PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang : a. bahwa dalam rangka pengembangan wilayah sungai, t elah selesai dibangun prasarana pengairan yang bert uj uan unt uk penyediaan air bagi berbagai keperluan masyarakat , baik dalam kuant it as maupun kualit as yang memadai;
b. bahwa unt uk melaksanakan eksploit asi dan pemeliharaan prasarana pengairan sert a pengusahaan air dan sumber air yang berada pada wilayah sungai t ersebut perlu dibent uk suat u Perusahaan Umum (PERUM);
c. bahwa berdasarkan pert imbangan t ersebut di at as, dipandang perlu membent uk Perusahaan Umum (PERUM) Jasa Tirt a dengan Perat uran Pemerint ah;
Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (2) dan Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945; 2. Undang-undang Nomor 19 Prp Tahun 1960 t ent ang Perusahaan
Negara (Lembaran Negara Tahun 1960 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Nomor 1989);
3. Undang-undang Nomor 9 Tahun 1969 t ent ang Penet apan Perat uran Pemerint ah Penggant i Undang-undang Nomor 1 Tahun 1969 t ent ang Bent uk-bent uk Usaha Negara (Lembaran Negara Tahun 1969 Nomor 16, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2890) menj adi Undang-undang (Lembaran Negara Tahun 1969 Nomor 40, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2904);
4. Undang-undang Nomor 11 Tahun 1974 t ent ang Pengairan (Lembaran Negara Tahun 1974 Nomor 65, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3046);
Negara Nomor 3189);
6. Perat uran Pemerint ah Nomor 22 Tahun 1982 t ent ang Tat a Pengat uran Air (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 37, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3225);
7. Perat uran Pemerint ah Nomor 3 Tahun 1983 t ent ang Tat a Cara Pembinaan dan Pengawasan Perusahaan Jawat an (PERJAN), Perusahaan Umum (PERUM), dan Perusahaan Perseroan (PERSERO) (Lembaran Negara Tahun 1983 Nomor 3, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3246) sebagaimana t elah diubah dengan Perat uran Pemerint ah Nomor 28 Tahun 1983 (Lembaran Negara Tahun 1983 Nomor 37);
MEMUTUSKAN:
Menet apkan :
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA TENTANG PERUSAHAAN UMUM (PERUM) JASA TIRTA.
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Perat uran Pemerint ah ini yang dimaksud dengan :
1. Pemerint ah adalah Pemerint ah Republik Indonesia. 2. Presiden adalah Presiden Republik Indonesia. 3. Ment eri adalah Ment eri Pekerj aan Umum.
4. Direkt ur Jenderal adalah Direkt ur Jenderal yang bert anggung j awab di bidang pengairan.
5. Dewan Pengawas adalah Dewan Pengawas Perusahaan Umum (PERUM) Jasa Tirt a.
7. Direksi adalah Direksi Perusahaan Umum (PERUM) Jasa Tirt a.
8. Direkt ur Ut ama adalah Direkt ur Ut arna Perusahaan Umum (PERUM) Jasa Tirt a.
9. Pegawai adalah pegawai pada Perusahaan Umum (PERUM) Jasa Tirt a.
10. Pembinaan adalah kegiat an unt uk memberikan pedoman bagi Perusahaan dalam perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengendalian dengan maksud agar Perusahaan dapat melaksanakan t ugas dan f ungsinya secara berdaya guna dan berhasil guna sert a dapat berkembang dengan baik.
11. Pengawasan adalah seluruh proses kegiat an penilaian t erhadap Perusahaan dengan t uj uan agar Perusahaan dapat melaksanakan t ugas dan f ungsinya dengan baik, dan berhasil mencapai t uj uan yang t elah dit et apkan.
12. Pemeriksaan adalah kegiat an unt uk menilai Perusahaan dengan cara membandingkan ant ara keadaan yang sebenarnya dengan keadaan yang seharusnya dilakukan, baik dalam bidang keuangan maupun dalam bidang t eknis operasional.
13. Pengelolaan Perusahaan adalah kegiat an perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengendalian Perusahaan sesuai dengan pembinaan yang digariskan oleh Ment eri.
BAB II
PENDIRIAN PERUSAHAAN
Pasal 2
BAB III
ANGGARAN DASAR PERUSAHAAN
Bagian Pert ama
Umum
Pasal 3
(1) Perusahaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 adalah badan usaha yang menyelenggarakan usaha-usaha eksploit asi dan pemeliharaan prasarana pengairan sert a mengusahakan air dan sumber-sumber air.
(2) Perusahaan melakukan usaha-usahanya berdasarkan ket ent uan-ket ent uan dalam Perat uran Pemerint ah ini dan perat uran perundang-undangan yang berlaku.
(3) Dengan t idak mengurangi ket ent uan dalam Perat uran Pemerint ah ini t erhadap Perusahaan berlaku Hukum Indonesia.
Bagian Kedua
Tempat Kedudukan
Pasal 4
(1) Perusahaan bert empat kedudukan dan berkant or pusat di Malang.
(2) Perubahan t empat kedudukan dan kant or pusat Perusahaan dit et apkan oleh Presiden at as usul Ment eri.
Bagian Ket iga
Sif at , Maksud dan Tuj uan
Pasal 5
(1) Sif at usaha dari Perusahaan adalah menyediakan pelayanan bagi kemanf aat an umum dan sekaligus memupuk keunt ungan berdasarkan prinsip pengelolaan Perusahaan.
(2) Maksud didirikannya Perusahaan adalah unt uk menyelenggarakan pemanf aat an umum at as air dan sumber-sumber air yang bermut u dan memadai bagi pemenuhan haj at hidup orang banyak, sert a melaksanakan t ugas-t ugas t ert ent u yang diberikan Pemerint ah dalam pengelolaan daerah aliran sungai, yang meliput i ant ara lain perlindungan, pengembangan dan penggunaan sungai dan/ at au sumber-sumber air t ermasuk pemberian inf ormasi, rekomendasi, penyuluhan dan bimbingan.
(3) Tuj uan Perusahaan adalah t urut membangun ekonomi nasional dengan berperan sert a melaksanakan program pembangunan nasional di dalam bidang pengelolaan air dan sumber-sumber air.
Pasal 6
(1) Unt uk mencapai maksud dan t uj uan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5, Perusahaan melakukan j uga kegiat an rehabilit asi.
Bagian Keempat
Lapangan Usaha
Pasal 7
Dengan mengindahkan prinsip-prinsip ekonomi dan t erj aminnya keselamat an kekayaan Negara, Perusahaan menyelenggarakan usaha-usaha sebagai berikut :
a. penyediaan air baku unt uk perusahaan air minum, perusahaan list rik, perusahaan perkebunan, perusahaan perikanan, indust ri, pelabuhan, dan penggelont oran;
b. usaha pariwisat a, j asa 'kopsult asi dan usaha-usaha lainnya yang dapat menunj ang t ercapainya t uj uan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (3) dengan perset uj uan Ment eri.
Pasal 8
(1) Perusahaan melaksanakan kegiat an-kegiat an usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7, di sungai Kali Brant as, Kali Amprong, Kali Lest i, Kali Met ro, Kali. Lahor, Kali Put ih, Kali Semut , Kali Badak, Kali Bambang, Kali Lekso, Kali Ngrowo, Kali Song, Kali Ngasinan, Kali Tawing, Kali Parit Raya, Kali Dawir, Kali Parit Agung, Kali Boding, Kali Tugu, Kali Kedak, Kali Srinj ing, Kali Kont o, Kali Beng, Kali Widas, Kali Bening, Kali Kuncir, Kali Kedung Soko, Kali Ulo, Kali Brangkal, Kali Marmoyo, Kali Wat udakon, Kali Sadar, Kali Kambing, Kali Porong, Kali Surabaya, Kali Mas, Kali Wonokromo, Kali kedurus, Kali Ewoh, dan Kali Jari.
Bagian Kelima
Modal
Pasal 9
(1) Modal Perusahaan adalah kekayaan Negara yang dipisahkan dari Anggaran Pendapat an dan Belanj a Negara dan t idak t erbagi at as saham-saham.
(2) Besarnya modal Perusahaan adalah seluruh nilai kekayaan Negara yang t elah t ert anam dalam Proyek Induk Pengembangan Wilayah Sungai Kali Brant as kecuali Waduk, Bendung, Tanggul, Terowongan, dan Pelurusan Sungai yang nilainya dit et apkan Ment eri Keuangan sesuai dengan hasil perhit ungan yang dilakukan bersama oleh Depart emen Pekerj aan Umum dan Depart emen Keuangan.
(3) Set iap penambahan modal yang berasal dari kekayaan Negara yang dipisahkanan, dilakukan dengan Perat uran Pemerint ah.
(4) Perusahaan dapat menambah modalnya dengan dana yang dibent uk dan dipupuk secara int ern menurut ket ent uan dalam Pasal 55.
(5) Perusahaan t idak mengadakan cadangan diam at au cadangan rahasia.
(6) Semua alat -alat likuid (liquide) yang t idak segera diperlukan oleh Perusahaan disimpan dalam bank milik Negara yang diset uj ui oleh Ment eri.
Pasal 10
(1) Pembelanj aan unt uk invest asi yang dilaksanakan Perusahaan dapat berasal dari : a. dana int ern Perusahaan;
b. penyert aan modal Negara melalui Anggaran Pendapat an dan Belanj a Negara; c. pinj aman dari dalam dan/ at au luar negeri;
(2) Anggaran invest asi diaj ukan di dalam anggaran Perusahaan, sedangkan apabila anggaran invest asi diaj ukan pada masa t ahun buku yang bersangkut an, maka anggaran invest asi diaj ukan bersamaan dengan anggaran t ahunan at au perubahan anggaran Perusahaan yang pengaj uannya dilakukan sesuai dengan t at a cara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21.
Pasal 11
(1) Perusahaan dapat memperoleh dan menggunakan dana yang diperoleh unt uk mengembangkan usahanya melalui pengeluaran obligasi at au alat -alat yang sah lainnya.
(2) Pengeluaran obligasi at au alat -alat yang sah lainnya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), t ermasuk ket ent uan-ket ent uan yang berhubungan dengan it u, diat ur dengan Perat uran Pemerint ah.
Pasal 12
Set iap kegiat an penyerahan, pemindaht anganan, pembebanan, penghapusan akt iva t et ap, penerimaan pinj aman j angka menengah/ panj ang, pemberian pinj aman dalam bent uk dan cara apapun, t idak menagih lagi, menghapuskan dari pembukuan piut ang dan persediaan barang dapat dilakukan oleh Direksi at as izin Ment eri, set elah Ment eri mendapat perset uj uan t erlebih dahulu dari Ment eri Keuangan.
Pasal 13
Bagian Keenam Pimpinan, Pembinaan dan Pengelolaan
Pasal 14
Perusahaan dipimpin dan dikelola oleh Direksi yang t erdiri dari seorang Direkt ur Ut ama dan sebanyak-banyaknya 4 (empat ) orang Direkt ur sesuai dengan bidang usahanya.
Pasal 15
(1) Pembinaan t erhadap Perusahaan dilakukan oleh Ment eri, yang dalam pelaksanaannya dibant u oleh Direkt ur Jenderal berdasarkan ket ent uan yang dit et apkan lebih lanj ut oleh Ment eri.
(2) Direksi at au Direkt ur Ut ama unt uk dan at as nama Direksi menerima pet unj uk-pet unj uk dari dan bert anggangj awab kepada Ment eri t ent ang kebij aksanaan umum unt uk menj alankan t ugas-t ugas pokok Perusahaan dan hal-hal lain yang dianggap perlu.
(3) Pelaksanaan t anggung j awab administ rat if f ungsional Perusahaan sebagai Badan Usaha Milik Negara t erhadap Pemerint ah, dalam hal ini Ment eri dan Ment eri Keuangan, dilakukan oleh Direkt ur Ut ama at as nama Direksi.
Pasal 16
Tugas dan wewenang Direksi adalah sebagai berikut :
a. memimpin, mengurus, dan mengelola Perusahaan sesuai dengan maksud dan t uj uan dengan senant iasa berusaha meningkat kan daya guna dan hasil guna dari Perusahaan;
b. menguasai, memelihara, dan mengurus kekayaan Perusahaan; c. mewakili Perusahaan di dalam dan di luar pengadilan;
d. melaksanakan kebij aksanaan umum dalam mengurus Perusahaan yang t elah digariskan oleh Ment eri;
dit et apkan oleh Ment eri;
f . menyiapkan pada wakt unya rencana kerj a t ahunan Perusahaan lengkap dengan anggaran keuangan;
g. mengadakan dan memelihara t at a buku dan administ rasi Perusahaan sesuai dengan kelaziman yang berlaku bagi suat u Perusahaan;
h. menyiapkan susunan organisasi Perusahaan lengkap dengan perincian t ugasnya; i. mengangkat dan memberhent ikan pegawai sesuai dengan perat uran kepegawaian
yang berlaku bagi Perusahaan;
j . menet apkan gaj i, pensiun/ j aminan hari t ua dan penghasilan lain bagi Pegawai sert a mengat ur semua hal kepegawaian lainnya sesuai dengan ket ent uan-ket ent uan perat uran perundang-undangan yang berlaku;
k. memberikan segala ket erangan t ent ang keadaan dan j alannya Perusahaan baik dalam bent uk laporan t ahunan, maupun laporan berkala menurut cara dan wakt u yang dit ent ukan dalam Perat uran Pemerint ah ini sert a set iap kali dimint a oleh Ment eri;
l. menj alankan kewaj iban-kewaj iban lainnya berdasarkan pet unj uk Ment eri.
Pasal 17
(1) Dalam menj alankan t ugas-t ugas pokok Perusahaan :
a. Direkt ur Ut ama berhak dan berwenang bert indak at as nama Direksi;
b. Para Direkt ur berhak dan berwenang bert indak at as nama Direksi masing-masing unt uk bidangnya dalam bat as-bat as yang dit ent ukan dalam perat uran t at a t ert ib dan t at a cara menj alankan pekerj aan Direksi.
(2) Apabila Direkt ur Ut ama berhalangan t et ap menj alankan pekerj aannya at au apabila j abat an it u t erluang dan penggant inya belum diangkat at au belum memangku j abat annya, maka j abat an Direkt ur Ut ama dipangku oleh Direkt ur yang t ert ua dalam masa j abat an berdasarkan penunj ukan sement ara Ment eri, dan apabila Direkt ur dimaksud t idak ada at au berhalangan t et ap, maka j abat an t ersebut dipangku oleh Direkt ur lain berdasarkan penunj ukan sement ara Ment eri, keduanya dengan kekuasaan dan wewenang Direkt ur Ut ama.
j abat an Direksi t erluang seluruhnya dan belum diangkat penggant inya at au belum memangku j abat annya, maka unt uk sement ara wakt u pimpinan dan pengurusan Perusahaan dij alankan oleh seorang Pej abat Direksi yang dit unj uk oleh Ment eri.
(4) Dalam menj alankan t ugas dan wewenang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 huruf c, Direksi dapat melaksanakannya sendiri at au menyerahkan kekuasaan t ersebut kepada :
a. Seorang at au beberapa orang anggot a Direksi, at au;
b. Seorang at au beberapa orang Pegawai baik sendiri maupun bersama-sama, at au;
c. Orang at au badan lain, yang khusus dit unj uk unt uk hal t ersebut .
(5) Tat a t ert ib dan t at a cara menj alankan pekerj aan Direksi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), diat ur dalam perat uran yang dit et apkan oleh Direksi dengan perset uj uan Ment eri.
(6) Gaj i, t unj angan, emolumen dan penghasilan lain dari para anggot a Direksi, dit et apkan oleh Ment eri, dengan memperhat ikan ket ent uan-ket ent uan yang berlaku.
Pasal 18
(1) Anggot a Direksi diangkat dan diberhent ikan oleh Presiden at as usul Ment eri set elah mendengar pert imbangan Ment eri Keuangan.
(2) Anggot a Direksi diangkat unt uk masa 5 (lima) t ahun dan set elah masa j abat annya berakhir dapat diangkat kembali.
(3) Dalam hal-hal t ersebut di bawah ini, Presiden at as usul Ment eri dapat memberhent ikan seluruh at au salah seorang anggot a Direksi meskipun masa j abat annya sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) belum berakhir karena :
a. mut asi j abat an unt uk kepent ingan Perusahaan dan Negara; b. at as permint aan sendiri;
Perusahaan;
d. melakukan t indakan at au sikap yang bert ent angan dengan kepent ingan Negara; e. cacat f isik at au ment al yang mengakibat kan t idak dapat melaksanakan
t ugasnya;
f . meninggal dunia;
g. t idak cukup cakap at au t ernyat a t idak melaksanakan t ugasnya dengan baik; h. t idak melaksanakan ket ent uan-ket ent uan dalam anggaran dasar Perusahaan.
(4) Pemberhent ian karena alasan sebagairnana dimaksud dalam ayat (3) huruf c dan huruf d, j ika merupakan suat u pelanggaran t erhadap perat uran hukum pidana, merupakan pemberhent ian t idak dengan hormat .
(5) Sebelum pemberhent ian karena alasan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3)huruf c dan huruf d dilakukan, kepada anggot a Direksi yang bersangkut an diberi kesempat an unt uk membela diri secara t ert ulis yang dit uj ukan kepada Ment eri, yang harus dilaksanakan dalam wakt u 1 (sat u) bulan set elah anggot a Direksi yang bersangkut an diberit ahukan oleh Ment eri t ent ang rencana pemberhent ian it u.
(6) Selama persoalan sebagaimana dimaksud dalam ayat (5) belum diput us, maka Ment eri dapat memberhent ikan unt uk sement ara wakt u anggot a Direksi yang bersangkut an.
(7) Jika dalam wakt u 2 (dua) bulan set elah memberhent ikan anggot a Direksi yang bersangkut an berdasarkan ket ent uan ayat (4) belum diperoleh keput usan mengenai pemberhent ian anggot a Direksi t ersebut , maka pemberhent ian sement ara it u menj adi bat al dan anggot a Direksi yang bersangkut an dapat segera menj alankan j abat annya lagi, kecuali bilamana unt uk keput usan pemberhent ian t ersebut diperlukan keput usan pengadilan dalam hal it u harus diberit ahukan kepada yang bersangkut an.
Pasal 19
(2) Anggot a Direksi diangkat berdasarkan syarat -syarat kemampuan dan keahlian dalam bidang pengelolaan Perusahaan, memiliki penget ahuan dan pengalaman yang diperlukan unt uk memimpin suat u Perusahaan yang bergerak dalam bidang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7, mempunyai akhlak dan moral yang baik sert a memenuhi syarat -syarat lainnya yang diperlukan unt uk menunj ang kemaj uan Perusahaan yang dipimpinnya.
(3) Direksi mencurahkan pengabdian dan kemampuannya secara penuh pada t ugas, kewaj iban dan pencapaian t uj uan diadakannya Perusahaan.
Pasal 20
(1) Ant ara para anggot a Direksi t idak boleh ada hubungan keluarga sampai deraj at ket iga baik menurut garis lurus maupun garis ke samping t ermasuk menant u dan ipar, kecuali j ika diizinkan Presiden.
(2) Jika sesudah pengangkat an, mereka memasuki hubungan kekeluargaan yang t erlarang it u, maka unt uk dapat melanj ut kan j abat annya, diperlukan izin t ert ulis dari Presiden.
(3) Anggot a Direksi t idak boleh mempunyai kepent ingan pribadi, baik langsung maupun t idak langsung dalam suat u perkumpulan/ Perusahaan lain yang berusaha/ bert uj uan mencari laba.
(4) Anggot a Direksi t idak dibenarkan memangku j abat an rangkap sebagaimana t ersebut di bawah ini :
a. Direkt ur Ut ama at au Direkt ur pada badan usaha milik negara lainnya at au perusahaan swast a, at au j abat an lain yang berhubungan dengan pengelolaan Perusahaan;
b. j abat an st rukt ural dan f ungsional lainnya dalam Inst ansi/ Lembaga- Pemerint ah Pusat / Daerah;
Bagian Ket uj uh
Rencana Kerj a dan Anggaran Perusahaan
Pasal 21
(1) Selambat -lambat nya 3 (t iga) bulan sebelum t ahun buku mulai berlaku, Direksi mengirimkan rencana kerj a dan anggaran Perusahaan yang meliput i anggaran invest asi dan anggaran eksploit asi kepada Ment eri unt uk memperoleh pengesahannya berdasarkan penilaian bersama oleh Ment eri dan Ment eri Keuangan.
(2) Kecuali apabila Ment eri secara t ert ul is mengemukakan keberat an at au menolak kegiat an yang dimuat dalam rencana kerj a dan anggaran Perusahaan sebelum menginj ak t ahun buku baru, maka anggaran t ersebut berlaku sepenuhnya.
(3) Rencana kerj a dan/ at au anggaran t ambahan at au perubahan anggaran yang t ert era didalam t ahun buku yang bersangkut an harus diaj ukan t erlebih dahulu kepada Ment eri, menurut cara dan wakt u yang dit et apkan oleh Ment eri, unt uk memperoleh pengesahannya berdasarkan penilaian bersama oleh Ment eri dan Ment eri Keuangan.
(4) Apabila dalam wakt u 3 (t iga) bulan sesudah permint aan perset uj uan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) diaj ukan, oleh Ment eri t idak diberikan keberat an secara t ert ulis, maka perubahan rencana kerj a dan anggaran t ersebut dianggap t elah disahkan.
(5) Rencana kerj a dan/ at au anggaran Perusahaan yang t elah disahkan merupakan landasan kerj a dan menj adi t ugas bagi Direksi unt uk melaksanakan kegiat an yang t ercant um di dalamnya.
Pasal 22
Dewan Pengawas sert a t enaga ahli, dibebankan kepada Perusahaan dan secara j elas dianggarkan dalam anggaran Perusahaan.
(2) Perusahaan dilarang membiayai pengeluaran yang dilakukan oleh Depart emen/ Inst ansi yang membina dan mengawasi Perusahaan dalam rangka pembinaan dan pengawasan Perusahaan.
Bagian Kedelapan
Iuran
Pasal 23
Iuran pembiayaan eksploit asi dan pemeliharaan prasarana pengairan didasarkan pada asas memperoleh penghasilan yang cukup bagi Perusahaan unt uk menut up biaya pengusahaan yang dit et apkan dengan keput usan Ment eri at as usul Direksi, set elah mendapat 'pert imbangan Ment eri Keuangan.
Bagian Kesembilan
Sist em Akunt ansi
Pasal 24
Tahun Buku Perusahaan adalah t ahun t akwim, kecuali j ika dit et apkan lain oleh Ment eri.
Pasal 25
(2) Sist em akunt ansi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) disusun dan dilaksanakan oleh Direksi agar dapat berj alan dengan baik berdasarkan prinsip-prinsip pengendalian int ern, t erut ama pemisahan f ungsi pengurusan, pencat at an, penyimpanan dan pengawasan.
(3) Dalam rangka pemeriksaan, Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan menilai sist em yang dit et apkan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan bilamana perlu memberikan pet unj uk sert a saran penyempurnaan.
Bagian Kesepuluh
Pengawasan
Pasal 26
(1) Ment eri melakukan pengawasan umum at as j alannya Perusahaan.
(2) Pada Perusahaan dibent uk Dewan Pengawas yang bert anggungj awab kepada Ment eri.
(3) Dewan Pengawas bert ugas unt uk melaksanakan pengawasan t erhadap pengelolaan Perusahaan t ermasuk pelaksanaan rencana kerj a dan anggaran Perusahaan.
(4) Dewan Pengawas melaksanakan t ugas, wewenang dan t anggung j awabnya sesuai dengan ket ent uan-ket ent uan yang berlaku t erhadap Perusahaan dan menj alankan keput usan-keput usan dan pet unj uk-pet unj uk dari Ment eri.
Pasal 27
Dewan Pengawas dalam melaksanakan t ugasnya berkewaj iban :
b. mengawasi pelaksanaan rencana kerj a dan anggaran Perusahaan sert a menyampaikan hasil penilaiannya kepada Ment eri dengan t embusan kepada Direksi dan Direkt ur Jenderal;
c. mengikut i perkembangan kegiat an Perusahaan, dan dalam hal Perusahaan menunj ukkan gej ala kemunduran, segera melaporkannya kepada Ment eri dengan t embusan kepada Direkt ur Jenderal, dengan disert ai saran mengenai langkah perbaikan yang harus dit empuh;
d. memberikan pendapat dan saran kepada Ment eri dengan t embusan kepada Direkt ur Jenderal dan kepada Direksi mengenai set iap masalah lainnya yang dianggap pent ing bagi pengelolaan Perusahaan;
e. memberikan laporan kepada Ment eri dan Ment eri Keuangan secara berkala (t riwulan dan t ahunan) sert a pada set iap wakt u yang diperlukan mengenai perkembangan Perusahaan dan hasil pelaksanaan t ugas Dewan Pengawas;
f . melakukan t ugas-t ugas pengawasan lain yang dit ent ukan oleh Ment eri.
Pasal 28
Dalam pelaksanaan t ugas pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26, Dewan Pengawas waj ib memperhat ikan :
a. pedoman dan pet unj uk-pet unj uk Ment eri dengan senant iasa memperhat ikan ef isiensi Perusahaan;
b. ket ent uan dalam perat uran pendirian Perusahaan sert a ket ent uan perat uran perundang-undangan yang berlaku;
c. pemisahan t ugas pengawasan dengan t ugas pengurusan Perusahaan yang merupakan t ugas dan t anggung j awab Direksi.
Pasal 29
a. melihat buku-buku dan surat -surat sert a dokumen-dokumen lainnya, memeriksa keadaan kas (unt uk keperluan verif ikasi) dan memeriksa kekayaan Perusahaan; b. memasuki pekarangan-pekarangan, gedung-gedung dan kant or-kant or yang
dipergunakan oleh Perusahaan;
c. memint a penj elasan-penj elasan dari pimpinan Perusahaan mengenai persoalan yang menyangkut pengelolaan Perusahaan;
d. memint a Direksi dan/ at au pej abat lainnya dengan sepenget ahuan Direksi unt uk menghadiri rapat Dewan Pengawas;
e. menghadiri rapat Direksi dan memberikan pandangan-pandangan t erhadap hal-hal yang dibicarakan;
f . melakukan hal-hal lain yang dianggap perlu sebagaimana diat ur dalam perat uran pendirian Perusahaan.
Pasal 30
(1) Dewan Pengawas mengadakan rapat sekurang-kurangnya 3 (t iga) bulan sekali dan sewakt u-wakt u apabila diperlukan.
(2) Dalam rapat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan Perusahaan sesuai dengan t ugas pokok, f ungsi, dan hak sert a kewaj ibannya.
(3) Keput usan rapat Dewan Pengawas diambil at as dasar musyawarah unt uk muf akat .
(4) Unt uk set iap rapat dibuat risalah rapat .
Pasal 31
Unt uk membant u kelancaran pelaksanaan t ugas Dewan Pengawas, Ment eri dapat mengangkat seorang Sekret aris at as beban Perusahaan.
Pasal 32
Pej abat Depart emen Pekerj aan Umum, Depart emen Keuangan dan Depart emen/ Inst ansi lain yang kegiat annya berhubungan dengan Perusahaan at au Pej abat lain yang diusulkan oleh Ment eri dengan memperhat ikan pert imbangan Ment eri Keuangan.
(2) Salah seorang anggot a Dewan Pengawas diangkat sebagai Ket ua Dewan t ersebut .
Pasal 33
(1) Anggot a Dewan Pengawas diangkat dari t enaga yang mempunyai dedikasi, dipandang cakap, dan mempunyai kemampuan unt uk menj alankan kebij aksanaan Ment eri mengenai pembinaan dan pengawasan Perusahaan.
(2) Disamping syarat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) anggot a Dewan Pengawas t idak dibenarkan memiliki kepent ingan yang bert ent angan dengan at au mengganggu kepent ingan Perusahaan.
Pasal 34
(1) Anggot a Dewan Pengawas berj umlah sekurang-kurangnya 2 (dua) orang dan sebanyak-banyaknya 5 (lima) orang yang t erdiri dari Ket ua dan anggot a Dewan.
(2) Ket ua Dewan Pengawas yang mengkoordinasikan anggot a Dewan Pengawas bert anggung j awab at as pelaksanaan pengawasan kepada Ment eri dan/ at au Ment eri Keuangan.
Pasal 35
(1) Masa j abat an Ket ua dan anggot a Dewan Pengawas ialah 3 (t iga) t ahun.
Pasal 36
(1) Pengangkat an dan pemberhent ian anggot a Dewan Pengawas dilakukan oleh Presiden at as usul Ment eri set elah mendengar pert imbangan Ment eri Keuangan.
(2) Apabila Ment eri berpendapat bahwa anggot a-anggot a at au salah seorang anggot a Dewan Pengawas set elah menj abat beberapa wakt u t ernyat a t idak at au t idak dapat menj alankan t ugasnya dengan baik, maka Ment eri dapat mengusulkan pemberhent iannya kepada Presiden.
Pasal 37
Jika dianggap perlu Dewan Pengawas dalam melaksanakan t ugasnya dapat memperoleh bant uan t enaga ahli.
Pasal 38
Anggot a Dewan Pengawas t idak dibenarkan merangkap j abat an lain pada badan usaha swast a yang dapat menimbulkan pert ent angan kepent ingan secara, langsung maupun t idak langsung dengan kepent ingan Perusahaan.
Pasal 39
(1) Pengawasan Int ern Perusahaan dilakukan oleh Sat uan Pengawasan Int ern.
(2) Sat uan Pengawasan Int ern dipimpin ol eh seorang Kepala yang bert anggung j awab kepada Direkt ur Ut ama.
Pasal 40
(2) Direksi menggunakan pendapat dan saran Sat uan Pengawasan Int ern sebagai bahan unt uk melaksanakan penyempurnaan pengelolaan (manaj emen) Perusahaan yang baik dan dapat dipert anggungj awabkan.
Pasal 41
Dalam pelaksanaan t ugasnya, Sat uan Pengawasan Int ern waj ib menj aga kelancaran pelaksanaan t ugas sat uan organisasi lainnya dalam Perusahaan sesuai dengan t ugas dan t anggung j awab masing-masing.
Pasal 42
Sat uan Pengawasan Int ern dapat memperoleh bant uan t enaga ahli.
Pasal 43
Pimpinan Sat uan Pengawasan Int ern harus menj alankan pendidikan dan/ at au keahlian yang cukup memenuhi persyarat an sebagai pengawas int ern, obyekt if dan berdedikasi t inggi.
Pasal 44
Kepala Sat uan Pengawasan Int ern diangkat dan diberhent ikan oleh Direksi.
Pasal 45
(1) Kepala Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan melakukan pemeriksaan akunt asi at as laporan keuangan t ahunan Perusahaan.
(2) Pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat j uga dilakukan oleh Akunt an Publik dengan ket ent uan bahwa hasil pemeriksaannya diset uj ui Kepala Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan.
Pasal 46
Hasil pemeriksaan t ugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 disampaikan pula kepada Ment eri, Ment eri Keuangan, Direksi dan Dewan Pengawas.
Pasal 47
Dengan t idak mengurangi wewenang pengawasan sebagaimana dimaksud dalam pasal-pasal pada Bagian ini, set iap Kepala Unit Organisasi dalam Perusahaan bert anggung j awab melakukan pengawasan melekat dalam lingkungan t ugasnya masing-masing.
Bagian Kesebelas
Kepegawaian
Pasal 48
(1) Unt uk memperlancar t uj uan Perusahaan, perlu dicipt akan adanya ket ent ent uan, ket enangan dan kegairahan kerj a dalam Perusahaan dengan memberikan penghargaan yang layak kepada semua Pegawai sesuai dengan prest asinya.
(2) Kedudukan hukum, susunan j abat an, kepangkat an, pemberhent ian, gaj i, pensiun, dan t unj angan bagi Pegawai diat ur berdasarkan perat uran perundang-undangan yang berlaku.
(3) Penghasilan-penghasilan lain Pegawai diat ur t ersendiri oleh Direksi set elah mendapat kan perset uj uan Ment eri.
Pasal 49
Pasal 50
(1) Kepada Pegawai diberikan pensiun berdasarkan perat uran perundang-undangan yang berlaku bagi Pegawai.
(2) Disamping pensiun kepada Pegawai dapat diberikan j aminan hari t ua lainnya yang diat ur oleh Direksi set elah mendapat perset uj uan Ment eri.
Bagian Keduabelas
Tanggungj awab Pegawai dan Tunt ut an Gant i Rugi
Pasal 51
(1) Semua Pegawai t ermasuk anggot a Direksi dalam kedudukan selaku demikian yang t idak dibebani t ugas penyimpanan uang, surat -surat berharga dan barang-barang persediaan, yang karena t indakan-t indakan melawan hukum at au karena melalaikan kewaj iban dan t ugas yang dibebankan kepada mereka dengan langsung at au t idak langsung t elah menimbulkan kerugian bagi Perusahaan, diwaj ibkan menggant i kerugian t ersebut .
(2) Ket ent uan-ket ent uan t ent ang gant i rugi t erhadap Pegawai negeri berlaku sepenuhnya t erhadap Pegawai.
(3) Semua Pegawai yang dibebani t ugas penyimpanan, pembayaran at au penyerahan uang dan surat -surat berharga milik Perusahaan dan barang-barang persediaan milik Perusahaan yang disimpan dalam gudang at au t empat penyimpanan yang khusus dan semat a-mat a digunakan unt uk keperluan it u, bert anggung j awab t ent ang pelaksanaan t ugasnya kepada Badan Pemeriksa Keuangan.
(5) Tunt ut an t erhadap Pegawai t ersebut dilakukan menurut ket ent uan yang dit et apkan bagi bendaharawan yang oleh Badan Pemeriksa Keuangan dibebaskan dari kewaj iban pert anggungj awaban mengenai cara pengurusannya.
(6) Semua surat bukt i dan surat lainnya bagaimanapun sif at nya, yang t ermasuk bilangan t at a buku dan administ rasi Perusahaan, disimpan di t empat Perusahaan at au t empat lain yang dit unj uk oleh Ment eri, kecuali j ika unt uk sement ara dipindahkan ke Badan Pemeriksa Keuangan dalam hal dianggapnya perlu unt uk kepent ingan sesuat u pemeriksaan.
(7) Unt uk keperluan pemeriksaan yang bert alian dengan penet apan paj ak dan pemeriksaan akunt an, pada umumnya surat bukt i dan surat lainnya sebagaimana dimaksud dalam ayat (6) unt uk sement ara dapat dipindahkan ke Depart emen Keuangan dan/ at au Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan.
Bagian Ket igabelas
Pelaporan
Pasal 52
(1) Unt uk t iap t ahun buku oleh Direksi disusun perhit ungan t ahunan yang t erdiri dari neraca perhit ungan laba rugi.
(2) Neraca dan perhit ungan laba rugi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)dikirimkan kepada Ment eri dengan t embusan kepada Ment eri Keuangan, Badan Pemeriksa Keuangan, Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan, Direkt ur Jenderal dan Dewan Pengawas selambat -lambat nya 6 (enam) bulan sesudah t ahun buku menurut cara yang dit et apkan oleh Ment eri.
(3) Cara penilaian pos dalam perhit ungan t ahun harus disebut kan.
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) oleh Ment eri t idak diaj ukan keberat an t ert ulis, maka perhit ungan t ahunan it u dianggap t elah disahkan.
(5) Perhit ungan t ahunan disahkan oleh Ment eri set elah dinilai bersama oleh Ment eri dan Ment eri Keuangan berdasarkan hasil pemeriksaan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan at au Badan yang dit unj uknya.
(6) Pengesahan sebagaimana dimaksud dalam ayat (5) memberi pembebasan kepada Direksi t erhadap segala sesuat unya yang t ermuat dalam perhit ungan t ahunan t ersebut .
(7) Direkt ur Ut ama diwaj ibkan menyampaikan laporan t riwulanan dan laporan berkala lainnya sesuai dengan bat as-bat as j angka wakt u yang dit et apkan besert a laporan lainnya menurut ket ent uan Anggaran Dasar ini dan ket ent uan perat uran perundang-undangan, kepada pej abat inst ansi sebagaimana dimaksud dalam ayat (2).
Pasal 53
Hasil penilaian at as laporan keuangan t riwulanan dan t ahunan sert a laporan lainnya dari Perusahaan yang dilakukan oleh Direkt ur Jenderal disampaikan kepada Ment eri dan Ment eri Keuangan dalam bat as wakt u selambat -lambat nya 2 (dua) bulan set elah menerima laporan dari Direkt ur Ut ama.
Pasal 54
(1) Laporan-laporan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52 dan Pasal 53 disampaikan t epat pada wakt unya.
Bagian Keempat belas
Penggunaan Laba
Pasal 55
(1) Dari laba bersih yang t elah disahkan menurut Pasal 52 disisihkan unt uk : a. Dana Pembangunan Semest a sebesar 55 % (lima puluh lima persen);
b. Cadangan Umum sebesar 20% (dua puluh persen), hingga cadangan umum t ersebut mencapai j umlah dua kali modal Perusahaan;
c. Cadangan t uj uan sebesar 5 % (lima persen);
d. Sisanya sebesar 20% (dua puluh persen) dipergunakan unt uk dana sosial, pendidikan, j asa produksi dan sumbangan dana pensiun yang perincian perbandingan pembagiannya dit et apkan lebih lanj ut oleh Ment eri.
(2) Apabila j umlah cadangan umum sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b t elah t ercapai, j umlah dari bagian laba bersih yang diperunt ukkan unt uk pemupukan cadangan umum t ersebut , selanj ut nya dapat dipergunakan unt uk pemupukan dana bagi pembelanj aan perluasan kapasit as Perusahaan.
(3) Sebelum cadangan umum t ersebut mencapai j umlah 2 (dua) kali modal Perusahaan, dengan perset uj uan Ment eri Keuangan at as usul Ment eri, Direksi dapat menggunakan dana cadangan umum t ersebut unt uk kepent ingan pembelanj aan perluasan kapasit as Perusahaan.
Bagian Kelimabelas
Pembubaran Perusahaan
Pasal 56
(1) Pembubaran Perusahaan dan penunj ukan likuidat urnya dit et apkan dengan Perat uran Pemerint ah.
(2) Semua kekayaan Perusahaan, set elah diadakan likuidasi menj adi milik Negara.
(3) Pert anggungj awaban likuidasi oleh likuidat ur dilakukan kepada Ment eri yang memberi pembebasan t anggung j awab t ent ang pekerj aan yang t elah diselesaikan olehnya.
BAB IV
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 57
Perat uran Pemerint ah ini mulai berlaku pada t anggal diundangkan. Agar set iap orang menget ahuinya, memerint ahkan pengundangan Perat uran Pemerint ah ini dengan penempat annya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.
Dit et apkan di Jakart a
pada t angal 12 Pebruari 1990
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA t t d
Diundangkan di Jakart a
pada t anggal 12 Pebruari 1990
MENTERI/ SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA