2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pusat Kebudayaan
Pusat kebudayaaan adalah “tempat membina dan mengembangkan kebudayaan” (Poerwadarminta 845). Pusat Kebudayaan merupakan perpanjangan tangan dari suatu negara, dimana merupakan suatu wadah yang dapat memberikan informasi mengenai kebudayaan suatu daerah. Pada pusat kebudayaan biasanya juga terdapat berbagai macam kegiatan, yang dapat juga digunakan sebagai tempat berkumpul dan menjadi pusat kegiatan untuk lebih mengenal, membina, dan mengembangkan kebudayaan.
Dilihat dari pengertian pusat kebudayaan diatas, maka pusat kebudayaan bisa dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan yang dapat menunjang tujuannya.
Misalnya dengan menjadi tempat pameran kebudayaan atau bahkan museum, tempat pariwisata, tempat mengembangkan, melestarikan dan menyadarkan masyarakat akan pentingnya budaya, selain itu juga dapat menjadi sebuah wadah penyajian atau pusat informasi yang benar mengenai kebudayaan.
Fasilitas-fasilitas yang umumnya diperlukan pada sebuah Pusat Kebudayaan, antara lain seperti Ruang Pameran/Gallery, Ruang Theatre/ruang pertunjukan kecil, Toko Merchandise (optional), Ruang Audiovisual, Ruang Kelas/Kursus, Ruang Serbaguna/Hall, Perpustakaan, Kantor Pengelola, Café (optional), Ruang Resepsionis/informasi.
Adapun aktivitas-aktivitas yang dilakukan di pusat kebudayaan, antara lain melihat pameran, menghadiri acara seminar/diskusi, menonton film, konser musik, pertunjukkan seni, menikmati hidangan café, kursus, membaca di perpustakaan, mengelola pusat kebudayaan, dan lain sebagainya, dimana setiap aktivitas memiliki tingkat keprivasian yang berbeda-beda.
2.1.1. Ruang Serbaguna (Ruang Pertunjukkan)
Ruang serbaguna adalah salah satu ruang yang terdapat pada Pusat Kebudayaan. Kata serbaguna merupakan penggabungan dari dua kata, yaitu serba dan guna. Serba berarti “bentuk terikat yang biasa dipakai dalam gabungan
dengan kata lain yang mempunyai pengertian segala-galanya, semuanya, atau segala hal” (Poerwadarminta 926). Sedangkan guna adalah manfaat, kaedah;
fungsi. Jadi Ruang Serbaguna merupakan suatu tempat yang dapat dipergunakan untuk berbagai hal, seperti pertunjukan, seni tari, musik, seminar/diskusi, serta digunakan pula untuk pemutaran film dan lain sebagainya (fungsi speech dan musik). Terkait dengan itu maka persyaratan ruang harus dipenuhi sesuai dengan fungsinya, agar pesan/makna yang ingin disampaikan dapat tertangkap dengan baik sehingga tercapai kualitas pertunjukan yang optimal. Kualitas pertunjukan yang optimal sangat penting, mengingat penonton yang memasuki sebuah gedung pertunjukan memiliki hak untuk mendapatkan kenyamanan, keamanan, penerangan yang cukup, pemandangan (viewing) yang menyenangkan dan kualitas bunyi yang baik selain kualitas acaranya itu sendiri.
2.2. Bunyi
Bunyi merupakan elemen dasar dan salah satu elemen yang terpenting dalam akustik. Bunyi berasal dari Bahasa Inggris, yaitu sound. Bunyi adalah sesuatu yang didengar oleh telinga, dapat berasal dari benda apa saja, asalkan menghasilkan bunyi. Sedangkan suara adalah bunyi yang keluar dari makhluk hidup, seperti manusia dan binatang, atau benda-benda lain yang lebih khusus (Satwiko 125).
Sensasi bunyi atau proses terjadinya bunyi dapat didengar oleh manusia jika memenuhi 3 (tiga) aspek yang ada dalam waktu bersamaan, apabila 1 (satu) dari 3 faktor ini tidak terpenuhi, maka sensasi mendengar tidak akan dirasakan. 3 (tiga) aspek tersebut antara lain: (Mediastika 3)
1. Sumber bunyi,
2. Medium penghantar gelombang bunyi, 3. Telinga dan saraf pendengaran yang sehat.
2.2.1. Frekuensi
Frekuensi adalah Getaran yang terjadi setiap detik dan diukur dengan satuan Hertz (Hz). Jangkauan manusia adalah pada frekuensi mulai dari 20–20000 Hz. Sedangkan bunyi yang paling sensitif pada telinga manusia berada pada
frekuensi 100 –3200 Hz. Frekuensi perlu untuk dipahami, karena telinga manusia memiliki respon yang berbeda-beda. Demikian pula material akustik dan teknik perancangan pengendalian bunyi, dimana memberikan perlakuan yang berbeda untuk tiap frekuensi bunyi. Untuk frekuensi tengah berada pada 500Hz (Mediastika 6).
2.2.2. Decibel (dB)
Decibel/deci Bell/dB diambil dari nama Alexander Graham Bell. Kepekaan telinga manusia tidak sama terhadap bunyi, sehingga menyebabkan pengukuran tingkat keras bunyi menggunakan satuan dB. Kemampuan telinga manusia dalam mendengar bunyi adalah 0-140dB. Pengukuran bunyi menggunakan tingkat keras cenderung lebih sesuai dilakukan karena sensasi yang dirasakan telinga (keras atau pelannya bunyi) lebih nyata, sedangkan frekuensi adalah pertimbangan selanjutnya (Mediastika 6).
Gambar 2.1. Batas-Batas Bunyi Pendengaran Manusia
Sumber : Satwiko (2009, p.126)
2.2.3. Sound Level Meter (SLM)
Sound Level Meter (SLM) adalah alat pengukur tingkat kekuatan atau keras/pelan bunyi. Alat ini terdiri dari mikrofon, amplifier, weighting network dan layar penyaji dalam satuan dB. Terdapat beberapa tipe SLM, yaitu menggunakan petunjuk jarum, digital, dan adapula yang keduanya, sehingga pembacaan hasil
bisa lebih tepat. SLM yang sederhana hanya bisa mengukur tingkat kekerasan dengan satuan dB, sedangkan alat yang lebih canggih dapat menunjukkan frekuensinya pula. Bentuk mikrofon yang bulat atau berbentuk bola ditujukan agar mikrofon dapat menangkap bunyi dari segala arah (Mediastika 7).
Gambar 2.2. Sound Level Meter Sumber: Mediastika (2009, p.8)
2.3. Akustik
Akustik berasal dari bahasa Yunani yaitu akoustikos, yang artinya segala sesuatu yang bersangkutan dengan pendengaran. Akustik dipelajari dalam berbagai bidang ilmu seperti akustik fisika, akustik arsitektur, dan lain-lain.
Akustik arsitektur inilah yang diterapkan untuk perencanaan gedung-gedung pertunjukkan, ruang sidang, rumah tinggal, ruang kelas, dan ruang-ruang lainnya.
Akustik adalah sesuatu yang terkait dengan bunyi atau suara, sesuai pendapat Shadily (8), akustik berasal dari kata dalam bahasa Inggris, yaitu acoustics, yang berarti ilmu suara atau ilmu bunyi. Sedangkan menurut Halme,
“Acoustics is a science and the first consideration to get a comfortable sound environment” (23), yang artinya akustik merupakan suatu ilmu dan merupakan pertimbangan pertama untuk mendapatkan suara lingkungan yang nyaman.
Jadi, tata akustik merupakan pengolahan tata suara pada suatu ruang untuk menghasilkan kualitas suara yang nyaman untuk dinikmati, dimana juga merupakan unsur penunjang terhadap optimasi desain suatu ruang. Pengaruhnya sangat luas, karena dapat menimbulkan efek-efek fisik dan emosional dalam ruang sehingga seseorang akan mampu merasakan kesan dan pesan tertentu.
Tujuan dari desain akustik yang baik adalah untuk mencapai kondisi pendengaran suara yang sempurna, nikmat, terbebas dari cacat akustik dan yang terpenting adalah memperhatikan kesehatan telinga atau penerima bunyi. Maka dari itu, sangat penting bagi kita untuk memperhatikan akustik suatu ruang, baik ruang terbuka maupun tertutup dengan memperhatikan elemen-elemen utama pada akustik.
Faktor-faktor utama yang menimbulkan masalah akustik: (Doelle 4)
• Auditorium. Kebutuhan akan fleksibilitas dan keserasian hubungan antara penonton-pemain dan kebutuhan akan penggunaan yang berbeda-beda pada ruang yang sama (pidato, musik, film, dan lain-lain).
• Bermacam-macam kecenderungan dalam konsep dasar rancangan arsitektur sebenarnya dapat bertentangan dengan kerahasiaan akustik.
• Konstruksi ringan dan tipis sering digunakan. Semua unsur konstruksi kehilangan ciri paling penting yaitu sebagai insulasi bunyi yang efisien, yaitu lewat beratnya. Panel tipis dan ringan mudah merambatkan kebisingan.
• Makin banyak mekanisasi (kipas angin, kompresor, mesin kerja, komputer, televisi, dan lain-lain) akan berperan dalam pola bangunan masa kini.
2.3.1. Perilaku Bunyi di Dalam Ruang
Proses perambatan gelombang bunyi pada ruang tertutup tidak sama dengan yang terjadi pada ruang terbuka. Bidang-bidang yang membatasi ruangan seperti dinding, lantai dan plafon menyebabkan proses perambatan gelombang bunyi ke segala arah mengalami pembatasan. Bergantung pada karakteristik bidang pembatas dan jenis frekuensi bunyi yang terjadi, maka bunyi yang merambat tadi mengalami beberapa peristiwa, yaitu pemantulan (refleksi),
penyerapan (absorpsi), penyebaran (difusi), pembelokan (difraksi), dan pembiasan (refraksi) (Mediastika 64).
Pemantulan (Refleksi)
Terjadinya pemantulan di dalam ruangan tertutup dapat dimanfaatkan untuk tujuan menyebarkan gelombang bunyi secara merata dan menambah tingkat keras bunyi. Tetapi meski demikian, peristiwa pemantulan harus diolah sedemikian rupa untuk mendapatkan hasil yang memuaskan (Mediastika 65).
Gambar 2.3. Pemantulan Bunyi Sumber: Mediastika (2009, p. 65, 67)
Pendapat Mills (27), “Reflected sound strikes a surface or several surfaces before reaching the receiver”. Pemantulan dapat diakibatkan oleh bentuk ruang maupun bahan pelapis permukaannya. Permukaan pemantul yang cembung akan bersifat menyebar, sebaliknya permukaan yang cekung seperti bentuk dome (kubah) dan permukaan yang lengkung menyebabkan pemantulan bunyi yang mengumpul dan tidak menyebar sehingga terjadi pemusatan bunyi.
Gambar 2.4. Pemantulan Suara ke Berbagai Jenis Bentuk Plafon.
Penyerapan (Absorpsi)
Apabila bunyi menabrak permukaan yang lembut dan berpori maka bunyi akan diserap (Mediastika 68). Bahan-bahan tersebut menyerap bunyi sampai batas tertentu, tapi pengendalian akustik yang baik membutuhkan penyerapan bunyi yang tinggi. Adapun yang menunjang penyerapan bunyi adalah lapisan permukaan dinding, lantai, plafon, penonton, bahan tirai, tempat duduk dengan lapisan lunak, karpet serta udara dalam ruang.
Penyebaran (Difusi)
Difusi adalah peristiwa yang dialami gelombang bunyi ketika membentur bidang pembatas, dimana memiliki kecenderungan memantul, namun memiliki permukaan yang tidak halus. Difuser yang baik menyebarkan gelombang bunyi yang datang secara merata pada area dengan jangkauan sebesar 180° di depannya.
Difusi yang terjadi pada suatu ruang mampu menciptakan sensasi bunyi pada ruang yang kecil, serasa ada pada ruang yang lebih besar, dan bunyi pada ruang yang besar akan serasa ada pada ruang yang lebih besar lagi (Mediastika 71).
Gambar 2.5. Penyebaran Bunyi (Difusi) Sumber: Mediastika (2009. p.71)
Pembelokan (Defraksi)
Defraksi bunyi merupakan gejala akustik yang menyebabkan gelombang bunyi dibelokkan atau dihamburkan di sekitar penghalang seperti sudut (corner), kolom, tembok dan balok. Kemampuan gelombang bunyi untuk terdefraksi menyebabkan dimensi bidang pembatas dan sisa celah yang terbentuk dari bidang pembatas tersebut mejadi bahan pertimbangan penting ketika merancang pembatas untuk menahan perambatan gelombang bunyi (Mediastika 69).
Gambar 2.6. Pembelokan Bunyi (Defraksi) Sumber: Mediastika (2009, p.69)
Pembiasan (Refraksi)
Peristiwa refraksi yaitu peristiwa membias/membeloknya arah perambatan gelombang bunyi karena melewati material yang berbeda kerapatannya. Misalnya suatu bunyi merambat melalui medium udara, kemudian membentur bidang pembatas yang merupakan benda padat, selanjutnya menembus pembatas menuju ruang di balik pembatas. Gelombang bunyi akan mengalami pembiasan ke bawah ketika perjalannya berpindah dari molekulnya yang lebih padat. Sebaliknya akan mengalami pembiasan ke atas ketika berpindah dari molekul yang rapat menuju ke molekul yang renggang (Mediastika 69).
Gambar 2.7. Pembiasan Bunyi (Refraksi) Sumber: Mediastika (2009, p.70)
2.3.1.1.Fenomena Akustik Ruang Tertutup
Pada sebuah ruang tertutup, jalur perambatan energi akustik adalah ruangan itu sendiri. Oleh karena itu, pengetahuan tentang fenomena suara yang
kondisi mendengar pada ruangan tersebut sesuai dengan fungsinya. Fenomena suara dalam ruangan dapat digambarkan pada sketsa berikut:
Gambar 2.8. Fenomena Suara Dalam ruang
Sumber: Sumber: http://jokosarwono.wordpress.com/2008/04/12/fenomena- akustik-dalam-ruang-tertutup/
Dari gambar diatas, dapat dilihat bahwa pendengar akan dipengaruhi oleh 2 komponen suara, yaitu komponen suara langsung dan komponen suara pantul.
Komponen suara langsung adalah komponen suara yang sampai ke telinga pendengar langsung dari sumber. Besarnya energi suara yang sampai ke telinga dari komponen suara ini dipengaruhi oleh jarak pendengar ke sumber suara dan pengaruh penyerapan energi oleh udara. Komponen suara pantul adalah komponen suara yang sampai ke telinga pendengar setelah suara bersentuhan/mengenai permukaan ruangan seperti lantai, dinding, plafon. Komponen suara pantul akan sangat berperan, karena total energi suara yang sampai ke telinga pendengar dan persepsi pendengar terhadap suara yang didengarnya tentu saja akan dipengaruhi kedua komponen tersebut.
2.3.2. Parameter Objektif
Terdapat 3 (tiga) parameter objektif, yaitu Background Noise Level, Distribusi Tingkat Ttekanan Bunyi, dan Reverberation Time, dengan penjelasan sebagai berikut:
• Background Noise (Suara Latar Belakang)
Background Noise pasti ada pada setiap ruang. Baik dirasakan ataupun tidak. Background Noise adalah suara yang berasal bukan dari sumber suara utama atau suara yang tidak diinginkan. Background Noise tidak dapat sepenuhnya dihilangkan, akan tetapi dapat diminimalisir melalui perlakuan- perlakuan akustik dalam suatu ruang. Besarnya Background Noise dapat diketahui melalui pengukuran kekuatan bunyi dengan menggunakan SLM.
Dimana terdapat standard Noise Criteria untuk masing-masing jenis ruang (Jeffer 18).
• Distribusi Tingkat Tekanan Bunyi
Dalam suatu ruangan yang relatif kecil, dimana sumber bunyi dengan tingkat suara yang normal mampu menjangkau seluruh ruang, maka hampir dapat dipastikan bahwa distribusi tingkat tekanan bunyi (TTB) dalam ruang tersebut merata (Jeffer 20).
• Waktu Dengung/Reverberation Time (RT)
RT dapat mempengaruhi suasana yang terciptapada suatu ruang, RT yang terlalu pendek akan menyebabkan ruang terasa ‘mati’, sedangkan RT yang panjang akan memberikan suasana ‘hidup’ pada ruang. Tetapi bila terlalu panjang juga akan menimbulkan chaos. Semakin banyak penyerapan/material dengan koefisien serap yang besar pada suatu ruang, maka RT semakin rendah, dan sebaliknya. Pengurangan dan penambahan volume dapat dilakukan dengan memainkan elemen-elemen interior seperti lantai, dinding, plafon (naik-turun, maju-mundur), serta bergantung pula pada pemilihan materialnya (Satwiko 91).
Setiap ruang dengan fungsi yang berbeda-beda memiliki standard RT yang berbeda pula. Misalnya antara ruang dengan fungsi speech dan musik
memiliki perbedaan RT. Untuk fungsi ruang speech RT yang direkomendasikan berkisar antara 0,5-1 detik, dengan RT optimum 0,75 detik.
Sedangkan untuk ruang jenis musik, RT yang disarankan berkisar antara 1-2 detik, dengan RT optimum 1,5 detik. Berikut ini adalah rumus untuk perhitungan RT dalam kondisi yang dianggap normal (Doelle 32):
RT = 0.161V A
Keterrangan:
RT = Reverberation Time – detik V = Volume Ruang – m3
A = Total Luas Permukaan Absorpsi – m2 = ∑ s.α
= ∑ Luas permukaan x koefisien absorpsi
Unsur-unsur yang mempengaruhi RT:
• Lapisan permukaan elemen interior (lantai, dinding, plafon).
• Isi ruang seperti penonton, tirai, tempat duduk, karpet, dan lain-lain.
• Udara dalam ruang
Menurut Doelle (33) untuk menghasilkan kualitas suara/acoustics performance yang optimal, maka pemilihan bahan/material akustik harus benar- benar dipertimbangkan. Pilih material yang koefisien absorpsinya sesuai dengan yang dibutuhkan. Koefisien absorpsi tiap-tiap material dapat dilihat pada tabel koefisien absorpsi. Dimana sebaiknya berpatokan pada 1 sumber tabel saja, namun apabila sangat terpaksa (tidak ada material yang mendekati material asli), maka bisa menggunakan sumber tabel koefisien absorpsi yang lainnya. Berikut adalah beberapa contoh tabel koefisien absorpsi:
Tabel 2.1. Koefisien Absorpsi Bahan-Bahan Bangunan, Bahan Akustik dan Isi Ruang
Sumber : Doelle (1972, p.242)
Tabel 2.2. Koefisien Absorpsi Bahan-Bahan Bangunan, Bahan Akustik dan Isi Ruang
: Koefisien Material yang digunakan
Sumber : Egan (1972, p.33)
Tabel 2.3. Koefisien Absorpsi Bahan-Bahan Bangunan, Bahan Akustik dan Isi Ruang
: Koefisien Material yang digunakan
Sumber : Suptandar ( p.137, 139)
Inti dari desain akustik ruangan ini adalah mengendalikan komponen suara langsung dan pantul ini, dengan cara menentukan material lantai, dinding, plafon, dan elemen interior lainnya dengan mempertimbangkan karakteristik akustik permukaan dalam ruang sesuai dengan fungsi ruangan. Ada ruangan yang karena fungsinya memerlukan lebih banyak karakteristik serap (studio, Home Theater), dan ada yang memerlukan gabungan antara serap dan pantul yang berimbang (auditorium, ruang kelas). Dengan memainkan kombinasi beberapa karakter permukaan ruangan, seorang desainer akustik dapat menciptakan berbagai macam kondisi mendengar sesuai dengan fungsi ruang secara optimal
Karakteristik akustik permukaan ruangan pada umumnya dibedakan menjadi beberapa macam, yaitu:
• Bahan Penyerap Suara (Absorber)
Permukaannya terbuat dari material yang menyerap sebagian atau sebagian besar energi suara yang datang padanya. Contoh: glasswool, mineral wool, foam. Bisa berwujud sebagai material yang berdiri sendiri atau digabungkan menjadi sistem absorber (fabric covered absorber, panel absorber, grid absorber, resonator absorber, perforated panel absorber, acoustic tiles, dan sebagainya).
• Bahan Pemantul Suara (reflektor)
Permukaannya terbuat dari material yang bersifat memantulkan sebagian besar energi suara yang datang. Pantulan yang dihasilkan bersifat spekular (sudut datang=sudut pantul, menurut kaidah Snelius). Contoh: keramik, marmer, logam, aluminium, gypsum board, beton, dan sebagainya.
• Bahan penyebar suara (Diffusor)
Permukaan yang dibuat tidak merata secara akustik yang menyebarkan energi suara yang datang kepadanya. Misalnya QRD diffuser, BAD panel, diffsorber, dan sebagainya.
Dengan menggunakan kombinasi ketiga jenis material tersebut dapat diwujudkan kondisi akustik ruang yang optimal sesuai dengan yang diharapkan.
2.3.3. Kebisingan
Kebisingan berasal dari kata bising, yang artinya ramai, hiruk pikuk yang terasa di telinga dan seakan-akan pekak. Kebisingan sering disebut juga sebagai noise. Noise berarti any unwanted sound, sehingga dapat diartikan bahwa semua suara yang tidak dikehendaki disebut noise, sedangkan suara yang tidak dikehendaki akan berbeda pada masing-masing orang. Sehingga lebih tepat bahwa kebisingan adalah bagian dari noise, dan bukan noise (Mediastika 45).
Secara ilmiah, bunyi-bunyi yang dianggap normal adalah pada tingkat keras 50 dB, maka bebunyian yang melebihi angka itu dapat dianggap sebagai kebisingan.
Setiap bangunan memiliki baku tingkat kebisingan yang dianut agar kenyamanan di dalam bangunan terjaga. Di Indonesia, baku tingkat kebisingan yang dianut masih berupa baku yang longgar dan belum ada sanksi berat bagi yang melanggar. Sedangkan di beberapa Negara maju sudah dikenal istilah NC, yaitu Noise Criteria yang disarankan untuk fungsi-fungsi bangunan tertentu, dan akan ada sanksi yang cukup berat bagi yang melanggar.
Kebisingan yang terjadi di sekitar kita berasal dari berbagai sumber, berikut terdapat beberapa contoh sumber kebisingan:
• Kebisingan Industri/Pabrik
• Kebisingan Kereta Api
• Kebisingan Pesawat Terbang
• Kebisingan Jalan Raya
Untuk bangunan-bangunan yang berada disekitar pabrik/Kereta api/pesawat terbang/jalan raya sebaiknya memiliki desain akustik yang baik, agar suara dari luar tidak masuk ke dalam dan mengganggu aktivitas yang ada di dalam bangunan. Berikut adalah contoh tabel batasan tingkat kebisingan untuk masing- masing fungsi bangunan (Mediastika 50).
Tabel 2.4. Rekomendasi Nilai Noise Criteria (NC) pada Berbagai Macam Fungsi Ruang (Egan, 1976)
Fungsi Bangunan/Ruang Rekomendasi Nilai NC
Identik dengan Tingkat Kebisingan
(dBA) Ruang konser, opera, studio rekam, dan ruang
lain dengan tingkat akustik sangat detail NC 15 - NC 20 25 s/d 30 Rumah sakit, ruang tidur/istirahat pada rumah
tinggal, appartemen, motel, hotel, dan ruang lain untuk istirahat/tidur
NC 20 - NC 30 30 s/d 40
Auditorium multifungsi, Studio radio/televisi.
Ruang konferensi, dan ruang lain dengan tingkat akustik sangat baik
NC 20 - NC 30 30 s/d 40
Kantor, kelas, ruang baca, perpustakaan, dan
ruang lain dengan tingkat akustik yang baik NC 30 - NC 35 40 s/d 45
Kantor dengan penggunaan ruang bersama, kafetaria, tempat olah raga, dan ruang lain dengan tingkat akustik yang cukup
NC 35 - NC 40 45 s/d 50
Lobi, koridor, ruang bengkel kerja, dan ruang
lain yang tidak memerlukan akustik cermat NC 40 - NC 45 50 s/d 55
Dapur, ruang cuci, garasi, pabrik, pertokoan NC 45 - NC 55 55 s/d 65
Sumber: Mediastika ( 2009, p.17)
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa batas kebisingan (noise criteria) untuk ruang serbaguna (multifungsi) adalah 30-40 dB. Jadi, fungsi ruang tidak akan terganggu bila batas kebisingan pada ruang tersebut masih berada pada range 30-40dB. Namun apabila kebisingan yang terdapat dalam ruang tersebut melebihi batas, maka akan mengganggu pengoptimasian fungsi ruangan tersebut.
Kebisingan suara sering terjadi dimana-mana, baik suara dari dalam merambat keluar, maupun suara dari luar yang masuk ke dalam. Untuk mengatasi kebisingan ini adapun strategi penanganan kebisingan ruang dalam, yang sering juga disebut sebagai upaya insulasi:
• Memberi peredam pada sumber kebisingan.
• Isolasi sumber kebisingan atau menggunakan penghalang bunyi.
• Menggunakan bahan-bahan yang lentur.
• Menggunakan bahan-bahan peredam.
• Pemutusan jalan rambatan melalui struktur bangunan.
2.3.3.1 Insulasi
Insulasi adalah cara yang paling tepat untuk menanggulangi penyebaran kebisingan. Pada prinsip insulasi terjadi penyerapan gelombang bunyi yang jauh lebih besar daripada proses absorpsi. Insulasi sangat baik diterapkan untuk mengatasi kebisingan yang merambat secara airbone maupun structurebone.
Insulator harus memenuhi beberapa persyaratan sebagai berikut (Mediastika 50):
• Berat
Objek yang terbuat dari material berat akan menjadi insulator yang lebih baik daripada objek yang terbuat dari material yang ringan, sebab material
• Keutuhan Material
Objek yang terbuat dari material utuh tanpa cacat akan memberikan tingkat insulasi yang lebih baik. Keutuhan material bergantung pada kerapatan bahan dan keseragaman bahan atau homogenitas. Objek yang terbuat dari material yang homogen akan memiliki tingkat insulasi yang tetap dan stabil.
Namun apabila dikombinasikan dengan material yang lain yang lebih ringan dan tipis, nilai insulasi material tebal tadi akan menurun.
• Elastisitas
Material yang memiliki tingkat elastisitas yang tinggi akan menjadi insulator yang baik, dan lebih baik dibandingkan dengan material yang kaku.
Elastisitas akan mengurangi timbulnya resonansi. Namun material yang elastis ini tidak bisa dijadikan sebagai konstruksi bangunan yang kuat.
• Prinsip Isolasi
Prinsip isolasi sangat bermanfaat untuk memperoleh tingkat insulasi yang tinggi.
Insulasi bunyi diukur dalam sistem Sound Transmission Class (STC). STC suatu material adalah kemampuan material dalam meredam bunyi. Semakin tinggi nilai STC semakin baik kemampuan meredamnya.
Untuk mendapatkan STC yang baik, selain menggunakan material sesuai kemampuan mengatasi kebisingan yang baik, juga diperlukan material kombinasi.
Yang dimaksud dengan material kombinasi adalah penggabungan lebih dari 1 jenis material untuk mencapai nilai insulasi yang baik. Beda kombinasi, akan menghasilkan nilai insulasi yang berbeda pula. Contohnya kombinasi antara papan gypsum-batako berongga yang diisi adukan semen-papan gypsum (STC 65- 70), sedangkan gypsum-batako berongga yang diisi adukan semen (STC 60-65), batako berongga yang diisi adukan semen (STC 50-55), papan gypsum-balok kayu-papan gypsum (STC 35-40), dan lain sebagainya. Jadi, dalam penginsulasian diperlukan keterampilan mengkombinasikan 2 atau lebih material dengan teknik konstruksi yang baik pula. Berikut adalah contoh tabel nilai insulasi:
Tabel 2.5. Contoh Nilai Insulasi dinding dan Jendela (Mediastika, 2005)
No. Material Dinding (ketebalan setengah bata)
Nilai Insulasi (Frekuensi Normal)
1 Kayu utuh (bukan papan) 35 dB
2 Batu kali 37dB
3 Bata ekspos 42dB
4 Bata Plester dua sisi 45dB
5 Beton tebal 20cm 55dB
No. Model dan Material Jendela Nilai Insulasi (Frekuensi Normal)
6 Semua jendela terbuka 5-15dB
7 Jendela kaca mati, tebal kaca 3mm 24dB 8 Jendela kaca mati, tebal kaca 4mm 25dB 9 Jendela kaca mati, tebal kaca 6mm 28dB 10 Jendela kaca mati, tebal kaca 12mm 33dB 11 Jendela kaca mati, kaca ganda tebal
4mm, jarak antar kaca 20cm 40dB
12 Jendela kaca mati, kaca ganda tebal
6mm, jarak antar kaca 20cm 42dB
13 Jendela kaca ganda namun ada bagian
terbuka (seperti jendela bovenlict) 15dB
Sumber: Mediastika ( 2005, p.56)
Tabel 2.6. Kemampuan Insulasi Material
Sumber: Mediastika (2009, p.89)
2.3.4. Persyaratan Akustik Suatu Ruang/Gedung Pertunjukan
Untuk menciptakan suatu ruang/gedung pertunjukan yang baik, dan dapat menghasilkan kualitas suara yang optimal, maka sebaiknya memenuhi beberapa persyaratan-persyaratan, seperti bentukan ruang yang tepat, distribusi energi bunyi yang merata dalam ruang dengan kekerasan (loudness) yang cukup, RT yang optimal sesuai dengan persyaratan untuk tiap jenis ruang, Background Noise yang memenuhi standard dan ruang harus terbebas dari cacat-cacat akustik.
Distribusi Bunyi yang Merata
Energi bunyi dari sumber bunyi harus terdistribusi secara merata ke setiap bagian ruang, baik yang dekat maupun yang jauh dari sumber bunyi. Untuk mencapai keadaan tersebut perlu diusahakan pengolahan pada elemen pembentuk ruangnya, yakni unsur lantai, dinding, plafon, dengan cara membuat permainan permukaan, penonjolan (maju-mundur; naik-turun) elemen bangunan, dekorasi pada permukaan dinding yang dipahat, bukaan jendela yang dalam dan sebagainya.
Cacat Akustik
Cacat akustik merupakan kekurangan-kekurangan yang terdapat pada pengolahan elemen pembentuk ruang gedung pertunjukan yang menimbulkan permasalahan akustik. Adapun cacat akustik yang biasa terjadi pada sebuah gedung pertunjukan yang tidak di desain dengan baik menurut Doelle (64) ada delapan jenis, yakni:
• Gema,
Merupakan cacat akustik yang paling berat, terjadi bila bunyi yang dipantulkan oleh suatu permukaan tertunda cukup lama untuk dapat diterima dan menjadi bunyi yang berbeda dari bunyi yang merambat langsung dari sumber suara ke pendengar.
• Pemantulan yang berkepanjangan (long - delayed reflections),
Adalah cacat akustik yang sejenis dengan gema, tetapi penundaan waktu antara penerimaan bunyi langsung dan bunyi pantul agak lebih singkat.
• Gaung,
Merupakan cacat akustik yang terdiri atas gema-gema kecil yang berturutan dengan cepat.
• Pemusatan bunyi,
Merupakan cacat akustik yang disebabkan oleh pemantulan bunyi pada permukaan-permukaan cekung.Intensitas bunyi di titik panas sangat tinggi dan merugikan daerah dengar karena menyebabkan distribusi energi bunyi tidak dapat merata .
• Ruang gandeng (coupled spaces),
Merupakan cacat akustik yang terjadi bila suatu ruang pertunjukan berhubungan langsung dengan ruang lain seperti ruang depan dan ruang tangga, maka kedua ruang tersebut membentuk ruang gandeng. Selama rongga udara ruang yang bergandengan tersebut terbuka maka masuknya bunyi dengung dari ruang lain tersebut akan terasa meski dengung di dalam ruang pertunjukan telah diatasi dengan baik. Gejala ini akan mengganggu penonton yang duduk dekat pintu keluar masuk yang terbuka.
• Distorsi,
Merupakan cacat akustik yang disebabkan oleh perubahan kualitas bunyi yang tidak dikehendaki. Hal ini terjadi akibat ketidakseimbangan atau penyerapan bunyi yang terlalu besar oleh permukaan-permukaan dinding.
• Bayangan bunyi,
Merupakan cacat akustik yang terjadi apabila bunyi terhalang untuk sampai ke penonton . Gejala ini dapat diamati pada tempat duduk di bawah balkon yang menonjol terlalu jauh dengan kedalaman lebih dari dua kali tingginya.
• Serambi bisikan (whispering gallery).
Merupakan cacat akustik yang disebabkan oleh adanya frekuensi bunyi tinggi yang mempunyai kecenderungan untuk merangkak sepanjang permukaan- permukaan cekung yang besar (kubah setengah bola). Suatu bunyi yang sangat lembut seperti bisikan yang diucapkan di bawah kubah tersebut akan terdengar pada sisi yang lain.
Adapun kriteria akustik suatu ruang menurut Lawrence (123) adalah sebagai berikut:
a. Speech
• Speech harus dapat dimengerti.
• Kekerasan bunyi cukup.
• Fonem dapat dibedakan.
b. Musik
• Pendengar menerima suara langsung (pantulan dan intensitas suara cukup).
• Gema/dengung/gaung yang cukup.
• Kejelasan, kejernihan suara.
• Kecemerlangan dan kesempurnaan suara.
• Bunyi yang dipantulkan dari beberapa permukaan ke pendengar dari berbagai arah.
Dari keduanya (musik dan speech) ini ada 5 hal yang perlu diperhatikan, yaitu loudness (kerasnya suara), Reverberation Time (RT), kejernihan, kecemerlangan, dan volume suara.
Dalam merancang ada 3 hal yang perlu diperhatikan, antara lain:
1. Fungsi utama ruang
Untuk ceramah/musik/gudang, dari sini dapat ditentukan bentukan, volume, dan bahan permukaan elemen interior (lantai, dinding, plafon).
2. Mengenali lingkungan yang ada disekitar ruang
Area-area yang berbatasan dengan ruang tersebut. Misalnya café, dimana selalu ramai pada jam-jam tertentu, atau mungkin kantor, area servis, dan sebagainya. Karena jika ruang pertunjukkan digunakan untuk kegiatan konser musik klasik, maka akan sangat terganggu jika ada suara-suara yang masuk.
3. Merancang detail
Bahan-bahan penutup elemen interior tidak boleh dibiarkan begitu saja, melainkan harus dikemas dan dirancang untuk menjadi elemen estetik ruang.
Bahan-bahan akustik yang akan digunakan pada ruang tersebut sebaiknya dipilih dengan beberapa pertimbangan, yaitu:
• Koefisien serap sesuai kebutuhan
• Sesuai dengan karakter estetik ruang
• Tahan api
• Biaya pemasangan memadai
• Akses mudah
• Awet/tahan lama
• Perawatan mudah
• Keterpaduan dengan elemen-elemen lainnya
• Tidak terlalu berat Æ mudah digeser dan dipindah-pindah (fleksibel)
2.4. Sistem Suara Aktif (Buatan) 2.4.1 Mikrofon
Mikrofon adalah peralatan pertama dari keseluruhan rangkaian peralatan perkuatan bunyi. Selain untuk memperkuat bunyi, mikrofon juga merupakan peralatan pertama dari rangkaian peralatan untuk merekam bunyi. Secara garis besar, mikrofon hanya dibedakan menjadi 3, yaitu: (Mediastika 129)
a. Dynamic Microphone
Mikrofon dengan signal elektrikyang diproduksi oleh pergerakan konduktor dalam suatu medan magnet. Konduktornya adalah kumparan.
Mikrofon jenis ini cocok digunakan untuk acara live, karena sifatnya tahan terhadap benturan dan perubahan suhu serta tekanan udara
b. Ribbon Microphone
Mikrofon yang cara kerjanya sama dengan Dynamic Microphone, namun konduktornya adalah pita metal yang sangat tipis. Mikrofon ini memiliki kepekaan yang lebih baik daripada Dynamic Microphone.
c. Condenser Microphone
Mikrofon yang bekerja menggunakan 2 kapasitor berbentuk piringan.
Mikrofon jenis ini sangat mudah rusak, sehingga lebih cocok digunakan di ruangan.
Kepekaan mikrofon ditentukan oleh kemampuan mikrofon menangkap bunyi yang adatang dari arah tertentu. Ada yang dapat menangkap dari segala arah, dan ada juga yang hanya bisa menangkap dari arah tertentu saja. Secara umum, prinsip kerja peralatan sound system adalah seperti gambar di bawah ini,
Gambar 2.9. Prinsip Kerja Sound System Sumber : Mediastika (2005, p.129)
2.4.2 Speaker
Speaker sering pula disebut loudspeaker adalah peralatan terakhir dari rankaian sound system. Speaker berfungsi untuk menyampaikan hasil bunyi yang telah diolah oleh amplifier dan equalizer. Peletakkan speaker terhadap pendengar memberikan pengaruh sangat besar terhadap kualitas bunyi yang diterima pendengar. Meskipun menggunakan mikrofon yang baik, namun apabila peletakkan speaker tidak tepat, maka bunyi yang dihasilkan juga tidak terlalu baik. Adapun beberapa cara peletakkan speaker dibedakan menjadi (Mediastika 134):
• Peletakkan Terpusat
Pada peletakkan ini, diletakkan beberapa speaker yang saling berdekatan (terkumpul menjadi satu titik). Diletakkan diatas sumber bunyi, namun masih tetap dalam jarak jangkau pandangan mata pendengar.
Gambar 2.10. Peletakkan Speaker Secara Terpusat dengan Tweeter Sumber: Mediastika (2005, p.134)
• Peletakkan Menyebar
Pada penempatan ini diletakkan speaker diatas pendengar, dengan tingkat kekuatan yang lebih lemah dibandingkan dengan speaker yang digunakan pada peletakkan terpusat. Biasanya digunakan bila ada pendengar dibawah balkon.
Gambar 2.11. Peletakkan Speaker secara menyebar Sumber: Mediastika (2005, p.135)
• Monitor Speaker
Pada Auditorium yang memiliki panggung, peletakkan speaker secara terpusat atau menyebar, akan didampingi dengan peletakkan monitor speaker panggung yang digunakan pemain di panggung untuk mengontrol bunyi. Biasanya diletakan di lantai depan panggung dengan arah kemiringan tertentu.
Dalam situasi yang memungkinkan, peletakkan speaker secara terpusat lebih dianjurkan, sebab speaker yang terpusat ini akan membawa pendengar pada suasanan yang lebih nyata.
2.5. Material
Material-material yang digunakan untuk pengaplikasian pada suatu ruang ada yang bersifat menyerap dan ada pula yang bersifat memantul. Namun untuk angka koefisien biasanya menggunakan koefisien serap. Untuk bahan yang menyerap, koefisien absorpsinya tingii, sedangkan untuk bahan yang memantul, koefisien absorpsinya rendah. Bahan penyerap bunyi meliputi (Mediastika 79):
• Bahan berpori/bahan berserat (Porous Absorber)
• Bahan Tipis/panel
• Bahan Berongga
Gambar 2.12. Contoh Bahan Berpori dan Berongga Sumber : Mediastika (2005, p.79, 83)
Beberapa contoh material akustik dengan beberapa macam spesifikasi yang ada di pasaran saat ini.
Gambar 2.13. Peredam Suara Acourete Board
Sumber : http://vokuzcom.indonetwork.co.id/901679/peredam-suara-acourete- board.htm
Berbentuk papan berwarna coklat muda dengan ukuran 60cmx120cm dan tebal 9mm. Board 230 mudah diaplikasikan untuk beragam kebutuhan bahkan pada tempat yang sangat rapat sekalipun dan bagus pula sebagai dekorasi dinding.
Board 230 ringan, aman untuk lingkungan dan manusia, tidak mudah terbakar, tidak mengeluarkan gas beracun jika terbakar, dapat di daur ulang dan tahan terhadap udara lembab. Board 230 terbuat dari anyaman serabut polyester fiber halus yang kemudian dipadatkan. Koefisien serap suara pada frekuensi 500 Hz : 0.17.
Aplikasinya:
• Mengurangi suara bising dari alat/ mesin seperti: genset, air condition, kulkas, vacuum cleaner, mesin cuci, printer, komputer dan lain-lain.
• Meredam pantulan suara dalam kendaraan, ruang karaoke, home theater, ruang audio, studio rekaman, studio pemancar, audiotorium, concert hall, function room, sport hall, cafe, music lounge, ruang seminar, laboratorium dan lain-lain.
Gambar 2.14. Acourete Paint EZ1
Sumber : http://vokuzcom.indonetwork.co.id/902692/acourete-paint-ez1-bahan- redam-getar-untuk-isolasi-suara.htm
Acourete Paint adalah bahan peredam getar berbentuk cairan yang dapat diaplikasikan dengan kuas atau spray-gun. Acourete Paint memiliki koefisien redam getar 0.15-0.23 yang mampu meredam energi getaran dalam rentang frekuensi yang luas. Acourete Paint dapat melekat pada beragam jenis bahan.
Cocok untuk diaplikasikan pada permukaan bahan yang tidak rata, tipis, atau licin.
Acourete Paint yang telah kering memiliki ketahanan terhadap perubahan cuaca, tahan terhadap air, tahan terhadap pukulan. Serta mampu bekerja pada cuaca panas maupun dingin. Bahan ini aman bagi lingkungan.
Gambar 2.15. Acoustic Mat Resin
Sumber : http://www.deltamusik.com/shop/printable.php?productID=1106
Jika anda memiliki masalah kebocoran suara dan kebisingan dan berencana untuk mengisolasi suara dan kebisingan tersebut maka Acourete Mat Resin adalah solusi yang paling tepat. Acourete Mat Resin adalah bahan visco elastic polimer yang mampu mengisolasi bunyi dengan cara menyerap energi suara yang merambat pada media lantai, dinding, plafon dan pilar. Bahan ini dapat pula dipakai sebagai bahan isolasi suara pada pintu atau jendela. Pemakaian Acourete Mat Resin pada konstruksi bangunan anda relatif aman karena memiliki stabilitas yang tinggi terhadap ancaman kebakaran dengan kemampuan
"self-extinguising" dengan adanya penerapan "fire retardant treatment".
Dengan bantuan konsultan akustik anda dapat menciptakan ruang kedap suara yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan anggaran anda. Dengan konstruksi dan pengerjaan yang benar maka anda dapat menghadirkan ruangan bebas gangguan suara yang menggangu pada Studio Musik dan Rekaman, Studio TV dan Radio, Home Theater, High End Audio, Car Audio, Rumah Ibadah, Auditorium, Concert Hall, Ruang Karaoke, diskotik, Hotel, Bar, Music Lounge, Ruang Seminar, Ruangan Rapat, Kantor, Ruangan Mesin serta gangguan suara pada ruang tempat tinggal.
Beberapa upaya untuk memperoleh desain akustik yang optimal yang dapat mewadahi segala aktivitas yang ada di dalamnya dapat dilakukan dengan cara bermacam-macam, yaitu dengan menggunakan sistem panel yang fleksibel.
Untuk maksud ini dapat dilakukan dengan aplikasi panel material yang bisa digeser, berengsel, dapat dipindah-pindah dan dapat di putar. Panel semacam ini dapat menampilkan permukaan menyerap maupun memantul (Doelle 48).
Gambar 2.16. (A) tirai yang dapat digulung; (B) panel berengsel; (C) panel yang dapat berputar; (D) silinder yang dapat diputar; (E) panel berlubang yang dapat
bergeser; (F) elemen segitiga yang dapat berputar.
Sumber : Doelle (1972, p.48)
2.6. Tipologi Akustik
Pada penelitian ini, tipologi berfungsi sebagai pembanding material, tanpa ada penelitian yang lebih dalam. Tipologi dilakukan dengan membandingkan material-material yang digunakan pada bangunan-bangunan yang sudah menngunakan sistem akustik saat ini, dimana dapat digunakan sebagai acuan dalam pemilihan bahan untuk ruang penelitian, yang nantinya akan disesuaikan lagi dengan situasi dan kondisi yang ada.
Cak Durasim
Gambar 2.17. Material Dinding dan Plafon pada Cak Durasim Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2011
Sudah terlihat adanya kepedulian pengelola Cak Durasim terhadap desain akustik untuk ruang pertunjukannya, desain akustik ruang pertunjukan ini bertujuan untuk menciptakan acoustic performance yang baik dalam ruang
tersebut. Untuk dinding dan plafonnya, Cak Durasim menggunakan produk dari jayabel, yaitu Jayabel Noise Absorption Plasterboard, dengan spesifikasi bahan sebagai berikut,
Gambar 2.18. Produk Jayabel Noise Absorption Plasterboard Sumber: Brosur Jayabel
Gambar 2.19. Reverberation Control - Acoustic Panel - Board 230
Gambar 2.20. Noise Control - Acoustic Panel - Board 230
Gambar 2.21. Reverberation Control - Acoustic Ceiling - Board 230
Gambar 2.22. Concert HallSound Insulation - Suspend Wall –
Acourette Mat Resin 2A Sumber : http://acourete.com
2.7. Bangunan Konservasi
Konservasi adalah segenap proses pengelolaan suatu bangunan dan/atau lingkungan cagar budaya agar makna kultural yang dikandungnya terpelihara dengan baik, dan tujuan untuk melindungi, memelihara dan memanfaatkan, dengan cara preservasi, pemugaran dan demolisi. Konservasi meliputi seluruh kegiatan pemeliharaan dan sesuai dengan situasi dan kondisi setempat, yang meliputi: (Peraturan Daerah Surabaya Nomor 5 tahun 2005)
a. Preservasi
Suatu upaya pelestarian suatu tempat persis seperti keadaan aslinya tanpa ada perubahan, termasuk upaya mencegah kehancuran. Pada preservasi hampir tidak ada perubahan. Preservasi merupakan tingkat konservasi yang paling ekstrim.
b. Pemugaran
Serangkaian kegiatan yang bertujuan untuk melestarikan bangunan dan/atau lingkungan cagar budaya dengan cara restorasi (rehabilitasi), rekonstruksi atau revitalisasi (adaptasi).
• Restorasi atau Rehabilitasi.
Pelestarian suatu bangunan dan/atau lingkungan cagar budaya dengan cara mengembalikan ke dalam keadaan semula dengan menghilangkan tambahan-tambahan dan memasang komponen semula tanpa menggunakan bahan baru.
• Rekonstruksi
Suatu upaya mengembalikan suatu tempat semirip mungkin dengan keadaan semula, dengan menggunakan bahan yang menyerupai (bahan lama maupun baru) sesuai informasi kesejarahan yang diketahui.
Umumnya bahan yang digunakan adalah bahan baru, karena untuk mendapatkan bahan lama sangatlah sulit. Rekonstruksi dilakukan karena keadaan bangunan lama yang sangat memprihatinkan, sehingga diperlukan pembangunan kembali. Tindakan amputasi dan penyambungan juga terkadang dilakukan disini.
• Adaptasi atau revitalisasi
Suatu upaya mengubah/mengadaptasi bangunan dan/atau lingkungan cagar budaya agar dapat digunakan sesuai dengan fungsi yang lebih sesuai tanpa menuntut perubahan drastis. Yang dimaksud dengan fungsi disini adalah fungsi dari bangunan itu sendiri pada masa sekarang, adaptasi tidak menuntut perubahan yang drastis namun hanya memerlukan perubahan yang sesuai dengan keperluan di masa sekarang.
c. Demolisi
Suatu upaya pembongkaran atau perombakan suatu bangunan cagar budaya yang sudah dianggap rusak dan membahayakan dengan pertimbangan dari aspek keselamatan dan keamanan dengan melalui penelitian terlebih dahulu dengan dokumentasi yang lengkap. Untuk mengembalikan kondisi suatu bangunan atau unsur-unsur kawasan kota yang telah mengalami kerusakan, kemunduran, atau degradasi kepada kondisi aslinya sehingga dapat berfungsi kembali sebagaimana mestinya.
Berikut adalah beberapa peraturan konservasi dari Pemerintah Kota Surabaya, yang tertuliskan dalam Peraturan Daerah Kota Surabaya Nomor 5 Tahun 2005, tentang Pelestarian Bangunan dan/atau Lingkungan Cagar Budaya.
Peraturan ini dibuat dan dianggap penting karena Walikota Surabaya menimbang:
a. Bahwa bangunan dan/atau lingkungan cagar budaya di Kota Surabaya merupakan kekayaan budaya yang harus dilestarikan demi pemupukan jati diri bangsa dan kepentingan nasional;
b. Bahwa perkembangan pembangunan Kota Surabaya saat ini mengalami peningkatan dan perubahan yang pesat, sehingga dapat berpengaruh terhadap kelestarian bangunan dan/atau lingkungan cagar budaya;
c. Bahwa untuk menjaga kelestarian bangunan dan/atau lingkungan cagar budaya diperlukan pengaturan terhadap perlindungan dan pemeliharaan serta hal-hal lain yang terkait dengan pelestarian bangunan dan/atau lingkungan cagar budaya.
Dapat dijadikan bangunan konservasi, bila usia bangunan sekurang- kurangnya 50 tahun, dan memiliki nilai sejarah, budaya, dan dapat mewakili gaya yang khas pada jaman tertentu, seperti yang juga dikatakan di Peraturan Daerah Kota Surabaya nomor 5 tahun 2005, bab I, pasal 1 nomor 7, mengatakan bahwa
“Bangunan Cagar budaya adalah bangunan buatan manusia, berupa kesatuan atau kelompok, atau bagian-bagiannya atau sisa-sisanya, yang berumur sekurang- kurangnya 50 (lima puluh) tahun, atau mewakili masa gaya yang khas dan mewakili masa gaya sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) tahun, serta dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan dan kebudayaan.”
Penentuan bangunan cagar budaya ditetapkan berdasarkan kriteria:
a. Umur : sekurang-kurangnya 50 tahun.
b. Estetika : berkenaan dengan aspek rancangan arsitektur yang menggambarkan suatu jaman dan gaya/langgam tertentu.
c. Kejamakan : berkenaan dengan bangunan-bangunan atau bagian dari kota yang dilestarikan karena mewakili kelas atau jenis khusus bangunan yang cukup berperan.
d. Kelangkaan : berkenaan dengan jumlah yang terbatas dari jenis atau fungsinya, atau hanya satu-satunya di wilayah tertentu.
e. Nilai sejarah : berkenaan dengan peristiwa perubahan atau perkembangan kota Surabaya (nilai kepahlawanan, budaya, social politik, dll) yang menjadi symbol nilai kesejarahan.
f. Memperkuat kawasan : berkenaan dengan bangunan yang karena potensi atau keberadaannya dapat mempengaruhi serta sangat bermakna untuk meningkatkan kualitas dan citra lingkungan sekitarnya.
g. Keaslian : berkenaan dengan tingkat perubahan dari bangunan cagar budaya, baik dari aspek struktur, material, tampang, maupun sarana dan prasarana lingkungannya.
h. Keistimewaan : berkenaan dengan sifat istimewa dari bangunan tersebut.
i. Tengeran : landmark
Berdasarkan kriteria tersebut di atas, cagar budaya dibagi menjadi 4 (empat) golongan, yaitu (Peraturan Daerah Nomor 5 tahun 2005):
1. Golongan A : Bangunan cagar budaya yang harus dipertahankan dengan cara preservasi.
2. Golongan B : Bangunan cagar budaya yang dapat dilakukan dengan cara restorasi/rehabilitasi/rekonstruksi.
3. Golongan C : Bangunan cagar budaya yang dapat dilakukan pemugaran dengan cara revitalisasi/adaptasi.
4. Golongan D : Bangunan cagar budaya yang keberadaannya dianggap dapat membahayakan keselamatan pengguna maupun lingkungan sekitarnya. Sehingga dibongkar dan dapat dibangun kembali sesuai dengan aslinya dengan cara demolisi.
Peraturan Daerah Kota Surabaya nomor 5 tahun 2005, bab V, pasal 16 mengatakan bahwa, konservasi bangunan cagar budaya Golongan C (Revitalisasi/adaptasi) dilaksanakan dengan ketentuan sebagai berikut:
a. Perubahan bangunan dapat dilakukan dengan syarat tetap mempertahankan tampang bangunan utama termasuk warna, detail dan ornamennya;
b. Warna, detail, dan ornamen dari bagian bangunan yang diubah disesuaikan dengan arsitektur bangunan aslinya;
c. Penambahan bangunan di dalam tapak atau persil hanya dapat dilakukan di belakang bangunan cagar budaya dan harus disesuaikan dengan arsitektur bangunan cagar budaya dalam keserasian tatanan tapak; dan
d. Fungsi bangunan dapat diubah sesuai dengan rencana kota.
Sejauh ini, usaha konservasi bangunan tua di Indonesia masih tersendat.
Usaha tersebut terganjal dengan kepentingan-kepentingan yang mau tidak mau kontra dengan proses konservasi. Selain itu, perlindungan Undang-Undangnya pun masih rancu. Sampai saat ini, undang-undang konservasi antara konservasi alam/cagar budaya dengan konservasi bangunan masih dijadikan satu. UU Cagar
Budaya seharusnya tidak cocok diterapkan untuk proses konservasi bangunan tua.
Salah satu contohnya, UU ini mengatur bahwa bangunan bersejarah, tidak boleh diubah bentuknya. Sedangkan sebagian bangunan tua masih dimanfaatkan sebagai kantor atau hotel. Jika keadaan menuntut adanya renovasi, tentunya harus dilakukan renovasi. Soal kerancuan UU Cagar Budaya itu, Bambang mengusulkan dua solusi. Pertama, UU Cagar Budaya dibuat lebih lengkap dan rinci. Kedua, harus ada UU tersendiri untuk masalah konservasi bangunan- bangunan tua bersejarah.
“Jika memang harus dipugar, tidak menjadi masalah. Asalkan hasil pemugarannya tidak merusak karakter bangunan asal. Selain itu, desain bangunan barunya harus lebih bagus,” ujar Bambang yang juga Ketua Kehormatan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI).
Dalam usaha konservasi perlu ada sasaran yang tepat antara lain:
a. Mengembalikan wajah dari obyek pelestarian.
b. Memanfaatkan peninggalan obyek pelestarian yang ada untuk menunjang kehidupan masa kini (penghuni baru yang menuntut adanya fungsi yang berbeda).
c. Mengarahkan perkembangan masa kini yang diselaraskan dengan perkembangan perencanaan masa lalu yang tercermin dari obyek pelestarian tersebut.
d. Menampilkan sejarah pertumbuhan kota/lingkungan dalam wujud fisik tiga dimensi.
Di dalam konteks bangunan dan kawasan, konservasi berfungsi sebagai alat untuk mempersatukan sejarah dan budaya. Dapat membuka jatidiri untuk memberikan pemahaman struktur kota dan manusianya dalam menata budayanya ke depan. Konservasi adalah sebuah proses untuk memelihara tempat itu sedemikian rupa, sehingga makna kultural yang berupa nilai keindahan, sejarah, keilmuan, atau nilai sosial untuk generasi lampau, masa kini dan masa mendatang akan dapat terpelihara.
Adapun pedoman atau persyaratan untuk bangunan konservasi dalam penambahan elemen baru: (Kwanda, Timoticin. Pedoman Desain Elemen Baru Bangunan Konservasi)
• Minimum Intervention
Perubahan/campur tangan/perusakkan yang seminim mungkin. Tidak ada batasan yang pasti disini. Namun, diusahakan seminim mungkin merusak bangunan bersejarah. Dengan menerapkan berbagai teknologi yang ada pada masa kini, baik untuk konstruksi atau cara pemasangannya, agar tidak merusak bangunan. Misalnya dengan membuat lubang paku yang seminim mungkin, tetapi juga tidak lupa memperhatikan aspek keselamatan bangunan.
Jadi disini ditekankan pada minimnya perusakkan dari bangunan yang merupakan bagian dari sejarah.
• Intervention Æ Reversible
Perubahan pada bangunan konservasi, diarahkan pada perubahan yang bisa dikembalikan ke kondisi awal atau semula. Jadi perubahan yang dilakukan tidak permanen, namun dapat dikembalikan ke kondisi semula. Misalnya pada pemasangan karpet, sebaiknya lantai diberi pelapis terlebih dahulu, dengan demikian karpet tidak langsung menempel pada lantai bangunan, menggunakan kaki-kaki besi dalam penambahan panel pada dinding, dan sebagainya. Upaya ini dilakukan agar tidak merusak elemen pada bangunan konservasi tersebut, dan dapat dikembalikan seperti kondisi semula.
• New Materials and Techniques (concrete)Æ recognizable as a new
Sesuatu yang bisa mewakili jaman, dalam artian menggunakan suatu material/teknik dimana melalui material/teknik tersebut, dapat memberi petunjuk waktu tertentu. Jadi bukan meniru atau menduplikat material/teknik pada jaman ketika bangunan tersebut dibangun.
Apabila pedoman konservasi ini dapat dilaksanakan, diharapkan dapat mempertahankan, mengembalikan, mengungkapkan nilai-nilai sejarah, estetika bangunan semaksimal mungkin. Selain itu, dari perbaikan atau penambahan elemen baru ini diharapkan dapat menjadi lebih baik sesuai fungsinya.
Menurut U.S. General Service Administration, pada GSA Alteration Guidelines for Interior, kode 0109120S, ada beberapa pertimbangan yang mungkin bisa membantu dalam perubahan interior pada bangunan konservasi:
• Pertahankan elemen aslinya, dan buang elemen yang tidak asli.
• Perbaiki atau ganti elemen asli yang telah hilang.
• Lakukan perawatan, jika diperlukan gunakan sedikit cairan kimia untuk membersihkannya.
• Hati-hati dan hindari area yang sensitif.
• Jangan mengisi ruang dengan terlalu banyak perabot, karena akan menutupi keindahan detail arsitektural.
• Berhati-hati dalam penambahan elemen baru, misalnya penambahan stop kontak dilakukan seperlunya saja.
• Hilangkan lampu fluorescent dan gunakan uplighting yang tersembunyi untuk task lighting, tapi bila memungkinkan gunakan juga untuk general lighting.
• Pergantian atau perubahan harus cocok dengan material asalnya.
• Lakukan perubahan material atau finishing seperlunya, dengan tujuan pemugaran.
• Lihat kemungkinan-kemungkinan untuk menyembunyikan mekanikal dan elektrikal, dan jangan menutupi material aslinya.
• Jangan membuat perubahan yang permanen. Perubahan harus bisa dikembalikan ke bentukan semula.
• Pertahankan jendela sebisa mungkin sesuai dengan keadaan aslinya. Jangan mengecat kaca pada jendelanya, jangan mengubah kaca yang transparan menjadi kaca es, dan sebagainya.
• Cek keaslian warna plafon dan detailnya. Pertahankan kondisi aslinya.
• Memelihara, memperbaiki, mengganti lantai dengan yang sesuai yang mirip apabila mungkin. kalau terlalu banyak yang rusak, lapisi lantai dengan karpet kualitas tinggi. Tetapi jangan gunakan bahan perekat langsung ke lantai yang asli, karena akan merusak lantai yang asli nantinya.
Sedangkan menurut U.S. General Service Administration, pada GSA for Historic Preservation (technical prosedures), kode 0110003S, adapun beberapa pertimbangan (mengarah ke rehabilitiasi bangunan konservasi) yang juga bisa membantu dalam penambahan elemen interior pada bangunan konservasi, dimana elemen interior juga sama pentingnya dengan elemen eksterior, antara lain:
• Memelihara Floor Plan.
• Hindari penghilangan karakter bangunan.
• Hindari membuat potongan pada lantai dan plafon dimana bisa merubah karakter bangunan asli.
• Hindari penambahan elemen baru yang menutupi ornamen-ornamen asli ruang.
• Sebisa mungkin jaga dan pelihara fitur dan finishing yang ada pada ruang, seperti pintu, kolom, ceiling, lantai, dinding, dan lain sebagainya.
• Apabila ada tangga, sebisa mungkin tidak mengubah letaknya.
• Jaga dan pelihara sistem mekanikal yang terlihat. (fan, plumbing, lampu, grilles, dan lain-lain). Jika ingin memberi alat baru, tidak boleh merusak elemen bangunan asli.
• Tidak boleh menghilangkan jendela, karena akan merusak komposisi ruang.
• Hindari mengganti cat/plaster dari yang lama. Missal kayu/bahan tekstur, dinding ornamen/lantai/plafon.
• Hindari penggunaan cairan-cairan berbahaya (keras) seperti propan, butan untuk membersihkan bangunan.