi, adalah contoh-contoh dari tindakan komunikasi langsung. Sedangkan yang termasuk komunikasi tidak langsung adalah tindakan komunikasi yang dilakukan melalui perantara. Perantara tersebut bisa berupa media, seperti surat kabar, majalah, radio, TV, dan lain-lain, atau orang/kelompok/organisasi yang menyampaikan pesan ke pihak yang dituju.

Komunikasi juga merupakan salah satu fungsi vital dari kehidupan manusia. Fungsi komunikasi dalam kehidupan manusia menyangkut banyak aspek. Melalui komunikasi seseorang menyampaikan apa yang ada dalam benak pikirannya dan/atau perasaan hati nuraninya kepada orang lain, baik secara langsung ataupun tidak langsung. Melalui komunikasi seseorang dapat membuat dirinya untuk tidak terasing atau terisolasi dari lingkungan sekitarnya. Melalui komunikasi seseorang dapat mengajarkan atau memberitahukan apa yang diketahuinya kepada orang lain. Melalui komunikasi seseorang dapat mengetahui dan

(33)

Universitas Sumatera Utara

mempelajari mengenai diri orang-orang lain dan berbagai peristiwa yang terjadi di lingkungannya, baik yang dekat maupun yang jauh.

Melalui komunikasi seseorang dapat mengenali dirinya sendiri.

Melalui komunikasi seseorang dapat memperoleh hiburan atau menghibur orang lain. Melalui komunikasi seseorang dapat mengurangi atau menghilangkan perasaan tegang karena berbagai permasalahan yang dihadapinya.

Dengan komunikasi, seseorang dapat mengisi waktu luang.

Melalui komunikasi seseorang dapat menambah pengetahuan dan mengubah sikap serta perilaku kebiasaannya. Melalui komunikasi seseorang juga dapat berusaha untuk membujuk dan/atau memaksa orang lain agar berpendapat, bersikap atau berperilaku sebagaimana yang diharapkan. Singkat kata, komunikasi bukan saja mempunyai banyak kegunaan, tetapi juga merupakan urat nadi kehidupan manusia. Komunikasi merupakan ciri eksistensi kehidupan manusia.

Secara etimologis, komunikasi atau communication dalam bahasa Inggris berakar dari perkataan latin “communis”, yang artinya sama, communico, communication, atau communicare yang berarti membuat sama (to make common), yang dimaksud dengan sama adalah sama makna atau sama arti. (Mulyana, 20015:41).

Komunikasi adalah suatu proses melalui mana seseorang (komunikator) menyampaikan stimulus (biasanya dalam bentuk kata-kata) dengan tujuan mengubah atau membentuk perilaku orang-orang lainnya (khalayak) (Hovland, 1953:3). Definisi dari Hovland, Janis dan Kelley menunjukkan bahwa komunikasi adalah suatu proses yang terjadi antara satu orang dengan orang lainnya.

Definisi ini juga memberikan bahwa kegiatan komunikasi yang dilakukan tersebut mempunyai tujuan, yakni mengubah atau membentuk perilaku orang-orang lainnya yang menjadi sasaran komunikasi.

(34)

Universitas Sumatera Utara

Sementara Harold Lasswel mengatakan bahwa cara yang baik untuk menjelaskan komunikasi ialah Who, Says What, In Which Channel, To Whom, With What Effect. Definisi komunikasi dari Lasswell secara eksplisit dan kronologis menjelaskan tentang lima komponen yang terlibat dalam komunikasi. Yakni siapa (pelaku komunikasi pertama yang punya inisiatif sebagai sumber), mengatakan apa (isi informasi yang disampaikan), kepada siapa (pelaku komunikasi lainnya yang dijadikan sasaran penerima), melalui saluran apa (alat/saluran penyampaian informasi), dengan akibat apa (hasil yang terjadi pada diri penerima). Definisi ini menunjukkan bahwa komunikasi adalah suatu upaya yang disengaja serta mempunyai tujuan.

2.2.2. Media Baru (New Media)

Terdapat beberapa pengertian mengenai media baru salah satunya seperti yang telah dijelaskan dalam bukunya Teori Komunikasi Massa (McQuail, 2011 : 16-17). Ia menamakan media baru sebagai media telematik yang merupakan perangkat teknologi elektronik yang berbeda dengan penggunaan yang berbeda pula.

Perangkat media elektronik baru ini mencakup beberapa sistem teknologi, sistem transmisi (melalui kabel atau satelit), sistem miniaturisasi, sistem penyimpanan dan pencarian informasi. Dan juga sistem penyajian gambar (dengan menggunakan kombinasi teks dan grafik secara lentur, dan sistem pengendalian (oleh komputer).

2.2.3.1. Pengertian Media Baru

Lev Manovich, dalam The New Media Reader (2003:15), mendefinisikan media baru dengan menggunakan 8 (delapan) proposisi, yaitu :

 Media baru vs Cyberculture. Cyberculture adalah berbagai macam fenomena sosial yang diasosiakan dengan internet

(35)

Universitas Sumatera Utara

dan jaringan komunikasi. Sementara itu, media baru menekankan pada objek budaya dan paradigma.

 Media baru adalah teknologi komputer yang dipakai untuk sebuah platform distribusi.

 Media baru adalah data digital yang dikendalikan oleh perangkat lunak tertentu.

 Media baru adalah adalah penyatuan antara konvensi budaya yang telah ada dengan konvensi perangkat lunak.

 Media baru adalah estetika yang telah ada sejak awal tahapan di setiap media baru modern dan teknologi komunikasi.

 Media baru mampu mengeksekusi algoritma lebih cepat dibandingkan dengan sebelumnya yang dilakukan secara manual atau melalui teknologi lain.

 Media baru adalah sebagai metamedia.

 Media baru sebagai artikulasi paralel gagasan serupa dalam seni dan komputasi modern Pasca-Perang Dunia II.

Sementara itu, Martin Lister dkk dalam bukunya New Media: A Critical Introduction (2009 : 13) menyatakan bahwa terminologi media baru mengacu pada perubahan skala besar dalam produksi media, distribusi media dan penggunaan media yang berifat teknologis, tekstual, konvensional dan budaya.

2.2.3.2. Karakteristik Media Baru

Denis McQuail dalam buku Teori Komunikasi Massa menjelaskan media telematik atau media baru tersebut memiliki beberapa ciri utama yaitu :

 Desentraslisasi – Pengadaan dan pemilihan berita tidak lagi sepenuhnya berada di tangan pemasok komunikasi

(36)

Universitas Sumatera Utara

 Kemampuan tinggi – Pengantaran melalui kabel dan satelit.

Pengantaran tersebut mampu mengatasi hambatan komunikasi dikarenakan pemancar lainnya.

 Komunikasi timbal balik (interaktivitas) – Penerima dapat memilih, menukar informasi, menjawab kembali, dan dihubungkan dengan penerima lainnya secara langsung.

 Kelenturan bentuk, isi, dan penggunaan.

Sementara itu, Martin Lister dkk (2009 : 13-14) menyatakan bahwa media baru memiliki beberapa karakteristik, yaitu digital, interaktif, hipertekstual, virtual, jaringan, dan simulasi.

 Digital

Media baru mengacu media yang bersifat digital dimana semua data diproses dan disimpan dalam bentuk angka dan keluarannya disimpan dalam bentuk cakram digital.

Terdapat beberapa implikasi dari digitalisasi media yaitu dematerialisasi atau teks terpisah dari bentuk fisik, tidak memerlukan ruangan yang luas untuk menyimpan data karena data dikompres menjadi ukuran yang lebih kecil, data mudah diakses dengan kecepatan yang tinggi serta mudahnya data dimanipulasi.

 Interaktif

Merupakan kelebihan atau ciri utama dari media baru.

Karakteristik ini memungkinkan pengguna dapat berinteraksi satu sama lain dan memungkinkan pengguna dapat terlibat secara langsung dalam perubahan gambar ataupun teks yang mereka akses.

 Hiperteks

Teks yang mampu menghubungkan dengan teks lain di luar teks yang ada. Hiperteks ini memungkinkan pengguna dapat membaca teks tidak secara berurutan seperti media

(37)

Universitas Sumatera Utara

lama melainkan dapat memulai dari mana pun yang diinginkan.

 Jaringan

Karakteristik ini berkaitan dengan ketersediaan konten berbagi melalui internet. Karakteristik ini melibatkan konsumsi. Sebuah contoh, ketika kita akan mengkonsumsi suatu teks media, maka kita akan memiliki sejumlah besar teks yang sangat berbeda dari yang tersedia dalam berbagai cara.

 Virtual

Karakteristik ini berkaitan dengan upaya mewujudkan sebuah dunia virtual yang diciptakan oleh keterlibatan dalam lingkungan yang dibangun dengan grafis komputer dan video digital.

 Simulasi

Simulasi tidak berbeda jauh dengan virtual. Karakter ini terkait dengan penciptaan dunia buatan yang dilakukan melalui model tertentu.

2.2.3. Media Sosial

Media sosial adalah suatu struktur sosial yang dibentuk dari simpul-simpul yang pada umumnya adalah individu atau organisai yang diikat dengan satu tipe relasi spesifik seperti nilai, visi, ide, teman, komunitas dan lain sebagainya. Media sosial terdiri dari aktivitas yang melibatkan sosialisasi dan jaringan online yang menggunakan kata kata, gambar dan video.

Media sosial menegaskan kembali bagaimana kita berhubungan satu sama lain sebagai manusia dan bagaimana kita sebagai manusia berhubungan dengan organisasi yang melayani kita. Ini semua tentang dialog diskusi dua arah yang membawa orang bersama sama menemukan dan membagikan informasi.

Media sosial kini telah menjadi trend sebagai alat berkomunikasi

(38)

Universitas Sumatera Utara

dan mencari informasi, media sosial adalah aplikasi berbasis internet yang dibangun berdasarkan kerangka pikiran idiologi dan teknologi dari web 2.0, dan memungkinkan terbentuknya berbagai kreasi dan bertukar informasi dari pengguna internet diseluruh dunia.

Secara garis besar medsos bisa dikatakan sebagai sebuah media online, di mana para penggunanya (user) melalui aplikasi berbasis internet dapat berbagi, berpartisipasi, dan menciptakan konten berupa blog, wiki, forum, jejaring sosial, dan ruang dunia virtual yang didukung oleh teknologi multimedia yang kian canggih.

Kaplan dan Haenlein berpendapat bahwa ada enam jenis media sosial, yakni: proyeksi kolaborasi, blog dan microblog, konten, situs jejaring sosial, virtual game world, dan virtual social world. Media sosial adalah fitur berbasis website yang dapat membentuk jaringan dan mampu berinteraksi berbagi informasi, berkolaborasi, serta berbagi pendapat, maupun ajang perkenalan baik dalam bentuk tulisan teks visual maupun audio visual.

Contoh seperti Facebook, Twitter, Instagram dan masih banyak lagi lainnya. Dengan demikian dapat diartikan media sosial merupakan tempat berkumpulnya orang-orang yang ingin berbagi informasi dan tempat untuk mencari teman baru serta berinteraksi dengan teman lainnya secara online. Merebaknya situs media sosial yang muncul banyak memberikan keuntungan bagi masyarakat dari berbagai belahan dunia untuk berinteraksi dengan mudah dan cepat serta efisien tanpa harus dibatasi oleh ruang dan waktu.

Dampak positif yang lain dari adanya situs jejaring sosial adalah percepatan penyebaran informasi. Akan tetapi ada pula dampak negatif dari media sosial, yakni berkurangnya interaksi interpersonal secara langsung atau tatap muka, munculnya kecanduan yang melebihi dosis.

(39)

Universitas Sumatera Utara

2.2.4. Facebook

Aplikasi ini didirikan oleh Mark Zuckerberg bersama beberapa teman kuliahnya di Universitas Harvard, yaitu Eduardo Saverin, Andrew McCollum, Dustin Moskovitz dan Chris Hughes, pada 4 Februari 2004. Pada awalnya, Facebook hanya digunakan untuk kalangan terbatas di lingkungan kampus saja. Namun dengan cepat meluas ke wilayah Boston, Amerika Serikat, hingga mendunia, termasuk Indonesia.

Pengguna Facebook, pada tahun 2012 baru mencapai 1 miliar dan pada tahun 2014 ini sudah mencapai 1,2 miliar pengguna. Situs jejaring sosial ini sampai kini masuk dalam jajaran lima besar yang paling dikenal karena memiliki banyak anggota.

Memasuki tahun 2006, penggunaan Friendster dan MySpace mulai tergeser dengan adanya Facebook. Situs ini dengan corak tampilan yang lebih modern memungkinkan orang untuk berkenalan dan mengakses informasi seluas-luasnya.

Facebook merupakan salah satu layanan jaringan sosial internet yang gratis dimana kita dapat membentuk jaringan dengan mengundang teman kita. Dari jaringan yang kita bentuk, kita dapat memperhatikan aktifitas mereka, mengikuti permainan yang direkomendasikan, menambahkan teman atau jaringan kita berdasarkan organisasi sekolah, daerah domisili kita, dan bisa dibilang fasilitas untuk berteman serta membina kehidupan sosial.

Facebook pun memiliki fitur dan konten yang sangat variatif dan inovatif (termasuk fitur permainan, survey, aplikasi dan lainnya).

Hal ini pula yang menjadikan Facebook banyak diminati orang sehingga menjadi media jejaring sosial.

Facebook merupakan situs media sosial yang paling banyak memiliki pengguna aktif di dunia. Berdasarkan hasil riset yang dihimpun CupoNation pada periode awal 2019, diperoleh peringkat negara dengan pengguna Facebook terbanyak di dunia.

(40)

Universitas Sumatera Utara

Berikut ini negara dengan pengguna Facebook terbanyak,, pada tahun 2019:

No. Negara Jumlah

Pengguna

Persentasi

(dari total populasi)

1. India 290 juta 19,01%

2. Amerika Serikat 190 juta 57,76%

3. Brasil 120 juta 57,06%

4. Indonesia 120 juta 44,94%

Sumber : Gatra.com

2.2.5. Kesan

Kesan secara sederhana merupakan prinsip-pinsip yang mengorganisasi seluruh interaksi sosial adalah pengelolaan identitas sosial yang terkoordinasi atau disebut juga dengan face.

Erving Goffman menggunakan metafora sebuah permainan untuk menjelaskan pandangan tentang pengelolaan kesan. Ia berpendapat bahwa ketika manusia berinteraksi, mereka membentuk dan mengelola face sebagaimana yang ditampilkan oleh para penampil dalam sebuah scene atau panggung.

Karenanya manusia mempersiapkan penampilan mereka di belakang panggung, kemudian membawanya ke atas panggung dengan melakukan manipulasi terhadap berbagai properti dan kostum yang digunakan sesuai dengan peran yang dimainkan. Para penampil lainnya bertindak sebagai khalayak yang mendukung jalannya pertunjukan.

Tidak selamanya suatu pertunjukan berjalan dengan lancar karena itu diperlukan suatu strategi yang dikenal dengan sebutan facework. Terdapat dua macam strategi facework yaitu preventive facework dan corrective facework.

 Preventive facework

Strategi facework yang dirancang untuk mempersiapkan berbagai kemungkinan hilangnya face yang

(41)

Universitas Sumatera Utara

dimiliki atau orang lain. Misalnya, kita menahan diri untuk tidak berbicara ketika berada dalam sebuah rapat untuk menghindari kita mengatakan sesuatu yang dapat mendiskreditkan diri sehingga merusak face kita.

 Corrective facework

Pengelolaan kesan atau impression management merupakan konsep yang secara luas telah digunakan dalam konteks komunikasi interpersonal dan komunikasi organisasi. Sementara itu, face dan facework dikaji dalam konteks komunikasi antar budaya (Littlejohn 2005:507-508).

2.2.6. Dramaturgi

Istilah Dramaturgi kental dengan pengaruh drama atau teater atau pertunjukan fiksi diatas panggung dimana seorang aktor memainkan karakter manusia-manusia yang lain sehingga penonton dapat memperoleh gambaran kehidupan dari tokoh tersebut dan mampu mengikuti alur cerita dari drama yang disajikan Dalam Dramaturgi terdiri dari Front stage (panggung depan) dan Back Stage (panggung belakang).

Front Stage (panggung depan) yaitu bagian pertunjukan yang berfungsi mendefinisikan situasi penyaksi pertunjukan. Front stage dibagi menjadi dua bagian:

Setting yaitu pemandangan fisik yang harus ada jika sang actor memainkan perannya.

Front Personal yaitu berbagai macam perlengkapan sebagai pembahasa perasaan dari sang actor.

Back stage (panggung belakang) yaitu ruang dimana disitulah berjalan scenario pertunjukan oleh “tim” (masyarakat rahasia yang mengatur pementasan masing-masing actor).

(42)

Universitas Sumatera Utara

Dalam teori Dramaturgi menjelaskan bahwa identitas manusia adalah tidak stabil dan merupakan setiap identitas tersebut merupakan bagian kejiwaan psikologi yang mandiri. Identitas manusia bisa saja berubah-ubah tergantung dari interaksi dengan orang lain. Dalam dramaturgi, interaksi sosial dimaknai sama dengan pertunjukan teater. Manusia adalah aktor yang berusaha untuk menggabungkan karakteristik personal dan tujuan kepada orang lain melalui “pertunjukan dramanya sendiri”.

Dalam mencapai tujuannya tersebut, menurut konsep dramaturgi, manusia akan mengembangkan perilaku-perilaku yang mendukung perannya tersebut. Selayaknya pertunjukan drama, seorang aktor drama kehidupan juga harus mempersiapkan kelengkapan pertunjukan.

Dijelaskan oleh Mulyana (2013:38), Goffman menyaksikan bahwa individu dapat menyajikan suatu pertunjukan (show) bagi orang lain, tetapi kesan (impression) yang diperoleh khalayak terhadap pertunjukan itu bisa berbeda-beda.

2.2.7. Presentasi Diri (Self-Presenting)

Istilah presentasi diri dan strategi presentasi diri digunakan oleh Edward Jones dan kawan-kawan untuk menggambarkan konsep pengelolaan kesan. Sebagian besar peneliti berlatar belakang psikologi dan psikologi sosial menaruh minat terhadap pola perilaku yang ditampilkan oleh seorang individu ke publik serta kaitannya dengan motivasi psikologis dibalik penyajian pola perilaku tersebut.

Teori ini mengasumsikan bahwa penampilan seorang individu merupakan sekumpulan perilaku yang koheren selama interaksi yang menyebabkan orang lain memberikan semacam tipe atribusi tentang orang tersebut.

(43)

Universitas Sumatera Utara

Menurut Jones & Pittman terdapat lima strategi presentasi diri yang dilakukan oleh individu maupun kelompok. Strategi tersebut adalah sebagai berikut:

 Mengambil hati (Ingratiation)

Tujuan dari strategi ini adalah supaya dipersepsi sebagai orang yang menyenangkan atau menarik.

Taktik yang umum meliputi sanjungan atau pujian agar disukai yang orang lain, menjadi pendengar yang baik, ramah, melakukan hal-hal yang memberi keuntungan pada orang lain dan menyesuaikan diri dalam sikap dan perilakunya.

 Promosi Diri (Self Promotion)

Strategi ini digunakan ketika tujuan seseorang adalah supaya dilihat tampak kompeten atau ahli pada tugas tertentu. Seseorang yang menggunakan strategi ini akan menggambarkan kekuatan-kekuatan dan berusaha untuk memberi kesan dengan prestasi mereka.

 Pemberian Contoh/Teladan (Exemplification)

Strategi ini digunkan ketika seseorang memproyeksikan penghargaannya pada kejujuran dan moralitas. Biasanya mereka mempresentasikan dirinya sebagai seseorang yang jujur, disiplin, dan baik hati atau dermawan.

 Mengancam atau menakut-nakuti (Intimidation) Strategi ini digunakan untuk menimbulkan rasa takut dan cara memperoleh kekuasaan dengan meyakinkan pada seseorang bahwa seseorang tersebut adalah orang yang berbahaya.Jadi berbeda dengan ingratitatory yang ingin disukai, maka mereka justru ingin ditakuti.

(44)

Universitas Sumatera Utara

 Permohonan (Supplification)

Strategi ini dilakukan dengan cara memperlihatkan kelemahan dan ketergantungan untuk mendapatkan pertolongan atau simpati. Seseorang yang menggunakan strategi ini biasanya melakukan kritik pada diri sendiri.

Meskipun pelaku strategi ini cenderung menerima dukungan dari orang lain, namun mereka akan dipersepsi sebagai individu yang kurang berfungsi.

Menurut Sandra Metts, terdapat 5 (lima) tipe atribusi serta berbagai karakteristik strategi yang menyertainya, yaitu :

 Seorang individu yang ingin disukai akan menggunakan strategi kecerobohan serta beberapa taktik untuk menampilkan emosi positif selama interaksi.

 Seorang individu yang ingin dilihat sebagai seseorang yang kompeten atau memiliki kompetensi tertentu akan menggunakan strategi promosi diri dan beberapa taktik seperti mengatakan kepada lawan bicara tentang berbagai prestasi yang telah dicapai dengan memperlihatkan berbagai penghargaan yang diperoleh kepada publik.

 Seorang individu yang ingin dilihat sebagai seseorang yang layak atau memiliki kepantasan akan menggunakan strategi contoh atau menggunakan contoh-contoh dan beberapa taktik seperti mendemonstrasikan kemampuan yang dimiliki, kompeten, integritas, atau nilai-nilai dibandingkan dengan menyatakannya secara langsung kepada publik.

 Seorang individu yang ingin dilihat sebagai seseorang yang perlu pertolongan akan menggunakan strategi permohonan dan taktik dengan menampilkan kelemahan atau kesedihan untuk memperoleh simpati dan empati orang lain atau menganggap tidak memiliki kecakapan atau pengetahuan atau pengalaman untuk menghindari tanggung jawab melakukan tugas.

(45)

Universitas Sumatera Utara

 Seorang individu yang ingin dilihat sebagai seseorang yang memiliki kekuasaan atau kendali akan menggunakan strategi intimidasi dan taktik seperti menampilkan amarah atau mendemontrasikan keinginan untuk menghukum atau melukai orang lain.

2.3.Model Teoretis

Model Teoretis Penelitian Presentasi Diri Ibu Rumah Tangga Kelurahan Sidorame Barat II di Media Sosial Facebook.

- New Media - Presentasi

Diri

Presentasi diri di

Media Sosial

Facebook oleh Ibu Rumah Tangga Kelurahan Sidorame Barat II

Presentasi Diri Ibu Rumah Tangga di Media Sosial

- Dramaturgi - Strategi Presentasi

Diri di Media Sosial

Referensi

Dokumen terkait

Media sosial sendiri dipahami sebagai jenis baru dalam media baru yang memiliki karakteristik menuntut adanya partisipasi aktif dari penggunanya, ada keterbukaan

Banyakn sekali hal hal yang negative dan positif yang bis akita temukan di dalam media sosial hal tersebut tergantung dari penggunaan kita terhadap media sosial, banyak juga

Objek yang akan diteliti ialah bagaimana proses kreatif yang dilakukan oleh Pined Waerhouse Perigee pada saat membuat sebuah iklan khususnya adalah iklan yang di unggah di

Salah satu pembuka perdebatan baru dalam media sosial sebagai bagian dari pertumbuhan komunikasi industri juga melahirkan bentuk kekerasan baru yang kerap

Media sosial sendiri dipahami sebagai jenis baru dalam media baru yang memiliki karakteristik menuntut adanya partisipasi aktif dari penggunanya, ada keterbukaan

Adapun objek penelitian ini ialah kata, frasa, atau kalimat yang menunjukkan adanya pelanggaran kesantunan positif pada komentar di status media sosial calon

Skenario ke dua kedua Pada hal ini media sosial atau new media atau media baru tetap relevan dengan agenda setting dikarenakan adanya banyaknya pemilihan berita.Sumber informasi yang

Dari hasil penelitian yang diperoleh dari kedua informan bahwa strategi yang dilakukan oleh Khas Parapat dalam memanfaatkan sosial media di era media baru tidak terlepas dari