• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peraturan Perundangan PP NO 17 TH 1990

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Peraturan Perundangan PP NO 17 TH 1990"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

(1)

NOMOR 17 TAHUN 1990 TENTANG

PERUSAHAAN UMUM (PERUM) LISTRIK NEGARA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang : a. bahwa dengan berl akunya Undang-undang Nomor 15 Tahun 1985 t ent ang Ket enagalist rikan dan Perat uran Pemerint ah Nomor 3 Tahun 1983 t ent ang Tat a Cara Pembinaan dan Pengawasan Perusahaan Jawat an (PERJAN), Perusahaan Umum (PERUM), dan Perusahaan Perseroan (PERSERO) sebagaimana t elah diubah dengan Perat uran Pemerint ah Nomor 28 Tahun 1983, maka pengat uran Perusahaan Umum (PERUM) List rik Negara yang didirikan dengan Perat uran Pemerint ah Nomor 18 Tahun 1972 sebagaimana t elah diubah dengan Perat uran Pemerint ah Nomor 54 Tahun 1981 perlu disesuaikan;

b. bahwa penyesuaian sebagaimana dimaksud dalam huruf a perlu diat ur dengan Perat uran Pemerint ah;

Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (2) dan Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945;

2. Undang-undang Nomor 19 Prp Tahun 1960 t ent ang Perusahaan Negara (Lembaran Negara Tahun 1960 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Nomor 1989);

3. Undang-undang Nomor 9 Tahun 1969 t ent ang Penet apan Perat uran Pemerint ah Penggant i Undang-undang Nomor 1 Tahun 1969 t ent ang Bent uk-bent uk Usaha Negara (Lembaran Negara Tahun 1969 Nomor 16, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2890) menj adi Undang-undang (Lembaran Negara Tahun 1969 Nomor 40, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2904);

(2)

5. Perat uran Pemerint ah Nomor 10 Tahun 1989 t ent ang Penyediaan dan Pemanf aat an Tenaga List rik (Lembaran Negara Tahun 1989 Nomor 24, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3394);

6. Perat uran Pemerint ah Nomor 3 Tahun 1983 t ent ang Tat a Cara Pembinaan dan Pengawasan Perusahaan Jawat an (PERJAN), Perusahaan Umum (PERUM), dan Perusahaan Perseroan (PERSERO) (Lembaran Negara Tahun 1983 Nomor 3, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3246) sebagaimana t elah diubah dengan Perat uran Pemerint ah Nomor 28 Tahun 1983 (Lembaran Negara Tahun 1983 Nomor 37);

MEMUTUSKAN :

Menet apkan : PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA TENTANG PERUSAHAAN UMUM (PERUM) LISTRIK NEGARA.

BAB I

KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Perat uran Pemerint ah ini yang dimaksud dengan :

1. Pemerint ah adalah Pemerint ah Republik Indonesia;

2. Presiden adalah Presiden Republik Indonesia;

3. Ment eri adalah Ment eri yang bert anggung j awab dalam bidang ket enagalist rikan;

4. Direkt ur Jenderal adalah Direkt ur Jenderal yang bert anggung j awab dalam bidang ket enagalist rikan;

(3)

6. Perusahaan adalah Perusahaan Umum (PERUM) List rik Negara;

7. Direksi adalah Direksi Perusahaan Umum (PERUM) List rik Negara;

8. Direkt ur Ut ama adalah Direkt ur Ut ama Perusahaan Umum (PERUM) List rik Negara;

9. Pegawai adalah Pegawai pada Perusahaan Umum (PERUM) List rik Negara;

10. Pembinaan adalah kegiat an unt uk memberikan pedoman bagi Perusahaan dalam perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengendalian dengan maksud agar Perusahaan dapat melaksanakan t ugas dan f ungsinya secara berdaya guna dan berhasil guna sert a dapat berkembang dengan baik;

11. Pengawasan adalah seluruh proses kegiat an penilaian t erhadap Perusahaan dengan t uj uan agar Perusahaan dapat melaksanakan t ugas dan f ungsinya dengan baik dan berhasil mencapai t uj uan yang t elah dit et apkan;

12. Pemeriksaan adalah kegiat an unt uk menilai Perusahaan dengan cara membandingkan ant ara keadaan yang sebenarnya dengan keadaan yang seharusnya dilakukan, baik dalam bidang keuangan maupun dalam bidang t eknis operasional;

13. Pengelolaan Perusahaan adalah kegiat an perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengendalian Perusahaan sesuai dengan pembinaan yang digariskan oleh Ment eri;

BAB II

PENDIRIAN PERUSAHAAN

Pasal 2

(4)

Pemerint ah Nomor 54 Tahun 1981, dilanj ut kan berdirinya dan dit et apkan sebagai Pemegang Kuasa Usaha Ket enagalist rikan dan meneruskan usaha-usaha selanj ut nya berdasarkan ket ent uan-ket ent uan dalam Perat uran Pemerint ah ini.

BAB III

ANGGARAN DASAR PERUSAHAAN

Bagian Pert ama Umum

Pasal 3

(1) Perusahaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 adalah Badan Usaha Milik Negara di bidang ket enagalist rikan yang diserahi t ugas semat a-mat a unt uk melaksanakan usaha penyediaan t enaga list rik unt uk kepent ingan umum dan dapat diberi t ugas unt uk melakukan pekerj aan usaha penunj ang t enaga list rik.

(2) Perusahaan melakukan usaha-usahanya berdasarkan ket ent uan-ket ent uan dalam Perat uran Pemerint ah ini dan perat uran perundang-undangan yang berlaku.

(3) Dengan t idak mengurangi ket ent uan-ket ent uan dalam Perat uran Pemerint ah ini, t erhadap Perusahaan berlaku Hukum Indonesia

Bagian Kedua Tempat Kedudukan

Pasal 4

(1) Perusahaan bert empat kedudukan dan berkant or pusat di Jakart a.

(5)

dit et apkan oleh Presiden at as usul Ment eri.

(3) Dalam rangka pengembangan, Perusahaan dapat mengadakan sat uan organisasi pelaksana yang dit et apkan oleh Direksi set elah mendapat perset uj uan Ment eri.

Bagian Ket iga Sif at , Maksud dan Tuj uan

Pasal 5

(1) Sif at usaha dari Perusahaan adalah menyediakan t enaga list rik bagi kepent ingan umum dan sekaligus memupuk keunt ungan berdasarkan prinsip pengelolaan Perusahaan.

(2) Maksud didirikannya Perusahaan adalah unt uk mengusahakan penyediaan t enaga list rik dalam j umlah dan mut u yang memadai dengan t uj uan unt uk :

a. meningkat kan kesej aht eraan dan kemakmuran rakyat secara adil dan merat a sert a mendorong peningkat an kegiat an ekonomi;

b. mengusahakan keunt ungan agar dapat membiayai pengembangan penyediaan t enaga list rik unt uk melayani kebut uhan masyarakat ;

(6)

Bagian Keempat Lapangan Usaha

Pasal 6

(1) Dengan mengindahkan prinsip-prinsip ekonomi dan t erj aminnya keselamat an kekayaan Negara, Perusahaan menyelenggarakan penyediaan t enaga list rik yang meliput i kegiat an pembangkit an, t ransmisi dan dist ribusi sampai dengan t it ik pemakaian.

(2) Dalam menyelenggarakan usaha sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), Perusahaan melakukan perencanaan dan pembangunan sarana penyediaan t enaga list rik, dan pengembangan penyediaan t enaga list rik.

(3) Dengan perset uj uan Ment eri, Perusahaan dapat diberi t ugas pekerj aan usaha penunj ang penyediaan t enaga list rik.

Pasal 7

Dalam melaksanakan usaha-usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1), at as perset uj uan Ment eri, Perusahaan dapat bekerj a sama dengan badan usaha lain.

Bagian Kelima Modal

Pasal 8

(1) Modal Perusahaan adalah kekayaan Negara yang dipisahkan dari Anggaran Pendapat an dan Belanj a Negara dan t idak t erbagi at as saham-saham.

(7)

Ment eri Keuangan sesuai dengan hasil perhit ungan yang dilakukan bersama oleh Depart emen Keuangan dan Depart emen yang bert anggung j awab dalam bidang ket enagalist rikan.

(3) Set iap penambahan modal yang berasal dari kekayaan Negara yang dipisahkan dilakukan dengan Perat uran Pemerint ah.

(4) Perusahaan dapat menambah modalnya dengan dana yang dibent uk dan dipupuk secara int ern menurut ket ent uan dalam Pasal 54.

(5) Perusahaan t idak mengadakan cadangan diam at au cadangan rahasia.

(6) Semua alat -alat likuid (liquide) yang t idak segera diperlukan oleh Perusahaan disimpan dalam bank milik Negara yang diset uj ui oleh Ment eri.

Pasal 9

(1) Pembelanj aan unt uk invest asi yang dilaksanakan oleh Perusahaan dapat berasal dari :

a. dana int ern Perusahaan;

b. penyert aan Negara melalui Anggaran Pendapat an dan Belanj a Negara;

c. pinj aman dari dalam dan/ at au luar negeri;

d. sumber-sumber lainnya yang sah.

(8)

Pasal 10

(1) Perusahaan dapat memperoleh dan menggunakan dana yang diperoleh unt uk mengembangkan usahanya melalui pengeluaran obligasi at au alat -alat yang sah lainnya.

(2) Pengeluaran obligasi at au alat -alat yang sah lainnya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), t ermasuk ket ent uan-ket ent uan yang berhubungan dengan it u, diat ur dengan Perat uran Pemerint ah.

Pasal 11

Set iap kegiat an penyerahan, pemindaht anganan, pembebanan, penghapusan akt iva t et ap, penerimaan pinj aman j angka menengah/ panj ang, pemberian pinj aman dalam bent uk dan cara apapun, t idak menagih lagi, menghapuskan dari pembukuan piut ang dan persediaan barang dapat dilakukan oleh Direksi at as izin Ment eri set elah mendapat perset uj uan t erlebih dahulu dari Ment eri Keuangan.

Pasal 12

Pembebanan t ugas t ambahan kepada Perusahaan di luar t ugas pokoknya yang menimbulkan akibat keuangan t erhadap anggaran Perusahaan dit et apkan oleh Ment eri set elah mendapat perset uj uan dari Ment eri Keuangan.

Bagian Keenam

(9)

Pasal 13

Perusahaan dipimpin dan dikelola ol eh suat u Direksi yang t erdiri dari seorang Direkt ur Ut ama dan sebanyak-banyaknya 4 (empat ) orang Direkt ur sesuai dengan bidang usahanya.

Pasal 14

(1) Pembinaan t erhadap Perusahaan dilakukan oleh Ment eri, yang dalam pelaksanaannya dibant u oleh Direkt ur Jenderal berdasarkan ket ent uan-ket ent uan yang dit et apkan lebih lanj ut oleh Ment eri.

(2) Direksi at au Direkt ur Ut ama unt uk dan at as nama Direksi menerima pet unj uk-pet unj uk dari dan bert anggung j awab kepada Ment eri t ent ang kebij aksanaan umum unt uk menj alankan t ugas-t ugas pokok Perusahaan dan hal-hal lain yang dianggap perlu.

(3) Pelaksanaan t anggung j awab administ rat if f ungsional Perusahaan sebagai badan usaha milik Negara t erhadap pemerint ah, dalam hal ini Ment eri dan Ment eri Keuangan, dilakukan oleh Direkt ur Ut ama at as nama Direksi.

Pasal 15

Tugas dan wewenang Direksi adalah sebagai berikut :

a. memimpin, mengurus dan mengelola Perusahaan sesuai dengan maksud dan t uj uan Perusahaan dengan senant iasa berusaha meningkat kan daya guna dan hasil guna dari Perusahaan;

b. menguasai, memelihara, dan mengurus kekayaan Perusahaan;

(10)

d. melaksanakan kebij aksanaan umum dalam mengurus Perusahaan yang t elah digariskan oleh Ment eri;

e. menet apkan kebij aksanaan Perusahaan sesuai dengan kebij aksanaan umum yang dit et apkan oleh Ment eri;

f . menyiapkan pada wakt unya rencana kerj a t ahunan Perusahaan lengkap dengan anggaran keuangan;

g. mengadakan dan memelihara t at a buku dan administ rasi Perusahaan sesuai dengan kelaziman yang berlaku bagi suat u Perusahaan;

h. menyiapkan susunan orgarnisasi Perusahaan lengkap dengan perincian t ugasnya;

i. mengangkat dan memberhent ikan Pegawai sesuai dengan perat uran kepegawaian yang berlaku bagi Perusahaan;

j . menet apkan gaj i, pensiun/ j aminan hari t ua dan penghasilan lain bagi Pegawai sert a mengat ur semua hal kepegawaian lainnya, sesuai dengan ket ent uan perat uran perundang-undangan yang berlaku ;

k. memberikan segala ket erangan t ent ang keadaan dan j alannya Perusahaan baik dalam bent uk laporan t ahunan, maupun laporan berkala menurut cara dan wakt u yang dit ent ukan dalam Perat uran Pemerint ah ini sert a set iap kali dimint a oleh Ment eri;

l. menj alankan kewaj iban-kewaj iban lainnya berdasarkan pet unj uk Ment eri.

Pasal 16

(1) Dalam menj alankan t ugas-t ugas pokok Perusahaan :

(11)

b. Para Direkt ur berhak dan berwenang bert indak at as nama Direksi, masing-masing unt uk bidangnya dalam bat as-bat as yang dit ent ukan dalam perat uran t at a t ert ib dan t at a cara menj alankan pekerj aan Direksi.

(2) Apabila Direkt ur Ut ama berhalangan t et ap menj alankan pekerj aannya at au apabila j abat an it u t erluang dan penggant inya belum diangkat at au belum memangku j abat annya, maka j abat an Direkt ur Ut ama dipangku oleh Direkt ur yang t ert ua dalam masa j abat an berdasarkan penunj ukan sement ara Ment eri dan apabila Direkt ur dimaksud t idak ada at au berhalangan t et ap, maka j abat an t ersebut dipangku oleh Direkt ur lain berdasarkan penunj ukan sement ara Ment eri, keduanya dengan kekuasaan dan wewenang Direkt ur Ut ama.

(3) Apabila semua anggot a Direksi berhalangan t et ap menj alankan pekerj aannya at au j abat an Direksi t erluang seluruhnya dan belum diangkat penggant inya at au belum memangku j abat annya, maka unt uk sement ara wakt u pimpinan dan pengurusan Perusahaan dij alankan oleh seorang Pej abat Direksi yang dit unj uk oleh Ment eri.

(4) Dalam menj alankan t ugas dan wewenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 huruf c, Direksi dapat melaksanakannya sendiri at au menyerahkan kekuasaan t ersebut kepada :

a. Seorang at au beberapa orang anggot a Direksi, at au

b. Seorang at au beberapa orang Pegawai baik sendiri maupun bersama-sama, at au

c. Orang at au badan lain,

yang khusus dit unj uk unt uk hal t ersebut .

(12)

(6) Gaj i, t unj angan, emolumen, dan penghasilan lain dari para anggot a Direksi dit et apkan oleh Ment eri, dengan memperhat ikan perat uran perundangan-undangan yang berlaku.

Pasal 17

(1) Anggot a Direksi diangkat dan diberhent ikan oleh Presiden at as usul Ment eri set elah mendengar pert imbangan Ment eri Keuangan.

(2) Anggot a Direksi diangkat unt uk masa 5 (lima) t ahun dan set elah masa j abat annya berakhir dapat diangkat kembali.

(3) Dalam hal-hal t ersebut di bawah ini, Presiden at as usul Ment eri dapat memberhent ikan seluruh at au salah seorang anggot a Direksi meskipun masa j abat annya sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) belum berakhir karena :

a. mut asi j abat an unt uk kepent ingan Perusahaan dan Negara;

b. at as permint aan sendiri,

c. melakukan perbuat an at au sikap yang merugikan Perusahaan;

d. melakukan t indakan at au sikap yang bert ent angan dengan kepent ingan Negara;

e. cacat f isik at au ment al yang mengakibat kan t idak dapat melaksanakan t ugasnya;

f . meninggal dunia;

g. t idak cukup cakap at au t ernyat a t idak melaksanakan t ugasnya dengan baik;

h. t idak melaksanakan ket ent uan-ket ent uan dalam anggaran dasar Perusahaan.

(13)

t idak dengan hormat .

(5) Sebelum pemberhent ian karena alasan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) huruf c dan huruf d dilakukan, kepada anggot a Direksi yang bersangkut an diberi kesempat an unt uk membela diri secara t ert ulis yang dit uj ukan kepada Ment eri yang harus dilaksanakan dalam wakt u 1 (sat u) bulan set elah anggot a Direksi yang bersangkut an diberit ahukan oleh Ment eri t ent ang rencana pemberhent ian it u.

(6) Selama persoalan sebagaimana dimaksud dalam ayat (5) belum diput us, maka Ment eri dapat memberhent ikan unt uk sement ara wakt u anggot a Direksi yang bersangkut an.

(7) Jika dalam wakt u 2 (dua) bulan set elah memberhent ikan anggot a Direksi yang bersangkut an berdasarkan ket ent uan ayat (4) belum diperoleh keput usan mengenai pemberhent ian anggot a Direksi t ersebut , maka pemberhent ian sement ara it u menj adi bat al dan anggot a Direksi yang bersangkut an dapat segera menj alankan j abat annya lagi, kecuali bilamana unt uk keput usan pemberhent ian t ersebut diperlukan keput usan pengadilan dalam hal it u harus diberit ahukan kepada yang bersangkut an.

Pasal 18

(1) Anggot a Direksi adalah warga negara Indonesia.

(2) Anggot a Direksi diangkat berdasarkan syarat -syarat kemampuan dan keahlian dalam bidang pengelolaan Perusahaan, memiliki penget ahuan dan pengalaman yang diperlukan unt uk memimpin suat u Perusahaan yang bergerak dalam bidang ket enagalist rikan, mempunyai akhlak dan moral yang baik sert a memenuhi syarat -syarat lainnya yang diperlukan unt uk menunj ang kemaj uan Perusahaan yang dipimpinnya.

(14)

penuh pada t ugas, kewaj iban dan pencapaian t uj uan diadakannya Perusahaan.

Pasal 19

(1) Ant ara para anggot a Direksi t idak boleh ada hubungan keluarga sampai deraj at ket iga baik menurut garis lurus maupun garis ke samping t ermasuk menant u dan ipar, kecuali j ika diizinkan Presiden.

(2) Jika sesudah pengangkat an, mereka memasuki hubungan kekeluargaan yang t erlarang it u, maka unt uk dapat melanj ut kan j abat annya, diperlukan izin t ert ulis dari Presiden.

(3) Anggot a Direksi t idak boleh mempunyai kepent ingan pribadi baik langsung maupun t idak langsung dalam suat u perkumpulan/ perusahaan lain yang berusaha/ bert uj uan mencari laba.

(4) Anggot a Direksi t idak dibenarkan unt uk memangku j abat an rangkap sebagaimana t ersebut di bawah ini :

a. Direkt ur Ut ama dan Direkt ur pada badan usaha milik Negara lainnya at au perusahaan swast a, at au j abat an lain yang berhubungan dengan pengelolaan Perusahaan;

b. Jabat an st rukt ural dan f ungsional lainnya dalam inst ansi/ Lembaga Pemerint ah Pusat / Daerah;

c. Jabat an-j abat an lainnya, berdasarkan perat uran perundang-undangan yang berlaku.

Bagian Ket uj uh

Rencana Kerj a dan Anggaran Perusahaan

(15)

(1) Selambat -lambat nya 3 (t iga) bulan sebelum t ahun buku mulai berlaku, Direksi mengirimkan rencana kerj a dan anggaran Perusahaan yang meliput i anggaran invest asi dan anggaran eksploit asi kepada Ment eri unt uk memperoleh pengesahannya berdasarkan penilaian bersama oleh Ment eri dan Ment eri Keuangan.

(2) Kecuali apabila Ment eri secara t ert ulis mengemukakan keberat an at au menolak kegiat an yang dimuat dalam rencana kerj a dan anggaran Perusahaan sebelum menginj ak t ahun buku baru, maka anggaran t ersebut berlaku sepenuhnya.

(3) Rencana kerj a dan/ at au anggaran t ambahan at au perubahan anggaran yang t ert era di dalam t ahun buku yang bersangkut an harus diaj ukan t erlebih dahulu kepada Ment eri, menurut cara dan wakt u yang dit et apkan oleh Ment eri, unt uk memperoleh pengesahannya berdasarkan penilaian bersama oleh Ment eri dan Ment eri Keuangan.

(4) Apabila dalam wakt u 3 (t iga) bulan sesudah permint aan perset uj uan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) diaj ukan, oleh Ment eri t idak diberikan keberat an secara t ert ulis, maka perubahan rencana kerj a dan anggaran t ersebut dianggap t elah disahkan.

(5) Rencana kerj a dan/ at au anggaran Perusahaan yang t elah disahkan merupakan landasan kerj a dan menj adi t ugas bagi Direksi unt uk melaksanakan kegiat an yang t ercant um didalamnya.

Pasal 21

(16)

dalam anggaran Perusahaan.

(2) Perusahaan dilarang membiayai pengeluaran yang dilakukan oleh Depart emen/ Inst ansi yang membina dan mengawasi Perusahaan dalam rangka pembinaan dan pengawasan Perusahaan.

Bagian Kedelapan Harga Jual Tenaga List rik

Pasal 22

(1) Harga j ual t enaga list rik dit et apkan oleh Presiden berdasarkan usul Ment eri.

(2) Dalam mengusulkan harga j ual t enaga list rik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), Ment eri memperhat ikan hal-hal sebagai berikut :

a. kepent ingan rakyat dan kemampuan dari masyarakat ;

b. kaidah-kaidah indust ri dan niaga yang sehat ;

c. biaya produksi;

d. ef isiensi pengusahaan;

e. kelangkaan sumber energi primer yang digunakan;

f . skala pengusahaan dan int er koneksi sist em yang dipakai;

(17)

Bagian Kesembilan Sist em Akunt asi

Pasal 23

Tahun Buku Perusahaan adalah t ahun t akwim, kecuali j ika dit et apkan lain oleh Ment eri.

Pasal 24

(1) Set iap perubahan baik yang diakibat kan oleh t ransaksi maupun oleh kej adian lain dalam Perusahaan yang mempengaruhi akt iva, hut ang, modal, biaya dan pendapat an harus dibukukan at as dasar sist em akunt asi yang dapat dipert anggungj awabkan.

(2) Sist em akunt ansi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) disusun dan dilaksnakan oleh Direksi agar dapat berj alan dengan baik berdasarkan prinsip-prinsip pengendalian int ern, t erut ama pemisahan f ungsi pengurusan, pencat at an, penyimpanan dan pengawasan.

(3) Dalam rangka pemeriksaan, Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan menilai sist em yang dit et apkan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan bilamana perlu memberikan pet unj uk dan saran penyempurnaan.

Bab Kesepuluh Pengawasan

Pasal 25

(1) Ment eri melakukan pengawasan umum at as j alannya Perusahaan.

(18)

(3) Dewan Pengawas bert ugas unt uk melaksanakan pengawasan t erhadap pengelolaan Perusahaan t ermasuk pelaksanaan rencana kerj a dan anggaran Perusahaan.

(4) Dewan Pengawas melaksanakan t ugas, wewenang dan t anggung j awabnya sesuai dengan ket ent uan-ket ent uan yang berlaku t erhadap Perusahaan dan menj alankan keput usan-keput usan dan pet unj uk-pet unj uk dari Ment eri.

Pasal 26

Dewan Pengawas dalam melaksanakan t ugasnya berkewaj iban :

a. memberikan pendapat dan saran kepada Ment eri melalui Direkt ur Jenderal mengenai rancangan rencana kerj a dan anggaran Perusahaan, sert a perubahan/ t ambahannya, laporan-laporan lainnya dari Direksi;

b. mengawasi pelaksanaan rencana kerj a dan anggaran Perusahaan sert a menyampaikan hasil penilaiannya kepada Ment eri dengan t embusan kepada Direksi dan Direkt ur Jenderal;

c. mengikut i perkembangan kegiat an Perusahaan dan dalam hal Perusahaan menunj ukan gej ala kemunduran, segera melaporkannya kepada Ment eri dengan t embusan kepada Direkt ur Jenderal, dengan disert ai saran mengenai langkah perbaikan yang harus dit empuh;

d. memberikan pendapat dan saran kepada Ment eri dengan t embusan kepada Direkt ur Jenderal dan kepada Direksi mengenai set iap masalah lainnya yang dianggap pent ing bagi pengelolaan Perusahaan;

(19)

f . melakukan t ugas-t ugas pengawasan lain yang dit ent ukan oleh Ment eri.

Pasal 27

Dalam melaksanakan t ugas pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26, Dewan Pengawas waj ib memperhat ikan :

a. pedoman dan pet unj uk-pet unj uk Ment eri dengan senant iasa memperhat ikan ef isiensi Perusahaan;

b. ket ent uan dalam perat uran pendirian Perusahaan sert a perat uran perundang-undangan yang berlaku;

c. pemisahan t ugas pengawasan dengan t ugas pengurusan Perusahaan yang merupakan t ugas dan t anggung j awab Direksi.

Pasal 28

Dalam melaksanakan t ugas dan kewaj iban Dewan Pengawas mempunyai wewenang sebagai berikut :

a. melihat buku-buku dan surat -surat sert a dokumen-dokumen lainnya, memeriksa keadaan kas (unt uk keperluan verif ikasi) dan memeriksa kekayaan Perusahaan;

b. memasuki pekarangan-pekarangan, gedung-gedung dan kant or-kant or yang dipergunakan oleh Perusahaan;

c. memint a penj elasan-penj elasan dari pimpinan Perusahaan mengenai segala persoalan yang menyangkut pengelolaan Perusahaan;

d. memint a Direksi dan/ at au pej abat lainnya dengan sepenget ahuan Direksi unt uk menghadiri rapat Dewan Pengawas;

(20)

t erhadap hal-hal yang dibicarakan;

f . melakukan hal-hal lain yang dianggap perlu sebagaimana diat ur dalam perat uran pendirian Perusahaan.

Pasal 29

(1) Dewan Pengawas mengadakan rapat sekurang-kurangnya 3 (t iga) bulan sekali dan sewakt u-wakt u apabila diperlukan.

(2) Dalam rapat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan Perusahaan sesuai dengan t ugas pokok, f ungsi dan hak sert a kewaj ibannya.

(3) Keput usan rapat Dewan Pengawas diambil at as dasar musyawarah unt uk muf akat .

(4) Unt uk set iap rapat dibuat risalah rapat .

Pasal 30

Unt uk membant u kelancaran pelaksanaan t ugas Dewan Pengawas, Ment eri dapat mengangkat seorang Sekret aris at as beban Perusahaan.

Pasal 31

(1) Dewan Pengawas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 t erdiri dari unsur-unsur Pej abat dari Depart emen yang diserahi t ugas mengurus bidang ket enagalist rikan, Depart emen Keuangan dan Depart emen/ Inst ansi lain yang kegiat annya berhubungan dengan Perusahaan at au pej abat yang diusulkan oleh Ment eri dengan memperhat ikan pert imbangan Ment eri Keuangan.

(21)

Pasal 32

(1) Anggot a Dewan Pengawas diangkat dari t enaga yang mempunyai dedikasi, dipandang cakap dan mempunyai kemampuan unt uk menj alankan kebij aksanaan Ment eri mengenai pembinaan dan pengawasan Perusahaan.

(2) Di samping syarat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) anggot a Dewan Pengawas t idak dibenarkan memiliki kepent ingan yang bert ent angan dengan at au mengganggu kepent ingan Perusahaan.

Pasal 33

(1) Anggot a Dewan Pengawas berj umlah sekurang-kurangnya 2 (dua) orang dan sebanyak-banyaknya 5 (l ima) orang yang t erdiri dari Ket ua dan anggot a Dewan.

(2) Ket ua Dewan Pengawas yang mengkoordinasikan anggot a Dewan Pengawas bert anggung j awab at as pelaksanaan pengawasan kepada Ment eri dan/ at au Ment eri Keuangan.

Pasal 34

(1) Masa j abat an Ket ua dan anggot a Dewan Pengawas ialah 3 (t iga) t ahun.

(2) Anggot a Dewan Pengawas set elah selesai masa j abat annya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat diangkat kembali dengan t et ap memperhat ikan ket ent uan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32.

Pasal 35

(22)

dilakukan oleh Presiden at as usul Ment eri set elah mendengar pert imbangan Ment eri Keuangan.

(2) Apabila Ment eri berpendapat bahwa anggot a-anggot a at au salah seorang anggot a Dewan Pengawas set elah menj abat beberapa wakt u t ernyat a t idak at au t idak dapat menj alankan t ugasnya dengan baik, maka Ment eri dapat mengusulkan pemberhent iannya kepada Presiden.

Pasal 36

Jika dianggap perlu Dewan Pengawas dalam melaksanakan t ugasnya dapat memperoleh bant uan t enaga ahli.

Pasal 37

Anggot a Dewan Pengawas t idak dibenarkan merangkap j abat an lain pada badan usaha swast a yang dapat menimbulkan pert ent angan kepent ingan secara langsung maupun t idak langsung dengan kepent ingan Perusahaan.

Pasal 38

(1) Pengawasan int ern Perusahaan dilakukan oleh Sat uan Pengawasan Int ern.

(2) Sat uan Pengawasan Int ern dipimpin oleh seorang Kepala yang bert anggung j awab kepada Direkt ur Ut ama.

Pasal 39

(23)

pengelolaan (manaj emen) dan pelaksanaannya pada Perusahaan dan memberikan saran-saran perbaikannya.

(2) Direksi menggunakan pendapat dan saran Sat uan Pengawasan Int ern sebagai bahan unt uk melaksanakan penyempurnaan pengelolaan (manaj emen) Perusahaan yang baik dan dapat dipert anggungj awabkan.

Pasal 40

Dalam pelaksanaan t ugasnya, Sat uan Pengawasan Int ern waj ib menj aga kelancaran pelaksanaan t ugas sat uan organisasi lainnya dalam Perusahaan sesuai dengan t ugas dan t anggung j awabnya masing-masing.

Pasal 41

Sat uan Pengawasan Int ern dapat memperoleh bant uan t enaga ahli.

Pasal 42

Pimpinan Sat uan Pengawasan Int ern harus memiliki pendidikan dan/ at au kelancaran yang cukup memenuhi persyarat an sebagai pengawas int ern, obyekt if dan berdedikasi t inggi.

Pasal 43

Kepala Sat uan Pengawasan Int ern diangkat dan diberhent ikan oleh Direksi.

Pasal 44

(24)

t ahunan Perusahaan.

(2) Pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat j uga dilakukan oleh Akunt an Publik dengan ket ent uan bahwa hasil pemeriksaannya diset uj ui Kepala Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan.

(3) Dalam melaksanakan ket ent uan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat pula dilakukan pemeriksaan operasional t ahunan t erhadap Perusahaan.

Pasal 45

Hasil pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 disampaikan pula kepada Ment eri, Ment eri Keuangan, Direksi dan Dewan Pengawas.

Pasal 46

Dengan t idak mengurangi wewenang pengawasan sebagaimana dimaksud dalam pasal-pasal pada Bagian ini set iap Kepala Unit Organisasi dalam Perusahaan bert anggung j awab melakukan pengawasan melekat dalam lingkungan t ugasnya masing-masing.

Bagian Kesebelas Kepegawaian

Pasal 47

(1) Unt uk memperlancar t uj uan Perusahaan, perlu dicipt akan adanya ket ent raman, ket enangan sert a kegairahan kerj a dalam Perusahaan dengan memberikan penghargaan yang layak kepada semua Pegawai sesuai dengan prest asinya.

(25)

berdasarkan perat uran perundang-undangan yang berlaku.

(3) Penghasilan-penghasilan lain Pegawai diat ur t ersendiri oleh Direksi set elah mendapat perset uj uan Ment eri.

Pasal 48

Direksi mengangkat dan memberhent ikan Pegawai/ pekerj a berdasarkan perat uran perundang-undangan yang berlaku.

Pasal 49

(1) Kepada Pegawai diberikan pensiun berdasarkan perat uran perundang-undangan yang berlaku bagi Pegawai.

(2) Di samping pensiun, kepada Pegawai dapat diberikan j aminan hari t ua lainnya yang diat ur oleh Direksi set elah mendapat perset uj uan Ment eri.

Bagian Keduabelas Tanggung Jawab Pegawai dan

Tunt ut an Gant i Rugi

Pasal 50

(1) Semua Pegawai t ermasuk anggot a Direksi dalam kedudukan selaku demikian yang t idak dibebani t ugas penyimpanan uang, surat -surat berharga dan barang-barang persediaan, yang karena t indakan-t indakan melawan hukum at au karena melalaikan kewaj iban dan t ugas yang dibebankan kepada mereka dengan langsung maupun t idak langsung t elah menimbulkan kerugian bagi Perusahaan, diwaj ibkan menggant i kerugian t ersebut .

(26)

(3) Semua Pegawai yang dibebani t ugas penyimpanan, pembayaran at au penyerahan uang dan surat -surat berharga milik Perusahaan dan barang-barang persediaan milik Perusahaan yang disimpan dalam gudang at au t empat penyimpanan yang khusus dan semat a-mat a digunakan unt uk keperluan it u, bert anggung j awab t ent ang pelaksanaan t ugasnya kepada Badan Pemeriksa Keuangan.

(4) Pegawai sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) t idak perlu mengirimkan pert anggungj awaban mengenai cara mengurusnya kepada Badan Pemeriksaan Keuangan.

(5) Tunt ut an t erhadap Pegawai t ersebut dilakukan menurut ket ent uan yang dit et apkan bagi bendaharawan yang oleh Badan Pemeriksa Keuangan dibebaskan dari pert anggungj awaban mengenai cara pengurusannya.

(6) Semua surat bukt i dan surat lainnya bagaimanapun sif at nya, yang t ermasuk bilangan t at a buku dan administ rasi Perusahaan, disimpan di t empat Perusahaan at au t empat lain yang dit unj uk oleh Ment eri, kecuali j ika unt uk sement ara dipindahkan ke Badan Pemeriksa Keuangan dalam hal dianggapnya perlu unt uk kepent ingan sesuat u pemeriksaan.

(7) Unt uk keperluan pemeriksaan bert alian dengan penet apan paj ak dan pemeriksaan akunt ansi pada umumnya surat bukt i dan surat lainnya sebagaimana dimaksud dalam ayat (6) unt uk sement ara dapat dipindahkan ke Depart emen Keuangan dan/ at au Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan.

Bagian Ket igabelas Pelaporan

Pasal 51

(27)

yang t erdiri dari neraca dan perhit ungan laba rugi.

(2) Neraca dan perhit ungan laba rugi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dikirimkan kepada Ment eri dengan t embusan kepada Ment eri Keuangan, Badan Pemeriksa Keuangan, Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan, Direkt ur Jenderal dan Dewan Pengawas selambat lambat nya 6 (enam) bulan sesudah t ahun buku (berakhir) menurut cara yang dit et apkan oleh Ment eri.

(3) Cara penilaian pos dan perhit ungan t ahunan harus disebut kan.

(4) Jika dalam wakt u 3 (t iga) bulan sesudah menerima perhit ungan t ahunan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) oleh Ment eri t idak diaj ukan keberat an t ert ulis, maka perhit ungan t ahunan it u dianggap t elah disahkan.

(5) Perhit ungan t ahunan disahkan oleh Ment eri set elah dinilai bersama oleh Ment eri dan Ment eri Keuangan berdasarkan hasil pemeriksaan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan at au Badan yang dit unj uknya.

(6) Pengesahan sebagaimana dimaksud dalam ayat (5) memberi pembebasan kepada Direksi t erhadap segala sesuat unya yang t ermuat dalam perhit ungan t ahunan t ersebut .

(7) Direkt ur Ut ama diwaj ibkan menyampaikan laporan t riwulanan dan laporan berkala lainnya sesuai bat as wakt u yang dit et apkan besert a laporan lainnya menurut ket ent uan Anggaran Dasar ini dan perat uran perundang-undangan, kepada pej abat / inst ansi sebagaimana dimaksud dalam ayat (2).

Pasal 52

(28)

selambat -lambat nya 2 (dua) bulan set elah menerima laporan dari Direkt ur Ut ama.

Pasal 53

(1) Laporan-laporan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 51 dan Pasal 52 ini disampaikan t epat pada wakt unya.

(2) Bent uk laporan pelaksanaan t ugas sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dit et apkan oleh Ment eri Keuangan set elah mendengar pert imbangan Ment eri.

Bagian Keempat belas Penggunaan Laba

Pasal 54

(1) Dari laba bersih yang t elah disahkan menurut Pasal 51 disisihkan unt uk :

a. Dana Pembangunan Semest a sebesar 55% (lima puluh lima persen);

b. Cadangan umum sebesar 20% (dua puluh persen) hingga cadangan umum t ersebut mencapai j umlah dua kali modal Perusahaan;

c. Cadangan t uj uan sebesar 5% (lima persen);

d. Sisanya sebesar 20% (dua puluh persen) dipergunakan unt uk dana sosial, pendidikan, j asa produksi dan sumbangan dana pensiun yang perincian perbandingan pembagiannya dit et apkan lebih lanj ut oleh Ment eri.

(29)

selanj ut nya dapat dipergunakan unt uk pemupukan dana bagi pembelanj aan perluasan kapasit as Perusahaan.

(3) Sebelum cadangan umum sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b mencapai j umlah 2 (dua) kali modal Perusahaan, dengan perset uj uan Ment eri Keuangan at as usul Ment eri, Direksi dapat menggunakan dana cadangan umum t ersebut unt uk kepent ingan pembelanj aan perluasan kapasit as Perusahaan.

(4) Cadangan t uj uan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf c ant ara lain diperlukan unt uk pemupukan dana bagi pembelanj aan perluasan kapasit as Perusahaan.

Bagian Kelimabelas Pembubaran Perusahaan

Pasal 55

(1) Pembubaran Perusahaan dan penunj ukan likuidat urnya dit et apkan dengan Perat uran Pemerint ah.

(2) Semua kekayaan Perusahaan set elah diadakan likuidasi menj adi milik Negara.

(3) Pert anggung j awaban likuidasi oleh likuidat ur dilakukan kepada Ment eri yang memberi pembebasan t anggung j awab t ent ang pekerj aan yang t elah diselesaikan olehnya.

BAB IV

KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 56

(30)

Perat uran Pemerint ah Nomor 18 Tahun 1972 sebagaimana t elah diubah dengan Perat uran Pemerint ah Nomor 54 Tahun 1981 masih t et ap berlaku sepanj ang t idak bert ent angan at au belum digant i dengan ket ent uan baru yang dikeluarkan berdasarkan Perat uran Pemerint ah ini.

BAB V

KETENTUAN PENUTUP

Pasal 57

Dengan berlakunya Perat uran Pemerint ah ini, maka Perat uran Pemerint ah Nomor 18 Tahun 1972 sebagaimana t elah diubah dengan Perat uran Pemerint ah Nomor 54 Tahun 1981 dinyat akan t idak berlaku.

Pasal 58

Perat uran Pemerint ah ini mulai berlaku pada t anggal diundangkan.

Agar set iap orang menget ahuinya, memerint ahkan pengundangan Perat uran Pemerint ah ini dengan penempat annya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

Dit et apkan di Jakart a pada t anggal 28 Mei 1990

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA t t d

(31)

Diundangkan di Jakart a pada t anggal 28 Mei 1990

MENTERI/ SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA t t d

Referensi

Dokumen terkait

Hasil invent ar isasi dan pem ant auan baku m ut u udar a am bien, baku m ut u em isi, baku t ingkat gangguan dan indeks st andar pencem ar udar a yang dilakukan oleh pej abat

(1) Bank Umum at au Bank Perkredit an Rakyat yang t elah melakukan kegiat an usaha semat a-mat a berdasarkan prinsip bagi hasil sebelum berlakunya Perat uran Pemerint ah ini t et

bahwa berdasarkan Pasal 4 ayat (3) Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 t ent ang Paj ak Penghasilan sebagaimana t elah diubah dengan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1991,

(1) Pengangkat an dan penempat an t enaga kependidikan yang bukan t enaga pendidik pada sat uan pendidikan yang disclenggarakan oleh Pemerint ah dilakukan oleh Ment eri, Ment

Dalam Perat uran Pemerint ah ini selain mengat ur hal-hal t ersebut di at as j uga mengat ur t ent ang t eknis upaya penanggulangan wabah, peran sert a masyarakat ,

Mengingat bent uk sat uan pendidikan prasekolah khususnya Kelompok Bermain dan Penit ipan Anak berkait an erat dengan usaha kesej aht eraan anak, maka dalam Perat uran Pemerint

(2) Unt uk mel indungi kual it as air, Gubernur Kepal a Daerah Tingkat I set el ah berkonsul t asi dengan Ment eri dapat menet apkan baku mut u l imbah cair l ebih ket at

Pembangunan Jalan Tol yang merupakan sat u kesat uan sist em dengan pembangunan j alan umum, adalah kegiat an mewuj udkan ruas j alan baru sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59