2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Teori Dasar
2.1.1 Corporate Communications
2.1.1.1 Konsep Corporate Communications
Dalam buku Essential of Corporate Communications oleh Cees B. M Van riel dan Charles J. Formburn (2007, p.7), yang mengutip dari Jakcson
“Corporate communication is the total communication activity generated by a company to achieve its planned objectives” (dalam buku Corporate Communication for Managers). Corporate Communications merupakan keseluruhan aktifitas komunikasi yang dihasilkan oleh suatu perusahaan untuk mendapatkan tujuan yang telah direncanakan sebelumnya.
Corporate Communications atau komunikasi korporat mengawasi fungsi- fungsi komunikasi yang terdiri atas: identitas, citra, dan reputasi strategi, iklan dan advokasi korporat, tanggung jawab perusahaan, hubungan media, komunikasi pemasaran, sistem komunikasi internal, hubungan investor, hubungan pemerintah, dan manajemen krisis. (Argenty, 2010, p. 60-69).
Aktifitas Corporate Communications dalam dalam buku The Power of Corporate Communication oleh Paul A. Argenti & Janis Forman (2002, p.58) meliputi Strategy formulation and implementation. Corporate identity, image and reputation. Customer advertising and promotion, Customer relations, Employee communications, Investor relations, Government affairs, Community relations, Media relations, Crisis communications, Management of new communication technologies.
Jika ditarik kesimpulan dari definisi, fungsi dan aktivitas Corporate Communications, Corporate communications merupakan keseluruhan aktifitas komunikasi yang dihasilkan oleh perusahaan untuk mendapatkan tujuan yang telah direncanakan sebelumnya. Yang dimana dalam penelitian ini, Corporate Communications merupakan keluruhan aktivitas komunikasi yang dihasilkan perusahaan melalui program tanggung jawab sosial yang merupakan fungsi dari
corporate communications itu sendiri, dan membentuk hubungan dengan komunitasnya.
2.1.2 Corporate Social Responsibility
2.1.2.1 Konsep Corporate Social Responsibility
Konsep awal tanggung jawab sosial (Corporate Social Responsibility) dari suatu perusahaan secara eksplisit baru dikemukakan oleh Howard R. Bowen pada era tahun 1950-an, melalui karyanya yang diberi judul “Social Responsibilies of the Businessmen”. Bowen memberikan rumusan tanggung jawab sosial, sebagai
“it refers to the obligation of businessmen to pursue those policies, to make of the objectives and values of our society”. Rumusan dari Bowen tersebut telah memberikan landasan awal bagi pengenalan kewajiban pelaku busnis untuk menetapkan tujuan bisnis yang selaras dengan tujuan dan nilai-nilai masyarakat.
(Solihin, 2009, p.16).
Dari rumusan awal tanggung jawab sosial perusahaan yang dicetuskan oleh Howard R. Bowen, memberikan suatu jalan pembuka bagi pemikiran ilmuwan lain mengenai CSR seperti Keith Davis pada tahun 1970-an untuk memunculkan konsep “Iron Law of Responsibility”. Dasar dari konsep “Iron Law of Responsibility” mengungkapkan bahwa tanggung jawab sosial bagi para pelaku bisnis akan sejalan dengan kekuasaan sosial yang mereka miliki, oleh karenanya bila pelkau usaha mengabaikan tanggung jawab sosialnya maka hal ini bias mengakibatkan merosotnya kekuatan sosial perusahaan. Konsep tersebut menjadi acuan bagi pentingnya reputasi dan legistimasi publik atas keberadaan suatu perusahaan. (Solihin, 2009, p.17).
Konsep CSR oleh John Elkington pada tahun 1990-an yaitu Tripple Bottom Line, memaparkan adanya perkembangan konsep mengenai 3 pilar dalam CSR yaitu Profit, People dan Planet. Yang dimana dalam konsep Tripple Bottom
line tersebut menegaskan bahwa suatu perusahaan yang baik tidak hanya membutuhkan keuntungan ekonomi saja (profit), melainkan pula, memiliki kepedulian terhadap kelestarian lingkungan (planet), dan kesejahteraan masyarakat (people). (3 Bottom Line, 2007).
Gambar 1.1 Tripple Bottom Line Sumber: www.triplepundit.com, 2010.
Konsep dari CSR terus berkembang hingga kini. Peneliti menjadikan 4 konsep CSR sebagai acuan dari penelitian ini. Pertama, konsep Corporate Social Responsibility yang dilontarkan oleh World Bank yaitu The commitment of business to contribute to sustainable economic development working with employees and their representatives the local community and society at large to improve quality of life, in ways that are both good for business and good development. Sedangkan The World Business Council for Sustainable Development (WBCSD) mendefinisikan CSR sebagai Continuing commitment by business to behave ethically and contribute to economic development while improving the quality of life of the workforce and their families as well as of the local community and society at large. (Ambadar, 2008, p.33).
Ketiga, Kotler dan Lee memaparkan, Corporate Social Responsibility sebagai “Corporate Social Responsibility is commitment to improve community well being through discretionary business practices and contribution of corporate resources”. (Solihin, 2009, p.5).
Keempat, dalam buku Corporate Communications oleh Paul A. Argenty menyebutkan Corporate Responsibility atau disebut juga sebagai Corporate Social Responsibility membentuk kehormatan sebuah organisasi bagi kepentingan masyarakat, ditunjukan dengan mengambil rasa memiliki dari efek aktivitas terhadap konstituen kunci termasuk konsumen, karyawan, pemegang saham, komunitas dan lingkungan, dalam semua bagian dari operasi mereka.
Akuntabilitas sering meluas melebihi pelaksanaan dasar dengan peraturan- peraturan yang ada untuk mencangkup usaha-usaha sukarela dan proaktif untuk meningkatkan kualitas hidup karyawan dan keluarga mereka begitu pula bagi komunitas lokal dan masyarakat luas. (Argenty, 2010, p.123).
Dari keempat konsep mengenai Corporate Social Responsibility atau tanggung jawab sosial perusahaan, terdapat penekanan dalam CSR yaitu komitmen perusahaan secara sukarela untuk meningkatkan kualitas hidup dari karyawan dan keluarganya, komunitas lokal, hingga masyarakat luas.
2.1.2.2 Prinsip dan Pedoman Corporate Social Responsibility
Prinsip CSR yang dipaparkan oleh Wood disesuaikan dengan orientasi pelaksanakan prinsip CSR, yaitu:
1. The principle of legitimacy. Didasari oleh adanya legistimasi dan pemberian kekuasaan yang diberikan oleh masyarakat kepada pelaku bisnis untuk menjalankan operasi perusahaan, menggunakan berbagai jenis sumber data, serta memasarkan produk mereka hasilkan. Dalam jangka panjang, perusahaan yang menggunakan kekuasaan secara tidak bertanggung jawab menurut kacamata masyarakat, akan cenderung kehilangan legistimasinya dari masyarakat.
2. The principle of Public responsibility. Melalui prinsip ini, Wood membumikan konsep CSR di mana dalam hal ini perusahaan tidak bertanggung jawab untuk mengatasi seluruh masalah sosial yang ada di lingkunganya. Perusahaan hanya bertanggung jawab atas hal-hal yang diakibatkan oleh pelaksanakan fungsi-fungsi perusahaan (produksi, pemasaran, personalia, keuangan dan lain- lain) dan dampak pelaksanakan fungsi-fungsi tersebut. Wood berpendapat dengan adanya prinsip public responsibility, maka hal tersebut akan memberikan panduan yang lebih spesifik kepada perusahaan mengenai di area CSR mana mereka bisa berperan.
3. The Prinsiple of managerial disrection. Prinsip ini menyatakan bahwa para manajer selaku agen moral yang memiliki pertimbangan pribadi, selayaknya mampu menjalankan pertimbangannya tersebut dalam setiap area yang menjadi domain CSR (economic responsibilities, legal responsibilities, ethical responsibilities, dan discretionary responsibilities) yang akan menghasilkan manfaat sosial. (Solihin, 2008, p.108-109).
Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) menyepakati pedoman bagi perusahaan multinasional dalam penerapan CSR, yaitu :
1. Memberi kontribusi untuk kemajuan ekonomi, sosial dan lingkungan berdasarkan pandangan untuk mencapai pembangunan berkelanjutan.
2. Menghormati hak-hak asasi manusia yang dipengaruhi kegiatan yang dijalankan perusahaan tersebut sejalan dengan kewajiban dan komitmen pemerintah di negara tempat perusahaan beroperasi.
3. Mendorong pembangunan kapasitas lokal melalui kerja sama yang erat dengan komunitas lokal, termasuk kepentingan bisnis, selain mengembangkan kegiatan perusahaan di pasar dalam dan luar negeri sejalan dengan kebutuhan praktek perdagangan.
4. Mendorong pembentukan human capital, khususnya melalui penciptaan kesempatan kerja dan memfasilitasi pelatihan bagi para karyawan.
5. Menahan diri untuk tidak mencari atau menerima pembebasan di luar yang dibenarkan secara hukum yang terkait dengan sosial lingkungan, kesehatan dan keselamatan kerja, perburuhan, perpajakan, insensif finansial, dan isu- isu lain.
6. Mendorong dan memegang teguh prinsip-prinsip GCG serta mengembangkan dan menerapkan praktik-praktik tata kelola perusahaan yang baik.
7. Mengembangkan dan menerapkan praktik-praktik sistem manajemen yang mengatur diri sendiri secara efektif guna menumbuhkembangkan relasi saling percaya diantara perusahaan dan masyarakat tempat perusahaan beroperasi.
8. Mendorong kesadaran pekerja yang sejalan dengan kebijakan perusahaan melalui penyebarluasan informasi tentang kebijakan-kebijakan itu pada pekerja termasuk melalui program-program pelatihan.
9. Menahan diri untuk tidak melakukan tindakan tebang pilih (diskriminatif) dan indisipliner.
10. Mengembangkan mitra bisnis, termasuk para pemasok dan subkontraktor, untuk menerapkan aturan perusahaan yang sejalan dengan pedoman tersebut. Bersikap abstain terhadapa semua keterlibatan yang tak sepatutnya dalam kegiatan-kegiatan politik lokal (Wibisono, 2007, p.42- 43)
Dalam kaitannya dengan pelaksanaan aktivitas CSR, pedoman yang dicetuskan OECD pada tahun 2000 tersebut, bertujuan untuk mendorong transparansi dan akuntabilitas perusahaan, terutama yang menyangkut bidang- bidang sebagai berikut:
1. Disclosure of material information (Pengungkapan informasi yang material).
2. Employment and industrial relation (Hubungan ketenagakerjaan dan industrial).
3. Enviromental management (Manajemen lingkungan hidup).
4. Bribery (Penyuapan).
5. Competition (Kompetisi).
6. Consumer interest (Kepentingan pelanggan).
7. Science and technology diffusion (Penyebaran ilmu pengetahuan dan teknologi).
8. Taxation (Perpajakan). (Solihin, 2009, p.28).
2.1.2.3 Jenis Program Corporate Social Responsibility
Kotler dan Lee (2006) menyebutkan enam kategori program CSR, yaitu:
1. Causes Promotions, Dalam program ini, perusahaan menyediakan dana atau sumber daya lainnya yang dimiliki perusahaan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap suatu masalah sosial atau untuk mendukung pengumpulan dana, partisipasi dari masyarakat, atau perekrutan tenaga sukarela untuk suatu kegiatan tertentu. Komunikasi persuasif dengan tujuan mencipatakan kesadaran (awareness) dari kategori aktivitas CSR ini.
2. Causes Related Marketing, Dalam program ini, perusahaan memiliki komitmen untuk menyumbangkan presentase tertentu dari penghasilanya untuk suatu kegiatan sosial berdasarkan besarnya penjualan produk. Kegiatan ini biasanya didasarkan kepada penjualan produk tertentu, unutk jangka waktu tertentu, serta aktivitas derma tertentu.
3. Corporate Societal Marketing, Dalam program ini, perusahaan mengembangkan dan melaksanakan kampanye untuk mengubah perilaku masyarakat dengan tujuan meningkatkan kesehatan dan keslamatan publik, menjaga kelestarian lingkungan hidup, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan mengfokuskan untuk mendorong perubahan perilaku yang berkaitan dengan beberapa isu yaitu isu-isu kesehatan, perlindungan terhadap kecelakaan/kerugian, lingkungan, serta keterlibatan masyarakat.
4. Corporate Philanthropy, Perusahaan memberikan sumbangan langsung dalam bentuk derma kalangan masyarakat tertentu. Sumbangan tersebut biasanya berbentuk pemberian uang secara tunai, paket bantuan, atau pelayanan secara cuma – cuma.
5. Community Volunteering, Program ini, perusahaan mendukung serta mendorong para karyawan, para pemegan franchise atau rekan pedagan eceran untuk menyisihkan waktu mereka secara sukarela guna membantu organisasi- organisasi masyarakat lokal maupun masyarakat yang menjadi sasaran program.
6. Socially Responsible Business Practice. Dalam program ini, perusahaan melaksanakan aktivitas bisnis melampaui aktivitas bisnis yang diwajibkan oleh hukum serta melaksanakan investasi yang mendukung kegiatan sosial dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan komunitas dan memelihara lingkungan hidup.
(Solihin, 2009, p.131-141).
2.1.2.4 Implementasi Program Corporate Social Responsibility
Pelaksanakan program CSR melibatkan beberapa pihak, yakni perusahaan, pemerintah, lembaga swadaya, masyarakat, tokoh-tokoh masyarakat, serta calon penerima manfaat CSR. Oleh sebab itu, dalam implementasi program CSR diperlukan beberapa kondisi yang akan menjamin terlaksananya implementasi program CSR dengan baik, yaitu:
1. Impelmentasi CSR memperoleh persetujuan dan dukungan dari pihak yang terlibat.
2. Ditetapkannya pola hubungan di antara pihak-pihak yang terlibat secara jelas. Hal ini akan meningkatkan kualitas koordinasi pelaksanaan program CSR dan berkelanjutan.
3. Adanya pengelolaan program yang baik. Pengelolaan program yang baik hanya dapat terwujud bila terdapat kejelasan tujuan program, terdapat kesepakatan mengenai strategi yang akan digunakan untuk mencapai tujuan program dari para pihak yang terlibat dalam pelaksanaan CSR. (Solihin, 2009, p.146).
2.1.2.5 Sistematika Tahapan CSR
Tahapan CSR yang sistematis dan kompleks, dapat ditempuh melalui langkah berikut:
1. Dimulai dengan melihat dan menilai kebutuhan (need assement) masyarakat sekitar. Hal ini dapat dilakukan dengan mengidentifikasi masalah atau problem yang terjadi di masyarakat
dan lingkunganya, setelah itu mencari solusi yang terbaik bagi masyarakat dan lingkungannya.
2. Membuat rencana aksi, beserta dengan anggaran, jadwal waktu, indicator untuk mengevaluasi dan sumber daya manusia.
3. Monitoring, yang dapat dilakukan melalui survei maupun kunjungan langsung. Evaluasi dilakukan secara regular dan dilaporkan, agar menjadi panduan untuk strategi atau pengembangan program selanjutnya. Disamping itu, perlu juga diadakannya audit sosial (social audit) secara objektif terhadap pelaksanakan program, untuk melihat apakah program telah tepat sasaran, serta dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, sesuai tujuan pelaksanakanya. (Wibisono, 2008, p.38)
Dalam penelitian ini, akan menggambarakan secara mendalam mengenai penerapan Good Corporate Governance dalam Program Corporate Social Responsibility PT XL Axiata “Komputer untuk Sekolah”. Dalam konsep CSR seperti yang telah dibahas diatas, mengemukakan bahwa CSR mempunyai tonggak atau pilar dan ketentuan-ketentuan yang menegaskan bahwa CSR sebagai salah satu sikap tanggung jawab sosial perusahaan kepada masyarakat. Yang dimana CSR dalam buku Corporate Social Responsibility from Charity to Sustainability memaparkan adanya sifat CSR yang berorientasi dari dalam ke luar.
Dimana suatu perusahaan harus mempunyai tata kelolah perusahaan yang baik untuk dapat memberikan dampak atau manfaat yang baik dalam program CSR yang dilakukannya.
Untuk itu pada point selanjutnya, peneliti menggunakan teori dasar mengenai konsep Good Corporate Governance.
2.1.3 Good Corporate Governance
2.1.3.1 Konsep Good Corporate Governance
Good Corporate Governance (GCG) is now the key word for organizations as they are expected to set high standards in meeting the demands of their shareholders. Director are therefore subjected to higher standard which
cover not technical efficiency of operations, but also the implementation of an efficient management system through the use of “best practices” develop from high ethical values. GCG secara definitive merupakan sistem yang mengatur dan mengendalikan perusahaan untuk menciptakan nilai tambah (value added) untuk semua stakeholder. GCG atau tata kelolah perusahaan yang baik pada saat ini merupakan suatu standard bagi perusahaan-perusahaan untuk menciptakan kinerja yang terbaik yang mengembangkan dari nilai-nilai etika yang tinggi. (Moeljono, 2005, p.26-27).
Good Corporate Governance, dapat memberikan dasar bagi berkembangnya sistem nilai baru yang lebih sesuai dengan lanskap bisnis yang kini telah sangat berubah dimana kemandirian (indepedensi), transparansi, profesionalisme, dan tanggung jawab sosial menjadi norma dasarnya. (Alijoyo, Djemat, Soembodo, dan Tjager. 2003. p.77)
2.1.3.2 Maksud dari Good Corporate Governance
Adanya maksud dari Pedoman Good Corporate Governance adalah:
1. Memaksimalkan nilai Perseroan dan nilai Perseroan bagi pemegang saham dengan cara meningkatkan prinsip keterbukaan, akuntabilitas, dapat dipercaya, bertanggung jawab, dan adil agar perusahaan memiliki daya saing yang kuat, baik secara nasional maupun internasional, serta dengan demikian menciptakan iklim yang mendukung investasi.
2. Mendorong pengelolaan perseroan secara professional, transparan dan efisien, serta memberdayakan fungsi dan meningkatkan kemandirian Dewan Komisaris, Direksi, dan Rapat Umum Pemegang Saham.
3. Mendorong agar pemegang saham, anggota Dewan komisaris dan anggota Direksi dalam pembuatan keputusan dan menjalankan tindakan dilandasi nilai moral yang tinggi dan kepatuhan terhadap perundang-undangan yang berlaku serta kesadaran akan adanya tanggung jawab sosial Perseroan terhadap pihak yang
berkepentingan (stakeholder) maupun kelestarian lingkungan disekitar Perseroan. (Hinuri(Ed), 2002, p.4).
2.1.3.3 Penerapan Corporate Governance
Sasaran penerapan corporate governance adalah untuk memastikan bahwa:
1. Sasaran Perusahaan yang ditetapkan telah tercapai 2. Aktiva perusahaan terjaga dengan baik
3. Perusahaan menjalankan praktik-praktik bisnis yang sehat
4. Keseimbangan antara upaya pencapaian tujuan ekonomi dengan tujuan sosial-ekonomi masyarakat
5. Dapat dirumuskannya cara-cara untuk memaksimalkan penciptaan kesejahteraan bagi perusahaan dan stakeholders dengan tidak membebankan biaya yang tidak sepatutnya kepada pihak ketiga atau masyarakat luas. (Alijoyo, Djemat, Soembodo, dan Tjager. 2003. p.96-97)
2.1.3.4 Fungsi Pengelolaan Perusahaan oleh Direksi
Menurut pedoman umum Good Corporate Governance Indonesia (2006), direksi sebagai organ perusahaan bertugas dan bertanggung jawab dalam mengelolah perusahaan. Fungsi pengelolaan perusahaan oleh direksi mencangkup lima tugas utama, yaitu:
1. Kepengurusan, mencangkup tugas penyusunan visi dan misi perusahaan serta penyusunan program jangaka pendek dan jangka panjang.
2. Manajemen resiko, mencangkup tugas penyusunan dan pelaksanaan sistem manajemne resiko perusahaan yang mencangkup seluruh aspek kegiatan perusahaan.
3. Pengendalian internal, mencangkup penyusunan dan pelaksanakan sistem pengendalian internal perusahaan dalam rangka menjaga kekayaan dan kinerja perusahaan serta mematuhi peraturan perundang-undangan.
4. Komunikasi, mencangkup tugas yang memastikan kelancaran komunikasi antara perusahaan dengan pemangku kepentungan dengan memberdayakan fungsi seketaris perusahaan.
5. Tanggung jawab sosial, mencangkup perencanaan tertulis yang jelas dan terfokus dalam melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan. (Solihin, 2009, p.116)
2.1.3.5 Prinsip-prinsip Good Corporate Governance
Impelementasi GCG akan dilaksanakan dengan berhasil jika memiliki prinsip-prinsip GCG. Prinsip-prinsip ini diharapkan menjadi titik rujuan bagi para regulator dalam membangun framework bagi penerap corporate governance, dan bagi pelaku usaha prinsip-prinsip ini dapat menjadi guidance atau pedoman dalam mengelaborasi best practices bagi peningkatan nilai (valuation) dan keberlangsungan (sustainability) perusahaan.
Prinsip-Prinsip Good Corporate Governance menurut Organization for Economic Corporation and Development (OECD) mencangkup lima bidang utama: hak-hak pemegang saham (shareholders dan perlindungannya, peran karyawan dan pihak-pihak yang berkepentingan Stakeholders) lainnya, pengungkapan (disclosure) yang akurat dan tepat waktu serta transparansi sehubungan dengan struktur dan operasi korporasi, tanggung jawab dewan (maksudnya dewan komisaris maupun direksi) terhadap perusahaan, pemegang saham, dan pihak-pihak yang berkepentingan lainnya. (Alijoyo, Djemat, Soembodo, dan Tjager. 2003. p.49-50)
Di Indonesia, dalam penerapan GCG terdapat penekanan yang sama dengan prinsip-prinsip GCG yang dirumuskan oleh OECD yang menjadi dasar terlaksananya GCG secara efektif. Prinsip-prinsip tersebut yaitu:
1. Transparansi (transparency) yaitu untuk menjaga objektivitas dalam menjalankan bisnis, perusahaan harus menyediakan informasi relevan dengan cara yang mudah diakses dan dipahami oleh pemangku kepentingan.
2. Akuntabilitas (accountability) yaitu perusahaan harus dapat mempertanggung jawabkan kinerjanya secara transparan dan wajar.
Akuntabilitas merupakan syarat yang diperlukan untuk mencapai kinerja yang berkesinambungan.
3. Responsibilitas (responsibility) yaitu perusahaan harus mematuhi perundang-undangan serta melaksanakan tanggung jawab terhadap masyarakat dan lingkungan sehingga dapat terpelihara kesinambungan usaha dalam jangka panjang dan mendapat pengakuan sebagai good corporate citizen.
4. Indepedensi (indepedency) yaitu untuk melancarkan pelaksanakan GCG, perusahaan harus dikelolah secara independen sehingga masing-masing organ perusahaan tidak saling mendominasi dan tidak dapat diintervensi oleh pihak lain.
Kewajaran dan kesetaraan (fairness) yaitu dalam melaksanakan kegiatannya, perusahaan harus senantiasa memerhatikan kepentingan pemegang saham dan pemangku kepentingan lainnya berdasarkan asas kewajaran dan kesetaraan.
(Solihin, 2009, p.125)
2.1.4 Keterkaitan Antara Corporate Governance dengan Corporate Social Responsibility
Implementasi CSR oleh perusahaan pada hakikatnya bersifat orientasi dari dalam ke luar. Hal tersebut berarti sebelum melaksanakan aktivitas CSR yang bersifat discretionaru/voluntary, perusahaan terlebih dahulu harus membenahi kepatuhan perusahaan terhadap hukum, menjalankan bisnis dengan baik sehingga tercapainya economic responsibility. Perusahaan juga perlu mengembangkan sejumlah kebijakan untuk menuntun pelaksanaan CSR. Semua hal tersebut tidak akan terlaksana dengan baik bila perusahaan tidak menerapkan Good Corporate Governance.
Implementasi CSR juga menjadi salah satu prinsip pelaksanaan GCG, sehingga perusahaan yang melaksanakan GCG sudah seharusya melakukan pelaksanaan CSR. (Solihin, 2009, p.128)
2.1.5 Studi Kasus
Metode studi kasus merupakan studi yang dilakukan untuk mencari kedalaman penjelasan atas „kasus‟ yang diteliti, digunakan untuk kasus spesifik, dibatasi oleh waktu, dan dalam proses pengumpulan datanya menggunakan banyak ragam sumber. (Narendra, 2008, p.83). Dalam penerapan studi kasus sebagaimana yang lazim, adalah menggunakan metode yang standar, seperti observasi, interview, focus group discussion, atau penggabungan dari metode- metode itu. (Pawito, 2007, p.141).
Tujuan studi kasus adalah meningkatkan pengetahuan mengenai peristiwa- peristiwa komunikasi kontemporer yang nyata, dalam konteksnya. Studi kasus dapat dilakukan dengan cara melakukan analisis mendetail mengenai kasus dan situasi tertentu, berusaha memahami kasus tersebut dari sudut pandang orang- orang yang berkerja disana, mencatat bermacam-macam pengaruh dan aspek- aspek hubungan komunikasi dan pengalaman, membangkitkan perhatian pada cara faktor-faktor tersebut berhubungan satu dengan yang lain. Riset studi kasus memungkinkan peneliti untuk dapat mengumpulkan informasi yang detail dan
“kaya”, mencangkup dimensi-dimensi sebuah kasus tertentu atau beberapa kasus kecil. (Holloway dan Daymon, 2002, p.165).
Studi kasus dibedakan menjadi dua menurut desainnya. Desain penelitian merupakan kaitan logis antara data empiris dengan pertanyaan penelitian dan terutama konklusi-konklusinya. (Yin, 2003. P.27) Kegunaan desain penelitian ini adalah pertama memberikan pegangan bagi peneliti dalam melakukan penelitian.
Kedua, desain menentukan batas-batas penelitian yang bertalian dengan tujuan penelitian. Ada dua jenis desain penelitian studi kasus yaitu desain kasus tunggal dan desain kasus multikasus. Desain kasus tunggal dibedakan menjadi duaa yakni kasus tunggal holistik dan desain kasus tunggal terjalin. Sementara desain multikasus juga dibedakan menjadi dua yaitu desain multikasus tunggal dan desain multikasus holistik. Perbedaan antara desain kasus tunggal dan desain kasus multikasus terletak pada banyaknya kasus yang diteliti. Sementara perbedaan desain kasus holistik dan terjalin mendasarkan pada banyaknya unit analisis. (Nahrendra, 2008, p.92).
Peneliti memilih metode penelitian ini karena peneliti ingin mendapatkan informasi yang detail dan “kaya” yang dapat dimungkinkan dengan menggunakan metode penelitian studi kasus. Dimana peneliti bertujuan untuk dapat memberikan hasil penelitian yang dapat menggambarkan secara jelas dan dalam penelian ini.
2.2 Nisbah Antar Konsep
Good Corporate Governance merupakan suatu standard bagi perusahaan- perusahaan untuk menciptakan kinerja yang terbaik yang mengembangkan dari nilai-nilai etika yang tinggi. Dengan adanya pedoman dalam pengelolaan perusahaan melalui Good Corporate Governance dimaksudkan untuk mendorong perusahaan melalui dewan komisaris dan anggota direksi untuk membentuk suatu kesadaran terhadap tanggung jawab sosial perseroan terhadap pihak yang berkepentingan (stakeholder) maupun kelestarian lingkungan disekitar perseroan.
Melalui GCG ini, dituntut untuk adanya pembentukan fungsi pengelolaan perusahaan yang salah satunya mencangkup tanggung jawab sosial, yaitu perencanaan tertulis yang jelas dan terfokus dalam melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan.
Antara Good Corporate Governance dengan Corporate Social Responsibility terletak pada adanya suatu tuntutan kepada perusahaan untuk membenahi tata kelola perusahaannya sehingga dapat mengimplementasikan program CSR dengan baik. Impelementasi CSR juga menjadi salah satu pelaksanaan GCG, sehingga perusahaan yang melaksanakan GCG, sudah seharusnya melakukan pelaksanaan CSR. Penerapan GCG dikatakan berhasil, jika adanya pelaksanakan dari prinsip-prinsip GCG, yaitu Transparansi (transparency) yaitu untuk menjaga objektivitas dalam menjalankan bisnis, perusahaan harus menyediakan informasi relevan dengan cara yang mudah diakses dan dipahami oleh pemangku kepentingan. Akuntabilitas (accountability) yaitu perusahaan harus dapat mempertanggung jawabkan kinerjanya secara transparan dan wajar.
Responsibilitas (responsibility) yaitu perusahaan harus mematuhi perundang- undangan serta melaksanakan tanggung jawab terhadap masyarakat dan lingkungan sehingga dapat terpelihara kesinambungan usaha dalam jangka
panjang dan mendapat pengakuan sebagai good corporate citizen. Indepedensi (indepedency) yaitu untuk melancarkan pelaksanakan GCG, perusahaan harus dikelolah secara independen sehingga masung-masing organ perusahaan tidak saling mendominasi dan tidak dapat diintervensi oleh pihak lain. Kewajaran dan kesetaraan (fairness) yaitu dalam melaksanakan kegiatannya, perusahaan harus senantiasa memerhatikan kepentingan pemegang saham dan pemangku kepentingan lainnya berdasarkan asas kewajaran dan kesetaraan.
Peneliti menggunakan metode studi kasus sebagai metode penelitian untuk dapat mencapai tujuan dari penelitian ini yaitu untuk dapat secara jelas menggambarkan penerapan GCG dalam program CSR. Karena itulah, dalam penelitian ini menggunakan konsep studi kasus.
2.3 Kerangka Pemikiran
PT XL Axiata Tbk membentuk suatu fungsi komunikasi perusahaan sebagai wujud dari penerapan GCG. Yang dimana fungsi komunikasi perusahaan tersebut secara
struktural dan praktis bertanggung jawab dalam program CSR XL KuS.
Keterkaitan GCG dengan CSR yaitu adanya hakikat CSR yang berorientasi dari dalam keluar. Serta implementasi CSR sebagai wujud dari GCG.
Penerapan GCG dikatakan berhasil jika melaksanakan prinsip-prinsip GCG, yaitu:
1. Transparansi 2. Akuntabilitas 3. Responsibilitas 4. Indepedensi
5. Kesetaraan dan kewajaran
Studi Kasus digunakan untuk dapat melihat secara mendalam bagaimana penerapan GCG dalam program CSR.
Penerapan Good Corporate Governance dalam program Corporate Social Responsibility PT XL Axiata Tbk “Komputer untuk Sekolah” (KuS).
Salah satu program CSR PT XL Axiata tbk adalah Program CSR XL Komputer untuk Sekolah. Yang dimana dalam program ini merupakan program yang berkesinambungan, terencana sebagai program 5 tahun dari tahun 2009 hingga saat
ini.