x
HALAMAN SAMPUL DEPAN i
HALAMAN SAMPUL DALAM ii
HALAMAN PRASYARAT GELAR SARJANA HUKUM iii
LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING iv
LEMBAR PENGESAHAN PENGUJI SKRIPSI v
KATA PENGANTAR vi
HALAMAN PERSYARATAN KEASLIAN ix
DAFTAR ISI x
ABSTRAK xiii
ABSTRACT xiv
BAB I PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang Masalah 1
1.2 Rumusan Masalah 5
1.3 Ruang Lingkup Masalah 5
1.4 Orisinalitas Penelitian 7
1.5 Tujuan Penelitian 10
a. Tujuan Umum 10
b. Tujuan Khusus 10
1.6 Manfaat Penelitian 11
a. Manfaat Teoritis 11
b. Manfaat Praktis 11
xi
c. Sifat Penelitian 20
d. Data dan Sumber Data 20
e. Teknik Pengumpulan Data 21
f. Teknik Penentuan Sample 23
g. Pengolahan dan Analisis Data 24
BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PELAKSANAAN PENERTIBAN PEDAGANG ACUNG DI KAWASAN PARIWISATA KUTA KABUPATEN
BADUNG 25
2.1 Kabupaten Badung sebagai Daerah Otonom 25
2.2 Wewenang Kabupaten Badung dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah 29
2.3 Penertiban, Pedagang Acung, dan Kawasan Pariwisata 34
2.3.1 Penertiban 34
2.3.2 Pedagang Acung 36
2.3.3 Kawasan Pariwisata 39
BAB III UPAYA PELAKSANAAN PENERTIBAN PEDAGANG ACUNG DI
KAWASAN PARIWISATA KUTA KABUPATEN BADUNG 43
3.1 Pengaturan Penertiban Pedagang Acung 43
3.2 Pelaksanaan Penertiban Pedagang Acung di Kawasan Pariwisata Kuta
Kabupaten Badung 49
xii
4.1 Kendala dalam Pelaksanaan Penertiban Pedagang Acung di Kawasan
Pariwisata Kuta Kabupaten Badung 60
4.2 Upaya Pemerintah Kabupaten Badung dalam Pelaksanaan Penertiban Pedagang Acung di Kawasan Pariwisata Kuta Kabupaten Badung 67
BAB V PENUTUP 71
5.1 Kesimpulan 71
5.2 Saran 72
DAFTAR PUSTAKA DAFTAR INFORMAN LAMPIRAN-LAMPIRAN
xiii
menjadi sasaran bagi wisatawan yang berkunjung ke Bali saja melainkan juga menjadi sasaran bagi masyarakat untuk melakukan aktivitas yang bisa digunakan sebagai sumber mata pencaharian. Salah satu aktivitas yang terdapat di kawasan ini adalah pedagang acung.
Keberadaan pedagang acung sering kali mengganggu ketertiban dan ketentraman bagi wisatawan yang berkunjung. Berdasarkan permasalahan tersebut penulis mengkaji Pelaksanaan Penertiban Pedagang Acung di Kawasan Pariwisata Kuta Kabupaten Badung.
Penelitian ini dilakukan untuk mencari informasi tentang bagaimana pelaksanaan penertiban, kendala serta upaya pemerintah dalam pelaksanaan penertiban pedagang acung di kawasan pariwisata Kuta Kabupaten Badung.
Penelitian ini merupakan penelitian hukum empiris yang menggunakan pendekatan Perundang-Undangan dan Pendekatan Fakta yang mana masalah yang diangkat dikaitkan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dengan kenyataan yang ada di Kawasan Pariwisata Kuta Kabupaten Badung. Sumber data yang yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah data primer yang bersumber dari penelitian lapangan yaitu data yang diperoleh langsung dari responden maupun informan. Data sekunder berasal dari penelitian kepustakaan.
Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan penertiban pedagang acung di Kawasan Pariwisata Kuta Kabupaten Badung selalu diupayakan oleh Pemerintah Kabupaten Badung melalui Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Badung dan pemerintah desa adat setempat dengan mengadakan kegiatan-kegiatan penertiban serta sosialisasi terhadap masyarakat guna memberikan ketentraman bagi wisatawan yang berkunjung serta bagi masyarakat itu sendiri. Pelaksanaan penertiban yang dilakukan membutuhkan ketentuan yang jelas serta peran serta dari masyarakat untuk mampu menjaga ketertiban di kawasan tersebut.
Kata Kunci: Kawasan Pariwisata, Penertiban, Satuan Polisi Pamong Praja
xiv
become a target for the community to do activities that can be used as a source of livelihood. One of the activities in this region is merchant. The presence of merchant often disturbs the order and tranquility for the tourists. Based on these problems the author examines the Implementation of the Order of Merchant in the Kuta Badung Tourism Region.
This research is conducted to find information about how the implementation of controlling, obstacles and government efforts in the implementation of curbing merchants in Kuta Badung Tourism Region.
This research is an empirical legal research that uses The Statute Approach and The Fact Approach which the issues raised are related to the prevailing laws and regulations with the reality that existed in Kuta Badung Tourism Region. Sources of data used in this study are primary data sourced from field research that is data obtained directly from respondents and informants. Secondary data comes from library research.
Based on these result this study can be concluded that the implementation of curbing merchants in the area of Kuta Badung Regency always strived by the Government of Badung Regency through Badung District Police Precinct and local custom village government by conducting curbing activities and socialization of the community in order to provide tranquility for tourists Who visit and for the community itself. Implementation of the curbing requires a clear provision and the role of the community to be able to maintain order in the region.
Keywords: Tourism Region, Curb, Badung District Police Precinct
1 1.1 Latar Belakang
Bali merupakan salah satu provinsi yang memiliki keunikan tersendiri dengan pendapatan daerah terbesar dari sektor pariwisata. Kekayaan dan keindahan alam, serta keunikan seni budayanya merupakan hal-hal penting yang menjadi daya tarik utama yang dimiliki untuk menarik minat wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara sehingga Bali dan pariwisata tidak dapat dipisahkan. Pariwisata ini memberikan peluang kerja di berbagai bidang bagi masyarakat di Bali sehingga memperoleh pendapatan yang bisa memenuhi kebutuhan hidup mereka. Oleh karena itu sektor pariwisata menjadi andalan bukan hanya oleh Pemerintah Provinsi Bali, melainkan juga seluruh lapisan masyarakat yang ada di Provinsi Bali.
Kabupaten Badung merupakan salah satu kabupaten yang terletak di provinsi Bali yang memiliki potensi besar di sektor pariwisata. Badung memiliki daya tarik wisata yang beraneka ragam, salah satu yang terkenal adalah Kawasan Pariwisata Kuta yang semakin tahun semakin terus berkembang dan tetap menjadi komoditi wisatawan terbanyak baik wisatawan domestik maupun mancanegara di Kabupaten Badung. Kuta yang merupakan destinasi pariwisata Indonesia dan dunia ini menjadi harapan untuk mengais rejeki bagi sebagian besar masyarakat Kuta khususnya dan masyarakat Bali pada umumnya. Namun dalam kenyataanya perkembangan kawasan ini tidak diimbangi dengan pelaksanaan tertib hukum di kawasan ini sendiri. Sering
kali aturan-aturan yang sudah ditetapkan malah justru dikesampingkan oleh masyarakat sehingga pelanggaran hukum sering kali terjadi dan bertolak belakang dengan prinsip dasar Negara Indonesia sebagai Negara Hukum.
Negara hukum adalah negara atau pemerintah yang berdasarkan hukum.
Negara menempatkan hukum sebagai dasar kekuasaan negara dan penyelenggaraan kekuasaan dilakukan di bawah kekuasaan hukum. Kekuasaan tumbuh pada hukum dan semua orang sama di depan hukum1. Seperti yang kita ketahui Negara Indonesia merupakan Negara hukum seperti yang telah ditegaskan dalam Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Oleh karena itu berbagai tindakan dan kewenangan yang dimiliki pemerintah harus berdasarkan atas hukum. Dalam rangka penyelenggaraan pemerintah daerah sesuai dengan amanat pasal 18 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, maka pemerintah daerah diberikan kesempatan untuk mengurus sendiri urusan pemerintah sesuai dengan otonomi dan tugas pembantuan.
Sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 maka pemerintah daerah berwenang untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dengan berdasarkan asas otonomi dan tugas pembantuan. Dalam Pasal 1 ayat (2) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah disebutkan bahwa yang dimaksud dengan pemerintah daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh pemerintah daerah dan Dewan
1 Agus Salim Andi Gadjong, 2007, Pemerintah Daerah Kajian Politik dan Hukum, Ghalia Indonesia, Bogor, h. 33
Perwakilan Rakyat Daerah menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana yang dimaksud dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Tujuan pemberian otonomi kepada daerah adalah untuk meningkatkan daya guna dan hasil guna penyelenggaraan pemerintahan daerah, terutama dalam pelaksanaan pembangunan dan pelayanan terhadap masyarakat serta untuk meningkatkan pembinaan kestabilan politik dan kesatuan bangsa2. Dalam Pasal 1 angka 6 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, ditetapkan bahwa Otonomi Daerah adalah hak, wewenang dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Program pembangunan di daerah dalam era otonomi yang nyata memberi pengertian adanya perubahan orientasi pelaksanaan pembangunan yang harus dikelola dengan prinsip dan mekanisme yang profesional. Seiring dengan perjalanan dan perkembangan sistem pemerintahan daerah, pemerintah Kabupaten Badung sebagai pemerintah di daerah menyelenggarakan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat dengan mengeluarkan Peraturan Daerah Kabupaten Badung Nomor 4 Tahun 2001 tentang Kebersihan dan Ketertiban Umum di Kabupaten Badung.
2 Sujamto, 1990, Otonomi Daerah Yang Nyata Dan Bertanggung Jawab, Cet. II Ghalia Indonesia, Jakarta, h. 22
Sejalan dengan pesatnya perkembangan daerah terjadi pula peningkatan aktivitas penduduk dengan berbagai permasalahan, sehingga memerlukan penanganan yang lebih konfrehensif. Salah satu kegiatan yang berpotensi menimbulkan gangguan terhadap kebersihan dan ketertiban umum di kawasan pariwisata Kuta, Kabupaten Badung adalah keberadaan pedagang acung. Beberapa kegiatan yang dilakukan oleh pedagang acung cenderung menggangu ketertiban umum misalnya mereka berjualan di areal trotoar yang merupakan fasilitas umum sehingga menghalangi pejalan kaki yang hendak menggunakan trotoar dan juga mereka berjualan di area pantai sehingga sering kali mengganggu ketentraman dan kenyamanan bagi wisatawan yang berkunjung.
Di dalam Peraturan Daerah Kabupaten Badung Nomor 4 Tahun 2001 tentang Kebersihan dan Ketertiban Umum di Kabupaten Badung telah ditentukan dalam Pasal 37 ayat (1) bahwa “Dilarang menjajakan dagangan (sebagai pedagang acung) di jalan, jalur hijau, taman dan tempat umum lainnya dengan cara menyodorkan secara langsung kepada calon pembeli yang dapat menimbulkan gangguan ketertiban, keamanan, kebersihan dan kenyamanan bagi calon pembeli.”
Guna melaksanakan penegakan peraturan daerah, maka pemerintah Kabupaten Badung membentuk Satuan Polisi Pamong Praja yang pembentukannya mengacu pada Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2010 tentang Satuan Polisi Pamong Praja. Pengertian Satuan Polisi Pamong Praja tercantum jelas dalam Pasal 1 angka 8 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2010 tentang Satuan Polisi Pamong Praja yang menetapkan bahwa
“Satuan Polisi Pamong Praja, yang selanjutnya disingkat Satpol PP adalah bagian perangkat daerah dalam penegakan peraturan daerah dan penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat”. Berdasarkan ketentuan pasal tersebut Satpol PP mempunyai tugas untuk menegakkan peraturan daerah, menyelenggarakan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat serta perlindungan masyarakat.
Berdasarkan uraian latar belakang yang telah dipaparkan, maka penulis mengangkat dan mengambil penelitian skripsi yang berjudul “PELAKSANAAN PENERTIBAN PEDAGANG ACUNG DI KAWASAN PARIWISATA KUTA KABUPATEN BADUNG”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan yang telah dikemukakan oleh penulis di atas, maka dapat dirumuskan beberapa masalah, sebagai berikut :
1. Bagaimanakah pelaksanaan penertiban pedagang acung di kawasan pariwisata Kuta oleh Pemerintah Kabupaten Badung?
2. Bagaimana kendala serta upaya pemerintah dalam pelaksanaan penertiban pedagang acung di kawasan pariwisata Kuta Kabupaten Badung?
1.3 Ruang Lingkup Masalah
Di dalam membahas permasalahan di atas maka perlu ditentukan suatu ruang lingkup kajian permasalahan. Ruang lingkup kajian permasalahan merupakan kerangka penelitian yang menggambarkan batas penelitian, mempersempit permasalahan, dan membatasi areal penelitian untuk mencegah agar isi dan uraian tidak menyimpang dari pokok-pokok permasalahan. Agar terdapat kesesuaian antara pembahasan dan permasalahan, maka selanjutnya akan dilakukan pembatasan- pembatasan tertentu sehingga penelitian ini tidak teralu luas dan menyimpang dari pokok bahasan. Untuk itu dapat difokuskan beberapa teori yang berkaitan dengan kajian permasalahan dalam penelitian ini sehingga dapat dipakai sebagai analisis dalam menjelaskan dan menganalisis permasalahan penulisan penelitian ini. Untuk memfokuskan penelitian maka penulis membatasi ruang lingkup dari penelitian ini.
Adapun yang menjadi ruang lingkup penelitian ini adalah :
a. Pada bagian permasalahan yang pertama akan dibatasi ruang lingkup penelitiannya mengenai pelaksanaan penertiban, sehingga penelitian ini akan meneliti dan membahas mengenai bagaimana pelaksanaan penertiban pedagang acung di kawasan pariwisata Kuta oleh Pemerintah Kabupaten Badung.
b. Kemudian pada bagian permasalahan yang kedua akan dibatasi ruang lingkup penelitiannya mengenai kendala-kendala yang dihadapi serta upaya-upaya yang dilakukan pemerintah dalam rangka pelaksanaannya, sehingga penelitian ini akan meneliti dan membahas mengenai bagaimana kendala serta upaya
pemerintah dalam pelaksanaan penertiban pedagang acung di kawasan pariwisata Kuta Kabupaten Badung.
1.4 Orisinalitas
Dalam penelitian ini penulis menjabarkan tentang pelaksanaan penertiban pedagang acung di kawasan pariwisata Kuta Kabupaten Badung dengan objek penelitiannya adalah pelaksanaan Peraturan Daerah Kabupaten Badung Nomor 4 Tahun 2001 tentang Kebersihan dan Ketertiban Umum di Kabupaten Badung serta kendala maupun upaya pemerintah dalam pelaksanaan penertiban pedagang acung di kawasan pariwisata Kuta Kabupaten Badung. Adapun penelitian yang dapat digunakan sebagai pembanding dan sekaligus menunjukkan perbedaan atau orisinalitas penelitian ini yaitu:
a. Penelitian oleh I Made Arigratiyana Dhiatmika, Fakultas Hukum Universitas Udayana pada tahun 2014, yang berjudul “PELAKSANAAN KEWENANGAN SATUAN POLISI PAMONG PRAJA SEBAGAI PENEGAK PERATURAN DAERAH DI KABUPATEN GIANYAR”.
Rumusan masalah pertama yang dikemukakan adalah tindakan-tindakan apa yang dapat dilakukan Satuan Polisi Pamong Praja dalam penegakan Peraturan Daerah di Kabupaten Gianyar?. Rumusan masalah yang kedua adalah faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi pelaksanaan kewenangan Satuan Polisi Pamong Praja dalam penegakan Peraturan Daerah di Kabupaten Gianyar?. Perbedaan penelitian antara penelitian
yang ditulis oleh I Made Arigratiyana Dhiatmika dengan penelitian ini terletak pada obyek kajian penelitian dan lokasi penelitian. Obyek kajian penelitian yang ditulis oleh I Made Arigratiyana Dhiatmika terletak pada kewenangan Satuan Polisi Pamong Praja dan Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2010 Tentang Satuan Polisi Pamong Praja yang objek penelitiannya dilakukan di Kabupaten Gianyar, sedangkan obyek kajian pada penelitian ini berupa pelaksanaan penertiban pedagang acung dan Peraturan Daerah Kabupaten Badung Nomor 4 Tahun 2001 tentang Kebersihan dan Ketertiban Umum di Kabupaten Badung, dengan lokasi penelitian di Kabupaten Badung.
b. Penelitian dari Asmawaty, Fakultas Hukum Universitas Udayana pada tahun 2009, yang berjudul “PENGATURAN, PENATAAN, DAN PENEGAKAN HUKUM BAGI PEDAGANG KAKI LIMA DI KOTA DENPASAR”, dengan rumusan masalah pertama yaitu bagaimana pengaturan dan penataan pedagang kaki lima di Kota Denpasar?.
Rumusan masalah yang kedua adalah bagaimana penegakan hukum bagi pedagang kaki lima di Kota Denpasar?. Perbedaan penelitian antara penelitian yang ditulis oleh Asmawaty dengan penelitian ini terletak pada obyek kajian penelitian dan lokasi penelitian. Obyek kajian penelitian yang ditulis oleh Asmawaty terletak pada pengaturan, penataan, dan penegakan hukum bagi pedagang kaki lima berdasarkan Peraturan Daerah Kota Denpasar Nomor 3 Tahun 2000 Atas Perubahan Peraturan Daerah
Nomor 15 Tahun 1993 Tentang Kebersihan Dan Ketertiban Umum yang obyek penelitiannya dilakukan di Kota Denpasar, sedangkan obyek kajian penelitian ini menyangkut pelaksanaan penertiban pedagang acung dan Peraturan Daerah Kabupaten Badung Nomor 4 Tahun 2001 tentang Kebersihan dan Ketertiban Umum di Kabupaten Badung, dengan lokasi penelitiannya dilakukan di Kabupaten Badung.
c. Penelitian oleh I Gusti Agus Yuda Trisna Pramana, Fakultas Hukum Universitas Udayana pada tahun 2015, yang berjudul “UPAYA PEMERINTAH KOTA DENPASAR DALAM PENGENDALIAN PENGEMIS BERDASARKAN PERATURAN DAERAH KOTA DENPASAR NOMOR 3 TAHUN 2000 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH NOMOR 15 TAHUN 1993 TENTANG KEBERSIHAN DAN KETERTIBAN UMUM”. Rumusan masalah pertama yang dikemukakan adalah bagaimanakah penegakan hukum yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Denpasar dalam pengendalian pengemis?. Rumusan masalah kedua adalah faktor-faktor yang mempengaruhi Pemerintah Kota Denpasar dalam upaya pengendalian dan pemberdayaan pengemis berdasarkan Peraturan Daerah Kota Denpasar Nomor 3 Tahun 2000 tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Kota Denpasar Nomor 15 Tahun 1993 tentang Kebersihan dan Ketertiban Umum?. Perbedaan penelitian antara penelitian yang ditulis oleh I Gusti Agus Yuda Trisna Pramana dengan penelitian ini terletak pada obyek
kajian penelitian dan lokasi penelitian. Obyek kajian penelitian yang ditulis oleh I Gusti Agus Yuda Trisna Pramana terletak pada upaya Pemerintah Kota Denpasar dalam pengendalian pengemis berdasarkan Peraturan Daerah Kota Denpasar Nomor 3 Tahun 2000 tentang Perubahan atas Peraturan Daerah Kota Denpasar Nomor 15 Tahun 1993 tentang Kebersihan dan Ketertiban Umum yang objek penelitiannya dilakukan di Kota Denpasar, sedangkan obyek kajian pada penelitian ini berupa pelaksanaan penertiban pedagang acung dan Peraturan Daerah Kabupaten Badung Nomor 4 Tahun 2001 tentang Kebersihan dan Ketertiban Umum di Kabupaten Badung, dengan lokasi penelitian di Kabupaten Badung.
1.5 Tujuan Penelitian
a. Tujuan Umum
Secara umum penelitian dengan permasalahan yang telah dipaparkan di atas adalah bertujuan untuk mengembangkan ilmu hukum atau menambah khasanah pengetahuan di bidang Hukum Administrasi Negara khususnya di bidang Hukum Pemerintahan Daerah yang berkaitan dengan pelaksanaan penertiban pedagang acung di kawasan pariwisata Kuta Kabupaten Badung yang sesuai dengan kaidah atau norma-norma hukum yang berlandaskan asas otonomi daerah serta standar menurut prinsip demokrasi.
b. Tujuan Khusus
Tujuan khusus yang ingin dicapai lebih lanjut dalam penelitian ini adalah : 1) Untuk mengetahui dan menganalisis mengenai pelaksanaan penertiban
pedagang acung di kawasan pariwisata Kuta Kabupaten Badung.
2) Untuk mengetahui dan menganalisis mengenai kendala serta upaya pemerintah dalam pelaksanaan penertiban pedagang acung di kawasan pariwisata Kuta Kabupaten Badung.
1.6 Manfaat Penelitian
a. Manfaat Teoritis
Manfaat teoritis yang diharapkan melalui penelitian ini terkait dengan permasalahan di atas adalah untuk dapat merumuskan pemikiran-pemikiran teoritis dalam rangka menganalisis pelaksanaan penertiban pedagang acung di kawasan pariwisata Kuta Kabupaten Badung telah sesuai dengan kaidah atau norma-norma hukum serta dapat memberikan sumbangan ilmu hukum dan informasi mengenai penanggulangan pedagang acung di kawasan pariwisata Kuta Kabupaten Badung.
b. Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi maupun sumbangan pemikiran dan ilmu pengetahuan dalam rangka meningkatkan perhatian Pemerintah Daerah Kabupaten Badung tentang penertiban pedagang acung serta dapat dijadikan pedoman oleh kalangan mahasiswa, praktisi maupun masyarakat umum di dalam menyikapi masalah yang timbul karena keberadaan pedagang acung di tengah-tengah masyarakat.
1.7 Landasan Teoritis
Dalam penelitian ini digunakan landasan teoritis berupa Teori Negara Hukum, Teori Kewenangan, dan Teori Pengakan Hukum sebagaimana terurai berikut.
1.7.1 Teori Negara Hukum
Negara hukum untuk pertama kalinya dikemukakan oleh Plato kemudian selanjutnya dikembangkan dan dipertegas kembali oleh Aristoteles. Plato dalam bukunya yang berjudul Politea menguraikan betapa penguasa di masa Plato hidup (429 SM - 346 SM) sangatlah tirani, haus dan gila akan kekuasaan serta sewenang- wenang dan sama sekali tidak mempedulikan kepentingan rakyatnya. Secara embrio gagasan negara hukum telah dikemukakan oleh Plato ketika ia mengintroduksi Nomoi, sementara itu dalam dua tulisan pertama, Politea dan Politicos belum muncul
istilah negara hukum.3
Plato dengan gamblang menyampaikan pesan moral agar penguasa berbuat adil, menjunjung tinggi nilai kesusilaan dan kebijaksanaan serta senantiasa memperhatikan kepentingan dan nasib rakyatnya. Buku kedua yang berjudul Politicos memaparkan suatu konsep agar suatu negara dikelola dan dijalankan atas
dasar hukum (rule of the game) demi warga negara yang bersangkutan. Buku ketiga dari Plato yang berjudul Nomoi lebih menekankan konsepnya pada para
3 Ridwan HR, 2002, Hukum Administrasi Negara, Rajawali Pers, Yogyakarta, h. 2
penyelenggara negara agar senantiasa diatur dan dibatasi kewenangannya dengan hukum agar tidak bertindak sekehendak hatinya.4 Gagasan tentang negara hukum ini semakin tegas ketika didukung oleh muridnya Aristoteles.
Negara hukum adalah negara atau pemerintah yang berdasarkan hukum.
Negara menempatkan hukum sebagai dasar kekuasaan negara dan penyelenggaraan kekuasaan dilakukan di bawah kekuasaan hukum. Kekuasaan tumbuh pada hukum dan semua orang sama di depan hukum5.
Indonesia merupakan negara hukum sesuai dengan yang telah ditetapkan dalam Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Dengan demikian konsekuensi sebagai negara hukum Indonesia harus memenuhi dua persyaratan yaitu yang pertama adalah supremacy before the law yang artinya adalah hukum diberikan kedudukan yang tinggi, berkuasa penuh dalam suatu negara dan rakyat. Kemudian yang kedua adalah equality before the law yang artinya bahwa semua pejabat pemerintahan maupun masyarakat biasa adalah sama kedudukannya di mata hukum.6 Konsep negara hukum Indonesia adalah berdasarkan Pancasila sebagai filosofi dan ideologi bangsa dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia sebagai landasan konstitusi Indonesia.
Atas dasar tersebut bahwasanya teori negara hukum haruslah menggambarkan bahwa suatu negara harus mematuhi aturan hukum maupun perundang-undangan
4 Madjid H. Abdullah, 2007, Penataan Hukum Organisasi Perangkat Daerah Dalam Konteks Otonomi Daerah Berdasarkan Prinsip-Prinsip Tata Pemerintahan Yang Baik, Disertasi, PPs Universitas Hasanuddin, Makassar, h. 29
5 Agus Salim Andi Gadjong, loc.cit
6 Ridwan HR, loc.cit
yang berlaku di Indonesia baik itu dari aparat pemerintahan maupun warga masyarakat biasa sehingga terdapat kepastian, keadilan, dan kemanfaatan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku serta mewujudkan suatu keadaan yang tertib hukum, aman dan harmonis.
1.7.2 Teori Kewenangan
Setiap penyelenggaraan kenegaraan maupun pemerintahan harus memiliki legitimasi berupa kewenangan yang diberikan oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dengan demikian maka penyelenggara negara memiliki kemampuan untuk melakukan tindakan hukum berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kewenangan merupakan bagian penting dari Hukum Pemerintahan dikarenakan pemerintah baru mampu menjalankan fungsinya sebagai penyelenggara negara atas dasar wewenang yang diperolehnya berdasarkan peraturan perundang- undangan yang berlaku.
Menurut S. Prajudi Atmosudirjo, wewenang adalah kekuasaan untuk melakukan suatu tindakan hukum publik.7 Sedangkan menurut S.F. Marbun wewenang adalah kemampuan bertindak yang diberikan oleh undang-undang yang berlaku untuk melakukan hubungan dan perbuatan hukum.8 Dari kedua pendapat tersebut dapat disimpulkan secara sederhana bahwa wewenang merupakan kekuasaan untuk melakukan suatu tindakan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. Menurut pendapat Donner, ada dua fungsi yang berkaitan dengan
7 S. Prajudi Atmosudirjo, 1995, Hukum Administrasi Negara, Ghalia Indonesia, Jakarta, h. 74
8 SF. Marbun, 1997, Peradilan Administrasi Negara dan Upaya Administrasi di Indonesia, Liberty, Yogyakarta, h. 154
kewenangan, yakni fungsi pembuatan kebijakan (policy making) yaitu kekuasaan yang menentukan tugas dari alat pemerintahan atau kekuasaan yang menentukan politik negara dan fungsi pelaksanaan kebijakan (policy exsecuty) yaitu kekuasaan yang bertugas untuk merealisasikan politik negara yang telah ditentukan (verwezeblikking van de taak).9 Secara teoritis, kewenangan bersumber dari peraturan perundang-undangan yang berlaku dan diperoleh melalui tiga cara yaitu atribusi, delegasi, dan mandat.
Menurut H.D Van Wijk dan Willem Konijnebelt, atribusi (atributie bevoegdheid) adalah pemberian wewenang pemerintah oleh pembuat undang-undang
kepada organ pemerintahan.10 Jadi wewenang atribusi juga dapat dikatakan sebagai wewenang asli yaitu wewenang yang diperoleh pemerintah secara langsung yang bersumber dari peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kemudian menurut H.D Van Wijk dan Willem Konijnebelt delegasi adalah pelimpahan wewenang pemerintah dari suatu organ pemerintahan kepada organ pemerintahan yang berakar dari kewenangan atribusi.11 Selanjutnya wewenang mandat (mandaat bevoegdheid) adalah pelimpahan wewenang yang pada umumnya dalam rutin antara bawahan dan atasan, kecuali secara tegas diatur oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku.12 Secara sederhana wewenang mandat dapat diartikan sebagai pelimpahan kewenangan kepada bawahan yang bertujuan memberikan wewenang kepada bawahannya untuk
9 Victor Situmorang, 1989, Dasar-Dasar Hukum Administrasi Negara, Bima Aksara, Jakarta, h. 30
10 Sadjijono, 2008, Memahami Beberapa Pokok Hukum Administrasi, Laksbang Press Indo, Yogyakarta, h. 58
11 Ibid
12 Ibid
membuat keputusan ataupun kewenangan lainnya atas nama Badan ataupun Pejabat Tata Usaha Negara yang memberikan pelimpahan wewenang tersebut.
1.7.3 Teori Penegakan Hukum
Penegakan hukum adalah proses dilakukannya upaya untuk tegaknya atau berfungsinya norma-norma hukum secara nyata sebagai pedoman perilaku dalam lalu lintas atau hubungan-hubungan hukum dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Ditinjau dari sudut subjeknya, penegakan hukum itu dapat dilakukan oleh subjek yang luas dan dapat pula diartikan sebagai upaya penegakan hukum oleh subjek dalam arti sempit. Dalam arti luas, proses penegakan hukum itu melibatkan semua subjek hukum dalam setiap hubungan hukum. Siapa saja yang menjalankan aturan normatif berarti dia menjalankan atau menegakkan aturan hukum. Dalam arti sempit, penegakan hukum itu hanya diartikan sebagai upaya aparatur penegakan hukum tertentu untuk menjamin dan memastikan bahwa suatu aturan hukum berjalan sebagaimana seharusnya. Dalam memastikan tegaknya hukum itu, apabila diperlukan aparatur penegak hukum diperkenankan untuk menggunakan daya paksa.13
Pengertian penegakan hukum itu dapat pula ditinjau dari sudut objeknya, yaitu dari segi hukumnya. Dalam hal ini, pengertiannya juga mencakup makna yang luas dan sempit. Dalam arti luas penegakan hukum itu mencakup pula nilai-nilai keadilan yang terkandung di dalamnya bunyi aturan formal maupun nilai-nilai keadilan yang hidup dalam masyarakat. Kemudian dalam arti sempit penegakan hukum itu hanya menyangkut penegakan peraturan yang formal dan tertulis saja. Karena itu
13 Jimly Asshidiqie, 2006, “Penegakan Hukum”, Journal Hukum Konstitusi, Jakarta, h. 1
penerjemahan perkataan „law enforcement‟ ke dalam Bahasa Indonesia dalam menggunakan perkataan „penegakan hukum‟ dalam arti luas dan dapat pula digunakan istilah „penegakan peraturan‟ dalam arti sempit.14
Dalam penegakan hukum terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi penegakan hukumnya. Menurut Lawrance Friedman keberhasilan dalam penegakan hukum ditentukan oleh substansi hukum, struktur hukum, dan kultur maupun budaya hukum masyarakat. Sedangkan menurut Soerjono Soekanto faktor-faktor yang mempengaruhi penegakan hukum diantaranya adalah :
a) Faktor hukumnya sendiri, yakni di dalam tulisan ini akan dibatasi undang- undang saja.
b) Faktor penegak hukum, yakni pihak-pihak yang membentuk maupun menerapkan hukum.
c) Faktor sarana atau fasilitas yang mendukung penegakan hukum.
d) Faktor masyarakat, yakni lingkungan dimana hukum tersebut berlaku atau diterapkan.
e) Faktor kebudayaan, yakni sebagai hasil karya, cipta dan rasa yang didasarkan pada karsa manusia didalam pergaulan hidup.
Kelima faktor tersebut saling berkaitan dengan erat, oleh karena merupakan esensi dari penegakan hukum, juga merupakan tolok ukur daripada efektifitas penegakan hukum.15
14 Ibid, h. 2
1.8 Metode Penelitian
Penelitian merupakan suatu kegiatan ilmiah dengan mencari data suatu masalah. Dalam pelaksanaannya diperlukan suatu metode yang bersifat ilmiah yaitu metode penelitian yang sesuai dengan yang akan diteliti. Suatu metode merumuskan cara kerja atau tata kerja untuk dapat memahami objek yang menjadi sasaran ilmu pengetahuan yang bersangkutan. Suatu metode dipilih berdasarkan dan mempertimbangkan keserasian dengan objeknya serta metode yang digunakan sejalan dengan tujuan, sasaran variabel dan yang hendak diteliti. Sedangkan metode penelitian menguraikan secara teknik apa yang digunakan dalam penelitiannya.
a. Jenis Penelitian
Menurut Soerjono Soekanto, metode adalah proses, prinsip-prinsip dan tata cara memecahkan suatu masalah, sedangkan penelitian adalah pemeriksaan secara hati-hati, tekun dan tuntas terhadap suatu gejala untuk menambah pengetahuan manusia. Maka metode penelitian dapat diartikan sebagai proses prinsip-prinsip dan tata cara untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam melakukan penelitian16.
Seseorang diharapkan mampu untuk menemukan dan menganalisa masalah tertentu sehingga dapat mengungkapkan suatu kebenaran dengan menggunakan metode, karena metode memberikan pedoman tentang tata cara bagaimana seorang ilmuwan mampu untuk mempelajari, memahami, dan menganalisa permasalahan
15 Soerjono Soekanto, 2011, Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penegakan Hukum, Rajawali Pers, Jakarta, h. 8
16 Soerjono Soekanto, 1994, Pengantar Penelitian Hukum, Universitas Indonesia Press, Jakarta, h. 13
yang dihadapi. Dengan demikian penelitian akan berjalan dengan baik dan lancar sesuai dengan rencana yang ditetapkan karena “suatu metode merupakan cara kerja atau tata kerja untuk memahami objek yang menjadi sasaran ilmu pengetahuan yang bersangkutan”17.
Di dalam upaya mengkaji dan mencari pemecahan terhadap masalah yang penulis kemukakan, maka jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian hukum empiris, dimana pada awalnya yang akan diteliti yaitu data sekunder kemudian dilanjutkan dengan penelitian terhadap data primer di lapangan atau masyarakat.
b. Jenis Pendekatan
Untuk mengetahui bagaimana penegakan hukum terhadap penertiban pedagang acung di kawasan pariwisata Kuta Kabupaten Badung, dalam hal ini peneliti menggunakan pendekatan perundang-undangan (the statute approach) dan pendekatan fakta (the fact approach). Pendekatan perundang-undangan di sini adalah ingin menganalisis norma-norma hukum yang ada di dalam Peraturan Daerah Kabupaten Badung Nomor 4 Tahun 2001 tentang Kebersihan dan Ketertiban Umum di Kabupaten Badung, sedangkan untuk pendekatan fakta, dilakukan dengan cara mengkaji fakta yang terjadi di lapangan, yang bertujuan untuk mendapatkan gambaran nyata dari fakta yang terkait dengan permasalahan yang ada.
17 Ibid, h. 14
c. Sifat Penelitian
Sifat dari penelitian yang akan dilakukan adalah penelitian deskriptif yaitu suatu penelitian yang berusaha untuk menggambarkan tentang keadaan dan gejala- gejala lainnya dengan cara mengumpulkan data, menyusun, mengklasifikasi, menganalisa, dan menginterpretasikan18.
Penelitian Deskriptif pada penelitian ilmu hukum bertujuan untuk menggambarkan secara tepat sifat-sifat suatu individu, keadaan, gejala atau kelompok tertentu, atau untuk menentukan penyebaran suatu gejala, serta untuk menentukan ada tidaknya hubungan antara suatu gejala dengan gejala lainnya dalam masyarakat.
Dalam penelitian ini penulis akan mencoba untuk mendeskripsikan atau menggambarkan tentang pelaksanaan penegakan hukum dari Peraturan Daerah Kabupaten Badung Nomor 4 Tahun 2001 tentang Kebersihan dan Ketertiban Umum di Kabupaten Badung, menggambarkan permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan peraturan daerah tersebut serta upaya yang dilakukan atas permasalahan yang muncul dalam pelaksanaannya.
d. Data dan Sumber Data
Secara umum jenis data yang diperlukan dalam suatu penelitian hukum adalah terfokuskan pada penelitian data primer dan data sekunder. Data primer yang dimaksud dalam penelitian ini mengkaitkan kondisi sosial dengan masalah-masalah hukum yang terjadi di masyarakat. Sedangkan data sekunder berupa bahan hukum
18 Soerjono Soekanto, 1986, Pengantar Penelitian Hukum, Universitas Diponegoro Press, Semarang, h.10
dan dokumen-dokumen hukum termasuk kasus-kasus hukum yang menjadi pijakan dasar peneliti dalam rangka menjawab permasalahan dan tujuan penelitiannya. Jadi dalam penelitian hukum empiris ini peneliti akan menggunakan dua data dan sumber data dalam penelitian ini, yaitu sebagai berikut :
1) Data Primer merupakan data yang diperoleh langsung dari narasumber yang berhubungan dengan objek penelitian. Sedangkan sebagai sumber data primer dalam penelitian ini adalah semua pihak yang dapat memberikan keterangan secara langsung mengenai segala hal yang berkaitan dengan objek penelitian.
Dalam penelitian yang menjadi sumber data primer adalah pihak-pihak yang mengetahui dan terkait dengan pelaksanaan penertiban pedagang acung di kawasan pariwisata Kuta Kabupaten Badung.
2) Data sekunder merupakan data yang diperoleh secara tidak langsung dari narasumber baik itu berasal dari dokumen, bahan pustaka, hasl-hasil penelitian dan lain sebagainya terutama yang berkaitan dengan penelitian.
Yang akan menjadi sumber data dalam data sekunder adalah data-data yang diperoleh melalui studi pustaka, baik berupa peraturan perundang-undangan, buku-buku, maupun hasil-hasil penelitian yang mendukung sumber data primer dan tentu saja berkaitan dengan objek penelitian, yaitu pelaksanaan penertiban pedagang acung di kawasan pariwisata Kuta Kabupaten Badung.
e. Teknik Pengumpulan Data
Di dalam penelitian hukum ini peneliti menggunakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan menggunakan teknik sebagai berikut :
1) Teknik Wawancara
Wawancara (interview) adalah teknik percakapan dengan maksud tertentu yang dilakukan oleh dua pihak, yakni pewawancara yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai yang memberikan jawaban19. Teknik wawancara yang dipilih adalah dalam bentuk, “wawancara terstruktur” dan
“wawancara tak terstruktur”. Wawancara terstruktur adalah wawancara dimana peneliti menetapkan sendiri masalah-masalah dan pertayaan- pertanyaan yang akan diajukan. Wawancara tak terstruktur adalah wawancara dimana peneliti mengajukan pertanyaan secara lebih bebas dan leluasa tanpa terikat oleh susunan pertanyaan yang telah dipersiapkan sebelunya20.
2) Teknik Studi Dokumen
Salah satu cara dalam pengumpulan data adalah dengan melakukan studi dokumen, berupa mempelajari buku-buku literatur, peraturan perundang- undangan, karya ilmiah serta dokumen-dokumen yang berkaitan dengan masalah yang diteliti atau yang sesuai dengan objek kajian. Studi literatur atau dokumen akan bermanfaat dalam membangun kerangka berfikir dari pembahasan penelitian ini. Peneliti dalam penelitian ini merupakan instrumen utama yang artinya peneliti sendiri yang terjun langsung ke tempat penelitian selaku tangan pertama dan tidak digunakan tenaga peneliti lainnya. Selain itu
19 Lexy J. Moleong, 1991, Metode Penelitian Kualitatif, PT. Remaja Rosada Karya, Bandung, h. 135
20 S. Nasution, 1996. Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif, Reka Sarasin Press, Yogyakarta, h.72
digunakan pula instrumen pendukung lainnya yang sesuai dengan teknik pengumpulan data sebagaimana disebut di atas.
Adapun instrumen pendukung yang digunakan adalah berupa pedoman wawancara, tape recorder, blangko hasil wawancara, serta blangko dokumentasi dan sebagainya. Dipilihnya berbagai jenis instrumen penelitian di atas didasarkan pada alasan, bahwa bentuk data atau informasi yang diteliti tidak dapat ditentukan lebih dahulu dan selalu berkembang sepanjang penelitian berlangsung21.
f. Teknik Penentuan Sample Penelitian
Teknik penentuan sample penelitian berkaitan dengan bagaimana memilih informan atau situasi sosial tertentu yang dapat memberikan informasi yang terpercaya mengenai elemen-elemen yang ada (karakteristik elemen-elemen yang tercakup dalam fokus atau topik penelitian)22. Pengambilan sample dalam penelitian ini menggunakan teknik non probability sampling dalam bentuk purposive sampling yang diikuti oleh snowball sampling23. Pengertian metode purposive sampling itu sendiri adalah pemilihan sekelompok subjek atas ciri-ciri atau sifat-sifat tertentu yang dipandang mempunyai sangkut paut yang erat dengan ciri-ciri atau sifat-sifat populasi yang sudah diketahui sebelumnya. Penelitian dengan menggunakan purposive sampling cenderung memilih narasumber yang dianggap tahu dan dapat
21 Sanapiah Faesal, 1990, Penelitian Kualitatif, Dasar-Dasar dan Aplikasinya, Yayasan Asih Asah Asuh, Malang, h.158
22 Ibid, h. 56
23 B Sutopo, 1988, Suatu Pengantar Kualitatif, Dasar Teori dan Praktek, Pusat Penelitian UNS, Surakarta, h. 22
dipercaya untuk menjadi sumber data yang terjamin dan mengetahui secara mendalam. Pengertian metode snowball sampling, yaitu suatu metode untuk memilih sampel atau responden yang dipilih berdasarkan pada suatu penunjukan atau rekomendasi sebelumnya24. Berdasarkan kepada fokus kajian yang dilaksanakan dalam penelitian ini, maka informan yang dikaji adalah:
1) Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Badung 2) Camat Kecamatan Kuta
3) Bendesa Adat se-Kecamatan Kuta
Informan penelitian sebagaimana tersebut di atas bukanlah hal yang limitatif, mengingat metode snowball sampling dalam prosesnya dapat diibaratkan seperti bola salju yang menggelinding dan akan menjadi semakin besar, dalam hal ini berarti informasi yang akan diperoleh peneliti akan semakin luas.
g. Pengolahan dan Analisis Data
Penelitian ini menggunakan analisis kualitatif. Dalam penelitian dengan teknik analisis kualitatif maka keseluruhan data yang terkumpul baik dari data primer maupun data sekunder akan diolah dan dianalisis dengan cara menyusun data secara sistimatis, digolongkan dalam pola dan tema, diklasifikasikan, dihubungkan antara satu data dengan data yang lain, dilakukan interpretasi untuk memahami makna data dalam situasi sosial, dan dilakukan penafsiran dari perspektif peneliti setelah memahami keseluruhan kualitas data. Setelah dilakukan analisis secara kualitatif kemudian data akan disajikan secara deskriptif kualitatif dan sistimatis.
24 Burhan Ashshofa, 2004, Metode Penelitian Hukum, PT. Rineka Cipta, Jakarta h. 89