• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Lemak dan Serat Tak Larut Pada Pakkat (Calamus caesius Blume.)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Analisis Lemak dan Serat Tak Larut Pada Pakkat (Calamus caesius Blume.)"

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang

Rotan merupakan tumbuhan dari famili Arecaceae. Rotan umumnya

merambat, beruas tapi tidak berongga, dan berduri. Batang tanaman rotan terbagi

menjadi ruas-ruas yang setiap ruas dibatasi oleh buku-bukuyang jelas seperti

bambu, namun bagian dalam tidak kosong tetapi berisi jaringan pembuluh

(Jasni dkk, 2012; Sinambela, 2011).

Pakkat merupakan makanan unik untuk berbuka puasa warga di Medan,

terutama masyarakat Tapanuli Selatan, tepatnya di daerah Mandailing. Bagian

dalam batang yang berwarna keputih-putihanlah yang diambil untuk dimakan,

rasanya pahit memberi ciri khas tersendiri, biasanya dikonsumsi dengan cara

dibakar terlebih dahulu, kemudian diambil isinya yang berwarna putih. Selain itu,

bisa juga dikonsumsi dengan cara direbus, proses perebusan ini bermanfaat untuk

menghilangkan rasa pahit, lalu diambil bagian dalamnya yang agak lunak dan

berwarna putih (Harrist, 2014).

Seperti halnya karbohidrat dan protein, lemak merupakan salah satu

kelompok senyawa organik yang terdapat dalam tumbuhan, hewan atau manusia

dan yang sangat berguna bagi kehidupan manusia sebagai sumber energi bagi

tubuh.Untuk mengetahui kadar lemak yang terdapat pada bahan pangan dapat

dilakukan dengan cara mengekstraksi lemak. Namun untuk mengekstrak lemak

secara murni sangat sulit dilakukan, sebab pada mengekstraksi lemak, akan

terekstraksi pula zat-zat yang larut dalam lemak seperti sterol, phospolipid, asam

(2)

lemak bebas dan lain-lain. Oleh karena itu hasil analisis lemak ditetapkan sebagai

lemak kasar (Poedjadi dan Supriyanti, 2009).

Serat merupakan salah satu komponen penting makanan yang telah

diketahui mempunyai banyak manfaat bagi tubuh terutama dalam mencegah

berbagai penyakit, meskipun komponen ini belum dimasukkan sebagai zat gizi.

Peran utama dari serat dalam makanan adalah pada kemampuannya mengikat air,

selulosa dan pektin. Dengan adanya serat, akan dapat membantu mempercepat

sisa-sisa makanan melalui saluran cerna pencernaan untuk disekresikan keluar.

Serat makanan dibedakan menjadi dua jenis, yaitu serat larut dan serat tak larut

dalam air. Serat larut tidak dapat dicerna oleh enzim pencernaan manusia tetapi

larut dalam air panas, contohnya gum, musilase dan pektin. Sedangkan serat tak

larut tidak dapat dicerna dan tidak larut dalam air panas, contohnya selulosa,

hemiselulosa dan lignin (Piliang dan Djojosoebagio, 1996).

Beberapa metode analisis lemak diantaranya, yaitu metode Sokletasi,

metode Babcock dan metode Goldfisch. Sedangkan untuk metode analisis serat

diantaranya metode serat kasar (crude fiber) secara gravimetri, metode Enzimatis

dan metode Deterjen.

Sebelumnya Lubis (2015) sudah melakukan penelitian tentang analisis

kadar protein total dan non protein nitrogen pada pakkat

(Calamus caesius Blume.) dengan metode kjeldhal dan Ahyar (2016) analisis

mineral pada pakkat (Calamus caesius Blume.) secara spektrofotometri serapan

atom. Namun untuk analisis kadar lemak dan serat tak larut belum ada. Jadi,

berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik untuk melakukan analisis lemak dan

serat tak larut yang terdapat pada pakkat. Dalam hal ini peneliti memilih metode

(3)

Sokletasi untuk analisis lemak. Untuk analisis serat tak larut digunakan metode

serat kasar secara gravimetri, karena metode ini sering digunakan dalam

penentuan kadarserat tak larut dalam makanan.

1.2Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang penelitian di atas, maka rumusan

masalah penelitian adalah sebagai berikut:

a. berapakah kadar lemak dan serat tak larut pada pakkat segar, pakkat bakar

dan pakkat rebus?

b. apakah terdapat perbedaan kadar lemak dan serat tak larut pada pakkat

segar, bakar dan rebus ?

1.3Hipotesis

Hipotesis penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. terdapat kadar lemak dan serat tak larut pada pakkat segar, pakkat bakar

dan pakkat rebus dalam jumlah tertentu.

b. terdapat perbedaan kadar lemak dan serat tak larut pada pakkat segar,

bakar dan rebus.

1.4Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. untuk mengetahui kadar lemak dan serat tak larut pada pakkat segar,

pakkat bakar dan pakkat rebus.

(4)

b. untuk mengetahui perbedaan kadar lemak dan serat tak larut pada pakkat

segar, pakkat bakar dan pakkat rebus.

1.5 Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini adalah untuk memberikan informasi kepada

masyarakat tentang kandungan kadarlemak dan serat tak larut pada pakkat segar,

pakkat bakar dan pakkat rebus.

Referensi

Dokumen terkait

kandungan protein yang terdapat pada pakkat dan untuk mengetahui perubahan kadar protein total dan Non Protein Nitrogen (NPN) dalam pakkat segar, bakar dan rebus. 1.2

Perhitungan Analisis Statistik Uji T untuk mencari Kadar Protein Total Sebenarnya terhadap Kadar “Wet Basis” Pakkat Bakar ... Perhitungan Analisis Statistik Uji T untuk

Berdasarkan hal di atas, peneliti melakukan penelitian ini untuk mengetahui kandungan protein yang terdapat pada pakkat dan untuk mengetahui perubahan kadar protein total dan Non

Perhitungan Analisis Statistik Uji T untuk mencari Kadar Protein Total Sebenarnya terhadap Kadar “Wet Basis” Pakkat

Manfaat penelitian ini adalah untuk memberikan informasi kepada masyarakat tentang kandungan kadar kalsium, kalium dan magnesium pada pakkat segar, pakkat bakar dan pakkat

Analisis Kadar Vitamin C Pada Pakkat (Calamus caesius Blume.) Secara Volumetri Dengan 2,6 – Diklorofenol Indofenol Dan Iodimetri.. Medan: Fakultas

Berapakah kekuatan aktivitas antioksidan (nilai IC 50 ) pakkat yang segar, rebus dan bakar dengan menggunakan metode pemerangkapan radikal bebas

Bagan Alir Penentuan Kandungan Fenolik Total pada Pakkat Sampel Pakkat (Segar, Rebus, dan Bakar). Filtrat Larutan induk Pakat (segar, Rebus, dan Bakar) konsentrasi