PENGARUH PEMEKARAN DAERAH TERHADAP PEMBANGUNAN DAN PENGEMBANGAN WILAYAH – FOKUS PELAYANAN PUBLIK
(Studi Kasus : Kabupaten Batubara Provinsi Sumatera Utara)
TESIS
Oleh
CHRISTIANTO SILALAHI 097003073/PWD
SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
SE K O L A H PA
SCA S AR JANA
PERWILAYAHAN PEMBANGUNAN SEBAGAI STRATEGI PENGEMBANGAN WILAYAH
KABUPATEN TAPANULI UTARA
T E S I S
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Magister Sains dalam Program Studi Perencanaan Pembangunan
Wilayah dan Pedesaan pada Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara
Oleh
CHRISTIANTO SILALAHI 097003073/PWD
SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
Judul Tesis : PENGARUH PEMEKARAN DAERAH TERHADAP PEMBANGUNAN DAN PENGEMBANGAN WILAYAH – FOKUS PELAYANAN PUBLIK
(Studi Kasus : Kabupaten Batubara Provinsi Sumatera Utara )
Nama : CHRISTIANTO SILALAHI
Nomor Pokok : 097003073
Program Studi : Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Pedesaan (PWD)
Menyetujui Komisi Pembimbing
(Prof.Drs.Robinson Tarigan,MRP ) (Wahyu Ario Pratomo,SE,M.Ec Ketua Anggota
)
Ketua Program Studi, Direktur,
(Prof.Dr.Lic.rer.reg.Sirojuzilam,SE)
(Prof. Dr.Ir. A. Rahim Matondang,MSIE)Telah diuji pada
Tanggal : 28 Agustus 2011
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua : Prof. Drs.Robinson Tarigan,MRP Anggota : 1. Wahyu Ario Pratomo,SE,M.Ec
2. Prof.Erlina,SE,M.Si,Ph.D,Ak
3. Dr.H.B.Tarmizi,SE,SU
ABSTRAK
Christianto Silalahi, NIM 097003073. “Pengaruh Pemekaran Daerah Terhadap Pembangunan dan Pengembangan Wilayah - Fokus Pelayanan Publik (Studi Kasus : Kabupaten Batubara Provinsi Sumatera Utara)”. Dibimbing oleh : Prof. Drs. Robinson Tarigan, M.R.P dan Wahyu Ario Pratomo, SE. M.Ec.
Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh pemekaran Kabupaten Batubara terhadap perkembangan sarana pendidikan dan kesehatan ; pengaruh pemekaran Kabupaten Batubara terhadap tingkat harapan dan kinerja pelayanan publik bidang pendidikan, kesehatan, transportasi (terminal) dan administrasi (kartu tanda penduduk (KTP) dan kartu keluarga (KK)); pengaruh pemekaran Kabupaten Batubara terhadap Indeks Kepuasan Masyarakat terhadap kinerja pelayanan publik bidang pendidikan, kesehatan, transportasi dan administrasi ; dan pengaruh kinerja pelayanan publik bidang pendidikan, kesehatan, transportasi dan administrasi sebelum dan sesudah pemekaran Kabupaten Batubara.
Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif, dengan pengujian analisis deskriptif, diagram Kartesius, Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM), dan metode Wilcoxon Match Pair Test.
Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa pengaruh pemekaran Kabupaten Batubara terhadap perkembangan sarana pendidikan dan kesehatan memberikan tanggapan positif terhadap masyarakat responden Kabupaten Batubara, hal ini terlihat banyaknya responden yang menjawab setuju adanya perkembangan sarana pendidikan dan kesehatan sesuadah pemekaran. Tanggapan responden ini didukung oleh lebih baiknya penambahan unit sarana pendidikan dan kesehatan dibanding sebelum pemekaran. Pengaruh pemekaran Kabupaten Batubara terhadap tingkat harapan dan kinerja pelayanan publik di bidang pendidikan, kesehatan, transportasi (terminal) dan administrasi (KTP dan KK) menunjukkan adanya pengaruh yang lebih baik, hal ini terlihat semakin berkurangnya gap negatif dari harapan masyarakat terhadap kinerja pelayanan publik di bidang pendidikan, kesehatan, transportasi, dan administrasi sesudah pemekaran dibanding sebelum pemekaran. Selain itu menunjukkan adanya perubahan nilai unsur pelayanan publik yang meningkat dari pelayanan publik di bidang pendidikan, kesehatan, transportasi dan administrasi sesudah pemekaran daerah.
Indeks kepuasan masyarakat terhadap pelayanan publik bidang pendidikan, kesehatan, transportasi dan administrasi menunjukkan adanya perubahan yang lebih baik sesudah adanya pemekaran daerah Kabupaten Batubara. Kepuasan masyarakat terhadap kinerja pelayanan publik bidang pendidikan, kesehatan, transportasi dan administrasi sesudah pemekaran Kabupaten Batubara memberikan pengaruh yang signifikan lebih baik dibanding sebelum pemekaran Kabupaten Batubara.
Kata Kunci : pelayanan publik, pendidikan, kesehatan, transportasi, administrasi
ABSTRACT
Christianto Silalahi, NIM 097 003 073. "The Effect Of Regional Development and Expansion of Regional Development - The focus of the Public Service (Case Study: Batubara District of North Sumatra Province)". Supervised by: Prof. Drs. Robinson Tarigan, MRP and Wahyu Ario Pratomo, SE. M.Ec.
The purpose of this study was to analyze the effect of expansion on the development of Batubara district education and health facilities; influence the expansion of Batubara District of the level of expectation and performance of public services in education, health, transportation (terminal) and administration (identity card (ID card) and card households (families); influence the division of the Batubara District Community Satisfaction Index for the performance of public services in education, health, transportation and administration, and influence the performance of public services in education, health, transportation and administration before and after the division of Batubara District.
The method of analysis used in this study is a quantitative method, by testing the descriptive analysis, a Cartesian diagram, Community Satisfaction Index (HPI), and the method of Wilcoxon Match Pairs Test.
The results of this study concluded that the effect of expansion on the development of Batubara District of education and health facilities to respond positively to the communities of Batubara District respondents, it is seen the number of respondents who answered agreed to the development of education and health facilities sesuadah division. The responses are supported by the addition of better education and health units than before the expansion. Effect of Batubara District division of the level of expectation and performance of public services in education, health, transportation (terminal) and administration (KTP and KK) showed a better effect, it looks increasingly less negative gap of expectations of the public on the performance of public services in education, health, transfortasi, and administration of the division after division than before. In addition it shows a change in the value of public service element of the increase of public services in education, health, transfortasi and after the administration of area. Index of community satisfaction with public services in education, health, transportation and administration showed a better change of area after the Batubara District.
People's satisfaction with the performance of public services in education, health, transportation and administration after the expansion of Batu Bara had a significant influence better than before the expansion of Batubara District.
Key Words: public service, education, health, transfortasi, administration
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah melimpahkan taufik dan hidayah sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis dengan judul:
“Pengaruh Pemekaran Daerah Terhadap Pembangunan dan Pengembangan
Wilayah - Fokus Pelayanan Publik (Studi Kasus : Kabupaten Batubara Provinsi Sumatera Utara)”. Tesis ini diajukan untuk memenuhi salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan Program Studi Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Pedesaan Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara, Medan.
Dalam penyusunan tesis ini, penulis telah banyak mendapat bantuan, masukan dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu penulis menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi – tingginya, kepada yang terhormat Bapak Prof. Robinson Tarigan, M.R.P. selaku Ketua Komisi Pembimbing dan Bapak Wahyu Ario Pratomo, SE. M.Ec., selaku Anggota Komisi Pembimbing yang telah memberi saran, dukungan, pengetahuan dan bimbingan kepada penyusun hingga tesis ini selesai.
Pada kesempatan ini penulis juga tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak Prof. Dr. Ir. A. Rahim Matondang, MSIE selaku Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara Medan.
2. Bapak Prof. Dr. lic.rer.reg.Sirojuzilam, SE, selaku Ketua Program Studi
Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Pedesaan (PWD) Sekolah
Pascasarjana Universitas Sumatera Utara, Medan.
3. Bapak dan Ibu Dosen Pembanding yang telah memberikan masukan dan saran bagi kesempurnaan tesis ini.
4. Seluruh Dosen – Pengajar, beserta Staf Administrasi yang telah banyak memberikan bantuan sejak awal perkuliahan hingga penyelesaian tesis ini.
5. Secara khusus penulis mengucapkan terima kasih kepada Ayahanda dan Ibunda yang telah mengasuh, membesarkan, mendidik dan mendo’akan dan selalu memberi motivasi kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan tesis ini.
Akhirnya atas segala kekurangannya, kepada semua pihak dalam kaitan dengan proses penyusunan tesis ini serta selama dalam proses pendidikan saya menyampaikan permohonan maaf yang sebesar – besarnya dan penulis berharap semoga tesis ini dapat bermanfaat bagi berbagai pihak yang berkepentingan.
Medan, Agustus 2012 Penulis,
Christianto Silalahi
RIWAYAT HIDUP
Christianto Silalahi lahir di Ujung Pandang, 11 April 1988, dari pasangan Bapak M. SILALAHI dengan Ibu R. LUMBAN TOBING, dan merupakan anak kedua dari empat bersaudara.
Penulis menyelesaikan pendidikan Dasar tahun 2000 di SD Negeri 066657 Medan. Pada tahun 2003 menyelesaikan pendidikan Sekolah Menengah Pertama pada SMP Negeri 45 Medan dan pada tahun 2006 menyelesaikan pendidikan Sekolah Menengah Atas di SMA Negeri 3 Medan. Kemudian pada tahun 2009 menyelesaikan pendidikan di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN).
Sejak tahun 2009 sampai sekarang aktif bekerja sebagai PNS di
Pemerintahan Provinsi Sumatera Utara. Tahun 2010 mengikuti pendidikan
Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara dalam bidang studi Perencanaan
Pembangunan Wilayah dan Pedesaan (PWD).
DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK ... i
ABSTRACT ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
RIWAYAT HIDUP ... v
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR TABEL ... viii
DAFTAR GAMBAR ... x
DAFTAR LAMPIRAN ... xi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Perumusan Masalah ... 7
1.3. Tujuan Penelitian ... 7
1.4. Manfaat Penelitian ... 8
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 9
2.1. Pemekaran Daerah ... 9
2.2. Pembangunan Daerah ... 11
2.3. Pengembangan Wilayah ... 13
2.4. Pelayanan Publik ... 15
2.5. Penelitian Sebelumnya ... 20
2.6. Kerangka Pemikiran ... 22
2.7. Hipotesis ... 24
BAB III METODE PENELITIAN ... 25
3.1. Ruang Lingkup Penelitian ... 25
3.2. Lokasi Penelitian ... 25
3.3. Jenis dan Sumber Data ... 25
3.4. Populasi dan Sampel ... 26
3.5. Analisis Data ... 27
3.6. Definisi Variabel Operasional ... 31
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 33
4.1. Gambaran Umum Wilayah Kabupaten Batubara ... 33
4.2. Karakteristik Responden ... 37
4.2.1. Umur ... 37
4.2.2. Tingkat Pendidikan ... 38
4.3. Perkembangan Sarana Pendidikan dan Kesehatan ... 40
4.3.1. Sarana Pendidikan ... 40
4.3.2. Sarana Kesehatan ... 42
4.4. Pengaruh Pemekaran Kabupaten Daerah terhadap Tingkat Harapan dan Kinerja Pelayanan Publik di Bidang Pendidikan, Kesehatan, Transportasi (Terminal) dan Administrasi ... 44
4.4.1. Tingkat Harapan dan Kinerja Pelayanan Publik Pendidikan, Kesehatan, Transportasi, Adminstrasi Sebelum Pemekaran ... 44
4.4.2. Tingkat Harapan dan Kinerja Pelayanan Publik Pendidikan, Kesehatan, Transportasi, Adminstrasi Sesudah Pemekaran ... 65
4.5. Analisis Kepuasan Masyarakat terhadap Kualitas Pelayanan Publik ... 84
4.5.1. Kepuasan Masyarakat di bidang Pendidikan Sebelum dan Sesudah Pemekaran ... 85
4.5.2. Kepuasan Masyarakat di bidang Kesehatan Sebelum dan Sesudah Pemekaran ... 89
4.5.3. Kepuasan Masyarakat di bidang Transportasi Sebelum dan Sesudah Pemekaran ... 94
4.5.4. Kepuasan Masyarakat di bidang Administrasi Sebelum dan Sesudah Pemekaran ... 98
4.6. Pengaruh Kinerja Pelayanan Bidang Pendidikan, Kesehatan, Transportasi (Terminal) dan Administrasi Sebelum dan Sesudah Pemekaran Batubara ... 102
4.6.1. Pendidikan ... 103
4.6.2. Kesehatan ... 103
4.6.3. Transportasi ... 104
4.6.4. Administrasi ... 104
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 107
5.1. Kesimpulan ... 107
5.2. Saran ... 108
DAFTAR PUSTAKA ... 110
DAFTAR TABEL
Tabel Judul
Halaman 3.1.
3.2.
4.1.
4.2.
4.3.
4.4.
4.5.
4.6.
4.7.
4.8.
4.9.
4.10.
4.11.
Populasi dan Sampel Responden Penelitian ………..
Nilai Persepsi, Interval IKM, Interval Konversi IKM, Mutu Pelayanan dan Kinerja Unit Pelayanan ……….
Kontribusi Sektor PDRB Kabupaten Batubara Tahun
2007-2010 (dalam persen) ...
Jumlah Responden Berdasarkan Umur ……….
Jumlah Responden Berdasarkan Pendidikan ……….
Jumlah Responden Berdasarkan Jenis Kelamin ………....
Tanggapan Responden terhadap Adanya Perkembangan Jumlah Sarana Pendidikan Sesudah Pemekaran Daerah Kabupaten Batubara ……….
Jumlah Sarana Pendidikan di Kabupaten Batubara Tahun 2006-2010 ………..
Tanggapan Responden terhadap Adanya Perkembangan Jumlah Sarana Kesehatan Sesudah Pemekaran Daerah
Kabupaten Batubara ……….
Jumlah Sarana Kesehatan di Kabupaten Batubara Tahun 2006-2010 ………..
Tingkat Harapan Pelayanan Publik di Bidang Pendidikan, Kesehatan, Transportasi, Administrasi Sebelum Pemekaran Daerah Kabupaten Batubara ………
Tingkat Kinerja Pelayanan Publik di Bidang Pendidikan, Kesehatan, Transportasi, Administrasi Sebelum Pemekaran Daerah Kabupaten Batubara ………
Rekapitulasi Nilai Bobot untuk Tingkat Harapan dan Tingkat Kinerja Pelayanan Publik di Bidang Pendidikan, Kesehatan,
26
30
36 37 38 39
40
41
42
43
45
52
4.12.
4.13.
4.14.
4.15.
4.16.
4.17.
4.18.
4.19.
4.20.
4.21.
Kabupaten Batubara ……….
Rekapitulasi Rata-rata Tingkat Harapan dan Tingkat Kinerja Pelayanan Publik di Bidang Pendidikan, Kesehatan, Transportasi, Administrasi Sebelum Pemekaran Daerah Kabupaten Batubara ……….
Tingkat Harapan Pelayanan Publik di Bidang Pendidikan, Kesehatan, Transportasi, Administrasi Sesudah Pemekaran Daerah Kabupaten Batubara ………
Tingkat Kinerja Pelayanan Publik di Bidang Pendidikan, Kesehatan, Transportasi, Administrasi Sesudah Pemekaran Daerah Kabupaten Batubara ………
Rekapitulasi Nilai Bobot untuk Tingkat Harapan dan Tingkat Kinerja Pelayanan Publik di Bidang Pendidikan, Kesehatan, Transportasi, Administrasi Sesudah Pemekaran Daerah Kabupaten Batubara ……….
Rekapitulasi Rata-rata Tingkat Harapan dan Tingkat Kinerja Pelayanan Publik di Bidang Pendidikan, Kesehatan, Transportasi, Administrasi Sesudah Pemekaran Daerah Kabupaten Batubara ……….
Rekapitulasi Nilai Unsur Pelayanan, Mutu Pelayanan dam Kinerja Pelayanan Publik di Bidang Pendidikan Sebelum dan Sesudah Pemekaran Daerah Kabupaten Batubara …………..
Rekapitulasi Nilai Unsur Pelayanan, Mutu Pelayanan dam Kinerja Pelayanan Publik di Bidang Kesehatan Sebelum dan Sesudah Pemekaran Daerah Kabupaten Batubara …………..
Rekapitulasi Nilai Unsur Pelayanan, Mutu Pelayanan dam Kinerja Pelayanan Publik di Bidang Transportasi Sebelum dan Sesudah Pemekaran Daerah Kabupaten Batubara …………..
Rekapitulasi Nilai Unsur Pelayanan, Mutu Pelayanan dam Kinerja Pelayanan Publik di Bidang Administrasi Sebelum dan Sesudah Pemekaran Daerah Kabupaten Batubara ……...
Hasil Uji Wilcoxon Matc Pair terhadap Pengaruh Kinerja Pelayanan Publik Bidang Pendidikan, Kesehatan, Transportasi dan Kesehatan Sebelum dan Sesudah Pemekaran Kabupaten Batubara ………...
60
62
65
72
79
81
85
90
94
98
102
DAFTAR GAMBAR
Gambar Judul
Halaman 2.1.
4.1.
4.2.
4.3
Kerangka Konseptual Penelitian ………
Peta Administrasi Kabupaten Batubara ...
Diagram Kartesius Tentang Kinerja dan Harapan Masyarakat terhadap Pelayanan Publik di Bidang Pendidikan, Kesehatan, Transportasi, Administrasi Sebelum Pemekaran Daerah ……..
Diagram Kartesius Tentang Kinerja dan Harapan Masyarakat terhadap Pelayanan Publik di Bidang Pendidikan, Kesehatan, Transportasi, Administrasi Sesudah Pemekaran Daerah ……...
23 35
62
82
DAFTAR LAMPIRAN
Gambar Judul
Halaman 1
2 3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
Kuisioner Penelitian ………
Data Tabulasi Karakteristik Responden ……….
Data Nilai Per Unsur Tingkat Harapan Pelayanan Publik di Bidang Pendidikan, Kesehatan, Transportasi, Administrasi Sebelum Pemekaran Kabupaten Batu Bara……….
Data Nilai Per Unsur Tingkat Kinerja Pelayanan Publik di Bidang Pendidikan, Kesehatan, Transportasi, Administrasi Sebelum Pemekaran Kabupaten Batu Bara……….
Data Nilai Per Unsur Tingkat Harapan Pelayanan Publik di Bidang Pendidikan, Kesehatan, Transportasi, Administrasi Sesudah Pemekaran Kabupaten Batu Bara……….
Data Nilai Per Unsur Tingkat Kinerja Pelayanan Publik di Bidang Pendidikan, Kesehatan, Transportasi, Administrasi Sesudah Pemekaran Kabupaten Batu Bara……….
Data Nilai Per Unsur Pelayanan Publik di Bidang Pendidikan, Sebelum Pemekaran Kabupaten Batu Bara……….
Data Nilai Per Unsur Pelayanan Publik di Bidang Pendidikan, Sesudah Pemekaran Kabupaten Batu Bara……….
Data Nilai Per Unsur Pelayanan Publik di Bidang Kesehatan, Sebelum Pemekaran Kabupaten Batu Bara……….
Data Nilai Per Unsur Pelayanan Publik di Bidang Kesehatan, Sesudah Pemekaran Kabupaten Batu Bara……….
Data Nilai Per Unsur Pelayanan Publik di Bidang Transportasi, Sebelum Pemekaran Kabupaten Batu Bara……….
Data Nilai Per Unsur Pelayanan Publik di Bidang Transportasi, Sesudah Pemekaran Kabupaten Batu Bara……….
113 121
125
130
133
136
139
144
149
154
159
164
14
15
Sebelum Pemekaran Kabupaten Batu Bara……….
Data Nilai Per Unsur Pelayanan Publik di Bidang Adminstrasi, Sesudah Pemekaran Kabupaten Batu Bara……….
Hasil Analisis Wilcoxon Match Pair ………..
169
174
179
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Era reformasi telah memberikan ruang yang lebih terbuka kepada masyarakat untuk mengembangkan dan membangun dirinya sendiri. Salah satu produk dari era reformasi itu adalah otonomi daerah yang secara konseptual memperlihatkan adanya perubahan secara signifikan pada model dan paradigma pemerintahan daerah. Model efisiensi struktural (struktural efficiency model) yang menekankan pada efisiensi dan keseragaman pemerintah lokal ditinggalkan. Kini dikembangkan local democracy model yang menekankan nilai demokrasi dan keberagaman dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. Seiring dengan pergeseran model tersebut, terjadi pula pergeseran dari penekanan aspek sentralisasi kepada penekanan aspek desentralisasi.
Dalam menciptakan kemandirian daerah inilah, pemekaran wilayah kabupaten/kota dan provinsi harus dipahami sebagai bagian dari implementasi otonomi daerah. Otonomi daerah merupakan strategi untuk merespon tuntutan masyarakat daerah terhadap 3 (tiga) permasalahan utama yakni sharing of power, distribution of income dan kemandirian sistem manajemen di daerah.
UU RI nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah hasil
amandemen UU RI nomor 22 tahun 1999, adalah mengatur pembagian daerah di
Indonesia. Provinsi dibentuk berdasarkan Asas Desentralisasi dan Dekonsentrasi
Desentralisasi. Daerah yang dibentuk dengan Asas Desentralisasi berwenang untuk menentukan dan melaksanakan kebijakan atas prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat.
Semangat otonomi daerah salah satunya bermuara kepada keinginan daerah untuk memekarkan diri yang diatur dalam PP 129/2000 Jo PP 78/2007 tentang persyaratan pembentukan dan kriteria pemekaran, penghapusan dan penggabungan daerah. Pemekaran daerah dimaksudkan untuk mempersingkat rentang kendali antara pemerintah dan masyarakat, khususnya pada wilayah- wilayah yang belum terjangkau oleh fasilitas pemerintahan. Pemekaran memungkinkan sumber daya mengalir ke daerah yang belum berkembang, serta mengembangkan demokrasi lokal melalui pembagian kekuasaan pada tingkat yang lebih kecil (Ida, 2005).
Reformasi yang tengah bergulir di Indonesia, yang ditandai dengan
munculnya berbagai fenomena keinginan masyarakat pada berbagai wilayah
untuk membentuk suatu daerah otonom baru, baik daerah provinsi maupun
kabupaten dan kota. Keinginan tersebut didasari terjadinya berbagai dinamika di
daerah itu sendiri baik dinamika sosial, ekonomi, politik maupun budaya. Dengan
pembentukan daerah otonom ini, daerah otonom tersebut diharapkan mampu
memanfaatkan peluang yang lebih besar dalam mengurus rumah tangganya
sendiri, terutama dalam kaitannya dengan pengelolaan sumber-sumber pendapatan
asli daerah, sumber daya alam dan pengelolaan bantuan pemerintah pusat kepada
daerah otonom dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dan pelayanan kepada
masyarakat setempat yang lebih baik.
Terdapat beberapa permasalahan yang terjadi di daerah pemekaran, misalnya, daerah induk belum menyerahkan personel, peralatan, pembiayaan, dan dokumen kepada daerah otonom baru; belum pindahnya ibu kota daerah sesuai undang-undang, serta masih belum mampu menghidupi daerahnya sendiri (Makhya, 2008), dan sangat wajar apabila masyarakat mempertanyakan hasil pembangunan yang terjadi, terutama apabila hasil-hasil pembangunan itu tidak menjangkau dan bahkan apabila menimbulkan malapetaka ataupun ancaman bagi mereka (Sihombing, 2005).
Dampak pemberian otonomi daerah tidak hanya terjadi pada organisasi pemerintah daerah, tetapi berlaku pula pada masyarakat (publik) dan badan atau lembaga swasta dalam berbagai bidang. Otonomi membuka kesempatan kepada pemerintah daerah secara langsung membangun kemitraan dengan publik dan pihak swasta yang bersangkutan. Tujuan otonomi adalah mencapai efektivitas dan efisiensi dalam pelayanan kepada masyarakat.
Pemekaran daerah yang disertai dengan munculnya profesionalisme
pelayanan publik menjadi sangat penting, baik sebagai langkah penyesuaian
terhadap perubahan fungsi dan peran pemerintah, maupun sebagai tuntutan
keadaan agar birokrasi pemerintah yang dimekarkan semakin efisien dan efektif
dalam memberikan pelayanan publik. Akan tetapi, pemekaran daerah juga
menimbulkan beberapa masalah misalnya saja pemekaran telah membuka peluang
terjadinya Bureaucratic and Political Rentseeking yaitu kesempatan untuk
memperoleh keuntungan dari pemekaran daerah, baik dana dari pemerintah pusat
maupun penerimaan daerah itu sendiri.
Salah satu daerah pemekaran administrasi wilayah di Provinsi Sumatera Utara adalah Kabupaten Batubara yang dibentuk pada tanggal 15 Juli 2007, hasil dari pemekaran Kabupaten Asahan, yang wilayahnya terdiri dari 7 (tujuh) kecamatan diantaranya, yaitu Kecamatan Medang Deras, Kecamatan Sei Suka, Kecamatan Air Putih, Kecamatan Lima Puluh, Kecamatan Talawi, Kecamatan Tanjung Tiram, dan Kecamatan Sei Balai dengan luas 92.220 hektare (ha).
Terbentuknya Kabupaten Batubara sebagai kabupaten baru dimaksudkan untuk meningkatkan pembangunan menuju masyarakat yang lebih sejahtera. Tujuan pembentukannya adalah untuk menegakkan kedaulatan rakyat dalam rangka perwujudan sosial, mendekatkan pelayanan kepada masyarakat dan untuk merespon serta merestrukturisasi jajaran pemerintahan daerah dalam rangka mempercepat proses pembangunan.
Untuk melihat perkembangan suatu daerah pemekaran maka salah satu cara yang diperlukan adalah dengan membuat semacam analisis kinerja aparatur pemerintah daerah. Dari hasil analisis ini diharapkan akan diperoleh gambaran bagaimana kinerja aparatur pemerintahan di daerah pemekaran. Hal ini sebagai konsekuensi dari pelaksanaan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, di mana pemerintah daerah dituntut supaya dapat lebih meningkatkan kinerjanya dalam penyelenggaraan pemerintahan.
Pelayanan publik kini telah menjadi isu sentral dalam penciptaan
pembangunan di Indonesia. Pelayanan publik atau pelayanan umum dapat
didefinisikan sebagai segala bentuk jasa pelayanan, baik dalam bentuk barang
publik maupun jasa publik yang pada prinsipnya menjadi tanggung jawab dan
dilaksanakan oleh instansi pemerintah, dalam rangka upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat maupun dalam rangka pelaksanaan ketentuan peraturan perundang- undangan (Kep.Menpan No. 63/2003). Pada saat ini masyarakat Kabupaten Batubara sangat menuntut pelayanan yang baik yang bisa diberikan oleh Pemerintah Kabupaten Batubara sebagai daerah otonomi baru dalam meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, hal ini sesuai dengan salah satu tujuan dari pembentukan, pemekaran, penghapusan daerah berdasarkan dalam PP 129/2000 Jo PP 78/2007 adalah peningkatan pelayanan kepada masyarakat.
Kinerja birokrasi pemerintah daerah khususnya di daerah pemekaran Kabupaten Batubara menjadi isu yang strategis karena perbaikan kinerja birokrasi memiliki implikasi yang luas. Kajian mengenai kinerja pemerintah daerah terutama yang terlibat dalam penyelenggaraan pelayanan publik memiliki nilai yang strategis. Dengan adanya perbaikan kinerja diharapkan dapat memperbaiki tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.
Pemekaran wilayah merupakan suatu perubahan yang terjadi dalam suatu
sistem pemerintahan yang sentralistis menjadi desentralistis, dimana kewenangan
berada ditangan daerah. Melalui otonomi luas yang diberikan kepada daerah maka
daerah sebagai pusat pemerintahan yang otonom mempunyai kewenangan dalam
memberikan pelayanan kepada masyarakat yang berada di daerah
kewenangannnya. Dengan kewenangan ini diharapkan kinerja pemerintah
Kabupaten Batubara menjadi lebih baik, serta memberikan peluang kepada
pemerintah Kabupaten Batubara sebagai abdi masyarakat. Oleh karena itu dengan
kewenangannya pemerintah Kabupaten Batubara harus siap, efektif dan lebih efisien dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Dalam penelitian ini penulis mencoba membahas bagaimana kepuasan masyarakat terhadap pelayanan publik yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten Batubara sebagai daerah otonomi baru. Adapun ruang lingkup penelitian dibatasi pada bentuk-bentuk pelayanan publik yang diberikan oleh pemerintah Kabupaten Batubara kepada masyarakat seperti pelayanan di bidang kesehatan, pendidikan, transportasi (terminal) dan administrasi (KTP dan kartu keluarga). Menyadari arti pentingnya pelayanan publik dalam bidang kesehatan, pendidikan, transportasi (terminal) dan administrasi (KTP dan kartu keluarga) maka melalui pemekaran wilayah ini diharapkan membawa pengaruh yang signifikan terhadap pelayanan publik khusunya dalam bidang kesehatan, pendidikan, transportasi (terminal) dan administrasi (KTP dan kartu keluarga)
Khususnya Kabupaten Batubara, analisis yang mendalam untuk
mengetahui pengaruh pemekaran kabupaten belum banyak dilakukan. Untuk itu
penulis merasa tertarik untuk mengetahui Pengaruh Pemekaran Daerah Terhadap
Pembangunan dan Pengembangan Wilayah-Fokus Pelayanan Publik (Studi Kasus
: Kabupaten Batubara Provinsi Sumatera Utara).
1.2. Perumusan Masalah
Adapun perumusan masalah yang ingin dibahas dalam penelitian ini adalah :
1. Bagaimana pengaruh pemekaran Kabupaten Batubara terhadap perkembangan sarana pendidikan dan kesehatan.
2. Bagaimana pengaruh pemekaran Kabupaten Batubara terhadap tingkat harapan dan kinerja pelayanan publik bidang pendidikan, kesehatan, transportasi (terminal) dan administrasi (kartu tanda penduduk (KTP) dan kartu keluarga (KK).
3. Bagaimana pengaruh pemekaran Kabupaten Batubara terhadap Indeks Kepuasan Masyarakat terhadap kinerja pelayanan publik bidang pendidikan, kesehatan, transportasi dan administrasi.
4. Bagaimana kinerja pelayanan publik bidang pendidikan, kesehatan, transportasi dan administrasi sebelum dan sesudah pemekaran Kabupaten Batubara.
1.3. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis :
1. Pengaruh pemekaran Kabupaten Batubara terhadap perkembangan sarana pendidikan dan kesehatan.
2. Pengaruh pemekaran Kabupaten Batubara terhadap tingkat harapan dan
kinerja pelayanan publik bidang pendidikan, kesehatan, transportasi (terminal)
dan administrasi (kartu tanda penduduk (KTP) dan kartu keluarga (KK).
3. Pengaruh pemekaran Kabupaten Batubara terhadap Indeks Kepuasan Masyarakat terhadap kinerja pelayanan publik bidang pendidikan, kesehatan, transportasi dan administrasi.
4. Pengaruh kinerja pelayanan publik bidang pendidikan, kesehatan, transportasi dan administrasi sebelum dan sesudah pemekaran Kabupaten Batubara.
1.4. Manfaat Penelitian
1. Sebagai masukan bagi pemerintah Kabupaten Batubara dalam merumuskan kebijakan pembangunan.
2. Sebagai bahan pertimbangan bagi pemerintah daerah Kabupaten Batubara dalam mengatasi dampak pemekaran wilayah terhadap pelayanan publik agar dapat meningkatkan pelayanan yang optimal dalam bidang pendidikan, kesehatan, transportasi (terminal), administrasi (KTP dan KK).
3. Sebagai bahan masukan bagi penulis untuk memperdalam dan memperkaya
wawasan serta pengetahuan khususnya tentang pemekaran wilayah dan
pelayanan publik.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pemekaran Daerah
Pemekaran daerah di Indonesia adalah pembentukan wilayah administratif baru di tingkat provinsi maupun kota dan kabupaten dari induknya. Landasan hukum terbaru untuk pemekaran daerah di Indonesia adalah UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.
Pemekaran daerah adalah suatu proses membagi satu daerah administratif
(daerah otonom) yang sudah ada menjadi dua atau lebih daerah otonom baru
berdasarkan UU RI nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah hasil
amandemen UU RI nomor 22 tahun 1999. Landasan pelaksanaannya didasarkan
pada PP No. 78 Tahun 2007 tentang Tata Cara Pembentukan, Penghapusan, dan
Penggabungan Daerah. Sedangkan konflik keruangan (spatial conflict) adalah
potensi konflik kewilayahan yang timbul akibat adanya garis batas yang membagi
satu wilayah menjadi dua wilayah yang berbeda. Prinsip desentralisasi dan
otonomi daerah serta pemekaran daerah di Indonesia sebagai negara kepulauan
daerah tropis, memiliki karakteristik tersendiri ditinjau dari besarnya jumlah
penduduk yang tersebar tidak merata, keanekaragaman sosial budaya, sumberdaya
alam, flora dan fauna serta keragaman fisik wilayah. Berdasarkan keragaman
tersebut, dalam perspektif geografi, Indonesia memiliki potensi konflik
Fenomena tersebut telah menimbulkan sikap pro dan kontra di berbagai kalangan politisi, tokoh masyarakat, pejabat pemerintah, dan di antara para pakar.
Mereka memperdebatkan manfaat ataupun kerugian yang timbul dari banyaknya wilayah yang dimekarkan. Berbagai pandangan dan opini disampaikan untuk mendukung sikap masing-masing pihak. Pemekaran telah membuka peluang terjadinya bureaucratic and political rent-seeking, yakni kesempatan untuk memperoleh keuntungan dana, baik dari pemerintah pusat maupun dari penerimaan daerah sendiri. Lebih lanjut dikatakan bahwa, karena adanya tuntutan untuk menunjukkan kemampuan menggali potensi wilayah, maka banyak daerah menetapkan berbagai pungutan untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Hal ini menyebabkan terjadinya suatu perekonomian daerah berbiaya tinggi. Lebih jauh lagi timbul pula tuduhan bahwa pemekaran wilayah merupakan bisnis kelompok elit di daerah yang sekedar menginginkan jabatan dan posisi.
Euforia demokrasi dan partai-partai politik yang memang terus tumbuh, dimanfaatkan kelompok elit ini untuk menyuarakan ”aspirasinya” mendorong terjadinya pemekaran. (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), 2008).
Di sisi lain, banyak pula argumen yang diajukan untuk mendukung
pemekaran, yaitu antara lain adanya kebutuhan untuk mengatasi jauhnya jarak
rentang kendali antara pemerintah dan masyarakat, serta memberi kesempatan
pada daerah untuk melakukan pemerataan pembangunan. Alasan lainnya adalah
diupayakannya pengembangan demokrasi lokal melalui pembagian kekuasaan
pada tingkat yang lebih kecil (Ida, 2005). Terlepas dari masalah pro dan kontra,
perangkat hukum dan perundangan yang ada, yaitu Peraturan Pemerintah No.
78/2007 tentang Persyaratan Pembentukan dan Kriteria Pemekaran, Penghapusan dan Penggabungan Daerah, memang masih dianggap memiliki banyak kekurangan. Salah satu tujuan pemekaran daerah yakni untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan kepada masyarakat.
2.2. Pembangunan Daerah
Pembangunan dapat diartikan berbeda-beda oleh setiap orang tergantung dari sudut pandang apa yang digunakan oleh orang tersebut. Perbedaan cara pandang mengenai proses pembangunan yang dilakukan akan menyulitkan kepada kita tentang seberapa maju proses pembangunan yang dilakukan di sebuah negara atau daerah.
Perbedaan pengertian pembangunan tersebut dapat dijelaskan dengan menggunakan dua pandangan yang berbeda, yaitu pertama, pandangan pembangunan lama atau sering dikenal dengan pembangunan tradisional.
Pembangunan dalam pandangan ini diartikan sebagai berbagai upaya yang dilakukan untuk meningkatkan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) di tingkat nasional atau Produk Dometik Regional Bruto (PDRB) di tingkat daerah.
Penggunaan indikator PDB ini terkait dengan kemampuan indikator ini dalam
mencerminkan tingkat kemakmuran bangsa. Dengan kata lain, indikator ini
memungkinkan kita untuk mengetahui tingkat output yang diproduksi di sebuah
negara untuk dikonsumsi oleh penduduknya atau digunakan untuk melakukan
investasi. Selain penggunaan indikator PDB sebagai tolok ukur pertumbuhan di
sebuah negara, beberapa ahli ekonomi pembangunan lain menggunakan indikator produksi dan penyerapan tenaga kerja (employment) di negara tersebut.
Disisi lain dalam pandangan pembangunan ekonomi wilayah (Tarigan, 2006), menyatakan bahwa pembangunan merupakan pertambahan pendapatan masyarakat secara keseluruhan yang terjadi di wilayah tersebut, yaitu kenaikan seluruh nilai tambah (added value) yang terjadi.
Pembangunan bukan semata-mata merupakan fenomena ekonomi. Dalam pengertian yang paling mendasar, pembangunan haruslah mencakup masalah materi dan finansial dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu pembangunan seharusnya diselidiki sebagai suatu proses multidimensional yang melibatkan reorganisasi dan reorientasi dari semua sistem ekonomi dan sosial (Todaro, 2008)
Pembangunan adalah mengadakan atau membuat atau mengatur sesuatu
yang belum ada, yang dilakukan untuk kemakmuran dan kesejahteraan
masyarakat. Pembangunan tersebut dapat merupakan pembangunan fisik dan
dapat merupakan pembangunan sosial ekonomi. Sedang pembangunan regional
meliputi suatu wilayah dan mempunyai tekanan utama pada perekonomian dan
tekanan berikutnya pada keadaan fisik, sehingga merupakan gabungan dari kedua
hal tersebut diatas. Todaro (2008) dalam konteks pembangunan nasional maupun
daerah, pembangunan yang dilakukan sebagai suatu pembangunan ekonomi, hal
tersebut dapat dibenarkan karena pembangunan bukan hanya berarti penekanan
pada akselerasi dan peningkatan dalam pertumbuhan perkapita sebagai indeks dari
pembangunan, tetapi pembangunan merupakan suatu proses multidimensional
yang meliputi pula reorganisasi dan pembaharuan seluruh sistem dan aktifitas ekonomi dan sosial dalam mensejahterakan kehidupan masyarakat.
Berdasarkan uraian tersebut diatas dapat dijelaskan bahwa pembangunan adalah suatu proses yang luas yang menyangkut dimensi sosial, ekonomi, fisik, politik, budaya dan sebagainya. Namun dari dimensi-dimensi tersebut yang paling berpengaruh adalah dimensi ekonomi. Kemajuan ekonomi adalah suatu komponen yang esensial dari pembangunan, walaupun bukan satu-satunya. Oleh karena itu pembangunan biasanya diartikan sebagai pembangunan ekonomi, yang didefinisikan sebagai suatu proses yang menyebabkan pendapatan perkapita penduduk meningkat dalam jangka panjang (Sukirno, 2001). Demikian pula pembangunan di Indonesia baik nasional maupun pembangunan di tingkat provinsi dan kabupaten/kota, diartikan pula sebagai pembangunan perekonomiannya, sedangkan pembangunan sektor selain ekonomi dianggap sebagai dampak pembangunan ekonomi baik langsung maupun secara tidak langsung.
2.3. Pengembangan Wilayah
Menurut Undang-undang Nomor 26 tahun 2007 tentang Tata Ruang,
wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur
terkait yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif
dan/atau aspek fungsional. Sirojuzilam dan Mahalli (2010) wilayah adalah
sekelompok daerah yang letaknya berdekatan dan didiami sejumlah penduduk di
atas teritorial atau ruang tertentu. Secara ringkas konsep mengenai ruang/wilayah
ditandai dengan lokasi absolut dan distribusi areal dari gambaran tertentu di permukaan bumi.
Secara umum wilayah dibedakan menjadi 3 bagian, yaitu :
a. Wilayah homogen, merupakan wilayah dimana kegiatan ekonomi berlaku dipelbagai pelosok ruang mempunyai sifat yang sama antara lain ditinjau dari segi pendapatan perkapita penduduk dan dari segi struktur ekonominya.
b. Wilayah nodal, merupakan wilayah sebagai suatu ruang ekonomi yang dikuasai oleh beberapa pelaku ekonomi.
c. Wilayah administrasi, merupakan wilayah yang didasarkan atas pembagian administrasi pemerintahan (Sirojuzilam dan Mahalli, 2010).
Dengan memahami konsep wilayah diharapkan para perencana dalam melakukan pendekatan lebih memperhatikan komponen-komponen penyusunan wilayah tersebut yang saling berinteraksi dan mengkombinasikan potensi dari masing-masing komponen sehingga tercipta suatu strategi pembangunan dan pengembangan wilayah yang baik dan terarah.
Pengembangan dapat diartikan sebagai suatu kegiatan menambah, meningkatkan, memperbaiki atau memperluas. Konsep pengembangan wilayah di Indonesia lahir dari suatu proses iteratif yang menggabungkan dasar-dasar pemahaman teoritis dengan pengalaman-pengalaman praktis sebagai bentuk penerapannya yang bersifat dinamis (Sirojuzilam dan Mahalli, 2010).
Nasution (2009) pengembangan wilayah merupakan proses pemberdayaan
masyarakat dengan segala potensinya dan meliputi seluruh aktivitas masyarakat di
dalam suatu wilayah, baik aspek ekonomi, sosial dan budaya, maupun aspek-
aspek lainnya. Sedangkan Sirojuzilam (2005) pengembangan wilayah pada dasarnya mempunyai arti peningkatan nilai manfaat wilayah bagi masyarakat suatu wilayah tertentu mampu menampung lebih banyak penghuni, dengan tingkat kesejahteraan masyarakat yang rata-rata banyak sarana/prasarana, barang atau jasa yang tersedia dan kegiatan usaha-usaha masyarakat yang meningkat, baik dalam arti jenis, intensitas, pelayanan maupun kualitasnya.
Dalam pengembangan wilayah sering menghadapi kenyataan bahwa dana yang tersedia adalah terbatas sedangkan usulan dari masing-masing sektor cukup banyak (Tarigan, 2006). Di sisi lain pembangunan yang berkesinambungan harus dapat memberi tekanan pada mekanisme ekonomi, sosial, politik, dan kelembagaan, baik dari sektor swsasta maupun pemerintah, demi terciptanya suatu perbaikan standar hidup masyarakat secara cepat (Mahalli, 2005).
2.4. Pelayanan Publik
Dalam konsep pelayanan, dikenal dua jenis pelaku pelayanan, yaitu
penyedia layanan dan penerima layanan. Penyedia layanan atau service provider
(Barata, 2003) adalah pihak yang dapat memberikan suatu layanan tertentu kepada
konsumen, baik berupa layanan dalam bentuk penyediaan dan penyerahan barang
(goods) atau jasa-jasa (services). Penerima layanan atau service receiver adalah
pelanggan (customer) atau konsumen (consumer) yang menerima layanan dari
para penyedia layanan.
Dalam pelaksanaan pelayanan yang sesungguhnya dapat diukur dengan menetapkan standar pelayanan dalam kurun waktu hasil dan tingkat kepuasan yang secara umum. Adapun wujud pelayanan yang didambakan oleh masyarakat adalah :
a. Adanya kemudahan untuk mendapatkan pelayanan b. Memperoleh pelayanan secara wajar
c. Mendapatkan perlakuan pelayanan terhadap kepentingan yang sama d. Pelayanan yang jujur dan terus terang
e. Pelayanan yang bermutu.
Pelayanan publik (publik service) dianggap memiliki kesamaan arti dengan istilah pelayanan umum atau pelayanan masyarakat. Oleh karenanya ketiga istilah tersebut dipergunakan secara interchangeable, dan dianggap tidak memiliki perbedaan mendasar (Yogi dan Ikhsan, 2006).
Dalam hal ini, pelayanan publik merujukkan istilah publik lebih dekat pada pengertian masyarakat atau umum. Namun demikian pengertian publik yang melekat pada pelayanan publik tidak sepenuhnya sama dan sebangun dengan pengertian masyarakat. Nurcholish (2005) memberikan pengertian publik sebagai sejumlah orang yang mempunyai kebersamaan berfikir, perasaan, harapan, sikap dan tindakan yang benar dan baik berdasarkan nilai-nilai norma yang mereka miliki.
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 25 Tahun 2009 tentang
Pelayanan publik, pelayanan publik adalah kegiatan atau rangkaian kegiatan
dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan bagi setiap warga negara dan penduduk atas barang, jasa, dan/atau pelayanan administratif yang disediakan oleh penyelenggara pelayanan publik.
Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Republik Indonesia Nomor. 63/KEP/M.PAN/7/2003 tanggal 10 Juli 2003 yang mengatur tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik, memberikan pengertian pelayanan publik yaitu segala kegiatan pelayanan yang dilaksanakan oleh penyelenggara pelayanan publik sebagai upaya pemenuhan kebutuhan penerima pelayanan maupun pelaksanaan ketentuan peraturan perundang- undangan.
Selanjutnya Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Republik Indonesia Nomor. 63/KEP/M.PAN/7/2003 tanggal 10 Juli 2003 yang mengatur tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik untuk lembaga-lembaga pemerintah dalam penyelenggaraan pelayanan masyarakat telah menetapkan 10 (sepuluh) prinsip pelayanan yang dapat memenuhi keinginan masyarakat antara lain :
1) Kesederhanaan, yaitu pelayanan dilaksanakan dengan prosedur sederhana, mudah, cepat, lancar, mudah dipahami dan mudah dilaksanakan.
2) Kejelasan dan kepastian, yaitu kejelasan mengenai prosedur/tata cara, persyaratan, rincian biaya dan ketepatan waktu penyelesaian.
3) Kepastian waktu, Penyelesaian pelayanan harus dapat diselesaikan secara tepat waktu.
4) Akurasi, produk pelayanan publik diterima dengan benar, tepat dan sah.
5) Keamanan, Proses hasil pelayanan umum dapat memberikan keamanan, kenyamanan dan kepastian hukum.
6) Tanggung jawab, pimpinan penyelenggara pelayanan publik atau pejabat yang ditunjuk bertanggung jawab atas penyelenggaraan pelayanan dan penyelesaian keluhan/persoalan dalam pelaksanaan pelayanan publik.
7) Kelengkapan sarana prasarana, tersedianya sarana prasarana kerja peralatan kerja dan pendukung lainnya yang memadai termasuk penyediaan sarana teknologi telekomunikasi dan informatika (telematika).
8) Kemudahan akses, tempat dan lokasi serta sarana pelayanan yang memadai mudah dijangkau oleh masyarakat dan dapat memanfaatkan teknologi telekomunikasi dan informatika.
9) Kedisiplinan, Sopan dan ramah, pemberi pelayanan harus bersikap disiplin, sopan dan santun, ramah serta memberikan pelayanan dengan ikhlas.
10) Kenyamanan, lingkungan harus teratur, tersedia ruang tunggu yang nyaman, bersih, rapi, lingkungan yang indah, sehat serta dilengkapi fasilitas pendukung pelayanan seperti, parkir, toilet, tempat ibadah dan lain-lain.
Hutasuhut (2006) mengingat jenis pelayanan sangat beragam dengan sifat
dan karakteristik yang berbeda, berdasarkan Keputusan Menteri Pendayagunaan
Aparatur Negara Nomor : KEP/25/M.PAN/2/2004 tentang Pedoman Umum
Penyusunan Indeks Kepuasan Masyarakat Unit Pelayanan Instansi Pemerintah
maka untuk memudahkan penyusunan Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) unit
pelayanan diperlukan pedoman umum yang digunakan sebagai acuan bagi
instansi, pemerintah pusat, pemerintah provinsi dan kabupaten/kota untuk
mengetahui tingkat kinerja unit pelayanan dilingkungan instansi masing-masing.
Oleh karena itu penetapan unsur penilaian telah didahului dengan penelitian yang dilaksanakan atas kerja sama Kementrian PAN dengan BPS. Dari hasil penelitian diperoleh 48 (empat puluh delapan) unsur penting yang mencakup berbagai sektor layanan yang sangat bervariasi, dan dari hasil pengujian akademisi/ilmiah diperoleh 14 (empat belas) unsur yang dapat diberlakukan untuk semua jenis pelayanan, untuk mengukur indeks kepuasan masyarakat unit pelayanan.
Berdasarkan prinsip pelayanan sebagaimana telah ditetapkan dalam Keputusan Men.PAN. Nomor 63/KEP/M.PAN/7/2003, yang kemudian dikembangkan menjadi 14 unsur yang “relevan, valid” dan “realiable”, sebagai unsure minimal yang harus ada untuk dasar pengkuran indeks kepuasan masyarakat adalah sebagai berikut : 1). prosedur pelayanan, 2) persyaratan pelayanan, 3) kejelasan petugas pelayanan, 4) kedisiplinan petugas pelayanan, 5) tanggung jawab petugas pelayanan, 6) kemampuan petugas pelayanan, 7) kecepatan pelayanan, 8) keadilan mendapatkan pelayanan, 9) kesopanan dan keramahan petugas, 10) kewajaran biaya pelayanan, 11) kepastian biaya pelayanan, 12) kepastian jadwal pelayanan, 13) kenyamanan lingkungan, dan 14) keamanan pelayanan.
Pelayanan publik pada dasarnya menyangkut aspek kehidupan yang sangat
luas. Dalam kehidupan bernegara, maka pemerintah memiliki fungsi memberikan
berbagai pelayanan publik yang diperlukan oleh masyarakat, mulai dari pelayanan
dalam bentuk pengaturan atau pun pelayanan-pelayanan lain dalam rangka
memenuhi kebutuhan masyarakat dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan lainnya.
Pelayanan publik merupakan suatu layanan seperti menyediakan transportasi atau perawatan kesehatan yang dilakukan pemerintah atau organisasi resmi untuk masyarakat. Fungsi pelayanan publik adalah salah satu fungsi fundamental yang harus diemban pemerintah baik di tingkat pusat maupun di daerah. Fungsi ini juga diemban oleh BUMN/BUMD dalam memberikan dan menyediakan layanan jasa dan atau barang publik
2.5. Penelitian Sebelumnya
Adapun penelitian yang telah dilakukan mengenai pemekaran Kabupaten, pelayanan publik dan pengembangan wilayah sebelumnya antara lain :
Sihaloho (2002), dengan judul tesis penelitian “Pembentukan Kabupaten Toba Samosir dalam kaitannya dengan pengembangan wilayah (Studi Kasus : Sub sektor Pariwisata)’, menyimpulkan bahwa pengembangan sektor pariwisata secara ekonomis berpengaruh terhadap pembentukan Kabupaten Toba Samosir yang menyebabkan terjadinya perubahan mendasar pada stuktur ekonomi masyarakat dan pemerintah.
Silalahi (2004) dalam tesis penelitiannya “Analisis Dampak Pemekaran
Kecamatan Terhadap Pengembangan Wilayah (Penelitian di Kecamatan
Panombeian Panei Kabupaten Simalungun)”, menyimpulkan bahwa masyarakat
Panombeian Panei memberikan respon yang positif terhadap pembentukan
Kecamatan tersebut. Persepsi masyarakat terhadap kelembagaan adalah dengan
adanya lembaga-lembaga baru ditingkat kecamatan akan mengakibatkan mudahnya mereka melakukan segala bentuk pengurusan administrasi yang berhubungan dengan pemerintahan. Persepsi masyarakat terhadap eksesbilitas program pemerintah kepada masyarakat baik dibidang pendidikan, pertanian dan kesehatan akibat pembentukan kecamatan Panombeian Panei adalah cukup baik.
Nuradi (2009) dalam tesisnya “Manfaat Pemekaran Daerah terhadap Percepatan Pembangunan dan Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat (Studi Kasus : Kabupaten Serdang Bedagai Provinsi Sumatera Utara)”, dengan menggunakan analisa data pertumbuhan dan uji t, menyimpulkan bahwa pemekaran daerah bermanfaat terhadap percepatan pembangunan dilihat dari perkembangan PDRB, dan PDRB perkapita yang menunjukkan perkembangan yang semakin membaik. Pemekaran daerah juga bermanfaat terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat, dilihat dari meningkatnya pendapatan perkapita masyarakat dan membaiknya tingkat pendidikan dan kesehatan masyarakat.
Andriani (2008) dalam penelitiannnya “Dampak Pemekaran Wilayah Kecamatan Terhadap Pelayanan Publik (Kecamatan Pesanggrahan sebagai Kecamatan Induk dan Kecamatan Siliragung sebagai Pemekaran Wilayah di Kabupaten Banyuwangi), dengan tujuan penelitian untuk mendeskripsikan proses pemekaran wilayah Kecamatan Pesanggrahan yang dimekarkan menjadi Kecamatan Siliragung terhadap pelayanan dan pengaruhnya terhadap pelayanan publik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan kualitatif bertumpu pada data atau fakta yang ditemui di lapangan.
Hasil analisis diperoleh kesimpulan bahwa dampak pemekaran wilayah
kecamatan terhadap pelayanan publik yang berkualitas tentu ini tidak terlepas dari peran Pemerintah Kecamatan Pesanggrahan dan Kecamatan Siliragung dalam meningkatkan pelayanan publik dalam masyarakat. Namun demikian masyarakat masih merasa belum maksimal sesuai dengan harapan masyarakat. Dengan adanya kondisi tersebut, Pemerintah kecamatan diharapkan mampu mengatasi kekurangan yang ada guna meningkatkan pelayanan publik kepada masyarakat dengan maksimal. Dan masyarakat sebagai obyek pelayanan publik diharapkan dapat menyadari dan melaksanakan prosedur/tata cara pelayanan sesuai dengan peraturan yang berlaku.
2.6. Kerangka Pemikiran
Pemekaran administrasi wilayah Kabupaten Batubara merupakan suatu perubahan yang terjadi dalam suatu sistem pemerintahan yang sentralistis menjadi desentralistis, dimana kewenangan berada ditangan daerah. Melalui otonomi luas yang diberikan kepada daerah maka Kabupaten Batubara sebagai pusat pemerintahan yang otonom mempunyai kewenangan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat yang berada di daerah kewenangannya. Dengan kewenangan ini diharapkan kinerja pemerintah daerah menjadi lebih baik, serta memberikan peluang kepada pemerintah sebagai abdi masyarakat. Oleh karena itu dengan kewenangannya pemerintah Kabupaten Batubara harus siap, efektif dan lebih efisien dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Dalam penelitian ini akan dibahas pelayanan yang diberikan oleh
pemerintah Kabupaten Batubara kepada masyarakat adalah pelayanan di bidang
pendidikan, kesehatan, transportasi (terminal), administrasi (KTP dan KK).
Menyadari arti pentingnya pelayanan publik dalam bidang pendidikan, kesehatan, transportasi (terminal), administrasi (KTP dan KK) maka melalui pemekaran administrasi wilayah Kabupaten Batubara ini diharapkan membawa pengaruh yang signifikan terhadap pelayanan publik khususnya pelayanan di bidang pendidikan, kesehatan, transportasi (terminal), administrasi (KTP dan KK) di Kabupaten Batubara sehingga pembangunan dan pengembangan wilayah Kabupaten Batubara dapat berjalan dengan baik.
Gambar 2.1. Kerangka Konseptual Penelitian Pemekaran Kabupaten
Batu Bara
Pengembangan Wilayah Perkembangan
Sarana
Tingkat Harapan dan Kinerja
Indeks Kepuasan Masyarakat Pelayanan Publik
Pengaruh Perubahan Sebelum dan Sesudah
Pendidikan, Kesehatan, Transportasi, Administrasi.
Pendidikan, Kesehatan, Transportasi, Administrasi.
Pendidikan,
Kesehatan,
Transportasi,
Administrasi.
2.7. Hipotesis
Pemekaran Kabupaten Batubara memberikan dampak positif terhadap pelayanan publik di bidang pendidikan, kesehatan, transportasi (terminal) dan administrasi (KTP dan KK).
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini menitikberatkan kajian pada pengaruh pemekaran daerah terhadap pembangunan dan pengembangan wilayah Kabupaten Batubara.
Pembangunan dan pengembangan wilayah dititikberatkan pada kajian sejauhmana pemekaran Kabupaten Batubara memberikan pengaruh terhadap pelayanan publik kepada masyarakat dalam bidang pendidikan, kesehatan, transportasi (terminal), dan administrasi (KTP dan KK).
3.2. Lokasi Penelitian
Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Batubara Provinsi Sumatera Utara.
Alasan pemilihan Kabupaten Batubara sebagai lokasi penelitian merupakan daerah yang mengalami pemekaran daerah dari Kabupaten Induk Asahan, dan menunjukkan adanya pengembangan wilayah dilihat dari aspek pembangunan sarana pendidikan, kesehatan, dan transportasi sehingga dapat lebih meningkatkan pelayanan publik kepada masyarakat.
3.3. Jenis dan Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data
lapangan. Sedangkan data sekunder bersumber dari BPS mengenai Kabupaten Batubara Dalam Angka yang telah dipublikasikan tahun 2008-2009. Sedangkan data penunjang diperoleh dari setiap Instansi atau Lembaga yang berkaitan dengan tujuan penelitian.
3.4. Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh Rumah Tangga (RT) masyarakat Kabupaten Batubara yang berjumlah 83.402 RT. Sampel responden ditetapkan mengikuti pendapat Roscoe (Sugiyono, 2003), yang menyatakan berapapun jumlah populasinya, dalam penelitian sosial ukuran sampel yang layak digunakan adalah antara 30 sampai 500 orang. Berdasarkan pendapat di atas, peneliti menetapkan anggota sampel penelitian sebanyak 100 RT, dengan alasan telah melebihi ambang batas kriteria Roscoe, yakni batasan minimal 30 orang.
Tabel 3.1. Populasi dan Sampel Responden Penelitian
Kecamatan Populasi
Jumlah Rumah Tangga
Sampel RT
Kecamatan Medang Deras Kecamatan Sei Suka Kecamatan Air Putih Kecamatan Lima Puluh
9.477 12.233 11.434 17.662
9.447/83.402 x 100 = 11 12.233/83.402 x 100 =15 11.434/83.402 x 100 =14 17.662/83.402 x 100 =21 Kecamatan Talawi 10.977 10.977/83.402 x 100 =13 Kecamatan Tanjung Tiram 13.279 13.279/83.402 x 100 =16 Kecamatan Sei Balai 8.370 8.370/83.402 x 100 =10
Jumlah 83.402 100
Sampel responden diambil secara proporsional berdasarkan Tabel 3.1.
pada masing-masing kecamatan yang menjadi sampel penelitian dan pengambilan sampel responden dilakukan secara accindential yaitu masyarakat yang berurusan dengan kantor pemerintahan.
3.5. Analisis Data
Untuk menjawab perumusan masalah pertama mengenai pengaruh pemekaran Kabupaten Batubara terhadap perkembangan sarana pendidikan dan kesehatan menggunakan analisis deskriptif berdasarkan hasil tabulasi data jawaban responden dan perkembangan sarana pendidikan dan kesehatan sebelum dan sesudah pemekaran Kabupaten Batubara.
Untuk menjawab perumusan masalah kedua mengenai pengaruh pemekaran Kabupaten Batubara terhadap tingkat harapan dan kinerja pelayanan publik bidang pendidikan, kesehatan, transportasi (terminal) dan administrasi (kartu tanda penduduk (KTP) dan kartu keluarga (KK) menggunakan analisis deskriptif berdasarkan hasil tabulasi data jawaban responden dan Diagram Kartesius.
Untuk menjawab perumusan masalah ketiga mengenai pengaruh
pemekaran Kabupaten Batubara terhadap Indeks Kepuasan Masyarakat terhadap
kinerja pelayanan publik bidang pendidikan, kesehatan, transportasi dan
administrasi menggunakan analisis deskriptif berdasarkan hasil tabulasi data
jawaban responden dan Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM).
Bedasarkan prinsip pelayanan yang telah ditetapkan dalam Keputusan Men. PAN Nomor : 63/KEP/M.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyusunan Indeks Kepuasan Masyarakat. Nilai IKM (Indeks Kepuasan Masyarakat), telah dikembangkan 14 unsur yang “relevan, valid” dan “reliabel”, sebagai unsur minimal yang harus ada untuk dasar pengukuran indeks kepuasan masyarakat, yaitu prosedur pelayanan, persyaratan Pelayanan, kejelasan petugas pelayanan, kedisiplinan petugas pelayanan, tanggung jawab petugas pelayanan, kemampuan petugas pelayanan, kecepatan pelayanan, keadilan mendapatkan pelayanan, kesopanan dan keramahan petugas, kewajaran biaya pelayanan, kepastian biaya pelayanan, kepastian jadwal pelayanan, kenyamanan lingkungan, dan keamanan pelayanan.
Sedangkan bentuk jawaban pertanyaan dari setiap unsur pelayanan secara
umum mencerminkan tingkat kualitas pelayanan, yaitu dari yang tidak baik
sampai dengan sangat baik. Untuk kategori tidak baik diberi nilai persepsi 1
(apabila pelaksanaan prosedur pelayanan tidak sederhana, alurnya tidak mudah,
loket terlalu banyak, sehingga prosesnya tidak efektif), kurang baik diberi nilai
persepsi 2 (apabila pelaksanaan prosedur pelayanan masih belum mudah, alurnya
belum mudah, sehingga prosesnya belum efektif), baik diberi nilai persepi 3
(apabila pelaksanaan prosedur pelayanan dirasa mudah, sederhana, tidak berbelit-
belit tetapi masih perlu diefektifkan) dan sangat baik diberi nilai persepsi 4
(apabila pelaksanaan prosedur pelayanan dirasa sangat mudah, sangat sederhana,
sehingga prosesnya mudah dan efektif).
Data yang masuk dianalisis dengan menggunakan teknik analisa kuantitatif dengan menggunakan table tunggal atau table frekuensi. Metode pengolahan data berpedoman pada Keputusan Men.PAN Nomor : 63/KEP/M.PAN/7/2003 dihitung dengan menggunakan “Nilai Rata-rata Tertimbang” masing-masing unusr pelayanan. Dalam penghitungan indeks kepuasan masyarakat terhadap 14 unsur pelayanan yang dibahas, setiap unsur pelayanan memiliki penimbang yang sama dengan rumus sebagai berikut :
Bobot nilai rata-rata tertimbang = Jumlah Bobot/Jumlah Unsur = 1/14 = 0,071
Untuk memperoleh nilai IKM unit pelayanan digunakan pendekatan nilai rata-rata tertimbang dengan rumus sebagai berikut :
Total dari nilai persepsi per unsur
IKM = --- x Nilai Penimbang Total unsur yang terisi
Untuk memudahkan interpretasi terhadap penilaian IKM yaitu antara 25-
100 maka hasil penilaian tersebut di atas dikonversikan dengan nilai dasar 25,
dengan rumus sebagai berikut :
Tabel 3.2. Nilai Persepsi, Interval IKM, Interval Konversi IKM, Mutu Pelayanan dan Kinerja Unit Pelayanan
Nilai Persepsi
Nilai Interval IKM
Nilai Interval Konversi
IKM
Mutu Pelayanan
Kinerja unit pelayanan 1. 1,00 – 1,75 25 – 43,75 D Tidak baik 2. 1,76 – 2,50 43,76 – 62,50 C Kurang baik
3. 2,51 – 3,25 62,51 – 81,25 B Baik
4. 3,26 – 4,00 81,26 – 100,00
A Sangat baik Sumber : Lampiran KepMenPAN Nomor : KEP/25/PAN/2/2004 tentang Pedoman
Umum Penyusunan Indeks Kepuasan Masyarakat Unit Pelayanan Instansi Pemerintah .Untuk menjawab perumusan masalah keempat dan hipotesis penelitian mengenai pengaruh kinerja pelayanan publik bidang pendidikan, kesehatan, transportasi dan administrasi sebelum dan sesudah pemekaran Kabupaten Batubara menggunakan metode Wilcoxon Match Pair Test. Rumus uji Wilcoxon yang digunakan apabila sampel lebih besar dari 25 menurut Riwidikdo (2007) adalah :
Keterangan :
z = hasil uji Wilcoxon
T = total jenjang (selisih) terkecil antara nilai pre dengan post test
3.6. Definisi dan Batasan Operasional
1. Pelayanan publik adalah segala kegiatan pelayanan yang dilaksanakan oleh penyelenggara pelayanan publik sebagai upaya pemenuhan kebutuhan penerima pelayanan maupun dalam rangka pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan.
2. Kepuasan pelayanan adalah hasil pendapat dan penilaian masyarakat terhadap kinerja pelayanan yang diberikan oleh aparatur penyelenggara pelayanan publik.
3. Prosedur pelayanan, yaitu kemudahan tahapan pelayanan yang diberikan kepada masyarakat dilihat dari sisi kesederhanaan alur pelayanan.
4. Persyaratan pelayanan, yaitu persyaratan teknis dan administrasi yang diperlukan untuk mendapatkan pelayanan sesuai dengan jenis pelayanannya.
5. Kejelasan petugas pelayanan, yaitu keberadaan dan kepastian petugas yang memberikan pelayanan (nama, jabatan serta kewenangan dan tanggungjawabnya).
6. Kedisiplinan petugas pelayanan, yaitu kesungguhan petugas dalam memberikan pelayanan terutama terhadap konsistensi waktu kerja sesuai ketentuan yang berlaku.
7. Tanggung jawab petugas pelayanan, yaitu kejelasan wewenang dan tanggung jawab petugas dalam penyelenggaraan dan penyelesaian pelayanan.
8. Kemampuan petugas pelayanan, yaitu tingkat keahlian dan ketrampilan yang
dimiliki petugas dalam memberikan/menyelesaikan pelayanan kepada
masyarakat.
9. Kecepatan pelayanan, yaitu target waktu pelayanan dapat diselesaikan dalam waktu yang telah ditentukan oleh unit penyelenggaraan yang dilayani.
10. Keadilan mendapatkan pelayanan, yaitu pelayanan denga tidak membedakan golongan/status masyarakat yang dilayani.
11. Kesopanan dan keramahan petugas, yaitu sikap dan perilaku petugas dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat secara sopan dan ramah serta saling menghargai dan menghormati.
12. Kewajaran biaya pelayanan, yaitu keterjangkauan masyarakat terhadap besarnya biaya yang ditetapkan oleh unit pelayanan.
13. Kepastian biaya pelayanan, yaitu kesesuaian antara biaya yang dibayarkan dengan biaya yang telah ditetapkan.
14. Kepastian jadwal pelayanan, yaitu pelaksanaan waktu pelayanan, sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.
15. Kenyamanan lingkungan, yaitu kondisi sarana dan prasarana pelayanan yang bersih, rapi, dan teratur sehingga dapat memberikan rasa nyaman kepada penerima pelayanan.
16. Keamanan pelayanan, yaitu terjaminnya tingkat keamanan lingkungan unit
penyelenggara pelayanan ataupun sarana yang digunakan, sehingga
masyarakat merasa tenang untuk mendapatkan pelayanan terhadap resiko-
resiko yang diakibatkan dari pelaksanaan pelayanan.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum Wilayah Kabupaten Batubara
Luas Wilayah Kabupaten Asahan 4.624,41 km
2, setelah dilakukan pemekaran berubah menjadi :
(1).