• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 3 PERENCANAAN PELAT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB 3 PERENCANAAN PELAT"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

22

BAB 3

PERENCANAAN PELAT

3.1. Gambaran Umum

Pelat merupakan struktur bidang (permukaan) yang lurus, (datar atau melengkung) yang tebalnya jauh lebih kecil dibanding dengan dimensi yang lain.

Segi statika, kondisi tepi (boundary condition) Pelat dibagi menjadi : 1. Tumpuan bebas (free)

2. Bertumpu sederhana (simply supported) 3. Jepit

4. Pemakaian

Pembuatan struktur plat lantai harus memperhatikan ukuran ketebalan plat tersebut. Faktor-faktor yang mempengaruhinya antara lain besar lendutan yang diijinkan, lebar bentangan atau jarak antar-balok pendukung, dan bahan material yang digunakan.

3.2. Denah Pelat

Gambar 3.1. Denah Pelat Lantai 2

J’ J’

(2)

Gambar 3.2. Denah Pelat Lantai 3

Gambar 3.3. Denah Pelat Atap

(3)

3.3 Diagram Alur

Metode perencanaan pelat tergambar dalam bagan alir dibawah ini:

Input data

Proses perhitungan

Output

Gambar 3.4. Diagram Alur Hitungan Pelat Mulai

Pelat Atap

Pelat Lantai

dIaiA

Data Desain a) Geometri :

• Lx (bentang pendek pelat)

• Ly (bentang panjang pelat) b) Bahan :

fy (tegangan leleh)

fc (mutu beton)

b (panjang tinjauan)

• p (tebal selimut pelat)

• Ø tul. (diameter tulangan)

Hasil

Penulangan pelat atap dan pelat lantai

Hitungan

a) Cek ketebalan minimum pelat, b) Hitung beban :

• Beban mati (qD)

• Beban hidup (qL)

• Beban ultimate (qU)

c) Hitung momen : Mlx, Mly, Mtx, Mty d) Hitung penulangan :

• Lapangan arah x

• Lapangan arah y

• Tumpuan arah x

• Tumpuan arah y

Selesai

(4)

3.4 Data Perencanaan

Berikut data perencanaan pelat yang terdiri dari pelat atap dan pelat lantai:

a. Pelat atap 1) Geometri :

Lx/Ly = 3000/4000 mm (Pelat D) Tabel 3.1. Geometri Pelat Atap

Tipe Pelat Dimensi

Ly Lx

A 4 3,7

B 4 3,7

C 4 3

D 4 3

E 4 3

F 4 4

G 4 4

H 4 4

I 4 2,25

b. Pelat Kanopi 1) Geometri :

Lx/Ly = 4000/2875 mm (Pelat J) Tabel 3.2. Geometri Pelat Kanopi

c. Pelat lantai 1) Geometri :

Lx/Ly = 4000/4000 mm (Pelat G) Tabel 3.3. Geometri Pelat Lantai

Tipe Pelat Dimensi

Ly Lx

A 4 3,7

B 4 3,7

C 4 3

D 4 3

E 4 3

F 4 3

G 4 4

I 4 4

2) Bahan :

fy = 240 MPa fc = 30 MPa b = 1200 mm p = 20 mm Ø tul. = 10 mm

2) Bahan :

fy = 240 MPa fc = 30 MPa b = 1000 mm p = 20 mm Ø tul. = 10 mm

Tipe Pelat Dimensi

Ly Lx

J & J’ 4 2.875

K 4 3,75

(5)

3.5 Perencanaan Pelat

3.5.1 Pelat Atap

3.5.1.1 Kontrol Tebal Pelat Atap Tipe Pelat D

Ln = 4000 - (300

2 +300

2 ) = 3700 mm Sn = 3000 - (200

2 +200

2 ) = 2800 mm

β = 𝐿𝑛

𝑆𝑛 = 3700

2800 = 1,3 άmin =

1 12 𝑥𝑏𝑥ℎ3 1

12 𝑥𝐿𝑛𝑥𝑡3=

1

12 𝑥300𝑥5003 1

12 𝑥3700𝑥1003 = 10,14

Sesuai SNI 2847:2019 Pasal 8.3.1.2 , Karena άmin > 2, maka : ɦmin1 = 𝐿𝑛 (0,8 +

𝑓𝑦 1400))

36 + 9β = 3700 (0,8 + 1400)240 )

36 + 9x1,4 = 75,05 mm ɦmin2 = 90 mm

Direncanakan tebal pelat rencana = 100 mm > 75,05 mm (OK) > 90 mm (OK) Jadi tebal pelat atap yang digunakan = 100 mm

3.5.1.2 Perhitungan Beban Pelat Atap 1) Beban hidup (qL)

Beban hidup atap gedung = 97,96 kg/m2 2) Beban mati (qD)

Berat pelat sendiri = 0,10 x 2400 = 240 kg/m2 Berat akibat genangan air = 0,1 x 1000 = 100 kg/m2 Berat akibat plafond+penggantung = 18` kg/m2 Berat mekanikal elektrikal = 25 kg/m2

qD = 383 kg/m2 3) Beban ultimate (qU)

Untuk tinjauan lebar 1 m pelat maka : qU = 1,2 qD + 1,6 qL

= 1,2 . 431 + 1,6 . 97,96 = 616,33 kg/m2

(6)

3.5.1.3 Hitungan momen pada pelat atap Tipe pelat D

Tipe pelat D memiliki ukuran dan skema seperti terlihat pada Gambar 3.5.

Gambar 3.5. Pelat Tipe D Skema II

3 1,3 4 Lx Ly = =

Mlx = + 0,001.qu . Lx2 . x = 0.001. 673,93 . (3)2 . 35 = 194,15 kgm Mly = + 0,001.qu . Lx2 . x = 0.001. 673,93 . (3)2 . 18 = 99,85 kgm Mtx = - 0,001.qu . Lx2 . x = - 0.001. 673,93 . (3)2 . 74 = 410,48 kgm Mty = - 0,001.qu . Lx2 . x = - 0.001. 673,93 . (3)2 . 57 = 316,18 kgm Hitungan momen pelat lantai selanjutnya menggunakan program Ms. Excel.

Tabel 3.4. Hitungan Momen Pelat Atap Tipe

Pelat

Dimensi

Ly/Lx X Momen

Ly Lx Mlx Mtx Mly Mty Mlx Mtx Mly Mty

A 4 3,7 1,1 33 77 28 72 278,44 649,70 236,25 607,51 B 4 3,7 1,1 26 65 27 65 219,38 548,45 227,82 548,45 C 4 3 1,3 36 82 28 72 199,69 454,86 155,32 399,38 D 4 3 1,3 35 74 18 57 194,15 410,48 99,85 316,18 E 4 3 1,3 31 69 19 57 171,96 382,74 105,39 316,18 F 4 4 1,0 26 60 21 55 256,40 591,68 207,09 542,37 G 4 4 1,0 21 52 21 52 207,09 512,79 207,09 512,79 H 4 4 1,0 28 68 28 68 276,12 670,57 276,12 670,57 I 4 2,25 1,8 51 106 22 78 159,13 330,74 68,64 243,38 Momen Max 278,44 670,57 276,12 670,57

(7)

3.4.1.4 Penulangan pelat atap

Rencana tinggi efektif dapat dilihat pada Gambar 3.6.

Gambar 3.6. Perencanaan Tinggi Efektif dx = h – p - ½ D

= 120 – 20 – 5 = 95 mm dy = h – p – D - ½ D

= 120 – 20 - 10 - 5 = 85 mm

b = 

 

+ fy fy

fc

600 . 600 . .

85 ,

0 

=

 

+ 240 600 .0,85. 600 240

0,85.30

= 0,0645

max = 0,75 . b

= 0,0484

min = 0,0025 (berlaku untuk pelat)

1) Penulangan lapangan arah x

Mlx = 194,15 kgm = 1941454,286 Nmm Mn =

Mu= 2157171

9 , 0

6 1941454,28

= Nmm

m =

30 . 85 , 0

240 '

. 85 ,

0 =

c f

fy = 9,41

Rn = =

.dx2

b

Mn 1000.

( )

952 = 157171

2 0,383 N/mm2

 = 



 − −

fy Rn m m

. 1 2 1 1.

(8)

= 



 − −

240 0,383 . 41 , 9 . 1 2 1 41. , 9

1

= 0,0016

 < max → tulangan tunggal

 < min, dipakai min = 0,0025 As perlu = × b × dx

= 0,0025 × 1000 × 95 = 187,50 mm2

Digunakan tulangan Ø 10 = ¼ ×  × (10)2 = 78,5 mm2 Jumlah tulangan = 187,50

78,5 = 2,389 ≈ 5 buah Jarak tulangan dalam 1 m1 = 1000

5 = 200 mm

As yang timbul = 5 × ¼ ×  × (10)2 = 392,5 mm2 > 187,5 mm2 (OK) Dipakai tulangan Ø 10 – 200 mm

2) Penulangan lapangan arah y

Mlx = 99,85 kgm = 998462.2041 Nmm Mn =

Mu= 998462.2041

0,9 =1109402 Nmm

m =

30 . 85 , 0

240 '

. 85 ,

0 =

c f

fy = 9,41

Rn = 2 = .dy b

Mn 1109402

1000.(85)2 = 0,263 N/mm2

 = 



 − −

fy Rn m m

. 1 2 1 1.

= 1

9,41. (1 − √1 −2.9,41.0,263

240 )

= 0,00110

 < max → tulangan tunggal

 > min , dipakai min = 0,0025

(9)

As perlu = . b . dy

= 0,0025. 1000 . 85 = 162,5 mm2

Digunakan tulangan Ø 10 = ¼ ×  × (10)2 = 78,5 mm2 Jumlah tulangan = 162,5

78,5 = 2,07 ≈ 5 buah Jarak tulangan dalam 1 m1 = 1000

5 = 200 mm

As yang timbul = 5 × ¼ ×  × (10)2 = 392,5 mm2 > 162,5 mm2 (OK) Dipakai tulangan Ø 10 – 200 mm

3) Penulangan tumpuan arah x

Mtx = 410,48 kgm = 4104789,061 Nmm Mn =

Mu= 4560877

9 , 0

1

4104789,06 = Nmm

m =

30 . 85 , 0

240 '

. 85 ,

0 =

c f

fy = 9,41

Rn = 2 = .dx b

Mn 10004560877.

( )

95 2 = 0,811N/mm2

 = 



 − −

fy Rn m m

. 1 2 1 1.

= 1

9,41. (1 − √1 −2.9,41.0,811

240 )

= 0,00343

 < max → tulangan tunggal

 > min, dipakai  = 0,00343 As perlu = × b × dx

= 0,00343 × 1000 × 95 = 257,54 mm2

Digunakan tulangan Ø 10 = ¼ ×  × (10)2 = 78,5 mm2 Jumlah tulangan = 257,54

78,5 = 3,281 ≈ 5 buah Jarak tulangan dalam 1 m1 = 1000

5 = 200 mm

(10)

As yang timbul = 5 × ¼ ×  × (10)2 = 392,5 mm2 > 257,54 mm2 (OK) Dipakai tulangan Ø 10 – 200 mm

4) Penulangan tumpuan arah y

Mtx = 316,18 kgm = 3161796.98 Nmm Mn =

Mu=3161796.98

0,9 =3513108 Nmm

m =

30 . 85 , 0

240 '

. 85 ,

0 =

c f

fy = 9,41

Rn = 2 = .dy b

Mn 3513108

1000.(85)2 = 0,832 N/mm2

 = 



 − −

fy Rn m m

. 1 2 1 1.

= 1

9,41. (1 − √1 −2.9,41.0,832

240 )

= 0,00325

 < max → tulangan tunggal

 > min, dipakai  = 0,00325 As perlu = . b . dy

= 0,00325. 1000 . 85 = 229,00mm2

Digunakan tulangan Ø 10 = ¼ ×  × (10)2 = 78,5 mm2 Jumlah tulangan = 229

78,5 = 2,92 ≈ 5 buah Jarak tulangan dalam 1 m1 = 1000

5 = 200 mm

As yang timbul = 5 × ¼ ×  × (10)2 = 392,5 mm2 > 229,00mm2 (OK) Dipakai tulangan Ø 10 – 200 mm

(11)

3.5.2 Pelat Kanopi

3.5.2.1 Kontrol Tebal Pelat Kanopi Tipe Pelat J

Ln = 5750 - (300

2 +300

2 ) = 5450 mm Sn = 4000 - (200

2 +200

2 ) = 3800 mm

β = 𝐿𝑛

𝑆𝑛 = 5450

3800 = 1,4 άmin =

1 12 𝑥𝑏𝑥ℎ3 1

12 𝑥𝐿𝑛𝑥𝑡3=

1

12 𝑥300𝑥5003 1

12 𝑥5450𝑥1003 = 6,88

Sesuai SNI 2847:2019 Pasal 8.3.1.2 , Karena άmin > 2, maka : ɦmin1 = 𝐿𝑛 (0,8 +

𝑓𝑦 1400))

36 + 9β = 54500 (0,8 + 1400)240 )

36 + 9x1,5 = 108,25 mm ɦmin2 = 90 mm

Direncanakan tebal pelat rencana = 100 mm dikarenakan tidak ada beban tambahan pada kanopi.

Jadi tebal pelat atap yang digunakan = 100 mm

3.5.2.2 Perhitungan beban pada pelat kanopi 1) Beban hidup (qL)

Beban hidup atap gedung = 97,96 kg/m2 2) Beban mati (qD)

Berat pelat sendiri = 0,10 x 2400 = 240 kg/m2 Berat akibat genangan air = 0,1 x 1000 = 100 kg/m2 Berat akibat plafond+penggantung = 0 kg/m2 Berat mekanikal elektrikal = 0 kg/m2 qD = 340 kg/m2 3) Beban ultimate (qU)

Untuk tinjauan lebar 1 m pelat maka : qU = 1,2 qD + 1,6 qL

= 1,2 . 340 + 1,6 . 97,96 = 564,73 kg/m2

(12)

3.5.2.3 Hitungan momen pada pelat kanopi Tipe pelat K

Tipe pelat K memiliki ukuran dan skema seperti terlihat pada Gambar 3.7.

Gambar 3.7. Pelat Tipe K Skema II

Ly Lx = 4

3.75= 1,1

Mlx = + 0,001.qu . Lx2 . x = 0.001. 564,73 . (3.75)2 . 60 = 476,49 kgm Mly = + 0,001.qu . Lx2 . x = 0.001. 564,73. (3.75)2 . 17 = 135,01 kgm Mtx = - 0,001.qu . Lx2 . x = - 0.001. 564,73. (3.75)2 . 122 = 968,87 kgm Mty = - 0,001.qu . Lx2 . x = - 0.001. 564,73. (3.75)2 . 17 = 135,01 kgm Hitungan momen pelat lantai selanjutnya menggunakan program Ms. Excel.

Tabel 3.5. Hitungan Momen Pelat Kanopi Tipe

Pelat

Dimensi

Ly/Lx X Momen

Ly Lx Mlx Mtx Mly Mty Mlx Mtx Mly Mty

J 4 2.875 1.4 45 98 26 77 210.05 457.45 121.37 359.43 J’ 4 2.875 1.4 36 77 17 58 168.04 359.43 79.35 270.74 K 4 3.75 1.1 33 77 28 72 262.07 611.50 222.36 571.79

Momen Max 262.07 611.50 222.36 571.79

K

375

400

(13)

3.5.2.4 Penulangan pelat atap kanopi

Rencana tinggi efektif dapat dilihat pada Gambar 3.8.

Gambar 3.8. Perencanaan Tinggi Efektif dx = h – p - ½ D

= 120 – 20 – 5 = 75 mm dy = h – p – D - ½ D

= 120 – 20 - 10 - 5 = 65 mm

b = 

 

+ fy fy

fc

600 . 600 . .

85 ,

0 

=

 

+ 240 600 .0,85. 600 240

0,85.30

= 0,0645

max = 0,75 . b

= 0,0484

min = 0,0025 (berlaku untuk pelat)

1) Penulangan lapangan arah x

Mlx = 262,07 kgm = 2620721.939 Nmm Mn =

Mu=2620721.939

0,9 =2911913.265 Nmm

m =

30 . 85 , 0

240 '

. 85 ,

0 =

c f

fy = 9,41

Rn = =

.dx2

b

Mn 2911913.265

1000.(75)2 = 0,518 N/mm2

 = 



 − −

fy Rn m m

. 1 2 1 1.

(14)

= 1

9,41. (1 − √1 −2.9,41.0,518

240 )

= 0,00218

 < max → tulangan tunggal

 < min, dipakai  = 0,0025 As perlu = × b × dx

= 0,0025 × 1000 × 75 = 187,5 mm2

Digunakan tulangan Ø 10 = ¼ ×  × (10)2 = 78,5 mm2 Jumlah tulangan = 187,5

78,5 = 2,39 ≈ 5 buah Jarak tulangan dalam 1 m1 = 1000

5 = 200 mm

As yang timbul = 5 × ¼ ×  × (10)2 = 392,5 mm2 > 187,5 mm2 (OK) Dipakai tulangan Ø 10 – 200 mm

2) Penulangan lapangan arah y

Mlx = 222,36 kgm = 2223642.857 Nmm Mn =

Mu=2223642.857

0,9 =2470714.286 Nmm

m =

30 . 85 , 0

240 '

. 85 ,

0 =

c f

fy = 9,41

Rn = 2 = .dy b

Mn 2470714.286

1000.(65)2 = 0,585 N/mm2

 = 

 

 − −

fy Rn m m

. 1 2 1 1.

= 1

9,41. (1 − √1 −2.9,41.0,585

240 )

= 0,00247

 < max → tulangan tunggal

 > min , dipakai  = 0,0025

(15)

As perlu = . b . dy

= 0,0025. 1000 . 65 = 162,50 mm2

Digunakan tulangan Ø 10 = ¼ ×  × (10)2 = 78,5 mm2 Jumlah tulangan = 162,50

78,5 = 2,07 ≈ 5 buah Jarak tulangan dalam 1 m1 = 1000

5 = 200 mm

As yang timbul = 5 × ¼ ×  × (10)2 = 392,5 mm2 > 162,50 mm2 (OK) Dipakai tulangan Ø 10 – 200 mm

3) Penulangan tumpuan arah x

Mtx = 611,50 kgm = 6115017.857 Nmm Mn =

Mu=6115017.857

0,9 =6794464.286 Nmm

m =

30 . 85 , 0

240 '

. 85 ,

0 =

c f

fy = 9,41

Rn = 2 = .dx b

Mn 6794464.286

1000.(75)2 = 1,208 N/mm2

 = 



 − −

fy Rn m m

. 1 2 1 1.

= 1

9,41. (1 − √1 −2.9,41.1,208

240 )

= 0,00516

 < max → tulangan tunggal

 > min, dipakai  = 0,00516 As perlu = × b × dx

= 0,00516 × 1000 × 75 = 386,86 mm2

Digunakan tulangan Ø 10 = ¼ ×  × (10)2 = 78,5 mm2 Jumlah tulangan = 386,86

78,5 = 4,92 ≈ 5 buah Jarak tulangan dalam 1 m1 = 1000

5 = 200 mm

(16)

As yang timbul = 5 × ¼ ×  × (10)2 = 392,5 mm2 > 386,86mm2 (OK) Dipakai tulangan Ø 10 –150 mm

4) Penulangan tumpuan arah y

Mtx = 571,79 kgm = 5717938.776 Nmm Mn =

Mu=5717938.776

0,9 = 6353265.306 Nmm

m =

30 . 85 , 0

240 '

. 85 ,

0 =

c f

fy = 9,41

Rn = 2 = .dy b

Mn 6353265.306

1000.(65)2 = 1,504 N/mm2

 = 

 

 − −

fy Rn m m

. 1 2 1 1.

= 1

9,41. (1 − √1 −2.9,41.1,504

240 )

= 0,00646

 < max → tulangan tunggal

 > min, dipakai  = 0,00646 As perlu = . b . dy

= 0,00646. 1000 . 65 = 420,03mm2

Digunakan tulangan Ø 10 = ¼ ×  × (10)2 = 78,5 mm2 Jumlah tulangan = 420,03

78,5 = 5,35 ≈ 6 buah Jarak tulangan dalam 1 m1 = 1000

6 = 166,67 mm

As yang timbul = 6 × ¼ ×  × (10)2 = 471 mm2 > 420,03 mm2 (OK) Dipakai tulangan Ø 10 – 150 mm

(17)

3.5.3 Pelat Lantai

3.5.3.1 Kontrol Tebal Pelat Lantai Tipe Pelat G (400 x 400)

Ln = 4000 - (250

2 + 250

2 )

= 3750 Sn = 4000 - (250

2 + 250

2 )

= 3750

𝛽 = 𝐿𝑛

𝑆𝑛

= 3750

3750 = 1 ᾱmin =

1 12 𝑏 ℎ3 1

12 𝐿𝑛 𝑡3 =

1

12 250 5003 1

12 3750 1203 = 4,82

Sesuai SNI 2847:2018 Tabel 8.3.1.2, jika ᾱmin > 2,0 h minimum (mm) diambil terbesar dari

Hmin1 = 3750 (0,8 + 1400240)

36+9 (1) = 80,95 mm Hmin2 = 90 mm

Direncanakan tebal pelat lantai rencana 120 mm > Hmin 2 > Hmin 1 (OK)

3.5.3.2 Perhitungan Beban pada Pelat Lantai 1) Beban hidup (qL)

Berdasarkan PPURG 1987, beban hidup menurut fungsi gedung untuk kantor:

Beban hidup = 250 kg/m2

2) Beban mati (qD ) tiap 1 m2

Berat pelat sendiri = 0,12 m x 2400 kg/m3 = 288 kg/m2 Berat keramik (1 cm) = 0,01 m x 2400 kg/m3 = 24 kg/m2 Berat spesi (2 cm) = 0,02 m x 2100 kg/m3 = 42 kg/m2 Berat plafond & penggantung = 18 kg/m2 Berat mekanikal & elektrikal = 25 kg/m2 + qD = 397 kg/m2

(18)

3) Beban ultimate (qU)

Untuk tinjauan lebar 1 m pelat maka : qU = 1,2 qD + 1,6 qL

= 1,2 . 397 + 1,6 . 250

= 876,4 kg/m2

3.5.3.3 Hitungan momen pada pelat lantai Tipe pelat G

Tipe pelat B memiliki ukuran seperti terlihat pada Gambar 3.9.

Gambar 3.9. Pelat Tipe G Skema III Ly

Lx =4

4= 1,0

Mlx = + 0,001.qu . Lx2 . x = 0.001. 824,67 . (4)2 . 28 = 316,11 kgm Mly = + 0,001.qu . Lx2 . x = 0.001. 824,67 . (4)2 . 28 = 316,11 kgm Mtx = - 0,001.qu . Lx2 . x = - 0.001. 824,67 . (4)2 . 68 = -767,70 kgm Mty = - 0,001.qu . Lx2 . x = - 0.001. 824,67 . (4)2 . 68 = -767,70 kgm Hitungan momen pelat lantai selanjutnya menggunakan program Ms. Excel.

(19)

Tabel 3.6. Hitungan Momen Pelat Lantai Tipe

Pelat

Dimensi

Ly/Lx X Momen

Ly Lx Mlx Mtx Mly Mty Mlx Mtx Mly Mty

A 4 3,7 1,1 33 77 28 72 372,56 869,31 316,11 812,86 B 4 3,7 1,1 26 65 27 65 293,53 733,83 304,82 733,83 C 4 3 1,3 36 82 28 72 406,43 925,76 316,11 812,86 D 4 3 1,3 42 92 27 76 653,47 1431,4 420,09 1182,5 E 4 3 1,3 31 69 19 57 349,98 778,99 214,50 643,51 F 4 3 1,3 35 74 18 57 395,14 835,44 203,22 643,51 G 4 4 1,0 28 68 28 68 316,11 767,70 316,11 767,70 I 4 4 1,0 26 60 21 55 293,53 677,38 237,08 620,93 Momen Max 653,47 1431,4 420,09 1182,5 Dari hitungan momen diambil momen tipE pelat G yaitu:

Mlx = 316,11 kgm Mly = 361,11 kgm

Mtx = -767,7 kgm Mty = -767,7 kgm

3.5.3.4 Penulangan Pelat Lantai dx = h – p – ½ Ø

= 120 – 20 – 5 = 95 mm dy = h – p – Ø – ½ Ø

= 120 – 20 – 10 – ½ . 10 = 85 mm

b = 0,85.𝑓𝑐

𝑓𝑦 . 𝛽. ( 600

600+𝑓𝑦) = 0,85.30

240 .0,85. ( 600

600+240)

= 0,0645

max = 0,75 . b

= 0,0484

min = 0,002 (berlaku untuk pelat)

(20)

1) Penulangan lapangan arah x Mlx = 361,11 kgm = 3,6111.106 Nmm Mn = Mu

𝜑=3,6111.10

6

0,85 = 3,718 .106Nmm

m = 𝑓𝑦

0,85.𝑓′𝑐= 240

0,85.30 = 9,41

Rn = =

.dx2

b

Mn 3,718.106

1000.(95)2= 0,412 N/mm2

 = 1

𝑚. (1 − √1 −2𝑚.𝑅𝑛𝑓𝑦 )

= 1

9,41. (1 − √1 −2 . 9,41 . 0,412

240 )

= 0,00173

Jika  < max → tulangan tunggal

 < min, dipakai min = 0,002 Asperlu = . b . dx

= 0,002. 1000 . 95

= 164,45 mm2

Digunakan tulangan Ø 10 = ¼ .  . (10)2 = 78,54 mm2 Jarak tulangan = 78,54 . 1000

164,45 = mm

Jarak tulangan maksimum = 2 h = 2 . 120 = 240 mm Dipakai tulangan Ø 10 – 200 mm

2) Penulangan lapangan arah y Mlx = 361,11 kgm = 3,6111.106 Nmm Mn = Mu

𝜑=3,6111.10

6

0,85 = 3,718 .106Nmm

m = 𝑓𝑦

0,85.𝑓′𝑐= 240

0,85.30 = 9,41 Rn = 2 =

.dx b

Mn 3,718.106

1000.(95)2= 0,412 N/mm2

(21)

 = 1

𝑚. (1 − √1 −2𝑚.𝑅𝑛𝑓𝑦 )

= 1

9,41. (1 − √1 −2 . 9,41 . 0,412

240 )

= 0,00173

Jika  < max → tulangan tunggal

 < min, dipakai min = 0,002 Asperlu = . b . dx

= 0,002. 1000 . 95

= 164,45 mm2

Digunakan tulangan Ø 10 = ¼ .  . (10)2 = 78,54 mm2 Jarak tulangan = 78,54 . 1000

164,45 = mm

Jarak tulangan maksimum = 2 h = 2 . 120 = 240 mm Dipakai tulangan Ø 10 – 200 mm

3) Penulangan tumpuan arah x Mtx = 767,7 kgm = 7,677 . 106 Nmm Mn = Mu

𝜑=767,7 . 106

0,85 = 9,031 .106Nmm

m = 𝑓𝑦

0,85.𝑓′𝑐= 240

0,85 . 30 = 9,41 Rn = 2 =

.dx b

Mn 9,031 . 106

1000.(95)2 = 1,001 N/mm2

 = 1

𝑚. (1 − √1 −2𝑚.𝑅𝑛𝑓𝑦 )

= 1

9,41. (1 − √1 −2 . 9,41 . 1,001

240 )

= 0,004025

 < max → tulangan tunggal

 > min, dipakai  = 0,004025 As perlu = . b . dx

= 0,004025. 1000 . 95

(22)

= 404,22 mm2

Digunakan tulangan Ø 10 = ¼ .  . (8)2 = 78,54 mm2 Jarak tulangan = 78,54 .1000

404,22 = 194,29 mm Dipakai tulangan Ø 10 – 150 mm

4) Penulangan tumpuan arah y Mtx = 767,7 kgm = 7,677 . 106 Nmm Mn = Mu

𝜑=767,7 . 106

0,85 = 9,031 .106Nmm

m = 𝑓𝑦

0,85.𝑓′𝑐= 240

0,85 . 30 = 9,41

Rn = =

.dx2

b

Mn 9,031 . 106

1000.(95)2 = 1,001 N/mm2

 = 1

𝑚. (1 − √1 −2𝑚.𝑅𝑛𝑓𝑦 )

= 1

9,41. (1 − √1 −2 . 9,41 . 1,001

240 )

= 0,004025

 < max → tulangan tunggal

 > min, dipakai  = 0,004025 As perlu = . b . dx

= 0,004025. 1000 . 95

= 404,22 mm2

Digunakan tulangan Ø 10 = ¼ .  . (8)2 = 78,54 mm2 Jarak tulangan = 78,54 .1000

404,22 = 194,29 mm Dipakai tulangan Ø 10 – 150 mm

(23)

3.7 Rekapitulasi Penulangan Pelat

Berikut rekapitulasi penulangan pelat yang didapat dari hitungan di atas:

Tabel 3.7. Rekapitulasi Penulangan Pelat

Jenis Pelat

Tebal Pelat (mm)

Tipe

Pelat Øtul

Berdasarkan Hitungan (Jarak) Tulangan

Lapangan

Tulangan Tumpuan Arah x Arah y Arah x Arah y

(mm) (mm) (mm) (mm)

ATAP

100 A 10 200 200 125 125

100 B 10 200 200 200 125

100 C 10 200 200 200 200

100 D 10 200 200 200 200

100 E 10 200 200 200 200

100 F 10 200 200 200 125

100 G 10 200 200 200 200

100 H 10 200 200 125 125

100 I 10 200 200 200 200

TULANGAN PAKAI 10 200 200 125 125

KANOPI

100 J 10 200 200 200 200

100 J’ 10 200 200 200 200

100 K 10 200 200 150 200

TULANGAN PAKAI 10 200 200 150 150

LANTAI

120 A 10 200 200 150 150

120 B 10 200 200 150 150

120 C 10 200 200 150 150

120 D 10 200 200 100 100

120 E 10 200 200 150 150

120 F 10 200 200 150 150

120 G 10 200 200 150 150

120 I 10 200 200 150 150

TULANGAN PAKAI 10 200 200 100 100

Referensi

Dokumen terkait

Untuk menyajikan data yang telah disusun dalam distribusi frekuensi menjadi diagram, dibuat 2 sumbu yang saling tegak lurus, sumbu datar untuk kelas interval (tepi bawah dan

` Prinsip kerja pemanas air energi surya jenis pelat datar adalah sebagai berikut : energi surya memanasi kolektor sehingga air dalam pipa kolektor menjadi panas, air yang panas ini

Ukuran Pemusatan : Untuk menyajikan data yang telah disusun dalam distribusi frekuensi menjadi diagram, dibuat 2 sumbu yang saling tegak lurus, sumbu datar untuk kelas interval

Pada atas permukaan pelat precast perlu ditambah toping untuk merekatkan pelat yang satu dengan yang lain.. Pada saat pengecoran toping, perlu ditambah tulangan dan

Pada proses deep drawing setelah Blank Holder dan Punch menempel pada permukaan Blank saat kondisi Blank masih lurus selanjutnya terjadi proses pembengkokan material

Untuk menyajikan data yang telah disusun dalam distribusi frekuensi menjadi diagram, dibuat 2 sumbu yang saling tegak lurus, sumbu datar untuk kelas interval (tepi bawah dan

Untuk menyajikan data yang telah disusun dalam distribusi frekuensi menjadi diagram, dibuat 2 sumbu yang saling tegak lurus, sumbu datar untuk kelas interval (tepi bawah dan

Pelat Perencanaan pelat menghasilkan dimensi penampang beton bertulang yang memiliki tulangan longitudinal untuk menahan gaya lentur pada baja.. Pada penampang kritis antara pertemuan