نيإ ّنيُقّ د َصُي ًا حدّر َص ّعَم ُهحل ّسحرَ َف ًنَاَسّل ّ نيّم ُحَصحفَأ َوُه ُنوُراَه صّخَأَو{ : رخأ ةيآ فيو
}ّنوُبّ ذَكُي نَأ ُ اَخَأ
171
166 Q.S. T{a>ha> [20] : 36.
167Ibn ‘Aji>bah, Al-Bah}r al-Madi>d Fi> Tafsi>r al-Qur’a>n al-Maji>d, (Beirut : Da>r al- Kutub al-‘Ilmiyah, 2015), Jilid 5, h.155.
168 Abu> Hafs} al-Nasafi>, Al-Taysi>r Fi> al-Tafsi>r, (Beirut : Da>r al-Luba>b, 2019), Jilid 11, h. 259.
169 Muhammad Mutawalli al-Sha‘ra>wi>, Khawat}ir al-Sha‘ra>wi, (Kairo : Da>r al-Nu>r, 2010), Jilid 13, h. 17.
170 Q.S. al-Shu‘ara>’ [26] : 14
171 Q.S. al-Qasas [28] : 34
Bahwa dadaku menjadi sempit saat mereka mendustakanku, dan kesempitan dada itu akibat kekesalan diri dan susahnya untuk berbicara dengan baik.
Hal itu terjadi karena aku melihat kebatilan secara jelas dilawan dengan kebenaran yang jelas pula, tentu hal itu akan menimbulkan rasa kesal di dalam dadaku, dan khususnya nabi Musa mengalami peristiwa di masa lalu yang membuatnya sulit berbicara. Dalam ayat lain Allah berfirman :
“Saudaraku Ha>ru>n dia lebih fasih lidahnya daripada aku, maka utuslah dia bersamaku sebagai pembantuku untuk membenarkan (perkataanku), sesungguhnya aku khawathir mereka akan mendustakanku. 172
Maksudnya bantulah aku dengan menjadikan Ha>ru>n sebagai nabi agar dia bisa menggantikanku untuk berbicara saat lidahku susah untuk berbicara. Hal ini justru menunjukkan kuatnya keinginan nabi Musa memikul tugas dakwah Tuhannya kepada Fir‘uan dan kaumnya.173
Selanjutnya Shaikh al-Sha‘ra>wi> mengatakan : Seandainya masalah yang ada antara nabi Musa dan kaumnya sebatas pada masalah kemampuan berbicara, tentu hal itu sedikit lebih mudah, namun masalahnya di dalam diri kaumnya, masih menyimpan rasa dendam lama terhadap nabi Musa yang pernah membunuh salah seorang dari mereka, walaupun tidak sengaja, sebagaimana Allah firmankan : ﱧ
ﱨ ﱩ ﱪ
ﱫ lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu. Oleh sebab itu maka Musa berkata : Aku takut mereka akan membunuhku. 174
Dan setelah segalanya sudah dipersiapkan dengan matang, maka Ibn ‘Aji>bah melanjutkan tafsi>r isha>ri-nya bahwa seorang juru dakwah janganlah menunda apalagi mundur dari dakwahnya karena adanya rintangan-rintangan dalam dakwahnya. Tetaplah maju dan perkuat kerja sama dalam berdakwah, dan yakinlah bahwa selama seseorang berada di jalan dakwah, maka Allah pun senantiasa menyertainya, menjaganya dan menolongnya sehingga dakwah yang dilaksanakannya akan menemukan kemenangan pada akhirnya, sebagaimana Allah jelaskan bahwa Allah telah menolong dan memberikan kemenangan kepada Musa dan Ha>ru>n serta kepada pengikutnya dari Bani Isra>il. 175
2. Pertemuan Pertama Antara Nabi Musa dan Ha>ru>n Dengan Fir‘aun .
Setelah semua persiapan menghadapi Fir‘aun telah tercapai dengan sempurna, maka berangkatlah keduanya menemui Fir‘aun . Dan ketika bertemu dengan Fir‘aun maka keduanya memperkenalkan diri, bahwa mereka berdua adalah utusan Allah dan menjelaskan tujuan kedatangan mereka berdua yaitu : Mengajak
172 Q.S. al-Qas}as} [28] : 34
173 Muhammad Mutawalli al-Sha‘ra>wi>, Khawat}ir al-Sha‘ra>wi>, (Kairo : Da>r al-Nu>r, 2010), Jilid 13, h. 18.
174 Muhammad Mutawalli al-Sha‘ra>wi>, Khawat}ir al-Sha‘ra>wi>, …. Jilid 13, h. 262.
175Ibn ‘Aji>bah, Al-Bah}r al-Madi>d Fi> Tafsi>r al-Qur’a>n al-Maji>d, (Beirut : Da>r al- Kutub al-‘Ilmiyah, 2015), Jilid 6, h. 187.
Fir‘aun dan kaumnya untuk beriman. Kemudian tujuan kedua adalah meminta Fir‘aun membebaskan bani> Isra>il dari perbudakan dan siksaan.176 Hal ini dijelaskan dalam surat T{a>ha> :
ﲵ ﭐﱡﭐ ﲶ ﲷ ﲸ ﲹ ﲺ ﲻ ﲼ ﲽ ﲾ
ﲿ
ﳀ
ﳁ ﳂ ﳃ
ﳄ ﳅ
ﳆ
ﳇ ﳈ ﳉ ﳊ ﳋ ﳌ ﳍ ﳎ ﳏ ﳐ ﳑ ﳒ ﳓ
ﳔ
ﳕ ﳖ
ﳗ ﱠ
Maka pergilah kamu berdua kepadanya (Fir‘aun ) dan katakanlah,
“Sungguh, kami berdua adalah utusan Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Isra>il bersama kami dan janganlah engkau menyiksa mereka. Sungguh, kami datang kepadamu dengan membawa bukti (atas kerasulan kami) dari Tuhanmu. Dan keselamatan itu dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk.(47) Sungguh, telah diwahyukan kepada kami bahwa siksa itu (ditimpakan) pada siapa pun yang mendustakan (ajaran agama yang kami bawa) dan berpaling (tidak mempedulikannya).”(48)177
Di dalam surat al-Shu‘ara> dijelaskan pula risalah mereka berdua ketika bertemu dengan Fir‘aun . Mereka diperintahkan untuk mendatangi Fir‘aun dan mengatakan bahwa mereka utusan Allah Tuhan semesta alam, sebagaimana dijelaskan oleh Allah178 :
ﭐ
ﲼﭐﱡ ﲽ ﲾ
ﲿ ﳀ ﳁ ﳂ ﳃ ﳄ ﳅ ﳆ ﳇ ﳈ ﳉ
ﱠ
Maka datanglah oleh kalian berdua kepada Fir‘aun dan katakan,
“Sesungguhnya kami adalah rasul-rasul Tuhan seluruh alam,(16) lepaskanlah Bani Israil (pergi) bersama kami.”(17)179
Misi nabi Musa seperti dijelaskan oleh Ibn Juzai mempunyai 2 tujuan : Untuk mengajak Fir‘aun beriman kepada Allah dan membebaskan Bani Israil dari perbudakan Fir‘aun .180
Saat pertemuan pertama antara Musa dan Ha>ru>n dengan Fir‘aun maka Fir‘aun langsung mengungkit-ungkit masa lalu nabi Musa. Diantara isi ucapannya adalah bukankah kami mengambil engkau dari sungai Nil kemudian kami berikan susu kepadamu dan kami beri kamu makan ditengah-tengah kami, di istana kami
176Ibn ‘Aji>bah, Al-Bah}r al-Madi>d Fi> Tafsi>r al-Qur’a>n al-Maji>d, (Beirut : Da>r al- Kutub al-‘Ilmiyah, 2015), Jilid 4, h. 278.
177 Q.S. T{a>ha> [20] : 47-48.
178 Ibn ‘Aji>bah, Al-Bah}r al-Madi>d Fi> Tafsi>r al-Qur’a>n al-Maji>d, ,, Jilid 4, h.127-128.
179 Q.S. al-Shu’ara>’ [26] : 16-17.
180 Ibn Juzai, Al-Ta’s}i>l Li ‘Ulu>m al-Tanzi>l, (Riya>d} : Da>r T{ayyibah, 2018), Jilid 3, h. 101.
ketika kamu masih kecil. Tetapi kamu setelah itu justru mengingkari nikmat dariku dengan membunuh seorang lelaki dari kaumku, lalu setelah itu engkau datang tiba- tiba menyeruku untuk taat kepadamu dan mengatakan bahwa engkau mempunyai Tuhan selain diriku. Lalu engkau memerintahkanku untuk menghancurkan kerajaanku dengan melepaskan bani> Isra>i>l pergi bersamamu.181
Hal ini dijelaskan perkataan Fir‘aun kepada nabi Musa :
ﳊﭐﱡﭐ ﳋ ﳌ ﳍ ﳎ ﳏ ﳐ ﳑ ﳒ ﳓ ﳔ ﳕ
ﳖ ﳗ ﳘ ﳙ ﳚ
ﳛ ﳜ
ﱠ
Dia (Fir‘aun ) menjawab, “Bukankah kami telah mengasuhmu dalam lingkungan (keluarga) kami, waktu engkau masih kanak-kanak dan engkau tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu.)18) Dan engkau (Musa) telah melakukan (kesalahan dari) perbuatan yang telah engkau lakukan dan engkau termasuk orang yang tidak tahu berterima kasih.”(19)182
Tujuan dari ucapan Fir‘aun tersebut adalah bahwa Musa dibesarkan di istananya, dan sudah merasakan berbagai kenikmatan tinggal di istananya selama bertahun-tahun. Menurut Ibn ‘Aji>bah selama 30 tahun. 183 Lalu setelah itu Musa tidak membalas kebaikan Fir‘aun tetapi justru membunuh seseorang dari kaumnya.
Dengan demikian maka Musa termasuk orang-orang yang mengingkari nikmat yang telah diberikan kepadanya.184
Maka nabi Musa menjawab ucapan Fir‘aun tersebut :
ﱁ ﭐﱡﭐ ﱂ ﱃ ﱄ ﱅ ﱆ ﱇ
ﱈ ﱉ ﱊ ﱋ ﱌ
ﱍ ﱎ ﱏ
ﱐ ﱑ ﱒ ﱓ
ﱔ ﱕ ﱖ ﱗ ﱘ ﱙ ﱚ ﱛ ﱜ ﱠ
Dia (Musa) berkata, “Aku telah melakukannya, dan ketika itu aku termasuk orang yang tersesat (khilaf). (20) Lalu aku lari dari kalian karena aku takut kepada kalian, kemudian Tuhanku menganugerahkan ilmu kepadaku serta Dia menjadikanku salah seorang di antara rasul-rasul. (21) Dan nikmat tersebut yang telah engkau berikan kepadaku, (sementara) itu engkau telah memperbudak Bani>Isra>il.”(22)185
181 Abu Hafs} al-Nasafi>, Al-Taysi>r Fi al-Tafsi>r, (Beirut : Da>r al-Luba>b, 2019), Jilid 11, h. 261.
182 Q.S. al-Shu‘ara>’ [26] : 18-19.
183 Ibn ‘Aji>bah, Al-Bah}r al-Madi>d Fi> Tafsi>r al-Qur’a>n al-Maji>d, (Beirut : Da>r al- Kutub al-‘Ilmiyah, 2015), Jilid 5, h. 156., Muqa>til bin Sulaima>n, Tafsi>r al-Muqa>til, (Beirut : Muassasah al-Ta>rikh al-‘Arabi>, 2002), Jilid 3, h. 260.
184 Al-Baghawi>, Ma‘a>lim al-Tanzi>l, (Riya>d{ : Da>r T{ayyibah, 2008), Jilid 6, h. 109.
185 Q.S. al-Shu‘ara>’ [26] : 20-22.
Menurut al-Farra> : Ini adalah pengakuan dari Nabi Musa kepada Fir‘aun tentang jasanya karena telah mendidiknya.186
Wahbah Zuhaili> mengatakan : Sesungguhnya peristiwa pembunuhan lelaki Qibt}i yang dilakukan Musa itu terjadi sebelum Musa diangkat menjadi nabi, saat umur beliau masih muda belia, hal itu didukung oleh ayat : ﱑﱐﱏﱎﱍﱌ ﱒ kemudian Tuhanku menganugerahkan ilmu kepadaku serta Dia menjadikan aku salah seorang di antara rasul-rasul-Nya187, dan peristiwa tersebut terjadi setelah kesalahan yang tidak disengaja dalam membunuh seoranل dari mereka dan juga karena kebodohanku tidak mengetahui bahwa pukulanku menyebabkan kematiannya. Jadi sesungguhnya nabi Musa telah menjawab semua pertanyaan Fir‘aun terlebih dahulu. 188
Ibn ‘Aji>bah menyatakan : Maka aku (Musa) melarikan diri dari kalian menuju Tuhanku, menuju ke arah Madya>n ketika aku takut terhadap kalian karena kalian akan menimpakan penderitaan kepadaku atau menghukumku dengan hukuman yang tidak pantas terhadap diriku, lalu ternyata Tuhanku kemudian memberikanku hikmah yaitu kenabian dan ilmu kepadaku, sehingga hilanglah sifat bodoh dan sesat dari diriku. Kemudian Allah menjadikanku termasuk diantara para rasul utusan-Nya. 189
Sementara Ibn Kas\ir menambahkan : Akhirnya Allah menyelamatkan aku dari kalian, dan memberikan kepadaku nikmat dan ilmu, yaitu hikmah dan kenabian, dan menjadikanku seorang Rasul untuk membantah pengakuanmu sebagai Tuhan, dan menyeru kaummu untuk menyembah Allah semata190
Lalu Musa melanjutkan jawabannya : Sementara kebaikan yang telah engkau berikan kepadaku, disebabkan engkau telah memperbudak Bani> Isra>i>l, dimana engkau tidak memperbudakku saat aku di istanamu dan justru engkau memasukanku dalam lingkungan keluargamu. Engkau telah berbuat baik kepadaku dan merawatku saat aku masih kecil, jika hal itu memang engkau anggap merupakan kebaikan. Kenyataannya kalau dibandingkan dengan kejahatan yang engkau lakukan terhadap Bani> Isra>i>l dengan menjadikan mereka budak dan pelayan yang melakukan semua pekerjaan untukmu, apakah bisa kebaikan yang kamu lakukan kepadaku yang aku ini salah seorang dari mereka digunakan untuk menebus kejahatan yang telah engkau lakukan terhadap semua Bani> Isra>i>l? Maksudnya, kebaikanmu kepadaku seperti yang telah engkau sebutkan itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan perbuatan jahat yang telah engkau lakukan terhadap Bani> Isra>i>l.191
186Abu Hafs} al-Nasafi>, Al-Taysi>r Fi al-Tafsi>r, (Beirut : Da>r al-Luba>b, 2019), Jilid 11, h. 261.
187 Q.S. al-Shu‘ara>’ [26] 21.
188 Wahbah Zuh}aili>, Al-Tafsi>r al-Muni>r, (Beirut : Da>r al-Fikr : 2018), Jilid 10, h.
147.
189 Ibn ‘Aji>bah, Al-Bah}r al-Madi>d Fi> Tafsi>r al-Qur’a>n al-Maji>d, (Beirut : Da>r al- Kutub al-‘Ilmiyah, 2015), Jilid 5, h.157.
190 Ibnu Kas|ir, Tafsi>r al-Qur’a>n al-Az}i>m, (Riyad{, Da>r T{ayyibah, 1999), Jilid 3, h.
332.
191 Sa‘id Hawwa>, Al-Asa>s Fi> al-Tafsi>r, (Da>r al-Sala>m, 2009), Jilid 7, h. 3913.