• Tidak ada hasil yang ditemukan

e-journal PG-PAUD Universitas Pendidikan Ganesha Jurusan Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (Volume 2 No 1 Tahun 2014)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "e-journal PG-PAUD Universitas Pendidikan Ganesha Jurusan Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (Volume 2 No 1 Tahun 2014)"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN EXAMPLE NON EXAMPLE

BERBANTUAN MEDIA PAPAN PLANEL UNTUK MENINGKATKAN

PERKEMBANGAN KOGNITIF ANAK

DI TK PRADNYA PRAMITA

KECAMATAN TABANAN

Luh Inten Cahya Wulan1, I Nyoman Wirya2, I Nyoman Jampel3

1

Jurusan Pendidikan Guru PAUD

2

Jurusan (Teknologi Pendidikan)

3

Jurusan (Teknologi Pendidikan) Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Ganesha

Singaraja, Indonesia

e-mail: [email protected]@yahoo.com1, nyomanwirya2, [email protected]

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan perkembangan kognitif anak TK pada kelompok B2 di TK Pradnya Pramita Kecamatan Tabanan dalam mengenal konsep bilangan dan lambang bilangan dengan menerapkan model pembelajaran

Example non example berbantuan media papan planel. Jenis penelitian ini adalah

penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus. Subjek penelitian adalah anak TK pada kelompok B2 Semester II Tahun Pelajaran 2013/2014 yang berjumlah 25 orang dengan 11 orang anak laki-laki dan 14 orang anak perempuan. Data tentang perkembangan kognitif dikumpulkan dengan metode observasi. Data hasil penelitian selanjutnya dianalisis dengan menggunakan metode analisis statistik deskriptif dan metode analisis deskritiptif kuantitatif. Hasil analisis data menunjukkan bahwa terjadi peningkatan perkembangan kognitif dengan penerapan model pembelajaran Example non example berbantuan media papan planel pada siklus I sebesar 40,2% yang berada pada kategori sangat rendah ternyata mengalami peningkatan pada siklus II menjadi 84,4% tergolong pada kategori tinggi. Jadi terjadi peningkatan perkembangan kognitif anak sebesar 44,2%.

Kata-kata kunci: model pembelajaran Example non example, media papan planel,

perkembangan koginitif.

Abstract

This study aims to determine the increase in cognitive development at the kindergarten children in kindergarten group B2 Pradnya Pramita Tabanan District of the familiar concept of numbers and symbols by applying the model numbers of non example Example assisted learning media flannel board . This research is an action research conducted in two cycles . Subjects were kindergarten children in group B2 Second Semester Academic Year 2013/2014 , amounting to 25 people with 11 boys and 14 girls . Data on cognitive ability were collected by the method of observation . The data were then analyzed using descriptive statistical analysis and quantitative analysis methods deskritiptif . The results of the data analysis showed that an increase in cognitive development with the application of a non example Example learning model -assisted media flannel board in the first cycle of 40.2 % which is very low in the category turns out to have increased in the second cycle to 84.4 % classified in the high category . So an increase in cognitive development of children by 44.2 % .

Keywords: Example learning model non example, media flannel boards, koginitif

(2)

PENDAHULUAN

Pendidikan anak usia dini

merupakan salah satu bentuk satuan pendidikan pada jenjang pendidikan anak usia dini yang pada hakekatnya adalah pendidikan yang diselenggarakan dengan tujuan untuk memfasilitasi pertumbuhan

dan perkembangan anak secara

menyeluruh atau menekankan pada

pengembangan seluruh aspek kepribadian anak. PAUD juga bertujuan membangun landasan bagi berkembangnya potensi anak agar menjadi manusia beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kritis, inovatif, mandiri, percaya diri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.

Menurut M. Hariwijaya (2007:14),

mengemukakan bahwa PAUD dapat

diartikan sebagai salah satu bentuk jalur pendidikan dari usia 0-6 tahun, yang diselenggarakan secara terpadu dalam satu program pembelajaran agar anak dapat mengembangkan segala guna, dan kreativitasnya sesuai dengan karakteristik perkembangannya.

Sesuai dengan tahapan

perkembangan dan pertumbuhan anak ini, maka di setiap sekolah TK/PAUD penting

memahami perkembangan dan

pertumbuhan anak usia dini. Seperti halnya di TK Pradnya Pramita Tabanan, terdapat berbagai karakteristik anak yang berbeda-beda. Dengan karakteristik anak yang berbeda-beda ini, maka di sekolah

ini memperhatikan segala aspek

pertumbuhan dan perkembangan anak yang dirangsang sehingga setiap anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.

Meskipun di TK Pradnya Pramita Tabanan ini sudah mengembangkan segala aspek perkembangan anak, namun pada tahun pelajaran 2013/2014 terdapat satu aspek perkembangan anak yang

mencakup aspek perkembangan

kognitifnya dalam mengenal lambang bilangan masih sangat rendah.

Setelah ditelurusi lebih jauh, maka diketahuilah bahwa salah satu faktor penyebab rendahnya hasil belajar dalam aspek perkembangan kognitif anak antara

lain: kurang menariknya guru dalam menggunakan metode pengajaran dalam menyampaikan pesan kepada anak didik, penggunaan media yang kurang menarik

perhatian anak didik dalam proses

pembelajaran, dan kurangnya perhatian orang tua terhadap aspek perkembangan anaknya.

Dengan memperhatikan faktor

tersebut, maka dilakukan penelitian untuk

dapat mengembangkan aspek

perkembangan kognitif anak dengan

penggunaan model pembelajaran yang menarik serta media yang menarik bagi anak. Dalam penelitian ini menggunakan

model pembelajaran example non

example. Model Pembelajaran examples non examples atau juga biasa di sebut examples and non-examples merupakan

model pembelajaran yang menggunakan gambar sebagai media pembelajaran. Penggunaan media gambar ini disusun

dan dirancang agar anak dapat

menganalisis gambar tersebut menjadi sebuah bentuk diskripsi singkat mengenai apa yang ada didalam gambar.

Dengan menerapkan model

pembelajaran example non example ini, diperlukan sebuah media yang menarik

untuk dapat menerapkan model

pembelajaran ini. Kata media berasal dari bahasa latin yang merupakan bentuk jamak dari kata medium yang berarti perantara atau pengantar. Media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian anak didik sehingga proses pembelajaran dapat terjadi (Sadiman, 2002:6). Salah satu media yang digunakan dalam mengenal

lambang bilangan ini yaitu dengan

menggunakan media papan planel. Papan planel adalah media visual yang efektif untuk menyajikan pesan-pesan tertentu pada sasaran anak didik. Papan berlapis kain planel ini dapat dilipat sihingga praktis. Gambar-gambar yang akan disajikan dapat dipasang dan dilepas dengan mudah, sehingga dapat dipakai

berkali-kali. Selain untuk menempel

gambar-gambar, dapat juga untuk

(3)

planel menggunakan papan yang berlapis kain planel, sehingga gambar yang akan disajikan dapat dipasang, dilipat dan dilepas dengan mudah dan dapat dipakai berkali-kali. Papan planel termasuk salah satu media pembelajaran dua dimensi, yang dibuat dari kain planel yang ditempelkan pada sebuah triplek atau papan.

Dari latar belakang masalah

tersebut, maka dilakukan penelitian

Penerapan Model Pembelajaran Example

non example Berbantuan Media Papan

Planel Untuk Meningkatkan

Perkembangan Kognitif Pada Anak

Kelompok B2 Semester II Tahun Ajaran

2013/2014 di TK Pradnya Pramita

Tabanan.

Model-model pembelajaran adalah beberapa cara atau teknik yang digunakan oleh guru kepada siswa dalam menyajikan materi pembelajaran dalam sebuah proses pembelajaran agar tujuan pembelajaran yang sudah dirancang dapat tercapai.

Model pembelajaran menurut Toeti Soekamto (dalam Winataputra 2008:78)

mendefinisikan bahwa model

pembelajaran sebagai kerangka

konseptual yang menggambarkan

prosedur yang sistematis dalam

mengorganisasikan pengalaman belajar bagi para siswa untuk mencapai tujuan

pembelajaran dan berfungsi sebagai

pedoman bagi perancang pembelajaran dalam melaksanakan aktivitas belajar mengajar.

Beberapa jenis model pembelajaran

baru yang diterapkan dalam dunia

pendidikan yaitu; (1) CTL (Contextual

Teaching and Learning), (2) CL

(Cooperative Learning), (3) PBL (Problem

Based Learning), (4) Pembelajaran

bersiklus (Cycle Learning), (5) RME (Realistic Mathematic Education), (6) OE (Open Ended) (7) Example non example.

Model Examples Non Examples merupakan salah satu pendekatan Group

investigation dalam pembelajaran

kooperatif yang dirancang untuk

mempengaruhi pola interaksi siswa dan meningkatkan perolehan hasil akademik (Ibrahim, 2002:3).

Menurut Rochyandi (dalam Ibrahim, 2002) model pembelajaran kooperatif tipe

example non example adalah Tipe

pembelajaran yang mengaktifkan siswa dengan cara guru menempelkan contoh gambar-gambar yang sesuai dengan tujuan pembelajaran dan gambar lain yang relevan dengan tujuan pembelajaran,

kemudian siswa disuruh untuk

menganalisisnya dan mendiskusikan hasil

analisisnya sehingga siswa dapat

membuat konsep yang esensial.

Sedangkan menurut Hamzah (2009:113) menyatakan bahwa model pembelajaran

examples non examples ini terdiri dari dua

kata yaitu examples yang berarti

memberikan gambaran akan sesuatu yang menjadi contoh akan suatu materi yang

sedang dibahas, sedangkan non

examples adalah memberikan gambaran

akan sesuatu yang bukanlah contoh dari suatu materi yang sedang dibahas.

Dari beberapa pendapat tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa model

pembelajaran example non example

adalah pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan mengaktifkan siswa dengan cara guru menempelkan contoh gambar-gambar yang sesuai dengan materi yang sedang dibahas untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Prinsip Reaksi model pembelajaran Examples Non Examples adalah guru memberi satuan informasi yang besar menjadi komponen-komponen yang lebih kecil. Selanjutnya guru membagi siswa kedalam kelompok belajar 2-3 orang

siswa, sehingga setiap anggota

bertanggung jawab atas setiap

penguasaan komponen-komponen yang di

tugaskan sebaik-baiknya. Sehingga

menyebabkan tumbuhnya rasa senang dalam proses belajar mengajar, serta dapat menjadikan siswa lebih semangat belajar karena dapat melihat secara langsung.

Adapun kelebihan dalam model

pembelajaran example non example

menurut Buehl (Depdiknas, 2007:219) antara lain: siswa berangkat dari satu definisi yang selanjutnya digunakan untuk

memperluas pemahaman konsepnya

dengan lebih mendalam dan lebih

kompleks, siswa terlibat dalam satu

(4)

mendorong mereka untuk membangun konsep secara progresif melalui pengalaman dari example dan non example, siswa diberi sesuatu yang

berlawanan untuk mengeksplorasi

karakteristik dari suatu konsep dengan mempertimbangkan bagian non example

yang dimungkinkan masih terdapat

beberapa bagian yang merupakan suatu

karakter dari konsep yang telah

dipaparkan pada bagian example, siswa lebih berfikir kritis dalam menganalisa gambar yang relevan dengan Kompetensi Dasar (KD), siswa mengetahui aplikasi dari materi berupa contoh gambar yang relevan dengan Kompetensi Dasar (KD), siswa diberi kesempata mengemukakan pendapatnya yang mengenai analisis gambar yang relevan dengan Kompetensi Dasar (KD).

Kelemahan dalam model

pembelajaran example non example, diantaranya: tidak semua materi dapat disajikan dalam bentuk gambar, memakan waktu yang banyak.

Langkah-langkah pembelajaran

dalam penggunaan model pembelajaran

example non example menurut (Suprijono,

2009: 125) yaitu : guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran. Gambar yang digunakan tentunya merupakan gambar yang relevan dengan materi yang dibahas sesuai

dengan Kompetensi Dasar, guru

menempelkan gambar di papan atau ditayangkan melalui LCD atau OHP, jika ada dapat pula menggunakan proyektor. Pada tahapan ini guru juga dapat meminta bantuan siswa untuk mempersiapkan gambar yang telah dibuat dan sekaligus

pembentukan kelompok siswa, guru

memberi petunjuk dan memberi

kesempatan pada peserta didik untuk

memperhatikan/menganalisis gambar.

Biarkan siswa melihat dan menelaah gambar yang disajikan secara seksama, agar detil gambar dapat difahami oleh siswa. Selain itu, guru juga memberikan deskripsi jelas tentang gambar yang sedang diamati siswa, melalui diskusi kelompok 2-3 orang peserta didik, hasil diskusi dari analisis gambar tersebut

dicatat pada kertas. Kertas yang

digunakan akan lebih baik jika disediakan

oleh guru, tiap kelompok diberi

kesempatan membacakan hasil

diskusinya. Siswa dilatih untuk

menjelaskan hasil diskusi mereka melalui

perwakilan kelompok masing-masing,

mulai dari komentar/hasil diskusi peserta didik, guru mulai menjelaskan materi sesuai tujuan yang ingin dicapai. Setelah

memahami hasil dari analisa yang

dilakukan siswa, maka guru mulai

menjelaskan materi sesuai tujuan

pembelajaran yang ingin dicapai, guru dan peserta didik menyimpulkan materi sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Media adalah segala sesuatu yang

dapat digunakan untuk menyalurkan

pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian anak didik sehingga proses pembelajaran dapat terjadi (Sadiman, 2009:6).

Dengan penggunaan media dalam

proses pembelajaran, maka akan

membantu dalam memperlancar proses pembelajaran yang diharapkan berjalan dengan efektif dan efisien.

Jenis–jenis media belajar seperti

dikemukakan oleh Sulaeman (dalam

Sadiman 2009) antara lain : alat–alat visual dua dimensi pada bidang yang tidak

transparan seperti: gambar yang

diproyeksikan dengan overhead projector , grafik peta, food dan sejenisnya, berbagai macam papan seperti: papan tulis , papan planel, papan magnet (white board), dan papan peragaan, berbagai alat visual tiga dimensi, seperti: benda asli, model, barang contoh/ specimen, alat tiruan sederhana (mock up ) diaroma, pameran dan bak pasir, alat–alat audio seperti: tape recorder dan radio, alat–alat audio visual murni seperti: film suara, demonstrasi dan widya wisata.

Menurut Sadiman (2009:36)

pengertian papan planel papan yang dilapisi kain planel yang efektif untuk menyajikan pesan-pesan melalui gambar-gambar yang dapat dipasang dan dilepas dengan mudah sehingga dapat dipakai berkali-kali.

Dari pengertian media dan papan planel maka dapat dikatakan bahwa media papan planel adalah papan planel yang

(5)

digunakan untuk menyampaikan pesan dalam proses belajar mengajar.

Menurut Sadiman (2009:37)

menyebutkan kelebihan media papan

planel antara lain : mudah

membuatnya, bahan dan peralatannya mudah didapat, harganya relatif murah,

dapat digunakan dalam berbagai

bidang pengajaran, dapat dibuat dalam berbagai ukuran sesuai dengan yang dibutuhkan, isi pesannya mudah ganti-ganti, mudah menggunakannya, dapat digunakan dalam berbagai tingkatan pendidikan dari TK sampai perguruan tinggi.

Kelemahan Media Papan Planel adalah: hanya menekankan indera

mata, jika terlalu lama akan

membosankan.

Untuk mengatasi kelemahan

tersebut dapat dilakukan dengan cara menggunakan simbol yang berwarna, divariasikan dengan metode belajar yang lain.

Menurut Sudirman, (1991:50)

langkah-langkah yang perlu

diperhatikan pada saat pembelajaran dengan media papan planel, pada kegiatan ini dibagi menjadi dua tahap

yaitu tahap persiapan dan tahap

penyajian di kelas.

Dalam penelitian ini,

perkembangan yang diteliti adalah perkembangan perkembangan kognitif. Pengertian kognisi sebenarnya meliputi aspek-aspek struktur kognitif yang digunakan untuk mengetahui sesuatu.

Menurut Tedjasaputra (2001)

mengatakan bahwa kognisi dapat

diartikan sebagai pengetahuan yang luas, daya nalar, kreativitas (daya cipta), perkembangan berbahasa, serta

daya ingat. Sedangkan menurut

Witherington, mengemukakan bahwa kognitif adalah pikiran dan melalui pikiran dapat digunakan dengan cepat dan tepat untuk mengatasi suatu situasi untuk memecahkan masalah. Dari uraian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa pengembangan kognitif adalah pengetahuan dengan daya nalar yang dapat digunakan untuk mengatasi suatu situasi untuk memecahkan masalah.

Kajian medik dan psikologi

perkembangan menunjukkan bahwa di samping dipengaruhi oleh faktor bawaan, kualitas anak juga dipengaruhi oleh beberapa faktor lain, seperti faktor lingkungan yang tidak lepas dari pengaruh faktor psikososial (Depdikbud, 2005:10).

Adapun faktor-faktor yang

mempengaruhi yaitu : faktor bawaan, faktor lingkungan fisik, faktor kesehatan anak, faktor fisik, faktor psikososial.

Tahap-tahapan perkembangan

kognitif Piaget, secara sistematis terdiri dari empat tahap. Pada tahap pertama yaitu sensori motor, pada tahap ini bayi menggunakan perkembangan perasaan dan motor untuk memahami dunia yang berawal dari refleks dan berakhir dengan kombinasi kompleks dari perkembangan sensori motor. Pada tahap kedua yaitu praoperasional, pada tahap ini anak mempunyai gambaran mental dan mampu untuk berpura-pura dan langkah pendek untuk menggunakan simbol. Pada tahap ketiga yaitu konkret operasional, pada

tahap ini anak tidak hanya

menggambarkan simbol, tetapi dapat memanipulasi simbol secara logika, dan

pada tahap keempat yaitu formal

operasional, pada tahap ini anak

mempunyai waktu yang sulit

menggunakan perkembangan logika

barunya untuk peristiwa tidak konkret. METODE

Penelitian dilaksanakan pada

Semester II tahun pelajaran 2013/2014

dan penelitian tindakan kelas ini

dilaksanakan selama satu bulan pada bulan Maret 2014 pada kelompok B2 di TK Pradnya Pramita Tabanan, Kecamatan Tabanan, Kota Tabanan dalam kegiatan pembelajaran. Subjek penelitian ini adalah anak TK B2 Semester II di TK Pradnya

Pramita, Kecamatan Tabanan, Kota

Tabanan pada tahun pelajaran 2013/2014 yang berjumlah 25 orang dengan 14 anak perempuan dan 11 anak laki-laki. Objek penelitian yang ditangani dalam penelitian ini adalah perkembangan kognitif dalam mengenal lambang bilangan anak TK Pradnya Pramita Tabanan, Kecamatan Tabanan, Kota Tabanan pada Semester II dalam kegiatan pembelajaran mengenal

(6)

lambang bilangan untuk kognitif anak didik.

Jenis penelitian yang digunakan

dalam penelitian ini adalah PTK

(Penelitian Tindakan Kelas). Menurut Agung (2010:2) menyatakan PTK sebagai suatu bentuk penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu agar dapat memperbaiki dan atau meningkatkan praktek-praktek pembelajaran di kelas secara lebih professional.

Sedangkan menurut Arnyana (2009) penelitian tindakan kelas adalah kegiatan penelitian yang dilakukan guru dalam

mengajar dan ditujukan untuk

mengembangkan dan meningkatkan

kualitas pembelajaran serta untuk

memperbaiki pengajaran di kelas. Dengan kata lain PTK adalah suatu bentuk penelitian dalam kegiatan yang dilakukan guru dalam mengajar untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu pembelajaran di kelas yang bersifat reflektif.

Dalam penelitian ini terdapat dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah model pembelajaran Example non

example dan media papan planel,

sedangkan variabel terikat dalam

penelitian ini adalah perkembangan

kognitif anak dalam mengenal lambang bilangan.

Model pembelajaran example non

example dapat digunakan dengan bantuan

media papan planel yang membantu anak

untuk dapat mengembangkan

kompetensinya serta mengembangkan pembiasaan anak dalam mengerjakan tugasnya sendiri sampai selesai sehingga

anak akan memiliki perkembangan untuk memahami lambang bilangan dengan sendirinya tanpa paksaan.

Proses pengumpulan data dalam

penelitian ini menggunakan metode

observasi terhadap kegiatan yang

dilakukan oleh siswa pada proses belajar mengajar. Metode observasi adalah suatu cara memperoleh atau mengumpulkan

data yang dilakukan dengan jalan

mengadakan pengamatan dan pencatatan secara sistematis tentang suatu objek tertentu (Agung, 2010:68).

Pengamatan dapat digunakan untuk menilai berbagai aspek yang ada pada diri anak yang berkaitan pada kegiatan

pelaksanaan program dengan

menggunakan instrumen penilaian berupa lembar observasi. Untuk itu, peneliti harus memiliki rincian yang jelas sesuai dengan Permendiknas No 58 Tahun 2009 untuk setiap kegiatan yang dilakukan.

Dalam mendapatkan sebuah data yang diinginkan dalam penelitian ini maka disusun kisi-kisi instrumen penilaian untuk memudahkan proses penelitian yang dilakukan. Dengan menggunakan kisi-kisi ini sebagai instrumen pengumpulan data, diperlukan juga lembar observasi untuk penilaian anak agar penlitian ini dapat berjalan dengan baik. Berikut kisi-kisi instrumen penelitian penerapan model pembelajaran Example non example berbantuan media papan planel untuk

meningkatkan perkembangan

perkembangan kognitif dalam mengenal lambang bilangan.

Tabel 1. Instrumen Penilaian Perkembangan Kognitif Mengenal Lambang Bilangan Berbantuan Media Papan planel

No Variabel Indikator

1 Lambang bilangan

1. Membilang/menyebut urutan bilangan dari 1 sampai 10

2. Membilang dengan menunjuk benda sampai 10

3. Membuat urutan bilangan 1-10 dengan benda 4. Meniru lambang bilangan 1-10

5. Mencocokkan bilangan dengan lambang bilangan

(7)

Tabel.2. Rubrik Penskoran Perkembangan Kognitif Mengenal Lambang Bilangan Berbantuan Media Papan planel

NO INDIKATOR

Skor

BSB BSH MB BB

1 Membilang/menyebut urutan bilangan

dari 1 sampai 10

2 Membilang dengan menunjuk benda

sampai 10

3 Membuat urutan bilangan 1-10 dengan

benda

4 Meniru lambang bilangan 1-10

5 Mencocokkan bilangan dengan

lambang bilangan Keterangan :

BSB : Berkembang sangat baik ( ) (4) BSH : Berkembang sesuai harapan ( ) (3) MB : Mulai berkembang ( ) (2)

BB : Belum berkembang ( ) (1)

Tabel 3. Pedoman Penskoran

No Tanda Makna Skor

1 Berkembang sangat baik 4

2 Berkembang sesuai harapan 3

3 Mulai berkembang 2

4 Belum berkembang 1

(Permendiknas No. 58, 2009:10) Setelah data yang diperlukan dalam

penelitian ini terkumpul, maka dilakukan analisis data. Dalam menganalisis data ini

digunakan metode analisis statistik

deskriptif dan metode analisis deskriptif kuantitatif.

Dalam buku metodelogi penelitian dinyatakan bahwa ada dua jenis metode analisis deskriptif dan metode analisis

statistik inferensial. Data mengenal

lambang bilangan dianalisis menggunakan metode analisis statistik dekskriptif,

metode analisis statistik deskriptif

merupakan suatu cara pengolahan data yang dilakukan dengan jalan menerapkan rumus-rumus statistik deskriptif seperti: distribusi frekuensi, grafik, angka rata-rata, median, modus, dan standar deviasi untuk

menggambarkan suatu objek/variabel

tertentu, sehingga diperoleh kesimpulan

umum (Agung, 2010:65). Setelah data yang diperlukan terkumpul dan dilanjutkan dengan analisis data dan menganalisis

data digunakan metode deskripsi

Kuantitatif. Metode deskriptif kuantitatif ialah suatu cara pengolahan data yang dilakukan dengan jalan menyusun secara sistematis dalam bentuk angka-angka dan atau persentase, mengenai suatu objek

yang diteliti, sehingga diperoleh

kesimpulan umum (Agung, 2010:65). Metode analisis deskriptif kuantitatif ini digunakan untuk menentukan tingkatan tinggi rendahnya perkembangan kognitif

anak setelah diterapkan model

pembelajaran example non example

melalui media papan planel yang

dikonversikan ke dalam Penilaian Acuan

(8)

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Analisis

Penelitian ini dilaksanakan di

kelompok B2 TK Pradnya Pramita

Tabanan dengan jumlah siswa 25 orang.

Kegiatan penelitian ini dilaksanakan

selama 2 bulan yaitu 1 Maret 2014 sampai 30 April 2014. Data perkembangan perkembangan kognitif anak disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi, menghitung mean (M), median (Md), modus (Mo), dan grafik polygon dan membandingkan rata-rata atau mean dengan model PAP skala lima.

Pada siklus I diperoleh rata-rata

(mean) sebesar 8,04, nilai tengah

(median) sebesar 8,00, dan nilai yang paling banyak muncul (modus) sebesar 6,00. Jika, nilai mean, median, dan modus tersebut digambarkan kedalam kurve poligon, maka akan membentuk kurve kurve juling positif Mo < Me < M (6,00 < 8,00 < 8,04), sehingga dapat disimpulkan

bahwa sebaran data perkembangan

kognitif pada siklus I merupakan kurve juling positif yang berarti skor-skor

perkembangan perkembangan kognitif

cenderung sangat rendah.

Perbandingan rata-rata presentase yang diperoleh yaitu 40,2% berada pada

kategori 0-54% yang berarti

perkembangan kognitif anak pada siklus I berada pada kriteria sangat rendah.

Gambar 1. Kurve Poligon Siklus I

Dari hasil pengamatan dan temuan selama pelaksanaan tindakan pada siklus

I tingkat perkembangan kognitif anak masih berada pada criteria sangat rendah, maka masih perlu dilanjutkan pada siklus II. Adapun kendala-kendala yang dihadapi peneliti saat penerapan siklus I antara lain: siswa masih terlihat bingung dengan

model pembelajaran example non

example, siswa kurang aktif, siswa yang

kurang terfokus pada kegiatan. Adapun

solusi yang bisa dilakukan untuk

mengatasi kendala-kendala diatas adalah sebagai berikut: menjelaskan kembali

model pembelajaran example non

example yang diterapkan, menjelaskan

media yang akan digunakan dalam kegiatan serta memperagakan cara kerja sehingga anak mengerti dan memahami media yang akan digunakan dalam proses

pembelajaran, membimbing dan

mendampingi siswa dalam proses

pembelajaran serta memberikan stimulus. Pada siklus II diperoleh rata-rata (mean) sebesar 16,88, nilai tengah (median) sebesar 18,00, dan nilai yang paling banyak muncul (modus) sebesar 20,00. Jika, nilai mean, median, dan

modus tersebut digambarkan ke dalam

kurve poligon, maka akan membentuk kurve poligon juling negatif Mo > Me > M (20,00 >18,00 >16,88). Sehingga dapat

disimpulkan bahwa sebaran data

perkembangan kognitif pada siklus II cenderung tinggi.

Gambar 2. Kurve Poligon Siklus II

Dari angka rata-rata (M%) 84,4 % yang dikonversikan ke dalam PAP skala

Md=18,00 Mo=20,00 M=16,88 Mo= 6,00 Me=8,00 M=8,04

(9)

lima, seperti yang terlihat pada tabel 3.4 bahwa angka rata-rata (M%) berada pada tingkat penguasaan 80-89% yang berarti perkembangan kognitif anak pada siklus II berada pada kriteria tinggi.

Pembahasan

Berdasarkan hasil analisis statistik deskriptif dan analisis deskritif kuantitatif memberikan gambaran bahwa dengan penerapan model pembelajaran example

non example berbantuan media papan

planel diperoleh angka rata-rata

perkembangan perkembangan kognitif

pada siklus I sebesar 40,2% dan angka rata-rata perkembangan kognitif pada siklus II sebesar 84,4% ini menunjukkan adanya peningkatan rata-rata persentase perkembangan kognitif anak dari siklus I ke siklus II sebesar 40,2% (kriteria sangat rendah) menjadi 84,4% (kriteria tinggi). Terjadinya peningkatan perkembangan perkembangan kognitif anak dari siklus I ke siklus II sebesar 44,2% pada saat penerapan model pembelajaran example

non example berbantuan media papan

planel untuk meningkatkan perkembangan kognitif dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) disebabkan oleh rasa tertarik anak pada kegiatan dan media pembelajaran yang disajikan oleh guru .

Model pembelajaran example non

example adalah salah satu contoh model

pembelajaran yang menggunakan media. Media dalam pembelajaran merupakan sumber yang digunakan dalam proses belajar mengajar. Manfaat media ini adalah untuk guru membantu dalam

proses mengajar, mendekati situasi

dengan keadaan yang sesungguhnya. Dengan media diharapkan proses belajar dan mengajar lebih komunikatif dan menarik.

Model pembelajaran example non

example dapat digunakan dengan bantuan

media papan planel yang membantu anak

untuk dapat mengembangkan

kompetensinya serta mengembangkan pembiasaan anak dalam mengerjakan tugasnya sendiri sampai selesai sehingga anak akan memiliki perkembangan untuk memahami lambang bilangan dengan sendirinya tanpa paksaan.

Dengan menggunakan model

pembelajaran example non example

berbantuan media papan planel sangatlah

efektif untuk menanamkan lambang

bilangan kepada anak didik karena anak akan belajar dengan suasana yang menyenangkan.

Berdasarkan hasil penelitian dan uraian tersebut ini berarti bahwa dengan penerapan model pembelajaran example

non example berbantuan media papan

planel berhasil meningkatkan

perkembangan kognitif anak. SIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan pada BAB IV, dapat disimpulkan sebagai

berikut. Terdapat peningkatan hasil

pencapaian pembelajaran dalam

perkembangan kognitif dalam mengenal lambang bilangan anak kelompok B2 semester II di TK Pradnya Pramita Tabanan setelah menggunakan media papan planel sebesar 44,2%. Hal ini dapat

dilihat dari peningkatan rata-rata

persentase hasil pencapaian

perkembangan kognitif dalam mengenal lambang bilangan anak pada siklus I sebesar 40,2%, menjadi sebesar 84,4% pada siklus II yang ada pada kategori tinggi.

Berdasarkan simpulan di atas, dapat diajukan saran-saran sebagai berikut.: kepada guru, disarankan mampu memilih dan menciptakan metode dan media pembelajaran yang lebih menarik dan mudah dimengerti oleh siswa sesuai

dengan tema pembelajaran, kepada

Kepala Sekolah, disarankan agar

memberikan informasi tentang metode pembelajaran dan media belajar pada

proses pembelajaran yang nantinya

mampu meningkatkan perkembangan

kognitif anak, kepada peneliti lain

hendaknya dapat melaksanakan PTK dengan berbagai metode dan media

pembelajaran lain yang belum

sepenuhnya dapat terjangkau dalam

penelitian ini, dengan adanya penelitian ini dapat dijadikan sebagai pembanding

dalam melakukan suatu penelitian

(10)

DAFTAR RUJUKAN

Data Tentang Perkembangan Agung, A. A.Gede. 1997. Pengantar

Evaluasi Pengajaran. Singaraja:

STKIP.

---, 2005. Konsep dan Teknik Analisis

Data Hasil Penelitian Tindakan Kelas. Singaraja: Fakultas Ilmu

Pendidikan Undiksha Singaraja. ---, 2010. ”Penelitian Tindakan Kelas

(Teori dan Analisis Data dalam PTK)”. Makalah disajikan dalam Workshop Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar FIP Undiksha, Singaraja 27 September 2010. Allen, Eillen, K dan Lynn R. Marotz, 2010.

Profil Perkembangan Anak

Prakelahiran Hingga Usia 12

Tahun. Jakarta: PT Indeks.

Anonim, Definisi model pembelajaran tersedia pada http: // mtk 2012

unindra blogspot

.com/2012/10/definisi-model-pembelajaran-menurut.html.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1993. Pedoman Evaluasi Taman

Kanak-Kanak. Jakarta.

Depdiknas. 2004. Kurikulum2004.

Kurikulum Tingkat Satuan

Pendidikan (KTSP). Jakarta.

Hamzah, B Uno. 2008. Model

Pembelajaran: Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif. Jakarta: Bumi Aksara.

Ibrahim, Muslimin, dkk. 2002.

”Pembelajaran Kooperatif”.

Surabaya: University Press.

Koyan, I Wayan. 2007. Statistik Terapan

(Teknik Analisis Data Kuantitatif.

Singaraja: Program Studi Penelitian dan Evaluasi PendidikanProgram

Pascasarjana Universitas

Pendidikan Ganesha Singaraja.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 58 Tahun 2009, tentang Standar Pendidikan

Anak Usia Dini. Jakarta:

Departemen Pendidikan Nasional

Jendral Manajemen Pendidikan

Dasar dan Menengah Direktorat Pembina TK dan SD.

Sadiman, Arief S. dkk. 2009. Media

Pendidikan, Pengertian,

Pengembangan, dan

Pemanfaatannya. Jakarta: Rajawali

Press.

Sudirman. 1991. Interaksi dan Motifasi

Belajar Mengajar. Jakarta:

Rajawali.

Suprijono, Agus. (2009). Cooperatif

Learning Teori dan

Aplikasi.Yogyakarta: Pustaka

Pelajar.

Winataputra, (2008), Teori Belajar dan

Pembelajaran. Jakarta: Universitas

Terbuka.

Yusuf, Syamsu. 2007. Psikologi

Perkembangan anak dan Remaja.

Gambar

Tabel 3.   Pedoman Penskoran
Gambar 1. Kurve Poligon Siklus I

Referensi

Dokumen terkait

yang berada pada kategori rendah menjadi sebesar 82,33% pada siklus II yang berada pada katagori tinggi”. Berdasarkan simpulan di atas, saran-saran yang dapat diajukan adalah

kegiatan menyimak dalam penerapan siklus II, anak-anak cenderung sedikit bosan dalam kegiatan menyimak karena penggunaan media boneka jari dengan bahan yang sama

Tahap ini mencakup kegiatan yang dilakukan dalam rangka mempersiapkan perangkat pembelajaran yang meliputi kegiatan menentukan tingkat capaian perkembangan anak,

pembelajaran yang dapat diberikan kepada anak, salah satunya adalah outdoor activity, dengan memberikan kegiatan diluar kelas akan membuat anak tidak merasa bosan

kelompok B di TK Dharmapatni Denpasar Barat pada siklus I sebesar 62,27% dan rata-rata persentase perkembangan sosial-emosional anak kelompok B di TK Dharmapatni

Berdasarkan paparan di atas, mengenai model direct instruction berban- tuan media puzzle untuk meningkat perkem- bangan mengenal bentuk geometri, maka untuk itulah

Pendapat lain juga diungkapkan oleh Tyasari (2008:1) menyatakan bahwa, “mozaik merupakan kerajinan yang dibentuk dari kepingan atau pecahan keramik, kaca atau kertas

Menurut Agung (2010:2) menyatakan, PTK sebagai suatu bentuk penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan ter- tentu agar dapat memperbaiki