• Tidak ada hasil yang ditemukan

1 Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "1 Universitas Kristen Petra"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

1

Universitas Kristen Petra

1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Indonesia adalah salah satu negara dengan jumlah penduduk yang banyak.

Menurut Worldometers (2019) pada tahun 2019 jumlah penduduk di Indonesia mencapai 268 juta. Seiringnya dengan pertumbuhan populasi penduduk, jumlah rumah sakit di Indonesia mengalami peningkatan sejak tahun 2012 sampai dengan 2018 sebesar rata-rata 5.1 persen. Menurut Kementrian Kesehatan Republik Indo- nesia (2018), jumlah rumah sakit swasta di Indonesia lebih banyak daripada jumlah rumah sakit pemerintah, yaitu sebanyak 1.789 rumah sakit dan rumah sakit negara sebanyak 1.022 di akhir tahun 2018. Dengan rata-rata pertumbuhan sebesar tujuh persen, sedangkan rumah sakit pemerintah hanya sebesar dua persen.

Gambar 1.1 Jumlah RS pemerintah dan RS swasta di Indonesia Sumber: Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan, 2018

Masyarakat Indonesia banyak yang melakukan pengobatan dan perawatan

di rumah sakit pemerintah karena biayanya yang terjangkau. Dengan ini kondisi di

rumah sakit pemerintah sangat ramai, selain itu juga masih memiliki keterbatasan

tempat, fasilitas, dan tenaga kesehatan untuk melayani seluruh pasien yang ada

(Viva, 2018). Oleh sebab itu, pemerintah membutuhkan kerjasama dari rumah sakit

swasta karena memiliki penanganan gawat darurat lebih cepat, serta fasilitas dan

ruangan juga lebih memadai. Rumah sakit swasta memiliki kelebihan pada tempat,

fasilitas, dan tenaga kesehatan. Dengan adanya kerjasama dari pemerintah melalui

BPJS, banyak masyarakat yang kurang mampu dapat dirawat di rumah sakit swasta

(2)

2

Universitas Kristen Petra

dengan segera (BPJS). Namun dengan banyaknya pasien yang harus dirawat di rumah sakit, jumlah tenaga kesehatan yang ada tidak dapat mengimbangi permin- taan yang ada dari pasien. Oleh sebab itu tenaga kesehatan menjadi kewalahan da- lam melaksanakan tugas-tugasnya (Analisa Daily, 2014). Hal ini berdampak pada kinerja karyawan di rumah sakit swasta, salah satu contohnya adalah Rumah Sakit Citra Husada.

Jamal (2007) mendefinisikan kinerja sebagai kemampuan individu untuk berhasil melakukan tugas dengan menggunakan sumber daya yang tersedia di tempat kerja. Oleh sebab itu, kinerja merupakan hal yang paling penting bagi Ru- mah Sakit Citra Husada, karena rumah sakit bertugas untuk merawat individu yang membutuhkan pertolongan. Sarmiento, Beale, dan Knowles (2007) berpendapat bahwa kinerja karyawan merupakan hasil dari setidaknya dua aspek: kemampuan dan keterampilan (alami atau diperoleh) yang dimiliki karyawan, dan motivasi un- tuk menggunakannya untuk melakukan pekerjaan dengan lebih baik. Untuk men- capai kinerja yang lebih baik, pihak rumah sakit perlu meningkatkan kualitas kiner- ja pada tenaga kesehatan yang ada di rumah sakit, terutama motivasi dan keteram- pilan dari masing-masing individu pekerja rumah sakit. Motivasi merupakan salah satu aspek yang penting dalam menentukan kinerja, karena setiap pekerja membu- tuhkan dorongan untuk tujuannya, yaitu kinerja yang baik.

Sebelum memulai penelitian, peneliti melakukan observasi untuk menga- mati fenomena terkait OCB, modal sosial, dan kinerja di rumah sakit Citra Husada Jember. Terkait dengan kinerja, didapati bahwa kinerja para perawat di RS Citra Husada Jember masih belum maksimal yang salah satunya ditunjukkan dari nilai AVLOS. AVLOS (Average Lenght of Stay = Rata-rata lamanya pasien dirawat) menurut Depkes RI (2005) adalah rata-rata lama rawat seorang pasien. Indikator ini di samping memberikan gambaran tingkat efisiensi, juga dapat memberikan gam- baran mutu pelayanan, apabila diterapkan pada diagnosis tertentu dapat dijadikan hal yang perlu pengamatan yang lebih lanjut. Secara umum nilai AVLOS yang ideal antara 6–9 hari, yang mana Rumah Sakit Citra Husada belum mencapai nilai yang ideal tersebut.

Hal ini disebabkan karena ada beberapa persoalan yang terjadi. Menurut

atasan perawat Rumah Sakit Citra Husada, Rachmad (2019), terdapat kurangnya

(3)

3

Universitas Kristen Petra

perhatian perawat terhadap jumlah pasien karena terlalu banyak pasien yang harus ditangani, karena pasien yang bersangkutan bukan merupakan tanggung jawabnya (perawat yang bersangkutan sedang ada halangan), menghadapi pasien dan keluar- ganya yang emosional. Dalam hal ini kinerja para perawat tidak maksimal karena tidak sebandingnya jumlah pasien dan perawat.

Selain itu juga terjadi miskomunikasi di antara perawat karena kurangnya informasi yang disampaikan/dituliskan, karena kurangnya memahami pesan yang disampaikan perawat lain prasangka bahwa perawat lain kurang mampu menjalan- kan tugasnya sesuai dengan standar dari perawat yang lain. Adanya perawat yang sering meminta tukar jadwal piket atau mendadak ijin tidak masuk kerja, yang mana hal ini menyulitkan perawat kepala perawat karena harus mencari perawat lain un- tuk menggantikan tugas perawat yang tidak hadir. Perawat juga kurang teliti dalam hal observasi pada pasien (kurang update pada pasien). Adanya perawat yang me- ngambil pekerjaan yang dapat memberikan keuntungan keuangan yang lebih baik, sehingga menimbulkan ketidakharmonisan diantara perawat (meninggalkan peker- jaan utama demi pekerjaan yang lebih menguntungkan). Ada kurangnya inisiatif dari perawat junior untuk banyak belajar, mengikuti arahan dari senior. Persoalan ini menggambarkan minimnya modal sosial yang dimiliki oleh rumah sakit Citra Husada Jember yang disebabkan oleh tugas dan beban tiap individu perawat sudah padat sehingga kalaupun dapat membantu rekan kerjanya maka bantuan yang dibe- rikan sangat terbatas.

Fenomena terkait OCB adalah kurangnya disiplin terhadap waktu,

sehingga beban pekerjaan harus ditanggung oleh perawat lain. Perawat yang kurang

disiplin karena merasa ada kolega yang memberikan dukungan dengan tidak hadir

karena alasan tertentu, sehingga meninggalkan beban pekerjaan pada kolega lain,

tetapi pada saat dia harus bekerja secara individu perawat yang bersangkutan bisa

bekerja dengan disiplin. Perawat senior merasa takut tergantikan dengan perawat

junior, ada beberapa dokter yang memilih untuk didampingi oleh perawat junior

pada saat kunjungan pasien karena pihak dokter melihat potensi dan kemampuan

dari perawat junior. Kurangnya pemerataan pekerjaan di antara perawat yang

disebabkan karena adanya sistem penjadwalan tugas perawat dan adanya

permintaan dari dokter untuk bekerja sama dengan perawat tertentu yang

(4)

4

Universitas Kristen Petra

mengakibatkan kehilangan kepercayaan diri dan kurang adanya kesempatan untuk berkembang dan pengakuan diri terhadap perawat. Fenomena ini menunjukkan bahwa OCB dalam lingkungan Rumah Sakit Citra Husada Jember masih perlu dibangun.

Definisi organizational citizenship behavior (OCB) menurut Organ (1988) adalah perilaku individu yang berasal dari inisiatif atau sukarela demi memajukan suatu organisasi tanpa harus diakui dan diapresiasi oleh organisasi tersebut. Setiap perawat di rumah sakit perlu menanamkan inisiatif dalam dirinya masing-masing, karena rumah sakit akan terus menghadapi tantangan yang besar dalam menghadapi berbagai pasien beserta keluhan yang dimiliki. Para perawat juga harus bisa me- nyadari bahwa sumber daya manusia yang dimiliki rumah sakit terbatas, sehingga rumah sakit perlu untuk menanamkan OCB dalam diri masing-masing perawat agar dapat melayani pasien dengan baik dan benar walaupun dalam tekanan kerja yang tinggi. Whiting, Podsakoff, dan Pierce, (2008) melaporkan bahwa OCB memiliki pengaruh signifikan terhadap kinerja.

Dengan adanya OCB dalam individu perawat, kinerja bisa meningkat me- lalui inisiatif untuk saling membantu antar perawat dalam melaksanakan tugas-tu- gasnya. OCB berperan penting dalam meningkatkan performa kinerja, karena di lingkungan organisasi khususnya rumah sakit pada hakekatnya bertujuan untuk me- lakukan tindakan sosial bagi sesama, yaitu merawat pasien yang sakit. Oleh sebab itu, dibutuhkan kemauan dan inisiatif dari perawat untuk saling menolong dan be- kerja sama, dan secara tidak langsung OCB juga meningkatkan kinerja perawat me- lalui jiwa sosial dan kemanusiaan yang tinggi (Altuntas, 2014).

Akan tetapi pada kenyataannya, yang terjadi di Rumah Sakit Citra Husada ini adalah bahwa OCB belum terlaksanakan dengan baik dan benar. Sering terjadi- nya persaingan antar individu perawat untuk menjadi yang terbaik, beberapa pera- wat lama di Rumah Sakit Citra Husada juga belum terbiasa dengan manajemen ru- mah sakit yang berbasis komputerisasi, namun perawat yang muda kurang ada kesadaran untuk membantu.

Selain OCB, modal sosial memiliki peran penting. Hubungan antara modal

sosial dengan OCB adalah bahwa modal sosial memberikan dorongan melalui me-

ngajarkan setiap perawat untuk saling berkomunikasi dan mengenal lebih dalam

(5)

5

Universitas Kristen Petra

satu dengan lainnya. Ini bertujuan agar antar perawat saling terbuka satu dengan lainnya, sehingga dengan mengenali satu dengan yang lain tidak hanya membangun kepercayaan yang tinggi, tapi juga dapat memacu mereka untuk saling bekerja sama untuk mencapai performa kinerja yang baik dalam rumah sakit (Hasle, Kristensen, Moller, & Olesen, 2007).

Modal sosial menurut Abili (2011) dapat mendukung suatu organisasi me- lalui saling berbagi pengetahuan, penciptaan nilai, keunggulan dalam berkompetisi, kinerja yang lebih baik dan cepat, dan dapat mengembangkan rumah sakit. Dari sudut pandang modal sosial, semakin banyak koneksi yang dimiliki perawat, sema- kin baik perbuatan atau pekerjaan yang dilakukan. Sebagai makhluk sosial, perawat harus bersosialisasi untuk mengenal sesama lebih dalam dan membentuk keperca- yaan di antara mereka. Hal ini penting agar antara perawat bisa saling melengkapi dan saling menutupi kekurangan di dalam diri perawat, sehingga performa kinerja bisa menjadi lebih baik karena beban dan tantangan yang dihadapi ketika bekerja menjadi lebih ringan dengan adanya rasa saling percaya dan kerja sama yang tinggi.

Kenyataan yang terjadi pada modal sosial di Rumah Sakit Citra Husada adalah hubungan antara perawat baru dan perawat yang sudah lama bekerja kurang kompak. Hal ini terjadi karena perawat baru tidak mau terbuka dengan perawat lainnya, sedangkan perawat yang sudah bekerja lama juga cuek dan mementingkan pekerjaannya sendiri. Dengan ini, perawat lama menjadi sukar untuk saling menge- nal satu dengan lain. Masalah-masalah ini mengakibatkan performa kinerja yang kurang baik karena tidak mau saling terbuka dan bekerja sama.

Rumah Sakit Citra Husada didirikan pada tahun 2011 dengan surat ijin RS

188.45/420/1/12/2016 yang berlokasi di Jember, Jawa Timur. Rumah Sakit Citra

Husada juga telah diklasifikasikan dalam kelas C dengan jumlah 80 perawat dan 88

bed. Rasio bed dan perawat yang dimiliki Rumah Sakit adalah 1:1. Rumah sakit

juga telah terakreditasi dengan status tingkat paripurna sejak tanggal 19 Oktober

2017. Rawat jalan yang dimiliki RS Citra Husada adalah poli penyakit dalam, poli

anak, poli bedah, poli kandungan, poli mata, poli onkologi, poli gigi & mulut, poli

syaraf, poli jantung, poli paru, dan poli umum. Pelayanan rawat inap yang dimiliki

RS Citra Husada adalah kelas VVIP, kelas VIP, kelas I, kelas II, kelas III, kelas

VIP bersalin, kelas I bersalin, kelas II bersalin, dan kelas III bersalin. RS Citra

(6)

6

Universitas Kristen Petra

Husada memiliki 18 dokter, yang masing-masing terdiri dari dua dokter spesialis penyakit dalam, dua dokter spesialis anak, tiga dokter spesialis kandungan, dokter spesialis bedah, dokter spesialis mata, dokter spesialis saraf, dokter spesialis jantung, dokter spesialis onkologi, dokter spesialis gigi dan mulut, dokter spesialis paru, dokter spesialis radiologi, dua dokter spesialis anastesiologi, dan dokter spesialis patologi klinik.

Kinerja yang dimiliki rumah sakit masih kurang baik, oleh karena itu pen- tingnya bagi pihak manajemen rumah sakit untuk terus meningkatkan kinerja pera- wat melalui peningkatan OCB dan modal sosialnya. Hubungan antara OCB dan kinerja yang didukung oleh modal sosial (Podsakoff et al., 2000) menjelaskan bah- wa OCB memengaruhi kinerja karyawan dan fungsi organisasi, serta modal sosial ikut berperan dalam membantu meningkatkan kinerja karyawan dan kelancaran fungsi organisasi (Adler & Kwon, 2002; Nahapiet & Ghoshal, 1998). OCB memi- liki peran sebagai pembentuk rasa peduli atau inisiatif pada masing-masing diri in- dividu perawat untuk bertindak lebih dari sekedar tugas yang telah diberikan untuk meningkatkan kinerja rumah sakit, misalnya menggunakan waktu luangnya untuk membantu perawat lain dalam melaksanakan tugasnya. Tetapi hal ini sulit untuk dilakukan tanpa bantuan dari modal sosial, karena modal sosial berperan sebagai pendukung atau pendorong bagi OCB.

Rumah sakit merupakan suatu organisasi yang sangat membutuhkan ke- kompakan dalam kerja sama untuk mencapai pelayanan medis yang terbaik. De- ngan adanya penerapan OCB (kesadaran yang penuh inisiatif) dengan mediasi mo- dal sosial (bekerja sama dalam kelompok) dapat berdampak pada performa kinerja perawat di rumah sakit. Sejauh ini belum pernah ada penelitian tentang pengaruh OCB dengan mediasi modal sosial terhadap kinerja perawat rumah sakit, karena penelitian lain menggunakan seting yang sama namun topiknya yang berbeda, yaitu pengaruh komitmen dan OCB terhadap kinerja (Novelia, Swasto, & Ruhana, 2016);

pengaruh kompensasi dan kepuasan kerja terhadap OCB dan kinerja karyawan

(Fitriansari, Umar Nimran, & Hamidah, 2013). Dengan latar belakang ini, peneliti-

an ini akan mengkaji tentang pengaruh OCB terhadap kinerja perawat dengan mo-

dal sosial sebagai mediasi di Rumah Sakit Citra Husada.

(7)

7

Universitas Kristen Petra

1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

1. Apakah organizational citizenship behavior memengaruhi kinerja perawat pada RS Citra Husada Jember?

2. Apakah organizational citizenship behavior memengaruhi modal sosial pada RS Citra Husada Jember?

3. Apakah modal sosial memengaruhi kinerja perawat pada RS Citra Husada Jember?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk menganalisis pengaruh organizational citizenship behavior terhadap kinerja perawat pada RS Citra Husada Jember.

2. Untuk menganalisis pengaruh organizational citizenship behavior terhadap modal sosial pada RS Citra Husada Jember.

3. Untuk menganalisis pengaruh modal sosial terhadap kinerja perawat pada RS Citra Husada Jember.

1.4 Manfaat Penelitian

Beberapa manfaat penelitian yang didapat dari penelitian adalah sebagai berikut:

1.4.1 Manfaat Teoritis

Penelitian ini bisa menjadi hal yang baru dikarenakan belum banyak penelitian yang mengkaji tentang pengaruh organizational citizenship behavior terhadap kinerja perawat yang didukung oleh modal sosial sehingga dapat menambah wawasan dan penambahan teori.

1.4.2 Manfaat Praktis

Penelitian ini bisa menjadi bahan evaluasi ke depan bagi Rumah Sakit Citra

Husada dalam melihat kinerja perawat agar menjadi lebih baik dan tujuan

perusahaan semakin tercapai

(8)

8

Universitas Kristen Petra

Gambar

Gambar 1.1 Jumlah RS pemerintah dan RS swasta di Indonesia  Sumber: Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan, 2018

Referensi

Dokumen terkait

Tidak hanya komitmen yang dapat membuat sumber daya manusia giat dalam bekerja, loyalitas juga perlu dimiliki oleh setiap sumber daya manusia dalam melaksanakan

IC secara garis besar dapat didefinisikan sebagai sesuatu yang non moneter, dan sesuatu sumber daya yang non fisik atau bukan fisik yang mampu memberikan nilai tambah atau

di RSUP Dr Hasan Sadikin, karena pelatihan tenaga perawat yang efektif merupakan investasi sumber daya manusia yang dapat memberikan dampak positif terhadap

Permasalahan yang diteliti hanya terbatas pada kualitas layanan dan harga yang diberikan oleh hotel Kasuari di Sulawesi Gorontalo sehingga mempengaruhi kepuasan dan loyalitas

(4) Dalam hal rumah sakit memiliki keterbatasan sumber Dalam hal rumah sakit memiliki keterbatasan sumber daya manusia, penyusunan Panduan Etik dan Perilaku daya

Ruang konser, opera, studio rekam, dan ruang lain dengan tingkat akustik yang sangat detail Rumah sakit, dan ruang tidur/istirahat pada rumah tinggal, apartemen, motel, hotel, dan

Salah satu upaya penting yang dapat dilakukan oleh rumah sakit untuk menjawab tantangan tersebut adalah dengan merencanakan kebutuhan sumber daya manusia yang dimilikinya secara

Sumber daya manusia yang terdapat di rumah sakit X belum optimal dalam menghadapi keadaan darurat evakuasi karena ketersediaan yang masih terbatas dan diketahui