• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengembangan Pembelajaran IPA DI SD

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Pengembangan Pembelajaran IPA DI SD"

Copied!
76
0
0

Teks penuh

(1)

Pengembangan Pembelajaran IPA SD 131

UNIT 4

PERENCANAAN

PEMBELAJARAN IPA

Lia Yuliati

PENDAHULUAN

Pada unit ini mahasiswa diajak berlatih mengembangkan perencanaan

pembelajaran atau membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

Perencanaan pembelajaran dalam bentuk RPP merupakan penjabaran dari silabus

dan menunjukkan kegiatan untuk mencapai tujuan pembelajaran dalam satu

pertemuan. Sebagian guru menyusun RPP dalam satu kompetensi dasar dengan

beberapa pertemuan sesuai kebutuhan.

Setelah mempelajari Unit 4 ini diharapkan mahasiswa dapat 1)

mengidentifikasi konsep-konsep esensial IPA untuk jenjang sekolah dasar

berdasarkan kompetensi dasar; 2) menyusun bahan ajar, 3) menentukan dan

membuat media pembelajaran IPA; 4) menjelaskan karakteristik model-model

pembelajaran IPA; 5) menyusun skenario pembelajaran IPA dengan model

tematik dan siklus belajar; dan 6) menerapkan model pembelajaran tematik dan

siklus belajar berdasarkan RPP yang telah disusunnya dalam pembelajaran.

Pencapaian kompetensi tersebut dilaksanakan melalui kegiatan tatap muka dan

kegiatan mandiri. Kegiatan tatap muka difokuskan pada kegiatan diskusi dan

latihan terbimbing, sedangkan kegiatan mandiri difokuskan pada latihan secara

individu sesuai dengan tugas terstruktur yang diberikan. Selama kegiatan tatap

muka dan mandiri, mahasiswa dapat menggunakan bahan ajar cetak serta bahan

rujukan yang dianjurkan dalam Unit 4. Pencapaian tujuan pembelajaran diukur

melalui tes tulis dan pengumpulan tugas-tugas terstruktur.

Pengembangan perencanaan pembelajaran (RPP) pada Unit 4 ini

merupakan penjabaran dari kurikulum dan silabus yang dibahas pada Unit 2 dan

(2)

132 Pengembangan Pembelajaran IPA SD

melaksanakan pembelajaran yang akan dibahas pada unit berikutnya. Oleh karena

itu, pembahasan pada Unit 4 ini diharapkan dapat membekali mahasiswa dalam

mengembangkan kompetensinya sebagai guru kelas SD untuk membelajarkan

IPA SD dan menjadi guru yang profesional dalam melaksanakan tugas-tugasnya.

Materi ajar pada Unit 4 ini terdiri dalam empat sub-unit yaitu bahan ajar

IPA dan media pembelajaran IPA SD (sub-Unit 4.1), model-model pembelajaran

IPA SD (sub-Unit 4.2), penilaian pembelajaran IPA SD (sub-Unit 4.3), dan

pengembangan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (sub-Unit 4.4). Pada sub-Unit

4.1 mahasiswa akan diajak untuk mengidentifikasi materi esensial dalam IPA SD

dan menyiapkan media pembelajaran yang sederhana. Pada sub-Unit 4.2

mahasiswa akan diajak untuk mengenal dan mendalami model pembelajaran

tematik dan model pembelajaran siklus belajar untuk mengembangkan

pembelajaran IPA aktif dan inovatif. Pada sub-Unit 4.3 mahasiswa akan diajak

untuk mengenali dan menyusun penilaian proses dalam pembelajaran IPA. Pada

sub-Unit 4.4 mahasiswa akan diajak untuk menyusun rencana pelaksanaan

pembelajaran IPA aktif dan inovatif yang merupakan kompilasi kegiatan sub-Unit

(3)

Pengembangan Pembelajaran IPA SD 133

SUB-UNIT 4.1

BAHAN AJAR DAN

MEDIA PEMBELAJARAN IPA SD

A.

PENGANTAR

Kemampuan dasar yang harus dimiliki seorang guru adalah memilih atau

menentukan materi pembelajaran atau bahan ajar yang tepat dalam rangka

membantu siswa mencapai kompetensi. Bahan ajar merupakan merupakan salah

satu komponen sistem pembelajaran yang memegang peranan penting dalam

membantu siswa mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar. Jika guru

tidak dapat memilih dan menguasai bahan ajar dengan baik maka besar

kemungkinan kompetensi dasar yang menjadi syarat minimal penguasaan

kompetensi tidak akan tercapai. Jika hal ini terjadi maka hasil belajar siswa tidak

akan optimal, dalam jangka pendek mungkin tidak lulus dari sekolah.

Pada saat menyusun bahan ajar, hal penting lainnya yang harus

diperhatikan guru adalah menyiapkan media pembelajaran. Media pembelajaran

merupakan alat bantu pembelajaran untuk mempermudah penguasaan konsep

IPA. Tentunya tidak mudah menyiapkan media pembelajaran yang sesuai dengan

bahan ajar yang disiapkan apalagi dengan berbagai keterbatasan. Oleh karena itu,

sebagai pelaksana proses pembelajaran guru hendaknya memahami dan mengerti

tentang pemilihan bahan ajar dan media pembelajaran. Pada sub-Unit 4.1 ini

mahasiswa akan diajak untuk mengenali cara-cara memilih bahan ajar dan media

pembelajaran yang murah tetapi memiliki kualitas yang cukup baik.

B.

URAIAN

1.

Pengembangan Bahan Ajar IPA SD

a. Pengertian

Bahan ajar atau materi pembelajaran (instructional materials) secara garis

(4)

134 Pengembangan Pembelajaran IPA SD

dalam rangka mencapai standar kompetensi yang telah ditentukan. Ditinjau dari

pihak guru, bahan ajar itu harus diajarkan atau disampaikan dalam kegiatan

pembelajran. Ditinjau dari pihak siswa, bahan ajar itu harus dipelajari siswa dalam

rangka mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar yang akan dinilai

dengan menggunakan instrumen penilaian yang disusun berdasar indikator

pencapaian belajar.

Secara terperinci, jenis-jenis materi pembelajaran terdiri dari pengetahuan

(fakta, konsep, prinsip, prosedur), keterampilan, dan sikap atau nilai. Pengetahuan

yang termasuk jenis materi fakta adalah nama-nama obyek, peristiwa sejarah,

lambang, nama tempat, dan nama orang. Misal, penemu benua Amerika adalah

Copernicus Columbus. Pengetahuan yang termasuk materi konsep adalah

pengertian, definisi, ciri khusus, komponen atau bagian suatu obyek. Misal, massa

adalah besaran kuantitas suatu benda. Pengetahuan yang termasuk materi prinsip

adalah dalil, rumus, postulat, teorema, atau hubungan antar konsep yang

menggambarkan ―jika..maka….‖, misalnya Jika logam dipanasi maka akan

memuai, rumus menghitung massa jenis () adalah massa dibagi volume.

Pengetahuan yang termasuk materi jenis prosedur adalah materi yang berkenaan

dengan langkah-langkah secara sistematis atau berurutan dalam mengerjakan

suatu tugas. Misal, langkah-langkah mengoperasikan peralatan mikroskop atau

langkah-langkah percobaan pengaruh kalor pada benda Untuk mempermudah

pemahaman klasifikasi materi pembalajaran, perhatiakn dan pelajari Tabel 4.1.

b. Penentuan Cakupan Bahan Ajar

Masalah cakupan atau ruang lingkup, kedalaman, dan urutan penyampaian

materi pembelajaran penting diperhatikan. Ketepatan dalam menentukan cakupan,

ruang lingkup, dan kedalaman materi pembelajaran akan menghindarkan guru dari

mengajarkan terlalu sedikit atau terlalu banyak, terlalu dangkal atau terlalu

mendalam. Ketepatan urutan penyajian (sequencing) akan memudahkan bagi

siswa mempelajari materi pembelajaran. Dalam menentukan cakupan atau ruang

lingkup materi pembelajaran harus diperhatikan apakah materinya berupa aspek

kognitif (fakta, konsep, prinsip, prosedur), aspek afektif, ataukah aspek

(5)

Pengembangan Pembelajaran IPA SD 135

jenis materi tersebut memerlukan strategi dan media pembelajaran yang

berbeda-beda.

Tabel 4.1 Klasifikasi Materi Pembelajaran Menjadi Fakta, Konsep, Prinsip dan Prosedur

No Jenis Materi

Pengertian dan contoh

1. Fakta Menyebutkan kapan, berapa, nama, dan di mana. Contoh:

Penemu benua Amerika adalah Copernicus Columbus, ayan berkembang biak dengan cara bertelur, sapi adalah hewan menyusui berkaki empat.

2. Konsep Definisi, identifikasi, klasifikasi, ciri-ciri khusus. Contoh:

Definisi : massa adalah besaran kuantitas suatu benda. Identifikasi: belatung berasal dari telur hewan yang menetas pada metamorfosis;

Klasifikasi: berdasarkan jenis makanannya paruh burung dikelompokkan menjadi paruh yang lancip- melengkung dan kuat, paruh yang lebar-tumpul, paruh yang lancip-panjang

Ciri khusus: alat pernapasan pada ikan adalah insang 3. Prinsip Penerapan dalil, atau hukum yang dapat dinyatakan dengan

pernyataan jika…maka.... Contoh:

Hukum Archimedes: Jika benda padat dimasukkan ke dalam zat cair/fluida maka akan mengalami gaya ke atas sebesar berat zat cair yang dipindahkan zat cair tersebut. 4. Prosedur Bagan arus atau bagan alur (flowchart), algoritma,

langkah-langkah mengerjakan sesuatu secara urut. Contoh:

Langkah-langkah percobaan pengaruh kalor pada benda (perubahan wujud):

1. Meletakkan balok es batu ke dalam kaleng susu bekas 2. Memanaskan kaleng yang berisi balok es di atas

kompor spiritus/nyala lilin

3. Mencatat perubahan wujud yang terjadi pada es dan mencatat waktu yang diperlukan es untuk mencair.

Selain memperhatikan jenis materi pembelajaran, kita juga harus

memperhatikan prinsip-prinsip yang perlu digunakan dalam menentukan cakupan

materi pembelajaran yang menyangkut keluasan dan kedalaman materinya.

(6)

136 Pengembangan Pembelajaran IPA SD

yang dimasukkan ke dalam suatu materi ajar, sedangkan kedalaman materi

menyangkut seberapa detail konsep-konsep yang terkandung di dalamnya harus

dipelajari/dikuasai oleh siswa. Sebagai contoh, materi gerak dapat diajarkan di

SD, SMP, SMA, dan perguruan tinggi, namun keluasan dan kedalaman pada

setiap jenjang pendidikan tersebut akan berbeda-beda. Semakin tinggi jenjang

pendidikan akan semakin luas cakupan materi yang dipelajari dan semakin detail

pula setiap aspek yang dipelajari. Di SD materi gerak dipelajari berdasarkan

pengalaman siswa yang dikaitkan posisi awal dan posisi akhir, di SMP materi

gerak dipelajari berdasarkan jenis geraknya, di SMA materi gerak dipelajari

dengan menggunakan vektor, di perguruan tinggi materi gerak dipelajari dengan

menggunakan matematika tingkat tinggi.

Prinsip berikutnya adalah prinsip kecukupan (adequacy). Kecukupan

(adequacy) atau memadainya cakupan materi juga perlu diperhatikan dalam

pengertian. Cukup tidaknya aspek materi dari suatu materi pembelajaran akan

sangat membantu tercapainya penguasaan kompetensi dasar yang telah ditentukan.

Misalnya, jika tujuan pembelajaran IPA dimaksudkan untuk membelajarkan siswa

tentang macam-macam bentuk tulang daun, maka uraian materinya mencakup: (1)

tulang daun bentuk menyirip, misal pada daun rambutan, lombok,nangka; (2)

tulang daun bentuk melengkung, misal pada daun sirih, lada, gadung; (3) tulang

daun bentuk pita/sejajar, misal pada daun jagung, padi, alang-alang, tebu; dan

tulang daun bentuk menjari misal pada daun pepaya, singkong/ketela pohon.

Cakupan atau ruang lingkup materi perlu ditentukan untuk mengetahui

apakah materi yang harus dipelajari oleh murid terlalu banyak, terlalu sedikit, atau

telah memadai sehingga sesuai dengan kompetensi dasar yang ingin dicapai.

Misalnya pada mata pelajaran IPA kelas V, salah satu kompetensi dasar yang

diharapkan dimiliki oleh siswa adalah: ‖menyimpulkan hasil penyelidikan

tentang perubahan sifat benda, baik sementara maupun tetap‖. Setelah

diidentifikasi, ternyata materi pembelajaran untuk mencapai kemampuan

menyimpulkan hasil penyelidikan tentang perubahan sifat benda, baik sementara

maupun tetap tersebut termasuk jenis prosedur. Jika dianalisis, secara garis besar

cakupan materi yang harus dipelajari siswa agar mampu menyimpulkan hasil

(7)

Pengembangan Pembelajaran IPA SD 137

meliputi: 1) perubahan sifat benda; 2) perubahan benda yang bersifat sementara;

2) perubahan benda yang bersifat tetap; 3) percobaan tentang perubahan sifat

benda, baik yang bersifat sementara maupun tetap. Setiap jenis dari keempat

materi tersebut masih dapat diperinci lebih lanjut sesuai tujuan pembelajaran yang

ditentukan.

c. Penentuan Urutan Bahan Ajar

Urutan penyajian (sequencing) bahan ajar sangat penting untuk

menentukan urutan mempelajari atau mengajarkannya. Tanpa urutan yang tepat,

jika di antara beberapa materi pembelajaran mempunyai hubungan yang bersifat

prasyarat (prerequisite) akan menyulitkan siswa dalam mempelajarinya. Misalnya

materi proses pencernaan makanan pada manusia. Siswa akan mengalami

kesulitan mempelajari proses pencernaan makanan pada manusia jika materi

tentang organ-organ penyusun sistem organ pencernaan belum dipelajari lebih

dulu mengenai urutan dan fungsi masing-masing organ.

Materi pembelajaran yang sudah ditentukan ruang lingkup serta

kedalamannya dapat diurutkan melalui dua pendekatan pokok, yaitu pendekatan

prosedural dan pendekatan hierarkis. Urutan materi pembelajaran secara

prosedural menggambarkan langkah secara urut sesuai dengan

langkah-langkah melaksanakan suatu tugas. Misal, langkah-langkah-langkah-langkah menggunakan

termometer untuk mengukur suhu tubuh manusia, dan termometer untuk

mengukur suhu benda. Kedua kegiatan tersebut sama-sama menggunakan

termometer tetapi tentunya jenis termometer yang digunakan berbeda dan cara

menggunakannya juga berbeda sesuai karakteristik jenis termometernya. Jika

urutan cara mengoperasikan kedua jenis termometer tersebut tidak diikuti maka

hasil pengukurannya tidak tepat dan akan merusak fungsi termometer yang

digunakan.

Urutan materi pembelajaran secara hierarkis (berjenjang) menggambarkan

urutan yang bersifat berjenjang dari bawah ke atas atau dari atas ke bawah. Materi

sebelumnya harus dipelajari dahulu sebagai prasyarat untuk mempelajari materi

berikutnya. Uraian berikut adalah contoh urutan materi pembelajaran secara

(8)

138 Pengembangan Pembelajaran IPA SD

Uraian tentang deskripsi hubungan anatara sifat bahan dengan bahan penyusunnya.

Agar siswa mampu mendeskripsikan hubungan sifat bahan dengan bahan penyusunnya, siswa terlebih dulu harus melakukan percobaan. Misal, percobaan untuk menemukan konsep sifat benang plastik (bahan tali plastik) dan sifat tali plastik, dibandingkan dengan benang katun (bahan) yang terbuat dari serat katun (bahan penyusun benang katun). Setelah melakukan percobaan, diharapkan siswa dapat mendeskripsikan hubungan antara sifat bahan dengan bahan penyusunnya (jika sifat bahan penyusun semakin kuat maka bahan tersebut juga semakin kuat). Sewlanjutnya, siswa menerapkan konsep yang dimilikinya untuk memecahkan masalah yang terkait dengan hubungan pemilihan bahan dengan kekuatan bahan dalam kehidupan sehari-hari.

Misal, suatu hari Ahmadi diminta untuk mengikat kayu bakar untuk dibawa pulang dari kebun ke rumah. Di kebun tersebut ditemukan 2 macam tali dengan bahan yang berbeda. Ada tali plastik, dan ada tali dari serpihan batang pisang yang sudah setengah kering. Tali manakah yang sebaiknya dipilih Ahmadi untuk mengikat kayunya? Jelaskan, mengapa Ahmadi memilih tali tersebut?

Contoh lain tentang urutan tentang hubungan struktur mata dengan fungsinya, yang disajikan pada berikut.

Kompetensi dasar Urutan Materi

1.3 Mendeskripsikan

hubungan struktur panca indera, misal mata dan fungsi mata

1. struktur mata

2. fungsi setiap bagian mata 3. fungsi mata

4. hubungan kornea dengan fungsi mata 5. cara kerja mata

d. Prinsip-prinsip Pemilihan Bahan Ajar

Ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam penyusunan bahan

ajar atau materi pembelajaran. Prinsip-prinsip dalam pemilihan materi

pembelajaran meliputi prinsip relevansi, konsistensi, dan kecukupan.

Prinsip relevansi artinya keterkaitan. Materi pembelajaran hendaknya

relevan atau ada kaitan atau ada hubungannya dengan pencapaian standar

(9)

Pengembangan Pembelajaran IPA SD 139

diharapkan dikuasai siswa berupa menghafal fakta, maka materi pembelajaran

yang diajarkan harus berupa fakta atau gubahan hafalan.

Prinsip konsistensi artinya keajegan. Jika kompetensi dasar yang harus

dikuasai siswa empat macam, maka bahan ajar yang harus diajarkan juga harus

meliputi empat macam. Misalnya kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa

adalah mendeskripsikan hubungan struktur panca indera dengan fungsinya yang

meliputi struktur mata (yaitu selaput bening, iris mata, pupil, lensa mata, otot

pemegang lensa, badan bening, retina, bintik kuning, syaraf mata), fungsi setiap

bagian mata, fungsi mata sebagai indera penglihat, dan hubungan antara bagian

mata dengan fungsi mata, maka materi yang diajarkan juga harus meliput susunan

bagian-bagian mata secara berurutan dari luar ke dalam, fungsi setiap bagian

mata, fungsi mata, dan hubungan antara bagian mata dengan fungsi mata.

Prinsip kecukupan artinya materi yang diajarkan hendaknya cukup

memadai dalam membantu siswa menguasai kompetensi dasar yang diajarkan.

Materi tidak boleh terlalu sedikit, dan tidak boleh terlalu banyak. Jika terlalu

sedikit akan kurang membantu mencapai standar kompetensi dan kompetensi

dasar. Sebaliknya, jika terlalu banyak akan membuang-buang waktu dan tenaga

yang tidak perlu untuk mempelajarinya.

e. Langkah-langkah Pemilihan Bahan Ajar

Sebelum melaksanakan pemilihan bahan ajar, guru terlebih dahulu perlu

memahami kriteria pemilihan bahan ajar. Kriteria pokok pemilihan bahan ajar

atau materi pembelajaran adalah standar kompetensi dan kompetensi dasar. Hal

ini berarti bahwa materi pembelajaran yang dipilih untuk diajarkan oleh guru di

satu pihak dan harus dipelajari siswa di lain pihak hendaknya berisikan materi

atau bahan ajar yang benar-benar menunjang tercapainya standar kompetensi dan

kompetensi dasar. Dengan kata lain, pemilihan bahan ajar haruslah mengacu atau

merujuk pada standar kompetensi.

Setelah diketahui kriteria pemilihan bahan ajar, sampailah kita pada

langkah-langkah pemilihan bahan ajar. Secara garis besar langkah-langkah

pemilihan bahan ajar meliputi pertama-tama mengidentifikasi aspek-aspek yang

(10)

140 Pengembangan Pembelajaran IPA SD

rujukan pemilihan bahan ajar. Langkah berikutnya adalah mengidentifikasi

jenis-jenis materi bahan ajar. Langkah ketiga memilih bahan ajar yang sesuai atau

relevan dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang telah

teridentifikasi tadi. Terakhir adalah memilih sumber bahan ajar.

Secara lengkap, langkah-langkah pemilihan bahan ajar dapat dijelaskan

sebagai berikut.

a. Mengidentifikasi aspek-aspek yang terdapat dalam standar kompetensi dan kompetensi dasar

Sebelum menentukan materi pembelajaran terlebih dahulu perlu diidentifikasi

aspek-aspek standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dipelajari

atau dikuasai siswa. Aspek tersebut perlu ditentukan, karena setiap aspek

standar kompetensi dan kompetensi dasar memerlukan jenis materi yang

berbeda-beda dalam kegiatan pembelajaran. Setiap aspek standar kompetensi

tersebut memerlukan materi pembelajaran atau bahan ajar yang berbeda-beda

untuk membantu pencapaiannya.

b. Mengidentifikasi jenis-jenis materi pembelajaran

Sejalan dengan berbagai jenis aspek standar kompetensi, materi pembelajaran

juga dapat dibedakan menjadi jenis materi aspek kognitif, afektif, dan

psikomotorik. Materi pembelajaran aspek kognitif secara terperinci dapat

dibagi menjadi empat jenis, yaitu: fakta, konsep, prinsip dan prosedur. Materi

jenis fakta adalah materi berupa nama-nama objek, nama tempat, nama orang,

lambang, peristiwa sejarah, nama bagian atau komponen suatu benda, dan lain

sebagainya. Materi konsep berupa pengertian, definisi, hakekat, inti isi. Materi

jenis prinsip berupa dalil, rumus, postulat adagium, paradigma, teorema.

Materi jenis prosedur berupa langkah-langkah mengerjakan sesuatu secara

urut, misalnya langkah-langkah menelpon, cara-cara pembuatan telur asin atau

cara-cara pembuatan bel listrik. Materi pembelajaran aspek afektif meliputi:

pemberian respon, penerimaan (apresiasi), internalisasi, dan penilaian. Materi

(11)

Pengembangan Pembelajaran IPA SD 141 c. Memilih jenis materi yang sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi

dasar

Pilih jenis materi yang sesuai dengan standar kompetensi yang telah

ditentukan. Perhatikan pula jumlah atau ruang lingkup yang cukup memadai

sehingga mempermudah siswa dalam mencapai standar kompetensi.

Berpijak dari aspek-aspek standar kompetensi dan kompetensi dasar yang

telah diidentifikasi, langkah selanjutnya adalah memilih jenis materi yang

sesuai dengan aspek-aspek yang terdapat dalam standar kompetensi dan

kompetensi dasar tersebut. Materi yang akan diajarkan perlu diidentifikasi

apakah termasuk jenis fakta, konsep, prinsip, prosedur, afektif, atau gabungan

lebih daripada satu jenis materi. Dengan mengidentifikasi jenis-jenis materi

yang akan diajarkan, maka guru akan mendapatkan kemudahan dalam cara

mengajarkannya. Setelah jenis materi pembelajaran teridentifikasi, langkah

berikutnya adalah memilih jenis materi tersebut yang sesuai dengan standar

kompetensi atau kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa. Identifikasi

jenis materi pembelajaran juga penting untuk keperluan mengajarkannya.

Sebab, setiap jenis materi pembelajaran memerlukan strategi pembelajaran

atau metode, media, dan sistem evaluasi/penilaian yang berbeda-beda.

Misalnya metode mengajarkan materi fakta atau hapalan adalah dengan

menggunakan ―jembatan keledai”, ―jembatan ingatan” (mnemonics), sedangkan metode untuk mengajarkan prosedur adalah ―demonstrasi‖.

Cara yang paling mudah untuk menentukan jenis materi pembelajaran yang

akan diajarkan adalah dengan jalan mengajukan pertanyaan tentang

kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa.

Dengan mengacu pada kompetensi dasar, kita akan mengetahui apakah materi

yang harus kita ajarkan berupa fakta, konsep, prinsip, prosedur, aspek sikap,

atau psikomotorik. Berikut adalah pertanyaan-pertanyaan penuntun untuk

mengidentifikasi jenis materi pembelajaran:

1. Apakah kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa berupa mengingat

nama suatu objek, simbol atau suatu peristiwa? Kalau jawabannya ―ya‖

(12)

142 Pengembangan Pembelajaran IPA SD

2. Apakah kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa berupa kemampuan

untuk menyatakan suatu definisi, menuliskan ciri khas sesuatu,

mengklasifikasikan atau mengelompokkan beberapa contoh objek sesuai

dengan suatu definisi? Kalau jawabannya ―ya‖ berarti materi yang harus

diajarkan adalah ―konsep‖.

3. Apakah kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa berupa menjelaskan

atau melakukan langkah-langkah atau prosedur secara urut atau membuat

sesuatu? Bila ―ya‖ maka materi yang harus diajarkan adalah ―prosedur‖.

4. Apakah kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa berupa menentukan

hubungan antara beberapa konsep, atau menerapkan hubungan antara

berbagai macam konsep? Bila jawabannya ―ya‖, berarti materi

pembelajaran yang harus diajarkan termasuk dalam kategori ―prinsip‖.

Apakah kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa berupa memilih

berbuat atau tidak berbuat berdasar pertimbangan baik buruk, suka tidak

suka, indah tidak indah? Jika jawabannya ―Ya‖, maka materi pembelajaran

yang harus diajarkan berupa aspek afektif, sikap, atau nilai.

5. Apakah kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa berupa melakukan

perbuatan secara fisik? Jika jawabannya ―Ya‖, maka materi pembelajaran

yang harus diajarkan adalah aspek motorik.

2.

Media Pembelajaran IPA SD

Apa yang dimaksud dengan media? Istilah media berasal dari bahasa

Latin yang merupakan bentuk jamak dari medium. Secara umum, media adalah

segala sesuatu yang dapat menyalurkan informasi dari sumber informasi kepada

penerima informasi.

Media memiliki peran yang sangat penting dalam pembelajaran.

Mengapa? Media merupakan alat bantu guru dalam melaksanakan pembelajaran

dan berfungsi sebagai sarana untuk menyampaikan pesan dari guru kepada siswa.

Jika digunakan secara benar, media pembelajaran dapat memperlancar interkasi

guru dan siswa, siswa dan siswa, serta siswa dan sumber belajar.

Media yang digunakan dalam pembelajaran banyak ragamnya. Secara

(13)

Pengembangan Pembelajaran IPA SD 143

media audio-visual. Media audio adalah media pembelajaran yang dapat

didengar, misal radio dan alat musik. Media visual adalah media pembelajaran

yang dapat dilihat, misal gambar, grafik, model, dan slide. Media audio-visual

adalah media pembelajaran yang dapat didengar dan dapat dilihat misal video,

simulasi komputer dan film.

Berdasarkan bentuk penyajiannya, media pembelajaran dapat

dikelompokkan menjadi media pembelajaran non-projected yaitu media

pembelajaran yang langsung dapat digunakan tanpa menggunakan alat proyeksi

seperti gambar, charta, foto, dan peta, dan media pembelajaran projected yaitu

media pembelajaran yang memerlukan alat proyeksi seperti film, slide, dan power

point.

Media pembelajaran dapat bersifat alami dan buatan. Media pembelajaran

alami merupakan media pembelajaran yang sesuai dengan benda aslinya di alam

seperti hewan, tumbuhan, danau, dan gunung. Media pembelajaran buatan

merupakan media pembelajaran hasil modfikasi atau meniru benda aslinya,

seperti model alat pernafasan, model jantung manusia, dan torso. Media-media

tersebut dapat digunakan sesuai kebutuhan dan kemampuan guru serta sekolah.

Penggunaan media pembelajaran dalam mata pelajaran IPA memiliki

relevansi yang sangat tinggi karena memiliki kesesuaian dengan hakikat IPA.

IPA merupakan hasil kegiatan manusia berupa pengetahuan, gagasan dan konsep

yang terorganisasi secara logis sistematis tentang alam sekitar, yang diperoleh dari

pengalaman melalui serangkaian proses ilmiah seperti pengamatan, penyelidikan,

penyusunan hipotesis yang diikuti dengan pengujian gagasan-gagasan. IPA

sebagai proses lebih menekankan pada perolehan konsep IPA melalui pengalaman

belajar yang lebih nyata, yang melibatkan segala kemampuan dan potensi yang

dimilkinya.

Peranan media pembelajaran IPA sehubungan dengan pendekatan

ketrampilan proses, antara lain: 1) dapat mengaktifkan komunikasi dan interaksi

antara guru dan siswa dan antara siswa dan sesamanya dalam kegiatan belajar

mengajar; 2) dapat merangsang pikiran, perasan, perhatian dan kemauan siswa

agar dapat mendorong kegiatan pembelajaran sehingga pengalaman belajar yang

(14)

144 Pengembangan Pembelajaran IPA SD

dan minat belajar siswa, sehingga perhatian siswa dapat terpusat pada bahan

pelajaran yang diberikan guru; 4) meletakkan dasar-dasar yang penting untuk

perkembangan belajar, sehingga membuat pelajaran lebih lama diingat; dan 5)

memberikan pengalaman nyata yang dapat menumbuhkan kegiatan mandiri

dikalangan siswa.

Berkaitan dengan keterampilan proses, manfaat media pembelajaran IPA

bagi siswa adalah: 1) dapat meningkatkan motivasi belajar, 2) dapat menyediakan

variasi belajar, 3) dapat memberi gambaran struktur yang memudahkan belajar, 4)

dapat memberikan contoh yang selektif, 5) dapat memberi contoh yang selektif, 6)

dapat merangsang berpikir analisis, dan 7) dapat memberikan situasi belajar yang

menyenangkan tanpa beban atau tekanan. Manfaat media pembelajaran IPA bagi

guru adalah: 1) dapat memberikan pedoman dalam merumuskan tujuan

pembelajaran, 2) dapat memberikan sistematika belajar, 3) dapat memudahkan

kendali pengajaran, 4) dapat membantu kecermatan dan ketelitian dalam

penyajian, 5) dapat membangkitkan rasa percaya diri dalam mengajar, dan 6)

dapat meningkatkan kualitas pembelajaran.

Media pembelajaran dapat memiliki nilai praktis, yaitu:

1) dapat menampilkan obyek yang terlalu besar, yang tidak mungkin dibawa

kedalam kelas, seperti bulan, bumi dan matahari;

2) dapat memperlambat gerakan yang terlalu cepat seperti gerakan kecambah

yang tumbuh, gerak benda jatuh;

3) memungkinkan untuk menampilkan objek yang langka yang sulit diamati

atau yang berbahaya di lingkungan belajar.

Guru IPA hendaknya dapat mempertimbangkan kelayakan suatu alat

menjadi sebuah media pembelajaran Pertimbangan yang dapat dipakai guru IPA

untuk memilih media pembelajaran yang baik antara lain:

1) kelayakan praktis (keakraban guru dengan jenis media pembelajaran)

meliputi ketersediaan media pembelajaran di lingkungan belajar setempat,

ketersediaan waktu untuk mempersiapkan media, ketersediaan sarana dan

fasilitas pendukung dan keluwesan, artinya mudah dibawa kemana-mana,

(15)

Pengembangan Pembelajaran IPA SD 145

2) kelayakan teknis (relevan dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dan

merangsang terjadinya proses belajar); dan

3) kelayakan biaya (biaya yang dikeluarkan seimbang dengan manfaat yang

diperoleh).

Disamping itu, media pembelajaran IPA SD tidak rumit dalam penyediaan

dan penggunaannya. Alat tersebut hendaknya didesain dengan perencanaan yang

matang. Perencanaan itu mencakup beberapa hal antara lain; analisis untung

ekonomis secara ekonomis, jumlah dan jenis alat yang akan digunakan,

keterampilan yang diperlukan, gambar atau bagan yang akan dibuat, rancangan

atau konstruksi alat, dan evaluasi alat yang dibuat.

Berikut ini adalah sebuah contoh media pembelajaran IPA SD yang

sederhana berupa pemanfaatan barang bekas. Pembuatan alat praktikum secara

sederhana dapat menggunakan barang bekas. Barang bekas disini dapat berupa

kaleng susu atau kaleng biskuit. Dalam suatu rumah tangga pasti banyak memiliki

barang bekas yang tidak terpakai lagi tapi kalau dibuang dapat merusak

lingkungan. Kalau barang tersebut dapat dipergunakan untuk membuat suatu

media pembelajaran maka guru tidak perlu mengeluarkan uang banyak. Dan juga

tidak perlu mengajar hanya dengan metode ceramah saja yang membuat anak

menjadi bosan untuk belajar.

Kaleng bekas dapat digunakan sebagai media pembelajaran untuk materi

tekanan udara, sifat air, bunyi dll. Untuk sifat air, misalnya, kaleng bekas dapat

digunakan untuk membuktikan bahwa air menekan ke segala arah. Hal ini dapat

dilakukan dengan cara membuat 4 lubang dengan jarak sama antar satu lubang

dengn lubang lain di sekeliling sisi kaleng. Contoh lain, untuk tekanan udara dapat

digunakan kaleng bekas yang dilubangi secara vertikal untuk mengetahui

hubungan antara laju air terhadap jarak air yang keluar dari lubang kaleng dan

juga terhadap tinggi permukaan air di dalam kaleng. Masih banyak lagi barang

bekas selain kaleng yang dapat digunakan untuk membuat alat praktikum IPA.

C.

LATIHAN

Kerjakan latihan di bawah ini untuk memperdalam pemahaman anda

(16)

146 Pengembangan Pembelajaran IPA SD

1. Pilihlah masing-masing satu kompetensi dasar mata pelajaran IPA SD kelas

awal (kelas 1-3) dan kelas tinggi (kelas 4-6). Tentukan salah satu materi IPA

masing-masing KD untuk alokasi waktu 2 x 35 menit.

2. Buatlah indikator dan tujuan pembelajaran untuk alokasi waktu dan materi

yang sudah ditentukan pada soal 1.

3. Susunlah bahan ajar materi tersebut sesuai dengan indikator dan tujuan

pembelajaran serta alokasi waktu yang disediakan.

4. Tentukan media pembelajaran yang akan digunakan. Media yang digunakan

hendaknya merupakan media sederhana yang bersifat konkret dan dapat

diperoleh dengan mudah, sederhana dan dapat digunakan untuk mencapai

tujuan pembelajaran.

D.

RANGKUMAN

Bahan ajar atau materi pembelajaran (instructional materials) adalah

pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dipelajari siswa dalam rangka

mencapai standar kompetensi yang telah ditentukan. Hal yang penting dalam

menentukan bahan ajar adalah ruang lingkup, kedalaman, dan urutan

penyampaian materi pembelajaran penting diperhatikan. Selain itu juga perlu

diperhatikan beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam penyusunan bahan

ajar atau materi pembelajaran. Prinsip-prinsip dalam pemilihan materi

pembelajaran meliputi prinsip relevansi, konsistensi, dan kecukupan.

Sebelum melaksanakan pemilihan bahan ajar, terlebih dahulu perlu

diketahui kriteria pemilihan bahan ajar. Kriteria pokok pemilihan bahan ajar atau

materi pembelajaran adalah standar kompetensi dan kompetensi dasar.

Langkah-langkah pemilihan bahan ajar meliputi mengidentifikasi aspek-aspek yang

terdapat dalam standar kompetensi dan kompetensi dasar yang menjadi acuan atau

rujukan pemilihan bahan ajar, mengidentifikasi jenis-jenis materi bahan ajar,

memilih bahan ajar yang sesuai atau relevan dengan standar kompetensi dan

kompetensi dasar yang telah teridentifikasi tadi, dan memilih sumber bahan ajar.

Media merupakan alat bantu guru dalam melaksanakan pembelajaran dan

berfungsi sebagai sarana untuk menyampaikan pesan dari guru kepada siswa.

(17)

Pengembangan Pembelajaran IPA SD 147

dan media audio-visual. Berdasarkan bentuk penyajiannya, media pembelajaran

dapat dikelompokkan menjadi media pembelajaran non-projected dan media

pembelajaran projected. Media pembelajaran dapat bersifat alami dan buatan.

Penggunaan media pembelajaran dalam mata pelajaran IPA memiliki

relevansi yang sangat tinggi karena memiliki kesesuaian dengan hakikat IPA

karena dapat mengaktifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan siswa dan

antara siwa dan sesamanya dalam kegiatan belajar mengajar; merangsang pikiran,

perasan, perhatian dan kemauan siswa agar dapat mendorong kegiatan relajar

mengajar, sehingga pengalaman belajar yang diperoleh akan lebih bermakna bagi

siswa; membangkitkan keinginan dan minat belajar siswa, sehingga perhatian

siswa dapat terpusat pada bahan pelajaran yang diberikan guru; meletakan

dasar-dasar yang penting untuk perkembangan belajar, sehingga membuat pelajaran

lebih lama diingat; dan memberikan pengalaman nyata yang dapat menumbuhkan

kegiatan mandiri dikalangan siswa.

E.

TES FORMATIF

Jawablah pertanyaan di bawah ini untuk mengukur pemahaman anda pada materi

bahan ajar dan media pembelajaran

.

1. Jelaskan langkah-langkah pemilihan bahan ajar yang dapat mencapai tujuan

pembelajaran?

2. Jelaskan prinsip-prinsip penentuan cakupan bahan ajar?

3. Sebutkan jenis-jenis media yang dapat digunakan dalam pembelajaran IPA di

SD? Jelaskan!

4. Jelaskan keterkaitan penggunaan media pembelajaran dengan hakikat IPA

dan keterampilan proses IPA!

F.

UMPAN BALIK

Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban sub-Unit 4.1yang

terdapat pada bagian akhir Unit ini. Hitunglah jawaban Anda yang benar.

Gunakanlah rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda

terhadap materi sub-Unit 4.1.

(18)

148 Pengembangan Pembelajaran IPA SD

Rumus:

Skor jawaban Anda yang benar

Tingkat penguasaan = X 100%

Skor total

Penentuan Skor : Setiap butir soal yang dijawab dengan benar (100%) diberi skor

25. Skor berikutnya ditentukan dengan persentase tingkat

kebenaran jawaban.

Arti tingkat penguasaan yang Anda capai :

90 – 100% = baik sekali

80 - 89% = baik

70 – 79% = cukup

< 70% = kurang

Bila Anda mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat

melanjutkan dengan Unit selanjutnya. Selamat untuk Anda ! Tetapi apabila

tingkat penguasaan Anda masih di bawah 80%, Anda harus mempelajari kembali

(19)

Pengembangan Pembelajaran IPA SD 149

SUB-UNIT 4.2

EVALUASI PEMBELAJARAN IPA

A.

PENGANTAR

Kemampuan yang harus dimiliki seorang guru setelah memilih bahan ajar

dan media pembelajaran adalah merencanakan dan melaksanakan pembelajaran.

Pelaksanaan pembelajaran tersebut menjadi kunci keberhasilan pencapaian tujuan

pembelajaran.

Beberapa ahli menyatakan bahwa keberhasilan pelaksanaan pembelajaran

bergantung pada tahapan atau langkah-langkah pembelajaran yang bermuara pada

model pembelajaran. Ada banyak model-model pembelajaran yang dikembangkan

dan model-model pembelajaran memiliki tujuan untuk meningkatkan hasil belajar

siswa. Di antara beberapa model pembelajaran tersebut adalah model

pembelajaran tematik dan model pembelajaran Learning Cycle (siklus belajar).

Kedua model tersebut direkomendasikan ahli-ahli pembelajaran untuk digunakan

pada pembelajaran IPA di sekolah dasar.

Apa yang dimaksud dengan dengan model pembelajaran tematik dan

siklus belajar? Bagaimanakah menyusun pembelajaran dengan model-model

tersebut? Pada sub-Unit 4.2 ini anda akan diajak untuk mengenali karakteristik

model pembelajaran tematik dan siklus belajar untuk mengembangkan

kemampuan kognitif, psikomotorik dan afektif siswa dalam pembelajaran IPA di

sekolah dasar.

B.

URAIAN

1.

Model Tematik (Integrated Model)

Apa yang disebut model tematik? Mengapa di sekolah dasar, khususnya

siswa kelas awal (kelas 1, 2, dan 3) dianjurkan menggunakan model pembelajaran

(20)

150 Pengembangan Pembelajaran IPA SD

Pertanyaan-pertanyaan di atas sering kita ajukan ketika membahas

pembelajaran di sekolah dasar. Pernahkah anda memikirkan dan mencoba mencari

jawabannya? Mungkin anda akan menjawab bahwa model tematik dilaksanakan

di SD karena kurikulumnya meminta demikian. Namun, apa alasan KTSP

merekomendasikan model tematik untuk pendidikan dasar? Untuk menjawab

semua permasalahan ini, pelajarilah sub-Unit 4.2 ini dengan seksama agar dapat

memecahkan permasalahan di atas.

a. Pengertian Pembelajaran Model Tematik

Pada KTSP, pembelajaran model tematik merupakan model pembelajaran

yang dianjurkan untuk pembelajaran di pendidikan dasar. Pendidikan dasar ini

mencakup sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Mengapa demikian?

Hal ini disebabkan tahapan perkembangan anak, karakteristik cara anak belajar,

konsep belajar dan pembelajaran bermakna pada tingkat pendidikan dasar

khususnya SD masih bersifat konkret dan holistik (menyeluruh). Siswa

pendidikan dasar lebih mudah memahami sesuai berdasarkan seluruh aspek yang

dialaminya. Aspek-aspek tersebut bermuara pada beberapa mata pelajaran di

sekolah sehingga pembahasannya memerlukan tema atau topik.

Pembelajaan tematik adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan

tema untuk mengaitkan dua atau lebih mata pelajaran sehingga dapat memberikan

pengalaman bermakna kepada siswa. Tema adalah pokok pikiran atau gagasan

pokok yang menjadi pokok pembicaraan (Poerwadarminta, 1983). Di sekolah

dasar, pembelajaran tematik meliputi mata pelajaran IPA, Bahasa Indonesia, PKn,

IPS, dan matematika.

Pemberian tema pada topik yang dibahas dari dua atau lebih mata

pelajaran diharapkan akan memberikan banyak keuntungan bagi guru dan siswa.

Keuntungan tersebut di antaranya:

1) siswa mudah memusatkan perhatian pada suatu tema tertentu.

2) siswa mampu mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai

kompetensi dasar antar matapelajaran dalam tema yang sama.

(21)

Pengembangan Pembelajaran IPA SD 151

4) kompetensi dasar dapat dikembangkan lebih baik dengan mengkaitkan

matapelajaran lain dengan pengalaman pribadi siswa.

5) siswa mampu lebih merasakan manfaat dan makna belajar karena materi

disajikan dalam konteks tema yang jelas.

6) siswa lebih bergairah belajar karena dapat berkomunikasi dalam situasi nyata,

untuk mengembangkan suatu kemampuan dalam satu mata pelajaran

sekaligus mempelajari matapelajaran lain.

7) guru dapat menghemat waktu karena mata pelajaran yang disajikan secara

tematik dapat dipersiapkaan sekaligus dan diberikan dalam dua atau tiga

pertemuan, waktu selebihnya dapat digunakan untuk kegiatan remedial,

pemantapan, atau pengayaan.

Mengapa pembelajaran tematik diberikan pada siswa? Apa saja yang

melandasi pembelajaran tematik? Landasan pembelajaran tematik mencakup

landasan filosofis, landasan psikologis, dan landasan yuridis.

1) Landasan filosofis

Pembelajaran tematik sangat dipengaruhi oleh tiga aliran filsafat yaitu

progresivisme, konstruktivisme, dan humanisme. Aliran progresivisme

memandang proses pembelajaran perlu ditekankan pada pembentukan kreatifitas,

pemberian sejumlah kegiatan, suasana yang alamiah (natural), dan memperhatikan

pengalaman siswa. Aliran konstruktivisme melihat pengalaman langsung siswa

(direct experiences) sebagai kunci dalam pembelajaran. Menurut aliran ini,

pengetahuan adalah hasil konstruksi atau bentukan manusia. Manusia

mengkonstruksi pengetahuannya melalui interaksi dengan obyek, fenomena,

pengalaman dan lingkungannya. Pengetahuan tidak dapat ditransfer begitu saja

dari seorang guru kepada anak, tetapi harus diinterpretasikan sendiri oleh

masing-masing siswa. Pengetahuan bukan sesuatu yang sudah jadi, melainkan suatu

proses yang berkembang terus menerus. Keaktifan siswa yang diwujudkan oleh

rasa ingin tahunya sangat berperan dalam perkembangan pengetahuannya. Aliran

humanisme melihat siswa dari segi keunikannya, potensinya, dan motivasi yang

(22)

152 Pengembangan Pembelajaran IPA SD

2) Landasan Psikologis.

Pembelajaran tematik berkaitan dengan psikologi perkembangan siswa dan

psikologi belajar. Psikologi perkembangan diperlukan terutama dalam

menentukan isi/materi pembelajaran tematik yang diberikan kepada siswa agar

tingkat keluasan dan kedalamannya sesuai dengan tahap perkembangan siswa.

Psikologi belajar memberikan kontribusi dalam hal bagaimana materi

pembelajaran tematik tersebut disampaikan kepada siswa dan bagaimana pula

siswa harus mempelajarinya.

3) Landasan Yuridis

Pembelajaran tematik berkaitan dengan berbagai kebijakan atau peraturan

yang mendukung pelaksanaan pembelajaran tematik di sekolah dasar. Landasan

yuridis tersebut adalah UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang

menyatakan bahwa setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran

dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan

minat dan bakatnya (pasal 9). UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan

Nasional menyatakan bahwa setiap siswa pada setiap satuan pendidikan berhak

mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan

kemampuannya (Bab V Pasal 1-b).

Pada pembelajaran tematik, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

Pembelajaran tematik menekankan keterlibatan siswa dalam proses belajar secara

aktif. Siswa memperoleh pengalaman langsung dan terlatih untuk dapat

menemukan sendiri berbagai pengetahuan yang dipelajarinya. Melalui

pengalaman langsung, siswa akan memahami konsep-konsep yang mereka

pelajari dan menghubungkannya dengan konsep lain yang telah dipahaminya.

Teori pembelajaran ini dimotori para tokoh Psikologi Gestalt, termasuk Piaget,

yang menekankan bahwa pembelajaran haruslah bermakna dan berorientasi pada

kebutuhan dan perkembangan anak.

Selain itu, pembelajaran tematik juga menekankan pada penerapan konsep

belajar sambil melakukan sesuatu (learning by doing). Sebagai fasilitator belajar

(23)

Pengembangan Pembelajaran IPA SD 153

mempengaruhi kebermaknaan belajar siswa. Pengalaman belajar yang

menunjukkan kaitan unsur-unsur konseptual menjadikan proses pembelajaran

lebih efektif. Kaitan konseptual antar mata pelajaran yang dipelajari akan

membentuk skema, sehingga siswa akan memperoleh keutuhan dan kebulatan

pengetahuan. Penerapan pembelajaran tematik di sekolah dasar akan sangat

membantu siswa, karena sesuai dengan tahap perkembangannya siswa yang masih

melihat segala sesuatu sebagai satu keutuhan (holistik).

Manfaat yang diperoleh bagi guru dan siswa apabila pembelajaran

dilaksanakan dengan memanfaatkan tema adalah: 1) Dengan menggabungkan

beberapa kompetensi dasar dan indikator serta isi mata pelajaran akan terjadi

penghematan, karena tumpang tindih materi dapat dikurangi bahkan dihilangkan,

2) Siswa mampu melihat hubungan-hubungan yang bermakna sebab isi/materi

pembelajaran lebih berperan sebagai sarana atau alat, bukan tujuan akhir, 3)

Pembelajaran menjadi utuh sehingga siswa akan mendapat pengertian mengenai

proses dan materi yang tidak terpecah-pecah. 4) Dengan adanya pemaduan antar

mata pelajaran maka penguasaan konsep akan semakin baik dan meningkat,

b. Karakteristik Pembelajaran Tematik

Sebagai suatu model pembelajaran di sekolah dasar, pembelajaran tematik

memiliki karakteristik-karakteristik sebagai berikut:

1) Berpusat pada siswa

Pembelajaran tematik berpusat pada siswa (student centered), hal ini sesuai

dengan pendekatan belajar modern yang lebih banyak menempatkan siswa

sebagai subjek belajar sedangkan guru lebih banyak berperan sebagai

fasilitator yaitu memberikan kemudahan-kemudahan kepada siswa untuk

melakukan aktivitas belajar.

2) Memberikan pengalaman langsung

Pembelajaran tematik dapat memberikan pengalaman langsung kepada siswa

(direct experiences). Dengan pengalaman langsung ini, siswa dihadapkan pada

sesuatu yang nyata (konkrit) sebagai dasar untuk memahami hal-hal yang

(24)

154 Pengembangan Pembelajaran IPA SD

3) Pemisahan matapelajaran tidak begitu jelas

Dalam pembelajaran tematik pemisahan antar mata pelajaran menjadi tidak

begitu jelas. Fokus pembelajaran diarahkan kepada pembahasan tema-tema

yang paling dekat berkaitan dengan kehidupan siswa.

4) Menyajikan konsep dari berbagai matapelajaran

Pembelajaran tematik menyajikan konsep-konsep dari berbagai mata pelajaran

dalam suatu proses pembelajaran. Dengan demikian, Siswa mampu

memahami konsep-konsep tersebut secara utuh. Hal ini diperlukan untuk

membantu siswa dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dalam

kehidupan sehari-hari.

5) Bersifat fleksibel

Pembelajaran tematik bersifat luwes (fleksibel) dimana guru dapat mengaitkan

bahan ajar dari satu mata pelajaran dengan mata pelajaran yang lainnya,

bahkan mengaitkannya dengan kehidupan siswa dan keadaan lingkungan

dimana sekolah dan siswa berada.

6) Hasil pembelajaran sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa

Siswa diberi kesempatan untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya

sesuai dengan minat dan kebutuhannya.

7) Menggunakan prinsip belajar sambil bermain dan menyenangkan

Hal-hal perlu diperhatikan jika kita akan melaksanakan model

pembelajaran tematik adalah bahwa tidak semua mata pelajaran harus dipadukan.

Pada pembelajaran tematik dimungkinkan terjadinya penggabungan beberapa

kompetensi dasar pada lintas semester. Pembelajaran tematik tidak dilaksanakan

jika kompetensi dasar tersebut tidak dapat dipadukan, oleh karen itu jangan

dipaksakan untuk dipadukan. Kompetensi dasar yang tidak dapat diintegrasikan

atau tidak tercakup pada tema tertentu dibelajarkan secara tersendiri dan tetap

diajarkan, baik melalui tema lain maupun disajikan secara tersendiri. Kegiatan

pembelajaran tematik menekankan kemampuan membaca, menulis, dan berhitung

serta penanaman nilai-nilai moral. Untuk keberhasilan pembelajaran, tema-tema

yang dipilih disesuaikan dengan karakteristik siswa, minat, lingkungan, dan

(25)

Pengembangan Pembelajaran IPA SD 155

Keunggulan model tematik terletak pada ciri-ciri. Beberapa ciri khas dari

pembelajaran tematik antara lain: 1) Pengalaman dan kegiatan belajar sangat

relevan dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan anak usia sekolah dasar; 2)

Kegiatan-kegiatan yang dipilih dalam pelaksanaan pembelajaran tematik bertolak

dari minat dan kebutuhan siswa; 3) Kegiatan belajar akan lebih bermakna dan

berkesan bagi siswa sehingga hasil belajar dapat bertahan lebih lama; 4)

Membantu mengembangkan keterampilan berpikir siswa; 5) Menyajikan kegiatan

belajar yang bersifat pragmatis sesuai dengan permasalahan yang sering ditemui

siswa dalam lingkungannya; dan 6) Mengembangkan keterampilan sosial siswa,

seperti kerjasama, toleransi, komunikasi, dan tanggap terhadap gagasan orang

lain.

c. Tahap-tahap Model Pembelajaran Tematik

Pelaksanaan pembelajaran tematik setiap hari dilakukan dengan

menggunakan tiga tahapan kegiatan yaitu kegiatan pembukaan/awal/pendahuluan,

kegiatan inti, dan kegiatan penutup.

Kegiatan Pendahuluan/awal/pembukaan

Kegiatan ini dilakukan terutama untuk menciptakan suasana awal pembelajaran

untuk mendorong siswa menfokuskan dirinya agar mampu mengikuti proses

pembelajaran dengan baik. Sifat dari kegiatan pembukaan adalah kegiatan untuk

pemanasan. Pada tahap ini dapat dilakukan penggalian terhadap pengalaman anak

tentang tema yang akan disajikan. Beberapa contoh kegiatan yang dapat dilakukan

adalah bercerita, kegiatan fisik/jasmani, dan menyanyi

Kegiatan Inti

Dalam kegiatan inti difokuskan pada kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk

pengembangan kemampuan baca, tulis dan hitung. Penyajian bahan pembelajaran

dilakukan dengan menggunakan berbagai strategi/metode yang bervariasi dan

(26)

156 Pengembangan Pembelajaran IPA SD Kegiatan Penutup/Akhir dan Tindak Lanjut

Sifat dari kegiatan penutup adalah untuk menenangkan. Beberapa contoh kegiatan

akhir/penutup yang dapat dilakukan adalah menyimpulkan/mengungkapkan hasil

pembelajaran yang telah dilakukan, mendongeng, membacakan cerita dari buku,

pantomim, pesan-pesan moral, musik/apresiasi musik.

Contoh jadwal pelaksanaan pembelajaran perhari

Contoh 1:

Kegiatan Jenis kegiatan

Kegiatan pembukaan Anak berkumpul bernyanyi sambil menari mengikluti irama musik

Kegiatan inti  Kegiatan untuk pengembangan membaca  Kegiatan untuk pengembangan menulis  Kegitan untuk pengembangan berhitung

Kegiatan penutup Mendongeng atau membaca cerita dari buku cerita

Contoh 2:

Kegiatan Jenis kegiatan

Kegiatan pembukaan Waktu berkumpul (anak m,enceritakan pengalkaman, menyanyi, melakukan kegiatan fisik sesuai dengan tema)

Kegiatan inti  Pengembangan kemampuan menulis (kegiatan kelompok besar)

 Pengembnagan kemampuan berhitung kegiatan kelompok kecil atau berpasangan)

 Melakukan pengamatan sesuai dengan tema, misalnya mengamati jenis kendaraan yang lewat pada tema transporasi, menggambar hewan hasil pengamatan

Kegiatan penutup  Mendongeng  Pesan-pesan moral  Musik/menyanyi

Contoh skenario dengan model pembelajaran tematik dapat dilihat pada website

(27)

Pengembangan Pembelajaran IPA SD 157

2.

Model Siklus Belajar (Learning Cycle Model)

Apa yang disebut model siklus belajar? Mengapa model siklus belajar

perlu dikembangkan guru termasuk guru SD? Pertanyaan ini mungkin muncul

dalam benak anda. Untuk menjawab semua pertanyaan ini, pelajarilah sub-Unit

4.2 ini dengan seksama agar dapat memecahkan permasalahan di atas.

a. Pengertian Model Siklus Belajar

Paradigma pembelajaran di sekolah mengalami pergeseran dari paradigma

teacher-oriented ke student-oriented. Pendekatan pembelajaran yang digunakan

dalam pembelajaran IPA di SD/MI berorientasi pada siswa. Peran guru bergeser

dari menentukan ‖apa yang akan dipelajari‖ ke ‖bagaimana menyediakan dan memperkaya pengalaman belajar siswa”. Pengalaman belajar diperoleh melalui serangkaian kegiatan untuk mengeksplorasi lingkungan melalui interaksi aktif

dengan teman, lingkungan dan nara sumber lain (Depdiknas, 2003). Pembelajaran

IPA yang berpusat pada siswa dan menekankan pentingnya belajar aktif berarti

mengubah persepsi tentang guru yang selalu memberikan informasi dan menjadi

sumber pengetahuan bagi siswa (NRC, 1996:20).

Pembelajaran IPA seyogianya melibatkan siswa dalam penyelidikan yang

berorientasi inkuiri, dengan interaksi antara siswa dengan guru dan siswa

lainnya. Siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan

pengetahuan ilmiah yang ditemukannya pada berbagai sumber, siswa menerapkan

materi IPA untuk mengajukan pertanyaan, siswa menggunakan pengetahuannya

dalam pemecahan masalah, perencanaan, membuat keputusan, diskusi kelompok,

dan siswa memperoleh asesmen yang konsisten dengan suatu pendekatan yang

aktif untuk belajar.

Pengembangan kemampuan siswa dalam berpikir dan bekerja ilmiah

berlandaskan inkuiri dapat dilakukan dengan pengenalan pemahaman secara

konseptual. Pemahaman secara konseptual ini dikembangkan dengan siklus

belajar yang dilakukan secara rutin oleh guru. Siklus belajar tersebut merupakan

model pembelajaran yang fleksibel, dalam arti bahwa metode belajar yang

(28)

158 Pengembangan Pembelajaran IPA SD

Siklus belajar pertama kali digunakan sebagai model pembelajaran dalam

program the Science Curriculum Improvement Study (SCIS). Siklus belajar ini

merupakan pendekatan yang ampuh untuk perancangan pembelajaran IPA yang

aktif dan efektif karena siklus belajar memberikan suatu cara berpikir dan

berperilaku yang konsisten dengan cara siswa belajar.

b. Tahap-tahap Model Siklus Belajar

Inti dari modul siklus belajar terdiri dari tiga fase yaitu fase eksplorasi,

fase eksplanasi dan fase aplikasi (Lawson, 1994:136). Siklus belajar ini kemudian

berkembang berdasarkan kebutuhan lapangan menjadi lima fase dan dikenal

dengan the 5 E Learning Cycle Model (Bybee, et al.,1989). Model siklus belajar

ini terdiri dari lima tahap kegiatan yaitu Engagement (pendahuluan), Exploration

(eksplorasi), Explanation (eksplanasi), Elaboration (elaborasi), dan Evaluation

(evaluasi). Secara struktural, model siklus belajar 5 tahap ini lebih sesuai dengan

struktur pembelajaran IPA yang terdiri dari kegiatan awal, inti dan penutup.

Kesesuaian tahapan siklus belajar dan pembelajaran IPA dapat dilihat pada tabel

di bawah ini.

Aktivitas dalam model siklus belajar bersifat fleksibel tetapi urutan fase

belajarnya bersifat tetap. Format belajar dalam siklus belajar dapat berubah tetapi

urutan setiap fase tersebut tidak dapat diubah atau dihapus, karena jika urutannya

diubah atau fasenya dihapus maka model yang dimaksud tidak berupa siklus

belajar. Kegiatan setiap tahap pada siklus belajar dapat dilihat pada tabel berikut.

Struktur Pembelajaran IPA The 5 E Learning Cycle

Kegiatan Awal Engagement

Kegiatan Inti Exploration

Explanation

Elaboration

(29)

Pengembangan Pembelajaran IPA SD 159 The 5 E Learning Cycle Model

Fase Aktivitas

Pendahuluan  Guru menunjukkan obyek, peristiwa atau mengajukan pertanyaan untuk memotivasi siswa

 Guru menghubungkan pengetahuan awal siswa dengan pengetahuan/kegiatan yang akan dilakukan siswa

Eksplorasi  Siswa mengeksplorasi obyek dan fenomena yang ditunjukkan secara konkrit

 Siswa melakukan aktivitas hands-on (praktikum) dengan bimbingan guru

Eksplanasi  Siswa menjelaskan pemahamannya tentang konsep dan proses yang terjadi pada aktivitas hands-on

 Guru memperkenalkan konsep dan keterampilan baru atau meluruskan konsep/keterampilan siswa yang keliru

Elaborasi  Siswa mengaplikasikan konsep baru dalam konteks lain untuk mengembangkan pemahaman dan keterampilannya

Evaluasi  Guru menilai pengetahuan, keterampilan dan kemampuan siswa. Kegiatan guru memberikan kemungkinan untuk

mengevaluasi kemampuan siswa dan efektivitas pembelajaran Diadaptasi dari Bybee, et al. (1989).

Pada fase pendahuluan, guru dapat menggali pengetahuan awal siswa

dengan menfokuskan perhatian dan minat siswa terhadap topik yang dibahas,

memunculkan pertanyaan dan memperoleh respons dari siswa. Fase ini juga

berguna untuk mengidentifikasi miskonsepsi atau salah konsep dalam pemahaman

siswa. Pada saat menggali pengetahuan awal, guru dapat mengajukan masalah

yang bertentangan. Misal, dengan demonstrasi benda A dan benda B yang

memiliki massa berbeda dijatuhkan dari ketinggian yang sama. Pertanyaan yang

dapat diajukan : ―benda manakah yang jatuh lebih dahulu ke lantai”? Berdasarkan demonstrasi tersebut siswa diharapkan memiliki jawaban yang

berbeda dengan siswa lain sehingga menimbulkan konflik kognitif pada siswa.

Dari respons siswa, guru dapat mengetahui pemahaman awal siswa tentang

konsep yang dibahas sebelum pembelajaran.

Pada fase eksplorasi, siswa belajar melalui aksi dan reaksi mereka sendiri

dalam situasi baru. Siswa mengeksplorasi materi dan gagasan baru dengan

(30)

160 Pengembangan Pembelajaran IPA SD

masalah yang tidak dapat dipecahkan dengan gagasan-gagasan siswa yang sudah

ada. Fase eksplorasi memberikan kesempatan pada siswa untuk menyuarakan

gagasan-gagasan yang bertentangan, yang dapat menimbulkan perdebatan dan

analisis dari alasan munculnya gagasan mereka. Analisis tersebut dapat

mengarahkan cara diskusi untuk menguji gagasan lainnya melalui prediksi.

Eksplorasi juga dapat membawa siswa pada identifikasi suatu pola keteraturan

dalam fenomena yang diteliti. Selama fase eksplorasi, siswa diberi kesempatan

untuk bekerjasama dengan siswalainnya tanpa instruksi dari guru melalui kegiatan

diskusi.

Pada fase eksplanasi, kegiatan diawali dengan pengenalan konsep baru

yang digunakan pada pola-pola yang diperoleh pada fase eksplorasi. Konsep baru

tersebut dapat diperkenalkan oleh guru, melalui buku bacaan, film atau media

lainnya. Selama fase eksplanasi guru memotivasi siswa untuk menjelaskan konsep

yang dibahas dengan kata-kata sendiri, mengajukan fakta dan klarifikasi terhadap

penjelasannya, dan mendengarkan secara kritis penjelasan siswa. Fase eksplanasi

selalu mengikuti fase eksplorasi dan berkaitan langsung dengan pola yang

ditemukan selama kegiatan eksplorasi.

Fase berikutnya adalah elaborasi atau dapat disebut juga aplikasi konsep.

Pada fase ini siswa menerapkan konsep atau keterampilan pada situasi baru.. Fase

ini memberikan kesempatan bagi siswa untuk menggunakan konsep-konsep yang

telah diperkenalkan untuk menyelidiki konsep-konsep tersebut lebih lanjut.

Penerapan konsep diarahkan pada kehidupan sehari-hari.

Fase terakhir adalah evaluasi yang dilakukan pada seluruh pengalaman

belajar siswa. Aspek yang dievaluasi pada fase ini adalah pengetahuan atau

keterampilan, aplikasi konsep, dan perubahan proses berpikir siswa. Fase evaluasi

juga memberikan kesempatan kepada siswa untuk menilai cara belajarnya,

mengevaluasi kemajuan belajar dan proses pembelajaran. Evaluasi dapat

dilakukan secara tertulis pada akhir pembelajaran atau secara lisan berupa

pertanyaan selama pembelajaran berlangsung.

Contoh skenario dengan model pembelajaran siklus belajar dapat dilihat

(31)

Pengembangan Pembelajaran IPA SD 161

C.

LATIHAN

1. Cermati kembali tugas-tugas latihan pada sub-Unit 4.1 dan contoh skenario

pembelajaran untuk model pembelajaran tematik dan siklus belajar pada

website

2. Susunlah skenario pembelajaran dengan model tematik dan siklus belajar

sesuai materi dan alokasi waktu bahan ajar pada penyelesaiaan Latihan

sub-unit 4.1.

D.

RANGKUMAN

Pembelajaan tematik adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan

tema untuk mengaitkan dua atau lebih mata pelajaran sehingga dapat memberikan

pengalaman bermakna kepada siswa. Landasan pembelajaran tematik mencakup

landasan filosofis, landasan psikologis, dan landasan yuridis.

Pembelajaran tematik menekankan keterlibatan siswa dalam proses belajar

secara aktif. Selain itu, pembelajaran tematik juga menekankan pada penerapan

konsep belajar sambil melakukan sesuatu (learning by doing). Manfaat yang

diperoleh bagi guru dan siswa apabila pembelajaran dilaksanakan dengan

memanfaatkan tema adalah menggabungkan beberapa kompetensi dasar dan

indikator serta isi mata pelajaran; siswa mampu melihat hubungan-hubungan yang

bermakna sebab isi/materi; pembelajaran menjadi utuh sehingga siswa akan

mendapat pengertian mengenai proses dan materi yang tidak terpecah-pecah.

Siklus belajar merupakan pendekatan yang ampuh untuk perancangan

pembelajaran IPA yang aktif dan efektif karena siklus belajar memberikan suatu

cara berpikir dan berperilaku yang konsisten dengan cara siswa belajar. Model

siklus belajar terdiri dari lima tahap kegiatan yaitu Engagement (pendahuluan),

Exploration (eksplorasi), Explanation (eksplanasi), Elaboration (elaborasi), dan

Evaluation (evaluasi). Secara structural, model siklus belajar 5 tahap ini lebih

sesuai dengan struktur pembelajaran IPA yang terdiri dari kegiatan awal, inti dan

penutup.

Pada fase pendahuluan, guru dapat menggali pengetahuan awal siswa

dengan menfokuskan perhatian dan minat siswa terhadap topik yang dibahas,

(32)

162 Pengembangan Pembelajaran IPA SD

eksplorasi, siswa belajar melalui aksi dan reaksi mereka sendiri dalam situasi

baru. Pada fase eksplanasi, kegiatan diawali dengan pengenalan konsep baru yang

digunakan pada pola-pola yang diperoleh pada fase eksplorasi. Pada fase elaborasi

atau dapat disebut juga aplikasi konsep, siswa menerapkan konsep atau

keterampilan pada situasi baru. Pada fase evaluasi memberikan kesempatan

kepada siswa untuk menilai cara belajarnya, mengevaluasi kemajuan belajar dan

proses pembelajaran. Evaluasi dapat dilakukan secara tertulis pada akhir

pembelajaran atau secara lisan berupa pertanyaan selama pembelajaran

berlangsung.

E.

TES FORMATIF

Jawablah pertanyaan dibawah ini untuk mengukur pemahaman anda pada materi

model-model pembelajaran IPA

.

1. Setiap model pembelajaran memiliki karakteristik yang membedakan model

tersebut dengan model yang lain. Sebutkan karakteristik model pembelajaran

tematik?

2. Model pembelajaran tematik merupakan model pembelajaran yang dianjurkan

digunakan pada pembelajaran di kelas awal. Mengapa?

3. Setiap model pembelajaran memiliki prosedur pembelajaran. Jelaskan

langkah-langkah model pembelajaran siklus belajar!

4. Jelaskan dasar pemikiran model pembelajaran siklus belajar!

F.

UMPAN BALIK

Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban sub-Unit 4.2 yang

terdapat pada bagian akhir Unit ini. Hitunglah jawaban Anda yang benar.

Gunakanlah rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda

terhadap materi sub-Unit 4.2.

Rumus:

Skor jawaban Anda yang benar

Tingkat penguasaan = X 100%

(33)

Pengembangan Pembelajaran IPA SD 163

Penentuan Skor : Setiap butir soal yang dijawab dengan benar (100%) diberi skor

25. Skor berikutnya ditentukan dengan persentase tingkat

kebenaran jawaban.

Arti tingkat penguasaan yang Anda capai :

90 – 100% = baik sekali

80 - 89% = baik

70 – 79% = cukup

< 70% = kurang

Bila Anda mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat melanjutkan

dengan Unit selanjutnya. Selamat untuk Anda ! Tetapi apabila tingkat

penguasaan Anda masih di bawah 80%, Anda harus mempelajari kembali materi

(34)

164 Pengembangan Pembelajaran IPA SD

SUB-UNIT 4.3

PENILAIAN PEMBELAJARAN IPA

A.

PENGANTAR

Kemampuan lain yang harus dimiliki guru adalah kemampuan

melaksanakan penilaian. Penilaian adalah proses pemberian keputusan terhadap

siswa berdasarkan kemampuan siswa.

Seiring perkembangan pengetahuan, aspek penilaian pembelajaran

mengalami perubahan. Pada kurikulum terbaru, yaitu KTSP, penilaian tidak hanya

difokuskan pada aspek kognitif saja tetapi juga aspek psikomotorik dan afektif.

Penilaian ini kemudian dikenal dengan penilaian berbasis kompetensi. Perubahan

ini membuat sebagian besar guru IPA bingung karena guru-guru tersebut banyak

yang belum paham dengan penilaian yang dikehendaki kurikulum.

Pada sub-Unit 4.3 ini mahasiswa akan diajak untuk mengenali berbagai

teknik penilaian berbasis kompetensi. Hal sangat penting bagi mahasiswa yang

sudah bertugas menjadi guru. Dengan demikian, mahasiswa akan berkembang

menjadi guru yang memiliki kompetensi guru yang profesional.

B.

URAIAN

Pengumpulan informasi tentang kemajuan belajar siswa dapat dilakukan

beragam teknik, baik berhubungan dengan proses belajar maupun hasil belajar.

Teknik mengumpulkan informasi tersebut pada prinsipnya adalah cara penilaian

kemajuan belajar siswa terhadap pencapaian standar kompetensi dan kompetensi

dasar. Penilaian adalah kegiatan menafsirkan data hasil pengukuran sehingga

diketahui apakah suatu program telah berhasil. Penilaian suatu kompetensi dasar

dilakukan berdasarkan indikator-indikator pencapaian hasil belajar, baik berupa

domain kognitif, afektif, maupun psikomotor. Ada beberapa teknik yang dapat

digunakan dalam penilaian, yaitu penilaian unjuk kerja, penilaian tertulis,

Gambar

Gambar Bentuk- bentuk  Bulan
tabel Kemampuan membuat kesimpulan

Referensi

Dokumen terkait

Skripsi dengan judul “Pengembangan Media Pembelajaran PALIHEBER (Papan Lingkaran Hewan Berputar) Mata Pelajaran IPA Kelas V SD” adalah hasil karya saya, dan dalam naskah

Skripsi dengan judul “Pengembangan Media Pembelajaran Animasi Tiga Dimensi Pada Mata Pelajaran IPA Untuk Siswa Kelas VI Sekolah Dasar” adalah hasil karya saya,

dalam mata pelajaran IPA antara lain semua benda di alam, fenomena atau.. kejadian alam yang meliputi sebab dan akibat dari kejadian

Kepraktisan penggunaan model pembelajaran ICARE-K dalam pembelajaran mata kuliah Pendidikan IPA SD dapat dilihat dari kemampuan mahasiswa dalam menggunakan LKM saat

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa media pembelajaran Berbasis Microsoft Powerpoint mata pelajaran IPA materi rangka manusia untuk siswa kelas IV SD Kansius

berbasis TIK mata pelajaran IPA, mampu mengoperasikan media pembelajaran berbasis TIK mata pelajaran IPA, mampu melaksanakan pembelajaran berbasis TIK mata

Permasalahan yang dihadapi dalam hal ini yaitu mengenai kebutuhan media serta metode pembelajaran baru untuk menunjang kegiatan belajar mengajar mata pelajaran IPA di

PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN POP-UP BOOK TERINTEGRASI MODEL PEMBELAJARAN POEWA DALAM MATA PELAJARAN IPA KELAS 5 SD UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA TUGAS