1.1. Latar Belakang
Dengan semakin berkembangnya suatu perusahaan menuntut pula perkembangan di bidang pemeriksaan. Pemeriksaan yang dilakukan tidak hanya pemeriksaan keuangan saja tetapi juga pemeriksaan yang menekankan penilaian sistematis dan objektif serta berorientasi pada tujuan untuk memperoleh keyakinan tentang keefektifan dan memberikan pendapat atas kewajaran laporan keuangan yang diperiksa. Pimpinan perusahaan memerlukan audit operasional yang menyajikan informasi mengenai aktivitas operasional perusahaan dan tidak terbatas pada informasi keuangan dan akuntansi saja.
Audit operasional merupakan evaluasi atas berbagai kegiatan operasional perusahaan sedangkan sasarannya adalah untuk menilai apakah pelaksanaan kegiatan operasional telah dilaksanakan secara ekonomis, efektif dan efisien. Apabila belum dilaksanakan seperti seharusnya, maka auditor akan memberikan rekomendasi atau saran agar pada masa yang akan datang menjadi lebih baik.
Salah satu bagian dalam perusahaan yang perlu dilakukan audit operasional adalah masalah pengelolaan persedian barang dagangan karena persediaan barang dagangan merupakan bagian utama dalam neraca dan
seringkali merupakan perkiraan yang nilainya cukup besar serta membutuhkan modal kerja yang besar pula. Dengan besarnya jumlah uang yang ditanamkan pada persediaan barang dagangan suatu perusahaan, jelaslah bahwa persediaan barang dagangan merupakan aktiva yang sangat penting untuk dilindungi.
Setiap perusahaan dalam melaksanakan kegiatan pemasaran tidak terlepas akan kebutuhan akan barang-barang dagangan yang menjadi faktor utama dalam menunjang jalannya aktivitas pemasaran perusahaan. Dengan terpenuhinya akan barang tepat pada waktunya, maka kegiatan suatu perusahaan akan dapat berjalan dengan lancar sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Tanpa adanya persediaan barang dagangan, perusahaan akan menghadapi resiko dimana pada suatu waktu tidak dapat memenuhi keinginan dari para pelanggannya. Tentu saja kenyataan ini dapat berakibat buruk bagi perusahaan, karena secara tidak langsung perusahaan menjadi kehilangan kesempatan untuk memperoleh keuntungan yang seharusnya didapatkan.
PT Pupuk Sriwidjaja (Persero) Palembang atau yang lebih dikenal sebagai PT PUSRI adalah perusahaan yang bergerak di bidang industri pupuk. Persediaan barang dagangan yang terdapat pada PT Pusri (Persero) Palembang terdiri dari persediaan urea dan hasil produksi sampingannya. Untuk memenuhi kebutuhan barang-barang tersebut dan untuk menunjang kegiatan pemasaran, maka perusahaan perlu mengadakan suatu persediaan barang dagangan dalam jumlah tertentu yang disimpan dalam gudang untuk
selanjutnya dikeluarkan ke truk, kapal atau alat angkut lainnya dan kemudian dikirim ke gudang unit pemasaran masing-masing daerah.
Audit operasional atas persediaan barang dagangan perlu dilakukan untuk menentukan apakah nilai persediaan yang diajukan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya dan apakah prosedur pengelolaan persediaan barang dagangan tersebut telah dilaksanakan dengan efektif dan efisien. Audit atas persediaan adalah bagian yang paling kompleks dan memerlukan waktu yang cukup banyak untuk melakukan suatu pemeriksaan, karena pemeriksaan terdiri dari berbagai macam jenis dan tersebar di beberapa lokasi.
Audit operasional atas persediaan barang dagangan pada PT Pupuk Sriwidjaja (Persero) Palembang dilaksanakan oleh Tim Pengawasan Operasional selaku internal auditor yang ditunjuk oleh Kepala satuan Pengawasan Intern yang merupakan departemen tersendiri. Audit operasional tersebut dilakukan secara periodik, yaitu setahun sekali pemeriksaan (per tahun), tentu saja ketentuan ini sudah ditetapkan terlebih dahulu oleh perusahaan dan tercantum dalam PKPT (Program Kerja Pemeriksaan tahunan).
Dalam melakukan audit, auditor ini mengadakan pemeriksaan ke lokasi gudang untuk melakukan pemeriksaan fisik atas persediaan barang, kemudian membandingkannya dengan laporan persediaan dan menilai pelaksanaan prosedur pengelolaan persediaan yang dilakukan oleh Dinas Pengantongan Urea dan Ekspedisi.
Pengelolaan persediaan merupakan fungsi manajerial yang sangat penting, karena pemeriksaan fisik atas persediaan ini banyak melibatkan investasi rupiah dan mempengaruhi efektifitas dan efisiensi kegiatan perusahaan. Oleh sebab itu, audit operasional atas persediaan barang sangat diperlukan untuk mengurangi resiko terjadinya selisih, kehilangan, mengantisipasi kemungkinan terjadinya kecurangan dan memastikan bahwa prosedur telah dilakukan dengan baik sehingga kemudian dapat dibuatlah suatu usulan perbaikan. Berkaitan dengan hal-hal tersebut di atas, maka penulis tertarik untuk memilih judul:
“HUBUNGAN AUDIT OPERASIONAL DAN PENGELOLAAN PERSEDIAAN BARANG DAGANGAN TERHADAP PENINGKATAN LABA PADA PT PUSRI (PERSERO) PALEMBANG BULAN MEI 2007”
1.2. Rumusan Masalah
Setiap perusahaan, termasuk PT Pupuk Sriwidjaja, dalam menjalankan usahanya bertujuan untuk mencapai tujuan perusahaan seperti maksimalisasi laba, mengembangkan perusahaan, maupun mempertahankan kelangsungan hidupnya.
Dari uraian di atas, peneliti dapat mengemukakan beberapa permasalahan sebagai berikut:
1. Apakah ada hubungan audit operasional dan pengelolaan persediaan barang dagangan secara simultan terhadap peningkatan laba pada PT.PUSRI (PERSERO) PALEMBANG ?.
2. Apakah ada hubungan audit operasional secara parsial terhadap pningkatan laba pada PT.Pusri (Persero) Palembang?
3. Apakah ada hubungan pengelolaan persediaan barang dagangan secara parsial terhadap peningkatan laba pada PT. Pusri (Persero) palembang?
1.3. Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan audit operasional dan pengelolaan persediaan barang dagangan secara simultan terhadap peningkatan laba di PT Pupuk Sriwidjaja (Persero) Palembang
1.3.2. Tujuan Khusus
1. Diketahuinya hubungan audit operasional secara parsial terhadap peningkatan laba pada PT.Pusri (Persero) Palembang
2. Diketahuinya hubungan pengelolaan persediaan barang dagangan pada PT. Pusri (Persero) Palembang
1.4. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
1. Bagi Peneliti
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi kesempatan bagi peneliti untuk menerapkan teori-teori yang diperoleh di bangku kuliah dan membandingkannya dengan praktek yang terjadi dalam perusahaan. 2. Bagi PT. Pusri (Persero) Palembang
Dapat memberikan informasi dan masukan kepada pihak perusahaan mengenai hubungan audit operasional dan pengelolaan persediaan barang dagangan terhadap peningkatan laba perusahaan..
3. Bagi Universitas Kader Bangsa Palembang
Sebagai bahan bacaan untuk menambah pengetahuan mengenai konsep, prosedur dan teknik-teknik audit operasional dan pengelolaan persediaan barang dagangan.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1. Gambaran Umum Auditing 2.1.1. Pengertian Auditing
Untuk mengetahui dengan jelas pengertian auditing, maka berikut ini akan dikemukakan definisi-definisi pengauditan yang diambil dari beberapa sumber yaitu:
1. Menurut (Sukrisno Agoes , 2004), auditing adalah
“Suatu pemeriksaan yang dilakukan secara kritis dan sistematis oleh pihak yang independen, terhadap laporan keuangan yang telah disusun oleh manajemen beserta catatan-catatan pembukuan dan bukti-bukti pendukungnya, dengan tujuan untuk dapat memberikan pendapat mengenai kewajaran laporan keuangan tersebut.”
2. Menurut (Arens dan Loebbecke, 2003), auditing sebagai:
“Suatu proses pengumpulan dan pengevaluasian bahan bukti tentang informasi yang dapat diukur mengenai suatu entitas ekonomi yang dilakukan seorang yang kompeten dan independen untuk dapat menentukan dan melaporkan kesesuaian informasi dengan kriteria-kriteria yang telah ditetapkan. Auditing seharusnya dilakukan oleh seorang yang independen dan kompeten.”
3. Menurut (Mulyadi , 2002), auditing merupakan:
“Suatu proses sistematik untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti secara objektif mengenai pernyataan-pernyataan tentang kegiatan dan kejadian ekonomi dengan tujuan untuk menetapkan tingkat kesesuaian antara pernyataan-pernyataan tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan, serta penyampaian hasil-hasilnya kepada pemakai yang berkepentingan.”
Menurut(Mulyadi, 2002), berdasarkan beberapa pengertian auditing di atas maka audit mengandung unsur-unsur:
1. suatu proses sistematis, artinya audit merupakan suatu langkah atau prosedur yang logis, berkerangka dan terorganisasi. Auditing dilakukan dengan suatu urutan langkah yang direncanakan, terorganisasi dan bertujuan.
2. untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti secara objektif, artinya proses sistematik ditujukan untuk memperoleh bukti yang mendasari pernyataan yang dibuat oleh individu atau badan usaha serta untuk mengevaluasi tanpa memihak atau berprasangka terhadap bukti-bukti tersebut.
3. pernyataan mengenai kegiatan dan kejadian ekonomi, artinya pernyataan mengenai kegiatan dan kejadian ekonomi merupakan hasil proses akuntansi.
4. menetapkan tingkat kesesuaian, artinya pengumpulan bukti mengenai pernyataan dan evaluasi terhadap hasil pengumpulan bukti tersebut dimaksudkan untuk menetapkan kesesuaian pernyataan tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan. Tingkat kesesuaian antara pernyataan dengan kriteria tersebut kemungkinan dapat dikuantifikasikan, kemungkinan pula bersifat kualitatif.
5. kriteria yang telah ditetapkan, artinya kriteria atau standar yang dipakai sebagai dasar untuk menilai pernyataan (berupa hasil akuntansi) dapat berupa:
a. peraturan yang ditetapkan oleh suatu badan legislatif
b. anggaran atau ukuran prestasi yang ditetapkan oleh manajemen c. prinsip akuntansi berterima umum (PABU) di indonesia
6. Penyampaian hasil (atestasi), dimana penyampaian hasil dilakukan secara tertulis dalam bentuk laporan audit (audit report)
7. pemakai yang berkepentingan, pemakai yang berkepentingan terhadap laporan audit adalah para pemakai informasi keuangan, misalnya pemegang saham, manajemen, kreditur, calon investor, organisasi buruh dan kantor pelayanan pajak
2.1.2. Jenis-Jenis Pengauditan
Pengauditan dapat dibagi dalam beberapa jenis. Pembagian ini dimaksudkan untuk menentukan tujuan atau sasaran yang ingin dicapai dengan adanya pengauditan tersebut.
Menurut (Sukrisno Agoes, 2004), ditinjau dari luasnya pemeriksaan, maka audit dapat dibedakan atas:
1. Pemeriksaan Umum (General Audit), yaitu suatu pemeriksaan umum atas laporan keuangan yang dilakukan oleh Kantor Akuntan Publik (KAP) yang independen dengan maksud untuk memberikan opini mengenai kewajaran laporan keuangan secara keseluruhan. 2. Pemeriksaan Khusus (Special Audit), yaitu suatu bentuk
pemeriksaan yang hanya terbatas pada permintaan auditee yang dilakukan oleh Kantor Akuntan Publik (KAP) dengan memberikan opini terhadap bagian dari laporan keuangan yang diaudit, misalnya pemeriksaan terhadap penerimaan kas perusahaan.
Masih menurut sumber yang sama, menurut (Sukrisno Agoes , 2004), ditinjau dari jenis pemeriksaan maka audit dapat dibedakan atas:
1. Audit Operasional (Management Audit), yaitu suatu pemeriksaan terhadap kegiatan operasi suatu perusahaan, termasuk kebijakan akuntansi dan kebijakan operasional yang telah ditetapkan oleh manajemen dengan maksud untuk mengetahui apakah kegiatan operasi telah dilakukan secara efektif, efisien dan ekonomis.
2. Pemeriksaan Ketaatan (Complience Audit), yaitu suatu pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui apakah perusahaan telah mentaati peraturan-peraturan dan kebijakan-kebijakan yang berlaku, baik
yang ditetapkan oleh pihak intern perusahaan maupun pihak ekstern perusahaan.
3. Pemeriksaan Intern (Internal Audit), yaitu pemeriksaan yang dilakukan oleh bagian internal audit perusahaan yang mencakup laporan keuangan dan catatan akuntansi perusahaan yang bersangkutan serta ketaatan terhadap kebijakan manajemen yang telah ditentukan.
4. Audit Komputer (Computer Audit), yaitu pemeriksaan yang dilakukan oleh Kantor Akuntan Publik (KAP) terhadap perusahaan yang melakukan proses data akuntansi dengan menggunakan sistem
Elektronic Data Processing (EDP).
2.1.3. Standar Audit yang Berlaku Umum
Standar auditing merupakan pedoman bagi auditor dalam menjalankan tanggung jawab profesionalnya. Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) dalam Pernyataan Standar Auditing (PSA) No. 1 telah menetapkan dan mengesahkan sepuluh standar auditing yang dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu:
a. Standar Umum, berfungsi untuk mengatur syarat-syarat diri auditor. Standar umum terdiri dari:
1. Audit harus dilaksanakan oleh seorang atau lebih yang memiliki keahlian dan pelatihan teknis yang cukup sebagai auditor
2. Dalam semua hal yang berhubungan dengan perikatan, independensi dalam sikap mental harus dipertahankan oleh auditor
3. Dalam pelaksanaan audit dan pelaporannya, auditor wajib menggunakan kemahiran profesionalnya dengan cermat dan seksama
b. Standar Pekerjaan lapangan, berfungsi untuk mengatur mutu pelaksanaan auditing. Standar pekerjaan lapangan terdiri dari:
1. pekerjaan harus dilaksanakan sebaik-baiknya dan jika digunakan sistem harus disupervisi dengan semestinya
2. pemahaman memadai atas Struktur Pengendalian Intern (SPI) harus diperoleh untuk merencanakan audit dan menentukan sifat, saat dan lingkup pengujian yang akan dilakukan
3. bukti audit kompeten yang cukup harus diperoleh melalui inspeksi, pengamatan, permintaan keterangan dan konfirmasi sebagai dasar memadai untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan yang diaudit
c. Standar Pelaporan, berfungsi sebagai panduan bagi auditor dalam mengkomunikasikan hasil audit melalui laporan audit kepada pemakai informasi keuangan. Standar pelaporan terdiri dari:
1. laporan auditor harus menyatakan apakah laporan keuangan telah disusun sesuai dengan Prinsip Akuntansi yang Berlaku Umum (PABU) di Indonesia
2. laporan auditor harus menunjukkan atau menyatakan, jika ada ketidakkonsistenan penerapan prinsip akuntansi dalam menyusun laporan keuangan periode berjalan dibandingkan dengan prinsip akuntansi tersebut dalam periode sebelumnya 3. pengungkapan informatif dalam laporan keuangan harus
dipandang memadai, kecuali dinyatakan lain dalam laporan auditor
4. laporan auditor, harus memuat suatu pernyataan pendapat mengenai laporan keuangan secara keseluruhan atau suatu asersi bahwa pernyataan demikian tidak dapat diberikan. Jika pendapat secara keseluruhan tidak dapat diberikan, maka alasannya harus memuat petunjuk yang jelas mengenai sifat pekerjaan audit yang dilaksanakan, jika ada dan tingkat tanggung jawab yang dipikul oleh auditor
2.2. Struktur Pengendalian Intern
2.2.1. Pengertian Strukur Pengendalian Intern
(Ikatan Akuntan Indonesia dalam Standar Profesional Akuntan Publik dalam Standar Pekerjaan lapangan kedua,2001), menyebutkan bahwa:
“Pemahaman memadai atas struktur pengendalian intern harus diperoleh untuk merencanakan audit dan menentukan sifat, saat dan lingkup pengujian yang akan dilakukan.”
(Ikatan Akuntan Indonesia , 2001) mendefinisikan strukur pengendalian intern sebagai:
Suatu proses yang dijalankan oleh dewan komisaris, manajemen dan personil lain entitas yang didesain untuk memberikan keyakinan memadai tentang pencapaian tiga golongan tujuan berikut ini:
a. kehandalan pelaporan keuangan b. efektivitas dan efisiensi operasi
c. kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku
Menurut (Mulyadi, 2002), dari definisi struktur pengendalian intern tersebut terdapat beberapa konsep berikut ini:
1. struktur pengendalian intern merupakan suatu proses untuk mencapai tujuan tertentu. Struktur pengendalian intern merupakan suatu rangkaian yang bersifat pervasive dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan.
2. struktur pengendalian intern dijalankan oleh orang dari setiap jenjang organisasi, yang mencakup dewan komisaris, manajemen dan personil lain.
3. struktur pengendalian intern diharapkan mampu memberikan keyakinan memadai bagi manajemen dan dewan komisaris, entitas, bukan keyakinan mutlak.
4. struktur pengendalian intern ditujukan untuk mencapai tujuan yang saling berkaitan: pelaporan keuangan, kepatuhan dan operasi.
Struktur pengendalian intern memegang peranan penting dalam organisasi perusahaan untuk dapat merencanakan, mengkoordinasikan dan menguasai atau mengontrol berbagai aktivitas-aktivitas yang dilaksanakan. Pengendalian intern mencakup kebijakan dan prosedur-prosedur yang ditetapkan untuk memberikan jaminan tercapainya tujuan tertentu perusahaan. Konsep struktur pengendalian intern didasarkan atas tanggung jawab manajemen dan jaminan yang memadai untuk menetapkan dan menyelenggarakan struktur pengendalian intern dan dikaitkan dengan manfaat dan biaya pengendalian.
2.2.2. Tujuan Struktur Pengendalian Intern
Berdasarkan definisi struktur pengendalian intern yang telah diuraikan sebelumnya, maka menurut (Ikatan Akuntan Indonesia,(2001), tujuan struktur pengendalian intern adalah untuk memberikan keyakinan memadai dalam mencapai tiga golongan tujuan, yaitu:
1. keandalan laporan keuangan
2. kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku 3. efektivitas dan efisiensi operasi
2.3. Audit Operasional
2.3.1. Pengertian Audit Operasional
Banyak definisi dari audit operasional yang mencakup penyebutan efficiency (pengeluaran yang minimum dari sumber daya),
effectiveness (pencapaian hasil yang diinginkan) dan economy (kinerja
dari suatu entitas). Dalam artikulasi yang berbeda, audit operasional dikenal sebagai audit manajemen. Perbedaan antara kedua istilah tersebut tidak jelas dan sering digunakan secara bergantian.
Menurut (Amin Wijaya Tunggal, 2001), ada beberapa definisi audit operasional yang dikemukakan oleh para ahli auditing, antara lain:
1. (Dale L. Flesher dan Steward Siewert, 2001)
“An operational audit is an organized search for ways of improving
efficiency and effectiveness. It can be considered a form of constructive critism.” (Audit operasional merupakan pencarian
cara-cara untuk memperbaiki efisiensi dan efektivitas. Audit operasional dapat dipertimbangkan sebagai suatu bentuk kecaman yang konstruktif).
2. (Casler dan Crochet, 1999)
“Operational auditing is a sistematic process of evaluating and
organization’s effectiveness, efficiency and economy of operation under management’s control and reporting to appropriate person the result of the evaluating along with recommendation for improvement.” (Audit operasional adalah suatu proses yang
sistematis untuk menilai efektivitas organisasi, efisiensi dan ekonomi operasi di bawah pengendalian manajemen dan melaporkan kejadian kepada orang yang tepat hasil dari penilaian bersama dengan disertai rekomendasi untuk perbaikan).
3. (Leslie R. Howard, 2000)
“Management audit is an investigation of a business from the
highest level downword in order to ascertain whether sound management prevals throughout, this facilitating in most effective relationship with the outside world and the most efficient organization and smooth running of internal organization”. (Audit
manajemen merupakan penyelidikan suatu usaha dari tingkat yang tinggi ke bawah untuk meyakinkan bahwa manajemen yang sehat berjalan sesuai dengan prosedur, dengan demikian memudahkan hubungan yang paling efektif dengan dunia luar dan organisasi lainnya).
4. (William P. Leonard , 2002)
“Management audit as a comprehensive and constructive
examinitation of an organizational structure of a company, institution or branch of goverment or of any component there of , such as division or departement, and its plans and objectives, it means of operations, and its use of human and physical fasilities.”
(Audit manajemen sebagai suatu pengujian yang menyeluruh dan konstruktif dari struktur organisasi suatu perusahaan, lembaga atau cabang dari pemerintah atau setiap komponen dari padanya, seperti suatu divisi atau departemen, dan rencana dan tujuannya, alat operasionalnya, dan utilisasi manusia dan fasilitas fisik).
(Amin Wijaya Tunggal, 2001) juga mendefinisikan berbagai tipe dari auditing sebagai berikut :
1. Pemeriksaan manajemen (management auditing), dapat didefinisikan sebagai penilaian sistem manajemen perusahaan (auditee), apakah sistem tersebut berjalan secara efektif dan resiko apa yang mungkin timbul apabila sistem tersebut telah beroperasi secara efisien.
2. Pemeriksaan operasional (operational auditing), dapat didefinisikan sebagai kerangka yang sama dengan pemeriksaan manajemen, kecuali bahwa pemeriksaan operasional lebih berlaku terhadap sistem opresai auditee daripada terhadap sistem operasi
manajemennya. Dengan demikian untuk unit operasional tertentu seperti departemen pembelian, pemeriksaan manajemen akan berfokus pada bagaimana sebaiknya unit tersebut dikelola, sedangkan pemeriksaan operasional akan berfokus pada bagaimana agar unit tersebut benar-benar beroperasi.
3. Pemeriksaan komprehensif (comprehensive auditing), merupakan integrasi dari berbagi unsur manajemen operasional dan pemeriksaan keuangan tradisional. Pemeriksaan komprehensif ini mencakup penilaian manajemen auditee, operasi, pengendalian finansial dan sistem akuntansi untuk menentukan apakah pengendalian dan mekanisme akuntabilitas telah memadai dan dapat dipertanggungjawabkan pada pemegang sahamnya.
Menurut ketetapan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan dalam Pedoman Pemeriksaan Operasional (1993), audit operasional adalah:
“Audit yang sistematis terhadap program, kegiatan/aktivitas organisasi dan seluruh atau sebagian dari aktivitas dengan tujuan menilai dan melaporkan apakah sumber daya dan dana telah digunakan secara ekonomis dan efisien, serta apakah tujuan program dan kegiatan/aktivitas yang telah direncanakan dapat dicapai dengan tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.”
Menurut (Mulyadi dan Kanaka Punadireja, 1998), pengertian audit operasional adalah:
“Audit operasional merupakan suatu review secara sistematis mengenai kegiatan organisasi atau bagian dari padanya dalam hubungannya dengan tujuan tertentu”.
Sedangkan menurut (Arens dan Loebbecke, 2000), pengertian audit operasional adalah:
“Audit operasional merupakan penelaahan atas bagian manapun dari prosedur dan metode operasi suatu organisasi untuk menilai efisiensi dan efektifitas.”
Menurut (Amin Wijaya Tunggal, 2001), meskipun terdapat beberapa perbedaan dari definisi audit operasional seperti telah dijelaskan di atas, dapat disimpulkan bahwa audit operasional merupakan:
a. Proses yang sistematis
Seperti dalam audit laporan keuangan, audit operasional juga mencakup serangkaian langkah atau prosedur yang terstruktur dan terorganisasi. Aspek ini mencakup perencanaan yang tepat, mendapatkan dana secara objektif serta menilai bukti yang berkaitan dengan aktivitas yang diaudit.
Penilaian operasi organisasi didasarkan pada suatu kriteria yang ditetapkan atau yang disetujui. Dalam audit operasional, kriteria sering dinyatakan dalam standar kinerja (performance standards) yang ditetapkan oleh manajemen. Namun dalam beberapa hal, standar-standar ini mungkin juga ditetapkan oleh industri. Kriteria penilaian organisasi ini sering kali kurang jelas didefinisikan dibandingkan kriteria yang digunakan dalam audit laporan keuangan. Pemeriksaan operasional mengukur tingkat korespondensi antara kinerja aktual dengan kriteria penilaian yang telah ditetapkan.
c. Efektifitas, efisiensi dan ekonomi operasi
Tujuan utama dari audit operasional adalah membantu manajemen organisasi yang diaudit untuk dapat memperbaiki efektivitas, efisiensi dan ekonomi operasi organisasinya. Ini berarti bahwa audit operasional memfokuskan pada masa yang akan datang dan hal ini berlawanan langsung dengan audit laporan keuangan yang mempunyai fokus historis.
d. Melaporkan kepada orang yang tepat
Penerima laporan audit operasional yang tepat adalah manajemen atau individual yang meminta diadakannya audit, kecuali kalau pelaksanaan audit tersebut diminta oleh pihak ketiga, dan pembagian laporan dilakukan tetap dalam entitas bersangkutan.
Dalam kebanyakan hal, dewan komisaris atau panitia audit menerima salinan laporan audit operasional.
e. Rekomendasi atau perbaikan
Tidak seperti audit laporan keuangan, suatu audit operasional tidak berakhir samapai dengan pelaporan hasil temuan audit, melainkan diperluas untuk dibuatkannya rekomendasi-rekomendasi yang bertujuan untuk perbaikan manajemen organisasi yang diaudit. 2.3.2. Maksud dan Tujuan Audit Operasional
Audit operasional dimaksudkan terutama untuk mengidentifikasi kegiatan, program, aktivitas yang memerlukan perbaikan atau penyempurnaan dengan bertujuan untuk menghasilkan perbaikan atas pengelolaan struktur dan pencapaian hasil dari objek yang diperiksa dengan cara memberikan saran-saran tentang upaya-upaya yang dapat ditempuh guna pendayagunaan sumber-sumber secara efisien, efektif dan ekonomis. Dalam mengadakan pemeriksaan, titik berat perhatian utama diarahkan kepada kegiatan-kegiatan yang diperkirakan dapat diperbaiki di masa yang akan datang. Tujuan audit operasional tidak hanya ingin mendorong dilakukannya tindakan perbaikan tetapi juga untuk menghindari kemungkinan terjadinya kekurangan atau kelemahan di masa yang akan datang.
Menurut (Amin Wijaya Tunggal, 2001), ada beberapa tujuan dari audit operasional:
1. objek dari audit operasional adalah mengungkapkan kekurangan dan ketidakberesan dalam setiap unsur yang diuji oleh auditor dan untuk menunjukkan perbaikan apa yang dimungkinkan terjadi untuk memperoleh hasil yang terbaik dari operasi yang bersangkutan. 2. untuk membantu manajemen mencapai administrasi operasi yang
paling efisien.
3. mengusulkan pada manajemen cara-cara dan alat-alat untuk mencapai tujuan apabila manajemen organisasi sendiri kurang memiliki pengetahuan tentang pengelolaan yang efisien.
4. audit operasional bertujuan untuk mencapai efisiensi dari pengelolaan.
5. untuk membantu manajemen, audit atau operasi berhubungan dengan fase dari aktivitas usaha yang dapat merupakan dasar pelayanan pada manajemen.
6. untuk membantu manajemen pada setiap tingkat dalam pelaksanaan yang efektif dan efisien dari tujuan dan tanggung jawab mereka.
Sasaran audit operasional adalah kegiatan, aktivitas, program atau bidang-bidang organisasi yang diketahui atau diidentifikasi memerlukan perbaikan atau peningkatan dalam hal efektifitas, efisiensi dan ekonomisnya.
2.3.3. Tahap-Tahap Audit Operasional
Suatu audit operasional merupakan pekerjaan besar bagi siapapun yang melaksanakannya. Auditor dalam melaksanakan kegiatannya memerlukan kerangka tugas sebagai pedoman. Tanpa adanya kerangka yang tersusun baik, auditor akan banyak menghadapi kesulitan dalam melaksanakan pekerjaannya, mengingat bahwa struktur perusahaan maupun kegiatan sudah semakin maju dan rumit. Melalui kerangka ini, auditor akan mempunyai rencana pemeriksaan yang dapat dilakukan secara sistematis dan diharapkan akan mendapatkan hasil yang memadai.
Menurut (Arens dan Loebbecke, 2000), ada tiga tahap yang dilakukan dalam melakukan audit operasional yaitu:
1. perencanaan
perencanaan dalam audit operasional serupa dengan perencanaan untuk audit atas laporan keuangan historis. Seperti dalam audit laporan keuangan, auditor operasional harus menentukan lingkup penugasan dan menyampaikan hal itu kepada unit organisasional, juga perlu menentukan staff yang tepat dalam penugasan, mendapatkan informasi mengenai latar belakang unit organisasional, memakai struktur pengendalian intern, serta menentukan bahan bukti yang tepat yang harus dikumpulkan. Perbedaan utama antara perencanaan audit operasional dengan audit
laporan keuangan adalah sangat banyaknya keragaman dalam audit operasional. Oleh karena keragamannya, seringkali sulit menentukan tujuan khusus pada suatu audit operasional, sehingga tujuannnya akan didasarkan pada kriteria yang dikembangkan untuk penugasan.
2. pengumpulan dan evaluasi bahan bukti
dengan cara yang sama seperti pada audit keuangan, auditor operasional harus mengumpulkan cukup bahan bukti yang kompeten agar dapat menjadi dasar yang layak guna menarik suatu kesimpulan mengenai tujuan yang sedang diuji.
3. Pelaporan dan tindak lanjut
dua perbedaan utama dalam laporan audit operasional dan keuangan yang mempengaruhi laporan audit operasional. Pertama, dalam audit operasional, laporan biasanya dikirim hanya untuk pihak manajemen, dan satu salinan untuk unit yang diperiksa. Tidak adanya pemakaian pihak ketiga, mengurangi pembakuan kata-kata dalam laporan audit operasional. Kedua, keragaman audit operasional memerlukan penyusunan laporan secara khusus untuk menyajikan ruang lingkup audit, temuan-temuan dan rekomendasi-rekomendasi. Hubungan kedua faktor ini mengakibatkan banyak perbedaan dalam laporan audit operasional. Penulisan laporan seringkali memakan banyak waktu agar temuan-temuan dan
rekomendasi disampaikan secara jelas. Tindak lanjut merupakan hal yang biasa dalam audit operasional di saat rekomendasi-rekomendasi disampaikan kepada manajemen, yang tujuannya adalah untuk memastikan apakah perubahan-perubahan yang direkomendasikan telah dilakukan dan jika tidak apakah alasannya.
2.4. Persediaan
2.4.1. Pengertian Persediaan
Persediaan adalah bagian utama dalam neraca dan seringkali merupakan perkiraan yang nilainya cukup besar yang melibatkan modal kerja yang besar.
Menurut (standar akuntansi keuangan, 1999) persediaan adalah aktiva:
1. yang tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha normal; 2. dalam proses produksi dan atau dalam perjalanan; atau
3. dalam bentuk bagan atau perlengkapan (supplies) untuk digunakan dalam proses produksi atau pemberian jasa
Pengertian mengenai persediaan dalam hal ini adalah sebagai suatu aktiva yang meliputi barang-barang milik perusahaan dengan maksud untuk dijual dalam suatu periode waktu tertentu atau persediaan barang-barang yang masih dalam pengerjaan atau proses produksi,
ataupun persediaan bahan baku yang menunggu penggunaannya dalam suatu proses produksi.
Pada prinsipnya persediaan mempermudah atau memperlancar kegiatan operasi perusahaan, yang harus dilakukan secara berturut-turut untuk memproduksi barang-barang, serta selanjutnya menyampaikannya kepada para pelanggan atau konsumen. Adapun alasan diperlukannya persediaan oleh suatu perusahaan menurut Freddy Rangkuti (1996:2) adalah:
1. dibutuhkannya waktu untuk menyelesaikan operasi produksi dan untuk memindahkan produk dari suatu tingkat proses ke tingkat proses lainnya yang disebut persediaan dalam proses dan pemindahan
2. alasan organisasi, untuk memungkinkan suatu unit membuat jadwal operasinya secara bebas tidak tergantung dari yang lainnya.
Sedangkan persediaan yang diadakan mulai dari bentuk bahan mentah sampai barang jadi antara lain berguna untuk dapat:
1. menghilangkan resiko keterlambatan datangnya barang atau bahan-bahan yang dibutuhkan perusahaan.
2. menghilangkan resiko dari materi yang dipesan berkualitas atau tidak baik sehingga harus dikembalikan.
3. mengantisipasi bahwa bahan-bahan yang dihasilkan secara musiman sehingga dapat digunakan bila bahan itu tidak ada dalam pasaran.
4. mempertahankan aktivitas operasi perusahaan atau menjamin kelancaran arus produksi
5. mencapai penggunaan mesin yang optimal
6. memberikan pelayanan kepada pelanggan dengan sebaik-baiknya agar keinginan pelanggan pada suatu waktu dapat dipenuhi dengan memberikan jaminan tetap tersedianya barang jadi tersebut
7. membuat pengadaan atau produksi tidak perlu sesuai dengan penggunaannya atau penjualannya.
2.4.2. Jenis-Jenis Persediaan
Menurut (Harnanto, 1994), bagi perusahaan dagang yang di dalam usahanya adalah membeli dan menjual kembali barang-barang, pada umumnya persediaan yang dimiliki adalah:
1. persediaan barang dagangan, untuk menyatakan barang-barang yang dimiliki dengan tujuan akan dijual kembali di masa yang akan datang. Barang-barang ini secara fisik tidak akan berubah sampai barang tersebut dijual kembali.
2. lain-lain persediaan, seperti umumnya supplies kantor dan alat-alat pembungkus dan lain sebagainya. Barang-barang ini biasanya akan dipakai dalam jangka waktu relatif pendek dan akan dibebankan sebagai biaya administratif dan umum atau biaya pemasaran.
Bagi perusahaan manufaktur yang di dalam usahanya mengubah bentuk atau menambah nilai kegunaan barang, pada umumnya
mengklasifikasikan persediaan ke dalam berbagai kelompok sebagi berikut:
1. persediaan bahan baku, untuk menyatakan barang-barang yang dibeli atau diperoleh dari sumber-sumber alam yang dimiliki dengan tujuan untuk diolah menjadi produk jadi. Dalam hal bahan baku yang digunakan di dalam proses produksi berupa suku cadang dan harus dibeli dari pihak lain, maka barang-barang demikian sering disebut sebagai persediaan suku cadang.
2. persediaan produk dalam proses, meliputi barang-barang yang masih dalam pengerjaan yang memerlukan pengerjaan lebih lanjut sebelum barang itu dijual. Produk dalam proses, pada umumnya dinilai berdasarkan jumlah harga pokok bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik yang telah dikeluarkan atau terjadi sampai dengan tanggal tertentu.
3. persediaan produk jadi, meliputi semua barang yang diselesaikan dari proses produksi dan siap untuk dijual. Seperti halnya produk dalam proses, produk jadi pada umumnya dinilai sebesar jumlah harga pokok bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik yang diperlukan untuk menghasilkan produk tersebut.
4. persediaan bahan penolong, meliputi semua barang-barang yang dimiliki untuk keperluan produksi, akan tetapi tidak merupakan
bahan baku yang membentuk produk jadi, yang termasuk dalam kelompok persediaan ini antara lain minyak pelumas untuk mesin-mesin pabrik, lem, benang untuk menjilid dan buku-buku pada perusahaan percetakan.
5. lain-lain persediaan, misalnya supplier kantor, alat-alat pembungkus sperti halnya pada perusahaan dagang.
BAB III
KONSEP, DEFINISI OPERASIONAL DAN HIPOTESIS
3.1 Kerangka Konsep
Adapun faktor yang berhubungan dengan peningkatan laba adalah audit operasional, pengelolaan persediaan barang dagangan dan piutang. Namun tidak semua variabel diteliti dalam penelitian ini, dengan pertimbangan kepentingan peneliti dilapangan, keterbatasan kemampuan dan waktu peneliti. Peneliti hanya meneliti beberapa variabel saja yaitu audit operasional dan pengelolaan persediaan barang dagangan, maka kerangka konsep serta variabel dalam penelitian ini secara sistematis dapat digambarkan sebagai berikut :
Variabel Independen Variabel dependen
Keterangan:
: Variabel yang diteliti
: Variabel yang tidak diteliti Piutang Peningkatan Laba Pengelolaan Persediaan Barang dagangan Audit Operasional 31
3.2 Definisi Operasional
3.2.1 Variabel Independen 3.2.1.1 Audit Operasional
1. Pengertian : Pemeriksaan untuk mengetahui tingkat efisiensi sebuah kegiatan.
2. Cara Ukur : Wawancara 3. Alat Ukur : Kuesioner
4. Hasil Ukur : a. Pemeriksaan Operasional yang baik : Pemeriksaan yang baik adalah pemeriksaan yang dapat menemukan pemborosan dalam suatu kegiatan.
b. Pemeriksaan Operasional yang tidak baik Pemeriksaan yang tidak baik adalah pemeriksaan yang tidak dapat menemukan pemborosan dalam suatu kegiatan.
5. Skala Ukur : Ordinal
3.2.1.2 Pengelolaan persediaan barang dagangan
dengan tepat waktu dan harga yang murah. 2. Cara Ukur : Wawancara
3. Alat Ukur : Kuesioner
4. Hasil Ukur : a. Pengelolaan persediaan yang baik :
Pengelolaan persediaan yang baik adalah Menyediakan persediaan barang dagangan dengan tepat waktu dan harga yang murah
b. Pengelolaan persediaan yang tidak baik : Pengelolaan persediaan yang tidak baik adalah Menyediakan persediaan barang dagangan dengan tidak tepat waktu dan harga yang mahal.
5. Skala Ukur : Ordinal
3.2.2 Variabel dependen 3.2.2.1 Peningkatan laba
a. Pengertian : Jumlah laba yang bertambah dari tahun sebelumnya.
b. Cara Ukur : Wawancara c. Alat Ukur : Kuesioner
d. Hasil Ukur : 1. Terjadi peningkatan laba
Jika laba tahun yang bersangkutan lebih besar dari tahun sebelumnya.
2. Tidak terjadi peningkatan laba
Jika laba tahun yang bersangkutan lebih kecil atau sama dengan dari tahun sebelumnya
e. Skala Ukur : Ordinal
3.3 Hipotesis
Hipotesis yang dapat disampaikan penulis adalah sebagai berikut :
1. Ada hubungan Audit Operasional dan Pengelolaan Persediaan Barang Dagangan secara simultan terhadap peningkatan laba pada PT.Pupuk Sriwijaya Palembang.
2. Ada hubungan Audit Operasional secara parsial terhadap peningkatan laba pada PT. Pupuk Sriwijaya Palembang.
3. Ada hubungan pengelolaan persediaan barang dagangan secara parsial terhadap peningkatan laba pada PT. Pupuk Sriwijaya Palembang
BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah survey analitik menggunakan pendekatan cross sectional dimana tentang variable independent dan dependen diambil (diukur) dalam waktu bersamaan.
4.2 Waktu dan Tempat Penelitian 4.3.1 Waktu Penelitian
Waktu penelitian pada bulan Mei 2007 4.2.1 Tempat Penelitian
Lokasi penelitian ini pada PT. Pupuk Sriwijaya, Jl. Mayor Zen Palembang.
4.3 Populasi dan Sampel 4.3.1 Populasi
Populasi penelitian ini adalah seluruh staf Akuntansi PT. Pupuk Sriwijaya yang diperkirakan 40 orang.
4.3.2 Sampel
Pengambilan sampel penelitian menggunakan metode random dimana sampel diambil dari jumlah populasi yang diperlukan 20 orang
4.4 Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data untuk penelitian ini dengan prosedur sebagai berikut : 4.4.1Wawancara
Yaitu suatu teknik pengumpulan data dengan melaksanakan tanya jawab langsung kepada pegawai yang mempunyai wewenang untuk memberikan data dan informasi yang diperlukan dalam penulisan
4.4.2Observasi
Yaitu teknik pengumpulan data dengan mengadakan pengamatan-pengamatan secara langsung atau seksama pada pelaksanaan operasi perusahaan atau instansi, sejalan dengan judul diatas agar mendapatkan data yang objektif dan sistematis
4.4.3Library Research
Yaitu suatu teknik pengumpulan data dengan cara membaca buku-buku, referensi dan literature yang berhubungan dengan penyusunan laporan akhir.
4.5 Pengumpulan Data dan Analisa Data
Pengolahan data secara manual dengan cara-cara sebagai berikut : 4.5.1Coding
Coding adalah usaha mengklasifikasikan jawaban atau hasil yang ada meurut macamnya ke bentuk yang lebih ringkas dengan menggunakan kode-kode
4.5.2Editing (Pengeditan)
Editing adalah meneliti kembali apakah isian pada lembaran kuisioner sudah cukup baik dan dapat diproses editing langsung dilakukan ditempat data/lapangan sehingga jika terjadi kesalahan maka upaya pembentulan data dapat segera dilaksanakan.
Data yang telah selesai dikoding dan diediting lalu dimasukan ke dalam kartu tabulasi.
4.5.3Cleaning Data (Pembersihan Data)
Setelah pemakaian data selesai dan sudah benar-benar bebas dari kesalahan selanjutnya adalah melakukan pengujian kebenaran data.
4.6 Analisa Data
1. Analisa Univariat
Dengan cara menggunakan Analisa data Univariat, guna mengetahui hubungan Audit Operasional dan Pengelolaan Persediaan Barang Dagangan dalam meningkatkan Laba pada PT. Pusri ( Persero) Palembang Bulan Mei 2007.
2. Analisa Bivariat.
Data hubungan antara Audit Operasional dan Pengelolaan Persediaan Barang Dagangan dalam meningkatkan Laba pada PT. Pusri ( Persero) Palembang Bulan Mei 2007 dengan menggunakan statistik Chi Square. Dengan menggunakan rumus :
Dimana :
X² = Nilai X² hitung
[ ( AD – BC) – n/2]² n =
n = Jumlah Populasi df = [baris - 1] [kolom - 1]
α = 5 %
BAB V
HASIL PENELITIAN
5.1. Sejarah Singkat PT PUSRI (Persero) Palembang
PT. Pupuk Sriwijaja Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dibawah Departemen Perindustrian dan Perdagangan Republik Indonesia yang didirikan pada tanggal 24 Desember 1959, dengan Akte Notaris Eliza Pondang No.177
dengan status hukum Perseroan Terbatas (PT). PT. Pupuk Sriwijaja dicantumkan keberadaannya pada lembar Berita Negara No.46 sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang kegiatan utamanya adalah memproduksi pupuk urea dengan pemegang saham tunggal yaitu Pemerintah Republik Indonesia Pemegang sahamnya adalah Meteri Keuangan dan sebagai kuasa hukum adalah Meteri Perindustrian.
PT. Pupuk Sriwijaja (Persero) sejak berdirinya telah mengalami perubahan Badan Usaha sebagai berikut :
1. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No.20 tahun 1964 sejak bulan Mei 1964 berubah dari Perseroan Terbatas (PT) menjadi Perusahaan Negara (PN).
2. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No.20 tahun 1969 dengan Akte Notaris Soeleman Arjasasmita pada bulan Januari 1976 dikembalikan lagi menjadi Perseroan Terbatas (PT).
Saat ini kantor pusat berlokasi di Palembang di lingkungan area pabrik pupuk Pusri IB, Pusri II, Pusri III, dan Pusri IV Keempat pabrik tersebut pendiriannya dilakukan secara bertahap, yaitu :
1. Pada tahun 1963 didirikan pabrik pupuk urea pertama yaitu Pusri I dengan kapasitas terpasang sebesar 100.000 ton per tahun.
2. Pada tahun 1974 didirikan pabrik urea kedua yaitu Pusri II dengan kapasitas sebesar 380.000 ton per tahun, sejak tahun 1992 kapasitasnya bertambah menjadi 570.000 ton per tahun.
3. Pada tahun 1976 didirikan pabrik pupuk urea ketiga yaitu Pusri III dengan kapasitas terpasang 570.000 ton per tahun.
4. Pada tahun 1977 didirikan pabrik pupuk urea keempat yaitu Pusri IV dengan kapasitas 570.000 ton per tahun.
5. Pada tahun 1990 didirikan pabrik pupuk urea kelima yaitu Pusri IB dengan kapasitas terpasang 570.000 ton per tahun sebagai pengganti Pusri I karena usia teknisnya tidak memungkinkan dan secara efisien sudah tidak layak untuk dipergunakan lagi, tetapi Pusri IB ini mulai berproduksi tahun 1994.
Adapun faktor-faktor yang menyebabkan PT. PUSRI berkantor pusat dan pusat produksi di Palembang adalah :
1. Faktor bahan dasar yang diperlukan dalam pembuatan pupuk urea yang cukup banyak tersedia.
2. Faktor gas alam dimana untuk penyediaannya disanggupi PT. Stanvac Indonesia dengan kontrak selama 20 tahun dan selanjutnya disediakan oleh Pertamina.
3. faktor air sebagai bahan dan pendingin mesin yang tersedia yang diperoleh dari sungai Musi, dimana lakoasi Pabrik PT. PUSRI berada di tepi sungai Musi.
Disamping kantor pusat dan pabrik yang berlokasi di Palembang, PT. Pupuk Sriwijaja juga memiliki Kantor-Kantor Pemasaran Wilayah (KPW) yang tersebar di seluruh daerah tingkat II di Indonesia serta unit-unit pengantongan
Pupuk curah di Belawan, Cilacap, Semarang dan Meneng (Banyuwangi) berikut kapal-kapal angkutan pupuk curah dan armada kereta apai untuk mengangkut pupuk ke dalam kantong.
Akselerasi pembangunan di sektor agroindustri telah membuka peluang besar bagi industri pupuk di Indonesia. Industri pupuk nasional hampir dikatakan identik dengan Molding BUMN pupuk, dimana PT. PUSRI merupakan BUMN dengan pemegang saham tunggal adalah pemerintah Indonesia. Kemudian menyusul industri pupuk di tanah air antara lain pendirian PT. Petrokimia Gresik dan PT. Kujang pada tahun 1975, PT. Pupuk Kaltim tahun 1977, PT. Pupuk Iskandar Muda pada tahun 1982. berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No.28 tahun 1997 dan PP no.34 tahun 1998, industri pupuk di tanah air menjadi satu keluarga (Holding Company) atau satu wadah persatuan pupuk nasional guna menggalang persatuan diantara produsen-produsen pupuk dengan ditunjukkannya PT. PUSRI sebagai induk perusahaan (Operating
Holding Company) dengan anak perusahaan yaitu industri pupuk di tanah air.
Sejalan dengan perkembangan industri pupuk di tanah air, pemerintah Republik Indonesia melalui Peraturan Pemerintah nomor 17 tanggal 24 Juni 1997 dan nomor 28 tanggal 07 Agustus 1997 dengan akta notaris Imas Fatimah, SH nomor 47 tanggal 13 Agustus 1997 dan nomor 41 tanggal 14 Oktober 1997, menetapkan seluruh saham Pemerintah pada Industri pupuk PT. Pupuk Kujang, PT. Pupuk Iskandar Muda, PT. Pupuk Kalimantan Timur Tbk, dan PT.
Petrokimia Gresk sejumlah Rp. 1.829.290.000.000,00 dialihkan kepemilikannya kepada PT. PUSRI.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 34 tanggal 28 Februari 1998 menetapkan peralihan saham pemerintah sebesar Rp. 6.000.000.000,00 di PT. Mega Eltra kepada PT. PUSRI dan selanjutnya Menteri Negara Penanaman Modal dan Pembinaan BUMN dengan keputusan nomor Kep-26/M-PM/BUMN/2000 tanggal 03 Juni 2000, menyetujui kapitalisasi laba ditahan PT. Pupuk Kalimantan Timur Tbk. Sebesar Rp. 728.768.000.000,00 menjadi tambahan modal disetor.
PT Pupuk Sriwijaya yang lebih dikenal dengan singkatan PT PUSRI adalah salah satu perusahaan milik negara dengan tugas utama emproduksi pupuk ke seluruh wilayah Indonesia. Dalam mengembangkan usahanya, PT PUSRI mempunyai visi dan misi untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Adapun visi dan misi tersebut adalah:
Visi
“Menjadi perusahaan kelas dunia dalam industri pupuk, petrokimia dan jasa-jasa teknik melalui maksimasi nilai untuk perusahaan dan kepuasaan pelanggan“.
Misi
“Memproduksi dan memsarkan pupuk untuk Ketahanan Pangan Nasional (Swasembada Pangan), produk-produk kimia dan jasa-jasa teknik di pasar nasional dan global dengan memperhatikan aspek mutu secara menyeluruh”.
Sebagai BUMN, PT PUSRI mengemban nilai dalam rangka pembangunan nasional yaitu :
1. Sebagai unit usaha (Economic Unit)
PT PUSRI harus mampu mengelola modal yang dipercayakan kepadanya sehingga mendatangkan untung dan mampu membayar operasinya sendiri dan mampu menghasilkan surplus dari perputaran modal tersebut.
2. Sebagai penggerak pembangunan (Agent of Development)
Sejalan dengan program pemerintah dalam pembangunan perekonomian nasional seperti yang tertera dalam UUD 1945, GBHN telah secara jelas dan tegas menunjukkan bahwa dalam kegiatan ekonomi termasuk industri harus dihindarkan timbulnya “etatisme” dan sistem “free fight lineralism”, maka dalam hubungan inilah PT. PUSRI diharapkan kontribusinya yaitu sebagai penggerak pembangunan dalam perekonomian industri baik untuk wilayah Sumatera Selatan maupun nasional antara lain dengan program “Bapak Angkat”.
3. Sebagai Stabilator
Pengadaan pupuk adalah masalah yang tidak dapat dipisahkan dari masalah stabilisasi pengadaan/penyediaan pangan nasional perusahaan mendapat kepercayaan untuk ikut serta mengelola pengadaan pupuk nasional, buka saja pupuk yang berasal dari produksi sendiri tetapi juga pupuk dari unit-unit produksi lainnya serta dari impor dengan prinsip 6 tepat yaitu : tepat jumlah, waktu, jenis, tempat, harga, dan pembayaran (PT. PUSRI ditunjuk
sebagai penyalur tunggal dalam pengadaan penyediaan serta penyaluran pupuk untuk kebutuhan dalam negeri).
Adapun tujuan perusahaan adalah untuk turut melaksanakan dan menunjang kebijaksanaan program pemerintah di bidang ekonomi dan pembangunan pada umumnya, khususnya di bidang industri pupuk dan industri kimia lainnya, disamping menyelenggarakan kegiatan distribusi dan perdagangan baik dalam maupun di luar negeri yang berhubungan dengan produk-produk tersebut diatas.
5.2. Analisis Data
5.2.1. Analisis Univariat
Analisis data ini dilakukan untuk mengetahui distribusi frekuensi dan persentase dari variabel independen (Audit Operasional dan Pengelolaan Barang Dagangan) dengan variabel dependen ( Peningkatan Laba ). Jumlah sampel yang diambil dalam penelitian ini sebanyak 58 orang, data ini disajikan dalam bentuk tabel dan teks.
Pada penelitian ini audit operasional dikategorikan menjadi dua yaitu cukup dan tidak cukup yang akan diuraikan pada tabel dibawah ini.
Tabel 5.1
Distribusi Frekwensi Responden Berdasarkan audit operasional di PT.Pusri Palembang Bulan Mei Tahun 2007
Audit Operasional Jumlah Presentase
Cukup 25 43,1
Tidak Cukup 33 56,9
Jumlah 58 100
Dari tebel 5.1 diatas dapat diketahui audit operasional dengan mendapat audit operasional 43,1% dibandingkan tidak mendapat kompensasi 56,9%.
b. Pengelolaan Persediaan Barang Dagangan
Pada pengelolaan persediaan barang dagangan ini pengelolaan persediaan barang dagangan dikategorikan dalam dua kelompok yaitu baik dan tidak baik yang akan diuraikan pada tabel dibawah ini.
Tabel 5.2
Distribusi Frekwensi Responden Berdasarkan pengelolaan persedian barang dagangan di PT.Pusri Palembang Bulan Mei Tahun 2007 Pengelolaan Persedian Barang Dagangan Jumlah Presentase Baik 28 48,2 Tidak Baik 30 51,7 Jumlah 58 100
Dari tebel 5.2 diatas dapat diketahui bahwa pengelolaan persedian barang dagangan dengan pengelolaan persedian barang dagangan baik 48,2% dibandingkan pengelolaan persedian barang dagangan tidak baik 51,7%.
5.2.2. Analisis Bivariat
Analisis ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara variabel Independen (Audit Operasi dan Pengelolaan Persediaan Barang Dagangan) dengan variabel dependen (Peningkatan Laba).
Penelitian ini menggunakan uji statistik Chi-square pada α=0,05 dan df=1 dengan batas kemaknaan X² tabel > 3,841 bila X² hitung > x² tabel yang berarti ada hubungan yang bermakna (signifiken) dan apabila X² hitung < dari X² tabel maka tidak ada hubungan yang bermakna.
a. Hubungan Audit Operasional dengan Peningkatan Laba
Audit operasional dengan kejadian peningkatan Laba dapat di kategorikan menjadi dua kolompok yaitu cukup ( ) dan tidak cukup ( )dengan jumlah responden 58 orang dapat dilihat pada tabel 5.3 dibawah ini :
Tabel 5.3
Hubungan Antara Audit Operasional Dengan Peningkatan Laba PT. Pusri Palembang Mei Tahun 2007
19 76 6 24 25 100 8 24,2 25 75,8 33 100 27 31 58 Kemaknaan Audit Operasional Kurang Peningkatan Peningkatan Cukup %
Variabel Terjadi Tidak Terjadi Jumlah Peningkatan Laba Jumlah n % n % Bermakna X²=13,3 N
Dari tabel 5.3 diatas dapat diketahui bahwa proporsi karyawan yang mengalami peningkatan laba yang audit operasional tinggi 76% dibandingkan dengan yang audit operasional rendah 24,2% yang mengalami kenaikan laba.
Dari hasil uji Chi-Square pada pada α=0,05 dan df=1 dimana X² hitung = 35,9 lebih besar dari X² tabel = 3,841 ini berarti ada hubungan yang bermakna antara audit operasional dengan peningkatan laba.
b. Hubungan Pengelolaan Persediaan Barang Dagangan dengan Peningkatan Laba
Pengelolaan persediaan barang dagangan dengan kejadian Peningkatan Laba dapat di kategorikan menjadi dua kolompok yaitu baik ( ) dan tidak baik ( ) dengan jumlah responden 58 orang dapat dilihat pada tabel 5.4 dibawah ini:
Tabel 5.4
Hubungan Antara Pengelolaan Persediaan Barang Dagangan Dengan Peningkatan Laba PT. Pusri Palembang Mei Tahun 2007
21 75 7 25 28 100 5 16,7 25 83,3 30 100 26 32 58 Kemaknaan Pengelolaan Tidak Baik Peningkatan Peningkatan Baik % Persediaan
Variabel Terjadi Tidak Terjadi Jumlah Peningkatan Laba Jumlah n % n % Bermakna X²=17,6 N
Dari tabel 5.4 diatas dapat diketahui bahwa proporsi karyawan yang mengalami peningkatan laba yang baik 75% dibandingkan dengan yang ytidak baik 16,7% yang mengalami kenaikan laba.
Dari hasil uji Chi-Square pada pada α=0,05 dan df=1 dimana X² hitung = 35,9 lebih besar dari X² tabel = 3,841 ini berarti ada hubungan yang bermakna antara pengelolaan barang dagangan dengan peningkatan laba.
BAB VI PEMBAHASAN
Penelitian ini dilakukan di PT Pusri Palembang bulan Mei – Juni tahun 2007, sampel penelitian berjumlah 58 responden yaitu sebagian karyawan yang bekerja di Di PT Pusri Palembang. Sampel ini menurut Arikunto (1998) jika populasi lebih dari 100 maka sampel diambil 10-15 % jika populasi kurang dari 100 maka seluruh populasi dijadikan sampel.
Selanjutnya data yang telah dikumpulkan dengan chek lists yang terdiri dari analisis univariat dan analisis bivariat dilakukan uji statistik Chi-Square.
Pada penelitian yang dilakukan di PT. Pusri Palembang Bulan Mei – Juni tahun 2006 peneliti hanya membahas variabel Biaya Operasional dan Pengelolaan Persedian.
6.1. Biaya Operasional
Dari hasil penelitian yang dilakukan di PT Pusri Palembang bulan Mei – Juni tahun 2007 didapatkan analisis univariat dari 58 responden. Dari hasil analisis bivariat tidak terdapat hubungan yang bermakna antara Audit operasional dengan Peningkatan laba dengan nilai X2 hitung =13.3 > X2 tabel = 3,481.
Dengan demikian hipotesa yang menyatakan bahwa ada hubungan yang bermakna antara Audit Operasional dengan Peningkatan laba yang tepat terbukti.
6.2. Pengelolaan Persediaan
Dari hasil penelitian dilakukan di PT. Pusri Palembang bulan Mei – Juni tahun 2007 didapatkan analisis univariat dari 58 responden.
Dari hasil analisis bivariat terdapat hubungan yang bermakna antara keturunan ibu dengan kejadian kehamilan kembar dengan nilai X2 hitung = 17,6> X2 tabel = 3,841.
Dengan demikian hipotesa yang menyatakan bahwa ada hubungan antara Pengelolaan Persediaan dengan Peningkatan laba yang tepat terbukti.
BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN
7.1. Kesimpulan
1. Karyawan yang mengatakan Audit Operasional cukup maka terjadi peningkatan laba 76 % dan Audit Operasional cukup maka tidak terjadi peningkatan laba 24 %.
2. Karyawan yang mengatakan Audit Operasional kurang maka terjadi peningkatan laba 24,2% dan Audit Operasional kurang maka tidak terjadi peningkatan laba 75,8%.
3. Karyawan yang mengatakan Pengelolaan Persediaan baik maka terjadi peningkatan laba 75 % dan Pengelolaan Persediaan baik maka tidak terjadi peningkatan laba 25%
4. Karyawan yang mengatakan Pengelolaan persediaan tidak baik maka terjadi peningkatan laba 16,7% dan Pengelolaan persediaan tidak baik maka tidak terjadi peningkatan laba 83,3%.
5. Adanya hubungan yang bermakna antara Audit Operasional dengan Peningkatan laba di PT. Pusri Palembang tahun 2007 dengan X2 =13,3
6. Adanya hubungan yang bermakna antara Pengelolaan Persediaan dengan Peningkatan laba di PT. Pusri Palembang tahun 2007 dengan X2 = 17,6
7.2. Saran
1. Bagi Pimpinan PT. Pusri
a. Agar melaksanakan Audit Operasional dengan lebih baik lagi untuk meningkatan laba.
b. Agar mengelola persediaan dengan lebih baik untuk meningkatkan laba.
Pada penelitian yang akan datang agar dapat meneliti variabel-variabel yang belum diteliti sesuaikan dengan kondisi perusahaan yang diteliti.
Lampiran 1
CHEK LIST
HUBUNGAN AUDIT OPERASIONAL DAN PENELOLAHAN PERSEDIAAN BARANG DAGANGAN TERHADAP PENINGKATAN LABA PADA PT
PUSRI PALEMBANG BULAN MEI TAHUN 2007
No Nama
Audit Operasional Pengelolaan
Persediaan Peningkatan Laba Cukup Kurang Baik Tidak
Baik Meningkat
Tidak Meningkat
2. Yulita Sari 3. Meli Yanita T 4. Nur fitria 5. Dhana Rizka 6. Devi Noviani 7. M. Taupan 8. Abi Ubaid 9. Yuli 10. Susiana 11. Didi Setiawan 12. Permata Sari 13. Dini Wahyuni 14. Reksi Yulistha 15. Ayu Febriani 16. Puria Asih 17. Maria Fadillah 18. Vevy Karlina 19. Engga Kela 20. Evi Efriani 21. Dwi Puspita 22. Ria Oktarina 23. Dahniar
24. Ade Lia Sepriani
25. Arema Yuana 26. Fitria Yanti 27. Melati Desiria 28. Deci indrawati 29. Yeni Wahyuni 30. Eva Oktarina 31. Astri Ningrum 32. Muhammad 33. Farid 34. Aini Meilita 35. Wenti Aisyah 36. Raden Ayu 37. Sari 38. Rica Savitri 39. Tenni 40. Mira Febrianti 41. Nyayu Atika 42. Erlis Kristian 43. Wiwin 44. Ridha Ferlani 45. M. Rizky 46. Lina Yatina 47. Budi Nugroho 48. Rika Oktaria
49. Soni Oktopin 50. Puspita Sari 51. M. Idrus 52. Kartika Sari 53. R. Akmad 54. Anasiska 55. Dewi Puspita 56. Husna 57. Yudi 58. Santi Apriani 59. Karlina S. 60. Gustina 61. Elva asmanti 62. Rita 63. Heryanina 64. Anggra 65. Dona 66. Linda Marinda 67. Wenny 68. Arieo irawan 69. Febri 70. Achmad Padjri
Lampiran 2
Tabel 5.5
Hubungan Antara Audit Opersional Dengan Peningkatan Laba PT. Pusri Palembang Mei Tahun 2007
19 76 6 24 25 100 8 24,2 25 75,8 33 100 27 31 58 Kemaknaan Audit Operasional Kurang Peningkatan Peningkatan Cukup %
Variabel Terjadi Tidak Terjadi Jumlah Peningkatan Laba Jumlah n % n % Bermakna X²=13,3 N (AD – BC) – n/2 ² X² = n (A + B) (C + D) (A + C) (B + D) (19.25 – 6.8) – 58/2 ² X² = 58 (19 + 6) (8 + 25) (19 + 8) (6 + 25) (475 – 48) – 29 ² = 58 (25) (33) (27) (31) (398) ² = 58 690525 (158404) = 58 690525 9187432 = 690525 = 13,3
Lampiran 3
Tabel 5.8
Hubungan Antara Pengelolaan barang dagangan Dengan Peningkatan Laba PT. Pusri Palembang Mei Tahun 2007
21 75 7 25 28 100 5 16,7 25 83,3 30 100 26 32 58 Kemaknaan Pengelolaan Tidak Baik Peningkatan Peningkatan Baik % Persediaan
Variabel Terjadi Tidak Terjadi Jumlah Peningkatan Laba Jumlah n % n % Bermakna X²=17,6 N (AD – BC) – n/2 ² X² = n (A + B) (C + D) (A + C) (B + D) (21.25 – 7.5) – 58/2 ² X² = 58 (21 + 7) (5 + 25) (21 + 5) (7 + 25) (525 – 35) – 29 ² = 58 (28) (30) (26) (32) (461) ² = 58 698880 (212521) = 58 698880 12326218 = 698880 = 17,6
3.1. Struktur Organisasi, Pembagian Fungsi dan Tanggung Jawab PT PUSRI (Persero) Palembang
3.1.1. Struktur Organisasi
Sebagai komporat organisasi PT. PUSRI dipimpin oleh seorang direktur utama bersama lima orang direktur lainnya yang diawasi oleh Dewan Komisaris sebagai wakil pemegang saham Organisasi PT. PUSRI terdiri dari Direktorat Utama, Direktorat Produksi, Direktorat Komersil, Direktorat Teknis dan Perekayasaan. Direktorat Keuangan, dan Direktorat Litbang. Dibawah Direktorat dibentuk subdirektorat pada unit penunjang (fungsional) dan kompartemen pada unit operasional dengan tugas sebagai koordinator aktivitas kepala biro atau kepala divisi.
Oleh karena itu dikeluarkan Surat Keputusan (SK) Direksi tahun 1994 tentang struktur organisasi PT. PUSRI Berdasarkan SK tersebut yang disesuaikan dengan struktur BUMN di seluruh Indonesia. Struktur organisasi dipimpin oleh Direksi dan diawasai oleh Dewan Komisaris yang ditetapkan oleh Meteri Keuangan selaku pemegang saham Struktur organisasi PT. PUSRI terbagi dalam enam direktorat, yaitu direktorat utama, produksi, komersial, teknik dan perekayasaan, keuangan, dan limbang yang masing-masing membawahi unit-unit atau operasional, subdirektorat sebagai koordinator dan pengawasan
terhadap biro yang membawahi unit-unit pendukung operasional. Hirarki jabatan tersebut adalah :
1. Tingkat Direksi
2. Tingkat Kepala Sub Direktorat 3. Tingkat Kepala Departemen (Kadep) 4. Tingkat Kepala Divisi (Kadiv) 5. Tingkat Kepala Dinas (Kadis) 6. Tingkat Kepala Bidang (Kabid) 7. Tingkat Kepala Urusan (Kaur) 8. Tingkat Staff
9. Tingkat Pelaksana
Berdasarkan Surat Keputusan (SK) Direksi tahun 2002, nomor SK/DIR/020/2002 tanggal 1 April 2002 tentang Penyempurnaan Organisasi PT. PUSRI, setelah dilakukan perubahan organisasi yang mendasar sebagai tindak lanjut dari program Restrukturisasi Organisasi dan SDM Dalam Surat Keputusan itu dilakukan perubahan organisasi dan informasi tenaga kerja di beberapa tempat kerja dengan berprinsip pada efisiensi penggunaan tenaga kerja organik dan penggunaan jasa borongan kerja.
Adapun beberapa penyesuaian yang dilakukan adalah sebagai berikut.
1. Peran Sekretaris Perusahaan ditambah dengan masalah hukum bisnis (menggabungkan Dinas Hukum) untuk mendukung aspek compliance officer.
2. Perubahan tanggung jawab pemeliharaan tahunan pabrik (turnaround pada fungsi Jasa Teknik (plan service) Dengan demikian unit-unit perbengkelan telah dipindahkan dari Departemen Pemeliharaan ke Departemen Jasa Teknik unit Pemasaran Produk Samping dialihkan ke Unit Pemasaran sebagai salah satu dicersifikasi pemasaran dan pemusatan pemasaran ke satu tangan.
3. Fungsi Departemen Pelatihan dan SDM dan Departemen Teknologi Informasi beralih ke Direktorat Litbang, dengan demikian fungsi manajemen dipusatkan ke Dinas Sistem Manajemen yang semula akan dilakukan oleh unit BP-PMT, Sekretariat ISO dan juga pengelolaan Sistem dan Prosedur serta untuk meningkatkan peran Teknik Informasi sebagai
supporting dalam perencanaan pengembangan dan
pengelolaan data untuk seluruh unit kerja.
4. Fungsi pengelolaan administrasi kesejahteraan karyawan yang semula juga dilakukan oleh Yayasan Karyawan, Dana
Pensiun Karyawan dan Rumah Sakit dipusatkan ke Departemen Ketenagakerjaan.
Hal ini dilakukan dalam rangka melakukan efisiensi dan meningkatakan kinerja perusahaan untuk menghadapi persaingan yang semakin ketat. Langkah yang dilakukan oleh PT. PUSRI adalah melalui program assesment untuk mendapatkan karyawan dengan kualifikasi kompetensi dan motivasi tinggi. Untuk keperluan tersebut perusahaan menawarkan kepada karyawan untuk mengikuti Program Pensiun Dini : (PADINI) atau Golden Shake Hand (GST). Dalam tahun 2001 realisasi program PADINI sebanyak 1.079 orang dan PT. PUSRI menerima sebanyak 200 orang karyawan tamatan SMU dan Diploma (D3) untuk ditempatkan sebagai karyawan pabrik.
Dalam rangka memacu produktivitas karyawan PT. PUSRI mengupayakan peningkatan kualitas SDM secara berkesinambungan malalui program pendidikan dan pelatihan yang dirancang sistematis. Program pendidikan dan pelatihan ini diselenggarakan sesuai dengan kebutuhan dan disiplin dalam profesi masing-masing berupa pendidikan dan pelatihan teknis dan umum.
Sebagai bagian dari hubungan industrial yang harmonis, pembinaan SDM juga mencakup aspek kesejahteraan karyawan Dalam hal ini perusahaan memberikan beberapa insentif pendapatan serta menyediakan berbagai fasilitas kesejahteraan karyawan yang berupa
sarana kesehatan, rumah dinas, fasilitas rekreasi, olah raga, tempat ibadah, serta pendidikan sekolah untuk anak atau keluarga serta program pensiun
Sumber: Humas PT PUSRI
3.1.2. Pembagian Fungsi dan Tanggung Jawab
Dilihat dari struktur organisasi dari PT. PUSRI Palembang dapat disimpulkan bahwa struktur organisasi yang digunakan adalah struktur organisasi fungsional, ciri-cirinya bahwa setiap manajer adalah seorang ahli dan masing-masing atasan mempunyai bawahan Struktur organisasi itu sangat cocok untuk organisasi produksi.
DIREKTORAT DIREKTORAT PRODUKSI DIREKTORAT KOMERSIL DIREKTORAT TEKNIK & PEREKAYASAAN DIREKTORAT KEUANGAN DIREKTORAT LITBANG KOMPAREMEN PRODUKSI Dep. Operasil Dep. PKJ Dep.Teknik Produksi Dep.Operasi III Dep.Pemeliharaan KOMPAREMEN NIAGA Dep. Pengadaan & Produksi Dep. SAR & Wilayah I Dep. SAR & Wilayah III
KOMPAREMEN TEKNIK & JASA
Dep. Jasa Rancang Bangan
Dep. Pekumpulan & Penggotongan Dep. Jasa - jasa Teknik Dep. Logistik
KOMPAREMEN ADM & Keuangan Dep. Keuangan Dep. Akuntasi Dep. Umum Dep. Pembangunan & Lingkungan KOMPAREMEN LITBANG Dep. Litbang Dep. Pelatihan & Perkembang SDAN
Dep.Perencanaan Dep. Teknalogi Infarmasih
Secara singkat akan diuraikan tugas dari masing-masing departemen :
1. Direktorat Utama
- Menjalankan perusahaan sesuai dengan prinsip-prinsip bisnis peraturan daerah dan perundang-undangan yang berlaku.
- Mengkoordinasi, mengendalikan membina dan mengawasi semua kegiatan perusahaan.
- Mengadakan konsultasi dan kerjasama dengan industri terkait baik pemerintah dan swasta.
- Membuat laporan kegiatan perusahaan secara berkala 2. Direktorat Produksi
- Membantu dan melaksanakan garis kebijaksanaan yang ditetapkan oleh Direktur Utama
- Mengawasi, mengendalikan, mengkoordinasi dan memberikan petunjuk/pembinaan dalam pelaksanaan produksi yang terdiri dari beberapa departemen antara lain:
a. Departemen Operasi I b. Departemen PKL
c. Departemen Teknik Produksi d. Departemen Operasi III e. Departemen Pemeliharaan