• Tidak ada hasil yang ditemukan

RINGKASAN TULISAN DALAM BUKU PENERAPAN P (6)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "RINGKASAN TULISAN DALAM BUKU PENERAPAN P (6)"

Copied!
3
0
0

Teks penuh

(1)

RINGKASAN TULISAN DALAM BUKU

PENERAPAN PRINSIP PROPORSIONALITAS TERHADAP PENGGUNAAN PESAWAT TANPA AWAK DALAM KONFLIK BERSENJATA1

Oleh : Muhamad Robi Hamdani 14323004 Matakuliah : Hukum Humaniter Internasional

Dosen : Dodik Setiawan Nur Heriyanto, SH, MH, LLM, PhD

RINGKASAN

Paper ini membahas salah satu Prinsip dari Hukum Humaniter yakni, Prinsip Proporsionalitas terkait penggunaan pesawat tanpa awak Drone dalam konflik bersenjata. Oleh karena itu penulis akan membuat rangkuman pendek dari pembahasan paper ini dengan beberapa kutipan sekaligus pendapatnya dari pembahasannya.

Dalam perkembangannya, hukum humaniter internasional dirancang untuk beradaptasi terhadap isu-isu baru di masa yang akan datang. Tak heran jika aturan-aturan di dalamnya bisa berubah kapan saja, karena jika kita lihat akar suatu hukum atau lahirnya suatu hukum ialah dari suatu Wilayah, dimana ada wilayah penduduk disitu ada hukum yang tercipta, baik hukum asli/adat, atau hukum modern.

Globalisasi; perubahan zaman tidak hanya terletak pada satu aspek kehidupans aja, namun berbagai aspek yang saling berkaitan di dalamnya, seperti sosial, politik, ekonomi, agama, dan begitupun Hukum yang masuk dalam aspek sosial. Maka hukum pun berubah bersamaan dengan berubahnya pola pikir, kebiasaan, kesepakatan umum dalam hal ini konteksnya antar Negara, menyesuaikan zaman. Bahkan model perang atau konflik pun sudah berubah lebih complex, maka dari itu penetapan hukum bersifat Fleksibel.

Poin penting dari paper ini salah satunya terkait Penggunaan Pesawat tanpa awak beserta dampaknya. Membahas mulai dari pemutakhiran senjata modern, legalitas drone, dan penggunannya.

-Pemutakhiran senjata modern (Drone) menjadi sangat urgen, di dukung kemajuan teknologi negara-negara maju. Negara-negara maju terus bersaing menciptakan SENJATA PERANG

(2)

modern guna mendukung kekuatan perang suatu negara. Drone ini dikendalikan dari jarak jauh, dan tanpa awak, sehingga sangat berguna bagi kebutuhan perang.

-Legalitas, jika dilihat latar belakang pembuatan Drone ini, sangat masuk akal, dan menjadi opsi yang rasional bagi setiap negara untuk membuatnya hingga mengesahkannya dalam peraturan/hukum perang, karena ini juga diatur dalam HHI tentang Militer yang diperbolehkan memperkuat/menggunakan senjata perang untuk kepentingan Militer juga.. Pendapat; Perlunya pertimbangan-pertimbangan lain, dan kehati-hatian dalam penggunaan drone ini karena dikendalikan manusia. Dan seharusnya ada aturan-aturan yang lebih spesifik terkait penggunaan teknologi senjata perang khususnya DRONE ini sendiri.

-Penggunaan drone juga dinilai undercontrol, mengapa?

Bagian ini mengkritik penggunaan Drone dalam konflik melawan terorisme namun pada kenyataannya penggunaan drone ini menyebabkan banyak korban berjatuhan seperti di pakistan, afganistan, yaman dan somalia. Pendapat yang disampaikan ialah terhadap efektifitas penggunaan drone ini yang justru secara massive dan langsung berdampak pada kematian korban tak bersalah atau Non-Kombatan. Maka, berdasarkan salah satu prinsip HHI, penggunaan drone ini dinilai tidak sesuai, karena menyalahi Prinsip lainnya.

Lalu, disitu dikatakan beberapa gagasan seperti “Sampai saat ini belum ada pembatasan sejauh mana ukuran prinsip proporsionalitas. Dan penggunaanya harus sejalan dengan HHI”. “Pembalasan boleh dilakukan selama proporsional, yakni: tidak berlebihan dan tidak melawan hukum (ilegal). Dan 4 poin yang membahas ukuran atau batasan dalam penggunaan drone secara PROPORSIONALITAS.” Pandanganya saya dapat dilihat dari beberapa kondisi kenyataan dan keterkaitan antara 4 poin yang ada, bahwasannya penggunaan drone ini sangat krusial dan berbahaya, juga tidak sedikit telah melanggar beberapa norma, asas, prinsip tentang HHI sendiri.

(3)

Jika dilihat dari fakta-fakta yang ada, sisi negatif dari penggunaan drone ini sangat tampak jelas dilapangan, seperti yang terjadi di Pakistan, Afganistan, Yaman, dan Somalia terkait korban-korban non-kombatan yang mati.

Maka, perlu adanya peninjauan ulang secara struktural mulai dari legalitas, dan pengunannya. Artinya, perlu adannya ketentuan atau aturan yang secara spesifik mengatur tentang penggunaan DRONE ini, karena dasar hukumnya belum jelas dan masih sangat abu-abu. Sebagaimana seperti salah satu pernyataan, segala tindakan perang/kepentingan militer tidak boleh berlawanan dengan HHI, dan antara prinsip dan asas harus diterapkan berjalan seimbang, oleh karena itu kegiatan pembuatan senjata perang ini perlu di awasi dan ditinjau ulang dasar hukumnya. Sehingga kegiatan perang bisa sesuai Prinsip Proporsionalitas. Dan inilah salah satu alasan mengapa Hukum Humaniter Internasional di bentuk.

DAFTAR PUSTAKA

Referensi

Dokumen terkait

Prinsip pembedaan hukum humaniter internasional tidak dapat terimplementasi secara maksimal dalam konflik bersenjata modern karena dipengaruhi perkembangan bentuk konflik, yang

Ketentuan tersebut terdapat pada amanat Pasal 36 Protokol Tambahan I Konvensi Jenewa tentang Perlindungan Korban-korban Pertikaian-Pertikaian Bersenjata

Hal tersebut diatur dalam Pasal 36 Protokol Tambahan I Konvensi Jenewa tentang Perlindungan Korban-Korban Pertikaian-Pertikaian Bersenjata Internasional Tahun 1997 yang

Pada pasal 36 protokol tambahan 1 konvensi jenewa tentang perlindungan korban-korban pertikaian bersenjata internasional tahun 1977 yang apa bila disimpulkan

Baik karena memudahkan suatu negara untuk menyerang lawannya tanpa mengerahkan atau mengorbankan suatu nyawa atau tentara untuk menyerang dan sangat

terkait dengan penggunaan pesawat tanpa awak di medan pertempuran, maka jika secara nyata penggunaannya dilakukan untuk menyerang kelompok sipil maka hukum humaniter dan

Dengan adanya hal-hal tersebut, diharapkan kedepannya korban jiwa dan/atau terluka dari penduduk sipil tidak terjadi kembali, sekaligus tidak mencederai amanat dari hukum

Penerapan Hukum Humaniter Internasional dalam Konflik Bersenjata antara Palestina dan