• Tidak ada hasil yang ditemukan

laporan kasus SNH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "laporan kasus SNH"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

A. IDENTITAS PASIEN A. IDENTITAS PASIEN  Nomor rekam medik

 Nomor rekam medik : 077680: 077680  Nama Pasien

 Nama Pasien : : Tn. STn. S Umur

Umur : : 48 48 tahuntahun Jenis

Jenis Kelamin Kelamin : : Laki-lakiLaki-laki Agama

Agama : : IslamIslam Alamat

Alamat : : BatanghariBatanghari Tanggal

Tanggal Masuk Masuk : : 16 16 April April 20132013 Tanggal

Tanggal Periksa Periksa : : 16 16 April April 20132013

B. ANAMNESIS B. ANAMNESIS

Dilakukan secara autoanamnesis dan alloanamnesis (

Dilakukan secara autoanamnesis dan alloanamnesis (istri pasien) tanggal 16 April 2013istri pasien) tanggal 16 April 2013 Keluhan

Keluhan Utama Utama ::

Badan sisi kiri sulit digerakkan Badan sisi kiri sulit digerakkan Keluhan Tambahan :

Keluhan Tambahan :

Rasa kesemutan pada tangan dan kaki kiri Rasa kesemutan pada tangan dan kaki kiri

Riwayat Penyakit Sekarang : Riwayat Penyakit Sekarang :

Sejak 2 minggu SMRS, pasien mengeluh tangan dan kaki kirinya terasa lemah dan Sejak 2 minggu SMRS, pasien mengeluh tangan dan kaki kirinya terasa lemah dan tidak dapat digerakkan disertai rasa kesemutan dan bicara pelo yang timbul mendadak setelah tidak dapat digerakkan disertai rasa kesemutan dan bicara pelo yang timbul mendadak setelah  pasien

 pasien bangun bangun tidur. tidur. Pasien Pasien berobat berobat ke ke mantri mantri diberi diberi obat obat penurun penurun tekanan tekanan darah darah dandan dianjurkan istirahat. Pasien menyangkal terjadinya kejang, nyeri kepala, mual dan muntah, dianjurkan istirahat. Pasien menyangkal terjadinya kejang, nyeri kepala, mual dan muntah,  pingsan serta demam sebelumnya. Saat makan ata

 pingsan serta demam sebelumnya. Saat makan atau minum pasien batuk atau keselek. u minum pasien batuk atau keselek. Ini kaliIni kali  pertama pasien mengalaminya. Pasien memiliki riwayat hipertensi

 pertama pasien mengalaminya. Pasien memiliki riwayat hipertensi yang tak terkontrol sejak 1yang tak terkontrol sejak 1 tahun, namun pasien berobat ke mantri jika dirasa tensinya naik dan tidak rutin minum obat. tahun, namun pasien berobat ke mantri jika dirasa tensinya naik dan tidak rutin minum obat.

Saat ini pasien sudah

Saat ini pasien sudah merasa tangan dmerasa tangan dan kaki kirinya an kaki kirinya sudah dapat digerakan sudah dapat digerakan walauwalau masih lemah namun tidak seperti normalnya, rasa kesemutan masih ada, bicara sedikit pelo masih lemah namun tidak seperti normalnya, rasa kesemutan masih ada, bicara sedikit pelo namun makan dan minum tidak ada gangguan. BAB dan BAK tidak ada gangguan. Tidak ada namun makan dan minum tidak ada gangguan. BAB dan BAK tidak ada gangguan. Tidak ada riwayat trauma sebelumnya.

(2)

Riwayat Penyakit Dahulu : Riwayat Penyakit Dahulu :

-- Riwayat penyakit hipertensi (+) sejak 1 tahunRiwayat penyakit hipertensi (+) sejak 1 tahun -- Riwayat penyakit paru (-)Riwayat penyakit paru (-)

-- Riwayat penyakit jantung (-)Riwayat penyakit jantung (-) -- Riwayat penyakit DM (-)Riwayat penyakit DM (-) -- Riwayat trauma (-)Riwayat trauma (-)

-- Riwayat stroke dalam keluarga (-)Riwayat stroke dalam keluarga (-) -- Riwayat merokok (+) sejak 20 tahunRiwayat merokok (+) sejak 20 tahun

C. PEMERIKSAAN FISIK  C. PEMERIKSAAN FISIK  UMUM

UMUM Keadaan

Keadaan Umum Umum : : Tampak Tampak sakit sakit sedangsedang Tanda-tanda

Tanda-tanda vital vital : : TD TD : : 150/100 150/100 mmHg (mmHg (kanan), kanan), 150/90 150/90 mmHg mmHg (kiri)(kiri)  Nadi : 98x/menit, reguler 

 Nadi : 98x/menit, reguler  Pernapasan : 20x/menit Pernapasan : 20x/menit Suhu : 36,5° C Suhu : 36,5° C STATUS GENERALIS STATUS GENERALIS Kepala

Kepala : : Normocephal, Normocephal, distribusi distribusi rambut rambut meratamerata Mata

Mata : : Konjungtiva Konjungtiva tidak tidak anemis, anemis, sklera sklera tidak tidak ikterik ikterik  Leher

Leher : : Pembesaran Pembesaran KGB KGB (-)(-) Thorax

Thorax : : Dada Dada simetris simetris saat saat inspirasi inspirasi dan dan ekspirasiekspirasi Cor

Cor : : BJ BJ I,II I,II reguler, reguler, Murmur Murmur (+), (+), Gallop Gallop (-)(-) Pulmo

Pulmo : Vesikuler (+/+), Rh: Vesikuler (+/+), Rhonki (-/-), whonki (-/-), wheezing (-/-)eezing (-/-) Abdomen

Abdomen : : Supel, Supel, datar, datar, Bising Bising usus usus (+) (+) normal, normal, nyeri nyeri tekan tekan (-)(-) Ekstremitas

Ekstremitas : : Akral Akral hangat, hangat, oedem oedem (-), (-), sianosis sianosis (-)(-)

STATUS NEUROLOGIS STATUS NEUROLOGIS

(3)

 N.III, IV, VI : Ptosis -/-Strabismus (-)  Nistagmus (-)

Gerakan bola mata ke segala arah normal Pupil : bulat, kanan dan kiri: Ø ±3mm Refleks cahaya langsung : +/+

Refleks cahaya tidak langsung : sulit dinilai/+  N.V : Sensibilitas : V 1: baik 

V 2: baik  V 3: baik 

Membuka dan menutup mulut : baik 

Menggigit : baik 

 N.VII : Kerutan dahi : simetris kanan dan kiri

Menutup mata : kelopak mata kanan dan kiri menutup dengan baik  Menyeringai : plika nasolabialis sinistra lebih datar 

 N.VIII : Pendengaran: mendengar suara gesekan jari: kanan dan kiri baik   N.IX, X : Disfonia (-)

Arcus faring : simetris Uvula : ditengah

 N.XI : Mengangkat bahu : kanan lebih tinggi daripada kiri  N.XII : Lidah saat dijulurkan : deviasi ke kiri

Lidah saat diam : deviasi ke kanan Atrofi lidah : tidak ada

TANDA RANGSANG MENINGEAL Kaku kuduk : (-)

MOTORIK 

Tonus :

Bebas │ Terbatas

Bebas │ Terbatas

(4)

Kekuatan : 5 5 5 5

│ 3 3 3 3

5 5 5 5

│ 3 3 3 3

REFLEKS FISIOLOGIS Biceps : +/++ Triceps: +/++ KPR : +/++ APR : +/+ REFLEKS PATOLOGIS

Babinski : -/- Chaddock : -/- Schaefer :

-/-Openheim : -/- Gordon : -/- Hoffman Trommer :

-/-SENSORIK  Eksteroseptif 

 Nyeri : kanan lebih dapat merasakan dibanding kiri Suhu : kanan lebih dapat merasakan dibanding kiri Taktil : kanan lebih dapat merasakan dibanding kiri

FUNGSI OTONOM

Miksi : tidak ada gangguan Defekasi : tidak ada gangguan

D. DIAGNOSIS Diagnosis klinis:

Hipertensi Grade II Disartria

(5)

Diagnosis etiologis:

Trombosis dd/ embolus, hemoragik  Diagnosis PA:

Infark Cerebri

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG Laboratorium

Jenis Pemeriksaan 17-04-13 18-04-13 Nilai rujukan

Hemoglobin 15.5 14.7 13-18 g/dL Hematokrit 42.6 42.1 40-52% Eritrosit 5.71 5.63 4,3 -

6,0 juta/μL

Leukosit 8200 8260 4800 -

10800 /μL

Trombosit 348000 297000 150000 -

400000 / μL

Ureum 20 21 20

 – 

50 mg/dL Kreatinin 1 1 0.5

 – 

1.5 mg/dL SGOT 49 37 <35 U/L SGPT 72 66 <40 U/L Asam Urat 6.3 5.9 32 GDS 113 <140 mg/dL GDP 85 70

 – 

100 mg/dL GD2PP 100 <140 mg/dL Kolesterol total 176 173 <200 Trigliserida 205 186 <160 Foto Thorax

(6)

SARAN PEMERIKSAAN PENUNJANG CT Scan kepala

F. PENATALAKSANAAN

Px : Pemeriksaan laboratorium (darah rutin, SGOT, SGPT, GDS, GDP, GD2PP, ureum, kreatinin, kolesterol total, trigliserida)

Tx : Antihipertensi, antiplatelet, neuroprotektor 

Mx : Monitoring Keadaan umum, tanda-tanda vital, kesadaran

Ex : - Menjelaskan kepada keluarga pasien tentang rencana terapi dan pengobatan selanjutnya

- Mobilisasi bertahap dan diet rendah garam G. PROGNOSIS

Ad vitam : dubia ad bonam Ad fungsionam : dubia ad bonam Ad sanationam : dubia ad bonam

(7)

PENILAIAN SKOR STROKE Algoritma Stroke Gajah Mada Penurunan kesadaran (-)

 Nyeri kepala (-) Refleks Babinsky (-)

Kesan : Stroke Non Haemoragik 

Algoritma Siriraj

Kesadaran (0 x 2.5) + Muntah (0 x 2) + Nyeri kepala (0 x 2) + Tekanan darah diastolik (100 x 10%)

 – 

Ateroma (0 x -3) - 12 = -1

Kesan : Stroke Non Haemoragik 

Djoenaedi Stroke Score

Permulaan serangan Sangat mendadak : 6,5

Waktu serangan saat duduk : 1

Sakit kepala waktu serangan tidak ada : 0

Muntah tidak ada : 0

Kesadaran tidak ada gangguan : 1 Tekanan darah waktu MRS tinggi >140/100 : 1 Tanda rangsang selaput otak tidak ada : 0

Pupil isokor : 5

Fundus okuli tidak dilakukan : 0 +

Total score : 14,5

(8)

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi

Stroke atau serangan otak adalah sindrom klinis yang awal timbulnya mendadak,  progresif, cepat, berupa defisit neurologis fokal dan atau global, yang berlangsung 24 jam atau lebih atau langsung menimbulkan kematian, dan semata-mata di sebabkan oleh gangguan peredaran darah otak non traumatik.1

Stroke non hemoragik didefinisikan sebagai sekumpulan tanda klinik yang berkembang oleh sebab vaskular. Gejala ini berlangsung 24 jam atau lebih pada umumnya terjadi akibat  berkurangnya aliran darah ke otak, yang menyebabkan cacat atau kematian.2

Stroke non hemoragik sekitar 85%, yang terjadi akibat obstruksi atau bekuan di satu atau lebih arteri besar pada sirkulasi serebrum. Obstruksi dapat disebabkan oleh bekuan (trombus) yang terbentuk di dalam suatu pembuluh otak atau pembuluh atau organ distal. Trombus yang terlepas dapat menjadi embolus.3

B. Etiologi

Stroke non hemoragik bisa terjadi akibat suatu dari dua mekanisme patogenik yaitu trombosis serebri atau emboli serebri.4

Trombosis serebri menunjukkan oklusi trombotik arteri karotis atau cabangnya, biasanya karena arterosklerosis yang mendasari. Proses ini sering timbul selama tidur dan bisa menyebabkan stroke mendadak dan lengkap. Defisit neurologi bisa timbul progresif dalam  beberapa jam atau intermiten dalam beberapa jam atau hari.4

Emboli serebri terjadi akibat oklusi arteria karotis atau vetebralis atau cabangnya oleh trombus atau embolisasi materi lain dari sumber proksimal, seperti bifurkasio arteri karotis atau jantung. Emboli dari bifurkasio karotis biasanya akibat perdarahan ke dalam plak atau ulserasi di atasnya di sertai trombus yang tumpang tindih atau pelepasan materi ateromatosa dari plak sendiri. Embolisme serebri sering di mulai mendadak, tanpa tanda-tanda disertai nyeri kepala berdenyut.4

(9)

C. Klasifikasi

Stroke sebagai diagnosis klinis untuk gambaran manifestasi lesi vaskular serebral, dapat di bagi dalam :

1. Stroke non hemoragik yang mencakup5 a. TIA (Transient Ischemic Attack)  b. Stroke in-evolution

c. Stroke trombotik  d. Stroke embolik 

e. Stroke akibat komperesi terhadap arteri oleh proses di luar arteri seperti tumor, abses, granuloma.

2. Berdasarkan subtipe penyebab3 a. Stroke lakunar 

 b. Stroke trombotik pembuluh besar  c. Stroke embolik 

d. Stroke kriptogenik 

D. Faktor risiko

Ada beberapa faktor risiko stroke yang sering teridentifikasi pada stroke non hemoragik, diantaranya yaitu faktor risiko yang tidak dapat di modifikasi dan yang dapat di modifikasi. Penelitian yang dilakukan Rismanto (2006) di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokertomengenai gambaran faktor-faktor risiko penderita stroke menunjukan faktor  risiko terbesar adalah hipertensi 57,24%, diikuti dengan diabetes melitus 19,31% dan hiperkolesterol 8,97%.6,7

Faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi :6,7 1. Usia

Pada umumnya risiko terjadinya stroke mulai usia 35 tahun dan akan meningkat dua kali dalam dekade berikutnya. 40% berumur 65 tahun dan hampir 13% berumur di bawah 45 tahun. Menurut Kiking Ritarwan (2002), dari penelitianya terhadap 45 kasus stroke didapatkan yang mengalami stroke non hemoragik lebih banyak pada tentan umur 45-65 tahun.7,8

(10)

 belum jelas. Penelitian yang di lakukan oleh Indah Manutsih Utami (2002) di RSUD Kabupaten Kudus mengenai gambaran faktor-faktor risiko yang terdapat pada penderita stroke menunjukan bahwa jumlah kasus terbanyak jenis kelamin laki-laki 58,4% dari  penelitianya terhadap 197 pasien stroke non hemoragik.7,9

3. Herediter 

Gen berperan besar dalam beberapa faktor risiko stroke, misalnya hipertensi, penyakit  jantung, diabetes melitus dan kelainan pembuluh darah, dan riwayat stroke dalam keluarga, terutama jika dua atau lebih anggota keluarga pernah mengalami stroke pada usia kurang dari 65 tahun, meningkatkan risiko terkena stroke. Menurut penelitian Tsong Hai Lee di Taiwan pada tahun 1997-2001 riwayat stroke pada keluarga meningkatkan risiko terkena stroke sebesar 29,3%.5

4. Rasa atau etnik 

Orang kulit hitam lebih banyak menderita stroke dari pada kulit putih. Data sementara di Indonesia, suku Padang lebih banyak menderita dari pada suku Jawa (khususnya Yogyakarta).7

Faktor risiko yang dapat dimodifikasi : 1. Riwayat stroke

Seseorang yang pernah memiliki riwayat stoke sebelumnya dalam waktu lima tahun kemungkinan akan terserang stroke kembali sebanyak 35% sampai 42%.7

2. Hipertensi

Hipertensi meningkatkan risiko terjadinya stroke sebanyak empat sampai enam kali ini sering di sebut the silent killer dan merupakan risiko utama terjadinya stroke non hemoragik dan stroke hemoragik . Berdasarkan Klasifikasi menurut JNC 7 yang dimaksud dengan tekanan darah tinggai apabila tekanan darah lebih tinggi dari 140/90 mmHg, makin tinggi tekanan darah kemungkinan stroke makin besar karena mempermudah terjadinya kerusakan pada dinding pembuluh darah, sehingga mempermudah terjadinya penyumbatan atau perdarahan otak.7,10

(11)

4. (DM) Diabetes melitus

Kadar gulakosa dalam darah tinggi dapat mengakibatkan kerusakan endotel pembuluh darah yang berlangsung secara progresif. Menurut penelitian Siregar F (2002) di RSUD Haji Adam Malik Medan dengan desain case control , penderita diabetes melitus mempunyai risiko terkena stroke 3,39 kali dibandingkan dengan yang tidak menderita diabetes mellitus.7

5. TIA

Merupakan serangan-serangan defisit neurologik yang mendadak dan singkat akibat iskemik otak fokal yang cenderung membaik dengan kecepatan dan tingkat penyembuhan  berfariasi tapi biasanya 24 jam. Satu dari seratus orang dewasa di perkirakan akan mengalami paling sedikit satu kali TIA seumur hidup mereka, jika diobati dengan benar, sekitar 1/10 dari para pasien ini akan mengalami stroke dalam 3,5 bulan setelah serangan  pertama, dan sekitar 1/3 akan terkena stroke dalam lima tahun setelah serangan pertama.11 6. Hiperkolesterol

Lipid plasma yaitu kolesterol, trigliserida, fosfolipid, dan asam lemak bebas. Kolesterol dan trigliserida adalah jenis lipid yang relatif mempunyai makna klinis penting sehubungan dengan aterogenesis. Lipid tidak larut dalam plasma sehingga lipid terikat dengan protein sebagai mekanisme transpor dalam serum, ikatan ini menghasilkan empat kelas utama lipuprotein yaitu kilomikron, lipoprotein densitas sangat rendah (VLDL), lipoprotein densitas rendah (LDL), dan lipoprotein densitas tinggi (HDL). Dari keempat lipo protein LDL yang paling tinggi kadar kolesterolnya, VLDL paling tinggi kadar  trigliseridanya, kadar protein tertinggi terdapat pada HDL. Hiperlipidemia menyatakan  peningkatan kolesterol dan atau trigliserida serum di atas batas normal, kondisi ini secara langsung atau tidak langsung meningkatkan risiko stroke, merusak dinding pembuluh darah dan juga menyebabkan penyakit jantung koroner. Kadar kolesterol total >200mg/dl, LDL >100mg/dl, HDL <40mg/dl, trigliserida >150mg/dl dan trigliserida >150mg/dl akan membentuk plak di dalam pembuluh darah baik di jantung maupun di otak. Menurut Dedy Kristofer (2010), dari penelitianya 43 pasien, di dapatkan hiperkolesterolemia 34,9%, hipertrigliserida 4,7%, HDL yang rendah 53,5%, dan LDL yang tinggi 69,8%.7

(12)

 penyakit jantung koroner dan stroke. Mengukur adanya obesitas dengan cara mencari body mass index (BMI) yaitu berat badan dalam kilogram dibagi tinggi badan dalam meter  dikuadratkan. Normal BMI antara 18,50-24,99 kg/m2, overweight BMI antara 25-29,99 kg/m2selebihnya adalah obesitas.7

8. Merokok 

Merokok meningkatkan risiko terjadinya stroke hampir dua kali lipat, dan perokok pasif   berisiko terkena stroke 1,2 kali lebih besar. Nikotin dan karbondioksida yang ada pada rokok menyebabkan kelainan pada dinding pembuluh darah, di samping itu juga mempengaruhi komposisi darah sehingga mempermudah terjadinya proses gumpalan darah. Berdasarkan penelitian Siregar F (2002) di RSUD Haji Adam Malik Medan kebiasaan merokok meningkatkan risiko terkena stroke sebesar empat kali.7

E. Patofisiologi

Otak terdiri dari sel-sel otak yang disebut neuron, sel-sel penunjang yang dikenal sebagai sel glia, cairan serebrospinal , dan pembuluh darah. Semua orang memiliki jumlah neuron yang sama sekitar 100 miliar, tetapi koneksi di antara berbagi neuron berbeda-beda. Pada orang dewasa, otak membentuk hanya sekitar 2% (1200-1400 gram) dari berat tubuh total, tetapi mengkonsumsi sekitar 20% oksigen dan 50% glukosa yang ada di dalam darah arterial. Dalam jumlah normal darah yang mengalir ke otak sebanyak 50-60ml per 100 gram jaringan otak per menit. Jumlah darah yang diperlukan untuk seluruh otak adalah 700-840 ml/menit, dari jumlah darah itu di salurkan melalui arteri karotis interna yang terdiri dari arteri karotis (dekstra dan sinistra), yang menyalurkan darah ke bagian depan otak disebut sebagai sirkulasi arteri serebrum anterior , yang kedua adalah vertebrobasiler , yang memasok darah ke bagian belakang otak disebut sebagai sirkulasi arteri  serebrum  posterior , selanjutnya sirkulasi arteri serebrum anterior bertemu dengan sirkulasi

arteri serebrum posterior membentuk suatu sirkulus Willisi.5

Gangguan pasokan darah otak dapat terjadi dimana saja di dalam arteri-arteri yang membentuk  sirkulus willisi serta cabang-cabangnya. Secara umum, apabila aliran darah ke

(13)

1. Keadaan penyakit pada pembuluh darah itu sendiri, seperti pada aterosklerosis dan thrombosis.

2. Berkurangnya perfusi akibat gangguan status aliran darah, misalnya syok  atau hiperviskositas darah.

3. Gangguan aliran darah akibat bekuan atau embolus infeksi yang berasal dari jantung atau pembuluh ekstrakranium.

Gambar 1. Sirkulus Willisi

Dari gangguan pasokan darah yang ada di otak tersebut dapat menjadikan terjadinya kelainian-kelainan neurologi tergantung bagian otak mana yang tidak mendapat suplai darah, yang diantaranya dapat terjani kelainan di system motorik, sensorik, fungsi luhur, yang lebih  jelasnya tergantung saraf bagian mana yang terkena.

(14)

F. Gejala klinis

Gejala stroke non hemoragik yang timbul akibat gangguan peredaran darah di

otak bergantung pada berat ringannya gangguan pembuluh darah dan lokasi tempat gangguan peredaran darah terjadi, kesadaran biasanya tidak mengalami penurunan, menurut  penelitian Rusdi Lamsudi pada tahun 1989-1991 stroke non hemoragik tidak terdapat hubungan dengan terjadinya penurunan kesadaran, kesadaran seseorang dapat di nilai dengan menggunakan skala koma Glasgow yaitu :1,12

Tabel 1. Skala koma Glasgow.

Skor Buka mata (E) Respon motorik 

(M)

Respon verbal (V)

1 Tidak ada respons Tidak ada gerakan Tidak ada suara

2 Respons dengan rangsangan nyeri

Ekstensi abnormal Mengerang

3 Buka mata dengan perintah Fleksi abnormal Bicara kacau

4 Buka mata spontan Menghindari nyeri Disorientasi tempat

dan waktu

5 Melokalisir nyeri . Orientasi baik dan

sesuai

6 Mengikuti perintah

Penilaian skor skala koma Glasgow : a. Koma (GCS = 3-8)

 b. Konfusi, lateragi atau stupor (GCS = 9-14) c. Sadar penuh, atentif dan orientatif (GCS = 15)

Gangguan yang biasanya terjadi yaitu gangguan mototik ( hemiparese), sensorik  (anestesia, hiperestesia, parastesia/geringgingan, gerakan yang canggung serta simpang siur, gangguannervus kranial, saraf otonom (gangguan miksi, defeksi, salvias), fungsi luhur  (bahasa, orientasi, memori, emosi) yang merupakan sifat khas manusia, dan gangguan

(15)

Tabel 2. Gangguan nervus kranial

Nervus kranial Fungsi Penemuan klinis

dengan lesi

 I: Olfaktorius Penciuman  Anosmia (hilangnya daya  penghidu)

 II: Optikus Penglihatan  Amaurosis

 III:

Okulomotorius

Gerak mata; kontriksi  pupil; akomodasi

 Diplopia (penglihatan kembar), ptosis; midriasis;hilangnya akomodasi

 IV: Troklearis Gerak mata Diplopia

V: Trigeminus Sensasi umum wajah, kulit kepala, dan gigi; gerak  mengunyah

”mati rasa” pada wajah;

kelemahan otot rahang

VI: Abdusen Gerak mata  Diplopia

VII: Fasialis Pengecapan; sensasi umum pada platum dan telinga luar; sekresi kelenjar lakrimalis, submandibula dan sublingual; ekspresi wajah

Hilangnya kemampuan mengecap pada dua  pertiga anterior lidah; mulut kering; hilangnya lakrimasi; paralisis otot wajah VIII: Vestibulokoklearis Pendengaran; keseimbangan Tuli; tinitus(berdenging  terus menerus); vertigo; nitagmus  IX: Glosofaringeus Pengecapan; sensasi umum pada faring dan telinga; mengangkat  palatum; sekresi kelenjar   parotis

Hilangnya daya

 pengecapan pada sepertiga posterior lidah; anestesi pada farings; mulut kering sebagian

(16)

fonasi; parasimpatis untuk   jantung dan visera

abdomen  XI: Asesorius

Spinal 

Fonasi; gerakan kepala; leher dan bahu

Suara parau; kelemahan otot kepala, leher dan  bahu

 XII: Hipoglosus Gerak lidah Kelemahan dan pelayuan lidah

Gejala klinis tersering yang terjadi yaitu hemiparese yang dimana Pendeita stroke non hemoragik yang mengalami infrak bagian hemisfer otak kiri akan mengakibatkan terjadinya kelumpuhan pada sebalah kanan, dan begitu pula sebaliknya dan sebagian juga terjadi  Hemiparese dupleks, pendeita stroke non hemoragik yang mengalami hemiparesesi

dupleksakan mengakibatkan terjadinya kelemahan pada kedua bagian tubuh sekaligus bahkan dapat sampai mengakibatkan kelumpuhan.

Penelitian yang dilakukan Sri Andriani Sinaga (2008) terhadap 281 pasien stroke di Rumah Sakit Haji Medan di dapatkan hemiparese sinistra yaitu 46,3%, diikuti oleh hemiparese dekstra 31,7%, tidak tercatat sebanyak 14,2% dan hemiparesese dupleks 7,8%. Gambaran klinis utama yang berkaitan dengan insufisiensi arteri ke otak  mungkin berkaitan dengan pengelompokan gejala dan tanda berikut yang tercantum dan disebut sindrom neurovaskular :11

1. Arteri karotis interna (sirkulasi anterior : gejala biasanya unilateral)

a. Dapat terjadi kebutaan satu mata di sisi arteria karotis yang terkena, akibat insufisiensi arteri retinalis

 b. Gejala sensorik dan motorik di ekstremitas kontralateral karena insufisiensi arteria serebri media

c. Lesi dapat terjadi di daerah antara arteria serebri anterior dan media atau arteria serebri media. Gejala mula-mula timbul di ekstremitas atas dan mungkin mengenai wajah.

(17)

c.  Afasia global (apabila hemisfer dominan terkena): gangguan semua fungsi yang  berkaitan dengan bicara dan komunikasi

d.  Disfasia

3. Arteri serebri anterior (kebingungan adalah gejala utama) a. Kelumpuhan kontralateral yang lebih besar di tungkai  b. Defisit sensorik kontralateral

c. Demensia, gerakan menggenggam, reflek patologis

4. Sistem vertebrobasilaris (sirkulasi posterior: manifestasi biasanya bilateral) a. Kelumpuhan di satu atau empat ekstremitas

 b. Meningkatnya reflek tendon c. Ataksia

d. Tanda Babinski bilateral

e. Gejala-gejala serebelum, seperti tremor intention, vertigo f. Disfagia

g. Disartria

h. Rasa baal di wajah, mulut, atau lidah

i. Sinkop, stupor, koma, pusing, gangguan daya ingat, disorientasi  j. Gangguan penglihatan dan pendengaran

5. Arteri serebri posterior  a. Koma

 b. Hemiparese kontralateral

c. Afasia visual atau buta kata (aleksia)

(18)

G. Penatalaksanaan

Waktu merupakan hal terpenting dalam penatalaksanaan stroke non hemoragik yang di  perlukan pengobatan sedini mungkin, karena jeda terapi dari stroke hanya 3-6 jam. Penatalaksanaan yang cepat, tepat dan cermat memegang peranan besar dalam menentukan hasil akhir pengobatan.1

1. Prinsip penatalaksanaan stroke non hemoragik 

a. Memulihkan iskemik akut yang sedang berlangsung (3-6 jam pertama) menggunakan trombolisis dengan rt-PA (recombinan tissue-plasminogen activator ). Ini hanya boleh di berikan dengan waktu onset <3 jam dan hasil CT scan normal, tetapi obat ini sangat mahal dan hanya dapat di lakukan di rumah sakit yang fasilitasnya lengkap.

 b. Mencegah perburukan neurologis dengan jeda waktu sampai 72 jam yang diantaranya yaitu :

1) Edema yang progresif dan pembengkakan akibat infark. Terapi dengan manitol dan hindari cairan hipotonik.

2)  Ekstensi teritori infark, terapinya dengan heparin yang dapat mencegah trombosis yang progresif dan optimalisasi volume dan tekanan darah yang dapat menyerupai kegagalan perfusi.

3) Konversi hemoragis, msalah ini dapat di lihat dari CT scan, tiga faktor utama adalah usia lanjut, ukuran infark yang besar, dan hipertensi akut, ini tak boleh di beri antikoagulan selama 43-72 jam pertama, bila ada hipertensi beri obat antihipertensi. c. Mencegah stroke berulang dini dalam 30 hari sejak onset gejala stroke terapi dengan

heparin.

2. Protokol penatalaksanaan stroke non hemoragik akut

a. Pertimbangan rt-PA intravena 0,9 mg/kgBB (dosis maksimum 90 mg) 10% di  berikan bolus intravena sisanya diberikan per drip dalam wakti 1 jam jika onset di  pastikan <3 jam dan hasil CT scan tidak memperlihatkan infrak yang luas.

 b. Pemantauan irama jantung untuk pasien dengan aritmia jantung atau iskemia miokard, bila terdapat fibrilasi atrium respons cepat maka dapat diberikan digoksin

(19)

1) Hipertensi diobati jika terdapat kegawat daruratan hipertensi neurologis seperti, iskemia miokard akut, edema paru kardiogenik, hipertensi maligna (retinopati), nefropati hipertensif, diseksi aorta.

2) Hipertensi diobati jika tekanan darah sangat tinggi pada tiga kali pengukuran selang 15 menit dimana sistolik >220 mmHg, diastolik >120 mmHg, tekanan arteri rata-rata >140 mmHg.

3) Pasien adalah kandidat trombolisis intravena dengan rt-PA dimana tekanan darah sistolik >180 mmHg dan diastolik >110 mmHg.

Dengan obat-obat antihipertensi labetalol, ACE, nifedipin. Nifedifin sublingual harus dipantau ketat setiap 15 menit karena penurunan darahnya sangat drastis. Pengobatan lain jika tekanan darah masih sulit di turunkan maka harus diberikan nitroprusid intravena, 50 mg/250 ml dekstrosa 5% dalam air (200 mg/ml) dengan kecepatan 3 ml/jam (10 mg/menit) dan dititrasi sampai tekanan darah yang di inginkan. Alternatif  lain dapat diberikan nitrogliserin drip 10-20 mg/menit, bila di jumpai tekanan darah yang rendah pada stroke maka harus di naikkan dengan dopamin atau debutamin drips.

d. Pertimbangkan observasi di unit rawat intensif pada pasien dengan tanda klinis atau radiologis adanya infrak yang masif, kesadaran menurun, gangguan pernafasan atau stroke dalam evolusi.

e. Pertimbangkan konsul ke bedah saraf untuk infrak yang luas.

f. Pertimbangkan sken resonasi magnetik pada pasien dengan stroke vetebrobasiler atau sirkulasi posterior atau infrak yang tidak nyata pada CT scan.

g. Pertimbangkan pemberian heparin intravena di mulai dosis 800 unit/jam, 20.000 unit dalam 500 ml salin normal dengan kecepatan 20 ml/jam, sampai masa tromboplastin  parsial mendekati 1,5 kontrol pada kondisi :

1) Kemungkinan besar stroke kardioemboli 2) TIA atau infrak karena stenosis arteri karotis 3) Stroke dalam evolusi

4) Diseksi arteri

(20)

Perawatan umum untuk mempertahankan kenyamanan dan jalan nafas yang adekuat sangatlah penting. Pastikan pasien bisa menelan dengan aman dan jaga pasien agar tetap mendapat hidrasi dan nutrisi. Menelan harus di nilai (perhatikan saat pasien mencoba untuk  minum, dan jika terdapat kesulitan cairan harus di berikan melalui selang lambung atau intravena.

H. Komplikasi

Kebanyakan morbiditas dan mortilitas stroke berkaitan dengan komplikasi non neurologis yang dapat di minimalkan dengan perawatan umum, komplikasi-komplikasi tersebut yaitu :1 1. Demam, yang dapat mengeksaserbasi cedera otak iskemik dan harus di obati secara

agresif dengan antipiretik atau kompres dingin. Penyebab demam biasanya adalah  pneumonia aspirasi, kultur darah dan urin kemudian beri antibiotik intravena sesuai hasil

kultur.

2. Kekurangan nutrisi, bila pasien sadar dan tidak memiliki risiko aspirasi maka dapat dilakukan pemberian makanan secara oral, tetapi jika pasien tidak sadar atau memiliki risiko aspirasi beri makanan secara enteral melalui pipa nasoduodenal ukuran kecil dalam 24 jam pertama setelah onset stroke.

3.  Hipovolemia, dapat di koreksi dengan kristaloid isotonis. Cairan hipotonis (dekstrosa 5% dalam air, larutan NaCl 0,45 %) dapat memperberat edema serebri dan harus di hindari. 4.  Hiperglikemi dan hipoglikemi, ini dapat lakukan terapi setiap 6 jam selama 3-5 hari sejak 

onset stroke :

a. < 50 mg/dl : dekstrosa 40% 50 ml bolus intravena

 b. 50-100 mg/dl : dekstrosa 5 % dalam NaCl 0,9 %, 500 ml dalam 6 jam c. 100-200 mg/dl : pengobatan (-), NaCl 0,9 % atau Ringer laktat

d. 200-250 mg/dl : insulin 4 unit intravena e. 250-300 mg/dl : insulin 8 unit intravena f. 300-350 mg/dl : insulin 12 unit intravena g. 350-400 mg/dl : insulin 16 unit intravena

(21)

7. Defisit sensorik, kognitif, memori, bahasa, emosi serta visuospasial harus di lakukanneurorestorasi dini.

8. Trombosis vena dalam, di cegah dengan pemberian heparin 5000 unit atau fraksiparin 0,3 cc setiap 12 jam selama 5-10 hari.

9. Infeksi vesika, pembentukan batu, gangguan sfingter vesika biasanya di karenakan  pemasangan kateter urin menetap, latihan vesika harus segera di lakukan sedini mungkin  bila pasien sudah sadar.

I. Pencegahan

Pencegahan primer dapat dilakukan dengan menghindari rokok, stres mental, alkohol, kegemukan, konsumsi garam berlebih, obat-obat golongan amfetamin, kokain dan sejenisnya. Mengurangi kolesterol dan lemak dalam makanan. Menggendaliakan hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung, penyakit vaskular aterosklerotik lainya. Perbanyak konsumsi gizi seimbang dan olahraga teratur.1

Pencegahan sekunder dengan cara memodifikasi gaya hidup yang berisiko seperti hipertensi dengan diet dan obat antihipertensi, diabetes melitus dengan diet dan obat hipoglikemik oral atau insulin, penyakit jantung dengan antikoagulan oral, dislipidemia dengan diet rendah lemak dan obat antidislipidemia, berhenti merokok, hindari kegemukan dan kurang gerak.1

J. Prognosis

Prognosis stroke dipengaruhi oleh sifat dan tingkat keparahan defisit neurologis yang dihasilkan. usia pasien, penyebab stroke, gangguan medis yang terjadi bersamaan juga mempengaruhi prognosis. Secara keseluruhan, kurang dari 80% pasien dengan stroke  bertahan selama paling sedikit 1 bulan, dan didapatkan tingkat kelangsungan hidup dalam 10 tahun sekitar 35%. pasien yang selamat dari periode akut, sekitar satu setengah samapai dua  pertiga kembali fungsi independen, sementara sekitar 15% memerlukan perawatan institusional. Di Indonesia, diperkirakan setiap tahun terjadi 500.000 penduduk terkena serangan stroke, dan sekitar 25% atau 125.000 orang meninggal dan sisanya mengalami cacat ringan atau berat. Sebanyak 28,5% penderita stroke meninggal dunia, sisanya menderita

(22)

DAFTAR PUSTAKA

1. Mansjoer A, Suprohaita, Wardhani WI, Setiowulan W. Kapita Selekta Kedokteran  FKUI Jilid 2. Media Aesculapius. Jakarta. 2000: 17-8.

2. Widjaja AC. Uji Diagnostik Pemeriksaan Kadar D-dimer Plasma Pada Diagnosis

Stroke Iskemik. UNDIP. Semarang.

2010. http://eprints.undip.ac.id/24037/1/Andreas_Christian_Widjaja.pdf 

3. Widjaja AC. Uji Diagnostik Pemeriksaan Kadar D-dimer Plasma Pada Diagnosis

Stroke Iskemik. UNDIP. Semarang.

2010. http://eprints.undip.ac.id/24037/1/Andreas_Christian_Widjaja.pdf (1 januari 2012)

4. Sabiston. Buku Ajar Bedah Bagian 2. EGC. Jakarta. 1994.hal:579-80.

5. Mardjono M & Sidharta P. Neurologi Klinis Dasar . Penerbit Dian Rakyat. Jakarta.2010: 290-91.

6. Rismanto. Gambaran Faktor-Faktor Risiko Penderita Stroke Di Instalasi Rawat   Jalan Rsud Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto Tahun 2006. FKM

UNDIP.Semarang.2006.http://www.fkm.undip.ac.id/data/index.php?action=4&idx=3 745.

7. Madiyono B & Suherman SK. Pencegahan Stroke & Serangan Jantung Pada Usia  Muda. Balai Penerbit FKUI. Jakarta. 2003.hal:3-11.

8. Ritarwan K. Pengaruh Suhu Tubuh Terhadap Outcome Penderita Stroke YangDirawat   Di Rsup H. Adam Malik Medan.FK USU.medan.2003.

9. Utami IM.Gambaran Faktor - Faktor Risiko Yang Terdapat Pada Penderita Stroke

(23)

11. Price SA & Wilson LM. Patofisiologi. Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit jilid  2.EGC. Jakarta. 2006: 1110-19

12. Lamsudin R. Algoritma Stroke Gajah Mada Penyusunan Dan Validasi Untuk   Membedakan Stroke Perdarahan Intraserebral Dengan Stroke Iskemik Akut Atau

Stroke Infark . FKUGM. Yogyakarta. 1996.

13. Yayasan Stroke Indonesia. Stroke Non Hemoragik . Jakarta. 2011.http://www.yastroki.or.id/read.php?id=250

Gambar

Gambar 1. Sirkulus Willisi
Tabel 1.  Skala koma Glasgow.
Tabel 2. Gangguan nervus kranial

Referensi

Dokumen terkait

kelainan kardiovaskular pada penderita PGK seperti hipertensi (lebih dari 90% subjek penelitian ini), diabetes melitus, penyakit jantung koroner, dan gagal jantung dapat

Faktor risiko dominan penderita stroke di Indonesia adalah umur yang semakin meningkat, penyakit jantung koroner, diabetes melitus, hipertensi, dan gagal jantung.

Faktor Risiko Hipertensi, Diabetes Melitus, Merokok, Asam urat, Dislipidemia, Obesitas, Dan Riwayat Stroke Dalam Keluarga Sebagai Risiko Kejadian Stroke 78

penelitian yang berjudul FAKTOR RISIKO HIPERTENSI, DISLIPIDEMIA, MEROKOK, ASAM URAT, OBESITAS, DIABETES MELITUS, DAN RIWAYAT STROKE DALAM KELUARGA PADA PENDERITA STROKE. dan

Penyulit hipertensi antara lain adalah gagal jantung kongestif akibat ketidakmampuan jantung memompa darah melawan peningkatan tekanan arteri, stroke akibat

Hipertensi merupakan penyebab terbesar terjadinya stroke, dalam hipertensi akan terjadi gangguan pembuluh darah yang mengecil, sehingga aliran darah yang menuju otak akan

“Analisis faktor risiko hipertensi, diabetes mellitus, penyakit jantung dan pembuluh darah di Indonesia”.. InstituT

Riwayat kesehatan yang lalu 1 Riwayat penyakit yang diderita Diabetes melitus Hepatitis Jantung Tifoid Hipertensi TB Lain-lain, jelaskan..... 2 Riwayat penyakit yang diderita