• Tidak ada hasil yang ditemukan

KASUS 2 (Penyakit Gastritis Akut)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KASUS 2 (Penyakit Gastritis Akut)"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

RESUME KASUS 2 GASTRITIS

RESUME KASUS 2 GASTRITIS

KELOMPOK 3

KELOMPOK 3

Disusun oleh :

Disusun oleh :

C

CIIT

TR

RA

A

EK

E

KA

AR

RIIS

S

((2

22

20

01

11

10

00

08

80

00

06

68

8))

DEWI

DEWI SEFTIANI

SEFTIANI NUGRAHINI

NUGRAHINI

(22011008007

(220110080074)

4)

D

DIIN

NA

A A

AS

ST

TR

RIIA

AN

NA

A

((2

22

20

01

11

10

00

08

80

00

07

75

5))

DEVIANA

DEVIANA DAMAYANTI

DAMAYANTI M.

M.

(22011008010

(220110080101)

1)

DWI

DWI SIWI

SIWI RATRIANI

RATRIANI P.

P.

(22011008010

(220110080104)

4)

D

DE

EW

WI

I K

KO

OM

MA

AL

LA

AS

SA

AR

RI

I

((2

22

20

01

11

10

00

08

80

01

11

16

6))

DHORA

DHORA P.J.S.

P.J.S.

(22011008012

(220110080120)

0)

DEWI

DEWI ASMALINDA

ASMALINDA

(22011008012

(220110080121)

1)

DINA

DINA MARLIANI

MARLIANI

(22011008012

(220110080129)

9)

D

DE

EW

WI

I IIN

ND

DR

RIIY

YA

AN

NI

I U

U.

.

((2

22

20

01

11

10

00

08

80

01

13

33

3))

DINA

DINA NOVI

NOVI A.

A.

(22011008013

(220110080134)

4)

DEYA

DEYA PRASTIKA

PRASTIKA

(22011008014

(220110080148)

8)

DIAN

(2)

KASUS 2 KASUS 2

  Nn Alice 27 th, karyawan pada perusahaan garment yang mengharuskan kerja dengan target tertentu   Nn Alice 27 th, karyawan pada perusahaan garment yang mengharuskan kerja dengan target tertentu sehingga setiap hari diburu-buru tugas. Ia adalah karyawan baru yang bertugas sebagai quality control sehingga setiap hari diburu-buru tugas. Ia adalah karyawan baru yang bertugas sebagai quality control (QC

(QC) ) dendengan gan 60 60 pegpegawai awai yanyang g pekpekerjerjaanaannya nya harharus us dipdiperieriksa ksa kuakualitlitasnasnya. ya. SemuSemua a pegpegawaawainyinya a daldalahah  perempuan dan rata-rata bekerja lebih dari 4 th.

 perempuan dan rata-rata bekerja lebih dari 4 th.

 Nn alice sudah sejak lama mengeluh nyeri seperti terbakar pada area epigastrium yang dirasakan lebih  Nn alice sudah sejak lama mengeluh nyeri seperti terbakar pada area epigastrium yang dirasakan lebih nyeri setelah makan, disertai perasaan mual dan kadang-kadang muntah. Ia juga sering mengeluh perutnya nyeri setelah makan, disertai perasaan mual dan kadang-kadang muntah. Ia juga sering mengeluh perutnya kembung dan disertai diare. Selama ini ia juga seringkali menggunakan aspirin saat ia merasa tidak enak  kembung dan disertai diare. Selama ini ia juga seringkali menggunakan aspirin saat ia merasa tidak enak   badan. Tadi pagi sekitar jam 9.05 saat ia berada di kantor tiba-tiba ia merasa sakit hebat pada perut dan  badan. Tadi pagi sekitar jam 9.05 saat ia berada di kantor tiba-tiba ia merasa sakit hebat pada perut dan

kem

kemududian ian pinpingsagsan.nn.nn n alialice ce segsegera era dibdibawa awa ke ke uniunit t gawgawat at dardaruraurat t RS RS mutmutiariara a untuntuk uk menmendapdapatkatkanan  pertolongan. Di UGD dilakukan pemeriksaan dan untuk meyakinkan ada sesuatu di lambungnya ia harus  pertolongan. Di UGD dilakukan pemeriksaan dan untuk meyakinkan ada sesuatu di lambungnya ia harus

menjalani endoscopy. Perawat menyiapkan pasien dan mencari keluarga

menjalani endoscopy. Perawat menyiapkan pasien dan mencari keluarga untuk meminta persetujuan, tetapiuntuk meminta persetujuan, tetapi tidak ada

tidak ada satupsatupun un keluakeluarga yang rga yang bias dihubungbias dihubungi i padahapadahal l terapterapi i bisa dilakukan setelah hasil pemeriksaabisa dilakukan setelah hasil pemeriksaann selesai dan memberikan kontribusi penting dalam penentuan

selesai dan memberikan kontribusi penting dalam penentuan diagnosa.diagnosa.

Step I Step I

1.

(3)

6. Termasuk kasus apa .(dewi K) 7. Penyebabnya apa? (citra )

8.

Tindakan perawat berhubungan dengan keluarga /legal etik. (dewi Seftiani)

9.

Pemeriksaan penunjang .(dewi indri)

10.

Pertolongan pertama sebelum masuk RS.(deviana)

11.

Jenis-jenis (dian A)

12.

Farmakologi.(dewi K)

13.

Tanda dan gejala.(dhora)

14.

Patofisisologi

15.

Askep

16.

Kenapa bisa pingsan .(dewi seftiani)

17.

Mekanisme mual & muntah.(dewi seftiani)

18.

Dampak psikologi pasien.

19.

Pengetian

20.

Pencegahan (dewi indri)

21.

Komplikasi

(4)

- Diet teratur .(Deviana)

19.

Suatu proses inflamasi mukosa.dari bahasa yunani gastro (lambung),it is (radang) (deya).

7.

a. Aspirin(iritan obat-obatan) yang dspat mengiritasi mukosa.

b. H.pylori

c.

Trauma luka baker 

d. Penyakit crohn deases (Dian)

e.

Alcohol,merokok (Dewi S)

f.

Makanan asam dan pedas

Penyebabnya dibagi 2 berdasarkan jenisnya : 1. akut yaitu NSAIDs

2.

kronik yaitu H . pylori dan alcohol. (Deya)

3.

stress dan autoimun (Dewi A )

1.

Anatomy (Deya)

a.

Korpus

 b.

Fisiologi

oral = 2/3 bagian pertama

(5)

hari I : minum air gula

hari II : susu full cream tanpa dicairkan

hari III : makan tidak pedas dan asam (Dhora)

16.

Kecemasan ketidaktahuan penyakitnya

Kecemasan pekerjaan terbengkalai

19.

Endoskopi = cameranya ada dua (fiber optic) dimasukan lewat mulut, - Biopsy = mengetahui bakteri

- Kultur 

17.

Karena merasa nyeri yang sangat hebat dan sebelumnya diare menyebabkan pingsan.

1.

Fak. Pencetus (aspirin ) + pemberat (stress)

Aspirin

Menghambat prostaglandin sekresi asam lambung

Produksi mukosa

(6)

STEP V

Learning objective

1.

Mahasiswa dapat membuat dan mengaplikasikan asuhan keperawatan

2.

Mahasiswa dapat memahami proses Patifisiologi penyakit

3.

Mahasiswa dapat memahami penyebab penyakit diare

STEP VII

1. Anatomi fisiologi lambung

(7)
(8)

Gambar 2. Lambung manusia, dipotong.

Otot dinding lambung terdiri atas tiga lapisan serabut otot polos, yang tersusun me-manjang, melintang dan miring ke atas. Karena rancangannya yang sedemikian itu, otot ini mampu menyesuaikan diri dengan volume lambung sesuai dengan isinya, juga memungkinkan pencampuran makanan serta meneruskannya ke saluran cerna berikutnya.

Motilitas dan pengosongan lambung, Dalam keadaan kosong, lambung akan merupakan suatu tabung otot yang berkontraksi dan dinding bagian dalamnya berdekatan letaknya satu sama lain. Jika makanan masuk, otot polos akan berelaksasi dan dinding lambung akan kendur tanpa disertai naiknya tekanan intraluminal. Pencampuran makanan yang dimakan yang kemudian men-jadi khimus (makanan halus) terjadi dengan kontraksi peristaltik dan jalan keluar lambung ada dalam keadaan tertutup.

Pada pengosongan lambung, pilorus akan terbuka sebentar, dan sebagian khimus dengan bantuan kontraksi peristaltik di daerah antrum akan masuk ke usus duabelas jari.

 Pengaturan peristiwa ini terjadi baik melalui saraf maupun hormon. Impuls parasimpa-tikus yang disampaikan melalui nervus vagus akan meningkatkan motilitas, secara reflektoris melalui vagus juga akan terjadi pengosongan lambung. Refleks pengosongan lambung ini akan dihambat oleh isi yang  penuh, kadar lemak yang tinggi dan reaksi asam pada awal usus halus. Keasaman ini disebabkan oleh hormon saluran cerna terutama  sekretin dan kholesistokinin-pankreo-zimin, yang dibentuk dalam

(9)

  berperan. His-tamin ini dibebaskan oleh mastosit karena stimulasi vagus (gambar 3). Secara tak  langsung dengan pembebasan histamin ini gastrin dapat bekerja.

Fase lambung sekresi getah lambung disebabkan oleh makanan yang masuk ke dalam lambung. Relaksasi serta rangsang kimia seperti hasil urai protein, kofein atau alkohol, akan menimbulkan refleks kolinergik lokal dan   pembebasan gastrin. Jika pH turun di bawah 3, pembebasan gastrin akan dihambat.

Gambar 3. Bagan  pengaruh sekresi sel parietal Pada fase usus mula-mula akan terjadi pe-ningkatan dan kemudian akan diikuti dengan penurunan sekresi getah lambung. Jika makanan yang baru dimakan dan tidak asam masuk ke dalam duodenum, maka dari sel G duodenum akan dibebaskangortnVi. Jika kemudian khimus yang asam masuk ke usus duabelas   jari akan dibebaskan sekretin. Ini akan menekan sekresi asam klorida dan merangsang pengeluaran

(10)

c.

Fungsi Mencampur: memecahkan makanan menjadi partikel-partikel kecil dan mancampurnya dengan getah lambung melalui kontraksi otot yang mengelilingi lambung. Kontraksi peristaltik  diatur oleh suatu irama listrik intrinsik dasar.

d.

Fungsi pengosongan lambung: diatur oleh pembukaan sfingter pylorus yang dipengaruhi oleh viskositas, volume, keasaman, aktivitas osmotik, keadaan fisik, serta oleh emosi, obat-obatan, dan olah raga. Pengosongan lambung diatur oleh faktor saraf dan hormona, seperti kolistokinin.

e. Fungsi Pencernaan dan Sekresi

Pencernaan protein oleh pepsin an HCl dimulai di sini; pencernaan karbohidrat dan lemak oleh amylase dan lipase dalam lambung kecil peranannya.

Sintesis dan pelepasan gastrin dipengaruhi oleh protein yang dimakan, peregangan antrum, alaklinisasi antrum,dan rangsangan vagus.

Sekresi faktor intrinsik memungkinkan absornsi vitamin B12dari usus halus bagian distal.

Sekresi mukus membentuk selubung yang melindungi lambung serta berfungsi sebgaia pelumas sehingga makanan lebih mudah diangkut.

Sekresi bikarbonat, bersama dengan sekresi gel mucus, tampaknya berperan sebgai barrier dari asam lumen dan pepsin.

1. Jenis Sekresi Lambung

Pada lambung terdapat lapisan mukosa (lapisan dala lambung) yang tersusun atas lipatan-lipatan longitudinal disebut rugae, yang memungkinkan terjadinya distensi lambung sewaktu diisi makanan.

(11)

kelenjar lambung. Gastrin dilepas di antrum dan kemudian dibawa oleh aliran darah menuju kelenjar  lambung, untuk merangsang sekresi. Pelepasan gastrin juga dirangsang oleh pH alkali, garam empedu di antrum, dan terutama oleh protein makanan dan alcohol. Membrane sel parietal di fundus dan korpus lambung mengandung reseptor untuk gastrin, histamine, dan asetilkolin, yang merangsang sekresi asam. Setelah makan, gastrin dapat beraksi dan juga dapat merangsang pelepasan histamine dari sel enterokromafin dari mukosa untuk sekresi asam.

Fase sekresi gastric menghasilkan lebih dari duapertiga sekresi total lambung setelah makan, sehingga merupakan bagian terbesar dari total sekresi lambung harian yang berjumlah sekitar 2.000ml. fase gastric dapat terpengaruh oleh reseksi bedah pada antrum pylorus, sebab disinilah pembentukan gastrin.

c.   Fase intestinal , dimuali oleh gerakan kimus dari lambung ke duodenum. Fase sekresi lambung diduga sebagian besar bersifat hormonal. Adanya protein yang tercerna sebagian dalam duodenum merangsang pelepasan gastrin di usus, suatu hormone yang menyebabkan lambung terus-menerus menyekresikan sejumlah kecil cairan lambung.

Distensi usus halus menimbulkan refleks enterogastrik, diperantarai olehpleksus mienterikus, saraf  simpatis, dan vagus, yang menghambat sekresi dan pengosongan lambung. Adanya asam (pH kurang dari 2,5), lemak, dan hasil-hasil pemecahan protein menyebabkan lepasnya beberapa hormone di usus. Sekretin, koleksitokinin, dan peptida pengahambat gastric, semuanya memiliki efek inhibisi terhadap sekresi lambung.

(12)

Gastritis adalah Suatu peradangan permukaan mukosa lambung yang akut dengan kerusakan erosi. Erosif karena perlukaan hanya pada bagian mukosa. bentuk berat dari gastritis ini adalah gastritis erosive atau gastritis hemoragik. Perdarahan mukosa lambung dalam berbagai derajad dan terjadi erosi yang berarti hilangnya kontinuitas mukosa lambung pada beberapa tempat.

3. Etiologi

a. Gastritis Akut, disebabkan oleh :

1. Obat-obatan anti inflamasi non steroid (AINS) seperti aspirin 2. Alcohol

3. Gangguan mikosirkulasi mukosa lambung, seperti : truma, sepsis, luka bakar  4. Terapi radiasi

5. Mencerna asam/alkali kuat 6. Stress

 b. Gastritis Kronik dibagi menjadi 2, yaitu :

1. Gastritis Kronik Tipe A, disebabkan oleh autoimun

2. Gastritis Kronik Tipe B, disebabkan oleh bakteri seperti Helicobacter Pylory

4. Tanda dan gejala

a. Perih atau sakit seperti terbakar pada perut bagian atas yang dapat menjadi lebih baik atau lebih buruk ketika makan

(13)

a. Bahan iritan seperti obat-obatan, terutama aspirin dan obat anti peradangan non-steroid lainnya.

 b.

PenyakitCrohn

c. Infeksi virus dan bakteri.

Gastritis ini terjadi secara perlahan pada orang-orang yang sehat, bisa disertai dengan  perdarahan atau pembentukan ulkus (borok, luka terbuka). Paling sering terjadi pada alkoholik .

4)

Gastritis karena virus atau jamur bisa terjadi pada penderita penyakit menahun atau  penderita yang mengalami gangguan sistem kekebalan.

5)

Gastritis eosinofilik bisa terjadi sebagai akibat dari reaksi alergi terhadap infestasi cacing gelang. Eosinofil (sel darah putih) terkumpul di dinding lambung.

6)

Gastritis atrofik  terjadi jika antibodi menyerang lapisan lambung, sehingga lapisan lambung menjadi sangat tipis dan kehilangan sebagian atau seluruh selnya yang menghasilkan asam dan

enzim.Keadaan ini biasanya terjadi pada usia lanjut. Gastritis ini juga cenderung terjadi pada orang-orang yang sebagian lambungnya telah diangkat (menjalani pembedahan gastrektomi parsial ). Gastritis atrofik   bisa menyebabkan anemia pernisiosa karena mempengaruhi penyerapan vitamin B12 dari makanan.

7)

Penyakit Miniere merupakan jenis gastritis yang penyebabnya tidak diketahui. Dinding lambung menjadi tebal, lipatannya melebar, kelenjarnya membesar dan memiliki kista yang terisi cairan. Sekitar 10% penderita penyakit ini menderita kanker lambung.

(14)

itu kemudian akan dibawa ke laboratorium untuk diperiksa. Tes ini memakan waktu kurang lebih 20 sampai 30 menit. Pasien biasanya tidak langsung disuruh pulang ketika tes ini selesai, tetapi harus menunggu sampai efek dari anestesi menghilang, kurang lebih satu atau dua jam. Hampir tidak ada resiko akibat tes ini. Komplikasi yang sering terjadi adalah rasa tidak  nyaman pada tenggorokan akibat menelan endoskop.

e. Ronsen saluran cerna bagian atas. Tes ini akan melihat adanya tanda-tanda  gastritis atau  penyakit pencernaan lainnya. Biasanya akan diminta menelan cairan barium terlebih dahulu

sebelum dilakukan ronsen. Cairan ini akan melapisi saluran cerna dan akan terlihat lebih jelas ketika di ronsen.

7. Terapi

a. Farmakologi

Pencegahan dapat dilakukan dengan pemberian antasida atau antagonis H2, sehingga dicapai  pH lambung ≥4. Untuk pengguna aspirin, pencegahan yang terbaik adalah dengan misoprostol.

Pemberian antasida, antagonis H2 dan sukralfat tetap dianjurkan walaupun efek terapeutiknya masih diragukan. Pada sebagian kecil pasien perlu dilakukan tindakan yang bersifat invasif  untuk menghentikan perdarahan yang mengancam jiwa, misalnya dengan endoskopi skleroterapi, embolisasi arteri gastrika kiri, atau gastrektomi.

(15)

Hidrotalsit ………….…… 200 mg Magesium hidroksida ….… 150 mg

Simetikon ……… 50 mg (Ahlinya lambung, 2008).  b. Komposisi Obat Indo Obat Maag

Tiap tablet mengandung :

Magnesium hidroksida …… 200 mg Aluminium hidroksida …… 200 mg

Simetikon ……… 20 mg (Indofarma, 2008). c. Komposisi Mylanta Sirup

Tiap 5 ml sirup mengandung:

Aluminium hidroksida ……. 200 mg Magnesium hidroksida ……. 200 mg

Simetikon ……… ..…… 20 mg (Dechacare, 2008). d. Komposisi Obat Maag dengan Aksi Ganda

Tiap tablet mengandung :

Kalsium karbonat ……….…. 800 mg Magnesium hidroksida sebagai Antacid …. 165 mg

(16)

Anak-anak : sehari 20 – 40 mg/kg berat badan dalam dosis terbagi.

Pengalaman klinis simetidin pada anak-anak masih terbatas, karena itu, pengobatan dengan simetidin tidak  dianjurkan untuk anak-anak, kecuali dokter menganggap manfaatnya lebih besar dari pada resikonya.

Efek Samping

Kadang-kadang terjadi nyeri kepala, malaise, mialgia, mual, diare, pruritus, libido menurun, impoten, gynecomastia.

Kontraindikasi

Penderita yang hipersensitif.

Interaksi Obat

Antasida dan Metoklopramid akan mengurangi ketersediaan hayati simetidin sekitar 25%, karena itu sebaiknya diberikan jarak waktu pemberian sekurang-kurangnya 1 jam.

Cara Penyimpanan

Simpan di tempat sejuk dan kering, terlindung dari cahaya. Perhatian

(17)

  Nama dagang : Protop®, Pumpitor®, Norsec®, Lambuzole®, Loklor®, Losec®, OMZ®, Prilos®, Socid®, Contral®, Dudencer®, Opm®, Onic®, Promezol®, Stomacer®, Prohibit®, Ulzol®, Zollocid®, Zepral®, Lokev®, Meisec®, Omevell®, Ozid®

Indikasi : Tukak lambung, tukak duodenum, tukak esofagus, refluk esofagus, sindrom Zollinger-Ellison, tukak yang resisten, pembasmian HP saat dikombinasi dengan antibiotik, pendarahan gastrointestinal  bagian atas, tukak karena NSAIDs. Omeprazol digunakan untuk terapi jangka pendek dan jangka panjang.

Kontraindikasi : Pasien yang hipersensitif terhadap omeprasol, atau obat turunan benzimidazol seperti lansoprazol, pantoprazol, esomeprazol, dan rabeprazol.

Bentuk sedian dan kekuatan :

· Kapsul lepas lambat berisi granul bersalut enterik (10 mg, 20 mg, 40 mg). · Tablet lepas lambat (20 mg).

Dosis dan aturan pakai : 20-40 mg sekali sehari selama 4-8 minggu. Omeprazol diminum 15-30 menit sebelum makan pagi. Tablet atau kapsul omeprazol diminum dengan cara langsung ditelan menggunakan air. Jangan menguyah atau menghancurkan tablet omeprazol dan jangan membuka kapsul omeprazol karena obat ini didesain untuk lepas lambat.

(18)

Terapi terhadap H. pylori

Terdapat beberapa regimen dalam mengatasi infeksi H. pylori. Yang paling sering digunakan adalah kombinasi dari antibiotik dan penghambat pompa proton. Terkadang ditambahkan pula bismuth subsalycilate. Antibiotik berfungsi untuk membunuh bakteri, penghambat pompa proton berfungsi untuk  meringankan rasa sakit, mual, menyembuhkan inflamasi dan meningkatkan efektifitas antibiotik.

Terapi terhadap infeksi H. pylori tidak selalu berhasil, kecepatan untuk membunuh H. pylori sangat  beragam, bergantung pada regimen yang digunakan. Akan tetapi kombinasi dari tiga obat tampaknya lebih efektif daripada kombinasi dua obat. Terapi dalam jangka waktu yang lama (terapi selama 2 minggu dibandingkan dengan 10 hari) juga tampaknya meningkatkan efektifitas.

Untuk memastikan H. pylori sudah hilang, dapat dilakukan pemeriksaan kembali setelah terapi dilaksanakan. Pemeriksaan pernapasan dan pemeriksaan feces adalah dua jenis pemeriksaan yang sering dipakai untuk memastikan sudah tidak adanya H. pylori. Pemeriksaan darah akan menunjukkan hasil yang  positif selama beberapa bulan atau bahkan lebih walaupun pada kenyataanya bakteri te rsebut sudah hilang.

Jika penyebabnya adalah infeksi oleh Helicobacter pylori, maka diberikan bismuth, antibiotik (misalnya xamoxicillin dan claritromycindan obat anti-tukak (omeprazole).

(19)

Gastritis sel plasma bisa diobati dengan obat anti ulkus yang menghalangi pelepasan asam lambung.

8.

Dampak penggunaan aspirin a. Pengertian Aspirin

Aspirin atau asam asetil salisilat adalah obat golongan NSAID. Obat ini biasa digunakan untuk  mengurangi rasa nyeri karena memiliki efek sebagai antiinflamasi dan analgetik.

Perlu diperhatikan bahwa aspirin merupakan obat yang bekerja dengan menghambat kerja enzim siklooksigenase secara tidak selektif, sehingga selain menghambat pembekuan darah, aspirin juga menghambat kerja prostaglandin sebagai salah satu faktor pelindung dinding saluran cerna.

 b. Dampak penggunaan aspirin

1.

Erosi mukosa lambung

2. Mengurangi mucus 3. Sekresi HCO3

4. Mengurangi perbaikan dan replica sel

9. Komplikasi

(20)

 perawat pada penentuan secara berhati-hati tentang nilai klien. Prinsip respect for autonomy sekarang ini telah memperoleh penekanan yang berlebihan, sebagian karena perawatan kesehatan tradisional menekankan pada prinsip beneficence. Ketika beneficence ini (kewajiban untuk melakukan yang baik bagi seseorang) mengalahkan autonomi klien, hasilnya adalah paterbalisme. Paternalisme adalah melakukan apa yang dipercayaai oleh para  profesional untuk kebaikan klien, kadang tanpa keputusan dari klien.

Di dalam kasus dikatakan bahwa tidak ada keluarga klien yang dapat dihubungi. Dalam hal ini keputusan dapat dialihkan dengan sah kepada pihak teman atau rekan yang mengantarkan klien ke Rumah sakit, tetapi dengan syarat perawat terlebih dahulu memberikan

informed consent (memberikan informasi tentang penyakit, pengobatan, pemeriksaan dan manfaat dilakukannya tindakan). Tetapi bila tidak ada pihak yang mau menjadi penanggung  jawab klien, maka sesuai dengan penjelasan di atas bahwa para profesional atau pihak Rumah

Sakit yang akan memutuskan untuk melakukan t indakan terhadap klien.  b. Non-maleficience

Prinsip ini mengajarkan tindakan untuk membuang bahaya, dan melakukan langkah positif  untuk melakukan yang baik untuk keuntungan orang lain. Non-maleficience memberikan standar  minimum dimana praktisi selalu memegangnya. Prinsip non-maleficence menuntut perawat menghindari membahayakan klien selama pemberian asuhan keperawatan. Perawat harus melakukan asuhan keperawatan sesuai dengan standar keperawatan yang berlaku agar tidak 

(21)

11. Patofisiologi Gastritis

Faktor pencetus

Aspirin

Stress

Menghambat

 prostaglandin

Merangsang

 pengeluaran sitokinin

serta mediator kimia lain

Berikatan dengan

nosiseptor 

Serabut

saraf perifer 

Sekresi hormon kortisol

Sekresi HCl ↑

Lambung

 bersifat asam

Mengiritasi mukosa

+ duodenum, distensi

yang berlebihan

Mentransmisikan impuls saraf 

oleh saraf aferen vagal ke

Memiliki

asam kerosif 

Mukosa iritasi

↑ kecepatan sekresi

+ ↑ pergerakan

dinding usus

Banyak cairan untuk  membersihkan agen lafeksi ke anus

(22)

12. Rencana Keperawatan A. Pengkajian 1. Pengumpulan Data a. Biodata 1)   Nama : Nn. Alice 2) Usia : 27 tahun

3) Jenis Kelamin : Perempuan 4) Pekerjaan : Quality Control (QC) 5) Pendidikan :

6) Alamat :

7) Agama :

8) Suku Bangsa :

9) Tanggal masuk dirawat :

b. Keluhan Utama : Nyeri seperti terbakar pada area epigastrium c. Riwayat Kesehatan Sekarang

(23)

1. Hasil pengkajian

2. Hasil pemeriksaan endoskopi

C. Analisa Data

No Data Etiologi Masalah

1. DS :

• Klien mengeluh nyeri

seperti terbakar pada area epigastrium yang dirasakan lebih nyeri setelah makan

DO :

-Faktor pencetusaspirinmenghambat  prostaglandin merangsang pengeluaran

sitokinin serta mediator kimia lain berikatan dengan nosiseptor  serabut saraf perifer  impuls saraf kornu dorsalis medula spinalisnyeri dipersepsikan di korteks serebrinyeri

Gangguan rasa nyaman : nyeri

2. DS :

• Perasaan mual dan

kadang-kadang muntah

• Klien mengeluh

  perutnya kembung dan disertai diare

DO :

-Faktor pencetusaspirinmemiliki asam kerosif  mukosa iritasinaiknya kecepatan sekresi + naiknya pergerakan dinding usus  diareintake cairan kurang 

ketidakseimbangan cairan dan elektrolit

Faktor pencetusstressekresi hormon

Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit

(24)

terhadap penyakitpenggunaan aspirin  kurang pengetahuan terhadap efek obat

Diagnosa Keperawatan

1. Gangguan rasa nyaman : nyeri yang berhubungan dengan iritasi pada mukosa gaster yang ditandai dengan klien mengeluh nyeri seperti terbakar pada area epigastrium dan nyeri dirasakan bertambah setelah makan

2. Gangguan keseimbangan cairan yang berhubungan dengan output cairan yang tinggi yang ditandai dengan klien mengeluh diare dan kadang – kadang muntah

3. Kurangnya pengetahuan yang berhubungan dengan penggunaan aspirin yang ditandai dengan klien menggunakan aspirin saat ia merasa tidak enak badan

(25)

Rencana Keperawatan

No Diagnosa Keperawatan Tujuan Perencanaan

Intervensi Rasional

1. Gangguan rasa nyaman : nyeri yang berhubungan dengan iritasi  pada mukosa gaster yang ditandai

dengan :

DS : klien mengeluh nyeri seperti terbakar pada area e pigastrium dan nyeri dirasakan bertambah setelah makan

DO :

-Tujuan jangka panjang : klien tidak mengeluh nyeri

Tujuan jangka pendek :  Nyeri klien berkurang setelah  perawatan 1x24 jam dengan

kriteria hasil :

- Tanda-tanda vital kembali normal (HR, RR, T, dan TD) - Klien mengatakan nyeri

 berkurang

- Klien menunjukkan rasa nyaman

Mandiri :

•Kaji karakteristik nyeri dan

ketidaknyamanan ; lokasi, kualitas, frekuensi, durasi

•Kaji respon perilaku pasien terhadap nyeri

dan pengalaman nyeri.

•Pantau tanda – tanda vital pasien

•Ajarkan pasien stageri untuk mengatasi

nyeri dan ketidaknyaman

•Ajarkan kepada klien bahwa kopi, teh,

alkohol dapat menyebabkan diuresis dan dapat menambah kehilangan cairan

•Berikan klien makanan tinggi lemak dan

hindari makanan yang tinggi protein

•Memberikan dasar untuk mengkaji

 perubahan pada tingkat nyeri dan mengealuasi intervensi

•Memberikan informasi tambahan tentang

nyeri pasien

•Sebagai informasi dasar untuk penentuan

intervensi yang tepat

•Meningkatkan jumlah pilihan dan strategi

yang tersedia bagi pasien.

•Makanan atau minuman yang

mengandung kafein dan alkohol dapat meningkatkan asam lambung dan memperburuk diare

•Makanan yang mengandung protein yang

(26)

•Dorong penggunaan keterampilan

manajemen nyeri (mis. Teknik relaksasi, visualisasi, bimbingan imajinasi), tertawa musik, dan sentuhan terapeutik).

•Berikan alternatif tindakan kenyamanan,

contoh pijatan, pijatan punggung,  perubahan posisi.

Kolaborasi :

Kolaborasikan pemberian antibiotik yang disertai H2bloker 

asam lambung sedangkan lemak dapat mengurangi pengeluaran asam lambung

•Memungkinkan klien untuk dapat

 berpartisipasi secara aktif dan meningkatkan rasa kontrol.

•Meningkatkan sirkulasi umum ;

menurunkan area tekanan lokal dan kelelahan otot dan meningkatkan relaksasi

•Gastritis dapat disebabkan oleh infeksi

 bakteri. Pemberian antibiotik dapat merusak mukosa lambung, pemberian H2  bloker dapat melindungi mukosa lambung 2. Gangguan keseimbangan cairan

yang berhubungan dengan output cairan yang tinggi yang ditandai dengan :

DS : klien mengeluh diare dan kadang – kadang muntah

Tujuan jangka panjang : Kebutuhan cairan terpenuhi

Tujuan jangka pendek : Kebutuhan cairan terpenuhi sebanyak 1750 ml dan tanda – 

Mandiri :

•Observasi kulit kering berlebihan dan

membran mukosa, penurunan turgor kulit,  pengisian kapiler lambat.

•Pantau tanda dan gejala dini defisit

•Menunjukkan kehilangan cairan

 berlebihan/dehidrasi.

(27)

DO : - tanda dehidrasi berkurang volume cairan :

- membrane mukosa kering - Urine kuning kecoklatan

•Timbang berat badan klien tiap hari

•Pantau intake dan output cairan

•Anjurkan klien untuk minum 1500 ml – 

2500 ml setiap hari

Kolaborasi :

•Berikan cairan (dextrose 5%,RL) sesuai

dengan program rehidrasi

menyebabkan kekeringan jaringan dan  pemekatan urine. Deteksi dini

memungkinkan terapi penggantian cairan segera untuk memperbaiki defisit

•Penimbangan berat badan yang tepat dapat

mendeteksi kehilangan cairan

•Memberikan informasi status

keseimbangan cairan untuk menetapkan kebutuhan cairan pengganti.

•Pemberian cairan yang adekuat dapat

mengurangi klien dari dehidrasi

•Sebagai upaya rehidrasi untuk mengganti

cairan yang keluar bersama feses 3. Kurangnya pengetahuan yang

 berhubungan dengan penggunaan aspirin yang ditandai dengan : DS : Klien menggunakan aspirin saat ia merasa tidak enak badan DO :

-Tujuan Jangka Panjang : Klien sudah mengetahui semua hal tentang penggunaan aspirin.

Tujuan Jangka Pendek : Klien sudah mengetahui semua hal tentang efek samping aspirin.

•Kaji tentang penyakit yang diderita klien.

•Instruksikan klien tentang cara-cara

 penggunaan aspirin

•Beri penkes/pengetahuan tentang penyakit

•Sebagai tahap awal dalam menentukan

terapi selanjutnya

•Pengetahuan tentang penggunaan aspirin

dapat membantu mencegah bertambah  parahnya penyakit

•Memberikan pengetahuan tentang

(28)

Gambar

Gambar   3.   Bagan  pengaruh sekresi sel parietal Pada  fase usus mula-mula akan terjadi pe-ningkatan dan kemudian akan diikuti dengan penurunan sekresi getah lambung

Referensi

Dokumen terkait

Nyeri berkurang atau hilang yang ditandai dengan tidak mengeluh nyeri pada area fraktur atau. nyeru berkurang, edema berkurang atau hilang, klien

Do: Klien lemah, mukosa oral kering, BB menurun 53 kg semula 55 kg, TB : 165 cm, porsi makan tidak habis. Ds: Klien mengeluh nyeri pada pinggang, klien mengatakan punya

Sejak 1 minggu smrs, OS mengeluh nyeri perut , nyeri perut dirasakan dibagian perut kuadran kanan atas, nyeri perut timbul jika berubah posisi kearah kanan dan kearah

Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan Peningkatan tekanan vaskuler serebral ditandai dengan klien mengatakan sakit pada bagian kepala dan klien tampak

Tujuan dan Kriteria hasil Intervensi Rasional 08 1) Peningkatan suhu tubuh (Hipertermi) berhubungan dengan Proses inflamasi ditandai dengan badan panas. 2)Gangguan rasa nyaman

a) Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan kerusakan inkontinuitas jaringan sekunder. Tindakan atau kontraksi otot uterus yang ditandai dengan wajah klien ekspresi

1.) Gangguan rasa nyaman nyeri ringan berhubungan dengan diskontinuitas jaringan terhadap luka tembus dan tindakan operasi yang ditandai dengan reaksi verbal klien