141
BIDANG CIPTA KARYA
BAB VII. RENCANA
142
7.1 Sektor Pengembangan Kawasan Permukiman
7.1.1Kondisi Eksisting
Dilihat dari sisi pemanfaatan ruang permukiman, permukiman kumuh diartikan sebagai
permukiman yang tidak layak huni karena ketidakteraturan bangunan, tingkat kepadatan
bangunan yang tinggi, dan kualitas bangunan serta sarana dan prasarana yang tidak memenuhi
syarat. Penggunaan ruang para permukiman kumuh tersebut seringkali berada pada suatu ruang
yang tidak sesuai dengan fungsi aslinya sehingga berubah menjadi fungsi permukiman, seperti
muncul kantung-kantung permukiman pada daerah sempadan untuk kebutuhan ruang terbuka
hijau atau lahan-lahan yang tidak sesuai dengan peruntukkannya (squatters). Keadaan
demikian yang menunjukkan bahwa penghuninya kurang mampu untuk membeli dan menyewa
rumah di daerah perkotaan dengan harga lahan/ bangunan yang tinggi, sedangkan lahan kosong
di daerah perkotaan sudah tidak ada. Permukiman tersebut muncul dengan sarana dan
prasarana kurang memadai, kondisi rumah yang kurang baik dengan kepadatan yang tinggi
serta mengancam kondisi kesehatan penghuni.
Berdasarkan Penetapan Lokasi Perumahan Kumuh dan Permukiman Kumuh di Kabupaten ini,
maka Pemerintah Daerah berkomitmen untuk melaksanakan Peningkatan Kualitas Perumahan
Kumuh dan Permukiman Kumuh secara tuntas dan berkelanjutan sebagai prioritas
pembangunan daerah dalam bidang perumahan dan permukiman dengan melihat kondisi
eksisting yang ada sebagai berikut.
Tabel 7.1 Data Kondisi Eksisting
Kabupaten/Kota
Luas Kawasan
Kumuh 2015 (Ha)
Tertangani (Ha) [Data
Dari Sektor Bangkim] SK KUMUH
Kab. Bolsel 48.42 0 Ada
143 Gambar 7.1 SK Kumuh Bolaang Mongondow Selatan
Untuk memetakan potensi, permasalahan, tantangan, dan hambatan dalam
pembangunan perkotaan dan permukiman perkotaan dipergunakan Analisis SWOT. Potensi
dan permasalahan didapatkan dari keadaan di lapangan yang diambil perkecamatan untuk
dirangkum dalam skala kabupaten. Dari potensi dan permasalahan yang ada serta keadaan
142 Tabel 7.2 Usulan Program dan Kegiatan
NO URAIAN OUTPUT / SUB OUTPUT DETAIL LOKASI VOL SAT TAHUN
1 Pembangunan Infrastruktur Kawasan Permukiman Kumuh Rumah
Layak Huni Lungkap/Pinolosian 1 KWS 2020
2 Pembangunan Infrastruktur Kawasan Permukiman Kumuh Rumah Layak Huni Desa Manggadaa
Manggada/Posigadan 2,25 Ha 2018
3 Pembangunan Infrastruktur Kawasan Permukiman Kumuh Rumah
Layak Huni Desa Biniha Selatan Biniha Selatan 1,6 Ha 2018
4 Pembangunan Infrastruktur Kawasan Permukiman Kumuh Rumah
Layak Huni Desa Motandoi Selatan Pinolosian timur 4,05 Ha 2018
5 Pembangunan Infrastruktur Kawasan Permukiman Kumuh Rumah
143 7.2 Sektor Penataan Bangunan dan Lingkungan
Penataan bangunan dan lingkungan adalah serangkaian kegiatan yang diperlukan sebagai
bagian dari upaya pengendalian pemanfaatan ruang, terutama untuk mewujudkan lingkungan
binaan, baik di perkotaan maupuin di perdesaan, khususnya wujud fisik bangunan gedung
maupun lingkungannya.
Visi penataan bangunan dan lingkungan adalah terwujudnya bangunan gedung dan lingkungan
yang layak huni dan berjati diri, sedangkan misinya adalah: 1) memberdayakan masyarakat
dalam penyelenggaraan bangunan gedung yang tertib, layak huni, berjati diri, serasi, dan
selaras dan 2) memberdayakan masyarakat agar mandiri dalam penataan lingkungan yang
produktif dan berkelanjutan.
Kebijakan dan Program Penataan Bangunan Gedung dan Lingkungan
. Kebijakan
1) Meningkatkan pembinaan penyelenggaraan bangunan gedung, termasuk bangunan
gedung dan rumah negara
2) Meningkatkan pemahaman, kesadaran dan kemampuan masyarakat untuk memenuhi
persyaratan bangunan gedung dan penataan lingkungan permukiman
3) Meningkakan kapasitas penyelenggara dalam penataan lingkungan permukiman
4) Meningkatkan kualitas lingkungan untuk mendukung pengembangan jatidiri dan
produktivitas masyarakat
5) Mengembangkan kawasan-kawasan yang memiliki peran dan potensi strategis bagi
pertumbuhan kota
6) Mengembangkan kemitraan antara pemerintah, swasta dan lembaga-lembaga nasional
maupun internasional lainnya di bidang bangunan gedung dan penataan lingkungan
permukiman
7) Mewujudkan arsitektur perkotaan yang memperhatikan/ mempertimbangkan khasanah
144 8) Menjaga kelestarian nilai-nilai arstitektur bangunan gedung yang dilindungi dan
dilestarikan serta keahlian membangun (seni dan budaya)
Mendorong upaya penelitian dan pengembangan teknologi rekayasa arsitektur bangunan gedung melalui kerjasama dengan pihak-pihak yang kompeten.
PERMASALAHAN DAN TANTANGAN
Dalam penataan bangunan dan lingkungan terdapat beberapa permasalahan dan tantangan,
antara lain:
a. Permasalahan dan tantangan di bidang bangunan gedung
- Kurang ditegakannya aturan keselamatan, keamanan dan kenyamanan bangunan
gedung termasuk pada daerah-daerah rawan bencana
- Prasarana dan sarana hidran kebakaran banyak yang tidak berfungsi dan kurang
mendapat perhatian
- Lemahnya pengaturan penyelenggaraan bangunan gedung di daerah serta rendahnya
kualitas pelayanan publik dan perijinan.
b. Permasalahan dan tantangan di bidang gedung dan rumah negara
- Banyaknya bangunan gedung negara yang belum memenuhi persyaratan keselamatan,
keamanan dan kenyamanan.
- Penyelenggaraan bangunan gedunng dan rumah negara kurang tertib dan efisien.
- Masih banyak aset negara yang tidak teradministrasikan dengan baik.
c. Permasalahan dan tantangan di bidang penataan lingkungan - Masih adanya permukiman kumuh
- Kurang diperhatikannya permukiman-permukiman tradisional dan bangunan gedung bersejarah padahal mempunyai potensi pariwisata
- Sarana lingkungan hijau/open space atau public space, sarana olahraga, dan lain-lain kurang diperhatikan.
d. Permasalahan dan tantangan di bidang pemberdayaan masyarakat perkotaan - Terdapat penduduk miskin di perkotaan dan perdesaan
- Belum mantapnya kelembagaan komunitas untuk meningkatkan peran masyarakat - Belum dilibatkannya masyarakat secara aktif dalam proses perencanaan, dan penetapan
145 - Amanat Undang-Undang Nomor 28 tahun 2002 tentang Bangunan Gedung dan Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2005 tentang Peraturan Pelaksanaan UUBG, bahwa semua bangunan gedung harus layak fungsi pada tahun 2010.
- Komitmen terhadap kesepakatan internasional tentang Millenium Development Goals (MDGs), bahwa pada tahun 2015, 2000 daerah kabupaten/kota bebas kumuh dan 2025 semua daerah bebas kumuh.
Program
Program Penataan Bangunan dan Lingkungan
a. Kegiatan Pembinaan Teknis Bangunan dan Gedung Lingkup kegiatan terdiri dari :
1) Kegiatan diseminasi peraturan perundang-undangan penataan bangunan dan lingkungan
Sasaran kegiatan
- Meningkatkan peran pemerintah daerah dan masyarakat dalam penyelenggaraan penataan bangunan dan lingkungan sehingga dapat turut ambil bagian secara aktif dalam proses pembangunan bangunan gedung dan lingkungan
- Pemerintah daerah dapat menyelaraskan peraturan perundangan tentang bangunan gedung agar memenuhi persyaratan administratif dan teknis yang diamanatkan UUBG dan peraturan pelaksanaannya.
Bentuk dan pelaksanaan kegiatan
- Pelaksanaan kegiatan dilakukan dalam bentuk sosialisasi, dengan peserta dari
kabupaten
- Paket materi terkait dengan undang-undang, peraturan pelaksanaan, standar dan
pedoman tentang penataan bangunan dan lingkungan permukiman
Keluaran/produk kegiatan
- Produk dari kegiatan ini adalah laporan penyelenggaraan diseminasi peraturan
perundang-undangan penataan bangunan dan lingkungan
2) Peningkatan dan pemantapan kelembagaan bangunan dan gedung
Pengembangan sistem informasi bangunan gedung dan arsitektur
Sasaran kegiatan
- Memberikan pemahaman dan wawasan dalam penyusunan Ranperda bangunan
gedung, sekaligus peningkatan pemahaman kelembagaannya
- Peningkatan kemampuan kelembagaan bangunan gedung di daerah
146
- Fasilitasi ranperda bangunan gedung, berupa penyiapan materi yang diperlukan
dalam penyusunan perda bangunan gedung di daerah dan memberikan
pengarahan kepada daerah dalam penyusunan perda bangunan gedung
- Peningkatan dan pemantapan kelembagaan bangunan gedung berupa
penyelenggaraan sosialisasi serta bantuan teknis pembentukan kelembagaan
bangunan gedung di daerah
- Bantuan teknis pembentukan tim ahli bangunan gedung di daerah
Keluaran/produk kegiatan
- Laporan kegiatan bangunan gedung di daerah yang memuat inventarisasi
lembaga/instansi terkait dengan penyelenggaraan bangunan gedung di daerah
termasuk di dalamnya tupoksi dan susunan organisasinya serta konsep
pengembangan kelembagaan
- Laporan kegiatan fasilitasi penyusunan raperda bangunan gedung di daerah,
dengan ketentuan memuat pemetaan substansi perda dan raperda sesuai yang
diamanatkan oleh UUBG dan peraturan pelaksanaannya serta tindak lanjutnya
- Laporan kegiatan bantuan teknis pembentukan tim ahli bangunan gedung,
dengan ketentuan memuat laporan penyelenggaraan sosialisasi mengenai
pedoman teknis pembentukan tim ahli bangunan gedung
3) Pengembangan sistem informasi bangunan gedung dan arsitektur
Sasaran kegiatan
- Tercapainya keragaman pemahaman, kesadaran, dan tanggung jawab para aparat
dan pelaksana khususnya para PPK pembinaan teknis bangunan gedung dan
mampu mengimplementasikan di daerah
- Tercapainya pelayanan pusat informasi bidang bangunan gedung bagi
masyarakat, dunia usaha dan instansi pemerintah sendiri yang maksimal di
147 Bentuk dan pelaksanaan kegiatan
- Pembinaan teknis kepada para pelaksana pembangunan bangunan gedung
- Pembuatan/pengembangan website pusat informasi bangunan
- Penyusunan materi informasi PIPPB
- Pelayanan sistem informasi dan teknologi
- Penyuluhan bidang penataan bangnan gedung dan lingkungan
- Penyelenggaraan pameran bidang penataan bangunan gedung dan lingkungan
Keluaran/produk kegiatan
- Produk dari kegiatan ini adalah laporan yang berisi laporan hasil forum diskusi,
penyuluhan dan pameran, dokumentasi bahan publikasi dan tutorial website.
4) Pelatihan teknis tenaga pendata HSBG dan keselamatan bangunan
Sasaran kegiatan
- Terwujudnya bangunan gedung yang andal dan tertib pembangunan bangunan
gedung negara melalui tersedianya tenaga yang terampil di daerah dalam hal:
- Pengecekan keandalan bangunan gedung khususnya keselamatan dan
kemudahan
- Pendata harga pembangunan bangunan gedung Negara
Bentuk dan pelaksanaan kegiatan
- Pelatihan teknis untuk petugas pendata harga dan dinas yang terkait dengan
penanggulangan kebakaran
Keluaran/produk kegiatan
- Laporan pelaksanaan kegiatan pelatihan.
5) Pengelolaan bangunan gedung dan rumah negara
Sasaran kegiatan
Terpenuhinya tertib pengelolaan bangunan gedung dan rumah negara melalui:
148
- Terselenggaranya proses pendaftaran, pengalihan status dan hak rumah negara
yang tertib, dan tersedianya laporan kegiatan
- Tersedianya sistem arsip yang handal, data bangunan gedung dan rumah negara
yang up to date, retrieval yang mudah, lengkap dan tertib serta tenaga arsiparis
yang terampil
Bentuk dan pelaksanaan kegiatan
- Penyusunan format pengendalian untuk proses pendaftaran, pengalihan status
dan pengalihan hak
- Melakukan inventarisasi Bangunan Gedung Negara/BGN (pendataan geding dan
rumah negara)
- Melakukan penataan arsip BGN
- Peningkatan keterampilan tenaga arsiparis
- Pendataan harga dan penyusunan Harga Satuan Bangunan Gedung Negara
(HSBGN) sesuai dengan mekanisme penyusunan dan penetapan
- Pelaksanaan administrasi pelaporan terhadap proses pengalihan status dan
pengalihan hak di daerah
- Penyusunan laporan pengelolaan gedung dan rumah negara
- Peningkatan dan pemantapan kelembagaan bangunan gedung
Keluaran/produk kegiatan
• Laporan pengelolaan bangunan gedung negara yang terdiri atas:
- Jumlah rumah negara yang telah ditetapkan statusnya menjadi golongan III
- Jumlah surat ijin penghunian/SIP rumah negara golongan III
- Jumlah dan nilai penaksiran/penilaian harga rumah negara golongan III
- Jumlah dan nilai pengalihan hak dan penetapan harga rumah negara
golongan III beserta tanahnya
- Jumlah perjanjian sewa beli rumah negara golongan III
- Penerimaan negara dari penjualan/pengalihan hak rumah negara golongan
149
- Jumlah dan nilai penyerahan hak milik rumah negara dan pelepasan hak atas
tanahnya
• Daftar inventarisasi BGN yang terdiri dari:
- Bangunan Gedung Negara
- Rumah negara golongan I dan golongan II
- Rumah negara golongan III
- Ledger, yang terdiri dari: i) Kartu Ledger BGN, dan ii) Kartu Ledger
Rumah Negara
6) Pembinaan teknis pembangunan gedung negara
Sasaran kegiatan
- Tersedianya tenaga teknis yang memenuhi syarat, terampil dan handal, yang
dapat melaksanakan tugas dan fungsinya secara profesional
- Terwujudnya proses penyelenggaraan BGN yang fungsional, memenuhi
persyaratan keselamatan, kesehatan, kemudahan, dan kenyamanan, serta efisien
dalam penggunaan sumberdaya dan serasi dengan lingkungannya
Bentuk dan pelaksanaan kegiatan
- Melakukan penugasan tenaga bantuan teknis kepada instansi pemegang mata
anggaran baik berupa bantuan tenaga, informasi, maupun percontohan
- Melakukan inventarisasi dan evaluasi tenaga teknis yang dapat ditugaskan
- Melakukan pembinaan terhadap tenaga teknis dan koordinasi berkala
- Menyusun laporan pelaksanaan bantuan teknis
Keluaran/produk kegiatan
- Laporan pelaksanaan pembinaan
- Laporan bulanan pelaksanaan bantuan teknis penyelennggaraan BGN
- Laporan tahunan
7) Penyusunan rencana induk sistem proteksi kebakaran (RISPK) Sasaran kegiatan
150 Bentuk dan pelaksanaan kegiatan
- Rencana Induk Kebakaran (RIK) merupakan acuan pencegahan penanggulangan kebakaran daerah untuk kurun waktu 5-10 tahun
- Pemantapan lokasi daerah terpilih dengan melakukan kesepakatan dengan pemerintah daerah
- Melakukan koordinasi dengan instansi terkait di daerah terpilih Keluaran/produk kegiatan
• Naskah kajian akdemis RISPK daerah, minimal memuat:
- Hasil identifikasi dan kajian teknis tentang latar belakang permasalahan, pengalaman pemda terhadap penanganan kawasan yang mengalami peristiwa kebakaran, narasumber, dinas/instansi yang berkepentingan dengan pencegahan dan penanggulangan bahaya kebakaran
- Hasil pelaksanaan kegiatan penyusunan RISPK daerah serta pelaksanaan strategi pencegahan dan penanggulangan bahaya kebakaran di daerah serta hasil studi literatur terkait.
• Draft rencana induk sistem proteksi kebakaran (RISPK) daerah hasil konsensus, yang minimal memuat
- Program kebutuhan pencegahan dan penanggulangan bahaya kebakaran
- Penjabaran mengenai potensi topografi, kondisi alam, dan persebaran titik-titik rawan kebakaran, dan penentuan daerah yang memiliki potensi sumber air, serta faktor-faktor lain yang mendukung RISPK daerah
- Rencana umum pencegahan dan penanggulangan bahaya kebakaran
- Rencana detail pencegahan dan penanggulangan bahaya kebakaran
- Program pengendalian, pengawasan dan pembinaan dalam rangka pencegahan dan penanggulangan bahaya kebakaran
- Tahapan program dan pendanaan yang diusulkan, dan
- Ditetapkan sebagai rancangan peraturan daerah.
• Kesepakatan untuk ditindaklanjuti dalam bentuk Peraturan Kepala Daerah
8) Penyusunan Ranperda Bangunan Gedung Sasaran kegiatan
- Tersedianya rencana peraturan daerah tentang bangunan gedung Bentuk dan pelaksanaan kegiatan
• Penyusunan Ranperda bangunan gedung dilakukan berdasarkan model Ranperda
151
• Melakukan pengendalian pekerjaan yang dilakukan dengan:
- Konsultasi dan identifikasi dengan instansi terkait di daerah
- Konsultasi dan pembahasan
- Penyiapan materi Ranperda untuk dikirimkan kepada DPRD
Keluaran/produk kegiatan
- Produk dari kegiatan adalah Ranperda bangunan gedung yang siap dibahas dengan DPRD, termasuk seluruh data pendukungnya, antara lain hasil pembahasan ranperda dengan instansi terkait dan masyarakat
- Kesepakatan pemerintah daerah untuk menindaklanjuti dalam bentuk Perda Bangunan Gedung.
9) Percontohan pendataan bangunan gedung Sasaran kegiatan
- Terselenggaranya tertib pendataan bangunan gedung melalui penyusunan database bangunan gedung
Bentuk dan pelaksanaan kegiatan
- Pendataan bangunan gedung di daerah
- Koordinasi dengan pemerintah daerah atau dinas yang menangani pembinaan bangunan gedung
- Memfasilitasi pelatihan pengoperasian program pendataan bangunan gedung
- Program/sistem informasi pendataan bangunan disediakan oleh Direktorat penataan bangunan dan lingkungan Dirje Cipta Karya.
- Melakukan pengendalian pekerjaan Keluaran/produk kegiatan
- Laporan percontohan pendataan bangunan gedung, yang memuat hasil
pelaksanaan kegiatan percontohan pendataan bangunan gedung di daerah,
dengan dilampiri data hasil pendataan dan analisis atas kasus-kasus
permasalahan di lapangan.
10) Percontohan aksesibilitas pada bangunan gedung dan lingkungan
Sasaran kegiatan
- Sasaran dari kegiatan adalah tersedianya fasilitas aksesibilitas pada bangunan
gedung untuk mewujudkan bangunan gedung pelayanan umum yang aksesibel
bagi semua.
152
• Penyusunan kelengkapan aksesibilitas ini merupakan pekerjaan konstruksi fisik
yang dilakukan oleh penyedia jasa pelaksana konstruksi yang ditugasi,
berdasarkan rencana teknis yang sesuai Permen PU Nomor 30/PRT/M/2006,
tentang persyaratan teknis fasilitas dan aksesibilitas pada bangunan gedung dan
lingkungan
• Melakukan kegiatan:
- Koordinasi dengan pemda dan instansi pengelola/pemilik bangunan gedung
- Survey dan inventarisasi kondisi bangunan
- Penyusunan rencana teknis
- Uji coba dan penyerahan pada pengelola bangunan Keluaran/produk kegiatan
- Fisik fasilitas aksesibilitas
11) Rehabilitasi bangunan gedung negara Sasaran kegiatan
- Terlaksananya rehabilitasi BGN yang fungsional memenuhi syarat keselamatan, kesehatan, kemudahan dan kenyamanan serta efisien dalam penggunaan sumberdaya dan serasi dengan lingkungannya sehingga mampu meningkatkan kualitas, keandalan dan umur pemanfaatan BGN.
Bentuk dan pelaksanaan kegiatan
• Merupakan pekerjaan konstruksi fisik
• Melakukan kegiatan:
- Koordinasi dengan daerah/instansi pengelola/pemilik bangunan gedung
- Survey dan inventarisasi kondisi bangunan
• Pengendalian pekerjaan
Keluaran/produk kegiatan
- BGN yang sesuai dengan dokumen untuk pelaksanaan konstruksi
- Gambar-gambar yang sesuai dengan pelaksanaan
- Semua berkas perizinan yang diperoleh pada saat pelaksanaan konstruksi
- Dokumen pendaftaran sebaga BGN.
12) Dukungan prasarana dan sarana pusat informasi pengembangan permukiman dan bangunan (PIPPB)
Sasaran kegiatan
- Tersedianya pilot project pusat informasi pengembangan permukiman dan bangunan (PIPPB) sebagai wadah pelayanan publik untuk dapat dikembangkan
-153
- di daerah dalam rangka mendukung perwujudan bangunan gedung yang fungsional, andal dan berjati diri.
Bentuk dan pelaksanaan kegiatan
• Merupakan pekerjaan konstruksi fisik
• Melakukan kegiatan:
- Koordinasi dengan pemerintah daerah dan instansi pengelola/pemilik bangunan gedung, termasuk penyediaan lahan dan kontribusi pendanaan
- Survey dan/atau inventarisasi kondisi bangunan gedung
- Menginventarisasi kebutuhan kelengkapan bangunan gedung dan peralatannya
• Pengendalian pekerjaan
Keluaran/produk kegiatan
- Bangunan gedung POPPB yang sesuai dengan dokumen untuk pelaksanaan
konstruksi termasuk kelengkapan bangunan gedung dan peralatannya.
- Gambar-gambar yang sesuai dengan pelaksanaan
- Semua berkas perizinan yang diperoleh pada saat pelaksanaan konstruksi
- Dokumen pendaftaran sebaga BGN.
b. Kegiatan Penataan Lingkungan Permukiman
Lingkup kegiatan terdiri dari:
1) Penyusunan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL)
Sasaran kegiatan
- Sasaran yang hendak dicapai adalah tersedianya panduan rancang bangun suatu
kawasan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui perwujudan
kualitas lingkungan yang layak huni (liveable), berjatidiri (imageable) dan
produktif (enduring).
Bentuk dan pelaksanaan kegiatan
- RTBL merupakan pengaturan persyaratan tata bangunan dan lingkungan sebagai
tindak lanjut dari RTRW dan atau RDTR, digunakan dalam pengendalian
pemanfaatan ruang suatu kawasan dan sebagai panduan rancangan kawasan untuk
mewujudkan kesatuan karakter serta kualitas bangunan gedung dan lingkungan
154
- Pemantapan lokasi dan batas lokasi wilayah perencanaan di setiap daerah terpilih
dan melakukan kesepakatan dengan pemerintah daerah
- Melakukan koordinasi dengan instansi terkait di daerah
- Melakukan pengendalian produk konsultan berupa naskah RTBL sesuai dengan
substansi yang ada di dalam pedoman umum penyusunan RTBL
- Fasilitasi konsultasi dan pembahasan produk RTBL dengan instansi terkait di
daerah
- Memfasilitasi dinas yang membidangi keciptakaryaan untuk membuat
kesepakatan dengan pemerintah daerah agar menindaklanjuti naskah RTBL
menjadi peraturan kepala daerah.
Keluaran/produk kegiatan
• Naskah kajian akademis RTBL, yang minimal memuat:
• Draft RTBL sesuai dengan pedoman umum yang minimal memuat:
- Penetapan lokasi dan delineasi RTBL (Disetujui instansi terkait/pemerintah
daerah)
- Program Bangunan dan Lingkungan
- Program Investasi
- Rencana Umum (Design Plan)
- Rencana Detail ( Design Guidelines)
- Administrasi pengendalian program dan rencana
- Arahan pengendalian rencana
Draft peraturan kepala daerah yang memberikan status hukum serta mengoperasionalkan muatan pengaturan RTBL yang telah disusun Bantuan teknis pengelolaan Ruang Terbuka Hijau (RTH)
Sasaran kegiatan
- Tersedianya usulan penataan RTH untuk satu kawasan di daerah terpilih untuk mewujudkan kawasan kota yang nyaman dan sehat
Bentuk dan pelaksanaan kegiatan
155
• Melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah atau instansi yang menangani
pembinaan RTH
• Melakukan pengendalian pekerjaan konsultan dalam :
- Melakukan survey RTH yang ada di daerah terpilih
- Melakukan kajian dan analisis
• Menyusun rencana penataan RTH
Keluaran/produk kegiatan
• Keluaran yang diharapkan adalah laporan hasil identifikasi RTH, dan usulan
penataannya beserta prasarana sarananya dan indikasi arahan pengembangannya
2) Pembangunan prasarana dan sarana peningkatan lingkungan permukiman kumuh dan nelayan
Sasaran kegiatan
• Sasaran kegiatan ini adalah meningkatnya fungsi lingkungan permukiman bagi
masyarakat di kawasan kumuh dan nelayan sehingga mampu memberikan dukungan peningkatan taraf hidup dan kesejahteraan ekonomi
Bentuk dan pelaksanaan kegiatan
• Penetapan jenis kegiatan dilakukan oleh masyarakat melalui penyusunan RTBL, community Action Plan maupun rembug warga yang tertuang dalam PJM
pronangkis pada kegiatan penanggulangan kemiskinan perkotaan.
• Kegiatan yang akan dilaksanakan dalam bentuk prasarana dan sarana dasar,
fasilitas penunjang dan rehabilitasi prasarana dan sarana yang sudah ada
• Diutamakan untuk dilaksanakan oleh masyarakat dengan kerjasama opersional (KSO) untuk pekerjaan sederhana dengan pendampingan oleh konsultan
• Penyediaan prasarana dan sarana serta dukungan rehabilitasi fasilitas pelayanan
sosial-ekonomi, dilaksanakan dengan mempertimbangkan keeradaan fasilitas serupa di sekitar lokasi
• Untuk hasil yang lebih maksimal disarankan untuk menerpadukan dan
mengintegrasikan program-program easarana dan sarana perkotaan di kawasan ini
• Bentuk pekerjaan dapat berupa:
- Jalan lingkungan/jalan setapak
156
- Sarana penunjang RTH
- Talud
- Sumur gali/Bor
- Dermaga
- Gerbang
- Balai Pertemuan
• Bangunan fasilitas umum lainnya
Keluaran/produk kegiatan
• Keluaran dari kegiatan ini adalah tersedianya prasarana dan sarana dasar lingkungan permukiman kumuh dan nelayan yang mampu mendukung masyarakat dalam peningkatan perekonomian dan kesejahteraannya
3) Pembangunan prasarana dan sarana penataan lingkungan permukiman tradisional
Sasaran kegiatan
• Sasaran kegiatan ini adalah tertatanya kembali lingkungan permukiman
tradisional/bersejarah sehingga mampu memberikan dukungan peningkatan taraf
hidup dan kesejahteraan ekonomi bagi masyarakat yang berada di dalamnya
dalam rangka melestarikan budaya lokal sebagai aset nasional
Bentuk dan pelaksanaan kegiatan
• Pelaksanaan kegiatan di kawasan yang merupakan kawasan strategis dan telah disusun RTRP-nya
• Merupakan lokasi permukiman tradisional dan atau bersejarah
• Daerah yang sedang berupaya melakukan penataan dan perbaikan kawasan
lingkungan permukiman tradisional dan atau bersejarah
• Lokasi dapat berada atau tidak berada pada peruntukan perumahan dalam RTRW/RDTR. Dalam hal tidak ada peruntukan perumahan perlu dilakukan review terhadap RTRW atau rencana turunannya
• Masyarakat cukup kooperatif dan mau menerima masukan, perubahan sepanjang
tidak mengganggu tradisi dan budaya setempat
• Dukungan dari pemerintah daerah
• Pelaksanaan fisik dilakukan setelah disusun rencana tindak revitalisasi permukiman yang disusun bersama masyarakat
Bentuk kegiatan berupa:
- Jalan lingkungan/jalan setapak
157
- Sarana penunjang RTH
- Talud
- Prasarana dan sarana lainnya yang terkait yang dihasilkan melalui kesepakatan bersama masyarakat
Keluaran/produk kegiatan
• Keluaran dari kegiatan ini adalah tersedianya prasarana dan sarana dasar
mendukung penataan kembali lingkungan permukiman tradisional/bersejarah sehingga mampu mendorong masyarakat dalam peningkatan kemampuan perekonomian dan kesejahteraannya
c. Kegiatan Pemberdayaan Masyarakat di Perkotaan Lingkup kegiatan terdiri dari:
a) Bantuan teknis penanggulangan kemiskinan di perkotaan Sasaran kegiatan:
• Sasaran dari kegiatan ini adalah tersalurkannya bantuan langsung masyarakat melalui program penanggulangan kemiskinan di perkotaan serta meningkatnya pemahaman masyarakat dan aparat pemerintah terhadap prinsip dasar, kriteria dan mekanisme penyaluran bantuan.
Bentuk kegiatan:
• Melaksanakan monitoring dan evaluasi pelaksanaan kegiatan penanggulangan kemiskinan di perkotaan agar pelaksanaannya lebih efisien dan efektif
• Menyerasikan pelaksanaan penanganan kemiskinan secara nasional yang
bertumpu pada keswadayaan dan potensi lokal
• Mengembangkan peran masyarakat, kelembagaan lokal, kelembagaan terkait dan
pemerintah daerah dalam penanganan permasalahan kemiskinan
158 Keluaran/produk kegiatan:
• Keluaran dari kegiatan ini adalah meningkatnya kapasitas kelembagaan
masyarakat dan pemerintah daerah dalam mengantisipasi dan menangani permasalahan kemiskinan yang ada di wilayahnya.
b) Pemberian bantuan penanggulangan kemiskinan terpadu (PAKET)
• Disalurkan kepada Pokja Kemitraan untuk daerah yang telah ditetapkan oleh tim
penilai interdepartemen. Kelompok sasaran adalah Badan keswadayaan masyarakat (BKM) terpilih yang telah bermitra dengan dinas atau unit pemerintah kabupaten untuk melaksanakan kegiatan sesuai program jangka menengah (PJM) program penanggulangan kemiskinan (Pronangkis) yang telah dibuat.
159
• Merupakan program yang diusulkan atas dasar komitmen dan inisiatif pemerintah
daerah untuk mengadopsi program program penanggulangan kemiskinan (P2KP)
guna mengembangkan luas pelayanannya dalam penanggulangan kemiskinan dan
dilaksanakan di wilayah sasaran yang belum tersentuh oleh program P2KP.
Sasaran Penataan Bangunan Gedung dan Lingkungan
Sasaran penataan bangunan gedung dan lingkungan adalah sebagai berikut :
- Tersusunnya Perda Bangunan Gedung di Kabupaten Talaud
- Terwujudnya bangunan gedung untuk umum yang laik fungsi
- Terselenggaranya pengawasan penyelenggaraan bangunan gedung yang efektif dengan melakukan pemantauan dan evaluasi penerapan peraturan bangunan gedung.
- Terlaksananya penyediaan aksesibilitas bangunan gedung umum di Kabupaten Talaud
- Terlaksananya pendataan bangunan di Kabupaten Talaud
- Terwujudnya pusat informasi arsitektur dan bangunan gedung di Kabupaten Talaud
- Tercapainya standar mutu pelayanan rumah negara sesuai ISO 9000 Terlaksananya sosialisasi, fasilitasi, pelatihan, bantuan teknis, pengawasan dan pengendalian kegiatan penataan bangunan dan lingkungan di Kabupaten Talaud
- Terbentuknya kelembagaan penataan bangunan dan lingkungan di Kabupaten Talaud
- Terwujudnya tertib pengelolaan aset negara berupa tanah dan bangunan
- Terlaksananya Penyusunan Rencana Induk Proteksi Kebakaran (RISPK) di Kabupaten Talaud
- Terwujudnya perbaikan lingkungan permukiman kumuh
- Terlaksananya revitalisasi kawasan permukiman tradisional bersejarah
- Terlaksananya pengelolaan Ruang Terbuka Hijau (RTH)
- Pemberdayaan komunitas perkotaan
- Terlaksananya revitalisasi kawasan strategis
- Terlaksananya pemberdayaan bagi masyarakat untuk menyelenggarakan revitalisasi kawasan
- Terlaksananya penataan bangunan dan lingkungan serta pelestarian bangunan bersejarah yang mendukung terwujudnya kualitas arsitektur dengan teknologi dan rekayasa arsitektur perkotaan
160
Tabel 7.4
Program Yang DiusulkanUsulan dan Prioritas Program
161
1 Penataan Ruang Terbuka Hijau Makam Raja Molibagu/Bolaang Uki 1 Ha 2018
2
Pembangunan Saluran Drainase Kawasan Pemerintahan
Panango
Tabilaa/Bolaang Uki 1000 Meter 2018
3 Pembangunan Saluran Drainase Dupepo/Bolaang Uki 1000 Meter 2018
4 Pembangunan Saluran Drainase Desa Pinolosian Selatan Pinolosian 1000 Meter 2018
5 Pembangunan Saluran Drainase Desa Biniha Biniha 1000 Meter 2018
162 7.3 Sektor Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM)
Sub bidang air minum dirjen cipta karya departemen pekerjaan umum memiliki program dan
kegiatan yang bertujuan meningkatkan pelayanan air minum si perdesaan maupun perkotaan,
khususnya bagi masyarakat miskin di kawasan rawan air, selain itu meningkatkan
keimutsertaan swasta untuk berinvestasi dalam pembangunan prasarana dan sarana air minum
di perkotaan.
Tatanan program yang digunakan adalah sama dengan tatanan program pada RPJMN. Sasaran
program komponen air minum dibuat untuk mengisi kesenjangan kondisi pada permasalahan
yang mencuat dalam RPJMN dan kondisi yang diinginkan pada sasaran kebijakan RPJMN,
selain itu harus menunjang dan memenuhi kebutuhan pembangunan ekonomi daerah atau kota
bersangkutan.
Dalam penyusunan RPIJM bidang harus memperhatikan Rencana Induk Pengembangan Sistem
Penyediaan Air Minum (RI-SPAM) yang ada di daerah. Rencana Induk SPAM merupakan
rencana jangka panjang suatu wilayah. Hal ini dimungkinkan karena dalam pengembangan dan
penyelenggaraan sistem penyediaan air minum tergantung dengan posisi dan letak unit-unit
SPAM dan cakupan pelayanannya.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengembangan SPAM antara lain:
- Peran daerah dalam pengembangan wilayah
- Rencana pembangunan daerah
- Kondisi alamiah dan tipologi daerah
- Pembangunan dilakukan dengan pendekatan pembangunan berkelanjutan dan berwawasan lingkungan
- Rencana Induk Sistem Pengembangan Air Minum
- Kerangka Logis penilaian kelayakan investasi pengelolaan air minum
- Keterpaduan pengelolaan air minum dengan pengembangan SPAM dilaksanakan pada setiap tahapan penyelenggaraan pengembangan, sekurang-kurangnya dilaksanakan pada tahap perencanaan
- Peraturan dan perundangan yang berlaku serta pedoman yang tersedia
- Tingkat kelayakan pelayanan, efektivitas dan efisiensi pengelolaan air minum di daerah
163
- Sumber pendanaan dari berbagai pihak baik pemerintah, masyarakat maupun swasta
- Kelembagaan dalam pengelolaan air minum
- Investasi prasarana dan sarana air minum dengan memperhatikan kelayakan terutama dalam hal pemulihan biaya operasi dan pemeliharaan
- Perlu identifikasi lebih lanjut bilamana ada indikasi keterlibatan swasta dalam pembangunan/pengelolaan SPAM
- Safeguard sosial dan lingkungan
Tabel 7.5 Kondisi Eksisting Non Perpipaan
Non Perpipaan
Kabupaten/Kota Jumlah Penduduk (jiwa) 2015
Sumber: satker SPAM Prov Sulut
Sistem Perpipaan
Area pelayanan air minum sistem perpipaan di Kabupaten Talaud sudah hampir menjangkau
seluruh wilayah. Namun demikian jangkauan yang luas tersebut belum disertai dengan tingkat
pelayanan yang memadai di mana capaian pelayanan mencapai sekitar 70-90% penduduk.
Pengelolaan sistem selain oleh PDAM Kabupaten Talaud dikelola Pemerintah.
Pengembangan sistem umunya dilaksanakan melalui APBD, sedangkan yang lainnya berasal
dari sumber dana hibah, APBN dan Swadaya Masyarakat/APBD. Berikut adalah kondisi
eksisting Air Minum Perpipaan di Kab. Kepulauan Talaud
Tabel 7.6 Kondisi Eksisting Perpipaan
164
Analisis Permasalahan dan Rekomendasi
Analisis Kebutuhan Prasarana dan Sarana Air Minum
Kebutuhan Air Bersih
Penyediaan air bersih dalam perencanaan merupakan faktor penting yang harus diperhatikan,
mengingat penggunaannya sangat luas untuk itu haruslah aman dan higienis. Kebutuhan air
bersih di Kabupaten Talaud terbagi atas kebutuhan domestik, kebutuhan non domestik, dan
kebutuhan industri.
1. Kebutuhan Domestik
Untuk menentukan kebutuhan air pada perencanaan selanjutnya, maka ditentukan konsumsi air
bersih berdasarkan pada kondisi saat ini dan standar yang berlaku. Konsumsi air bersih
menurut standar kriteria perencanaan yang ada didasarkan atas jumlah penduduk kota atau
suatu wilayah. Standar perencanaan tersebut dijelaskan seperti pada tabel berikut tabel :
Tabel 7. 7 Standar Kriteria Desain Kebutuhan Air Bersih
No. Kategori Kota Jumlah Penduduk (Jiwa
Pemakaian Air (Ltr/org/hari)
1. Metropolitan > 1.000.000 190
2. Kota Besar 500.000 – 1.000.000 170
3. Kota Sedang 100.000 – 500.000 150
4. Kota Kecil 20.000 – 100.000 130
5. Kecamatan 3.000 – 20.000 100
6. Desa 0 – 3.000 60
Sumber : Direktorat Jenderal Cipta Karya, Dept PU
2. Kebutuhan Non Domestik
Kebutuhan non-domestik didasarkan pada asumsi dari kebutuhan domestik. Dalam kontek
perencanaan kebutuhan air bersih di Kabupaten Talaud kebutuhan non domestik di-asumsikan
sebesar 20% dari kebutuhan domestik. Penggunaan non-domestik ini meliputi institusi dan
komersial seperti sekolah, komplek militer, kantor pemerintah, mesjid, gereja dan lain
165
3. Kebutuhan Industri
Besarnya kebutuhan air bersih industri tergantung kepada jenis industri yang ada. Beberapa
industri membutuhkan air yang cukup besar, tetapi ada yang hanya membutuhkan kecil.
Penentuan zona dan kawasan industri juga terdapat perbedaan dalam standar kebutuhannya,
dalam kontek Kota Kotamoobagu kebutuhan air bersih dikategorikan kecil mengingat belum
ada industri maupun zona industri yang eksis disana.
Analisis Kebutuhan Sistem Penyediaan Air Minum
Tinjauan terhadap sistem prasarana dan sarana air minum yang ada Kabupaten Talaud baik dari unit air baku, transmisi, produksi dan distribusi dijelaskan sebagai berikut: a) Analisis permasalahan sumber air yang telah dimanfaatkan
1) Kapasitas sumber air yang ada pada umumnya tersedia dalam jumlah/volume yang memadai dan dapat mensuplai kebutuhan penduduk baik di perdesaan maupun perkotaan
2) Kualitas sumber air yang ada dapat langsung didistribusikan tanpa perlu teknologi pengolahan yang rumit
b) Analisis kondisi permasalahan unit transmisi
1) Pada umumnya kondisi perpipaan transmisi yang ada masih belum mampu untuk digunakan pada kapasitas kebutuhan air yang diperlukan.
2) Bentuk pembangunan yang diperlukan adalah penambahan jalur pipa baru, rehabilitasi pipa transmisi yang ada, atau peningkatan volume/diameter pipa transmisi.
3) Volume pengembangan yang dibutuhkan minimal 2 kali dari kondisi yang ada saat ini.
c) Analisis kondisi dan permasalahan unit produksi
1) Unit produksi yang ada pada umumnya tidak mampu mensuplai kebutuhan air yang diperlukan dalam kapasitas maksimum hari.
2) Bentuk pengembangan yang diperlukan adalah peningkatan kapasitas atau penambahan unit baru
d) Analisis kondisi unit distribusi
1) Kondisi jaringan saat ini pada umumnya belum cukup untuk melayani kebutuhan, serta belum menjangkau kawasan pelayanan
2) Bentuk pengembangan yang diperlukan adalah rehabilitasi/ penggantian pipa untuk menanggulangi kebocoran serta penambahan jaringan baru.
166 Kebutuhan terhadap sambungan rumah, TA/HU/KU serta sambungan lain yang diperlukan sekitar 40% dari kondisi saat ini
f) Analisis terhadap kemampuan pelanggan
Kemampuan masyarakat dalam pengelolaan SPAM melalui pembayaran iuran/retribusi air belum optimal, dengan demikian diperlukan suatu kegiatan pemberdayaan masyarakat demi optimalisasi pengelolaan SPAM.
Analisis Kebutuhan Program
Analisis kebutuhan program disesuaikan dengan kebijakan pemerintah serta sasaran-sasaran pembangunan sesuai dengan dokumen-dokumen perencanaan yang tersedia (RTRW dan RPJMD)
Sistem Prasarana Yang Diusulkan
Sistem Non Perpipaan
Daerah pelayanan sistem non perpipaan di Kabupaten Talaud adalah kawasan-kawasan yang memiliki sumber air baku memadai (air tanah, sungai/danau) dan sulit dijangkau oleh pelayanan air minum sistem perpipaan. Sumber air yang dapat digunakan adalah air tanah (melalui pengeboran) atau menggunakan sumber air permukaan (sungai/danau) dengan sistem pompa.
Sistem Perpipaan
Sistem prasarana air minum perpipaan sampai dengan tahun 2013 diharapkan dapat memenuhi kebutuhan domestik dan kebutuhan-kebutuhan lainnya dengan parameter capaian sistem: a) Kapasitas sistem 35.000 m3 per hari
b) Sumber air minum:
1) Kapasitas air di sumber:
- Debit Sungai > 50 lt/dt
- Debit Mata air > 320 lt/det
- Danau > 5 lt/det
- Sumber air lainnya >10lt/det 2) Kapasitas yang diambil < 300 lt/det
3) Jarak unit produksi dari daerah pelayanan < 1 - 6 km 4) Sistem pengambilan ;
Sumber air ditentukan dengan mempertimbangkan:
- Kuantitas dan kualitas sumber air
- Kemudahan dalam konstruksi unit air baku
167
- Biaya dalam pengolahan air dan perawatan unit produksi
- Potensi pencemaran terhadap sumber air
- Kemudahan dalam memperbesar kapasitas unit air baku di masa mendatang c) Unit Transmisi:
1) Panjang unit transmisi < 1 - 4 km
2) Dimensi dan jenis transmisi (saluran tertutup 2,5 –5”, pipa PVC, Besi) 3) Sistem pengaliran (pompa, gravitasi)
d) Instalasi Pengolahan Air Baku (IPA) 1) Jumlah dan jenis 14
2) Kapasitas 385 lt/det 3) Spesifikasi teknis lainnya e) Unit produksi
1) Penyediaan kapasitas unit produksi
• Reservoir
- Dimensi panjang, diameter dan jenis pipa
• Unit pelayanan
- Julah sambungan rumah domestik
- Jumlah sambungan non domestik
- Jumlah TA/HU/KU
• Bangunan Pelengkap
- Jenis dan jumlah
- Manfaat dan peruntukan
Program dan Kriteria Kesiapan, Serta Skema Kebijakan Pendanaan Pengembangan SPAM
Kebijakan Program dan Kegiatan Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum
Yang menjadi program, sasaran, pola pengelolaan, penanganan, dan kontribusi pemerintah daerah di bidang air minum adalah sebagai berikut:
a) Program pembangunan prasarana air minum melalui pendekatan masyarakatan di desa miskin dan rawan air
1) Target:
- Desa-desa yang masuk kategori desa miskin atau rawan air
- Desa-desa yang berlokasi di pesisir atau pulau terpencil
- Desa yang sudah terbentuk kelompok masyarakat penyelenggara SPAM 2) Pola pengelolaan: oleh masyarakat/koperasi/kelompok masyarakat
168
- Pembinaan kepada pengelola/penyelenggara SPAM dan masyarakat
- Konsistensi dalam pengembangan SPAM
- Pendanaan untuk unit distribusi dan pelayanan
b) Program pengembangan air minum di ibukota kabupaten 1) Target:
- Ibukota kabupaten baru dan telah memiliki rencana induk SPAM
- Kabupaten/kota yang sudah memiliki badan usaha sebagai penyelenggara SPAM
- Desa yang sudah terbentuk kelompok masyarakat penyelenggara SPAM 2) Pola pengelolaan: oleh PDAM dengan azas pengusahaan
3) Penanganan: Unit air baku, Unit produksi, dan Unit transmisi 4) Kontribusi pemerintah daerah:
- Pembinaan kepada pengelola
- Konsistensi dalam pengembangan SPAM
- Pendanaan untuk unit distribusi dan pelayanan
c) Program pengembangan air minum di ibukota kecamatan (IKK) yang belum mempunyai sistem dan rawan air
1) Target:
- IKK yang belum memiliki SPAM
2) IKK yang telah diverifikasi dan memiliki kesiapan sumber air baku, serta memiliki DED pengembangan SPAM
3) Pola pengelolaan: oleh institusi (BLU/PDAM/Koperasi) 4) Penanganan: Unit air baku, Unit produksi, dan Unit transmisi 5) Kontribusi pemerintah daerah:
- Pembinaan kepada pengelola
- Konsistensi dalam pengembangan SPAM
- Pendanaan untuk unit distribusi dan pelayanan
d) Program penyediaan air minum bagi kawasan RSH/Rusunawa 1) Target:
- Kawasan RSH/komplek Rusunawa yang termasuk sasaran berdasarkan kesepakatan dengan dirjen ciptakarya dan departemen PU dan Menpera
169 2) Pola pengelolaan: oleh BLU/PDAM/Developer
3) Penanganan: Unit air baku, Unit produksi, serta Unit transmisi dan distribusi utama 4) Kontribusi pemerintah daerah:
- Pembinaan kepada pengelola
- Konsistensi dalam pengembangan SPAM
- Pendanaan untuk unit distribusi dan pelayanan
e) Program penyehatan PDAM
1) Target: PDAM tidak sehat dengan permasalahan teknis yang dominan dalam memberikan kotribusi ketidaksehatannya
2) Pola pengelolaan: oleh PDAM 3) Penanganan:
- Melakukan studi detail permasalahan PDAM secara umum, dan permasalahan teknis secara khusus serta rekomendasi solusi teknis yang dibutuhkan
- Melaksanakan pembinaan teknis penyusunan corporate plan PDAM yang dapat dilaksanakan sesuai dengan kemampuan pengelolaan dan staging pengembangan sistem
- Pembangunan unit transmisi dan distribusi utama sebagai bagian dari optimalisasi kapasitas yang tidak terpakai
- Penyusunan program dan pelaksanaan penurunan tingkat kehilangan air termasuk penurunan tingkat air tak berekening (ATR)
4) Kontribusi pemerintah daerah:
- Konsistensi dalam upaya perbaikan kinerja teknis, keuangan dan administrasi PDAM
- Konsisten dalam upaya perbaikan kinerja SDM
- Konsisten dalam upaya perbaikan tarif
- Tidak mengharuskan PDAM untuk berkontribusi PAD
- Mendorong PDAM agar bisa mandiri dan full cost reconery f) Program pembangunan prasarana dan sarana air minum di perkotaan
1) Target: Kawasan kumuh perkotaan/nelayan yang belum memiliki SPAM dan
sebagian besar penduduknya berpenghasilan rendah
2) Pola pengelolaan: oleh BLU/PDAM/Masyarakat/Koperasi
3) Penanganan: Unit air baku, Unit produksi, serta Unit transmisi dan distribusi utama
4) Kontribusi pemerintah daerah:
- Pembinaan kepada pengelola
170 5) Khusus untuk pelayanan dari PDAM:
- PDAM mempunyai kapasitas yang belum termanfaatkan
171
Tabel 7. 8 Usulan Program dan Kegiatan Pengembangan SPAM
NO URAIAN OUTPUT / SUB OUTPUT DETAIL LOKASI VOL SAT TAHUN
1 Optimalisasi IKK Melonguane Biniha 1 Paket 2018
2 Pembangunan Air Minum Kecamatan Bolaang Uki Desa Tabilaa Tabilaa,Bolaang UKi 1 Paket 2018
3 embangunan Air Minum Kecamatan Pinolosian Pinolosian 1 Paket 2018
4 Pembangunan Air Minum Kecamatan Pinolosian Timur Pinolosian timur 2000 Meter 2020
172 7.4 Sektor Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman (PLP)
Program dan kegiatan di bidang pengelolaan air limbah bertujuan untuk mencapai kondisi masyarakat yang hidup sehat dan sejahtera dalam lingkungan yang bebas dari pencemaran air limbah permukiman. Air limbah yang dimaksud adalah air limbah permukiman (municipal wastewater) yang terdiri atas air limbah domestik (rumah tangga) yang berasal dari air sisa
mandi, cuci, dapur, dan tinja manusia dari lingkungan permukiman serta air limbah industri rumah tangga yang tidak mengandung Bahan Beracun dan Bebahaya (B3). Air limbah permukiman ini perlu dikelola agar tidak menimbulkan dampak seperti mencemari air permukaan dan air tanah, di samping sangat beresiko menimbulkan penyakit seperti diare, thypus, kolera, dll.
Sasaran program dan kegiatan pengelolaan air limbah permukiman yaitu:
▪ Pencapaian open defecation free hingga akhir 2014
▪ Peningkatan utilitas IPLT dan IPAL yang telah dibangun hingga mencapai 60% akhir tahun 2014
▪ Pengembangan lebih lanjut pelayanan sistem pembuangan air limbah dan berkurangnya pencemaran sungai akibat pembuangan air limbah dan tinja hingga 50% di akhir tahun 2014
Upaya pencapaian sasaran dilakukan melalui:
▪ Peningkatan akses pelayanan air limbah baik melalui sistem on-site maupun off-site di perkotaan dan perdesaan
▪ Peningkatan pembiayaan pembangunan prasarana dan sarana air limbah permukiman
▪ Peningkatan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pengembangan sistem pengelolaan air limbah permukiman
▪ Penguatan kelembagaan
Air Limbah
a. Aspek Teknis
Prasarana dan sarana air limbah di Kabupaten Talaud masih sangat terbatas. Sistem prasarana dan sarana air limbah (on-site dan/atau off-site system) belum terbangun, khususnya untuk kebutuhan masyarakat umum.
173 b. Aspek Pendanaan
Penyediaan prasarana dan sarana pengelolaan air limbah masih sangat terbatas. IPAL yang terbangun hanya di rumah sakit dan puskesmas, dengan sumber dana dari APBN dan APBD Kabupaten. IPLT belum terbangun. Pengurasan tangki septik dilakukan oleh perusahaan swasta dan lumpur tinja dikelola secara off-site.
c. Aspek Kelembagaan Pelayanan Air Limbah
Organisasi khusus yang menangani pengelolaan air limbah di Kabupaten Talaud saat ini belum dibentuk. Penanganan air limbah ditangani langsung oleh SKPD yang membangun instalasi pengelolaan limbah (seperti rumah sakit/puskesmas). Pengembangan prasarana dan sarana air limbah lainnya ditangani oleh Dinas Pekerjaan Umum.
d. Aspek Peraturan Perundangan
Peraturan-peraturan yang terkait dengan pengelolaan air limbah di Kabupaten Talaud sampai saat ini masih mengacu pada peraturan-peraturan pemerintah, sedangkan di tingkat pemerintah daerah belum dibentuk.
e. Aspek Peran Serta Masyarakat
Kegiatan yang dilaksanakan baik oleh masyarakat, LSM atau swasta dalam pengelolaan ar limbah di Kabupaten Talaud masih sangat terbatas.
Beberapa peran serta masyarakat dan swasta dalam pengelolaan air limbah antara lain:
• Semakin tingginya kesadaran masyarakat untuk membangun wadah pengumpulan
lumpur tinja (Septik Tank).
• Kegiatan-kegiatan yang sudah dilakukan guna meningkatkan peran serta masyarakat dalam pengelolaan air limbah dalam bentuk kegitan-kegiatan penyuluhan, promosi, diseminasi oleh istansi dinas kesehatan, pengelola persampahan dan pekerjaan umum.
f. Aspek Lingkungan
Dampak yang ditimbulkan oleh air limbah terhadap lingkungan adalah terkait dengan derajat
kesehatan masyarakat, pencemaran air tanah dan pencemaran air permukaan. Air limbah
rumah tangga pada umumnya dialirkan kembali ke permukaan tanah (belum dilakukan
pengolahan). Hal tersebut akan berakibat pada penurunan kualitas sumber-sumber air yang
174 sumber air minum/memasak. Akibat selanjutnya adalah akan terjadi bermacam-macam
kejadian penyakit, yang tentu saja akan meurunkan derajat kesehatan masyarakat.
Analisis Kebutuhan Pengelolaan Air Limbah
Analisis Permasalahan
Sasaran pencapaian pengelolaan air limbah Kabupaten Talaud didasarkan pada
pertimbangan-pertimbangan utama sebagai berikut:
a). Pemenuhan kebutuhan dasar
Kebutuhan penduduk perkotaan dan perdesaan terhadap akses pelayanan air limbah dalam
rangka pemenuhan kebutuhan dasar bagi kesehatan masyarakat sudah cukup mendesak.
b). Meningkatkan keberlanjutan lingkungan
Sebagian besar permukiman yang ada belum memiliki suatu sistem pengelolaan air limbah
yang memadai, di mana pada umumnya air limbah yang diproduksi rumah tangga, selain
limbah tinja, hanya dilepaskan kembali ke alam melalui permukaan tanah, sungai atau saluran
drainase tanpa melalui proses pengolahan sebelumnya. Kondisi tersebut dikhawatirkan akan
mencemari sumber-sumber air dan lingkungan permuiman yang pada gilirannya dapat
mengganggu kesehatan masyarakat.
175 Dengan memperhatikan kebutuhan peningkatan pelayanan, pengembangan pembangunan prasarana dan sarana, serta kemampuan pembiayaan, kapasitas kelembagaan, kesiapan masyarakat serta perangkat pengaturan maka alternatif terpilih sebagai rekomendasi peningkatan pengelolaan air limbah Kabupaten Talaud adalah sebagai berikut:
a). Pengembangan kelembagaan pengelolaan air limbah b). Pengembangan prasarana dan saranna air limbah c). Pengembangan kapasitas pembiayaan
d). Pengembangan perangkat aturan pengelolaan
Program dan Kriteria Kesiapan Pengembangan air Limbah
Program Yang Diusulkan
Berdasarkan rekomendasi hasil analisis masalah pengelolaan air limbah maka usulan sistem
prasarana dan sarana air limbah yang ingin dicapai didasarkan pada paket-paket fungsional dan
prioritas penanganan sesuai dengan kebijakan dan strategi pembangunan secara nasional
maupun daerah, dengan kriteria kriteria penanganan air limbah antara lain mencakup:
a. Program pengembangan pengelolaan air limbah yang disusun didasarkan
perencanaan yang matang dengan mengacu pada masterplan atau outline plan (kota
kecil/sedang) serta perangkat dokumen perencanaan lainnya.
b. Pembangunan prasrana air limbah skala komunitas berbasis masyarakat diarahkan
pada kawasan kumuh perkotaan, masyarakat pendapatan rendah dan rawan sanitasi
c. Peningkatan pelayanan prasrana air limbah terpusat untuk kawasan RSH
diprioritaskan pada kawasan perumahan PNS/TNI POLRI dan masyarakat
berpengahasilan rendah.
d. Pengembangan pelayanan dengan sistem off-site/terpusat atau sewerage
diprioritaskan untuk perluasan layanan pada lokasi-lokasi yang telah mempunyai
sistem off–site, serta kota metropolitan dan besar didorong untuk membangun sistem
pengelolaan air limbahnya secara terpusat.
e. Pengembangan pengelolaan sanitasi dengan sistem on-site perlu dilengkapi dengan
instalasi pengolahan luimpur tinja untuk mengolah lumpur yang mengendap pada
176 Arahan Kebijakan dan Lingkup Kegiatan
Program dan kegiatan di bidang pengelolaan air limbah bertujuan untuk mencapai kondisi masyarakat yang hidup sehat dan sejahtera dalam lingkungan yang bersih dari sampah.
Sasaran program dan kegiatan pengelolaan persampahan yaitu:
- Meningkatkan jumlah sampah terangkut
- Meningkatkan kinerja pengelolaan Tempat Pembuangan Akhir yang berwawasan lingkungan Upaya pencapaian sasaran dilakukan melalui:
- Pengurangan sampah semaksimal mungkin dimulai dari sumbernya
- Peningkatan peran aktif masyarakat dan dunia usaha/swasta sebagai mitra pengelolaan
- Peningkatan cakupan pelayanan dan kualitas sistem pengelolaan
Sasaran umum yang hendak dicapai yaitu: 1) pencapaian cakupan pelayanan 60% penduduk; 2) pencapaian pengurangan kuantitas sampah sebesar 20%; 3) tercapainya peningkatan kualitas pengelolaan TPA menjadi sanitary landfill untuk kota besar dan controlled landfill untuk kota sedang dan kecil, serta tidak dioperasikannya TPA secara open dumping selambat-lambatnya hingga tahun 2013.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengembangan sistem pengelolaan persampahan antara lain:
- Peran daerah dalam pengembangan wilayah
- Rencana Pembangunan Daerah
- Memperhatikan kondisi alamiah dan tipologi daerah
- Pembangunan dilakukan dengan pendekatan pembangunan berkelanjutan dan berwawasan lingkungan
- Dalam penyusunan RPIJM harus memperhatikan Rencana Induk Sistem Pengelolaan Persampahan
- Kerangka kerja logis (logical framework) penilaian kelayakan investasi pengelolaan persampahan
- Keterpaduan pengelolaan persampahan dengan sistem sektor lain dilaksanakan pada setiap tahapan penyelenggaraan pengembangan, sekurang-kurangnya dilaksanakan pada tahap perencanaan, baik dalam penyusunan rencana induk maupun dalam perencanaan teknik
- Memperhatikan peraturan perundangan dan pedoman yang tersedia
- Tingkat kelayakan pelayanan, dan efisiensi pengelolaan persampahan di daerah
- Sebagai suatu prasarana dan sarana yang tidak saja penting bagi peningkatan lingkungan
masyarakat tapi juga sangat penting bagi keberlanjutan lingkungan
- Sumber pendanaan dari berbagai pihak, baik masyarakat, swasta dan pemerintah
177
- Investasi prasarana dan sarana pengelolaan persampahan memperhatikan kelayakan terutama
dalam hal pemulihan biaya operasi dan pemeliharaan
- Jika ada indikasi keterlibatan swasta dalam pembangunan dan/atau pengelolaan prasarana dan
sarana persampahan, perlu dilakukan identifikasi lebih lanjut.
178
Tabel Program Usulan PLP
NO URAIAN OUTPUT / SUB OUTPUT DETAIL LOKASI VOL SAT TAHUN
1
Pembangunan Infrastruktur Air Limbah dengan Sistem Setempat
dan Sistem Komunal IPAL dan SR
Pinolosian tengah 1 KK 2019
2
Pembangunan Infrastruktur Air Limbah dengan Sistem Setempat
dan Sistem Komunal IPAL dan SR
Iligon/Pinolosian timur 1 KK 2020
3
Pembangunan Infrastruktur Air Limbah dengan Sistem Setempat
dan Sistem Komunal IPAL dan SR
Perjuangan/Pinolosian timur 1 KK 200
4
Pembangunan Infrastruktur Air Limbah dengan Sistem Setempat
dan Sistem Komunal IPAL dan SR
Milanggoda/Posigadan 1 KK 2019
5
Pembangunan Infrastruktur Air Limbah dengan Sistem Setempat
dan Sistem Komunal IPAL dan SR Desa Tobayagan