• Tidak ada hasil yang ditemukan

ILMU SOSIAL BUDAYA DASAR Oleh : Iswadi, M. Pd

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ILMU SOSIAL BUDAYA DASAR Oleh : Iswadi, M. Pd"

Copied!
339
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

Edisi Asli

Hak Cipta @ 2018 pada penulis & Penerbit Natural Aceh

Hak Cipta dilindungi undang-undang.Dilarang memperbanyak dan memindahkan sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apapun,baik secara elektronis maupun mekanis,termasuk memfotocopy, scan, merekam, atau dengan sistem penyimpanan lainnya, tanpa izin tertulis dari Penulis atau Pihak Penerbit.

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2002 TENTANG HAK CIPTA (1) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau memperbanyak suatu ciptaan atau memberi izin untuk itu , dipidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).

(2) Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu Ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

PENERBIT

(3)

Rahmat dan petunjuk-Nyalah kita masih diberikan sedikit ilmu yang dapat berguna bagi Agama, Bangsa dan seluruh umat manusia. Tak lupa selawat beriring salam kita haturkan kepada junjungan kita NABI besar Muhammad SAW yang telah membimbing umat manusia dari alam kebodohon kealam yang penuh dengan ilmu pengetahuan.

Dengan penuh Semangat dan perjuangan akhirnya Penulis bisa menyelesaikan buku Ilmu Sosial Budaya Dasar dengan harapan dapat dijadikan bekal bagi para Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan untuk menyelesaikan studinya.

Kehadiran Buku ini Akan menambah dan melengkapi khasanah buku nasional yang telah ada dengan informasi dan metode penyampaian lebih Muktakir dan terkini , penyebaran buku Ilmu Sosial Budaya Dasar Telah menyebar keseluruh Perguruan Tinggi di Indonesia sehingga sangat tepat buku ini dijadikan sebagai panduan dan pegangan bagi mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan untuk menyelesaikan studi nya

Penulis Berkeinginan mengucapkan terima kasih yang tulus kepada semua pihak yang telah mendukung terciptanya Buku Ilmu Sosial Budaya Dasar , Semoga buku ini mampu memberikan manfaat yang berarti bagi mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Dalam rangka mennyelesaikan Studinya masing-masing. Penulis turut berdo’a agar Buku ini dapat berguna bagi semua Pembaca, Insyaallah Penulis akan mempertahankan ilmu yang berguna yang telah Penulis dapatkan dan dapat Penulis transfer melalui Buku ini.

Akhirnya dengan segala kerendahan hati Penulis mohon maaf lahir batin jika dalam Buku Ilmu Alamiah Dasar ini terdapat kekurangan serta kekeliruan untuk perbaikan dikemudian hari, semua saran dan kritik yang membangun semangat, Penulis terima dengan terbuka.

Jakarta Penulis,

Iswadi, M. Pd

(4)

DAFTAR ISI

 KATA PENGANTAR ... i

 DAFTAR ISI ... ii

 BAB 1 VISI MISI ILMU SOSIAL BUDAYA DASAR ... 1

A. Visi, Misi, Tujuan, dan Bahan Ilmu Sosial Budaya Dasar... 2

B. Alternatif Model Pembelajaran Ilmu Sosial Budaya ... 6

C. Proses Pembelajaran Berbasis Portofolio... 8

1. Pengertian ... 8

2. Langkah-langkah Pembelajaran ... 9

D. Tujuan Ilmu Sosial Budaya Dasar... 17

1. Tujuan Umum ... 17

2. Tujuan Khusus ... 20

 BAB 2 MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK BUDAYA ... 23

A. Hakikat Manusia Sebagai Makhluk Budaya ... 23

B. Pengertian Manusia ... 25

C. Pengertian Budaya ... 26

D. Unsur-Unsur Kebudayaan ... 29

E. Hubungan Antar Manusia dan Budaya ... 30

F. Kebutuhan Manusia sebagai Makhluk Budaya ... 30

G. Masalah Dalam Kebudayaan... 31

H. Upaya Mengatasi Masalah Kebudayaan ... 32

I. Hakikat Manusia dalam Kajian Islam ... 32

J. Etika dan Estetika Berbudaya ... 33

1. Etika Manusia dalam Berbudaya ... 33

2. Estetika Manusia Dalam Berbudaya ... 36

K. Problematika Kebudayaan ... 39

1. Pewarisan Kebudayaan ... 39

2. Perubahan Kebudayaan ... 40

(5)

3. Penyebaran kebudayaan ... 40

4. Hambatan budaya yang berkaitan dengan pandangan hidup dan sistem kepercayaan. ... 42

5. Hambatan budaya yang berkaitan dengan perbedaan presepsi atau sudut pandang... 42

6. Hambatan budaya yang berkaitan dengan faktor psikologi atau kejiwaan. ... 42

7. Masyarakat yang terasing dan kurang komunikasi dengan masyarakat luar... 42

8. Sikap tradisionalisme yang berprasangka buruk terhadap hal-hal baru. ... 43

9. Sikap etnosentrisme. ... 43

L. Apresiasi terhadap Kemanusiaan dan Kebudayaan ... 43

1. Manusia dan Kemanusiaan ... 43

2. Manusia dan dan Kebudayaannya ... 46

 BAB 3 MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK INDIVIDU DAN MAKHLUK SOSIAL... 49

A. Manusia Sebagai Makhluk Individu ... 49

B. Manusia Sebagai Makhluk Sosial ... 52

C. Manusia Sebagai Makhluk yang Berhubungan dengan Lingkungan Hidup ... 60

1. Karakteristik Manusia Sebagai Makhluk Sosial ... 63

2. Kedudukan Manusia Sebagai Makhluk Sosial ... 65

3. Pengembangan Manusia Sebagai Makhluk Sosial ... 65

4. Fungsi dan peran manusia sebagai individu dan makhluk sosial ... 66

 BAB 4 TIPE-TIPE DALAM KELOMPOK SOSIAL BUDAYA ... 70

A. Pengertian kelompok sosial ... 70

B. Dasar pembentukan kelompok sosial ... 70

1. Kepentingan yang sama (Common interest) ... 70

2. Kesamaan darah dan keturunan (Common Ancestry) ... 71

3. Daerah atau wilayah yang sama ... 71

(6)

4. Ciri fisik yang sama ... 71

C. Ragam tipe kelompok sosial budaya ... 71

D. Klasifikasi tipe-tipe kelompok sosial ... 72

E. Interaksi sosial dalam suatu kelompok ... 73

F. Bentuk-bentuk kelompok sosial menurut para ahli ... 74

1. Kelompok sosial yang teratur / forma: ... 74

2. Kelompok-kelompok sosial yang tidak teratur ... 76

G. Kelompok kecil (Small Group) ... 77

H. Dinamika kelompok sosial ... 77

I. Faktor pendorong dinamika kelompok sosial ... 77

1. Faktor pendorong dari luar ... 77

2. Faktor pendorong dari dalam ... 78

J. Formal grup dan informal ... 78

K. Membership Group dan Reference Group ... 79

L. Kelompok okupasional dan volunter ... 79

1. Sistem Teknologi dan peralatan ... 79

2. Sistem mata pencaharian hidup dan sistem –sistem ekonomi ... 80

3. Sistem Organisasi Kemasyarakatan ... 80

4. Bahasa (lisan maupun tertulis) ... 80

5. Kesenian (seni rupa, seni suara, seni gerak, dan sebagainya). ... 80

6. Sistem pengetahuan ... 80

7. Religi (sistem kepercayaan) ... 80

Rangkuman ... 91

 BAB 5 MANUSIA, KEBUTUHAN DAN ETIKA ... 92

A. Manusia ... 92

1. Pengertian Manusia ... 92

2. Hakikat manusia ... 92

3. Daya Indra dan Daya Rasa ... 94

4. Teori Eksistensialisme ... 96

B. Kebutuhan Manusia ... 97

1. Kebutuhan Jasmani ... 97

(7)

2. Kebutuhan Rogani ... 98

3. Kebutuhan Biologis ... 98

4. Pemenuhan Kebutuhan... 99

C. Etika Dan Moral ... 100

1. Konsep Etika ... 100

2. Etika/Moral Kodrat dan Budaya ... 104

3. Upaya Pembinaan dan Pemeliharaan Moral ... 105

D. Hakikat Nilai Moral Dalam Kehidupan Manusia ... 106

E. Etika Dan Estetika Berbudaya ... 108

1. Etika Manusia dalam Berbudaya ... 108

2. Estetika Manusia dalam Berbudaya ... 110

 BAB 6 KEBUDAYAAN, PERADABAN DAN SISTEM NILAI BUDAYA ... 113

A. Kebudayaan ... 113

B. Peradaban ... 119

C. Sistem Nilai Budaya ... 128

 BAB 7 PERUBAHAN SISTEM NILAI BUDAYA DAN MASALAH KEMANUSIAAN ... 133

A. Perubahan Sistem Nilai Budaya ... 133

1. Konsep Sistem Nilai Budaya ... 133

2. Alasan Perubahan Sistem Nilai Budaya ... 134

3. Dampak Perubahan Sistem Nilai Budaya ... 139

4. Orientasi Nilai Budaya ... 141

5. Tahap-tahapan Kebudayaan ... 142

6. Wujud Kebudayaan dan Unsur-Unsurnya ... 142

7. Masalah kebudayaan Soal Kehidupan ... 145

8. Sistem Budaya ... 145

9. Perubahan Budaya ... 147

B. Masalah Kemanusiaan ... 147

1. Hakikat Manusia Sama ... 147

(8)

2. Manusia Sebagai Subjek dan Objek ... 148

3. Tema Kajian Masalah Kemanusiaan ... 149

4. Hakikat Hidup Manusia ... 150

5. Manusia Sebagai Pencipta dan Pengguna Kebudayaan ... 151

6. Hubungan Manusia dengan Kebudayaan ... 153

 BAB 8 MASYARAKAT DAN PANDANGAN HIDUP ... 160

 BAB 9 KEINDAHAN DAN KEBURUKAN DALAM BUDAYA ... 175

A. Keindahan dan Estetika ... 175

1. Konsep Keindahan ... 175

2. Estetis dan Estetika ... 176

3. Sifat Keindahan ... 178

B. Keindahan Dan Kebudayaan ... 180

1. Hubungannya dengan kebudayaan ... 180

2. Keindahan dalam kebudayaan... 181

C. Keindahan Dan Karya Cipta ... 182

1. Kontemplasi dan Ekstasi ... 182

2. Keindahan, Keserasia, Kehalusan ... 183

3. Kreatifitas dan Karya cipta... 184

D. Masalah Kebudayaan ... 186

1. Pengertian Kebudayaan dan Peradaban ... 186

2. Kebudayaan dan Peradaban ... 187

E. Masalah Kebudayaan Soal Kehidupan... 188

F. Problematika Lingkungan Sosial Budaya ... 191

 BAB 10 PENTINGNYA SIFAT-SIFAT “KASIH SAYANG DAN KEBENCIAN” DALAM KEHIDUPAN ... 195

A. Kasih sayang orangtua dengan anak ... 196

B. Kasih sayang pria dengan wanita ... 197

C. Kasih sayang sesama manusia ... 198

D. Kasih sayang terhadap lingkungan ... 199

E. Kasih sayang manusia kepada Tuhan dan sebaliknya... 199

(9)

 BAB 11 KASIH SAYANG DAN KEBENCIAN ... 213

A. Hubungan Kasih Sayang ... 215

B. Ungkapan Kasih Sayang ... 218

C. Kasih Sayang Dan Karya Cipta... 220

D. Kebencian ... 237

E. Hubungan Antara Kasih Sayang dan Kebencian ... 230

 BAB 12 TANGGUNG JAWAB DAN KESADARAN... 232

A. Tanggung Jawab Dan Kesadaran ... 232

1. Konsep Tanggung Jawab ... 232

2. Kesadaran Bertanggung jawab ... 233

B. Kewajiban dan Tanggung Jawab ... 237

1. Kebutuhan dan kewajiban ... 237

2. Tipe Tanggung Jawab ... 240

C. Pengabdian dan Pengorbanan ... 245

1. Perbuatan Mulia tanpa Pamrih ... 245

2. Pengabdian dan Pengorbanan Wujud Tanggung Jawab ... 245

D. Pengorbanan ... 248

E. Wujud Tanggung Jawab ... 249

F. Kesadaran ... 250

 BAB 13 KEADILAN DAN KESEWENANG – WENANGAN KEGELISAAN DAN PENDERITAAN ... 252

A. Keadilan dan Kesewenang – wenangan ... 252

1. Makna Keadilan ... 252

2. Pengertian Keadilan Menurut Para Ahli ... 252

3. Keadilan dan Ketidakadilan ... 255

4. Keadilan Sosial... 255

5. Kecurangan ... 256

6. Kejujuran ... 258

7. Pemulihan Nama Baik... 261

B. Kesewenang – wenangan ... 263

(10)

C. Pengertian Kegelisahan ... 268

D. Penderitaan ... 273

1. Pengertian Penderitaan ... 273

2. Faktor-Faktor Penderitaan ... 273

3. Sebab-Sebab Timbulnya Penderitaan ... 274

4. Pengaruh Penderitaan ... 274

 BAB 14 PROFESIONAL MASUK DESA ... 276

A. Profesi dan Profesional ... 287

B. Tujuan Profesional Masuk Desa ... 282

1. Untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat ... 282

2. Untuk Melaksanakan Pembangunan di Perdesaan ... 284

3. Untuk Memperbaiki Infrastruktur dan Fasilitas Pendukung ... 285

C. Interaksi Sosial Di Daerah Perdesaan ... 285

1. Kebutuhan dan Interaksi Sosial ... 285

2. Status, Fungsi, dan Peran Profesional di Perdesaan ... 286

D. Profesional Go Internasional ... 290

1. Kebutuhan Tenaga Profesional ... 290

2. Profesi dan Profesional ... 291

 BAB 15 PROFESIONAL PEDULI FASILITAS PUBLIK ... 303

A. Tujuan Penyediaan Fasilitas Publik... 314

B. Pelayanan Publik Di Indonesia ... 310

C. Pemerintah Dan Swasta Dalam Pelayanan Publik ... 313

 DAFTAR PUSTAKA ... 323

 RIWAYAT PENULIS ... 328

(11)

BAB 1

VISI MISI ILMU SOSIAL BUDAYA DASAR

A. Visi, Misi, Tujuan, dan Bahan Ilmu Sosial Budaya Dasar

Menurut Ridwan effendi dalam buku Ilmu Sosial Budaya Dasar edisi ketiga (2013: 6). Dikembangkan visi ISBD sebagai berikut: “Mahasiswa selaku individu dan makhluk sosial yang beradab memilki landasan pengetahuan, wawasan, serta keyakinan untuk bersikap kritis, peka dan arif dalam menghadapi persoalan sosial dan budaya yang berkembang di masyarakat”.

Sementara itu, misi Ilmu Sosial Budaya Dasar sebagai berikut:

a) Memberikan pengetahuan dan wawasan tentang keberagaman, kesetaraan, dan martabat manusia sebagai individu dan makhluk sosial dalam kehidupan masyarakat.

b) Memberikan dasar-dasar nilai estetika, etika, moral, hukum dari budaya sebagai landasan untuk menghormati dan menghargai antara sesame manusia sehingga akan terwujud masyarakat yang tertib, teratur, dan sejahtera.

c) Memberikan dasar-dasar untuk memahami masalah sosial dan budaya serta mampu bersikap kriti, analitis dan responsif untuk memecahkan masalah tersebut secara aktif di masyarakat.

Berdasarkan visi dan misi Ilmu Sosial Budaya Dasar, maka tujuan Ilmu Sosial Budaya Dasar dikembangkan sebagai berikut:

a) Mengembangkan kesadaran mahasiswa untuk menguasai pengetahuan tentang keragaman dan kesetaraan manusia sebagai individu dan makhluk sosial dalam kehidupan bermasyarakat.

b) Menumbuhkan sikap kritis, peka dan arif pada mahasiswa dalam memahami dan memecahkan masalah sosial budaya denagn landasan nilao estetika, etika, moral dan hukum dalam kehidupan bermasyarakat.

(12)

c) Memberikan landasan pengetahuan dan wawasan yang luas serta keyakinan kepada mahasiswa sebagai bekal hidup bermasyarakat, selaku individu, dan makhluk sosial yang berada dalam mempraktikan pengetahuan akademis dan keahliannya.

Menurut Elly M Setiadi dalam buku Ilmu Sosial Budaya Dasar edisi ke dua (2007:5). Visi Ilmu Sosial Budaya Dasar adalah “mahasiswa selaku individu dan makhluk sosial yang beradab memiliki landasan pengetahuan, wawasan, serta keyakinan untuk bersikap kritis, peka dan arif dalam menghadapi persoalan sosial dan budaya yang berkembang di masyarakat”

Sedangkan Misi Ilmu Sosial Budaya Dasasr adalah:

a) Memberikan pengetahuan dan wawasan tentang keberagaman, kesetaraan, dan martabat manusia sebagai individu dan makhluk sosial dalam kehidupan masyarakat.

b) Memberikan dasar-dasar nilai estetika, etika, moral, hukum dari budaya sebagai landasan untuk menghormati dan menghargai antara sesame manusia sehingga akan terwujud masyarakat yang tertib, teratur, dan sejahtera.

c) Memberikan dasar-dasar untuk memahami masalah sosial dan budaya serta mampu bersikap kriti, analitis dan responsif untuk memecahkan masalah tersebut secara aktif di masyarakat.

Memang visi dan misi nya tidak terlalu berbeda dengan buku yg sebelumnya. Memang intinya sama saja, yaitu menjadikan mahasiswa menjadi makhluk sosial yang beradab menghadapi persoalan di sosial budaya.

Menurut Elly M. Setiadi dalam buku Ilmu Sosial Budaya Dasar Edisi Ke Tiga (2013: 7) Berdasarkan visi, misi, tujuan MBB, dan Ilmu Sosial Budaya Dasar tersebut, maka Ilmu Sosial Budaya Dasar termauk pada kategori general education (Pendidikan umum) yang bertujuan untuk membina individu (mahasiswa) untuk menjadi warga masyarakat dan warga negara yang baik, yaitu Pendidikan yang berkenaan dengan pengembangan keseluruhan kepribadian seseorang dalam kaitannya dengan masyarakat dan lingkungan hidup, Nursyid Sumaatmadja (2002: 107) mengatakan bahwa:

(13)

“Pendidikan umum mempersiapkan generasi muda terlibat dalam kehidupan umum sehari-hari dalam kelompok mereka, yang merupakan unsur kesatuan budaya, berhubungan dengan seluruh kehidupan yang memenuhi kepuasan dalam keluarga, pekerjaan, sebagai warga negara, selaku umat yang terpadu serta penuh dengan makna kehidupan.”

Dapat disimpulkan berdasarkan pendapat di atas bahwa Pendidikan umum ini mempersiapkan peserta didik, terutama generasi muda untuk menjadi

“manusia yang sesungguhnya”, yang manusiawi, mengenal diri sendiri, manusia manusia lain di sekililingnya, sadar akan kehidupan yang luas dengan segala masalah dan kondisinya yang menjadi hak dan kewajiban tiap orang untuk memberdayakannya sebagai anggota kelurga, masyarakat, warga negara dan dunia, dan akhirnya selaku umat manusia sebagai ciptaan Tuhan Maha Pencipta.

Karena manusia dalam hidupnya mengalami pengalaman hidupa yang penuh makna, bahkan aktivitas sosial dan budayanya pun dipengaruhi oleh pola-pola makna yang memberdayakan hidupnya. Philip H. Phenix (1964: 6-8) mengemukakan bahwa, “Pendidikan umum merupakan proses pembangkitan makna-makna yang esensial yang membimbing pelaksanaan hidup manusia melalui perluasan dan pendalaman makna-makna tadi”.

Selanjutnya Phenix dalam Nursyid S., (2002: 109) mengatakan bahwa makna-makna esensial yang melekat dalam kehidupan masyarakat dan budaya manusia meliputi enam pola, yaitu simbolis, empiris, estetik, sinoetik, etika dan sinoptik.

- Makna Simbolis

meliputi bahwa, matematika, termasuk juga isyarat-isyarat, upacara- upacara, tanda-tanda kebesaran, dan sebangsanya. Makna simbolis ini sangat berarti dalam kehidupan bermasyarakat-berbudaya manusia.

- Makna Empiris

mencangkup ilmu kealaman, hayati, dan kemanusiaan. Makna empiris ini mengembangkan kemampuan teoretis, konseptual, analitis, generalisasi berdasarkan fakta-fakta, dan kenyataan yang bisa di amati.

(14)

- Makna Estetik

meliputi berbagai seni seperti musik, kayra seni, kesenian, sastra dan lain-lain. Ke dalam kawasan makna estetik ini, termasuk hal-hal yang berkenaan dengan keindahan dan kehalusan, keunikan menurut persepsi subjektif berjiwa seni.

- Makna Sinoetik

Berkenaan dengan perasaan, kesan, penghayatan, dan kesadaran yang mendalam.. makna ini mencangkup eimpati, empati dan sebangsanya.

- Makna Etik

Berkenaan dengan aspek-aspek moral, akhlak, perilaku yang luhur, tanggung jawab dan sebagainya.

- Makna Sinoptik

Berkenaan dengan pengertian-pengertian yang terpadu dan mendalam seperti agama, filsafat dan pengetahuan sejarah yang menuntut nalar masa lampau, dan hal-hal yang bernuansa spiritual.

Dengan demikian, Ilmu Sosial Budaya sebagian dari general education bukanlah sebuah disiplin ilmu, bukan pula merupakan bagian dari disiplin ilmu- ilmu sosial, dan merupakan bagian dari disiplin ilmu ilmu budaya yang bertujuan untuk membina mahasiswa untuk menjaadi ahli ilmu sosial atau ahli dalam ilmu budaya,

Apabila dianalisis hakikat Ilmu Sosial Budaya Dasar mulai dari kewajiban pendidik (pasal 40 ayat 2 UU no. 20 tahun 2003) dan keputusan Dirjen DIKTI pasal 2 tentang misi serta Pasal 5 tentang metode pembelajaran, maka dapat disimpulkan bahwa: isi Ilmu Sosial Budaya dasar terdiri atas disiplin-disiplin ilmu sosial dan humaniora beserta kegiatan adasar manusia, sedangkan metode berpikirnya mengaadopsi ilmu pengetahuan alam, serta menggunakan disiplin ilmu pendidikan dan psikologi pendidikan untuk teori belajar dan mengajarnya.

Namun jika dikaji secara historis, studi sosial, dan studi kebudayaan memiliki tujuan yang beragam, sebagai berikut:

1. Mendidik mahasiswa menjadi ahli bidang ilmu. Oleh karena itu, kurikulum disusun secara terpisah sesuai dengan body of knowledge

(15)

masing-masing disiplin ilmu sosial dan budaya. Organisasi bahan harus di susun menurut struktur disiplin ilmunya baik penyusunan konsep maupun sintaksisnya. Mereka tidak mengaitkan suatu mata pelajaran dengan mata pelajaran lain dan tidak memikirkan bagaimana seseorang menjadi warga negara yang baik (seseorang menjadi warga negara yang baik hanya sebagai hasil sampingan saja). Pendekatan ini lebih menekankan pada content continuum, oleh karna itu mereka tidak setuju bahwa ilmu sosial/ilmu budaya di pandang sebagai studi sosial dan studi kebudayaan, tetapi lebih senang menyebutnya “Social Sciences dan Cultural Sciences”.

2. Tujuannya menumbuhkan warga negara yang baik. Oleh karena itu, Ilmu Sosial Budaya Dasar harus merupakan “a unified coordinated holistic study of men living in societies” (Hanna, 63). Warga negara yang baik akan mudah ditumbuhkan bila pendidik menempatkan mahasiswa dalam konteks kebudayaannya, dibandingkan dengan memusatkan perhatian pada disiplin sosial dan budaya secara terpisah.

Oleh karna itu, program pengajaran harus dikorelasikan bahkan mengirtegrasikan beberapa disiplin ilmu sosial-budaya dalam unit program studi. Paham ini lebih menekankan pada process continuum dalam mecapai tujuan Pendidikan.

3. Kompromi antara pendapat petama dan kedua. Oleh karena itu, tujuan pelajaran harus mampu mengembangkan dasar-dasar untuk menjadi ahli dalam bidang ilmu tertentu serta mampu memecahkan masalah sosial- budaya ketika mahasiswa terjun di masyarakat. Dengan demikian, Ilmu Sosial Budaya Dasar harus merupakan:

a. Simplifikasi dan distalasi dari berbagai disiplin ilmu sosail dan budaya untuk kepentingan Pendidikan (Wesley, 64: 3)

b. Bahan pelajaran harus merupakan sebagian dari hasil penelitian ilmu-ilmu sosial dan budaya yang dipilih sehingga cocok untuk program Pendidikan.

(16)

4. Ilmu Sosial Budaya Dasar dimaksudkan mempelajaribahan-bahan sifatnya tabu, tertutup (Closed Area) atau yang timbul dalam bidang ekonomi, politik, sejarah, hukum, moral dan lain-lain. Dengan bahan seperti ini diharapkan mahasiswa:

a. Dapat mempelajari masalah sosial dan budaya yang perlu di pecahkan.

b. Iklim kelas mencerminkan kehidupan demokratis c. Melatih berbeda pendapat, dan

d. Bahan tabu dekat kegunannya dengan kebutuhan pribadi dan masyarakat.

(Somantri, 2000: 260-261)

Berdasarkan uraian di atas, makan bahan Ilmu Sosial Budaya dasar harus lebih banyak memperhatikan

a. Kebutuhan dan minat mahasiswa b. Masalah-masalah sosial budaya

c. Keterampilan berpikir, khususnya keterampilan menyelidik d. Pemelharaan dan pemanfaatan lingkungan alam

e. Kegiatan dasar manusia yang dicantumkan dalam program studi f. Organisasi kurikulum yang bervariasi (structural, fungsional) g. Iklim kelas menjadi lab demokrasi, improvisasi dan apresiasi h. Pendekatan yang bervariasi

i. Evaluasi bukan hanya menyangkut kognitif, afektif dan psikomotorik, tetapi juga evaluasi proses

j. Bahan bukan hanya diperkaya oleh ilmu ilmu sosial dan budaya, tetapi juga agama serta sains dan teknologi.

B. Alternatif Model Pembelajaran Ilmu Sosial Budaya

Menurut Elly M. Setiadi dalam buku Ilmu Sosial Budaya Dasar Edisi Ke Tiga (2013: 15). Bila Pendidikan multidisiplin atau multidisipliner digunakan dalam Ilmu Sosial Budaya dasar, maka metode ceramah tidak bisa lagi mendominasi aktivitas perkuliahan. Multimetode harus digunakan secara

(17)

bervariasi sesuai dengan kebutuhan interaksi kelas. Ceramah, tanya jawab, dan diskusi tentu saja masih dipandang penting terutama untuk memberikan penjelasan dasar-dasar ilmiah serta materi esensial menjadi basic concept masalah yang akan di bahas, akan tetapi model pembelajaran problem solving, inquiry, klasifikasi nilai, sangat diperlukan untuk mengembangkan empat pilar Pendidikan yang dikemukakan oleh UNESCO.

Beberapa model pembelajaran yang disebutkan terakhir, sangat membutuhkan keterampilan mahasiswa untuk menguasai Teknik pemecahan masalah. Masalah sendiri dapat diartikan setiap kesulitan yang merintangi atau belum ada jawabannya secara pasti dan membutuhkan pemecahannya apabila manusia ingin maju dan berkembang terus. Tent pengertian itu berbeda dengan persoalan yang bisa diartikan sebagai suatu masalah yang sudah ada jawabannya.

Dalam Ilmu Sosial dan Budaya Dasar sebaiknya yang dipecahkan itu bukan persoalan, akan tetapi masalah.

Langkah-langkah kegiatan ilmiah menurut John Dewey, yaitu mulai:

a. Merasakan adanya masalah b. Merumuskan masalah

c. Menetapkan hipotesis atau membuat pertanyaan-pertanyaan penelitian untuk memecahkan masalah

d. Menetapkan sumber data yang akan dijadikan objek penilitian e. Membuat instrumen untuk melakukan penelitian

f. Melakukan pengumpulan data

g. Melakukan klasifikasi dan anlaisis data

h. Menguji hipotesis atau pembahasan hasil penelitian, dan i. Rekomendasi

Model pemecahan masalah menurut John Dewey ini mendasari model- model pembelajaran lain yg melibatkan mahasiswa untuk melakukan penyelidikan, seperti Model Klarifikasi Nilai dari Louis Rath (1977), Model Kegiatan Sosial dari fred Newmann (1977), Sciences Technology and Society dari Peter Rubba (1982), Perkembangan Moral Kognitif dari Lawrence Kohlberg (1984), dan beberapa model pembelajaran yang sekarang ini digunakan untuk

(18)

mengaplikasikan kurikulum berbasis kompetensi seperti Model Pembelajaran Portofolio dan Model Pembelajaran Kontekstual.

C. Proses Pembelajaran Berbasis Portofolio 1. Pengertian

Menurut Elly M. Setiadi dalam buku Ilmu Sosial Budaya Dasar (2013: 16).

Istilah portofolio yang sering di kenal terdapat lapangan pemerintahan, terutama ketika menunjuk pada menteri yang tidak membawahi sebuah departemen, biasanya Menteri seperti itu di sebut Menteri negara atau minister without portofolio, akan tetapi di dunia Pendidikan istilah itu sangat berbeda dan masih relatif baru.

Dalam konteks Pendidikan, pengertian portofolio menurut D. Budimansyah (2002: 1-2) bisa diartikan sebagai sebagai “wujud benda fisik”. Yaitu bundel, adalah sekumpulan atau dokumentasi hasil pekerjaan peserta didik, seperti bundelan hasil pre-test, tugas, dan lain-lain. Bisa juga diartikan sebagai “kegiatan sosial pedagogis”. Yaitu yang terdapat dalam pikiran peserta didik baik yang berwujud pengetahuan, sikap, maupun keterampilan. Adapun sebagai model pembelajaran, Boediono (2001) mengatakan bahwa portofolio merupakan bentuk dari praktik belajar kewarganegraan, yaitu inovasi pembelajaran yang dirancang untuk membantu peserta didik memahami teori secara mendalam melalui pengalaman belajar praktik-empiris. Praktik belajar ini dapat menjadi program Pendidikan yang mendorong kompetensi, tanggung jawab, dan partisipasi peserta didik, belajar menilai dan memengaruhi kebijakan umum (public policy), memberanikan diri untuk berperan serta dalam kegiatan antarmanusia, antarsekolah, dan antar-anggota masyarakat.

U. Syarufudin (2002: 31) mengatakan bahwa portofolio adalah tampilan visual dan audio yang disusun secara sistematis melukiskan proses berpikir yang di dukung oleh seluruh data yang relevan, sehingga secara utuh melukiskan integrated learning experiences atau pengalaman belajar terpadu yang dialami oleh mahasiswa dalam kelas sebagai suatu kesatuan. Dengan demikian, model pembelajaran berbasis portofolio merupakan pembelajaran yang melibatkan

(19)

mahasiswa secara aktif dan kooperatif mulai dari menentukan masalah secara demokratis, mengumpulkan data, mengoleksi data, menampilkan data, menentukan solusi permasalahan sehingga dia mampu menilai, dan memengaruhi kebijakan umum dari hasil temuannya.

2. Langkah-langkah Pembelajaran

Menurut Elly M. Setiadi dalam buku Ilmu Sosial Budaya Dasar (2013:17).

Langkah pembelajaran berbasis portofolio (D. Budimansyah 2002) meliputi kegiatan seabagi berikut:

a. Mengidentifikasi Masalah

Dalam kegiatan ini, mahasiswa di bentuk dalam kelompok- kelompok kecil antara 3-4 orang, setiap kelompok mencari satu masalah (biasanya melalui surat kabar bekas yang telah disediakan dosen). Dalam kegiatan ini mahasiswa diminta untuk menjawab hal-hal sebagai berikut:

a) Apakah masalah ini merupakan masalah penting bagi saudara atau masyarakat (mengapa)?

b) Lembaga manakah yang bertanggung jawab untuk mengatasi msalah tersebut?

c) Kebijakan apakah yang telah diambil oleh lembaga tersebut untuk mengatasi masalah tersebut?

d) Apakah keuntungan dan kerugian dari kebijakan tersebut e) Apakah kebijakan tersebut dapat diperbaiki?

f) Adakah silang pendapat terhadap kebijakan tersebut di masyarakat g) Di manakah kalian akan mendapatkan informasi lebih banyak

tentang informasi tersebut?

h) Adakah masalah lain di masyarakat yang berguna untuk di kaji oleh kelompok lain? (pertanyaan-pertanyaan diatas dapat pula di pakai untuk menelusuri sumber dari media cetak atau elektronik untuk pertanyaan butir menjadi

o Menjadi “bagaimana pandangan artikel (berita TV/radio) terhadap masalah yang dianalisi?”

(20)

o “hal penting apa saja yang dimuat dari artikel/TV/radio berekenaan dengan masalah yang dianalisis?” demikian juga untuk pertanyaan selanjutnya.

b. Memilih Masalah untuk Kajian Kelas

Setiap kelompok kecil yang telah menetapkan masalah masing- masing berdasarkan dukungan informasi yang relatif memadai, maka mengajukan masalahnya pada kelompok kelas untuk dipilih salah satu berdasarkan hasil keputusan kelas. Oleh karena itu, akan terkumpul sejumlah masalah sesuai dengan banyaknya kelompok kecil yang ada dalam kelas (misalnya jumlah mahasiswa ada 48 orang, maka berarti ada 12 masalah apabila setiap kelompok 4 orang)

Dalam kegiatan tersebut ada dua kegiatan: Pertama, menyusun daftar maslah ditulis di papan tulis: kedua, melakukan pemungutan suara untuk memilih salah satu masalah untuk menjadi kajian kelas dengan cara

a) Salah satu pembicara dari setiap kelompok kecil mengemukakan alasan mengapa masalah itu dipilih dilihat dari kepentingannya bagi mahasiswa dan masyarakat, serta sejauh mana ketersediaan sumber informasi untuk menganalisis maslah tersebut;

b) Melakukan pemungutan suara untuk memilih salah satu masalah tersebut bisa secara terbuka maupun tertutup.

Hal ini bisa langsung dilakukan dua tahap dengan dua kali pemilihan, tahap pertama setiap orang memilih tiga masalah, dan masalah yang menempati peringkat 1, 2 dan 3 dipilih untuk menetapkan hanya satu masalah saja dengan setiap pemilihan menetapkan satu pilihan

c. Mengumpulkan Informasi Tentang Masalah yang Akan Dikaji Oleh Kelas

Kegiatan pertama yang dilakukan adalah mengidentifikasi sumber- sumber informasi, dengan menentukan kriteria sumber informasi manakah yang akan memberikan banyak informasi dan sumber mana yang kurang.

Lalu identifikasi pula tingkat kesulitan memperoleh informasi serta

(21)

persyaratan yang diperlukan untuk menjangkau sumber informasi tersebut.

Sumber informasi yang bisa dipakai misalnya, perpustakaan, kantor penerbit surat kabar, biro kliping, Biro Pusat Statistik, pakar perguruan tinggi, pakar hukum dan hakim, kepolisian, kantor legislative, kantor pemerintahan daerah, organisasi kemasyarakatan dan kelompok kepentingan, jaringan informasi elektronik, tokoh masyarakat, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), pusat-pusat penelitian, dan lain-lainnya.

Kegiatan kedua adalah membentuk tim peneliti berdasarkan jenis sumber informasi yang telah di tetapkan (dalam kegiatan ini semua mahasiswa harus terbagi habis berdasarkan jenis sumber informasi yang telah di tetapkan)

Langkah untuk mengumpulkan informasi bisa dilakukan dengan cara:

a) Mengunjungi langsung sumber informasi (misalnya, ke perpustakaan, biro kliping, biro pusat statistic, dan lain lain b) Menghubungi sumber informasi melalui telepon (bisa

dilakukan langsung untuk mendapatkan data yang telah di siapkan dengan daftar wawancara atau hanya sekedar membuat perjanjian untuk bertemu

c) Membuat janji untuk mengadakan wawancara melalui kunjungan langsung, lewat telepon atau permohonan melalui surat (kegiatan ini diperlukan untuk menetapkan waktu wawancara untuk mendapatkan informasi dari individu atau kelompok, seperti untuk wawancara dengan anggota legislatif, pejabat PEMDA, kelompok LSM/ ORMAS/ ORPOL atau tokoh masyarakat, dan lain-lain;

d) Memohon informasi melalui surat.

Informasi yang telah di kumpulkan disusun secara sistematis berdasarkan sub-sub kajian mulai dari latar belakang terjadinya masalah (factor-faktor penyebab), pandangan individu atau masyarakat terhadap masalah tersebut, serta fackor-faktor yang mendukung dan mennghambat

(22)

penyelesaian masalah, pada suatu bundel dokumentasi yang disebut bundel portofolio.

d. Mengembangkan Portofolio Kelas

Pada sesi ini, mahasiswa dikelompokkan kembali menjadi empat kelompok:

- Pertama, kelompok yang akan menjelaskan masalah, kelompok ini bertanggung jawab menjelaskna mengapa masalah itu penting di bahas baik dari sudut individu kelompok maupun pemerintah dengan argumentasi yang rasional didukung oleh data-data yang telah di kumpulkan. Kelompok ini bertugas menjawab

a) Seberapa seriuskah maslah itu bagi masyarakat

b) Seberapa luas masalah tersebut tersebar pada bangsa atau negara

c) Mengapa masalah itu harus ditangani pemerintah

d) Haruskah individu atau masyarakat bertanggung jawab untuk mengatasi masalah tersebut

e) Adakah aturan hukum atau kebijakan public untuk mengatasi masalah tersebut, memadai kah aturan tersebut, apakah hukum itu dilaksanakan atau tidak

f) Adakah silang pendapat di masyarakat tentang masalah tersebut

g) Adakah individua tau kelompok/organisasi yang berpihak pada masalah tersebut, apakah keuntungan dan kerugian individu/organisasi pada posisi tersebut, bagaimana cara mereka memengaruhi kebijakan pemerintah untuk mengambil posisi seperti mereka dalam menghadapi masalah tersebut, maka apakah yang sedang mereka kerjakan.

- Kedua, kelompok yang mengkaji berbagai kajian alternatif untuk memecahkan masalah. Dengan penjelasan rasional mengapa

(23)

alternative itu mungkin dilakukan dengan dukungan data informasi yang telah dikumpulkan. Kelompok dua ini harus menjawab:

a) Kebijakan-kebijakan apakah yang diusulkan

b) Apakah keuntungan dan kerugian dari setiap kebijakan tersebut.

- Ketiga, kelompok yang mengusulkan kebijakan publick untuk mengatasi masalah. Kelompok ini bertanggung jawab untuk mengusulkan kebijakan public dalam bentuk aturan, hukum atau tindakan apakah yang harus di buat atau di lakukan oleh pemerintah, lembaga atau masyarakat untuk mengatasi masalah, kebijakan yang diusulkan adalah kebijakan yang di setujui oleh mayoritas mahasiswa di kela itu. Kelompok ini harus menjawab:

a) Kebijakan apa yang diyakini kelompok untuk mengatasi masalah

b) Keuntungan dan kerugian dari kebijakan tersebut.

c) Bagaimana hubungan kebijakan ersebut dengan nilai-moral dan hukum yang berlaku

d) Tingkat pemerintah atau lembaga mana yang harus bertanggung jawab untuk melaksanakan kebijakan tersebut, mengapa.

- Keempat, kelompok yang mengusulkan rencana tindakan yang menunjukan bagaimana seseorang warga negara atau warga masyarakat dapat memengaruhi pemerintah untuk menerima kebijakan yang didukung oleh kelas. Rencana tersebut hendaknya mencangkup langkah-langkah yang dapat diambil agar kebijakan yang diusulkan dapat diterima dan dilaksanakan oleh pemerintah/lembaga yang menerima usulan. Meskipun koordinasi ada pada kelompok empat, akan tetap proses pembuatan usulan tindakan sebaiknya melibatkan seluruh warga kelas.

Hasil pekerjaan kelompok empat ini harus disertai penjelasan tertulis tentang kelompok mana saja di masyarakat yang akan mendukung

(24)

rencana tindakan tersebut serta kelompok mana saja yang akan menentang.

Oleh karena itu, harus dijelaskan pula langkah-langkah untuk meyakinkan kepada yang menentang agar rencana tindakan dapat terlaksana. Demikian pula pada institusi pemerintahan, harus dijelaskan mana yang akan mendukung dan mana yang tidak medukung dengan penjelasan upaya untuk meyakinkannya.

Keempat kelompok di atas, setelah menjawab pertanyaan masing- masing harus:

a) Menampilkan kajiannya secara grafis dalam bentuk peta, gambar, foto, grafik, karikatur, kartun politik, judul surat kabar, tabel statistik, dan ilustasi ilustrasi lainnya yang dapat memperjelas kajian kelompoknya masing-masing. Ilustrasi tersebut dapat bersumber dari bahan cetakan, atau di buat sendiri. Bila ilustrasi yang diambil dari bahan cetakan harus mencantumkan sumber resminya. Selanjutnya kelompok- kelompok tersebut

b) Mengidentifikasi sumber informasi apakah sumber itu dari lembaga, orang, bahan cetak, berita radio, atau TV dalam lembar yang diketik.

Hasil pekerjaan (dokumentasi) kelompok satu di letakkan pada bab satu, kelompok dua di bab dua, kelompok tiga di bab tiga, dan kelompok empat pada bab empat pada bundel dokumentasi portofolio, misalnya saja berisikan:

a) Kumpulan kliping surat kabar dan majalah b) Laporan tertulis hasil wawancara

c) Laporan tertulis ulasan radio atau TV

d) Catatan hasil komunikasi dengan kelompok tertentu

e) Petikan hasil publikasi pemerintah atau perundang undanga.

Khusus untuk buku, makalah, perundang-undangan dan sejenisnya, bila terlampau panjang cukup memasukkan abstrak atau judul buku tersebut.

(25)

e. Penyajian Portofolio (Show-Case)

Menurut Elly M. Setiadi dalam buku Ilmu Sosial Budaya Dasar (2013: 23). Show Case atau gelar kasus pada dasarnya memberikan pengalaman berharga kepada mahasiswa untuk mampu menyajikan gagasan dan meyakinkannya kepada orang lain agar menerima gagasan tersebut. Langkah-langkah yang harus dipersiapkan terdiri atas:

1. Persiapan. Pertama, memastikan bundel portofolio dokumentasi yang terdiri atas empat bab sudah memadai dan disusun rapih.

Kedua, menyiapkan panel empat muka dari karton yang bisa berdiri tegak sebagai panel penayagan materi setiap kelompok yang sudah disatukan. Ketiga, mempersiapkan penyajian lisan, setiap kelompok sebaiknya melakukan latihan terlebih dahulu sebelum melakukan penyajian lisan, setiap kelompok sebaiknya melakukan penyajian lisan dihadapan para juri, sehingga setiap anggota dapat bergiliran untuk menyajikannya secara sistematis dengan pilihan materi yang sangat esensial, dengan demikian akan terjadi cooperative learning; Keempat, menyiapkan ruangan yang representif untuk menanmpung anggota seluruh kelas, juri, serta undangan, dengan menyiapkan pengeras suara dengan tiga mikrofon disertai penerangan dengan pengaturan yng memadai.

Kelima, mengundang juri, sebaiknya juri terdiri dari tiga orang yang mewakili akademis, pejabat dan tokoh masyarakat atau organisasi yang relevan dengan bidang yang dikaji. Keenam, menetapkan moderator, sebaiknya dilakukan oleh dosen pebimbing. Moderator disamping bertugas mengatur jalannya persidangan juga meberikan petunjuk awal kepada dewan juri tentang Teknis pelaksanaanya, serta sstem penilaian dengan format yang telah disiapkan sekaligus menetapkan siapa yang menjadi ketua dan yang menjadi anggota dari ketiga juri tersebut.

2. Pembukaan, dilakukan oleh moderator dengan menginformasikan masalah yang dikaji kelas serta memperkenalkan nama-nama

(26)

anggota dewan juri lalu mempersilakan dewan juri untuk mengamati portofolio penayangan dalam papan empat muka, dan berbagai grafik, karikatur, serta dokumen portofolio yang terkumpul empat bab selama 10 menit.

3. Penyajian lisan tiap kelompok, di awali dengan kelompok satu sampai kelompok empat. Teknisnya, moderator memanggil salah satu anggota kelompok maju ke depan langsung disuruh untuk memperkenalkan anggota masing-masing siang, setelah itu disuruh memaparrkan materi bahasannya sekitar 7-10 menit, lalu diadaka tanya jawab antara dewan juri dengan kelompok sekitar 10 menit, lalu kelompok satu disuruh kembali ke tempat semula dilanjutkan dengan penyajian kelompok dua. Setelah kelompok dua selesai sebaiknya diadakn selingan acara kesenian dengan penampilan tarian, vocal grup atau baca puisi.

4. Tanggapan hadirin/undangan, setelah selesai kelompok empat diberi kesempatan kepada hadirin untuk memberikan tanggapan 5. Pengumuman dewan juri. Penilaian dewan juri didasarkan pada

kualitas portofolio penayangan dan dokumentasi serta kualitas portofolio penayangan dan dokumentasi serta kualitas penyajian dan tanggung jawab waktu penyajian lisan

Tujuan utama semua itu antara lain untuk berbagi ide dan pengalaman belajar antara psikososial dan sosiokultural pada gilirannya kelak akan menumbuhkan etos demokrasi.

Setelah acara dengar pendapat, dengam fasilitas dosen, maka diadakan kegiatan “refleksi” yang bertujuan agar mahasiswa dan dosen merenungkan dampak perjalanan panjang proses belajar bagi perkembangan pribadi sebagai warga negara. Ajaklah mahasiswa untuk menjawab pertanyaan: “apakah saya telah menjadi pelajar yang baik? Apa yang akan say lakukan sebagai warga negara selanjutnya?” tentu saja bagi dosen perlu merenungkan pertanyaan: “apa yang telah saya sumbangkan

(27)

untuk mengembangkan etos demokrasi pada mahasiswa sebagai warga negara muda?”

f. Kriteria penilaian portofolio

Adapun kriteria penilaian portofolio adalah:

1) Kelengkapan meliputi kesesuaian dengan tugas kelompok masing-masing

2) Kejelasan, meliputi sistematika, penggunaan Bahasa yang tepat dan dimengerti, argumen yang di tampilkan

3) Informasi meliputi keakuratan informasi dengan masalah yang dikaji

4) Dukungan, meliputi contoh actual yang mendukung masalah atau pemecahan masalah, serta penjelasan yang mendalam secara interdisipliner

5) Data grafis, meliputi hubungan data grafis, meliputi hubungan data grafis dengan masalah atau bagiannya, apakah lebih menjelaskan informasi sehingga orang lain lebih memahami masalah yang dikaji

6) Dokumentasi, meliputi keragaman dan keakuratan sumber dokumentasi, teknis pengutipan, hubungan dokumentasi dengan masalah, dan

7) Argumentasi, meliputi argumentasi ilmiah ilmu-ilmu sosial dan budaya, argumentasi nilai-moral, dan hukum.

D. Tujuan Ilmu Sosial Budaya Dasar

Menurut Abdulkadir Muhammad dalam buku Ilmu Sosial Budaya Dasar Edisi Revisi (2011: 5).

1. Tujuan Umum

Secara umum, Ilmu Sosial Budaya Dasar bertujuan untuk mengembangkan kepribadian manusia sebagai makhluk sosial (zoon politicon) dan sebagai makhluk budaya (homo humanis), sehingga mampu menanggapi secara kritis dan berwawasan luas masalah sosial budaya, serta mampu menyelesaikan secara halus

(28)

(refined) arif dan manusiawi masalah-masalah tersebut. Tujuan umum Ilmu Sosial Budaya Dasar (ISBD) mengandung 3 (tiga) rumusan utama, yaitu:

1.) Pengembangan kepribadian manusia sebagai makhluk sosisal dan makhluk budaya

2.) Kemampuan menanggapi secara kritis dan berwawasan luas masalah sosial budaya dan masalah lingkungan sosial budaya

3.) Kemampuan menyelesaikan secara halus, arif, dan manusiawi masalah-masalah tersebut.

Untuk menjelaskan tujuan umum, maka perlu dipahami lebih dahulu konsep-konsep dasar, manusia makhluk sosial, manusia makhluk budaya, tanggapan kritis, wawasan luas, masalah sosial budaya, dan masalah lingkungan sosial budaya.

Manusia makhluk sosial (zoon politicon) artinya manusia sebagai individu tidak akan mampu hidup sendiri dan berkembang sempurna tanpa hidup bersama dengan individu manusia yang lainnya. Sejak lahir manusia sudah harus hidup Bersama dengan manusia lainnya. Setidak-tidaknya dengan ibu dan ayah ayng memlihara dan juga melindunginya. Keharusan hidup Bersama itu didasari oleh kebutuhan manusia yang hanya dapat dipenuhi apabila berhubungan dan berinteraksi satu sama lain dalam kelompoknya dan juga dengan individu di luar kelompoknya guna memperjuangkan dan memenuhi kepentingannya.

Manusia makhluk budaya (homo humanis) artinya manusia itu makhluk ciotaan Tuhan yang paling sempurna, karena sejak lahir sudah dibekali dengan unsur akal (ratio), rasa (sense) dan karsa (will, wish ) yang membedakannya dengan makhluk hewan. Sebagai makhluk budaya, manusia hanya mampu mengembangkan diri dan budayanya apabila berhubungan (bergaul) dengan manusia lain. Dalam hubungan tersebut, manusia mempertimbangkan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang bermanfaat dan mana yang merugikan. Pertimbangan ini merupakan dasar terjadinya system nilai budaya yang menjadi norma (pedoman) hidup bermasyarakat.

(29)

Tanggapan kritis artinya reaksi akal atau daya tangkap berdasarkan nalar yang tinggi terhadap suatu yang dilihat atau di dengar atau suatu peristiwa dalam masyarakat. Dalam konteksnya dengan sosial budaya, tanggapan kritis merupakan kemampuan memahami sesuatu masalah guna membedakan secara objektif mana peristiwa yang bersumber dari perbuatantidak manusiawi yang dapat memicu terjadinya konflik dalam masyarakat, dan mana peristiwa yang bersumber dari bencana alam atau penyakit, yang perlu diatasi dan dihindari. Kemudian, secara kritis dapat dikaji juga solusi yang terbaik gua menghindari atau mengatasi konflik secara arif dan manusiawi. Wawasan luas artinya kemampuan memandang jauh kedepan berdasarkan pemikiran yang jauh ke dalam dan mendasar. Dalam konteks sosial budaya, pandangan luas dan jauh daya jangkau tidak hanya terhadap masalah sosial budaya yang terjadi dalam kelompoknya, misalnya keluarga atau pun organisasi kemasyarakatan pada masa kini, tetapi meliputi juga lingkup yang lebih luas untuk masa mendatang, tidak hanya berskala lokal dan dan sectoral, tetapi juga berskala nasional dan terpadu mengenai masalah sosial budaya bangsa Indonesia.

Masalah sosial budaya adalah peristiwa atau kejadian yang timbul akibat interaksi sosial dalam kelompok masyarakat atau antara kelompok masyarakat guna memenuhi sesuatu kepentingan hidup, yang dianggap merugikan salah satu pihak atau masyarakat secara keseluruhan. Masalah tersembut bersumber pada

“perbedaan sosial budaya” yang dianggap merugikan kepentingan pihak lain, sehingga dapat memicu terjadinya konflik. Perbedaan sosial budaya ini, antara lain dapat di pahami melalui konflik yang terjadi tahun lalu di Kalimantan Tengah antara etnis Dayak penduduk setempat dan etnis Madura penduduk pendatang, yang banyak menimbulkan korban jiwa dan harta. Namun, konflik sosial budaya tersebut akhirnya dapat diselesaikan secara bijaksana dan manusiawi oleh kedua masyarakat yg bertikai, sehingga tercipta kembali perdamaian dan kerukunan.

Lingkungan sosial budaya adalah kelompok sosial budaya yang hidup dalam batas-batas tertentu yang di tata berdasarkan norma sosial budaya yang membedakannya dengan lingkungan alam. Lingkungan sosial budaya antara lain berupa keluarga, desa, marga, kota, lembaga swadaya, masyarakat dan kelompok

(30)

profesi. Lingkungan alam, antara lainberupa cagar budaya, taman margasatwa, dan hutan lindung. Masalah lingkungan sosial budaya merupakan peristiwa atau kejadian yang timbul karena perbuatan tidak manusiawi yang merugikan warga lingkungan sosial budaya atau lingkungan alam. Masalah tersebut bersumber pada perbuatan tidak manusiawi yang merugikan warga pihak lain, sehingga dapat memicu terjadinya konflik. Perbuatan tidak manusiawi antara lain dapat dipahami melalui konflik warga lingkungan sosial budaya berupa pembunuhan dukun sutet pada era pasca orde baru.

2. Tujuan Khusus

Menurut Abdulkadir Muhammad dalam buku Ilmu Sosial Dasar Edisi Revisi (2011: 7). Di samping tujuan umum, Ilmu Sosial Budaya Dasar secara khusus bertujuan untuk:

a. Mempertajam kepekaan terhadap sosial budaya dan lingkungan sosial budaya terutama untuk kepentingan profesi.

b. Memperluas pandangan tentang masalah sosial budaya dan masalah kemanusiaan serta mengembangkan kemampuan daya kritis terhadap kedua masalah tersebut.

c. Menghasilkan calon pemimpin bangsa dan negara yang tidak bersifat kedaerahan dan tidak terkotak-kotak oleh disiplin ilmu yang ketat dalam menanggapi dan menangani masalah dan nilai-nilai dalam lingkungan sosial budaya.

d. Meningkatkan kesadaran terhadap nilai manusia dan kehidupan manusiawi

e. Membina kemampuan berpikir dan bertindak objektif untuk menangkal pengaruh negative yang dapat merusak lingkungan sosial budaya.

Peka Terhadap Sosial budaya dan Lingkungan Sosial Budaya

Menurut Abdulkadir Muhammad dalam buku Ilmu Sosial Budaya Dasar Edisi Revisi (2011: 7)

(31)

Ilmu Sosial Budaya Dasar bertujuan untuk mempertajam kepekaan terhadap sosial budaya dan lingkungan sosial budaya terutama untuk kepentingan profesi. Peka, artinya cepat tanggap, mudah bereaksi, sikap segera ingin tahu, dan kepedulian yang tinggi terhadap/tentang peristiwa sosial budaya di sekitar nya dan kondisi lingkungan sosial budaya di mana seseorang itu hidup atau berada. Setiap peristiwa Sosial Budaya yang unik dan dan mencolok cepat ditanggapi dan diupayakan penyelesaiannya. Peristiwa sosial budaya yang unik dan mencolok umumnya menyangkut kepentingan umum dan nasib orang banyak, antara lain peristiwa korupsi, peledakan bom, pengoplasan bahan bakar minyak, peredaran narkoba, dan perbuatan maksiat (miras, judi, dan tunasusila). Dihubungkan dengan kepentingan profesi sebagai pelayan masyarkat, banyak muncul Lembaga Sawadaya Masyarakat (LSM).

Sebaliknya, diakui pula ada organisasi profesi atau institusi pelayanan masyarakat (public Service) yang melayani klien, tidak mengutamakan kualitas pelayanan yang berbasis keahlian professional, tetapi bayaranlah yang menentukan, misalnya, pelayanan tenaga medis (rumah sakit) terhadap pasien.

Dalam pelayanan terhadap klien, bukan klien yang tunduk pada keahlian profesional, melainkan keahlian profesi di manipulasi oleh kehendak klien dengan imbalan uang, misalnya pelayanan penegak hukum dan pelayanan akuntan publik.

Kode etik profesi hanya menjadi pajangan di meja atau hiasan dinding.

Pandangan Luas dan Kritis Tentang Masalah Sosial Budaya dan Kemanusiaan Menurut Abdulkadir Muhammad dalam buku Ilmu Sosial Budaya Dasar Edisi Revisi (2011: 8)

Ilmu Sosial Budaya Dasar bertujuan untuk memperluas pandangan tentang masalah sosial budaya dan masalah kemanusiaan, serta mengembangkan kemampuan daya kritis terhadap kedua masalah tersebut. Untuk mencapai tujuan tersebut, upaya pertama yang dapat dilakukan adalah memperluas wawasan pemikiran terhadap masalah sosial budaya dan masalah kemanusiaan.

Memperluas wawasan pemikiran artinya mempunyai kemampuan berpikir secara mendasar dan luas serta jauh daya jangkauannya terhadap masalah sosial budaya

(32)

dan masalah kemanusiaan. Kemampuan berpikir mendasar, luas, dan jauh daya jangkau tidak hanya terhadap masalah sosial budaya yang terjadi.

Masalah sosial budaya dan masalah kemanusiaan dapat terjadi dan berkembang dari tingkat lokal dan tingkat nasional bahkan tingkat internasional.

Perbedaan sosial budaya yang dianggap merugikan kepentingan pihak lain, dapat memicu terjadinya konflik.

Meningkatkan kemampuan daya kritis terhadap masalah sosial budaya dan masalah kemanusiaan. Kemampuan daya kritis adalah kemampuan memahami dengan daya tangkap yang rasional berdasarkan penalaran yang tinggi terhadap setiap maslah sosial budaya dan kemanusiaan yang terjadi dalam masyarakat.

Ilmu sosial Budaya Dasar bertujuan untuk merintis menghasilkan calon pemimpin bangsa dan negara yang tidak hanya berpandang kedaerahan berskala lokal, tetapi juga berpandangan luas berskala nasional serta berbasis keahlian profesional. Pandangan luas, kepedulian yang tinggi serta peka terhadap peristiwa atau kenyataan yang terjadi dalam masyarakat sangat dibutuhkan guna memelihara perdamaian, kestabilan, memajukan kesejahteraan umum (sosial) dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Dalam masyarakat kini, sudah tertanam budaya yang lebih mengutamakan status sosial bermodal gelar akademik daripada keahlian professional yang berwawasan luas dan berbasis ilmu dan teknologi (iptek).

Akibatnya, tidak sedikit manusia Indonesia bergelar akademik yang tidak berbasis iptek, yang hanya dengan sejumlah uang sebagai imbalan sekedar memperoleh selembar ijazah dari perguruan tinggi tanpa ;ega;itas di ruko, hotel, atau pojok gedung bertingkat di kota besar atau luar negri. Mau dibawa kemana bangsa dan negri Indonesia ini jika dipimpin oleh orang-orang yang bergelar akadmeik berkualitas pepesan kosong? Mengapa masalah sosial budaya seperti ini tidak dipedulika orang? Bahkan pemerintah tidak berdaya menertibkan nya?

Mereka nongkrong berkuasa di berbagai lembaga sosial budaya, lembaga pemerintah, bahkan perguruan tinggi.

(33)

BAB 2

MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK BUDAYA

A. Hakikat Manusia Sebagai Makhluk Budaya

Manusia adalah salah satu makhluk Tuhan di dunia. Makhluk Tuhan dialam fana ini ada empat macam, yaitu alam, tumbuhan, binatang, dan manusia. Sifat–

sifat yang dimiliki keempat makhluk Tuhan tersebut sebagai berikut.

1. Alam memiliki sifat wujud

2. Tumbuhan memiliki sifat hidup dan wujud

3. Binatang memiliki sifat wujud, hidup dan dibekali nafsu

4. Manusia memiliki sifat wujud, hidup dibekali nafsu serta akal budi Akal budi merupakan pemberian sekaligus potensi dalam diri manusia yang tidak dimiliki makhluk lain. Kelebihan manusia dibandingkan makhluk lain terletak pada akal budi. Anugerah Tuhan akan akal budilah yang membedakan manusia dari makhluk lain. Akal adalah kemampuan berpikir manusia sebagai kodrat alami yang dimiliki. Berpikir merupakan perbuatan operasional dari akal yang mendorong untuk aktif berbuat demi kepentingan dan peningkatan hidup manusia. Jadi, fungsi dari akal adalah berpikir. Karena manusia yang dianugerahi akal maka manusia dapat berpikir. kemampuan berpikir manusia juga digunakan untuk memecahkan maslaah–masalah hidup yang dihadapi.

Dengan akal budinya, manusia mampu menciptakan, mengkreasi, memperlakukan, memperbarui, memperbaiki, mengembangkan dan meningkatkan sesuatu yang ada untuk kepentingan hidup manusia. Contohnya manusia bisa membangun rumah, membuat aneka masakan, menciptakan beragam jenis pakaian, membuat alat transportasi, sarana komunikasi dan lain–lain.

Binatang pun bisa membuat rumah dan mencari makan. Akan tetapi, rumah dan makanan suatu jenis makanan tidak pernah berubah dan berkembang. Rumah burung (sarang) dari dulu sampai sekarang tetap saja wujudnya, tidak ada pembaharuan dan peningkatan. Manusia dengan kemampuan akal budinya bisa memperbaharui dan mengembangkan sesuatu untuk kepentingan hidup.

(34)

Kebutuhan manusia dalam hidup dibagi menjadi lima tingkatan. Kelima tingkatan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Kebutuhan psikologis (physiological needs). Kebutuhan ini merupakan kebutuhan dasar, primer dan vita. Kebutuhan ini menyangkut fungsi–

fungsi biologis dasar dari organisme manusia, seperti kebutuhan akan makanan, pakaian tempat tinggal, sembuh dari sakit, kebutuhan seks dan sebagainya.

2. Kebutuhan akan rasa aman dan perlindungan (safety and security needs). Kebutuhan ini menyangkut perasaan, seperti bebas dari rasa takut, terlindung dari bahaya dan ancaman penyakit, perang, kemiskinan, kelaparan, perlakuan tidak adil dan sebagaimya.

3. Kebutuhan sosial (sosial needs). Kebutuhan ini meliputi kebutuhan akan dicintai, diperhitungkan sebagai pribadi, diakui sebagai anggota kelompok, rasa setia kawan, kerja sama, persahabatan, interaki, dan seterusnya.

4. Kebutuhan akan penghargaan (esteem needs). Kebutuhan ini meliputi kebutuhan dihargainya kemampuan, kedudukan jabatan, status, pangkat, dan sebagainya.

5. Kebutuhan akan aktualisasi diri (self actualization). Kebutuhan ini meliputi kebutuhan untuk memaksimalkan penggunaan potensi–

potensi, kemampuan, bakat, kreativitas, ekspresi diri, prestasi dan sebagainya.

Kebutuhan manusia pertama–tama diawali dari kebutuhan psiklogis atau paling mendesak kemudian secara bertahap beralih ke kebutuhan tingkat di atasnya sampai tingkatan tertinggi, yaitu kebutuhan aktualisasi diri. Beliau menjelaskan bahwa kita tidak dapat memenuhi kebutuhan kita yang lebih tinggi kalau kebutuhan yang lebih rendah belum terpenuhi. Itu berarti kebuthan nomor lima akan diupayakan pemenuhannya kalau kita sudah memenuhi kebutuhan–

kebutuhan sebelumnya. Jadi, kebutuhan manusia bertingkat dan membentuk hirarki.

(35)

Dengan akal budi manusia mampu menciptakan kebudayaan. Kebudayaan pada dasarnya adalah hasil akal budi manusia dalam interaksinya, baik dengan alam maupun manusia lainnya. Manusia merupakan makhluk yang berbudaya.

Manusia adalah pencipta kebudayaan.

B. Pengertian Manusia

Secara bahasa manusia berasal dari kata “manu” (Sansekerta), “mens”

(Latin), yang berarti berpikir, berakal budi atau makhluk yang berakal budi (mampu menguasai makhluk lain). Secara istilah manusia dapat diartikan sebuah konsep atau sebuah fakta, sebuah gagasan atau realitas, sebuah kelompok (genus) atau seorang individu.

Secara biologis, manusia diklasifikasikan sebagai Homo sapiens (Bahasa Latin untuk manusia), sebuah spesies primata dari golongan mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi. Dalam hal kerohanian, mereka dijelaskan menggunakan konsep jiwa yang bervariasi di mana, dalam agama, dimengerti dalam hubungannya dengan kekuatan ketuhanan atau makhluk hidup; dalam mitos, mereka juga seringkali dibandingkan dengan ras lain. Dalam antropologi kebudayaan, mereka dijelaskan berdasarkan penggunaan bahasanya, organisasi mereka dalam masyarakat majemuk serta perkembangan teknologinya, dan terutama berdasarkan kemampuannya untuk membentuk kelompok dan lembaga untuk dukungan satu sama lain serta pertolongan. (Sumber:

http://id.wikipedia.org/wiki/Manusia). Manusia sebagai pencipta kebudayaan memiliki kemampuan:

1. Akal, intelegensia dan intuisi 2. Perasaan dan emosi

3. Kemauan 4. Fantasi 5. Perilaku

Manusia diciptakan oleh Tuhan sebagai makhluk hidup yang paling sempurna, melebihi ciptaan Tuhan yang lain. Manusia terdiri dari jiwa dan raga yang dilengkapi dengan akal pikiran serta hawa nafsu. Tuhan menanamkan akal

(36)

dan pikiran kepada manusia agar dapat digunakan untuk kebaikan mereka masing–masing dan untuk orang di sekitar mereka. Manusia diberikan hawa nafsu agar mampu tetap hidup di bumi ini. Manusia diturunkan ke bumi oleh Tuhan agar dapat menjadi khalifah dan pemimpin. Menghuni bumi yang kita tinggali sekarang ini untuk melanjutkan hidup sebelum kembali kepada-Nya. Salah satu hakekat manusia lainnya ialah manusia sebagai makhluk sosial, hidup berdampingan satu sama lain, berinteraksi dan saling berbagi. (Sumber:

http://sekitarkita.com/wpcontent/uploads/2009/05/ humanright02.gif).

Manusia mempunyai 4 unsur dalam dirinya, yaitu:

a. Jasad, yaitu badan yang tampak, dapat diraba, dan menempati ruang dan waktu

b. Hayat, yaitu mengandung unsure hidup yang ditandai dengan gerak c. Ruh, yaitu daya yang bekerja secara spiritual dan memahami kebenaran d. Nafs, yaitu kesadaran tentang diri sendiri

Sedangkan manusia sebagi satu kepribadian, mempunyai tiga unsure dalam dirinya, yaitu:

ID adalah kepribadian yang primitif dan tidak nampak yang merupakan libido murni

EGO adalah kepribadian eksekutif yang peranannya dalam menghubungkan energi ID dalam saluran sosial yang dapat dimengerti orang lain

SUPER EGO muncul sekitar umur 5 tahun. ID dan EGO berkembang secara internal dalam diri individu, sedangkan super ego terbentuk dari lingkungan eksternal yang merupakan kesatuan standar-standar moral

C. Pengertian Budaya

Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal- hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani.

(http://id.wikipedia.org/wiki/Budaya)

(37)

Definisi budaya dalam pandangan ahli antropologi sangat berbeda dengan pandangan ahli berbagai ilmu sosial lain. Ahli-ahli antropologi merumuskan definisi budaya sebagai berikut:

E.B. Taylor, berpendapat bahwa budaya adalah suatu keseluruhan kompleks yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, kesusilaan, hukum, adat istiadat, serta kesanggupan dan kebiasaan lainnya yang dipelajari manusia sebagai anggota masyarakat

Linton, mengartikan budaya dengan Keseluruhan dari pengetahuan, sikap dan pola perilaku yang merupakan kebiasaan yang dimiliki dan diwariskan oleh anggota suatu masyarakat tertentu

Kluckhohn dan Kelly, berpendapat bahwa budaya adalah semua rancangan hidup yang tercipta secara historis, baik yang eksplisit maupun implisit, rasional, irasional, yang ada pada suatu waktu, sebagai pedoman yang potensial untuk perilaku manusia

Koentjaraningrat, yang mengartikan budaya dengan keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar

Kebudayaan memiliki fungsi mendasari, mendukung, dan mengisi masyarakat dengan nilai-nilai hidup untuk dapat bertahan, menggerakkan serta membawa masyarakat kepada taraf hidup yang lebih baik, lebih manusiawi, dan berperikemanusiaan. Etika berbudaya mengandung tuntutan bahwa budaya yang diciptakan harus mengandung niali-nilai etik yang bersifat universal. Meskipun demikian suatu budaya yang dihasilkan memenuhi nilai-nilai etik atau tidak bergantung dari paham atau ideologi yang diyakini oleh masyarakat. Estetika dapat dikatakan sebagi teori tentang keindahan atau seni, estetika berkaitan dengan nilai indah atau jelek. Selain itu terdapat tiga wujud kebudayaan yaitu:

a. Wujud pikiran, gagasan, ide-ide, norma-norma, peraturan,dan sebagainya.

Wujud pertama dari kebudayaan ini bersifat abstrak, berada dalam pikiran masing-masing anggota masyarakat di tempat kebudayaan itu hidup

b. Aktifitas kelakuan berpola manusia dalam masyarakat. Sistem sosial terdiri atas aktifitas-aktifitas manusia yang saling berinteraksi, berhubungan serta

(38)

bergaul satu dengan yang lain setiap saat dan selalu mengikuti pola-pola tertentu berdasarkan adat kelakuan. Sistem sosial ini bersifat nyata atau konkret

c. Wujud fisik, merupakan seluruh total hasil fisik dari aktifitas perbuatan dan karya manusia dalam masyarakat

Sifat hakekat kebudayaan, antara lain:

• Kebudayaan terwujud dan tersalurkan dari perikelakuan manusia

• Kebudayaan telah ada terlebih dahulu daripada lahirnya suatu generasi tertentu, dan tidak akan mati dengan habisnya usia generasi yang bersangkutan

• Kebudayaan diperlukan oleh manusia dan diwujudkan dalam tingkah lakunya

• Kebudayaan mencakup aturan-aturan yang berisikan kewajiban-kewajiban, tindakan-tindakan yang diterima dan ditolak, tindakan-tindakan yang dilarang dan tindakan-tindakan yang diizinkan

Berdasarkan penggolongan wujud budaya di atas kita dapat mengelompokkan budaya menjadi dua, yaitu: budaya yang bersifat abstrak dan budaya yang bersifat konkret. Budaya yang bersifat abstrak, yaitu budaya yang bersifat abstrak ini letaknya ada di dalam alam pikiran manusia, misalnya terwujud dalam ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan-peraturan, dan cita-cita. Jadi budaya yang bersifat abstrak adalah wujud ideal dari kebudayaan.

Ideal artinya sesuatu yang menjadi cita-cita atau harapan bagi manusia sesuai dengan ukuran yang telah menjadi kesepakatan. Budaya yang bersifat konkret, yaitu wujud budaya yang bersifat konkret berpola dari tindakan atau peraturan dan aktivitas manusia di dalam masyarakat yang dapat diraba, dilihat, diamati, disimpan atau difoto. Koentjaraningrat menyebutkan sifat budaya dengan sistem sosial dan fisik, yang terdiri atas: perilaku, bahasa dan materi. (Koentjaraningrat, 1975) Dari uraian di atas dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:

a. Kebudayaan itu hanya dimiliki oleh manusia

b. Kebudayaan itu tidak diturunkan secara biologis melainkan diperoleh melalui proses belajar

(39)

c. Kebudayaan itu didapat, didukung dan diteruskan oleh manusia sebagai anggota masyarakat.

D. Unsur-Unsur Kebudayaan

Kebudayaan mempunyai 7 unsur secara universal, yaitu:

a. Sistem Religi, yautu kepercayaan manusia terhadap adanya Sang Maha Pencipta yang muncul karena kesadaran bahwa ada zat yang lebih dan Maha Kuasa

b. Sistem Organisasi Kemasyarakatan, sistem yang muncul karena kesadaran manusia bahwa meskipun diciptakan sebagai makhluk yang paling sempurna namun tetap memiliki kelemahan dan kelebihan masing–masing antar individu sehingga timbul rasa utuk berorganisasi dan bersatu

c. Sistem Pengetahuan, yaitu Sistem yang terlahir karena setiap manusia memiliki akal dan pikiran yang berbeda sehingga memunculkan dan mendapatkan sesuatu yang berbeda pula, sehingga perlu disampaikan agar yang lain juga mengerti

d. Sistem Mata Pencaharian Hidup dan Sistem–Sistem Ekonomi, yang terlahir karena manusia memiliki hawa nafsu dan keinginan yang tidak terbatas dan selalu ingin lebih

e. Sistem Teknologi dan Peralatan, yaitu sistem yang timbul karena manusia mampu menciptakan barang – barang dan sesuatu yang baru agar dapat memenuhi kebutuhan hidup dan membedakan manusia dengam makhluk hidup yang lain

f. Bahasa, yaitu sesuatu yang berawal dari hanya sebuah kode, tulisan hingga berubah sebagai lisan untuk mempermudah komunikasi antar sesama manusia.

Bahkan sudah ada bahasa yang dijadikan bahasa universal seperti bahasa Inggris

g. Kesenian, setelah memenuhi kebutuhan fisik manusia juga memerlukan sesuatu yang dapat memenuhi kebutuhan psikis mereka sehingga lahirlah kesenian yang dapat memuaskan

(Sumber: http://arikaka.com/manusia-dan-kebudayaan/)

(40)

E. Hubungan Antar Manusia dan Budaya

Manusia sebagai makhluk Tuhan yang paling sempurna menciptakan kebudayaan mereka sendiri dan melestarikannya secara turun menurun. Budaya tercipta dari kegiatan sehari hari dan juga dari kejadian – kejadian yang sudah diatur oleh yang Maha Kuasa. Antara manusia dan kebudayaan terjalin hubungan yang sangat erat. Hampir semua tindakan manusia itu merupakan kebudayaan.

Tindakan yang berupa kebudayaan tersebut dibiasakan dengan cara belajar, melalui beberapa tahapan:

Eksternalisasi, adalah proses manusia mengekspresikan dirinya dalam membangun dunianya

Obyektivitas, proses msyarakat menjadi realitas obyektif, yaitu kenyataan yang terpisah dari manusia dan berhadapan dengan manusia

Internalisasi, proses masyarakat disergap kembali oleh manusia, yakni manusia ang mempelajari kembali masyarakatnya sendiri agar dapat hidup dengan baik

(Sumber:http://sosial-budaya.blogspot.com/2009/05/manusia-dan kebudayaan.html)

Selain itu, manusia mempunyai empat kedudukan terhadap kebudayaan yaitu:

a. Penganut kebudayaan b. Pembawa kebudayaan c. Manipulator kebudayaan d. Pencipta kebudayaan

F. Kebutuhan Manusia sebagai Makhluk Budaya

Kebutuhan manusia akan pengungkapan perasaan keindahan terbukti secara universal dan berlangsung sepanjang sejarah keberadaan manusia. Hasil-hasil penelitian lintas budaya dan prasejarah menunjukan bukti-bukti kuat tentang tidak adanya kebudayaan yang didalamnya tidak menampung bentuk-bentuk ekspresi keindahan. Hal ini menunjukkan bahwa betapapun sederhananya tingkat kehidupan manusia, disela-sela upaya pemenuhan kebutuhan utamanya, manusia senantiasa mencari peluang untuk memenuhi hasrat mengungkapkan dan

Referensi

Dokumen terkait

Keluarga merupakan faktor pembentuk karekter dalam kehidupan individu , jelaskan macam-macam fungsi keluarga.. Jelaskan faktor-faktor penyebab kerusakan lingkungan hidup

Definisi tentang masyaraka yang dikemukaan oleh Ralp Linton adalah (c. masyarakat adalah sekelompok manusia yang telah hidup dan bekerja bersam cukup lama sehingga meeka

> Pengawasan Sosial adalah seluruh pengaruh kekuatan masyarakat untuk menjaga terbinanya pola-pola kelakuan dan kaidah-kaidah sosial yang dimiliki oleh seluruh anggota

Kehidupan modern sebagai dampak kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi menghasilkan berbagai perubahan pilihan dan kesempatan, tetapi mengandung berbagai risiko akibat

memiliki kepekaan sosial serta kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungan (S6); Taat hukum dan disiplin dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara (S7);

praaksara, masa Hindu Buddha dan masa Islam dalam aspek geografis, ekonomi, budaya, dan politik yang masih hidup dalam masyarakat sekarang. 1) Pola kehidupan dan kebudayaan

Pola Pikir Kebudayaan Di Indonesia • Pola Pikir Budaya Barat * Pikiran cenderung menekankan dunia obyektif dari pada rasa sehingga membuahkan ilmu dan teknologi * Filsafat dipusatkan

Pancasila sebagai Pandangan Hidup Bangsa Pancasila sebagai Pandangan Hidup Bangsa adalah sebagai petunjuk dalam kehidupan sehari- hari masyarakat Indonesia baik dari segi sikap maupun