1
NTP Sumatera Barat bulan Desember 2014 tercatat sebesar 99,15 atau turun sebesar 0,78 persen bila dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 99,93 (November 2014). Indeks harga yang diterima petani (It) naik 1,24 persen, sedangkan indeks harga yang dibayar petani (Ib) naik sebesar 2,04 persen.
Pada bulan Desember 2014 NTP masing-masing subsektor tercatat sebesar 100,61 untuk Subsektor Tanaman Pangan (NTPP), 96,59 untuk Subsektor Hortikultura (NTPH), 97,79 untuk Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat (NTPR), 100,36 untuk Subsektor Peternakan (NTPT), dan 104,67 untuk Subsektor Perikanan (NTN). Untuk Subsektor Perikanan terbagi menjadi dua, yaitu Subsektor Perikanan Tangkap dan Perikanan Budidaya dengan NTP masing-masing sebesar 96,04 dan 106,89.
Secara regional, di Sumatera Barat pada bulan Desember 2014 terjadi inflasi di daerah perdesaan sebesar 2,21 persen yang disebabkan oleh hampir semua kelompok pengeluaran, yaitu kelompok Bahan Makanan (2,16%), kelompok Makanan Jadi, Minuman, Rokok, dan Tembakau (0,93%), kelompok Perumahan (1,51%), kelompok Sandang (1,16%), kelompok Kesehatan (1,02%), dan kelompok Transportasi dan Komunikasi ( 7,47%) sedangkan kelompok Pendidikan, Rekreasi, dan Olah Raga tidak mengalami inflasi.
No.04/1/13/Th. XVIII, 2 Januari 2015
P
ERKEMBANGAN
N
ILAI
T
UKAR
P
ETANI
,
D
AN
H
ARGA
P
RODUSEN
G
ABAH
A.
PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI
NTP SUMATERA BARAT DESEMBER 2014 SEBESAR 99,15 ATAU TURUN 0,78%
1. Nilai Tukar Petani (NTP)
Nilai Tukar Petani (NTP) yang diperoleh dari perbandingan indeks harga yang diterima petani terhadap indeks harga yang dibayar petani (dalam persentase), merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan/daya beli petani di pedesaan. NTP juga menunjukkan daya tukar (term of
trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya
produksi.Semakin tinggi NTP, secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan/daya beli petani.
2
Tabel1
Nilai Tukar Petani PerSubsektor dan Perubahannya
November 2014 – Desember 2014
(2012=100)
Kelompokdan Sub kelompok Bulan Persentase November 2014 Desember 2014 Perubahan
(1) (2) (3) (4) d. Indeks Dibayar Petani 116,41 118,79 2,04 - Indeks Konsumsi RumahTangga 118,91 121,43 2,12 - Indeks BPPBM 109,20 111,18 1,81
2. Hortikultura
a.Nilai Tukar Petani (NTPH) 97,40 96,59 -0,83 b.NilaiTukar Usaha Pertanian 105,37 105,17 -0,19 c. Indeks Diterima Petani 112,64 113,97 1,18 - Sayur-sayuran 115,58 118,08 2,16 - Buah-buahan 107,50 106,73 -0,71 -Tanaman Obat 105,29 104,83 -0,44 d. Indeks Dibayar Petani 115,65 117,99 2,03 - Indeks Konsumsi Rumah Tangga 117,55 120,08 2,16 c. Indeks Diterima Petani 113,39 113,52 0,12 - Ternak Besar 112,47 113,37 -0,98 - Ternak Kecil 107,78 107,57 -0,19
- Unggas 118,18 121,03 2,41
- HasilTernak 114,93 118,41 3,02
3
Kelompokdan Sub kelompok Bulan Persentase November 2014 Desember 2014 Perubahan
(1) (2) (3) (4) b. NilaiTukar Usaha Pertanian 115,40 116,55 0,99 c. Indeks Diterima Petani 118,22 120,34 1,80 - Budidaya Air Tawar 118,22 120,34 1,80 d. Indeks Dibayar Petani 111,00 112,58 1,43 - Indeks Konsumsi RumahTangga 117,03 119,16 1,82
Bila dibandingkan dengan bulan sebelumnya pada bulan Desember 2014 NTP empat subsektor mengalami penurunan, yaitu, Subsektor Hortikultura (0,83) persen, Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat (1,28) persen, Subsektor Peternakan (1,69 persen) dan Subsektor Perikanan (0,43 persen). Sedangkan Subsektor Tanaman Pangan mengalami kenaikan sebesar 0,31 persen.
2.
Indeks Harga yang Diterima Petani (It)
Indeks harga yang diterima petani (It) dari kelima subsektor menunjukkan fluktuasi harga beragam komoditas pertanian yang dihasilkan petani. Pada bulan Desember 2014 terjadi kenaikan pada indeks harga yang diterima petani (It) sebesar 1,24 persen bila dibandingkan dengan bulan sebelumnya, yaitu dari 115,44 menjadi 116,87. Meningkatnya nilai It diakibatkan oleh menaiknya nilai It pada lima subsektor, yaitu Subsektor Tanaman Pangan sebesar 2,36 persen, Subsektor Hortikultura sebesar 1,18 persen, Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat sebesar 0,87 persen, Subsektor Peternakan sebesar 0,12 persen dan Subsektor Perikanan Sebesar 1,44 persen.
3.
Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib)
Melalui indeks harga yang dibayar petani (Ib) dapat dilihat fluktuasi harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh masyarakat perdesaan, khususnya petani yang merupakan bagian terbesar, serta fluktuasi harga barang dan jasa yang diperlukan untuk memproduksi hasil pertanian.
4
Grafik 1
NTP Sumatera Barat Bulan Desember 2013 – Desember 2014
(2012=100)
4. NTP Subsektor
a.
Subsektor Tanaman Pangan (NTPP)
NTP Subsektor Tanaman Pangan (NTPP) pada bulan Desember 2014 mengalami kenaikan dibandingkan bulan sebelumnya, yaitu sebesar 0,31 persen. Hal ini dikarenakan meningkatnya indeks harga yang diterima petani sebesar 2,36 persen, Sedangkan indeks harga yang dibayar petani hanya kenaikan sebesar 2,04 persen.
Menaiknya nilai indeks harga yang diterima petani (It) disebabkan oleh peningkatan indeks sub kelompok padi sebesar 3,50 persen sedangkan sub kelompok palawija mengalami penurunan sebesar 2,01 persen. Sementara itu, perubahan indeks harga yang dibayar petani (Ib) yang mengalami kenaikan sebesar 2,04 persen diakibatkan oleh naiknya indeks subkelompok konsumsi rumahtangga (IKRT) sebesar 2,12 persen dan subkelompok biaya produksi dan penambahan barang modal (BPPBM) sebesar 1,81 persen.
b.
Subsektor Hortikultura (NTPH)
Berbeda dengan bulan sebelumnya, Nilai Tukar Petani untuk Subsektor Hortikultura (NTPH) pada bulan Desember 2014 mengalami penurunan sebesar 0,83 persen dari 97,40 menjadi 96,59. Hal ini disebabkan oleh Meningkatnya indeks harga yang diterima petani sebesar 1,18 persen tetapi tidak sebesar kenaikan indeks harga yang dibayar petani sebesar 2,03 persen.
5
indeks harga subkelompok Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) sebesar 2,16 persen dan indeks subkelompok biaya produksi dan penambahan barang modal (BPPBM) sebesar 1,37 persen.
c.
Subsektor Perkebunan Rakyat (NTPR)
NTPR pada bulan Desember 2014 mengalami penurunan sebesar 1,28 persen, yaitu dari 99,06 menjadi 97,79. Meningkatnya nilai NTPR ini disebabkan oleh naiknya indeks harga yang diterima petani sebesar 0,87 persen, Sementara disisi lain Indeks yang dibayar petani juga mengalami peningkatan lebih besar 2,18 persen. Naiknya nilai Ib diakibatkan adanya peningkatan indeks harga pada subkelompok konsumsi rumah tangga dan BPPBM masing-masing sebesar 2,34 persen dan 1,19 persen.
d.
Subsektor Peternakan (NTPi)
NTPT pada Desember 2014 mengalami penurunan sebesar 1,69 persen, yaitu dari 102,08 menjadi 100,36. Penurunan yang terjadi diakibatkan oleh kenaikan pada indeks harga yang diterima petani (It) sebesar 0,12 persen. Sementara disisi lain, indeks harga yang dibayar petani mengalami kenaikan yang lebih tinggi , yaitu sebesar 1,84 persen.
Kenaikan indeks harga yang diterima petani (It) terjadi karena terjadinya kenaikan pada dua subkelompok yaitu : subkelompok. Unggas dan hasil Ternak masing-masing sebesar 2,41 persen dan 3,02 persen. Sementara Subkelompok Ternak Besar, Ternak Kecil mengalami penurunan masing – masing sebesar 0,98 dan 0,19 persen.
e.
Subsektor Perikanan (NTN)
Pada bulan Desember 2014, Nilai Tukar Petani Subsektor Perikanan (NTN) mengalami penurunan sebesar 0,43 persen, yaitu dari 105,12 menjadi 104,67. Kondisi ini diakibatkan kenaikan indeks harga yang diterima petani sebesar 1,44 persen, lebih rendah dibandingkan indeks harga yang dibayar petani yang hanya mengalami kenaikan sebesar 1,88 persen.
Kenaikan nilai It yang cukup tinggi merupakan kontribusi dari kenaikan subkelompok budidaya ikan yang naik sebesar 1,80 persen sementara subkelompok penangkapan ikan mengalami penurunan sebesar 0,06 persen. Untuk indeks yang dibayar petani, kenaikan yang terjadi diakibatkan oleh kenaikan Indeks subkelompok Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) sebesar 1,82 persen dan subkelompok BPPBM sebesar 1,95 persen.
4. Indeks Harga Konsumen Pedesaan
Perubahan Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) mencerminkan angka inflasi/deflasi di wilayah perdesaan. Secara regional, Sumatera Barat pada bulan Desember 2014 terjadi inflasi di daerah perdesaan sebesar 2,21 persen bila dibandingkan dengan bulan sebelumnya.
6
Tabel 2
Persentase Perubahan Indeks Harga Konsumen Pedesaan Menurut Kelompok Pengeluaran November 2014-Desember 2014
(2012=100)
Transportasi dan Komunikasi 118,04 126,85 7,47 14,87 14,87
*) Persentaseperubahan IHK Perdesaan Bulan Desember 2014 terhadap Bulan sebelumnya **) Persentase perubahan IHK Perdesaan Bulan Desember 2014 terhadap Bulan Desember 2013 ***) Persentase perubahan IHK Perdesaan Bulan Desember 2014 terhadap Bulan Desember 2013
Laju inflasi pedesaan tahun kalender bulan Desember 2014 sebesar 9,94 persen, sedangkan nilai inflasi pedesaan tahun ke tahun (year on year) juga sebesar 9,94 persen.
Grafik 2
Persentase Perubahan Indeks Harga Konsumen Perdesaan
7
Komposisi jumlah observasi dari 99 transaksi harga gabah di tujuh kabupaten di Sumatera Barat selama November 2014, didominasi Gabah Kering Panen (GKP) sebesar 100 persen.
Di tingkat petani, harga gabah tertinggi berasal dari gabah kualitas GKP varietas Anak Daro yaitu sebesar Rp 6.500,- per kg yang terjadi di Kabupaten Lima Puluh Kota. Sedangkan harga terendah berasal dari gabah kualitas GKP varietas Mundam Pulau, yaitu senilai Rp 4.700,00- per kg, terjadi di Kabupaten Padang Paiaman.
Berbeda dengan bulan sebelumnya, pada bulan Desember rata-rata harga gabah kualitas GKP di tingkat petani mengalami kenaikan sebesar 11,28 persen dari Rp 5.127,01,- per kg (November 2014) menjadi Rp 5.705,47,- per kg ( Desember 2014), dan di tingkat penggilingan naik 11,14 persen dari Rp 5.214,73,- per kg (November 2014) menjadi Rp 5.795,82,- per kg ( Desember 2014). Sementara itu, rata – rata harga gabah kualitas rendah dan gabah kualitas GKG tidak dapat dibandingkan.
B.
PERKEMBANGAN HARGA PRODUSEN GABAH DESEMBER 2014
HARGA GABAH (GKP) DI PETANI NAIK 11,28%
Survei harga produsen gabah berasal dari 99 observasi di tujuh kabupaten di Sumatera Barat, yaitu:
Pesisir Selatan, Solok, Padang Pariaman, Agam, Tanah Datar, Limapuluh Kota, dan Pasaman. Rata-rata
harga gabah di tingkat petani bulan Desember dibanding bulan November untuk kualitas GKP mengalami
kenaikan sebesar 11,28 persen dari Rp 5.127,01 per kg (November) menjadi Rp 5.705,47 per kg
(Desember). Sementara di tingkat penggilingan harga gabah GKP naik sebesar 11,14 persen dari Rp
5.214,73,- per kg (November 2014) menjadi Rp 5.795,82,- per kg (Desember 2014).
Tabel 3
Jumlah Observasi Harga Gabah di Tingkat Petani dan Penggilingan, Dan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Desember 2014
Kelompok Kualitas
Jumlah Observasi
Harga di Tk Petani (Rp/Kg) Rata-rata Harga Tkt Penggilingan
(Penggilingan) 2.445,82 73.01
8
Harga gabah kualitas GKP terendah pada Desember 2014 di tingkat petani dijumpai di Kabupaten
Padang Pariaman, yaitu sebesar Rp 4.700,- per kg, sedangkan harga terendah di tingkat penggilingan juga
terjadi di Kabupaten Padang Pariaman, yaitu Rp 4.800,- per kg. Sementara harga tertinggi di tingkat
petani terjadi di Kabupaten Lima Puluh Kota , yaitu sebesar Rp6.500,00,- per kg Sedangkan harga
tertinggi di tingkat penggilingan terjadi di Kab Lima Puluh Kota yaitu sebesar Rp6.570,00,- per kg.
Tabel 4
Perbandingan Rata-rata Harga Gabah Kualitas GKP di Sumatera Barat Oktober 2014 s/d Desember 2014
No. Kabupaten
Tingkat Penggilingan (Rp/Kg) Tingkat Petani (Rp/Kg)
Okt.’14 Nov.’14 Des.’14
Rata-rata Harga Gabah Kualitas GKP di Tingkat Penggilingan
Dan HPP Sumatera Barat Des 2013 – Des 2014
Berdasarkan Inpres No. 3 Tahun 2012 tentang Pengadaan Gabah/Beras dan Penyaluran Beras oleh
Pemerintah, telah ditetapkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang baru yang berlaku sejak tanggal 27
Februari 2012, yaitu untuk gabah kualitas GKP sebesar Rp 3.300,00,- per kg di tingkat petani dan Rp
3.350,00,- per kg di tingkat penggilingan, sedangkan HPP untuk gabah kualitas GKG sebesar
Rp4.150,00,- per kg di tingkat penggilingan. Pada pemantauan bulan April 2014 tidak ditemukan kasus
harga gabah yang berada di bawah HPP. 4142,28
9
Badan Pusat Statistik
Provinsi Sumatera Barat
JlKhatibSulaiman No.48 Padang 25135 Telp. (0751)442158,442159, Fax.(0751)442161 Homepage : http://sumbar.bps.go.id
Email : [email protected]