• Tidak ada hasil yang ditemukan

AKOMODASI PENILAIAN

Dalam dokumen Merajut Kebhinekaan dalam Pendidikan Inklusif (Halaman 143-154)

G

Akomodasi penilaian hasil belajar yang perlu dilakukan diantaranya adalah penyesuaian KKM, penyesuaian cara, penyesuaian waktu, penyesuaian materi, dan penetapan kenaikan kelas dan kelulusan.

01 Penetapan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)

Satuan pendidikan dalam menentukan KKM memper mbangkan 3 ( ga) hal, yaitu karakteris k peserta didik, karakteris k mata pelajaran, dan kondisi satuan pendidikan. Bagi peserta didik berkebutuhan khusus penetapan KKM

dilakukan secara individual, ar nya KKM ditetapkan berdasar-kan karakteris k atau kebutuhan belajar masing-masing peserta didik berkebutuhan khusus.

Melalui cara penetapan KKM seper ini, keber- hasilan belajar peserta didik berkebutuhan khusus dilihat berdasarkan ngkat perkembangan capaian belajar antara kemampuan awal atau base line dan kemampuan ahir dari suatu kompetensi dasar.

Nilai kuan ta f KKM antara peserta didik berkebutuhan khusus dengan peserta didik lain tanpa kebutuhan khusus, boleh jadi sama (misalnya 75) akan tetapi deskripsi capaian yang diperoleh akan berbeda.

Sebagai contoh nilai 75 bagi peserta didik reguler menggambarkan kemampuan mereka dalam meng- hitung keliling bangun datar, sementara bagi peserta didik berkebutuhan khusus dengan hambatan ke- cerdasan, nilai 75 mendeskripsikan kemampuan mengenal bentuk bangun datar.

Sementara bagi peserta didik cerdas is mewa nilai 75 menggambarkan kemampuan mereka dalam menghitung keliling permukaan benda-benda di lingkungan sekolah.

Penetapan KKM berdasarkan karakteris k peserta didik berkebutuhan khusus yang bersifat individual, diiku dengan deskripsi kemampuan yang

juga menggambarkan kemampuan masing-masing individu peserta didik berkebutuhan khusus ber- dampak pada deskripsi kemampuan peserta didik dalam buku laporan pendidikan atau rapor.

Ar nya deskripsi kemampuan peserta didik dalam se ap mata pelajaran tentu saja juga bersifat individual karena menggambarkan capain belajar masing-masing peserta didik berkebutuhan khusus.

Penyesuaian waktu adalah penambahan wak- tu yang dibutuhkan oleh peserta didik berkebutuhan khusus dalam mengerjakan ulangan, ujian, tes dan tugas lain yang berhubungan dengan penilaian hasil belajar.

Contoh peserta didik disabilitasnetra me- merlukan waktu lebih lama dalam mengerjakan ujian, baik dengan dibacakan oleh orang lain maupun membaca sendiri dengan menggunakan huruf Braille.

Contoh lain, peserta didik disabilitasdaksa yang mempunyai kelainan motorik tangan akan me- merlukan waktu yang lebih lama ke ka menuliskan jawaban ulangan, ujian, tes dan tugas.

Penyesuaian waktu dapat terjadi pada pe- 02 Penyesuaian waktu

serta didik berkebutuhan khusus lainnya sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

Penyesuaian cara adalah modifikasi cara yang dilakukan oleh guru dalam memberikan ulangan, ujian, tes dan tugas lain yang berhubungan dengan penilaian hasil belajar bagi seorang peserta didik berkebutuhan khusus.

Contoh peserta didik disabilitasdaksa yang mengalami kesulitan motorik tangan, hampir dak mungkin mengerjakan soal-soal ujian yang jawaban- nya diminta secara tertulis. Bagi mereka ujian dapat dilakukan secara lisan atau dengan cara mengguna- kan alat bantu tertentu (augmenta ve).

Penyesuaian materi/isi dimaksudkan yaitu materi/isi penilaian, ujian, tes dan tugas lain disesuai- kan dengan kondisi peserta didik berkebutuhan khusus dan indikator yang telah ditetapkan.

Peserta didik disabilitas rungu, untuk mata pelajaran bahasa, baik bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris, penilaian tentang keterampilan men- dengarkan dapat dikompensasikan dengan aspek keterampilan membaca.

Contoh peserta didik au s yang low func on, mereka sangat sulit untuk mengiku pelajaran yang ngkat kesulitannya sama seper anak lainnya pada ngkat kelas yang sama. Oleh karena itu ngkat kesulitan materi ujian disesuaikan dengan kemam- puan peserta didik au s tersebut.

Contoh lain, evaluasi bagi peserta didik cerdas is mewa kualitas dan kuan tas penilaian, ujian, tes dan tugas lain disesuaikan dengan kemampuan dan indikatornya.

03 Penyesuaian Cara dan Alat

04 Penyesuaian Materi atau Isi

Ketentuan tentang kenaikan kelas dan ke- lususan peserta didik berkebutuhan khusus ditetap- kan oleh satuan pendidikan. Ketentuan tentang kenaikan kelas bagi peserta didik berkebutuhan khusus ditetapkan oleh satuan pendidikan dengan memperha kan:

a. Ketentuan tentang capaian minimal ketuntasan pembelajaran dak berlaku pada peserta didik berkebutuhan khusus;

b. Ketentuan tentang nilai sikap/perilaku minimal baik dak berlaku bagi peserta didik berkebutuh- an khusus;

c. Ketentuan tentang kehadiran minimal 75% dise- rahkan kepada satuan pendidikan dengan prinsip memberikan kesempatan kepada peserta didik berkebutuhan khusus agar dapat menyelesaikan pendidikan dasar.

Ketentuan kelulusan bagi peserta didik ber- kebutuhan khusus ditetapkan oleh satuan pendidikan dengan memperha kan ketentuan sebagai berikut:

a. Menyelesaikan seluruh program pembelajaran;

dan

b. Mengiku ujian sekolah;

Laporan hasil belajar merupakan dokumen- tasi dari pencapaian hasil belajar peserta didik dalam se ap akhir semester. Format rapor bagi peserta didik berkebutuhan khusus menggunakan format rapor yang berlaku di satuan pendidikan sebagaimana yang berlaku bagi peserta didik reguler lainnya. Nilai dan deskripsi dalam rapor bersifat individual, sesuai capaian masing-masing peserta didik.

Ar nya guru memberikan nilai dan deskripsi capaian kompetensi se ap individu peserta didik termasuk peserta didik berkebutuhan khusus.

05 Kenaikan Kelas dan Kelulusan 06 Laporan Hasil Belajar Digital atau E-Rapor

Dalam proses digitalisasi rapor atau dikenal dengan e-raport, keragaman atau gradasi capaian belajar sesuai kondisi individual peserta didik ber- kebutuhan khusus dapat dilakukan melalui aplikasi e- raport dalam Dapodik. Alur berikut menggambarkan cara kerja guru mata pelajaran dalaam pengisian e- raport dalam aplikasi Dapodik.

Peserta didik termasuk didik berkebutuhan khusus yang dinyatakan lulus dari satuan pendidikan mendapat memperoleh ijazah. Ketentuan tentang pemerolehan ijazah sebagai tanda kelulusan dak dibedakan antara siswa berkebutuhan khusus dan siswa reguler lainnya.

Surat Edaran Dirjen Dikdasmen Nomor:

2951/D.D6/HK/2017 tanggal 2 Mei 2017, perihal Ijazah Bagi Peserta Didik Berkebutuhan Khusus di Satuan Pendidikan Umum, membuat ketentuan sebagai berikut:

a. Peserta didik berkebutuhan khusus yang di- nyatakan lulus dari satuan pendidikan umum memperoleh ijazah yang dikeluarkan oleh kepala satuan pendidikan dimana peserta didik belajar.

b. Blangko ijazah bagi peserta didik berkebutuhan khusus sama dengan peserta didik lainnya.

c. Ijazah yang diperoleh peserta didik berkebutuhan khusus dapat digunakan untuk melanjutkan ke satuan pendidikan dan jenjang yang lebih nggi.

Pak Suwita berpesan setelah selesai acara pada guru-gurunya.

“Nan setelah acara selesai, kita akan segera melakukan rapat sekolah. Melakukan sosialisasi lanjutan terkait apa saja yang kita dapatkan pada Bimtek kali ini.”

“Kita juga akan mengundang beberapa ahli untuk menjelaskan soal gangguan fungsi, alat bantu dan bagaimana kita dapat berkomunikasi dan inter- aksi dengan anak-anak dengan gangguan fungsi.”

Tambah Pak Suwita.

“Baik pak.” Jawab Sumardi.

“Kita segera siapkan waktunya dan undangan untuk semua guru dan komite sekolah.” Tambah Sumardi.

Pen ng kita ketahui, peran Komite Sekolah dan masyarakat juga menjadi sangat pen ng, karena Komite Sekolah dan masyarakat:

07 Ijazah

1. Orang tua, Komite Sekolah dan masyakarat mengetahui dan siap membantu sekolah menjadi lebih inklusif;

2. Orang tua, Komite Sekolah dan masyakarat membantu sekolah untuk memberikan penyu- luhan kepada semua anak untuk bersekolah;

3. Orang tua, Komite Sekolah dan masyarakat menawarkan gagasan dan sumber daya ten- tang implementasi pendidikan inklusif; dan 4. Orang tua menerima informasi tentang ke-

hadiran anak dan perkembangan kemam- puannya.”

Keterangan Pak Suwita menjadi satu penguat Tim dalam mempersiapkan buku bagi pegangan guru dalam persiapan Sekolah Penyelenggara Pendidikan Inklusif.

Gembira rasanya Pak Sumardi, se ap jalan yang dia tempuh di sekolah tempat penugasan barunya mendapatkan bantuan, dak hanya dari rekan kerjanya tetapi dari orang tua, komite sekolah dan dinas/lembaga terkait.

Penerimaan siswa baru nggal satu bulan lagi, SD Ja harjo II berkerjasama dengan mitra strategis lain menggelar Workshop untuk Kepala Sekolah, Guru, Komite Sekolah, Desa sekitar dan orang tua/wali murid.

Workshop digelar di gedung pertemuan Kecamatan Ja mulya dengan meng- hadirkan beberapa prak si, ahli dari beberapa bidang dan akademisi.

Ragam Gangguan Fungsi

Beberapa ahli diminta mengisi seputar gang- guan fungsi, alat bantu dan cara interaksi dan komu- nikasi dengan anak berkebutuhan khusus. Gangguan fungsi yang digali diantaranya:

Pela han/Workshop dimaksudkan sebagai sebuah upaya memberikan pemahaman standar minimal kepada guru, orang tua, komite sekolah dalam memahami kondisi anak berkebutuhan khusus yang akan ditangani di Sekolah Penyelenggara Pendidikan Inklusif. Workshop dan pela han seper ini pula direncakan digelar secara ru n terjadwal.

Disadari Pak Suwita dan kolega jejaring pendidikan inklusif bahwa ada ga bidang strategis dalam pendidikan inklusif:

1. Akses dan pemerataan pendidikan inklusif, 2. Kualitas pengajaran dan pembelajaran, dan 3. Peningkatan tata kelola dan pemberian layanan.

Pemahaman tersebut diharapkan dapat mem- bantu terselenggaranya pendidikan di sekolah.

Tidak seper biasanya, siang itu udara terasa panas sekali. Para peserta Workshop yang diadakan di balai kecamatan itu merasa gerah. Apalagi mereka baru selesai is rahat dan makan siang, sehingga beberapa diantaranya ada yang mengantuk.

Saat itu adalah jadwal Sumardi sebagai nara- sumber untuk menyampaikan materinya. Waktu- waktu seper itu memang merupakan tantangan bagi para fasilitator untuk berusaha agar kelasnya tetap ak f dan materinya dapat diterima dengan baik oleh para peserta.

Seper pada saat itu, Sumardi bercerita tentang kisah Nasrudin Hoja.

“Bapak/Ibu, saya ada cerita sebelum materi Gangguan Fungsi

Penglihatan Gangguan Fungsi Pendengaran Gangguan Fungsi Intelektual Gangguan Fungsi Gerak

Gangguan Emosional dan Perilaku

Gangguan Belajar Khusus

dilanjutkan.”

“Cerita ini tentang Nasrudin Hoja, begini cerita- nya:”

“Seorang filosof dogma s sedang menyam- paikan ceramah. Nasrudin mengama bahwa jalan pikiran sang filosof terkotak-kotak, dan sering menggunakan aspek-aspek intelektual yang dak realis s. Se ap masalah didiskusikan dengan menyi r buku-buku dan kisah-kisah klasik, dianalogikan dengan cara yang dak semes nya.

Akhirnya, sang penceramah mengacungkan buku hasil karyaya sendiri. Nasrudin segera mengacungkan tangan untuk menerimanya pertama kali. Sambil memegangnya dengan serius, Nasrudin membuka halaman demi halaman, berdiam diri. Lama sekali, Sang penceramah mulai kesal.

“Engkau bahkan membaca buku terbalik!”

“Aku tahu,” jawab Nasrudin acuh, “

“Tapi karena cuma ini satu-satunya hasil karyamu, rasanya, ya, memang begini caranya

mempelajari jalan pikiranmu.”

Peserta semua tertawa, hilang rasa bosan dan kantuknya. Guru Sumardi senang. Semua peserta tepuk tangan riuh.

Setelah hampir dua jam pemaparan materi, tanpa disadarinya ia menengok ke jendela dan melihat keluar. Dilihatnya di sebelah selatan men- dung pekat telah menggantung. Segera ia berkemas dan mohon ijin pani a untuk pulang.

Dalam perjalanannya terjadi hujan deras dan ia pun kehujanan. Sampai di pinggir hutan ja , motornya terpeleset, ia jatuh dan kaki kanannya ter mpa motor.

Akibat dari itu sepulang dari rumah sakit ia disarankan oleh dokter untuk sementara waktu menggunakan kursi roda, mengingat tulang kering kaki kanannya baru saja dioperasi untuk dipasang pen.

Karena ia tak punya kursi roda, maka atas hasil pembicaraanya dengan Pak Karto Saidin pemilik

rumah tempat nggalnya yang juga seorang tukang kayu. Ia pun dibuatkan kursi yang dibutuhkannya dengan memasangkan empat buah roda yang biasa dipasang pada kaki kulkas pada kursi yang biasa dipakai di kamarnya.

Demikian pula di sekolahnya, dengan bantuan Pak Karto Saidin, Pak Suwita menyiapkan kursi semacam itu pula untuk Sumardi, disamping itu Pak Suwita juga meminta tukang bangunan untuk menggan closed pada salah satu toilet sekolah dengan closed duduk dan membalik daun pintunya untuk menjadi membuka keluar serta membuatkan selasar dari semen yang menghubungkan serambi kelas dengan serambi toilet. Dengan begitu aksesi- bilitas Pak Sumardi terbantu.

Sejak Sumardi masuk kerja dengan kondisi kaki yang belum berfungsi dengan baik, Pak Suwita beserta para guru lainnya bersepakat mengadakan makan siang bersama setelah jam sekolah usai dengan biaya patungan.

Acara tersebut diselenggarakan disamping membantu Sumardi, juga digunakan sebagai media

bermusyawarah membicarakan hal-hal yang dirasa perlu diselesaikan bersama. Adapun untuk makan pagi dan makan malamnya disediakan oleh Mbok Karto Saidin dengan biaya patungan dari kelompok ibu-ibu RT.

Sedang untuk pergi dan pulang dari sekolah, Secara bergiliran Sumardi diantar jemput dengan motor oleh pemuda dusun. Memang Sumardi oleh warga dusun Ja harjo itu dipandang ak f dalam kegiatan masyarakat, misalnya ronda, pengajian, kerjabak , dan bergotong-royong membantu warga masyarakat yang sedang memerlukan bantuan.

Kini Sumardi benar-benar merasakan betapa kehidupan masyarakat tempat nggalnya itu me- rupakan taman kehidupan yang indah baginya. Ia merasakan kebersamaan mewujud dalam harmoni desa.

Secara kebetulan belum lama ini Bu Landri juga sudah pindah ke dusun itu dan dak jauh dari sekolah. Ia bertempat nggal di rumah Pak Harjo Lamidin yang sehari-hari bekerja sebagai perajin bambu.

Bu Landri juga telah memperoleh data dari Kepala Dusun tentang anak dan remaja difabel usia sekolah yang belum bersekolah. Mereka yang ter- masuk anak-anak adalah Paidi yang dak bisa melihat, Waluya yang kedua kakinya kecil, Tukijan yang dak mendengar, dan Tumirin yang sulit mengingat.

Sedang yang termasuk remaja adalah Wagirah

yang satu kakinya hanya sebatas lutut, Tumiran yang kalau melihat sesuatu harus dekat sekali, Wakidi yang kalau diajak berbicara dak mudah memahami, Ra jah yang belum bisa merawat diri sendiri, dan Sutaji yang sulit untuk bisa mengingat.

Bu Landri juga telah merencanakan akan mendatangi rumah mereka satu-persatu untuk menemui anak-anak itu sendiri dan keluarganya untuk mendapatkan keterangan lebih lanjut.

Bagaimanapun jadinya, Sumadi memaksa dirinya harus ikhlas menerima kenyataan mengenai kondisinya yang seper sekarang ini. Kini ia sadar bahwa ia memiliki gangguan pada salah satu fungsi organnya, yaitu gangguan fungsi gerak.

Dengan mengetahui gangguan fungsi yang ada pada dirinya itulah kemudian Sumardi menjadi memahami kebutuhan khususnya, dan dengan memperha kan keadaan dan potensi atau sumber- daya yang ada di lingkungannya, Sumardi dapat menemukan hal-hal yang diperlukan untuk meme- nuhi kebutuhan khususnya itu.

Dalam dokumen Merajut Kebhinekaan dalam Pendidikan Inklusif (Halaman 143-154)