• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prosiding Inovasi Teknologi Ramah Lingkungan 2013

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Prosiding Inovasi Teknologi Ramah Lingkungan 2013"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

POTENSI LEMBAGA PERBENIHAN DALAM PENYEDIAAN BENIH PADI

DI PROVINSI BENGKULU

Wahyu Wibawa dan Yesmawati

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bengkulu

Jl. Irian Km. 6,5. Telp. 0736 23030 E-mail [email protected]

ABSTRAK

Sistem perbenihan yang tangguh diperlukan untuk mendukung peningkatan penyediaan benih padi dan produksi beras nasional. Peran lembaga perbenihan sangat penting dalam penyediaan benih berkualitas. Tujuan dari pengkajian ini adalah: (1)Menginventarisir potensi, kinerja, dan permasalahan kelembagaan perbenihan padidi Provinsi Bengkulu, (2)Membuat peta/mapping potensi dan kinerja kelembagaan perbenihan padi di Provinsi Bengkulu, (3)Mengkaji sinergisitas kinerja perbenihan di Provinsi Bengkulu, (4). Mendapatkan alternatif strategi dalam pengembangan kelembagaan perbenihan di Provinsi Bengkulu.Pengkajian dilaksanakan di 10 kabupaten/kota di Provinsi Bengkulu dari bulan April - Juni 2013.Dua metode digunakan dalam pengumpulan data yang di perlukan yaitu dengan survey dan FGD. Profil kelembagaan perbenihan ditabulasi selanjutnya dianalisis secara deskriptif dan dipetakan. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa: (1). Kondisi dan kinerja lembaga perbenihan (BBI/BBU) di Provinsi Bengkulu belum optimal dan mempunyai permasalahan yang cukup komplek yang tunjukkan oleh rendah dan lemahnya produksi benih, sarana dan prasarana, SDM, infrastruktur, struktur organisasi, dan sistem pembiayaan, (2) Lembaga perbenihan (BBI/BBU) hanya mampu menyediakan 10-15% benih berkualitas di Provinsi Bengkulu, (3). Belum terjalin koordinasi, sinergi dan networking yang baik antar lembaga perbenihan di tingkat Kabupaten maupun Provinsi, (4) Perlu revitalisasi lembaga perbenihan dengan fokus pada penguatan status kelembagaan, tupoksi, pembiayaan, SDM, infrastruktur dan sarpras.

Kata Kunci:Padi, lembaga perbenihan

PENDAHULUAN

Peningkatan produksi padi tidak terlepas dari ketersediaan dan adopsi teknologi. Swasembada beras sangat dipengaruhi oleh pemanfaatan varietas unggul, peningkatan sarana dan prasarana pertanian (khususnya jaringan irigasi), teknik budidaya, dan rekayasa kelembagaan (Nugraha

et al

., 2007). Instrumen yang digunakan dalam peningkatan produksi adalah: 1. Perluasan areal (pencetakan sawah baru, optimalisasi lahan, dan peningkatan Indeks Pertanaman (IP); 2. Peningkatan produktivitas (penggunaan varietas unggul, pemupukan, pengendalian OPT: pendekatan Pengelolaan Tanaman dan sumberdaya Terpadu (PTT)); 3. Rekayasa teknologi dan sosial (Demplot, Demfarm dan SL-PTT).

Penggunaan benih unggul menunjukkan kontribusi terbesar terhadap produksi dibandingkan dengan penerapan teknologi lainnya (Saryoko, 2009; Badan Litbang Pertanian, 2011).Penggunaan varietas padi unggul yang berdaya hasil tinggi, responsif terhadap pemupukan dan toleran terhadap serangan hama penyakit utama telah terbukti dapat meningkatkan produktivitas, efisiensi produksi, dan kecukupan pangan (Suprihatno

et al

., 2010; Wahyuni, 2011).

Secara umum, penggunaan benih unggul bersertifikat masih relatif rendah. Salah satu penyebab dari rendahnya pemanfaatan benih unggul bermutu adalah lemahnya peran kelembagaan perbenihan dalam pembinaan (penyediaan, informasi, dan distribusi) ke petani (Badan Litbang Pertanian, 2011). Kelembagaan perbenihan adalah unit–unit kerja yang secara terorganisir melakukan aktivitas di bidang perbenihan. Menurut Daradjat

et al

. (2008), lebih dari 60 persen benih padi yang digunakan oleh masyarakat berasal dari sektor informal yaitu berupa gabah yang disisihkan dari sebagian hasil panen musim sebelumnya yang dilakukan berulang-ulang. Petani padi di Bengkulu umumnya belum menggunakan benih varietas unggul yang berlabel. Menurut Wahyu

et al.

(2011), tingkat ketergantungan petani di Provinsi Bengkulu terhadap pembagian benih varietas unggul baru (VUB) padi masih cukup tinggi (63,75%). Kesadaran petani untuk membeli VUB di kios masih rendah, sehingga jika tidak ada bantuan VUB dari pemerintah, para petani cenderung menggunakan benih yang dihasilkan dari pertanamannya sendiri (Wahyu

et al

., 2011).

(2)

TUJUAN

Tujuan dari pelaksanaan pengkajian mapping potensi BBI dan BBU dalam penyediaan benih berkualitas di Provinsi Bengkulu pada tahun 2013 adalah:

1. Menginventarisir potensi, kinerja, dan permasalahan kelembagaan perbenihan padi di Provinsi Bengkulu.

2. Membuat peta/mapping potensi dan kinerja kelembagaan perbenihan padi di Provinsi Bengkulu.

METODE PENELITIAN Waktu dan Lokasi

Pengkajian dilaksanakan di 10 kabupaten/kota di Provinsi Bengkulu dari bulan April - Juni 2013. Pengkajian dilakukan pada lembaga perbenihan yang terdiri atas Dinas Pertanian Provinsi, BPSB Provinsi, BBI padi dan palawija Provinsi Bengkulu, Dinas Pertanian kabupaten/kota, petani penangkar di Kabupaten Mukomuko, Lebong, Rejang Lebong, Kepahiang, Bengkulu Tengah, Bengkulu Utara, Kota Bengkulu, Seluma, Bengkulu Selatan, dan Kaur.

Pengumpulan Data

Dua metode digunakan dalam pengumpulan data yang di perlukan yaitu dengan survey dan FGD. Survey dilakukan untuk menghimpun data potensi dan kinerja lembaga perbenihan yang ada di Provinsi Bengkulu dengan menggunakan daftar/blanko isian yang sudah disiapkan. Survey juga dilakukan terhadap petani penangkar dilakukan pada 100 orang petani penangkar di 10 Kabupaten/kota. Sampel petani penangkar ditentukan dengan metode

Simple Random Sampling

.

Data dan informasi yang digunakan dalam pengkajian ini berupa data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data yang secara langsung diperoleh dari responden mengenai kinerja kelembagaan perbenihan dengan melakukan wawancara menggunakan kuesioner yang telah dipersiapkan. Selain itu, data primer juga diperoleh melalui FGD dan wawancara secara mendalam (

depth interview

) dengan responden dalam hal ini adalah kelembagaan perbenihan (BBI, BBU, BBP, Petani Penangkar dan Swasta). Data sekunder diperoleh dari data-data yang sudah tersedia antara lain profil kelembagaan perbenihan (BBI, BBU, BBP, Petani Penangkar dan Swasta) dan pihak instansi yang terkait dengan pengkajian ini.

Analisis Data

Data profil kelembagaan perbenihan yang diperoleh ditabulasi selanjutnya dianalisis secara deskriptif dan dipetakan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

(3)

Tabel 1. Profil lembaga perbenihan padi di Provinsi Bengkulu tahun 2013.

- Saluran air irigasi rusak sehingga pemanfaatan

- Saluran air irigasi rusak sehingga pemanfaatan lahan tidak optimal - Anggaran dan SDM terbatas

Balai

- Saluran air irigasi rusak sehingga pemanfaatan lahan tidak optimal - Anggaran dan SDM terbatas - SDM Terb

(4)

Tabel 1 menunjukkan bahwa lembaga perbenihan di Provinsi Bengkulu masih belum tangguh dan sehat. Hal ini dikaitkan dengankemampuan produksi, efisiensi, daya saing, dan keberkelanjutan organisasi belum tergambar secara jelas. Kondisi ini juga memberikan gambaran bahwa lembaga perbenihan belum mendapatkan perhatian yang cukup serius.

Jika dicermati dari segi agroekosistemnya, terutama ketinggian tempatnya, lembaga perbenihan posisinya berada pada kategori dataran rendah hingga dataran menengah (14 -628 m di atas permukaan laut, dpl). Varietas spesifik lokasi yang adaptif juga perlu diketahui oleh pengelola lembaga perbenihan agar dapat memilih varietas yang adaptif, tepat dan sesuai dengan preferensi petaninya. Ke depan lembaga perbenihan daerah hendaknya tidak hanya berperan sebagai penyedia benih, tetapi juga bersinergi dengan para penyuluh untuk mendiseminasikan varietas-varietas yang dihasilkan agar ada akselerasi adopsi dan difusi antar petani.

Dari 10 kabupaten/kota di Provinsi Bengkulu ternyata baru ada 6 kabupaten/kota yang memiliki lembaga perbenihan. Empat kabupaten yang tidak memiliki lembaga perbenihan adalah Kabupaten Seluma, Bengkulu Utara, Bengkulu Tengah dan Kepahiang. Bengkulu Utara dan Seluma merupakan sentra produksi padi di Provinsi Bengkulu tetapi tidak memiliki lembaga perbenihan. Kondisi ini menunjukkan bahwa lembaga perbenihan belum mendapatkan perhatian, walaupun telah disadari bahwa benih merupakan salah satu komponen teknologi yang mampu mengungkit produktivitas dan produksi beras. Kondisi ini mungkin juga berkaitan dengan kebijakan ataupun regulasi pemerintah pusat, terutama dalam pengadaan benih unggul berbantuan seperti BLBU maupun benih bersubsidi. Regulasi penyaluran BLBU dan benih bersubsidi membuat penangkar maupun lembaga perbenihan di daerah tidak bergairah, dikaitkan dengan harga dan sasaran pasar. Sebagai gambaran, pada tahun 2013, sekitar 60-70% dari luas areal tanam sudah mendapatkan program SL-PTT, dengan benih bersubsidi.

Dilihat dari aspek kelembagaannya, penamaan lembaga perbenihan di tiap kabupaten berbeda-beda. Tujuh lembaga perbenihan yang diidentifikasi yaitu Balai Benih Induk Padi dan Palawija (Provinsi Bengkulu), Balai Benih Padi dan Palawija (Kabupaten Rejang Lebong), Balai Benih Padi dan Palawija (Kabupaten Lebong), Balai Benih Induk (Kabupaten Mukomuko), Balai Benih Utama Padi (Kabupaten Kaur), Balai Benih Pembantu (Kabupaten Bengkulu Selatan), dan Balai Benih Pembantu Padi (Kota Bengkulu). Masing-masing lembaga perbenihan di kabupaten dan provinsi masih terkesan menjalankan tupoksi lembaga secara parsial dan belum terjalin networking yang baik. Hal ini ditunjukkan dari asal benih sumber dan promosinya yang belum berjalan dengan baik. Tiap lembaga melaksanakan tupoksinya masing-masing tanpa atau dengan kadar koordinasi dan integrasi yang minim.

Dilihat dari aspek luas lahan sawah yang dimiliki oleh lembaga perbenihan juga beragam mulai dari 1 sampai dengan 8 ha, padahal ada ketentuan luas minimal yang dipersyaratkan untuk dapat mencapai output dan kinerja lembaga perbenihan. Dengan luas lahan yang hanya 1 ha, mungkin tidak akan efisien jika dibandingkan dengan jumlah ataupun infestasi infrastruktur, bangunan dan SDM. Sementara lembaga perbenihan dengan lahan yang cukup luas, 8 ha misalnya, tidak mempunyai anggaran yang memadai untuk operasional dalam rangka penyediaan benih berkualitas.

(5)

Berkaitan dengan kompotensi dari personalia pelaksana pada lembaga perbenihan di Bengkulu dapat dinyatakan bahwa kompetensinya masih perlu ditingkatkan. Berdasarkan pendidikannya personalia lembaga perbenihan masih didominasi oleh tamatan SLTA (43,58%), SMP (10,25%) dan SD (5,12%). Kompo

sisi pengelola lembaga perbenihan berdasarkan tingkat

pendidikan disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Jumlah dan tingkat pendidikan SDM pelaksana BBI/BBU/BBP Provinsi Bengkulu tahun 2013.

NO PENDIDIKAN JUMLAH %

1. Pasca sarjana (S2) 2 5,12

2. Sarjana (S1) 14 35,89

3. SLTA 17 43,58

4. SLTP 4 10,25

5. SD 2 5,12

Total 39 100

Berdasarkan komposisi tingkat pendidikannya sudah cukup baik, tetapi dilihat dari segi jumlah dan bidang keahliannya perlu ditingkatkan. SDM suatu lembaga juga menjadi salah satu indikator kinerja lembaga. Semakin baik komposisi dan kompetensi SDM sudah dapat diprediksi kinerjanya akan semakin baik.

Kebutuhan benih padi di Provinsi Bengkulu cukup tinggi yaitu 3.442,93 ton per tahun. Seharusnya jumlah tersebut dapat terpenuhi dari hasil penangkaran yang dilakukan oleh petani di Provinsi Bengkulu. Kelompok petani penangkar di Provinsi Bengkulu cukup banyak yaitu 41 kelompok dengan jumlah anggota sebanyak 1.168 orang (Tabel 3). Dari hasil survey menunjukkan bahwa petani penangkar hanya melakukan penangkaran apabila ada program dari pemerintah dan maupun pihak swasta (PT. Pertani) melalui program kemitraan.Kondisi ini menunjukkan bahwa penangkaran mandiri belum berjalan. Harga, pemasaran, keterbatasan sarana dan prasarana serta modal menjadi alasan utama bagi petani penangkar.

Tabel 3. Jumlah Kelompok Petani Penangkar di Provinsi Bengkulu.

No Kabupaten Jumlah Kelompok Jumlah Anggota (orang)

1. Kaur 2 50

2. Bengkulu Selatan 6 148

3. Seluma 6 150

4. Kota Bengkulu 4 150

5. Bengkulu Tengah 3 100

6. Kepahiang 3 100

7. Rejang Lebong 3 110

8. Lebong 6 150

9. Bengkulu Utara 6 160

10. Mukomuko 2 50

Total 41 1168

KESIMPULAN

1. Kondisi dan kinerja lembaga perbenihan (BBI/BBU) di Provinsi Bengkulu belum optimal dan mempunyai permasalahan yang cukup komplek yang tunjukkan oleh rendah dan lemahnya produksi benih, sarana dan prasarana, SDM, infrastruktur, struktur organisasi, dan sistem pembiayaan.

2. Lembaga perbenihan (BBI/BBU) hanya mampu menyediakan 10-15% benih berkualitas di Provinsi Bengkulu.

3. Belum terjalin koordinasi, sinergi dan networking yang baik antar lembaga perbenihan di tingkat Kabupaten maupun Provinsi.

(6)

DAFTAR PUSTAKA

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2011. Pedoman Umum UPBS. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Jakarta.

Daradjat, A.A., Agus S., A.K. Makarim, A. Hasanuddin. 2008. Padi – Inovasi Teknologi Produksi. Buku 2. LIPI Press. Jakarta. Kementerian Pertanian. 2010. Rencana Strategis Kementerian Pertanian Tahun 2010-2014. Jakarta: Kementerian Pertanian. Saryoko, A. 2009. Kajian Pendekatan Penanda Padi (Rice Check) di Provinsi Banten. Widyariset 12(2):43-52.

Suprihatno, B., A.A. Daradjat, Satoto, Baehaki SE, Suprihanto, A. Setyono, S.D. Indrasari, IP Wardana, dan H. Sembiring. 2010. Deskripsi Varietas Padi. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi. Subang – Jawa Barat.

Wahyuni, S. 2011. Teknik Produksi Benih Sumber Padi. Makalah disampaikan dalam Workshop Evaluasi Kegiatan Pendampingan SL-PTT 2001 dan Koordinasi UPBS 2012 tanggal 28-29 November 2011. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi.

Gambar

Tabel 1. Profil lembaga perbenihan padi di Provinsi Bengkulu tahun 2013.
Tabel 3. Jumlah Kelompok Petani Penangkar di Provinsi Bengkulu.

Referensi

Dokumen terkait

Hasil kajian yang diperoleh yaitu : Peran kelembagaan formal di Kabupaten Pidie Jaya mendapat dukungan dari pemerintah setempat dan lebih dominan dalam mendiseminasikan

Analisis data yang digunakan meliputi : analisis deskriptif untuk menggambarkan karakteristik sari buah belimbing produk petani dan sistem usaha taninya serta

Bahkan menurut Montazeri (2012) minapadi adalah salah satu teknologi lahan pertanian untuk perbaikan kualitas lingkungan hidup sebagai antisipasi anomali iklim,

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan pengetahuan petani jeruk di kawasan pengembangan jeruk di Kelurahan Rimbo Pengadang tentang teknologi pengelolaan

Data dianalisis menggunakan Analisis Sidik Ragam (ANOVA) dan untuk melihat pengaruh pertumbuhan dan hasil kedelai dilakukan dengan uji l Tukey Test taraf 0.5

Untuk mempercepat penyampaian inovasi teknologi ke pengguna, perlu dilakukan berbagai cara antara lain melalui kegiatan diseminasimodel pengembangan pertanian

Sejalan dengan pembangunan pertanian yang lebih memfokuskan pada peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani, maka perlu adanya inovasi baru untuk memacu

Konsumsi pakan untuk mendapatkan hasil yang baik, maka pada saat periode refeeding, ayam broiler harus mendapat kesempatan makan yang lebih banyak untuk mengejar ketinggalan