PROPOSAL
PENELITIAN DOSEN PEMULA UNIVERSITAS LAMPUNG
PENGARUH IRADIASI GELOMBANG MIKRO (MICROWAVE) DAN UV-C TERHADAP TOTAL MOISTURE PADA BATUBARA PERINGKAT
RENDAH FORMASI MUARA ENIM
PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMPUNG 2021
i DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ...i
RINGKASAN ... ii
BAB I. PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Rumusan Masalah ... 2
1.3. Tujuan Penelitian ... 3
1.4. Urgensi Penelitian ... 3
1.5. Luaran/Temuan yang Ditargetkan ... 3
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ... 5
2.1. Definisi Batubara ... 5
2.2. Peringkat Batubara ... 5
2.3. Analisis Proksimat Batubara ... 6
2.4. Kandungan Air dan Pengaruhnya pada Batubara ... 6
2.5. Pengeringan ... 7
2.6. Gelombang Mikro (Microwave) ... 7
2.7. Ultraviolet ... 8
2.8. Analisa Morfologi Batubara ... 9
2.10. Peta Jalan Penelitian (Road Map) ... 10
BAB III. METODE PENELITIAN... 11
3.1. Waktu dan Lokasi Penelitian ... 11
3.2. Alat dan Bahan ... 11
3.3. Prosedur Penelitian ... 12
BAB IV. RENCANA ANGGARAN BIAYA DAN JADWAL PENELITIAN ... 14
4.1. Rencana Anggaran Biaya ... 14
4.2. Jadwal Penelitian ... 15
DAFTAR PUSTAKA ... 16
ii
RINGKASAN
Indonesia memiliki cadangan batubara hampir 40 miliar ton, artinya Indonesia memiliki cadangan batubara dalam batas aman sampai tahun 2100. Sekitar 45%
dari cadangan tersebut berada di pulau Sumatera, walaupun tersedia dalam jumlah yang besar, namun batubara tersebut berperingkat rendah. Batubara Formasi Muara Enim, memiliki kandungan air (total moisture) yang tinggi, sehingga dalam aplikasinya dibutuhkan energi yang cukup besar hanya untuk menghilangkan kadar air tersebut. Pengeringan merupakan salah satu treatment yang efektif untuk menghilangkan kadar air pada batubara. Namun, banyak metode pengeringan yang membutuhkan energi besar dalam prakteknya. Gelombang Mikro dan Sinar UVC merupakan spektrum elektromagnetik yang banyak digunakan sebagai media pemanasan secara radiasi. Penelitian dengan menggunakan Gelombang Mikro untuk penghilangan kadar air pada batubara telah banyak dilakukan. Pada penelitian ini, penulis bertujuan untuk membandingkan penggunaan Gelombang Mikro dan Sinar UVC pada aplikasi penghilangan kadar air di penelitian ini pada massa 10, 20 dan 30 gram dengan ukuran bongkahan 212µm dengan waktu hingga kadar air adalah 0%.
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
Batubara masih menjadi sumber energi paling penting, dengan kegunaannya sebagai bahan bakar di hampir 40% power plant di seluruh dunia (Krawczykowska, 2012). Batu bara merupakan salah satu bahan bakar fosil yang berasal dari batuan sedimen yang dapat terbakar, terbentuk dari endapan organik, utamanya adalah sisa-sisa tumbuhan dan terbentuk melalui proses pembatubaraan. Unsur-unsur utamanya terdiri dari karbon, hidrogen dan oksigen.
Harga yang relatif murah dan ketersediaannya yang melimpah, menjadi alasan batubara banyak digunakan. Indonesia memiliki banyak cadangan batubara peringkat rendah, seperti lignit dan sub-bituminus. Batubara Indonesia yang berperingkat rendah memiliki kadar air yang cukup tinggi yaitu lebih dari 40%
Kadar air yang tinggi, akan menyebabkan banyak masalah pada tahap transportasi, penyimpanan, size reduction dan pembakaran.
Sumatera memiliki sekitar 45% dari total cadangan batu bara Indonesia, yang terhitung tinggi, dengan karakteristik, tinggi moisture content, kalori rendah dan kadar abu tinggi. Cekungan Sumatera Selatan merupakan satu dari cekungan penting yang menghasilkan minyak dan batubara di Indonesia. Lapangan batubara Tanjung Enim yang merupakan bagian dari Cekungan Sumatera Selatan, memiliki cadangan batubara 2,8 miliar ton. Target produksi batubara pada tahun 2020 adalah sebesar 31 juta ton dan tahun 2021 sebesar 32 juta ton (Anonim1, 2020).
Berdasarkan hal tersebut, batubara Formasi Muara Enim masih sangat layak untuk dijadikan objek penelitian, sehingga diharapkan dengan perkembangan keilmuan dan teknologi akan menjadikan batubara Formasi Muara Enim lebih tepat dan efisien dalam pemanfaatannya.
Menurut Blaschke (2009), ada 3 jenis moisture yang terkandung pada batubara : 1. External Moisture
2. Hygroscopis Moisture 3. Decomposition Moisture
Dengan mengurangi kadar air pada batubara, maka akan mengurangi energi yang dikonsumsi untuk size reduction, heat loss, biaya transportasi dan emisi gas buang.
Semakin berkurangnya kadar air, maka akan meningkatkan efisiensi pembakaran dan tingkat keamanan. Cara mengurangi kadar air adalah dengan pre-drying, untuk mendapatkan tujuan-tujuan tersebut (Pakowski et al, 2011).
Kadar air yang diinginkan pada proses pengeringan batubara peringkat rendah,dapat berbeda, tergantung dari tujuan penggunaan batubara tersebut. Proses hidrogenasi membutuhkan kadar air pada batubara mencapai 0%, sedangkan pada proses gasifikasi dan pembuatan briket kadar air yang diinginkan kurang dari 15%.
Proses pengeringan menjadi langkah pertama dalam proses pemanfaatan batubara peringkat rendah. Menurut Mujumdar (2006), ada banyak ide yang berkembang dalam proses pengeringan, seperti, penggunaan gelombang ultrasonik dan radiasi akustik. Ide-ide tersebut tentunya belum bisa diaplikasikan secara luas di lapangan, karena banyak faktor.
Pengeringan dengan menggunakan gelombang mikro (microwave), telah banyak dilakukan oleh para peneliti sebagai physical pretreatment method (Jones et al, 2005). Menurut Komariah (2012), kandungan air pada batubara dapat dihilangkan dengan gelombang mikro. Kisaran waktu 1,5-5 menit, dengan jarak perhitungan setiap 30 detik sekali menjadi acuan dalam penggunaan variable waktu. Selain itu daya juga menjadi variabel yang divariasikan pada penelitian tersebut.
Selama proses iradiasi oleh gelombang mikro (dengan temperatur yang berbeda), akan mengakibatkan thermal fractures pada permukaan dan struktur batubara. Akibatnya, area tempat akses keluarnya liquors yang terkandung pada batubara akan semakin besar (Jones et al, 2005).
Komariah (2012) telah melakukan penelitian untuk menghilangkan kadar air pada batubara dengan menggunakan gelombang mikro (microwave). Pada penelitian kali ini peneliti akan membandingkan gelombang mikro (microwave) dengan UVC sebagai media pemanas untuk menghilangkan air pada batubara.
Penelitian ini juga didasarkan dengan berapa banyak energi yang dikonsumsi pada proses penghilangan air.
1.2. Rumusan Masalah
Jumlah air yang terkandung serta massa pada batubara peringkat rendah Formasi Muara Enim sangat diperhatikan dalam penelitian ini. Penggunaan metode baru dalam pemanasan, seperti gelombang mikro dan UVC akan berpengaruh
3
terhadap waktu yang dibutuhkan untuk menghilangkan kadar air. Karakter gelombang mikro dan UVC, panjang gelombang dan frekuensi, mengakibatkan hasil yang berbeda pada durasi penghilangan air pada batubara di massa yang berbeda.
1.3. Tujuan Penelitian
Tujuan umum dari penelitian ini adalah membandingkan kinerja Oven Microwave dan UV-C Dryer dalam upaya untuk penghilangan kadar air pada batubara dan tujuan khusus dari penelitian ini adalah :
1) Mengetahui pengaruh massa batubara terhadap upaya pengeringan
2) Mendapatkan treatment alternatif pada upaya penghilangan moisture di batubara peringkat rendah yang melimpah di Indonesia.
3) Mendapatkan waktu terbaik dari upaya penghilangan kadar air dengan Oven Microwave dan UV-C Dryer.
4) Menjadikan penelitian ini sebagai salah satu rujukan untuk treatment penghilangan moisture content pada batubara peringkat rendah di Indonesia dengan menggunakan Oven Microwave dan UV-C Dryer.
1.4. Urgensi Penelitian
Urgensi dari penelitian ini adalah memberikan sebuah solusi alternatif dan terbarukan dalam upaya penghilangan moisture content pada batubara peringkat rendah di Indonesia, yaitu dengan menggunakan Oven Microwave dan UV-C Dryer.
.Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan oleh pengguna terkait seperti:
1) Stakeholder, pada pertambangan batubara biasanya setiap perusahaan melakukan treatment dalam penghilangn pengotor pada batubara, seperti moisture content. Stakeholder dapat memanfaatkan penelitian ini kedepan untuk penghilangan kadar air di batubara dengan teknologi baru.
2) Akademisi, sebagai akademisi yang mau bergelut dalam dunia batubara diharapkan penelitian ini menjadi sebuah langkah awal yang sederhana dan aplicable untuk digunakan pada penelitian lebih lanjut.
1.5. Luaran/Temuan yang Ditargetkan Luaran/temuan yang ditargetkan adalah:
1) Penggunaan Oven Microwave dan UV-C Dryer dalam penghilangan kadar air pada batubara peringkat rendah secara luas.
2) Mendapatkan waktu optimal kinerja Oven Microwave dan UV-C Dryer dalam penghilangan kadar air pada batubara peringkat rendah
3) Jurnal nasional maupun internasional, prosiding sebagai pemakalah maupun pembicara dalam kegiatan ilmiah tahunan .
5 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Definisi Batubara
Batubara adalah batuan sedimen yang berasal dari tumbuh-tumbuhan (komposisi utamanya karbon, hidrogen, dan oksigen), berwarna coklat sampai hitam, sejak pengendapannya terkena proses kimia dan fisika yang mengakibatkan terjadinya pengkayaan kandungan karbonnya (Stach et al.,1982).
Pembatubaraaan merupakan proses perubahan vegetasi dari gambut, lignit, sub-bituminus, bituminus, semi antrasit, antrasit dan batubara meta-antrasit.
Tingkat transformasi atau pembatubaraan disebut peringkat batubara (Thomas, 2013).
Gambar 2.1. Peringkat dan proses terbentuknya batubara
2.2. Peringkat Batubara
Proses pembatubaraan (Gambar 2.1) pada dasarnya merupakan fase biokimia yang diikuti oleh proses geokimia maupun fase metamorfik. Fase biokimia meliputi penggambutan kemudian pengendapan dan pemendaman, yang terjadi selama proses diagenesis. Fase geokimia yaitu peningkatan nilai Karbon (C) seiring peningkatan peringkat batubara (Thomas, 2013).
Tingkat pembatubaraan secara umum dapat diasosiasikan dengan mutu atau kualitas batubara. Semakin tinggi peringkat batubara, umumnya akan semakin keras dan kompak, serta warnanya akan semakin hitam mengkilat. Proses pembatubaraan adalah proses pengubahan gambut menjadi lignit, sub bituminous, semi antrasit, antrasit, hinga meta antrasit.
2.3. Analisis Proksimat Batubara
Dalam menentukan kualitas batubara maka diperlukan salah satu dari analisis geokimia batubara. Dalam penelitian ini analisis geokimia yang digunakan dalam menentukan kualitas batubara dalah analisis proksimat (proximate analysis) yang diambil dari sampel pemboran yaitu kandungan abu, lengas (moisture), volatile matter, fixed carbon dan sulfur.
Beberapa metode dalam analisis proksimat batubara, antara lain ASTM D- 3172; ASTM D-3173; ASTM D-3174; ASTM D-3175; ASTM D-5142; ISO 1171 (Speight, 2005).
Analisis yang dipakai dalam penelitian ini mengacu pada ASTM (American Standard Testing and Materials). Analisis ini merupakan salah satu analisis yang sering dipakai untuk mengetahui kualitas dari geokimia batubara. Analisis proksimat batubara memisahkan produk ke dalam empat kelompok: (1) moisture;
(2) volatile matter, yang terdiri dari gas dan uap yang keluar selama proses pirolisis;
(3) fixed carbon; dan (4) ash, residu anorganik yang tersisa setelah pembakaran.
2.4. Kandungan Air dan Pengaruhnya pada Batubara
Ada beberapa moisture yang mengakibatkan kandungan air pada batubara, antara lain (Thomas, 2013):
Surface Moisture
Surface moisture merupakan kandungan air yang bukan berasal dari dalam batubara. Dengan pemanasan suhu rendah (40oC) surface moisture dapat dihilangkan. Biasanya penghilangan surface moisture, berada pada awal analisa.
Inherent Moisture
Inherent Moisture (IM) merupakan banyaknya air yang terkandung pada mikropori batubara dengan kata lain nilai dari IM tidak terpengaruh dari jumlah air eksternal seperti air formasi.
Total Moisture
Total moisture adalah jumlah keseluruhan moisture yang dapat dihilangkan dengan pemanasan di suhu yang cukup tinggi (150oC).
Kadar air pada batubara akan meincirikan peringkat kbatubara, semakin banyak kadar air, maka berbanding terbalik dengan peringkat batubara. Banyaknya
7
kadar air juga akan mengakibatkan banyaknya energi yang dikonsumsi selama proses pembakaran.
2.5. Pengeringan
Kadar air pada batubara dapat dihilangkan dengan berbagai metode, yaitu :
Proses Fleissner
Metode ini dikembangkan oleh Prof Hans Fleissner pada tahun 1927. Pada proses ini, bongkahan dari batubara peringkat rendah ditembakkan steam bertekanan tinggi. Proses ini kemudian mengakibatkan colloidal water pada batubara keluar seiring dengan naiknya tekanan dan temperatur
Proses Coldry
Proses ini dikembangkan di Australia pada awal tahun 1980. Proses ini dimulai dengan memicu suatu reaksi eksotermis, kemudian moisture pada batubara akan hilang dikarenakan adanya abrasi pada partikel karbon.
Mechanical Thermal Expression (MTE)
Metode ini menggunakan panas yang kecil dan pemerasan secara mekanis.
Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, lignit harus dipanaskan di atas titik didih air. Pemerasan mekanis merupakan tahap lanjutan untuk mencegah evaporasi, dan memastikan jika air yang hilang berasal dari gaya mekanik.
2.6. Gelombang Mikro (Microwave)
Gelombang Mikro (Microwave) adalah suatu gelombang elektromagnetik yang memiliki panjang gelombang 1 m – 1 mm, dengan frekuensi 300 Mhz-300Ghz (Super High Frequency).
Efek pemanasan akan timbul terhadap benda yang menyerap gelombang mikro. Contohnya, jika suatu makanan menyerap radiasi dari gelombang mikro, maka makanan tersebut akan menjadi panas dalam waktu yang relatif cepat.
Aplikasi gelombang mikro pada kehidupan :
Pemanasan
Radar
Telekomunikasi
Pemanasan menggunakan furnace (konvensional) akan memanaskan dinding furnace secara konduksi dan konveksi. Namun, jika menggunakan gelombang mikro, pemanasan dapat dilakukan lebih efisien (hemat energi dan waktu).
Datta et al (2011) mengemukakan beberapa alasan yang menyebabkan pemanasan dengan gelombang mikro jauh lebih efektif daripada menggunakan furnace (pemanasan konvensional), antara lain :
Proses pemanasannya berlangsung cepat, karena tingkat pemanasannya jauh lebih tinggi
Lebih seragam
Adanya selektivitas, karena daerah yang lembab akan diberi pemanasan yang lebih daripada yang kering.
Dapat dihentikan secara instan
Penguapan internal pada batubara dapat meningkatkan jumlah moisture yang hilang selama proses pemanasan
2.7. Ultraviolet
Radiasi elektromagnetik yang berasal dari matahari dapat ditransmisikan dalam bentuk gelombang atau partikel pada panjang gelombang atau frekuensi yang berbeda. Spektrum elektromagnetik (EM) merupakan rentang dari panjang gelombang. Spektrum EM dapat dibagi menjadi 7 bagian. Spektrum yang paling umum adalah gelombang radio, infra merah (IR), cahaya yang tampak, ultraviolet (UV), x-ray dan sinar gamma.
Sinar UV berada pada rentang spectrum antara cahaya yang tampak dan x-ray.
Frekuensinya berada pada kisaran 8 × 1014 sampai 3 × 1016 cycles per detik atau hertz (Hz), and panjang gelombang sekitar 380 nanometers (1.5 × 10−5 inch) sampai sekitar 10 nm (4 × 10−7 inch). Menurut U.S. Navy pada "Ultraviolet Radiation Guide”, UV dibagi menjadi 3 sub:
1) UVA, atau near UV (315–400 nm) 2) UVB, atau middle UV (280–315 nm) 3) UVC, atau far UV (180–280 nm)
9
Gambar 2.3. Spektrum Elektromagnetik
Radiasi UV memiliki energi yang cukup untuk menghancurkan senyawa kimia. DIkarenakan energinya yang tinggi, foton dari UV dapat menyebabkan ionisasi, sebuah proses dimana elektron telepas dari atom-atom.
2.8. Analisa Morfologi Batubara
Untuk mengetahui karakter suatu batubara dapat di uji menggunakan Fourier Transformed Infrared (FTIR) dan Scenning Electron Microscopy (SEM).
a. Fourier Transform Infrared (FTIR)
Fourier Transformed Infrared (FTIR) merupakan salah satu instrumen yang dapat digunakan untuk mendeteksi gugus fungsi, menganalisis campuran dan mengidentifikasi senyawa tanpa merusak sampel yang akan dianalisis. Daerah inframerah pada spektrum gelombang elektromagnetik dimulai dari panjang gelombang 14000 cm-1 hingga 10-1.
Prinsip kerja FTIR adalah interaksi antara energi dan materi. Infrared yang melewati celah ke sampel, dimana celah tersebut berfungsi mengontrol jumlah energi ysng disampaikan kepada sampel. Kemudian beberapa infrared diserap oleh sampel dan yang lainnya di transmisikan melalui permukaan sampel sehingga sinar infrared lolos ke detektor dan sinyal yang terukur kemudian dikirim ke komputer dan direkam dalam bentuk puncak-puncak.
b. Scanning Electron Microscope (SEM)
Metode yang digunakan untuk mengetahui morfologi batubara adalah pengamatan langsung dengan SEM (Scanning Electron Microscope). SEM merupakan alat yang mampu memfoto suatu permukaan dengan perbesaran dari 20 sampai 100000 kali.
Prinsip kerja SEM adalah : permukaan contoh dibombardir oleh elektron berenergi tinggi dengan energi kinetik antara 1–25 kV, elektron yang langsung menumbuk contoh ini dinamakan elektron primer, sedangkan elektron yang terpantul dari contoh dinamakan elektron sekunder.
2.10. Peta Jalan Penelitian (Road Map)
Berdasarkan Penelitian Komariah (2012) yang telah melakukan penelitian untuk menghilangkan kadar air pada batubara dengan menggunakan gelombang mikro (microwave). Kesimpulan dari penelitian yang telah dilakukan adalah kandungan air pada batubara dapat dihilangkan dengan gelombang mikro. Selain waktu, daya dan massa juga menjadi variabel yang divariasikan pada penelitian tersebut.
Pada penelitian kali ini peneliti akan membandingkan gelombang mikro (microwave) dengan UVC sebagai media pemanas untuk menghilangkan air pada batubara. Penelitian ini juga didasari oleh berapa banyak energi yang dikonsumsi pada proses penghilangan air.
Gambar 2.4. Peta Jalan Penelitian
Tahapan penelitian kedepan akan dilanjutkan dengan memperbanyak data-data dari analisis proksimat maupun ultimat seperti kandungan abu (ash content), volatile matter, nitrogen, oksigen, fosfor serta kandungan sulfur. Kemudian, tahapan akhir dari rangkaian penelitian ini adalah dengan terciptanya prototype alat pengering air dan yang lain dengan media gelombang mikro atau UVC.
11 BAB III
METODE PENELITIAN 3.1. Waktu dan Lokasi Penelitian
Pelaksanaan penelitian akan dimulai pada bulan Mei 2020 sampai Oktober 2020. Lokasi pengambilan sample, dengan skala 1:325000 (Gambar 1), berada di lapangan batubara Tanjung Enim yang terletak pada dua Kecamatan yaitu Gunung Megang dan Rambang Dangku, Kabupaten Muara Enim, Propinsi Sumatra Selatan. Lokasi penelitian berjarak kira- kira + 8 km dari pusat kota kabupaten Muara Enim serta dapat dijangkau melalui jalur darat dengan kendaraan dari instansi perusahaan. Daerah yang dikaji merupakan bagian dari Cekungan Sumatera Selatan.
Gambar 3.1. Lokasi Penelitian ditunjukkan pada bagian kotak berwarna biru
Analisa proksimat pada langkah selanjutnya dilakukan untuk mengetahui kandungan air (total moisture) sebelum dan sesudah treatment serta FTIR & SEM di Laboratorium Bahan Bakar Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Lampung.
3.2. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada penelitian ini antara lain :
- Oven - Desikator
- Cawan Timbang dengan Tutup - Timbangan Digital 3kg
- Neraca Analitik - Ayakan
- Penjepit Cawan - Gelas Beaker
- Oven Microwave Sharp R-728(S) - UV Dryer & Sterilizer LG-4969 - Palu Geologi - Sealed Bag untuk sampel - Kompas Geologi - Meteran
- Stopwatch - Kuas 2”
3.3. Prosedur Penelitian
Penelitian dilakukan dengan beberapa tahapan, antara lain : 1) Sampling
Pada tahapan ini sample batubara diambil dari lapisan M2 formasi Muara Enim dengan 3 titik lokasi pengambilan sample. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode grab sample, dimana sampel diambil secara acak di tiap lapisan batubara yang akan dianalisa.
2) Preparasi
Batubara dikarakterisasi dengan menggunakan analisa proksimat untuk mengetahui kandungan moisture yang terkandung. Analisa proksimat yang dilakukan mengacu kepada Standar Operasional Prosedur (SOP) Analisis Kimia Proksimat Batubara oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
3) Variasai massa sample
Massa batubara divariasikan 10, 20 dan 30 gram.
4) Variasi sample berdasarkan titik lokasi pengambilannya
Sample sesuai lokasi tempat pengambilan sampel dibagi menjadi M2-a, M2-b, dan M2- c (Li, 2019).
5) Analisis proksimat
Setiap sample dianalisa proksimat untuk mengetahui kandungan air yang terkandung.
Analisa proksimat yang dilakukan mengacu kepada Standar Operasional Prosedur (SOP) Analisis Kimia Proksimat Batubara oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
6) Data dan analisa
Pada tahapan ini data hasil analisa proksimat, dipilih berdasarkan yang terbaik (waktu optimal dari Oven Microwave atau UVC Dryer) menggunakan FTIR dan SEM.
13
Gambar 3.2. Diagram Alir Penelitian
14 BAB IV
RENCANA ANGGARAN BIAYA DAN JADWAL PENELITIAN 4.1. Rencana Anggaran Biaya
Total biaya yang diperlukan pada penelitian ini adalah Rp 15.000.000,- (lima belas juta rupiah).
Secara garis besar, rencana anggran pembiayaan dari usulan penelitian disajikan pada Tabel 4.1.
Tabel 4.1. Rekapitulasi Anggaran Penelitian
No. Jenis Pengeluaran Volume Harga
Satuan (Rp)
Jumlah (Rp)
1. Alat dan Bahan 6.500.000
a. Oven Microwave Sharp R-728S 1 unit 1.500.000 1.500.000
b. UV Dryer & Sterilizer LG-4969 1 unit 1.500.000 1.500.000
c. Sealed Bag 30 unit 1.500 45.000
d. Meteran 1 unit 50.000 50.000
e. Kuas 2” 1 unit 20.000 20.000
f. Timbangan digital 3kg 1 unit 245.000 245.000
g. Ayakan 212 µm 1 unit 40.000 40.000
h. Stopwatch 1unit 50.000 50.000
i. Sewa Palu Geologi 1 unit 25.000 25.000
j. Sewa Kompas Geologi 1 unit 25.000 25.000
k. Sewa Desikator 1 unit 50.000 50.000
l. Analisis FTIR 3 sample 150.000 750.000
m. Analisis SEM 3 sample 300.000 1.200.000
n. Bor Tangan Listrik 1 unit 1.000.000 1.000.000
2. Travel Expenditure 4.400.000
a. Transport pengambilan sample 1 kali PP x 2 orang
500.000 1.000.000 b. Transport pembelian alat dan bahan 1 kali PP
x 2 orang
200.000 400.000
c. Transport seminar 1 kali pp 2.000.000 2.000.000
d. Test Covid 2 kali x 2
orang
250.000 1.000.000
3. ATK/BHP 600.000
a. Kertas HVS, buku, dan pena 1 paket 200.000 200.000
b. Catrid Printer (hitam putih dan berwarna)
3 unit 200.000 400.000
4. Laporan/Publikasi 3.500.000
a. Laporan Akhir 2 paket 500.000 1.000.000
b. Publikasi Jurnal Nasional Sinta 3 1 kali 500.000 500.000
c. International Conference 1 kali 2.000.000 2.000.000
Jumlah (1+2+3+4) 15.000.000
Terbilang : lima belas juta rupiah
15
4.2. Jadwal Penelitian
Pelaksanaan kegiatan penelitian ini direncanakan selama enam bulan dimulai dari bulan Mei 2021 sampai Oktober 2021. Jadwal penelitian ditampilkan pada Tabel 4.2
Tabel 4.2 Jadwal Pelaksanaan Penelitian
Keterangan Tabel 4.2, adalah :
M2-a merupakan sampel yang diambil di titik A, M2-b merupakan sampel yang diambil di titik B, dan M2-c merupakan sampel yang diambil di titik C lokasi pengambilan sampel
G1 merupakan massa sampel 10 gram, G2 merupakan massa sampel 20 gram dan G3 merupakan massa sampel 30 gram
OM merupakan Oven Microwave dan UV merupakan UV Dryer
16
DAFTAR PUSTAKA
Anonim1. https://insight.kontan.co.id/news/ptba-targetkan-produksi-batubara-di-tanjung- enim-50-juta-ton-tahun-2022.
Diakses 15 Februari 2020
Anonim2, https://quipper.co.id/manfaat-batu-bara/.
Diakses 15 Februari 2020
Blaschke W. 2009. Przeróbka węgla kamiennego — wzbogacanie grawitacyjne. Wydawnictwo Instytutu Gospodarki Surowcami Mineralnymi i Energią PAN.
Datta,A., Rakesh, V. 2011. Microwave puffing : Mathematical Modeling and Optimization.
Procedia Food Science I (2011) 762-769.
Jones, D. A., Kingman, S.W., Whittles., Lowndes, I.S. 2005. Understanding microwave assisted breakage. Minerals Engineering. 18:659-669
Komariah,W.E. 2012. Peningkatan Kualitas Batubara Indonesia Peringkat Rendah Melalui Penghilangan Moisture Dengan Pemanasan Gelombang Mikro. Universitas Indonesia. Jakarta, 131 p. Tidak dipubilkasikan
Krawczykowska, A., Kowalska, J.M. 2012. Problems of Water Content in Lignites- Methods of Its Reduction. AGH Journal of Mining and Geoengineering,vol. 36, No. 4 . Poland.
Li, H., Zheng, C., Lu, J., Tian, L., Lu, Y., Ye, Q., Luo, W., Zhu, X. 2019. Drying kinetics of coal under microwave irradiation based on a coupled electromagnetic, heat transfer and multiphase porous media model. Fuel 256 (2019) 115966
Mujumdar, A.S. 2006. Handbook of Industrial Drying, 3rd E. CRC Press Taylor & Francis Group, Boca Raton, FL.
Pakowski, Z., Adamski R., Kokocińska M., Kwapisz S. 2011. Generalized desorption equilibrium equation of lignite in a wide temperature and moisture content range.
Fuel, 90. pp. 3330–3335.
Speight, James G. 2005. Handbook of Coal Analysis. A john Wiley & Sons.Inc,Publication.
USA
Stach, E., Mackowsky M.-Th., Teimuller M., Taylor G.H., Chandra D. & Teichmuller R. 1982.
Coal petrology (third edition). Gebruder Borntraeger, Berlin, Stuttgart, 535 Suwarna, N., Kusumahbrata, Y., Heryanto, R., Susanto, E., 2003. Kajian Eksplorasi CBM
Sumatera Selatan. Departemen ESDM Badan Penelitian dan Pengembangan ESDM Proyek Pengembangan Coal Bed Methane: Jakarta, Volume 1A tidak dipublikasikan.
17
Sukandarrumidi. 2009. Batubara dan Pemanfaatannya, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, Halaman 15-23.
Thomas, L.P., 2013. Coal Geology Second Edition, John Wiley & Sons, Ltd.Chichester, 444p