• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. TINJAUAN PUSTAKA. 13 Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "2. TINJAUAN PUSTAKA. 13 Universitas Kristen Petra"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

13

Universitas Kristen Petra

2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Surat Kabar

Sejarah menunjukkan bahwa, kata press adalah merujuk pada istilah persuratkabaran. Karena itu pers secara luas mengandung arti suatu lembaga kemasyarakatan yang menjalankan kegiatan jurnalistik. Kegiatan jurnalistik itu adalah semua usaha di mana dan melalui mana berita-berita serta komentar- komentar tentang suatu peristiwa sampai kepada publik. Semua peristiwa di dunia, baik itu merupakan pendapat maupun kejadian, akan selalu menarik perhatian. Semua kejadian yang timbul di alam semesta ini akan selalu menimbulkan selera hati nurani manusia untuk mengetahuinya lebih jauh, (Suhandang, 2004, p. 39). Karena itu Leslie Stephens menyatakan, dalam Suhandang menyatakan bahwa jurnalistik itu terdiri dari penulisan tentang hal-hal yang penting dan belum anda ketahui. Apapun yang terjadi tugas dan tanggung jawab pers adalah menyebar luaskan informasi tersebut kepada khalayak.

Menurut Effendy (2003, p. 91), bahwa pers adalah “lembaga atau badan atau organisasi yang menyebarkan berita sebagai karya jurnalistik kepada khalayak” (p. 90). Penyebaran berita tersebut tidak akan sampai ke masyarakat tanpa adanya sebuah medium yaitu surat kabar. Surat kabar adalah media massa yang paling tua dibandingkan media massa lainnya, paling banyak dan paling luas penyebarannya dan paling dalam daya mampunya dalam merekam kejadian sehari-hari sepanjang sejarah di negara manapun di dunia.

Selain itu, Oetama (1986, p. 60), menyatakan “surat kabar atau koran memberikan kesempatan berpikir, berefleksi kepada khalayak pembacanya, dan justru pada proses refleksi itulah, letak sumber kesanggupan manusia berpikir dan berkomunikasi dengan dirinya sendiri maupun dengan lingkungannya”.

Media massa seperti koran atau surat kabar juga memiliki kelebihan kultural yang tidak dimiliki oleh media elektronik. Kelebihannya terletak dalam proses pencarian berita. yang berbeda dengan media elektronik yang ada saat ini.

Koran memiliki waktu untuk melakukan wawancara lebih dalam dengan narasumber. Dari segi proses penulisan, koran juga dapat melakukan wawancara yang lebih dalam terhadap sebuah peristiwa yang ada dan memiliki waktu untuk

(2)

14

Universitas Kristen Petra

membuat berita secara lebih akurat. Dari pengertian tersebut, maka dapat dilihat bahwa surat kabar memiliki kelebihan dibandingkan dengan media massa lainnya.

Kelebihan surat kabar Jika dibandingkan dengan media massa lainnya, terletak pada kualitas kebaruannya dalam memberitakan sebuah informasi.

2.2 Proses Produksi Berita

Berita adalah suatu penuturan secara benar dan tidak memihak dari fakta- fakta yang mempunyai arti penting, yang baru terjadi dan dapat menarik perhatian para pembaca surat kabar yang memuat suatu berita dari sebuah peristiwa atau kejadian (Barus, 2010, p. 35).

Fakta-fakta dalam sebuah peristiwa yang terangkum dalam berita yang sampai kepada pembaca surat kabar akan melalui sebuah tahapan produksi. Ada empat tahapan proses produksi berita, dan berikut akan dibahas penjabaranya masing-masing (Eriyanto, 2009, p. 100).

Tahapan yang pertama ada Rutinitas Organisasi. Ada banyak faktor yang menentukan kenapa peristiwa tertentu diliput sebagai berita sementara peristiwa lainnya tidak. Aspek tertentu dari peristiwa di tonjolkan sementara aspek yang lain tidak ditonjolkan atau secara sengaja dihilangkan.

Proses itulah yang setiap harinya dilakukan oleh institusi media secara teratur dalam memproduksi berita. Rutinitas organisasi yang biasanya di lakukan setiap harinya adalah rapat redaksi maupun rapat dari masing-masing desk pemberitaan di media cetak masing-masing. Dari rapat redaksi itulah akan menentukan tugas dan agenda peliputan setiap wartawan media cetak masing- masing. Sehingga dari hasil rapat redaksi berita penting pun bisa jadi tidak penting jika redaktur memutuskan berita itu tidak layak diliput.

Dalam rutinitas organisasi wartawan juga meliput dan menuliskan berita hingga sampai pada tahap editing yang merupakan tahapan akhir dalam sebuah kegiatan rutin awak media sebelum berita tersebut dimuat di Harian mereka masing-masing. Di tahap editing inilah para wartawan dan editor akan mengkonstruksikan berita yang akan dimuat. Melalui proses editing juga akan memberikan batasan agar jangan sampai sebuah berita melebihi dari apa yang ingin diketahui oleh pembaca, atau bahkan ada berita yang ingin diketahui oleh

(3)

15

Universitas Kristen Petra

pembaca tetapi tidak di tuliskan oleh para wartawan dan editor. Proses editing juga akan menentukan berita mana yang perlu diberikan judul yang besar dan dimuat di halaman muka, tulisan mana yang perlu dipotong, dan cerita mana yang perlu diubah (Ishawara, 2005, p. 92).

Tahapan produksi selanjutnya adalah menentukan nilai berita. Semua peristiwa tidak lantas disebut sebagai berita, tetapi berita tersebut harus dinilai dan memenuhi kriteria nilai berita. Nilai berita menentukan bukan hanya peristiwa apa saja yang diberitakan, melainkan juga bagaimana peristiwa tersebut dikemas.

Hanya peristiwa yang mempunya ukuran tertentu saja yang layak dan bisa disebut sebagai berita. Karena ini adalah prosedur pertama dari bagaimana peristiwa dikonstruksi.

Tabel 2.1 Klasifikasi Nilai Berita

Prominance Nilai Berita diukur dari kebesaran peristiwanya atau dalam artian penting.

Peristiwa yang diberitakan adalah peristiwa yang dipandang penting Human Interest Peristiwa lebih memungkinkan disebut

berita kalau peristiwa itu lebih banyak mengandung unsur haru, sedih, dan menguras emosi khalayak.

Conflict/Controversy Persitiwa yang mengandung konflik lebih potensial disebut berita dibandingkan dengan peristiwa yang biasa-biasa saja.

Unusual Berita mengandung peristiwa yang

tidak biasa, peristiwa yang jarang terjadi.

(4)

16

Universitas Kristen Petra

Proximity Peristiwa yang dekat lebih banyak

diberitakan dibandingkan dengan peristiwa yang jauh, baik dari fisik mapun emosional khalayak.

Sumber: Eriyanto, 2009, p.106 (Telah diolah kembali oleh peneliti) Makin banyak nilai berita yang terkandung didalam sebuah berita, maka akan semakin membuat orang tertarik untuk membacanya. Nilai berita juga membatasi, bahwa tidak semua peristiwa dapat diangkat dan disebut sebagai berita. Dalam kerja dan rutinitas organisasi nilai berita ini akan selalu terinternalisasi dan menjadi bagian penting dari kesadaran wartawan.

Setelah menentukan nilai berita, tahapan selanjutnya dalam proses produksi berita adalah kategori berita. Kategori berita adalah, sebuah proses kerja dan produksi berita dalam sebuah konstruksi. Sebagai sebuah konstruksi, ia menentukan mana yang dianggap berita dan mana yang tidak, mana yang dianggap penting dan mana yang tidak penting. Media dan wartawanlah yang mengkonstruksi sedemikian rupa sehingga suatu peristiwa dinilai penting. Dengan kata lain, ada kesepakatan bersama antara wartawan yang satu dengan wartawan yang lain, prinsip yang dianut secara bersama-sama oleh komunitas wartawan untuk menilai realitas. Selain nilai berita, hal prinsip lain dalam proses produksi berita adalah apa yang disebut sebagai kategori berita.

Tabel 2.2 Kategori Berita Tuchman

Hard News Berita mengenai peristiwa yang terjadi saat itu. Kategori berita ini sangat dibatasi oleh waktu dan aktualitas.

Peristiwa yang masuk dalam kategori hard news bisa peristiwa yang direncanakan. (Konfrensi Pers, sidang Paripurna DPR) maupun yang tidak direncanakan (Kecelakaan, Bencana Alam)

Soft News Kategori berita ini berhubungan dengan

kisah manusiawi (Human Interest). Ia

(5)

17

Universitas Kristen Petra bisa diberitakan kapan saja karena yang

menjadi ukuran dalam kategori berita ini bukanlah informasi dan kecepatan ketika diterima oleh khalayak, melainkan apakah informasi tersebut menyentuh emosi dan perasaan khalayak.

Spot News Spot news adalah subklasifikasi dari berita yang berkategori hard news.

Dalam spot news, peristiwa yang akan diliput tidak bisa direncanakan.

Developing News Developing news adalah subklasifikasi lain dari Hard News. Baik Spot news maupun developing news umumnya berhubungan dengan peristiwa yang tidak terduga. Tetapi dalam developing news dimasukkan elemen lain, peristiwa yang diberitakan adalah bagian dari rangkaian berita yang akan diteruskan keesokan atau dalam berita selanjutnya.

Continuing News Dalam Continuing news peristiwa- peristiwa bisa diprediksikan dan direncanakan. Perdebatan memang terjadi antara satu pendapat dengan pendapat lain, tetapi tetap masuk dalam tema dan bidang yang sama.

Sumber: Eriyanto, 2009, p.108

Menurut Eriyanto (2009, p. 108), “wartawan atau pembuat berita memakai kategori berita tersebut untuk menggambarkan peristiwa yang akan digunakan sebagai berita”. Hal ini secara umum akan menunjukkan bagaimana realitas

(6)

18

Universitas Kristen Petra

seharusnya dimaknai dan dikonstruksi, dengan cara apa dan bagaimana peristiwa seharusnya dilaporkan.

Tahapan terakhir dalam proses produksi berita adalah Ideologi Profesional/Objektivitas. Kalau nilai berita berhubungan dengan prosedur apa yang bisa disajikan oleh media kepada khalayak maka standar profesional berhubungan dengan jaminan yang ditekankan kepada khalayak bahwa apa yang disajikan adalah suatu kebenaran. Yang hendak kita lakukan adalah mencari tahu bagaimana kerangka pemikiran yang dikembangkan oleh suatu media. Bagaimana cerita dibingkai, bagaimana memahami dari sudut media itu sendiri. Disini peristiwa diolah dan ditampilkan dengan memberi keyakinan bahwa peristiwa itu memang benar-benar terjadi.

2.3 Berita Dalam Pandangan Konstruksionis dan Positivisme

Analisis framing termasuk kedalam paradigma konstruksionis. Paradigma ini mempunyai posisi dan pandangan tersendiri terhadap media dan teks berita yang dihasilkannya. Peter. L. Berger menuliskan bahwa realitas yang dibentuk secara ilmiah, tidak juga sesuatu yang diturunkan oleh Tuhan (Eriyanto, 2009, p.

14). Tetapi sebaliknya, ia dibentuk dan dikonstruksi. Dengan kata lain berger melihat bahwa konstruksionis berita adalah pandangan yang subjektif bukan objektif seperti yang diharapkan oleh pandangan kaum positivisme. Karena setiap orang bisa mempunyai konstruksi yang berbeda-beda atas suatu realitas,

Setiap orang yang mempunyai pengalaman, preferensi, pendidikan tertentu, dan lingkungan pergaulan atau sosial tertentu akan menafsirkan realitas sosial itu dengan konstruksinya masing-masing. Kita tidak bisa menyamakan sebuah teks berita seperti sebuah kopi realitas, ia haruslah dipandang sebagai konstruksi realitas. Karena itu sangat potensial terjadi apabila ada sebuah peristiwa yang sama tetapi dikonstruksi secara berbeda, (Eriyanto, 2009, p. 17).

Wartawan bisa jadi mempunyai pandangan dan konsepsi yang berbeda ketika melihat suatu peristiwa, dan hal itu yang terlihat dari bagaimana peristiwa itu dikonstrusikan kedalam sebuah teks berita.

Berita dalam pandangan konstruksi sosial bukan merupakan peristiwa atau fakta dalam arti yang riil. Sedangkan dalam pandangan positivisme berita adalah

(7)

19

Universitas Kristen Petra

cerminan dan refleksi dari kenyataan dan harus sesuai dengan fakta yang ada.

Padahal dalam menuliskan sebuah berita adanya suatu proses interaksi yang terjadi antara wartawan dan narasumber. Karena realitas yang terjadi dari hasil wawancara antara wartawan dengan narasumber bukan hasil proses antara apa yang dikatakan oleh narasumber dan ditulis sedemikian detail dan objektif oleh wartawan. Artinya dalam hal ini wartawan juga bisa menambahkan, atau bahkan mengurangi dan membuang info dari hasil wawancara yang menurutnya tidak penting atau tidak sesuai dengan apa yang ditugaskan oleh kantor. Berbeda dengan pandangan positivisme yang selalu menuntut objektifitas dari sebuah hasil peliputan dimana wartawan diharapkan menuliskan secara jujur, tanpa menambahkan subjektifitas atau opini dari wartawan.

Pendekatan konstruksionis mempunyai penilaian sendiri bagaimana media, wartawan, dan berita dilihat. Penilaian tersebut dapat dilihat dari Fakta/Peristiwa dari hasil konstruksi. Bagi kaum konstruksionis, realitas itu bersifat subjektif.

Realitas itu hadir bukan karena disengaja, tetapi karena dihadirkan oleh konsep subjektif wartawan. Realitas itu tercipta lewat konstruksi, sudut pandang tertentu dari wartawan. Tetapi pandangan positivis melihat bahwa ada fakta nyata yang diatur oleh kaidah-kaidah tertentu yang berlaku universal.

Carey (1989), sebagaimana yang dikutip Eriyanto (2009, p.19), bahwa realitas bukanlah sesuatu yang terberi, seakan-akan ada, realitas sebaliknya adalah diproduksi. Karena fakta itu diproduksi dan ditampilkan secara simbolik, maka realitas tergantung pada bagaimana ia dilihat dan bagaimana fakta itu dikonstruksi.

Pandangan konstruksionis, juga melihat bahwa media bukanlah sekedar saluran bebas, ia juga subjek yang mengkonstruksi realitas, lengkap dengan pandangan, bias, dan pemihakannya, terutama berpihak peada siapa wartawan tersebut bekerja. Media menuliskan pandangan berita konstruksi lewat bahasa yang dipakai maupun lewat pemberitaan yang dapat membingkai sebuah peristiwa dengan bingkai tertentu yang pada akhirnya menentukan bagaimana khalayak harus melihat dan memahami peristiwa dalam kacamata tertentu. Pandangan positivis memiliki pandangan lain, mereka melihat bahwa media adalah sebagai

(8)

20

Universitas Kristen Petra

saluran pesan. Media dilihat murni sebagai saluran, tempat bagaimana transaksi pesan disebarkan ke komunikator, media dilihat sebagai sarana yang netral.

Berita bukanlah refleksi dari realitas, karena ia hanyalah konstruksi dari realitas. Dalam pandangan positivis wartawan adalah sebagai pelapor, tetapi dalam pandangan konstuksionis wartawan adalah partisipan yang menjembatani keragaman subjektifitas pelaku sosial. Dengan adanya subjektifitas penulisan berita yang dituliskan oleh wartawan, maka secara tidak langsung wartawan melakukan keberpihakan berita. Padahal secara etika keberpihakan oleh wartawan sangat mengganggu jalannya peliputan berita. Itulah pilihan moral bagi wartawan, khususnya bagi pandangan konstruksionis yang akhirnya membuat khalayak memiliki penafsiran tersendiri dari pembuat berita. Berbeda dengan pandangan positivis bahwa berita yang dituliskan dalam oleh si pembuat berita harus sama dengan hasil wawancara.

2.4 Kepemilikan Media dan Isi Media

Hal fundamental bagi pemahaman struktur media adalah persoalan kepemilikan dan bagaimana kekuasaan kepemilikan dijalankan. Kepercayaan bahwa kepemilikan menentukan sifat media tidak sekedar teori Marxis, tetapi merupakan sebuah hal yang logis yang dirangkum dalam ‘hukum kedua jurnalisme’ milik Altschul (1984): “konten media selalu mencerminkan kepentingan mereka yang membiayainya’. Tidak mengherankan bila terdapat beberapa bentuk kepemilikan media yang berbeda. Dan kekuatan kepentingan kepemilikan dapat dijalankan dengan berbagai cara, (Mc Quail, 2011, p. 254).

Efek dari kepemilikan media tersebut berdampak pada keputusan paling penting dalam teori komunikasi massa yaitu publikasi atau pemberitaan.

Kebebasan pers akan mendukung hak pemilik untuk memutuskan konten sebuah pemberitaan. Untuk melihat pengaruh kepemilikan media massa, check and balance dalam sebuah kerja media harus di tegaskan. Tetapi, sistem check and balance juga tidak dapat mengaburkan sejumlah fakta nyata dari kerja media, (Mc Quail, 2011, p. 255). Ketika sistem check and balance tidak juga dapat mengaburkan sistem check and balance dari kepemilikan media maka masyarakat harus menerima bias pemberitaan dari media tersebut.

(9)

21

Universitas Kristen Petra

Oleh karena itu, maka menurut Baran (2011, p. 51), semakin besar yang didapat oleh oleh konglomerat, semakin kurang penting jurnalistik yang mereka dapatkan. Maka, akan semakin rentan juga kepentingan jurnalisme untuk menjadi hal yang menarik bagi konglomerat itu. Konglomerat yang dimaksud adalah pemilik media tersebut.

Selain itu Media massa bukan hanya sekedar sarana yang menampilkan sebuah peristiwa secara apa adanya, tetapi juga tergantung kepada kelompok atau siapa pemilik yang mendominasinya, dengan kata lain adanya unsur kepemilikan yang mempengaruhi peristiwa tersebut. Curran & Gurevitch (1982), mengatakan bahwa kepentingan pemilik media dikhawatirkan akan mempengaruhi pesan yang disampaikan media dan hegemoni ideologi media yang akhirnya berpengaruh kepada khalayak (Subiakto, Ida, p. 140). Bahkan pengaruh pemilik media juga berdampak pada pemberitaan konten media. Dengan adanya intervensi dari kepemilikan media, maka secara tidak langsung masyarakat telah ‘dipilihkan’

dalam membaca sebuah berita. Apalagi jika berita tersebut berkaitan dengan kegiatan sang pemilik media.

2.5 Framing

Analisis framing dalam kajian komunikasi politik bertujuan melacak bagaimana media memberitakan isu-isu politik penting dengan bingkai (frame) tertentu (Pawito, 2007, p. 50). Pembingkaian tersebut melihat, isu-isu apakah yang sedang di tonjolkan dan diberitakan. Analisis framing bukan hanya sebuah penonjolan isu-isu saja, tetapi juga melihat lebih dalam apakah ada berita yang dihilangkan, luput, atau bahkan disembunyikan dalam pemberitaan dari sebuah peristiwa atau kejadian. Dalam analisis framing, yang kita lakukan pertama kali adalah melihat bagaimana media mengkonstruksi realitas. “Peristiwa dipahami bukan sesuatu yang taken for granted. Sebaliknya, wartawan dan medialah yang secara aktif membentuk realitas tersebut,” (Eriyanto, 2009, p.7).

Yang menjadi titik fokus utama dalam sebuah penelitian framing adalah bagaimana realitas atau sebuah peristiwa di konstruksi oleh media. Lebih spesifik, bagaimana media membingkai peristiwa dalam konstruksi tertentu. Sehingga yang menjadi titik perhatian bukan apakah media memberitakan negatif atau positif,

(10)

22

Universitas Kristen Petra

melainkan bagaimana bingkai yang dikembangkan oleh media. Media massa tentu memiliki kesamaan mebingkai sebuah berita, tetapi pembingkaian media yang satu dengan media yang lainnya mengalami perbedaan. Cara media melihat sebuah realitas ini berpengaruh pada hasil konstruksi realitas. “Analisis framing adalah analisis yang dipakai untuk melihat bagaimana media mengkonstruksi realitas.,” (Eriyanto, 2009, p.10). Analisis framing adalah sebuah strategi bagaimana realitas atau dunia dibentuk dan disederhanakan sedemikian rupa untuk ditampilkan kepada khalayak pembaca. Peristiwa-peristiwa yang ditampilkan dalam pemberitaan agar tampak menonjol dan menarik perhatian khalayak pembaca.

2.6 Model Analisis Framing Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki

Dalam melakukan penelitian analisis framing ini, peneliti memilih menggunakan model analisis framing Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki.

Alasan pemilihan model ini, karena Pan dan Kosicki menjabarkan sebuah model yang sangat detail dalam melihat sebuah pembingkaian berita. Hal inilah yang berbeda dengan model penelitian lainnya. Pan dan Kosicki mengartikan bahwa analisis framing merupakan sebuah proses membuat pesan yang lebih menonjol, menempatkan informasi lebih daripada yang lain sehingga khalayak lebih tertuju pada pesan tersebut, (Eriyanto, 2009, p. 252).

Pan dan Kosicki memandang ada dua proses framing yang saling berkaitan.

Proses framing yang pertama adalah konsep psikologi. Framing dalam konsep ini menekankan pada bagaimana seseorang memproses informasi didalam dirinya.

Konsepsi ini lebih menekankan bagaimana seseorang memproses informasi dalam dirinya. Hal ini juga berkaitan dengan struktur dan proses kognitif, bagaimana seseorang mengolah sejumlah informasi dan ditunjukkan dengan skema tertentu.

Proses dari seleksi isu akan menjadi lebih penting dalam mempengaruhi pertimbangan dalam membuat keputusan tentang realitas.

Konsep kedua yang diperkenalkan Pan dan Kosicki adalah konsep sosiologis.

Konsep ini dipahami sebagai proses bagaimana seseorang mengklasifikasikan, mengorganisasikan, dan menafsirkan pengalam sosialnya untuk mengerti dirinya dan realitas luar dirinya. Frame di sini berfungsi membuat sesuatu realitas

(11)

23

Universitas Kristen Petra

menjadi teridentifikasi, dipahami, dan dapat dimengerti karena sudah dilabeli dengan label tertentu.

Bagi Pan dan Kosicki framing pada dasarnya melibatkan kedua konsep tersebut. Dalam media, framing dipahami sebagai perangkat kognisi yang digunakan dalam informasi untuk membuat kode, menafsirkan, dan menyimpannya untuk dikomunikasikan dengan khalayak yang kesemuanya dihubungkan dengan konvensi rutinitas, dan praktik kerja profesional, (Eriyanto, 2009, p. 253). Konsep psikologi dan sosiologi ini dapat dilihat dari berita yang diproduksi dan dikonstruksi oleh wartawan. Wartawan bukan agen tunggal dalam menafsirkan peristiwa, sebab paling tidak ada tiga pihak yang saling berhubungan yakni wartawan itu sendiri, sumber, dan khalayak.

Dalam mengkonstruksi realitas wartawan tidak hanya menggunakan konsepsi yang ada dalam pikirannya saja. Dengan menafsirkan realitas atas suatu peristiwa, itulah yang ditonjolkan atas pemaknaan atau penafsiran mereka. Cara-cara strategis yang dipakai wartawan dalam mengkonstruksikan berita, bisa digunakan pada kata, kalimat, lead, hubungan antarkalimat, foto, grafik, dan perangkat lain untuk membantu dirinya mengungkapkan pemaknaan mereka sehingga dapat dipahami oleh pembaca.

Dalam pendekatan Pan and Kosicki, membagi perangkat framing kedalam empat struktur besar. Yang pertama adalah sintaksis. Unsur Sintaksis berhubungan dengan headline berita, lead berita, latar informasi, pernyataan, opini, kutipan, pengamatan atas peristiwa ke dalam bentuk susunan kalimat. Yang kedua adalah struktur Skrip: Berhubungan dengan cara wartawan dalam mengisahkan berita dan mengemas peristiwa. Yang ketiga adalah struktur Tematik: Hubungan antar kalimat yang membentuk teks secara keseluruhan. Yang keempat adalah Struktur Retoris: Berhubungan dengan cara wartawan memakai pilihan kata, grafik dan idiom yang dipakai bukan hanya untuk mendukung tulisan.

(12)

24

Universitas Kristen Petra

Pendekatan itu dapat digambarkan dalam bentuk skema seperti berikut:

Tabel 2.3 Skema Framing Model Pan dan Kosicki

Struktur Perangkat Framing Unit Yang Diamati SINTAKSIS

Cara Wartawan dalam Menyusun Berita

1. Skema Berita Headline, lead, latar informasi, kutipan sumber,

pernyataan, penutup.

SKRIP

Cara wartawan menyusun fakta

2. Kelengkapan berita 5 W + 1 H

TEMATIK Cara wartawan dalam

menulis fakta.

3. Detail.

4. Koherensi 5. Bentuk Kalimat 6. Kata Ganti

Paragraf, proposisi, kalimat, hubungan antar kalimat.

RETORIS

Cara wartawan menekankan fakta

7. Leksikon 8. Grafis 9. Metafora

Kata, idiom, gambar/foto, grafik.

Sumber: Eriyanto (2009, p. 256)

Sintaksis adalah susunan kata atau frase dalam kalimat. Bentuk sintaksis yang paling populer adalah struktur piramida terbalik, yang dimulai dengan judul headline, lead, latar, dan penutup, (Eriyanto, 2009, p.257). Dalam struktur piramida terbalik, bagian yang di atas ditampilkan lebih penting dibandingkan dengan bagian bawahnya. Penggunaan struktur piramida terbalik juga berdasarkan pertimbangan terhadap kondisi pembaca ketika menerima surat kabar pertama kali, terutama pada pagi hari. Pada saat pagi hari banyak pembaca yang melakukan aktivitas yang membuat mereka tidak dapat membaca berita secara lengkap. (Siregar, 1998, p.164). Semakin turun ke bawah, informasi yang ada pada berita tersebut bukan informasi penting yang harus segera diketahui oleh pembaca pada saat itu juga karena sudah terwakilkan dari berbagai elemen judul maupun lead di paragraf awal. Adapun bagan atau struktur dari piramida terbalik jika digambarkan yakni sebagai berikut:

(13)

25

Universitas Kristen Petra

Gambar 2.1 Piramida Terbalik

Sumber : Siregar, 1998

Headline merupakan aspek sintaksis dari wacana berita dengan tingkat kemenonjolan yang tinggi yang menunjukkan kecenderungan berita. Headline juga cenderung lebih diingat oleh pembaca dibandingkan dengan bagian berita lainnya. Headline mempunyai fungsi framing yang kuat. Headline mempengaruhi bagaimana kisah dimengerti untuk kemudian digunakan dalam membuat pengertian isu dan peristiwa sebagimana yang akan mereka beritakan.

Selain headline ada lead. Lead adalah perangkat sintaksis lain yang sering digunakan. Lead yang baik umumnya memberikan sudut pandang dari berita, menunjukkan perspektif tertentu dari peristiwa yang diberitakan. Donald Murray dalam bukunya Writing for your readers yang di kutip oleh Luwi Ishawara mengatakan ,” Hanya butuh waktu tiga detik bagi pembaca untuk menentukan berita itu terus untuk dibaca atau tidak. Tidak heran jika penulis sangat berhati- hati dalam menuliskan sebuah lead pemberitaan,” (Ishwara, 2005, p. 119).

Latar informasi merupakan bagian berita yang dapat mempnegaruhi makna yang ingin ditampilkan wartawan. Seorang wartawan ketika menulis berita biasanya mengemukakan latar belakang atas peristiwa yang ditulis. Latar yang di pilih menentukan ke arah mana pandangan khalayak hendak dibawa.

Bagian lain dari sebuah pengamatan adalah pengutipan sumber berita. Dalam penulisan berita dimaksudkan untuk membangun objektivitas dan prinsip keseimbangan yang tidak berpihak. Melvin Mencher mengatakan, bahwa “sumber manusia ini terkadang kurang bisa begitu saja dipercaya bila dibandingkan dengan sumber-sumber seperti dokumen, refrensi, dam buku” (Ishwara, 2005). “Orang atau pejabat yang terlibat dalam peristiwa bisa mempunyai kepentingan untuk

Headline

Berita Semakin ke

bawah tidak penting

(14)

26

Universitas Kristen Petra

melindungi. Mereka biasanya bukan pengamat yang terlatih dan terkadang menceritakan apa yang mereka pikir diinginkan oleh wartawan, (Ishwara, 2005, p.76).

Model Pan dan Kosicki juga menggambarkan struktur skrip dalam skema yang dimilikinya. Skrip adalah laporan berita yang sering disusun sebagai suatu cerita.

Cerita yang dituliskan oleh wartawan terkadang juga mengalami perbedaan.

Karena itu peristiwa dibuat dengan mengaduk unsur emosi, menampilkan peristiwa tampak sebagai sebuah kisah dengan awal, adegan, klimaks dan akhir.

Bentuk umum dari unsur skrip adalah pola 5 W + 1 H, yaitu What, Who, When, Where, Why, dan How. Unsur kelengkapan berita ini sangat penting yang menandakan sebuah framing. Tetapi pola ini tidak selalu ada dalam setiap berita yang disajikan kepada pembaca. Skrip memberikan tekanan mana yang didahulukan dan menyembunyikan informasi penting.

Pan dan Kosicki juga melihat bahwa unsur tematik juga meruapakan bagian proses framing yang dilakukan oleh wartawan. Peristiwa yang diliput, sumber yang dikutip, dan pernyataan yang diungkapkan, merupakan perangkat yang digunakan untuk membuat dukungan logis bagi hipotesis yang dibuat. Struktur tematik berhubungan dengan bagaimana fakta itu ditulis. Bagaimana kalimat yang dipakai, bagaimana menempatkan dan menulis sumber berita ke dalam teks berita secara keseluruhan.

Beberapa kata penghubung yang dituliskan oleh wartawan adalah “sebab” atau

“karena”, “dan”, “lalu”, atau “dibandingkan” atau “sedangkan”.

Struktur terakhir yang diungkapkan oleh Pan dan Kosicki adalah struktur retoris. Struktur retoris dari wacana berita adalah menggambarkan pilihan gaya atau kata yang dipilih oleh wartawan. Wartawan menggunakan struktur retoris ini untuk membuat citra, meningkatkan kemenonjolan pada sisi tertentu dan meningkatkan gambaran yang diinginkan dari suatu berita.

Elemen-elemen yang dipakai oleh wartawan adalah elemen leksikon, pemilihan dan pemakaian kata-kata tertentu untuk menandai atau menggambarkan peristiwa. Selain lewat penekanan kata penekanan pesan dalam berita juga dapat dilakukan dengan menggunakan unsur grafis, foto, gambar dan tabel. Elemen grafik memberikan efek kognitif, ia mengontrol perhatian dan ketertarikan secara

(15)

27

Universitas Kristen Petra

intensif dan menunjukkan apakah suatu informasi itu dianggap penting dan menarik sehingga harus dipusatkan atau difokuskan.

2.7 Efek Framing

Salah satu efek framing yang paling mendasar adalah realitas sosial yang kompleks, penuh dimensi dan tidak beraturan disajikan dalam berita sebagai sesuatu yang sederhana, beraturan, dan memenuhi logika tertentu. Karena melalui framing, media melihat sebuah peristiwa melalui kacamata tertentu yang terbentuk oleh sebuah bingkai dan disajikan kepada masyarakat. Dengan kata lain efek framing telah menonjolkan sebuah aspek tertentu untuk mengaburkan aspek lain.

Dari penonjolan sebuah aspek tertentu, maka framing juga menampilkan pemberitaan dari sisi tertentu juga, yang melupakan sisi lain dalam sebuah pemberitaan. “Aspek tertentu menyebabkan aspek lain yang penting dalam memahami realitas tidak mendapatkan liputan yang memadai dalam berita,”

(Eriyanto, 2009, p. 142). Efek framing juga dapat menampilkan aktor tertentu, dan menyembunyikan aktor lainnya. Melalui framing, seseorang bisa tampil bak pahlawan di sebuah media, dan begitu pula sebaliknya melalui framing seseorang juga bisa tampil sebagai orang yang di benci karena menimbulkan sebuah masalah.

Karena itu, bagaimana media membingkai realitas tertentu berpengaruh kepada bagimana individu menafsirkan peristiwa tersebut. Apa yang khalayak ingin ketahui tentang realitas juga bergantung pada bagimana media menggambarkannya.

2.8 Nisbah Antar Konsep

Pandangan konstruksionis melihat, media bukanlah sekedar saluran bebas, ia adalah subjek yang mengkonstruksi realitas, lengkap dengan pandangan, bias, dan pemihakannya. Media menuliskan pandangan berita konstruksi lewat bahasa yang dipakai maupun lewat pemberitaan yang dapat membingkai sebuah peristiwa dengan bingkai tertentu yang pada akhirnya menentukan bagaimana khalayak harus melihat dan memahami peristiwa dalam kacamata tertentu. Pembentukan

(16)

28

Universitas Kristen Petra

berita inilah yang akhirnya menyebabkan berita itu subjektif, karena dalam pandangan konstruksionis, wartawan dianggap sebagai agen pembentuk realitas.

Selain itu adanya unsur subjektifitas pemberitaan, dapat dilihat dari dengan siapa wartawan tersebut bekerja atau dengan kata lain siapa pemilik media tersebut. Tidak mengherankan bila terdapat beberapa bentuk kepemilikan media yang berbeda. Dan kekuatan kepentingan kepemilikan dapat dijalankan dengan berbagai cara. Termasuk untuk menyerang lawan politiknya.

Melalui framing, pemilik media bisa menggunakan medianya sendiri untuk menyerang lawan politiknya. Bahkan sang pemilik media juga dapat tampil bak pahlawan dan menyerang lawan politiknya tersebut. Karena itu, media bukan lagi tempat yang netral dalam memberitakan pemberitaan, karena ia harus tunduk dan patuh kepada pemilik media apalagi jika pemilik media tersebut membutuhkan dukungan politik.

(17)

29

Universitas Kristen Petra

2.9 Kerangka Pemikiran

Gambar: 2.2 Kerangka Pemikiran Sumber: Olahan Peneliti

Konflik Partai Nasdem dan pembingkaian sosok Hary Tanoesoedibjo dan Surya Paloh oleh Harian Media Indonesia dan Koran SINDO.

Bingkai Pemberitaan Konflik Partai Nasional Demokrat (Nasdem) di Harian Media Indonesia dan Koran SINDO.

Analisis Framing model Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki

Sintaksis

-Headline -Lead

-Latar Informasi -Kutipan Sumber -Pernyataan -Penutup

Skrip

5 W+ 1 H -What -When -Who -Why -Where -How

Tematik

-Paragraf -Proposisi -Kalimat

-Hubungan antar kalimat

Retoris

-Kata -Idiom -Gambar/Foto -Grafik

Referensi

Dokumen terkait

Li dan Lin (2006) menyatakan bahwa dengan adanya persebaran informasi, perusahaan dapat mencapai praktek SCM yang lebih baik, dalam hal ketepatan barang dan

Genetic Algorithm merupakan sebuah metode untuk memindahkan satu populasi kromosom ke suatu populasi yang baru dengan menggunakan seleksi alam dan operator genetik seperti

Selain dinding yang mempunyai efek memantulkan, lantai juga mempunyai efek yang sama, malah lantai mempunyai efek memantulkan yang lebih besar dari pada dinding sebesar

Sebagaimana gambar yang telah menelurkan banyak gaya, animasi (dan ber-.. Sebagai contoh, anda tentu bisa mengidentifikasi gaya animasi buatan Jepang dengan hanya

Elemen penting lain dalam pendekatan ini adalah untuk menekankan bahwa teks media (dari awal atau makna ‘program’) memiliki banyak makna alternatif potensial yang

Berinteraksi langsung dengan kelompok yang memiliki gaya hidup tertentu mungkin dapat memperkuat elemen gaya hidup yang ingin diadopsi, namun tidak menutup kemungkinan

Salah satu hal yang akan terjadi pada saat kelompok berkomunikasi adalah terbentuknya sebuah pengertian, pemahaman dalam kelompok tersebut, apalagi ketika kelompok tersebut

Menurut salah satu para ahli, Brady dan Loonam (2010), Entity Relationship diagram (ERD) merupakan teknik yang digunakan untuk memodelkan kebutuhan data dari