Nomor : DPD.220/SP/15/2014
DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA
---
RISALAH
SIDANG PARIPURNA KE-15
MASA SIDANG IV TAHUN SIDANG 2013-2014 DEWAN PERWAKILAN DAERAH
I. KETERANGAN
1. Hari : Kamis
2. Tanggal : 14 Agustus 2014 3. Waktu : 14.50 WIB s.d. selesai
4. Tempat : R. Nusantara V
5. Pimpinan Rapat : Pimpinan Rapat
H. Irman Gusman, S.E., M.B.A. (Ketua DPD RI) 6. Sekretaris Rapat :
7. Acara : 1. Laporan Kegiatan Anggota DPD RI di Daerah Pemilihan; 2. Dan lain-lain
8. Hadir : Orang
9. Tidak hadir : Orang
PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI)
Baik, Bapak-Ibu sekalian, para sahabat-sahabat kita semua, kita harus memulai segera Rapat Paripurna karena waktunya sudah jam 14.50 WIB. Ini adalah masa sidang terakhir periode kita, periode 2009 – 2014 dengan agenda yang cukup padat dan kita akan memulai acara ini. Untuk bisa kita menghemat waktu, bisa kita mulai ya.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Salam sejahtera buat kita semua. Om swastyastu.
Selamat sore.
Sebelum kita mulai Sidang Paripurna DPD ini, marilah kita menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan kepada semua Anggota yang terhormat dan juga semua hadirin yang ada dalam ruangan ini ya kami silakan untuk berdiri. Mari kita secara bersama-sama untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya.
PEMBICARA : PADUAN SUARA Hiduplah Indonesia raya…
Indonesia tanah airku. Tanah tumpah darahku. Disanalah aku berdiri. Jadi pandu ibuku.
Indonesia kebangsaanku. Bangsa dan Tanah Airku. Marilah kita berseru. Indonesia bersatu. Hiduplah tanahku Hiduplah negriku.
Bangsaku Rakyatku semuanya. Bangunlah jiwanya.
Bangunlah badannya. Untuk Indonesia Raya. Indonesia Raya. Merdeka Merdeka.
Tanahku negriku yang kucinta. Merdeka Merdeka.
Hiduplah Indonesia Raya.
SIDANG DIBUKA PUKUL 14.50 WIB
Indonesia Raya. Merdeka Merdeka.
Tanahku negriku yang kucinta. Indonesia Raya.
Merdeka Merdeka. Hiduplah Indonesia Raya.
PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI)
Berdasarkan daftar catatan hadir yang disampaikan oleh Setjen, sampai saat dan juga masih berdatangan terlampir 80 orang. Jadi, barangkali ini termasuk yang rekor ya kehadiran anggota di Sidang Pripurna ini. Tepuk tangan buat semua. Mudah-mudahan di akhir-akhir DPD periode-periode ini ya kita khusnul khatimah ya, semua kita lakukan yang terbaik. Hari ini hadir 80 orang, bahkan izin 9, dan masih juga berdatangan, dan ini memecahkan rekor. Dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, Sidang Paripurna ke-15 DPD ini kami buka dan dinyatakan terbuka untuk umum.
Sidang Dewan yang mulia, sesuai dengan jadwal acara Sidang Paripurna ini, kita mempunyai dua agenda pokok. Pertama, pengambilan keputusan DPD RI terkait materi Tim Litigasi. Ini yang penting, sebagaimana kita tahu ya pada 8 Juli kemarin, satu hari sebelum Pilpres, DPR telah memutuskan Undang Nomor 17 Tahun 2014 mengenai Undang-Undang MPR, DPR, DPD dan DPRD yang mana menurut kaijan kita, pemahaman kita, itu belum mengakomodasi daripada putusan Mahkamah Konstitusi yang telah memulihkan kewenangan kita, satu, dan kedua juga hasil observasi daripada Tim Litigasi di bawah kepemimpinan Ketua PPUU Pak I Wayan Sudirta, coba tunjuk tangan di mana Pak Wayan saya tidak saya lihat, Pak Wayan maaf ini karena tempatnya pindah lagi ya, mengkaji ya. Jadi, teman-teman pada ada di daerah, kami Pimpinan bersama litigasi tetap bekerja menemukan banyak pasal-pasal yang bertentangan dengan kita, bahkan kami pun, saya bersama beberapa teman Tim Litigasi juga bertemu ketua Pimpinan KPK juga banyak membahas sehingga menurut kami minta persetujuan nanti ke Sidang Paripurna ini untuk melakukan tindakan hukum yang nanti akan disampaikan oleh ketua Tim Litigasi dan juga anggota-anggotanya. Yang kedua, ini yang terakhir adalah laporan kegiatan Anggota DPD di daerah pemilihan. Tentu kita harapkan laporan ini kalaupun disampaikan, kami harapkan nanti bisa disampaikan secara yang pokok-pokok saja supaya kita bisa menghemat waktu karena pada malam ini ada dua agenda juga yang tidak bisa kita tinggalkan, kami dari meja Pimpinan, karena pada bersamaan waktu kita ada tamu para senator lebih kurang 13 orang dari Meksiko, undangan PHAL. Mana Ketua PHAL Pak Bahar di sini, ya betul ya. Kami pada jam yang sama ada paralel dinner, jadi makan malam dinner yang paralel sehingga dicari tempatnya di sebelah kanan nanti dengan tamu di Meksiko karena memang waktunya yang ada cuma malam ini karena mereka juga ada agenda-agenda yang lain, bahkan besok juga menghadiri sidang bersama DPR-DPD. Kemudian, Tim Ligitasi bersama penasihat hokum, termasuk tokoh-tokoh hukum yang terkenal juga ingin ada waktu cuma malam ini sehingga saya harusnya malam ini jam 19.00 – 20.00 makan di sebelah kanan dengan delegasi Meksiko nanti saya tinggalkan dengan Pak Laode. Saya di tempat yang sebelahnya nanti juga makan malam dengan Tim Litigasi karena dua-duanya butuh waktu yang tersedia. Untuk itu, saya mohon kalau bisa selama-lamanya Paripurna ini tidak lebih daripada jam 18.30 kalaupun bias, tetapi kalau bisa lebih awal lagi tentu saya akan sangat mengapresiasi.
Tetapi, sebelum nanti saya buka sesinya, izinkan saya dulu untuk membacakan perkembangan yang terakhir daripada apa yang berkembang sebelum nanti kita akan memasuki laporan. Tetapi, di luar ini saya juga ingin menyampaikan karena mungkin tidak ada dalam laporan pengantar daripada Sidang yang mulia. Kemarin kami jam 15.00 sore menerima undangan dari Pimpinan DPR. Dari hasil surat yang kami kirimkan pada tanggal 11 Agustus ya, susulan dari surat tanggal 22 Juli, ada dua kali surat, yaitu meminta kepada Pimpinan DPR RI untuk membahas mengenai hak inisiatif DPD mengenai RUU Kelautan yang saya selalu dikejar-kejar oleh yang namanya Bapak Djasarmen Purba. Mana dia? Nah, itu orang kepulauan itu, orang kepulauan ini banyak ini ya selalu mendesak, kita sudah siap segala macam ya, tetapi berhasil desakannya. Saya dalam keadaan reses pun, saya juga sudah kirim surat ke presiden segala macam. Perlu saya sampaikan sedikit di luar ini karena ini penting sekali. Ya, jadi 2 – 3 kali, kemudian saya juga meminta kepada presiden dan juga kepada Ketua Harian Dewan kelautan karena Kelautan itu ada 13 Kementerian yang tergabung, ya Bapak Dr. Cicip Syarif Sutardjo. Jadi, walaupun bulan puasa itu ya kita buka puasa di berbagai tempat itu kami gunakan juga untuk lobi. Jadi, terakhir waktu kami diundang oleh Ketua DPR, di sini ada Ibu Asmawati, Bu Ketua DPR ya, ya Bu ya, di kediaman beliau. Saya, Pak Marzuki, dan Pak Cicip bertemu karena desakan oleh anggota banyak untuk segera RUU Kelautan ini kita bahas. Dan, kalau bisa pada periode kita bersama ini inisiatif ini bisa dilahirkan sehingga akan menjadi sebuah masterpiece mahakarya buat Anggota DPD periode 2009 – 2014 karena soal kelautan ini menurut kami sangat strategis ya, akan mengubah basis pembangunan yang berbasiskan kontinental menjadi berbasis kelautan. Jadi, menurut saya menjadi sebuah keniscayaan karena kita tahu 2/3 daripada
wilayah kita ini terdiri dari perairan, laut. Kemarin sore sehingga tadi kami pararel juga rapat, saya dengan Bu Hemas mewakili DPD tadi rapat dengan DPR bersama pemerintah, dan Pak Laode secara pararel juga rapat Panmus. Yang mengembirakan, walaupun waktu sidang ini hanya pendek, DPR mulai besok, kita hari ini tanggal 14 Agustus, masa sidang mereka akan berakhir pada 29 September, yang kebetulan kita juga tanggal 29 September, inisiatif DPD yang pertama pascaputusan MK ini dan mereka sangat mengapresiasi dan ada punya kesepakatan bersama untuk ini bisa kita lahirkan ya, inisiatif ini karya DPD ini ada periode kita. Tepuk tangan ini buat kita semua. Jadi, ini bukan hanya kebanggaan buat Komite II yang barangkali yang menjadi mitra kerja di DPR-nya yang tadi ditunjuk adalah Komisi IV ya. Biar cepat sebab kalau tadi melalui Baleg nanti kepentingan politiknya lebih ruwet lagi. Tadi kita sudah sepakat mulai hari ini Ketua DPR akan kirim surat ke presiden untuk minta Ampresnya dan juga ke DPD untuk menunjuk nanti Komite II bersama PPUU tentu, kemudian juga Menteri Kelautan akan kita minta ke presiden pada minggu ini.
Jadi, teman-teman sekalian, ya mari kita kerja keras. Waktu dia bilang siang malam, saya bilang bukan hanya siang dan malam, subuh pun kita siap begitu. Semangatnya itu ya. Jadi, mohon Komite II tolong diajak teman-teman yang lain walaupun kita tahu berbagai materi dan substansinya telah ada. Dan, mereka juga akan mencoba mengakomodasi mekanisme yang telah diputuskan oleh MK itu menjadi bagian. Jadi, kita yang punya inisiatif, mereka nanti yang menyiapkan DIM-nya, kemudian dibahas secara bersama
Tripartit ya dan ini kita akan giring terus sampai nanti pada tahap finalnya atau tahap
keputusan. Kalau kita harapkan tanggal 21 September, minggu ketiga September, tapi paling telat ya pada tanggal 29 September.
Inilah teman-teman sekalian yang perlu kita apresiasi sehingga ini menjadi karya kita bersama. Tentu atas nama Pimpinan, pada kesempatan ini juga kami ingin mengucapkan Selamat Idul Fitri, minal aidin walfaizin, mohon maaf lahir dan batin. Mudah-mudahan nanti dalam pelaksanaan tanggung jawab kita konstitusi, kita bisa laksanakan dengan baik sekali.
Perlu kami sampaikan juga, Bapak-Ibu sekalian bagaimana perkembangan terakhir yang kita telah ikuti ya mengenai adanya sengketa dari hasil pemilu Pilpres yang berlangsung
pada 9 Juli yang lalu. Mudah-mudahan nanti pada tanggal 21 Agustus ini kita akan mendapat hasilnya. Tetapi, seperti mungkin teman-teman pada di daerah ya, kami DPD, saya atas nama teman-teman ya pada pertemuan konsultasi antarketua lembaga negara pada 18 Juli, Juni kalau tidak salah ya, 18 Juli kira-kira tiga hari sebelum keputusan KPU, kita mengusulkan DPD supaya ada pertemuan antara dua kandidat ini sebagaimana yang diikuti oleh berita. Aspirasi yang kita sampaikan, yang saya sampaikan atas nama teman-teman, di-follow up oleh presiden sehingga adanya buka puasa bersama di istana. Itu murni daripada usulan DPD RI sehingga mengakibatkan suasana kebatinan, suasana politik di masyarakat itu menjadi tenteram. Mudah-mudahan tentu hasil daripada 2 Agustus besok ini apa pun hasilnya tentu ini adalah sebuah kemenangan buat rakyat Indonesia.
Yang kedua, tentu juga menjadi catatan kita juga di luar mengenai pemilu presiden yang ada di Mahkamah Konstitusi, juga adanya perkembangan yang menarik, yaitu mengenai gerakan-gerakan baru yang mengatasnamakan agama, yaitu gerakan mengenai Irak dan Suriah yang mana disebut dengan ISIS tersebut. Alhamdulillah kita melihat bersama semua komponen masyarakat juga menentang hal-hal tersebut untuk bisa lebih menyebarkan lagi di Indonesia. Tentu DPD juga menolak ISIS tersebut dan tentu kita harapkan kepada teman-teman dari seluruh daerah di Indonesia untuk mencermati perkembangan daripada gerakan ISIS tersebut yang menurut kita ini akan juga mengancam soal kedaulatan daripada Republik Indonesia. Anda tahu persis bagaimana mekanisme cara bekerjanya. Tentu kita harapkan kita semua para wakil-wakil daerah dan rakyat ini untuk bisa menjaga khususnya pada generasi muda kita supaya jangan direcoki atau dimasuki oleh ideologi yang barangkali kita belum paham ,
Di samping itu, Bapak-Ibu sekalian, kita juga memahami persoalan BBM yang masih menjadi faktor kita. Sampai sekarang mengenai kondisi daripada BBM, khususnya solar yang sempat menjadi tarik ulur antara PLN dan Pertamina, kita harapkan ini bisa diselesaikan dengan baik karena ini akan merugikan masyarakat. Juga mengenai penjualan BBM yang bersubsidi sehingga di beberapa daerah tertentu, terutama di jalan-jalan tol sehingga hari ini kita lihat kemarin adanya berbagai demo yang muncul, tentu ini harus kita carikan solusi yang terbaik ya DPD bagaimana kita menyikapi terhadap masalah subsidi tersebut, apakah masih dapat kita pertahankan atau barangkali kita sesuaikan dan lain sebagainya. Mudah-mudahan ini juga menjadi respons daripada teman-teman Komite II maupun juga di Komite IV.
Juga masalah ekonomi juga yang menjadi perhatian kita di mana kita melihat pertumbuhan ekonomi pada triwulan II, ini barangkali juga sehubungan dengan masih adanya dampak terhadap Pilpres yang belum ada hasilnya yang sejak Pemilu Legislatif sampai juga Juli yang mengakibatkan pertumbuhan kita ekonomi kita turun 0,12%, kemudian juga defisit daripada neraca perdagangan kita lebih besar pada nilai ekspor. Tentu kita harapkan pemerintah harus menyiapkan langkah-langkah strategis untuk mengatasinya. Sekali lagi kami minta kepada Anggota DPD RI untuk selalu dapat berkoordinasi dengan pemerintah daerahnya dalam menghadapi tantangan tersebut. Perlu kita ingatkan juga kepada daerah-daerah yang kita wakili karena 2015 sudah di depan mata ya, sebuah perubahan akan terjadi, yaitu Masyarakat Ekonomi ASEAN atau yang disebut dengan ASEAN Economic
Community. Jadi, Masyarakat Ekonomi ASEAN yang akan berlangsung di 2015 yang
menyebabkan akan keterbukaannya lalu lintas perdagangan, jasa, dan lain sebagainya. Tentu juga bisa menguntungkan atau sebaliknya, untuk itu kita harus melakukan antisipasi terhadap masalah tersebut.
Sidang yang kami muliakan, selain informasi yang kami sampaikan soal perkembangan nasional tadi, kami juga ingin menyampaikan agenda kerja kita di mana pada tanggal 16 Juli yang lalu Pimpinan DPD telah menerima surat dari Pimpinan DPR perihal penyampaian beberapa RUU yang harus kita tangani yang mana tadi pagi kami juga memutuskan rapat
Panmus ya. Tadi juga hadir penuh hampir sebagian kita. Jadi, RUU tersebut yang kita sepakati: pertama, RUU tentang Konservasi Tanah dan Air, kami tugaskan Komite II untuk membahasnya; kemudian RUU tentang Pertembakauan juga Komite II; Kemudian, RUU tentang Perkebunan ya dibahas oleh Komite II, jadi memang Komite II harus ekstrakerja keras ya. Jadi, bukan hanya siang dan malam, harus ada juga subuhnya. Artinya, saking begitu betullah, ditambah lagi ada RUU Kelautan yang tadi telah menjadi agenda cepat. Tadi barangkali dari Pimpinan Komite II bisa menyampaikan karena tadi saya juga didampingi oleh Komite II, Ibu Instiawati Ayus, mana Ibu Iin? Hadir ya. Kemudian, dari PPUU Bapak Anang Prihantoro, mana Bapak Anang? Ada ya. Nanti melalui beliau nanti menjelaskan ya bagaimana petemuan kita dua jam tadi, kemudian kalau bisa melalui Sekretariat Jenderal tolong diminta transkripnya sehingga nanti detailnya bagaimana, apresiasi dari para Baleg DPR yang supaya ini menjadi Tripartit yang menjadi fundamen dasar kita untuk membahas berbagai undang-undang untuk ke depan; kemudian untuk Komite III, kita tugaskan tadi Panmus tentang pengelolaan ibadah haji dan umroh, kemudian RUU tentang Kebudayaan juga dibahas nanti oleh Komite III, kemudian RUU tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 tentang Perlindungan Anak juga di Komite III.
Selain informasi mengenai RUU yang berasal dari DPR, kami juga ingin ingin menyampaikan pada rapat Panmus tadi juga telah disepakati adanya perubahan jadwal Masa Sidang IV ini, jadi ada perubahan jadwal. Ini dilakukan berdasarkan perkembangan dinamika kerja yang berkembang karena pada masa sidang ini, kita akan melakukan Sidang Paripurna tiga kali. Jadi, agak spesial memang masa sidang ini ya, waktu yang pendek dari hari ini sampai 29 September itu paripurnanya akan kita lakukan tiga kali ya dengan agenda khusus itu pada tanggal 22 Agustus, kemudian tanggal 2 September dalam rangka pengambilan keputusan keputusan berkaitan dengan bidang tugas Komite IV. Jadi, Komite IV melalui pimpinannya mengajukan usulan kepada Panmus untuk diagendakan tanggal 22 Agustus dan 2 September. Kemudian, tanggal 11 September juga dalam rangka pengambilan keputusan terkait dengan bidang tugas Pansus Tatib agendakan sesuai dengan usulan dari Pansus Tatib. Kemudian, sidang ini akan kita akhiri ditanggal 30 September 2014.
Sebagaimana juga tahun sebelumnya, tanggal 16 Agustus setiap tahun ini diselenggarakan agenda sidang bersama DPR dan DPD untuk mendengarkan pidato kenegaraan presiden. Tetapi, karena tanggal 16 Agustus itu bertepatan hari Sabtu dan hari libur, maka sesuai dengan kesepakatan tiga lembaga DPR, DPD, dan presiden, kita ajukan, kita majukan sidang tersebut menjadi 15 Agustus yang jatuh besok hari Jum'at dan karena hari Jum'at kita akan awali jam 09.00 WIB pagi. Kami mohon kalau melalui anggota semua yang hadir maupun melalui pimpinan terutama supaya mengomunikasikan ke semua anggota alat kelengkapannya untuk semaksimalnya kita bisa hadir karena besok adalah Sidang Paripurna yang terakhir, baik untuk periode kita dan juga untuk periode Presiden SBY yang telah menyelesaikan dua kali periode masa pemerintahannya. Kemudian, kami harapkan juga besok siangnya jam 14.30 itu semua kita diwajibkan hadir. Jadi, kalau wajib itu harus itu dari pagi. Penting sekali karena kalau besok pagi itu semua daerah itu akan ikut sidang bersama akan me-relay kegiatan itu. Dan, bagian daripada Sidang Istimewa DPRD, tentu kehadiran kita menjadi penyejuk buat wakil-wakil daerah di mana kita dipercaya menjadi wakilnya. Jam 09.00 WIB, kemudian dilanjutkan jam 14.30 WIB sampai jam 16.30 WIB. Jadi, bagi yang tidak hadir pada kesempatan ini, Bapak-Ibu sekalian, kami mohon juga melalui Sekretariat Jenderal, protokol, kemudian pimpinan alat kelengkapan untuk bisa mengomunikasikan supaya bisa hadir besok. Perlu kami ingatkan ya, saya yakin semuanya sudah tahu, tapi ya kami ingin juga mengingatkan kembali, demi tertibnya Sidang Bersama besok karena ini hanya sifatnya mendengarkan pidato kenegaraan, jadi supaya sidang ini berjalan dengan penuh khidmat, kami harapkan besok tidak ada yang menginterupsi dalam acara yang waktunya sangat terbatas. Jadi, hari ini kami akan ada gladi resik ya jam 16.00
WIB ya, jam 17.00, jam 16.00 WIB ini. Jadi, kami mohon kepada anggota tidak melakukan interupsi dalam kegiatannya.
Kemudian, selanjutnya kami ingin informasikan juga kepada kita semua, tetapi khususnya untuk anggota DPD yang terpilih kembali untuk periode 2014 – 2019, bahwasanya orientasi anggota terpilih itu akan dilaksanakan dalam dua tahap. Pertama, orientasi yang pertama dilaksanakan tanggal 29 Agustus sampai 1 September. Yang kedua, dilaksanakan tanggal 22 sampai 25 September ya. Tetapi, ini tadinya tanggal 23, tapi ada permintaan dari Ketua Kelompok Pak Bambang Soeroso, apa hadir di sini? Tolong angkat tangan. Tidak ada ya. Jadi, menyampaikan akan ada sidang MPR di periode kita ini pada tanggal 22. Jadi, buat saya menarik sekali karena periode 2004 – 2009 yang lalu selama lima tahun tidak ada sidang MPR. Tetapi, pada periode sekarang agak meningkat, akan ada sidang MPR selama lima hari dengan ada dua agenda. Saya lupa persis ya nanti untuk apa tadi itu,
oh pembentukan alat badan pekerja ya. Jadi, mudah-mudahan badan pekerja ini bisa dibentuk
untuk membahas selanjutnya. Untuk itu, saudara-saudara sekalian, dalam masa orientasi 1-2 itu panitia pengarahannya diketuai oleh ketua PPUU Pak I Wayan Sudirta, kemudian panitia pelaksananya diketuai oleh Ketua PURT Bapak KH. Sofwat Hadi. Hadir tidak, Pak Sofwat? Belum datang ya, jadi tolong disampaikan, yang mana anggotanya adalah para ketua-ketua alat kelengkapan.
Kemudian juga tidak kalah pentingnya, yaitu berkesempatan tahun ini juga DPD telah memasuki sebuah usia satu dasawarsa. Jadi, 2004 sampai 2014 berarti kita telah hampir 10 tahun nanti. Untuk itu, nanti kita akan mengadakan acaranya pada tanggal 29 September. Kita akan mengundang semua pimpinan lembaga negara, kemudian semua kita tentunya, dan juga calon anggota terpilih, dan juga berbagai media dan stakeholder lainnya. Inilah yang bisa kami sampaikan, Bapak-Ibu sekalian. Sebelum kami beranjak kepada penyampaian laporan daerah, izinkan kami untuk sementara mempersilakan dulu kepada Tim Litigasi untuk menyampaikan laporannya karena ini diperlukan persetujuan daripada Paripurna karena kita akan melakukan pengajuan ujian materi kepada Mahkamah Konstitusi. Inilah yang bisa kami sampaikan, tetapi sebelum kami mengundang Pimpinan Litigasi, tadi kami lihat ada keinginan untuk menyampaikan sesuatu. Kami persilakan Pak KH. Cholid untuk bisa menyampaikan. Silakan.
PEMBICARA : H. CHOLID MAHMUD, ST., MT. (DI YOGYAKARTA) Terima kasih.
Karena besok itu kesempatan terakhir kita bersama, saya mengusulkan ada foto bersama seluruh Anggota DPD di depan gedung bundar sehingga kita punya dokumentasi untuk periode ini besok.
Terima kasih.
PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI)
Baik, ide yang cemerlang sekali ya. Jadi, kalau begitu begini, sebaiknya jangan di awal, tetapi di akhir. Jadi, besok itu diperkirakan selesainya jam 10.30 WIB. Kita semua pakai cv lengkap karena memang itu, karena yang menjadi tuan rumah pada sidang ini adalah DPR. PEMBICARA : MUH. ASRI ANAS (SULBAR)
Ketua, izin.
Kayaknya tidak cukup kalau hanya foto-foto bersama. Sore Paripurna terakhir, jamuan
PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI)
Siap. Sepakat ya nanti kita atur, setuju itu kita buat. Tetapi, yang pasti besok karena bersama itu maksud beliau itu berpakaiannya juga seragam ya. Kami mohon perempuan pakaiannya kebaya atau pakaian muslim ya, pokoknya apalah pakaian nasional maksud kami. Yang laki-laki pakai jas dan siap-siap bawa peci kalau ada sehingga bisa melindungi apa yang kepala-kepalanya agak seperti Pak Wayan, saya ini, sedikit-sedikit kan ya. Kalau pakai kopiah kita tambah gagah juga laki-laki ini, ya Pak Wayan, ya Pak Kadek ya. Jadi, setuju ya kita bawa peci ya, saya rasa bagus itu. Kalau mau ya, tapi kalau tidak ya, lebih ke imbauan. Perempuan pakaian nasional atau kebaya, yang laki-laki pakai jas dan pakai peci, betul ya? Baik, bagus sekali Pak Cholid.
Kemudian, Ibu Juniwati kami ingin sampaikan, alhamdulillah berkat dukungan terus ini SMS sama Pak Ketua, saya juga bilang ke Pak Dipo Alam, ya ini bagaimana ini kami mau kerja keras, sedangkan kesehatan kami ini kan juga belum tentu bisa sehat. Hari ini telah keluar Inpres Presiden mengenai soal kesehatan para anggota dan juga pimpinan semua dan juga bagi keluarganya. Jadi, Bu Juniwati ini selalu minta, jadi Alhamdulillah. Tolong dibagikan, Pak Sesjen ya. Jadi, maaf sebenarnya banyak sekali informasi yang ingin saya sampaikan pada kesempatan ini karena bertubi-tubi begitu lho. Jadi, ini sudah empat bulan ini, Bu Juniwati terutama, tapi bukan salah saya, Bu. Saya ini pokoknya hari ini bisa hari ini saya layangkan, setiap ketemu saya ulang-ulang, Bu. Tetapi, akhirnya alhamdulillah hari ini Bu ya, jadi mohon maaf kalau selama ini tidak begitu cepat karena kalau saya yang tanda tangan, kemarin itu Bu. Tetapi, karena Pak SBY lumayanlah empat bulan. Jadi,
Alhamdulillah-lah ya, tolong dibagikan ya.
Yang lain ada lagi yang mau disampaikan? Usulan satu baik. Kalau tidak, kami persilakan Tim Litigasi untuk bisa secara cepat dan cermat untuk bisa menyampaikan dan harapan kami sekali lagi untuk laporan daerah kalau memang bisa diberikan saja ke kami, kemudian nanti Setjen akan membagikannya melalui alat kelengkapan. Pun kalau ada yang ingin menyampaikan haknya jangan lebih dari lima menit supaya bisa kita atur jadwal yang baik.
Terima kasih. Kami persilakan.
PEMBICARA : I WAYAN SUDIRTA (KETUA TIM LITIGASI)
Saudara Pimpinan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia yang kami hormati, saudara-saudara Anggota Dewan Perwakilan Republik Indonesia, dan hadirin yang kami hormati.
Asalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Salam sejahtera bagi kita semua.
Om swastyastu.
Izinkan kami melaporkan perkembangan kerja tim litigasi setelah kami ditunjuk dan dibentuk berdasar SK Pimpinan, satu dan lain hal karena ada revisi Undang-Undang MD3 yang telah diberi nomor dan disahkan pada tanggal 8 bulan ini juga. Para hadirin, banyak sekali poin-poin yang diputuskan oleh MK yang pengembalian hak-hak anggota DPD dalam legislasi ternyata dalam revisi Undang-Undang MD3 itu sangat sedikit yang diakomodasi. Berdasarkan itu, dalam masa reses kami, atas dukungan Pimpinan dan Setjen, atas dorongan mereka juga, maka kami rapat berkali-kali dengan para narasumber. Setelah dikaji, memang ada beberapa ketimpangan. Di satu pihak, anggota DPR bertambah kewenangan, bertambah kekebalan, sementara di DPD beberapa malah yang dikurangkan. Salah contoh yang menarik
adalah kalau memanggil anggota DPD tidak memerlukan izin siapa-siapa, seperti presiden misalnya karena presiden sudah tidak memberi izin, tetapi kalau untuk DPR ada izin tertentu yang dibuat oleh Badan Kehormatan mereka. Untuk pidana umum saja untuk pemeriksaan, kalau DPR itu memerlukan izin sejenis Badan Kehormatan, tetapi untuk DPD tidak diperlukan. Banyak sekali diskriminasi yang muncul di situ. Oleh karena itu, dengan sekuat tenaga dengan merampingkan tim supaya bisa bekerja keras, maka dibentuk Tim Litigasi sebanyak lima orang. Lalu, dari simpulan rumusan itu, kami rumuskan empat ketimpangan antara DPR dan DPD di dalam Undang-Undang MD3 secara kasat mata, antara lain:
1. pengaturan DPR diatur dalam Pasal 67 sampai dengan Pasal 245, sedangkan pengaturan DPD diatur dalam Pasal 246 sampai dengan 262. Hal ini berarti secara umum DPR diatur dalam 178 ketentuan, sedangkan DPD diatur dalam 16 ketentuan saja;
2. alat kelengkapan di antara DPR dan DPD juga timpang karena di DPR ada 10 item alat kelengkapan, yaitu Pasal 83 Ayat (1) Undang-Undang MD3, sementara di DPD hanya ada 7 item alat kelengkapan, yaitu Pasal 259 Ayat (1) Undang-Undang MD3; 3. penamaan yang dipergunakan untuk menyebut alat kelengkapan DPD sebagaimana
diatur dalam Pasal 259 Ayat 1 Undang-Undang MD3 mempergunakan nomenklatur yang menurut kamus Bahasa Indonesia bersifat tidak tetap. Hal ini menunjukkan bahwa ada semacam niat membentuk Undang-Undang MD3 untuk meletakkan sifat kesementaraan alat kelengkapan tersebut secara permanen, padahal DPD menurut Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 merupakan lembaga negara yang bersifat tetap. Cara semacam ini jelas tidak memberikan penghargaan dan penghormatan yang layak di antara sesama lembaga negara pemegang fungsi representasi;
4. ketimpangan yang keempat adalah hak anggota DPR dan anggota DPD juga mengalami diskriminasi yang sangat mencolok. Hak anggota DPR dirumuskan dalam 11 item, yaitu Pasal 80 Undang-Undang MD3, sedangkan hak anggota DPD dirumuskan hanya 7 item, yaitu Pasal 25 Undang-Undang MD3. Perlu diketahui bahwa hak anggota ini merupakan prinsip yang harus dipergunakan untuk
mem-backup pelaksanaan fungsi kelembagaan.
Para hadirin, Pimpinan, dan Anggota yang saya hormati, saat-saat sekarang memang agak dilematis kalau kami menawarkan dan mengingatkan betapa penting Undang-Undang MD3 ini kita samai dengan baik. Masalah pilpres dan lain-lain, masalah pemilihan pimpinan DPD dan lain-lain, pasti menyita pikiran kita. dua-duanya penting. Pertanyaannya, adakah yang lebih penting bagi anggota DPD yang akan datang untuk memikirkan MD3 Undang-Undang MD 3 yang mengatur kewenangan dan hak-hak anggota DPD yang akan datang? Oleh karena itu, dengan segala hormat dan kerendahan hati, izinkan kami mengimbau anggota-anggota yang hanya tinggal waktu beberapa hari untuk mengabdikan dirinya di DPD ini, saya minta fokus mohon bantuan, mohon sosialisasi agar MD3 ini bisa memperkuat posisi DPD. Tak kalah pentingnya bagi anggota yang terpilih, jangan sampai abai terhadap Undang-Undang MD3 ini. Tadi ketua sudah menyampaikan dengan baik, bahkan di Panmus dibahas dengan baik juga, bersamaan dengan pembahasan Undang-Undang MD3 yang rencananya diajukan besok, hari ini ada berita bagus di mana Undang-Undang Kelautan juga mendapat dorongan.
Para hadirin, perdebatan di Panmus luar biasa, penting juga saya laporkan supaya dapat gambaran. Ada dua kutub yang sangat sama-sama kuat dan bagus dan akhirnya menyatu. Pertama, betapa pentingnya MD3 karena MD3 tidak membicarakan satu undang-undang saja, tidak hanya membicarakan momen hari ini saja, membicarakan momen yang berikutnya. Oleh karena itu, dasar bagaimana kita bertindak dan menjaga eksistensi lembaga ada pada
Undang-Undang MD3. Kalau masih Undang-Undang MD3 seperti ini, apalagi nanti anggota baru berganti, akan sulit bagaimana DPD memperjuangkan hak-haknya, terutama di bidang legislasi. Yang kedua, bagus juga kalau hari ini andaikata ada perubahan, syukur-syukur betul-betul ada perubahan di mana ada tawaran bagaimana membahas Undang-Undang Kelautan dengan Tripartit dengan tiga hak yang seimbang. Kita tidak boleh berburuk sangka. Jika undang-undang ini juga akan menjadi peluang baru bagaimana DPR lebih terbuka, maka itu bagus ada konvensi di mana kita diberikan membahas secara tiga pisah. Tetapi, Undang-Undang MD yang sekarang tidak demikian bunyinya. Oleh karena itu, sambil menangkap peluang pembahasan Undang-Undang Kelautan menciptakan konvensi, mari kita perkuat dengan perjuangan di Tim Litigasi kepada MK. Oleh karena itu, tidak ada perdebatan lagi di Panmus. Sama-sama penting ini, perjuangan Undang-Undang Kelautan penting karena itu dibutuhkan oleh rakyat dan menghargai perjuangan Komite II, Tim Litigasi juga akan memperkukuh perjuangan kita ke depan karena ke depan tidak hanya bertumpu pada satu Undang-Undang Kelautan, tetapi masih ada undang-undang lain yang memerlukan dasar pembahasan di mana Tripartit itu harus diwujudkan.
Saya rasa itu saja yang bisa saya sampaikan. Akhirnya, sebagai persyaratan legal
standing sebagai lembaga negara, kami harapkan pada Sidang Paripurna kali ini setelah
dibahas melalui Panmus dan dapat disepakati, kami juga mohon agar dapat pengesahan dan persetujuan bahwa permohonan DPD untuk melakukan pengujian Undang-Undang MD3 terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 ke Mahkamah Konstitusi yang rencananya akan kami sampaikan dan registrasi permohonan ke Mahkamah Konstitusi pada tanggal 15 Agustus 2014. Sekali lagi kami mohon persetujuan. Ada pertanyaan, kenapa tanggal 15 sibuk-sibuk mengajukan permohonan? Karena, Undang-Undang MD3 ini oleh beberapa fraksi di DPR diajukan juga agar permohonan itu dapat dikabulkan sebelum tanggal 1 karena tanggal 1 anggota DPR disumpah segera memilih pimpinan. Memilih pimpinan berdasarkan MD3 ini, dipilih one man one vote. Berdasarkan yang lama, dipilih berdasarkan pemenang partai. Maka, ada pergulatan di Mahkamah Konstitusi di mana sudah diajukan oleh berbagai pihak. di situ sudah banyak sekali yang mengajukan sebelum kita, sedangkan kita tidak mungkin mengajukannya karena belum paripurna, Paripurna baru hari ini, maka paling cepat bisa melakukan besok. Tetapi, kalau kita terlambat mengajukannya, sudah terlanjur putus sebelum tanggal satu Oktober dan kita belum mengajukannya, jika kita mengajukan terlambat, andai kata permohonan uji materiil atau formil terhadap Undang-Undang MD3 sudah ditolak karena pengajuan pihak lain, maka permohonan judicial review oleh MD3 menjadi nebis in idem, tidak dibahas lagi karena sudah ditolak oleh pemohon sebelumnya. Kalau nebis in idem bagi sebuah lembaga negara itu tidak baik, sangat tidak baik. Maka, berlomba-lomba pihak-pihak lain mengajukan
judicial review itu sebelum ada nomor, sebelum disahkan tanggal 8 bulan ini. Padahal, aturan
menyatakan judicial review hanya bisa dilakukan terhadap RUU, artinya setelah diberi nomor. Tapi, praktik membuktikan, dalam Undang-Undang APBN perubahan, sebuah undang-undang boleh diajukan dalam praktik sebelum ada nomor, maka, pihak-pihak lain mengajukan sebelum ada nomor, sebelum tanggal 8, karena mereka tidak membutuhkan Paripurna seperti kita. Seperti partai, hanya membutuhkan pimpinan partai.
Oleh karena itu, tidak ada waktu lagi yang bisa tersisa untuk kita membiarkan ini tidak diajukan segera. Maka, tanggal 15 itu sudah dibahas oleh para ahli, jangan lagi mundur dari tanggal 15. Kalau mundur dari tanggal 15, kita tertinggal pembahasan dan bisa dianggap kita
nebis in idem. Oleh karena itu, berkali-kali sekalipun, mohon maaf, saya juga termasuk
mewakili teman-teman yang belum beruntung tidak terpilih lagi, tidak boleh kehilangan semangat untuk mendukung. Yang tak terpilih saja harus semangat, masa yang terpilih tidak semangat. Karena, bicara kelembagaan semua kita sudah pernah menjadi Anggota DPD. Semua anggota DPD harus bersemangat penguatan DPD, apakah periode pertama, kedua,
dan ketiga harus bersama-sama semangat karena kita pernah menjadi bersama-sama menjadi anggota
Sekian saja, terima kasih.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Salam sejahtera buat kita semua.
Om shanty shanty shanty om.
PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI)
Baik, Bapak-Ibu sekalian, sebagaimana yang dijelaskan oleh Ketua Tim Litigasi yang kita sepakati dibentuk pada periode yang lalu di mana beliau telah menjelaskan latar belakang semangat substantif dan sangat penting untuk keberlanjutan lembaga DPD sebagai bagian daripada sistem ketatanegaraan kita sehingga kepada kita dimintakan persetujuannya karena memang waktunya yang tidak ada lagi seperti yang disampaikan dengan jelas oleh Pak Wayan ya. Boleh saya sampaikan walaupun reses telah berjalan sejak 8 Juli yang lalu, satu hari sebelum Pilpres, tetapi para Tim Litigasi bersama Pimpinan kita secara kontinu rapat dibantu oleh Sekretariat Jenderal dan dibantu oleh penasihat hukum kita dan semuanya itu tanpa bayar ya, Pak Wayan ya, probono. Jadi, ini betul-betul karena hubungan baik antara DPD dan para tokoh-tokoh pakar-pakar hukum kita, antara lain DR. Todung Mulya Lubis, Alexander Lay, Pak Muspani Pak Aan Eko, Estu, dan juga teman-teman yang tentu kita tidak ragukan juga kemampuan daripada ini semua. Nah, sebelum saya mengambil keputusan, apakah masih ada yang ingin disampaikan sehubungan dengan judicial reviem kita atau apakah kita sepakat.
Silakan, Pak Asri, kalau ada.
PEMBICARA: MUH. ASRI ANAS (SULBAR) 125, Ketua.
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Selamat siang.
Salam sejahtera untuk kita semua.
Om swastyastu.
Yang kami hormati Ketua DPD dan seluruh Anggota para Senator yang terhormat. Tanpa mengurangi rasa hormat kami terhadap laporan dari Ketua Tim Litigasi, sebagai pengantar perlu kami sampaikan bahwa teman-teman yang tidak terpilih saja memiliki semangat yang tinggi, apalagi yang terpilih. Jangan pernah ragukan semangatnya teman-teman untuk memperjuangkan kepentingan DPD. Tetapi, melalui forum yang terhormat ini rasanya hasil perubahan Undang-Undang MD3 yang baru saja disahkan oleh DPR itu rasanya sangat melukai buat kita, terutama buat yang di DPD. Proses perjuangan judicial review yang dulu yang harusnya bisa diperjuangkan secara konstitusi oleh lembaga kita untuk menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan amandemen Undang-Undang MD3 ini ternyata bukan itu yang dipakai, bahkan jauh dari itu, jauh dari espektasi kita. Sehingga, melalui forum yang terhormat ini tidak ada salahnya rasanya kepada tiga Pimpinan DPD yang merupakan merepresentasi DPD secara kelembagaan dalam membangun komunikasi politik dan lain sebagainya sesuai dengan tata tertib melalui forum yang terhormat ini bisa menjelaskan kepada kita semua bagaimana alur cerita proses dari semua ini sehingga kejadiannya proses amandemen atau revisi Undang-Undang MD3 ini bukan semakin memposisikan DPD dengan baik. Melalui kami kebetulan di Tim Pengkajian di Majelis Permusyawaratan Rakyat pernah mempertanyakan ini, terutama kepada Saudara Benny K. Harman sebagai Ketua Pansus dan beliau mengatakan bahwa kami sudah mengirim surat
kepada Pimpinan DPD untuk memberikan tanggapan terhadap rencana revisi Undang-Undang MD3. Dan, standing atau jawaban yang diberikan oleh beliau rasanya secara institusi
kok menyalahkan kita. Ini mohon maaf, itu yang saya tangkap sehingga tidak ada salahnya
kepada ketiga Pimpinan bisa memberikan alurnya itu bagaimana? Ini pertanggungjawaban institusi. Secara eksternal Pimpinan DPD memiliki tanggung jawab untuk mengomunikasikan ini secara politik. Dan, masuk di, mohon maaf, masuk di ruangan tadi tiba-tiba kita mendapatkan pengajuan formil dan materi lagi untuk MD3 yang baru. Bukan, secara pribadi rasanya bukan saya menolak karena ini semua tujuannya untuk kepentingan DPD, tetapi yang dulu saja kita belum bisa maksimalkan. Dan, rasanya secara sesuai dengan tata tertib rasanya tidak ada salahnya melalui forum yang terhormat ini kita mendengarkan alurnya itu bagaimana sih, kok bisa seperti ini. Dan, pada forum yang terhormat ini tidak ada salahnya kepada Ketua DPD yang terhormat untuk, konteksnya bukan minta pertanggungjawaban, tetapi rasanya enak kalau melalui forum yang terhormat ini posisi kita bukan hanya mengesahkan melalui Paripurna keinginan Saudara Ketua Tim Litigasi untuk mengajukan ke MK. Tetapi, akan lebih elok kalau misalnya kita mendengarkan alurnya bagaimana, dan rasanya teman-teman juga ingin mendengarkan itu. Begitu ya, Pak Syukur ya. Kira-kira itu, Pimpinan.
Terima kasih.
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI) Saya rasa sudah paham. Terima kasih, Pak Asri.
Selanjutnya masih ada lagi? Silakan, Pak Farouk. PEMBICARA : Prof. Dr. FAROUK MUHAMMAD (NTB)
Terima kasih, Pimpinan.
Saya hanya mengusulkan saja pada halaman 4 dan mungkin pada halaman lain, mungkin kalimatnya, kalau masih sempat ya, kalimatnya mungkin bisa sedikit lebih soft, menghindari kalimat-kalimat yang terlalu tendensius. Karena, bagaimanapun ini antarlembaga negara, bukan antarpribadi. Penggunaan kata-kata “mengikis kewenangan”, “tidak menghargai”, “tidak menghormati”, dan sebagainya mungkin bisa diganti kalimat-kalimat yang lebih soft, yang lebih wise. Begitu juga argumentasi, kalau ini masih mungkin, kalau tidak apa boleh buat kita haerus berdiri di belakang Tim Litigasi. Ada empat hal di sini argumentasi yang mungkin tidak substansial saya piker, membandingkan jumlah pasal. Artinta, dengan mudah ini bisa disanggah, bisa dibantah oleh orang yang kita gugat, begitu. Jadi, mungkin karena tidak substansial, mungkin menghindari argumentasi-argumentasi yang seperti ini, dan kalau masih bias. Tetapi, saya tidak mengurangi arti.
Terima kasih.
PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI) Terima kasih.
Masih ada lagi? Silakan. Silakan Pak Paulus kalau ada ya. Mohon waktunya singkat biar saya dan bisa kita respons dan kita masuk ke agenda berikut.
PEMBICARA : Drs. PAULUS YOHANES SUMINO, MM. (PAPUA) Terima kasih, Pak Ketua.
Setelah mendengarkan dengan baik laporan Tim Litigasi, maka memang tadi saya melihat bahwa itu tepat kita ajukan karena ada substansi daripada martabat kita berdasarkan hasil MK tidak termuat di dalam MD3. Yang kedua, sayang bahwa alasan-alasan lebih mendasar, saya ulangi, alasan-alasan lebih mendasar untuk pentingnya kita ajukan pada
judicial review tadi itu tidak terangkat dalam laporan singkat itu. Sehingga, tadi saya
memahami apa yang disampaikan oleh Saudara Asri bahwa itu perlu ada penjelasan. Tetapi, sebenarnya kalau alasan-alasan yang mendasar itu tadi terungkap itu terjawab. Bahwa, DPD sebenarnya telah mendapat surat dari DPR untuk melakukan revisi terhadap Undang-Undang Tata Tertib, tetapi ternyata setelah DPD menyampaikan DIM, DIM-nya disampaikan, DPD tidak diajak lagi dalam membahas itu, tiba-tiba keluarlah itu Undang-Undang MD3-nya, kan begitu. Jadi, proses ini sebenarnya menurut saya, saya pahami yang perlu penjelasan daripada Saudara Asri.
Yang berikutnya, bahwa ada substansi hakikat jati diri DPD yang telah dikembalikan oleh MK justru dikebiri kembali di dalam MD3 ini, yang itu pasal-pasalnya tidak terungkap di dalam laporan daripada Ketua tadi. Sehingga, saya pikir itu begitu. Tetapi, saya pikir harap untuk ini kita tidak berhenti sampai di sini, apa yang tadi sudah diputuskan untuk kita jalankan. Penjelasan-penjelasan barangkali dapat disempurnakan di belakang.
Terima kasih, Ketua
PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI)
Baik, saya rasa cukup ya biar kita respons. Baik, teman-teman sekalian, terima kasih ini. Jadi, ini kesempatan juga untuk menjelaskan kepada kita semua, kepada Pak Asri yang mengajukan.
Pertama, saya ingin merespons, mungkin nanti akan dilengkapi oleh Tim PPUU ya. Begini, dulu waktu kita di awal, saya ingin sedikit flashback ya, mungkin di tahun 2012 kita ini kan semangat untuk melakukan penguatan kelembagaan ini melalui amandemen. Semua kita tahu, baik periode 2004 – 2009 dan 2009 – 2014. Nah, tetapi penguatan amandemen ini kan melibatkan pihak lain dan tidak mudah. Akhirnya, dengan berbagai diskusi dialog, ada yang setuju pro-kontra, akhirnya kita sepakat. Tetap perjuangan amandemen kita lakukan, bukan saja untuk DPD, tetapi bahkan untuk memperbaiki sistem ketatanegaraan, tetapi yang paling cepat adalah melalui judicial review. Sekitar bulan Oktober 2012, teman-teman sekalian, saya masih ingat betul kita mengajukan judicial review untuk kita meminta mengembalikan hak konstitusional DPD yang selama ini kalau kita baca Undang-Undang No. 27 Tahun 2009 kita menafsirkan atau DPR waktu itu, walaupun setelah ditolong banyak oleh anggota-anggota DPD periode 2009 – 2014, di sini ada saksinya Pak Fatwa, beliu ini adalah anggota Pansus DPR tahun 2008. Kami berhubungan dengan Pak Farhan Hamid. Sebenarnya posisinya sudah agak lebih baik, tetapi ternyata setelah kita pelajari betul, masih banyak juga loop hole-loop hole yang seolah-olah membahas mengajukan itu sifatnya tidak lagi imperatif, tetapi hanya sekadar makruh ya. Dilaksanakan berpahala, tidak dilaksanakan juga tidak berdosa, kira-kira analoginya seperti itu. Sehingga, akhirnya kita merasa apa yang kita telah hasilkan produknya tidak maksimal, walaupun ada pengakuan-pengakuan seolah-olah banyak subtansi daripada keputusan kita, apakah itu pendapat pendapat, apakah itu pertimbangan pengawasan dilaksanakan.
Nah, waktu kita bawa ke MK kita siap betul, timnya juga sama. Di luar dugaan kita,
justru putusan ini sangat baik sekali, di luar dugaan kita. Biasanya kalau Pak Wayan kalau ada pertandingan itu selalu dianggap, bagaimana menang tidak? Bukan menang lagi, 5-0. Jadi, artinya apa yang di-counter oleh DPR satupun tidak jalan. Akhirnya apa yang terjadi, teman-teman sekalian? Pembahasan dan pengajuan itu bukan hanya sekadar pertimbangan itu juga bukan imperatif yang dulu dianggap, seperti katakan, BPK boleh dipakai boleh tidak,
tetapi sesungguhnya makna substansinya adalah sama sederajat dengan lembaga DPR maupun Presiden. Putusan itu di 2013 langsung hari itu, besoknya saya mengirim surat ke presiden dan Pimpinan DPR, di sini ada saksi. Kemudian, 9 April seminggu setelah itu, surat ini direspons sehingga kami pimpinan bertemu dengan presiden, wakil presiden, Pak Asri, didampingi oleh Menko ya, Pak Laode ya? Ini rapat konsultasi. Nah, kita sampaikan hasil putusan MK tersebut. Presiden menyampaikan waktu itu, “Kami akan kawal.”
Nah, lanjutan daripada pertimbangan konsultasi itu, Setneg sebagai yang koordinator
dengan lembaga-lembaga negara mengundang Sekretariat Jenderal, bahkan dua kali, bahkan juga DPR. Kemudian, rumusan yang kita inginkan bagaimana bentuk tindak lanjut daripada mekanisme membahas itu Tripartit sudah kita serahkan. Belum ada itu pembahasan mengenai Susduk atau UU yang ada sekarang. Tetapi kita lihat praktiknya seperti yang ada, mungkin kalau Pak Farouk melaporkan ke saya dengan Komisi II itu baik sekali, tapi mungkin untuk yang komisi lain tidak ada bedanya dan lain sebagainya. Nah, surat yang saya ajukan ke DPR direspons, tapi menunggu mereka mengadakan pertemuan dulu dengan Pimpinan MK. Ternyata Pimpinan MK sekali datang, yang kedua kali tidak ada. Dan, saya ingat bersama Pak Wayan Sudirta, ya Pak Wayan, waktu itu masih Ketuanya Pak Akil Mochtar, saya datang konsultasi dengan Pak Akil karena DPR tidak mau mengadakan rapat konsultasi dengan DPD tanpa kehadiran MK yang mereka menganggap, Pimpinan DPR itu, seolah-olah putusan MK itu bertentangan dengan konstitusi. Coba bayangkan. Sehingga, apa yang terjadi? Tidak pernah ada pertemuan ya. Kalau apa yang dilakukan oleh Pimpinan itu ada record-nya ya nanti Pak Sesjen bisa bagikan ke semua anggota kronologisnya, ini penting ya.
Jadi, hari ini diumumkan sore, besoknya kita tayangkan surat berbarengan ke presiden dan DPR. Presiden merespons ada tindak lanjut, tetapi kita minta ada pertemuan Tripartit ya. Dua kali saya kirim surat, tapi alhamdulillah tidak pernah kejadian. Mungkin ada kepentingan politik yang berlangsung pada saat itu sehingga seolah-olah mungkin Presiden tidak enak karena memang dari DPR menolak sekali. Nah, akhirnya sampai Pansus MD3 itu terbentuk mulai sejak 15 Januari 2014, yang ingin saya katakan Pansus itu dari 15 Januari sampai 12 Mei, coba bayangkan. Nah, agendanya ada mulai dari 11 Februari sampai dengan terakhir. Saudara-saudara sekalian, dari agenda ini hanya satu jadwal yang diagendakan untuk DPD. Hanya pada pukul 2 sampai pukul 4 pada 21 Mei 2014. Saya juga protes ini, ada yang mewakili kita, tetapi mereka ini kan juga agenda-agendanya kan juga sibuk, mau pemilu dan sebagainya. Baik, saya kejar lagi Beni Herman sampai ke Bengkulu 1 Juli 2014. Saya undang dia, saya minta teman-teman Bengkulu untuk carikan durian yang paling enak di Bengkulu. Siapa yang mendampingi saya malam itu? Pak Asri ya. Saya minta juga semua. Apa katanya? Pokoknya kita dukung. Itu 1 Juli, lho. Saya minta Setjen untuk menyiapkan segala macam, kita minta lobi. Saya minta harus ada pertemuan, informasi sudah siap. Tahu-tahu sepihak mereka batalkan. Di sini ada ya, saya full time lho. Jadi, Tahu-tahu-Tahu-tahu terjadi pileg, pilpres kita tahu ya. Jangankan kita DPD, di antara fraksi saja mereka itu saling kucing-kucingan sehingga pansus yang terbentuk yang Ketuanya Pak Beni Herman, Wakilnya Nurul Arifin, segala macam ya dengan segala psikologis yang mereka miliki pascabulan pemilu pemilu legislative, kita tahu, akhinya diketok itu buru-buru tanggal 8 Juli.
Nah, kita juga tidak tahu kalau di DPD sudah siap semua, tidak ada lagi. Hanya satu
permintaan kita, tidak banyak-banyak ya, tolong dihormati hasil daripada putusan MK supaya menjadi bagian utuh daripada UU MD3. Tetapi, setelah kita lihat itu pun juga dengan cara-cara yang tidak terbuka mereka kasih, maka dimarahi juga staf yang ada di pansus. Kita dapat ya. Ternyata kita pelajari ya, di sini ada Pak Wayan, ternyata tidak utuh, bahkan sepenggal-sepenggal, bahkan kita melihat, prihatin kita. Langsung kita rapat kita putuskan untuk litigasi.
Jadi, menurut saya ini jelas dan apa yang saya sampaikan ini didukung oleh dokumentasi yang sangat jelas dari hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan sehingga akhirnya ya pilihannya memang tidak ada lagi ya harus kita membawa ini ke MK. Jadi, kalau teman-teman bisa pahami, bukan saja kita yang merasa katakanlah ditelikung, makanya saya sampaikan ke publik bahwa Undang-Undang MD3 ini buruk, diskriminatif. Saya tidak bisa uraikan lebih banyak lagi, di samping tidak mengakomodasi kita, ada diskriminasi, tidak akuntabel, tidak transparan. Makanya, KPK mengundang saya. Saya waktu itu didampingi oleh Pak Wayan dan sebagainya, dua jam kita jelaskan. Makanya, kita mendapat dukungan penuh dari masyarakat, baik civil society maupun KPK maupun lembaga-lembaga lain yang barangkali yang disorotnya berbeda. Kita mungkin soal kewenangan kita, tetapi yang lain mungkin melihat dari segi akuntabilitas dan sebagainya.
Jadi, teman-teman sekalian, percayalah ya kita dari meja Pimpinan bersama tim PPUU semua bekerja keras. Statement-statement apa yang saya sampaikan itu clear ya dan loader begitu ya, dan keras. Nanti kita juga minta ke Setjen dibagi ke anggota sehingga tadi boleh dikatakan DPR, pimpinan bersama balegnya mengakomodasi judicial review tanpa kita juga mengurangi semangat untuk tetap kita besok untuk mengajukan.
Inilah yang bisa saya sampaikan. Mungkin Pak Laode bisa ingin menambahkan beberapa hal untuk menjawab kalau nanti ada teman-teman balik bertanya bagaimana kondisinya. Saya persilakan, Pak Laode.
PEMBICARA : Dr. LAODE IDA (WAKIL KETUA DPD RI) Terima kasih.
Tambahan informasi saja sebetulnya. Proses dan kemudian hasil dari putusan MK saya kira merupakan satu prestasi itu sendiri buat kita semua di DPD ini di mana bisa meyakinkan kembali diri kita bahwa Undang-undang MD3 yang lalu bertentangan dengan konsititusi. Oleh karena itu, diluruskan oleh MK. Sekadar tambahan saja, Pak Ketua, bahwa konsultasi April Pimpinan DPD pada bulan April tahun 2013 yang lalu sebetulnya adalah konsultasi khusus yang membahas yang waktu itu tidak lebih jauh membahas masalah-masalah lain, tetapi fokus pada masalah hasil judicial review. Singkat cerita, Presiden SBY di hadapan kami berdua pada Pimpinan DPD waktu itu dan Wakil Presiden dan seluruh jajarannya berjanji untuk mengumpulkan seluruh pimpinan lembaga negara DPR, DPD, MPR, dan seterusnya yang terkait untuk bicarakan soal ini untuk mengomunikasikan putusan MK agar itu dijalankan. Itu janji Presiden pada saat itu. Tetapi, barangkali ini fakta lapangan juga bahwa operasionalisasi dari janji itu ternyata yang bertemu adalah Sekretariat. Sekretariat negara mengundang Sekretariat DPD, Sekretariat DPR, dan juga MK saya kira pada saat itu. Yang belum terwujud sampai hari ini dan sampai terjadinya perubahan MD3 adalah janji presiden itu. Tetapi, sebetulnya okelah ini saya tidak mau mempertajam ini, hanya saja waktu itu keterlanjuran kita adalah menanti janji presiden sampai dengan bertemuanya seluruh pimpinan lembaga negara DPR, DPD, MPR, juga MK barangkali, saya kira juga MK waktu itu dia janji, untuk melakukan koordinasi agar putusan MK ini dieksekusi di lapangan sehingga tidak bermasalah lagi sehingga Undang-Undang MD3 itu secara otomatis sebetulnya ruhnya setelah pada saat presiden berbicara pada waktu itu adalah diubah sesuai dengan putusan MK.
Sekali lagi ini luput atau barangkali tidak terlaksana sampai hari ini, tetapi ini sebuah peristiwa yang kita juga tidak bisa berbuat banyak untuk meminta atau memaksa Presiden karena kita tidak punya kewenangan untuk untuk memaksa. Proses-prosesnya kemudian dan kemudian saya melakukan bicara, baik secara resmi maupun informal dengan beberapa teman dari DPR, memang sebagian keberatan besar dengan putusan MK, termasuk satu waktu kami bawa dalam perdebatan di media elektronik, di media TV. Tetapi, sebetulnya
setuju bahwa itu harus dilakukan. Hanya karena mereka menganggap bahwa ini melampaui, katakanlah seperti alasannya melampaui, kemudian ya engganlah.
Proses-proses yang terjadi termasuk juga terkait dengan terkait dengan rancangan Undang-Undang Kelautan sebagai informasi menurut perjalanan ke belakang sebetulnya itu rancangan Undang-undang Kelautan akan dibahas pada tahun yang lalu, 2013 yang lalu. Diakui bahwa rancangan Undang-undang itu asalnya dari DPD. Dan, kami sudah melakukan serangkaian pertemuan untuk itu, tetapi ketika diminta, ini kan ini persoalan komunikasi juga, seringkali kita bagaimana waktu membangun komunikasi ini bagi saya waktu itu sebetulnya yang penting rancangan Undang-undang Kelautan ini dibahas karena dia tahu bahwa asalnya dari DPD. Tetapi, kita karena waktu itu sudah berangkat sudah mengacu pada putusan MK, oke ini tidak bisa diambil oper di Baleg di DPR, kemudian akan dijadikan hak inisiatif DPR karena memang sudah ada keputusan MK waktu itu tentang kewenangan DPD. Maka, suasana psikologis agak terganggu sampai kemudian dibawa, dibahas kembali karena teman-teman DPD waktu itu saya kira ada yang melakukan komunikasi, bahkan bersurat untuk tidak menyetujui proses seperti itu. Ini kan proses ketersinggungan juga yang harus kita sadari waktu itu sebetulnya menjadikan mereka, bagaimana kita sudah siap bahas rancangan Undang-undang itu, kemudian kita harus tidak jadi karena padahal diseriusi betul oleh pemerintah pada waktu itu, termasuk dengan Kelautan.
Nah, itulah yang apa yang saya mau katakan sebetulnya, mungkin saja karena proses
komunikasi pimpinan ya maju saja sebetulnya. Tetapi, di di dalam diri kita sendiri memang ada tafsir yang berbeda-beda untuk melakukan putusan MK itu. Secara umum memang bahwa putusan MK sebetulnya menurut konsultasi dengan berbagai ahli konstitusi atau ketatanegaraan itu tidak perlu dilakukan perubahan Undang-Undang MD3 dulu, menunggu itu dulu baru diterapkan, baru eksekusi keputusan MK. Tetapi, harus dilakukan memang setelah putusan MK itu karena bersifat mengikat. Oleh karena itu, perubahan Undang-Undang MD3 sebetulnya pada saat itu hanyalah semangatnya bisa mengakomodasi putusan MK ini. Tetapi, ternyata tidak dalam proses-proses yang dijelaskan oleh Pak Ketua tadi. Jadi, proses-proses yang dijelaskan oleh Pak Ketua memang tidak ada yang bisa berbuat banyak ketika keputusan itu diproses dan diambil di dalam pansus di DPR. kita tidak bisa mengintervensi lebih jauh. teman-teman dari Tim Undang MD3, revisi Undang-undang MD3 saya kira kita harus beri apresiasi sudah bekerja terus, masuk terus sekretariat memantau setiap hari di sana, memantau perkembangan dari waktu ke waktu, tetapi tidak bisa juga berbuat banyak karena ketika mengambil putusan, apalagi proses-prosesnya itu tidak bisa kita paksa untuk kita datang ke sana, kita harus ribut terus kecuali. Maka, kemudian inilah yang terjadi, hasil yang maksimal yang dilakukan oleh DPD secara kelembagaan. Pimpinan DPD yang memandu di bawah Pak Irman dan secara lebih khusus Tim Revisi Undang-Undang MD3 yang telah bekerja keras. Makanya, itu saya mau katakan ini adalah hasil terakhir sebetulnya yang tidak diharapkan karena ini memang bagaimana posisi kita seperti itu, kecuali kita ramai-ramai setiap hari kita ribut terus, ribut terus, ribut terus, kontroversi juga orang katakana. Ini tidak boleh karena tidak ada boleh suasana kisruh atau gaduh di antara lembaga negara. Proses kedamaian itulah sebetulnya yang kita lakukan selama ini, tetapi akhirnya pun itu ternyata seperti ini.
Oleh karena itu, tadi saya katakan saya Pimpin Rapat Panmus sejak pagi sampai selesai, sampai selesai juga pertemuan di DPR itu memang disepakati memang ya apa boleh buat ini kalau bagi teman-teman DPD, rekan-rekan, apalagi yang akan melanjutkan, terimalah ini sebuah kenyataan yang terus memang mungkin nasibnya untuk terus diperjuangkan. Begitu, Bung Asri ya. Terima kasih, itu penjelasan tambahan saja dari saya.
PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI)
Baik, saya rasa cukup jelas tidak perlu diperjelas lagi. Ini juga akan menjadi sebuah catatan kita, dokumen bagaimana berjuang. Ini kan perjuangan politik ya, tidak bias, kita banyak juga menimbang yang lain. Tetapi, alhamdulillah ya walaupun diakhir ini ya seperti tadi itu RUU Kelautan itu merupakan manivestasi pengakuan daripada DPR terhadap putusan judicial review, itu yang harus kita lihat di balik itu. Tetapi, terlanjur litigasi ini sudah kita jalan, kita jalan saja ya. Jadi, apa yang rapat kami tadi itu luar biasa. Bukan soal materi saja yang luar biasa, tetapi mekanisme pembahasannya itu mengacu kepada putusan MK, yaitu tripartit. Jadi, memang politiknya begitu ya. Kita ini kan bukan gerombolan atau apa ya. Politik itu kan take and give. Kalau bilang terlambat, juga tidak. Usia kita kan baru menjelang 10 tahun, belum juga 10. DPR itu usianya 69 tahun, tidak perlu KTP lagi kalau manusia itu kan. Jadi, saya kira what we have done perlu kita apresiasi diri kita dan teman-teman semuanya. Mari kita tepuk tangan buat kita semualah.
Baik, teman-teman sekalian, nanti soal mekanisme semua substansi barangkali kalau ada waktu nanti malam juga Pak Farouk juga mungkin hadir kalau kita undang ya, itu juga akan ada pertemuan atau mungkin ada dari Pak Wayan ya. Kalau ada dari materi ini, kalau ada penyempurnaan sebelum nanti besok akan diserahkan jam berapanya, kami persilahkan ke Tim Litigasi dan teman-teman yang mewakili, kalimat-kalimatnya. Mungkin ada dari Pak Wayan saya lihat ada gesture-nya yang mau menyampaikan sesuatu.
Silakan, Pak.
PEMBICARA : I WAYAN SUDIRTA, SH. (BALI)
Ini memang tanggung jawab moral dan memang ini sudah didiskusikan Jangan sampai
judicial review ini tidak didukung oleh semua anggota, itu satu. Kedua, ini masa transisi,
jangan sampai setelah periode ini mengajukan, nanti periode berikutnya mencabut permohonan. Karena itu, kami luar biasa hati-hatinya. Dan, untuk menunjukkan itu, saya harus menjawab beberapa yang disampaikan.
Ada tiga hal yang belum terjawab. Satu, masalah redaksi dari Pak Farouk. Kedua, masalah argumen dari Pak Paulus. Kemudian yang ketiga, pasal-pasal dari Paulus juga. Tim Litigasi ada lima orang. Prof. Jhon keluar ruangan. Mungkin dari anggota bisa diwakili satu saja, sesudah itu dari pimpinan satu karena Pak Jhon keluar, biar saya dari pimpinan. Dari anggota mungkin di antara Bu Iin, Pak Anang, dan Pak Alirman? Apa disetujui Pak Alirman yang mewakili? Silakan, Pak Alirman 2 menit, saya nanti ambil 2 menit. Ada tiga yang belum terjawab ini, mari kita sama-sama menjelaskan apa benar Tim Litigasi ini bekerja serius, berhati-hati, sudah menghitung segala sesuatu, termasuk yang ditanyakan ini.
Silakan Pak Alirman kalau diizinkan.
PEMBICARA : ALIRMAN SORI, SH., M.Hum., MM. (SUMBAR) Baik, terima kasih Pimpinan.
Saya mohon maaf, sangat tidak mungkin menjelaskan pada forum hari ini, apalagi waktu sangat mendesak untuk laporan daerah. Nah, yang paling penting bagi kita adalah apa yang sampaikan oleh Pak Wayan saya garis bawahi. Kalau memang anggota yang 132 ini ada yang tidak bulat untuk memberikan persetujuan terhadap maju lagi Tim Litigasi ke MK, menurut saya tidak perlu dilanjutkan. Kalau itu akan dilakukan dalam konteks politik, bisa saja terjadi setelah dilantik anggota DPD yang baru ya ini bisa-bisa berubah dalam bentuk lain. Jadi, kewibawaannya tidak ada. Karena, tidak mungkin dalam ruang yang terbatas, waktu yang sangat terbatas apa yang diminta oleh teman-teman untuk bisa dijelaskan hari ini.
Terima kasih.
PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI)
Baik, jadi saya rasa saya bisa membaca, pada prinsipnya kita semua sepakat ya, setuju Tim Litigasi ini kita beri mandat penuh untuk kita mengajukan judicial review ke MK. Apakah ini bisa kita sepakati? Setuju?
Baik, tepuk tangan buat kita semua.
PEMBICARA : I WAYAN SUDIRTA, SH. (BALI) Tapi, saya ingin menjawab dulu.
PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI) Silakan, Pak Wayan, kalau ada.
PEMBICARA : I WAYAN SUDIRTA, SH. (BALI)
Baik. Saya berhati-hati sekali ketika menerima penunjukan dan diputuskan saya sebagai Ketua Tim Litigasi saya berada di daerah karena sedang reses. Tetapi, saya membayangkan rapat waktu itu memang diperlukan tim yang solid. Saya tidak tahu kenapa saya ditunjuk lagi. Semula saya menolak, tetapi ada pejabat penting menelepon saya, Pak Anang juga menelepon saya. Akhirnya kok saya tidak bisa menolak untuk memegang posisi ini.
Pertanyaannya, kita mau membiarkan tidak UU MD3 ini mempereteli hak-hak DPD? Hak-hak Anggota DPD? Bahkan, lebih lemah daripada MD3 yang terdahulu dan tadi sudah dipaparkan di Panmus. Kalau kita mau dilemahkan ya tidak usah mengajukan judicial review memang. Kalau kita mau melawan tidak boleh menunggu-nunggu karena nanti nebis in idem karena orang lain sudah mengajukannya. Karena itu, dengan segala tenaga, segala daya, Pimpinan, Sekretariat Jenderal, dan Tim ini bekerja tiada henti. Nah, kasih saya memberikan penjelasan, Pak Ketua, dulu karena ini masalah yang sensitif. Saya sebenarnya tahu diri. Orang yang tak terpilih itu apa pun diomongkan kalau di dalam politik tidak elok. Orang tidak terpilih, kok. Saya menyadari itu, tetapi sekali lagi karena tanggung jawab moral dan politik saya masih sebagai anggota, saya menerima posisi ini.
Lalu, pertanyaan Pak Farouk, saya setelah baca halaman 4, silakan baca kembali halaman 4. Mungkin yang dimaksud halaman lain, tapi tadi disinggung halaman 4. Belum bisa saya lihat satu kata pun yang kurang bijaksana di situ. Silakan koreksi halaman 4 dari segi redaksi, mungkin halaman lain.
Yang Pak Paulus, pasal-pasal. Mungkin Pak Paulus orang yang teliti, tetapi mungkin belum dilihat pasal-pasalnya. Namanya saja pengantar laporan, kan tidak mungkin membaca semua. Tetapi, kalau dilihat di dalam permohonan, terutama bagian akhir, saya sebut satu persatu pasalnya yang luar biasa banyak, Pak. Pasal 71, 72, 165, 166, 166 Ayat (2), 167, 174, 276, 277, 170 Ayat (5), 171 Ayat (1), 249, 245, dan seterusnya. Kalau saya baca ini sampai lelah ini, Pak. Seluruhnya pasal yang merugikan DPD itu kami telisik dan sudah kami
cantumkan. Tentang alasannya, silakan baca lebih teliti. Begitu Pak Paulus nanti membaca ini pasti dia yakin.
Tetapi, sumbangan Pak Asri, sumbangan Pak Prof., sumbangan Pak Paulus jangan dianggap kecil karena ini mekanisme parlemen yang sangat demokratis harus disimak. Saya harus memandang sumbangan itu sesuatu yang sangat positif. Dia masih mau peduli memberi sumbangan sekalipun belum bisa membaca semua, mereka memberi sumbangan kan boleh karena waktunya mungkin mendadak. Tetapi, yang terakhir ada perbaikan-perbaikan yang secara teratur, bertahap dibolehkan karena di MK permohonan boleh diperbaiki. Maka, teman-teman yang tadi memberi masukan dan yang belum memberi masukan, saya berharap dalam rapat-rapat Tim Litigasi ikut serta. Pimpinan dan Setjen tolong memonitor pikiran-pikiran bagus seperti tiga orang anggota ini jangan tidak diakomodasi. Mereka mungkin di luar tiga orang ini ada yang lain lagi, tolong dimintakan pendapat kalau Tim Litigasi ini rapat.
Terima kasih, Pak Asri, mudah-mudahan bisa rapat nanti malam. Pak Paulus, Pak Farouk, mudah-mudahan bisa rapat dan juga rapat-rapat berikutnya itu karena kami ini rapatnya siang malam sampai jam 3 pagi merumuskannya. Terima kasih.
PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI)
Baik, jadi sekali lagi teman-teman sekalian ini semangat kita bersama, tentu semua bagaimana pun kita ada rasa sense of belonging ya, rasa memiliki lembaga ini sehingga makanya Pak Wayan menyampaikan tadi itu dengan penuh rasa sayang kalau menurut saya. Jadi saya rasa cukup. Terima kasih. Dan, mari kita beri apresiasi buat teman-teman Tim Litigasi.
PEMBICARA : Drs. PAULUS YOHANES SUMINO, MM. (PAPUA) Ketua, saya mohon izin sedikit. Satu menit tidak sampai.
PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI) Masih mau lagi?
PEMBICARA : Drs. PAULUS YOHANES SUMINO, MM. (PAPUA)
Pak Ketua, sebenarnya saya tidak menanyakan apa-apa tadi. Tidak meragukan juga tentang, sabar dulu Pak, tidak meragukan juga langkah debat Tim Litigasi. Hanya saja karena tadi terangkat masalah yang diangkat oleh Saudara saya Asri, saya justru mendudukkan pada masalahnya bahwa yang diungkapkan di Panmus tadi sudah sangat sempurna, sudah sangat baik. Hanya saja itu kan tidak ter-cover laporan yang disampaikan Ketua Tim tadi. Andaikata itu ter-cover saya pikir masalah kita menjadi sangat jelas. Jadi, saya sendiri tidak menanyakan, tidak meragukan langkah-langkah itu.
Terima kasih, Pak Wayan.
PIMPINAN SIDANG : H. IRMAN GUSMAN, SE., MBA. (KETUA DPD RI)
Baik, teman-teman sekalian. Inilah namanya demokrasi kita sering mendengarkan. Saya juga merasa terima kasih juga diberi kesempatan untuk menjelaskan, begitu ya. Jadi, dengan adanya pertanyaan begitu, kronologisnya bahkan nanti saya minta Pak Sesjen pasal usulan MK itu apa yang telah kita putuskan. Karena, ini adalah bagian dari dokumen sejarah
dalam perjuangan kita dalam proses penguatan kelembagaan kita. Jadi, ini pejuang politik ya begitu. Jadi, secara bertahap kita sudah agak baik.
Baik, kita beranjak ke agenda kedua yang penting. Nah, tadi di awal sudah saya tawarkan, ini masih ada dua jam waktu. Untuk pertama, apakah kita mulai sidang ini, apakah bisa menyerahkan saja ke Pimpinan, kemudian nanti akan dibagikan ke alat kelengkapan ya. Kalaupun ada nanti ada permintaan oleh wakil dari Sumatera Utara karena beliau itu urgent sekali harus ada acara, dia meminta untuk pertama. Kalau itu disepakati, kemudian kalau boleh saya memulai dari dari Timur ya, nanti mau menyerahkan sebelah kanan. Baik, apa bisa kita setujui? Setuju.
Kami persilakan Pak Rahmat kalau ada.
PEMBICARA : M Dr. H. RAHMAT SHAH (SUMUT)
Bismillahirrahmanirrahiim, assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Selamat sore.
Salam sejahtera bagi kita sekalian.
Om swastyastu.
Yang terhormat Bapak Ketua, Bapak dan Ibu Wakil Ketua, Bapak-bapak dan Ibu-ibu Anggota DPD RI yang saya hormati, serta hadirin sekalian yang saya muliakan. Izin menyampaikan laporan kami berempat dari Sumatera Utara: Pak Rudolf Pardede, Rahmat Shah, Parlindungan Purba, dan Ibu Darmayanti Lubis. Saya berterima kasih diberi kesempatan pertama karena kami mengadakan halal bihalal hari ini, Perhimpunan Kebun Binatang se-Indonesia di Taman Mini. Saya mohon maaf karena kita mestinya Paripurna besok, Ketua. Jadi, saya mengambil hari ini jam 4, ternyata kalau kita terus saja Pak Wayan ini, saudara kita yang baik ini yang semangatnya luar biasa ini tidak akan pernah habis dengan Pak Paulus.
Izin, kami sampaikan beberapa pesan, juga berkaitan dengan Tim Litigasi saya juga ikut. Semangatnya tadi pagi juga ikut. Pak Laode menyampaikan sudah betul-betul lengkap, bahkan persentase lengkap, baru ditambahi lagi Ketua dan Ibu tadi, sudah sangat lengkap. Makanya, Pak Paulus juga tadi hadir mendengar lengkap. Sekarang sudah hilang lagi Pak Paulus. Oh, sudah pindah tempat, misterius. Sayang Pak Paulus tidak ikut lagi ke depan. Sebetulnya ramai DPD ini kalau ada Pak Paulus.
Saya izin menyampaikan beberapa hal hanya tiga menit. Pertama, harapan kita bersama para pejabat Muspida di daerah memperoleh berbagai masukan dan saran dari berbagai kalangan untuk kemajuan pembangunan dan perbaikan kesejahteraan masyarakat. Karena, sebenarnya Indonesia memiliki potensi yang besar untuk menjadi negara terdepan di berbagai sektor pembangunan. Untuk mewujudkan impian tersebut, tentu mutlak dibutuhkan komunikasi dan kepekaan antara pemimpin dengan masyarakat di daerah kita semua. Sedangkan, untuk memaksimalkan sinergisitas itu tentu mutlak dibutuhkan komunikasi dan kepekaan para pemimpin untuk menyahuti aspirasi maupun harapan dari masyarakat. Ini kami sampaikan, saya mohon maaf Bapak Ibu sekalian yang saya muliakan, kita masalah tanah, khususnya Pak Anang sahabat saya dan teman-teman lain di berbagai daerah. Kita telah mengundang menteri BUMN waktu itu Departemen Keuangan, berbagai instansi terkait termasuk empat kepala daerah kabupaten/kota dan masyarakat. Ternyata ditandatangani di DPD RI di Komite I. Dijanjikan dua bulan, alhamdulillah sudah dua tahun belum selesai. Kemudian, soal kelistrikan juga kami laporkan, ini yang penting. Juga, masalah mati-mati