BAB
II
LANDASAN TEORI
2.1 DCS, FCS, FCU
DCS adalah Distributed Control System yaitu sebuah kontrol sistem yang digunakan untuk suatu proses yang mana kontrol elementnya didistribusikan melalui sistem. Di dalam sebuah DCS sebuah hirarki kontroler dihubungkan oleh jaringan komunikasi, yaitu untuk perintah dan monitoring.
FCS adalah field control station yang mengkontrol fungsi seperti continuous
control, sequence control dan kalkulasi. Standard FCS dibuat dari sebuah FCU
(field control unit), Node interface unit (NIU) dengan I/O modul.
FCU adalah field control unit yang terdiri dari central processing unit (CPU) cards, baterai back up unit untuk CPU memory, power supply unit, Vnet/ IP dan
ESB bus interface card.
2.2 Profibus Komunikasi
Profibus adalah otomasi standard berbasis fieldbus dari Profibus & Profinet International (PI) yang mana data dapat ditransfer melalui kabel bus tunggal, yang memungkinkan pertukaran data konsisten dengan system komunikasi yang lebih tinggi. Profibus memakai two-wire buss, terangkum dalam IEC 61158-1 sampai dengan IEC 61158-6 yang telah dikembangkan oleh beberapa perusahaan, dan institusi antara tahun 1987 – 1990. Untuk mengenal lebih jauh dengan profibus silahkan lihat gambar dibawah ini.
Gambar 2.2 Profibus family
Penggunaan teknologi Profibus komunikasi untuk jaringan yang luas. Dan mempunyai unit-unit instrument field yang letaknya berjauhan dan sangat jauh maka dapat dipilih untuk menggunakan dua jenis station yaitu master dan slave.
Dengan ketentuan
• Harus mempunyai minimal satu master unit. Bisa berupa PLC maupun DCS. 1 2 3 4 5 6 31 1 2 3 4 5 6 31 PROFIBUS PA PROFIBUS PA PROFIBUS DP Ethernet backbone MES ERP PA coupler PA link PA coupler PA link Unit Intellegance
• Didalam satu jaringan memperbolehkan lebih dari satu master
• Total station mencapai 127 unit yang merupakan gabungan master dengan slave.
2.2.1 Tipe-Tipe Profibus Komunikasi
Selain itu, jika dilihat dari tipenya, Profibus dibagi menjadi dua yaitu Profibus DP dan Profibus PA. Profibus DP merupakan jenis high speed bus dengan kapasitas data transfer maksimal mencapai 12.000 kbits/s, digunakan untuk jaringan komunikasi terhadap remote I/O, actuator-actuator dan beberapa
intelegent unit, sedangkan Profibus PA atau Profibus MBP (manchester bus power)
merupakan jenis low speed bus dengan kapasitas data transfer maksimal 31, 25 kbits/s yang digunakan untuk jaringan komunikasi langsung terhadap field
instrument seperti: flow transmitter, level transmitter, pressure transmitter.
Dalam pemakaian di jaringan, Profibus dapat menggunakan tiga jenis media transmisi yaitu:
1. RS 485, instalasi mudah dan sanggup mencapai 1200 M
2. Fiber optic, yang handal terhadap gangguan electromagnetic dan dapat digunakan pada jaringan yang mempunyai jarak mencapai ratusan km. 3. MBP- IS, digunakan untuk instalasi yang membutuhkan pembatasan arus
Tabel 2.1 Perbandingan Profibus DP dengan Profibus PA
Item Profibus DP Profibus PA
Penggunaan Otomasi pada produksi dan proses otomasi
Proses otomasi
Digunakan untuk beberapa input yang berlainan dan input/ output yang terus menerus, dapat juga digunakan pada hazardous area / explotion area (walaupun tidak umum)
Digunakan untuk input / output dengan tugas terus menerus, dapat digunakan untuk peralatan di hazaradous area / explotion area dengan EX couplers
Type peralatan yang terkoneksi
Remote I/O, Slave unit, HMI (human monitoring interface)
Analog sensor seperti level transmiter, pressure transmiter, temperatur transmiter, dan analog actuator seperti positioner Jumlah bus nodes
tiap segment
sampai 32 unit Untuk Non-hazardous
area maksimal 32 unit.
Untuk hazardous area dengan field bus barrier maksimum 16 unit,
Item Profibus DP Profibus PA
dengan EX DP/PA coupler maximum 9 unit Transmisi rate 9,6 kbps sampai 12 mbps 31,25 kbps
Transmission teknologi RS 485 MBP (manchester bus powered) RS 485 -IS Fiber optic
Media transmisi Kabel Tembaga Kabel Tembaga
Kabel FO: Glass/ plastik/HCS
Maksimum panjang jaringan
1200 M per segment untuk kabel tembaga
Untuk area Non EX maksimum 1900 M Kemampuan transfer data
akan mengecil seiring panjang jaringan
Untuk area EX
maksimum 1000 M tergantung peralatan Mampu mencapai ratusan km
jika menggunakan fiber optic
Tabel 2.2 Perbandingan Profibus DP Baudrate dengan Panjang Kabel
Baudrate (kbits/s) 9.6 19.2 45.45 93.75 187.5
Segment length (M) 400 200 100 100 100
Baudrate (kbits/s) 500 1500 3000 6000 12000
Dari table diatas menunjukkan bahwa makin panjang jarak jaringan maka data transfer yang diperbolehkan akan mengecil. Jika dalam jaringan tersebut dipasang repeater pada panjang jaringan yang sama, maka besaran data yang bisa ditransfer akan menjadi lebih besar.
Tabel 2.3 Perbandingan Profibus PA Baudrate, Panjang Kabel, untuk Lokasi Bukan
Daerah Rawan Ledakan dan Lokasi Daerah Rawan Ledakan
Baudrate (kbits/s) 31, 25
Panjang jaringan untuk bukan daerah ledakan (M)
1900 (jalur utama) 120 (titik cabang)
Panjang jaringan untuk daerah ledakan (M)
1000 (jalur utama) 60 (titik cabang)
Sebagai perbandingan jumlah titik cabang dengan panjang jalur pada titik cabang yang ada pada jaringan Profibus PA dapat dilihat pada table dibawah ini.
Tabel 2.4 Perbandingan Maksimum Titik Cabang terhadap Panjang Jalur Titik
Cabang Pada Profibus PA
Jumlah titik percabangan
Maksimum panjang jalur pada titik cabang (M) Bukan Daerah Rawan
Ledakan Daerah Rawan Ledakan 25 - 32 - - 19 - 24 30 30 15 - 18 60 60 13 - 14 90 60 1 - 12 120 60
2.2.2 Versi Protokol Profibus Komunikasi
Di dalam Profibus family mempunyai 3 versi protokol yang berbeda dan disediakan dengan tujuan fungsi yang berbeda, yaitu DP-V0; DP-V1; DP-V2. Dari ketiga jenis protocol komunikasi tersebut tergantung pada hubungan yang dipilih. Silahkan melihat table dibawah untuk perbandingan antara protocol komunikasi tersebut.
Tabel 2.5 Versi dan Fungsi dari Profibus DP-V0, DP-V1, dan DP-V2
Profibus Versi Diskripsi
DP-V0
Menyediakan fungsi dasar dari sebuah komunikasi protocol meliputi:
Cyclic data exchange / perputaran dari pertukaran data diantara master dan slave untuk pertukaran proses data. Fungsi diagnosa.
DP-V1
Perpanjangan fungsi dari DP-V1, fungsi utamanya adalah: Acyclic data exchange / bukan perputaran pertukaran data diantara master dan slave, untuk diagnosa, kontrol, monitor dan alarm sistem di kelola oleh slave unit yang pararel terhadap lalulintas perputaran dari pertukaran data.
DP-V2
Penambahan fitur pada fungsi utama dan bagian dari DP-V0 dan DP-V1 meliputi:
Slave to slave comunication, komunikasi unit slave pertama
ke unit slave berikutnya untuk pertukaran data secara langsung (master harus tetap ada).
Isochronous mode untuk sinkron kontrol pada master dan
slave, independen pada bus load seperti yang dibutuhkan pada servo drives.
Untuk penggunaan class 2 master’s setidaknya memakai DP-V1 dan untuk DP-V2 digunakan untuk menjalankan unit dalam isochronous mode. Sedangkan untuk Profibus PA selalu menggunakan DP-V1.
Untuk komunikasi master terhadap slave maupun slave terhadap slave dapat memilih transmisi rate maksimum sebesar 1, 5 Mbps. Dan sebaiknya didesign untuk jarak yang dekat. Untuk mendapatkan respon time yang lebih cepat dapat memilih transmisi rate lebih dari 1,5Mbps.
Gambar 2.3 Komunikasi Master dengan Slave
Pada gambar diatas dijelaskan bahwa untuk komunikasi diantara master dengan slave akan selalu ada dua signal telegram yang disertakan dalam proses data input maupun output. Untuk intelegent unit biasanya mempunyai 2 sampai 20 bytes input dan output data. Volume proses data pada remote I/O maksimum bisa mencapai 244 byte.
MASTER SLAVE
0 1 0 1 0 1 0 1
Respon telegram = input data + telegram overhead
Jaringan
(
)
paket0 1 0 1 0 1
(
0 1)
paketBus cycle time terpengaruh beberapa factor seperti:
• Jumlah unit slave
• Besar transmission rate yang digunakan • Type Profibus yang dipakai (DP atau PA) • Data volume (input dan output data)
Untuk rumus perhitungannya dapat dilihat dibawah ini
t
partial cycle =∑ ((
(
!"#$ ## %" !
… … … (2.1
Rumus estimasi bus cycle time untuk Profibus DP dan Profibus PATel_OV = Telegram overhead (317 bit)
Bit_DP = Profibus DP data format 11 *+
+, - = slaves’ run variable
Bit_PA = Profibus PA data format 8 *+
+, -
(Lo + LI) = Nilai total dari slave output and input data dalam byte
n = Jumlah semua unit slave
Transmisi rate: Nilai dalam kbit/s
t
partial cycle: Cycle time dalam msHIS Master Slave Field Instrument Field Instrument
Kabel fiber optic
RS 485 DP /PA EX Junction box EX Field Instrument EX Field Instrument EX Field Instrument MBP IS M B P -I S
Contoh model jaringan profibus DP dapat dilihat pada gambar dibawah ini.
Gambar 2.4 Jaringan Profibus yang Menggunakan Kabel RS485, Kabel Fiber
Optic, dan Kabel MBP-IS pada Daerah Rawan Ledakan Zone 2 (safe area)
Zone 1 dan Zone 0 Ethernet
2.3 Modbus Komunikasi
Modbus adalah otomasi standard yang dipublikasikan oleh Modicon pada
tahun 1979 dan digunakan untuk membangun master – slave / client server komunikasi antara perangkat cerdas yang juga berguna untuk mentransfer diskrit input / output, analog input / output. Fisik interfacenya bisa menggunakan RS485 dan RS232. Dalam tingkatan OSI, ada 7 tingkat dan menempatkan Modbus serial protokol di tingkatan kedua yang dijelaskan pada table dibawah ini.
Tabel 2.6 Tingkatan Modbus Protocol dalam ISO/OSI Model
Layer ISO/OSI Model Protokol
7 Application Modbus application protocol 6 Presentation Empty
5 Session Empty
4 Transport Empty
3 Network Empty
2 Data link Modbus Serial Line Protocol 1 Physical EIA/TIA-485 atau EIA/TIA-232
Gambar 2.5 Koneksi Modbus Application Layer Terhadap Modbus Master-Slave
Modbus application layer protokol menyediakan client / server komunikasi diantara beberapa peralatan yang terkoneksi pada jaringan tersebut. Pada serial line untuk posisi client di sediakan oleh master dan server adalah sebagai slave.
Didalam Modbus serial line protocol ada beberapa ketentuan yaitu:
• Merupakan master-slave protocol.
• Hanya satu master yang bisa dikoneksi dalam jaringan. • Maksimum 247 slave dalam jaringan.
• Tidak ada komunikasi antara slave yang satu dengan yang lainnya.
• Slave tidak akan pernah mengirim signal tanpa ada permintaan dari master. 2.3.1 Tipe-Tipe Request Modbus Aplikasi
Berdasarkan cara permintaan master terhadap slave ada dua macam, yaitu:
• Unicast mode yaitu pengalamatan master dengan sebuah slave, prosesnya
selalu dimulai dari master mengirimkan permintaan ke slave, setelah slave Modbus application layer client / server
Modbus master / slave EIA/TIA-485 atau EIA/TIA-232
menerima permintaaan, maka slave akan menjawab dan akan mengirimkan data ke master.
• Broadcast mode yaitu master dapat mengirim permintaan ke semua slave
yang terpasang. Prosesnya adalah master selalu mengirim pesan ke slave dan tidak ada response balik dari slave. Slave harus menerima broadcast untuk writing function dan address 0 diterima untuk mengidentifikasi perubahan pada broadcast.
Gambar 2.6 Diagram Unicast Mode
Gambar 2.7 Diagram Broadcast Mode Master Slave Slave Slave Request Reply Master Slave Slave Slave Request Request Request
2.3.2 Transmisi Mode Modbus Komunikasi
Addressing maximum Modbus adalah 256 alamat yangmana pembagiannya adalah sebagai berikut:
• 0 untuk broadcast address.
• 1 sampai 247 untuk slave individual address. • 248 sampai 255 untuk reserved.
• Untuk master tidak ada spesifik address.
Sedangkan untuk Modbus frame disebut dengan Protocol data unit / PDU yang berdiri sendiri dibawah komunikasi layer.
Gambar 2.8 Blok Modbus Protocol Data Unit
Modbus protocol mapping pada jaringan bus serial line akan ditambahkan beberapa additional field, yang mana dalam setiap transaksi akan ikut membangun sebuah komunikasi Modbus PDU.
Data Function code Modbus PDU Data Function code Addresing field CRC / LRC
Modbus serial line PDU
Dari gambar diatas dapat dijelaskan pada Modbus serial line address field, hanya berisi slave address. Alamat master sebuah slave akan diletakkan di slave address pada addressing field dari pesan, ketika slave mengembalikan respon akan diletakkan pada alamatnya sendiri pada address field untuk memberitahu master bahwa slave sudah merespon pesan tersebut.
Function code menunjukan jenis action yang diminta oleh server yang dapat diikuti oleh data field yang berisi permintaan dan parameter-parameter respon.
Didalam isi pesan terdapat error checking field, yang merupakan hasil sebuah redundant check dan terbagi menjadi dua jenis tergantung dari model transmisi yang pilih antara RTU atau ASCII.
Modbus data link layer berisi dua sub layer yang terpisah yaitu
• Master / slave protocol
• Transmission mode RTU dan ASCII
Gambar 2.10 Syntax dari Sebuah State Diagram
Jika pada sebuah system trigger sudah berstatus di state_A, maka system akan berlanjut ke state_B, dan jika guard condition adalah true. Maka sebuah action tersebut disebut performed.
State_ A State_ B
Triger (guard condition) per action
Master state diagram
Gambar 2.11 Flowchart Request Master State Diagram
Dari gambar master state diagram diatas dapat dijelaskan sebagai berikut:
Status idle adalah no pending request. Ini adalah status setelah power dihidupkan. Sebuah request / permintaan hanya dapat dijalankan pada status idle. Setelah master mengirimkan sebuah request / permintaan maka master akan
Idle Request dikirim dalam
broadcast mode dan turnaround delay juga mulai menghitung Menunggu turnaround delay Memproses reply Menunggu reply Memproses Error Turnarround delay yang expired dibalikan Request dikirim ke slave dan response timeout juga mulai menghitung Membalas permintaan (unexpected slave) Membalas permintaan
(expected slave) dan response timeout berhenti Response timeout expired Posisi akhir dari proses replay Frame error Posisi akhir dari proses error
Ketika sebuah unicast request dikirimkan ke slave, master berstatus “menunggu reply”, dan response timeout mulai menghitung yang mana nilainya adalah adjustable.
Ketika sebuah balasan diterima, master akan mengecek sebelum memproses data tersebut, dan bisa juga berstatus error.
Jika tidak ada respon yang diterima, respon timeout expire dan sebuah error akan dihasilkan. Kemudian master akan ada pada kondisi idle untuk mencoba lagi permintaan, sedangkan jumlah pengulangan permintaan adalah adjustable.
Ketika broadcast request dikirimkan ke serial bus dan tidak ada respon balik dari slave. Waktu yang dibutuhkan disebut turnaround delay. Sehingga sebelum dapat berada pada posisi idle dan mengirim request berikutnya master disebut dalam posisi waiting turnarround delay.
Oleh karena itu respon timeout harus di setting lebih lama dari waktu yang dibutuhkankan slave untuk proses dan mengirim balik ke master. Tetapi pada broadcast mode, turnaround delay setting harus lebih lama dari proses pada slave saja, selanjutnya sudah bisa langsung menerima permintaan dari master. Oleh karena itu turn around delay harus lebih pendek dari response time out. Typicaly response time out adalah 1s sampai bebearpa detik pada 9600 bps dan turnaround delay berkisar antara 100ms sampai 200ms.
Frame error terdiri dari: Parity checking, pada setiap karakter, redundance
Slave state diagram
Gambar 2.12 Request Slave State Diagram
State idle adalah no pending request, biasanya setelah power dihidupkan, ketika sebuah request diterima, slave akan mengecek sebelum memulai action yang diminta pada paket tersebut, jika terdapat error akan dikembalikan ke master. Dan
Idle Check request Memformat normal reply Memproses
Required action Memformat error reply Menerima
sebuah request
Check OK
Error pada request data
Error akan diproses End of process (unicast mode) Normal reply dikirim End of process (broad cast mode) Error reply dikirim
Error pada frame checking / frame tidak dialamatkan untuk slave ini
Dan jika slave menerima frame tersebut error maka tidak ada repon yang dibalikkan ke master, untuk menyediakan diagnostic informasi maka diagnostic \counter harus selalu ditentukan dan dimanage oleh sisi slave.
Gambar 2.13 Master-Slave Skenario Waktu Diagram
Durasi request, reply, dan broadcast pada fitur komunikasi tergantung pada panjang frame dan throughput. Didalam durasi wait dan treatment akan tergantung pada proses waktu yang dibutuhkan untuk request pada aplikasi di slave.
Walaupun transmisi modelnya bisa RTU dan ASCII, tetap untuk default settingnya adalah RTU. Didalam RTU transmisi model dapat dilihat formatnya sebagai berikut
Response time out
Master Request broadcast Request
ke slave 1 ke slave n Slave 1 Perintah langsung dijalankan request treatment reply Slave n Perintah langsung dijalankan Error detection No reply Physical line Time
Exchange i-1 Exchange 1 Exchange i+1
reply analysis dan persiapan mengikuti perubahan
Wait wait wait
Format untuk setiap byte dalam RTU model coding sistem adalah sebagai berikut:
Tabel 2.7 Format Setiap Byte di Dalam Model Transmisi RTU
Item RTU mode bit Diskripsi 1 byte 11 coding system 1 start 8 data
bit terkecil akan dikirim pertama 1 Parity completion
1 stop
Jika menggunakan parity maka aka nada 2 model yaitu odd parity dan old parity, dan jika menggunakan old parity maka membutuhkan 2 stop bit.
Frame diskripsi adalah sebagai berikut:
• Slave address adalah 1 byte • Function code adalah 1 byte • Data dari 0 sampai 252 byte
Pesan Modbus dalam RTU framing
Start Address Function Data
CRC / LRC End ≥ 3.5 char 8 bit 8 bit N x 8 bit 16 bit ≥ 3.5 char
Gambar 2.14 Bentuk Pesan Modbus
Semua pesan frame harus di kirimkan secara berkelanjutan sesuai dengan aliran frame, jika ada interval yang terputus lebih dari 1,5 character waktu maka pesan akan dinyatakan tidak komplit dan akan dibuang. Sehingga akan banyak interupsi untuk interval lebih dari 1,5 sampai 3,5. Dengan baud rate yang tinggi akan membebani CPU. Maka 2 timer ini harus mempunyai respect yang tinggi ketika baut rate ≤ 19,2 kbps dan untuk baud rate yang lebih besar dari itu maka fixed timer harus digunakan dengan nilai 750µs untuk inter character time out (t1,5) dan 1.750 ms untuk inter time delay (t3,5).
2.4 Peranan Profibus dan Modbus dalam Sistem Kontrol
Di dunia industri, Profibus dan Modbus komunikasi digunakan untuk menghubungkan beberapa unit system antara mainsystem dengan subsystem, maupun subsystem dengan instrument field.
Dikemukakan bahwa Profibus dan Modbus jaringan digunakan untuk menghubungkan field devices seperti sensors, actuators dan field controller’s seperti PLC, regulator, dan driver controller.
Tabel 2.8 Perbandingan Sistim Tradisional Fieldbus dengan Profibus dan Modbus
Item Fieldbus tradisional system Profibus / Modbus Signal Analog satu arah. Digital (packet based) Dua arah. Kabel Satu untuk setiap signal. Multiple signals.
Jaringan
Multiplexing signal membutuhkan
central hub.
Multiple end point di lokal maupun global jaringan.
Diagnosis Basic diagnosis informasi.
Informasi penting dapat disediakan (intelligent slaves). Testing dan
installasi
Lebih lama karena banyak kabel.
Lebih cepat karena memakai sedikit kabel.
Pemasangan dan pengetesan jaringan yang memakai Profibus ini akan lebih cepat dan hemat biaya secara waktu dan tenaga kerja akan lebih sedikit daripada memakai sistem fieldbus 4 – 20mA.
Penggunaan dan perawatan yang mudah, jaringan tidak hanya untuk pengiriman data analog dan digital, tetapi dapat juga diambil data-data unit itu sendiri meliputi, brand, model, tipe dan jadwal maintenance yang mana dengan data-data tersebut mudah juga dikirim ke beberapa monitoring point.
Gambar 2.15 Jaringan Fieldbus Teknologi Tradisional
Gambar 2.16 Jaringan Fieldbus Teknologi Modern
Beberapa penelitian untuk profibus dan Modbus juga sudah pernah dilakukan antara lain. Klang dan Lindholm (2005) melakukan penelitiannya pada siemens turbomachinery gas turbine mengutarakan bahwa fieldbus teknologi adalah major
step dalam proses control industri yang mana pada sistem lama signal-signal
Lokasi A Lokasi B Lokasi C PLC / DCS Lokasi A PLC / DCS Lokasi B Lokasi C
I/O device I/O device
dikirim satu arah secara tradisional menggunakan 4 – 20 mA dan on-off, sedangkan untuk profibus data dikirim dengan berbentuk data.
Dari percobaan yang telah dilakukan pada system gas turbin yangmana dalam pengujian itu menggunakan PLC siemens S7-300 dan PC, didapatkan data dan beberapa solusi yang dapat diambil berdasarkan jumlah dan jenis komunikasi yang seperti terlampir pada table dibawah ini.
Table 2.9 Percobaan Profibus DP pada Sistem Gas Turbin
Solusi I II III IV V Extra PC Ya Ya Ya Software Tambahan Ya PLC tambahan Ya Mungkin untuk high performa Tambahan memory Ya
Interface card Mungkin Ya Ya Ya
Redundant Sebagian Tidak Ya Ya Ya
Modifikasi program PLC
Sedangkan penelitian tentang Modbus telah dilakukan, antara lain oleh Joelianto (2009) yangmana penelitiannya dilakukan terhadap komunikasi Modbus TCP/IP dan serial RS48 pada jaringan HMI, dan PLC. Dalam pengetesan tersebut terbagi menjadi 3 bagian yaitu menghitung perbandingan delay yang dilakukan pada media transfer TCP/IP dan Modbus RS485 serial.
Dilihat dari penelitian yang telah dilakukan dengan menggunakan PLC sebagai obyek penelitian pengukuran response time. Maka didalam pengujian tersebut dilakukan pada PLC Twido dalam 3 tahap, yang mana terangkum pada gambar table dibawah ini.
Tabel 2.10 Percobaan Modbus TCP/IP pada PLC Twido
Test no.
1 2 3
Unit 1 HMI HMI HMI
Transfer media ( Panjang kabel 5M)
TCP/IP TCP/IP TCP/IP
Unit 2 PLC 1 PLC 1 PLC1
Transfer media ( Panjang kabel 5M)
TCP/IP TCP/IP TCP/IP
Unit 3 PLC2 PLC2
Transfer media ( Panjang kabel 3,5M)
RS485 RS485
Test no. 1 2 3 Transfer media ( Panjang kabel 3,5M) RS485 Unit 5 PLC 4
Data size (word) 100 100 100
Times ( X ) 50 50 50 Time Min (ms) 12 98 92 Max (ms) 20 106 106 Avg (ms) 16 102 99
Penelitian tentang Modbus juga diperkuat oleh Tiyono (2007) yang melakukan pengujian scada menggunakan Modbus RS4845 yang didapat hasil komunikasi modbus dapat dilakukan mencapai jarak 100M dengan delay antar karakter sebesar 165, 9µs.
Han (2013) didalam penelitiannya menjelaskan bahwa tradisional fieldbus lebih handal pada data transfer diatas 200 bytes, sedangkan modern fieldbus Modbus mempunyai kelebihan di bawah 200 bytes.