• Tidak ada hasil yang ditemukan

PRINSIP PENDIDIKAN INKLUSIF

”Pak Mardi, kemarin saya ketemu Pak Karyadi, dan beliau menyatakan bahwa nan pada saat is rahat pertama beliau akan datang ke sekolah kita ini untuk minta bantuan narasumber yang diperlukan untuk pela han calon perin s pelaksana pendidikan inklusif.

Topik yang diminta beliau adalah seputar prinsip penyelenggaraan pendidikan inklusif. Untuk itu beliau menginginkan mengetahui lebih dahulu kesiapan kita dalam hal tersebut. Oleh sebab itu saya bermaksud mengadakan pertemuan guru untuk melakukan sosialisasi topik tersebut sekaligus sebagai simulasi pela han yang dapat langsung menunjukkan kesiapan kita kepada Pak Pengawas,” kata Pak Suwita.

Sumardi diam sejenak sambil memandang Bu Landri, “Bisa juga sih pak, mungkin Bu Landri bisa ditanya kesiapannya, karena beliaulah yang baru saja mendapatkan pela han mengenai hal tersebut di Kantor Dinas”, jawab Sumardi.

“Pak Suwita menoleh memandang Bu landri dan bertanya,” bagaimana Bu Landri?

Apa bisa nan kita mengadakan sosialisasi itu?”.

Dengan masih berdiri Bu Landri mengangguk dan menjawab lirih, “Akan saya usahakan Pak”.

”Bagus, nah ibu-ibu, nan setelah jam is rahat pertama anak-anak bisa diminta belajar di rumah. Kita akan mengadakan sosialisasi mengenai perinsip penyelenggaraan pendidikan inklusif yang akan dihadiri juga oleh Pak Pengawas dan narasum- bernya adalah Bu Landri. Mohon Bu Yatmi mengupa- yakan konsumsinya, Pak Suwita mengumumkan hal tersebut kepada para guru.

Setelah Pak Suwita keluar dari ruang guru, Bu Landri menyerahkan kantong kain yang berisi jajan tenjongan yang dibelinya di pasar tadi kepada Bu Yatmi sambil meminta agar jajan tersebut sebagai tambahan konsumsi pertemuan nan .

Pendidikan inklusif berpusat pada anak dan menempatkan tanggung

jawab adaptasi pada sistem pendidikan, bukan pada masing-

masing anak

Pak Suwita menyampaikan bahwa setelah jam pelajaran selesai, segera akan diadakan sosialisasi kepada para guru yang sekaligus sebagai bentuk simulasi pela han yang akan diselenggarakan dan meminta Pak Karyadi mengama dan memberikan komentar dan masukannya. Hal itu disetujui dengan senang ha oleh Pak Karyadi.

Setelah persiapan selesai dilakukan, maka Pak Suwita dan Pak Karyadi masing-masing menyampaikan sambutannya, baru setelah itu Bu Landri menyampaikan paparannya mengenai Prinsip-prinsip Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif.

A B D E F G

H N O

Dalam presentasinya Bu Landri menyampai- kan bahwa menurut Undang-undang Nomor 19 Tahun 2011 Tentang Pengesahan Konfensi Internasional Mengenai Hak-hak Penyandang Disabilitas disebutkan bahwa dalam menyelenggarakan penghormatan, perlindungan, dan pemenuhan hak-hak asasi Pe- nyandang Disabilitas, yang diantaranya adalah hak pendidikan, prinsip-prinsip yang harus dipenuhi adalah:

1. Penghormatan pada martabat individu ma- nusia, termasuk otonomi dan kemerdekaan individu dalam menentukan pilihan dan mem- buat keputusan.

Dalam hal ini guru harus memberikan ke- merdekaan kepada muridnya untuk memilih dan menentukan sikap terhadap hal yang akan mereka lakukan dalam proses pembelajaran.

Sehingga se ap akan membuat keputusan atau kesimpulan dalam proses pembelajaran, mereka harus mendapatkan persetujuan dari muridnya. Guru harus memperha kan pen- dapat, saran, masukan, dan sejenisnya dari murid.

2. Par sipasi penuh dalam upaya perwujudan kehidupan bermasyarakat.

Dalam proses pembelajaran, para murid harus dapat berpar sipasi penuh dalam keseluruhan proses sebagai subyek belajar. Pembelajaran harus berpusat pada anak dan dak boleh hanya berlangsung satu arah yaitu guru selalu memberi pengetahuan dan murid hanya me- nerimanya saja. Prinsip semua orang adalah guru dan semua tempat adalah sekolah harus diterapkan. Sehingga proses saling asah, saling asih, dan saling asuh benar-benar terwujud.

Hal itu pen ng sebagai bentuk penyiapan pribadi individu dalam kehidupan bersama di masyarakat.

3. Penghormatan pada perbedaan dan penerima- an keragaman manusia dan kemanusiaan.

Dalam kehidupan bersama dalam suatu masyarakat sekolah, guru harus menanamkan, menumbuhkan memelihara dan mengem- bangkan iklim toleransi, menerima sesamanya sebagai manusia sutuhnya dengan beragam kondisi dan potensinya masing-masing.

Dengan demikian segenap warga sekolah dapat merasakan keindahan hidup bersama.

Pemahaman mengenai ada pernah terjadi kebersamaan jika dak ada perbedaan harus menjadi sikap se ap warga sekolah yang

terwujud dalam kehidupan sehari-hari di sekolah.

4. Nondiskriminasi.

Dalam kehidupan bersama sebagai masyarakat sekolah, guru harus memberikan hak dan kewajiban yang setara antara murid yang satu dengan yang lain sesuai dengan kondisi dan potensi masing-masing. Dalam pemberian layanan dan pengelolaan pembelajaran, pem- berian materi, pemilihan media, metode, dan teknik penilaian pembelajaran harus benar- benar sesuai dengan kondisi dan potensi 5. Kesetaraan kesempatan.

Dalam kehidupan bersama sebagai sesama warga sekolah termasuk dalam pengelolaan proses pembelajaran, para murid harus men- dapatkan kesempatan yang setara antara yang satu dengan lainnya dalam menerima layanan dan memenuhi kebutuhan belajarnya demi perkembangan fisik dan pertumbuhan jiwanya.

Setara berar belum tentu sama. Setara harus dipahami sebagai pemenuhan kebutuhan sesuai dengan kondisi dan potensinya masing- masing.

6. Aksesibilitas.

Aksesibilitas ar nya ngkat kemudahan dalam mendapatkan sesuatu. Dalam bentuk sarana fisik, aksesibilitas harus diwujutkan dalam bentuk penyediaan fasilitas sarana fisik yang memudahkan semua warga sekolah untuk dapat melakukan mobilitas dalam lingkungan sekolah. Dalam bentuk non fisik, aksesibilitas diar kan sebagai kemudahan warga sekolah (termasuk para murid) dalam mendapatkan informasi dan layanan yang dibutuhkannya sesuai dengan kondisi dan potensi masing- masing. Baik untuk pemenuhan kebutuhan belajar maupun dalam berinteraksi antar sesamanya.

7. Kesetaraan antara laki-laki dan perempuan.

Dalam hal ini terutama terkait dengan hal pembagian peran yang berhubungan dengan relasi sosial. Pembagian peran harus dilepas- kan dari segala bentuk s gma. Misalnya bentuk tugas atau pekerjaan tertentu hanya pantas dikerjakan oleh perempuan. Sedang bentuk tugas atau pekerjaan lainnya hanya pantas dikerjakan oleh lelaki. Sehingga pem- bagian kerja harus didasarkan pada kondisi,

potensi, serta kemampuan masing-masing individu dengan didasarkan pada landasan kehidupan bersama.

8. Penghormatan atas kapasitas yang terus ber- kembang pada anak dan hak asasinya untuk mempertahankan iden tas mereka.

Sebagai anak yang semuanya memiliki ke- mampuan untuk berkembang sesuai dengan kapasitasnya masing-masing, serta hak asasi yang melekat pada se ap individu mereka, maka se ap anak harus mendapatkan layanan dan kesempatan untuk mengembangkan kapa- sitas se ap individu mereka tersebut sesuai dengan kondisi dan potensinya masing-masing sebagai bentuk penghargaan atas iden tas dan keberadaan mereka.

Bu Landri juga menambahkan, dalam pe- nyelenggaraan pendidikan inklusif, ada beberapa prinsip umum yang harus dipahami oleh se ap penyelenggara pendidikan (kepala sekolah, guru, staf administrasi, dan lain-lain). Adapun prinsip terserbut adalah sebagai berikut:

1. Pendidikan yang Ramah.

Pendidikan inklusif harus menciptakan dan

menjaga komunitas kelas yang ramah dan terbuka dalam menerima keanekaragaman dan menghargai perbedaan yang ada.

Sekolah yang “ramah” juga bera memberikan hak kepada anak untuk belajar dan mengembangkan potensinya seop mal mungkin di dalam lingkungan yang aman dan terbuka. Selain itu, “ramah” juga berar guru menunjukkan sikap posi f dan mendukung pada peserta didik tanpa terkecuali dan dak mengganggap ABK sebagai beban.

2. Pengembangan seop mal mungkin.

Pada dasarnya, se ap anak memiliki kemam- puan dan kebutuhan yang berbeda-beda.

Oleh karena itu pendidikan harus diusahakan untuk menyesuaikan dengan kondisi anak.

3. Kerja sama.

Penyelenggaraan pendidikan inklusif harus melibatkan seluruh komponen pendidikan terkait.

4. Perubahan Sistem.

Sekolah harus berani fleksibel dalam im- plementasi penyelenggaraan pendidikan.

Perlu diperha kan se ng kelas yang cocok, kemungkinan perlunya modifikasi program belajar, dan sistem penilaian yang sesuai bagi masing-masing ABK.

Demikianlah garis besar prinsip penyeleng- garaan pendidikan inklusif yang disampaikan oleh Bu Landri, disamping itu Bu Landri juga memberikan penjelasan dari se ap bu r prinsip penyelenggaraan pendidikan inklusif yang disampaikan itu, dan tak lupa Bu Landri pun memberi contoh dalam penerapannya pada penyelenggaraan proses pembelajaran.

Aksesibilitas harus diwujudkan dalam bentuk penyediaan fasilitas

sarana fisik yang memudahkan semua warga sekolah untuk dapat melakukan mobilitas dalam

lingkungan sekolah.