• Tidak ada hasil yang ditemukan

SENANDUNG DALAM TRADISI MENGAYUNKAN ANAK PADA MASYARAKAT MELAYU DI KABUPATEN BATUBARA STUDI TERHADAP BENTUK MUSIK DAN FUNGSI.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "SENANDUNG DALAM TRADISI MENGAYUNKAN ANAK PADA MASYARAKAT MELAYU DI KABUPATEN BATUBARA STUDI TERHADAP BENTUK MUSIK DAN FUNGSI."

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

SENANDUNG DALAM TRADISI MENGAYUNKAN ANAK

PADA MASYARAKAT MELAYU

DI KABUPATEN BATUBARA

( STUDI TERHADAP BENTUK MUSIK DAN FUNGSI )

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Oleh :

ACHMAD MIEKA HUSAEINI PINEM

209442001

JURUSAN SENDRATASIK

FAKULTAS BAHASA DAN SENI

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

(2)

SENANDUNG DALAM TRADISI MENGAYUNKAN ANAK

PADA MASYARAKAT MELAYU

DI KABUPATEN BATUBARA

( STUDI TERHADAP BENTUK MUSIK DAN FUNGSI )

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Oleh :

ACHMAD MIEKA HUSAEINI PINEM

209442001

JURUSAN SENDRATASIK

FAKULTAS BAHASA DAN SENI

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

(3)
(4)
(5)
(6)
(7)

i ABSTRAK

ACHMAD MIEKA HUSAEINI PINEM, NIM 209442001. Skripsi, SENANDUNG DALAM TRADISI MENGAYUNKAN ANAK PADA MASYARAKAT MELAYU DI KABUPATEN BATUBARA ( STUDI TERHADAP BENTUK MUSIK DAN FUNGSI ). Medan: Fakultas Bahasa dan Seni. Universitas Negeri Medan, 2013.

Penelitian ini bertujuan untuk membahas tentang proses tradisi mengayunkan anak, fungsi senandung, bentuk musik dan bentuk penyajian senandung dalam tradisi mengayunkan anak pada masyarakat Melayu di kabupaten Batubara.

Populasi penelitian ini adalah tokoh adat yang berjumlah 2 orang, seniman berjumlah 3 orang, dan masyarakat yang melaksanakan tradisi mengayunkan anak sebanyak 2 orang, sehingga jumlah populasinya adalah 7 orang. Sampel yang digunakan sebanyak 7 orang.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif, ditafsirkan dan dirumuskan antara data yang satu dengan data yang lain agar data tersebut akurat dan cermat. Teknik pengumpulan data meliputi studi kepustakaan, observasi, wawancara dan dokumentasi.

(8)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan

rahmat dan berkat-Nya sehingga Skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik.

Skripsi ini sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan di

Universitas Negeri Medan. Skripsi ini berjudul “Senandung Dalam Tradisi

Mengayunkan Anak Pada Masyarakat Melayu Di Kabupaten Batubara ( Studi

Terhadap Bentuk Musik Dan Fungsi )”.

Dalam menyelesaikan Skripsi ini tentunya tidak lepas dari bantuan

berbagai pihak baik moral maupun materil. Oleh karena itu, dengan ketulusan dan

kerendahan hati penulis mengucapkan terimakasih yang tiada terhingga kepada:

1. Prof. Dr. Ibnu Hajar, M.Pd selaku Rektor Universitas Negeri Medan,

2. Dr. Isda Pramuniati, M.Hum selaku Dekan Fakultas Bahasa dan Seni

Universitas Negeri Medan,

3. Dra. Tuti Rahayu, M.Si selaku Ketua Jurusan Sendratasik,

4. Uyuni Widiastuti, M.Pd selaku Sekretaris Jurusan Sendratasik, serta

Dosen Pembimbing Skripsi yang telah banyak memberikan bimbingan

dan motivasi yang sangat bermanfaat untuk penulis sehingga penulis

dapat menyelesaikan Skripsi,

5. Panji Suroso, M.Si selaku Kaprodi Pendidikan Seni Musik, sekaligus

(9)

6. Mukhlis Hasbullah, M.Sn selaku Dosen Pembimbing Skripsi yang

telah banyak memberikan bimbingan, arahan motivasi untuk penulis

sehingga penulis dapat menyelesaikan Skripsi serta,

7. Teristimewa kepada Ayahanda Tengku Mahmud dan Ibunda Nurhaida,

Saudara-saudaraku tersayang Tengku Ria Septieka Cahyani, Tengku

Muhammad Fajrin Al-fath, serta Nurul Anugrah tercinta yang telah

memberikan kasih sayang, baik moril maupun materil, motivasi, dan

doa yang tiada hentinya demi kesuksesan penulis.

Penulis juga menyadari bahwa Skripsi ini masih jauh dari yang

diharapkan, baik dari segi kalimat, isi, dan juga teknik penguraiannya. Oleh sebab

itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi

penyempurnaan Skripsi ini.

Akhir kata, semoga Skripsi ini bermanfaat bagi pengembangan ilmu

pengetahuan khususnya dibidang Pendidikan Seni Musik.

Medan, September 2013

Penulis,

Achmad Mieka Husaeini

(10)

v

DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR GAMBAR ... viii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 4

C. Pembatasan Masalah ... 5

D. Rumusan Masalah ... 6

E. Tujuan Penelitian ... 6

F. Manfaat Penelitian ... 7

BAB II LANDASAN TEORITIS DAN KERANGKA KONSEPTUAL ... 8

A. Landasan Teoritis ... 8

1. Pengertian Musik ... 8

2. Unsur-unsur Musik ... 9

a. Harmoni ... 9

b. Irama ... 10

(11)

vi

3. Bentuk Lagu/Struktur Lagu ... 11

4. Fungsi Musik ... 13

5. Tradisi Mengayunkan Anak ... 15

6. Senandung ... 16

7. Bentuk Penyajian ... 17

B. Kerangka Konseptual ... 18

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 20

A. Metode Penelitian ... 20

B. Lokasi Penelitian dan Waktu Penelitian ... 20

1. Lokasi Penelitian ... 21

2. Waktu Penelitian ... 21

C. Populasi dan Sampel ... 21

1. Populasi ... 21

2. Sampel ... 22

D. Tekhnik Pengumpulan Data ... 22

1. Observasi ... 23

2. Studi Pustaka ... 23

3. Wawancara ... 25

4. Dokumentasi ... 25

E. Tekhnik Analisis Data ... 26

BAB IV HASIL PENELITIAN ... 27

(12)

vii

1. Geografis ... 27

2. Demografi ... 28

3. Sejarah ... 30

B. Proses Tradisi Mengayunkan Anak ... 31

C. Fungsi Senandung ... 35

1. Fungsi Pengungkapan Emosional ... 35

2. Fungsi Hiburan ... 36

3. Fungsi Komunikasi ... 38

D. Bentuk Musik Senandung ... 38

E. Bentuk Penyajian Senandung ... 49

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 54

A. Kesimpulan ... 54

B. Saran ... 55

DAFTAR PUSTAKA ... 57

(13)

v

DAFTAR GAMBAR

4.1 Peta Kabupaten Batubara ... 27

4.2 Marhaban ... 33

4.3 Penabalan Nama ... 34

4.4 Anak dalam Buaian ... 36

4.5 Seniman Senandung ... 49

4.6 Tambourin dan Rebana ... 51

(14)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Manusia adalah makhluk yang berbudaya dan berperadaban. Budaya

dipikirkan, dilakukan, dan diciptakan oleh manusia. Sehingga kebudayaan

memiliki hubungan yang sangat erat dengan masyarakat. Menurut

Koentjaraningrat (2004 : 1) “dalam arti sempit, kebudayaan adalah kesenian”.

Namun para ahli ilmu sosial mengartikan konsep kebudayaan memiliki arti

yang sangat luas yaitu seluruh total dari pikiran, karya, dan hasil karya

manusia yang tidak berakar kepada nalurinya, melainkan dapat dihasilkan

setelah terjadinya proses belajar.

Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih terperinci tentang

kebudayaan, Koentjaraningrat menyusun kebudayaan ke dalam unsur-unsur

universal. Unsur-unsur kebudayaan tersebut antara lain: (1) Sistem religi dan

upacara keagamaan; (2) Sistem dan organisasi kemasyarakatan; (3) Sistem

pengetahuan; (4) Bahasa; (5) Kesenian; (6) Sistem pencaharian hidup; (7)

Sistem teknologi dan peralatan.

Konkrit kebudayaan terlihat pada masyarakat Melayu yang agak

berbeda jika dibandingkan dengan etnik-etnik lain di Nusantara, yang

biasanya menentukan kelompok etniknya berdasarkan keturunan atau

hubungan darah. Etnik Melayu atau masyarakat Melayu menentukan etniknya

berdasarkan budaya ( Sinar, 2002 : 6 ). Siapa pun boleh masuk Melayu,

(15)

2

dengan syarat mengikuti kebudayaan Melayu. Dengan demikian Melayu ini

bisa difahami dalam arti khusus sebagai etnik, rumpun Melayu, dan juga ras

Melayu.

Penyebaran etnis Melayu di Indonesia, khususnya di Sumatera Utara

berdasarkan pemerintahan kabupaten dan kota mencakup: Kabupaten

Langkat, Kota Binjai, Kota Medan, Kabupaten Deli Serdang, Kota Tebing

Tinggi, Kabupaten Batubara, Kabupaten Asahan, Kota Tanjung Balai, dan

Kabupaten Labuhan Batu. Kabupaten Batubara merupakan daerah yang

mayoritas masyarakatnya bersuku Melayu dan sampai saat ini masih

memegang erat tradisi dan kebudayaan mereka. Tradisi dan kebudayaan

tersebut tumbuh dan berkembang dipengaruhi oleh kesenian.

Salah satu bentuk kesenian tersebut adalah musik. Musik dapat

mencerminkan nilai-nilai dan prinsip-prinsip umum yang mendasari suatu

kebudayaan dan menghidupkan kebudayaan tersebut secara menyeluruh.

Seperti halnya pada masyarakat Melayu yang menggunakan musik dalam

kebudayaan atau tradisi mereka. Tradisi-tradisi tersebut yakni pada saat anak

lahir, penabalan nama anak, turun tanah, bercukur, mengayun, berkhitan,

acara memasuki rumah baru, pernikahan, mengirik padi, dan lain sebagainya.

Tradisi mengayunkan anak dahulunya dilakukan setelah anak berumur

kurang lebih dua bulan, namun dewasa ini tradisi tersebut sering dilakukan

bersamaan dengan mencukur rambut dan menabalkan nama anak. Proses

pelaksanaan tradisi tersebut biasanya dilaksanakan dengan mengikuti

(16)

3

marhaban, setelah itu menabalkan nama anak, senandung, kemudian ditutup

dengan doa. Aturan atau susunan acara tersebut sudah menjadi bagian dari

tradisi itu sendiri, karena selalu dilaksanakan berurutan oleh tuan rumah.

Senandung adalah musik asli Melayu. Senandung merupakan

kesenian tradisional masyarakat Melayu yang dalam penyajiannya tanpa

diiringi oleh alat musik. Senandung merupakan nyanyian rakyat yang hidup

dan berkembang sesuai dengan perkembangan jiwa para masyarakat

pendukungnya. Sehingga seiiring berjalannya waktu, dalam penyajiannya,

senandung sering diiringi dengan alat musik, seperti rebana, tamborin, bahkan

keyboard atau organ tunggal.

Senandung sama halnya dengan musik lain, mempunyai bentuk,

berupa nada, irama, melodi, dan lain sebagainya. Senandung biasanya

dibawakan secara solo dengan nada yang tinggi. Tidak semua orang dapat

membawakan senandung sebab selain harus memiliki suara yang tinggi juga

harus tahu cengkok senandung yang berbeda dengan nyanyian rakyat Melayu

lainnya. Keindahan senandung terlihat dari keindahan suara penyenandung,

rima, nada, dan irama. Senandung adalah nyanyian yang berisikan syair yang

sarat dengan nasihat-nasihat.

Senandung di Kabupaten Batubara merupakan bagian dari susunan

acara tradisi mengayunkan anak yang berisikan syair-syair tentang

nasihat-nasihat. Senandung di Kabupaten Batubara sering dibawakan dengan iringan

alat musik rebana, tamborin, maupun keyboard. Berdasarkan fakta-fakta di

(17)

4

ilmiah yang berjudul “Senandung Dalam Tradisi Mengayunkan Anak Pada Masyarakat Melayu Di Kabupaten Batubara ( Studi Terhadap Bentuk Musik Dan Fungsi )”.

B. Identifikasi Masalah

Ali dalam Fidya (2012 : 5) menyatakan bahwa : “ Untuk kepentingan

karya ilmiah sesuatu masalah, yang perlu diperhatikan masalah penulisan

sedapat mungkin diusahakan tidak terlalu luas, masalah yang luas akan

menghasilkan analisis yang sempit dan sebaliknya bila ruang lingkup masalah

dipersempit maka akan diharapkan analisis secara luas dan mendalam”.

Dengan adanya suatu identifikasi masalah, penulis akan lebih mudah

mengenal permasalahan yang akan diteliti sehingga penulisan akan mencapai

sasaran yang tepat. Untuk itu dari uraian latar belakang yang ada di atas,

penulis membuat identifikasi masalah sebagai berikut :

1. Bagaimana gambaran umum orang Melayu?

2. Bagaimana proses tradisi mengayunkan anak di Kabupaten Batubara?

3. Apakah yang dimaksud dengan senandung?

4. Makna apa yang terkandung dalam syair-syair senandung?

5. Kapan saja senandung dapat dibawakan?

6. Bagaimana bentuk penyajian senandung dalam tradisi mengayunkan anak

di Kabupaten Batubara?

7. Bagaimana bentuk musik senandung dalam tradisi mengayunkan anak

(18)

5

8. Bagaimana fungsi senandung dalam tradisi mengayunkan anak pada

masyarakat Melayu di Kabupaten Batubara?

C. Pembatasan Masalah

Mengingat luasnya cakupan masalah yang diidentifikasi serta

keterbatasan waktu, dana, dan kemampuan teoretis, maka peneliti merasa

perlu mengadakan pembatasan masalah untuk memudahkan masalah yang

dihadapi dalam penelitian. Batasan masalah merupakan upaya untuk

menetapkan batas-batas permasalahan dengan jelas, yang memungkinkan kita

untuk mengidentifikasi faktor mana saja yang termasuk kedalam ruang

lingkup permasalahan dan faktor mana yang tidak bisa. Dari keterangan di

atas maka penulis membatasi masalah dalam penelitian ini adalah sebagai

berikut:

1. Bagaimana proses tradisi mengayunkan anak di Kabupaten Batubara?

2. Bagaimana fungsi Senandung dalam tradisi mengayunkan anak pada

masyarakat Melayu di Kabupaten Batubara?

3. Bagaimana bentuk musik Senandung dalam tradisi mengayunkan anak

pada masyarakat Melayu di Kabupaten Batubara?

4. Bagaimana bentuk penyajian Senandung dalam tradisi mengayunkan anak

(19)

6

D. Rumusan Masalah

Dalam sebuah penulisan, sebelum melakukan pengumpulan data di

lapangan, diperlukan rumusan dari topik atau kajian yang menjadi dasar

dalam pelaksanaan penulisan berdasarkan dari batasan masalah yang sudah

ditentukan. Untuk itu berdasarkan dari uraian latar belakang, identifikasi

masalah, dan pembatasan masalah, maka dapat diperoleh rumusan masalah

yang menjadi kajian penulisan sebagai berikut : “Bagaimana Bentuk Musik

dan Fungsi Senandung Dalam Tradisi Mengayunkan Anak Pada Masyarakat

Melayu Di Kabupaten Batubara”.

E. Tujuan Penelitian

Setiap kegiatan senantiasa berorientasi pada tujuan, tanpa adanya

tujuan yang jelas maka arah kegiatan tidak terarah, karena tidak tahu apa yang

diinginkan atau dicapai dari kegiatan tersebut. Maka penulis membuat tujuan

penulisan yang ingin dicapai dalam penulisan ini adalah :

1. Mendeskripsikan proses tradisi mengayunkan anak di Kabupaten

Batubara.

2. Mendeskripsikan fungsi Senandung dalam tradisi mengayunkan anak pada

masyarakat Melayu di Kabupaten Batubara.

3. Mendeskripsikan bentuk musik Senandung dalam tradisi mengayunkan

anak pada masyarakat Melayu di Kabupaten Batubara.

4. Mendeskripsikan bentuk penyajian Senandung dalam tradisi mengayunkan

(20)

7

F. Manfaat Penelitian

Setiap penulisan pastilah memiliki manfaat baik secara langsung

maupun tidak, karena penelitan dilakukan untuk menambah pengetahuan dan

menjawab berbagai pertanyaan yang telah dirumuskan oleh penulis. Setelah

penulisan ini selesai dilakukan, akan didapat hasil penulisan yang akan

memberi manfaat sebagai berikut :

1. Dapat mendorong dan memberikan kesempatan kepada generasi-generasi

yang akan datang terutama masyarakat Melayu yang ada di Kabupaten

Batubara untuk dapat melestarikan kesenian-kesenian yang mereka miliki.

2. Untuk dapat memahami dan mengetahui bentuk musik dan fungsi

senandung dalam tradisi mengayunkan anak pada masyarakat Melayu di

Kabupaten Batubara.

3. Untuk dapat menjaga kesenian senandung dalam tradisi mengayunkan

anak di Kabupaten Batubara.

4. Sebagai penambah wawasan kepada seluruh masyarakat luas yang

membaca tulisan ini.

5. Sebagai bahan referensi dan acuan bagi peneliti berikutnya yang memiliki

keterkaitan dengan topik ini.

(21)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Dari hasil penelitian dan pembahasan pada bab sebelumnya, dapat

ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :

1. Tradisi mengayunkan anak di Kabupaten Batubara sering dilakukan

bersamaan dengan mencukur rambut dan menabalkan nama anak pada usia

kurang lebih dua bulan. Susunan acara pada tradisi mengayunkan anak, yaitu:

pembacaan shalawat, Al-Barzanji, Marhaban, menabalkan nama anak, do’a,

hiburan, dan senandung.

2. Senandung di Kabupaten Batubara memiliki fungsi pengungkapan emosional.

fungsi hiburan, dan fungsi komunikasi. Fungsi pengungkapan emosional

dapat dilihat pada lirik senandung dan juga pecahannya yang mengungkapkan

kesyukuran atas kelahiran anak, juga kasih sayang seorang ibu terhadap anak.

Fungsi hiburan dapat dinikmati melalui lirik senandung dan pecahannya yang

berupa pantun, serta melodi dan iringan musiknya. Fungsi komunikasi dapat

dilihat pada peran senandung sebagai media ekspresi kecintaan orang tua

terhadap anaknya, dengan harapan anaknya dapat tidur nyenyak.

3. Senandung memiliki bentuk musik A(a,a’) bridge, B(b,a”) C(c,c’,c”) dan pecahan Iyolah Molek memiliki bentuk musik A(a,a’) A’(a”,a”’).

4. Bentuk penyajian senandung dalam tradisi mengayunkan anak pada

masyarakat Melayu di Kabupaten Batubara yaitu dinyanyikan oleh grup

(22)

dilakukan di dalam rumah dengan menggunakan microphone atau pengeras

suara, dan menjadi bagian acara dalam tradisi mengayunkan anak, yang

meliputi pembacaan Shalawat, Al-Barzanji, Marhaban dan tepung tawar,

penabalan nama anak, do’a, hiburan, kemudian senandung. Pemain dalam

senandung berjumlah 4 orang dan maksimalnya tidak ditentukan. Terdiri dari

1 orang penyenandung yang memainkan tambourin, dan 3 orang lainnya

mamainkan rebana sebagai pengiring. Senandung dinyanyikan secara medley

atau bersambungan dengan pecahan lagu lainnya dengan diiringi tambourin

dan rebana. Senandung dalam tradisi mengayunkan anak dilaksanakan pada

siang hari dan tidak menggunakan pentas melainkan berada dalam rumah

masyarakat yang melaksanakan tradisi mengayunkan anak. Penonton pada

umumnya adalah kaum ibu-ibu yang diundang oleh tuan rumah dan datang

silih berganti.

B. Saran

Dari beberapa kesimpulan di atas, peneliti mengajukan beberapa

saran, antara lain :

1. Hendaknya pemerintah lebih memperhatikan lagi kesenian senandung dengan

menyertakannya dalam berbagai pementasan serta mendokumentasikannya

dalam bentuk audio maupun audiovisual agar mempunyai bukti fisik yang

otentik sehingga hak kepemilikkannya resmi dan bukan hanya sekedar

pengakuan saja tanpa mempunyai bukti hak milik kesenian senandung

(23)

2. Hendaknya kesenian senandung tetap dilestarikan dan diajarkan kepada

generasi penerus karena begitu sedikitnya seniman senandung yang ada

sekarang ini, serta diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari karena sangat

(24)

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rieneke Cipta.

Banoe, Pono. 2003. Kamus Musik. Yogyakarta: Kanisius.

Djohan. 2005. Psikologi Musik. Yogyakarta: Buku Baik.

Djelantik, A.A.M. 1999. Estetika: Sebuah Pengantar. Bandung: Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia.

Havilland, A. William. 1999. Function And Form of Presentation of Musical Traditions.

Koentjaraningrat. 2004. Kebudayaan Mentalitas Dan Pembangunan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Langer, K. Suzanne. 1996. Studies in Music And Culture.

Lomax, Alan. 1968. Folksong Style And Culture. Transaction Book. New Jersey.

Maria, Anna. 2012. Keberadaan Nyanyian Urdo-Urdo Pada Masyarakat Simalungun Di Desa Raya Huluan Kecamatan Raya Kabupaten Simalungun. Jurnal. Medan: Universitas Negeri Medan.

Maryaeni. 2005. Metode Penelitian Kebudayaan. Jakarta: Bumi Aksara.

Merriam, Alan P. 1964. The Anthropology of Music. Evaston Ill: North Western University Press.

Murgianto, Sal. 1983. Koreografi Pengetahuan Dasar Komposisi Tari. Jakarta: Depdikbud.

Radcliffe-Brown, A. R. 1952. Structure And Function in Primitive Society. Glencoe: Free Press.

Santayana, George. ____. Reason in Art, Bab-4 “Music”.

(25)

Siswanto, Edi. 2010. Kajian Semiotika Budaya Terhadap Syair Dendang Siti Fatimah Pada Upacara Mengayun Anak Masyarakat Melayu Tanjung Pura. Jurnal. Medan: Universitas Sumatera Utara.

Spradly, James. 2008. Participants Observation. Rinehart and Wiston.

Sugiono. 2008. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Takari. ____. Zapin Melayu Dalam Peradaban Islam: Sejarah, Struktur Musik, Dan Lirik. Jurnal. Medan: Universitas Sumatera Utara.

Tampubolon, I. 2007. Teori Dasar Musik I-II. Medan: Bahan Kuliah TDM.

Trikartika, Fidya. 2012. Sejarah Tari Menguyak Pucuk Ciptaan Bapak Fauzi di Kota Tanjung Balai. Skripsi. Medan: Universitas Negeri Medan.

Zulham. 1993. Bahasa Senandung Melayu Dialek Asahan Ditinjau Dari Segi Morfologis. Jurnal. Medan: Universitas Sumatera Utara.

Laili Hazwani. 2011. Estetika Senandung Babussalam Masyarakat Melayu. Jurnal. Medan: Universitas Sumatera Utara.

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keberadaan musik mamözi göndra, bentuk penyajian musik mamözi göndra, fungsi musik mamözi göndra dan instrumen

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tata upacara Pangguni Uthiaram, instrument yang digunakan, bentuk penyajian dan fungsi musik pada upacara Pangguni Uthiaram di

Bentuk penyajian musik becanang dimainkan dengan menggunakan beberapa alat musik tradisi yaitu terdiri dari Gegedem, canang, memong dan gong, musik becanang ini

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk penyajian, fungsi musik, dan alat musik pada Musik Paranaue Pada Komunitas Seni Bela Diri Ginga Firme Capoeira

Penelitian ini bertujuan untuk membahas tentang proses pertunjukan tari Tuah Kukur,asal usul tari Tuah Kukur, fungsi tari Tuah Kukur, Bentuk tari Tuah Kukur dan penyajian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Bentuk Penyajian dan Fungsi Musik Campursari Pada Pernikahan Etnis Jawa di Kecamatan Tanjung Morawa Kabupaten Deli

Kata Kunci : Fungsi, Bentuk Penyajian Instrumen, Karungut ... Bentuk penyajian musik.. Penelitian yang dilakukan oleh Argo Binantoro angkatan 2010 mahasiswa Pendidikan Seni

Penelitian ini membahas masalah mengenai bagaimana struktur dan makna teks senandung jolo , struktur musikalnya, dan fungsi dan penggunannya dalam masyarakat Jambi di