KAJIAN
FISKAL
REGIONAL
KEMENTERIAN KEUANGANDIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN
Triwulan III
2019
Provinsi Sulawesi Tenggara
Penyusun:Penanggung Jawab: Arif Wibawa I Ketua Tim: Eko Wahyu Budi Utomo I Editor: Rachmadi Wahyu P S I Zamrud Siswa Utama I Desain Grafis: Agustina Diprianti I Anggota: Rachmadi Wahyu P S I Afif Efendi I Zamrud Siswa Utama I Novianti Panggalo | Agustina Diprianti | Emar Sukardi I
i
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ... I DAFTAR TABEL ... III DAFTAR GRAFIK ... IV
BAB I PERKEMBANGAN DAN ANALISIS EKONOMI REGIONAL ... 1
A. PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO ... 1
B. INFLASI ... 3
C. INDIKATORKESEJAHTERAAN ... 5
BAB II PERKEMBANGAN DAN ANALISIS PELAKSANAAN APBN ... 6
A. PENDAPATANNEGARA ... 6
1. Penerimaan Perpajakan ... 6
a) Pajak Penghasilan (PPh) ... 6
b) Pajak Pertambahan Nilai (PPN) ... 7
c) Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM)... 7
d) Penerimaan Bea dan Cukai... 8
2. Penerimaan Negara Bukan Pajak ... 8
a) Pendapatan Badan Layanan Umum ... 8
b) Pendapatan PNBP Lainnya ... 9
B. BELANJANEGARA ... 9
1. Belanja Pemerintah Pusat K/L ... 9
2. Transfer ke Daerah ... 10
3. Pengelolaan Badan Layanan Umum (BLU) ... 11
a) Universitas Halu Oleo (UHO) ... 11
b) Rumah Sakit Umum (RSU) Bhayangkara ... 11
4. Manajemen Investasi Pusat ... 12
C. PROGNOSISREALISASIAPBN ... 13
BAB III PERKEMBANGAN DAN ANALISIS PELAKSANAAN APBD ... 14
A. PENDAPATANDAERAH ... 15
1. Pendapatan Asli Daerah ... 15
a) Pajak Daerah ... 15
b) Retribusi Daerah ... 15
c) Hasil Kekayaan Daerah Yang Dipisahkan ... 15
d) Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah ... 15
2. Pendapatan Transfer ... 16
3. Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah ... 16
B.BELANJADAERAH ... 16
1. Belanja Pegawai, Belanja Barang, dan Belanja Modal ... 16
2. Belanja Daerah Berdasarkan Klasifikasi Urusan ... 17
C.PROGNOSISREALISASIAPBDSAMPAIDENGANAKHIRTAHUN2019 ... 17
BAB IV PERKEMBANGAN DAN ANALISIS PELAKSANAAN ANGGARAN KONSOLIDASIAN (APBN DAN APBD) ... 18
A. LAPORANKEUANGANPEMERINTAHKONSOLIDASIAN ... 18
B. PENDAPATANKONSOLIDASIAN ... 18
1. Analisis Proporsi dan Perbandingan ... 18
2. Analisis Perubahan ... 19
3. Analisis Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Kenaikan Realisasi Pendapatan Konsolidasian ... 19
C. BELANJAKONSOLIDASIAN ... 19
1. Analisis Proporsi dan Perbandingan ... 19
2. Analisis Perubahan ... 20
ii
D. ANALISIS KONTRIBUSI PEMERINTAH DALAM PRODUK DOMESTIKREGIONAL BRUTO (PDRB) ... 21
BAB V BERITA / ISU FISKAL REGIONAL TERPILIH ... 22
A. MENATA KEMBALI KEBIJAKAN ANGGARAN DALAM UPAYA MENURUNKAN KETIMPANGAN ... 22 B. BERTAHAN DI TENGAH PERANG DAGANG AMERIKA DAN TIONGKOK .... 24
LAMPIRAN ... 26 DAFTAR PUSTAKA ... 28 FOTO SAMPUL ... 29
iii
DAFTAR TABEL
TABEL 1. 1 TINGKAT INFLASI SULAWESI TENGGARA (MTM) S.D TRIWULAN III 2019
MENURUT KELOMPOK PENGELUARAN ... 4
TABEL 2. 1 PAGU DAN REALISASI APBN LINGKUP SULTRA ... 6
TABEL 2. 2 RINGKASAN LAPORAN KEUANGAN UHO ... 11
TABEL 2. 3 PAGU PNBP DAN RM UHO ... 11
TABEL 2. 4 RINGKASAN LAPORAN KEUANGAN RSU BHAYANGKARA ... 12
TABEL 2. 5 PAGU PNBP DAN RM RSU BHAYANGKARA ... 12
TABEL 2. 6 PENERUSAN PINJAMAN LINGKUP SULTRA ... 12
TABEL 2. 7 DEBITUR KUR PER WILAYAH LINGKUP SULTRA ... 13
TABEL 2. 8 DEBITUR UMI PER WILAYAH LINGKUP SULTRA ... 13
TABEL 2. 9 PROGNOSIS REALISASI APBN S.D. TRIWULAN IV 2019 ... 13
TABEL 3. 1 PAGU DAN REALISASI APBD TRIWULAN III 2018 DAN 2019 LINGKUP PROVINSI SULAWESI TENGGARA ... 14
TABEL 3. 2 PERKIRAAN REALISASI APBD S.D. TRIWULAN IV 2019 LINGKUP PROVINSI SULAWESI TENGGARA ... 17
TABEL 4. 1 LAPORAN KEUANGAN PEMERINTAH KONSOLIDASIAN LINGKUP SULTRA .. 18
TABEL 4. 2 REALISASI PENDAPATAN KONSOLIDASIAN ... 19
iv
DAFTAR GRAFIK
GRAFIK 1. 1 PERKEMBANGAN EKONOMI SULTRA DAN NASIONAL 2017 – 2019
Y-ON-Y (%) ... 2
GRAFIK 1. 2 PERKEMBANGAN PERDAGANGAN INTERNASIONAL SULTRA PERIODE TW III TAHUN 2017-2019 (JUTA US$) ... 3
GRAFIK 1. 3 TINGKAT INFLASI SULTRA DAN NASIONAL TRIWULAN III 2017 S.D TRIWULAN III 2019 (MTM) ... 4
GRAFIK 1. 4 JUMLAH DAN TINGKAT PENGANGGURAN TERBUKA PROV. SULAWESI TENGGARA PERIODE AGUSTUS 2015-2019 ... 5
GRAFIK 2. 1 PENERIMAAN PPH LINGKUP SULTRA (RUPIAH) ... 6
GRAFIK 2. 2 PENERIMAAN PPN LINGKUP SULTRA (RUPIAH) ... 7
GRAFIK 2. 3 PENERIMAAN PPNBM LINGKUP SULTRA (RUPIAH) ... 7
GRAFIK 2. 4 PENERIMAAN BEA DAN CUKAI LINGKUP SULTRA (RUPIAH) ... 8
GRAFIK 2. 5 PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK LINGKUP SULTRA (RUPIAH) ... 8
GRAFIK 2. 6 PERBANDINGAN BELANJA APBN LINGKUP SULTRA (MILIAR RUPIAH) ... 9
GRAFIK 2. 7 BELANJA APBN LINGKUP SULTRA (MILIAR RUPIAH) ... 9
GRAFIK 2. 8 TREN BELANJA APBN LINGKUP SULTRA (MILIAR RUPIAH) ... 10
GRAFIK 2. 9 TRANSFER KE DAERAH DAN DANA DESA LINGKUP SULTRA (MILIAR RUPIAH) ... 10
GRAFIK 3. 1 TARGET DAN REALISASI PER JENIS PAD SELURUH PEMDA PROVINSI SULAWESI TENGGARA S.D. TRIWULAN III 2019 (MILIAR RUPIAH) ... 15
GRAFIK 3. 2 REALISASI PENDAPATAN TRANSFER LINGKUP PROVINSI SULAWESI TENGGARA (MILIAR RUPIAH) ... 16
GRAFIK 3. 3 TARGET DAN REALISASI LAIN-LAIN PENDAPATAN DAERAH YANG SAH LINGKUP PROVINSI SULAWESI TENGGARA (MILIAR RUPIAH) ... 16
GRAFIK 3. 4 PAGU DAN REALISASI BELANJA PEGAWAI, BARANG, DAN MODAL TRIWULAN III 2019 LINGKUP PROVINSI SULAWESI TENGGARA (MILIAR RUPIAH) . 16 GRAFIK 3. 5 PAGU DAN REALISASI BELANJA BERDASARKAN URUSAN PROVINSI SULAWESI TENGGARA (MILIAR RUPIAH) ... 17
GRAFIK 4. 1 PERBANDINGAN PENDAPATAN KONSOLIDASIAN SULTRA (RUPIAH) ... 18
GRAFIK 4. 2 PERBANDINGAN PENERIMAAN PEMERINTAH KONSOLIDASIAN (RUPIAH) . 19 GRAFIK 4. 3 PERBANDINGAN PENERIMAAN PERPAJAKAN KONSOLIDASIAN (RUPIAH) 19 GRAFIK 4. 4 BELANJA PEMERINTAH KONSOLIDASIAN BERDASAR JENIS BELANJA (RUPIAH) ... 19
v
GRAFIK 5. 1 RASIO GINI TAHUN 2018 TERHADAP RATA-RATA PERTUMBUHAN RASIO GINI ... 22 GRAFIK 5. 2 NILAI EKSPOR KOMODITAS UTAMA PROV. SULTRA (RIBU US$) ... 25
1
BAB I
PERKEMBANGAN DAN ANALISIS EKONOMI REGIONAL
Dampak dari ketidakpastian perekonomian global mengakibatkan pelemahan ekonomi dunia. Hal tersebut juga turut dirasakan oleh Indonesia. Perekonomian Indonesia pada triwulan III 2019 tumbuh melambat 5,02% (YoY). Kondisi ini juga berimbas pada perekonomian Sultra, dimana ekonomi Sultra tumbuh melambat menjadi 6,18% (YoY). Secara langsung dampak dari pelemahan ekonomi dunia belum terasa, mengingat ekspor Sultra masih mengalami peningkatan pada kuartal III 2019 dibanding periode tahun sebelumnya. Ekonomi Sultra tumbuh melambat disebabkan sektor pertanian, perikanan dan kehutanan sebagai kontributor utama dalam struktur PDRB dari sisi lapangan usaha mengalami pertumbuhan yang lambat sementara dari sisi pengeluaran sektor ekspor dalam negeri (perdagangan antar provinsi) Sultra juga mengalami perlambatan yang drastis. Hal ini sebagai dampak dari perlambatan ekonomi yang terjadi dalam negeri.
Disisi lain, inflasi Sultra masih tetap terjaga. Sampai dengan triwulan III 2019 inflasi berada pada angka 3,92%. Tekanan inflasi sempat terjadi memasuki bulan Mei sampai dengan Juni 2019 bertepatan dengan bulan suci Ramadhan dan Idul Fitri, sehingga terjadi demand pull inflation ditambah gangguan distribusi barang kebutuhan akibat cuaca buruk. Namun memasuki triwulan III 2019, Sultra mengalami deflasi dengan deflasi terdalam terjadi pada bulan Agustus 2019.
Perlambatan ekonomi dan deflasi di Sultra berdampak pada pengurangan jumlah tenaga kerja. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Sultra pada triwulan III 2019 sebesar 3,59% meningkat dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 3,26%. Peningkatan ini terjadi di pedesaan. Sementara itu, jika dilihat dari jenjang pendidikan, kelompok yang yang mengalami peningkatan pengangguran adalah kelompok dengan jenjang pendidikan SD ke bawah, SMA dan Universitas, namun kelompok yang mendominasi pengganguran Sultra adalah kelompok dengan jenjang pendidikan SMK.
A. PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO
PDRB Sultra pada triwulan III 2019 secara nominal tercatat sebesar Rp33,31 triliun. Struktur PDRB masih didominasi oleh sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 22,82%, pertambangan dan penggalian sebesar 22,03%, konstruksi sebesar 13,89%, serta sektor perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan
2
sepeda motor sebesar 12,67%. Sedangkan dari sisi pengeluaran, struktur PDRB masih dominan pada komponen pengeluaran rumah tangga sebesar 49,12%. Sementara itu, PDRB Sultra secara riil tercatat sebesar Rp24,14 triliun dengan pertumbuhan PDRB yang melambat menjadi 6,18% (YoY). Jika dibandingkan dalam kurun waktu 3 tahun terakhir, pertumbuhan pada periode ini menjadi yang paling rendah. Hal ini disebabkan oleh sektor pertanian, kehutanan dan perikanan sebagai sektor yang berkontribusi besar dalam struktur PDRB Sultra tumbuh melambat. Penyebabnya adalah ketidakstabilan harga dari hasil komoditas sektor tersebut yang terlihat dari deflasi yang terjadi di Sultra pada periode triwulan III 2019. Oleh karena itu, pemerintah diharapkan mampu menjaga stabilitas harga hasil komoditas melalui instrumen perdagangan (floor price dan operasi pasar). Kendati demikian, pertumbuhan PDRB Sultra masih di atas rerata pertumbuhan PDRB Nasional yang juga tumbuh melambat sebesar 5,02% (YoY).Pertumbuhan tertinggi PDRB Sultra pada periode pelaporan secara tahunan terjadi pada sektor industri pengolahan sebesar 10,83%, disusul sektor pertambangan sebesar 9,81%, dan informasi dan komunikasi sebesar 7,89%. Pertumbuhan industri pengolahan di Sultra meningkat seiring meningkatnya produksi feronikel. Hal ini tidak lepas dari kebijakan pemerintah terkait pelarangan ekspor bijih nikel dengan kadar rendah dan harus ditingkatkan nilai tambahnya melalui hilirisasi industri sebelum diekspor. Kebijakan ini mewajibkan bahan mentah nikel harus diolah terlebih dahulu melalui proses pemurnian. Bagi perusahaan tambang nikel yang belum memiliki fasilitas smelter
diwajibkan menjual kepada pengusaha yang memiliki smelter. Saat ini, smelter yang ada di Sultra merupakan smelter dengan kapasitas output terbesar di Indonesia, yakni sebesar 600 ribu ton milik PT. Virtue Dragon Nickel Industry di Kab. Konawe. Selain berdampak pada nilai tambah nikel, kebijakan pemerintah ini akan mampu menarik investor untuk membangun smelter yang pada gilirannya menggerakkan investasi pada sisi pengeluaran komponen PDRB.
3
Pertumbuhan industri pengolahan di Sultra juga beriringan dengan pertumbuhan ekspor Sultra. Ekspor barang dan jasa Sultra masih mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 33,75% (YoY). Ekspor internasional Sultra sampai dengan triwulan III 2019 tercatat sebanyak 9.243,13 ribu ton dengan nilai sebesar US$1.266,17 juta. Adapun ekspor internasional Sultra didominasi komoditi dari sektor industri pengolahan, pertambangan serta pertanian dan perikanan seperti komoditi besi, baja, bijih, kerak, abu logam, dan komoditi ikan dan udang, dengan negara tujuan ekspor Sultra adalah Tiongkok sebagai negara tujuan utama disusul India, Taiwan, Korsel dan Amerika Serikat. Sementara itu impor Sultra tercatat sebanyak 1.349,82 ribu ton dengan nilai sebesar US$783,25 juta. Barang dan jasa yang diimpor oleh Sultra meliputi komoditi bahan baku/penolong, barang modal dan barang konsumsi seperti mesin-mesin/ pesawat mekanik, bahan bakar mineral, benda-benda dari besi dan baja danperalatan listrik yang berasal dari negara Tiongkok, Singapura dan Australia. Dari selisih nilai ekspor dan impor sampai dengan triwulan III 2019, nilai neraca perdagangan internasional Sultra tercatat surplus sebesar US$482,92 juta.
B. INFLASI
Inflasi didefinisikan sebagai suatu proses kenaikan harga-harga yang berlaku dalam suatu perekonomian (Sukirno, 2016). Laju inflasi Sultra sampai dengan triwulan III 2019 relatif terkendali pada angka 3,92% (ytd). Angka ini jauh lebih tinggi jika dibanding dengan laju inflasi nasional yang tercatat sebesar 0,16% (ytd) dan juga lebih tinggi jika dibanding dengan periode yang sama tahun 2018, namun masih berada pada rentang target inflasi nasional sebesar 3,5% ± 1%. Tekanan inflasi yang terjadi pada periode ini dipengaruhi shocks gangguan pasokan dan distribusi pangan atau komponen volatile food (komponen bergejolak). Menurut informasi dari BMKG yang dikutip dari Elshinta.com, intensitas curah hujan wilayah Sultra pada bulan Mei dan Juni cukup tinggi menyebabkan terjadinya banjir. Selain itu tingginya gelombang laut yang berkisar antara 1,25 meter hingga 2,5 meter berdampak pada terganggunya distribusi pangan.
4
Pada triwulan I 2019, laju Inflasi Sultra berada pada angka 0,44% (ytd). Komponenadministered prices mengalami tekanan inflasi yang disebabkan kebijakan kenaikan tarif angkutan udara. Sementara itu, komponen volatile food mengalami penurunan tekanan inflasi yang disebabkan oleh turunnya harga pada komoditas sayur-sayuran dan ikan segar. Hal ini sejalan dengan tren kondisi cuaca yang membaik dimana intensitas curah hujan yang berkurang serta kondisi gelombang laut yang mendukung, sehingga produksi sayur-sayuran dan ikan melimpah. Memasuki triwulan II 2019, kelompok volatile food mulai mengalami tekanan inflasi sampai dengan akhir triwulan II. Periode ini bertepatan dengan bulan suci Ramadhan dan hari raya Idul Fitri yang menyebabkan meningkatnya permintaan akan kebutuhan, terutama kelompok volatile food. Sementara itu, kelompok administered prices
cenderung mengalami penurunan tekanan inflasi. Kelompok pengeluaran transpor misalnya, tingginya harga jasa angkutan udara menyebabkan masyarakat cenderung mencari alternatif angkutan lainnya. Sedangkan untuk bahan bakar, pihak Pertamina menambah pasokan bahan bakar minyak (BBM) dan LPG, serta membentuk satgas RAFI (Ramadhan dan Idul Fitri). Pada periode pelaporan ini, kelompok volatile good kembali mengalami penurunan tekanan inflasi setelah triwulan sebelumnya mengalami tekanan inflasi, sedangkan kelompok administered prices juga mengalami penurunan tekanan inflasi. Inflasi justru terjadi pada kelompok pengeluaran pendidikan diakibat peningkatan belanja menjelang tahun ajaran baru.
Jan Feb Mar Apr Mei Juni Juli Agust Sep
Umum 0,65 0,03 -0,24 0,46 1,80 2,55 -0,24 -1,56 0,47
1 Bahan Makanan 1,77 -1,38 -1,75 1,03 7,54 9,80 -1,51 -4,47 0,88
2 Makanan Jadi, Minuman, Rokok & Tembakau 0,31 0,26 0,02 0,12 0,11 0,60 0,15 0,12 0,16
3 Perumahan, Air, Listrik, Gas & Bahan bakar 0,57 0,10 0,06 0,03 0,05 0,02 0,02 0,02 0,02
4 Sandang 0,67 0,45 0,21 0,20 0,02 0,52 0,74 0,72 0,71
5 Kesehatan 0,35 0,30 1,11 0,61 0,07 0,40 -0,19 0,10 0,19
6 Pendidikan, Rekreasi dan Olahraga 0,47 -0,03 0,00 0,02 0,00 0,07 2,18 0,03 0,68
7 Transpor & Komunikasi dan Jasa Keuangan -0,25 1,31 0,51 0,70 -0,30 -0,49 -0,13 -2,07 0,60
Sumber: BPS (diolah)
Tabel 1.1
Tingkat Inflasi Sulawesi Tenggara (mtm) s.d Triwulan III 2019 Menurut Kelompok Pengeluaran
Triwulan II Triwulan III
5
C. INDIKATOR KESEJAHTERAAN
Indikator pembangunan yang digunakan untuk mengukur tingkat kesejahteraan masyarakat untuk triwulan III 2019 adalah tingkat pengangguran. Berdasarkan studi
yang dilakukan oleh ekonom Arthur Okun (Okun’s Law) diindikasikan adanya hubungan negatif antara pertumbuhan ekonomi dengan pengangguran, semakin tinggi tingkat pertumbuhan ekonomi, maka semakin rendah tingkat pengangguran dan sebaliknya. Teori ini menggambarkan kondisi Sultra saat ini, dimana pada triwulan III tahun 2019 pertumbuhan ekonomi menurun sebesar 6,18% (YoY), dan angka pengangguran bertambah sebesar 4.568 jiwa menjadi 45.292 jiwa.
Pengangguran menjadi salah satu tantangan pemerintah di Sultra, mengingat tingkat pengangguran Sultra yang cenderung mengalami kenaikan selama 4 tahun terakhir seperti yang ditunjukkan grafik 1.4. Peningkatan TPT Sultra pada periode Agustus 2019 disumbang oleh meningkatnya TPT di pedesaan. Meskipun TPT di perkotaan lebih tinggi dibanding TPT pedesaan, akan tetapi TPT perkotaan cenderung mengalami penurunan. Hal ini sejalan kondisi kenaikan TPT lulusan SD ke bawah, meski seharusnya kelompok ini mudah mendapatkan pekerjaan bisa dengan bertani atau menjadi nelayan karena tidak membutuhkan soft skill. Kondisi ini berkaitan erat dengan lambatnya pertumbuhan sektor pertanian, perikanan, dan kehutanan.
Secara keseluruhan pengangguran di Sultra didominasi oleh kelompok dengan tingkat pendidikan SMK. Kurangnya kemampuan berpikir, berperilaku, dan soft skill lainnya menyebabkan kelompok ini kurang terserap oleh pasar kerja (Bappenas, 2016). Kendati demikian, TPT kelompok ini cenderung menurun jika dibanding tahun sebelumnya mengingat sektor yang menyerap tenaga kerja dari kelompok ini seperti sektor perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan motor mengalami pertumbuhan. Sementara itu, kelompok pendidikan yang mengalami peningkatan TPT selain kelompok lulusan SD ke bawah adalah kelompok pada tingkat pendidikan SMA dan Universitas. Kelompok ini cenderung selektif dalam memilih pekerjaan, dan khusus jenjang pendidikan universitas mindset-nya masih mengandalkan menjadi PNS atau masuk ke dalam kategori pekerjaan formal.
6
BAB II
PERKEMBANGAN DAN ANALISIS PELAKSANAAN APBN
Sampai dengan triwulan III 2019, realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) lingkup Sultra menunjukkan capaian yang positif dengan realisasi pendapatan negara mencapai Rp2,10 triliun atau 79,81% dari target sebesar Rp2,64 triliun dan tumbuh 10,57% (YoY) dari Rp1,90 triliun pada triwulan III 2018. Realisasi belanja negara tercatat Rp16,96 triliun atau 68,23% dari pagu sebesar Rp24,86 triliun atau menurun 0,43% (YoY) dari Rp17,03 triliun pada triwulan III 2018. Realisasi ini telah melebihi target realisasi triwulan III sebesar 60%. Pelaksanaan APBN triwulan III 2019 mencatat defisit sebesar Rp14,86 triliun atau 66,86% dari target sebesar Rp21,91 triliun, lebih baik dari defisit triwulan III 2018 yang mencapai 74,77%.
A. PENDAPATAN NEGARA 1. Penerimaan Perpajakan
Penerimaan perpajakan lingkup Sultra sampai dengan triwulan III 2019 tercatat Rp1,62 triliun atau 73,82% dari target sebesar Rp2.19 triliun, meningkat 12,97% (YoY) dari Rp1,43 triliun pada triwulan III 2018.
a)
Pajak Penghasilan (PPh)Penerimaan PPh di Sultra sampai dengan triwulan III 2019 mencapai Rp801,32 miliar mengalami pertumbuhan sebesar 31,41% (YoY) dari Rp609,78 miliar pada triwulan III 2018. Pertumbuhan ini merupakan efek peningkatan realisasi belanja pegawai selama periode sampai dengan triwulan III 2019, khususnya momen pembayaran Tunjangan Hari Raya di sektor pemerintahan dan swasta. Kota Kendari menjadi kontributor utama
(dalam miliar rupiah)
Pagu Realisasi Pagu Realisasi Pagu Realisasi 2.475,14 1.166,13 2.495,24 1.902,79 2.636,23 2.103,90
I. PENERIMAAN DALAM NEGERI 2.472,30 1.166,13 2.495,24 1.902,79 2.636,23 2.103,90 1. Penerimaan Perpajakan 2.181,00 907,59 2.166,03 1.431,53 2.190,84 1.617,22 2. PNBP 291,30 258,53 329,21 471,27 445,39 486,68
II. HIBAH 2,84 - - - - -
22.680,74 15.286,18 22.729,08 17.032,43 24.856,73 16.959,54
I. BELANJA PEMERINTAH PUSAT 6.731,02 3.829,81 6.859,06 4.927,49 7.599,37 4.664,72 1. Belanja Pegawai 1.872,68 1.311,30 1.893,39 1.429,65 2.102,22 1.599,19 2. Belanja Barang 2.723,28 1.447,48 2.906,18 2.223,35 3.232,18 2.044,08 3. Belanja Modal 2.119,07 1.063,41 2.049,72 1.270,79 2.253,03 1.015,84 4. Belanja Bantuan Sosial 15,99 7,64 9,77 3,70 11,95 5,60 5. Belanja Lain-lain - - - -
II. TRANSFER KE DAERAH DAN DANA DESA 15.949,72 11.456,37 15.870,02 12.104,94 17.257,36 12.294,83 1. Transfer ke Daerah 14.467,69 10.541,22 14.455,77 11.260,48 15.643,54 11.331,82
a. Dana Perimbangan 14.318,13 10.391,66 14.254,02 11.075,23 15.421,93 11.149,45 1) Dana Alokasi Umum 9.747,38 8.136,10 9.821,73 8.180,05 10.272,39 8.552,44 2) Dana Bagi Hasil 927,52 319,86 427,37 276,93 765,91 544,92 3) Dana Alokasi Khusus Non Fisik 1.748,60 984,79 1.933,92 1.320,74 2.140,15 1.398,77 4) Dana Alokasi Khusus Fisik 1.894,63 950,91 2.071,00 1.297,52 2.243,48 653,32 b. Dana Transfer Lainnya - - - - c. Dana Keistimewaan Yogyakarta - - - - d. Dana Transfer Lainnya (DID) 149,56 149,56 201,75 185,25 221,61 182,38 2. Dana Desa 1.482,03 915,15 1.414,25 844,46 1.613,82 963,00 (20.205,60) (14.120,06) (20.233,84) (15.129,64) (22.220,50) (14.855,64)
Sumber Data: OMSPAN DJPb, LKPK Triw ulan III 2019 Kanw il DJPb Prov. Sultra (diolah)
B. BELANJA NEGARA
C. SURPLUS/DEFISIT
Pagu dan Realisasi APBN lingkup Sultra Tabel 2.1
Uraian
Tahun 2017 Tahun 2018 Tahun 2019 A. PENDAPATAN NEGARA
7
penerimaan PPh lingkup Sultra, dengan realisasi mencapai Rp385,27 miliar atau 48,08% dari seluruh penerimaan PPh, disusul Kabupaten Kolaka sebesar Rp109,44 miliar atau 13,66%, dan Kabupaten Konawe sebesar Rp91,70 miliar atau 11,44%.b) Pajak Pertambahan Nilai (PPN)
Penerimaan PPN di Sultra sampai dengan triwulan III 2019 mencapai Rp476,24 miliar mengalami pertumbuhan sebesar 15,54% (YoY) dari Rp412,18 miliar pada triwulan III 2018. Kota Kendari juga menjadi kontributor terbesar penerimaan PPN lingkup Sultra dengan realisasi Rp247,99 miliar atau mencapai 52,07% dari seluruh penerimaan PPN, disusul Kota Baubau sebesar Rp55,45 miliar, dan Kabupaten Kolaka sebesar Rp35,06 miliar. c) Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM)
Penerimaan PPnBM di Sultra sampai dengan triwulan III 2019 mencapai Rp313,15 juta mengalami pertumbuhan sebesar 4,57% (YoY) dari Rp299,45 juta pada triwulan III 2018. Kontributor utama penerimaan PPnBM adalah Kota Kendari dengan realisasi sebesar Rp166,06 juta atau mencapai 53,03% dari seluruh penerimaan PPnBM, diikuti Kabupaten Wakatobi sebesar Rp25,21 juta, dan Kota Baubau sebesar Rp21,86 juta. Terdapat koreksi jenis penerimaan atas penerimaan PPnBM bulan Mei 2019 pada Kota Kendari sebesar Rp1,76 miliar.
8
d) Penerimaan Bea dan Cukai
Sampai dengan triwulan III 2019, penerimaan Bea Masuk, Bea Keluar, Cukai, dan Denda Administrasi Pabean/Cukai/Lainnya mencapai Rp447,39 miliar atau meningkat 38,58% (YoY) dari Rp322,84 miliar pada triwulan III 2018. Meningkatnya aktivitas ekspor impor melalui Sultra menghasilkan penerimaan Bea Masuk dan Bea Keluar sebesar Rp447,09 miliar atau 76,48% dari seluruh penerimaan Bea dan Cukai. Adapun penerimaan Cukai hanya sebesar Rp294,61 juta.
2. Penerimaan Negara Bukan Pajak
Sampai dengan triwulan III 2019, realisasi PNBP lingkup Sultra mencapai Rp486,68 miliar atau 109,27% dari target PNBP meningkat 3,17% (YoY) dari Rp471,27 miliar pada triwulan III 2018.
a) Pendapatan Badan Layanan Umum
Sampai dengan triwulan III 2019, pendapatan BLU lingkup Sultra mencapai Rp285,77 miliar atau 97,21% dari target pendapatan BLU. Pendapatan jasa layanan pendidikan Universitas Halu Oleo mendominasi pendapatan BLU sebesar Rp271,14 miliar atau 94,88% dari keseluruhan pendapatan BLU, sedangkan sisanya merupakan pendapatan jasa layanan kesehatan RS Bhayangkara dan Pendapatan Lain-lain BLU.
9
b) Pendapatan PNBP Lainnya
Pendapatan PNBP lainnya sampai dengan triwulan III 2019 sebesar Rp200,91 miliar atau 132,69% dari target pendapatan PNBP Lainnya. Pendapatan Jasa Sektor Perhubungan menjadi kontributor terbesar PNBP Lainnya dengan realisasi mencapai Rp72,12 miliar atau 14,82%, diikuti Pendapatan Layanan Kepolisian sebesar Rp43,74 miliar atau 8,99%, serta Pendapatan Biaya Pendidikan Rp43,00 miliar atau 8,84%.
B. BELANJA NEGARA
Pagu belanja negara lingkup Sultra tahun anggaran 2019 sebesar Rp24,86 triliun, meningkat 9,36% dibandingkan pagu tahun anggaran 2018 yang sebesar Rp22,73 triliun. Akan tetapi dari sisi kinerja, persentase realisasi sebesar 68,23% mengalami penurunan 6,71% (YoY) dari 74,94% pada tahun anggaran 2018.
1. Belanja Pemerintah Pusat K/L
Realisasi belanja pemerintah pusat K/L sampai dengan triwulan III 2019 mencapai Rp4,66 triliun atau 61,38% dari alokasi anggaran dan sedikit di atas target realisasi nasional yang sebesar 60%. Persentase realisasi tertinggi pada belanja pegawai mencapai 76,07%, diikuti belanja barang sebesar 63,24%. Sedangkan realisasi terendah adalah belanja modal mencapai 45,09%. Penilaian kinerja anggaran melalui nilai Indikator Kinerja Pelaksanaan Anggaran (IKPA) cukup memacu satker untuk
disiplin dalam merealisasikan belanja APBN. Percepatan realisasi belanja barang dan belanja modal diharapkan memberikan multiplier effect
bagi aktivitas ekonomi regional.
Jika dilihat dari kurva realisasi, hampir seluruh belanja mempunyai tren yang seragam yaitu terus meningkat sampai dengan bulan Mei, lalu menurun di bulan Juni, sedang pada triwulan III 2019 pergerakan cukup fluktuatif dengan tren belanja yang terus meningkat khususnya pada belanja modal.
10
2. Transfer ke Daerah
Realisasi Transfer ke Daerah dan Dana Desa (TKDD) lingkup Sultra sampai dengan triwulan III 2019 mencapai Rp12,29 triliun atau 71,24% dari alokasi TKDD sebesar Rp17,26 triliun Persentase realisasi TKDD terbesar adalah realisasi Dana Alokasi Umum yang mencapai 83,26%, disusul realisasi Dana Insentif Daerah sebesar 82,29%. Adapun daerah yang memiliki realisasi TKDD terbesar adalah Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara, mencapai Rp2,25 triliun atau 18,31% dari realisasi TKDD lingkup Sultra. Berdasarkan komposisi sumber pendapatan daerah, ketergantungan Pemerintah Daerah terhadap dana transfer Pemerintah Pusat mencapai 90,38%.
Sementara itu, alokasi DAK Fisik lingkup Sultra tahun 2019 sebesar Rp2,24 triliun dengan penyaluran sampai dengan triwulan III 2019 mencapai Rp653,32 miliar atau 29,12%. Hal ini disebabkan batas akhir penyaluran DAK Fisik tahap II adalah akhir bulan Oktober 2019, sehingga masih banyak bidang yang belum tersalurkan. Berdasarkan identifikasi data kontrak, penyaluran DAK Fisik sampai dengan tahap II diperkirakan mencapai 69,81% dari target 70%. Tidak tercapainya target karena adanya bidang yang tidak salur, yaitu pada bidang Pariwisata Kabupaten Buton (kegiatan tidak memenuhi Amdal). Adapun alokasi Dana Desa lingkup Sultra tahun 2019 sebesar Rp1,61 triliun dengan penyaluran sampai dengan triwulan III 2019 mencapai Rp963,00 miliar atau 59,67% dari target 60%. Hal ini disebabkan adanya sisa Dana Desa tahun anggaran pada RKUD, yaitu pada Kabupaten Wakatobi, Kabupaten Konawe, dan Kabupaten Konawe Kepulauan.
11
3. Pengelolaan Badan Layanan Umum (BLU)
Terdapat 2 (dua) BLU di Sultra, yaitu Universitas Halu Oleo (UHO) dan Rumah Sakit Umum Bhayangkara. Keduanya masing-masing ditetapkan menjadi BLU penuh berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 32/KMK.05/2010 dan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 2/KMK.05/2016.
a) Universitas Halu Oleo (UHO)
1) Perkembangan Pengelolaan Aset
Sampai dengan triwulan III 2019 Ekuitas UHO sebesar Rp2,54 triliun atau meningkat 4,37% (YoY) dari Rp2,43 triliun pada triwulan III 2018. Sedangkan nilai aset sebesar Rp2,54 triliun juga meningkat sebesar 4,45% (YoY) dari Rp2,43 triliun pada triwulan III 2018. Peningkatan disumbangkan dari nilai Kas pada BLU, Peralatan dan Mesin, serta Gedung dan Bangunan.
2) Kemandirian Fiskal
Kemandirian finansial BLU merupakan kemampuan satker BLU untuk membiayai operasionalnya dengan pendapatan BLU, dengan melihat dari perbandingan porsi pagu PNBP dan Rupiah Murni (RM) yang dikelolanya. Kemandirian tersebut diukur dari bertambahnya porsi pagu PNBP terhadap RM. Tingkat kemandirian UHO termasuk kategori Baik yaitu sebesar 61,93% pada triwulan III 2019 meningkat dari 53,35% pada triwulan III 2018.
b) Rumah Sakit Umum (RSU) Bhayangkara 1) Perkembangan Pengelolaan Aset
Adapun Ekuitas RSU Bhayangkara sampai dengan triwulan III 2019 sebesar Rp54,74 miliar atau meningkat 10,58% (YoY) dari Rp49,50 miliar pada triwulan III 2018. Sedangkan nilai aset mencapai Rp54,74
(dalam rupiah) 2017 2018 2019*) Aset Lancar 90.162.685.668 107.383.108.218 228.699.943.358 Aset Tetap 2.320.682.226.356 2.322.442.883.615 2.309.238.063.943 Aset Lainnya 2.531.395.737 2.414.552.439 2.563.372.041 Kewajiban 8.169.048.074 1.454.537.635 3.495.310.755 Ekuitas 2.405.207.259.687 2.430.786.006.637 2.537.006.068.587
*) Data LK Triwulan III 2019
Sum ber : Aplikasi e-R ekon-DJ Pb
Ta be l 2.2
Ringka sa n La pora n Ke ua nga n UHO
(dalam rupiah) Pagu 2017 2018 2019 Pagu PNBP 180.889.000.000 251.972.255.000 361.000.000.000 Pagu RM 205.463.014.000 220.348.882.000 221.881.594.000 Total Pagu 386.352.014.000 472.321.137.000 582.881.594.000 % Pagu PNBP 46,82% 53,35% 61,93% Sumber : OMSPAN-DJPb Tabel 2.3
12
miliar juga meningkat 10,38% (YoY) dari Rp49,59 miliar pada triwulan III 2018. Peningkatan disumbangkan dari nilai Kas pada BLU, Piutang dari Operasional BLU, serta Aset Lain-lain.2) Kemandirian Fiskal
Sebagai satker BLU, kemandirian finansial RSU Bhayangkara termasuk dalam kategori Sangat Baik. Pada triwulan III 2019 tingkat kemandirian RSU Bhayangkara mencapai 87,53% meningkat dari 86,68% pada triwulan III 2018.
4. Manajemen Investasi Pusat
Kanwil DJPb diberikan tugas untuk melaksanakan Pembinaan dan Monitoring Kredit Program dan mengkoordinasi pelaksanaan Monitoring dan Evaluasi Pembiayaan Ultra Mikro (UMi) di wilayah kerjanya.
Berdasarkan hasil Rekonsiliasi
Outstanding Pinjaman yang
dilaksanakan bulan Juli 2019, penerusan pinjaman pada Kabupaten Konawe masih menunggu Surat Penutupan Perjanjian Penerusan Pinjaman. Sedangkan penerusan pinjaman pada Kota Baubau telah ditutup dengan Surat Menteri Keuangan Nomor S-41/MK.5/2019 tanggal 16 April 2019.
Di sisi lain, penyaluran KUR dan UMi di Sultra sampai dengan triwulan III 2019 mencapai Rp1,55 triliun yang disalurkan kepada 47.163 debitur. Debitur terbanyak terdapat di Kabupaten Muna yaitu 7.952 debitur. Sedangkan nilai penyaluran KUR terbesar disalurkan di Kota Kendari mencapai Rp286,17 miliar. Penyaluran didominasi sektor Perdagangan Besar dan Eceran yang mencapai Rp879,46 miliar atau 49,24% dari total penyaluran KUR Sultra. Hal ini perlu
(dalam rupiah) 2017 2018 2019*) Aset Lancar 11.074.528.167 10.410.781.254 15.573.219.774 Aset Tetap 17.155.844.967 38.999.431.077 38.611.269.204 Aset Lainnya 57.126.327 184.362.328 556.972.129 Kewajiban 1.160.831.708 91.912.368 194.938.730 Ekuitas 27.126.667.753 49.502.662.291 54.741.461.107
*) Data LK Triwulan III 2019
Sum ber : Aplikasi e-R ekon-DJ Pb
Ta be l 2.4
Ringka sa n La pora n Ke ua nga n RSU Bha ya ngka ra
(dalam rupiah) Pa gu 2017 2018 2019 Pagu PNBP 25.560.180.000 28.592.055.000 30.047.828.000 Pagu RM 3.998.278.000 4.395.010.000 4.280.507.000 Total Pagu 29.558.458.000 32.987.065.000 34.328.335.000 % Pa gu PNBP 86,47% 86,68% 87,53% Sumber : OMSPAN-DJPb Ta be l 2.5
Pa gu PNBP da n RM RSU Bha ya ngka ra
(dalam rupiah)
No. Nama SLA Penerima SLA Outstanding
SLA Status Keterangan
1. SLA-1110/DP3/1999 PEMKAB. KENDARI 0,00 Lunas Dalam Proses Penutupan SLA
Sumber : Aplikasi SLIM-DJPb (diolah)
Tabel 2.6 Penerusan Pinjaman lingkup Sultra
13
menjadi perhatian stakeholder KUR, karena belum sejalan dengan kebijakan pemerintah yang menargetkan penyaluran minimal 60% pada sektor Produksi.Sementara itu, penyaluran UMi lingkup Sultra telah mencapai Rp1,70 miliar kepada 462 debitur pada 8 (delapan) kabupaten/kota. Penyaluran UMi dilakukan oleh PT. Pegadaian dan PT. Permodalan Nasional Madani (PNM).
C. PROGNOSIS REALISASI APBN
Prognosis realisasi APBN sampai dengan akhir tahun 2019 dilakukan dengan mempertimbangkan faktor-faktor yang berpengaruh dan analisis trend, sehingga sampai dengan akhir triwulan IV 2019, diperkirakan pendapatan negara Sultra akan tercapai sebesar 100,48% dan belanja negara akan terealisasi sebesar 96,38%.
No. Kabupa ten/Kota Akad (rupiah) Outstanding (rupiah) Debitur Rata-rata pe r Debitur (rupiah)
1 Kab. Kolaka 236.592.554.000 196.461.393.191 7.366 32.119.543
2 Kab. Konawe 143.097.187.633 108.282.703.139 5.419 26.406.567
3 Kab. Muna 198.545.700.000 146.773.346.455 7.952 24.968.021
4 Kab. Buton 138.711.000.000 109.220.803.375 4.919 28.199.024
5 Kab. Konawe Selatan 149.158.395.000 123.267.590.855 4.336 34.399.999
6 Kab. Bombana 92.985.277.374 77.428.390.637 2.666 34.878.199
7 Kab. Wakatobi 30.896.000.000 21.812.685.078 1.133 27.269.197
8 Kab. Kolaka Utara 110.304.695.800 95.357.656.425 3.426 32.196.350
9 Kab. Konawe Utara 9.034.625.000 7.425.683.979 206 43.857.403
10 Kab. Buton Utara 23.208.800.000 17.611.477.554 984 23.586.179
11 Kab. Kolaka Timur 9.442.000.000 8.988.163.977 56 168.607.143
12 Kab. Konawe Kepulauan 502.000.000 480.295.476 9 55.777.778
13 Kab. Muna Barat 672.000.000 629.808.796 4 168.000.000
14 Kab. Buton Tengah 3.015.000.000 2.982.057.546 13 231.923.077
15 Kab. Buton Selatan 2.305.000.000 2.305.000.000 19 121.315.789
16 Kota Kendari 286.167.246.095 240.769.156.384 5.522 51.823.116
17 Kota Bau-Bau 115.768.600.000 90.780.106.074 3.133 36.951.357
TOTAL 1.550.406.080.902 1.250.576.318.941 47.163
Sumber : Aplikasi SIKP-DJPb (diolah)
Ta be l 2.7
Debitur KUR pe r Wilayah lingkup Sultra
No. Ka bupa te n/Kota Aka d (rupia h) Outsta nding
(rupia h) De bitur Ra ta -ra ta pe r De bitur (rupia h) 1 Kab. Kolaka 85.000.000 - 12 7.083.333 2 Kab. Konawe 822.000.000 - 289 2.844.291 3 Kab. Muna 213.500.000 - 25 8.540.000 4 Kab. Konawe Selatan 133.000.000 - 38 3.500.000 5 Kab. Bombana 7.000.000 - 1 7.000.000 6 Kab. Kolaka Utara 25.500.000 - 3 8.500.000 7 Kota Kendari 334.000.000 - 74 4.513.514 8 Kota Bau-Bau 81.000.000 - 20 4.050.000
TOTAL 1.701.000.000 - 462
Sumber : Aplikasi SIKP-DJPb (diolah)
Ta be l 2.8
De bitur UMi pe r Wila ya h lingkup Sultra
(dalam rupiah) Rp % Realisasi Terhadap Pagu Rp % Perkiraan Realisasi Terhadap Pagu Pendapatan Negara 2.636.232.529.000 2.103.900.066.267 79,81% 2.648.977.996.000 100,48% Belanja Negara 24.545.422.306.000 16.959.542.737.232 69,09% 23.656.878.018.523 96,38% Surplus/Defisit (21.909.189.777.000) (14.855.642.670.965) (21.007.900.022.523) Uraian Pagu
Realisasi s.d. Triwulan III Perkiraan Realisasi s.d. Triwulan IV
Tabel 2.9
14
BAB III
PERKEMBANGAN DAN ANALISIS PELAKSANAAN APBD
Anggaran Pendapatan dan Belanja agregat 18 Pemerintah Daerah lingkup Sultra terdiri dari 1 Pemerintah Provinsi, 2 Pemerintah Kota, dan 15 Pemerintah Kabupaten adalah sebagai berikut:
Realisasi pendapatan maupun belanja dan transfer dalam APBD lingkup Sultra sampai dengan triwulan III 2019 secara agregat mengalami kenaikan jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2018. Kenaikan pendapatan terjadi pada Pendapatan Asli Daerah dan Pendapatan Transfer, sedangkan untuk Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah mengalami penurunan.
Pagu Realisasi Pagu Realisasi
PAD 2.044,73 926,05 2.346,33 1.081,43
Pajak Daerah 678,72 442,56 1.039,76 641,92
Retribusi Daerah 342,67 69,21 242,32 67,72
Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang dipisahkan 121,19 125,58 146,1 137,15
Lain-lain PAD yang Sah 902,15 288,70 918,15 234,64
Pendapatan Transfer 16.042,11 11.220,47 17.559,85 12.089,20
Transfer Pemerintah Pusat - Dana Perimbangan 14.254,01 10.152,95 15.365,80 10.797,53
Dana Bagi Hasil Pajak 307,34 113,82 254,62 154,26
Dana Bagi Hasil Bukan Pajak (SDA) 120,03 592,21 548,36 371,63
Dana Alokasi Umum 9.821,73 7.211,18 10.267,95 8.400,12
Dana Alokasi Khusus 4.004,91 2.235,74 4.294,87 1.871,52
Transfer Pemerintah Pusat - Lainnya 1.616,00 843,88 1.720,29 1.040,58
Dana Otonomi Khusus 0 0 0 0
Dana Penyesuaian 1.616,00 843,88 1.720,29 1.040,58
Transfer Pemerintah Provinsi 160 195,46 471,03 250,09
Pendapatan Bagi Hasil Pajak 160 173,61 471,03 250,09
Pendapatan Bagi Hasil Lainnya 0 21,85 0 0
Transfer Bantuan Keuangan Bantuan Keuangan dari Pemerintah Prov./Kabupaten/Kota 12,1 28,18 2,73 1
Lainnya 12,1 28,18 2,73 1
Lain-lain pendapatan daerah yang sah 804,61 208,23 836,76 204,97
Pendapatan Hibah 189,28 36,22 355,48 75,04
Pendapatan Dana Darurat 0 0 0 0
Pendapatan Lainnya 615,33 172,01 481,28 129,93 18.891,45 12.354,75 20.742,94 13.375,60 BELANJA 17.603,03 8.695,27 19.526,86 8.988,55 Belanja Pegawai 6.764,20 4.192,10 7.405,92 4.676,95 Belanja Barang 3.710,09 1.710,99 4.577,94 2.054,88 Belanja Bunga 38,33 22,19 50,92 26,18 Belanja Subsidi 5,05 25,88 9,91 0,076 Belanja Hibah 934,09 637,82 701,9 390,56
Belanja Bantuan Sosial 26,78 7,11 23,18 11,41
Belanja Bantuan Keuangan 1.047,26 286,13 241,03 155,84
Belanja Modal 5.021,13 1.807,20 6.470,53 1.662,51
Belanja Tidak Terduga 56,1 5,85 45,53 10,14
TRANSFER PEMERINTAH DAERAH 1.469,10 997,39 2.535,78 1.462,57
Transfer/Bagi Hasil ke Desa 311,15 223,46 420,09 273,11
Transfer Bagi Hasil Pajak Daerah 218,55 223,46 419,08 273,11
Transfer Bagi Hasil Pendapatan Lainnya 92,6 0 1,01 0
Transfer Bantuan Keuangan 1.157,95 773,93 2.115,69 1.189,46
Transfer Bantuan Keuangan ke Pemerintah Daerah Lainnya 185,27 104,62 2,09 0
Transfer Bantuan Keuangan ke Desa 967,49 665,91 2.104,72 1.071,78
Transfer Bantuan Keuangan Lainnya 5,19 3,4 8,88 117,68
19.072,13 9.692,66 22.062,64 10.451,12
SURPLUS/DEFISIT -180,68 2.662,09 -1.319,70 2.924,48
Sumber Data: LRA Pemda, GFS Kanwil DJPb Provinsi Sultra (diolah) PENDAPATAN
JUMLAH PENDAPATAN
JUMLAH BELANJA DAN TRANSFER
Tabel 3. 1
Pagu dan Realisasi APBD Triwulan III 2018 dan 2019 lingkup Provinsi Sulawesi Tenggara
(dalam miliar rupiah)
15
A. PENDAPATAN DAERAH
1. Pendapatan Asli Daerah
Pendapatan Asli Daerah (PAD) Pemerintah Daerah lingkup Sultra terdiri dari Pajak Daerah, Retribusi Daerah, Hasil kekayaan daerah yang dipisahkan, dan Lain-lain pendapatan asli daerah yang sah.
a) Pajak Daerah
Penerimaan Pajak Daerah sampai dengan triwulan III 2019 sebesar Rp641,92 miliar, mengalami kenaikan jika dibandingkan dengan triwulan III 2018. Kenaikan tersebut disebabkan tata kelola perpajakan oleh pemerintah daerah semakin baik. Penerimaan pajak daerah tertinggi ada pada Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara yaitu sebesar Rp463,86 miliar, dan terendah pada Pemerintah Kabupaten Buton Selatan sebesar Rp791 juta.
b) Retribusi Daerah
Realisasi Penerimaan Retribusi Daerah sampai dengan triwulan III 2019 yaitu sebesar Rp67,72 miliar, meningkat jika dibandingkan triwulan III 2018. Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara merupakan daerah dengan penerimaan retribusi terbanyak sebesar Rp14,67 miliar. Sedangkan yang terkecil adalah Pemerintah Kabupaten Konawe Kepulauan sebesar Rp115 juta.
c) Hasil Kekayaan Daerah Yang Dipisahkan
Pendapatan hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan sampai dengan triwulan III 2019 yaitu sebesar Rp137,15 miliar, mengalami kenaikan jika dibandingkan dengan triwulan III 2018. Hal ini disebabkan pemerintah daerah pada triwulan III 2019 ini sudah mulai menerima atau membukukan deviden yang diterima dari BUMD atau perusahaan daerah.
d) Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah
Penerimaan Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah pada triwulan III 2019 sebesar Rp234,64 miliar atau mengalami penurunan jika dibandingkan pada periode yang sama tahun 2018. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah daerah harus semakin inovatif menggali sumber pendapatan yang berasal dari selain pajak daerah dan restribusi daerah.
16
2. Pendapatan Transfer
Pendapatan Transfer sampai dengan triwulan III 2019 lingkup Sultra mengalami kenaikan jika dibandingkan dengan triwulan III Tahun 2018. Pemerintah Daerah yang memperoleh pendapatan transfer terbesar yaitu Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara sebesar
Rp2,25 triliun, sedangkan Pemerintah Daerah yang memperoleh pendapatan transfer terkecil yaitu Pemerintah Kabupaten Konawe Kepulauan sebesar Rp310,28 miliar.
3. Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah Realisasi pendapatan lain-lain yang sah sampai dengan triwulan III 2019 mencapai Rp204,97 miliar menurun jika dibandingkan triwulan III 2018.
B. BELANJA DAERAH
1. Belanja Pegawai, Belanja Barang, dan Belanja Modal
Sampai dengan triwulan III 2019 Belanja Pegawai terealisasi sebesar Rp4,68 triliun, sedangkan Belanja Barang terealisasi sebesar Rp2,05 triliun dan Belanja Modal terealisasi sebesar Rp1,66 triliun. Masih kecilnya realisasi belanja modal disebabkan banyak kontrak pengadaan yang belum selesai atau masih dalam tahap lelang. Tren dalam beberapa tahun terakhir realisasi belanja modal akan mengalami peningkatan pada triwulan IV.
17
2. Belanja Daerah Berdasarkan Klasifikasi Urusan
Pagu belanja daerah terbesar berdasarkan klasifikasi urusan
adalah Pendidikan yaitu
sebesar Rp4,734 triliun.
Persentase realisasi belanja
daerah terhadap pagu
berdasarkan klasifikasi urusan masih rendah yaitu 41,90%. Persentase realisasi belanja tertinggi adalah Pelayanan Umum yang sudah mencapai 46,81%.
C. PROGNOSIS REALISASI APBD SAMPAI DENGAN AKHIR TAHUN 2019
Prognosis realisasi APBD sampai dengan akhir tahun 2019 setelah mempertimbangkan berbagai faktor yang berpengaruh dan analisis trend adalah sebagai berikut:
Total pendapatan daerah hingga akhir periode triwulan III 2019 mencapai 64,48% dari target penerimaan, sedangkan realisasi belanja mencapai 46,03%. Tren yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa belanja daerah akan mengalami peningkatan yang signifikan menjelang akhir tahun 2019 atau pada triwulan IV 2019. Hingga akhir tahun 2019 diperkirakan pendapatan daerah lingkup Sultra akan tercapai 94,25%, lebih rendah dari tahun 2018 yang mencapai 97,56%. Sementara itu, belanja daerah akan terealisasi sebesar 95,79% juga lebih tinggi dari tahun 2018 yaitu sebesar 94,88%.
(dalam miliar rupiah)
Rp % Realisasi Terhadap Pagu Rp % Perkiraan Realisasi Terhadap Pagu Pendapatan Daerah 20,742.94 13,375.60 64.48 19,310.17 94.25 Belanja Daerah 19,526.86 8,988.55 46.03 18,633.02 95.79 Surplus/Defisit 1,216.08 4,387.05 677.15 Uraian Pagu Realisasi s.d Triwulan III Perkiraan Realisasi s.d Triwulan IV Tabel 3.2
18
BAB IV
PERKEMBANGAN DAN ANALISIS PELAKSANAAN ANGGARAN
KONSOLIDASIAN (APBN DAN APBD)
A. LAPORAN KEUANGAN PEMERINTAH KONSOLIDASIAN
Dalam rangka mewujudkan kondisi kinerja perekonomian yang ideal, pemerintah menggunakan instrumen kebijakan fiskal untuk mencapai sasarannya. Kebijakan tersebut dilaksanakan melalui alokasi anggaran yang tertuang dalam APBN dan APBD. Gabungan data/informasi keuangan APBN yang ada dalam LKPP dan APBD yang ada dalam LKPD menjadi Laporan Keuangan Pemerintah Konsolidasian
(LKPK).
Realisasi anggaran pada Laporan Keuangan Pemerintah Konsolidasian triwulan III 2019 setelah dilakukan eliminasi transaksi akun resiprokal mengalami penurunan defisit sebesar 2,12% (YoY) dari Rp12,14 triliun pada triwulan III 2018 menjadi Rp11,83 triliun. Dari sisi pendapatan konsolidasian terjadi penurunan 0,29% (YoY) dibandingkan pada triwulan III 2018 menjadi sebesar Rp3,01 triliun, sementara sisi belanja konsolidasian menurun 2,12% (YoY) dari Rp15,16 triliun menjadi Rp14,84 triliun pada triwulan III 2019.
B. PENDAPATAN KONSOLIDASIAN 1. Analisis Proporsi dan Perbandingan
Sampai dengan triwulan III 2019, pendapatan, hibah dan transfer konsolidasian Sultra mencapai Rp3,01 triliun setelah eliminasi atas transaksi akun resiprokal sebesar Rp11,71 triliun, yang terdiri dari pendapatan dan hibah
Pemerintah Pusat Tingkat Wilayah sebesar Rp2,10 triliun dan Pemerintah Daerah sebesar Rp12,61 triliun. Pendapatan dan hibah konsolidasian didominasi oleh pendapatan perpajakan sebesar Rp2,25 triliun, PNBP sebesar Rp687,85 miliar, dan Hibah sebesar Rp75,04 miliar (seluruh pendapatan transfer telah dilakukan eliminasi).
(dalam rupiah) 2018 Pusat Daerah Konsolidasian Konsolidasian Pendapatan Negara 2.103.900.066.267 12.614.861.915.107 3.013.635.553.806 -0,29% 3.022.380.757.631 Pendapatan Perpajakan 1.617.217.546.613 633.531.542.179 2.250.749.088.792 20,01% 1.875.424.080.238 Pendapatan Negara Bukan Pajak *) 486.682.519.654 511.426.748.467 687.847.670.793 -38,04% 1.110.168.642.593 Hibah - 75.038.794.221 75.038.794.221 - Transfer *) - 11.394.864.830.240 - 36.788.034.800 Belanja Negara 16.959.542.737.232 9.588.683.611.629 14.843.099.921.293 -2,12% 15.163.953.631.063 Belanja Pemerintah 4.664.716.321.973 8.388.642.396.070 13.053.358.718.043 -3,12% 13.473.703.287.382 Transfer *) 12.294.826.415.259 1.200.041.215.559 1.789.741.203.250 5,89% 1.690.250.343.681 Surplus/(Defisit) (14.855.642.670.965) 3.026.178.303.478 (11.829.464.367.487) 2,57% (12.141.572.873.432) Pembiayaan - (22.231.816.696) (22.231.816.696) 77,27% (97.812.237.259) Penerimaan Pembiayaan Daerah - 276.758.414.797 276.758.414.797 -1,32% 280.460.833.513 Pengeluaran Pembiayaan Daerah - 254.526.598.101 254.526.598.101 39,35% 182.648.596.254 Sisa Lebih (Kurang)
Pembiayaan Anggaran (14.855.642.670.965) 3.048.410.120.174 (11.807.232.550.791) 1,96% (12.043.760.636.173) Tabel 4.1
Laporan Keuangan Pemerintah Konsolidasian lingkup Sultra
*) Jumlah Konsolidasian setelah dilakukan eliminasi atas akun resiprokal
Sumber : LKPK Triwulan III 2019 Kanwil DJPb Prov insi Sulawesi Tenggara
2019
19
Pendapatan dan Hibah Konsolidasian(sebelum proses eliminasi) didominasi oleh pendapatan transfer sebesar Rp11,39 triliun, menunjukkan ketergantungan pemerintah daerah kepada pemerintah pusat yang masih sangat tinggi.
2. Analisis Perubahan
Pendapatan perpajakan konsolidasi lingkup Sultra sampai dengan triwulan III 2019 sebesar Rp2,25 triliun. Sebanyak 64,10% (Rp1.17 triliun) merupakan pendapatan pajak Dalam Negeri Pemerintah Pusat. Sedangkan pendapatan Pajak Perdagangan Internasional meningkat 37,65% dibandingkan triwulan III 2018 menjadi Rp442,98 miliar, yang keseluruhan merupakan penerimaan Pemerintah Pusat. Meningkatnya Pajak Perdagangan Internasional merupakan dampak kegiatan ekspor impor langsung melalui Sultra.
3. Analisis Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Kenaikan Realisasi Pendapatan Konsolidasian
Sampai dengan triwulan III 2019 PDRB-ADHK Sultra naik sebesar
8,93% (YoY), sementara
pendapatan konsolidasian hanya meningkat sebesar 0,94% (YoY) dibandingkan triwulan III 2018. Selisih angka kenaikan PDRB-ADHK dan pendapatan konsolidasian menunjukkan indikasi bahwa masih terdapat potensi penerimaan yang belum digarap secara optimal khususnya oleh Pemerintah Daerah.
C. BELANJA KONSOLIDASIAN
1. Analisis Proporsi dan
Perbandingan
Sampai dengan triwulan III 2019, Belanja Pemerintah Konsolidasian (di luar Dana Transfer) lingkup Sultra mencapai Rp13,05 triliun. Dimana 64,26% belanja tersebut atau sebesar Rp8,39 triliun merupakan Belanja
Periode Total Pertumbuhan Ekonomi/PDRB-ADHK (rupiah) % Kenaikan Total Pendapatan Konsolidasian (rupiah) % Kenaikan Triwulan III 2017 27.677.060.000.000 2.325.985.019.336 Triwulan III 2018 30.580.000.000.000 10,49 2.985.592.722.831 28,36 Triwulan III 2019 33.310.000.000.000 8,93 3.013.635.553.806 0,94
Sumber : LKPK Triwulan III 2019 Kanwil DJPb Prov insi Sulawesi Tenggara, BPS Prov . Sultra
Tabel 4.2
20
Pemerintah Daerah, sementara Belanja Pemerintah Pusat memberikan kontribusi sebesar Rp4,66 triliun. Belanja Pegawai masih mendominasi Belanja Konsolidasian Sultra yaitu sebesar Rp6,05 triliun dengan 73,56% atau sebesar Rp4,45 triliun merupakan Belanja Pegawai Pemerintah Daerah, disusul Belanja Barang sebesar Rp4,01 triliun yang 50,95% (Rp2,04 triliun) adalah Belanja Barang Pemerintah Pusat, sementara Belanja Modal sebesar Rp2,56 triliun dengan 60,29% (Rp1,54 triliun) merupakan Belanja Modal Pemerintah Daerah. 2. Analisis PerubahanSampai dengan
triwulan III 2019, Belanja Pemerintah Konsolidasian (di luar
Dana Transfer)
lingkup Sultra
mengalami penurunan sebesar 3,12% (YoY)
dari Rp13,47 triliun pada triwulan III 2018 menjadi Rp13,05 triliun. Belanja Pegawai masih mendominasi Belanja Konsolidasian Sultra yaitu sebesar Rp6,05 triliun atau 46,34%, disusul Belanja Barang sebesar Rp4,01 triliun atau 30,74%, dan Belanja Modal sebesar Rp2,56 triliun atau 19,60%. Skema realisasi Belanja Modal pada akhir tahun anggaran yang selalu berulang perlu menjadi perhatian seluruh pemangku kepentingan. Belanja Modal seharusnya lebih cepat direalisasikan sehingga memberikan efek berganda yang signifikan terhadap perekonomian Sultra. Selain itu, pemerintah daerah perlu memikirkan upaya pembiayaan kreatif yang dapat dilakukan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.
3. Analisis Dampak Kebijakan Fiskal kepada Indikator Ekonomi Regional Dampak kebijakan fiskal dapat dilihat dari hubungan unsur-unsur kebijakan fiskal berupa perpajakan, belanja pemerintah, serta alokasi dana transfer dengan indikator ekonomi regional seperti PDRB dan Laju Pertumbuhan Ekonomi. Dengan meningkatnya penerimaan perpajakan, belanja pemerintah dan realisasi transfer konsolidasian pada triwulan III 2019 (YoY), sementara laju pertumbuhan ekonomi mencapai 6,18% (YoY) dan PDRB-ADHB mengalami pertumbuhan sebesar 8,93%, menunjukkan korelasi positif antara kebijakan
Sum ber : LKPK Triwulan I I I 2019 Kanwil D J Pb Prov ins i Sulawes i Tenggara Gra fik 4.5
Pe rba ndinga n Komposisi Be la nja Konsolida sia n 46,34%
30,74%
19,60%
0,18% 0,00% 2,95%0,12% 0,08% 0,00%
2019
Belanja Pegawai Belanja Bar ang Belanja Modal Pemb ayaran Bu nga Utan g Sub sid i Hibah Bantu an Sosial Belanja Tak Terd uga Belanja Lain-lain
42,32% 29,44% 22,98% 0,17% 0,00% 4,97%0,08% 0,04% 0,00% 2018
Belanja Pegawai Belanja Bar ang Belanja Modal Pembayaran Bunga Utang Subsidi Hibah Bantuan Sosial Belanja Tak Terduga Belanja Lain-lain
21
fiskal dan PDRB, yaitu kebijakan fiskal yang diterapkan oleh pemerintah berpengaruh dan mendorong terjadinya pertumbuhan PDRB.D. Analisis Kontribusi Pemerintah dalam Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)
Kontribusi belanja pemerintah dalam pembentukan PDRB diwujudkan dalam alokasi belanja pegawai, belanja barang dan jasa, serta kontribusi sosial lainnya. Kondisi ini dimaksudkan mengintervensi pasar sehingga terjadi pemerataan hasil pembangunan, terciptanya pertumbuhan ekonomi yang tinggi, terkendali dan berkelanjutan, serta terlindunginya kelompok masyarakat yang rentan dari resiko sosial. Pertumbuhan ekonomi Sultra sangat bertumpu pada Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga sehingga perubahan belanja pemerintah (belanja pegawai) akan sangat berpengaruh. Adapun kontribusi belanja pemerintah dalam pembentukan PDRB Sultra sampai dengan triwulan III 2019 mencapai 29,14% (Rp9,71 triliun) dari total PDRB Rp33,31 triliun, sedang kontribusi Investasi Pemerintah mencapai 7,60% atau sebesar Rp2,53 triliun.
Ekonomi Sultra triwulan III 2019 tumbuh sebesar 6,18%, dan didominasi oleh pengeluaran konsumsi rumah tangga yang mencapai 49,12%, sedangkan investasi memberikan kontribusi 40,48%. Pemerintah perlu mendorong iklim investasi yang sehat yang dapat mendorong investasi lingkup Sultra. Diharapkan hal ini dapat memberikan multiplier effect terhadap pemberdayaan masyarakat dan penciptaan lapangan kerja yang luas, serta pada akhirnya mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi yang stabil.
Pe nda pa ta n 21.284.603.027.249 a. Pajak 2.250.699.404.398 b. Kontribusi Sosial 0 c. Hibah 1.035.361.413.120 d. Pendapatan Lainnya 17.998.542.209.731 Be ba n 13.596.206.734.668 a. Kompensasi Pegawai 6.094.386.324.769
b. Penggunaan Barang dan Jasa 3.596.053.178.122
c. Konsumsi Aset Tetap 0
d. Bunga 23.129.932.016
e. Subsidi 56.452.724
f. Hibah 3.371.006.339.258
g. Manfaat Sosial 16.036.538.427
h. Beban Lainnya 495.537.969.352
Ke se imba nga n Ope ra si Bruto/Ne tto 7.688.396.292.581
2.558.317.922.836
a. Aset Tetap 2.530.453.060.576
b. Perubahan Persediaan 0
c. Barang Berharga 0
d. Aset Non Produksi 27.864.862.260
Ne t Le nding / Borrow ing 5.130.078.369.745
TRANSAKSI ASET KEUANGAN DAN KEW AJIBAN (PEMBIAYAAN) : 5.130.078.369.745
a . Akuisisi Ne to Ase t Ke ua nga n 4.966.167.947.683
- Dalam Negeri 4.966.167.947.683
- Luar Negeri 0
- Emas Moneter dan Hak Tarik Khusus (SDRs) 0
b. Ke te rja dia n Ke w a jiba n Ne to (163.910.422.062)
- Dalam Negeri (163.910.422.062)
- Luar Negeri 0
Sum ber : LSKP Triwulan I I I 2019 Kanwil D J Pb Prov ins i Sulawes i Tenggara
Ta be l 4.3
Ringka sa n LO Be la nja Pe me rinta h lingkup Sultra (rupia h) TRANSAKSI YANG MEMPENGARUHI KEKAYAAN BERSIH :
22
BAB V
BERITA / ISU FISKAL REGIONAL TERPILIH
A. Menata Kembali Kebijakan Anggaran Dalam Upaya Menurunkan Ketimpangan Pertumbuhan ekonomi Sultra dalam 3 (tiga) tahun terakhir berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional. Pada triwulan II 2019, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,05% (YoY) sementara pertumbuhan ekonomi Sultra mencapai 6,30% (YoY). Tingginya pertumbuhan ekonomi Sultra sayangnya hanya dinikmati sebagian kecil masyarakat. Hal ini dapat dilihat dari rasio gini Sultra yang berada di atas nasional. Pada bulan Maret 2019, rasio gini Sultra berada pada angka 0,399, diatas rasio gini nasional sebesar 0,382.
Berdasarkan data rasio gini tahun 2018 per kabupaten/kota, ketimpangan
tertinggi terjadi di Kabupaten Buton
Tengah dengan
rasio gini sebesar 0,508 dan yang terendah berada di Kabupaten Buton Selatan sebesar 0,322. Bila melihat
tren perkembangan rasio gini tiga tahun kebelakang terdapat kecenderungan penurunan rasio gini di sebagian besar wilayah Sultra. Rerata penurunan terbesar terjadi di Kabupaten Konawe Kepulauan dengan penurunan rasio gini sebesar (0,04), disusul Kabupaten Buton Selatan (0,024), dan Konawe Selatan (0,019). Dari 17 kabupaten/kota di wilayah Sultra, perkembangan rasio gini Kabupaten Buton Tengah sangat mengkhawatirkan. Selain, memiliki rasio gini tertinggi, perkembangan rasio gini dalam 3 tahun kebelakang menunjukkan peningkatan rasio gini yang impresif dengan rerata pertumbuhan sebesar 0,068 (gambar 5.1). Penyebab cepatnya peningkatan ketimpangan di Indonesia dapat dikelompokkan dalam 4 penyebab, yaitu ketimpangan peluang, pekerjaan yang tidak merata,
Sumber: BPS (diolah) Grafik 5.1
23
tingginya konsentrasi kekayaan, dan ketahanan ekonomi yang rendah dari paparan bencana. Hal ini juga terkait dengan kesempatan mendapatkan akses atas fasilitas dasar yang sama (sanitasi, pendidikan, kesehatan, permodalan) (World Bank, 2015).Sebagai provinsi yang sedang mengembangkan perekonomiannya, tingginya ketimpangan di Sultra merupakan kondisi umum yang terjadi (Kuznet, 1975). Namun kondisi ini tidak dapat dibiarkan mengingat dampaknya tidak saja terhadap perekonomian tetapi juga stabilitas masyarakat (Ostry. Et al, 2014). Usaha mengurangi ketimpangan telah lama menjadi perhatian pemerintah.
Pemerintah telah mengalokasikan sejumlah besar dana untuk program-program yang dapat mengurangi ketimpangan, diantaranya alokasi anggaran untuk infrastruktur, pendidikan, kesehatan, dan kredit program. Hal yang sama juga dilakukan pemerintah daerah di wilayah Sultra. Usaha pemerintah untuk menurunkan ketimpangan, pada prakteknya tidak selalu berjalan mulus. Dari hasil analisis dengan menggunakan regresi data panel (lampiran I), menunjukkan bahwa hanya alokasi kredit program yang secara signifkan dapat mengurangi ketimpangan (nilai-p=0,0015) sementara belanja infrastruktur dan pendidikan tidak mempengaruhi besarnya ketimpangan. Hal menarik dari hasil analisis ini adalah belanja kesehatan justru mendorong ketimpangan ke level yang lebih tinggi (nilai-p=0,0233).
Intervensi pemerintah melalui subsidi bunga dan pemberian pinjaman kepada masyarakat kecil terbukti berhasil mengurangi ketimpangan. Masyarakat dapat menggunakan uang pinjaman untuk memulai atau memperbesar skala usahanya sehingga secara langsung dapat meningkatkan penghasilan masyarakat. Berbeda dengan kredit program, tidak adanya pengaruh anggaran infrastruktur dan pendidikan terhadap penurunan ketimpangan juga ditemui dalam beberapa literature penelitian, sebut saja penelitian Khusaini, Wahyudi, Utama (2018) yang menemukan bahwa belanja infrastruktur dan pendidikan di Indonesia tahun 1980-2015 tidak mempengaruhi ketimpangan. Salah satu penyebabnya adalah belum meratanya pembangunan infrastruktur dan hanya terkonsentrasi di kota besar. Sejalan dengan pengaruh belanja infrastruktur, tidak signifikannya pengaruh belanja pendidikan terhadap penurunan ketimpangan telah disinyalir oleh Stiglitz (1973). Pandangan ini didasarkan pada kenyataan bahwa alokasi anggaran pendidikan yang tidak tepat (tidak fokus pada peningkatan kualitas pendidikan) tidak berkorelasi dengan produktifitas. Merujuk pada belanja pendidikan dalam 3 tahun ke belakang,
24
alokasi anggaran pendidikan lebih banyak digunakan untuk belanja gaji dan tunjangan. Kondisi ini dapat menjadi salah satu faktor tidak signifikannya pengaruh belanja pendidikan terhadap penurunan ketimpangan.Berebeda dengan jenis belanja lainnya, belanja kesehatan justru berpengaruh terhadap tingkat ketimpangan namun secara positif. Kondisi ini tidak saja terjadi di Sultra, di Sulawesi Selatan hal yang sama juga terjadi dimana pengeluaran pemerintah justru mendorong rasio gini lebih tinggi lagi. Dugaan awal penyebab hal ini merujuk pada alokasi anggaran (kesehatan) yang hanya dinikmati oleh sebagian masyarakat (Sabir, et al, 2015).
Dari hasil analisis ini, pemerintah (pusat dan daerah) harus bersinergi untuk mengalokasikan anggarannya kepada belanja yang secara langsung dapat meningkatkan produktifitas dan kesejahteraan masyarakat. Penyaluran kredit program perlu terus didorong sehingga potensi ekonomi baru terus tumbuh dan menciptakan lapangan kerja yang lebih banyak. Selain itu, Kementerian/Lembaga dan Pemerintah Daerah harus lebih fokus menyelesaikan substansi permasalahan infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan yang direfleksikan dalam alokasi anggaran yang memadai.
B. Bertahan di Tengah Perang Dagang Amerika dan Tiongkok
Gajah bertarung, pelanduk mati di tengah, merupakan peribahasa yang tepat untuk menggambarkan kondisi negara-negara, di tengah pertarungan raksasa perekonomian, Amerika dan Tiongkok. Meskipun Indonesia tidak terlibat langsung dengan perang dagang antara kedua negara tetapi dengan kondisi perekonomian global yang bertumpu pada dua kekuatan ekonomi dunia, maka apapun yang terjadi dengan kedua negara tersebut akan berdampak pada perekonomian Indonesia. Indonesia perlu pintar melihat peluang dari perang dagang kedua negara agar perekonomian tetap tumbuh.
Meskipun di tengah pertarung kedua raksasa perekonomian, Sultra menjadi salah satu pelanduk yang beruntung karena dapat mencatatkan pertumbuhan ekonomi 6,18% lebih tinggi dibanding pertumbuhan nasional, disertai dengan pertumbuhan nilai ekspor per September 2019 sebesar 66,06% (YoY). Kondisi neraca perdagangan Sultra pada bulan September mengalami surplus US$6,28 juta dengan nilai ekspor tercatat sebesar US$231,71 juta sementara nilai impor sebesar US$225,43 juta (BPS, 2019).
25
Menjadi pelanduk yang beruntung saja belum cukup, Sultra harus bertransformasi menjadi kancil (tragulus kanchi, salah satu spesies pelanduk), agar lebih gesit dan lebih cerdik dalam memanfaatkan peluang. Pemerintah daerah perlu memetakan kembali produk-produk yang dapat mendorong ekspor Sultra lebih baik lagi. Pada sisi ekspor, terdapat 5 komoditas utama yang menjadi andalan ekspor Sultra, yakni besi dan baja; biji, kerak, dan abu logam; ikan dan udang; kakao/coklat; biji-bijian berminyak. Dari sisi nilai dan volume, saat ini produk besi dan baja menjadi produk unggulan Sultra (71,79%) namun dari sisi nilai jual produk, produk minyak atsiri, wangi-wangian dan kosmetik, memiliki nilai jual produk yang lebih tinggi, disusul produk perikanan, produk lak, getah, dan damar serta produk kakao.Sultra memiliki potensi besar untuk mengembangkan produk minyak atsiri, khususnya minyak atsiri yang berasal dari tanaman nilam (pogotemon cablin benth). Beberapa daerah di Sultra telah membudidayakan tanaman nilam, langkah selanjutnya yang perlu dilakukan adalah penanganan pasca panen terkait ekstraksi dan pemasaran. Potensi lainnya yang
dimiliki oleh Sultra adalah produk perikanan. Dengan luas laut 110.000 KM2 dan panjang garis pantai 1.740 KM potensi perikanan tangkap mencapai 1,5 juta ton per tahun, namun baru dimanfaatkan sebesar 307 ribu ton (2017). Perang dagang antara Amerika dan Tiongkok memberikan peluang peningkatan ekspor perikanan bagi Sultra. Sejak pemberlakukan tarif 25% atas ekspor lobster Amerika ke Tiongkok, ekspor lobster Amerika ke Tiongkok mengalami penurunan, ceruk ini bisa menjadi peluang pengembangan ekspor lobster dari Sultra. Selain produk-produk tersebut, sebagai provinsi yang memiliki potensi pertambangan yang besar, pemerintah perlu menggali potensi rear earth yang menjadi bahan penting bagi produk teknologi dan militer dengan nilai jual yang tinggi. Diharapkan dengan pemetaan ini, Sultra dapat meningkatkan ekspor dan mensejahterakan masyarakat.
26
27
Lampiran I Hasil analisis regresi data panel
Lampiran II Pengujian asumsi analisis regresi data panel
Asumsi kenormalan sisaan
Asumsi kehomogenan ragam sisaan
28
DAFTAR PUSTAKA
Badan Pusat Statistik. (2019). Perkembangan Ekspor dan Impor Sulawesi Tenggara September 2019
Ostry, J. D., Berg, A., & Tsangarides, C. G. (2014). Redistribution, Inequality, and Growth. IMF Staff Discussion Note, 1–30.
Khusaini M., Tri Wahyudi S., Siswa Utama Z., Regional Science Inquiry, Vol X, (2), 2018, pp 215-226
Kuznet, S. (1955). Economic Growth and Income Inequality. The Quarterly Journal of Economics, 110, 353–377. https://doi.org/10.2307/2118443
Sabir, Yustika, A. E., Susilo, & Maskie, G. (2015). Local Government Expenditure, Economic Growth and Income Inequality in South Sulawesi Province. Journal of Applied Economics and Business, 61–73
Stiglitz, J. (1973). Education and Inequality. The Annals of the American Academy of Political and Social Science, 409, 135–145. Retrieved from http://www/jstror.org/stable/1041499
World Bank. (2015). Indonesia Systematic Country Diagnostic: Connecting the Bottom 40 percent to the Prosperity Generation.
World Bank. (2016). Ketimpangan Yang Semakin Lebar. Jakarta: World Bank. Retrieved from http://pubdocs.worldbank.org/en/986461460705141518/Indonesias-Rising-Divide-Bahasa-Indonesia.pdf
29
FOTO SAMPUL
2. Rumah Sakit Umum Daerah SMS Berjaya – Kab. Kolaka Sumber:
Johanes Purbo Wasiso - Kanwil DJPb Provinsi Sulawesi Tenggara
3. Pameran Produk Sultra dalam Hari Pangan Sedunia 2019 Sumber:
Agustina Diprianti - Kanwil DJPb Provinsi Sulawesi Tenggara
1. Pesona Danau Biru – Kab. Kolaka Utara Sumber: