Situmorang (2004), melakukan penelitian terkait Dampak Kehadiran Institusi Pendidikan Terhadap Migrasi dan Perkembangan Ekonomi Masyarakat yang menunjukkan bahwa lembaga pendidikan adalah institusi yang bertanggung jawab dalam peningkatan sumber daya manusia, melalui sekolah-sekolah swasta dan negeri. Karena tidak meratanya pelaksanaan pembangunan didaerah-daerah maka terjadi perpindahan dari daerah yang minim fasilitas kedaerah memiliki fasilitas yang lengkap. Gerak perpindahan inilah yang disebut dengan migrasi desa ke kota.
Mariani (2009), melakukan penelitian mengenai Perencanaan Sumber Daya Pendidikan Terhadap Peningkatan Mutu Lulusan Sekolah Menengah Negeri Di Kota Tanjung Balai, bahwa perencanaan sumber daya pendidikan untuk kelompok SMA/MA dan SMK secara bersama-sama berpengaruh nyata terhadap mutu lulusan yang masuk PTN dan yang bekerja. Secara parsial yang berpengaruh nyata pada SMA/MA adalah perencanaan tenaga kependidikan dan pembiayaan dan untuk kelompok SMK adalah perencanaan tenaga kependidikan dan sarana prasarana. Perencanaan partisipasi masyarakat tidak memiliki pengaruh nyata terhadap mutu lulusan baik yang berhasil masuk PTN maupun yang bekerja.
yakin dalam waktu beberapa tahun ke depan Indonesia akan bisa mengambil momentum ini.
namun tidak meninggalkan perkembangan sains dan teknologi yang berkembang dewasa ini.
2.2Teori Peran
MenurutAhmadi (1982), peran adalah suatu kompleks pengharapan manusia terhadap caranya individu harus bersikap dan berbuat dalam situasi tertentu yang berdasarkan status dan fungsi sosialnya. Pengertian peran menurut Soerjono (2002), yaitu peran merupakan aspek dinamis kedudukan (status), apabila seseorang melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya, maka ia menjalankan suatu peranan.
Sementara itu menurut Robert Merton (1936), teori peran menggambarkan interaksi sosial dalam terminologi aktor-aktor yang bermain sesuai dengan apa-apa yang ditetapkan oleh budaya. Menurut Tolman peran suatu perilaku keseluruhan yang mempunyai arti tersendiri, dan akan kehilangan maknanya apabila di reduksi, maksudnya satu-kesatuan yang tertuju kepada arah tujuan tertentu, (Darmayanti, 2009).
2.3Teori Pendidikan 2.3.1 Pengertian Pendidikan
lain (individual differences). Disisi lain, memahami bagaimana menjadi manusia seperti manusia lain, (Wibowo, 2013).
Usiono (2009), menyebutkan bahwa pendidikan mengandung pengertian yang sangat luas, menyangkut seluruh aspek kepribadian manusia. Pendidikan menyangkut hati nurani, nilai-nilai, perasaan, pengetahuan, dan keterampilan. Dengan pendidikan manusia ingin berusaha untuk meningkatkan dan mengembangkan serta memperbaiki nilai-nilai hati nuraninya, perasaannya, pengetahuannya, dan keterampilannya. Sementara Ki Hajar Dewantara berpendapat bahwa pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan budi pekerti (kekuatan batin), pikiran (intellect) dan jasmani anak-anak, selaras dengan alam dan masyarakatnya, (Wibowo, 2013).
Menurut Ivan Illich pendidikan bermakna membebaskan manusia dari keterbelakangan, ketidaktahuan, ketidakberadaban, membebaskan manusia dari belenggu-belenggu yang mengikat kemanusiaannya dan seterusnya, (Hanani, 2013).
Pendidikan pada hakikatnya merupakan upaya mewariskan nilai yang akan menjadi penolong dan penentu umat manusia dalam menjalani kehidupan, dan sekaligus untuk memperbaiki nasib dan peradaban umat manusia. Tanpa pendidikan, manusia sekarang tidak berbeda dengan generasi manusia masa lampau, yang apabila dibandingkan dengan manusia sekarang telah sangat tertinggal baik kualitas kehidupan maupun proses-proses pemberdayaannya, (Martono, 2014).
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar siswa secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.
2.3.2 Pendidikan Islam
Menurut Al Abrasyi pendidikan islam adalah mendidik akhlak dan jiwa anak didik, menanamkan rasa fadhilah (keutamaan), membiasakan anak didik dengan kesopanan yang tinggi, mempersiapkan suatu kehidupan yang suci seluruhnya, ikhlas dan jujur, (Fauzi, 2012). Pendidikan islam berfungsi mengarahkan para pendidik dalam membina generasi penerus yang mandiri, cerdas dan berkepribadian sempurna (sehat jasmani dan rohaninya) serta bertanggung jawab dalam menjalani hidupnya sebagai hamba Allah, makhluk individu, dan sosial menuju terbentuknya kebudayaan islam, (Syafaruddin, 2006).
Muchsin, dkk (2010), memberikan pengertian tentang pendidikan agama islam merupakan bimbingan secara sadar dan terus menerus dari seseorang kepada orang lain sesuai dengan kemampuan dasar (fitrah) dan kemampuan ajarannya (pengaruh dari luar) baik secara individual maupun secara kelompok, sehingga manusia mampu memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran islam secara utuh dan benar meliputi; aqidah (keimanan), syariah (ibadah dan muamalah), dan akhlak (budi pekerti).
2.3.3 Tujuan Pendidikan
untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Tujuan pendidikan islam menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas adalah untuk menghasilkan orang yang baik (to produce a good man). Kata Al-Attas, The aim of education in Islam is therefore to produce a goodman… the fundamental element inherent in the Islamic concept of education is the inculcation of
adab,(Adian Husaini, 2010).
Tujuan pendidikan islam menurut Shalih menjadi lima macam sebagai berikut:
a. Tujuan pendidikan jasmani dengan keterampilan fisik, yaitu untuk mempersiapkan diri manusia sebagai khalifah di muka bumi melalui keterampilan fisik.
b. Tujuan pendidikan ruhani, yaitu untuk meningkatkan jiwa dari kesetiaan yang hanya menyembah Allah semata dan melaksanakan moralitas islami yang diteladani dari Rasulullah Saw.
c. Tujuan pendidikan akal, yaitu pengerahan kecerdasan untuk kekuasaan Allah dan menentukan pesan ayat-ayatnya yang berimplikasi kepada peningkatan iman dan takwa kepada dan pencinta.
d. Tujuan pendidikan sosial, yaitu membentuk kepribadian yang utuh yang menjadi bagian dari komunitas sosial.
2.3.4 Peran Pendidikan Tinggi
Martani (1999), tridharma perguruan tinggi meliputi, pendidikan, penelitian, dan pengabadian. Pertama darma pendidikan, perguruan tinggi memerlukan berbagai komponen dalam proses belajar-mengajar, pengembangan kurikulum, maupun peningkatan intra kurikuler dan ekstra kurikuler. Proses belajar-mengajar dengan pendekatan sistem input-output. Kedua darma penelitian, perguruan tinggi mempunyai tugas memelihara, mengembangkan, dan menemukan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tugas ini akan dapat terlaksana dengan baik, apabila sivitas akademika melakukan pengkajian dan penelitian dengan baik. Perguruan tinggi harus mampu melakukan penelitian untuk memecahkan masalah praktis maupun pengembangan ilmu dan teknologi untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan pembangunan. Ketiga darma pengabdian masyarakat, agar perguruan tinggi tidak dijauhi oleh masyarakat, maka harus mampu melakukan kegiatan kemasyarakatan. Hal ini dapat berupa penerapan ilmu dan hasil penelitian untuk kepentingan memecahkan masalah yang dihadapi oleh masyarakat.
Lubis (2004), menyebutkan bahwa tujuan pendidikan di tingkat perguruan tinggi seperti Universitas dan Institut ada dua, yaitu:
a. Menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang mempunyai kemampuan akademik dan profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian. b. Mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan
kesenian serta mengupayakan penggunaannya untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat dan memperkaya kebudayaan nasional.
Selanjutnya Lubis (2004), memberi pengertian tentang tri dharma perguruan tinggi yang meliputi pendidikan, penelitian, dan pengabdian, ialah;
a. Dharma pendidikan ialah pendidikan yang mampu mengembangkan wawasan kebangsaan, wawasan keterbukaan, dan wawasan kecendikiawanan mahasiswa. Mahasiswa yang berjiwa patriotik, mahasiswa bepikiran yang fleksibel dan tidak sempit, dan mahasiswa yang mampu mensintesis dan mengadakan panduan perspektif dari berbagai pendapat, argumentasi yang berbeda-beda.
b. Dharma penelitian merupakan kegiatan dalam upaya menghasilkan pengetahuan empirik, teori, konsep, metodologi, model, atau informasi baru yang memperkaya ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian.
subjek pembangunan. Pengabdian kepada masyarakat harus dilandasi pada kepercayaan, kemampuan dan kekuatan masyarakat itu sendiri.
2.4 Teori Pembangunan
Menurut Hubeis dan Mulyandari (2010), pembangunan dalam pandangan Rodriguez merupakan sebuahdiskursus historis dalam mana manusiadidefinisikan, dibentuk, diartikulasikan– dinamakan – olehorang lain dalamlingkungan yang memiliki kekuasaan. Perbaikan dan peningkatankualitas SDM bersifat multi dimensi,baik pendidikan, keterampilan,kesempatan kerja dan berusaha, maupungizi dan kesehatan.
Menurut Irawan dan Suparmokomengartikan pembangunan sebagai proses transformasi yang dalam perjalanan waktu ditandai dengan perubahan struktural yakni perubahan pada landasan kegiatan ekonomi maupun pada kerangka susunan ekonomi masyarakat yang bersangkutan. Pada umumnya pembangunan selalu disertai dengan pertumbuhan, tetapi pertumbuhan belum tentu disertai dengan pembangunan. Pada tingkat permulaan, pembangunan ekonomi dibarengi pula dengan pertumbuhan dan sebaliknya (Nurhuda, dkk, 2011).
2.5 Teori Pemuda
2.5.1. Pengertian Pemuda
Menurut UU kepemudaan nomor 40 tahun 2009, pemuda adalah mereka yang berusia 16 tahun hingga 30 tahun, Sejarah membuktikan bahwa pemuda berperan penting dalam kemerdekaan dimana saja, dinegara mana saja kemerdekaan tidak pernah luput dari peran serta pemuda. Karena pemudalah memiliki semangat dan ambisius yang tinggi dalam mencapai keinginannya, memperjuangkan, mempertahankan perubahan kearah yang lebih baik. Pemuda memiliki banyak potensi yang tertanam dalam dirinya, pemuda harus berani bermimpi dan bercita-cita setinggi-tingginya.
Sedangkan menurut Thahan (2002), pemuda selalu berada di garis terdepan dalam perjuangan ummatdan mampu terlibat di semua sektor, yaitu:
a. Sektor Pembebasan dan Kemerdekaan
Pemuda adalah kemampuan, tekad, keberanian, dan kesabaranmenghadapi tantangan. Dengannya ummat menghalau musuh danmengangkat bendera kejayaannya.
b. Sektor Pemikiran dan Pembentukannya
Pemuda adalah unsur kokoh yang mampu belajar keras, menguasai dan menghasilkan pemikiran serta pembaruan. Ibarat ranting yang masih segar, kelenturannya cukup untuk terbentuknya pemikiran sekaligus mentransformasikan pemikiran tersebut kepada orang lain.
Iman yang diam dan kehilangan dinamika tidak ada harganya, sedangkan keimanan pemuda selalu memunculkan energi tersembunyi yang besar dalam bentuk gerakan membina ummat.
d. Sektor Perubahan
Pemuda adalah pelopor dan sarana perubahan. Allah Suhhanahu wata'ala tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai mereka mengubah kondisi jiwa mereka. Sedangkan pemuda memiliki kekuatan jiwa yang besar, maka perubahan yang dilakukannya pun besar.
Pemuda merupakan aset bangsa yang akan melanjutkan estafet pembangunan bangsa dimasa yang akan datang. Pemuda memiliki dinamisasi dan semangat yang tinggi dalam berbagai aspek dimasyarakat, pemuda dapat lebih diterima dilingkungannya jika membawa suasana-suasana kebaikan dan mengarah pada perubahan, perubahan yang diharapan sesuai dengan apa yang diharapkan oleh masyarakat. Semangat yang tinggi dan ide-ide memberikan peran kepada pemuda dalam setiap sektor kehidupan.
2.6.2 Pembangunan Pemuda Menurut UU No.40 Tahun 2009 Tentang Kepemudaan Pembangunan kepemudaan menurut Undang-undang Nomor 40 Tahun 2009 diwujudkan dalam 3 hal, yaitu; kepemimpinan, kewirausahaan dan kepeloporan. 1. Pembangunan kepemimpinan pemuda disebutkan dalam BAB I ketentuan
umum pasal 7 yang berbunyi “Pengembangan kepemimpinan pemuda adalah kegiatan mengembangkan potensi keteladanan, keberpengaruhan, serta penggerakan pemuda.”
adalah kegiatan mengembangkan potensi keterampilan dan kemandirian berusaha”.
3. Pembangunan kepeloporan pemuda, termaktub dalam BAB I ketentuan umum pasal 9 berbunyi “Kepeloporan pemuda adalah kegiatan mengembangkan potensi dalam merintis jalan, melakukan terobosan, menjawab tantangan, dan memberikan jalan keluar atas pelbagai masalah.”
Sedangkan yang menjadi asas pembangunan pemuda disebutkan dalam BAB II pasal 2 berdasarkan; Pertama, ketuhanan Yang Maha Esa. Kedua, kemanusiaan. Ketiga, kebangsaan. Keempat, kebhinekaan. Kelima, demokratis. Keenam, keadilan. Ketujuh, partisipatif. Kedelapan, kebersamaan. Kesembilan, kesetaraan. Kesepuluh, kemandirian.
Selanjutnya tujuan pembangunan kepemudaan disebutkan dalam BAB II pasal 3 untuk mewujudkan pemuda yang; Pertama, Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kedua, Berakhlak mulia. Ketiga, Sehat. Keempat, Cerdas. Kelima, Kreatif. Keenam, Inovatif. Ketujuh, Mandiri. Kedelapan, Demokratis. Kesembilan, Bertanggungjawab. Kesepuluh, Berdaya saing. Kesebelas, Memiliki jiwa kepemimpinan, kewirausahaan, kepeloporan, dan kebangsaan berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.
2.6. Teori Asean Community
kedua dipicu oleh ketidakpuasan Amerika terhadap prinsip non diskriminasi dalam GATT yang bermuara pada pembentukan North American Free Trade Agreement (NAFTA) di awal era 90-an. Gelombang ketiga adalah diinisiasi oleh negara-negara Asia dengan memperkenalkan preferensi tarif seperti Economic Cooperation Organization(ECO), South Asian Association for Regional Cooperation(SAARC), dan Association of South-East Asian Nation(ASEAN).
Arifin (2007), langkah ASEAN diatas sejalan dengan tuntutan global yang ditandai dengansemakin menjamurnya bentuk integrasi keuangan dan ekonomi di berbagai kawasan.Sebut misalnya Eropa, integrasi regionalnya diawali dengan integrasi ekonomi (sektor riil) yang kemudian diikuti dengan integrasi moneter dan diakhiri dengan pembentukan mata uang Euro. Di kawasan Afrika juga memiliki institusi regional (CFA Franc Zonedan Gulf Area) yang bertugas mengintegrasikan ekonomi di kawasan tersebut denganmembentuk dan menggunakan mata uang bersama. Artinya, meskipun di kawasan AsiaTenggara belum dimunculkan mata uang bersama, namun ASEAN sebagai leading sectorbentuk integrasi di kawasan, melakukan upaya kesepakatan-kesepakatan,diantaranya Komunitas ASEAN 2015 (ASEAN Community2015).
Komunitas ASEAN 2015 (ASEAN Community 2015) adalah suatukesepakatan tentang pembentukan komunitas yang terdiri dari tiga pilar, yakni; Pertama, Masyarakat Ekonomi ASEAN (ASEAN Economic Community). Kedua, Masyarakat Keamanan ASEAN (ASEAN Security Community). Ketiga, Masyarakat Sosial-Budaya ASEAN (ASEAN Socio-cultural Community).
Ketiga pilar ini saling berkaitan satu sama lain dan saling memperkuat tujuan pencapaian perdamaian yang berkelanjutan, stabilitas serta pemerataan kesejahteraan di kawasan, (ASEAN Summit, Januari 2007).
2.6.1 Masyarakat Ekonomi ASEAN
Nizar (2014), dalam blue print AEC, disebutkan bahwa terdapat empat karakteristik utama AEC yang saling terkait dan mendukung, yaitu:
1. Pasar dan basis produksi tunggal, yang terdiri dari lima komponen yaitu pergerakan yang bebas untuk barang, jasa, investasi, modal, dan tenaga kerja terampil.
2. Wilayah yang memiliki ekonomi berdaya saing tinggi, termasuk membangun kebijakan persaingan yang sehat, perlindungan konsumen, perlindungan hak cipta, pembangunan infrastruktur, penghindaran pajak berganda, dan e-commerceuntuk mendukung perdagangan on-line antar anggota ASEAN. 3. Wilayah yang memiliki pembangunan ekonomi yang berkeadilan, meliputi
pengembangan Usaha Kecil Menengah (UKM) dan inisiatif integrasi ASEAN yang bertujuan untuk mengatasi perbedaan tingkat pembangunan ekonomi antar anggota ASEAN.
seperti negosiasi Free Trade Area (FTA) dan Comprehensive Economic Partnership(CEP) dan meningkatkan partisipasi dalam jaringan produksi dan distribusi global.
2.6.2 Masyarakat Keamanan ASEAN
Hakim (2013), ASEAN Security Communityadalah proliferasigerakan teroris. Di era globalisasi ini, gerakan terorisme seringkali melibatkanbeberapa negara dan tidak memandang garis perbatasan internasional (transnasional).Nassar (2010), menambahkan bahwa globalisasi meningkatkan aktivitas kekerasan yangdiwujudkan dalam bentuk teror. Perubahan pesat yang dibawa proses globalisasi telahmenyebabkan masyarakat terpolarisasi. Singkat kata, globalisasi memproduksi marjinalisasi dan kemiskinan, sedangkan marjinalisasi dan kemiskinan merangsangorang untuk melakukan aksi teror. Belum lagi ancaman keamanan di kawasan terkaitdengan perdagangan obat terlarang, perdagangan manusia (trafficking), perdagangansenjata, pencurian ikan (illegal fishing), yang kesemuanya itu membutuhkan kerjasamakeamanan intra ASEAN dalam kerangka ASEAN Security Community.
2.6.3 Masyarakat Sosial-Budaya ASEAN
Hakim (2013), ASEAN Socio-cultural Community adalah Masyarakat Sosial-Budaya ASEAN. Roadmap ASEAN Socio-cultural Community terkandung enam program kerja yangharus diwujudkan oleh semua Negara ASEAN, yakni; human development, social welfare and protection, social justice and rights, ensuring
Dalam kerangka sosial-budaya, terdapat aspek pendidikan yang diharapkanmampu menopang ASEAN Community 2015. Sebelumnya, pada tahun 1995,ASEANmemiliki jaringan pendidikan tinggi, yakni ASEAN University Network(AUN). AUNsebagai hasil Konferensi Tingkat Tinggi ke-4 ASEAN pada tahun 1992 silam. Latarbelakang pendirian AUN ini tidak lain adalah untuk mempercepat solidaritas danpengembangan identitas regional melalui promosi pengembangan sumber dayamanusia dengan jalan penguatan jaringan yang sudah ada di tingkat universitas daninstitusi pendidikan unggulan di kawasan.
2.7 Kerangka Berpikir
Gambar 2.1Skema analisis peran Pendidikan Agama Islam sebagai dharma pendidikanterhadappembangunan pemuda dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN.
2.8 Hipotesis Penelitian
Peran Institusi Pendidikan Agama Islam sebagai dharma pendidikan berpengaruh positif terhadap pembangunan pemuda dalam masyarakat ekonomi ASEAN.
Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UIN SU)
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK)
Peran PAI terhadap Pendidikan sebagai dharma pendidikan
Pembangunan Pemuda dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN
(MEA)
6. Kepemimpinan (Y1) 7. Kewirausahaan (Y2) 8. Kepeloporan (Y3) 1. IP Kumulatif
2. Bahasa Inggris/Asing 3. Kepribadian Berakhlak 4. Kegiatan ko- dan
ekstra-kurikuler
5. Karya tulis ilmiah
Masyarakat Ekonomi