PT. CARSURIN CABANG MEDAN
TUGAS AKHIR
NURUL MAULIDAH 142401120
PROGRAM STUDI DIPLOMA 3 KIMIA DEPARTEMEN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2017
PENENTUAN KADAR ASAM LEMAK BEBAS (ALB) DAN KADAR AIR (MOISTURE) PADA RBD (REFINED
BLEACHED DEODORIZED) PALM OLEIN PT. CARSURIN CABANG MEDAN
TUGAS AKHIR
Diajukan untuk melengkapi tugas dan memenuhi syarat memperoleh gelar Ahli Madya
NURUL MAULIDAH 142401120
PROGRAM STUDI DIPLOMA 3 KIMIA DEPARTEMEN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2017
PERSETUJUAN
Judul : Penentuan Kadar AsamLemakBebas
(ALB) DanKadar Air (Moisture) Pada RBD (Refined Bleached Deodorized) Palm Olein PT. CARSURINCabang Medan
Kategori : KaryaIlmiah
Nama : NurulMaulidah
NomorIndukMahasiswa : 142401120
Program Studi : D3 Kimia
Departemen : Kimia
Fakultas : Matematika Dan IlmuPengetahuanAlam
UniversitasSumatera Utara Diluluskan di
Medan, Juni 2017
DisetujuiOleh:
Program Studi Diploma 3 Kimia Ketua,
Dr.Ir. MintoSupeno, M.S NIP. 196105091987031002
DosenPembimbing,
Prof. Dr. Harry Agusnar, M.Sc, M.Phil NIP. 195308171983031002
Departemen Kimia FMIPA USU Ketua,
Dr. Cut Fatimah Zuhra, M.Si NIP.197404051999032001
iv
PERNYATAAN
PENENTUAN KADAR ASAM LEMAK BEBAS (ALB) DAN KADAR AIR (MOISTURE) PADA RBD (REFINED BLEACHED
DEODORIZED) PALM OLEIN PT. CARSURIN CABANG MEDAN
KARYA ILMIAH
Saya mengakui bahwa karya ilmiah ini adalah hasil kerja saya sendiri, kecuali beberapa kutipan dan ringkasan yang masing-masing disebutkan sumbernya.
Medan, Juni 2017
NURUL MAULIDAH 142401120
PENGHARGAAN
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayahnya penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah ini pada waktu yang telah ditentukan. Ada pun judul dari kaya ilmiah ini adalah “Penentuan Kadar AsamLemakBebas (ALB) Dan Kadar Air (Moisture) Pada RBD (Refined Bleached Deodorized) Palm Olein PT. CARSURIN Cabang Medan”
Karya ilmiah ini merupakan hasil Praktek Kerja Lapangan di PT. CARSURIN Cabang Medan. Karya ilmiah ini merupakan salah satu persyaratan Akademik mahasiswa untuk memperoleh gelar Ahli Madya untuk program studi D3 Kimia di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara.
Selama penulisan karya ilmiah ini, penulis banyak mendapat dukungan bimbingan, nasehat dan bantuan dari berbagai pihak baik langsung maupun tidak langsung. Dengan terselesaikannya karya ilmiah ini, penulis mengucapkan terimakasih kepada :
Ayah (Anwar,S.E,M.M) dan Ibu (Rohana) yang selalu mendoakan, mengingatkan, memperhatikan, menasehati, serta mendukung penulis baik dari segi material maupun moril. Gelar pertama ini penulis persembah kan untuk kalian berdua yang telah menjadi inspirasi hidup penulis.
1. Kepada ketiga abang M.Arwin, M.Amran, Alfian Indra jaya dan kakak Sry Nanda Ariany yang selalu memberi dukungan dan semangat buat adik nya yang tercantik dan tidak lupa juga untuk seluruh keluarga yang telah memberi semangat dan dukungannya kepada penulis.
2. Prof. Dr. Harry Agusnar, M.Sc, M.Phil selaku Dosen Pembimbing yang telah bersedia memeberikan bimbingan dan arahan serta petunjuk selama menyelesaikan karya ilmiah ini.
3. Dr. Cut Fatimah Zuhra, M.Si selaku Ketua Departemen Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara.
4. Dr.Ir. Minto Supeno, M.S selaku Ketua Program Studi D3 Kimia.
5. Bapak Sabaruddin selaku kepala laboratorium yang telah senantiasa membimbing penulis dalam melaksanakan Praktek Kerja Lapangandi PT.
CARSURIN Cabang Medan.
6. Bapak Rudi Irawan selaku asisten laboratorium yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk membantu penulis selama melakukan Praktek Kerja Lapangan di PT. CARSURIN Cabang Medan.
7. Teman – teman dan sahabat Rini Ramadhani, Riska Sartika, Nurheni Saprina dan Amallia, Shella Anisa yang telah saling membantu dan saling memberi semangat dalam menyelesaikan Praktek Kerja Lapangan.
8. Teman – teman kosan Nanamardiana, Triana Hamidah, Tia The Banana yang telah memberi semangat dalam menyelesaikan karya ilmiah ini.
9. Teman – teman Mahasiswa khususnya D3 Kimia 2014 sukses buat kita semua.
vi
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan karya ilmiah ini masih belums empurna. Oleh karena itu, dengan kerendahan hati penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun yang pada akhirnya dapat digunakan untuk menambah pengetahuan dan manfaat bagi pembaca.
Medan, Juni 2017
Penulis
PENENTUAN KADAR ASAM LEMAK BEBAS (ALB) DAN KADAR AIR (MOISTURE) PADA RBD (REFINED
BLEACHED DEODORIZED) PALM OLEIN PT.
CARSURIN CABANG MEDAN
ABSTRAK
Telah dilakukan percobaan sebanyak 3 kali dengan sampel yang sama, yaitu analisa kadar Asam Lemak Bebas (ALB) atau Free Fatty Acid (FFA) dan analisa kadar air (Moisture) pada produk Refined Bleached Deodorized Palm Olein (RBDPO), dimana RBDPO adalah minyak sawit kasar yang telah melewati proses Refining (pemurnian), Bleaching (pemucatan), Deodorizing (penghilangan bau) dengan metode titrasi. Dan hasil analisa diperoleh kadar asam lemak bebas 0,67%, 0,70%, 0,67% dengan rata-rata 0,68% dan kadar air 0,05%, 0,06%, 0,04% dengan rata-rata 0,05%. Dimana hasil yang diperoleh kadar asam lemak bebas tidak memenuhi standart mutu dari perusahaan sedangkan hasil dari kadar air masih dalam standart mutu yang ditetapkan.
Kata kunci :kadar asam lemakbebas, kadar air, titrasi
viii
DETERMINATION OF FREE FATTY ACID (FFA) AND MOISTURE CONTENT IN RBD (REFINED BLEACHED
DEODORIZED) PALM OLEIN PT. CARSURIN BRANCH MEDAN
ABSTRACT
The experiment has been done 3 times with the same sample, that is the analysis of free fatty acid (FFA) and moisture analysis on Refined Bleached Deodorized Palm Olein (RBDPO) product, where RBDPO is palm oil Crude that has passed the process of Refining, Bleaching, Deodorizing by titration method. And the result of analysis obtained free fatty acid level 0,67%, 0,70%, 0,67% with average 0,68% and water content 0,05%, 0,06%, 0,04% Average 0.05%. Where the results obtained free fatty acid content does not meet the standard quality of the company while the results of the moisture content is still in the standard quality set.
Keywords: free fatty acid content, moisture content, titration
DAFTAR ISI
Halaman
PERSETUJUAN . i
PERYATAAN ... ii
PENGHARGAAN ... iii
ABSTRAK v
ABSTRACT ... vi
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR TABEL ... ix6 ix
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Perumusan Masalah ... 2
1.3. Tujuan ... 3
1.4. Manfaat ... 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 4
2.1. Sejarah Kelapa Sawit ... 4
2.2. Tanaman Kelapa Sawit ... 4
2.3. Varietas Tanaman Kelapa Sawit 5
2.3.1 Pembagian Varietas Berdasarkan ketebalan tempurung dan daging buah 6
2.3.2 Pembagian Varietas Berdasarkan Warna Kulit Buah 7
2.3.3 Varietas Unggul 8
2.4. Komposisi Minyak Kelapa Sawit ... 8
x
2.5. Jenis Produk 9 2.6. Asam Lemak Bebas 11 2.7. Kadar Zat Penguap dan Kotoran ... 129 12 2.8. Standar Mutu Minyak Kelapa Sawit ... 10 13
BAB III BAHAN DAN METODE . 12 15 3.1. Alat ... 12 15 3.2. Bahan 12 15 3.3. Prosedur Percobaan ... 12 15 3.3.1. Penentuan Kadar Asam Lemak Bebas 15 3.3.2.Penentuan Kadar Air (Moisture) 16 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN . 15 18 4.1. Hasil ... 15 18 4.2. Perhitungan ... 2 16 19 4.3. Pembahasan ... 3 17 20 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 18 21 5.1. Kesimpulan ... 18 21 5.2. Saran 2 21 DAFTAR PUSTAKA 22
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 2.1. KomposisiAsamLemakBebasMinyakKelapa
SawitdanMinyakIntiSawit 9
Tabel 2.2. StandartMutuMinyakSawit, MinyakIntiSawit
danMinyak 13
Tabel 4.1.1 Data Pengamatan Kadar AsamLemakBebas (ALB)
Atau Free Fatty Acid (FFA) Pada RBD Palm Oil 18 Tabel 4.1.2 Data Pengamatan Kadar Air (Moisture) Pada RBD
Palm Oil 18
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Produk olahan minyak sawit mentah (CPO) yang di peroleh dari pabrik kelapa sawit (PKS) belum dapat langsung di gunakan sebagai konsumsi masyarakat.
Minyak sawit mentah masih membutuhkan pengolahan lebih lanjut untuk mendapatkan minyak goring atau margarin. Kedua produk ini sudah digunakan secara luas di tengah masyarakat Indonesia dan telah menggeser posisi minyak kelapa dan mentega. (Sibuea,2014)
Pemanfaatan kelapa sawit yang paling banyak adalah untuk CPO dan PKO. Namun, belakangan penggunaan kelapa sawit juga sudah mulai mengarah pada biodiesel. Minyak yang berasal dari kelapa sawit ada dua macam, yaitu dari daging buah (mesocarp) yang dikeluarkan melalui perebusan dan pemerasan (pressan) yang dikenal sebagai minyak kasar atau crude palm oil (CPO) serta minyak yang berasal dari inti kelapa sawit yang dikenal sebagai minyak inti sawit atau palm kernel oil (PKO). Sebagai hasil sampingan PKO adalah bungkil inti kelapa sawit (palm kernel meal atau pellet). Bungkil inti kelapa sawit adalah inti kelapa sawit yang telah mengalami proses ekstraksi dan pengeringan.
Produk-produk yang dapat dihasilkan dari minyak sawit sangat luas dengan intensitas modal dan teknologi yang bervariasi. Produksi CPO Indonesia yang diolah di dalam negeri sebagian besar masih dalam bentuk produk, seperti RBD palm oil, stearin dan olein yang nilai tambahnya tidak begitu besar. Hanya
sebagian kecil yang diolah menjadi produk-produk oleokimia dengan nilai tambah yang cukup tinggi. (Pardamean, 2011)
Minyak kelapa sawit (RBD) yang dibuat dari kopra bisa sama jernih dan sama putihnya dengan VCO, kadang-kadang sulit membedakannya dengan hanyamelihatnya sekilas. Salah satu perbedaan utama antara VCO dan minyak kelapa RBD adalah dalam hal bau (scent) dan rasa (taste). Semua produk VCO mempertahankan bau dan rasa kelapa segar, sedangkan minyak kelapa yang berasal dari kopra tidak tidak berasa akibat proses pemurnian. Minyak kelapa RBD terasa hambar, sedangkan vco mempunyai rasa dan aroma yang cukup enak karena masih mengandung zat-zat fitonutrien alami dari kelapa. (Syah, 2005)
minyak sawit yang akan diekspor harus memenuhi beberapa persyaratan yang telah ditetapkan, terutama kadar asam lemak bebas (ALB) atau free fatty acid (FFA) harus dipertahankan sekitar 2%. selain itu, kandungan air dan bahan kontaminan lainnya tidak lebih dari 0,1 % dan 0,3 %. (Sunarko, 2007)
Factor - faktor yang mempengaruhi mutu minyak inti kelapa sawit adalah air, kotoran, asam lemak bebas, bilangan peroksida, factor- factor lain adalah kandungan logam berat. Semua factor ini perlu dianalisis untuk mengetahui mutu minyak inti kelapa sawit. (Ketaren, 1986)
1.2. Perumusan Masalah
Pada proses minyak produk Refined Bleached Deodorized (RBD) Palm Olein diperlukan parameter-parameter untuk menganalisa prroduk RBD Palm Olein sesuai dengan standar yang ditetapkan. Untuk itu perlu dilakukan pengamatan dan
3
analisa untuk mengetahui apakah penentuan asam lemak bebas dan kadar air pada roduk RBD Palm Olein sesuai dengan standart yang telah ditetapkan perusahaan.
1.3. Tujuan
Tujuan penulisan karya ilmiah ini adaah:
1. Untuk mengetahui kadar analisa asam lemak bebas (ALB) pada produk RBD (Refined Bleached Deodorized) palm olein di Laboratorium PT.
CARSURIN cabang Medan.
2. Untuk mengetahui kadar air (Moisture) pada produk RBD (Refined Bleached Deodorized) palm olein di Laboratorium PT. CARSURIN cabang Medan.
1.4. Manfaat
Untuk mengetahui kadar analisa asam lemak bebas (ALB) dan kadar air (Moisture) pada produk RBD (Refined Bleached Deodorized) palm olein di Laboratorium PT. Carsurin cabang Medan yang sesuai dengan standard mutu yang ditetapkan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Sejarah Kelapa Sawit
Tanaman kelapa sawit (Eleasis guineensis jack) pertama kali diperkenalkan di Indonesia oleh pemerintah colonial Belanda pada tahun 1848. Tanaman kelapa sawit mulai diusahakan dan dibudidayakan secara komersial pada tahun 1911.
Perintis usaha perkebunan kelapa sawit di Indonesia adalah Adrien Haller, seorang berkebangsaan Belgia yang telah belajar banyak tentang kelapa sawit di Afrika. Budidaya yang dilakukan oleh K. Schadt yang menandai lahirnya perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Perkebunan kelapa sawit pertama berlokasi di pantai Timur Samudera (Deli) dan Aceh. Indonesia mulai mengekspor minyak sawit pada tahun 1919 sebesar 576 ton ke Negara-negara Eropa, kemudian tahun 1923 mulai mengekspor minyak inti sawit sebesar 850 ton. (Fauzi, 2012)
2.2. Tanaman Kelapa Sawit
Tanaman kelapa sawit (Eleaeis quineensis jack) merupakan tumbuhan tropis golongan palma yang termasuk tanaman tahunan. E. guguineensis dan E. oleifera merupakan dua jenis kelapa jenis yang pertama kali dibudidayakan sebagai tanaman komersial. Kelapa sawit dapat tumbuh dengan baik di daerah tropis pada 15OLU – 15OLS dan tumbuh sempurna di ketinggian 0-500 m dari permukaan laut dengan kelembapan 80-90%.
Tanaman kelapa sawit tingginya dapat mencapai 24 meter, tanaman kelapa sawit memiliki akar serabut yang mengarah kebawah dan kesamping. Selain itu
5
mendapatkan tambahan aerasi. Seperti tanaman palma lainnya, daun kelapa sawit tersusun majemuk menyirip. Daunnya berwarna hijau tua dan pelepahnya berwarna sedikit lebih muda. Tanaman kelapa sawit memiliki bunga jantan dan bunga betina yang terpisah namun berada pada satu pohon (monoecious diclin) dan memiliki waktu pematangan berbeda sehingga sangat jarang terjadi penyerbukan sendiri. Bunga jantan memiliki bentuk lancip dan panjang sementara bunga betina terlihat lebih besar dan mekar. (Sibuea, 2014)
Kelapa sawit biasanya mulai berbuah pada umur 3-4 tahun dan buahnya menjadi masak 5-6 bulan setelah penyerbukan. Proses pemasakan buah kelapa sawit dapat dilihat dari perubahan warna kulit buahnya, dari hijau pada buah muda menjadi merah jingga waktu buah telah masak. Pada saat itu, kandungan minyak pada daging buahnya telah maksimal. Jika terlalu matang, buah kelapa sawit akan lepas dari tangkai tandannya. Hal ini disebut dengan istilah membrondol. (Tim penulis, 2000)
2.3. Varietas Tanaman Kelapa Sawit
Varietas tanaman kelapa sawit cukup banyak yang sudah dikenal. Jenis varietasnya dapat dibedakan berdasarkan tebal tempurung dan daging buah, atau berdasarkan warna kulit buahnya. Variestas unggul mempunyai beberapa keistimewaan, antara lain mampu menghasilkan produksi yang lebih baik dibandingkan dengan varietas lain. (Sibuea, 2014)
2.3.1 Pembagian Varietas Berdasarkan Ketebalan Tempurung dan Daging Buah
Berdasarkan ketebalan tempurung dan daging buah, dikenal lima varietas kelapa sawit, yaitu :
1.Dura
Tempurung cukup tebal antara 2 - 8 mm dan tidak terdapat lingkaran sabut pada bagian luar tempurung. Daging buah relatif tipis dengan persentase daging buah terhadap buah bervariasi antara 35 – 50%. Kernel (daging biji) biasanya besar dengan kandungan minyak yang rendah.
2.Pisifera
Ketebalan tempurung sangat tipis, bahkan hampir tidak ada, tetapi daging buahnya tebal. Persentase daging buah terhadap buah cukup tinggi, sedangkan daging biji sangat tipis. Jenis Pisifera tidak dapat diperbanyak tanpa menyilangkan dengan jenis yang lain. Varietas ini dikenal sebagai tanaman betina yang steril sebab bunga betina gugur pada fase dini. Oleh sebab itu, dalam persilangan dipakai sebagai pohon induk jantan. Pemyerbukan silang antara Pisifera dengan Dura akan menghasilkan varietas Tenera.
3.Tenera
Varietas ini mempunyai sifat-sifat yang berasal dari kedua induknya, yaitu Dura dan Pisifera. Tempurung sudah menipis, ketebalannya berkisar antara 0,5 – 4 mm dan terdapat lingkaran serabut di sekelilingnya. Persentase daging buah
7
terdapat buah tinggi, anatar 60 – 96%. Tandan buah yang dihasilkan oleh Tenera lebih banyak daaripada Dura, tetapi ukuran tandannya relatif lebih kecil.
4. Macro carya
Tempurung sangat tebal, sekitar 5 mm, sedang daging buahnya tipis sekali.
5. Diwikka-wakka
Varietas ini mempunyai ciri khas dengan adnya dua lapisan daging buah.
Diwikka-wakka dapat dibedakan menjadi diwikka-wakkadura, diwikka- wakkapisifera, dan diwikka-wakkatenera.
2.3.2 Pembagian Varietas Berdasarkan Warna Kulit Buah
Ada 3 varietas kelapa sawit yang terkenal berdasarkan perbedaan warna kulitnya.
Varietas-varietas tersebut adalah : 1.Nigrescens
Buah berwarna ungu sampai hitam pada waktu muda dan berbuah menjadi jingga kehitam-hitaman pada waktu masak. Varietas ini banyak ditanam di perkebunan.
2.Virescens
Pada waktu muda buahnya berwana hijau dan ketika masak warna buah berubah menjadi jingga kemerahan, tetapi ujungnya tetap kehijauan. Varietas ini jarang dijumpai di lapangan.
3.Albescens
Pada waktu muda buah berwarna keputih-putihan, sedangkan setelah masak menjadi kekuning-kuningan dan ujungnya berwarna ungu kehitaman.
Varietas ini juga jarang dijumpai.
2.3.3 Varietas Unggul
Pada saat ini, telah dikenal beberapa varietas unggul kelapa sawit yang dianjurkan untuk ditanam di perkebunan. Varietas-variets unggul tersebut dihasilkan melalui hibridisasi atau persilangan buatan antara varietas Dura sebagai induk betina dengan varietas Pisifera sebagai induk jantan. Terbukti dari hasil pengujian yang dilakukan selama bertahun-tahun, bahwa varietas-varietas tersebut mempunyai kualitas dan kuantitas yang lebih baik dibandingkan varietas lainnya (Fauzi,2002)
2.4. Komposisi Minyak Kelapa Sawit
Inti sawit (kernel) mempunyai kandungan minyak inti berkualitas tinggi, tanaman kelapa sawit sudah mulai menghasilkan minyak dan bisa dipanen pada umur 24- 30 bulan. Buah yang pertama keluar masih dinyatakan sebagai buah pasir, artinya belum dapat diolah oleh pabrik karena masih mengandung kadar minyak yang rendah. Buah yang masak akan berwarna merah kehitaman dan tekstur daging buahnya pada. Daging buahnya mengandung minyak. (Sibuea, 2014)
Komposisi minyak kelapa sawit terdiri atas asam lemak jenuh (saturated) dan asam lemak tak jenuh (unsaturated). Minyak sawit dan minyak inti sawit adalah ester asam lemak dan gliserol yang disebut dengan trigliserida. Trigliserida
9
minyak sawit kaya akan asam palmitat, oleat, linoleat, stearate, gliserol, sedangkan minyak inti sawit mengandung asam laurat, miristat, stearate, gliserol dan sedikit palmitat.
Table 2.1. Komposisi Asam Lemak Minyak Kelapa Sawit dan Minyak Inti Kelapa Sawit
Asam lemak Minyak kelapa sawit (%)
Minyak inti sawit (%)
Asam kaprilat - 3 – 4
Asam kaproat - 3 – 7
Asam laurat - 46 – 52
Asam miristat 1,1 – 2,5 14 – 17
Asam palmitat 40 – 46 6,5 – 9
Asam stearat 3,6 – 4,7 1 – 2,5
Asam oleat 39 – 45 13 – 19
Asam linoleat 7 - 11 0,5 - 2
Sumber : ketaren, 2005
2.5. Jenis Produk
Tanaman kelapa sawit menghasilkan tandan yang mengandung minyak sekitar 25% dan inti sekitar 7%. Tandan tersebut harus mendapatkan perlakuan fisik dan mekanik dalam pabrik sehingga diperoleh minyak dan inti. Perlakuan ini berlangsung di dalam sejumlah stasiun yang terdapat dalam pabrik kelapa sawit.
Stasiun tersebut meliputi stasiun penerimaan buah, perebusan (sterilisasi), penebah, pengempaan klarifikasi minyak dan pengolahan biji. Dengan pengawasan dan pengendalian proses yang baik pada setiap stasiun maka dapat dihasilkan minyak dan inti sawit dengan kualitas dan kuantitas yang optimal.
(Sibuea, 2014)
CPO (Crude Palm Oil) atau minyak sawit kasar merupakan bahan baku yang digunakan dalam produksi. Pemurnian minyak (physical refining) dimulai dengan mengalirkan minyak ke preheater/ deaeration yaitu satu tangki dengan mengurangi kandungan gas dan pemanasan minyak sebelum masuk ke deodorizer.
Proses deodorizer di sejumlah PKS dilakukan dengan teknologi film tipis untuk mengikat asam lemak bebas, zat bau keton, aldehid dan lain-lain. Minyak sawit yang telahdipucatkan (BPO, Bleached palm oil) keluar dari saringan dan dialirkan melalui seri system recovery panas yang lain, yaitu Schmidt plate exchanger dan spiral heat exchanger dengan bantuan pemanas dan minyak tahan
panas. Minyak kemudian dialirkan ke buffer tank kemudian dialirkan ke penyaring strainer untuk menyaring kerak dan kotoran. Dari sisni minyak dialirkan ke pendingin (cooler) selanjutnya, minyak akan disaring melalui polishing filter dan kemudian ditampung pada tangki “Refined Bleached
Deodorized Palm Oil” (RBDPO). Pada proses ini, bau BPO dihilangkan sehingga menghasilkan produk-produk yang stabil dengan aroma yang tidak begitu tajam.
(Sibuea, 2014)
11
2.6. Asam Lemak Bebas
Asam lemak bebas (ALB) pada minyak kelapa sawit mentah merupakan hasil kegiatan enzim lipase yang biasanya terjadi sebelum pemrosesan buah dilakukan.
Buah kelapa sawit mengandung enzim lipase yang sangat aktif dan dapat memecah lemak menjadi asam lemak dan gliserol bila struktur sel buah matang tersebut rusak.
Asam lemak bebas dalam konsentrasi tinggi yang terikut dalam minyak sawit sangat merugikan. Tingginya asam lemak bebas ini mengakibatkan rendeman minyak turun. Kenaikan kadar ALB disebabkan adanya reaksi hidrolisa pada minyak. Peningkatan kadar asam lemak bebas juga dapat terjadi pada proses hidrolisa di pabrik. Lama perjalanan lebih banyak terjadi pada pengangkutan dengan truk atau traktor gandengan sehingga pelukaan pada buah sawit juga lebih banyak. Hal tersebut menyebabkan semakin meningkatnya kandungan ALB pada buah yang diangkut. (Tim penulis, 2000)
Buah kelapa sawit yang sudah matang dan masih segar hanya mengandung 0,1 % asam lemak bebas. Tetapi buah-buah yang sudah memar atau pecah dapat mengandung asam lemak bebas sampai 50 % hanya dalam waktu beberapa jam saja. Bahkan, apabila buah dibiarkan begitu sajatanpa perlakuan khusus, dalam waktu 24 jam kandungan asam lemak bebas dapat mencapai 67 %. Untuk membatasi terbentuknya asam lemak bebas , buah kelapa sawit harus segera dipanasi dengan suhu antara 90oC- 100oC menggunakan panas uap air.
(Setyamidjaja, 2006)
Kadar ALB yang tinggi akan membutuhkan biaya yang lebih tinggi dalam proses pemucatan. Dalam perdagangan internasional, kadar ALB di atas 5% diberi denda, sementara itu jika kadarnya dibawah 5% akan mendapat premi. (Sibuea, 2014)
2.7. Kadar Zat Penguap dan Kotoran
Air merupakan media untuk berlangsungnya proses biokimia seperti pembetukan asam lemak bebas, pemecahan protein dan hidrolisa karbohidrat yang cukup banyak terkandung dalam inti. Pada umumnya, penyaringan hasil minyak sawit dilakukan dalam rangkain proses pengendapan, yaitu minyak sawit jernih dimurnikan dengan sentrifugasi. Dengan proses ini, kotoran-kotoran yang berukuran besar memang bisa disaring. Akan tetapi, kotoran-kotoran atau serabut yang berukuran kecil tidak bisa disaring, hanya melayang-layang di dalam minyak sawit sebab berat jenisnya sama dengan minyak sawit.
Meskipun kadar ALB dalam minyak sawit kecil, tetapi hal itu belum menjamin mutu minyak sawit. Kemantapan minyak sawit harus dijaga dengan cara membuang kotoran dan zat penguap. Hal ini dilakukan dengan cara peralatan pemurnian modern. Dari hasil pengolahan didapat minyak sawit bersih dengan kadar zat menguap sebesar 0,3% dan kadar kotoran hanya sebesar 0,0005%.
Dalam kondisi diatas, minyak sawit sudah dianggap mempunyai daya tahan yang mantap. Akan tetapi, untuk lebih meyakinkan dan mencegah terjadinya proses hidrolisa, perlu dilakukan pengeringan pada kondisi fisik hampa sehingga minyak sawit tersebut hanya mengandung kadar zat menguap sebesar 0,1%. (Tim penulis, 2000)
13
2.8. Standar Mutu Minyak Kelapa Sawit
Standar mutu di pabrik harus sesuai dengan standar perdagangan internasional karena pemeriksaan dilakukan di pelabuhan pembeli, sehingga maki mutu yang dihasilkan di pabrik akan memberi kemungkinan lebih baik pula ketika tiba di tempat tujuan. Rendahnya mutu minyak sawit sangat ditentukan oleh banyak factor. Factor-faktor yang mempengaruhi air, kotoran, asam lemak bebas, bilangan peroksida dan pemucatan. Bisa juga dapat langsung dari sifat pohon induknya penanganan paskapanen atau kesalahan selama pemrosesan dan pengangkutannya.
Bahan logam seperti besi atau perunggu yang terdapat dalam minyak sawit dapat mendorong terjadinya oksidasi. Pada minyak sawit terdapat antioksidan alami (tokoferol), namun jika kadar logam terlalu tinggi tidak akan mampu menahan oksidasi sehingga mutu minyak akan cepat menurun dalam penyimpanan. Upaya mengurangi kadar logam ini terutama dilakukan dengan menggunakan sebanyak mungkin alat pemroses yang terbuat dari bahan anti karat (stainless steel), pelapisan dinding tangki dengan bahan anti karat seperti epoksi.
(Sibuea, 2014)
Tabel 2.2. Standart Mutu Minyak Sawit, Minyak Inti Sawit dan Inti Sawit Karakteristik Minyak
Sawit
Inti Sawit Minyak Inti Sawit
Keterangan
Asam lemak bebas 5% 3,5% 3,5% Maksimal
Kadar kotoran 0,5% 0,02% 0,02% Maksimal
Kadar zat penguap 0,5% 7,5% 0,2% Maksimal
Bilangan peroksida 6 meg - 2,2 meq Maksimal
Bilangan iodine 44-58 mg/g - 10,5-18,5 mg/g -
Kadar logam (Fe,Cu) 10 ppm - - -
Lovibond 3-4 - - -
Kadar minyak - 47,5% - Maksimal
Kontaminasi - 6% - Maksimal
Kadar pecah - 15% - Maksimal
Sumber : Fauzi, 2002
Mutu minyak kelapa sawit yang baik mempunyai kadar air kurang dari 0,1% dan kadar kotoran kurang dari 0,01%, kandungan asam lemak bebas kurang dari 2%, bilangan peroksida dibawah 2, bebas dari warna merah dan kuning (harus berwarna pucat) tidak berwarna hijau, jernih dan kandungan logam berat serendah mungkin atau bebas dari ion logam. (ketaren s, 1986)
15
BAB III
BAHAN DAN METODE
3.1. Alat
1. Buret digital 2. Piala gelas 100 ml 3. Pipet tetes
4. Erlenmeyer 250 ml 5. Neraca analitik 6. Cawan petri 7. Desikator 8. Oven 3.2. Bahan
1. RBD palm olein (l)
2. Indikator phenolphthalein (l)
3. Isopropanol (aq) netral panas
4. Larutan standar KOH 0,10235 N 3.3. Prosedur Percobaan
3.3.1 Penentuan kadar asam lemak bebas
- Ditimbang sampel RBD palm olein sebanyak 10 gram masukkan kedalam erlenmeyer 250 ml
- Ditambahkan isopropanol netral panas sebanyak 50 ml - Dipanaskan diatas hotplate sampai hangat kuku
- Dititrasi dengan larutan standar KOH sampai terjadi perubahan warna menjadi warna merah muda (merah lembayung)
- Dicatat volume KOH yang terpakai
Dimana :
WFFA : Free Fatty Acid Content (%) V titrasi : Volume penitar KOH (ml)
N KOH : Normalitas KOH (N) M : Massa molar asam lemak
: 20,0 (as. Laurat)
: 25,6 (as. Palmitat) : 28,2 (as. Oleat)
m : Berat sampel (gram) 3.3.2. Penentuan kadar air (Moisture)
- Ditimbang 10 gram sampel masukkan kedalam cawan petri - Dimasukkan kedalam oven pada suhu 103oC selama 1 jam - Dinginkan dalam desikator sampai suhu kamar, lalu timbang
17
Dimana :
M1 : Berat cawan + Berat sampel sebelum dipanaskan (gram) M2 : Berat cawan + Berat sampel sesudah dipanaskan (gram) M0 : Berat cawan kosong (gram)
W : Moisture content
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil
Hasil analisa yang di peroleh pada penentuan kadar asam lemak bebas (ALB) atau Free Fatty Acid (FFA) dan kadar air (moisture) dari produk RBD (Refined
Bleached Deodorized) Palm Olein, dapat dilihat pada table di bawah ini :
Table 4.1.1 Data Pengamatan Kadar Asam Lemak Bebas (ALB) Atau Free Fatty Acid (FFA) Pada RBD Palm Olein
No Oil type
Berat Sampel
Volume Titrasi
N KOH ALB/FFA
ALB Rata-Rata 10,0047 2,56 0,10235 0,67
1 RBDPO 10,0406 2,70 0,10235 0,70 0,68
10,0052 2,57 0,10235 0,67 Sumber : PT. CARSURIN Cabang Medan
Table 4.1.2 Data Pengamatan Kadar Air (Moisture) Pada RBD Palm Olein
No
Oil Type
Berat Sampel
Berat Wadah +
Berat Sampel Sebelum Dipamaskan
Berat Wadah +
Berat Sampel Sesudah Dipamaskan
Berat Yang Hilang
Moisture
Moisture Rata-
Rata
10,0314 71,0841 71,0787 0,0054 0,05
1 RBDPO 10,0397 61,0856 61,0789 0,0067 0,06 0,05
19
10,0368 72,2098 72,2051 0,0047 0,04 Sumber : PT. CARSURIN Cabang Medan
4.2. Perhitungan
Perhitungan 4.2.1 Kadar Asam Lemak Bebas (ALB) Atau Free Fatty Acid (FFA) Pada RBD Palm Olein
Dik : Berat sampel = 10,0047 gram Volume titrasi = 2,56 ml
N KOH = 0,10235
Ditanya : % FFA Penyelesaian :
Perhitungan yang sama dapat dilakukan untuk data yang lain (dapat dilihat pada table 4.1)
Perhitungan 4.1.2 Kadar Air (Moisture) Pada RBD Palm Olein
Dik : Berat sampel = 10,0314 gram
Berat wadah (M0) = 61,0527 gram
Berat wadah + berat sampel sebelum dipamaskan (m1) = 71,0841 gram berat wadah + berat sampel sesudah dipamaskan (m2) = 71,0787 gram
Ditanya : kadar air
Penyelesaian :
Perhitungan yang sama dapat dilakukan untuk data yang lain (dapat dilihat pada table 4.2)
4.3. Pembahasan
Dari data yang diperoleh dari hasil analisa kadar asam lemak bebas pada RBD palm olein adalah 0,68 % dan kadar air 0,05 %. Hasil kadar asam lemak bebas tidak sesuai dengan standar mutu sedangkan kadar air RBD palm olein ini masih menunjukkan kondisi kadar yang stabil, dikarenakan masih dibawah standart mutu yang ditetapkan perusahaan.
Minyak produk RBD palm olein yang sudah diproses dapat di analisa secara langsung. Oleh karena itu, untuk mengetahui asam lemak bebas (ALB) pada produk RBD palm olein harus melakukannya dengan teliti karena kebanyakan sampel yang diuji melewati batas yang susah di tetapkan perusahaan.
Hal ini disebabkan karena pada waktu penimbangan sampel tidak konstan, jadi
21
pada waktu melakukan titrasi, sampel yang diuji tidak memenuhi standart yang sudah ditetapkan perusahaan tersebut.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan
1. Dari data yang diperoleh bahwa rata-rata kadar Asam Lemak Bebas (ALB) / Free Fatty Acid (FFA) pada produk RBD (Refined Bleached Deodorized) Palm Olein di Laboratorium PT. CARSURIN adalah 0,68 % hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan standart mutu yang ditetapkan oleh perusahaan itu sendiri yaitu maksimum 0,2 %.
2. Dari data yang diperoleh bahwa rata-rata kadar Air (Moisture) pada produk RBD (Refined Bleached Deodorized) Palm Olein di Laboratorium PT.CARSURIN adalah 0,05 % sesuai dengan standart mutu yang ditetapkan oleh perusahaan itu sendiri yaitu maksimum 0,4 %.
5.2. Saran
1. Diharapkan pada penulis perlu diteliti parameter yang lainnya guna untuk mengetahui standart yang telah ditetapkan.
23
DAFTAR PUSTAKA
Fauzi,Y. (2002). Kelapa Sawit. Edisi Revisi. Jakarta. Penebar Swadaya.
Fauzi, Y. (2012). Kelapa Sawit. Jakarta: Penebar Swadaya.
Ketaren, S. (2005). Minyak dan Lemak Pangan. Jakarta: UI Press.
Pardamean, M. (2011). Sukses Membuka Kebun dan Pabrik Kelapa Sawit.
Jakarta: Penebar Swadaya.
Setyamidjaja, D. (2006). Kelapa Sawit. Yogyakarta: Penerbit kanisus.
Sibuea, P. (2014). Minyak Kelapa Sawit. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Sunarko. (2007). Petunjuk Praktis Budi Daya dan Pengolahan Kelapa Sawit.
Tanggerang: Agromedia Pustaka.
Syah, A.N.A. (2005). Perpaduan Sang Penakluk Penyakit VCO Minyak Buah Merah. Jakarta: PT Agromedia Pustaka.
Tim penulis. (2000). Kelapa Sawit Usaha Budidaya Pemanfaatan Hasil dan Aspek Pemasaran. Jakarta: Penebar Swadaya