• Tidak ada hasil yang ditemukan

Unduh BRS Ini

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Unduh BRS Ini"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

No. 43/08/16/Th.XIX, 1 Agustus 2017

P

ERKEMBANGAN

N

ILAI

T

UKAR

P

ETANI

D

AN

I

NFLASI

/ D

EFLASI

P

EDESAAN

A. PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI

NILAI TUKAR PETANI (NTP) JULI 2017 SEBESAR 93,01 PERSEN ATAU NAIK 0,27 PERSEN

1. Nilai Tukar Petani (NTP)

NTP, yang diperoleh dari perbandingan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) terhadap Indeks

Harga yang Dibayar Petani (Ib), merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat

kemampuan/daya beli petani di perdesaan. NTP juga menunjukkan daya tukar (term trade) dari

produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Semakin

tinggi NTP, secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan/daya beli petani.

Berdasarkan hasil pemantauan harga-harga pedesaan di 83 kecamatan yang tersebar di 11

kabupaten di Sumatera Selatan pada Juli 2017, NTP Sumatera Selatan naik 0,27 persen dibandingkan

NTP Juni 2017, yaitu dari 92,77 menjadi 93,01. Keinaikan NTP pada Juli 2017 disebabkan indeks harga

hasil produksi pertanian mengalami kenaikan lebih tinggi dibandingkan kenaikan indeks harga barang

dan jasa yang dikonsumsi oleh rumah tangga maupun untuk keperluan produksi pertanian.

Kenaikan NTP Juli 2017 dipengaruhi oleh naiknya NTP pada subsektor Tanaman Pangan

sebesar 1,19 persen, Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat 0,13 persen. Subsektor yang mengalami

penurunan adalah Subsektor Perikanan Tangkap 0,88 persen, Subsektor Perikanan 0,70 persen,

Subsektor Hortikultura 0,57 persen, Subsektor Perikanan Budidaya 0,52 persen dan Subsektor

Peternakan 0,13.

NTP Provinsi Sumatera Selatan Juli 2017 sebesar 93,01 atau naik 0,27 persen dibanding NTP bulan sebelumnya. Kenaikan NTP dikarenakan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) naik sebesar 0,32 persen, lebih besar dari kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) sebesar 0,06 persen.

Pada Juli 2017, kenaikan NTP terjadi pada Subsektor Tanaman Pangan (1,19 persen) dan Perkebunan Rakyat (0,13 persen) dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

Pada Juli 2017, Penurunan NTP terjadi pada Subsektor Hortikultura (0,57 persen), Peternakan (0,13 persen), Perikanan (0,70 persen), Perikanan Tangkap (0,88 persen), dan Perikanan Budidaya (0,52 persen) dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

Pada Juli 2017 terjadi inflasi perdesaan di Sumatera Selatan sebesar 0,06 persen disebabkan naiknya indeks harga konsumen 5 kelompok dari 7 kelompok konsumsi rumah tangga.

Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) Sumatera Selatan Juli 2017 sebesar 100,79 atau naik 0,24 persen dibanding NTUP bulan sebelumnya.

(2)

Juni 2017 Juli 2017 Persentase Perubahan

(2) (3) (4)

Gabungan/Provinsi

a. Nilai Tukar Petani 92.77 93.01 0.27

b. Indeks Harga yang Diterima Petani (It) 116.85 117.23 0.32

c. Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) 125.96 126.03 0.06

- Indeks Konsumsi Rumah Tangga 130.65 130.73 0.06

- Indeks BPPBM 116.21 116.30 0.08

Gabungan/Provinsi tanpa Perikanan

a. Nilai Tukar Petani 92.57 92.85 0.31

b. Indeks Harga yang Diterima Petani (It) 116.69 117.11 0.36

c. Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) 126.05 126.12 0.05

- Indeks Konsumsi Rumah Tangga 130.66 130.74 0.06

- Indeks BPPBM 116.42 116.52 0.08

1. Tanaman Pangan

a. Nilai Tukar Petani (NTPP) 96.55 97.69 1.19

b. Indeks Harga yang Diterima Petani (It) 123.61 125.19 1.28

- Padi 123.46 124.77 1.06

- Palawija 124.69 128.20 2.82

c. Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) 128.03 128.15 0.09

- Indeks Konsumsi Rumah Tangga 131.05 131.21 0.12

- Indeks BPPBM 119.70 119.71 0.01

2. Hortikultura

a. Nilai Tukar Petani (NTPH) 106.83 106.22 -0.57

b. Indeks Harga yang Diterima Petani (It) 134.58 133.92 -0.49

- Sayur-sayuran 138.59 141.18 1.87

- Buah-buahan 130.95 127.62 -2.54

- Tanaman Obat 145.52 149.83 2.96

c. Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) 125.98 126.08 0.08

- Indeks Konsumsi Rumah Tangga 130.41 130.46 0.04

- Indeks BPPBM 113.82 114.08 0.23

3. Tanaman Perkebunan Rakyat

a. Nilai Tukar Petani (NTPR) 84.17 84.28 0.13

b. Indeks Harga yang Diterima Petani (It) 106.69 106.88 0.18

- Tanaman Perkebunan Rakyat 106.69 106.88 0.18

c. Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) 126.76 126.82 0.05

- Indeks Konsumsi Rumah Tangga 130.52 130.53 0.01

- Indeks BPPBM 116.53 116.72 0.17

4. Peternakan

a. Nilai Tukar Petani (NTPT) 104.92 104.78 -0.13

b. Indeks Harga yang Diterima Petani (It) 125.51 125.29 -0.18

- Ternak Besar 120.84 120.24 -0.50

- Ternak Kecil 113.83 112.96 -0.77

- Unggas 123.46 124.72 1.02

- Hasil Ternak 143.89 142.86 -0.71

c. Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) 119.63 119.57 -0.05

- Indeks Konsumsi Rumah Tangga 130.62 130.79 0.13

- Indeks BPPBM 111.56 111.33 -0.20

(1)

Subsektor

Tabel 1

(3)

Juni 2017 Juli 2017 Persentase Perubahan

(2) (3) (4)

5. Perikanan

a. Nilai Tukar Petani Nelayan dan Pembudidayaan Ikan (NTNP) 97.62 96.93 -0.70 b. Indeks Harga yang Diterima Nelayan dan Pembudidaya Ikan (It) 120.81 120.18 -0.53 c. Indeks Harga yang Dibayar Nelayan dan Pembudidaya Ikan (Ib) 123.76 123.98 0.18

- Indeks Konsumsi Rumah Tangga 130.34 130.66 0.25

- Indeks BPPBM 111.10 111.13 0.02

5.1.Perikanan Tangkap

a. Nilai Tukar Nelayan (NTN) 98.66 97.79 -0.88

b. Indeks Harga yang Diterima Nelayan (It) 121.63 120.77 -0.71

- Penangkapan Perairan Umum 140.07 137.95 -1.51

- Penangkapan Laut 109.00 109.00 0.00

c. Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) 123.28 123.50 0.17

- Indeks Konsumsi Rumah Tangga 130.30 130.62 0.25

- Indeks BPPBM 109.13 109.12 -0.01

5.2.Perikanan Budidaya

a. Nilai Tukar Pembudidaya Ikan (NTPi) 96.60 96.09 -0.52

b. Indeks Harga yang Diterima Pembudidaya Ikan (It) 120.01 119.59 -0.35

- Budidaya Air Tawar 120.02 119.59 -0.36

- Budidaya Air Payau 118.98 120.04 0.89

c. Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) 124.23 124.46 0.18

- Indeks Konsumsi Rumah Tangga 130.37 130.69 0.24

- Indeks BPPBM 113.05 113.11 0.05

Subsektor

(1)

BPPBM : Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal

2. Indeks Harga yang Diterima Petani (It)

Pada Juli 2017, It naik sebesar 0,32 persen dibanding It Juni 2017, yaitu dari 116,85 menjadi

117,23. Kenaikan It pada Juli 2017 disebabkan naiknya It di dua subsektor, yaitu: Subsektor Tanaman

Pangan 1,28 persen dan Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat 0,18 persen. Sedangkan It yang

mengalami penurunan yaitu: Subsektor Hortikultura 0,49 persen, Subsektor Peternakan 0,18 persen,

Subsektor Perikanan 0,53 persen.

3. Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib)

Melalui Ib dapat dilihat fluktuasi harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh masyarakat

perdesaan, khususnya petani yang merupakan bagian terbesar dari masyarakat perdesaan, serta

fluktuasi harga barang dan jasa yang diperlukan untuk memproduksi hasil pertanian.

Pada Juli 2017, secara umum Ib naik sebesar 0,06 persen bila dibandingkan Ib Juni 2017, yaitu

dari 125,96 menjadi 126,03. Kenaikan Ib disebabkan naiknya Ib hampir di seluruh subsektor, yaitu:

Subsektor Tanaman Pangan sebesar 0,09 persen, Subsektor Hortikultura sebesar 0,08 persen,

Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat 0,05 persen, dan Subsektor Perikanan 0,18 persen.

(4)

4. NTP Subsektor

a. Subsektor Tanaman Pangan

Pada Juli 2017 terjadi kenaikan NTPP sebesar 1,19 persen. Hal ini disebabkan kenaikan It

sebesar 1,28 persen, lebih tinggi dibandingkan kenaikan Ib sebesar 0,09 persen.

Kenaikan It pada Juli 2017 disebabkan kenaikan indeks pada kelompok padi sebesar 1,06

persen, yaitu dari 123,46 menjadi 124,77 dan kelompok palawija (khususnya komoditi jagung, ubi

kayu dan ubi jalar) naik sebesar 2,82 persen, yaitu dari 124,69 menjadi 128,20. Kenaikan yang terjadi

pada Ib sebesar 0,09 persen disebabkan indeks kelompok Konsumsi Rumah Tangga mengalami

kenaikan sebesar 0,12 persen dan indeks kelompok BPPBM naik sebesar 0,01 persen.

b. Subsektor Hortikultura (NTPH)

Pada Juli 2017, NTPH turun sebesar 0,57 persen. Hal ini terjadi karena It turun sebesar 0,49

persen, sementara itu Ib naik sebesar 0,08 persen.

Penurun It Juli 2017 disebabkan turunnya harga berbagai komoditi di kelompok buah-buahan

(khususnya komoditi pisang dan jeruk) yang secara rata-rata turun sebesar 2,54 persen. Sedangkan

kelompok sayur-sayuran (khususnya cabe merah dan bawang merah) dan kelompok tanaman obat

(khususnya kunyit) secara rata-rata mengalami kenaikan masing-masing sebesar 1,87 persen dan

2,96 persen.

Kenaikan Ib sebesar 0,08 persen, yaitu dari 125,98 menjadi 126,08 disebabkan kenaikan indeks

kelompok KRT sebesar 0,04 persen dan kenaikan indeks kelompok BPPBM sebesar 0,23 persen.

c. Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat (NTPR)

Pada Juli 2017, NTPR naik sebesar 0,13 persen. Hal ini disebabkan karena kenaikan It sebesar

0,18 persen, lebih besar dibandingkan kenaikan Ib yang hanya sebesar 0,05 persen.

Kenaikan It Juli 2017 disebabkan naiknya indeks kelompok tanaman perkebunan rakyat

(khususnya tembakau dan lada/merica).

Kenaikan yang terjadi pada Ib sebesar 0,05 persen dikarenakan naiknya indeks kelompok KRT

naik sebesar 0,01 persen, dan indeks kelompok BPPBM sebesar 0,17 persen.

d. Subsektor Peternakan (NTPT)

Pada Juli 2017, NTPT turun sebesar 0,13 persen. Hal ini terjadi karena It dan Ib turun

masing-masing sebesar 0,18 persen dan 0,05 persen.

Penurunan It Juli 2017 disebabkan oleh turunnya indeks hampir di seluruh kelompok ternak,

(5)

Komoditi yang menyebabkan penurunan indeks terbesar pada Subsektor Peternakan yaitu kambing

dan kerbau.

Penurunan Ib sebesar 0,05 persen, yaitu dari 119,63 menjadi 119,57 dikarenakan kenaikan

indeks kelompok KRT sebesar 0,13 yang lebih kecil dibandingkan dengan penurunan indeks kelompok

BPPBM yang sebesar 0,20 persen.

e. Subsektor Perikanan (NTNP)

Pada Juli 2017, NTNP turun sebesar 0,70 persen. Hal ini terjadi karena It turun sebesar 0,53

persen, sementara itu Ib mengalami kenaikan sebesar 0,18 persen. Penurunan It pada Juli 2017

disebabkan indeks kelompok penangkapan ikan (khususnya ikan lais dan ikan toman) secara rata-rata

turun 0,71 persen, dan kelompok budidaya ikan (khususnya ikan gurame dan ikan lele) secara

rata-rata turun sebesar 0,35 persen.

e.1) Kelompok Penangkapan Ikan (NTN)

Pada Juli 2017, NTN turun sebesar 0,88 persen. Hal ini terjadi karena It turun sebesar 0,71

persen, sementara itu Ib naik sebesar 0,17 persen. Penurunan It sebesar 0,71 persen disebabkan oleh

turunnya harga sebagian jenis ikan khususnya ikan gabus dan ikan toman. Kenaikan yang terjadi pada

Ib disebabkan oleh kenaikan indeks kelompok KRT sebesar 0,25 persen dan indeks kelompok BPPBM

mengalami penurunan sebesar 0,01 persen.

e.2) Kelompok Budidaya Ikan (NTPi)

Pada Juli 2017, NTPi turun sebesar 0,52 persen. Hal ini terjadi karena It turun sebesar 0,35

persen, sementara itu Ib naik sebesar 0,18 persen. Penurunan It sebesar 0,35 persen disebabkan oleh

turunnya harga sebagian jenis ikan, khususnya ikan gurame dan ikan lele. Sedangkan kenaikan Ib

disebabkan oleh kenaikan indeks kelompok KRT sebesar 0,24 persen dan indeks kelompok BPPBM

sebesar 0,05 persen.

5. Inflasi Perdesaan

Perubahan Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) mencerminkan angka inflasi/deflasi

perdesaan. Pada Juli 2017, di Sumatera Selatan terjadi inflasi perdesaan sebesar 0,06 persen yang

disebabkan oleh naiknya indeks hampir di seluruh kelompok penyusun IKRT, dengan kenaikan indeks

(6)

Juni 2017 Juli 2017 %Perubahan

(2) (3) (4)

1. Tanaman Pangan 103.27 104.58 1.27

2. Hortikultura 118.24 117.39 -0.71

3. Tanaman Perkebunan Rakyat 91.56 91.57 0.01

4 Peternakan 112.51 112.53 0.02

Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian per Subsektor dan Persentase Perubahannya

Indeks Harga Konsumen dan Inflasi Perdesaan

(2012=100)

Sumatera Selatan, Juni - Juli 2017

Makanan Jadi, Minuman, Rokok &

kenaikan 0,32 persen, lebih tinggi dari kenaikan indeks BPPBM sebesar 0,08 persen. Kenaikan NTUP

disebabkan oleh naiknya NTUP di tiga subsektor, yaitu Subsektor Tanaman Pangan naik sebesar 1,27

persen, Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat 0,01 persen dan Subsektor Peternakan 0,02 persen.

Sedangkan Subsektor Hortikultura dan Subsektor Perikanan turun masing-masing sebesar 0,71

Gambar

Tabel 1
Tabel 3

Referensi

Dokumen terkait

Kenaikan NTP Juli 2015 disebabkan oleh naiknya NTP Subsektor Hortikultura sebesar 1,28 persen, Tanaman Perkebunan Rakyat sebesar 0,93 persen, NTP Subsektor Perternakan

NTP Tanpa Sektor Perikanan di Sumatera Selatan pada bulan April 2017 sebesar 94,48 persen, menunjukkan daya beli petani secara umum masih lebih rendah dibandingkan dengan

NTP Tanpa Sektor Perikanan di Sumatera Selatan pada bulan September 2016 sebesar 94,01 persen, menunjukkan daya beli petani secara umum masih lebih rendah dibandingkan dengan daya

NTP Tanpa Sektor Perikanan Sumatera Selatan pada bulan Oktober 2016 sebesar 94,74 persen, menunjukkan bahwa secara umum daya beli petani pada bulan Oktober 2016 juga

Peningkatan indeks harga yang diterima petani (It) sebesar 1,17 persen terjadi karena peningkatan harga pada subkelompok ternak besar sebesar 1,53 persen,

Penurunan NTP September 2016 disebabkan oleh turunnya NTP Subsektor Tanaman Pangan sebesar 0,41 persen, Subsektor Tanaman Hortikultura sebesar 1,45 persen,

Penurunan NTP Desember 2014 disebabkan oleh turunnya NTP pada seluruh subsektor yaitu NTP Subsektor Tanaman Pangan sebesar 1,50 persen, NTP subsektor Hortikultura

Secara umum, penurunan indeks NTP terjadi pada 4 (empat) subsektor yaitu Tanaman Pangan, Hortikultura, Peternakan dan Perikanan, sedangkan subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat