• Tidak ada hasil yang ditemukan

TRI PUSAT PENDIDIKAN & PENDIDIKAN MERDEKA

belum sepenuhnya diutamakan ke dalam sistem Pendidikan, karena tanggung jawab yang dak selaras dalam hal penyampaian layanan, penganggaran, dan kapasitas administra f yang terbatas untuk meng- implementasikan kebijakan.

Pendidikan Inklusif membutuhkan banyak sumber daya untuk menyediakan pela han guru dan

staf tambahan, peningkatan kapasitas administrasi, peningkatan anggaran dan data yang berkualitas tentang anak berkebutuhan khusus. Koordinasi lintas sektor juga pen ng untuk mengatasi masalah ini.

Pendidikan alam keluarga akan mendidik anak- anak dengan sebaik mungkin yang melipu jasmani dan rohani. Keadaan keluarga sangat mempengaruhi perilaku pendidikan, terutama tolong-menolong dalam keluarga, menjaga saudara yang sakit, ke- bersamaan dalam menjaga kebersihan, kesehatan, kedamaian dan kebersamaan dalam berbagai persoal- an yang sangat diupayakan dalam keluarga.

Di dalam alam keluarga, orang tua dapat menanamkan segala benih keba nan yang sesuai dengan keba nannya sendiri, ke dalam jiwa anak. Ini adalah hak orang tua yang paling utama dan dak boleh dicegah orang lain, jadi orang tua berperan sebagai guru (pemimpin laku adab), sebagai pengajar (pemimpin kecerdasan serta pemberi ilmu penge- tahuan) dan menjadi contoh laku sosial. Selanjutnya dalam alam perguruan, ins tusi ini berkewajiban mengusahakan kecerdasan pikiran (perkembangan intelektual) serta memberikan ilmu pengetahuan.

Menurut Ki Hadjar Dewantara, pendidikan alam perguruan dak hanya memen ngkan intelek sehingga bersifat zakelijk atau tak berjiwa, yang akan berpengaruh kuat terhadap tumbuhnya egoisme dan materialism, maka Ki Hadjar Dewantara sangat menggarisbawahi pendapat Pestalozzi yang me- ngatakan bahwa pendidikan intelektual harus di-

sesuaikan dengan kodrat alam dan pendidikan keluarga.

Kesempurnaan pendidikan dalam masyarakat akan terwujud apabila orang-orang yang berke- pen ngan, yaitu orang tua, tokoh tokoh masyarakat, guru-guru dengan anak atau pemuda, bersatu paham, misalnya dalam bidang agama, bidang poli k, dalam kebangsaan, sehingga sistem Tri Pusat Pen- didikan itu akan tercapai.

Renungan Sumardi itu membawa ke ke- sadarannya bahwa pendidikan itu harus ditujukan kepada terwujudnya kehidupan bersama melalui peran individu dengan masing-masing tugas hidup sesuai dengan kondisi dan potensinya.

Menurut Ki Hadjar Dewantara, pendidikan alam perguruan tidak hanya mementingkan

intelek sehingga bersifat zakelijk atau tak berjiwa, yang akan berpengaruh kuat terhadap tumbuhnya egoisme

dan materialism.

”Bukankah kehidupan seper itu adalah kehidupan yang ber-Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi semboyan dan cita-cita bangsa ini?”, tanya- nya dalam ha .

”Ya, pendidikan semacam itulah yang harus menjadi prinsip sistem pendidikan di negeri ini”.

Gumam Sumardi.

Ketetapan ha Sumadi itulah yang mendasari sikapnya untuk menyetujui penger an pendidikan inklusif sebagaimana dicantumkan dalam Peraturan Daerah Daerah Is mewa Yogyakarta Nomor 4/2012 yang menyebutkan bahwa Pendidikan inklusif adalah sistem pendidikan yang memberikan peran kepada semua peserta didik dalam suatu iklim dan proses pembelajaran bersama tanpa membedakan latar belakang sosial, poli k, ekonomi, etnik, agama/

kepercayaan, golongan, jenis kelamin, kondisi fisik maupun mental, sehingga sekolah merupakan mini- atur masyarakat.

Sekolah harus merupakan cerminan perilaku sosial masyarakatnya, karena sekolah itu juga yang berperan pen ng dalam membentuk pola perilaku sosial masyarakatnya. Jika ingin mempunyai ma- syarakat yang saling menghargai sesamanya, rasa toleransi yang nggi, saling menolong, gotong- royong, rukun, bermufakat, dan sejenisnya, maka

sekolahnya harus inklusif, atau jika ingin melihat masyarakatnya, maka lihatlah sekolahnya, begitu ketetapan ha Sumardi.

Suatu hari, pagi-pagi sebelum para guru datang di sekolah, Bu Landri sudah datang lebih dahulu. Ke ka Sumadi datang, ia pun segera meng- hampiri sambil berkata,

”Selamat pagi Pak, saya minta bantuan Pak?”

“Oh, selamat pagi Bu, apa yang bisa saya bantu?” Jawab Sumardi.

”Dari pela han yang saya iku minggu lalu, minggu depan saya mendapat tugas harus me- nyampaikan presentasi tentang tanggapan terhadap beberapa penger an mengenai pendidikan inklusif”, jawab Bu Landri.

”Baik, kapan Bu Landri ada waktu untuk mendiskusikan hal itu?” Tanya Sumardi.

”Bagaimana kalau siang nan Pak?”

”Baik Bu”, jawab Sumardi”.

Selesai makan siang, Pak Sumardi dan Bu Landri kembali bertemu.

“Bagaimana menurut Bapak terkait Pendi- dikan Merdeka/Merdeka Belajar itu?” Tanya Bu Landri.

“Pendapat saya begini Bu, mengu f apa yang disampaikan Ki Hadjar Dewantara. Bapak Pendidikan Indonesia, menyatakan dengan tegas bahwa kemer- dekaan adalah tujuan pendidikan sekaligus paradigma pendidikan yang perlu dipahami oleh seluruh pe- mangku kepen ngan. Hal ini lebih daripada kebebas- an hidup. Yang paling utama dari kemerdekaan adalah kemampuan untuk “hidup dengan kekuatan sendiri, menuju ke arah ter b-damai serta selamat dan bahagia, berdasarkan kesusilaan hidup manusia.”

Jawab Pak Sumardi.

“Nah, makna merdeka dalam merdeka bela-

jar, dengan demikian, bukan semata-mata kebebasan tetapi juga kemampuan, keberdayaan untuk men- capai kebahagiaan. Keselamatan dan kebahagiaan sebagai tujuan, menurut Ki Hadjar Dewantara, dak saja diperoleh dan dirasakan oleh individu, tetapi juga secara kolek f.”

“Individu yang memiliki kemampuan me- ngambil keputusan yang bijaksana akan mempu membuat keputusan serta ndakan yang membawa kebahagiaan dan keselamatan bagi dirinya, masa depannya, dan orang-orang lain di sekitarnya”

(Dewantara, 2013).

“Keselamatan dan kebahagiaan individu dan kolek f tersebut dapat dicapai ke ka budi peker terbangun. Oleh karena itu, pada hakikatnya pen- didikan adalah proses pengembangan karakter, sebagaimana yang ditulisnya: “Budi peker , watak atau karakter, itulah bersatunya gerak fikiran, perasa- an dan kehendak atau kemauan.”

“Dengan adanya 'budi peker ' itu ap- ap manusia berdiri sebagai manusia merdeka (ber- pribadi), yang dapat memerintah atau menguasai diri sendiri. Inilah manusia yang beradab dan itulah maksud dan tujuan pendidikan dalam garis besar- nya.” Jelas Sumardi.

Sekolah harus merupakan cerminan perilaku sosial masyarakatnya, karena sekolah itu juga yang berperan penting dalam membentuk

pola perilaku sosial masyarakatnya.

“Kalau begitu saya setuju Pak.” Kata Bu Landri

“Ini sama seper hasil pela han kemarin Pak”

“Saya juga pernah membaca tulisan Ki Hadjar Dewantara mengemukakan bahwa dalam pendidikan harus senan asa diingat bahwa kemerdekaan atau kebebasan memiliki ga macam sifat yaitu: berdiri sendiri (zelfstanding), dak dak bergantung pada orang lain (ona ankelijk) dan dapat mengatur dirinya sendiri (vrijheld, zel eschikking).”

“Pernyataan tersebut menyiratkan bahwa kemandirian dan upaya untuk senan asa memer- dekakan diri adalah tujuan yang ingin dicapai melalui proses pendidikan. Dengan demikian Merdeka Belajar bukanlah satu kebijakan yang asal populer.”

“Merdeka Belajar dak cukup dituangkan hanya dalam satu kebijakan saja. Sebaliknya, Merdeka Belajar seharusnya melandasi seluruh kebijakan pendidikan baik di ngkat nasional, maupun di konteks yang mikro, yaitu di ruang-ruang kelas hingga keluarga.” Tambah Bu Landri.

“Jadi, pembelajaran yang memerdekakan anak atau berpusat pada siswa bukan semata-mata mem- berikan sebesar-besarnya kebebasan dan kesenangan pada mereka. Konsep “merdeka” harus senan asa

dikembalikan pada definisi yang dirancang oleh Ki Hadjar Dewantara, dak diterjemahkan sebagai kebebasan yang sebesar-besarnya kepada peserta didik.”

“Menganggap bahwa merdeka adalah mem- berikan anak kebebasan atau suka-suka tanpa mela- h siswa untuk bertanggung jawab adalah kesim- pulan keliru. Akibatnya, konsep merdeka dianggap malah dak mendidik, dak memberikan tantangan anak untuk belajar; padahal definisi tersebut sangat jauh dari tujuan Ki Hadjar Dewantara yang men- cetuskannya.”

“Bahkan begini Bu Landri, filosofi Merdeka Belajar sangat erat dengan konsep pembelajaran sepanjang hayat (life long learning), pembelajaran mandiri (self-regulated learning), dan pola pikir ber- kembang (growth mindset). Banyak peneli an me- nunjukkan bahwa kemampuan untuk terus belajar serta pola pikir yang dak mandeg adalah modal yang sangat pen ng untuk generasi muda menghadapi perkembangan zaman yang semakin cepat.” Kata Pak Sumardi.

“Dengan demikian “Merdeka” bukan sekadar menjadi tujuan pembelajaran tetapi juga proses yang berlangsung seiring tumbuh kembang anak dalam

sistem pendidikan nasional. Ke ka mereka belajar secara merdeka, kompetensi akan lebih kuat ter- bangun, dan mereka akan terus termo vasi belajar dan meningkatkan kompetensinya.”

“Siklus belajar seper ini terbangun sepanjang hayat, dilandasi oleh kemerdekaan untuk belajar dan mengeksplorasi ilmu pengetahuan sesuai minat dan

bakat individu. Maka filosofi Merdeka Belajar sangat relevan dengan konteks, bahkan menjadi kebutuhan pendidikan Indonesia saat ini.” Jelas Pak Sumardi.

“Menurut Rencana Strategis Kemdikbud- ristek tahun 2020-2024. Ada beberapa tantangan dalam pemajuan Pendidikan, yaitu:

Memerdekakan pendekatan pedagogi yang bersifat pukul rata (one size fits all) menjadi berpusat pada peserta didik dan personalisasi

05

04

Memerdekakan pedagogi, kurikulum, dan asesmen yang dikendalikan oleh konten menjadi berbasis kompetensi dan nilai-nilai,

Memerdekakan guru sebagai penerus pengetahuan menjadi guru sebagai fasilitator pembelajaran,

03

02

Memerdekakan sistem pendidikan yang tertutup (pemangku kepen ngan ber ndak sendiri- sendiri) menjadi sistem pendidikan yang terbuka (pemangku kepen ngan bekerja sama),

Memerdekakan pembelajaran sebagai beban menjadi pembelajaran sebagai pengalaman menyenangkan,

01

09

Memerdekakan ekosistem pendidikan yang dikendalikan pemerintah menjadi ekosistem yang diwarnai oleh otonomi dan par sipasi ak f (agency) semua pemangku kepen ngan.

Memerdekakan pendidikan yang dibebani oleh perangkat administrasi menjadi bebas untuk berinovasi,

08

07

Memerdekakan program-program pendidikan yang dikendalikan oleh pemerintah menjadi program yang relevan bagi industri,

Memerdekakan pembelajaran manual/tatap muka menjadi pembelajaran yang difasilitasi oleh teknologi,

06

“Selain itu konsep Ki Hadjar Dewantara bahwa sistem among yang berjiwa kekeluargaan bersendikan dua dasar, yaitu: pertama, kodrat alam sebagai syarat kemajuan dengan secepat-cepatnya dan sebaik- baiknya; kedua, kemerdekaan sebagai syarat menghi- dupkan dan menggerakkan kekuatan lahir dan ba n anak agar dapat memiliki pribadi yang kuat dan dapat berpikir serta ber ndak merdeka.”

“Sistem among harus dimaknai sebagai se- buah paradigma dalam melihat anak, bahwa anak adalah manusia yang memiliki rasa, sehingga harus dihorma . Tidak ada is lah bahwa guru selalu benar, namun disana lebih disebut dengan pamong yang

mendampingi anak. Bahkan dak hanya murid yang belajar pada guru, tapi juga sebaliknya, guru juga banyak belajar dari murid.”

“Guru sebagai pamong bertugas dak hanya memberi pengetahuan tetapi juga mengajarkan pada anak didik untuk mencari pengetahuannya sendiri.

Ke ka anak bosan belajar di kelas dan ingin bermain, pamong membebaskan namun tetap mendampingi- nya diluar kelas.”

“Menghorma dan memerdekakan jiwa anak adalah kunci guru dalam mendampingi anak-anak.

Memerdekakan berar anak-anak dak boleh kehi-

langan dunia bermainnya. Maka, jika orang tua atau guru lain pada umumya melarang anaknya bermain di tempat kotor, jutru guru dapat memperbolehkannya.

Apa yang dipahami para guru adalah apa yang belum pernah dia rasakan. Maka anak tersebut dibebaskan merasakan, sebab dari merasakan itulah anak belajar.”

“Guru harus paham betul bahwa keinginan yang ditahan hanya menimbulkan pemberontakan, dan memungkinkan adanya perilaku nega f yang tak diinginkan di kemudian hari. Jadi, ABK dimerdekakan, tapi tetap dalam lingkup pendampingan/peman- tauan.” Jelas Pak Sumardi panjang lebar.

“Dalam prinsip sistem among, ke dakterikat- an antara lahir dan ba n dengan segenap kesucian ha , maka dalam mendidik anak diniatkan untuk

mendeka anak didik dengan dak meminta suatu hak, namun menyerahkan diri untuk berhamba kepada anak didik. Konsep pendidikan inklusi yang berbasis Sistem Among Ki Hadjar Dewantara dengan menjadikan alam sebagai ruang belajar anak-anak yang berkebutuhan khusus juga dapat menjadi salah satu alterna f dari begitu banyak metode.”

“Pada bagian lain dikatakan bahwa kodrat alam merupakan batas perkembangan potensi kodra anak didik dalam proses perkembangan kepribadiannya. Perkembangan yang sesuai dengan kodrat alam akan berjalan lancar dan wajar karena pada hakikatnya manusia adalah makhluk yang menjadi satu dengan kodrat alam.”

“Manusia atau anak dak bisa lepas dari kehendak-Nya, tetapi akan bahagia jika dapat me- nyatukan diri dengan kodrat alam yang mengandung kemajuan. Kemajuan tersebut seper bertumbuhnya ap- ap benih suatu pohon yang kemudian ber- kembang menjadi besar dan akhirnya hidup dengan keyakinan bahwa dharmanya akan dibawa hidup terus dengan tumbuhnya lagi benih-benih yang disebarkan.”

“Konsep jiwa merdeka ini selaras dengan filsafat progresivisme terhadap kebebasan untuk berpikir bagi anak didik, karena merupakan motor

penggerak dalam usahanya untuk mengalami kemaju- an secara progresif. Anak didik diberikan kebebasan berpikir guna mengembangkan bakat, krea fitas dan kemampuan yang ada dalam dirinya agar dak terhambat oleh orang lain.”

“Itulah yang saya dapatkan dari beberapa sumber Bu,” kata Pak Sumardi.

“Tapi pada in nya begini Bu Landri,” kata Pak Sumardi.

“Indonesia membutuhkan kerangka kebijakan

pendidikan yang utuh. Perdebatan tentang mana yang harus diperbaiki: kurikulum atau guru, adalah perdebatan usang yang dak memperha kan proses pembelajaran sebagai suatu sistem.”

“Pertanyaan tersebut adalah jebakan yang membatasi perspek f kita menuju pencapaian Merdeka Belajar. Upaya sistema s bukan parsial, kolek f, dan kolabora f untuk meningkatkan kualitas pendidikan adalah strategi yang perlu terus dikuatkan dalam ekosistem pendidikan Indonesia.” Kata Pak Sumardi.”