B. HUBUNGAN HUKUM PERUSAHAAN ASURANSI DENGAN TERTANGGUNG
6. Asuransi Kerugian a. Asuransi Kebakaran
1) Pengaturan Asuransi Kebakaran
Asuransi kebakaran diatur dalam Buku I Bab 10 Pasal 287 sampai Pasal 298 KUHD. Pengaturan ini sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan asuransi terkini, karena pengaturannya sangat sederhana. Oleh karena itu, dalam praktiknya kesepakatan yang dibuat antara penanggung dan tertanggung yang dituangkan dalam polis mempunyai fungsi yang penting.24
2) Polis Asuransi Kebakaran
Polis asuransi kebakaran harus memenuhi syarat-syarat umum (Pasal 256 KUHD) dan menyebutkan syarat-syarat khusus yang berlaku bagi asuransi kebakaran sebagaimana diatur dalam Pasal 287 KUHD. Terhadap tambahan atas Pasal-pasal khusus sebagaimana tersebut di atas pada Pasal 287 KUH Dagang terhadap polis kebakaran yang dimaksud, Emmy Pangaribuan Simanjuntak mengatakan bahwa, pembentuk undang-undang memang sengaja menambahkan syarat-syarat khusus untuk perjanjian asuransi kebakaran, karena syarat tambahan itu mempunyai pengaruh dan membatasi risiko yang akan diambilalih oleh pihak penanggung.25 Syarat-syarat tersebut meliputi:
a) hari dan tanggal asuransi kebakaran diadakan;
b) nama tertanggung yang mengadakan asuransi kebakaran untuk diri sendiri atau untuk kepentingan pihak ketiga;
23 Warsito Sunyoto, Op. Cit, hlm. 41-42.
24 Abdulkadir Muhamad, 2006, Hukum Asuransi Indonesia, PT Citra Aditya Bakti, Bandung, hlm. 159.
25 Emmy Pangaribuan, 1980, Hukum Pertanggungan (Pokok pokok Pertanggungan Kerugian, Kebakaran, dan Jiwa, cet ke 4, Seksi Hukum Dagang Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, hlm. 80.
c) keterangan yang cukup jelas mengenai benda yang diasuransikan terhadap bahaya kebakaran;
d) jumlah yang diasuransikan terhadap bahaya kebakaran;
e) bahaya-bahaya penyebab kebakaran;
f) waktu bahaya-bahaya mulai berjalan dan berakhir menjadi tanggungan penanggung;
g) premi asuransi kebakaran yang dibayar oleh tertanggung;
h) janji-janji khusus yang diadakan antara pihak-pihak dan keadaan yang perlu diketahui oleh dan untuk kepentingan penanggung;
i) letak dan perbatasan benda yang diasuransikan;
j) pemakaian benda yang diasuransikan;
k) sifat dan pemakaian gedung yang berbatasan, sepanjang berpengaruh terhadap risiko kebakaran yang ditanggung oleh penanggung;
l) harga benda yang diasuransikan terhadap bahaya kebakaran;
m) letak dan perbatasan gedung dan tempat terdapat, tersimpan atau tertimbun benda bergerak yang diasuransikan.26
3) Objek Asuransi Kebakaran yang ditanggung oleh penanggung Objek yang dipertanggungkan adalah bangunan, misal rumah tinggal, maupun pabrik beserta isinya seperti mesin dalam pabrik, office equipment, perabotan rumah tangga. Penentuan harga obyek asuransi tidak menjadi syarat mutlak, walaupun dalam Pasal 287 KUHD dinyatakan sebagai salah satu syarat. Hal ini disebabkan oleh sulitnya menentukan harga objek asuransi. Justru hal yang penting dalam asuransi kebakaran adalah berapa jumlah asuransinya, mengingat ketentuan Pasal 289 ayat (1) KUHD yang membolehkan pengadaan asuransi dengan jumlah penuh dan hal ini harus tercantum secara tegas di dalam polis asuransi kebakaran.27
Letak obyek asuransi harus dijelaskan dengan tegas. Jika objek berbatasan dengan gedung-gedung, harus dijelaskan sifat dan pemakaian gedung-gedung tersebut dan pengaruhnya terhadap risiko kebakaran yang menjadi tanggungan penanggung. Jika objek asuransi adalah benda bergerak, maka harus dijelaskan letak dan
26 Abdulkadir Muhammad, Op. Cit, hlm. 160.
27 Ibid, hlm. 161.
perbatasan gedung dan tempat tersimpan benda bergerak tersebut.
Pemakaian objek asuransi harus jelas, karena syarat pemakaian ini berhubungan dengan perubahan syarat pemakaian yang merupakan pemberatan risiko sebagaimana diatur dalam Pasal 293 KUHD, yang dapat mengakibatkan penanggung tidak berkewajiban membayar ganti kerugian.
Adapun harta benda yang tidak dapat dijamin dalam asuransi kebakaran meliputi:
a) barang antik/kesenian;
b) barang yang disimpan atas dasar komisi/kepercayaan (barang titipan);
c) emas batangan atau batu-batu permata/mulia yang belum dipasang;
d) naskah, rencana, gambar atau disain, pola, model atau tuangan;
e) Efek, obligasi, atau segala macam dokumen, prangko, cek, buku akuntansi atau buku usaha lainnya dan catatan sistem computer.
Namun demikian, objek di atas tersebut masih dapat dipertanggung- kan dengan syarat bahwa obyek dinyatakan secara tegas dalam polis.
4) Evenemen dan Ganti Kerugian
Bahaya-bahaya (evenemen) penyebab timbulnya kebakaran yang menjadi beban penanggung diatur dalam Pasal 290 KUHD. Dalam Pasal 290 KUHD disebutkan sebab-sebab timbulnya kebakaran, yaitu
a) petir, api timbul sendiri, kurang hati-hati, dan kecelakaan lain- lain;
b) kesalahan atau itikad jahat dari pelayan sendiri, tetangga, musuh, perampok, dan lain-lain;
c) sebab-sebab lain, dengan nama apa saja, dengan cara bagaimanapun kebakaran itu terjadi, direncanakan atau tidak, biasa atau luar biasa, dengan tiada kecualinya.
Disamakan dengan kerugian akibat kebakaran adalah kerugian yang timbul karena kebakaran gedung-gedung yang berdekatan dengan benda asuransi sebagaimana yang disebutkan dalam Pasal 291 KUHD, yaitu28
28 Ibid, hlm. 162-163.
a) benda asuransi menjadi rusak atau berkurang karena air atau alat lain yang dipakai untuk memadamkan kebakaran;
b) benda asuransi hilang karena pencurian atau sebab lain selama dilakukan pemadaman kebakaran atau pertolongan;
c) benda asuransi dirusakkan sebagian atau seluruhnya atas perintah penguasa dalam usahanya untuk memadamkan kebakaran.
Kemudian Pasal 292 KUHD menyatakan bahwa disamakan dengan kerugian akibat kebakaran adalah kerugian yang timbul oleh ledakan mesiu, ledakan ketel uap, semburan petir, dan sebagainya, meskipun ledakan dan semburan itu tidak mengakibatkan kebakaran.
Terjadinya evenemen penyebab kebakaran yang menjadi tanggungan penanggung mengakibatkan timbul kerugian bagi tertanggung.
Untuk itu, penanggung wajib membayar klaim yang diajukan oleh tertanggung. Sebelum memenuhi kewajibannya, penanggung perlu membuktikan apakah kebakaran yang terjadi merupakan sebab dari kerugian yang menjadi tanggung jawabnya. Berdasarkan ketentuan Pasal 294 KUHD ditentukan bahwa:
“penanggung dibebaskan dari kewajiban untuk membayar kerugian, apabila dia membuktikan bahwa kebakaran itu disebabkan oleh kesalahan atau kelalaian tertanggung sendiri yang sangat melampaui batas”.
Kesalahan tertanggung sendiri yang membebaskan penanggung dari tanggung jawabnya diatur dalam Pasal 276 KUHD, yang selengkapnya berbunyi sebagai berikut.
“Tidak ada kerugian yang disebabkan oleh kesalahan tertanggung sendiri menjadi beban penanggung. Bahkan, penanggung tetap memiliki atau menuntut pembayaran premi apabila dia telah mulai menjalani bahaya”.
Penanggung dapat bebas dari tanggung jawabnya sepanjang penanggung dapat membuktikan bahwa:
Kebakaran yang terjadi disebabkan oleh kesalahan atau kelalaian tertanggung sendiri yang sangat melampaui batas.
Dalam hal obyek asuransi merupakan benda bergerak, maka untuk menentukan nilai benda sesungguhnya, tertanggung harus
membuktikannya, agar dapat ditentukan jumlah ganti kerugian yang wajib diganti oleh penanggung, demikian ketentuan dalam Pasal 295 KUHD.
5) Janji-janji Khusus
Pada asuransi kebakaran mengenai hak milik berupa gedung tertanggung dapat minta diperjanjikan:
a) kerugian yang timbul pada gedung hak milik supaya diganti;
atau
b) gedung supaya dibangun kembali; atau c) gedung supaya diperbaiki.
Menurut ketentuan Pasal 288 ayat (1) KUHD, pembangunan kembali atau perbaikan gedung ditentukan maksimum sebesar jumlah asuransi. Jika ada kesepakatan pembangunan kembali, tertanggung wajib membangunnya kembali atau memperbaiki gedung dengan biaya penanggung.
b. Asuransi Laut
1) Pengaturan Asuransi Laut
Pengaturan asuransi laut dalam KUHD sangat lengkap. Asuransi laut berkembang dengan cepat karena pelaksanaan pengangkutan atau pelayaran melalui laut yang penuh dengan ancaman bahaya laut. Asuransi laut diatur dalam:
a) Buku I Bab IX Pasal 246 sampai Pasal 286 KUHD tentang Asuransi pada umumnya sepanjang tidak diatur dengan ketentuan khusus.
b) Buku II Bab IX Pasal 592 sampai Pasal 685 KUHD tentang Asuransi Bahaya Laut, Bab X Pasal 686 sampai Pasal 695 KUHD tentang Asuransi Bahaya Sungai dan Perairan Pedalaman.
c) Buku II Bab XI Pasal 709 sampai Pasal 721 KUHD tentang Avarai.
d) Buku II Bab XII Pasal 744 KUHD tentang Berakhirnya Perikatan dalam Perdagangan Laut.
Bahaya yang ditanggung tidak hanya bahaya yang terjadi di laut, tetapi juga KUHD tentang Berakhirnya Perikatan dalam Perdagangan Laut bahaya-bahaya yang terjadi selama berlangsungnya angkutan, misal bahaya kebakaran di pelabuhan.
Asuransi laut pada dasarnya meliputi unsur-unsur sebagai berikut.
a) Objek asuransi yang diancam bahaya, selalu terdiri dari kapal dan barang muatan.
b) Jenis bahaya yang mengancam objek asuransi, yang bersumber dari alam (badai, gelombang besar, hujan angin, kabut tebal, batu karang, gunung es, dan sebagainya) dan yang bersumber dari manusia (nakhoda, awak kapal dan pihak ketiga), seperti perompakan bajak laut, pemberontakan awak kapal, penahanan atau perompakan bajak laut, pemberontakan awak kapal, penahanan atau perampasan oleh penguasa negara, dan sebagainya.
c) Bermacam jenis benda asuransi, yaitu tubuh kapal, muatan kapal, alat perlengkapan kapal, bahan keperluan hidup, dan biaya angkutan.29
2) Polis Asuransi Laut
Polis asuransi laut harus memenuhi syarat-syarat umum (Pasal 256 KUHD) dan menyebutkan syarat-syarat khusus yang berlaku bagi asuransi laut sebagaimana diatur dalam Pasal 592 KUHD. Syarat- syarat khusus tersebut meliputi:
a) nama nakhoda dan nama kapal dengan menyebutkan jenisnya.
b) tempat pemuatan barang ke dalam kapal;
c) pelabuhan pemberangkatan kapal;
d) pelabuhan pemuatan atau pembongkaran;
e) pelabuhan yang akan disinggahi kapal;
f) tempat bahaya mulai berjalan atas tanggungan penanggung;
g) nilai kapal yang diasuransikan.
Polis asuransi laut merupakan akta yang harus ditandatangani oleh penanggung, oleh karenanya berfungsi sebagai alat bukti telah terjadi perjanjian asuransi laut antara tertanggung dan penanggung.30 3) Objek Asuransi Laut
Berdasarkan Pasal 593 KUHD, yang dapat menjadi objek asuransi laut adalah sebagai berikut.
29 Ibid, hlm. 168.
30 Ibid, hlm. 169.
a) Tubuh kapal (kasko) kosong atau bermuatan, dengan atau tanpa persenjataan, berlayar sendirian atau bersama-sama dengan kapal lain.
b) Alat perlengkapan kapal.
c) Alat perlengkapan perang.
d) Bahan keperluan hidup bagi kapal.
e) Barang-barang muatan.
f) Keuntungan yang diharapkan diperoleh.
g) Biaya angkutan yang akan diterima.
Pada asuransi atas kapal tanpa penjelasan lebih lanjut, harus diartikan sebagai asuransi kapal kolong (kasko), alat perlengkapan, dan alat perlengkapan perang.
Menurut Pasal 594 KUHD, asuransi laut dapat diadakan:
a) atas seluruh atau sebagian barang-barang muatan, baik bersama-sama ataupun sendiri-sendiri; seluruh perjalanan atau untuk suatu waktu tertentu;
b) untuk seluruh bahaya laut;
c) untuk berita baik dan buruk.
d) dalam waktu damai atau dalam waktu perang, sebelum atau selama perjalanan yang ditempuh kapal
e) untuk perjalanan pergi atau pulang, untuk 4) Evenemen dan Ganti Kerugian
Bahaya-bahaya laut yang digolongkan sebagai evenemen diatur dalam Pasal 637 KUHD. Semua kerugian dan kerusakan atas barang-barang asuransi karena bahaya-bahaya laut berikut ini menjadi beban penanggung:
a) bahaya-bahaya laut yang bersumber dari alam, misal badai, gelombang besar, hujan angin, kabut tebal, batu karang, gunung es, sisa kapal karam, dan sebagainya;
b) bahaya badai, guruh, karam, kandas melanggar kapal lain, menyenggol kapal, menabrak kapal, terdampar kapal, terpaksa mengubah jurusan, perjalanan atau kapal;
c) bahaya pelemparan barang-barang ke laut;
d) bahaya kebakaran, kekerasan, banjir, perampasan, bajak laut, penyamun, penahanan atas perintah penguasa, pernyataan perang, tindakan pembalasan;
e) bahaya karena kurang hati-hati, kealpaan atau kecurangan pihak nakhoda atau anak buah kapal;
f) pada umumnya karena segala bahaya yang datang dari luar apapun namanya, kecuali oleh ketentuan undang-undang; atau g) janji-janji dalam polis penanggung dibebaskan dari bahaya-
bahaya tersebut.
Rincian bahaya dalam Pasal 637 KUHD di atas tidak bersifat limitatif. Hal ini ditunjukkan dengan kata-kata “pada umumnya karena segala bahaya yang datang dari luar apapun namanya”.
Namun tidak semua bencana yang datang dari luar menjadi tanggungan penanggung karena Pasal 637 KUHD memberikan pengecualian, yaitu
a) apabila dalam undang ditegaskan bahwa bencana-bencana tertentu tidak menjadi beban penanggung;
b) apabila suatu janji dalam polis menentukan bahwa bencana- bencana tertentu tidak menjadi beban penanggung.31
c. Asuransi Tanggung Jawab
1) Asuransi dan Tanggung Jawab
Asuransi merupakan upaya untuk mengatasi kerugian yang mungkin timbul sebagai akibat terjadi peristiwa yang tidak pasti dan tidak diinginkan. Perjanjian asuransi pada hakikatnya merupakan pengalihan risiko yang mungkin terjadi akibat peristiwa yang menimbulkan kerugian yang mengancam kepentingan tertanggung kepada penanggung. Sebagai imbalannya, tertanggung bersedia membayar sejumlah premi yang telah disepakati.32
Tertanggung mempunyai kepentingan tertentu dalam menjalankan kegiatan usaha atau hubungan dengan pihak lain dalam masyarakat, yaitu tanggung jawab akibat perbuatannya terhadap pihak ketiga, misal perbuatan yang merugikan orang lain. Risiko tanggung jawab inilah yang dialihkan kepada penanggung, yang disebut dengan third party liability.
31 Ibid, hlm. 173.
32 Ibid, hlm 177
2) Polis Asuransi Tanggung Jawab
Asuransi tanggung jawab tidak diatur dalam UU Asuransi, namun berkembang dalam praktik perasuransian. Dasar dari asuransi tanggung jawab adalah kesepakatan bebas antara tertanggung dan penanggung yang dibuat secara tertulis dalam bentuk akta yang disebut polis, yang ditandatangani penanggung sebagai alat bukti tertulis bahwa telah terjadi asuransi tanggung jawab antara tertanggung dan penanggung. Dalam asuransi tanggung jawab berlaku ketentuan Pasal 256 KUHD tentang persyaratan isi polis ditambah syarat-syarat khusus yang disepakati oleh tertanggung dan penanggung. Bentuk dan isi polis dibuat oleh Perusahaan Asuransi Kerugian dengan memperhatikan syarat-syarat umum dan khusus yang disepakati kedua pihak.33
3) Objek Asuransi Tanggung Jawab
Wujud tanggung jawab seseorang adalah penggantian kerugian akibat perbuatan yang merugikan orang lain. Perbuatan tersebut timbul dalam hubungan hukum keperdataan yang dapat dinilai dengan uang. Berdasarkan Pasal 1365 KUH Perdata, orang yang melakukan perbuatan melawan hukum yang merugikan orang lain wajib mengganti kerugian yang timbul akibat perbuatannya.34 Dalam hubungan hukum perdata, berbagai kemungkinan perbuatan
dapat merugikan orang lain. Dalam kegiatan pemasaran produk perusahaan, tidak diduga di perjalanan kendaraan perusahaan menabrak tembok rumah orang lain yang menimbulkan kerugian, baik kendaraan yang disewa maupun tembok rumah mengalami kerusakan berat yang menjadi tanggung jawab tertanggung untuk mengganti kerugian.
Objek asuransi tanggung jawab adalah benda asuransi dan kepentingan yang melekat atas benda asuransi. Dalam contoh perbuatan melawan hukum di atas, benda asuransi adalah kendaraan sewaan dan tembok rumah yang menimbulkan kerugian, baik kendaraan yang disewa maupun tembok rumah mengalami kerusakan berat yang menjadi tanggung jawab tertanggung untuk mengganti kerugian, yang menjadi tanggung jawab tertanggung untuk mengganti kerugian kepada pihak ketiga.
33 Ibid, hlm. 178.
34 Ibid
4) Evenemen dan Ganti Kerugian
Evenemen dalam asuransi tanggung jawab adalah perbuatan melawan hukum, yang berakibat menimbulkan kerugian bagi orang lain. Menurut Pasal 1365 KUH Perdata, pihak yang melakukan perbuatan yang merugikan orang lain wajib mengganti kerugian tersebut.35
Sesuai sifat evenemen, perbuatan melawan hukum tidak dapat diduga dan tidak diharapkan terjadinya. Tertanggung perlu berhati- hati dan teliti melakukan perbuatan terhadap benda yang dikuasai.
Dalam hal terjadi evenemen, maka kerugian yang timbul akibat perbuatannya wajib diganti. Menyadari kemungkinan terjadi perbuatan melawan hukum, maka tertanggung mengadakan asuransi guna mengalihkan risiko kerugian kepada penanggung.
d. Asuransi Kendaraan Bermotor
1) Pengaturan Asuransi Kendaraan bermotor
Asuransi kendaraan bermotor tidak diatur secara khusus dalam KUHD. Oleh karenanya, semua ketentuan umum asuransi kerugian dalam KUHD berlaku terhadap asuransi kendaraan bermotor, selain kesepakatan bebas antara tertanggung dan penanggung yang dibuat secara tertulis dalam bentuk akta yang disebut polis, menjadi dasar hubungan asuransi kendaraan bermotor antara tertanggung dan penanggung. Polis ditandatangani penanggung, yang berfungsi sebagai alat bukti tertulis bagi tertanggung dan penanggung untuk memenuhi kewajiban dan memperoleh hak secara timbal balik.36 2) Polis Asuransi Kendaraan Bermotor.
Polis asuransi kendaraan bermotor harus memenuhi syarat-syarat umum Pasal 256 KUHD dan memuat syarat-syarat khusus yang hanya berlaku bagi asuransi kendaraan bermotor.
a) Hari dan tanggal serta tempat asuransi kendaraan bermotor diadakan.
b) Nama tertanggung yang mengadakan asuransi kendaraan bermotor untuk diri sendiri atau untuk kepentingan pihak ketiga.
35 Ibid, hlm. 179.
36 Ibid, hlm. 180.
c) Keterangan yang cukup jelas mengenai kendaraan bermotor yang diasuransikan terhadap bahaya (risiko) yang ditanggung.
d) Jumlah yang diasuransikan terhadap bahaya (risiko) yang ditanggung.
e) Bahaya-bahaya penyebab timbulnya kerugian yang ditanggung oleh penanggung.
f) Waktu asuransi kendaraan bermotor mulai berjalan dan berakhir menjadi tanggungan penanggung.
g) Premi asuransi kendaraan bermotor yang dibayar oleh tertanggung.
h) Janji-janji khusus yang diadakan antara pihak-pihak dan keadaan yang perlu diketahui oleh dan untuk kepentingan penanggung.
Selain syarat umum, dalam polis asuransi kendaraan bermotor juga dimuat syarat-syarat khusus, yang meliputi37:
a) wilayah negara berlakunya asuransi kendaraan bermotor;
b) pembayaran premi;
c) pemberitahuan kecelakaan, tindakan pencegahan, tuntutan dari pihak ketiga, tuntutan pidana terhadap tertanggung;
d) kerugian, ganti kerugian, asuransi rangkap, laporan tidak benar, subrogasi Pasal 284 KUHD, dan hilangnya hak ganti kerugian;
e) perselisihan dan arbitrase;
f) berakhirnya asuransi kendaraan bermotor.
3) Premi dan Risiko a) Pembayaran Premi
Untuk mengalihkan risiko kerugian kepada penanggung, maka tertanggung harus membayar uang premi lebih dahulu, kecuali diperjanjikan lain. Dalam hal premi tidak dibayar dalam waktu 10 hari kerja terhitung mulai tanggal permulaan asuransi atau tanggal perpanjangan asuransi, maka berlakunya asuransi ditunda oleh penanggung tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.
Sebagai konsekuensinya, jika suatu saat terjadi kerugian/
kerusakan atas kendaraan bermotor yang diasuransikan, maka tertanggung tidak berhak atas suatu penggantian kerugian.
37 Ibid, hlm. 181-182.
b) Risiko yang ditanggung oleh penanggung
(1) Kerugian Atau Kerusakan Kendaraan Bermotor akibat:
(a) tabrakan, benturan, terbalik, tergelincir dari jalan, termasuk juga akibat dari kesalahan material, konstruksi, cacat sendiri atau sebab-sebab lain dari kendaraan tersebut;
(b) perbuatan jahat orang lain;
(c) pencurian termasuk pencurian yang didahului, disertai atau diikuti dengan kekerasan/ancaman dengan kekerasan kepada orang dan/atau kendaraan bermotor yang dipertanggungkan untuk mempermudah pencurian tersebut;
(d) kebakaran, termasuk kebakaran benda atau kendaraan bermotor lain yang berdekatan, tempat penyimpanan kendaraan bermotor yang dipertanggungkan, atau karena air dan/atau alat-alat lain yang dipergunakan untuk menahan atau memadamkan kebakaran:
demikian juga karena dimusnahkannya seluruh atau sebagian atas perintah yang berwenang dalam upaya pencegahan menjalarnya kebakaran itu;
(e) sambaran petir.
(2) Kerugian atau kerusakan sebagaimana tersebut di atas selama penyeberangan dengan feri atau alat penyeberangan resmi lain yang berada di bawah pengawasan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat.
(3) Kerusakan roda bila kerusakan tersebut mengakibatkan pula kerusakan kendaraan bermotor itu yang disebabkan oleh kecelakaan.
(4) Biaya yang wajar yang dikeluarkan oleh Tertanggung untuk penjagaan atau pengangkutan ke bengkel atau tempat lain guna menghindari atau mengurangi kerugian atau kerusakan yang dijamin dalam Polis. Setinggi-tingginya sebesar setengah persen (0.5%) dari jumlah pertanggungan, tanpa diperhitungkan dengan risiko sendiri.38
38 Ibid, hlm. 182-183.
Selain itu, penanggung juga memberikan penggantian kepada tertanggung atas:
1) Tanggung Gugat Tertanggung terhadap suatu kerugian yang diderita oleh pihak ketiga yang secara langsung disebabkan oleh Kendaraan Bermotor yang dipertanggungkan, setinggi-tingginya sejumlah yang tercantum dalam ikhtisar pertanggungan yang meliputi:
a. kerusakan atas harta benda;
b. cidera badan atau kematian.
2) Biaya perkara atau biaya bantuan para ahli yang berkaitan dengan tanggung gugat tertanggung yang telah terlebih dahulu disetujui oleh Penanggung secara tertulis.39
Adapun risiko yang tidak ditanggung oleh penanggung adalah:
1) kehilangan keuntungan, kehilangan upah, berkurangnya nilai atau kerugian keuangan lainnya, yang diderita Tertanggung sebagai akibat tidak dapat dipergunakannya kendaraan bermotor yang dipertanggungkan tersebut karena suatu kecelakaan atau sebab lain;
2) kerusakan atau kehilangan peralatan tambahan yang tidak disebutkan dalam Ikhtisar Polis ini sebagai akibat suatu kecelakaan atau sebab lain;
3) kerusakan atau kehilangan kendaraan bermotor yang dipertanggungkan baik sebagian maupun seluruhnya sebagai akibat kecelakaan;
4) kerugian atau kerusakan kendaraan bermotor yang dipertanggungkan sebagai akibat perbuatan jahat yang dilakukan oleh Tertanggung, suami atau istri atau anak tertanggung, orang yang disuruh Tertanggung, orang yang bekerja pada Tertanggung, orang yang sepengetahuan atau seizin Tertanggung, atau orang yang tinggal bersama Tertanggung;
5) Kerugian/kerusakan kendaraan bermotor yang dipertanggungkan disebabkan karena:
39 Ibid, hlm. 184.
a) Kendaraan bermotor tersebut dipergunakan untuk menarik atau mendorong kendaraan lain untuk turut serta dalam perlombaan kecakapan atau perlombaan kecepatan untuk memberi pelajaran mengemudi, menarik suatu trailer untuk karnaval atau pawai atau untuk melakukan tindak kejahatan atau untuk sesuatu maksud lain dari yang ditetapkan dalam polis ini.
b) Kelebihan muatan atau dijalankan secara paksa.
c) Kendaraan bermotor tersebut dengan sepengetahuan tertanggung, dijalankan dalam keadaan rusak, dalam keadaan tidak dapat dipertanggungjawabkan secara teknis atau dalam perbaikan.
d) Kendaraan bermotor tersebut dikemudikan oleh seseorang yang pada saat terjadinya kecelakaan tidak memiliki surat izin mengemudi (SIM) yang sah atau oleh seorang yang berada di bawah pengaruh minuman keras atau sesuatu bahan lain yang memabukkan.
e) Memasuki atau melewati jalan tertutup, terlarang atau tidak diperuntukkan untuk kendaraan bermotor yang dipertanggung-kan dengan Polis ini.
f) Barang-barang yang sedang dimuat, ditumpuk, dibongkar atau diangkut dengan kendaraan bermotor tersebut.
g) Reaksi atau radiasi nuklir, pencemaran radio aktif, reaksi inti atom bagaimana juga terjadinya, apakah terjadi di dalam maupun di luar kendaraan bermotor yang dipertanggungkan.
6) Kerugian atau kerusakan kendaraan bermotor yang dipertanggungkan baik langsung maupun tidak langsung disebabkan:
a) gempa bumi, letusan gunung berapi, angin topan, badai, banjir, genangan air atau gejala geologi atau meteorologi lainnya;
b) perang, penyerbuan, aksi musuh asing, permusuhan atau kegiatan yang menyerupai suasana perang (baik dengan pernyataan perang atau tidak), perang saudara,