• Tidak ada hasil yang ditemukan

* Program Pascasarjana Universitas Sam Ratulangi Manado

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "* Program Pascasarjana Universitas Sam Ratulangi Manado"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

96 MOROTAI

Jufri A. Latif *

* Program Pascasarjana Universitas Sam Ratulangi Manado

Abstrak

Efektivitas kinerja adalah suatu ukuran yang menyatakan seberapa jauh target (kuantitas, kualitas dan waktu) yang telah dicapai oleh manajemen, yang mana target tersebut sudah ditentukan terlebih dahulu. Dinas Kesehatan Kabupaten Pulau Morotai merupakan sebuah institusi kesehatan milik pemerintah daerah yang di bentuk mulai tahun 2008 sampai sekarang namun roda organisasi belum berjalan dengan baik. Berdasarkan pengamatan dan masukan dari beberapa teman sejawat, masih dijumpai beberapa permasalahan sebagai berikut yaitu: selalu melakukan mutasi dan roling pegawai sehingga organisasi tidak berjalan efektif dan efisien, sebagian pegawai masih kurang bersikap positif terhadap kinerjanya, pegawai hanya mengandalkan apa yang dikatakan oleh pimpinannya, pegawai masih kurang melakukan inovasi dalam mengembangkan pekerjaannya, sebagian pegawai masuk kerja dan pulang tidak sesuai dengan aturan yang telah tetapkan, organisasi ini masih kurang kejelasan batasan tugas dan wewenang antara atasan dan bawahan, pimpinan kurang memperhatikan pegawai yang berprestasi untuk mendapatkan reward sehingga dapat berpengaruh kepada kinerja. Tujuan dalam penelitian ini adalah menganalisis hubungan antara iklim organisasi, kepemimpinan, disiplin kerja dengan efektivitas kinerja di Dinas Kesehatan Kabupaten Pulau Morotai.

Jenis penelitian ini yaitu penelitian dengan rancangan cross sectional. Sampel dalam penelitian adalah seluruh pegawai yang bekerja di Dinas Kesehatan Kabupaten Pulau Morotai. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dan Uji regresi logistic. Sampel dalam penelitian ini yaitu berjumlah 52 orang yang merupakan total populasi dengan menggunakan metode sensus.

Hasil penelitian menunjukan bahwa ada hubungan bermakna antara iklim organisasi dengan efektivitas kinerja p=0,000 (p<0,05), kepemimpinan p=0,008 (p<0,05), dengan efektivitas kinerja, dan disiplin kerja terdapt hubungan yang bermakna p=0,029 (p>0,05), dengan efektivitas kinerja. Hasil Uji regresi logistic menunjukkan variabel iklim organisasi yang paling erat berhubungan dengan efektivitas kinerja nilai OR (Odds Ratio) paling tinggi yaitu 10,971 (CI 95%: 2,959-40,679).

Kesimpulan penelitian ini yaitu faktor iklim organisasi, kepemimpinan dan disiplin kerja terdapat hubungan yang bermakna antara iklim organisasi dengan efektivitas kinerja di Dinas Kesehatan Kabupaten Pulau Morotai. Faktor iklim organisasi merupakan variabel yang paling dominan.

Abstract

The performance effectiveness is a measurement that states how many targets (quantity, quality, and timing) that have been achieved by the management which these targets have been determined previously. The health office in Pulau Morotai Regency is a health institutions owned by government that established since 2008 until now, but the organization has not been going well. Based on observations and information input from several colleagues, are still encountered some problems as follows : always doing the mutation and rolling to employees so that the organization did not run effectively and efficiently, some employees still les to be positive thinking to their performance, some employees only relied on what the leader said, some employees still had less innovative in developing their works, some employees entered and left to work ware not in accordance with determined rules, these organization still was not enough clearness of duties and authority boundaries between the leader and the employees, the leader had less attention to employees who excel to get a reward that can affect to their performance. Based on the above description showed that the organizational climate, leadership and discipline is very important to the performance, therefore, the study will analyze the performance effectiveness at the Health Office Pulau Morotai Regency. The purpose of this research was to analyze the correlation between organizational climate, leadership and discipline work with the performance effectiveness at the Health Office in Pulau Morotai Regency.

This type of research is cross sectional design research. The sample in this research were all employees who work at The Health Office in Pulau Morotai Regency. Data analysis used Chi-square test and logistic regression. The sample in this research as many as 52 people using method.

The results showed that there was a significant correlation between organizational climate with the performance effectivity pointed p=0.000 (p=0.05), the leadership pointed p=0.008 (p=0.005) with the performance effectivity, and discipline have a significant correlation p=0.029 (p>0.05) with the performance effectivity. The results of logistic regression test showed that organizational climate variable was most

(2)

97

significant correlation with the performance effectivity. The performance effectivity showed the value of OR (odds Ratio) was highest pointed 10.971 (95% CI : 2.959 to 40.6679).

The conclusion of this research that the organizational climate factor, leadership and discipline have a significant correlation with the performance affected on the performance effectivity. Climate factor of organization was the most dominant variable.

(3)

98 Pendahuluan

Sistem Kesehatan Nasional menyatakan bahwa pengelolaan kesehatan diselenggarakan melalui pengelolaan administrasi kesehatan, informasi kesehatan, sumber daya kesehatan, upaya kesehatan, pembiayaan kesehatan, peran serta dan pemberdayaan masyarakat, ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kesehatan, serta pengaturan hukum kesehatan secara terpadu dan saling mendukung guna menjamin tercapainya derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. (Anonim, 2012) Sebagai suatu institusi atau organisasi, Dinas Kesehatan Kabupaten Pulau Morotai mempunyai suatu tujuan, yaitu mengharapkan suatu hasil yang baik serta memuaskan sesuai dengan apa yang telah ditentukan sebelumnya dalam hal ini kesehatan yang profesional di bidangnya. Tujuan tersebut akan dapat dicapai secara efektif dan efisien jika dilakukan secara bersama-sama. Ini mengandung arti bahwa organisasi merupakan alat yang sangat diperlukan dalam mencapai tujuan bersama. Organisasi yang baik dalam hal memberikan pelayanan pendidikan dan kesehatan misalnya, memberi keuntungan tidak hanya dirasakan oleh anggotanya tetapi juga dirasakan oleh masyarakat dimana organisasi tersebut berada. (Anonim, 2013)

Yusop (2007) menganggap iklim organisasi sebagai suatu peristiwa, suasana tingkah laku dan tindakan-tindakan di dalam organisasi. Ia juga mengartikan iklim organisasi sebagai konsep yang terkait dengan penghargaan para anggota organisasi terhadap diri mereka. Menurutnya, iklim organisasi memfokuskan pada fungsionalisasi sebuah organisasi, sedangkan budaya berfokus

tentang mengapa organisasi berfungsi demikian. Penelitian Barkah (2002) dengan judul Pengaruh Gaya Kepemimpinan dan Iklim Organisasi terhadap Prestasi Kerja Suatu Organisasi menunjukkan bahwa gaya

kepemimpinan berpengaruh dominan terhadap prestasi kerja suatu organisasi. Iklim organisasi berpengaruh positif terhadap prestasi kerja suatu organisasi.

Menurut Subekti (2001), disiplin kerja merupakan bentuk ketaatan dari perilaku seseorang dalam mematuhi ketentuan-ketentuan ataupun peraturan-peraturan tertentu yang berkaitan dengan pekerjaan, dan diberlakukan dalam suatu organisasi disiplin kerja perlu dimiliki oleh setiap orang agar kehidupan organisasi bisa aman, tertib dan lancer.

Penelitian yang di kemukakan oleh Arsyenda (2013), dengan judul pengaruh motivasi kerja dan disiplin kerja terhadap kinerja PNS. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa motivasi kerja dan disipin kerja berpengaruh terhadap kinerja pegawai. Dimana dari hasil tersebut juga dapat diketahui bahwa disiplin kerja lebih besar pengaruhnya terhadap kinerja pegawai BAPPEDA Kota Malang.

Dinas Kesehatan Kabupaten Pulau Morotai merupakan sebuah institusi kesehatan milik pemerintah daerah pada kenyataannya telah berjalan mulai tahun 2008 sampai sekarang. Namun roda organisasi Dinas Kesehatan Kabupaten Pulau Morotai tidak semulus yang dibayangkan. Berdasarkan pengamatan dan masukan dari beberapa teman sejawat, masih dijumpai beberapa permasalahan sebagai berikut yaitu: selalu melakukan mutasi dan roling pegawai sehingga organisasi tidak berjalan efektif dan efisien, sebagian pegawai masih kurang bersikap positif terhadap kinerjanya, sebagian pegawai hanya mengandalkan apa yang dikatakan oleh pimpinannya, pegawai masih kurang melakukan inovasi dalam mengembangkan pekerjaannya, sebagian pegawai masuk kerja dan pulang tidak sesuai dengan aturan yang telah tetapkan, organisasi ini masih kurang kejelasan batasan tugas dan wewenang antara atasan dan bawahan, pimpinan kurang memperhatikan pegawai yang

(4)

99 berprestasi untuk mendapatkan reward sehingga dapat berpengaruh kepada kinerja.

Berdasarkan uraian di atas menunjukkan bahwa iklim organisasi, kepemimpinan dan disiplin sangat penting dalam menentukan efektivitas kinerja. Oleh karena itu, penelitian ini akan menganalisis efektivitas kinerja di Dinas Kesehatan Kabupaten Pulau Morotai dilihat dari iklim organisasi, kepemimpinan dan disiplin kerja.

Metode

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan metode cross sectional. Penelitian dilaksanakan di Dinas Kesehatan Kabupaten Pulau Morotai mulai bulan Januari 2014 sampai Mei 2015. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh PNS di Dinas Kesehatan Kabupaten Pulau Morotai yang berjumlah 52 orang.

Sampel dalam penelitian ini adalah jumlah seluruh Populasi dengan menggunakan metode sensus

Variabel bebas dalam penelitian ini adalah iklim organisasi, kepemimpinan dan disiplin kerja. Variabel terikat adalah efektivitas kinerja di Dinas Kesehatan Kabupaten Pulau Morotai. Analisis Bivariat uji Chi-Square untuk menguji apakah ada hubungan antara masing-masing variabel bebas

terhadap variabel terikat dimana kriteria penilaian adalah bila nilai p≤0.05, dapat disimpulkan ada hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat. Analisis multivariat menggunakan regresi logistik karena skala pengukuran variabel terikat dan variabel bebas adalah katagori dengan menguji faktor mana yang paling dominan berhubungan terhadap Efektivitas Kinerja di Dinas Kesehatan Kabupaten Pulau Morotai.

Hasil dan Pembahasan

a.

Hubungan antara Iklim Organisasi dengan Efektivitas Kinerja di Dinas Kesehatan Kabupaten Pulau Morotai.

Iklim organisasi adalah suatu kondisi, keadaan maupun situasi yang dipersepsikan oleh individu secara sadar atau tidak sadar mengenai kondisi lingkungan internal organisasi. (Wirawan, 2007)

Hubungan variabel Iklim Organisasi dengan Efektivitas Kinerja di Dinas Kesehatan Kabupaten Pulau Morotai dapat dilihat pada tabel 1 dibawah ini.

(5)

100

Tabel 1. Hubungan Iklim Organisasi dengan Efektivitas Kinerja di Dinas Kesehatan Kabupaten Pulau Morotai

Iklim Organisasi

Efektifitas Kinerja

Nilai p OR Efektif Tidak Efektif

Total n % n % n % Baik 24 46,2 5 9,6 29 55,8 0,000 10,971 Tidak Baik 7 13,5 16 30,8 23 44,2 Total 31 59,6 21 40,4 52 100

Dari tabel 1 diatas menunjukan bahwa iklim organisasi dengan efektivitas kinerja, diperoleh data bahwa jumlah responden yang merasakan iklim organisasi yang tidak baik sebanyak 23 orang (44,2%) dengan rincian yang bekerja tidak efektif sebanyak 16 orang (30,8%) dan yang bekerja efektif sebanyak 7 orang (13,5%), sedangkan jumlah responden yang merasakan iklim organisasi yang baik sebanyak 29 orang (55,8%) dengan rincian yang bekerja tidak efektif sebanyak 5 orang (9,6%) dan yang bekerja efektif sebanyak 24 orang (46,2%). Berdasarkan hasil analisis uji Chi-Square didapatkan hasil dengan nilai p = 0,000 < 0,05 yang menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara iklim organisasi dengan efektifitas kinerja. Nilai

OR=10,971 (CI 95%: 2,959-40,679). Artinya, iklim organisasi yang baik akan lebih berpeluang 10 kali lebih efektif kinerja organisasinya dibandingkan dengan yang iklim organisainya tidak baik.

b.

Hubungan antara Kepemimpinan dengan Efektivitas Kinerja di Dinas Kesehatan Kabupaten Pulau Morotai

Kegiatan atau seni mempengaruhi orang lain agar mau bekerjasama yang didasarkan pada kemampuan orang tersebut untuk membimbing orang lain dalam mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan suatu organisasi. (Kartono 2013)

Hubungan variabel kepemimpinan dengan Efektivitas Kinerja di Dinas Kesehatan Kabupaten Pulau Morotai dapat dilihat pada tabel 2 dibawah ini.

(6)

101

Tabel 2. Hubungan Kepemimpinan dengan Efektivitas Kinerja di Dinas Kesehatan Kabupaten Pulau Morotai

Kepemimpinan

Efektifitas Kinerja

Nilai p

OR Efektif Tidak Efektif

Total n % n % n % Baik 23 44,2 7 13,5 30 57,7 0,008 5,750 Tidak Baik 8 15,4 14 26,9 22 42,3 Total 31 59,6 21 40,4 52 100

Dari tabel 2 diatas menunjukan bahwa

kepemimpinan dengan efektivitas kinerja,

diperoleh data bahwa jumlah responden yang

merasakan kepemimpinan yang tidak baik

sebanyak 22 orang (42,3%) dengan rincian yang berkinerja tidak efektif sebanyak 14 orang (26,9%) dan yang berkinerja efektif sebanyak 8 orang (15,4%), sedangkan jumlah responden yang merasakan kepemimpinan yang baik sebanyak 30 orang (57,7%) dengan rincian yang berkinerja tidak efektif sebanyak 7 orang (13,5%) dan yang berkinerja efektif sebanyak 23 orang (44,2%). Berdasarkan hasil analisis uji Chi-Square didapatkan hasil dengan nilai p = 0,008 < 0,05 yang menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara kepemimpinan dengan efektifitas kinerja.

Nilai OR=5,750 (CI 95%: 1,710–19,333). Artinya, kepemimpinan baik akan lebih berpeluang 5 kali lebih efektif kinerja organisasinya dibandingkan dengan yang kepemimpinannya tidak baik.

c.

Hubungan antara Disiplin Kerja dengan Efektivitas Kinerja di Dinas Kesehatan Kabupaten Pulau Morotai

Ketaatan sikap dan tingkah laku pegawai terhadap ketentuan-ketentuan atau peraturan-peraturan yang berlaku. (Moenir 2013)

Hubungan variabel Disiplin Kerja dengan Efektivitas Kinerja di Dinas Kesehatan Kabupaten Pulau Morotai dapat dilihat pada Tabel 3 dibawah ini.

Tabel 3. Hubungan Disiplin Kerja dengan Efektivitas Kinerja di Dinas Kesehatan Kabupaten Pulau Morotai

Disiplin Kerja

Efektifitas Kinerja

Nilai p OR Efektif Tidak Efektif

Total n % n % n % Baik 25 48,1 10 19,2 35 67,3 0,029 4,583 Tidak Baik 6 11,5 11 21,5 17 32,7 Total 31 59,6 21 40,4 52 100

(7)

102 Dari tabel 3 diatas menunjukkan bahwa disiplin kerja dengan efektivitas kinerja, diperoleh data bahwa jumlah responden yang merasakan disiplin kerja yang tidak baik sebanyak 17 orang (32,7%) dengan rincian yang berkinerja tidak efektif sebanyak 11 orang (21,5%) dan yang berkinerja efektif sebanyak 6 orang (11,5%), sedangkan jumlah responden yang merasakan disiplin kerja yang baik sebanyak 35 orang (67,3%) dengan rincian yang berkinerja tidak efektif

sebanyak 10 orang (19,2%) dan yang berkinerja efektif sebanyak 25 orang (48,1%). Berdasarkan hasil analisis uji Chi-Square didapatkan hasil dengan nilai p = 0,029 < 0,05 yang menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara disiplin kerja dengan efektivitas kinerja. Nilai OR=4,583 (CI 95%: 1,332–15,772). Artinya, disiplin kerja baik akan lebih berpeluang 4 kali lebih efektif kinerja organisasinya dibandingkan dengan yang disiplin kerjanya tidak baik.

d.

Analisis Multivariat Penelitian

Analisis multivariat dilakukan dengan menggunakan uji regresi logistik. Tahap sebelum dilakukan uji regresi logistik adalah menentukan variabel bebas yang mempunyai p ≤ 0,05 dalam uji hubungan dengan variabel terikat (uji chi square) pada uji bivariat tersebut di atas. Berdasarkan uji bivariat dari ketiga variabel bebas (iklim

organisasi, kepemimpinan, dan disiplin kerja), variabel iklim organisasi kepemimpinan dan disiplin kerja memiliki nilai p ≤ 0,05 sehingga ketiga variabel tersebut dimasukkan dalam analisis selanjutnya. Hasil uji multivariat dengan menggunakan regresi logistik seperti terlihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Hasil Analisis Regresi Logistik

Variabel S.E. Sig. OR

95% C.I

Lower Upper Iklim Organisasi 1.226 0,001 10,971 2.103 23.285 Kepemimpinan 1.250 0,003 5,750 1.681 15.019 Disiplin Kerja 1.527 0,002 4,583 5.668 54.186

Tabel 5 menunjukan bahwa variabel iklim organisasi yang memiliki nilai OR paling besar (10,971). Hal ini berarti bahwa variabel yang paling dominan berpengaruh terhadap efektivitas kinerja adalah variabel iklim organisasi. Jadi iklim organisasi yang baik akan membuat efektivitas kinerja lebih efektif 10 kali dibandingkan efektifat

kinerja tidak baik setelah dikontrol oleh variabel kepemimpinan dan disiplin kerja.

Kesimpulan

Dari hasil penelitian ini kesimpulan yang dapat diambil adalah:

(8)

103 1. Terdapat hubungan yang bermakna antara

iklim organisasi dengan efektivitas kinerja di Dinas Kesehatan Kabupaten Pulau Morotai.

2. Terdapat hubungan yang bermakna antara kepemimpinan dengan efektivitas kinerja di Dinas Kesehatan Kabupaten Pulau Morotai.

3. Terdapat hubungan yang bermakna antara disiplin kerja dengan efektivitas kinerja di Dinas Kesehatan Kabupaten Pulau Morotai.

4. Iklim organisasi, kepemimpinan dan disiplin kerja berpengaruh signifikan terhadap efektivitas kerja di Dinas Kesehatan Kabupaten Pulau Morotai. Iklim organisasi merupakan variabel yang paling dominan mempengaruhi efektivitas kinerja di Dinas Kesehatan Kabupaten Pulau Morotai.

Saran

Saran yang dapat diberikan dengan melihat hasil penelitian ini adalah:

1. Bagi pegawai di Dinas Kesehatan Kabupaten Pulau Morotai untuk mengefektifkan kinerjanya.

2. Bagi pimpinan, iklim organisasi perlu ditingkatkan pembinaan dan pengawasan kepada pegawai di Dinas Kesehatan Kabupaten Pulau Morotai sehingga kinerjanya sangat efektif.

3. Kepemimpinan perlu ditingkatkan pembinaan kepada pegawai di Dinas Kesehatan Kabupaten Pulau Morotai sehingga kinerjanya lebih diefektifkan.

4. Dalam bidang pengembangan sumber daya manusia disiplin kerja bagi pegawai di Dinas

Kesehatan Kabupaten Pulau Morotai lebih diefektifkan.

Daftar Pustaka

Anonimous, 2012. Peraturan Presiden Nomor 72 tahun 2012 tentang Sistem Kesehatan Nasional.

Arsyenda, Y. 2013 Pengaruh Motivasi Kerja dan Disiplin Kerja Terhadap Kinerja PNS (studi kasus : bappeda kota malang) Jurnal ilmiah Barkah, 2002. Penelitian Pengaruh Gaya

Kepemimpinan dan Iklim Organisasi terhadap Prestasi Kerja Organisasi di Surabaya. Tesis Program Pascasarjana Unair, Surabaya. Moenir, H.A.S. 2003. Pengembangan Sumber

Daya Manusia. Pustaka, Jakarta.

Sutikno, S. 2014. Pimpinan dan kepemimpinan. Cetakan Pertama. Lombok.

Subekti, I. 2001. Bukti Tambahan Atas Asosiasi Antara The Investment Opportunity Set dengan Kebijakan Pendanaan dan Deviden Perusahaan Pada Pasar Sedang Berkembang. TEMA, Vol. 2, No.1, Hal: 13-25.

Wirawan. 2007. Budaya dan Iklim Organisasi: Teori, Aplikasi, dan Penelitian. Jakarta: Salemba Empat.

Yusop, M, M. 2007. Iklim Organisasi dan Hubungannya dengan Gelagat Kewarganegaraan Organisasi Di Kalangan Guru-Guru Sekolah Menengah Dareah Pontian, Johor,” Johor: Thesis. Universiti Teknologi Malaysia.

Referensi

Dokumen terkait

Hal ini sejalan dengan riset Anugrah pada tahun 2013 di Semarang, pada peneltian itu terdapat hubungan yang signifikan antara masa kerja dan kapasitas vital paru, juga riset yang

Hasil penelitian analisis uji Chi-Square menunjukkan Pendidikan P=0,000, pendapatan P=0,000, asupan zat besi P=0,000 dan asupan protein P=0,000 yang menunjukkan terdapat

Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis hubungan antara pengetahuan, sikap, ketersediaan fasilitas kesehatan, dukungan keluarga dan dukungan petugas kesehatan dengan

Dari hasil pengukuran kelelahan kerja didapatkan hasilpada shift pagi terdapat 1 perawat dengan tingkat kelelahan kerja normal (8,3%), 10perawat mengalami kelelahan

Kesimpulan: Kesimpulan penelitian ini yaitu terdapat hubungan antara masa kerja dengan kapasitas vital paru pekerja yang terpapar debu padi di kecamatan Dumoga

Hasil penelitian menunjukan bahwa tidak terdapat perbedaan nilai IMT dan nilai LAP index serta terdapat perbedaan kadar antara HDL pada masyarakat di Desa Kumelembuai

Penelitian oleh Uecker and Stokes (2008) di Amerika Serikat, menyatakan bahwa responden yang salah satu orang tua dengan pendidikan terakhir di perguruan tinggi

Dari hasil uji statistik diperoleh nilai p = 0,251 (p &gt; 0,05), dengan kesimpulan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara status domisili dengan asupan energi lansia