• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS SOSIAL INTERAKSI MANUSIA DAN HARIMAU SUMATERA (Panthera Tigris Sumatrae) DI ENCLAVE SEMBELIN DAN SAPOPADANG TAMAN NASIONAL GUNUNG LEUSER

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ANALISIS SOSIAL INTERAKSI MANUSIA DAN HARIMAU SUMATERA (Panthera Tigris Sumatrae) DI ENCLAVE SEMBELIN DAN SAPOPADANG TAMAN NASIONAL GUNUNG LEUSER"

Copied!
58
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS SOSIAL INTERAKSI MANUSIA DAN HARIMAU SUMATERA ( Panthera Tigris Sumatrae) DI

ENCLAVE SEMBELIN DAN SAPOPADANG TAMAN NASIONAL GUNUNG LEUSER

SKRIPSI

RONA KURNIAWAN SIREGAR 151201048

DEPARTEMEN KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN FAKULTAS KEHUTANAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2020

(2)

ANALISIS SOSIAL INTERAKSI MANUSIA DAN HARIMAU SUMATERA ( Panthera Tigris Sumatrae) DI

ENCLAVE SEMBELIN DAN SAPOPADANG TAMAN NASIONAL GUNUNG LEUSER

SKRIPSI

RONA KURNIAWAN SIREGAR 151201048

Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana di Fakultas Kehutanan

Universitas Sumatera Utara

DEPARTEMEN KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN FAKULTAS KEHUTANAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2020

(3)
(4)

PERNYATAAN ORISINALITAS

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Rona Kurniawan Siregar

NIM 151201048

Judul Skripsi : Analisis Sosial Interaksi Manusia dan Harimau Sumatera (Phantera tigris sumatrae) di Enclave Sembelin dan Sapopadang Taman Nasional Gunung Leuser

Menyatakan bahwa skripsi ini adalah hasil karya sendiri. Pengutipan- pengutipan yang penulis lakukan pada bagian-bagian tertentu dari hasil karya orang lain dalam penulisan skripsi ini, telah penulis cantumkan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah, dan etika penulisan ilmiah.

Medan, Januari 2021

Rona Kurniawan Siegar

(5)

ABSTRACT

RONA KURNIAWAN SIREGAR: SOCIAL ANALYSIS OF HUMAN INTERACTION AND TIGER (Panthera Tigris Sumatrae) IN ENCLAVE SEMBELIN AND SAPOPADANG GUNUNG LEUSER NATIONAL PARK.

SUPERVISED by PINDI PATANA and ACHMAD SIDDIK THOHA.

The tiger is one of the endangered species whose population is included in the endangered category. The Sumatran tiger population has experienced a drastic decline due to forest conversion, habitat degradation, tiger conflicts with humans, and tiger hunting. This study aims to determine community perceptions and the values of community wisdom towards the Sumatran Tiger (Panthera tigris sumtarae) and changes in land cover based on community activities. This research was conducted for 2 months (January- February 2020). The analysis carried out is descriptive analysis, SWOT analysis, and spatial analysis. The results of the descriptive analysis show that the triggers of community conflict with tigers are caused by forest destruction and hunting of animals which have resulted in disturbing behavior of the animals so that they seek food in residents' settlements and community wisdom which is still strong. Based on the SWOT analysis, the position of handling human and tiger conflicts is in quadrant four

(IV) or uses internal strength to reduce external threats. The results of the spatial analysis show that in 2013 the forest area of 19,656.53 hectares had decreased in 2017 to 19,549.92 hectares. Changes in forest land cover were caused by land clearing by the community to plant rubber.

Keywords : Panthera tigris sumatrae;, Enclave Sembelin Sapopadang;

Gunung Leuser National Park; Land cover

(6)

ABSTRAK

RONA KURNIAWAN SIREGAR: Analisis Sosial Interaksi Manusia Dan Harimau Sumatera (Panthera Tigris Sumatrae) Di Lingkungan Enclave Sembelin Dan Sapopadang Taman Nasional Gunung Leuser. Dibimbing oleh PINDI PATANA dan ACHMAD SIDDIK THOHA.

Harimau Sumatera merupakan salah satu spesies langka yang populasinya termasuk kedalam kategori terancam punah. Populasi Harimau Sumatera sumatera mengalami penurunan drastis akibat konversi hutan, degradasi habitat, konflik Harimau Sumatera dengan manusia, dan perburuan Harimau Sumatera. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi masyarakat dan nilai-nilai kearifan masyarakat terhadap Harimau Sumatera Sumatera (Panthera tigris sumtarae) dan perubahan tutupan lahan berdasarkan aktivitas masyarakat. Penelitian inidilakukan selama 2 bulan (Januari - Februari 2020). Analisis yang dilakukan adalah analisis deskriptif, analisis SWOT, dan analisis spasial. Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa pemicu konflik masyarakat dengan Harimau Sumatera disebabkan oleh perusakan hutan dan perburuan satwa yang mengakibatkan terganggunya perilaku satwa sehingga mencari makan di pemukiman penduduk dan kearifan masyarakat yang masih kuat. Berdasarkan analisis SWOT, posisi penanganan konflik manusia dan Harimau Sumatera berada pada kuadran empat (IV) atau menggunakan kekuatan internal untuk meredam ancaman eksternal. Hasil analisis spasial menunjukkan pada tahun 2013 luas hutan sebesar 19.656,53 hektar mengalami penurunan pada tahun 2017 menjadi 19.549,92 hektar. Perubahan tutupan lahan hutan disebabkan oleh adanya pembukaan lahan oleh masyarakat untuk menanam karet.

Kata kunci : Enclave Sembelin Sapopadang; Panthera tigris sumatrae;;

Taman Nasional Gunung Leuser; Tutupan lahan

(7)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Medan, Sumatera Utara pada tanggal 08 Agustus 1998 sebagai anak tunggal dari pasangan Bapak Abdul Karim Siregar dan Ibu Rahmawati Harahap. Pada Tahun 2009 penulis lulus dari SD Al-wasliyyah Medan. Penulis kemudian melanjutkan studi ke MTS Islamiyyah Guppi Medan dan lulus pada tahun 2012. Lalu penulis lulus

pada tahun 2015 dari MAN 3 Medan. Pada tahun 2015, penulis diterima di Universitas Sumatera Utara (USU) melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) sebagai mahasiswa di Program Studi Kehutanan Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara.

Tahun 2016 penulis melakukan Praktik Pengenalan Ekosistem Hutan (P2EH) dikawasan hutan dengan tujuan khusus (KHDTK) Pondok Buluh. Penulis melaksanakan Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Taman Nasional Batang Gadis (TNBG) pada tanggal 7 Juli sampai 8 Agustus 2019. Penulis aktif di organisasi Himpunan Mahasiswa Konservasi (HIMAKOVI). Untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan, penulis menyelesaikan skripsi dengan judul “Analisis Sosial Interaksi Manusia dan Harimau Sumatera (Phantera tigris sumatrae) di Enclave Sembelin dan Sapopadang Taman Nasional Gunung Leuser” dibawah bimbingan Pindi Patana, S.Hut.,M.Sc. dan Dr. Achmad Siddik Thoha, S.Hut., M.Si.

(8)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis sampaikan kepada kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa karena atas segala berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan Usulan Penelitian yang berjudul “Analisis Sosial Interaksi Manusia dan Harimau Sumatera (Phantera tigris sumatrae) di Enclave Sembelin dan Sapopadang Taman Nasional Gunung Leuser”.

Selama melakukan penelitian dan penulisan ini, penulis banyak memperoleh bantuan moril dan material dari berbagai pihak. Oleh karena itu,pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terimakasih yang tulus kepada:

1. Keluarga tercinta khususnya Ayahanda Ir. H. Abdul Karim Siregar,Ibunda Hj.

Rahmawati Harahap yang telah memberikan bantuan baik moril maupun materil, kasih, dukungan semangat,motivasi dan doanya.

2. Bapak Pindi Patana, S.Hut.,M.Sc. dan Dr. Achmad Siddik Thoha, S.Hut., M.Si.

selaku ketua dan anggota komisi pembimbing yang telah membimbing dan mengarahkan penulis dalam meyelesaikan penulisan skripsi ini.

3. Dr.Samsuri,S.Hut,M.Si, Ibu Dr.Iwan Risnasari,S.Hut,M.Si dan Bapak Ahmad Baiquni Rangkuti,S.Hut,M.Si selaku dosen penguji atas saran dan kritik yang diberikan.

4. Seluruh staf pengajar dan pegawai serta teman-teman di program studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan bantuannya dalam penyelesaian skripsi ini.

Penulis juga menyadari masih banyak terdapat kekurangan di dalam penyusunan skripsi ini. Untuk itu penulis terbuka terhadap berbagai kritik dan saran yang bersifat membangun untuk penyempurnaan skripsi ini. Akhir kata penulis mengucapkan terimakasih.

Medan, Januari 2021

Penulis

(9)

DAFTAR ISI

Halaman

PENGESAHAN SKIPSI ... i

PERNYATAAN ORISINALITAS ... ii

ABSTRACT ... iii

ABSTRAK ... iv

RIWAYAT HIDUP ... v

KATA PENGANTAR ... vi

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL ... ix

DAFTAR GAMBAR ... x

DAFTAR LAMPIRAN ... xi

PENDAHULUAN Latar Belakang ... 1

Rumusan Masalah ... 3

Tujuan Penelitian ... 3

Manfaat Penelitian ... 3

TINJAUAN PUSTAKA Deskripsi Area ... 4

Penyebab Konflik Manusia Dengan Satwa ... 5

Taman Nasional Gunung Leuser ... 7

Enclave ... 8

METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat ... 9

Alat dan Bahan ... 9

Prosedur Penelitian ... 9

Teknik Pengambilan Sampel ... 10

Analisi Data Analisis Deskriptif ... 10

Analisi Swot ... 11

Analisis Spasial ... 12

HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Responden ... 14

Umur Responden ... 15

Agama Dan Suku ... 15

Tingkat Pendidikan Responden... 15

Pekerjaan Responden ... 15

Status Kependudukan ... 16

Informasi Satwa Liar ... 16

(10)

DAFTAR ISI

Analisis Spasial ... 23

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan ... 26

Saran ... 26

DAFTAR PUSTAKA ... 27

LAMPIRAN ... 30

(11)

DAFTAR TABEL

No Teks Halaman

1. Karakterisitik Responden ... 14

2. Jenis Satwa Yang Sering Datang Ke Desa ... 16

3. Jenis Satwa Pengganggu Di Ladang ... 17

4. Jenis Tanaman Yang Diganggu Satwa Liar ... 17

5. Bentuk Keberadaan Harimau Sumatera ... 18

6. Kutipan Representatif dari wawancara dengan masyarakat di Desa Batu Jongjong ... 21

7. Pembobotan Oleh Berbagai Pihak Pada Faktor Internal ... 22

8. Pembobotan Oleh Berbagai Pihak Pada Faktor Eksternal ... 23

9. Skor Akhir IFAS dan EFAS ... 24

10. luas tutupan lahan tahun 2013-2017 di Enclave Sembelindan Sapopadang ... 26

11. Metriks perubahan tutupan lahan tahun 2013-2017 di Enclave Sembelin dan Sapopadang ... 26

(12)

DAFTAR GAMBAR

No Teks Halaman

1. Lokasi Penelitian ... 10 2. Gangguan rusa pada pohon karet ... 18 3. Temuan jejak kaki Harimau Sumatera sumatera ... 21 4. Diagram analisis SWOT mitigasi konflik manusia dengan Harimau

Sumatera dengan analisis SWOT ... 24 5. Peta tutupan lahan Enclave Sembelin dan Sapodadang tahun 2013 . 27 6. Peta tutupan lahan Enclave Sembelin dan Sapodadang tahun 2017 . 28

(13)

DAFTAR LAMPIRAN

No Teks Halaman

1. Kuisioner Untuk Masyarakat Yang Menjadi Responden ... 30

2. Kuisioner Analisis SWOT ... 34

3. Hasil Analisis SWOT ... 37

4. Dokumentasi Wawancara Kepada Masyarakat... 39

(14)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Harimau Sumatera merupakan salah satu spesies langka yang populasinya termasuk dalam kategori terancam punah (critically endangered). Harimau Sumatera dikategorikan sangat terancam kepunahan (critically endangered). Di Indonesia pernah memiliki 3 Sub spesies Harimau Sumatera, yaitu Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) Harimau Bali (Panthera tigris balica) dan Harimau Jawa (Panthera tigris sondaica) 3 jenis terakhir menjadi punah karena penyusutan dan fragmentasi habitat secara drastis. Namun penurunan populasi mangsa yang telah kritis dan pembunuhan Harimau secara langsung mungkin menjadi penyebab akhir kepunahan kedua anak jenis tersebut (Seidensticker, 1999).

Keberadaan Harimau Sumatera pada saat ini cukup mengkhawatirkan, populasi Harimau Sumatera mengalami penurunan yang drastis. Jumlah Harimau Sumatera di alam diperkirakan tinggal 400-500 ekor. Oleh karena itu, jenis ini merupakan jenis yang dilindungi baik pada tingkat nasional maupun internasional.

Harimau Sumatera termasuk dalam kategori satwa yang dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah No 7 Tahun 1999. Selain itu, Harimau Sumatera termasuk dalam kategori Apendix I dalam CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna) yang berarti jenis ini dilaranguntuk diperdagangkan dalam bentuk apapun (Soehartono dan Mardiastuti, 2003).

Penyebab utama semakin menurunnya populasi Harimau Sumatera adalah konversi hutan, degradasi habitat, konflik Harimau Sumatera dengan manusia serta perburuan Harimau Sumatera dan mangsa menurut Sinaga (2004), hal tersebut menyebabkan kuantitas dan kualitas habitat Harimau Sumatera berkurang. Tidak jarang Harimau Sumatera yang masuk ke daerah perkebunan, pertanian dan pemukiman akibat sempitnya ruang gerak dan sulitnya mencari mangsa sehingga menimbulkan konflik dengan manusia. Perburuan langsung terhadap Harimau Sumatera maupun satwa mangsanya juga memberikan kontribusi yang besar terhadap semakin menurunnya populasi Harimau Sumatera di alam.

(15)

2

Hutan Sumatera yang merupakan habitat alami bagi Harimau Sumatera mengalami penurunan yang cukup drastis dari waktu ke waktu. Tutupan hutan di Pulau Sumatera pada tahun 1950 masih sebesar 80 % dari luas total daratan. Tahun 1985 tutupan luas hutan berkurang menjadi 49 % atau mengalami penurunan sebesar 31 %. Luas hutan makin berkurang pada survey tahun 1997 yaitu menjadi 35 % dari luas daratan. Perubahan tutupan hutan dari tahun 1985- 1997 sebesar 6.691.357 Ha (FWI/GFW, 2001).

Seiring dengan semakin berkurangnya hutan sebagai habitat Harimau Sumatera , jumlah Harimau Sumatera juga semakin menurun. Pada tahun 1978 diperkirakan jumlah Harimau Sumatera adalah sekitar 1000 ekor. Menurut perkiraan pada saat ini jumlah yang tersisa adalah sekitar 500 ekor. Diperkirakan 400 ekor hidup di kawasan konservasi utama yang tersebar di Sumatera, sedangkan 100 ekor Harimau Sumatera yang hidup di kawasan yang tidak dilindungi

(Siswomartono et al., 1994).

Didalam struktur piramida makanan, Harimau Sumatera terletak palingatas atau dikenal dengan top predator, sehingga keberadaannya sangat rawan terhadap kepunahan dibandingkan dengan jenis satwa lain apabila kawasan hutan terpisah- pisah menjadi blok-blok hutan kecil yang tidak mampu mendukung populasi hewan mangsa Woodroffe dan Ginsberg (1998). Kepunahan Harimau Jawa (Panthera tigris sondaica) dan Harimau Bali (Panthera tigris balica) telah menjadikan pelajaran berharga bagi para pengelola satwa liar dalam upaya penyelamatan Harimau Sumatera. Penelitian ini dilakukan di Enclave Taman Nasional Gunung leuser karena kawasan Enclave tersebut berhubungan langsung dengan habitat satwa liar, secara logika desa yang keberadaannya di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser itu memiliki resiko yang besar terjadinya konflik manusia dengan satwa.

Rumusan Masalah

Rumusan Masalah dalam penelitian yang berjudul “Analisis Sosial Interaksi Manusia dan Harimau Sumatera (Phantera tigris sumatrae) di Enclave Sembelin dan Sapopadang Taman Nasional Gunung Leuser” adalah :

1. Bagaimana kondisi sosial masyarakat di Enclave Sembelin dan Sapopadang ?

(16)

3

2. Bagaimana kondisi sosial masyarakat mempengaruhi pola intraksi manusia dengan Harimau Sumatera?

Tujuan

Tujuan penelitian ini adalah:

1. Mengetahui persepsi masyarakat dan nilai nilai kearifan masyarakat di Enclave Sembelin dan Sapopadang terhadap Harimau Sumatera (Panthera tigris sumtarae).

2. Mengetahui perubahan tutupan lahan berdasarkan perubahan aktifitas .

Manfaat

Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai sumber informasi yang dapat dimanfaatkan dalam menetukan langkah dan kebijakan yang harus diambil dalam menanggulangi konflik satwa liar di sekitar kawasan Taman Nasional Gunung Leuser serta memberikan informasi faktor faktor penyebab terjadi konflik antara Harimau Sumatera dan masyarakat.

(17)

TINJAUAN PUSTAKA

Deskripsi Wilayah

Kabupaten Langkat adalah sebuah Kabupaten yang terletak di Sumatera Utara, Indonesia. Ibu Kotanya berada di Stabat. Kabupaten Langkat terdiri dari 23 Kecamatan dengan luas 6.272 km² dan berpenduduk sejumlah 902.986 jiwa.

Kabupaten Langkat memiliki luas kawasan hutan berdasarkan fungsi hutan dengan jumlah seluas 330.658.51 Ha. Suaka Margasatwa Langkat timur laut berjumlah seluas 9.520 Ha, Hutan Lindung berjumlah 3.386.65 Ha, Taman Nasional Gunung Leuser berjumlah 206.047.20 Ha, Hutan Produksi Terbatas berjumlah 43.262.44 Ha, dan Hutan Produksi berjumlah 58.442.22 Ha (Badan Pusat Statistik, 2015).

Kawasan konservasi taman nasional gunung leuser (TNGL) di teteapkan

berdasarkan pengumuman mentri pertanian No. 811/kpts/UM/1980 tanggal 6 maret 1980 seluas 792.675 Ha berdasarkan surat keputusan mentri kehutanan No.276/kpts-VI/1997 tanggal 23 mei 1997 tentang penunjukan taman nasional gunung leuser luas kawasan TNGL bertambah menjadi 1.094.692 Ha, yang terdiri dari SM Gunung Leuser seluas 416.500 Ha, SM Kluet seluas 20.000 Ha, SM Langkat Barat seluas 51.000 Ha, SM Langkat Selatan seluas 82.985 Ha. Sm Sekunder seluas 79.000 Ha, Hutan Lindung dan Hutan Produksi terbatas seluas 292.707 Ha (YOSL-OIC, 2011).

Laju deforestasi dan tingkat ancaman perburuan yang tinggi menyebabkan penurunan populasi Harimau Sumatera di alam. Akibatnya, satwa tersebut dikategorikan sebagai “critically endangered species” atau satwa langka yang kritis yang merupakan kategori tertinggi dari ancaman kepunahan. Meskipun demikian, status penyebaran dan populasi Harimau Sumatera belum sepenuhnya terekam dengan akurat. Masih banyak wilayah yang belum terjangkau penelitian, termasuk di antaranya Provinsi Riau. Dalam dokumen Tiger Conservation Unit (TCU), yang diperbaharui menjadi Tiger Conseravtion Landscape, Riau merupakan salah satu dari lima belas bioregion yang terdapat di Asia Tenggara dan tiga TCU terletak di Lansekap Tesso Nilo Bukit Tiga puluh (TNBT)

(18)

5

disebutkan sebagai daerah penting untuk konservasi Harimau Sumatera (Sanderson et al., 2006).

Di Pulau Sumatera, Harimau Sumatera dapat ditemukan mulai dari ujung utara di Aceh hingga ke ujung selatan di Lampung. Namun setidaknya sejak tahun 1985 dan mulai maraknya kegiatan alih fungsi hutan menjadi peruntukkan lain seperti perkebunan dan hutan tanaman industri, menyebabkan penyempitan luasan hutan alam secara signifikan Uryu et al., (2010) dan terfragmentasi sehingga sangat mempengaruhi habitat Harimau Sumatera, dan juga spesies-spesies lainnya, terutama yang berukuran besar seperti Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatrensis), Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis), dan Orangutan Sumatera (Pongo abelii).

Penyebab Konflik Manusia dan Satwa

Ancaman terbesar terhadap kelestarian Harimau Sumatera adalah aktivitas manusia, terutama konversi kawasan hutan untuk tujuan pembangunan seperti perkebunan, pertambangan, perluasan pemukiman, transmigrasi dan pembangunan infrastruktur lainnya. Selain mengakibatkan fragmentasi habitat, berbagai aktivitas tersebut juga sering memicu konflik antara manusia dan Harimau Sumatera, sehingga menyebabkan korban di kedua belah pihak, bahkan sering berakhir dengan tersingkirnya Harimau Sumatera dari habitatnya. Bentuk lain aktivitas manusia yang secara langsung mengakibatkan tersingkirnya satwa kharismatik ini dari habitat alaminya adalah perburuan serta perdagangan ilegal Harimau Sumatera dan produk turunannya. Kemiskinan masyarakat di sekitar hutan dan tingginya permintaan komersial dari produk-produk ilegal Harimau Sumatera mulai dari kulit, tulang, taring, serta daging mendorong meningkatnya perburuan satwa tersebut. Strategi pengembangan dan pengelolaan konservasi populasi Harimau Sumatera, Pengamanan dan perlindungan populasi Harimau Sumatera yang masih ada di habitatnya, Mengembangkan penangkaran Harimau Sumatera untuk mendukung pemulihan populasi di alam, Membangun jaringan kerja untuk kelestarian Harimau Sumatera di Indonesia (Soehartono et al., 2007)

Pada wilayah Sumatera, Konflik Manusia dan Harimau Sumatera (KMH) telah menjadi salah satu tantangan dalam upaya konservasi Harimau Sumatera, karena menimbulkan kerugian materi dan korban jiwa, yang akhirnya

(19)

6

menurunkan toleransi masyarakat terhadap upaya pelestariannya. Konflik seperti ini juga merupakan salah satu faktor yang memicu masyarakat untuk menangkap dan bahkan membunuh Harimau Sumatera Faktor utama KMH adalah perburuan dan perdagangan ilegal dari bagian tubuh Harimau Sumatera (Priatna et al., 2012).

Berkurangnya populasi Harimau Sumatera disebabkan oleh berbagai faktor seperti menyempitnya areal hutan yang dikonversi menjadi lahan perkebunan, pemukiman, pertanian, dan industri, sehingga mempersempit habitat yang dapat berdampak pada penurunan populasi perkembangannya konflik satwa liar dengan masyarakat terus meningkat bahkan sudah berada dalam tahap yang sangat meresahkan dan memprihatinkan. Penanggulangan konflik satwa liar dengan masyarakat perlu segera ditangani dengan benar. Agar penanggulangan konflik satwa liar dengan manusia dapat terlaksana lebih adil, peduli, dan saling menguntungkan diperlukan peningkatan efektifitas manajemen penanggulangan konflik satwa liar diantaranya melalui pengembangan pendidikan dan pelatihan dalam rangka penanggulangan konflik satwa liar yang berbasis konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya (Sriyanto, 2003).

Ukuran Harimau Sumatera jantan lebih besar dibandingkan dengan Harimau Sumatera betina IUCN (1996) Kaki belakang lebih panjang ukurannya dari pada kaki depan sehingga memudahkan Harimau Sumatera melompat lebih tinggi dan jauh. Kaki depan dan bahu lebih besar dan berotot dari pada kaki belakang. Telapak kakinya sangat halus sehingga saat berjalan biasanya suara langkahnya tidak terdengar. Lebar telapak kaki antara 9 – 20 cm dan ukuran kaki belakang lebih kecil antara 1 – 1,5 cm. Cakar pada kaki depan dilengkapi dengan kuku yang panjang, runcing, dan tajam yang panjangnya 80 – 100 mm dan digunakan untuk menangkap dan menggenggam mangsanya. Kuku-kuku ini bisa disembunyikan atau ditarik (retractable) bila tidak digunakan (Hutabarat, 2005).

Harimau Sumatera merupakan salah satu enam sub-spesies dan juga menjadi satwa liar yang termasuk dalam warisan kekayaan indonesia yang masih tersisa yang masih bertahan hidup. Selain itu, Harimau Sumatera juga termasuk dalam klasifikasi kritis (Crtical Endangered) dan masuk dalam daftar merah yang dirilis oleh Lembaga konservasi dunia IUCN (International Union for Conversation of Nature) yaitu dimana Harimau Sumatera terancam punah. Dua

(20)

7

anak jenis Harimau yang pernah kita miliki, yaitu Harimau Bali dan Harimau jawa telah punah dan tinggal menjadi sejarah satwa liar di indonesia Populasi liar diperkirakan ada 450-600 binatang yang telah semakin berkurang karena hancurnya habitat, perburuan, bagian-bagian tubuh Harimau Sumatera yang di perdagangkan secara illegal dan dikarenakan adanya konflik dengan manusia (Sarahswati, 2018).

Pengertian konflik manusia dan satwa liar adalah segala interaksi antara manusia dan satwa liar yang mengakibatkan efek negative kepada kehidupan social manusia, ekonomi, kebudayaan, dan pada konservasi satwa liar dan pada lingkungan. Konflik manusia dan satwa liar terjadinya karena gangguan, ancaman atau ketidaknyaman yang di akibatkan oleh satwa akibat perbuatan sehubungan dengan ketidak seimbangan ekosistem karena kerusakan hutan. Beberapa faktor penyebab terjadinya konflik antara manusia dengan satwaliar seperti perladangan dalam kawasan hutan baik yang lama maupun baru, Ilegal Logging di beberapa kawasan hutan, Perluasan Lahan perkebunan baik oleh perusahaan maupun masyarakat tanpa memperhatikan dan mempertimbangkan keberadaan satwa liar yang ada di wilayah tersebut, Perburuan terhadap satwa mangsa / perburuan yang berlebihan, Ketidaktersediaan makanan yang cukup bagi kelangsungan hidup satwaliar didalam hutan dan pembukaaan wilayah hutan untuk pengusahaan pertambangan (Wibowo, 2017)

Taman Nasional Gunung Leuser

Kawasan TNGL Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah VI Besitang yang luasnya ± 126.000 ha berada di wilayah Kabupaten Langkat terletak di Kecamatan Besitang, Sei Lepan, dan Batang Serangan dan sebagian di kabupaten Aceh Tamiang. Untuk pemangkuan wilayah kerja dibagi dalam 6 (enam) Resort, yaitu Resort Trenggulun, Sei Betung, Sekoci, Sei lepan, Cinta Raja, dan Tangkahan.

Pengelolaan kawasan Tman Nasional Gunung Leuser (TNGL) di SPTN VI Besitang menghadapi permasalahan yang sangat kompleks bermuara pada terjadinya kerusakan kawasan TNGL. Untuk data luas kerusakan kawasan TNGL di wilayah Kabupaten Langkat sendiri menurut hasil penafsiran Citra Landsat tahun 2002 menunjukkan kerusakan seluas 43.623 Ha termasuk kawasan bukan berupa hutan seluas 20.688 Ha. Sedangkan menurut pantauan Yayasan

(21)

8

Leuser Internasional (YLI) menunjukkan kerusakan seluas 22.000 Ha, tanpa menyebutkan luas kawasan tak berhutan. Penyelesaian secara menyeluruh terhadap permasalahan kerusakan kawasan TNGL menjadi agenda utama dari pengelolaan kawasan oleh Balai TNGL bekerja sama dengan semua pihak terkait dan pelibatan masyarakat (Ismail, 2009).

Enclave

Banyak fakta di lapangan menunjukkan bahwa di dalam kawasan hutan terdapat kampung, dusun dan bahkan desa-desa definitif. Banyak kampung dan dusun yang keberadaannya mendahului penunjukan atau penetapan kawasanhutan.

Ada sebagian kampung yang mendapatkan status Enclave (terutama kampung- kampung yang ada di dalam kawasan konservasi), namun tidak sedikit kampung lainnya yang tidak dalam status Enclave tetapi berada di dalam kawasan hutan.

Keberadan kampung dalam kawasan hutan adalah sebuah fakta yang tidak bisa dielakkan. Dalam setiap izin konsesi hutan yang diterbitkan oleh pihak yang berwenang, selalu ditegaskan bahwa apabila di dalam areal yang diberikan izin tersebut terdapat hak-hak pihak ketiga (salah satunya bisa kampung), maka areal yang menjadi hak pihak ketiga tersebut harus dikeluarkan (diEnclave) dari izin konsesi (Sardjono, 2006)

Dalam upaya untuk mendapatkan lahan yang sangat luas, pengembang- pengembang besar melakukan pembebasan lahan, baik lahan kosong maupun lahan yang sudah berpenghuni. Dalam proses pembebasan lahan ternyata tidak semua masyarakat yang sudah menghuni di kawasan yang akan dibebaskan menerima tawaran pembelian tanah dan bangunan yang sudah dihuni secara turun temurun.

Hal itu mengakibatkan pada saat ini muncul fenomena adanya kantong- kantong permukiman (Enclave) lama yang berada di tengah-tengah kawasan pengembangan permukiman baru (Ischak, 2016).

Aspek Sosial Masyarakat Sekitar Hutan

Pengaruh kondisi sosial ekonomi masyarakat desa hutan terhadap hutannya mencakup berbagai kehidupan, berupa ketergantungan ekonomi, kawasan buru untuk kebutuhan protein, areal perladangan dan perkebunan, bahan bangunan, dan fungsi lain yang berhubungan dengan kelembagaan sosial tradisional di masyarakat.kondisi sosial ekonomi masyarakat di sekitar hutan

(22)

9

merupakan variabel yang perlu diperhitungkan dalam merumuskan tujuan pengelolaan hutan.Memecahkan masalah sosial memerlukan sebuah pemahaman terhadap nilai-nilai yang dipegang oleh masyarakat dan partisipasi dari kelompok masyarakat kunci dalam membuat keputusan tentang pengelolaan hutan.Sekarang ini kunci keberhasilan pengelolaan sumberdaya hutan ditentukan oleh keberhasilannya dalam memecahkan masalah sosial ekonomi masyarakat (Senoaji, 2011)

(23)

METODE PENELITIAN

Lokasi penelitian

Penelitian yang berjudul “Analisis Sosial Interaksi Manusia Dan Harimau Sumatera (Panthera Tigris Sumatrae) Di Enclave Sembelin dan Sapopadang Taman Nasional Gunung Leuser” ini dilakukan di Sekitar Taman Nasional Gunung Leuser Kabupaten Langkat. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari sampai Februari 2020

Gambar 1. Lokasi Penelitian Alat dan Bahan

Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah kamera digital, GPS (global positioning system), alat tulis. Bahan yang digunakan adalah kuisioner.

Prosedur Penelitian

Jenis data dalam penelitian ini terdiri atas data primer dan data sekunder.

Data primer adalah data yang di peroleh berdasarkan hasil pengamatan di lapangan.

Wawancara mendalam (indepth interview) di lakukan pada tokoh masyarakat atau yang di tuakan karena paham dengan masalah dan sejarah setempat, kepala desa, sekretaris desa, ketua kelompok tani serta kelompok masyarakat yang berpotensi konflik dengan satwaliar.

(24)

11

Wawancara mendalam dimaksudkan untuk mengetahui permasalahanpada masyarakat atas terjadinya konflik dengan Harimau Sumatera. Data yang akan dikumpulkan antar lain adalah: Informasi tentang satwa liar, informasi tentang Harimau Sumatera, kesadaran masyarakat tentang satwaliar, informasi metode pencegahan, dan Informasi Penanggulangan Oleh Pihak Pemerintah dan LSM .

Data sekunder digunakan sebagai data pendukung yang diperoleh dari buku- buku, jurnal ilmiah, dan sumber pustaka lainnya. Data sekunder merupakan informasi yang diperoleh dari hasil pencatatan terhadap data yang sudah tersediadi instansi.

Teknik Pengambilan Sampel

1. Metode pengambilan sampel dilakukan dengan cara purposive sampling (sampel bertujuan). Purposive sampling merupakan pemilihan sekelompok subjek didasarkan atas ciri atau sifat tertentu yang dipandang mempunyai hubungan yang erat dengan ciri atau sifat populasi yang sudah diketahui sebelumnya. Metode ini disesuaikan dengan kebutuhan tujuan penelitian (Jogiyanto, 2004).

2. Populasi dalam penelitian ini adalah total jumlah kepala keluarga pada Desa Batu Jongjong , Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat. Untuk jumlah sampel yang akan diambil menggunkan rumus Slovin (Noor,2012).

= 𝑁

1 + 𝑁 𝑒2

dimana: n = Jumlah sample N = jumlah populasi

e = taraf kesalahan atau nilai kritis (10%) 3. Focuss Group Discussion (FGD)

Metode FGD merupakan salah satu metode pengumpulan data penelitian dengan hasil akhir memberikan data yang berasal dari hasil interaksi sejumlah partisipan suatu penelitian, seperti umumnya metode-metode pengumpulan data lainnya. Berbeda dengan metode pengumpul data lainnya, metode FGD memiliki sejumlah karakteristik, diantaranya, merupakan metode pengumpul data untuk jenis penelitian kualitatif dan data yang dihasilkan berasal dari eksplorasi interaksi

(25)

12

sosial yang terjadi ketika proses diskusi yang dilakukan para informan yang terlibat.

Keunggulan penggunaan metode FGD adalah memberikan data yang lebih kaya dan memberikan nilai tambah pada data yang tidak diperoleh ketika menggunakan metode pengumpulan data lainnya, terutama dalam penelitian kuantitatif (Lehoux et al, 2006).

4. Analisis Data a.Analisis Deskriptif

Digunakan untuk mengetahui dan menganalisis data yang terkumpul dari hasil kuesioner, wawancara mendalam, observasi dan studi pustaka yang telah dilakukan. Data yang terkumpul dari hasil kuesioner dinyatakan dalam bentuk bentuk kearifan lokal yang terjadi di masyarakat dan bagaimana kolaboratif manajemen dalam menangani satwa liar Hasil isian kuesioner responden dianalisis menggunakan tabel frekuensi, menurut Kuswanda (2007).

Penyusunan tabel frekuensi dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:

(1) Editing data yaitu meneliti kembali data penelitian terhadap rekaman jawaban yang telah ditulis dalam kuesioner, catatan-catatan wawancara hasil observasi. (2) Koding datayaitu mengadakan pengklasifikasian terhadap jawaban-jawaban responden dengan membubuhkan kode pada suatu jawaban tertentu.

(3) Menghitung frekuensiyaitu mentabulasi atau menyusun data dalam tabel tabel yang memuat seluruh jawaban dalam kategori tertentu. (4) Membuat tabel frekuensiyang memuat jumlah frekuensi dan persentase untuk setiap pernyataan.

b.Analisis SWOT

Data penelitian ini dianalisis dengan menggunakan metode analisis SWOT (Strengths-Weaknesses-Opportunities-Treath). Analisis ini dilakukan dengan memaksimalkan kekuatan dan peluang meminimalkan kelemahan atau ancaman (Suryandari, 2005). Bobot diberi nilai mulai dari 1 (sangat setuju) sampai dengan 4 (sangat tidak setuju). Bobot dari masing-masing faktor strategis harus berjumlah 1. Rating untuk kekuatan dan peluang diberi skala mulai dari 4 (sangat baik), 3 (baik), 2 (tidak baik), dan 1 (sangat tidak baik) berdasarkan pengaruh faktor tersebut.

Rating ancaman dan kelemahan diberi nilai -4 sampai dengan -1. Untuk menganalisis secara lebih dalam tentang SWOT, maka perlu dilihat faktor

(26)

13

eksternal dan internal sebagai bagian penting dalam analisis SWOT, penentuan kuadran SWOT yaitu :

1. Kuadran I (positif, positif) Posisi ini sangat menguntungkan, yaitu memiliki peluang dan kekuatan.

2. Kuadran II (positif, negatif) Posisi ini menghadapi ancaman, namun masih memiliki kekuatan.

3. Kuadran III (negatif, positif) Posisi ini memiliki peluang yang besar, namun menghadapi beberapa kelemahan.

4. Kuadran IV (negatif, negatif) Posisi ini tidak menguntungkan, yaitu menghadapi kelemahan dan ancaman. Empat sel strategi yang diberi nama dengan penyusunan matriks SWOT.

Untuk menetukan responden dalam analisis swot ini di gunakan metode sampling snowball dimana Teknik sampling snowball adalah suatu metode untuk mengidentifikasi, memilih dan mengambil sampel dalam suatu jaringan atau rantai hubungan yang menerus (Neuman, 2003)

3. Analisis Spasial

Penelitian ini nantinya menggunakan analisis spasial untuk mengetahui perubahan aktifitas berdasarkan tutupan lahan . Karakteristik utama Sistem Informasi Geografi (SIG) adalah kemam puan menganalisis sistem seperti analisa statistik dan overlay yang disebut analisa spasial. Analisa dengan menggunakan Sistem Informasi Geografi yang sering digunakan dengan istilah analisa spasial , tidak seperti sistem informasi yang lain yaitu dengan menambahkan dimensi ‘ruang (space)’ atau geografi. Kombinasi ini menggambarkan attribut-attribut pada bermacam fenomena seperti umur seseorang, tipe jalan, dan sebagainya, yang secara bersama dengan informasi seperti dimana seseorang tinggal atau lokasi suatu jalan (Keele,1997

)

Analisa Spasial dilakukan dengan mengoverlay dua peta yang kemudian menghasilkan peta baru hasil analisis . Analisis spasial ini nantinya akan menganalisis perubahan tutupan lahan yang di sebabkan karena perubahan aktifitas masyarakat.

(27)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Karakteristik Responden

Karakteristik responden penelitian terdiri dari 197 orang yang merupakan masyarakat Desa Batu Jongjong, Langkat, Sumatera Utara. Karakteristik responden penelitian ini mencakup Umur, Agama, Suku, Pendidikan terakhir, pekerjaan, dan status kependudukan dapat dilihat pada pada Tabel 1.

Tabel 1. Karakterisitik Responden

No Karakteristik Sembelin Sapopadang B.Jongjong Total Persentasi (%)

n % N % n %

1. Umur responden a. < 25 tahun b. 25 – 42 tahun c. 43 - 55 tahun d. 56 - 69 tahun e. > 70 tahun

0 5 3 0 0

0 62,5 37,5 0 0

0 6 3 0 0

0 66,67 33,33

0 0

1 85 61 29 4

0,56 47,22 33,89 16,11 2,22

0,5 48,7 34,0 14,7 2,0 2. Jenis Kelamin

a. Laki-laki b.Perempuan

8 0

100 0

9 0

100 0

165 15

91,67 8,33

92,4 7.6 3. Agama

a. Islam b. Kristen c. Katholik

8 0 0

100 0 0

8 1 0

88,89 11,11

0

109 69

2

60,56 35,5 1,11

63.5 35,5 1,0 4. Suku

a. Karo b. Jawa c. Batak d. Melayu e. Banten f. Sunda

2 6 0 0 0 0

25 75 0 0 0 0

3 6 0 0 1 0

30 60 0 0 10

0

65 108

4 1 1 1

36.11 60.00 2.22 0.56 0.56 0.56

35,5 60,9 2,0 0,5 1, 0,5 5. Pendidikan terakhir

a. Belum tamat SD b. SD

c. SMP d. SMA e. S1

2 3 1 0 0

33.33 50.00 16.67

0 0

3 4 2 0 0

33.33 44.44 22.22

0 0

2 101

54 24 1

1.10 55.49 29.67 13.19 0.55

3,6 54,8 28,9 12,2 0,5 6. Pekerjaan

a. Petani b. Buruh c. PNS d. Wiraswasta

8 0 0 0

100 0 0 0

9 0 0 0

100 0 0 0

147 1 1 31

81.67 0.56 0.56 17.22

83,2 0,5 0,5 15,7 7. Status

kependudukan a. Asli b. Pendatang

3 5

37.5 62.5

2 8

20 80

104 76

57.78 42.22

55,3 44,7

(28)

15

1. Umur responden

Berdasarkan Tabel 1 dapat dilihat bahwa umur responden terbanyak pada rentang 25 – 42 tahun sebanyak 85 orang sedangkan pada rentang umur 43 – 55 tahun ada 61 orang. Umur sangat erat hubungannya dengan kemampuan dan pengalaman seseorang dalam melakukan kegiatannya. Umur menjadi data yang penting karena umur dapat memberikan gambaran kondisi seseorang. Banyaknya responden berumur dibawah 55 tahun ini akan sangat membantu peneliti untuk mendapatkan banyak informasi terkait pengalaman dan pengetahuan mereka tentang seringnya melihat keberadaan Harimau Sumatera di Desa sejak dulu sampai sekarang.

Menurut Hoetomo (2005) umur adalah lamanya hidup seseorang dalam tahun yang dihitung sejak dilahirkan. Sedangkan umur responden yang bereda di Enclave Sembelin dan Sapopadang berada di rentang umur 25-42 Hal ini di sebabkan oleh faktor medan untuk menuju ke Enclave tersebut sangat sulit dan membutuh tenaga yang lebih agar dapat menuju Sembelin dan Sapopadang,adapun rentang umur 43 – 55 yang berada di Enclave Sembelin dan Sapopadang hanya 6 responden .

2. Agama dan suku

Responden dalam penelitian ini dominan beragama Islam dengan penganut sebanyak 125 responden dengan suku Jawa sebanyak 121 orang dan suku Karo sebanyak 69 orang, suku jawa yang mendominasi di wilayah Enclave Sembelin dan Sapopadang ini di sebabkan karena terjadinya jual beli lahan yang terjadi di Enclave.

Sebelum terjadinya jual beli lahan penduduk Enclave Sembelin dan Sapopadang mayoritas suku karo “ dulu mayoritas karo sekarang sudah campuran” tutur Pak Tetap Ukur Ginting sebagai kepala Desa Batu Jongjong.

Mulai terjadinya percampuran suku karo dan jawa di Enclave Sembelindan Sapopadang sudah terjadi pada tahun 1983, Terjadinya percampuran tersebut tidak hanya dari jual beli lahan namun di sebabkan juga dengan terjadinya pernikahan.

3. Tingkat pendidikan responden

(29)

16

Berdasarkan Tabel 1, tingkat Pendidikan responden dengan frekuensi terbesar pada tingkat Pendidikan SD dengan nilai 54% (n = 108) dan frekuensi terendah dengan tingkat Pendidikan Perguruan Tinggi dengan nilai hanya 1 orang.

Hal ini berpengaruh terhadap umur responden yang rata rata berumur diatas 40 tahun dan lokasi perkampungan yang jauh dari kota, sehingga masyarkat Desa Batu Jongjong yang susah untuk mendapat pendidikan yang lebih baik. Tingkat pendidikan berperan penting dalam menunjukkan pola pikir dan ilmu pengetahuan seseorang, hal ini sejalan dengan hasil penelitian Pratama (2013) yang menyimpulkan bahwa ada pengaruh pendidikan terhadap peningkatan pengetahuan responden.

4. Pekerjaan Responden

Berdasarkan Tabel 1, pekerjaan responden di Desa Batu Jongjong dengan frekuensi terbesar yaitu bekerja sebagai petani dengan nilai 83% (n=147) orang , bekerja sebagai wiraswasta sebanayak 31 orang dan bekerja sebagai buruh dan PNS masing masing hanya 1 orang. Seluruh responden yang berada di Enclave Sembelin dan Sapopadang bekerja sebagai petani hal ini terjadi di sebabkan olah akses dan komunikasi di dalam Enclave yang sangat sulit sehingga masyarakat yang berada di dalam Enclave Sembelin dan Sapopadang hanya bekerja sebagai petani.

5. Status Kependudukan

Status kependudukan mempengaruhi pendapat responden tentang keberadaan Harimau Sumatera di Desa. Berdasarkan status kependudukan, peneliti mendapatkan informasi yang lebih akurat dengan pengetahuan yang lebih dari masyarakat asli di Desa Batu Jongjong tentang keberadaan Harimau Sumatera dan respon yang baik dengan kearifan lokal masyarakat Desa Batu Jongjong.

Berdasarkan Tabel 1, status kependudukan di Desa Batu Jongjong dengan frekuensi terbesar yaitu pada kependudukan asli yang sejak lahir tinggal di Desa Batu Jongjong dengan nilai 55% (n = 109) dan frekuensi terendah terdapat pada pendatang dengan nilai 45% (n = 89) .

Status kependudukan asli merupakan yang mulai lahir sampai sekarang tinggal di Desa Batu Jongjong, sedangkan status kependudukan pendatang merupakan masyarakat yang bukan penduduk asli Desa Batu Jongjong namun

(30)

17

sekarang tinggal di Desa dan memiliki tujuan tertentu seperti menikah dan bertani di Desa Batu Jongjong.

Pada saat ini suku dari masyrakat yang berada di Enclave Sembelin dan Sapopadang saat ini sudah bercampur antara karo dan jawa, pada awalnya Enclave Sembelin dan Sapopadang ini di warisi oleh suku karo yaitu bapak Oka Landas Kembaren sebagai pewaris dari Enclave Sembelin dan Sapopadang.

Informasi Satwa Liar

Seluruh responden dapat memilih jenis satwa liar yang diketahui sering berinteraksi atau pertemuan dengan masyarakat dengan satwa liar di Desa Batu Jongjong, Langkat, Sumatera Utara, jenis satwa yang sering datang ke Desa dapat di lihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Jenis Satwa yang Sering Datang ke Desa

Sembelin Sapopadang B.Jongjongg Total

Persentasi (%) Jenis Satwa

n % n % n %

Tidak Tahu 2 1.10 1.01

Babi Hutan (Sus scrofa) 27 14.92 13.64

Monyet (M. fascicularis) 109 60.22 55.05

Monyet (M. fascicularis) dan

Babi Hutan (Sus scrofa) 41 22.65 20.71

Rusa (Cervus elaphus) 8 100 9 100 0 8.59

Beruang (Ursus arctos) 2 1.10 1.01

Berdasarkan Tabel 2, jenis satwa yang sering datang ke Desa dengan frekuensi terbesar terdapat pada Monyet dengan nilai 56 % (n=109). Datangnya satwa Monyet ke Desa karena meningkatnya populasi Monyet yang ada di hutan.

Frekuensi terendah terdapat pada beruang dengan nilai 1% (n=2).

Jenis satwa pengganggu di ladang masyarakat Desa Batu Jongjong, Langkat, Sumatera Utara, mencakup 3 jenis satwa yaitu monyet, babi hutan, dan rusa. Dapat di lihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Jenis Satwa Pengganggu Di Ladang

Jenis Satwa Sembelin Sapopadang B.Jongjong Total Persentasi

N % n % N % (%)

Monyet (M. fascicularis) 109 78,99 70,3

Babi Hutan (Sus scrofa) 27 19,57 17,4

Rusa (Cervus elaphus) 8 100 9 100 2 1,45 12,3 Berdasarkan Tabel 3, jenis satwa monyet merupakan pengganggu di ladang denga frekuensi terbesar dengan nilai 70% (n=109). Karena menurut masyarakatdi Desa Batu Jongjong satwa liar yang sering mengganggu di ladang

(31)

18

adalah monyet, dan satwa tersebutlah membuat masyarakat mengalami kerugian ekonomi akibat dari menyet yang menggangu di ladang masyarakat.

Keberadaan satwaliar di Desa merupakan gangguan bagi masyarakat setempat sebagai akibat pergeseran populasi satwaliar dari dalam hutan dan di duga akibat kekurangan sumber pakan bagi satwa liar maupun terjadinya pertumbuhan populasi satwa yang telah melebihi daya dukung (Herianto, 2011). Frekuensi terendah terdapat pada rusa dangan nilai 12% (n=19), intensitas gangguan rusa adalah yang terendah jika di bandingan dengan satwa lainnya walaupun demikian gangguan rusa dominan di temukan di Enclave Sembelin dan Sapopadang sehingga masyarakat mengalami kerugian.

Rusa adalah hewan yang sangat merugikan bagi masyarakat di dalam Enclave Sembelin dan Sapopadang, sebab karet yang telah di makan oleh rusa dapat menyebabkan karet mati sehingga masyarakat harus menuggu lama lagi untuk dapat mendapatkan hasil dari karet tersebut, biasanya karet yang di makan oleh rusa adalah karet yang baru di tanam pada bagian batang atau masih muda dan belum dapat di panen oleh masyarakat dalam hal ini masyarakat membuat alat sendiri yang di namakan “klentengan” untuk mengusir rusa tersebut.

Gambar 2. Gangguan rusa pada pohon karet Tabel 4. Jenis Tanaman Yang Diganggu Satwa Liar

Sembelin Sapopadang B.Jongjong Total

Persentasi (%) Jenis tanaman

N % N % n %

Sawit 44 32.84 37,0

Karet 8 100 9 100 25 18.66 35,3

Padi 19 14.18 16,0

Kacang 6 4.48 5,0

Kopi 8 5.97 6,7

Jengkol 15 11.19 12,6

Durian 17 12.69 14,3

(32)

19

Gangguan yang terjadi di ladang yang mengakibatkan kerugian dan kerusakan tanaman masyarakat. Ada 7 jenis tanaman yang di ganggu oleh satwa di Desa Batu Jongjong, Langkat, Sumatera Utara, dapat di lihat pada Tabel 4.

Berdasarkan Tabel 4, dari 7 jenis tanaman yang di ganggu satwa liar sawit adalah tanaman sawit yang frekuensinya terbesar dengan nilai 37 % (n=44) hal ini di karenakan masyarakat lebih banyak memilihih jenis tanaman sawit dari pada karet di karenakan harga karet kurang mencukupi kebutuhan ekonomi masyarakat dan monyet sebagai satwa pengganggu terbesar karena potensi konflik dengan satwa liar lainnya yang banyak di temukan di lahan olahan masyarakat adalah monyet dan babi, keberadaan satwa-satwa tersebut, oleh sebagian masyarakat sudah di anggap hama menurut Kuswanda (2017). Frekuensi terendah terdapat pada kacang dengan nilai 5% (n=6) karena sedikitnya masyarakat Desa Batu Jongjong memilih untuk menanam tanaman kacang di ladang.

Pada Tabel 4, Jenis tanaman karet dengan nilai 35% (n=42) dan sebagai frekuensi terbesar setelah sawit. Hal ini di sebabkan masyarakat Enclave Sembelin dan Sapopadang memilih jenis tanaman karet sebagai jenis tanaman di ladang, sehingga jenis tanaman karet dapat mendominasi di kawasan Enclave. Jenis tanaman di kawasan Enclave Sembelin dan Sapopaadang adalah kemiri dan karet, Tanaman kemiri dan keret ini mulai di tanam masyrakat pada tahun 1983, “pada tahun 1983 masyrakat Sembelin dan Sapopadang mulai menanam karet dan kemiri”

tutur pak Tetap Ukur Ginting. Sebelum tahun 1983 jenis tanaman masyrakat Sembelin dan Sapopadang adalah tembakau.

Informasi Harimau Sumatera

Dari seluruh responden yang mewakili masyarakat di Desa Batu Jongjong, Langkat, Sumatera Utara, hanya 26 responden yang pernah melihat keberadaan Harimau Sumatera. Data sebaran bentuk keberadaan Harimau Sumatera mencakup 4 jenis yaitu Harimau Sumatera langsung, jejak, kotoran dan cakaran. Setiap responden memilih maksimal 3 bentuk jenis keberadaan Harimau Sumatera, dapat di lihat pada Tabel 5.

(33)

20

Tabel 5. Bentuk Keberadaan Harimau Sumatera Keberadaan Harimau

Sumatera

Sembelin Sapopdang B.Jongjong Persentas i (%)

n % n % n %

Harimau Sumatera Langsung 1 14.29 1 16.67 0 8,70

Jejak 4 57.14

5 83.33 10 10

0 82,61

Kotoran 0 0.00 0 0.00 0 0,00

Cakaran 2 28.57 0 0.00 0 8,70

Berdasarkan Tabel 5, keberadaan Harimau Sumatera dengan frekuensi terbesar terdapat pada jejak dengan nilai 82% (n=19) hal ini karena Enclave Sembelin dan Sapopadang keberadaannya yang berada di tengah kawasan hutan dan berbatasan langsung dengan Taman Nasional Gunung Leuser, sehingga kemungkinan Harimau Sumatera untuk melintas dari Enclave Sembelin dan Sapopadang besar. Frekuensi terendah terdapat pada Harimau Sumatera langsung dengan nilai 9% (n=2).

Menurut masyarakat di Desa Batu Jongjong, Harimau Sumatera akan melintas di ladang pada waktu tertentu setiap tahunnya, “ memang biasanya Harimau Sumatera ini datang ke kebun atau Desa pada waktu tertentu,contohnya pada musim durian” tutur Pak Sariono sebagai tokoh masyrakat, sihingga sebagian masyarakat dapat melihat tanda keberadan Harimau Sumatera di Desa Batu Jongjong.Menurut kearifan lokal masyarakat Desa Batu Jongjong menganggap jika Harimau Sumatera datang ke Desa adalah teguran bagi masyarakat karena melanggar norma adat di Desa seperti contohnya berzinah .

Kearifan lokal masyarakat yang berada di Enclave Sembelin dan Sapopadang masih sangat kental, biasanya masyarakat yang bersuku karo memberikan julukan kepada Harimau Sumatera adalah “ninisimadakrangen” yang artinya nenek dan begitu juga sebaliknya dengan suku jawa yang memberikan julukan “mbah” kepada Harimau Sumatera. Julukan tersebut menunjukkan bahwa Harimau Sumatera yang berada di Enclave Sembelin dan Sapopadang sangat di takuti dan di hormati.

Hal ini berdampak dengan cara masyrakat apabila masyarakat berjumpa langsung dengan Harimau Sumatera, hal yang di lakukan masyarakat jika melihat Harimau Sumatera adalah mengusirnya dengan kata kata yang halus, “ biasanya kalau jumpa Harimau Sumatera Sumatera ya ngomong biasa aja lah,contohnya

(34)

21

saya tidak ganggu ya mbah,saya cuman cari makan” tutur Hasan sebagai masyarakat yang pernah berjumpa langsung dengan Harimau Sumatera.

Gambar 3. Temuan jejak kaki Harimau Sumatera sumatera

Informasi Dan Presepsi Masyarakat Tentang Konflik Harimau Sumatera Presepsi masyarakat merupakan suatu sikap dan prilaku dalam tindakan masyarakat terhadap keberadaan Harimau Sumatera dan konflik yang terjadi di Enclave Sembelin dan Sapopadang. Dalam penelitian ini informasi dan presepsi masyarakat mengenai konflik Harimau Sumatera di proleh dengan mewawancari tokoh msyarakat dan beberapa penduduk yang berada di lokasi penelitian. Informasi wawancara di sajikan pada Tabel 6.

Tabel 6. Kutipan Representatif dari wawancara dengan masyarakat di Desa Batu Jongjong

No Pernyataan/Ujaran Responde Pewakil

1 Dekatnya jarak Desa Batu Jongjong dengan taman nasional gunung leuser.

Marbun, 57 tahun (L),suku karo, kepala resort bahorok.

2 Adanya perburuan satwa liar yang di lakukan oleh masyarakat dari luar Desa yang

menyebabkan Harimau Sumatera terganggu.

Hasan, 37 tahun (L), suku jawa, penduduk asli Batu Jongjong.

3 Adanya kesalahan yang di lakukan masyarakat sehingga Harimau Sumatera masuk memberi peringantan

Sariono, 56 tahun (L),suku jawa, tokoh masyarakat Desa Batu Jongjong.

4 Keadaan hutan yang rusak dan pakannya yang berkurang, sehingga tidak mendukung

keberlangsungan kehidupan antara satwa yang ada di hutan

Mulyono, 40 tahun (L),suku jawa, penduduk asli Desa Batu Jongjong-

Pandangan masyarakat terhadap pemicu konflik Manusia dengan Harimau Sumatera di lokasi penelitian berbeda beda dan masyarakat cukup paham tentang penyebab konflik Harimau Sumatera yang terjadi di lokasi penelitian. Presepsi masyarakat penyebab konflik di dukung dengan pernyataan fitrah et all (2017).

(35)

22

Masyarakat yang melakukan kegiatan di perladangan atau perkebunan, apabila melihat adanya tanda-tanda seperti bekas cakaran pada pohon,feses, dan jejak kaki Harimau Sumatera biasanya masyarakat menyalakan api, dan juga membuat suara berisik seperti memukul-mukulkan benda sebagi bentuk pengusiran Harimau Sumatera.

Analisis Swot (Strengths-Weakness-Opportunities-Threats)

Hasil penelitian dapat menggambarkan aspek-aspek lingkungan internal yang ,merupakan kekuatan (strengths) dan kelemahan ( weaknesses) , juga aspek- aspek eksternal yang merupakan peluang (oppurtunities) dan ancamaan (threats) dalam upaya penanganan konflik satwa liar di Desa Batu Jongjong. Pada pemberian bobot, reting dan skor merupakan responden yang berada di Desa Batu Jongjong dapat di lihat pada Tabel 7.

Tabel 7. Pembobotan oleh berbagai pihak pada faktor internal No Faktor Stategis Internal (IFAS)

Kekuatan Bobot Rating Skor

1 Pengetahuan masyarakat terhadap status Harimau Sumatera sebagai satwa yang dilindungi

0,09 4 0,33

2 Masyarakat mengetahui pentingnya Harimau Sumatera terhadap landscape kawasan hutan

0,08 4 0,31

3 Masyarakat memiliki kearifan lokal terhadap Harimau Sumatera sebagai satwa kharismatik dari para leluhur

0,08 4 0,29

4 Masyarakat memiliki pengetahuan tentang cara menghindari serangan Harimau Sumatera

0,08 3 0,29

5 Adanya kerjasama parapihak dalam penanganan konflik Harimau Sumatera

0,08 4 0,29

6 Masyarakat memiliki jiwa saling menjaga apabila terjadi konflik

0,08 4 0,31

Total 21 1,82

Kelemahan 1

Belum adanya sistem zonasi keamanan penghidupan masyarakat pada wilayah yang berbatasan dengan kawasan hutan

0.07 -3 0,20

2 Sinyal di Desa yang kurang memadai untuk

menginformasikan. 0,08 -3 0,26

3 Tidak adanya alat atau sistem pemantatauan pergerakan

Harimau Sumatera 0,07 -3 0,24

4 Masyarakat masih belum menggunakan kandang untuk

melindungi ternak 0,07 -3 0,24

5 Tidak adanya pelayanan atau asuransi terhadap korban

(manusia/ternak) apabila terjadi konflik 0,07 -3 0,22 6

Masyarakat belum banyak mengetahui call center tim BKSDA/TNGL untuk melaporkan keberadaan atau tanda Harimau Sumatera atau bantuan mitigasi konflik.

0,07 -3 0,22

(36)

23

7 Batas kawasan hutan dan lahan milik masyarakat yang

tidak jelas 0,07 -3 0,22

Total 1 -21 1,62

Total IFAS S – W =1,82-1,62= 0,2

Berdasarkan pada Tabel 7, hasil perhitungan untuk mendapatkan nilai X sebagai sumbu horizontal adalah nilaifaktor strategis internal dalam penanganankonflik manusia dan Harimau Sumatera yaitu nilai total faktor kekuatan (Strenght) dikurangidengan nilai total faktor kelemahan (Weakness). Berdasarkan hasil perhitunganpada Tabel analisis swot maka didapatkan untuk nilai total kekuatan adalah 1,82 dan nilai total kelemahan adalah 1,62. Maka nilai X sebagai sumbu horizontal adalah1,82–2,62= 0,2. Dengan demikian nilai sumbu X dalam diagram SWOT adalahsebesar 0,2. Pembobotan oleh berbagai pihak pada faktor eksternal dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8. Pembobotan Oleh Berbagai Pihak Pada Faktor Eksternal Faktor Stategis eksternal (EFAS)

Peluang Bobot Rating Skor

1 Mengembalikan kearifan lokal tentang Harimau Sumatera

pada generasi muda saat ini 0,09 4 0,34

2 LSM turut serta dalam sosialisasi dan penanganan konflik 0,07 3 0,22 3 Mendorong sistem pendanaan melalui pembayaran jasa

lingkungan menuju kemandirian Desa dalam mitigasi KMH 0,08 3 0,27 4

Mengembangkan program penyadartahuan (awareness) tentang kewaspadaan terhadap resiko konflik di landscape penting Harimau Sumatera

0,08 4 0,29

5

Perlindungan Harimau Sumatera dengan sistem monitoring berbasis technology mutakhir untuk memantau pergerakannya

0,09 4 0,36

6 Terbukanya ruang kerja sama antara lembaga dan

masyarakat 0,08 4 0,29

Total 24 1,77

Ancaman

1 Kemunculan/ pergerakan Harimau Sumatera yang tidak

terdeteksi 0,09 -4 0,34

2 Jumlah mangsa yang tidak seimbang kebutuhan pakan

Harimau Sumatera 0,08 -4 0,31

3 Masyarakat memasang jerat di hutan yang mengancam

Harimau Sumatera 0,08 -4 0,31

4 Populasi Harimau Sumatera dapat menyebabkan ekosistem

hutan tidak seimbang 0,09 -4 0,34

5 Kerusakan hutan akibat aktivitas illegal dan konversi lahan

oleh masyarakat untuk tanaman monokultur 0,09 -4 0,34 6 Berkurangnya kearifan lokal pada generasi muda saat ini 0,08 -4 0,31

Total 1 -24 1,95

Total EFAS

O-T=1,77-1,95= -0,18

(37)

24

Berdasarkan Tabel 8, Hasil perhitungan untuk nilai sumbu Y sebagai sumbu vertikal adalah nilai faktor strategis eksternal dalam penanganan konflikmanusia dan Harimau Sumatera yaitu nilai total faktor peluang (Oppurtunities) di kurangi dengan nilai total faktor ancaman (Treath). Berdasarkan hasil perhitungan pada Tabel analisis swotmaka didapatkan untuk nilai total Peluang adalah 1,77 dan nilai total ancaman -1,95. Maka nilai Y sebagai sumbu vertikal 1,77-1,95=-0,18.Dengan demikian nilai sumbu Y dalam diagram SWOT adalah sebesar -0,18.Sehingga dapat digambarkan dalam diagram SWOT pada Gambar dibawah ini.

Tabel 9. Skor akhir IFAS dan EFAS

IFAS EFAS

Kategori Total Skor Kategori Total Skor

Kekuatan (S) 1,82 Peluang (O) 1,77

Kelemahan (W) -1,62 Ancaman (T) 1,95

Total 0,2 -0,18

Gambar 4. Diagram analisis SWOT mitigasi konflik manusia dengan Harimau Sumatera dengan analisis SWOT

Berdasarkan diagram SWOT pada gambar 4,menujukkan bahwa posisi penanganan konflik manusia dan Harimau Sumatera di Desa Batu Jongjong,pada pemetaan analisi lingkungan strategis (lingkungan internal dan eksternal) berada pada kuadran dua (II) atau pada strategi penanganan konflik manusia dan Harimau

0,

- Strategi bertahan (-,-)

KUADRAN IV

Strategi diversifikasi (+,-) KUADRAN II Ancaman

Kekuatan Kelemahan

Peluang

Mengubah strategi (+,+) KUADRAN I Mengubah strategi (-,+)

KUADRAN III

(38)

25

Sumatera di Desa Batu Jongjong yakni strategi ST (Strengt-Treath) strategi ini didasarkan dengan menggunakan kekuatan internal untuk mengarungi ancaman eksternal.

Berdasarkan matriks SWOT pada Tabel 11, maka dalam strategi pengembangan penanganan konflik manusia dan Harimau Sumatera di Desa Batu Jongjong digunakan strategi ST dengan melakukan kegiatan operasional.

Tabel 10. Metriks SWOT IFAS

EFAS

Kekuatan (Strength)

1. Pengetahuan masyarakat terhadap status Harimau Sumatera sebagai satwa yang dilindungi

2. Masyarakat mengetahui pentingnya Harimau Sumatera terhadap landscape kawasan hutan

3. Masyarakat memiliki kearifan lokal terhadap Harimau Sumatera sebagai satwa kharismatik dari para leluhur 4. Masyarakat memiliki pengetahuan

tentang cara menghindari serangan Harimau Sumatera

5. Adanya kerjasama parapihak dalam penanganan konflik Harimau Sumatera 6. Masyarakat memiliki jiwa salingmenjaga

apabila terjadi konflik Ancaman (Treath)

1. Kemunculan/ pergerakan Harimau Sumatera yang tidak terdeteksi

2. Jumlah mangsa yang tidak seimbang kebutuhan pakan Harimau Sumatera Jarak lokasi ke Desa yang jauh dan rawan longsor 3. Masyarakat memasang jerat di

hutan yang mengancam Harimau Sumatera

4. Kerusakan populasi Harimau Sumatera dapat menyebabkan ekosistem hutan tidak seimbang 5. Kerusakan hutan akibat aktivitas

illegal dan konversi lahan oleh masyarakat untuk tanaman monokultur

6. Berkurangnya kearifan lokal pada generasi muda saat ini

Strategi ST

1. Pemerintah sebaiknya bersosialiasasi untu keamanan masyarakat sekitar hutam

2. Saling gotong royong antara masyaraka dalam melindungi ekosistem hutan

3. Peningkatan sarana jalan ke Desa aga lancarnya bantuan dari lembaga maupun dar pemerintah.

4. Peningkatan penjagaan dan pelestarian terhadap kerusakan tanaman

5. Masyarakat dan aparatur Desa bersama sama dalam mencegah masuknya Harimau Sumatera ke Desa

Referensi

Dokumen terkait

[r]

[r]

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bentuk sebaran spasial aktivitas harimau sumatera, membuktikan adanya hubungan antara tipe aktivitas

tipe habitat hutan gambut rawa air tawar SPTN Wilayah III Taman Nasional Sembilang (Tabel 1) oleh Fatmawati (2015) yang paling tertinggi yaitu meranti bunga ( Shorea

Wawancara yang dilakukan dengan para responden yang mengalami konflik secara langsung untuk menggali informasi yang diperlukan seperti persepsi masyarakat

Masyarakat juga telah memiliki Pengetahuan yang baik tentang manfaat ekologi dari keberadaan Harimau Sumatera ( Panthera tigris sumatrae ) di lingkungan, pengetahuan

Pada umumnya kedua tipe hutan tersebut masih dalam kondisi yang baik, hal ini didasari masih dapat ditemukannya satwa dengan perilaku yang sensitif terhadap perubahan

PENYEBARAN HARIMAU SUMATERA Panthera tigris sumatrae SEBAGAI SALAH SATU PERTIMBANGAN DALAM RENCANA PENGELOLAAN DAN ZONASI TAMAN NASIONAL BATANG GADIS KABUPATEN MANDAILING NATAL